Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH FARMASI FORENSIK

UJI ALKOHOL DENGAN METODE MIKRODIFUSI


CONWAY

Disusun Oleh :
Anis Khoirunisa

260110110102

Gina Fajar Andinia

260110110108

Foni Seviana

260110110113

Nita Yesita

260110110114

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013
UJI ALKOHOL DENGAN METODE MIKRODIFUSI CONWAY

I.

KERACUNAN ALKOHOL
Alkohol sering dipakai untuk menyebut etanol, yang juga disebut grain

alcohol; dan kadang untuk minuman yang mengandung alkohol. Hal ini
disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan dasar pada
minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol lainnya. Begitu juga dengan
alkohol yang digunakan dalam dunia famasi. Alkohol yang dimaksudkan adalah
etanol. Sebenarnya alkohol dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas
lagi.Dalam kimia alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa
organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom
karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain .
Sifat Fisika alkohol
Alkohol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma

yang khas.
Alkohol terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang kadang-

kadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa.


Sifat-sifat fisika alkohol utamanya dipengaruhi

oleh keberadaan

gugus hidroksil dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat
berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan
lebih sulit menguap dari pada senyawa organik lainnya dengan massa

molekul yang sama.


Alkohol adalah pelarut yang serbaguna, larut dalam air dan pelarut organik
lainnya.
Sifat kimia alkohol
Alkohol adalah molekul polar dengan adanya gugus -OH. Gugus fungsi

-OH dapat melepaskan proton pada larutan dan dengan demikian alkohol bersifat
asam. Pada kasus lain, gugus -OH dapat digantikan. Jadi, reaksi dalam alkohol
dapat diklasifikasikan menjadi reaksi yang melibatkan hidrogen asam dan yang
melibatkan gugus hidroksi.
Alkohol terdiri atas 2 jenis, yaitu :
a. Etil alkohol / Etanol (C2H5OH)
b. Metil alkohol / Metanol (CH3OH)

Alkohol bersifat racun bagi otak. Alkohol murni berupa cairan yang bening,
mudah menguap dan mempunyai aroma yang khas.
Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut,
atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak
berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada
beberapa jenis minuman beralkohol dan termometer modern.Etanol termasuk ke
dalam

alkohol

rantai

tunggal,

dengan rumus

kimia C2H5OH

dan rumus

empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari dimetil eter. Etanol


sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan dari gugus etil
(C2H5).
Fermentasi gula

menjadi

etanol

merupakan

salah

satu reaksi

organik paling awal yang pernah dilakukan manusia. Efek dari konsumsi etanol
yang memabukkan juga telah diketahui sejak dulu. Pada zaman modern, etanol
yang ditujukan untuk kegunaan industri dihasilkan dari produk sampingan
pengilangan minyak bumi.Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai
bahan-bahan kimia yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia.
Contohnya adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan.
Dalam kimia, etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan
untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah lama
digunakan sebagai bahan bakar.
Absorpsi terutama dari usus halus (80%) dan lambung (20%). Konsentrasi
alkohol dalam darah sudah bias ditemukan dalam waktu 5-10 menit setelah
meminum alkohol. Kadar puncak dalam darah adalah 30 menit setelah meminum
alkohol. Dibutuhkan waktu yang lama agar kadar puncak alkohol dalam darah ini
bisa menyebabkan habituasi (ketergantungan) dan keadaan lainnya seperti
gastritis dan anemia.
Proses absorpsi semakin cepat jika terdapat air dalam saluran usus atau
lambung dalam keadaan kosong. Wine (anggur) merupakan jenis minuman yang
paling cepat penyerapannya.

Metabolisme alkohol terutama terjadi di hati (90%) dan mengalami


oksidasi. Sisa yang 10% diekslresikan melalui kulit, paru-paru, kelenjar liur dan
ginjal. Alkohol bisa menjadi sumber energy yang baik, dimana setiap 1 gram
dapat menghasilkan 7 kalori.
Seseorang dikatakan mengalami keracunan alcohol apabila jumlah alcohol
yang dikonsumsi melebihi toleransi individu dan menimbulkan gangguan fisik
dan mental. Takaran alkohol untuk menimbulkan gejala keracunan bervariasi
begantung dari kebiasaan minum dan sensitifitas genetic perorangan. Umumnya
35 gram alkohol menyebabkan penurunan kemanmpuan untuk menduga jarak dan
kecepatan serta menimbulkan euphoria
1. Keracunan Alkohol Akut
A. Tanda dan gejala keracunan
Tanda dan gejala keracunan, terdiri atas 3 tahap :
a. Tahap merasa dalam keadaan senang
Pasien sadar dan merasa senang karena penekanan pada pusatpusat hambatan di otak, keadaan ini disebut fenomena pelepasan
(release phenomenon). Tahap ini bisa berlangsung lama dan dapat
terlihat pada semua kasus. Tanda-tandanya:
Muka merah
Pasien sangat banyak bicara
Gangguan pada pengendalian gerakan-gerakan halus, misalnya
meminum air, memasukkan benang ke dalam jarum.
Ada kalanya pasien menjadi:

Berperilaku kasar
Bersifat sentimental
Inkoordinasi
Pupil sedikit mengalami dilatasi dan bereaksi terhadap cahaya
Pernafasan berbau alkohol

Perlahan-lahan pasien akan memasuki tahap kebingungan


b. Tahap kebingungan
Keadaan ini adalah akibat penekanan pada pusat-pusat lainnya pada
otak sehingga berkaitan dengan:

Inkoordinasi-ataksia atau gerakan yang lambat


Pasien tidak dapat berjalan lurus
Percakapan tidak jelas, inkoheren dan sengau
Penglihatan kabur

Kemudian pasien akan memasuki fase setengah sadar dan akhirnya


menjadi tidak sadarkan diri. Pada tahap ini pasien masih bisa
dibangunkan dengan suara yang kuat atau cubitan.
c. Tahap koma
Sebelum memasuki tahap ini pasien masih bisa sembuh dan
kembali pada tahap pertama. Tetapi perlahan-lahan pasien akan
memasuki tahap koma.

Pernafasan lambat dan mendengkur


Denyut nadi cepat dan halus
Pasien tidak dapat dibangunkan walaupun dengan guncangan

keras
Suhu tubuh di bawah normal (hipotermia)
Pupil sedikit mengalami konstriksi
Kematian terjadi karena;
- Penekanan pada pusat otak yang lebih tinggi
- Anoksia otak akut
- Pneumonia atau edema paru
Sebelum kematian mungkin mengalami kejang-kejang

B. Dosis fatal
Dosis bukan hanya tergantung dari jumlah yang diminum, tetapi
juga bergantung pada kebiasaan seseorang dan jenis minumannya.
Misalnya alkohol absolut sebanyak 5 oz dapat berakibat fatal. Untuk
anak-anak berusia dibawah 12 tahun, alkohol absolut sebanyak 2 oz juga
sudah dapat berakibat fatal.
Pada buku lain juga mengatakan takaran alkohol untuk
menimbulkan keracunan bervariasi tergantung dari kebiasaan minum
dan sensitivitas genetik perorangan. Umumnya 35 gram alkohol
menyebabkan penurunan kemampuan untuk menduga jarak dan
kecepatan serta menimbulkan euforia. Alkohol sebanyak 75-80 gr akan

menimbulkan keracunan akut dan 250-500 gram alkohol takaran fatal.


Kadar alkohol darah dari konsumsi 35 gram alkohol dengan
menggunakan rumus:
A=C x P x R
A : jumlah alkohol yang diminum
C : kadar alkool darah(mg%)
P : berat badan(kg)
R : konstanta (0,0007)
Bagi orang dewasa, dosis sebanyak 150-200 mL alkohol absolut sudah
dianggap bisa berakibat fatal.
C. Periode fatal
Jika alkohol diminum dalam jumlah yang banyak oleh seseorang
yang tidak mempunyai kebiasaan minum alkohol bisa menyebabkan
kematian dalam beberapa menit. Periode fatal biasanya antara 12-24
jam, pada beberapa kasus bisa agak panjang yaitu antara 5-6 hari
D. Penatalaksanaan
Jika pengobatan diberikan pada saat yang tepat sebelum pasien masuk
dalam tahap koma, yaitu ketika refleks tubuh sudah tidak ada dan mata
mengalami konstriksi dan tidak bereaksi terhadap cahaya, maka
kemungkinan besar dapat sembuh.

Untuk mengeluarkan racun bisa diupayakan agar pasien muntah


secara mekanis yaitu dengan menekan orofaring. Zat kimia
perangsang muntah hanya digunakan jika keadaan umum pasien

cukup baik.
Bilas lambung harus dilakukan walaupun pasien dalam keadaan
tidak dapat dikendalikan. Bahan yang dperoleh dari bilasan
lambung yang pertama diambil untuk bilasan kimia, kemudian

bilas lambung dilanjutkan sampai hasil bilasan lambung tidak

mengandung bau alkohol.


Berikan minuman hangat seperti teh atau kopi
Penafasan buatan serta oksigen diberikan jika ditemukan adanya

tanda-tanda penekanan pernafasan


Obat stimulansia sepert coramine, nikethamide diberikan dalam

bentuk suntikan
Upayakan agar suhu tubuh pasien selalu hangat
Untuk mengatasi asidosis, diberikan soda bikarbonat melalui oral
Jika pasien gelisah diberikan mephenisine dengan dosis 1-3 gram
Jika perlu diberikan 1000 cc glukosa 10% serta garam fisiologis
secara intravena, kedalam larutan tersebut ditambahkan insulin 15
unit, vitamin B1 200 mg. niasinamida 200 mg dan vitamin C 1000

mg
Antibiotik diberikan sebagai tindakan profilaksis terhadap infeksi
paru-paru

Pasien diawasi dan diperhatikan tanda-tanda penyembuhan, yaitu;

Pasien kembali memasuki tahap kebingungan

Ukuran pupil kembali normal

Mulai timbul gejala mual dan muntah

E. Pemeriksaan Forensik
a. Pemeriksaan luar

Kaku mayat dan pembusukan lebih lambat terjadi. Mayat

penderita bisa bertahan lebih lama.


Kongesti pada konjungtiva sangat jelas
b. Pemeriksaan dalam
Bau alkohol bisa tercium dari isi lambung dan organ tubuh

lainnya
Dinding lambung hiperemis, berwarna merah dan isi lambung

berwarna coklat
Organ tubuh lainnya mengalami kongesti
Edema otak sangat jelas terlihat dari jarak antara gyrus otak
yang semakin sempit

Bagian tubuh yang diperlukan untuk pemeriksaan kimia:

Darah

Paru-paru

Otak

Pada bahan yang diambil tidak boleh ditambahkan zat pengawet dan
pemeriksaan dilakukan sesegera mungkin.
2. Keracunan Alkohol Kronis
Keadaan ini terjadi karena meminum alkohol dalam jangka waktu
yang lama. Korban biasanya adalah penderita psikosis atau neurosis,
sehingga alkohol digunakan sebagai pelarian dari kenyataan hidup.
A. Tanda dan gejala keracunan :

Nafsu makan menurun, mual, muntah dan diare


Tremor pada tangan dan lidah
Gangguan daya ingat dan kemampuan menilai
Jika telah berlangsung lama bisa menyebabkan hipoproteinemia

yang mengakibatkan edema anasarka


Selain mengalami stres psikologis, pasien juga mengalami neuritis

perifer dan demensia yang akan semakin nyata pada tahap akhir
Pasien kemudian secara tiba-tiba mengalami koma dan pingsan

B. Kelainan pada keracunan kronis alkohol:


a. Pada saluran pencernaan : alkohol dalam takaran tinggi dalam waktu
lama akan menimbulkan kelainan pada selaput lendir mulut,
kerongkongan dan lambung berupa gastritis kronis.
b. Pada hati akan terjadi penimbunan lemak dalam sel hati, SGOT dan
SGPT, trigliserida dan asam urat meningkat.
c. Pada jantung dapat terjadi kardiomiopati alkoholik dengan payah
jantung kiri dan kanan dengan distensi pembuluh balik leher, nadi
lemah dan edema perifer. Pada jantung akan terlihat hipertrofi kedua
ventrikel, fibrosis endokardial dengan tanda trombi mural pada otot
jantung.

d. Pada otot akan ditemukan miopati alkoholik dan histologis di jumpai


atrofi serat dan perlemakan jaringan otot.
C. Sebab dan mekanisme kematian
Mekanisme kematian terutama akibat gagal hati dan ruptur
varises esofagus akibat hipertensi portal. Pada autopsi bisa ditemukan
memar pada cortex cerebri, hematom sub-dural akut dan kronis. Depresi
pernafasan terjadi pada kadar alkohol otak lebih besar dari 450 mg%.
pada 500-600 mg% dalam darah, penderita biasanya meninggal dalam
1-4 jam setelah koma selama 10-16 jam.
D. Pemeriksaan Forensik
a. Pada orang yang masih hidup dapat diientifikasi dari bau alkohol
yang keluar dari udara pernafasan.
b. Pemeriksaan kadar alkohol darah: baik pemeriksaan udara
pernafasan atau urin atau dari darah vena
c. Kelainan pada orang yang sudah meninggal tidak khas. Mungkin
ditemukan gejala yang sesuai dengan asfiksia. Seluruh organ
menunjukkan tanda perbendungan, darah lebih encer, berwarna
merah gelap.
d. Mukosa lambung tanda perbendungan, kemerahan dan tanda
inflamasi tapi kadang-kadang juga tak tampak kelainan.
e. Otak dan darah berbau alkohol.
f. Pada pemeriksan histologis dapat dijumpai edema dan pelebaran
pembuluh darah dan selaput otak, degenerasi bengkak keruh, pada
bagian parenkim organ inflamasi mukosa saluran cerna.
g. Pada jantung, gambaran serat lintang otot jantung menghilang,
hialinisasi, edema dan vakuolisasi serabut otot jantung.
E. Pemeriksaan Laboratorium
Bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan.
Diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kuntitatif
kadar alkohol darah. Kadar alkohol udara ekspirasi dan urin dapat dipaki
sebagai pilihan kedua. Untuk korban meninggal, sebagai pilihan kedua

dapat diperiksa kadar alkohol dalam otak, hati, atau organ lain atau
cairan tubuh lain seperti cairan serebrospinal.
Untuk korban meninggal dapat diperiksa kadar alkohol dalam
otak, hati atau cairan tubuh seperti cairan serebrospinal. Penentuan kadar
alkohol dalam darah lambung saja tanpa menentukan kadar alkohol
dalam darah hanya menunjukkan orang tersebut telah minum alkohol.
Pada mayat, alkohol dapat berdifusi dari lambung ke jaringan sekitarnya
termasuk ke dalam jantung sehingga bisa diambil darah dari
pemeriksaan darah vena perifer seperti di daerah cubiti dan femoralis.
Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam
darah atau urin yang cukup sederhana adalah Teknik Modifikasi
Mikrodifusi (Conway).
F. Penatalaksanaan

Keadaan ini biasanya adalah masalah psikiatri karena berbagai

masalah yang melatarbelakangi kebiasaan minum alkohol tersebut


Kebiasaan minum alkohol harus dikurangi dengan memberikan
tablet antabuse (Tetra erthylthiuram disulphide) dengan dosis 0,25
sampai 0,75 gram per hari. Tablet antabuse hanya diberikan dengan
persetujuan pasien karena keadaan pasien akan sangat memburuk
jika setelah mendapat tablet Antabuse pasien kembali meminum
alkohol. Untuk tujuan yang sama bisa juga diberikan tablet Temposil

(Citrated calcium carbimide) dengan dosis 50 mg per hari.


Makanan dengan gizi yang seimbang
Pemberian multivitamin untuk mengatasi adanya defisiensi.
Pemberian vitamin ini harus tetap diberikan untuk jangka waktu
yang cukup lama

Alkohol

banyak

terdapat

dalam

berbagai

minuman

dan

sering

menimbulkan keracunan. Keracunan alkohol menyebabkan penurunan daya reaksi


atau kecepatan, kemampuan untuk menduga jarak dan ketrampilan mengemudi
sehingga cenderung menimbulkan kecelakaan lalu lintas di jalan, pabrik dan

sebagainya. Penurunan kemampuan untuk mengontrol diri dan hilangnya


kapasitas untuk berfikir kritis mungkin menimbulkan tindakan yang melanggar
hukum seperti perkosaan, penganiayaan, dan kejahatan lain ataupun tindakan
bunuh diri.
Pada kadar yang rendah, 10-20 mg% sudah menimbulkan gangguan
berupa penurunan keahlian keterampilan tangan dan perubahan tulisan tangan.
Pada kadar 30-40 mg% telah timbul penciutan lapang pandang, penurunan tajam
penglihatan, dan perpanjangan waktu reaksi. Pada kadar alkohol darah 30-50 mg
% dan lebih jelas pada kadar 150 mg% terdapat penurunan keterampilan
mengemudi. Pada kadar kurang dari 80 mg% telah terjadi gangguan penglihatan 3
dimensi, kedalaman pandangan, dan gangguan pendengar. Tampak gangguan pada
kehidupan psikisnya, seperti penurunan kemampuan memusatkan perhatian,
konsentrasi, asosiasi, dan analisa. Alkohol dengan kadar dalam darah 200 mg%
menimbulkan gejala banyak bicara, ramai (boisterous behaviour), refleks
menurun, inkoordinasi otot-otot kecil, kadang terjadi nistagmus, dan sering
terdapat pelebaran pembuluh darah kulit.
Alkohol dengan kaadar 250-300 mg% menimbulkan gejala penglihatan
kabur, tidak dapat mengenali warna, konjunctiva merah, dilatasi pupil (jarang
konstriksi), diplopia, sukar memusatkan pandangan/penglihatan, nistagmus. Bila
kadar dalam darah dan otak makin meningkat akan timbul pembicaraan kacau,
tremor tangan dan bibir, keterampilan menurun, inkoordinasi otot, dan tonus otot
muka menghilang. Pada kadar 400-500 mg%, aktivitas motorik hilang sama
sekali, timbul stupor atau koma, pernafasan perlahan dan dangkal, suhu tubuh
menurun.
Mekanisme kematian pada alkoholisme kronik terutama akibat gagal hati
dan rupture varises esophagus akibat hipertensi portal. Selain itu dapat disebabkan
secara sekunder oleh pneumonia dan TBC. Peminum alkohol sering terjatuh
dalam keadaan mabuk dan meninggal. Pada autopsi dapat ditemukan memar pada
korteks serebri, hematoma subdural akut atau kronik. Pada kadar alkohol otak
lebih dari 450 mg% dapat terjadi depresi pusat pernafasan. Pada kadar 500-600

mg% dalam darah, penderita biasanya meninggal dalam 1-4 jam setelah koma
selama 10-16 jam.
Pada orang hidup, bau alkohol yang keluar dari udara pernapasan
merupakan petunjuk awal. Petunjuk ini harus dibuktikan dengan pemeriksaan
kadar alkohol darah, baik melalui pemeriksaan udara pernapasan atau urin,
maupun langsung dari darah vena.
Kelainan yang ditemukan pada korban mati tidak khas, Mungkin
ditemukan gejala-gejala yang sesuai dengan asfiksia. Seluruh organ menunjukkan
tanda perbendungan, darah lebih encer, berwarna merah gelap. Mukosa lambung
menunjukkan tanda perbendungan, kemerahan dan tanda inflamasi tapi
kadangkadang tidak ada kelainan. Organ-organ termasuk otak dan darah berbau
alkohol. Pada pemeriksaan histopatologik dapat dijumpai edema dan pelebaran
pembuluh darah otak dan selaput otak, degenerasi bengkak keruh pada bagian
parenkim organ dan inflamasi mukosa saluran cerna.
Pada

kasus

keracunan

kronik

yang,

meninggal,

jantung

dapat

memperlihatkan fibrosis interstisial, hipertrofi serabut otot jantung, sel-sel radang


kronik pada beberapa tempat, gambaran seran lintang otot jatunng menghilang,
hialinisasi, edema dan vakuolisasi serabut otot jantung. Schneider melaporkan
miopati alhokolik akut dengan miohemoglobinuri yang disebabkan oleh nekrosis
tubuli ginjal dan kerusakan miokardium.

II.

UJI ALKOHOL DENGAN METODE MIKRODIFUSI CONWAY


Bau alkohol bukan merupakan diagnosis pasti keracunan. Diagnosis pasti

hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan kuantitatif kadar alkohol darah.


Kadar alkohol dari udara ekspirasi dan urin dapat dipakai sebagai pilihan kedua.
Untuk korban meninggal sebagai pilihan kedua dapat diperiksa kadar alkohol
dalam otak, hati, atau organ lain atau cairan tubuh lain seperti cairan
serebrospinalis.
Penentuan kadar alkohol dalam lambung saja tanpa menentukan kadar
alkohol dalam darah hanya menunjukkan bahwa orang tersebut telah minum

alkohol. Pada mayat, alkohol dapat didifusi dari lambung ke jaringan sekitarnya
termasuk ke dalam jantung, sehingga untuk pemeriksaan toksikologik, diambil
darah dari pembuluh darah vena perifer (kubiti atau femoralis).
Analisis MICRO-DIFUSI merupakan kemajuan yang nyata dalam teknik
analisis modern. Rasanya aneh, pada kenyataannya, bahwa prinsip yang
mendasari memungkinkan produk gas dari reaksi untuk meredakan, dalam ruang
tertutup, menjadi penyerap yang cocok atau reaktan tidak seharusnya digunakan
lebih luas dalam prosedur analitis pada tanggal lebih awal. Penyerapan gas ke
reaktan yang sesuai dengan metode penyulingan dan aerasi, tentu saja, dasar dari
banyak terkenal, dan penting, kimia dan biokimia metode analisis, tetapi metode
biasanya membosankan dan boros dalam alat dan material. Teknik Conway
melibatkan penggunaan peralatan gelas sederhana dan murah (disebut 'Satuan')
yang terdiri dari sebuah ruang dalam dan luar. Produk gas dari reaksi (misalnya,
amonia, amina volatile, karbon dioksida, asetaldehida) berpindah dari satu ruang,
di mana gas memberikan suatu ketegangan tertentu, menjadi penyerap di kamar
kedua, di mana ketegangan mendekati nol. Analisis terbuat dari isi ruang kedua,
dan akurasi hanya dibatasi oleh ketepatan memberikan dan titrasi volume cairan
urutan 1 ml. Conway mengklaim bahwa metode tampaknya menjadi "sederhana
mungkin konsisten dengan akurasi dicapai maksimal dalam penanganan mikrovolume". Teknik ini telah diadopsi untuk analisis amonia, amida dan amina,
derivatif adenosin dan adenosin, halogen, alkohol, aseton, asam laktat dan
glukosa, karbon monoksida dan karbon dioksida. Ini dapat digunakan juga dalam
estimasi aktivitas enzim.
Salah satu cara penentuan semikuantitatif kadar alkohol dalam darah yang
cukup sederhana adalah teknik modifikasi mikrodifusi (Conway), dengan
prinsip kerja :

Kalium karbonat jenuh direaksikan dengan darah yang mengandung


alkohol. Ikatan antara darah dengan alkohol yang relatif lemah akan
digantikan dengan ikatan antara darah dengan kalium karbonat yang lebih
kuat, sehingga memberikan peningkatan jumlah alkohol bebas.

Alkohol bebas akan berfungsi sebagai reduktor terhadap kalium dikromat


(K2Cr2O7) sehingga mengubah ion krom bervalensi 2 (Cr 2+) yang berwarna
kuning menjadi ion krom bervalensi 3 (Cr 3+) yang berwarna hijau.
Semakin hijau hasil akhir reaksinya maka semakin banyak alkohol yang
mengubah Cr2+ menjadi Cr3+.

Prosedur teknik modifikasi mikrodifusi (Conway), sebagai berikut :


a. Letakkan 2 ml reagen Antie ke dalam ruang tengah. Reagen Antie dibuat
dengan melarutkan 3,70 gr kalium dikromat ke dalam 150 ml air. Kemudian
tambahkan 280 ml asam sulfat dan terus diaduk. Encerkan dengan 500 ml
akuades.
b. Sebarkan 1 ml darah yang akan diperiksa dalam ruang sebelah luar dan
masukkan 1 ml kalium karbonat jenuh dalam ruang sebelah luar pada sisi
berlawanan.
c. Tutup sel mikrodifusi, goyangkan dengan hati-hati supaya darah bercampur
dengan larutan kalium karbonat. Biarkan terjadi difusi selama 1 jam pada
temperatur ruang.
d. Kemudian angkat tutup dan amati perubahan warna pada reagen Antie.
Interpretasi hasil (dengan melihat warna reagen Antie):
a. Warna kuning kenari: negatif/kadar alkohol <80mg/dL
b. Warna kuning kehijauan: kadar alkohol sekitar 80 mg%
c. Warna hijau kekuningan: kadar alkohol sekitar 150 mg%
d. Warna kehijauan: kadar alkohol sekitar 230 mg%
e. Warna biru hijau: kadar alkohol sekitar 300 mg%
Kadar alkohol darah yang diperoleh dari pemeriksaan belum menunjukkan
kadar alkohol darah pada saat kejadian. Hasil ini akibat dari pengambilan darah
dilakukan beberapa saat setelah kejadian, sehingga yang dilakukan adalah
perhitungan kadar alkohol darah saat kejadian. Meskipun kecepatan eliminasi
kira-kira 14-15 mg%, namun pada perhitungan harus juga dipertimbangkan

kemungkinan kesalahan pengukuran dan kesalah perkiraan kecepatan eliminasi.


Gruner (1975) menganjurkan angka 10 mg% per jam digunakan dalam
perhitungan. Sebagai contoh, bila ditemukan kadar alkohol darah 50mg% yang
diperiksa 3 jam setelah kejadian, akan memberikan angka 80 mg% pada saat
kejadian.
Contoh pada etanol. Etanol (CH3-CH2-OH) yakni jenis alkohol yang
ditemukan dalam minuman beralkohol. Etanol telah digunakan manusia sejak
jaman prasejarah dan sering menimbulkan keracunan. Pemeriksaan kadar etanol
darah postmortem merupakan salah satu analisa yang penting dan paling sering
dilakukan dalam pemeriksaan toksikologi forensik. Metode Mikrodifusi Conway
yang dimodifikasi merupakan metode identifikasi semi kuantitatif yang dapat
mendeteksi kandungan etanol dalam darah. Metode ini merupakan teknologi
kesehatan lama yang sampai saat ini masih dipakai di laboratorium kedokteran
forensik oleh karena murah, mudah dan cepat. Metode Mikrodifusi Conway yang
dimodifikasi pada pemeriksaan etanol darah pengendara korban meninggal akibat
kecelakaan kendaraan bermotor perlu diketahui validitasnya. Penelitian ini
menggunakan rancangan potong lintang. Validitas Mikrodifusi Conway yang
dimodifikasi untuk pemeriksaan etanol dalam darah dibandingkan dengan
pemeriksaan kromatografi gas sebagai baku emas. Sampel darah diperiksa di
laboratorium dengan metode Mikrodifusi Conway yang dimodifikasi dan juga
diperiksa dengan kromatografi gas secara bebas dan tersamar untuk mengetahui
kadar etanol. Diagnosis penggunaan etanol ditetapkan manakala kadar etanol
dalam darah lebih dari 0,0 mg% berdasarkan pemeriksaan baku emas. Analisis
statistik dilakukan dengan menggunakan program SPSS 10.0. Sensitifitas,
spesifisitas, nilai duga positif dan negatif, akurasi dan likelihood ratio dihitung
dengan tabel 2 x 2. Pemeriksaan kadar etanol dalam darah dengan metode
Mikrodifusi Conway yang dimodifikasi diharapkan memberi manfaat dalam
pemeriksaan dan pembuatan visum et repertum pengendara korban meninggal
akibat kecelakaan kendaraan bermotor.

DAFTAR PUSTAKA
Almiradani, A dan P. Ramadhani. 2012. Makalah Toksikologi Forensik. Tersedia
di

http://prasillia.blogspot.com/2012_07_01_archive.html

[diakses

tanggal 04 November 2013].


Darmono, 2009. Farmasi Forensik dan Toksikologi. Jakarta: UI Press.
Kumala, S. 2013. Pemeriksaan Alkohol Dengan Metode Microdiffusion Conway
Termodifikasi.

Tersedia

di

http://id.scribd.com/doc/142015984/Pemeriksaan-Alkohol-DenganMetode-Microdiffusion-Conway-Termodifikasi

[diakses

tanggal

04

November 2013].
Munim Idries. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Soularto, R. D. S. 2011. Validitas Diagnostik Mikrodifusi Conway Yang
Dimodifikasi Pada Pemeriksaan Alkohol Darah. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.
Sualman, K. 2009. Alcohol Intoxication. Tersedia di : http://kamisahmisae.blogspot.com/2009/09/alcohol-intoxication.html [diakses tanggal 04
November 2013].
Yumizone. 2009. Pemeriksaan Laboratorium Forensik Sederhana. Tersedia di :
http://yumizone.wordpress.com/2009/03/19/pemeriksaan-laboratoriumforensik-sederhana/ [diakses tanggal 04 November 2013].

Winarto.2011.Sifat

Fisika

dan

Kimia

Alkohol.Tersedia

http://www.ilmukimia.org/2013/03/sifat-fisika-dan-kimia-alkohol.html
[ diakses tanggal 05 November 2013]

di