Anda di halaman 1dari 3

Hampir semua sampel biologis tubuh seperti darah dan bercak darah, seminal, cairan

vaginal, dan bercak kering, rambut (baik rambut lengkap dengan akarnya atau hanya batang
rambut), epitel bibir (misal pada puntung rokok), sel buccal, tulang, gigi, saliva dengan nukleus
(pada amplop, perangko, cangkir), urine, feces, kerokan kuku, jaringan otot, ketombe, sidik jari,
atau pada peralatan pribadi dapat digunakan untuk sampel tes DNA, tetapi yang sering
digunakan adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab), dan kuku.
ntuk kasus!kasus forensik, sampel sperma, daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologis
lain yang ditemukan di tempat kejadian perkara ("#$) dapat dijadikan sampel tes DNA.
(Norah%&nman, '((')
Sumber : Norah )udin % #eith &nman. &ntroduction to *orensik DNA Analysis. '
nd
ed.
+ondon Ne, -ork .ashington D/0 /)/ $ress ++/, '(('
A.1igi
1igi mampu bertahan dari sebagian besar kejadian postmortem, seperti pembusukan, autolisis,
bahkan tahan panas sampai suhu 22((
o
/. 3el!sel terutama pada jaringan pulpa bisa berperan
sebagai sumber DNA disaat jaringan tubuh lain rusak atau hilang./ara pengambilan sampel
DNA dari gigi0
o 4etode 3mith dkk, dengan sectioning gigi di bagian /56, lalu bagian dentin dan pulpa
diambil dengan bur steril
o 4etode #r7y7anska, dengan pompa mikrofluid yang memompa sel dari jaringan pulpa
le,at orifice akar. 3el pulpa akan keluar melalui lubang!lubang kecil di permukaan
oklusal gigi yang telah dipersiapkan sebelumnya
o 3eluruh bagian gigi dihaluskan menjadi bubuk
$emilihan metode pengambilan sampel ini dilakukan secara case by case
B. Mukosa oral
$engambilan sampel dari mukosa mulut bisa menggunakan teknik buccal s,ab."argetnya
adalah sel epitel pipih berlapis (s8uamous epithelial cells) yang bisa diperoleh dari mukosa
di bukal, namun biasanya ada sejumlah saliva yang juga terambil."eknik buccal s,ab ini0
o 3ederhana dan tidak sakit
o 4udah dilakukan sendiri
o Donor lebih nyaman
$engambilan s,ab dilakukan dengan cotton bud steril. $ertama kita mencatat identitas donor
atau memberi label nomer sampel. $akai glove dan hindari mengkontaminasi s,ab.
$rosedur buccal s,abnya kemudian0
o 4inta donor untuk berkumur dengan air (bila diperlukan9)
o +ap satu sisi mukosa bukal dengan kain kasa steril (bila diperlukan9)
o Aplikasikan ujung cotton bud dengan mantap di daerah mukosa 2( kali, dengan
sedikit memutar ujung cotton bud setiap kali melakukan s,ab
o langi langkahnya dari a,al pada mukosa bukal di kontralateral
o :iarkan kedua s,ab mengering di lingkungan bebas kontaminasi selama paling tidak
;( menit
o 4asukkan kedua s,ab di pembungkus, kemudian masukkan ke container yang sejuk,
kering, bebas sinar <.
o 3ampel siap dikirim ke laboratorium
(9):erkumur sebelum mengambil sampel bertujuan untuk mengurangi sisa makanan dan bahkan
mengurangi kontaminasi dari sumber DNA lain (bakteri atau jamur, dll).4engelap mukosa juga
membantu membersihkan debris seperti plak.
(9)6adi, berkumur dan mengelap mukosa bukal jangan dilakukan apabila korban diduga
mengalami pemerkosaan dan diduga terjadi seks oral. $ada kondisi ini, pemeriksaan DNA dari
buccal s,ab lebih bertujuan untuk mencari identitas dari si pelaku
(sumber 0 Djohansyah +ukman. Ilmu Kedokteran Gigi Forensik Jilid 2. '((=. 3agung 3eto.)
c. Pemeriksaan DNA Fingerprint
Pemeriksaan sidik DNA pertama kali diperkenalkan oleh Jeffreys pada tahun 1985.
Pemeriksaan ini didasarkan atas adanya bagian DNA manusia yang termasuk daerah non-coding
atau intron (tak mengkode protein) yang ternyata merupakan urutan basa tertentu yang berulang
sebanyak n kali.
Bagian DNA ini tersebar dalam seluruh genom manusia sehingga dinamakan multilokus.
Bagian DNA ini dimiliki oleh semua orang tetapi masing-masing individu mempunyai jumlah
pengulangan yang berbeda-beda satu sama lain, sedemikian sehingga kemungkinan dua individu
mempunyai fragmen DNA yang sama adalah sangat kecil sekali. Bagian DNA ini dikenal
dengan nama Variable Number of Tandem Repeats (VNTR) dan umumnya tersebar pada bagian
ujung kromosom. Seperti juga DNA pada umumnya, VNTR ini diturunkan dari kedua orangtua
menurut hukum Mendel, sehingga keberadaanya dapat dilacak secara tidak langsung dari
orangtua, anak maupun saudara kandungnya.
Dengan metode Jeffreys dan menggunakan 2 macam pelacak DNA umumnya dapat
dihasilkan sampai 20-40 buah pita DNA per-sampelnya. Pada kasus identifikasi mayat tak
dikenal dilakukan pembandingan pita korban dengan pita orangtua atau anak-anak tersangka
korban. Jika korban benar adalah tersangka maka akan didapatkan bahwa separuh pita anak akan
cocok dengan ibunya dan separuhnya lagi cocok dengan pita ayahnya. Hal yang sama juga dapat
dilakukan pada kasus ragu ayah (disputed paternity).
Pada kasus perkosaan, dilakukan pembandingan pita DNA dari apus vagina dengan pita
DNA tersangka pelaku. Jika tersangka benar adalah pelaku, maka akan dijumpai pita DNA yang
persis pola susunannya.
3umber 0 4o7ayani A, No7iglia /. The Forensic Laboratory Handbook Procedures and
Practice '(22. 3pringer 3cience % :usiness 4edia