Anda di halaman 1dari 12

Devia Suciyanti |

TUGAS REFERAT HARIAN


RETARDASI MENTAL




NI PUTU DEVIA SUCIYANTI
030.08.177



KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT SARAF
RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN UDARA Dr.ESNAWAN ANTARIKSA
PERIODE 24 MARET 26 APRIL 2014



Devia Suciyanti |



RETARDASI MENTAL

DEFINISI
Menurut WHO, retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi.
Retardasi mental menurut The Individuals with Disabilities Education Act (IDEA) adalah fungsi
intelektual di bawah rata-rata yang muncul bersamaan dengan defisit perilaku adaptif dan
bermanifestasi dalam periode perkembangan serta berakibat buruk terhadap kemampuan
belajar.
(1)
The American Association on Intellectual and Developmental Disabilities (AAIDD,2002)
mendefinisikan retardasi mental sebagai keterbatasan dalam fungsi intelektual dan perilaku
adaptif.
(2)

Menurut Association American of Mental Retardation (AAMR), retardasi mental
mengacu pada fungsi intelektual yang secara signifikan berada di bawah rata-rata, didefinisikan
sebagai nilai Intelegence Quotient (IQ) <70-75, terdapat bersamaan dengan keterbatasan yang
berkaitan dengan dua atau lebih area keterampilan adaptif yang dapat diterapkan: komunikasi,
merawat diri, keterampilan sosial, kemampuan bermasyarakat, pengarahan diri, kesehatan dan
keamanan, akademik fungsional, istirahat, dan bekerja.
(3)
EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan statistik (menurut American Psychiatric Association) 2,5 % dari populasi
menderita retardasi mental dan 85% diantaranya merupakan retardasi mental ringan. Di Amerika
serikat tahun 2001-2002 lebih kurang 592.000 atau 1,2 % anak usia sekolah mendapat pelayanan
retardasi mental.
(1)

Prevalensi retardasi mental ringan paling tinggi diantara anak-anak dari keluarga miskin,
sementara individu yang mengalami kecacatan yang lebih berat diwakilkan secara sama pada
semua kelompok masyarakat. Kira-kira 5% populasi mengalami retardasi mental berat atau
sangat berat. Anak-anak dengan retardasi mental dapat didiagnosis juga dengan gangguan lain

Devia Suciyanti |


seperti autisme dan cerebral palsy. Secara keseluruhan, prevalensi retardasi mental dapat terjadi
lebih tinggi pada laki-laki di banding perempuan yaitu 2:1 pada retardasi mental ringan dan 1,5 :
1 pada retardasi mental berat.
(1)

ETIOLOGI
Faktor-faktor yang potensial sebagai penyebab retardasi mental:

1. Non organik
Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis
Faktor sosiokultural
Interaksi anak denga pengasuh yang tidak baik
Penelantaran anak
2. Organik
Faktor pra konsepsi
- Abnormalitas single gen (penyakit-penyakit metabolik, kelainan
neurokutaneus, dll)
- Kelainan kromosom (x-linked, translokasi, fragile-x)
Faktor pranatal
- Gangguan pertumbuhan otak trimester I
Kelainan kromososm (trisomi, mozaik, dll)
Infeksi intrauterin, TIRCH, HIV
Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi)
Disfungsi plasenta
Kelainan kongenital dari otak (idiopatik)
- Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
Infeksi intrauterin
Zat-zat teratogen (alkohol, kokain, logam berat)
Ibu : diabetes melitus, fenilketonuria (PKU)
Toksemia gravidarum
Disfungsi plasenta
Ibu malnutrisi

Devia Suciyanti |


Faktor perinatal
- Sangat prematur
- Asfiksia neonatorum
- Trauma lahir: perdarahan intrakranial
- Meningitis
- Kelainan metabolik: hipoglikemia, hiperbilirubinemia
Faktor postnatal
- Trauma berat pada kepala atau susunan saraf pusat
- Neurotoksin
- CVA (Cerebrovascular Accident)
- Anoksia, misalnya teggelam
- Metabolik
Gizi buruk
Kelainan hormonal, misalnya hipotiroid
Aminoasiduria, misalnya PKU
Kelainan metabolisme karbohidrat, galaktosemia, dll
Polisakaridosis, misalnya sindrom hurler
Serebral lipidosis (Tay Sachs), dengan hepatomegali
- Infeksi
Meningitis, ensefalitis
Subakut, sklerosing panensefalitis
PATOFISIOLOGI
Awal pembentukan susunan saraf pusat atau otak dimulai setelah kehamilan 8 minggu.
Pertumbuhan dan perkembangan otak dimulai dengan pembentukan lempeng saraf (neural plate)
pada masa embrio, yakni sekitar hari ke-16. Kemudian menggulung membentuk tabung saraf
(neural tube) pada hari ke-22.Pada minggu ke-5 mulailah terlihat cikal bakal otak besar di ujung
tabung saraf. Selajutnya terbentuklah batang otak, serebelum (otak kecil), dan bagian-bagian
lainnya. Perkembangan otak sangat kompleks dan memerlukan beberapa seri proses
perkembangan, yang terjadi atas penambahan (poliferasi) sel, perpindahan (migrasi sel),

Devia Suciyanti |


perubahan (diferensiasi) sel, pembentukan jalinan saraf satu dengan yang lainnya (sinaps), dan
pembentukan selubung saraf (mielinasi).
(4)

Sel saraf (neuron) pada permulaan bentuknya masih sederhana, mengalami pembelahan
menjadi banyak, dan proses ini disebut proliferasi. Proses proliferasi ini berlangsung selama
kehamilan 4-24 minggu, dan selesai pada waktu bayi lahir. Setelah proses proliferasi, sel saraf
akan migrasi ke tempat yang semestinya. Proses migrasi berlangsung sejak kehamilan kira-kira
16 minggu sampai akhir bulan ke-6 masa gestasi. Proses migrasi ini terjadi secara bergelombang,
yaitu sel saraf yang bermigrasi awal akan menempati lapisan dalam dan yang bermigrasi
kemudian menempati lapisan dalam dan yang bermigrasi kemudian menempati lapisan luar
korteks serebri.
(4)

Pada akhir bulan ke-6, lempeng korteks ini sudah memiliki komponen sel neuron yang
lengkap dan sudah tampak adanya diferensiasi menjadi 6 lapis seperti orang dewasa. Di tempat
yang semestinya, sel saraf mengalami proses diferensiasi (perubahan bentuk, komposisi, dan
fungsi). Sel saraf berubah menjadi sel neuron dengan cabang-cabangnya dan terbentuk pula sel
penunjang (sel Glia). Fungsi sel inilah yang mengatur kehidupan kita sehari-hari.
(4)

Setelah lahir hanya terjadi pematangan fungsi sel saraf, tetapi selubung saraf atau myelin
yang disebut mielinisasi masih berkembang. Tetapi, setelah lahir terjadi penambahan volume dan
berat otak, bayi tampak lebih pintar. Hal ini karena adanya pertumbuhan serabut saraf, adanya
peningkatan jumlah sel glia yang luar biasa dan proses mieliniasi akibat proses stimulasi yang
didapat saat lahir.
(4)

Proses perkembangan otak ini memegang peranan penting dalam perkembangan mental
anak, hanya saja keterbatasan pengetahuan tentang neuropatologi terhadap hal yang
menyebabkan kemunduran intelektual, sebagaimana telah dibuktikan dengan adanya 10-20%
otak manusia dengan retardasi mental berat, tetapi terlihat normal secara kesuluruhan. Sebagian
besar otak manusia menunjukkan perubahan yang ringan dan non-spesifik yang tidak
mempunyai hubungan yang kuat dengan derajat kemunduran intelektual.

DIAGNOSIS

Devia Suciyanti |


Kriteria diagnostik retardasi mental menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR)
(1,4)
1. Fungsi intelektual yang secara signifikan dibawah rata-rata. IQ kira-kira 70 atau
dibawahnya. Fungsi intelektual dapat diketahui dengan tes fungsi kecerdasan dan
hasilnya dinyatakan sebagai suatu taraf kecerdasan atau IQ. Dapat dihitung dengan :
IQ = MA/CA x 100%
MA = Mental Age, umur mental yang didapat dari hasil tes
CA = Chronological Age, umur yang didapat berdasarkan perhitungan tanggal lahir
Derajat retardasi mental berdasarkan DSM IV :
Derajat retardasi mental IQ
Ringan (mild) 50 69
Sedang (moderate) 35 - 49
Berat (severe) 20 34
Sangat berat(profound) <20

2. Gangguan terhadap fungsi adaptif paling sedikit 2, misalnya komunikasi, perawatan diri,
kemampuan melakukan tugas-tugas rumah tangga, sosial, pekerjaan, kesehatan dan
keamanan.
3. Onsetnya sebelum berusia 18 tahun.
Pemeriksaan yang paling sering dilakukan pada anak dengan retardasi mental antara lain
neuroimaging, tes metabolik, genetik, kromosom darah, dan elektro ensefalografi (EEG). Tes-tes
tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk anak dengan keterbelakangan intelektual. Jenis tes
yang dilakukan sebaiknya didasarkan pada riwayat keluarga/kesehatan, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan oleh bidang keilmuan yang lain, dan keinginan keluarga.
(1)

Devia Suciyanti |


Diagnosis retardasi mental membutuhkan pula tes intelijensia individual dan tes
kemampuan fungsi adaptif. The Bayley Scales of Infant Development (BSID-II) merupakan skala
penilaian intelejensi yang paling umum dipakai, skala ini menilai kemampuan bahasa,
kemampuan pemecahan masalah, perilaku, kemampuam motorik halus, dan kemampuan motorik
kasar pada anak usia 1 bulan 3 tahun, dari skala tersebut akan diperoleh hasil berupa mental
developmental index (MDI) dan skor psikomotor developmental index (PDI, sebuah pengukuran
kompetensi motorik).
(1,5)
Tes ini dapat membedakan anak dengan retardasi mental berat dan anak
normal, namun tes ini tidak terlalu bermanfaat untuk membedakan anak normal dengan anak
yang mengalami retardasi mental ringan. Tes psikologis yang paling umum digunakan untuk
anak > 3 tahun adalah Wechsler scales. The Wechsler Preschool and Primary Scale of
Intelligence-revised (WPPSI-III) digunakan untuk anak usia mental 2,5 7,3 tahun. The
Wechlser Intelligence Scale for Children-4
th
edition (WISC-IV) digunakan untuk anak dengan
usia mental diatas 6 tahun.
Tes perilaku adaptif yang paling umum digunakan adalah Vineland Adaptive Behavior
Scale yang melibatkan wawancara dengan orangtua atau guru dan menilai perilaku adaptif dalam
4 domain utama: komunikasi, keterampilan hidup sehari-hari, sosialisasi dan kemampuan
motorik. Bisanya terdapat hubungan antara skor intelijensia dan skor adaptif. Kemampuan
adaptif dasar (makan, berpakaian, hygiene) lebih mudah diperbaiki dibandingkan dengan skor
IQ.
(1)
PENATALAKSANAAN
Prinsip-prinsip berikut dapat membantu dalam membimbing dan mengarahkan pengembangan
pelayanan yang sesuai :
Normalisasi. Konsep ini berasal dari negara-negara Skandinavia. Secara sederhana,
normalisasi berarti memastikan bahwa kondisi lingkungan kehidupan sehari-hari yang
didapatkan para penderita retardasi mental tidak berbeda dengan yang didapatkan orang
normal lainnya. Hal ini juga berarti menyediakan fasilitas-fasilitas bagi mereka untuk
dapat mengembangkan potensi yang dimiliki.

Devia Suciyanti |


Integrasi. Penderita retardasi mental haruslah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
masyarakat; mereka tidak boleh diisolasi ataupun mendapat diskriminasi dalam hal
apapun.
Pelayanan untuk individu dengan retardasi mental :
1. Pelayanan Medis dan Psikologis (klinis)
Masalah terkait seperti kejang, gangguan sensorik dan masalah perilaku, dapat diperbaiki
atau dikendalikan dengan tatalaksana medis yang tepat. Diharapkan tersedia fasilitas untuk
penilaian psikologis dari kekuatan dan kelemahan dalam diri anak yang dapat dijadikan dasar
untuk pelatihan-pelatihan di masa depan. Psikoterapi dapat diberikan kepada anak retardasi
mental maupun kepada orangtua anak tersebut. Walaupun tidak dapat menyembuhkan retardasi
mental tetapi dengan psikoterapi dapat diusahakan perubahan sikap, tingkah laku dan adaptasi
sosialnya. Semua anak dengan retardasi mental juga memerlukan perawatan seperti pemeriksaan
kesehatan yang rutin, imunisasi, dan monitoring terhadap tumbuh kembangnya.
(6)
Konseling orangtua yang memadai pada tahap awal sangatlah penting. Dokter, perawat,
psikolog dan pekerja sosial dapat membuat perbedaan besar bagi orang tua dengan cara
memberikan penjelasan yang benar mengenai kondisi dan pilihan untuk pengobatan yang
tersedia. Konseling juga memberikan dukungan emosional dan bimbingan serta penguatan
moral.

2. Deteksi Dini dan Stimulasi Dini
Banyak penelitian menunjukkan bahwa mendeteksi retardasi mental pada tahap awal,
yaitu pada masa bayi, dan menyediakan lingkungan yang memberikan stimulasi dan penuh
kasih sayang dapat membantu anak-anak ini untuk berkembang lebih baik dan mencegah
banyak komplikasi.
Beberapa kondisi medis yang terkait dengan retardasi mental dapat dideteksi saat lahir.
Dapat pula dilakukan pengelompokan bayi-bayi yang beresiko menderita retardasi mental. Bayi-
bayi tersebut merupakan bayi yang lahir prematur atau dengan berat lahir rendah (kurang dari 2

Devia Suciyanti |


kg), atau yang menderita asfiksia saat lahir, atau mereka yang menderita penyakit yang serius
pada periode neonatal.
Bayi yang berisiko atau terdeteksi dengan perkembangan yang tertunda harus
mendapatkan stimulasi sensori-motor. Ini adalah teknik di mana orang tua mendorong dan
mengajarkan bayi mereka untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan sensorik
mereka (penglihatan, pendengaran dan sentuhan) dan kemampuan motorik (menggenggam,
menggapai, memanipulasi, dan memindahkan). Teknik ini juga meliputi aktif terlibat dengan
anak dengan membelai, berbicara, menunjukkan benda-benda terang, bermain untuk membuat
anak tertawa, menggelitik, memijat lembut, menempatkan anak dalam posisi dan tempat yang
berbeda, menggunakan mainan dan memainkan benda-benda untuk membangkitkan minat anak,
membimbing tangan anak untuk melakukan sesuatu dan sebagainya. Stimulasi semacam itu
sangat dibutuhkan untuk perkembangan normal.
(6)


3. Pelatihan Self-help, Keterampilan Praktis dan Keterampilan Sosial
Tekhnik dengan modifikasi tingkah laku sangat berguna dan efektif dalam penatalaksanaan
anak-anak dengan retardaasi mental, termasuk di antaranya :
Reinforcement positif dan pemberian reward: Memperhatikan, memuji anak dan
memberikan beberapa hadiah seperti permen atau mainan setiap kali anak menunjukkan
perilaku yang diinginkan atau berusaha untuk belajar, dapat meningkatkan motivasi anak
untuk belajar.
Modelling : Menunjukkan anak bagaimana cara melakukan sesuatu dan mendorong anak
untuk memulai melakukan hal yang sama merupakan metode yang bagus untuk
mengajarkan anak. Ini lebih baik daripada hanya secara lisan mengatakan atau
menginstruksikan anak.
Shaping: yaitu mengajarkan bentuk sederhana dari sebuah aktivitas yang rumit, kemudian
secara perlahan menaikkan tingkat kesulitannya.
Chaining: Sebuah kegiatan, seperti berpakaian, dapat dipecah menjadi beberapa langkah
kecil yang berurutan. Anak dapat diajarkan keterampilan ini langkah demi langkah.

Devia Suciyanti |


Seringkali, back-chaining atau mengajarkan terlebih dahulu langkah terakhir dan
kemudian mundur merupakan cara yang lebih efektif.

Physical guidance : Jika anak tidak dapat belajar dengan cara modelling, ia dapat
diajarkan dengan cara memegang tangan anak dan menunjukkan mereka bagaimana suatu
hal dilakukan. Setelah pengulangan seperti itu, bimbingan secara fisik ini dapat perlahan-
lahan ditarik sehingga anak belajar untuk melakukan tugas secara independen.
(6)
4. Terapi Bicara
Bicara dan bahasa adalah fungsi yang sangat penting dan sangat khusus bagi manusia. Bicara
dan bahasa memegang peranan penting dalam mengkomunikasikan perasaan dan pikiran
seseorang kepada orang lain. Retardasi mental sering disertai dengan keterbatasan yang
signifikan dalam perkembangan bicara dan bahasa. Penelitian telah memperlihatkan bahwa
aplikasi sistematis teknik terapi wicara, efektif dalam meningkatkan kemampuan bicara dan
bahasa. Terapi bicara dibutuhkan pada anak dengan retardasi mental.
(6)
5. Pendidikan
Anak dengan retardasi mental ringan(IQ 50-70), yang disebut golongan mampu didik,
mendapatkan pelajaran setaraf sekolah dasar, namun dengan cara dan kecepatan mengajar yang
disesuaikan dengan kemampuan mereka. Pengajar haruslah guru khusus terdidik dalam bidang
pendidikan mereka.
Anak dengan retardasi mental sedang (IQ 35-49) digolongkan ke dalam kelompok
mampu latih. Pada mereka lebih banyak diberikan latihan dalam berbagai macam bidang
keterampilan seperti menjahit, menyulam, memasak dan membuat kue pada anak wanita, atau
pertukangan, perbengkelan, peternakan, dan perkebunan pada anak laki-laki.

6. Pelatihan Kejuruan

Devia Suciyanti |



Harus diingat bahwa mendapatkan pekerjaan juga akan berdampak baik bagi kesehatan mental,
kepuasan diri, dan status social dari para penderita retardasi mental.
PENCEGAHAN
Prevensi primer adalah usaha yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit, yang dapat
dibagi dalam dua kategori, yaitu: (1) Memberikan perlindungan yang spesifik terhadap penyakit-
penyakit tertentu, misalnya dengan memberikan imunisasi; (2) Meningkatkan kesehatan dengan
memberikan gizi yang baik, perumahan yang sehat, mengajarkan cara-cara hidup sehat, dengan
maksud meninggikan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Prevensi sekunder adalah untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin dan memberikan
pengobatan yang tepat sehingga tidak terjadi komplikasi pada susunan saraf pusat.
PROGNOSIS
Retardasi mental yang diketahui penyakit dasarnya, biasanya prognosisnya lebih baik. Tetapi
pada umumnya sukar untuk menemukan penyakit dasarnya. Anak dengan retardasi mental
ringan, dengan kesehatan yang baik, tanpa penyakit kardiorespirasi, pada umumnya umur
harapan hidupnya sama dengan orang yang normal. Tetapi sebaliknya pada retardasi mental yang
berat dengan masalah kesehatan dan gizi, sering meninggal pada usia muda.
(7)



Devia Suciyanti |


DAFTAR PUSTAKA

1. Shapiro Bruce K, Batshaw Mark L. Mental Retardation (Mental Disability). In: Shreiner
Jennifer, editor. Nelson Textbook of Pediatrics. 18
th
ed. Philadelphia: Saunders Elsevier;
2007. p. 191-7.
2. Armatas V. Mental Retardation: Definitions, Etiology, Epidemiology, and Diagnosis. Jurnal
of Sport and Health Research 2009; 1 (2): 112-122.
3. Yatchmink Yvette. Keterlambatan Perkembangan: Maturasi Yang Tertinggal Hingga
Retardasi Mental. In: Bani PA, Limanjaya D, Anggraini D, Mahanani DA, Hartanto H,
Mandera LI, et al, editors. Buku Ajar Pediatri Rudolph. 20
th
ed. Jakarta: EGC; 2006. p. 136-
9.
4. OCallaghan M. Developmental Disability. In: Roberton DM, South M, editor. Practical
Pediatrics. 6th ed. Philadelphia: Churchill Livingstone Elsevier; 2006. p. 108-14.
5. Santrock John W. Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2007.
6. Sularyo Titi Sunarwati, Kadim Muzal. Retardasi Mental. Sari Pediatri 2000 Dec; 2 (3): 170-
7.
7. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC; 1995.