Anda di halaman 1dari 18

1

Pendahuluan
Obstruksi usus didefinisikan sebagai sumbatan bagi jalan distal isi usus. Mungkin
ada dasar mekanisme, tempat sumbatan fisik terletak melewati usus atau ia bisa
terjadi karena suatu ileus. Ileus juga didefinisikan sebagai jenis obstruksi apapun
, tetapi istilah ini umumnya telah berarti ketidak mampuan isi usus menuju distal
terhadap kelainan sementara dalam motilitas usus.

Penyebab dari ileus pun bermacam, seperti adhesi, Hernia, Askariasis dan
diantaranya adalah invaginasi atau intususepsi. Invaginasi disebut juga dengan
intususepsi, yang merupakan suatu keadaan dimana segmen usus yang lebih
proksimal masuk kedalam segmen lainnya yang lebih distal yang bisa berakibat
dengan obstruksi / strangulasi. Tujuannya dibuat makalah ini adalah agar
pembaca dapat mengerti tentang ileus obstruksi, terutama yang disebabkan oleh
invaginasi usus.



















2
Embriologi dan anatomi
Dalam permulaan perkembangannya, saluran cerna hanya berupa suatu tabung
sederhana dengan beberapa benjolan. Bakal lambung berupa suatu pelebaran
berbentuk kerucut, sedangkan bakal sekum ditandai oleh suatu pelebaran yang
asimetris.

Pada usia janin bulan kedua dan ketiga, terjadi suatu proses yang dapat
menerangkan timbulnya cacat bawaan pada bayi dikemudian hari. Usus tumbuh
dengan cepat dan berada didalam tali pusat. Sewaktu usus menarik diri masuk
kembali kedalam rongga perut, duodenum dan sekum berputar dengan arah
berlawanan jarum jam. Duodenum memutar didorsal arteri dan vena
mesenterika superior, sedangkan sekum memutar di ventralnya, sehingga
kemudian sekum terletak di fosa iliaka kanan.

Gangguan perkembangan selama minggu ke 10 atau ke 11 akan menimbulkan
berbagai kelainan, seperti tidak terbentangnya mesenterium pada dinding
belakang, tidak beradanya sekum di kanan bawah perut, melainkan lebih jauh
dari kranial atau tidak stabil dan tidak terpancangnya sekum meskipun
lokasinya normal. Sisa duktus omfalomesenterikus dapat menjadi diverticulum
meckel. Gangguan pembentukan kembali saluran atau gangguan rekanalisasi
dapat menyebabkan terjadinya atresia usus atau obstruksi usus oleh sekat.

Panjang usus halus kurang lebih enam meter. Perbatasan antara yeyenym dan
ileum tidak jelas dari luar dinding yeyenum lebih tebal dan lumen ileum lebih
sempit. Mesenterium mengandung pembuluh darah , pembuluh limfe dan saraf
otonom. Aliran darah kolateral melalui arcade mesenterium dipinggir usus halus
yang cukup banyak turut menjamin penyembuhan luka anastomosis usus.

Selain itu terdapat pendarahan kolateral antara arteri kolika media sebagai
cabang dari arteri mesenterika superior dan arteri kolika sinistra sebagai cabang
arteri mesenterika inferior, hubungan kolateral ini terletak di pinggir kolon
tranversus dan kolon desenden. Selain itu terdapat hubungan kolateral antara
pangkal arteri mesenterika superior dan pangkal arteri mesenterika inferior
3
melalui suatu lengkung pembuluh yag disebut dengan arkus Riolan. Lengkung
pembuluh kolateral ini menjadi vital bila timbul gangguan pendarahan melalui
salah satu dari kedua arteri tersebut.

Vena mesenterika superior bergabung dengan vena lienalis dan vena
mesenterika inferior membentuk vena porta. Vena ini merupakan vena besar
sehingga pada hipertensi portal dapat dipakai untuk melakukan dekompresi
melalui anastomosis mesenterikokaval dengan vena kava inferior.

Fisiologi
Cairan dan elektrolit
Bersama cairan yang masuk dengan makanan dan minuman, ludah , cairan
lambung, empedu, secret pancreas dan cairan usus halus membentuk cairan
saluran cerna dengan volume 6-8 liter . semua cairan ini akan diserap kembali
sebelum isi usus melewati katup ileosekal sehingga hanya kira-kira setengah
liter cairan yang akan diteruskan ke kolon. Proses keluar masuknya cairan
melalui sel ini terjadi dengan cara berdifusi, osmosis atau dibawah pengaruh
tekanan hidristatik

Peristalsis, digesti dan absorpsi
Fungsi usus halus terdiri dari transportasi dan pencernaan makanan, serta
absorpsi cairan, elektrolit dan unsur makanan. Setiap hari beberapa liter cairan
dan puluhan gram makanan yang terdiri dari karbohidrat, lemak dan protein
akan berlalu diusus halus, dan setelah dicerna, akan masuk kedalam aliran
darah. Proses ini sangat efisien karena hamper seluruh makanan terserap
kecuali bila makanan terlindung oleh selulosa yang tidak dapat dicerna. Hal ini
menjadi dasar diet berserat tinggi yang memberi volume ke feses sehingga laju
makanan di saluran cerna berlangsung lebih cepat. Hamper semua bahan
makanan diabsorpsi dalam yeyenum, kecuali vitamin B12 dan asam empedu yang
diserap dalam ileum terminal.

4
Isis usus digerakan oleh gerakan peristaltic yang terdiri dari dua jenis gerakan
yaitu gerakan segmental dan gerakan longitudinal. Gerakan intestinal ini diatur
oleh system saraf otonom.

Intususepsi
Invaginasi adalah keadaan yang umumnya terjadi pada anak-anak, dan
merupakan kejadian yang jarang terjadi pada dewasa, invaginasi adalah
masuknya segmen usus proksimal kerongga lumen usus yang lebih distal
sehingga menimbulkan gejala obstruksi berlanjut strangulasi usus. Definisi lain
Invaginasi atau intususcepti yaitu masuknya segmen usus (Intesusceptum) ke
dalam segment usus di dekatnya (intususcipient). Pada umumnya usus bagian
proksimal yang mengalami invaginasi (intussuceptum) memasuki usus bagian
distal (intussucipient), tetapi walaupun jarang ada juga yang sebaliknya atau
retrograd Paling sering masuknya ileum terminal ke kolon. Intususeptum yaitu
segmen usus yang masuk dan intususipien yaitu segmen usus yang dimasuki
segmen lain.

Invaginasi terjadi karena adanya sesuatu di usus yang menyebabkan peristaltik
berlebihan, biasanya terjadi pada anak-anak tetapi dapat juga terjadi pada
dewasa. Pada anak-anak 95% penyebabnya tidak diketahui, hanya 5% yang
mempunyai kelainan pada ususnya sebagai penyebabnya. Misalnya
diiverticulum Meckeli, Polyp, Hemangioma. Sedangkan invaginasi pada dewasa
terutama adanya tumor yang menyebabkannya. Perbandingan kejadian antara
pria dan wanita adalah 3 : 2, pada orang tua sangat jarang dijumpai. Daerah
yang secara anatomis paling mudah mengalami invaginasi adalah ileo coecal,
dimana ileum yang lebih kecil dapat masuk dengan mudah ke dalam coecum
yang longgar. Invaginasi dapat menyebabkan obstruksi usus baik partiil maupun
total. Intususepsi paling sering mengenai daerah ileosekal, dan lebih jarang
terjadi pada orang tua dibandingkan dengan pada anak-anak.

Invaginasi atau intususepsi merupakan keadaan gawat darurat, dimana bila
tidak ditangani segera dan tepat akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut.
Hampir 70% kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun (
5
umumnya umur 3-12 bulan) , kurang lebih sekitar 1% ditemukan intususepsi
pada neonates . intususepsi paling sering dijumpai pada ileosekal. Invaginasi
sangat jarang dijumpai pada orang tua, serta tidak banyak tulisan yang
membahas hal ini secara rinci.


Gambar 1. Usus Invaginasi


Gambar 2. Usus Normal

6
Berikut adalah Klasifikasi intususepsi :
1. IleoCaecal : Ileum berinvaginasi kedalam kolon asenden pada katup
ileocaecal
2. Ileo-Colic : Ileum berinvaginasi kedalam kolon
3. Colo-Colic : kolon berinvaginasi kedalam kolon
4. Ileo-Ileo : usus kecil berinvaginasi kedalam usus kecil.
Selain itu dapat terjadi kombinasi lain seperti ileo-ileocolica dan appendical-
colica. Kasus yang paling banyak ditemukan adalah ileo-colica ( sekitar 75%)


Gambar 3. Intususepsi Ileo-Caecal


Gambar 4. Intususepsi Ileo-Ileo



7
Etiologi
Penyebab dari intususepsi dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti :
1. Henoch-Schonlein purpura
Anak dengan HSP juga menampilkan nyeri abdomen sebagai efek sekunder
dari vasculitis di mesenterika, pankreas dan sirkulasi intestinal.anak dengan
HSP juga dapat ditemukan adanya submukosal hematoma, yang mana dapat
menyebabkan intususepsi di usus kecil . kebanyakan HSP dapat menyebabkan
intususepsi ileo-ileo ( dari usus kecil ke dalam usus kecil )

2. Hemofilia dan kelainan pembekuan darah lainnya
Pasien dengan hemofilia dan gangguan pembekuan darah lainnya mungkin
dapat terjadi submukosa hematom disaluran cera yang dapat menyebabkan
terjadinya intususepsi.

3. Post-Operasi Laparotomi
Intususpsi dapat terjadi setelah orang melakukan operasi laparotomi. Kejadian
ini berkisar antara 0.08-05% kejadian setelah operasi. Mungkin dapat terjadi
adanya perbedaan mekanisme kerja diantara segmen usus halus yang dapat
menyebabkan intususepsi. Intususpsi ini dapat terjadi diantara 2 minggu
pertama setelah operasi. Yang mana ditandai dengan adanya obstruksi dari
usus halus.

4. Penyebab lainnya
Sebuah pembelajaran telah mempelajari bahwa usus yang abnormal
melepaskan nitrit oxida, sebuah inhibitor neurotransmiter yang dapat
menyebabkan terjadinya relaksasi dari katup ileo-sekal yang dapat
menyebabkan terjadinya intususepsi ileo-caecal.

5. Idiopatik
Dikebanyakan kasus pada bayi dan remaja dengan intususepsi, etiologinya
tidak jelas.



8
Patofisiologi
Intususepsi umumnya terjadi karena adanya ketidak seimbangan dari gerakan
peristaltik longitudinal diantara dinding usus. Ketidak imbangan ini dapat
dikarenakan adanya masa yang menjadi hambatan bagi gerak peristaltik yang
menyebabkan gerakan peristaltik yang berlebih untuk mendorong masa tersebut.
Sebagai hasilnya terjadi paksaan yang berlebihan didindin intestin yang menyebabkan
bagian usus yang proksimal tergelincir kedalam usus yang lebih distal. Proses ini
dapat terjadi terus menerus dan bagian yang lebih proksimal dapat terus tergelincir
kedalam yang lebih distal. Jika mesenterium intususeptum menjadi lemah dan
perkembangan invaginasi yang cepat, intususeptum dapat melanjutkan ke kolon
distal atau sigmoid dan bisa prolaps keluar anus. Mesenterium intususeptum
yang diinvaginasi oleh usus menyebabkan proses patofisiologis klasik setiap
obstruksi usus.

Pada awal proses ini, aliran kembali limfatik terhambat, kemudian, dengan
peningkatan tekanan dalam dinding intususeptum, aliran vena terganggu. Jika
proses obstruktif berlanjut, tekanan akan mencapai satu titik di mana aliran
arteri dihambat, dan infark kemudian terjadi. Mukosa usus sangat sensitif
terhadap iskemia karena terletak jauh dari pasokan arteri. Mukosa usus yang
iskemik akan nekrosis yang mengarah dan menyebabkan tinja heme-positif dan
kemudian ke tanda klasik "jelly stool" (campuran mukosa usus yang nekrosis,
darah, dan lendir). Jika tidak diobati, gangrene transmural dan perforasi
intususeptum dapat terjadi

Epidemiologi
Sebuah penelitian di Britain , insiden kejadian intususepsi adalah 1 kasus per 2000
kelahiran. Insiden bervariasi dari 1.6-4 kasus per 1000 kelahiran. Dengan keseluruhan
total rasio dari laki-laki ke perempuan adalah 3 : 1. Di pasien yang lebih tua daripada
4 tahun perbandingan laki-laki dan perempuan menjadi 8 : 1. Intususepsi sering
terjadi pada anak usia 5 bulan sampai 3 tahun . bahkan intususepsi dapat terjadi pada
neonatus.


9
Temuan Klinis
Temuan yang ditemukan dari Anamnesis anak dengan intususepsi memberikan
gambaran yang cukup mencurigakan bila bayi yang sehat dan sekonyong-konyongnya
mendapat serangan nyeri perut. Anak tampak gelisah dan tidak dapat ditenangkan ,
sedangkan di antara serangan biasanya anak tidur tenang karena sudah capai sekali.

Serangan klasik terdiri atas nteri perut, gelisah sewaktu serangan kolik , serangan
nyeri pada intususepsi adalah kolik, berat, dan berselang, biasanya keluar lendir
bercampur darah ( Red Currant Jelly / Selai kismis merah ) per anum yang berasal
dari intususepsi yang tertekan, terbendung atau mungkin sudah mengalami strangulasi
. Anak biasanya muntah sewaktu mendapat serangan. Awalnya, muntah nonbilious
dan refleksif, tapi ketika terjadi obstruksi usus, muntah menjadi bilious. Setiap
anak dengan muntah bilious diasumsikan memiliki kondisi yang harus
diperlakukan pembedahan sampai terbukti sebaliknya.

Pada 80% kasus fase awal intususepsi ditemukan muntah , nyeri abdomen yang hilang
timbul dengan gaya kaki anak yang menarik sampai ke atas abdomen pada serangan
akut, serangan ini dapat terjadi setiap 20 menit, dan semakin lama waktu serangan
dapat meningkat. Pada pemeriksaan fisik palpasi dapat ditemukan masa yang teraba
seperti sosis pada sekitar 85% kasus. Di fase yang lebih lanjut pada pemeriksaan
rektal dapat ditemukan kotoran berbentuk jelly bewarna merah, berlendir dan kotor.

Kelesuan adalah gejala yang relatif umum dengan intususepsi. Alasan kelesuan
terjadi tidak diketahui, karena kelesuan belum dijelaskan dan dikaitkan dengan
bentuk-bentuk obstruksi usus. Kelesuan dapat merupakan gejala tunggal, yang
membuatkan sulit untuk menegakkan diagnosis . Pasien yang ditemukan
memiliki proses usus yang lambat, setelah inisiasi hasil pemeriksaan septik


Dalam sebuah studi observasional prospektif, Weihmiller dkk menilai beberapa
kriteria klinis untuk risiko-stratifikasi anak dengan kemungkinan intususepsi.
Studi ini mengidentifikasi bahwa usia yang lebih tua dari 5 bulan, jenis kelamin
laki-laki, dan kelesuan adalah 3 prediktor klinis yang penting dari intususepsi.
10

Seiring dengan berjalanya waktu dapat terjadi udem dan penekanan pada vena, dapat
menyebabkan muntah cairan empedu, distensi abdomen , dehidrasi, takikardi, demam
dan syok. Pada pasien yang lebih besar umumnya gejala klinis ditemukan hampir
sama dengan gejala pada anak.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, pasien biasanya kelihatan sehat dan cukup makan.
Intususepsi jarang berlaku pada anak-anak yang kekurangan gizi. Pada anak
ditemukan memiliki periode kelesuan bergantian dengan tangisan yang kuat,
dan siklus ini berulang setiap 15-30 menit. Bayi bisa pucat, yang mengeluarkan
keringat, dan hipotensi jika syok telah terjadi.

Pada fase dini, pemeriksaan abdomen tidak memberi informasi apa-apa, kecuali
dapat dirasakan massa panjang pada abdomen kuadran kanan atas atau
epigastrium, tanpa bisa meraba sekum pada kuadran kanan bawah ( tanda dance
) . Distensi perut sering ditemukan jika obstruksi penuh.

Jika gangren usus dan infark terjadi, peritonitis dapat disarankan berdasarkan
kekakuan. Pada awal proses penyakit, darah dalam tinja adalah tanda pertama
dari gangguan suplai darah ke mukosa usus. Kemudian, frank hematochezia dan
tanda jelly stool yang klasik muncul. Demam dan leukositosis adalah tanda-tanda
akhir dan dapat menunjukkan gangren transmural dan infark.

Invaginatum yang masuk jauh dapat ditemukan pada pemeriksaan colok dubur.
Ujung invaginatum teraba seperti porsio uterus pada pemeriksaan vaginal,
sehingga dinamai dengan pseudoporsio ( porsio semu ). Jarang ditemukan
invaginatum yang sampai keluar dari rektum. Keadaan tersebut harus dibedakan
dari prolapse mukosa rektum, pada invaginasi didapatkan invaginatum bebas
dari dinding anus, sedangkan prolaps berhubungan secara sirkuler dengan
dinding anus. Pada inspeksi sukar sekali membedakan antara prolaps rektum
dan invaginasi. Pada invaginasi dapat ditemukan celah sirkuler pada
pemeriksaan dengan telunjuk.
11

Pasien dengan intususepsi sering tidak memiliki tanda-tanda dan gejala klasik,
yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam penegakkan diagnosis dan
menyebabkan komplikasi penyakit yang lebih parah. Mempertahankan indeks
kecurigaan yang tinggi untuk intususepsi adalah penting ketika mengevaluasi
anak muda dari 5 tahun yang datang dengan nyeri perut

Diagnosis
Penelitian laboratorium biasanya tidak membantu dalam evaluasi pasien dengan
intususepsi, meskipun leukositosis dapat menjadi indikasi gangren penyakit
progresif. Dengan gejala muntah terus menerus dan penyerapan cairan dalam
usus yang terhambat, dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit dapat terjadi.

Untuk mendiagnosis intususepsi harus memikirkan untuk melakukan foto abdomen
terlentang yang memperlihatkan dilatasi usus, dan pada beberapa pasien tampak masa
jaringan lunak akibat intususepsi.

Foto abdomen tanpa kontras menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke
intususepsi hanya pada 60% kasus. Rontgen abdomen menunjukkan dilatasi
usus kecil dan kurangnya gas di kuadran kanan bawah dan atas. Penemuan ini
diikuti oleh pola yang jelas dari obstruksi usus kecil, dengan tingkat dilatasi dan
udara-cairan dalam usus kecil saja. Jika distensi bersifat umum dan tingkat
udara-cairan juga hadir dalam usus besar, temuan lebih mungkin merupakan
gastroenteritis akut dari intususepsi. Pandangan dekubitus lateral kiri juga
sangat membantu. Jika terlihat udara di sekum, diagnosa intususepsi ileocecal
sangatlah tidak mungkin

12

Gambar 5. Rontgen abdomen menunjukkan dilatasi usus kecil dan kurangnya
gas di kuadran kanan bawah dan atas.

Gambar 6. Foto abdomen anak dengan intususpsi

Gambar 7. Foto memperlihatkan dilatasi usus halus non-spesifik
13

Diagnosis biasanya mudah ditegakan dengan ultrasonografi, ultrasonography
merupakan pemeriksaan penunjang yang akurat untuk intususepsi, memiliki 98%
sensitivitas dan 100% spesifisitas. Para penulis menyimpulkan bahwa USG harus
digunakan sebagai pemeriksaan lini pertama untuk penilaian kemungkinan
intususepsi anak. Ultrasonografi menghilangkan risiko paparan radiasi dan
dapat membantu untuk menegakkan diagnosis. Hal ini juga membantu untuk
menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari sakit perut. Hal ini juga
membantu untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain dari sakit perut.
Meski begitu, ultrasonografi sangat tergantung pada operator, karena itu, hati-
hati dalam menginterpretasikan hasil yang diperoleh. Pada pemeriksaan USG ini
dapat ditemukan masa berbentuk donat. Kehadiran asites dan segmen panjang
intususepsi dapat digunakan sebagai prediktor sonografi dalam kegagalan untuk
manajemen non-operatif. Deteksi sonografi ascites, udara, dan tidak adanya
aliran darah di dinding usus sangat mengarah ke diagnosis gangren usus.


Gambar 8. USG abdomen yang menunjukan suatu masa berlapis-lapis





14

Gambar 9. Gambaran khas pada intususepsi

Kontras enema adalah cara tradisional dan paling dapat diandalkan untuk
membuat diagnosis dari intususepsi pada anak-anak. Berhati-hati ketika
melakukan kontras enema pada anak berusia lebih dari 3 tahun, karena sebagian
besar pasien ini memiliki tanda indikasi bedah, biasanya dalam usus kecil. Hasil
diagnostik dan terapi enema lebih rendah pada pasien ini. Enema
dikontraindikasi pada pasien yang gangren usus atau perforasi dicurigai. Enema
udara digunakan untuk mendeteksi intususepsi dan dapat juga digunakan untuk
mengurangi intususepsi pada saat yang bersamaan. Prosedur ini hanya dilakukan bila
anak tersedasi dengan baik dan benar-benar teresusitasi, serta riwayatnya kurang dari
48 jam.


Gambar 9. Barium enema menunjukan adanya intususepsi
15
Terapi
Dari perspektif klinis, pasien dengan intususepsi dibagikan menjadi 2 kelompok
dengan menjadikan usia 3 tahun sebagai titik rujukan. Pasien berusia 5 bulan
sampai 3 tahun yang memiliki intususepsi jarang memiliki tanda indikasi bedah
(yaitu, idiopatik intususepsi) dan biasanya responsif terhadap pengurangan non-
operatif. Anak-anak dan orang dewasa lebih sering memiliki tanda indikasi
bedah untuk intususepsi dan memerlukan operasi reduksi.

Tingkat penurunan manajemen operasi intususepsi dicatat di rumah sakit
pediatrik khusus dibandingkan dengan rumah sakit non-pediatrik. Hal ini
disebabkan peningkatan pengalaman dengan dan penggunaan berbagai teknik
reduksi secara radiologis. Intususepsi terlihat pada pasien yang lebih tua dari
usia 2-3 tahun dapat dikaitkan dengan berbagai kondisi medis atau situasi. The
intususepsi pada pasien ini biasanya usus kecil ke dalam usus kecil, sehingga
terapi enema kurang membantu dan biasanya tidak berhasil.

Beberapa jam setelah pengurangan non-operatif, mulailah memberi pada bayi
diet yang dapat ditoleransi sesuai dengan usianya. Jika operasi reduksi
dilakukan, diet disamakan dengan pasien pasca-operasi

Terapi Non-Operatif
Terdiri dari 2 cara yaitu :
Hidrostatik : dengan barium atau kontras larut dalam air
Pengelolaan reposisi hidrostatik pada anak dapat dikerjakan sekaligus sewaktu
diagnosis ditegakan, asalkan keadaan umum mengizinkan, tidak ada gejala dan tanda
rangsangan peritoneum, anak tidak toksik dan tidak terdapat obstruksi tinggi. Tekanan
hidrostatik tidak boleh melewati lebih dari ketinggian 1 meter dan tidak boleh
dilakukan pengurutan atau penekanan manual diperut sewaktu dilakukan reposisi
hidrostatik ini. Pengelolaan dikatakan berhasil jika barium kelihatan masuk ileum.

Pneumatik : dengan insuflasi udara
Merupakan pengobatan pilihan di banyak institusi, dan risiko komplikasi utama
dengan teknik ini adalah kecil. Reposisi pneumostatik dengan tekanan udara
16
makin sering digunakan karena lebih aman dan hasilnya lebih baik daripada
reposisi dengan enema barium.

Terapi Operatif
Jika reposisi konservatif ini tidak berhasil, terpaksa diadakan reposisi operatif.
Reposisi dapat dilakukan dengan laparotomi. Ketika dibuka dapat kita cari
intestin yang mengalami invaginasi. Sewaktu operasi, dapat dicoba dilakukan
reposisi manual dengan mendorong invaginatum dari arah oral ke arah sudut
ileosekal atau dari arah proksimal ke arah distal. Dorongan dilakukan dengan
perlahan, hati-hati dan tanpa tarikan dari bagian proksimal. Jika reduksi manual
tidak dapat dilakukan atau terjadi perforasi selama atau sebelum tindakan
reduksi, dapat dilakukan reseksi segmental dengan anastomosis end to end
dilakukan.

Operasi untuk intususepsi segera dilakukan apabila telah terbukti intususepsi dan
diketahui memiliki leading pointnya. Terutama pada pasien dalam sakit parah,
perforasi atau necrosis intestin yang dapat menyebabkan pasien menjadi sepsis .
pilihan terapi utama untuk keadaan ini adalah operasi.

Persiapan yang dapat dilakukan untuk pasien yang ingin dioperasi antara lain dapat
melakukan dekompresi gaster dengan Nasogastric tube, dan memonitoring temperatur
badan dan oksigenasi. Hasil laboratorium adpat menunjukan dehidrasi, defisiensi
elektrolit bergantung dari abnormalitas dan parameter inflamasi. Antibiotik dapat
diberikan bahkan sebelum tindakan operasi jika sudah terdapat tanda peritonitis atau
sepsis.


Pengobatan
Terapi obat saat ini tidak tergolong dalam komponen dari standar perawatan
untuk intususepsi. Obat yang digunakan adalah untuk mengawal rasa sakit
setelah operasi. Pada periode pasca-operasi, morfin intravena yang disesuaikan
dengan berat badan biasanya diberikan. Apabila diet oral sudah bisa diberikan,
asetaminofen dengan kodein atau ibuprofen dapat diberikan secara oral.
17

Prognosis
Prognosis pada pasien intususepsi adalah baik bila dapat didiagnosis dan diterapi
lebih awal. Angka mortalitas dapat diturunkan hingga 1% jika ditangani dengan baik
dan cepat. Intususepsi memiliki kemungkinan rekuresensi setelah terapi nonoperatif.
Kurang lebih sekitar 15% dapat terjadi rekuren. Kebanyakan intususepsi kambuh lagi
diantara 72 jam setelah terapi. Angka rekuren pada pneumatik adalah 4%.

Komplikasi
Pada intususepsi yang lanjut dapat terjadi beberapa komplikasi seperti :
1. perforasi selama tindakan reduksi non-operasi
2. Infeksi
3. Hernia interna dan adhesi yang menyebabkan obstruksi
4. Sepsis karena peritonitis yang tidak terdeteksi
5. Perdarahan intestinal
6. Necrosis dan perforasi dari intestinal
7. Rekuren

Kesimpulan
Berbagai gangguan yang terdapat pada saluran pencernaan bayi dan anak salah
satunya adalah adanya obstruksi pada usus dan hal ini mencakup mekanik maupun
paralitik. Sedangkan intususepsi merupakan salah satu bentuk gangguan obstruksi
usus yang sifatnya mekanik. Intususepsi merupakan gangguan saluran pancernaan
yang dimanifestasikan dengan terjadinya invaginasi usus ke dalam bagian usus di
bawahnya. Masalah yang utama muncul yaitu terjadinya rasa nyeri abdomen yang
intermiten. Serta terjadinya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit hingga
terjadi syok hipovolemik.







18
Daftar Pustaka
1. Sjamsuhidajat, Karnadihardja W, Prasetyono TOH, Rudiman R. Buku Ajar
Ilmu Bedah Sjamsudhidajat- De Jong, Ed 3. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2013. H: 738-46
2. Sabiston DC. Buku ajar bedah ( Essentials of surgery ). Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. 2013. H : 270-2
3. M. Kliegman, Robert. Nelson Text Book of Pediatric. Ed. 18. USA : Saunders
El sevier. 2007. H: 1569-70.
4. Blanco FC. Intussuception. USA: Medscape. Didownload di
http://emedicine.medscape.com/article/930708-overview#showall.
Pada tanggal 22 April 2014
5. Puri P, Hollwarth M. Pediatric Surgery. Austria: Department of Pediatric
Surgery Medical University of Graz. 2006. H: 313-320
6. Corr P. Mengenali pola foto-foto diagnostik. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2011. H: 177-8