Anda di halaman 1dari 11

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan masyarakat di daerah aliran sungai, berdampak
berbagai tatanan kehidupan berubah dengan cepat mengikuti berbagai kebutuhan masyarakat.
Salah satu dampak dari perubahan tersebut ialah pola pemanfaatan sumber daya alam yang
berada di sekitar sungai. Keinginan untuk memanfaatkan sumber daya alam semaksimal
mungkin, umumnya kurang memperhatikan dampak yang akan muncul dikemudian hari.
Selain itu perkembangan penduduk dan pemukiman akan mendesak pola penggunaan lahan
di wilayah hulu berubah yang biasanya dikonversi dari penggunaan lahan pertanian ke non-
pertanian.
Pesatnya pembangunan membutuhkan sumber daya alam yang sangat besar. Sering
pula terlihat bahwa dalam pembangunan terjadi pemanfaatan terhadap penggunaan sumber
daya alam yang berlebihan, hal tersebut dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan
tata air.
Selain itu akibatnya semakin meningkatnya beban pencemaran sehingga pada
awalnya aliran sungai tersebut dapat menyembuhkan dirinya sendiri (self purification)
dengan meningkatnya beban pencemaran tersebut dapat mengganggu proses self purification
dari sungai tersebut. Self purification alam tergantung kepada daya dukung sekitarnya. Self
purification di lingkungan perairan merupakan kemampuan alam untuk membersihkan zat-zat
pencemar melalui proses kimia, fisika, dan biologi yang berlangsung secara alami di badan
air.
Adapun tujuan dari makalah ini adalah yang pertama untuk memenuhi tugas mata
kuliah Mikrobiologi Lingkungan dan yang kedua dapat meningkatkan pemahaman tentang
proses self purification yang terjadi di lingkungan terutama di lingkungan akuatik.

B. Tujuan
1.Tujuan Umum
Untuk memenuhi mata kuliah Kimia Lingkungan
2.Tujuan Khusus
Mengetahui keberadaan senyawa dalam perairan
Pengertian self purification
Keseimbangan oksigen
Faktor yang mempengaruhi self purification
Tahapan self purification
2

BAB II
ISI

A. Keberadaan Senyawa dalam Perairan
Keberadaan senyawa kimia di dalam badan air, seperti fosfat, senyawa nitrogen, dan
senyawa organik, secara berlebihan dapat menyebabkan pencemaran air. Jumlah yang
berlebihan ini akan mengganggu kesetimbangan lingkungan. Secara alami, keberadaan
senyawa ini dapat ditemui secara bebas di air, kecuali detergen yang merupakan hasil
aktivitas manusia.
Badan air penerima, seperti sungai, memiliki kemampuan alami untuk mendegradasi
keberadaan materi organik. Degradasi secara alami ini dapat terjadi selama beban materi
organik dan nitrogen (terutama ammonia) di dalam air berada pada batas dimana masih
tersedia cukup oksigen. Kemampuan ini dikenal dengan self purification.
Keberadaan materi organik di dalam badan air seperti sungai berasal dari kandungan
air buangan, diantaranya dari air buangan industri, pertanian, dan domestik. Beberapa
parameter yang menentukan kualitas air khususnya sungai, diantaranyai :
1. parameter fisik yang meliputi temperatur, daya hantar listrik (DHL), total
suspended solid (TSS), total dissolved solid (TDS), dan kekeruhan.
2. Nutrien yang meliputi fosfat, nitrogen, dan nutrien lainnya
3. Mineral yang meliputi ion Na+, K+, Ca2+, Mg2+, Cl-, SO42-, F-, dsb
4. Logam yang meliputi Fe, Mn, Cd, Zn, Hg, Pb, dsb; dan
5. Parameter kimia lainnya, seperti pH, oksigen terlarut (DO), BOD, COD,
alkalinitas, asiditas, dsb (Tebbutt, 1990).

B. Pengertian Self Purification
Self purification adalah kemampuan badan air untuk membersihkan dirinya sendiri
dari pencemar. Penghilangan bahan organik, nutrisi tanaman, atau pencemar lainnya dari
suatu danau atau sungai oleh aktivitas biologis dari komunitas yang hidup didalamnya. Bahan
3

biodegradabel yang masuk ke badan air, sedikit demi sedikit digunakan oleh mikrorganisme
dalam air, menurunkan tingkat pencemar. Bila penambahan pencemar di hilir sungai tidak
berlebihan, air akan membersihkan diri dengan sendirinya self-cleansing. Proses ini tidak
berlaku untuk pencemar yang senyawa organik non biodegradabel atau logam.
Dalam air Alam, self purification terjadi dalam bentuk siklus biologi yang dapat
berlangsung sendiri dalam batas-batas tertentu. Self purification secara biologi adalah proses
dimana limbah organik dihancurkan oleh respirasi dari mikroorganisme di dalam produk
akhir yang stabil. Itu merupakan sebuah proses oksidasi biokimia dengan cara mengkonsumsi
limbah organik sehingga menghasilkan produk akhir seperti karbon dioksida, air, fospat,
nitrat. Materi organik yang dapat dihancurkan oleh mikroorganisme yaitu materi alami seperti
simple sugars, starch, fats, proteins, materi alami yang lebih kompleks atau senyawa sintetik
yang ditemukan di air limbah atau air permukaan lainnya. Respirasi yang terjadi merupakan
respirasi aerobik, karena respirasi menggunakan oksigen terlarut di dalam air.
Mikroorganisme yang terlibat disebut aerobik.
Ada tipe lain dari proses respirasi yang dapat bekerja dengan tidak tersedianya
oksigen bebas. Mikroorganisme yang digunakan disebut mikroorganisme anaerobik dan
beberapa mikroorganisme aerobik fakultatif. Mikroorganisme tersebut dapat menghancurkan
simple sugars tanpa menggunakan oksigen. Proses ini disebut respirasi anaerobik. Produk
akhir respirasi anaerobik yaitu hydrogen sulfide, amoniak dan metan yang mengkin beracun
jika tercium selama diproduksi.
Self purification merupakan suatu proses alami dimana sungai mempertahankan
kondisi asalnya melawan bahan-bahan asing yang masuk kedalam sungai. Menyempurnakan
metode buatan dari pengelolaan kualitas air dan menyangkut proses fisik kimia dan biologis.
Dalam memecahkan masalah eutrofikasi di danau, kehadiran fosfor dan nitrogen yang berasal
dari kegiatan pertanian, industri dan sumber domestik harus dimengerti terlebih dahulu, tidak
langsung muncul di anak sungai. Kemampuan sungai untuk menghilangkan tingkat polusi
dari fosfor dan nitrogen adalah penting.
Vollenweideer (1968) meneliti fakta dari masuknya fosfat, amonia dan nitrat oleh
macrophyta yang berada di air. Dan mengatakan bahwa Callitriche dapat menghilangkan
secara efisien fosfat dari pembuangan air. Hynes (1970) menyimpulkan bahwa nutrisi akan
menurun seiring dengan perjalanan polutan menuju hilir, mungkin disebabkan oleh uptake
4

oleh tanaman, tetapi perlu diingat bahwa hanya sedikit fakta dari percobaan yang dimiliki
untuk mendukung pandangan ini untuk mengindikasikan, pada air yang bergerak, nitrogen
dan fosfor cukup memadai bagi pertumbuhan maksimum dari alga dan makrophyta.
Menurut Tebbut (1990), self purification melibatkan proses-proses yang terjadi
sebagai berikut:
1. Sedimentasi. Zat padat yang terendapkan akan membentuk bethal
deposit (mikroorganisme di dasar air) yang akan membusuk (jika berupa
zat organik) karena proses anaerobic, dan akan segera menyerap O2 dalam
sistem jika bethal deposit tersebut tersuspensi kembali akibat aliran banjir.
2. Oksidasi kimiawi dari agen-agen produksi. Pembusukan bakteri patogen akibat
kondisi lingkungan yang tidak cocok bagi bakteri tersebut dalam air alam.
3. Oksidasi biokimiawi. Adanya keseimbangan yang diberikan antara O2 yang
dikonsumsi oleh BOD dan yang diberikan dari proses rea-erasi.

C. Keseimbangan Oksigen
Pada sungai yang tidak tercemar, oksigen terlarut memiliki kadar sekitar 8 ppm dan
BOD dalam keadaan yang rendah. Sekarang bayangkan pencemar organik yang berasal dari
pabrik kertas atau pabrik makanan masuk kedalam badan air. Bahan organik ini tentu
membutuhkan oksigen untuk terdekomposisi. Hal ini menjadikan BOD meningkat dan
mempengaruhi Dissolved Oksigen di hilir sungai. Pencemar organik ini menjadi makanan
bagi sebagian bakteri aerob. Seiring dengan mengalirnya air ke hilir, jumlah bakteri ini
meningkat. Akibatnya ketersediaan oksigen (DO) pada air sungai menurun. Pada titik tertentu
pencemar organik terdekomposisi dan terjadi recovery oksigen atau DO kembali meningkat
sebagai sumbangan dari atmosfir (aerasi) dan tanaman air. Proses pengambilan oksigen oleh
mikroorganisme ini biasa disebut respirasi aerobik.
Dengan demikian, melalui respirasi biokimia, self purification sungai terjadi tetapi
dalam proses yang sama, oksigen dikeluarkan dari lingkungan air. Jika pasokan oksigen ke
dalam sistem melebihi dari permintaan respirasi, maka proses anaerob tidak akan terjadi.
Oleh karena itu, proses self purification sangat berhubungan erat dengan kandungan oksigen
5

terlarut, sumber dan masuknya oksigen ke dalam sungai. Apabila oksigen terlarut sebagai
parameter kualitas air itu kritis atau buruk, maka berbagai proses yang mempengaruhi
oksigen terlarut akan dibahas.
Adapun parameter yang berhubungan dengan keseimbangan DO (dissolved oxygen)
di dalam perairan yaitu:
1. BOD
BOD adalah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk proses respirasi.
Jumlah limbah organik diukur oleh permintaan terhadap sumber daya oksigen yang
diperlukan. Nilai konsentrasi BOD tidak konstan tetapi berubah dengan waktu dan
jarak sepanjang sungai karena sebagai oksigen digunakan untuk mengoksidasi limbah,
jumlah bahan limbah menurun dan kebutuhan oksigen turun. Ketika semua limbah
telah teroksidasi BOD kemudian menjadi nol. BOD juga dapat dihilangkan dari air
dengan sedimentasi. Faktor sedimentasi ini juga perlu dipertimbangkan dalam
mengetahui nilai DO di dalam suatu perairan.
2. COD
Banyak jenis limbah industri mengandung zat yang cukup cepat dioksidasi oleh
molekul oksigen. Zat-zat tersebut seperti besi, sulfit, sulfida dan aldehida semua
tergantung DO dan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk oksidasi, disebut
kebutuhan oksigen kimia langsung.
3. Respirasi dan fotosintesis tanaman
Tanaman air, ganggang dan fitoplankton semua mengkonsumsi oksigen untuk proses
respirasi mereka yang berlangsung terus-menerus. Pada saat yang sama, jika sinar
matahari hadir, tanaman akan menggabungkan karbon dioksida dan air dalam proses
fotosintesis untuk menghasilkan gula sederhana dan pelepasan molekul oksigen bebas
ke lingkungan. Secara umum, di siang hari, jumlah oksigen yang dihasilkan oleh
fotosintesis melebihi jumlah yang dikonsumsi oleh respirasi. Namun, selama waktu
tanpa sinar matahari, fotosintesis tidak berlangsung dan tanaman kemudian bertindak
semata-mata sebagai penghasil oksigen.
6

Oleh karena itu, kadar oksigen terlarut cenderung tinggi di sore hari dan rendah
selama jam-jam awal pagi. Produksi oksigen dari fotosintesis tergantung pada
beberapa faktor, termasuk intensitas cahaya, kemampuan menangkap oksigen dari air
dan kuantitas tanaman (Edwards dan Owens, 1965). Pescod (1969) melakukan studi
oksigen di sungai aluvial tropis dan menemukan bahwa meskipun kondisi lingkungan
yang cocok untuk pertumbuhan alga dan tingkat tinggi dari fotosintesis, kekeruhan
mengurangi transmisi cahaya sehingga produksi oksigen yang sebenarnya sangat
rendah. Namun demikian, proses fotosintesis dan respirasi dapat menjadi faktor yang
sangat penting dan harus dimasukkan dalam keseimbangan DO.
4. Atmosfiric reaeration
Reaerasi adalah proses penyerapan oksigen atmosfer ke dalam air. Ini adalah salah
satu faktor yang paling penting untuk mengendalikan kapasitas asimilatif dari limbah
di sungai, karena fotosintesis dan reaerasi adalah dua sumber pengisian oksigen, dan
fotosintesis hanya dapat dilakukan ketika adanya sinar matahari.
D. Faktor yang Mempengaruhi Self Purification
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan self purification pada suatu aliran
sungai, antara lain:
a. Suhu
Laju aktivitas biologis pada self purification akan meningkat seiring dengan
meningkatnya suhu dan akan menurun seiring dengan penurunan suhu. Hal
tersebut terjadi karena tingkat kebutuhan oksigen akan meningkat jika suhu
meningkat dan sebaliknya. Kandungan oksigen terlarut pada sungai sangat penting
untuk mempertahankan kehidupan akuatik dan kondisi aerob. Hal tersebut juga
dipengaruhi oleh suhu, kelarutan oksigen akan menurun apabila suhu meningkat
dan kelarutan oksigen meningkat apabila suhu menurun. Jadi saat suhu tinggi, laju
aktivitas biologis tinggi sedangkan konsentrasi DO rendah, hal tersebut kemudian
menyebabkan penipisan DO secara cepat.

7

b. Faktor-faktor hidrografik
Faktor-faktor hidrografik yang dimaksud disini adalah kecepatan aliran. Pada
sungai dengan kecepatan aliran yang tinggi/deras, oksigen pada lapisan
permukaan air akan dengan cepat mengalami pertukaran dengan oksigen lapisan
bagian bawah. Pertukaran tersebut terjadi karena adanya perputaran pada
pergerakan aliran sungai. Lapisan oksigen jenuh akan diputarbalikkan dan
digantikan oleh lapisan defisit oksigen. Dengan cara tersebut oksigen jenuh akan
dengan cepat bercampur dengan seluruh aliran sungai untuk menyuplai kebutuhan
oksigen bagi mikroorganisme. Kecepatan aliran sungai yang terlalu tinggi juga
tidak disarankan. Hal tersebut karena kecepatan aliran yang terlalu tinggi akan
menciptakan banyak gerakan perputaran aliran air dimana hal tersebut akan
mengaduk sedimen pada bagian dasar sungai, meningkatkan kekeruhan dan
menghambat pertumbuhan alga.
c. Laju re-aerasi
Laju re-aerasi adalah laju dimana saat terjadi penggantian/pengisian kembali
oksigen terlarut yang telah berkurang. Laju re-aerasi sangat menentukan proses
terjadinya self purification. Semakin besar laju re-aerasi maka akan semakin cepat
terjadinya proses self purification.

d. Jumlah dan tipe materi organik
Apabila limbah/sampah yang masuk ke sungai mengandung banyak materi
biodegradable maka kebutuhan oksigen akan semakin tinggi. Oleh karena hal
tersebut, oksigen terlarut pada sungai akan berkurang lebih cepat sehingga laju re-
aerasi dan kondisi anaerobik akan tercipta. Hal tersebut tentu akan berpengaruh
pada proses self purification yang terjadi pada sungai.
e. Ketersediaan DO
Semakin besar konsentrasi oksigen terlarut di sungai pada saat limbah masuk,
maka akan semakin baik dan lebih cepat proses slef purification akan terjadi.
8

f. Jenis mikroorganisme
Apabila alga dan bakteri berada pada waktu bersamaan di sungai, maka laju re-
aerasi dan konsentrasi oksigen terlarut pada sungai akan meningkat. Hal tersebut
terjadi karena alga menghasilkan oksigen.
E. Tahapan Self Purification
Beberapa tahap dalam mekanisme self purification :
a. Zona Degradasi (Zone of degradation)
Zona degaradasi dapat ditemukan tidak jauh dari titik/point dimana limbah
pertama kali masuk ke dalam sungai. Karakteristik dari zona ini antara lain air
mulai berwarna keruh dan mulai terbentuk lumpur pada bagian dasar sungai,
terjadi pada saat keberadaan oksigen dibawah 2 ppm.Kondisi yang terjadi pada
zona ini tidak menguntungkan bagi perkembangan kehidupan akuatik, seperti
alga. Akan tetapi beberapa jenis biota dapat tetap bertahan hidup, seperti cacing
Limondrilus dan Tubifex, jamur sampah (sewage fungus) serta tipe ikan pemakan
materi organik. Ikan akan menghilang atau pindah dari zona ini karena
ketidaksesuaian dengan kebutuhan oksigennya. Pada beberapa bagian kehidupan
yang terdapat pada zona ini adalah cacing lumpur, jamur dan bakteri anaerobik.
b. Zona Dekomposisi Aktif
Zona dekomposisi dimana terjadi dekomposisi bahan organik oleh bakteri.
Populasi bakteri di zona ini meningkat. Hewan yang dapat tumbuh adalah hewan
dengan kebutuhan oksigen yang rendah, seperti beberapa jenis ikan dan lintah.
Karakteristik dari zona ini yaitu air berwarna keabu-abuan dan lebih gelap dari
zona sebelumnya. Hal tersebut menandakan bahwa pada zona dekomposisi aktif
terjadi polusi yang berat. Pada zona ini, konsentrasi DO turun hingga menjadi nol,
kondisi anaerobik terbentuk (ditandai dengan terbentuknya gas metan, karbon
dioksida dan hidrogen sulfida) serta munculnya gelembung/buih yang
mengandung lumpur/sampah pada permukaan air. Pada zona ini, bakteri flora
akan tumbuh dengan subur. Pada lapisan atas zona ini, bakteri anaerobik akan
digantikan dengan bakteri aerob, sedangkan pada lapisan bawah terjadi
9

sebaliknya. Ikan, alga dan cacing Tubifex tidak dapat hidup pada zona ini,
sementara larva Maggots dan Psychopoda dapat hidup.
c. Zona Pemulihan
Pada zona pemulihan, aliran sungai melakukan pemulihan dari kondisi zona
sebelumnya agar kembali seperti kondisi semula. Zona recovery, pada zona ini
hewan hewan yang tidak membutuhkan oksigen tinggi kembali dapat ditemui dan
hidup disini dan populasi bakteri menurun. Zona bersih kembali tercapai setelah
recovery selesai. Hewan - hewan air dapat tumbuh kembali dengan baik.
Karakteristik pada zona ini antara lain, warna air mulai bersih, alga mulai terlihat
kembali dan fungi menghilang. BOD menurun serta konsentrasi DO meningkat
sekitar 40%.
d. Zona Bersih
Pada zona ini, sungai telah mencapai kondisi seperti semula. Kehidupan akuatik
pada zona ini juga kembali seperti semula. Beberapa organisme patogen masih
mungkin hidup pada zona ini, oleh karena hal tersebut air sungai yang telah sekali
tercemar tidak dapat digunakan sebagai air minum walaupun telah diolah. Kondisi
oksigen terlarut pada zona bersih berada pada 8 ppm, yang merupakan konsentrasi
normal DO di perairan dan BOD pada kondisi yang rendah. Pada zona ini hewan-
hewan air yang membutuhkan oksigen dalam konsentrasi normal tumbuh dengan
baik.
e. Daya Tampung
Daya tampung pencemaran adalah kemampuan air pada suatu sumber air untuk
menerima masukan beban pencemaran tanpa mengakibatkan air tersebut menjadi
tercemar. Pencemaran air dapat terjadi adanya unsur/zat lain yang masuk kedalam
air, sehingga menyebabkan kualitas air menjadi turun. Unsur tersebut dapat
berasal dari unsur non konservativ (tergradasi) dan konservativ (unsur yang tidak
tergradasi).

10

BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Proses self purification parairan merupakan kemampuan alam untuk membersihkan zat-
zat pencemar melaluli proses kimia, fisika, dan biologi, dan hal ini sangat berhubungan erat
dengan kandungan oksigen terlarut, sumber dan masuknya oksigen ke dalam sungai. Apabila
oksigen terlarut sebagai parameter kualitas air itu kritis atau buruk, maka mempengaruhi
berbagai proses. Proses pemulihan secara purifikasi alami sungai dari zona dergradasi
menjadi zona bersih memerlukan periode tertentu, tergantung beberapa parameter yang
mempengaruhinya, seperti re-aerasi, jumlah dan tipe materi organik, ketersediaan DO, jenis
mikroorganisme, dan sebagainya. Proses self purification dipengaruhi oleh proses flotasi,
dimana pencemar dihilangkan dari badan air dengan gelembung udara, yang pada keadaan
normal terjadi setelah jeram, air terjun, dan tebing tebing batuan.
Self purification sungai terjadi tetapi dalam proses yang sama, oksigen dikeluarkan
dari lingkungan air. Jika pasokan oksigen ke dalam sistem melebihi dari permintaan respirasi,
maka proses anaerob tidak akan terjadi. Oleh karena itu, proses self purification sangat
berhubungan erat dengan kandungan oksigen terlarut, sumber dan masuknya oksigen ke
dalam sungai. Apabila oksigen terlarut sebagai parameter kualitas air itu kritis atau buruk,
maka berbagai proses yang mempengaruhi oksigen terlarut akan dibahas.
B. Saran
Makalah ini masih sangat sederhana untuk itu penulis berharap kritik dan saran dari para
pembaca yanag budiman demi perbaikan makalah ini.Penyusun menyarankan agar makalah
ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.




11

DAFTAR PUSTAKA

Maholla, Sukma, dkk. 2010. Penyediaan Air Bersih dengan Teknik Self Purification di Aliran
Sekitar Sungai Brantas. Malang : UMM.
Whitehead, P.G.Dr, at all. 1982. Dispersion and Self-purification of Pollutans In Surface
Water Systems. Technical Pepers in Hydrology UNESCO, UK.
http://kharistya.wordpress.com/2006/06/24/self-purification-in-water-bodies/