Anda di halaman 1dari 11

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kabupaten Indragiri Hulu merupakan daerah
memiliki potensi bahan galian tambang yang dapat
dihandalkan, namun sampai dengan saat ini belum
dikelola secara optimal, diharapkan adanya usaha
optimalisasi pengelolaan sehingga hasilnya dapat
dimanIaatkan terutama untuk peningkatan penda-
patan daerah.
Semakin menjamurnya pengusaha yang ber-
gerak di bidang pertambangan serta berkembangnya
penambangan liar yang dilakukan oleh perorangan
maupun kelompok memerlukan pengawasan, hal ini
merupakan tugas yang sangat berat bagi Pemerintah
Kabupaten. Kekurang cermatan dalam pengawasan
ini akan berakibat pada pemborosan sumber daya
dan menurunnya salah satu sumber pendapatan asli
daerah.
Teknologi Remote Sensing yaitu teknologi
yang mampu merekam permukaan bumi mengguna-
kan satelit telah berkembang dengan pesat. Data
yang diperoleh mencakup daerah yang sangat luas,
dengan satu kali perekaman satelit Landsat-7 TM
dapat meliput seluruh kawasan Indragiri Hulu.
Analisis data satelit dengan komposit 457 dapat
memberikan inIormasi sebaran bahan galian tam-
bang, namun kebenaran dari inIormasi ini tetap me-
merlukan pengamatan lapangan. Disisi lain
Teknologi Sistem InIormasi juga berkembang den-
gan pesat, khususnya Teknologi Sistem InIormasi
GeograIis. Sistem InIormasi GeograIis
(Geographic InIormation System disingkat dengan
GIS) yaitu sistem berbasis komputer yang dapat
digunakan untuk menyimpan, memanipulasi dan
menganalisis inIormasi geograIis yang dapat diak-
ses oleh berbagai pihak berkepentingan dalam
bentuk inIormasi tulisan, data dan Gambar atau
peta lengkap dengan posisi geograIisnya.Upaya
inventarisasi, pemetaan dan eksplorasi kekayaan
tambang, dengan memanIaatkan teknologi yang
tepat perlu ditingkatkan agar diperoleh manIaat
yang optimal
Data Penginderaan Jauh yang disertai Survey
secara langsung ke lapangan dan Sistem InIormasi
GeograIis dapat digunakan sebagai bahan acuan
dalam membuat perencanaan pengembangan dan
pedoman pengelolaan bahan galian tambang serta
usaha konservasinya.
TIN1AUAN PUSTAKA
Bahan galian tambang merupakan sumber
daya alam yang mengalami proses pembentukan
memerlukan waktu jutaan tahun dan siIat utama-
nya tidak terbarukan. Dalam berbagai reIerensi
Bahan galian ini juga disebut sebagai Sumber
Daya Mineral (SDM) yang dapat dimanIaatkan
ABSTRACT
An accurate and up-to-date inIormation or data concerning the potentials oI mineral re-
sources in a certain area, especially oI the mining, is urgently needed by the local govern-
ment because, on the basis oI such inIormation, steps Ior making decisions about mineral
resources management policy could be Iacilitated. In addition, such an inIormation will also
be very helpIul Ior businessmen as well practitioners interested or involving actively in the
management oI mineral resources. Remote sensing technology, a technology able to record
the earth surIace by using satellite, has been developed very Iast recently. The data obtained
cover a very huge area. An analysis oI satellite data with a composite oI 457 could provide
inIormation about the widespread oI mining materials. However, the validity oI the data still
needs Iield observation. The eIIorts to inventory, map and explore mineral resources by the
use oI an appropriate technology is seriously needed in order to gain an optimum beneIits.
Data obtained Irom remote sensing supported by a direct Iield observation and Geographical
InIormation System (GIS) could be used as a reIerence Ior development planning, as well
as Ior management and conservation eIIort oI the existing mineral resources.
Key words: inventory, mineral resources, remote sensing and GIS
INVENTARISASI POTENSI BAHAN GALIAN TAMBANG
DENGAN MENGGUNAKAN
TEKNOLOGI PENGINDERAAN 1AUH & GIS
(STUDI KASUS DI INDRAGIRI HULU)
Masberry
Jurusan Teknik Sipil, Eakultas Teknik Universitas Riau, Pekanbaru 28293
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 200
20
Bahan Galian industri sebagian besar meru-
pakan bahan galian golongan C, walaupun beberapa
jenis termasuk dalam bahan galian golongan lain-
nya. Secara geologi bahan galian industri terdapat
dalam ketiga jenis batuan yaitu batuan beku ,batuan
sedimen dan batuan metamorI. Bahan Galian terse-
but ada diantaranya merupakan bahan bangunan
alam, tidak lain merupakan bahan galian yang be-
lum tersentuh oleh rekayasa teknik. Namun
demikian dengan perkembangan rekayasa teknik
tidak tertutup kemungkinan ditemukannya bahan
galian industri yang baru.
Geologi Regional Daerah Penelitian
Secara umum daerah penyelidikan masuk ke
dalam satuan batuan Eormasi Air Benakat, Eormasi
Muaraenim dan Eormasi Kerumutan. Struktur ge-
ologi tersusun atas perlipatan-perlipatan berupa an-
tiklin dengan sumbu lipatan relative berarah barat
laut tenggara. Sesar yang dijumpai pada daerah
peninjauan merupakan sesar normal dengan arah
barat lauttenggara menyudut kurang lebih 15 den-
gan sumbu perlipatan condong ke utara. Sedangkan
morIologi daerah peninjauan umumnya didomiasi
oleh dataran bergelombang lemah sampai sedang.
MorIologi bergelombang umumnya terjadi pada
sumbu antiklin dengan pola aliran sungaisungai
dendritik berstadia muda hingga dewasa.
Stratigrafi
Berdasarkan Peta Geologi Lembar Rengat
(Suwarna, N., Budhitrisna, T., Santoso, S. Mangga,
dibidang industri/produksi.
Bahan Galian ini begitu penting kedudukannya
di Indonesia maka melalui Peraturan Pemerintah
(PP) no.27 tahun 1980, Pemerintah RI membagi ba-
han galian menjadi 3 golongan yaitu:
Bahan galian strategis disebut pula sebagai ba-
han galian golongan A terdiri dari: minyak bumi,
bitumen cair, lilin beku, gas alam, bitumen padat,
aspal, antrasit, batubara, batubara muda, uranium
radium, thorium, bahan galian radioaktiI lainnya,
nikel,kobalt, timah.
Bahan galian vital disebut pula sebagai bahan
galian golongan B. Terdiri dari; besi, mangaan,
molibden, khrom, wolIram, vanidium, titan, bauksit,
tembaga, timbal, seng, emas, perak, platina, air
raksa, arsen, antimon, bismut, ytrium, rhutenium,
cerium, dan logamlogam langka lainnya, berillium,
korundum, zirkon, kristal kuarsa, kriolit, Iluorspar,
barit, yodium, brom, khlor, belerang.
Bahan galian non strategis dan non vital, dise-
but pula sebagai bahan galian golongan C, terdiri
dari nitrat, nitrit, IosIat, garam batu (halit), asbes,
talk, mika, graIit, magnetit, yarosit, leusit, tawas
(alum), oker, batu permata, batu setengah permata,
pasir kuarsa, kaolin, Ieldspar, gipsum, bentonit,
tanah diatomea, tanah serap (fuller earch), batu
apung, trass, obsidian, marmer, batu tulis, batukapur,
dolomit, kalsit, granit, andesit, basalt, trakhit, tanah
liat, pasir, sepanjang tidak mengandung unsurunsur
yang merupakan bahan galian strategis dan vital
dalam skala yang berarti dari segi ekonomi pertam-
bangan.
1n.cnv.v. Tccn. vnvn vvn Ivnvn (^v.c,)
Gambar 1. Peta Administrasi Kabupaten Indragiri Hulu
2
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 200
Struktur Geologi
Struktur geologi di wilayah Kabupaten Indragiri
Hulu terjadi karena adanya aktivitas tektonik
Zaman Karbon sampai dengan Resen, terdiri
dari perlipatan, sesar, dan kekar/belahan. Struktur
perlipatan yang terdiri antiklin dan sinklin memiliki
arah umum sumbu perlipatan relatiI barat laut-
tenggara. Struktur sesar dominan berarah relatiI
timur laut-barat daya, terdiri atas sesar mendatar
dan sesar normal. Sedangkan Struktur kekar dijum-
pai pada hampir semua jenis batuan.
Sistem Penginderaan 1auh
Penginderaan jauh merupakan suatu ilmu dan
seni dalam mendapatkan inIormasi mengenai suatu
objek, Ienomena, atau wilayah melalui analisis
A., 1991), StratigraIi Kabupaten Indragiri Hulu
menurut para peneliti terdahulu di daerah penelitian
terdapat tiga singkapan Eormasi dari muda ke tua
yang batuannya berumur Kuarter.
a. Satuan batuan berumur Kwarter; endapan
pantai atau Alluvial muda (Qac, Qs, QI, Qrt)
berumur Holosen, tersusun atas lempung, pasir
dan kerikil. Batuan ini menempati bagian timur
kabupaten Indragiri Hulu yang merupakan enda-
pan pantai, rawa-rawa, delta dan lembah-lembah
sungai.
b. Formasi Kasai (QTk); terdiri dari batupasir tu-
Iaan, batu pasir kuarsa, konglomerat polimik,
tuIa, dan batulempung tuIaan
c. Formasi Kerumutan (Qtke); terdiri dari batu
pasir kuarsa, batu lempung tuIaan, tuIa dan lem-
pung pasiran. Eormasi ini diendapkan tidak se-
laras di atas Iormasi Muara Enim pada Plistosen
di lingkungan sungai dan danau.
d. Formasi Palembang (QTpu); berumur pliosen,
tersusun atas tuI asam berbatuapung, batupasir
tuIan, bentonit sisipan lignit, dan kayu terkesi-
kan.
e. Formasi Muaraenim (Tmpm1); berumur plio-
sen-miosen akhir, tersusun atas perlapisan batu-
pasir tuIIan, batulempung tuIIan, serpih tuIIan,
lensalensa batubara dan konkresi atau urat ok-
sida besi.
f. Formasi Airbenakat (Tma); berumur miosen
tengahmiosen akhir, tersusun atas perlapisan
batulempung, batupasir, serpih, lensalensa batu-
pasir kuarsa.
g. Formasi Gumai (Tmg); berumur miosen ten-
gah, terdiri dari serpih, batulempung, mudstone,
dan sisipan batupasir, nodul lanau. Pada bagian
atas dan tengah terdapat lensalensa mikrit.
h. Formasi Tualang (Tmt); berumur miosen awal
bagian atas batupasir kuarsa dengan sisipan ba-
tulempung,
i. Formasi Lakat (Toml); berumur oligosen
miosen awal, terdiri dari bagian atas berupa
perselingan batupasir kuarsa dan batulempung
karbonatan lanauan dengan nodul siderit.
j. Formasi Mentulu (PCm); merupakan batuan
alas, terdiri dari batu sabak, Iillit, batupasir meta,
bataulanau meta dan batu tanduk.
k. Formasi Pengabuhan (PCp); tersusun oleh ba-
tuan malihan berderajat rendah yang berumur
Karbon-Perem.
l. Formasi Gangsal (PCg); tersusun oleh batuan
malihan berderajat rendah yang berumur Kar-
bon.
Gambar 2. Peta Geologi Regional Daerah Penelitian
0 o r o n t | R o k a n D t h o r r o p o r t s
^ g o
F m . K o | o s a
F m . L a k a t
F m . L o m a t
F m . L a h a t
F m . To | | s a F m . To | | s a
F m . To | | s a
F m . N | | o F m . K a s a |
F m . P o t a n |
F m . K o r | n c |
F m . B | n | o
F m . P a | o m b a n g
F m . K a s a |
F m . K o | o s a
C r o u p
F m . Ta | a n
^ k a r
F m . L a k a t
F m . C u m a |
F m . ^ | r B o n a k a t
S e u t h S u m a t r a C e n t . S u m a t r a S e u t h S u m a t r a C e n t . S u m a t r a C e n t . S u m a t r a
F m . H u a r a E n | m
F m . C u m a |
F m . ^ | r
B o n a k a t
F m . Ta | a n
^ k a r
F m . T u a | a n g
F m . T u a | a n g
F m . H u a r a E n | m
B o n a k a t
H o m b o r
S | h a p a s
0 o 0 o s t o r 1 9 7 4 0 o m b | n a t | o n S u w a r n a 1 9 9 1
F m . 0 o n t r a |
P a | o m b a n g
F m . To p
P a | o m b a n g
To | | s a L | m o s t o n o
H o m b o r
B a t u r a j a
F m . P r a
S | h a p a s
H a
2
G - 7
1 O
1 2
1 G
2 O
2 8 . 5
8 O
8 7 . 5
4 O
5 O
5 7
G O
P | o | s t o c o n o
P | | o c o n o
? ?
?
? ?
?
D m b | | | n ? ? ? D m b | | | n ? ? ? D m b | | | n ? ? ?
Ta n g k o ? ? ? Ta n g k o ? ? ? Ta n g k o ? ? ?
Gambar 3. Stratigrafi Daerah Penelitian
dari Beberapa Peneliti Terdahulu
22
data yang diperoleh tampa melalui kontak lang-
sung dengan objek, Ienomena, atau wilayah yang
dikaji tersebut (Lillesand dan KieIer, 1990). Sis-
tem penginderaan jauh dilngkapi dengan sensor
dan kamera yang merekam objek dialam, sensor
tersebut menangkap sinyal gelombang elektromag-
netik yang dipantulkan oleh objek akibat dari pen-
garuh sinar matahari (Gambar 5).
Dalam pemetaan geologi terutama untuk pe-
metaan potensi sumber daya mineral, tidak terlepas
dari dua macam teknologi, yaitu penginderaan jauh
dan sistim inIormasi geograIi. Didalam pelak-
sanaan pemetaan, pengguna penginderaan jauh
memberikan alternatiI pilihan, terutama di In-
dragiri Hulu yang hampir seluruh wilayahnya ter-
dapat didaerah terpencil dan berhutan, untuk men-
gurangi biaya perlu didukung teknologi pen-
ginderaan jauh. Seiring dengan perkembangan
teknologi komputer yang semakin pesat dewasa ini
serta semakin banyak paket perangkat lunak, pen-
golah citra digital dan sistem inIormasi geograIis
(SIG) yang dioperasikan dengan komputer mikro
(PC). Teknologi penginderaan jauh beserta perang-
kat pengolahannya akan memudahkan interpretasi
suatu objek baik secara digital maupun visual.
BAHAN DAN METODE
Inventarisasi potensi bahan galian tambang
dilakukan berdasarkan interpretasi citra satelit yang
dipetakan sesuai dengan hasil survey lapangan.
Dalam hal ini akan diuraikan lebih lanjut tentang
diagram alir kegiatan, spesiIikasi teknik pekerjaan,
spesiIikasi peralatan cara perhitungan cadangan
masing masing potensi bahan galian.
Data
Data yang digunakan dalam pembuatan peta po-
tensi tambang khususnya bahan galian tambang
adalah data peta rupa bumi, data Citra Satelit, data
potensial tambang, Peta Geologi, Peta Adminis-
trasi, Peta Revisi RTRW dan data-data lain. Berikut
ini akan diuraikan tentang masing masing data
tersebut.
Peta Rupa Bumi
Peta Rupa Bumi yang digunakan adalah peta yang
dikeluarkan oleh Bakosurtanal dengan skala 1:
250.000. Seluruh Kabupaten Indragiri Hulu disaji-
kan dalam 2 lembar peta. Peta RBI ini digunakan
untuk koreksi geometri citra satelit, jalan dan con-
tour dari cadangan yang terukur.
Citra Satelit.
Citra satelit yang digunakan adalah citra Landsat 7
TM seperti pada Gambar 7.
Adapun spesiIikasi scene adalah sebagai berikut:
Tanggal pemotretan:
September 2003 & 2004
Path/ row : 12660&12661
Tipe data : raster
Eormat : BSQ ( Band Sequential )
Jumlah baris : 3500
Jumlah sel per baris : 5000
Data Potensial Tambang yang digunakan sebagai
bahan acuan survey lapangan terdiri dari :
Data Potensial Tambang INHU Tahun 2003 Di-
nas Pertambangan Propinsi Riau
Potensi Galian Tambang di Indonesia, PPTM.
Peta Geologi
Peta Geologi yang digunakan adalah Peta yang
dibuat oleh Pusat Pengembangan Teknologi Min-
1n.cnv.v. Tccn. vnvn vvn Ivnvn (^v.c,)
Gambar 4. Geologi Regional Pulau Sumatera
(Sukendar.A. 86)
Data
Collection
Data Processing
Data
Output
Obyek
Interpretation
Object
InIormation
GROUND TRUTH CHECK
PROCESSED IMAGE
RADIATION
MEDIUM (ATMOSEER)
SENSOR PLATEORM
Gambar 5. Sistem Penginderaan 1auh
Gambar 6. Citra Landsat Kab. INHU
Data Potensial Tambang
23
eral dengan skala 1:250.000.
Peta Administrasi
Peta Administrasi digunakan sebagai bahan acuan
batasbatas administrasi mulai batas propinsi, ka-
bupaten sampai kecamatan. Peta administrasinya
keluaran dari BPN Propinsi Riau dengan skala
1:100.000 dan Bappeda Kabupaten Indragiri Hulu
dengan skala 1 : 250.000.
Peta Revisi RTRW
Peta Revisi RTRW dikeluarkan oleh Bapedda Ka-
bupaten INHU tahun 2004 digunakan untuk acuan
tata guna lahan, Taman Nasional dan Suaka Mar-
gasatwa. Dimana data tersebut digunakan untuk
kesesuaian lahan bagi aktiIitas pertambangan.
Data Lain
Data-data lain untuk mengetahui Gambaran umum
Kabupaten Indragiri Hulu digunakan data-data ta-
bel dari Indragiri Hulu dalam Angka tahun 2004.
DIAGRAM ALIR KEGIATAN
Diagram umum proses pembuatan peta dapat
dilihat pada Gambar 8. Peta potensi disusun ber-
dasarkan interpretasi citra satelit Landsat 7 TM
yang diperoleh dari Lapan yang kondisi rielnya
diperoleh dari survey lapangan sehingga diperoleh
cadangan tereka dan cadangan terukur. Proses
pembuatan cadangan tereka dapat dilihat pada dia-
gram alir interpretasi citra satelit seperti pada
Gambar 9. Data input citra disusun dalam kom-
posisi band 4, 5 dan 7 untuk selanjutnya dilakukan
klasiIikasi. Hasil klasiIikasi dicek ke lapangan,
untuk kenampakan lahan yang sesuai kemudian
dipetakan, dihasilkan peta hasil interpretasi atau
peta tereka. Survey Lapangan untuk mendapatkan
data potensi pertambangan dilakukan berdasarkan
hasil overlay peta tereka dengan peta Geologi.
Pengolahan Citra Satelit Landsat 7 TM
Dalam proses ekstraksi inIormasi dari suatu
citra, pertama kali yang perlu diperhatikan adalah
jenis citra yang digunakan. Hasil rekaman yang
berupa data digital mencerminkan intesitas tenaga
yang dipantulkan atau yang dipancarkan oleh objek
dipermukaan bumi. Karena hasil data citra pen-
ginderaan tak lepas dari kesalahan baik itu yang
bersiIat sistematik (yang telah diduga) maupun
yang bersiIat asistematik (yang tak terduga) maka
sebelum citra dianalisis maka harus terlebih dahulu
dikoreksi yang meliputi koreksi radiometric dan
koreksi geometri agar inIormasinya sesuai dengan
keadaan sebenarnya di permukaan bumi. yang ke-
mudian dilajutkan dengan pembuatan komposit
warna.
Koreksi geometric
Pada koreksi geometri citra Landsat 7 TM,
untuk transIormasi lokasi piksel digunakan trans-
Iormasi linier dengan mengambil minimal 4 titik
sampel dengan RMS (Root Means Square) kurang
dari 0,05 dengan proyeksi SUTM 48 datum WGS
84, tipe koordinat Easting Northing, karena
meskipun secara geomorIologi daerah kajian ber-
bukit-bukit akan tetapi dengan transIormasi linier
saja memiliki tingkat error yang kecil, sedangkan
untuk relokasi piksel digunakan algoritma nearest
neighbor.
Berdasarkan hasil pengamatan pada ruang
spectral maupun karateristik respon objek terhadap
panjang gelombang, maka untuk pengamatan
geologi permukaan digunakan saluran/band Citra
Landsat 7 TM band empat (0,76 0,90 m) dimana
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 200
I n t e r p r e t a s i
d a n P I e t t i n g
P e n c e t a k a n
P e t a R u p a B u m i
1 : 2 5 0 0 0
P R O S E S P E M B U A T A N P E T A
S u r v e y L a p a n g a n D a n
A n a I i s i s L a b
D i g i t a s i p e t a
R u p a B u m i
L A P A N
8 G & P J T 8
C i t r a L a n d s a t E T M 7
S u r v e y b e r d a s a r
C i t r a S a t e l i t
P e t a P o t e n s i
Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Peta
0^T^ S^TELlT
L^N0S^T-7 ETH
0^T^
L^N0S^T-7 ETH
KL^SlFlK^Sl
SURVEY
L^P^NC^N
SESU^l No
PET^ RBl
SK^L^ 1:25.OOO
0lClT^Sl
DVERL^Y
PET^
^0HlNlSTR^Sl
lNTERPRET^Sl S^TELlT
(PET^ TEREK^)
Yos
KDREKSl CEDHETRl
KDREKSl R^0lDHETRl
Gambar 8. Diagram Alir Interpretasi Citra Satelit
24
dipilih agar tanggap terhadap sejumlah biomassa
vegetasi yang terdapat pada daerah kajian. Hal ini
membantu identiIikasi tanaman dan akan
memperkuat kontras anatara tanamantanah dan
lahan-air. Saluran/band lima (1,55 1,75 m), me-
rupakan suatu saluran yang dikenal penting untuk
penentuan jenis tanaman, kandungan air pada tana-
man dan kondisi kelembabapan tanah. Dan salu-
ran/band tujuh (2,08 2,35 m) yang penting un-
tuk pemisah Iormasi batuan, sedangkan melalui
teknik Look Up Tabel (LUT) dipilih warna merah
(Red) untuk band 4, hijau (Green) untuk band 5
dan biru (Blue) untuk band 7.
Komposit warna
Citra digital disusun oleh piksel-piksel yang
masing-masing mewakili 1 nilai digital. Piksel ini
merupakan unsur penyusun gambar yang mempun-
yai aspek spasial dan aspek spektral, sehingga da-
pat dinyatakan bahwa citra digital beroperasi pada
dua macam ruang yaitu ruang spasial dan ruang
spektral.Ruang spasial adalah ruang yang kita ke-
nal sehari-hari yang dapat dilihat dalam sistem
koordinat (x,y).
Meskipun data satelit tidak menampilkan in-
Iormasi-inIormasi secara langsung, aspek ini dapat
diturunkan dengan bantuan data ketinggian melalui
DEM (Digital Elevation Model). Model spasial
paling umum dari data digital adalah ruang` dua
dimensi berupa koordinat x dan y tiap piksel. Ru-
ang spektral merupakan salah satu titik tolak dalam
pendalaman teknik pengolahan citra.
Interpretasi visual
Pengamatan citra Landsat 7 TM cukup den-
gan mata telanjang atau dengan lensa pembesar,
tanpa stereoskop dengan menggunakan unsur dasar
interpretasi yaitu rona, pola, tekstur, bentuk,
ukuran, letak, asosiasi, dan bayangan serta unsur
dasar interpretasi geologi yaitu relieI, pola saluran,
vegetasi dan budaya.
Karena yang tampak pada citra adalah materi
penutup permukaan bumi, maka untuk interpretasi
geologi yang ditekankan adalah delineasi yang
dalam pekerjaan ini dilakukan secara on screen
digitizing dengan menggunakan soItware Er Map-
per 6.4 terhadap keseragaman relieI, pola saluran,
vegetasi dan budaya Gambar 14.
PENYUSUNAN BASIS DATA
Beberapa tahap dalam penyusunan basis data
yaitu digitasi data graIis, editing, tagging, inputing
data atribut,
Digitasi data grafis
Tahap ini terdiri dari kegiatan pembuatan basis
data digital dari data-data graIis yang berupa Peta-
peta acuan (Peta Rupa Bumi, Peta Administrasi,
Peta Revisi RTRW & Peta Geologi) yang terdiri
dari tema batas administrasi baik propinsi, kabu-
paten, kecamatan dan desa, tema jalan yang terdiri
dari jalan utama dan jalan lain. Untuk pembuatan
data digital dengan basis vektor diperlukan kompo-
nen hardware berupa digitizer Calcom dengan
dilengkapi komponen soItware yang pada kegiatan
ini digunakan soItware AutoCAD Map 2000i untuk
kenampakan obyek yang detil. Pada Gambar 9 da-
pat dilihat contoh tampilan menu AutoCAD Map
2000i untuk proses digitizing.
Tampilan hasil proses on screen digiti:ing
menggunakan Auto CAD dapat dilihat pada Gam-
bar 10. Hasil perubahan Iormat basis data ini selan-
jutnya siap untuk dilakukan editing, tagging dan
inputting data atribut.
Editing, tagging, inputting data atribut
Hasil digitasi data-data graIis kemudian diedit
melalui Iasilitas yang disediakan oleh AutoCAD
1n.cnv.v. Tccn. vnvn vvn Ivnvn (^v.c,)
Gambar 9. Menu AutoCAD Map 2000i
Gambar 10. Tampilan AutoCAD untuk
proses onscreen digitizing
25
MAP dimana dapat dilakukan pekerjaan-pekerjaan:
Untuk mengetahui adanya komponen-komponen
dangle dari garis (overshoot dan undershoot)
maupun pseudoline. Salah satu contoh tampilan
dalam proses editing menggunakan AutoCAD
MAP 2000i dapat dilihat pada Gambar 11.
Menyediakan Iasilitas transIormasi koordinat
dimana dalam kegiatan ini koordinat lokal di-
transIormasi dengan koordinat lapangan hasil
survey dengan menggunakan sistem proyeksi
UTM dengan datum WGS 84 serta pemberian
atribut/ keterangan (data tabular) graIis hasil
digitasi
Mengalamatkan (geocode) tabel berisi alamat
dan menampilkannya
Menentukan atribut Ieature dimana Iasilitas juga
dapat dilakukan dalam MapInIo ProIessional
8.0.
Survey Lapangan
Kegiatan survai lapangan diperlukan untuk
melakukan cheking kesesuaian Peta Rekaan Ba-
tuan Potensial Tambang dengan keadaan se-
benarnya (posisi dan kondisi Iisik) dilapangan dan
untuk menentukan koordinat titik kontrol yang se-
benarnya dengan menggunakan hardware berupa
GPS Navigasi dengan menggunakan metode diI-
Ierensial untuk menghasilkan error yang kecil.
Pada kegiatan juga dilakukan pengambilan sampel
yang selanjutnya diadakan pemeriksaan komposisi
kimia dari sampel di laboratorium. Prosedur survey
dapat dilihat pada Gambar 12.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Inventarisasi bahan galian tambang dibuat ber-
dasarkan hasil interpretasi citra satelit dan survey
lapangan. Interpretasi satelit menghasilkan peta
interpretasi atau peta tereka, sedangkan peta ber-
dasarkan hasil survey lapangan disebut dengan
Peta Potensi Bahan Galian Tambang. Untuk lebih
jelasnya masing masing akan diuraikan lebih lanjut
sebagai berikut.
IA1ERPRE1ASI CI1RA SA1ELI1
Interpretasi citra satelit dilakukan berdasarkan
diagram alir pada Gambar 8. Pertama tama adalah
membuat data satelit dengan komposisi band 4, 5
dan 7 yang menghasilkan Gambar 13.
Dari citra komposit 4,5,7 (Gambar 13) tampak
bahwa daerah kajian, dalam hal ini Kabupaten
Indragiri Hulu secara deduksi dapat
dinterpretasikan bahwa diskripsi Iisik yang
berkembang dapat dibedakan menjadi 4 bagian
yang terdiri dari kelompok morIologi perbukitan
bergelombang lemah yang mencakup 30 luas
wilayah Indragiri Hulu dengan kemiringan lahan
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 200
Gambar 11. Tampilan AutoCAD MAP 2000i
untuk proses editing
0ata Pota Toroka
Dvor|ay
Vo|umo 0adangan
Toroka
Konf|rmas| Vo|.
0adngan Toroka (Uj|
Lapangan)
Vo|umo 0adangan
Toroka
0adangan to|ah
torpotakan
0adangan bo|um
torpotakan
0ontoh Eksp|oras|
Vo|umo 0adangan
Lokas|
Vo|umo 0adangan S|sa
dan 0adangan to|ah
torga||
0adangan bo|um torga||
0adangan torga|| da|am
SlP0 (Eksp|o|tas|)
Potons|a| Tambang
bo|um torga|| tanpa
SlP0 dan sok|tarnya
Potons|a| Tambang
Torga|| SlP0 dan
sok|tarnya
0ata Potons|a|
Tambang
Rokaan Batuan
Potons|a| Tambang
Eksp|oras|
Vo|umo 0adangan
Lokas|
1. ^na||s|s Potrograf| (Jon|s batuan)
2. ^na||s|s K|m|a (Kua||tas Batuan)
Sobaran Tambang mo||put| :
1. Vo|umo 0adangan t|ap |okas|
2. Kua||tas 0adangan
0ata Pota Toroka
Gambar 12. Diagram Alir Survey Lapangan
Gambar 13. Citra Satet Komposisi Band 4, 5, 7
26
yang bervariasi dan bentuk bukit-bukit yang
sebagian memanjang dengan arah umumnya barat-
timur, bukit-bukit yang terisolir/terpisah-pisah
(inselberg) serta bentuk dataran yang mempunyai
lereng relatiI landai sampai datar. Daerah ini
bertopograIi membulat dengan lembah berbentuk
V dan lereng bukit antara 1020, pola aliran
daerah ini berpola dendritiktrellis.
MorIologi dataran terdapat pada daerah yang
mencakup 40 luas seluruh wilayah Indragiri
Hulu, membentang dari barat ke timur, umumnya
di sebelah barat lebih berkembang dari pada di
sebelah timur, tersusun oleh batuan seperti
batupasir, lempung, dan aluvium dan endapan
rawa dan sungai yang berumur kwarterresen,
pola pengaliran didaerah ini dendritik, trallis dan
banyak terdapat meander-meander dan merupakan
daerah hunian, kemiringan lereng 05.
MorIologi perbukitan kasar mencakup 10 luas
seluruh wilayah Indragiri hulu, terdapat pada
bagian selatan, bagian bawah bukit tiga puluh,
sanglap, dan bukit limau, umumnya membentuk
bukit berketinggian lebih dari 400 m dengan
topograIi kasar lereng bukit 30-60 dan puncaknya
tidak beraturan, lembah sungai berbentuk V dan
pola pengalirannya dendritik. Perbukitan ini
dialasi oleh batubara dan granit. Secara genetik
merupakan perbukitan lipatan.
Pada pola trellis, sungai utama dan cabang
sungainya membentuk suatu pola kisi yang mana
sungai utama mengalir mengikuti jalur yang lemah
biasanya jurus lapisan batuan dan cabang
sungainya mengalir disebelah lereng sungai. Pola
demikian dikontrol oleh struktur lipatan yang ada.
Sedangkan pada pola dendritik sungai-sungai
utama dan anak-anak sungai berpotongan tegak
lurus dan belahan sungai juga cenderung berbelah
secara tegak lurus. Pola demikian mengikuti jalur
lemah yang ditimbulkan karena adanya struktur
patahan, hanya saja ada satu sungai besar yang
agaknya tidak mengikuti kedua pola diatas yaitu
sungai Indragiri yang mengalir seolah-olah tak
terpengaruh oleh jenis dan struktur batuan
dibawahnya. Sedangkan pola yang terlihat pada
sungai ini adalah meander dimana sungai berkelok
-kelok tanpa mengikuti alur yang jelas. Sungai
tersebut merupakan sungai Compound Streams
dan Composite Streams, karena mengalir pada
daerah dengan umur geomorIologi dan pada
struktur geologi yang berlainan. Untuk lebih
memperjelas potensi bahan galian tambang, telah
dilakukan klasiIikasi yang menghasilkan data
seperti pada Gambar 15 berikut. Pada gambar
tersebut terlihat bahwa sirtu (termasuk pasir kuarsa
lepas, pasir kuarsakrakalan, lempung tuIaan dan
batu pasir tuIaan) berwarna kuningkuning keabu-
abuan, rona cerahagak gelap.
Selanjutnya hasil klasiIikasi tersebut didigitasi
dan menghasilkan peta tereka seperti pada Gambar
15.
Berdasarkan atas hasil tersebut, kemudian
dengan menggunakan System InIormasi GeograIis,
maka masing-masing sebaran potensi bahan galian
adalah sebagai berikut: pasir lepas dengan luas
sebaran cadangan 3103332681,2930; lempung
dengan luas sebaran cadangan 2708914355,3493
m; pasir tuIaan dengan luas sebaran cadangan
780109378,0721 m; kaolin dengan luas sebaran
cadangan 772694,7061 m.
KEADAAA MIAERALISASI BAHAA GALIAA
1AMBAAG (Perkiraan Potensi, Penyebaran,
Kadar/ kualitas dan Cadangan)
Perkiraan volume bahan galian tambang
dilakukan berdasarkan hasil pengamatan geologi
permukaan. Dari peta penyebaran bahan galian
tambang dapat ditentukan penyebarannya, baik
secara lateral yang berupa luas pelamparan, dan
penyebaran vertikal atau ketebalannya. Penentuan
volume cadangan dihitung dengan mengalikan luas
1n.cnv.v. Tccn. vnvn vvn Ivnvn (^v.c,)
Gambar 14. Hasil Klasifikasi Citra Satelit
Komposisi 4,5,7
Gambar 15. Peta Tereka Hasil Interpertasi Satelit
27
cadangan dengan ketebalannya. Ketebalan
cadangan diperoleh dari garis-garis kontur tertinggi
dan kontur terendah pada peta rupa bumi (peta
topograIi) yang mengandung suatu bahan galian.
Eormula yang digunakan untuk menentukan
volume adalah sebagai berikut:
V
i
h/2 x (A
i-1
A
i
), jika A
1
/A
o
~ 0,5
V
total

i
dimana:
Vi : volume bahan galian ke-i
V
total
: volume bahan galian total
h : interval garis kontur yang membatasi A
i
dan A
i-1
A
i
: luas bahan galian yang dibatasi oleh
kontur ke i
A
i-1
: luas bahan galian yang dibatasi langsung
oleh kontur di bawahnya
Sedangkan jika A
1
/A
o
0,5, maka dipakai
Iormula:
Garis ketinggian (kontur) yang tampak pada
peta potensi bahan galian tambang ini diperoleh
dari hasil interpretasi citra (pembuatan proIil 3
dimensi), dan garis kontur pada peta rupa bumi
yang kemudian dilakukan koreksi melalui
pengukuran ketinggian di lapangan. Peta sebaran
bahan galian tambang di Kabupaten Indragiri Hulu
dari hasil survei lapangan dapat dilihat pada
Gambar 16.
Adapun potensi sumber daya mineral di wilayah
ini dapat dibagi ke dalam 3 jenis, yakni:
I. Bahan Galian Golongan A (strategis)
II. Bahan Galian Golongan B (vital)
III. Bahan Galian Golongan C.
I. Bahan Galian Golongan A (strategis)
Yang termasuk bahan galian golongan A di
wilayah ini dijumpai (Notasi A):
A.1. Minyak bumi
Di wilayah utara yakni di sepanjang Antiklin
Japura, dijumpai sumur-sumur pemboran minyak
bumi yang telah diupayakan oleh Pertamina EP
II dan Medco.
Deskripsi
Eormasi-Iormasi batuan yang menjadi reservoir
hidrokarbon umumnya Iormasi Muara Enim
(Tmpm) pada Antiklin Japura yang dibatasi oleh
Sesar Barangan di utaranya. (Peta Geologi).
1. Penyebaran
Antiklin Japura berarah Barat LautTenggara
searah dengan struktur regional Pulau Sumatra.
2. Perhitungan Cadangan
Menurut laporan Menteri ESDM mengenai
Perhitungan Realisasi Alokasi LiIting Minyak
Mentah, maka daerah Inderagiri Hulu memiliki
potensi prognosa lifting 837,72 (ribu barrel);
Total 2005 lifting 834, 60 (ribu barrel) (Menteri
ESDM, 2005).
II. Bahan Galian Golongan B (vital)
Yang termasuk bahan galian golongan B di
wilayah ini dijumpai ((Notasi B):
Deskripsi:
Batubara, kilap tanah, hitam kecoklatan, rapuh
mudah hancur, sisa serat kayu. N115
o
E/12
o
.
Singkapan batubara dengan batu pasir, tebal
batubara 27 m.
Penyebaran:
Potensi batubara di Kabupaten Indragiri Hulu
cukup besar dan terdapat di beberapa wilayah
kecamatan serta belum dimanIaatkan secara
optimal. Sumber daya batubara di Kabupaten
Indragiri Hulu terbagi dalam 2 blok, yaitu blok
Peranap dan blok Seberida. Lokasi keterdapatan
batubara di Kabupaten Indragiri Hulu adalah di
Kecamatan Batang Gangsal, Kecamatan Batang
Cenaku, Kecamatan Seberida, Kecamatan Rakit
Kulim, Kecamatan Kelayang, Kecamatan
Peranap dan Kecamatan Batang Peranap.
Pada daerah Simpang Granit dijumpai ketebalan
batubara 7 meter berupa perlapisan dengan
kemiringan hampir tegak (dip perlapisan 85
o
) ini
menunjukkan telah terjadi pensesaran yakni
sesar anjakan atau naik. Kemenerusan lapisan
tersebut ke arah bawah permukaan tanah.
Umumnya ketebalannya sekitar 1 sampai 4
meter. Lapisan batubara tersebut terdapat dalam
Eormasi Telisa (Anggota Bawah Eormasi Telisa)
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 200

i i i i i
xJ J J J x
h
J
1 1
3


Gambar 16. Peta Potensi Bahan Galian Tambang
28
dengan kemiringan berkisar antara 8
o
-12
o
.
Total cadangan:
Ketebalan rata-rata 3 m, sebaran
328.351.378 m
2
,
volume 184.769.635 m,
berat 12.805.703.756 ton.
III. Golongan Bahan Galian yang tidak
termasuk golongan A dan B.
Yang termasuk bahan galian golongan C di
wilayah ini dijumpai (Notasi C):
1. Sirtu (pasir batu) dan Tanah Urug termasuk
di dalamnya pasir kuarsa lepas, lempung
dan tuI lempungan, batupasir tuIan.
2. Granit
3. Kaolin
4. Bentonit
Sirtu (pasir batu) dan Tanah Urug
Termasuk di dalamnya:
1. Pasir kuarsa lepas
2. Batu pasir-kerakal kuarsa
3. Lempung dan tuI lempungan
4. Batu pasir tuIan
Sirtu dan tanah urug
Sirtu adalah nama singkatan dari pasir dan
batu, hal ini dipertimbangkan dipergunakan
karena sirtu mempunyai komposisi
mineralogi dan ukuran yang sangat beragam.
Dengan demikian apabila seseorang
menyebut nama sirtu, para akademisi tidak
dapat menyebutkan Komposisi mineral dan
ukurannya apabila belum mengetahui batuan
asal pembentuknya.
Penyebarannya
Di Kecamatan Batang Cenaku dan
Kecamatan Batang Gangsal. Sebagian telah
ditambang dan dimanIaatkan oleh masyarakat
untuk kepentingan proyek-proyek
pembangunan jalan dan perawatan jalan di
Kabupaten Indragiri Hulu. Tanah urug
terdapat hampir di semua kecamatan di
Kabupaten Indragiri Hulu.
Pasir kuarsa lepas
Pasir kuarsa lepas mempunyai komposisi
gabungan dari SiO
2
, Ee
2
O
3
, Al
2
O
3
, TiO
2
,
CaO, MgO, dan K
2
O, berwarna putih bening
atau warna lain bergantung pada senyawa
pengotornya, kekerasan 7 (skala Mohs), berat
jenis 2,65, titik lebur 1715
o
C, bentuk kristal
hexagonal, panas sIesiIik 0,185, dan
konduktivitas panas 12
o
100
o
C.
Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir
kuarsa sudah berkembang meluas, baik
langsung sebagai bahan baku utama maupun
bahan ikutan. Sebagai bahan baku utama,
misalnya digunakan dalam industri gelas kaca,
semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku
Iero silikon, silikon carbide bahan abrasit
(ampelas dan sand blasting).
Deskripsi:
Warna Kuning kecoklatan, ukuran butir pasir-
kerikil, mineral kuarsit, komposisi silika.
Batupasir-batupasir konglomerat, kuarsit,
Ielspar, lempung, konglomeratan.
Penyebaran:
S. Arang dan Simpang Granit-Danau Rambai
di Batang Gangsal, berupa perbukitan
bergelombang kasar, pemanIaatan lahan
berupa kebun/tegalan. Pangkalan kasai, S.
Putihan, Kec. Siberida, Anak Talang,
Kelayang. Pasir Ketapi-Pasir Penyu: pasir
lepas, tersebar mengikuti morIologid a t a r a n ,
juga di meander, sepadan sungai. Di daerah
Pesajian-Bt Peranap berupa sedimen gosong,
meander-bantaran sungai. Pasar Ringgit-
Rengat Barat, berupa pasir lepas, pada
morIologi datar dan bermeander, sepadan
sungai pasir, krikil, kuarsit, Ielspar, lempung,
bersiIat lepas. Pesajian-Bt Peranap berupa:
pasir lepas, gosong, meander, bantaran sungai
kuning kecoklatan, pasir-kerikil, kuarsit,
silika.
Kadar/kualitas:
Hasil analisa saringan, analisa gradasi butiran-
metoda mekanik di Laboratorium Bahan dan
Mektan Universitas Riau, menunjukkan bahwa
sampel no.ss 0028, lokasi Pasar Ringgit yang
mempunyai kualitas yang paling baik dengan
kandungan lempung 4,59, kerikil 0,00,
pasir 95,41, kadar Cu 7,24, Cc 0,71.
Cadangan:
Sebaran 1.178.354.488,581m, ketebalan 10
m, volume 11.783.544.886 m, berat
153.186.083.516 ton.
Granit
Granit merupakan salah satu batuan beku, yang
bertekstur granitik dan struktur holokristalin,
serta mempunyai komposisi kimia +70 SiO
2
dan +15 Al
2
O
3
, sedangkan mineral lainnya
terdapat dalam jumlah kecil, seperti biotit,
muskovit, hornblende, dan piroksen. Umumnya
granit berwarna putih keabuan, Sebagai batu
hias warna granit lainnya adalah merah, merah
muda, coklat, abu-abu, biru, hijau dan hitam,
hal ini tergantung pada komposisi mineralnya.
1n.cnv.v. Tccn. vnvn vvn Ivnvn (^v.c,)
29
Kaolin
Kaolin merupakan masa batuan yang tersusun
dari material lempung dengan kandungan besi
yang rendah, dan umumnya berwarna putih
atau agak keputihan. Kaolin mempunyai
komposisi hidrous alumunium silikat
(2H
2
O.Al
2
O
3
.2SiO
2
), dengan disertai mineral
penyerta.
Proses pembentukan kaolin (kaolinisasi) dapat
terjadi melalui proses pelapukan dan proses
hidrotermal alterasi pada batuan beku
Ielspartik. Endapan kaolin ada dua macam,
yaitu: endapan residual dan sedimentasi.
SiIat-siIat mineral kaolin antara lain, yaitu: ke-
kerasan 22,5, berat jenis 2,62,63, plastis,
mempunyai daya hantar panas dan listrik yang
rendah, serta pH bervariasi.
Deskripsi:
Warna putih, berukuran lempung, mineral
silika, kekerasan lembek.
Penyebaran:
Penyebaran kaolin di daerah penelitian tersebar
di Desa Bulu Rumbai, Danau Rumbai,
Pangkalan Kasai, Kecamatan Siberida, Sungai
Akar, Kecamatan Batang Gangsal, Kecamatan
Peranap. Endapannya terdapat dibawah pasir
kuarsa, deposit kaolin terbesar di Desa Danau
Rumbai. Di daerah ini juga dilakukan
pengeboran sedalam 2 m dengan menggunakan
Bor Tangan (Hand Auger).
Cadangan:
Sebaran 44.900.333,117 m, tebal rata-rata
3 m, volume 224.501.666 m, berat
3.592.026.649 ton.
Bentonit
Bentonit adalah istilah pada lempung yang
mengandung monmorillonit dalam dunia
perdagangan dan termasuk kelompok
dioktohedral. Penamaan jenis lempung
tergantung dari penemu atau peneliti, misal ahli
geologi, mineralogi, mineral industri dan lain-
lain.
Bentonit dapat dibagi menjadi 2 golongan
berdasarkan kandungan alumunium silikat
hydrous, yaitu activated clav dan fullers Earth.
Jctivated clav adalah lempung yang kurang
memiliki daya pemucat, tetapi daya
pemucatnya dapat ditingkatkan melalui
pengolahan tertentu. Sementara itu, fullers
earth digunakan di dalam fulling atau
pembersih bahan wool dari lemak.
Penyebaran:
Tersingkap di belakang kantor Kalurahan Desa
Semelinang Tebing, Kecamatan Peranap dan di
tepi Sungai Batang Kuantan Kec. Peranap.
Cadangan:
Sebaran 7.590.138,445 m, ketebalan rata-rata
4 m, berat 30.360.553,78 ton.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Kabupaten Daerah Tingkat II Indragiri Hulu
memiliki potensi bahan galian tambang yang besar
dinilai dari aspek komoditas. Bahan galian tambang
yang paling prospek adalah minyak bumi, batubara,
kaolin, bentonit, pasir kuarsa dan granit. Batubara
di Kabupaten Indragiri Hulu terbagi dalam 2 blok
yaitu: Blok Peranap dan Blok Seberida.
Melihat berkembangnya kegiatan sub-sektor ini
menimbulkan berbagai harapan bagi pembangunan,
seperti penyerapan tenaga kerja, pembangunan
ekonomi daerah, penganekaragaman komoditi
mineral serta peningkatan pendapatan asli daerah
(PAD).
Saran
Perlu segera dieksplorasi lebih lanjut daerah-daerah
yang prospek tambang, terutama lokasi-lokasi layak
tambang yang mempunyai deposit prospek dan
volume cadangan besar yakni, batu bara, kaolin,
bentonit, pasir kuarsa.
Perlu evaluasi secara menyeluruh terhadap potensi
bahan galian tambang dan Iaktor-Iaktor pendukung
pertambangannya di Propinsi Daerah Tingkat I
Riau demi pengembangan sektor pertambangan
khususnya dan peningkatan Pendapatan Asli
Daerah dan Masyarakat luas pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, R. W.Van. 1949. The Geologv of Indonesia,
Vol. 1A, General geology oI Indonesia and adja-
cent archipelagos Govt printing oIIice the Hagus.
Direktorat 1endral Pertambangan Umum. Jenis Ba-
han Galian vang diusahakan oleh Perusahaan Per-
tambangan Swasta Nasional, Perusahaan Daerah
dan Koperasi, Pameran Produksi Indonesia, 1990.
Direktorat Pertambangan Depertemen Pertamban-
gan. Buku Pedoman Bahan Galian Indonesia, 1950
1965.
De Coster, G.L. 1974. The Geologv of the Central and
South Sumatra Basins. Proc. 3
rd
Annual ConI. IPA,
77-110.
1ensen, 1. R. 1986. Introductorv Digital Image Process-
ing, Printice Hall, USA
Lillesand, T. M. & Kiefer R.W. 1979. Remote Sensing
and Image Interpretasion, Jhon Wiley and Sons,
Newyork.
Susanto. 1994. Penginderaan Jauh Jilid 2. Gadjah Mada
University prees Edisi II, Yogjakarta.
vnv vn. vvn Ic[ncc (1), ^vc 200: 200
30