Anda di halaman 1dari 29

INFORMASI KURIKULUM

UNTUK
MASYARAKAT

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


2013

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI
BAB VII
BAB VIII

LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN KURIKULUM


TUJUAN PENGEMBANGAN
ELEMEN-ELEMEN PERUBAHAN
STRUKTUR KURIKULUM
PROSES PEMBELAJARAN
PROSES PENILAIAN
KEUNGGULAN KURIKULUM 2013
IMPLIKASI TERHADAP ANAK, GURU., DAN
ORANGTUA

1
6
9
14
19
22
24
26

BAB I
LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN KURIKULUM

Adagium ganti menteri ganti kurikulum tidak dapat terelakkan lagi dalam proses
pengembangan Kurikulum 2013 ini. Tapi adagium tersebut dapat diterima sejauh memang
Kurikulum 2013 memberikan hal yang lebih baik. Kurikulum pendidikan formal 2013
dirumuskan dan kembangkan dengan suatu optimism yang tinggi untuk menghasilkan
lulusan sekolah yang lebih cerdas, kreatif, inovatif, memiliki kepercayaan diri yang tinggi
sebagai individu maupun sebagai bangsa, serta toleran terhadap segala perbedaan yang
ada. Beberapa latar belakang yang mendasari Pengembangan Kurikulum 2013 tersebut
antara lain berkaitan dengan problem sosial dan masyarakat, problem yang terjadi dalam
penyelenggaraan pendidikan itu sendiri, perubahan sosial berupa globalisasi dan tuntutan
dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, dan hasil evaluasi PISA dan TIMSS.

1. Problem Sosial dan Masyarakat


Beberapa fakta sosial di masyarakat menunjukkan bahwa terdapat beberapa problem sosial
yang perlu mendapat perhatian serius. Kasus-kasus seperti pelecehan seksual, perendahan
martabat wanita, konflik antar-etnis dan komunitas, kekerasan atas nama agama, korupsi,
penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang (Narkoba), dan perkelahian pelajar
adalah berita dominan yang menghiasi banyak media tiap hari. Jika kita telisik lebih lanjut,
maka hal-hal yang mulai luntur dan hilang dari masyarakat kita dan juga para remaja usia
sekolah adalah etika, sopan santun, toleransi, saling menghormati, menerima pendapat
yang berbeda, cinta damai, kejujuran, rasa nasionalisme, rasa tanggungjawab, dan
sejenisnya.
Banyak pihak melihat bahwa berbagai kasus tersebut bermula dari dunia pendidikan,
konsep dan proses pembelajaran selama ini yang dinilai kurang atau belum diarahkan
secara tepat untuk membentuk karakter anak didik yang bagus. Terlebih lagi kasus-kasus
yang secara langsung melibatkan anak usia sekolah, seperti tawuran, penyalahgunaan dan
kecanduan Narkoba, pelecehan seksual, dan sejenisnya sudah seharusnya sekolah dapat
melakukan tindak pencegahannya secara tepat. Bahkan juga sudah sewajarnya upaya
untuk memerangi korupsi misalnya, diberikan sejak dini melalui pendidikan anti-korupsi

di sekolah-sekolah. Pendidikan dengan demikian perlu secara tegas dan jelas diarahkan
untuk membentuk konsep diri anak didik sebagai warga negara yang bertanggungjawab,
paham dan melaksanakan nilai-nilai filosofi dan ideologi Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Tahun 1945, dan hal inilah yang diupayakan melalui Kurikulum 2013.

2. Problem Penyelenggaraan Pendidikan


Problem yang tidak kalah menyedihkan dan melibatkan secara langsung anak-anak usia
sekolah adalah kecurangan dalam pelaksanaan ujian, bentuknya adalah menyontek.
Bahkan hal ini terjadi tidak hanya dalam pelaksanaan ujian tengah semester atau akhir
semester, melainkan juga bahkan pada Ujian Nasional (UN). Pada tingkat pendidikan
tinggi, di kampus-kampus juga tidak kalah menyedihkan, karena dalam mengerjakan
tugas-tugas tertulis seringkali mahasiswa diketahui melakukan aksi plagiat atau yang
mendekati plagiat. Ironisnya hal ini sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun, aktivitas
copy paste seakan sudah bukan hal yang tabu lagi dilakukan oleh mahasiswa.
Apa yang terjadi di perguruan tinggi tentu tidak dapat dibiarkan begitu saja. Jika ditilik
lebih lanjut sangat besar kemungkinan bahwa perilaku tersebut tertentuk sejak dini, mulai
dari tradisi pembelajaran yang dilakukan sejak di jenjang Sekolah Dasar (SD). Ini adalah
tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan berkaitan dengan soal nilai-nilai kejujuran dan
desain pembelajaran serta penilaian yang belum membuka ruang lebih luas untuk
mewadahi kreativitas anak didik. Selain itu hal yang menjadi pertimbangan perlunya
Kurikulum 2013 adalah permasalahan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
tahun 2006. Beberapa masalah yang muncul antara lain adalah:
a. Materi kurikulum masih terlalu padat, buktinya adalah banyak mata pelajaran,
selain itu banyak materi yang terlalu banyak dan terlalu tinggi tingkat
kesulitannya hingga tidak sesuai dengan usia perkembangan anak didik.
b. Kompetensi belum secara lengkap menggambarkan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang harus dikuasai oleh anak didik.
c. Beberapa kompetensi penting sesuai dengan kebutuhan anak didik dan
masyarakat, seperti pendidikan karakter, keseimbangan antara soft skill dan hard
skill, kewirausahaan, belum terdapat dalam kurikulum tahun 2006.
d. Standar penilaian belum mengarah pada penilaian berbasis kompetensi (sikap,
keterampilan, dan pengetahuan) dan belum tegas menuntut adanya keberlanjutan
pembelajaran.

e. Materi dan evaluasi yang dilakukan selama ini lebih banyak menekankan pada
aspek kognitif saja, belum banyak mengolah aspek afektif yang berkaitan dengan
pembentukan nilai-nilai, perilaku, akhlak mulia dan sejenisnya.

Problem lain yang teridentifikasi dari pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi


(KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selama ini adalah
ketidakmampuan sebagian besar pihak sekolah, baik para guru, kepala sekolah, dan
lainnya dalam menyusun kurikulum, silabus, sampai pada Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP). Bahkan pada Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang disebar dan
digunakan di seluruh sekolah di Indonesia juga bermasalah, terutama pada jenjang
Sekolah Dasar (SD) Kelas 1 sampai Kelas 3 yang diandaikan sudah bisa lancar membaca,
menulis dan berhitung. Hal inilah yang akan diatasi melalui perubahan konsep dan
pelaksanaan Kurikulum 2013.

3. Kebutuhan Dunia Kerja dan Globalisasi


Tantangan yang riil dihadapi oleh para lulusan pendidikan formal adalah dunia kerja.
Banyak sekali lulusan pendidikan formal yang tidak siap kerja, hingga akhirnya muncul
istilah pengangguran terdidik, yakni mereka yang sudah lulus pendidikan formal namun
justru menganggur tidak bekerja. Makin tinggi pendidikannya, kecenderungan untuk
menganggur makin tinggi pula. Dunia kerja berkilah bahwa memang lulusan pendidikan
formal tidak banyak yang memenuhi syarat untuk bekerja dan menempati posisi kerja
yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan mereka. Ternyata lulus dengan nilai indek
prestasi tinggi, bukan jaminan untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus di dunia kerja.
Banyak kompetensi yang riil dibutuhkan oleh dunia kerja ternyata tidak diberikan oleh
dunia pendidikan.
Beberapa kompetensi tersebut antara lain adalah daya kritis, kreativitas, keuletan,
tanggungjawab terhadap pekerjaan yang dihadapi, kemampuan untuk beradaptasi dengan
lingkungan dan jenis keterampilan baru, berkomunikasi, membangun jaringan dan relasi
kerja, dan sejenisnya. Hal-hal itulah yang tidak banyak diberikan dan dipelajari di sekolah
dan kampus. Terlebih lagi di era globalisasi sekarang ini, hadirnya beragam teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) berbasis digital, juga sudah barang tentu membutuhkan
kompetensi-kompetensi baru yang mau tidak mau harus dikuasai oleh para lulusan sekolah
formal pada saat ini. Tantangan makin banyak ketika globalisasi juga menyangkut

globalisasi ekonomi dengan adanya pasar bebas yang didorong oleh World Trade
Organization (WTO), lahirnya komunitas ASEAN, dan sejenisnya. Sebagai negara yang
tidak memisahkan diri dari pergaulan dunia yang sehat dan damai, Indonesia mau tidak
mau harus menyiapkan diri untuk memasuki komunitas-komunitas baru di dunia tersebut.
Menghadapi semua itu dibutuhkan individu-individu yang memiliki daya saing tinggi
untuk dapat berkompetisi dalam arena pasar bebas. Tidak hanya pemahaman yang tepat
mengenai globalisasi dalam berbagai bidang, terutama ekonomi, lebih dari itu adalah
perlunya dunia pendidikan kita untuk membekali diri anak didik dengan kompetensikompetensi yang dibutuhkan. Di sini mau tidak mau pendidikan di Indonesia harus
mempertimbangkan kebutuhan dunia kerja di era pasar bebas dan menjadikannya sebagai
pertimbangan dalam penyelenggaraan pendidikan Indonesia. Kurikulum 2013 salah
satunya adalah upaya untuk mempersiapkan anak didik menghadapi kebutuhan riil dunia
kerja dan globalisasi dalam semua bidang kehidupan tersebut.

4. Perkembangan Ilmu Pengetahuan


Pendidikan adalah bidang kajian yang melibatkan dan membutuhkan kontribusi banyak
bidang keilmuan lain. Sebagai sebuah ilmu terapan (applied science), pendidikan antara
lain adalah penerapan dari ilmu dan teori psikologi, sosiologi, manajemen, seni, budaya,
dan tentu saja filsafat. Selama ini bidang keilmuan yang paling dominan dalam memberi
kontribusi bagi pendidikan adalah psikologi. Di sinilah perkembangan kajian-kajian
psikologi antara lain berkaitan dengan neurologi, otak kanan-otak kiri, kecerdasan
emosional, kecerdasan spiritual, dan sejenisnya mau tidak mau juga harus diperhatikan.
Belum lagi sekarang ini juga banyak berkembang berbagai macam pendekatan dan model
pembelajaran, antara lain adalah pembelajaran berbasis penemuan (discovery learning),
pembelajaran kolaboratif, kooperatif, kontekstual, dan sejenisnya. Perkembanganperkembangan inilah yang diakomodasi dalam Kurikulum 2013 agar tujuan pendidikan
dan pembelajaran dalam membentuk lulusan yang memiliki kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan tantangan global.

5. Hasil PISA dan TIMSS


Berdasarkan hasil evaluasi PISA (tes matematika, ilmu pengetahuan alam, dan bahasa )
tahun 2009 menunjukkan bahwa peringkat Indonesia tidak begitu menggembirakan.
Hampir semua siswa Indonesia yang mendapat kesempatan mengikuti evaluasi PISA
hanya menguasai pelajaran sampai pada level 3 (tiga) saja, sedangkan siswa-siswa dari
negara lain banyak yang sampai pada level empat, lima, dan enam. Hal yang tidak berbeda
juga dapat dilihat dari hasil evaluasi TIMSS. Hasil tes matematika TIMSS menunjukkan
bahwa lebih dari 95 persen hanya mampu sampai pada level menengah saja, sementara
hampir 50 persen siswa dari Taiwan mampu mencapai level tinggi tinggi dan advance.
Pada tes ilmu pengetahuan alam (sains) juga demikian, dibandingkan dengan di Taiwan
hampir 40 persen siswanya mampu mencapai level tinggi dan advance. Pada evaluasi
membaca TIMSS lebih dari 95 persen siswa Indonesia hanya mampu sampai level
menengah, sedangkan di Taiwan lebih dari 50 persen siswanya mampu mencapai level
tinggi dan advance.
Pada evaluasi TIMSS terdapat empat level, yaitu rendah (low) mengukur sampai
kemampuan mengetahui (knowing), level menengah (intermediate) mengukur kemampuan
penerapan (applying), level tinggi (high) mengukur kemampuan penalaran (reasoning),
dan level terbaik (advance) mengukur kemampuan penalaran tingkat tinggi. Setelah
diidentifikasi oleh pemerintah memang terdapat beberapa materi pengetahuan yang
diujikan dalam TIMSS namun tidak diberikan dan dipelajari di sekolah-sekolah di
Indonesia. Dengan kata lain, beberapa materi yang diujikan di TIMSS tidak masuk dalam
desain kurikulum pendidikan Indonesia. Hal tersebut mengarah pada satu kesimpulan,
bahwa materi yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu
perlu penyesuaian melalui Kurikulum 2013 agar Indonesia tidak terus tertinggal
dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama dengan sesame negara di Asia.

BAB II
TUJUAN PENGEMBANGAN

Tujuan pengembangan Kurikulum 2013 terutama adalah untuk mengatasi masalah dan
tantangan berupa kompetensi riil yang dibutuhkan oleh dunia kerja, globalisasi ekonomi
pasar bebas, membangun kualitas manusia Indonesia yang berakhlak mulia, dan menjadi
warga negara yang bertanggung jawab. Pada hakikatnya pengembangan Kurikulum 2013
adalah upaya yang dilakukan melalui salah satu elemen pendidikan, yaitu kurikulum untuk
memperbaiki kualitas hidup dan kondisi sosial bangsa Indonesia secara lebih luas. Jadi,
pengembangan kurikulum 2013 tidak hanya berkaitan dengan persoalan kualitas
pendidikan saja, melainkan kualitas kehidupan bangsa Indonesia secara umum.

1. Tujuan Pengembangan
Muara dari semua proses pembelajaran dalam penyelenggaraan pendidikan setelah dapat
bisa meningkatkan kualitas hidup anak didik melalui peningkatan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap (aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang baik dan tepat di
sekolah adalah bagaimana mereka diharapkan akan dapat berkontribusi dalam membangun
tatanan sosial dan peradaban yang lebih baik. Jadi, arahnya tidak sekadar meningkatkan
kualitas diri sendiri saja, melainkan kualitas diri tersebut diarahkan untuk kepentingan
yang lebih luas dan besar, yaitu membangun kualitas kehidupan masyarakat, bangsa, dan
negara yang lebih baik. Dengan demikian terdapat dimensi peningkatan kualitas personal
anak didik, dan di sisi lain terdapat dimensi peningkatan kualitas kehidupan sosial. Secara
ringkas dapat diurai sebagai berikut.
a. Menciptakan manusia Indonesia yang bermoral, berakhlak mulia, memiliki
pengetahuan yang luas dan mendalam, kuat daya kritis dan kreativitasnya, siap
menghadapi tuntutan dunia kerja, menjadi warga negara yang bertanggungjawab,
dan juga memiliki daya saing tinggi di era globalisasi.
b. Mengatasi problem sosial yang terjadi di masyarakat, antara lain korupsi,
kekerasan atas nama agama, konflik antar-etnis, diskriminasi, ketidakadilan,
ketidakjujuran, dan lainnya.

Hal yang perlu diperhatikan adalah: tujuan pengembangan ini difokuskan pada elemen
kurikulum, namun bukan berarti elemen-elemen pendidikan lain tidak diperbaiki dan
dikembangkan.

2. Perbaikan Elemen Pendidikan Lainnya


Kualitas pendidikan Indonesia selalu diupayakan untuk menjadi lebih baik lagi dari tahun
ke tahun. Upaya perbaikan tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk kebijakan
pendidikan, salah satunya adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 19/2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan (SNP). Peraturan ini dapat disebut sebagai wujud reformasi
pendidikan di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikannya secara sistematis.
Terdapat 8 (delapan) elemen atau unsur pendidikan yang dibuat standar agar
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih baik, yaitu: (1) standar
kompetensi kelulusan; (2) standar isi; (3) standar proses; (4) standar pendidik dan tenaga
kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar pengelolaan; (7) standar
pembiayaan; dan (8) standar penilaian. Merujuk pada PP No. 19/200 tentang Standar
Nasional Pendidikan (SNP) tersebut:
1. Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
2. Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan
dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi
mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik
pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
3. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan
pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar
kompetensi lulusan.
4. Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan
dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
5. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan
dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat
beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat
berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk
menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi.
6. Standar pengelolaan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat

satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi


dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
7. Standar pembiayaan adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya
operasi satuan pendidikan yang berlaku selama satu tahun.
8. Standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan
dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Delapan standar tersebut adalah standar minimal agar kualitas penyelenggaraan
pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan formal. Jika kita identifikasi lebih lanjut,
maka standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian adalah
bagian dari elemen kurikulum dalam pendidikan. Elemen kurikulum inilah yang dikaji
ulang dan kemudian dikembangkan menjadi Kurikulum 2013.
Sementara itu, pada standar pendidik dan tenaga kependidikan, upaya perbaikan yang
didorong oleh pemerintah adalah melalui peningkatan kualitas pendidikan dan tenaga
kependidikan. Beberapa program pemerintah seperti sertifikasi guru dan dosen,
pembayaran tunjangan sertifikasi, uji kompetensi, dan pengukuran kinerja adalah upaya
peningkatan kualitas tersebut. Peningkatan kompetensi tenaga pendidik ini dapat
dilakukan setiap saat dan dari waktu ke waktu secara terus menerus. Pada standar sarana
dan prasarana juga diupayakan melalui rehabilitas gedung sekolah, penyediaan
laboratorium dan perpustakaan, dan penyediaan buku-buku. Pada standar pembiayaan
upaya yang dilakukan adalah melalui pemberian Biaya Operasional Sekolah (BOS),
bantuan siswa miskin, dan BOPTN/Bidikmisi di perguruan tinggi. Pada elemen
pengelolaan

ditingkatkan

melalui

penyelnggaraan

manajemen

berbasis

sekolah.

Kesemuanya ini dilakukan secara kontinyu setiap tahunnya. Tapi pengembangan


kurikulum membutuhkan waktu khusus, tidak bisa setiap saat, sehingga ketika hal tersebut
dilakukan, dapat menimbulkan kehebohan tersendiri.

BAB III
ELEMEN-ELEMEN PERUBAHAN

Kurikulum 2013 dapat dikatakan sebagai perbaikan dari kurikulum-kurikulum pendidikan


nasional sebelumnya. Oleh karena itu terdapat beberapa hal yang berubah. Sekilas pada
bahasan sebelumnya sudah dapat dibayangkan hal-hal apa sajakah yang berubah. Di sini
akan diperjelas lagi beberapa elemen perubahan dalam Kurikulum 2013, yaitu perubahan
standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Sebelum itu
dapat kita lihat pula perubahan para wilayah pola pikir perumusan kurikulum.

1. Penyempurnaan Pola Pikir Perumusan Kurikulum


Salah satu hal yang dilakukan dalam perumusan dan pengembangan Kurikulum 2013
adalah penyempurnaan pola pikir. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud)
menyatakan bahwa perumusan Kurikulum 2013 ini berbeda dari kurikulum-kurikulum
sebelumnya, terutama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004 dan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Jika kedua kurikulum tersebut standar
kelulusan diturunkan dari standar isi, maka pada Kurikulum 2013 standar kelulusan
diturunkan dari kebutuhan riil anak didik dan kehidupan sosial masyarakat sekarang dan
nanti. Dengan kata lain, pada KBK dan KTSP kompetensi diturunkan dari matapelajaran,
sedangkan pada Kurikulum 2013 matapelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin
dicapai.
Selain itu, KBK dan KTSP relatif menekankan pada matapelajaran (subject matter),
padahal yang dituju adalah penguasaan kompetensi. Hal tersebut terlihat dari pemisahan
matapelajaran untuk membentuk kompetensi berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan
tertentu. Di sisi lain, Kurikulum 2013 sekarang diarahkan agar semua matapelajaran dapat
secara integratif dan tematik menunjang kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan
bersama-sama. Jadi, tidak lagi matapelajaran yang saling terpisah-pisah satu sama lain,
melainkan banyak matapelajaran yang ditujukan untuk menunjang beberapa kompetensi
secara integratif. Oleh karena itu, tidak seperti kurikulum sebelumnya yang pendekatan

tematik hanya untuk Kelas 1 (satu) sampai 3 (tiga) SD (namun tidak berjalan), sekarang
dari Kelas 1 sampai 6 diarahkan untuk tematik, yakni semua matapelajaran diarahkan atau
diikat untuk menunjang kompetensi inti.

2. Standar Kompetensi Lulusan


Secara umum standar kompetensi lulusan yang dirumuskan dalam Kurikulum 2013
diambil dari analisis kebutuhan anak didik dan realitas sosial. Standar kompetensi lulusan
Kurikulum 2013 dibagi menjadi tiga kategori kemampuan atau kompetensi, yaitu sikap,
keterampilan, dan pengetahuan. Baik pada jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah
Menengah Pertama (SMP), maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah
Menengah Kejurusan (SMK), standar kompetensi yang diharapkan adalah:
a.

Sikap: menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan
bertanggungjawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial,
alam sekitar, serta dunia dan peradabannya. Selain itu juga dapat menerima,

menjalankan, menghargai, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebaikan.


b. Keterampilan: menjadi pribadi yang berkemampuan pikir dan sikap yang efektif
dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret. Selain itu juga memiliki kemampuan
yang baik dalam mengamati, bertanya, mencoba, mengolah, menyajikan, melanar,
dan mencipta.
c. Pengetahuan: menjadi pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni,
budaya, dan berwawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban.
Selain itu memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengetahui, memahami,
menerapkan, menganalisa, dan mengevaluasi.
Secara lebih khusus, pada tiap-tiap jenjang pendidikan juga terdapat bidang sikap,
keterampilan, dan pengetahuan yang harus dikuasai oleh anak didik.
Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) anak didik harus memiliki sikap dan perilaku yang
mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggungjawab
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di sekitar rumah,
sekolah, dan tempat bermain. Selain itu harus memiliki kemampuan berpikir dan bertindak
atau bersikap yang efektif dan kreatif scara abstrak dan konkret sesuai dengan apa yang
ditugaskan kepada anak didik tersebut. Pada bidang pengetahuan anak didik juga dituntut
untuk memiliki pengetahuan faktual dan konseptual dalam ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban
terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.

Pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) anak didik harus memiliki
perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan
bertanggungjawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam
dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Selain itu juga harus memiliki
kemampuan berpikir dan bertindak yang efektif dan kreatif baik secara abstrak maupun
konkret sesuai dengan hal yang dipelajari di sekolah atau sumber belajar lain yang sama
dengan yang diperoleh di sekolah. Pada bidang pengetahuan anak didik juga dituntut
untuk memiliki pengetahuan faktual, konseptual, dan prosedural dalam ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, dan budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan
peradaban terkait fenomena dan kejadian yang tampak mata.
Pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
anak didik harus memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak
mulia, percaya diri, dan bertanggungjawab dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan dirinya sebagai cerminan bangsa
dalam pergaulan dunia. Pada bidang keterampilan anak didik harus memiliki kemampuan
berpikir dan bertindak yang efektif dan kreatif dalam baik secara abstrak maupun konkret
terkait dengan pengembangan dari yang sudah dipelajari oleh anak didik di sekolah secara
mandiri. Selain itu pada bidang pengetahuan anak didik juga dituntut untuk dapat memiliki
pengetahuan prosedural dan metakognitif dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan
budaya dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian.

3. Penguatan Isi/Materi Pembelajaran


Berdasarkan pada analisis yang sudah dibuat oleh Tim Pengembang Kurikulum 2013,
maka penguatan materi atau isi Kurikulum 2013 diarahkan untuk memenuhi standar yang
terdapat dalam model evaluasi dari TIMSS dan PISA. Hal yang dilakukan pada penguatan
materi antara lain adalah dengan: (1) mengevaluasi ruang lingkup materi yang diberikan,
berupa meniadakan materi yang tidak esensial dan atau tidak relevan bagi siswa,
mempertahankan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa, dan menambah materi yang
dianggap penting dalam perbandingan internasional; (2) mengevaluasi kedalaman atau
tingkat kesulitan materi sesuai dengan tuntutan perbandingan internasional; dan (3)
menyusun kompetensi dasar yang sesuai dengan materi yang dibutuhkan.

4. Penguatan Proses Pembelajaran


Pertimbangan utama pada penguatan proses pembelajaran didasarkan pada analisis
kompetensi yang dibutuhkan di abat ke-21. Intinya adalah: kehidupan di abad ke-21
adalah dunia yang selalu berubah tiap menit dan detik, perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi (TIK) sudah demikian pesatnya dan mengisi semua sendi-sendi kehidupan
manusia, realitas globalisasi ekonomi, budaya, dan lainnya yang diperantarai oleh media.
Oleh karena itu, dalam kehidupan sosial dan dunia kerja diperlukan kompetensi individu
yang: (1) fleksibel dan adaptif terhadap perubahan; (2) memiliki inisiatif dan mandiri; (3)
memiliki keterampilan sosial dan budaya; (4) produktif dan akuntabel; (5) memilik jiwa
kepemimpinan dan bertanggungjawab; (6) memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat
dan inovasi; dan (7) melek media, teknologi, dan informasi. Oleh karena itulah terjadi
perubahan proses pembelajaran yang cukup signifikan. Bila dalam KBK dan KTSP
pengetahuan mengenai TIK itu diajarkan sebagai mata pelajaran, maka dalam Kurikulum
2013 TIK menjadi bagian melekat dari setiap proses pembelajaran.
Hal tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di kelas dan sekolah tidak cukup
hanya melalui peningkatan pengetahuan saja, melainkan juga harus dilengkapi dengan
kemampuan kritis dan kreatif, berkarakter kuat, yakni individu yang bertanggungjawab,
berjiwa sosial tinggi, toleran, produktif, adaptif terhadap perubahan, dan lainnya, serta
didukung oleh kemampuan memanfaatkan teknologi, informasi, dan media. Beberapa hal
yang dapat dilakukan antara lain adalah: (1) mempersiapkan tenaga pendidik dan
kependidikan melalui pelatihan dan juga dukungan infrastruktur; (2) memungkinkan
pendidikn untuk berkolaborasi, berbagi pengalaman, dan mengintegrasikannya di ruang
kelas; (3) memungkinkan siswa untuk belajar banyak hal yang relevan dengan konteks
dunia sekitar yang selalu berkembang; dan (4) mendukung keterlibatan komunitas dalam
pembelajaran, baik pembelajaran langsung (tatap muka) maupun online.

5. Penguatan Penilaian Pembelajaran


Pada penguatan penilaian pembelajaran juga didasarkan pada analisis kemampuan yang
diperlukan di abad ke-21. Agar dapat menunjang proses pembelajaran dan pencapaian
kompetensi yang dibutuhkan, maka penilaian yang digunakan bukan hanya berupa tes
saja, baik berupa tes formatif maupun tes sumatif, melainkan juga penilaian lain termasuk
portofolio siswa, menekankan pada pemanfaatan umpan balik berdasarkan kinerja yang
ditunjukkan oleh siswa, dan memperbolehkan pengembangan portofolio siswa. Hal-hal

yang dinilai antara lain adalah: (1) tingkat kemampuan berpikir siswa dari tingkat rendah
sampai tinggi; (2) menekankan pada pemberian pertanyaan yang membutuhkan pemikiran
mendalam (bukan sekadar hafalan semata); (3) mengukur proses kerja siswa, bukan hanya
hasil kerja siswa; dan (4) menggunakan portofolio pembelajaran siswa.

6. Pembagian Peran Guru dan Pemerintah


Pada Kurikulum 2013 peran pemerintah lebih dominan, peran guru dikurangi. Dengan
kata lain, kewenangan guru dalam menyusun silabus dikembalikan pada pemerintah, jadi
pemerintah pusat sudah melengkapi Kurikulum 2013 sampai pada silabus yang akan
diimplementasikan di kelas oleh para guru di sekolah-sekolah. Guru tidak perlu repot
menghabiskan waktu dengan menyusun silabus atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP). Inilah dasarnya bila dikatakan Kurikulum 2013 ini meringankan beban guru. Selain
itu, oleh karena Kurikulum 2013 adalah kurikulum nasional, maka pihak pemerintah
daerah berhak dan berwenang untuk menyusun kurikulum daerah yang di dalamnya antara
lain dapat memuat materi bahasa daerah, budaya daerah, dan sejenisnya. Mata pelajaran
bahasa daerah tidak dimunculkan dalam struktur Kurikulum 2013 karena kalau
dimunculkan itu memiliki konsekuensi wajib bagi semua sekolah di seluruh wilayah
Indonesia. Padahal, sangat mungkin banyak sekolah atau daerah yang tidak mengajarkan
bahasa daerah. Jadi posisi bahasa daerah dalam Kurikulum 2013 jelas menjadi wewenang
Pemerintah Daerah sesuai dengan bunyi pasal 42 UU No.24 Tahun 2009 tentang Bendera
dan Bahasa Nasional

BAB IV
STRUKTUR KURIKULUM

Struktur Kurikulum 2013 adalah perbaikan dari kurikulum sebelumnya. Jadi, beberapa
Standar Kompetensi/Kompetensi Dasar (SK/KD) yang terdapat pada kurikulum
sebelumnya (KBK dan KTSP) yang dianggap sesuai dengan tujuan penguasaan
kompetensi Kurikulum 2103 dipertahankan, sedangkan yang dianggap tidak sesuai
dihilangkan atau direvisi.

1. Tema Kurikulum 2013


Tema Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang
produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang terintegrasi. Tema kurikulum ini mendasarkan pada analisis kompetensi
yang harus dimiliki dan kuasai oleh anak didik di abad ke21.

2. Perbedaan Esensial
Beberapa hak esensial Kurikulum 2013 yang membedakan dengan KBK dan KTSP
terutama dapat dilihat pada cara pandang terhadap matapelajaran. Pada jenjang Sekolah
Dasar (SD) perbedaannya adalah sebagai berikut.
a. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) matapelajaran tertentu
diarahkan untuk mendukung kompetensi tertentu, pada Kurikulum 2013 tiap
matapelajaran

mendukung

semua

kompetensi

(sikap,

keterampilan,

dan

pengetahuan).
b. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) matapelajaran dirancang
berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri, pada Kurikulum 2013
matapelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain serta memiliki kompetensi
dasar yang diikat oleh kompetensi inti tiap kelas.

c. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahasa Indonesia berdiri


sejajar dengan matapelajaran lainnya, pada Kurikulum 2013 bahasa Indonesia
sebagai penghela matapelajaran lain (sikap dan keterampilan berbahasa).
d. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tiap matapelajaran diajarkan
dengan pendekatan berbeda, pada Kurikulum 2013 diajarkan dengan pendekatan
yang sama (saintifik) melalui pengamatan, bertanya, mencoba/eksperimen,
menalar secara logis, dan sejenisnya.
e. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tiap jenis isi materi
pembelajaran diajarkan secara terpisah, pada Kurikulum 2013 berbagai macam
jenis isi materi pembelajaran diajarkan terkait dan terpadu satu sama lain (cross
curriculum atau integrated curriculum).
f. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pendekatan tematik hanya
digunakan untuk anak kelas satu sampai kelas tiga, pada Kurikulum 2013
pendekatan tematik untuk semua jenjang dari kelas satu sampai kelas enam.
Selanjutnya, perbedaan esensial Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan
Kurikulum 2013 pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah
Atas (SMA) adalah sebagai berikut.
a. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) adalah matapelajaran yang berdiri sendiri atau dipelajari secara
khusus, pada Kurikulum 2013 TIK merupakan sarana pembelajaran dan digunakan
sebagai media pembelajaran untuk matapelajaran lainnya.
b. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk SMA ada penjurusan
sejak kelas XI (sebelas), sedangkan pada Kurikulum 2013 tidak ada penjurusan di
SMA, melainkan ada matapelajaran wajib, peminatan, antar-minat, dan
pendalaman minat.
c. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) antara SMA dan Sekolah
Menengah Kejurusan (SMK) tidak terdapat kesamaan kompetensi, sedangkan pada
Kurikulum 2013 pada SMA dan SMK memiliki matapelajaran wajib yang sama
terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
d. Ujian Nasional (UN) pada KTSP dilaksanakan pada kelas IX dan XII sebagai
penentu kelulusan, pada Kurikulum 2013 dilaksanakan pada Kelas VIII dan XI
sebagai sarana pemetaan mutu pendidikan.
e. Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) penjurusan di SMK sangat
detil sampai pada keahlian, pada Kurikulum 2013 penjurusan di SMK tidak terlalu
detil, melainkan di dalamnya terdapat peminatan dan pendalaman.

Selanjutnya, perbedaan esensial Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan


Kurikulum 2013 pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah sebagai berikut.

3. Pengembangan Struktur Kurikulum 2013


Pengembangan struktur Kurikulum 2013 dibagi menjadi tiga jenjang, yaitu Sekolah Dasar
(SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pada tingkat SD, dasar perancangan kurikulum
adalah masalah-masalah yang secara umum muncul sebagaimana dibahas di awal tulisan
ini. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Anak didik pada jenjang SD belum perlu diajak untuk berpikir secara
tersegmentasi dalam matapelajaran yang saling terpisah satu sama lain. Di sini
perlu menyuguhkan proses pembelajaran yang utuh pada anak didik secara
tematik. Hal ini didukung oleh banyaknya sekolah alternatif dan sekolah-sekolah
internasionl yang menerapkan sistem pembelajaran integratif berbasis tema yang
menunjukkan hasil menggembirakan.
b. Adanya keluhan banyaknya buku yang harus dibawa oleh anak didik sesuai dengan
jumlah matapelajaran yang juga banyak, oleh karena itu perlu penyederhanaan
matapelajaran.
c. Indonesia menerapkan sistem guru kelas di mana semua matapelajaran (selain
agama, seni budaya, dan pendidikan jasmani) diampu oleh satu orang guru. Agar
menjadi lebih baik, maka perlu membantu memudahkan tugas guru dalam
menyampaikan pelajaran sebagai suatu keutuhan dengan mengurangi jumlah
matapelajaran tanpa melanggar ketentuan konstitusi.
d. Banyak negara menerapkan sistem pembelajaran berbasis tematik-integratif sampai
SD kelas enam, seperti di Finlandia, Jerman, Skotlandia, Perancis, Amerika Serikat
(sebagian), Korea Selatan, Aiustralia, Singapura, Selandia Baru, Hongkong, dan
Filipina.
Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi dasar perumusan Kurikulum 2013 di tingkat
SD didesain dalam bentuk tematik-integratif. Lebih lanjut, untuk meminimalkan jumlah
matapelajaran, maka dari 10 (sepuluh) matapelajaran dikurangi menjadi 6 (enam)
matapelajaran saja. Beberapa pengintegrasian dilakukan, antara lain adalah integrasi
matapelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan
matapelajaran lainnya. Selain itu matapelajaran pengembangan diri juga diintegrasikan ke
semua matapelajaran. Matapelajaran muatan lokal diubah menjadi pembahasan seni

budaya dan prakarya serta pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Terakhir adalah
mengenai jam pelajaran, yaitu ditambah 4 (empat) jam pelajaran per minggu sebagai
konsekuensi pengurangan jumlah matapelajaran serta perubahan proses pembelajaran dan
penilaian.
Perubahan struktur kurikulum untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) relatif sama
dengan di tingkat SD, yaitu akan disusun berdasarkan kompetensi yang harus dimiliki
anak didik SMP dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selain itu akan
menggunakan sains sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran, meliputi aktivitas
mengamati, bertanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan
mencipta, pada semua matapelajaran. Pengurangan matapelajaran juga dilakukan, yaitu
dari jumlah matapelajaran sebanyak 12 (duabelas) menjadi hanya 10 (sepuluh)
matapelajaran. Oleh karena itu pengintegrasian matapelajaran juga dilakukan, yaitu
matapelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi sarana pembelajaran
pada semua matapelajaran, muatan lokal menjadi materi pembahasan mengenai seni
budaya dan prakarya, dan matapelajaran pengembangan diri diintegrasikan ke semua
matapelajaran. Khusus untuk matapelajaran IPA dan IPS dikembangkan sebagai
matapelajaran sains terintegrasi (integrative science) dan kajian sosial terintegrasi
(integrative social studies) bukan sebagai disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan
berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin
tahu, dan pembangunan sikap peduli dan bertanggungjawab terhadap lingkungan sosial
dan alam. Selain itu sebagai konsekuensi pengurangan matapelajaran, maka tiap minggu
ditambah 6 (enam) jam pelajaran guna mengakomodasikan adanya perubahan proses
pembelajaran yang lebih aktif.
Perubahan struktur Kurikulum 2013 pada jenjang SMA didasarkan pada pertimbangan
bahwa sekarang tidak ada lagi negara yang menggunakan sistem penjurusan, dan di satu
sisi semua lulusan dengan penjurusan apapun dapat melanjutkan kuliah di perguruan
tinggi. Namun ketika di SMA tanpa ada penjurusan, konsekuensinya adalah:
matapelajaran bertambah banyak dan proses pembimbingan kepada murid juga harus
intens agar murid tidak keliru di dalam memilih materi sesuai dengan minat dan
kemampuannya. Oleh karena itu perlu adanya matapelajaran pilihan dan matapelajaran
wajib. Pendekatan yang digunakan di SMA diarahkan untuk memberi kesempatan bagi
mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk menyelesaikan lebih cepat atau
belajar lebih banyak melalui matapelajaran pilihan. Selain itu juga dilakukan penguatan
rasa nasionalisme dan kemampuan berbahasa Indonesia, termasuk mempelajari sastra,

kemampuan membaca dan juga menulis dan sejenisnya. Khusus untuk SMK, pendekatan
pembelajaran diarahkan untuk berbasis proyek dengan sekolah terbuka bagi siswa untuk
waktu yang lebih lama dari jam belajar wajib. Selain itu juga diarahkan untuk melibatkan
pengguna (dunia industri) dalam penyusunan kurikulum. Secara umum lulusan SMK
melalui Kurikulum 2013 diarahkan untuk menguasai keahlian sesuai dengan kebutuhan
riil dunia kerja di era globalisasi dan ekonomi pasar bebas, namun mereka juga diharapkan
memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Oleh
karena itu selain diperlukan penambahan kemampuan berkehidupan dan karir (life and
career skills), juga penguasaan bernalar yang baik.

BAB V
PROSES PEMBELAJARAN

Proses pembelajaran adalah inti dari penyelenggaraan pendidikan. Dalam proses


pembelajaran pengetahuan, sikap, dan keterampilan dipelajari oleh anak didik dan
difasilitasi atau didampingi oleh guru. Pada proses pembelajaran ini pula seringkali
banyak hal-hal ideal yang penting untuk dipelajari dan kuasai oleh anak didik ternyata
hilang begitu saja. Hilang karena tidak tersampaikan dengan baik dan tidak dipelajari
melalui proses pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu proses pembelajaran penting
untuk juga diperbaiki. Dalam Kurikulum 2013 ini terdapat beberapa konsep pembelajaran
yang diajukan.

1. Konsep Pembelajaran
Pada Kurikulum 2013 juga dilakukan perubahan konsep pembelajaran. Perubahan tersebut
berdasarkan pada analisis kebutuhan akan sikap, pengetahuan, dan keterampilan apa yang
harus dikuasai oleh anak didik, kemudian konsep pembelajaran apa yang sekiranya dapat
digunakan untuk menunjang anak didik agar menguasai sikap, pengetahuan, dan
keterampilan tertentu secara tepat dan optimal.
Berdasarkan pada ulasan latarbelakang dirumuskan dan dikembangkannya Kurikulum
2013 di depan, beberapa kemampuan yang harus dikuasai oleh anak didik secara sekilas
dapat dikategorisasikan sebagai berikut beserta contohnya.
a.
b.

Pengetahuan (kognitif): daya kritis dan kreatif; kemampuan analisis dan evaluasi.
Sikap (afektif): religiusitas; mempertimbangkan nilai-nilai moralitas dalam

c.

melihat sebuah masalah; mengerti dan toleran terhadap perbedaan pendapat.


Keterampilan (psikomotorik): komunikasi; ahli dan terampil dalam bidang kerja.

Pengetahuan, sikap, dan keterampilan tersebut agar dapat secara tepat dan optimal
dikuasai oleh anak didik, maka diperlukan konsep pembelajaran yang tepat pula. Konsep
dasar pembelajaran yang diajukan pada Kurikulum 2013 adalah yang mengedepankan

pengalaman personal melalui observasi (meliputi menyimak, melihat, membaca,


mendengarkan), bertanya, asosiasi, menyimpulkan, mengkomunikasikan, dan sejenisnya.

2. Pendekatan dan Metode Pembelajaran


Berdasarkan pada analisis kemampuan yang penting dan dibutuhkan pada abad ke-21,
maka Kurikulum 2013 merancang proses pembelajaran yang mengedepankan pengalaman
personal dan kolektif melalui pengamatan, bertanya, menalar, dan berani bereksperimen
yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kreativitas anak didik. Pendekatan ini
familiar disebut sebagai pembelajaran berbasis pengamatan (observation-based learning).
Selain itu proses pembelajaran juga diarahkan untuk membiasakan anak didik beraktivitas
secara kolaboratif dan berjejaring. Pada ragam pembelajaran tersebut, beberapa konsep
metode pembelajaran yang selama ini berkembang di dunia pendidikan kembali
ditegaskan untuk digunakan dalam pelaksanaan proses pembelajaran Kurikulum 2013.
Konsep-konsep pendekatan utama yang diacu antara lain adalah sebagai berikut.
a.

Student centered: proses pembelajaran berpusat pada siswa/anak didik, guru


berperan sebagai fasilitator atau pendamping dan pembimbing siswa dalam proses
pembelajaran, oleh karena itu guru bukan satu-satunya sumber belajar, banyak

b.

sumber belajar berbasis internet dan lingkungan sekitar yang dapat digunakan.
Active and cooperative learning: dalam proses pembelajaran siswa harus aktif
untuk bertanya, mendalami, dan mencari pengetahuan untuk membangun
pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman dan eksperimen pribadi dan
kelompok, metode observasi, diskusi, presentasi, melakukan proyek sosial dan

sejenisnya adalah beberapa bentuk pembelajaran aktif dan kerjasama.


c. Contextual: pembelajaran harus mengaitkan dengan konteks sosial di mana anak
didik/siswa hidup, yaitu lingkungan kelas, sekolah, keluarga, masyarakat.
Melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa, aktif dan saling kerjasama
serta kontekstual tersebut diharapkan dapat betul-betul menunjang capaian kompetensi
anak didik secara optimal.

3. Penunjang Keberhasilan
Beberapa hal utama yang menunjang keberhasilan proses pembelajaran terutama adalah
adanya lingkungan belajar yang kondusif, yaitu iklim belajar, budaya sekolah, interaksi
yang membangun motivasi dan hasrat belajar, rasa ingin tahu, dan juga berprestasi. Selain

itu jam pelajaran juga akan ditambah lebih lama dari yang selama ini dilakukan di
sekolah-sekolah. Bahkan guru dan siswa juga dilengkapi dengan buku-buku panduan dan
teks yang memuat materi, proses pembelajaran, sistem penilaian, dan kompetensi yang
diharapkan.

BAB VI
PROSES PENILAIAN

Penilaian adalah bagian dari proses pembelajaran yang bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana proses pembelajaran yang dilakukan berhasil atau tidak. Beragam konsep dan
metode penilaian sejauh ini telah dilakukan. Paling familiar adalah melalui tes formatif
dan sumatif. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, maka konsep dan proses
penilaian juga berkembang. Kurikulum 2013 diarahkan untuk menggunakan beragam jenis
penilaian, tidak hanya berupa tes formatif dan sumatif saja, melainkan juga jenis penilaian
portofolio siswa, penilaian proses, dan lainnya.

1. Konsep Penilaian
Konsep dasar penilaian yang diajukan dan terdapat dalam Kurikulum 2013 diarahkan
untuk menunjang dan memperkuat pencapaian kompetensi yang dibutuhkan oleh anak
didik di abad ke-21. Penilaian yang dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran
dengan demikian adalah penunjang pembelajaran itu sendiri. Konsep penilaian yang
diajukan adalah ditekankan pada penilaian kemampuan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan hidup anak didik. Berdasarkan pada analisis kemampuan yang dibutuhkan
oleh anak didik di abad ke-21 maka penilaian didesain terutama untuk mendukung proses
pembelajaran kreatif. Oleh karena itu, ketika menggunakan penilaian berbentuk tes atau
tugas tertentu, maka guru hendaknya memberi ruang kreativitas jawaban yang beragam
untuk melatih daya kritis dan kreativitas anak didik. Jadi, tugas yang diberikan tidak
didesain tertutup dalam arti hanya punya satu jawaban yang benar. Bahkan diharapkan
guru dapat mentolerir jawaban yang dianggap nyeleneh. Selain itu ekspresi pengetahuan,
seni, olahraga, dan lainnya juga harus mendapat ruang dan apresiasi dari guru dan semua
anak didik lainnya.
2.

Pendekatan dan Metode Penilaian

Penilaian menekankan pada aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional. Jadi
tidak sebagaimana dalam kurikulum sebelumnya yang lebih dominan mengasah aspek

kognitif saja. Inti konsep penilaian yang diajukan dalam Kurikulum 2013 adalah penilaian
yang konstruktif, atau menunjang pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
anak didik. Bukan penilaian yang bersifat memvonis bodoh atau pintar anak didik hingga
berpotensi untuk membunuh rasa percaya diri, daya kritis, dan kreativitas anak didik.
Beberapa pendekatan dan metode yang diarahkan dalam Kurikulum 2013 antara lain
adalah sebagai berikut.
a.

Portofolio: penilaian dibuktikan dalam bentuk dokumen-dokumen yang memuat


karya dan prestasi anak didik, jadi penilaian tidak lagi menekankan pada

b.

kemampuan hafalan anak didik.


Penilaian proses: penilaian dengan memperhatikan proses pengerjaan tugas, jadi
tidak hanya menilai hasilnya saja, dengan begitu anak akan dilatih untuk serius
mengerjakan tugas, juga ulet dan jujur dalam mengerjakan tugas secara baik dan

c.

benar hingga hasilnya juga diharapkan dapat optimal.


Menalar dan pemecahan masalah: menilai sampai pada level dapat menalar atau
memahami suatu hal dengan baik dan tepat, yang salah satunya dapat dilihat dari
kemampuan mengungkapkan secara individual maupun kolektif, juga menilai
kemampuan anak didik dalam memecahkan masalah secara tepat.

Selain penilaian yang sudah dirumuskan dan desain sejak awal pembelajaran, guru juga
perlu untuk memberikan penilaian-penilaian secara spontan. Dengan dibantu oleh proses
pembelajaran yang berpusat pada diri anak didik, maka sudah seharusnya penilaian juga
dapat dikreasi sedemikian rupa hingga menarik, menyenangkan, tidak menegangkan,
dapat membangun rasa percaya diri dan keberanian siswa dalam berpendapat, juga
membangun daya kritis dan kreativitas.

4. Penunjang Keberhasilan
Penunjang utama keberhasilan penilaian yang konstruktif dalam membangun kreativitas,
daya kritis, rasa percaya diri, dan lainnya tersebut tentu saja adalah kualitas atau
kompetensi para guru dan lingkungan sekolah itu sendiri. Oleh karena itu, untuk
membantu para guru agar dapat melaksanakan proses penilaian yang konstruktif
pemerintah membekali para guru dan juga siswa dengan buku-buku yang di dalamnya
terdapat sistem penilaian yang beraneka ragam tersebut.

BAB VII
KEUNGGULAN KURIKULUM 2013

Sebagai perbaikan dari kurikulum sebelumnya, Kurikulum 2013 jelas menawarkan


beberapa solusi dari tidak berjalannya kurikulum sebelumnya dengan sempurna. Selain itu
Kurikulum 2013 juga menawarkan keunggulan-keunggulan dibandingkan kurikulum
sebelumnya dengan argumentasi yang cukup kuat.

1. Jenjang Sekolah Dasar (SD)


Keunggulan utama yang ditawarkan pada jenjang Sekolah Dasar (SD) adalah desain
pembelajaran yang dirancang tematik-integratif. Jadi bukan lagi tiap matapelajaran
memiliki tujuan pembelajaran atau kompetensi yang berbeda satu sama lain. Melainkan
semua matapelajaran diarahkan untuk menunjang kompetensi yang sama. Konsepnya
adalah dengan menawarkan beberapa tema-tema tertentu yang dapat dipelajari dan
ditunjang oleh semua atau beberapa matapelajaran sekaligus. Sebagai contoh, untuk
menunjang kompetensi nilai-nilai kejujuran dan anti-korupsi misalnya, dapat dipelajari
melalui matapelajaran Pendidikan Agama, Pancasila, Bahasa, dan lainnya.
Jumlah mata pelajaran yang lebih sedikit dimaksudkan untuk mengurangi beban murid
secara fisik, yang selama ini harus membawa buku begitu banyak dan beragam, tapi belum
tentu memiliki relevansi dalam hidupnya. Pengurangan jumlah matapelajaran juga
bermakna bagi pengurangan jumlah buku yang harus dibeli oleh orang tua, sehingga
secara tidak langsung Kurikulum 2013 ini membantu meringankan beban orang tua dalam
membeli buku-buku pelajaran. Matapelajaran ilmu pengetahuan alam dan ilmu
pengetahuan sosial diintegrasikan atau digabung menjadi satu. Walaupun begitu fenomena
alam, sosial, dan budaya tetap menjadi objek kajian. Dengan kata lain, substansi materi
ilmu pengetahuan alam dan sosial tetap diajarkan, bukan dihilangkan.

2. Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)


Hal utama yang ditawarkan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah
peleburan matapelajaran teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi bagian dari
semua matapelajaran. Jadi TIK bukan lagi menjadi satu matapelajaran yang berdiri sendiri
dan terpisah dari matapelajaran lainnya, di sini TIK menjadi bagian tak terpisahkan dari
matapelajaran lainnya. Pada praktiknya TIK menjadi media pembelajaran dari semua
matapelajaran. Dengan kata lain, pada Kurikulum 2013 ini TIK dipraktekkan, bukan
hanya dipelajari saja seperti pada kurikulum sebelumnya.

3. Jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Hal utama yang ditawarkan pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA)
adalah tiadanya penjurusan berdasarkan pada rumpun ilmu pengetahuan, tapi
diperkenalkan dengan suatu istilah yang disebut peminatan. Selama ini, penjurusan
sering berakibat pada merendahkan bidang keilmuan yang ada pada rumpun sosial dan
humaniora dengan menganggap ilmu-ilmu eksakta lebih tinggi derajatnya. Hal ini ternyata
di sekolah juga berakibat pada rasa rendah diri pada siswa dan bahkan guru. Atau
seringkali keberadaan jurusan dengan segala materi turunannya itu tidak sesuai dengan
minat dan kebutuhan anak tentang bidang yang ingin dikuasainya. Pada Kurikulum 2013,
desain untuk jenjang SMA bukan lagi penjurusan, melainkan peminatan untuk
mempelajari beberapa hal yang memang diminati dan anak merasa berbakat di bidang
keilmuan tersebut. Desain ini mendasarkan pada konsep bahwa sebenarnya tiap anak didik
memiliki bakat, minat dan kemampuan yang berbeda satu sama lain, dan proses
pembelajaran

yang

dirumuskan

melalui

kurikulum memang

sudah seharusnya

memberikan fasilitas bagi anak didik dengan lebih banyak ruang dan pilihan untuk
perkembangan dirinya. Selama ini, anak-anak yang ingin melanjutkn ke Kedokteran,
Arsitektur, MIPA, Kehutanan, Pertanian, dan sejenisnya harus belajar mteri yang sama
ketika di SMA, yaitu di Jurusan IPA. Demikian pula mereka yang ingin belajar dalam
bidang sosial humaniora, seperti ilmu politik, komunikasi, psikologi, ekonomi, sejarah,
dan sejenisnya juga harus belajar hal yang sama, yaitu di Jurusan IPS atau Bahasa. Dengan
model peminatan tersebut, anak-anak SMA akan belajar lebih banyak sesuai dengan
bidang yang diminati, tanpa harus dipaksa untuk mempelajari bidang yang tidak menjadi
minatnya.

BAB VIII
IMPLIKASI TERHADAP ANAK, GURU, DAN ORANGTUA

Sebagaimana dikemukakan di depan, desain Kurikulum 2013 diarahkan untuk memenuhi


kebutuhan akan kemampuan atau kompetensi yang diperlukan oleh anak didik untuk hidup
berkualitas di abad ke-21. Kurikulum 2013 didesain untuk tidak memberatkan anak didik
dengan materi-materi yang sulit dan tidak sesuai dengan perkembangan intelektual, sosial,
dan mental anak didik, namun bukan berarti kualitas pembelajaran berkurang, di sinilah
Kurikulum 2013 berbuah implikasi bagi semua elemen pendukung proses pembelajaran
untuk turut serta menjadi bagian dari pelaksanaannya agar dapat sukses dan optimal.

1. Kesiapan para Guru dan Sekolah


Hal paling utama sebagai penentu gagal atau berhasilnya kurikulum adalah guru. Oleh
karena itu, guru juga menjadi faktor penting bagi keberhasilan pelaksanaan Kurikulum
2013. Hal-hal penting yang harus dilakukan bagi para guru antara lain adalah: (1)
memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan kepribadian yang baik; dan (2) dapat
berperan sebagai fasilitator atau pendamping belajar anak didik yang baik, mampu
memotivasi anak didik dan penuh keteladanan. Dalam upaya untuk memenuhi kompetensi
tersebut, maka pemerintah terutama dalam upaya mengukseskan pelaksanaan Kurikulum
2013 akan menyelenggarakan berbagai pelatihan yang ditujukan untuk para guru. Selain
itu, pihak sekolah juga sudah seharusnya dapat mendesain dan melaksanakan manajemen
yang dapat mendukung proses pembelajaran Kurikulum 2013.

2. Buku Pedoman
Salah satu faktor yang dianggap sebagai kegagalan dari pelaksanaan kurikulum
sebelumnya adalah tiadanya panduan yang jelas mengenai pelaksanaan. Oleh karena itu
pada Kurikulum 2013 ini para guru dipermudah dengan adanya buku pedoman dan
panduan pembelajaran. Di dalamnya terdapat materi yang akan dipelajari, metode dan
proses pembelajaran yang disarankan, sistem penilaian yang dianjurkan, dan sejenisnya.

Bahkan anak didik juga sudah disiapkan buku yang di dalamnya juga memuat materi
pelajaran dan lembar untuk evaluasi tertulis dan sejenisnya.

3. Buku Babon dan Beban Orang Tua


Hal yang paling menghebohkan dalam setiap perubahan kurikulum adalah masalah buku
pelajaran yang harus dibeli oleh orang tua, hal itu mengingat perubhan kurikulum selalu di
identikan dengan pergantin buku pelajaran. Persepsi semacam itu tidak dapat terelakkan.
Namun orang tua tidak perlu resah dengan pemberlakun kurikulum 2013, karena
pemerintah telah menyediakan buku babon secara gratis yang dapat dibagikan kepada
seluruh murid. Dengan keberadaan buku babon ini, dimaksudkn para orang tua murid
tidak akan terbebani untuk membeli buku baru terkait dengan pemberlakuan kurikulum
2013.

4. Iklim Akademik dan Masyarakat


Hal yang tidak dapat diabaikan adalah perlunya terbentuk iklim akademik yang baik di
sekolah sebagai penunjang keberhasilan proses pembelajaran. Hal ini diperlukan terutama
untuk menunjang kompetensi-kompetensi pada aspek sikap atau afektif. Contohnya adalah
hal-hal yang berkaitan dengan sikap, perilaku, sopan santun, dan sejenisnya tentu akan
lebih kuat internalisasinya pada diri anak didik jika proses pembelajaran melalui
keteladanan guru dan sesama anak didik di kelas dan sekolah. Jadi bukan sekadar
dipelajari sebagai pengetahuan saja. Optimalisasi kesuksesan Kurikulum 2013 juga tidak
dapat sempurna tanpa peran serta orangtua dan masyarakat. Hal itu karena waktu
kehidupan anak didik paling banyak adalah di masyarakat dan keluarga, dan lingkungan
awal serta memiliki ikatan emosional dan batin adalah keluarga, hingga peran serta
orangtua dan masyarakat dalam memberikan keteladanan dan pembelajaran nilai-nilai
kebaikan, toleransi, kejujuran, dan lainnya sangat diperlukan.