Anda di halaman 1dari 2

Pelajaran dari si kakek

Yang ini, kisah tentang seorang tua yang sudah renta yang hidup sebatang kara, kala
orang-orang seusianya mungkin telah menikmati hari harinya dengan menggendong cucu
atau hal-hal yang ringan lainnya, beliau masih merasakan kerasnya "mencangkul" aspal
metropolitan....

Aku pribadi tak tahu pasti siapa namanya, orang-orang di sekitarku menyebutnya dengan
pak tua, tapi aku lebih suka membahasakan diriku dengan memanggilnya kakek, karna
usianya kutaksir sudah kepala tujuh,beliau datang ke daerahku sekitar 2 tahun yang
lalu,kebetulan disekitarku banyak tanah kosong sitaan negara dari para koruptor BLBI
yang melarikan diri entah kemana, aku sering bertanya pada beliau tentang asal
usulnya,beliau hanya jawab berasal dari suatu daerah di pulau jawa dan tidak mempunyai
keluarga lagi....
Singkatnya si kakek mulai membangun gubuk kecil yang sangat-sangat seuderhana
seukali di tempat itu, di bangunnya sedikit demi sedikit hingga beliau tak lagi merasakan
panasnya matahari dan dinginnya malam.
Yang membuat aku takjub si kakek ini hidup tanpa belas kasihan orang lain,dia tidak
mengemis,karna setiap pagi dia berjualan loak di pinggir jalan dekat rumahku,kadang
barang-barang loaknya dia dapat dari tepat sampah atau dari kami "tetangga-tetangganya"
yang memberikannya,atau terkadang dia membelinya dari pemulung pemulung yang
kebetulan lewat di depan dagangannya, ajaibnya barang barang tersebut laku di
tangannya.

Karna merasa dekat dan sering ngobrol denganku, kakek mulai berani menitipkan uang
lebih hasil jualannya kepadaku, dia merasa tidak aman meletakkan uang di gubuknya,
karna memang di sekitarku banyak pengguna narkoba yang berkeliaran.
awalnya aku hanya mengingat-ingat saja jumlahnya, lalu karna mulai agak sering
menitipkan padaku aku mulai mencatatnya di dua buku, satu untuk aku satu lagi
untuknya,terkadang dia mengambil uangnya untuk membeli barang dari pemulung dan
sebagai bentuk menjaga amanah aku turut menyimpan uang tersebut ke bank kedalam
buku tabunganku.

Tanpa terasa si kakek sudah hampir setahun menitipkan uangnya padaku dan jumlahnya
sudah lumayan juga, beberapa hari yang lalu kakek datang ke tempatku di hari sudah
larut, karna memang aku selalu pulang larut malam. mungkin hendak menitipkan uang
atau sebaliknya pikirku.seperti biasa akupun selalu membawa "buku tabungan"nya di
saat-saat si kakek datang ke rumahku. Ternyata kali ini si kakek hendak mengambil
uangnya,setelah ngobrol sebentar akupun bertanya..

" mau ambil berapa kek...? Mau belanja barang ya ?,Tanyaku


"Iya mas..",-si kakek membahasakan diriku dengan memanggil mas- " Saya mau ambil
uang tapi sekarang bukan buat beli barang,buat yang lain.." jawabnya
" Ooo.., memang kakek mau ambil berapa? Tanyaku lagi.
"agak lumayan gede mas..,500.000..." ujarnya.
"Wah..,kalau segitu saya nggak pegang uang tunai kek..,besok ya, uangnya saya simpan
di Bank". Setelah itu saya jelaskan dengan bahasa sederhana,dimana posisi uang yang
dititipkan padaku,dan dia pun mengerti,lalu iseng saya bertanya pada si kakek
"Uang sebesar itu buat apa kek..? mau pulang kampung ya..? Tanyaku padanya.
"Enggak....bukan buat ke jawa,wong saya nggak punya siapa siapa di sana buat apa
pulang kampung.." jawabnya.
"ooo..lalu..? buat apa kek ?
"engg..anu mas..tapi jangan bilang sapa sapa ya....? janji loh " dan saya pun mengiyakan
permintaannya.
"Uangnya mau saya bikin buat nyumbang mesjid di depan sana itu..."
"Hah..."saya terkejut dan kembali bertanya "buat apa kek ?"
"iya..mau tak buat nyumbang mesjid di depan sekolah sana itu loh..." ujarnya
meyakinkan aku sambil menyebut nama mesjid di lingkungan aku yang memang sedang
di renovasi.
Lalu saya mencoba menjelaskan padanya bahwa dia berhak untuk tidak menyumbang
dan dia pun berkata..
"sudah niat saya mas..kalo ada rezeki mau nyumbang mesjid,masak orang kaya aja yang
boleh nyumbang..besok saya kumpulin lagi uangnya gampang toh "ujarnya
aku terdiam , hanya bisa berkata " Ya udah, uangnya besok ya kek.."

Setelah menghabiskan kopi dan rokok yang saya sediakan, si kakek pun pamit pulang ke
gubuknya, sepeninggalnya saya terdiam, merenung dan menangis..
Betapa Mulia si kakek di hadapan-NYA dengan segala kekurangan yang dimiliki
Betapa Rendah saya di hadapan-NYA dengan segala kelebihan yang saya miliki

KALAU SI KAKEK DENGAN SEGALA KETERBATASANNYA MAMPU


MENABUNG UNTUK DUNIA DAN AKHIRATNYA..
BAGAIMANA DENGAN ANDA...?