Anda di halaman 1dari 3

TUGAS JURNAL

BLOK EMERGENCY

Focused nurse-defibrillation training: a simple and cost-effective strategy to
improve survival from in-hospital cardiac arrest












Oleh:
Nama : Isroah
NIM :115070207111031
Kelas :PSIK Reguler 1


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

Focused nurse-defibrillation training: a simple and cost-effective strategy to improve
survival from in-hospital cardiac arrest

a. Pendahuluan
Angka ketahanan hidup pasien henti jantung di rumah sakit, belum meningkat
dalam seperempat abad ini. Survival rate terbaik berdasarkan penelitian saat ini adalah
sekitar 18 % dan survival rate di departemen lain lebih rendah dibandingkan dengan di
ruang gawat darurat.
Kurangnya kemajuan ini memicu berbagai penelitian untuk mencari upaya
pencegahan dengan resusitasi yang lebih baik. Para petugas gawat darurat semakin di
upayakan untuk bisa lebih peka mengenali tanda-tanda awal dan mencegah henti jantung.
Gejala henti jantung yang paling suli diprediksi adalah ventikel fibrilasi dan ventrikel
takikardi dikarenakan omsetnya yang sangat tiba-tiba. Oleh karena itu, untuk meningkatkan
survival rate dirumah sakit, dibutuhkan pendekatan yang lebih efektif untuk mengenali
tanda-tanda melakukan defiibrilasi dengan segera.
b. Pembahasan
Defibrillator dirumah sakit umumnya dipindahkan ke unit peraawatan umum sehinga
penggunaannya dipusatkan di unit gawat darurat. Pada tahun 1970-1980 an terjadi
peningkatan penyediaan defibrillator portable di rumah saki dan disetiap unit rumah sakit.
Namun ketersediaan defibrillator ini tidak diseimbangi dengan kemampuan operasionalisasi
alat oleh perawat. Hal ini tentunya menjasi masalah yang buth perhatian dari semua pihak
yang terkait sehingga pada tahun 1992 AHA menerbitkan panduan program pelatihan
penggunaan defibrillator.
Kemudian AHA mulai berafiliasi untuk melakukan program terkait perawat defibrilasi
(nurse defibrillation) berhubungan dengan penggunaan automatic external defibrilation
(AED). Hal ini dikarenakan AHA beranggapan bahwa peggunaan AED adalah salah satu
kunci sukses penanganan pasien yang membutuhakan defibrilasi di rumah sakit.
Namun, promosi AHA untuk penggunaan AED dinilai tidak memiliki bukti yang baik.
Sebuah penelitian di Detroit menunjukan bahwa tidak ada peningkatan waktu
kelangsungan hidup pada defibrilasi. Selain itu ada keprihatinan beberapa pihak terkait
issue penggunaan AED dalam menghentikan ritme VF atau VT terbukti menurunkan
kelangsungan hidup. Data inilah yang menjadi hambatan dalam melakukan program
pelatihan untuk perawat-defibrilasi dan hambatan lainnya adalah karena belum ada bukti
seberapa besar kejadian kegagalan mempertahankan kelangsungan hidup dengan
penggunaan defibrilasi.
Issue-isue tersebut dan bahaya penggunaan defibrilasi dinilai berlebihan
dikarenakan tidak ada dokumentasi cedera serius ataupun kematian akibat defibrilasi
selama 50 tahun terakhir dan keamanan penggunaan telah ditingkatkan dengan pembalut
handsfree sehingga dapat disimpulkan bahwa Prosedur dasar defibrilasi dengan
defibrillator manual atau AED, adalah mudah dan aman. Selain itu pengguanaan AED
sebenarnya tidak lebih sulit dari tugas-tugas lain perawat. Permasalahan yang sebenarnya
terjadi dalam penggunaan AED adalah gejala awal pasien yang butuh dilakukan AED
merupakan hal yang secara emosional sulit terdeteksi. Alasan utama pasien butuh untuk
menggunakan AED yang diduga dapat dideteksi dengan keterampilan identifikasi irama
jantung dengan manual defibrillator adalah alasan yag tidak berdasar. penghambat lain
diduga sebagi efek defibrilasi adalah bahaya dalam mengelola shock.
Sebuah studi tentang efektivitas program pelatihan harus didahului dengan
pengumpulan data dasar pemantauan awal defibrilasi dalam rangka untuk mengukur efek
Hawthorne. Studi prospektif terkontrol dapat dilakukan dengan merekrut peserta pelatihan
dan dilakukan pengacakan seluruh disetiap unit, sehingga setiap unit akan dikelola dengan
perawat terlatih. Jika rata-rata waktu untuk defibrilasi diperpendek dalam kelompok
eksperimen (penangkapan dengan perawat terlatih defibrilasi pada unit), kelangsungan
hidup dapat dilacak dalam studi lebih lama dan / atau lebih besar. Proporsi defibrillations
sukses harus meningkat, dan jumlah irama shockable juga harus meningkat karena
sebelumnya pemantauan sebelum kerusakan untuk asistol.
Diluar semua issue yang beredar, pada dasarnya hubungan antar defibrilasi dini
dan kelangsungan hidup adalah sangat erat dan perawat perlu memahami deteksi dini
untuk indikasi defibrilasi. Program pelatihan penggunaan AED oleh perawat dapat relatif
mudah untuk diterapkan dan hemat biaya, serta sangat bermanfaat karena dapat
menyelamatkan banyak nyawa.