Anda di halaman 1dari 137

1

SKRIPSI

Oleh :

ANINDYO WIDIASWORO
111.060.067














JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2011

GEOLOGI DAN STUDI FASIES TURBIDIT FORMASI SAMBIPITU
DAERAH NGALANG, KECAMATAN NGALANG, KABUPATEN
GUNUNGKIDUL, PROPINSI D.I.YOGYAKARTA

2






SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada
Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.


Oleh :


ANINDYO WIDIASWORO
111.060.067











JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2011
GEOLOGI DAN STUDI FASIES TURBIDIT FORMASI SAMBIPITU
DAERAH NGALANG, KECAMATAN NGALANG, KABUPATEN
GUNUNGKIDUL, PROPINSI D.I.YOGYAKARTA

3

PENGESAHAN






SKRIPSI


Oleh :


ANINDYO WIDIASWORO
111.060.067

Yogyakarta, 12 September 2011
Menyetujui,

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,



Prof. Dr. Ir. Sutanto, DEA. Dr. Ir. C. Prasetyadi , MSc.
NPY.19540907 19831 1 001 NPY.19581104 1987030 1 001

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknik Geologi


Ir.H. Sugeng Raharjo ,M.T
NPY. 19581208 199203 1 001

GEOLOGI DAN STUDI FASIES TURBIDIT FORMASI SAMBIPITU
DAERAH NGALANG, KECAMATAN NGALANG, KABUPATEN
GUNUNGKIDUL, PROPINSI D.I.YOGYAKARTA

4

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, taufiq
dan hidayah-Nya, penulis dapat diberikan ketenangan berpikir dan semangat untuk dapat
menyelesaikan skripsi ini dengan tepat waktu tanpa adanya suatu halangan yang berarti.
Skripsi dengan judul Geologi dan Studi Fasies Turbidit Formasi Sambipitu,
Daerah Ngalang, Kecamatan Ngalang, Kabupaten GunungKidul, Propinsi
D.I.Yogyakarta disusun sebagai syarat dalam meraih gelar Sarjana Teknik pada Program
Studi Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta dan juga merupakan langkah awal dalam mempelajari dinamika bumi
dan segala potensi yang ada di luar maupun di dalamnya.
Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari doa dan semangat serta motivasi dari
berbagai pihak, maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :
1. Allah SWT, Tuhan semesta alam dengan kuasa-Nya yang sangat besar.
2. Kedua Orang tua tercinta atas doa dan semangat yang tiada hentinya.
3. Kakak dan adikku yang banyak membantu dalam pencapaian tujuan ini.
4. Bpk. Ir. H. Sugeng Raharjo, M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi
Mineral, UPN Veteran Yogyakarta.
5. Bpk Prof.Dr. Ir. Sutanto,DEA selaku Dosen Pembimbing I.
6. Bpk. Dr. Ir. C. Prasetyadi, MSc., selaku Dosen Pembimbing II.
7. Teteh Wanti Yulianti S.Pd, atas doa, semangat, dukungan, dan motivasi yang tidak
terhingga.
8. Keluarga Bpk. Samidjo, ibu Asih dan warga dusun Nglegi, atas bantuan dan keramahan
selama kami menempuh kerja lapangan.
9. Alexandro Johan P.P, partner lapangan terbaik.
10. Tim Pemetaan Ceria ( Albi Daniel Rajagukguk Ngl#1, Pandita Purbacaraka Ngl#2,
Alexandro Johan PP Ngl#4 ) atas kerjasama dan pelajaran hidup yang sangat berarti selama
kegiatan lapangan berlangsung.
11. Keluarga Besar North Hill Pangea, Jogja Enterprise dan Pangea 2006, tetap pantang
menyerah hingga kapanpun.
12. Semua orang yang ada di dekatku, secara tidak langsung kalian telah memotivasi walaupun
hanya kecil, tapi kalian selalu ada dan tetap ada.
13. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu - persatu yang telah membantu penulis baik
secara langsung maupun tidak langsung hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
5

Menyadari tidak adanya manusia yang sempurna di dunia ini, begitu pula dalam
penulisan skripsi ini, apa yang tertulis di dalamnya masih banyak terdapat kekurangan. Oleh
karena itu penulis mengharapkan adanya saran dan kritik yang bersifat membangun dari para
pembaca agar tercapainya kesempurnaan dalam penulisan ilmiah berikutnya.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan berguna untuk
dipahami bagi para pembaca pada umumnya dan bagi mahasiswa pada khususnya serta dapat
dikembangkan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, Agustus 2011
Penulis,

ANINDYO WIDIASWORO






















6







SARI

Daerah telitian secara administratif terletak di daerah Ngalang dan sekitarnya,
Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi D. I. Yogyakarta. Secara geografis
berada pada koordinat 452500mE 458100mE dan 9131500mN 9136500mN yang
tercakup dalam lembar Jabung dan Cawas, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi D. I.
Yogyakarta, lembar peta nomor 1408-313 dan 1408 - 314 dengan skala 1 : 25.000 dengan
zona UTM 49, dengan luas daerah telitian 5 x 6 km
2
.
Secara geomorfik, daerah telitian dibagi menjadi dua satuan bentukan asal, yaitu
bentukan asal fluvial subsatuan geomorfik Tubuh Sungai (F1) dan Dataran Limpah Banjir
(F2) dan bentukan asal struktural terdenudasi yang terdiri dari : subsatuan geomorfik
Perbukitan Homoklin (S1), subsatuan geomorfik Lembah Homoklin (F2) dan subsatuan
geomorfik Gawir Sesar (S3). Pola pengaliran yang berkembang pada daerah telitian yaitu
subdendritik sebagai perkembangan dari pola pengaliran dendritik, dengan stadia
geomorfologi yang telah mencapai tahapan dewasa.
Stratigrafi daerah telitian terdiri dari empat satuan batuan, dari tua ke muda adalah
satuan satuan batupasir Kebo-Butak berumur Oligosen Akhir (N1-N3) dengan litologi
Batupasir tuffan dan sisipan lempung, diendapkan pada lingkungan pengendapan laut
mempunyai hubungan yang selaras dengan satuan batupasir vulkanik Semilir yang berumur
Miosen Awal (N4-N6) dengan litologi yang dominan adalah batupasir vulkanik dengan
sisipan lempung dibeberapa tempat,yang diendapkan pada Bathial Atas (Barker, 1960),
selanjutnya diendapkan satuan breksi Nglanggran berumur Miosen Awal (N7) yang
diendapkan pada Bathial Atas. Selanjutnya diendapkan satuan endapan aluvial berumur
Holosen diatas satuan breksi Nglanggran dengan hubungan tidak selaras.
Struktur geologi yang berkembang pada daerah telitian berupa sesar mendatar dan
sesar turun yang berada pada satuan batupasir Semilir.
Satuan batupasir vulkani Semilir mempunyai lingkungan submarine fan yang terletak
pada Upper Fan Chahhel Fill dengan penciri fasies adalah Slump, dan middle fan dengan
pencirinya berupa fasies classical turbidites, massive sandstone, dan pebbles sandstone.









GEOLOGI DAN STUDI FASIES TURBIDIT FORMASI SAMBIPITU
DAERAH NGALANG, KECAMATAN NGALANG, KABUPATEN
GUNUNGKIDUL, PROPINSI D.I.YOGYAKARTA PROPINSI DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA
7



DAFTAR ISI

Halaman Judul...
Halaman Pengesahan....
Kata Pengantar
Halaman Motto & Persembahan
Sari...
Daftar Isi.....
Daftar Gambar...
Daftar Tabel....
Daftar Lampiran
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..
1.2 Maksud dan Tujuan...
1.3 Letak, Luas dan Kesampaian Daerah Telitian..
1.3.1 Letak dan Luas Daerah Telitian.
1.3.2 Kesampaian Daerah...
1.4 Waktu Penelitian...
1.5 Pokok Permasalahan.....
1.5.1 Permasalahan Geologi..
1.5.1.1 Permasalahan Geomorfologi.
1.5.1.2 Permasalahan Stratigrafi
1.5.1.3 Permasalahan Struktur Geologi.
1.5.1.4 Permasalahan Sejarah Geologi..
1.5.2 Permasalahan Lingkungan Pengendapan..
1.6 Tahapan dan Metoda Penelitian
1.6.1 Studi Pustaka.
1.6.1.1 Geologi..
1.6.1.2 Studi Khusus
1.6.2 Penelitian Lapangan..
1.6.2.1 Tahap Pra-Mapping...
1.6.2.2 Tahap Pemetaan (Mapping)...
1.6.3 Pengolahan Data..

i
iii
v
vi
vii
xii
xix
xix

1

1
2
2
2
2
4
4
4
4
5
5
5
6
6
6
7
8
8
8

1.6.4 Penyusunan Laporan
1.6.5 Hasil Penelitian
1.6.6 Manfaat Penelitian
1.6.6.1 Manfaat Keilmuan.
1.6.6.2 Manfaat Institusi.

BAB 2 GEOLOGI PEGUNUNGAN SELATAN
2.1 Fisiografi...
2.1.1 Fisiografi Pulau Jawa.......
2.2 Tatanan Tektonik Pegunungan Selatan
2.3 Stratigrafi Pegunungan Selatan....
2.3.1 Stratigrafi Pegunungan Selatan Bagian Barat ( Batuan
Dasar Pra-Tersier)..
2.4 Stratigrafi Daerah Mertelu Dan Sekitarnya.

BAB 3 GEOLOGI DAERAH MERTELU
3.1 Geomorfologi.
3.1.1 Pembagian Bentuk Lahan.
3.1.1.1 Morfologi.
3.1.1.2 Morfogenesa..
3.1.2 Satuan Bentuk Lahan....
3.1.2.1 Satuan Geomorfik Bentukan Struktural.
3.1.2.2 Satuan Geomorfik Bentukan Fluvial..
3.1.3 Pola Aliran....
3.1.4 Stadia Geomorfologi dan Tahapan Erosi..
3.1.5 Proses Geologi Muda....
3.2 Geologi
3.2.1 Stratigrafi..
3.2.1.1 Satuan Batupasir Kebo-Butak...
3.2.1.1.1 Dasar Penamaan..
3.2.1.1.2 Penyebaran dan Ketebalan.
3.2.1.1.3 Ciri Litologi.
3.2.1.1.4 Penentuan Umur.
3.2.1.1.5 Lingkungan Pengendapan..
3.2.1.1.6 Hubungan Stratigrafi..
3.2.1.2 Satuan Batupasir Semilir...
8
9
10
10
10
10
11
11


13
14
17
22
22
22
26


29
29
29
30
32
33
33
34
39
40
37
42
42
42
42
9

3.2.1.2.1 Dasar Penamaan.
3.2.1.2.2 Penyebaran dan Ketebalan..
3.2.1.2.3 Ciri Litologi.
3.2.1.2.4 Penentuan Umur..
3.2.1.2.5 Lingkungan Pengendapan...
3.2.1.2.6 Hubungan Stratigrafi...
3.2.1.3 Satuan Breksi Nglanggran.
3.2.1.3.1 Dasar Penamaan...
3.2.1.3.2 Penyebaran dan Ketebalan...
3.2.1.3.3 Ciri Litologi..
3.2.1.3.4 Penentuan Umur..
3.2.1.3.5 Lingkungan Pengendapan
3.2.1.3.6 Hubungan Stratigrafi
3.2.1.4 Satuan Batupasir Sambipitu.
3.2.1.4.1 Dasar Penamaan...
3.2.1.4.2 Penyebaran dan Ketebalan..
3.2.1.4.3 Ciri Litologi..
3.2.1.4.4 Penentuan Umur..
3.2.1.4.5 Lingkungan Pengendapan
3.2.1.4.6 Hubungan Stratigrafi

3.2.1.5 Satuan Batugamping Kepek..
3.2.1.5.1 Dasar Penamaan..
3.2.1.5.2 Penyebaran dan Ketebalan
3.2.1.5.3 Ciri Litologi..
3.2.1.5.4 Penentuan Umur...
3.2.1.5.5 Lingkungan Pengendapan
3.2.1.5.6 Hubungan Stratigrafi
3.2.1.6 Satuan Pasir Lepas ...
3.2.2 Struktur Geologi...
3.2.2.1 Struktur Lapisan Miring.....
3.2.2.2 Hubungan Struktur Dengan Mekanisme
Tektonik..
3.3 Sejarah Geologi.
3.3.1 Fase I..
3.3.2 Fase II.
43
46
48
48
48
48
48
49
53
55
55
55
55
55
56
59
60
60
61
61
61
61
63
64
64

64
64
65
67
68
68
69
69
10

3.3.3 Fase III...
3.3.4 Fase IV...
3.3.5 Fase V
3.3.6 Fase VI..

BAB 4 ANALISA LINGKUNGAN PENGENDAPAN SATUAN
BATUPASIR SEMILIR
4.1 Dasar Teori...
4.1.1 Dasar Penentuan Analisa Lingkungan Pengendapan..
4.1.1.1 Aspek Fisika..
4.1.1.1.1 Model Kipas Bawah Laut Walker
4.1.1.2 Aspek Kimia..
4.1.1.2.1 Analisa asosiasi litologi dan
mineral..
4.1.1.3 Aspek Biologi..
4.2. Analisa Lingkungan Pengendapan Satuan
Batupasir Semilir
4.2.1 Hasil Analisa Satuan Batupasir Semilir
4.2.2 Profil Bagian Bawah.
4.2.3 Profil Bagian Atas.
4.3 Pembahasan.
4.3.1 Aspek Kimia..
4.3.2 Aspek Biologis..
4.3.3 Aspek Fisika..


BAB 5 POTENSI GEOLOGI
5.1 Potensi Positif...
5.1.1 Batupasir Tuffan
5.2 Potensi Negatif.
5.2.1 Gerakan Tanah..

BAB 6 KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
71
71

72
72
73
73
73
73
74
74



75
75
75
75
78
83
83
83
84
85
87
90
99
99
99
99


101
101
11



DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Lokasi Daerah Penelitian dan letaknya pada peta Daerah
Istimewa Yogyakarta ..
Gambar 1.2 Alat dan Perlengkapan Tahap
Pemetaan..
Gambar 1.3 Bagan alir tahapan dan metoda
penelitian
Gambar 2.1 Fisiografi Pulau Jawa ( Van Bemmelen,
1949).
Gambar 2.2 Fisiografi bagian tengah dan timur Pulau Jawa (dikembangkan
dari van Bemmelen, 1949)
Gambar 2.3. Rekonstruksi perkembangan tektonik Pulau Jawa
(Prasetyadi,2007),dengan penjelasan sebagai berikut :
A. Rekontruksi skematik perkembangan tektonik Pulau
Jawa dimulai pada Kapur Paleosen.
B .Rekontruksi skematik perkembangan tektonik Pulau Jawa
dimulai pada Eosen Tengah.
C .Rekontruksi skematik perkembangan tektonik Pulau Jawa
dimulai pada Oligosen Tengah.
Gambar 2.4. Tatanan Stratigrafi Pegunungan Selatan ( Suyoto, 1994
)..
Gambar 3.1 Kenampakan morfologi daerah penelitian via satellite Google
Earth ( 1 : 55.000)
Gambar 3.2. Kenampakan morfologi perbukitan Homoklin. Foto diambil oleh
penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap barat
laut
Gambar 3.3. Kenampakan morfologi perbukitan Homoklin dan dataran
Homoklin. Foto diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan
lensa menghadap selatan
Gambar 3.4. Kenampakan morfologi perbukitan Homoklin dan dataran
Homoklin. Foto diambil oleh penulis pada cuaca cerah
dengan lensa menghadap barat laut..
101
102
102

103

























3
9
12
14

15



12

Gambar 3.5. Kenampakan morfologi sungai dan daerah limpah banjir. Foto
diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap timur
Gambar 3.6. Pola Pengaliran daerah penelitian (tanpa
skala)
Gambar 3.7. Kenampakan batupasir pada LP 17 di Guyangan Kidul desa
Mertelu dengan koordinat X = 0458004 , Y = 9135575 . Foto
diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap barat...
Gambar 3.8. Kenampakan batupasir pada LP 18 di Guyangan Kidul desa
Mertelu dengan koordinat X = 0458117 , Y = 9135591 . Foto
diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap
barat
Gambar 3.9. Kenampakan batupasir pada LP 20 di Guyangan Kidul desa
Mertelu dengan koordinat X = 0457881, Y = 9135923 . Foto
diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap
N 200 E.
Gambar 3.10. Kenampakan batupasir pada LP 100 di Soka desa Mertelu
dengan koordinat X = 0458913, Y = 9135980 . Foto diambil oleh
penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap timur.
Gambar 3.11. Kenampakan batupasir pada LP 19 di Guyangan Kidul desa
Mertelu dengan koordinat X = 0458309 , Y = 9135696 . Foto
diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap
timur
Gambar 3.12. Kenampakan batupasir zeolit dilapangan. Zeolit membuat
batuan pada satuan ini berwarna kehijauan. Foto diambil oleh
penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap timur
Gambar 3.13. Perselingan antara batupasir Zeolit dan batulempung dan
membentuk struktur perlapisan. Foto diambil oleh penulis pada
cuaca cerah dengan lensa menghadap barat.
Gambar 3.14. Kenampakan batupasir pada LP 12 di desa Mertelu dengan
koordinat X = 0458241 ,Y = 9134982. Foto diambil pada cuaca
cerah dengan lensa menghadap barat.
Gambar 3.15. Kenampakan batupasir pada LP 22 di desa Mertelu dengan
koordinat X = 0458272, Y = 9134550. Foto diambil pada cuaca
cerah dengan lensa menghadap utara





21

26


31


36


36


37
38



39



43



44

13

Gambar 3.16. Kenampakan batupasir pada LP 22 di daerah Pringombo
kecamatan Nglipar dengan koordinat X = 0461956 , Y =
9134825. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap barat
Gambar 3.17. Kenampakan batupasir pada LP 34 di daerah Ngangkruk
kecamatan Nglipar dengan koordinat X = 0460644 , Y =
9134221. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap barat.
Gambar 3.18. Kenampakan batupasir pada LP 41 di desa Pilangrejo dengan
koordinat X = 0459416, Y = 9133420. Foto diambil pada cuaca
cerah dengan lensa menghadap barat.
Gambar 3.19. Kenampakan batupasir pada LP 33 di desa Ngangkruk dengan
koordinat X = 0460678, Y = 9133888. Foto diambil pada cuaca
cerah dengan lensa menghadap N 170 E..
Gambar 3.20. Kenampakan batupasir pada LP 57 di desa Pringombo dengan
koordinat X = 0461709, Y = 9134654. Foto diambil pada cuaca
cerah dengan lensa menghadap arah barat..
Gambar 3.21. Kenampakan batupasir volkanik dilapangan. Membentuk
struktur laminasi.Foto diambil oleh penulis pada cuaca cerah
dengan lensa menghadap utara..
Gambar 3.22. Struktur Sedimen Slump yang ditemukan pada LP 25.Foto
diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap
utara.
Gambar 3.23. Kenampakan breksi monomik pada LP 75 di daerah Danyangan
dengan koordinat X = 0460068 , Y = 9131859. Foto diambil
pada cuaca cerah dengan lensa menghadap arah
barat.
Gambar 3.24. Kenampakan breksi monomik pada LP 27 di daerah Pilangrejo
dengan koordinat X = 0460591 , Y = 9132216. Foto diambil
pada cuaca cerah dengan lensa menghadap arah
barat.
Gambar 3.25. Kenampakan breksi monomik pada LP 47 di daerah
Natah Wetan dengan koordinat X = 0462663 , Y =
9132984. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap arah barat.
Gambar 3.26. Kenampakan breksi monomik pada LP 30 di desa





44


45


45


47


47



49




50


50


51

14

Pilangrejo dengan koordinat X = 0460795 , Y = 9132966.
Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap
arah timur.
Gambar 3.27. Kenampakan breksi monomik yang kontak dengan
batupasir pada LP 63 di daerah Danyangan desa Pilangrejo
dengan koordinat X = 0459065 , Y = 9131849. Foto
diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap arah
barat..
Gambar 3.28. Kontak antara Satuan Batupasir volkanik Semilir (bawah)
dengan Satuan Breksi Nglanggran (atas). Foto diambil oleh
penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap utara.
Gambar 3.29. Kenampakan salah satu breksi Nglanggran, didominasi
oleh fragmen andesite. Foto diambil oleh penulis pada
cuaca cerah dengan lensa menghadap
utara
Gambar 3.30. Kenampakan batupasir Sambipitu pada LP 29 di daerah
Wotoalen desa Natah dengan koordinat X = 0460220 , Y =
9131631. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap arah barat.
Gambar 3.31. Kenampakan batupasir Sambipitu pada LP 66 di daerah Natah
Kulon desa Natah dengan koordinat X = 0461986 , Y =
9132397. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap arah barat. .
Gambar 3.32. Kenampakan salahsatu batupasir Sambipitu, struktur
sedimen perlapisan. Foto diambil oleh penulis pada cuaca
cerah dengan lensa menghadap
utara.
Gambar 3.33. Kenampakan Batugamping Kepek pada LP 60 di daerah
Blembeman I dengan koordinat X = 0462901 , Y = 9131969.
Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap arah
utara. ...
Gambar 3.34. Kenampakan Batugamping Kepek pada LP 65 di daerah
Blembeman dengan koordinat X = 0461951 , Y = 9131653.
Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap arah
selatan.

51


52



52



54



54


56


57



57


58


58

15

Gambar 3.35. Kenampakan Batugamping Kepek pada LP 50 di daerah Natah
Wetan dengan koordinat X = 0462917 , Y = 9132593. Foto
diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap arah
timur
Gambar 3.36 Kenampakan singkapan Batugamping Kepek, struktur
sedimen perlapisan. Foto diambil oleh penulis pada cuaca
cerah dengan lensa menghadap
utara.
Gambar 3.37 Kenampakan salahsatu Batugamping Kepek,
memperlihatkan adanya butiran berukuran pasir (arenite).
Foto diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap timur.
Gambar 3.38. Kenampakan satuan Pasir Lepas yang terdapat di
pinggiran
sungai
.
Gambar 3.39. Kolom Stratigrafi Daerah Telitian ( Jutika Aditya N.,
2011 )
Gambar 3.40. Kenampakan salahsatu struktur lapisan miring pada LP41
daerah desa Pilangrejo, memperlihatkan adanya kemiringan
lapisan pada suatu singkapan. Foto diambil oleh penulis
pada cuaca cerah dengan lensa menghadap barat. Foto
diambil oleh penulis pada cuaca cerah dengan lensa
menghadap utara.
Gambar 4.1. Hubungan antara lingkungan pengendapan sedimen dengan
fasies sedimen.
Gambar 4.2. Klasifikasi Lingkungan Pengendapan Klastik, Christopher G. St.
C. Kendall (2001)..
Gambar 4.3. Rekonstruksi dari Suatu Kipas Bawah Laut ( Walker 1978 )
Gambar 4.4 Hipotesa Sikuen kipas bawah laut yang dapat berkembang
selama proses progradasi kipas bawah laut. C.U adalah sikuen
penebalan dan pengkasaran ke atas, F.U adalah sikuen
penipisan dan penghalusan ke atas. CT adalah fasies classical
turbidite, PS adalah fasies batupasir kerikilan, CGL adalah


59



60


62



62



63



65


66


66

67
68



16

fasies konglomerat, DF adalah fasies debris flow dan SL
adalah fasies slump (Walker,1978)..
Gambar 4.5. Kenampakan fisik Batupasir Semilir pada LP 56..
Gambar 4.6. Kenampakan fisik Batupasir Semilir di LP 44
Gambar 4.7. Kenampakan struktur slump pada LP 25 di lapangan..
Gambar 4.8. Analisa profil LP 25 yang menunjukkan kenampakkan
lingkungan pengendapan Smooth Portion Of Suprafan
Lobes.
Gambar 4.9. Bentang alam lintasan profil LP25 bagian atas.
Gambar 4.10. Kenampakan lintasan profil LP25 bagian atas. Disini terlihat
fasies pengendapan classical turbidtes..
Gambar 4.11. Analisa profil LP 53 yang menunjukkan kenampakkan
lingkungan pengendapan Smooth to Channelled Portion
Of Suprafan
Lobes.............
.....
Gambar 4.12. Lintasan profil LP 53 yang menunjukkan fasies classical
turbidites
.
Gambar 4.13. Salah satu lintasan pada profil LP 53 yang menunjukkan
adanya struktur sedimen laminasi dan dibagian
bawahnya terdapat struktur pembebanan (load
cast).
Gambar 4.14. Analisa profil LP 42 yang menunjukkan kenampakkan
lingkungan pengendapan Smooth to Channelled Portion Of
Suprafan Lobes...
Gambar 4.15. Lintasan profil LP 42 yang menunjukkan fasies massive
sandstone

Gambar 4.16. Salah satu kenampakan lapisan pada lintasan profil LP 42
yang memiliki struktur sedimen
masif..

Gambar 4.17. Analisa profil LP 31 yang menunjukkan kenampakkan

69

76

77
78






82
85
86
86


88
89

89



92

93


93


17

lingkungan pengendapan Smooth to Channelled Portion
Of Suprafan
Lobes
Gambar 4.18. salah satu bagian intasan profil LP31 yang menunjukkan
fasies classical turbidites dibagian bawah dan pebbles
sandstone dibagian
atasnya..
Gambar 4.19. Bentang alam lintasan profil LP31 bagian bawah yang
menunjukkan fasies classical turbidites dibagian bawah
dan massive sandstone dibagian
atasnya..
Gambar 4.20. Bentang alam lintasan profil LP31 bagian atas yang
menunjukkan fasies classical turbidites dibagian bawah
dan massive sandstone dibagian atasnya. Ditengah
keduanya terdapat fasies pebbles
sandstone..
Gambar 4.21. Bentang alam lintasan profil LP31 yang menunjukkan
fasies pebbles sandstone dibagian bawah dan massive
sandstone dibagian
atasnya.
Gambar 4.22. Hasil interpretasi lingkungan pengendapan Batupasir Semilir
pada Suatu Kipas Bawah Laut (Walker, 1978)
Gambar 5.1 Area penambangan batupasir tuffan yang akan dimanfaatkan
sebagai bahan bangunan
Gambar 5.2. Gerakan tanah tipe rockfall yang terjadi pada daerah
telitian,dimana warga bekerja sama membersihkannya








94

95

95



96


97


97



98


98

100

101

102






18



DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Klasifikasi kemiringan lereng (Van Zuidam,
1983).
Tabel 4.1 Kedalaman menurut Grimsdale dan Mark Hoven (1950).

DAFTAR LAMPIRAN

A. Lampiran dalam teks
1. Analisis Petrografi (AP)
2. Analisis Paleontologi (AF)
3. Tabulasi Data Harian

B. Lampiran dalam kantong
1. Peta Lintasan dan Lokasi Pengamatan
2. Peta Pola Aliran Sungai
3. Peta Geomorfologi
4. Peta Geologi
5. Profil 1
6. Profil 2
7. Profil 3
8. Profil 4


.





31
83


















19



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Geologi Pulau Jawa telah banyak dipelajari dan bahkan hampir keseluruhan wilayah
telah dipetakan secara sistematik. Penyelidikan geologi, baik untuk kepentingan eksplorasi
migas, mineral , ataupun untuk kepentingan ilmiah telah banyak dilakukan. Namun demikian,
pemahaman secara menyeluruh tentang geologi Pulau Jawa, baik masalah stratigrafi,
sedimentasi, dan perkembangan cekungan maupun tektonisme dan vulkanisme.
Geologi wilayah Ngalang dipilih sebagai daerah pemetaan geologi karena daerah
telitian merupakan daerah yang secara geologi cukup menarik untuk dilakukan penelitian.
Hal ini dikarenakan daerah tersebut mempunyai suatu tatanan geologi yang kompleks baik
secara stratigrafi, struktur geologi, tektonika, maupun morfogenesa serta proses proses
geologi yang sangat menarik untuk dipelajari guna menerapkan ilmu ilmu geologi lapangan
berdasarkan hukum hukum geologi yang telah diperoleh di bangku perkuliahan dan juga
dikarenakan masih kurangnya penelitian yang dilakukan di daerah ini khususnya dari segi
geologinya.
Hal hal tersebut yang mendasari penulis untuk melakukan penelitian pada daerah
Ngalang, Kecamatan Ngalang, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta dengan judul Geologi dan Studi Fasies Turbidit Formasi Sambipitu Daerah
Ngalang, Kecamatan Ngalang, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penelitian ini adalah sebagai tugas akhir dalam memenuhi persyaratan
akademik guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Geologi ( S1 ) Program Studi Teknik
Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi dan perkembangan geologi daerah
telitian yang meliputi aspek geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, dan sejarah geologi
dalam satu kesatuan ruang dan waktu ( time & space ) geologi. Serta mempelajari
karakteristik fasies pada Formasi Sambipitu yang berguna dalam menyusun urutan waktu
20

pengendapan sedimen ( kronostratigrafi ) serta mengetahui perkembangan perubahan
lingkungan pengendapan yang pernah terjadi dari waktu ke waktu.
1.3. Letak dan Luas, Kesampaian Daerah Telitian, dan Waktu Penelitian
1.3.1. Letak dan Luas Daerah Telitian
Daerah pemetaan secara administrasi terletak di Kecamatan Ngalang, Kabupaten
Gunung Kidul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelah utara daerah telitian dibatasi
oleh Desa Nglampar, sebelah barat dibatasi oleh Desa Sambidemang, sebelah selatan dibatasi
oleh Desa Banyuurip, dan sebelah timur dibatasi oleh Desa Kenteng. Luas daerah telitian
adalah 6 x 5 km. ( Gambar 1.2 ).
1.3.2. Kesampaian Daerah
Daerah telitian dapat dijangkau dengan transportasi darat, yang terletak 50 km ke
arah timur Yogyakarta dan dapat dicapai dengan kendaraan bermotor roda empat atau roda
dua selama 60 menit dari Kota Yogyakarta, sedangkan untuk untuk lokasi pengamatan
dapat dicapai dengan kendaraan bermotor roda dua kecuali di beberapa tempat yang hanya
dapat dicapai dengan berjalan kaki, ( Gambar 1.1 ).













Gambar 1.1. Lokasi Daerah Penelitian
21


Gambar 1.2. Peta rupa bumi daerah penelitian lembar peta Wonosari-Jabung
(tanpa skala).
1.3.3. Waktu Penelitian
Waktu penelitian berlangsung selama dua bulan di lapangan terhitung dari
pertengahan akhir Januari 2011 hingga akhir Maret 2011 yang bersifat mandiri kemudian
dilanjutkan dengan kegiatan pengolahan data serta analisis data dan pembuatan laporan
penelitian sebagai sistematika selama kegiatan penelitian berlangsung, kegiatan tahap lanjut
ini memakan waktu 3 hingga 4 bulan.
1.4. Pokok Permasalahan
Pokok permasalahan yang diangkat penulis meliputi permasalahan geologi secara
umum meliputi geologi regional, stratigrafi, struktur geologi, geomorfologi, dan sejarah
geologi.
Adapun permasalahan khusus yang diangkat oleh penulis mengenai fasies turbidit
Formasi Sambipitu.
Permasalahan dalam penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian,
yaitu :
1.4.1. Permasalahan Geologi
Permasalahan permasalahan geologi yang diuraikan dalam penelitian ini, meliputi :
1.4.1.1. Permasalahan Geomorfologi
Dari interpretasi dan analisa peta topografi serta pengamatan kenampakan morfologi
di lapangan, dijumpai kenampakan pola aliran, bukit, lembah, kelurusan punggungan serta
22

pengaruh litologi dan struktur geologi, sehingga menimbulkan beberapa pertanyaan sebagai
berikut :
a. Berapa macam satuan geomorfik pada daerah telitian?
b. Faktor apa saja yang mengontrol bentuk dan penyebaran bentang alam daerah telitian?
c. Jenis pola pengaliran yang terbentuk dan apa faktor pengontrolnya?
d. Sejauh mana proses erosi yang telah berlangsung di daerah telitian?
e. Bagaimana perkembangan tahapan geomorfologinya?

1.4.1.2. Permasalahan Stratigrafi
Perbedaan relief dan dimensi bentang alam akan memberikan pengaruh terhadap
geometri suatu batuan sehingga akan menimbulkan permasalahan berupa :
a. Apa saja jenis litologi yang ada pada daerah telitian dan bagaimana variasinya?
b. Bagaimana penyebaran dan ketebalan batuan?
c. Bagaimana kandungan fosil dan umurnya?
d. Bagaimana urutan satuan batuan dari tua ke muda?
e. Bagaimana hubungan antar satuan batuan?
f. Bagaimana mekanisme dan lingkungan pengendapannya?
g. Apa nama formasi batuannya?

1.4.1.3. Permasalahan Struktur Geologi
Deformasi pada batuan akibat proses tektonik yang bekerja akan menghasilkan
struktur geologi yang terkait oleh beberapa hal, yaitu :
a. Jenis struktur apa saja yang berkembang di daerah telitian?
b. Bagaimana pola dan kedudukan struktur tersebut?
c. Berapa dimensi atau ukuran dan arah struktur tersebut?
d. Bagaimana mekanisme, pola dan arah gaya yang membentuknya?
e. Kapan unsur unsur struktur tersebut terbentuk? dan Bagaimana hubungannya dengan
sejarah tektonik yang bekerja pada daerah telitian?
1.4.1.4.Permasalahan Sejarah Geologi
Dari seluruh kajian data geologi yang dilakukan dari pengamatan data lapangan,
pengumpulan data hingga tahap analisis, akan menimbulkan permasalahan mengenai
perkembangan geologi dari waktu ke waktu yang meliputi :
a. Bagaimana mekanisme dan perkembangan proses pengendapan tiap formasi pada daerah
telitian dalam ruang dan waktu geologi?
23

b. Bagaimana perkembangan tahapan tektonik yang terjadi di daerah telitian dalam ruang
dan waktu geologi sehingga membentuk pola struktur seperti sekarang?

1.4.2. Permasalahan Studi
Permasalahan yang akan diuraikan penulis dalam studi khususnya, meliputi :

1.4.2.1 Permasalahan Fasies
Beberapa permasalahan yang terkait dengan studi fasies yang akan diuraikan penulis
dalam penelitian ini, meliputi :
a. Ada berapa jenis fasies batuan pada Formasi Sambipitu?
b. Bagaimana hubungan antara butiran dengan pembentukan litofasies?
c. Bagaimana mekanisme pada saat pembentukan litofasies?
d. Bagaimana hubungan antar fasies pada Formasi Sambipitu?
e. Bagaimana lingkungan pengendapan dari fasies fasies yang ada pada Formasi
Sambipitu?

1.5. Tahapan dan Metode Penelitian
Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul pada daerah telitian,
penulis melakukan berbagai tahapan dan metoda penelitian dalam pendekatan masalah ( lihat
Gambar 1.2 ), baik secara historis,deskriptif maupun analisis yang meliputi:

1.5.1. Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan meliputi studi pustaka yang dilakukan berdasarkan pada
publikasi dari penelitian-penelitian ahli geologi terdahulu yang dipublikasikan dan terkait
dengan geologi regional daerah penelitian,sedangkan studi literatur dilakukan terhadap hal-
hal yang terkait dengan pemahaman konsep geologi yang mendukung judul penelitian guna
menyelesaikan permasalahan permasalahan yang bersifat mendasar. Studi pustaka dan
literatur ini kemudian dijadikan sebagai bahan acuan bagi penulis dalam pembuatan proposal.

1.5.1.1. Penelitian Terdahulu
Beberapa peneliti terdahulu yang pernah melakukan studi yang terkait dengan daerah
telitian penulis secara lokal maupun secara regional, meliputi :
24

a. Van Bemmelen ( 1949 ), mengelompokkan geologi regional Pulau Jawa berdasarkan
fisiografi menjadi beberapa zona, salah satunya adalah Zona Pegunungan Selatan dimana
daerah penelitian penulis tercakup di dalamnya.
b. Rahardjo ( 1977 ), melakukan penelitian kemudian menyusun stratigrafi pegunungan
selatan secara lengkap meliputi aspek sedimentologi dan paleontologi dengan penekanan
untuk memperoleh kejelasan umur pembentukan dan lingkungan pengendapannya.
c. Martodjojo ( 1984 ), merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari peneliti
sebelumnya dalam penyusunan stratigrafi pegunungan selatan.
d. Surono ( 1992 ), melakukan penelitian kemudian menyusun stratigrafi pegunungan
selatan secara lengkap.
e. Samodra ( 1992 ), melakukan penelitian kemudian menyusun stratigrafi pegunungan
selatan secara lengkap.
f. Surono, B. Toha, I. Sudarno, dan S. Wiryosujono ( 1992 ), Penyusunan Peta Geologi
Lembar Surakarta-Giritontro pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi,
Departemen Pertambangan dan Energi, Direktorat Jendral Geologi dan Sumber Daya
Manusia.
g. Gendut Hartono ( 2010 ),Melakukan Penelitian Peran Paleovolkanisme Dalam Tataan
Produk Batuan Gunung Api Tersier Di Gunung Gajahmungkur, Wonogiri, Jawa Tengah
sebagai desertasinya untuk memperoleh gelar doktor.
1.5.2. Penelitian Lapangan
Penelitian lapangan secara umum dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap pra-pemetaan
dan tahap pemetaan (mapping).
1.5.2.1. Tahap Pra-Pemetaan
Tahap pra-pemetaan berupa kegiatan observasi dan survey lapangan guna menentukan
lokasi dan luas daerah penelitian yang sesuai dengan topik judul yang akan diambil penulis,
baik sebagai secara studi umum (geologi) maupun untuk studi khusus (fasies). Setelah lokasi
penelitian didapatkan pada tahap ini juga dilakukan perijinan dan penyiapan peta dasar guna
memperlancar proses pelaksanaan tahapan kerja berikutnya.

1.5.2.2. Tahap Pemetaan ( mapping )
Tahap pemetaan berupa kegiatan pengumpulan data lapangan yaitu dengan
melakukan tahapan kerja berupa : penentuan koordinat serta pengeplotan lokasi pengamatan,
pengamatan dan deskripsi singkapan batuan pada peta topografi ( gambar 1.3 ),
25

pembuatan sketsa singkapan batuan, pengukuran kedudukan lapisan batuan, pengambilan
foto singkapan dan sampel batuan, pengamatan geomorfologi dan struktur geologi yang
berkembang pada daerah telitian serta melakukan pengukuran penampang stratigrafi terukur
(profil).


Gambar 1.3. Peta topografi daerah penelitian(tanpa skala).
Dalam menunjang penelitian lapangan diatas beberapa alat dan perlengkapan yang
dipergunakan penulis dalam membantu pengambilan data di lapangan antara lain;
a. Peta dasar, berupa peta topografi dengan skala 1 : 20.000.
b. Palu geologi, berupa palu batuan sedimen.
c. Kompas geologi.
d. Lup dengan perbesaran 20X.
e. GPS (Global Positioning System) sistem penentuan posisi dengan bantuan sinkronisasi
sinyal satelit.
f. Komparator batuan sedimen.
g. Plastik sampel ukuran 2 kg dan larutan HCl 0,1 N.
h. Meteran dengan ukuran 30 m.
i. Buku catatan lapangan.
j. Alat tulis.
1.5.3. Pengolahan Data
26

Tahap pengolahan data yaitu dengan melakukan penggabungan dari hasil studi
pustaka dan literatur yang dilakukan di studio dengan hasil pengamatan serta pengambilan
data lapangan yang didukung oleh analisis laboratorium, yang meliputi : analisa kemiringan
lereng, analisis granulometri, analisis paleontologi, analisis petrografi, analisis struktur
geologi dan analisis kandungan mineral.
Data-data lapangan berupa pengukuran penampang stratigrafi terukur (profil)
dianalisis berdasarkan aspek fasies batuan guna mengetahui lingkungan pengendapan
berdasarkan pendekatan model-model yang telah dibuat oleh beberapa ahli.

1.5.4. Penyusunan Laporan
Tahap akhir dari seluruh kegiatan penelitian yang telah dilakukan disajikan dalam
bentuk laporan dan peta yang merangkum semua permasalahan yang diangkat penulis beserta
hasil analisis guna menjawab permasalahan diatas. ( Gambar 1.4 ).

1.5.5. Hasil Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi geologi daerah telitian
beserta fasies dan perkembangan lingkungan pengendapan khususnya pada Formasi
Sambipitu sehingga output dari penelitian ini dapat dibandingkan dengan penelitian
sebelumnya.

1.5.6. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dari beberapa sudut
pandang berupa :
1.5.6.1.Manfaat Keilmuan
Manfaat penelitian ini bagi bidang keilmuan adalah :
a. Menambah khazanah pengetahuan mengenai studi geologi dan fasies khususnya pada
Formasi Sambipitu.
b. Memperkuat pemahaman mengenai penerapan aplikasi metode geologi lapangan yang
riil dalam kaitannya dengan kerangka berfikir yang disesuaikan dengan konsep konsep
serta kaidah kaidah geologi yang berlaku.
c. Kemampuan untuk dapat mengintegrasikan antar data geologi, baik yang diperoleh di
lapangan maupun dari hasil analisis laboratorium.

1.5.6.2.Manfaat Institusi
27

Manfaat penelitian yang dilakukan penulis bagi pihak institusi berupa:
a. Melengkapi dan menambah hasil studi maupun data data yang belum terlengkapi dari
penelitian terdahulu, khususnya yang terkait dengan daerah penelitian penulis.
b. Memberikan masukan mengenai studi fasies turbidit khususnya pada Formasi Sambipitu.
c. Dengan penelitian ini diharapkan dapat memajukan dunia pendidikan yang terkait
dengan ilmu kebumian, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta umumnya dan bagi kemajuan
bangsa dan negara pada khususnya.
























Gambar 1.4. Diagram alir tahapan dan metode penelitian
28

BAB 2
GEOLOGI PEGUNUNGAN SELATAN

2.1. Fisiografi Pulau Jawa.
Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur secara fisiografi dapat dikelompokkan ke
dalam lima zona (Van Bemmelen, 1949), dari selatan ke utara (Gambar 2.1) :
1. Zona PegununganSelatan
2. Zona Solo
3. Zona Kendeng
4. Zona Randublatung
5. Zona Rembang
Zona fisiografi ini mencerminkan elemen struktur dari hasil penafsiran anomali gaya
berat di bagian utara Jawa Timur (Sutarso dan Suyitno, 1976). Elemen struktur dengan
anomali positif adalah Zona Kendeng dan Zona Rembang, sedangkan elemen struktur
anomali negatif adalah Depresi Semarang-Pati, Depresi Randublatung dan depresi Kening-
Solo. Struktur utama Jawa Tengah-Jawa Timur disamping arah barat timur yang mengikuti
zona tersebut, juga terdapat struktur yang berarah NE-SW memotong disekitar batas Zona
Rembang dan vulkanik Muria.







Gambar 2.1.Fisiografi bagian tengah dan timur Pulau Jawa (dikembangkan dari Van Bemmelen,
1949).





29

2.1.1 Zona Pegunungan Selatan
Daerah Pegunungan Selatan Jawa secara fisiografi termasuk ke dalam lajur
Pegunungan Selatan Jawa (Van Bemmelen, 1949), sedangkan secara tektonik regional
diperkirakan pada cekungan antar busur sampai busur volkanik. Daerah Pegunungan Selatan
yang membujur mulai dari Yogyakarta ke arah timur, Wonosari, Wonogiri, Pacitan menerus
ke daerah Malang Selatan, terus ke daerah Blambangan. Berdasarkan pada letak yang
berada di zona Pegunungan Selatan Jawa Timur, bentang alam yang terdiri atas rangkaian
pegunungan yang memanjang relatif barat - timur dan jenis litologi penyusunnya yang
didominasi oleh material material vulkaniklastik, daerah penelitian termasuk dalam zona
Wonosari Plateau.
Zona Pegunungan Selatan Jawa terbentang dari wilayah Jawa Tengah, di selatan
Yogyakarta dengan tebal kurang lebih 55 km, hingga Jawa Timur, dengan lebar kurang lebih
25 km, di selatan Blitar. Zona Pegunungan Selatan dibatasi oleh Dataran Yogyakarta-
Surakarta di sebelah barat dan utara, sedangkan di sebelah timur oleh Waduk Gajahmungkur,
Wonogiri dan di sebelah selatan oleh Lautan India. Di sebelah barat, antara Pegunungan
Selatan dan Dataran Yogyakarta dibatasi oleh aliran Sungai Opak, sedangkan di bagian utara
berupa gawir Baturagung. Bentuk Pegunungan Selatan ini hampir membujur barat-timur
sepanjang lk. 50 km dan ke arah utara-selatan mempunyai lebar kurang lebih. 40 km (Bronto
dan Hartono, 2001).
Zona Pegunungan Selatan dapat dibagi menjadi tiga subzona, yaitu Subzona
Baturagung, Subzona Wonosari dan Subzona Gunung Sewu. Subzona Wonosari merupakan
dataran tinggi ( 190 m) yang terletak di bagian tengah Zona Pegunungan Selatan, yaitu di
Daerah Wonosari dan sekitarnya. Dataran ini dibatasi oleh Subzona Baturagung di sebelah
barat dan utara, sedangkan di sebelah selatan dan timur berbatasan dengan Subzona Gunung
Sewu. Aliran sungai utama di daerah ini adalah Sungai Oyo yang mengalir ke barat dan
menyatu dengan Sungai Opak sebagai endapan permukaan di daerah ini adalah lempung
hitam dan endapan danau purba, sedangkan batuan dasarnya adalah batugamping.
Subzona Gunung Sewu merupakan perbukitan dengan bentang alam karst, yaitu
bentang alam dengan bukit-bukit batugamping membentuk banyak kerucut dengan
ketinggian beberapa puluh meter. Di antara bukit-bukit ini dijumpai telaga, luweng (sink
holes) dan di bawah permukaan terdapat gua batugamping serta aliran sungai bawah tanah.
Bentang alam karst ini membentang dari pantai Parangtritis di bagian barat hingga Pacitan di
30

sebelah timur.Zona Pegunungan Selatan pada umumnya merupakan blok yang terangkat dan
miring ke arah selatan. Batas utaranya ditandai escarpment yang cukup kompleks. Lebar
maksimum Pegunungan Selatan ini 55 km di sebelah selatan Surakarta, sedangkan sebelah
selatan Blitar hanya 25 km. Diantara Parangtritis dan Pacitan merupakan tipe karst (kapur)
yang disebut Pegunungan Seribu atau Gunung Sewu, dengan luas kurang lebih 1400 km
2

(Lehmann. 1939). Sedangkan antara Pacitan dan Popoh selain tersusun oleh batugamping
juga tersusun oleh batuan hasil aktifitas vulkanis berkomposisi asam-basa antara lain granit,
andesit dan dasit (Van Bemmelen,1949).
2.2 Tatanan Tektonik Pegunungan Selatan
Zona Pegunungan Selatan merupakan cekungan yang menunjang dengan arah relatif
barat timur mulai dari Parangtritis di bagian barat sampai Ujung Purwo di bagian Jawa
Timur. Perkembangan tektoniknya tidak lepas dari interaksi konvergen antara Lempeng
Hindia Australia dengan Lempeng Micro Sunda.
Evolusi Tektonik Pulau Jawa (Prasetyadi ,2007),dijelaskan bahwa Pulau Jawa
merupakan salah satu pulau di Busur Sunda yang mempunyai sejarah geodinamik aktif, yang
jika dirunut perkembangannya dapat dikelompokkan menjadi beberapa fase tektonik
dimulai dari Kapur Akhir hingga sekarang yaitu :
1. Periode Kapur akhir Paleosen.
2. Periode Eosen (Periode Ekstensional /Regangan) .
3. Periode Oligosen Tengah (Kompresional Terbentuknya OAF) .
4. Periode Oligo-Miosen (Kompresional Struktur Inversi ) .
5. Periode Miosen Tengah Miosen Akhir.
1. Periode Kapur Akhir Paleosen
Fase tektonik awal terjadi pada Mesozoikum ketika pergerakan Lempeng Indo-
Australia ke arah timur laut menghasilkan subduksi dibawah Lempeng Mikro Sunda
sepanjang suture Karangsambung-Meratus, dan diikuti oleh fase regangan (rifting phase)
selama Paleogen dengan pembentukan serangkaian horst (tinggian) dan graben (rendahan).
Aktivitas magmatik Kapur Akhir dapat diikuti menerus dari Timurlaut Sumatra Jawa-
Kalimantan Tenggara. Pembentukan cekungan depan busur (fore arc basin) berkembang di
daerah selatan Jawa Barat dan Serayu Selatan di Jawa Tengah. Mendekati Kapur Akhir
Paleosen, fragmen benua yang terpisah dari Gondwana, mendekati zona subduksi
Karangsambung-Meratus. Kehadiran allochthonous micro-continents di wilayah Asia
Tenggara telah dilaporkan oleh banyak penulis (Metcalfe, 1996). Basement bersifat
31

kontinental yang terletak di sebelah timur zona subduksi Karangsambung-Meratus dan yang
mengalasi Selat Makasar teridentifikasi di Sumur Rubah-1 (Conoco, 1977) berupa granit
pada kedalaman 5056 kaki, sementara didekatnya Sumur Taka Talu-1 menembus basement
diorit. Docking atau merapatnya fragmen mikro-kontinen pada bagian tepi timur Sundaland
menyebabkan matinya zona subduksi Karangsambung-Meratus dan terangkatnya zona
subduksi tersebut menghasilkan Pegunungan Meratus (Gambar 2.2 A).

2. Periode Eosen (Periode Ekstensional /Regangan)
Antara 54 jtl 45 jtl (Eosen), di wilayah Lautan Hindia terjadi reorganisasi lempeng
ditandai dengan berkurangnya secara mencolok kecepatan pergerakan ke utara India.
Aktifitas pemekaran di sepanjang Wharton Ridge, suatu pusat pemekaran berarah baratdaya
timurlaut yang berhenti aktifitasnya pada anomali 20 (45,6 jtl) yang keberadaanya
diindikasikan pertama kali oleh McDonald (1977, dalam Liu dkk.,1983), berhenti atau mati
tidak lama setelah pembentukan anomali 19 atau 45 jtl. Berkurangnya secara mencolok gerak
India ke utara dan matinya Wharton Ridge ini diinterpretasikan sebagai pertanda kontak
pertama Benua India dengan zona subduksi di selatan Asia dan menyebabkan terjadinya
tektonik regangan (extension tectonics) di sebagian besar wilayah Asia Tenggara yang
ditandai dengan pembentukan cekungan-cekungan utama (Natuna, Sumatra, Sunda, Jawa
Timur, Barito, dan Kutai) dan endapannya dikenal sebagai endapan syn-rift. Pelamparan
extension tectonics ini berasosiasi dengan pergerakan sepanjang sesar regional yang telah
ada sebelumnya dalam fragmen mikrokontinen. Konfigurasi struktur basement
mempengaruhi arah cekungan syn-rift Paleogen di wilayah tepian tenggara Sundaland
(Sumatra, Jawa, dan Kalimantan Tenggara) (Gambar 2.2 B).

3. Periode Oligosen Tengah (Kompresional Terbentuknya OAF)
Sebagian besar bagian atas sedimen Eosen Akhir memiliki kontak tidak selaras
dengan satuan batuan di atasnya yang berumur Oligosen. Di daerah Karangsambung batuan
Oligosen diwakili oleh Formasi Totogan yang kontaknya dengan satuan batuan lebih tua
menunjukkan ada yang selaras dan tidakselaras. Di daerah Karangsambung Selatan batas
antara Formasi Karangsambung dan Formasi Totogan sulit ditentukan dan diperkirakan
berangsur, sedangkan ke arah utara Formasi Totogan ada yang langsung kontak secara tidak
selaras dengan batuan dasar Komplek Melange Luk Ulo. Di daerah Nanggulan kontak
ketidakselarasan terdapat diantara Anggota Seputih yang berumur Eosen Akhir dengan satuan
breksi vulkanik Formasi Kaligesing yang berumur Oligosen Tengah. Demikian pula di daerah
32

Bayat, bagian atas Formasi Wungkal-Gamping yang berumur Eosen Akhir, tanda-tanda
ketidak selarasan ditunjukkan oleh terdapatnya fragmen-fragmen batuan Eosen di sekuen
bagian bawah Formasi Kebobutak yang berumur Oligosen Akhir. Ketidakselarasan di
Nanggulan dan Bayat merupakan ketidakselarasan menyudut yang diakibatkan oleh
deformasi tektonik yang sama yang menyebabkan terdeformasinya Formasi Karangsambung.
Akibat deformasi ini di daerah Cekungan Jawa Timur tidak jelas teramati karena endapan
Eosen Formasi Ngimbang disini pada umumnya selaras dengan endapan Oligosen Formasi
Kujung. Deformasi ini kemungkinan juga berkaitan dengan pergerakan ke utara Benua
Australia. Ketika Wharton Ridge masih aktif Benua Australia bergerak ke utara sangat
lambat. Setelah matinya pusat pemekaran Wharton pada 45 jt, India dan Australia berada
pada satu lempeng tunggal dan bersama-sama bergerak ke utara. Pergerakan Australia ke
utara menjadi lebih cepat dibanding ketika Wharton Ridge masih aktif. Bertambahnya
kecepatan ini meningkatkan laju kecepatan penunjaman Lempeng Samudera Hindia di
Palung Jawa dan mendorong ke arah barat, sepanjang sesar mendatar yang keberadaannya
diperkirakan, Mikrokontinen Jawa Timur sehingga terjadi efek kompresional di daerah
Karangsambung yang mengakibatkan terdeformasinya Formasi
Karangsambung serta terlipatnya Formasi Nanggulan dan Formasi Wungkal-Gamping di
Bayat. Meningkatnya laju pergerakan ke utara Benua Australia diperkirakan masih
berlangsung sampai Oligosen Tengah. Peristiwa ini memicu aktifitas vulkanisme yang
kemungkinan berkaitan erat dengan munculnya zona gunung api utama di bagian selatan
Jawa (OAF=Old Andesite Formation) yang sekarang dikenal sebagai Zona Pegunungan
Selatan. Aktifitas vulkanisme ini tidak menjangkau wilayah Jawa bagian utara dimana
pengendapan karbonat dan silisiklastik menerus di daerah ini (Gambar 2.2 C).

4. Periode Oligo-Miosen (Kompresional Struktur Inversi )
Pada Oligosen Akhir sampai Miosen Tengah pergerakan ke utara India dan Australia
berkurang secara mencolok karena terjadinya benturan keras (hard collision) antara India
dengan Benua Asia membentuk Pegunungan Himalaya. Akibatnya laju penunjaman
Lempeng Samudera Hindia di palung Sunda juga berkurang secara drastis. Hard collision
India menyebabkan efek maksimal tektonik ekstrusi sehingga berkembang fase kompresi di
wilayah Asia Tenggara. Fase kompresi ini menginversi sebagian besar endapan syn-rift
Eosen. Di Cekungan Jawa Timur fase kompresi ini menginversi graben RMKS menjadi zona
Sesar RMKS. Di selatan Jawa, kegiatan vulkanik Oligosen menjadi tidak aktif dan
mengalami pengangkatan. Pengangkatan ini ditandai dengan pengen-dapan karbonat besar-
33

besaran seperti Formasi Wonosari di Jawa Tengah dan Formasi Punung di Jawa Timur.
Sedangkan di bagian utara dengan aktifnya inverse, berkembang endapan syn-inversi
formasi-formasi Neogen di Zona Rembang dan Zona Kendeng. Selama periode ini, inversi
cekungan terjadi karena konvergensi Lempeng Indian menghasilkan rezim tektonik kompresi
di daerah busur depan Sumatra dan Jawa. Sebaliknya, busur belakang merupakan subjek
pergerakan strike-slip utara-selatan yang dominan sepanjang sesar-sesar turun (horst dan
graben) utara-selatan yang telah ada.

5. Periode Miosen Tengah Miosen Akhir
Pengaktifan kembali sepanjang sesar tersebut menghasilkan mekanisme transtension
dan transpression yang berasosiasi dengan sedimentasi turbidit dibagian yang mengalami
penurunan. Namun demikian, di bagian paling timur Jawa Timur, bagian basement dominan
berarah timur-barat, sebagaimana secara khusus dapat diamati dengan baik mengontrol
Dalaman Kendeng dan juga Dalaman Madura.Bagian basement berarah Timur Barat
merupakan bagian dari fragmen benua yang mengalasi dan sebelumnya tertransport dari
selatan dan bertubrukan dengan Sundaland sepanjang Suture Meratus (NE-SW struktur).
Tektonik kompresi karena subduksi ke arah utara telah mengubah sesar basement Barat
Timur menjadi pergerakan sesar mendatar, dalam perioda yang tidak terlalu lama (Manur dan
Barraclough, 1994). Kenaikan muka air laut selama periode ini, menghasilkan pengendapan
sedimen klastik di daerah rendahan, dan sembulan karbonat (carbonate buildup) pada
tinggian yang membatasinya.












34

Gambar 2.2. Rekonstruksi perkembangan tektonik Pulau Jawa
(Prasetyadi,2007),dengan penjelasan sebagai berikut :
A. Rekontruksi skematik perkembangan tektonik Pulau Jawa dimulai
pada Kapur Paleosen.
B .Rekontruksi skematik perkembangan tektonik Pulau Jawa dimulai
pada Eosen Tengah.
C .Rekontruksi skematik perkembangan tektonik Pulau Jawa dimulai
pada Oligosen Tengah.



























35

2.3 Stratigrafi Pegunungan Selatan
Penamaan satuan litostratigrafi Pegunungan Selatan telah dikemukakan oleh beberapa
peneliti terdahulu tetapi dalam susunan stratigrafi tiap tiap formasi yang ada pada Daerah
Pegunungan Selatan khususnya pada Daerah Ngalang penulis mengacu pada susunan
Stratigrafi Pegunungan Selatan yang dibuat oleh Surono pada tahun 1992 karena dirasa sesuai
dengan keadaan tiap formasi tersebut pada lokasi penelitian yang digambarkan pada kolom
stratigrafi berikut (Gambar 2.3).





















Gambar 2.3. Stratigrafi Pegunungan Selatan, Jawa Tengah dan penarikan umur absolut
menurut peneliti terdahulu (Surono, et al. 1992).

Dari kolom stratigrafi diatas (Gambar 2.3) dapat dijelaskan urutan serta hubungan
stratigrafi Pegunungan Selatan adalah sebagai berikut :
36

1. Batuan dasar berupa batuan malihan.Basement berupa batuan malihan ini didominasi
oleh hadirnya Kelompok batuan Pra-Tersier Perbukitan Jiwo, Bayat secara umum terdiri
dari filit, sekis dan marmer .Filit merupakan litologi yang dominan dijumpai, baik di
daerah Jiwo Timur dan Jiwo Barat, di lokasi-lokasi Gunung Konang, Gunung Semangu,
Gunung Merak, Gunung Kebo, Gunung Budo, dan Gunung Sari. Sebagian besar
singkapan filit dalam keadaan lapuk; hanya sedikit singkapan filit yang segar Selain filit
batuan metamorf yang merupakan batuan Pra-Tersier lainnya yaitu sekis.Singkapan sekis
dijumpai setempat-setempat, seperti di Jiwo Timur dijumpai di bagian barat G.Jokotuo,
G.Konang, G. Semangu, dan lereng tenggara Gunung Pendul, sedangkan di Jiwo Barat
lereng selatan G. Merak. Di lokasi sekis ini terdapat sebagai fragmen dalam batulempung
Eosen Formasi Wungkal-Gamping. Juga terdapat marmer sebagai kelompok dari batuan
malihan yang singkapannya terdapat di daerah Jokotuo dan lereng utara Gunung Jabalkat.
Terdapat menyisip di dalam filit, singkapan marmer ini memiliki sebaran tidak terlalu
luas dan terpotong oleh sesar seperti yang terdapat di daerah Jokotuo. Umur batuan Pra-
Tersier di daerah Perbukitan Jiwo, Bayat diinterpretasikan berdasarkan kontak
ketidakselarasan dengan batuan Eosen yang menumpang di atasnya.

2. Formasi Wungkal dan Formasi Gamping. Formasi Wungkal dicirikan oleh kalkarenit
dengan sisipan batupasir dan batulempung, sedangkan Formasi Gamping dicirikan oleh
kalkarenit dan batupasir tufaan. Di Daerah Gamping (sebelah barat Kota Yogyakata,
sebagai tipe lokasi), Formasi Gamping ini dicirikan oleh batugamping yang berasosiasi
dengan gamping terumbu.Beberapa peneliti menafsirkan sebagai ketidakselarasan
(Sumosusastro, 1956 dan Marks, 1957) dan peneliti lainnya menafsirkan hubungan kedua
formasi tersebut selaras (Bothe, 1929, Sumarso dan Ismoyowati, 1975). Surono et al
(1989) menyebutnya sebagai Formasi GampingWungkal yang merupakan satu formasi
yang tidak terpisahkan. Namun demikian semua para peneliti tersebut sepakat bahwa
kedua formasi tersebut berumur Eosen Tengah-Eosen Atas.Di atas Formasi Wungkal dan
Formasi Gamping ditutupi secara tidakselaras oleh sedimen volkanoklastik yang
dikelompokkan sebagai : Formasi Kebo, Formasi Butak, Formasi Semilir, Formasi
Nglanggran dan Formasi Sambipitu.

3. Formasi Kebo - Butak, terdiri dari perselingan konglomerat, batupasir tufaan, serpih dan
lanau. Di beberapa tempat dijumpai adanya lava bantal dan intrusi diorit. Ketebalan
37

formasi ini sekitar 800 meter dan diendapkan di lingkungan laut, dan pada umumnya
memperlihatkan endapan aliran gravitasi (gravity-flow deposits).
Lokasi tipe formasi ini terletak di G. Kebo dan G. Butak yang terletak di lereng dan
kaki utara gawir Baturagung. Litologi penyusun formasi ini di bagian bawah berupa
batupasir berlapis baik, batulanau, batulempung, serpih, tuf dan aglomerat. Bagian atasnya
berupa perselingan batupasir dan batulempung dengan sisipan tipis tuf asam. Setempat di
bagian tengahnya dijumpai retas lempeng andesit-basal dan di bagian atasnya dijumpai
breksi andesit.
Pada Formasi Kebo-Butak, Sumarso dan Ismoyowati (1975) menemukan fosil
Globorotalia opima BOLLI, Globorotalia angulisuturalis BOLLI, Globorotalia kuqleri
BOLLI, Globorotalia siakensis LEROY, Globigerina binaiensis KOCH, Globigerinoides
primordius BLOW dan BANNER, Globigerinoides trilobus REUSS. Kumpulan fosil
tersebut menunjukkan umur Oligosen Akhir Miosen Awal. Lingkungan pengendapannya
adalah laut terbuka yang dipengaruhi oleh arus turbid. Formasi ini tersebar di kaki utara
Pegunungan Baturagung, sebelah selatan Klaten dan diduga menindih secara tidak selaras
Formasi Wungkal-Gamping serta tertindih selaras oleh Formasi Semilir. Ketebalan dari
formasi ini lebih dari 650 meter. Pada umumnya beberapa peneliti menyebutnya sebagai
Formasi Kebo-Butak yang berumur Oligosen Atas (N1-N3).
4. Formasi Mandalika, lokasi tipe formasi ini terdapat di Desa Mandalika. Formasi ini
memiliki ketebalan antara 80-200 m. Formasi ini tersusun oleh lava andesitik-basaltik,
porfiri, petite, rhyolite dan dasit; dasit, lava andesitik, tuff dasit dengan dioritik dyke; lava
andesitic basaltic trachytik dasitik dan breksia andesitic yang ter-prophyliti-kan; andesite,
dasit, breksia volkanik, gamping kristalin; breksia, lava, tuff, dengan interkalasi dari
batupasir dan batulanau yang memperlihatkan cirri endapan darat. Satuan ini beda fasies
menjari dengan Anggota Tuff dari Formasi Kebo - butak.
5. Formasi Semilir. Formasi ini berlokasi tipe di G. Semilir, sebelah selatan Klaten. Litologi
penyusunnya terdiri dari tuf, tuf lapili, lapili batuapung, breksi batuapung dan serpih.
Komposisi tuf dan batuapung tersebut bervariasi dari andesit hingga dasit. Di bagian
bawah satuan batuan ini, yaitu di K. Opak, Dusun Watuadeg, Desa Jogotirto, Kec. Berbah,
Kab. Sleman, terdapat andesit basal sebagai aliran lava bantal (Bronto dan Hartono, 2001).
Penyebaran lateral Formasi Semilir ini memanjang dari ujung barat Pegunungan Selatan,
yaitu di daerah Pleret-Imogiri, di sebelah barat G. Sudimoro, Piyungan-Prambanan, di
38

bagian tengah pada G. Baturagung dan sekitarnya, hingga ujung timur pada tinggian G.
Gajahmungkur, Wonogiri. Ketebalan formasi ini diperkirakan lebih dari 460 meter.
Pada umumnya, formasi ini miskin akan fosil. Namun, Sumarso dan Ismoyowati
(1975) menemukan fosil Globigerina tripartita KOCH pada bagian bawah formasi dan
Orbulina pada bagian atasnya. Sedangkan pada bagian tengah formasi ditemukan
Globigerinoides primordius BLOW dan BANNER, Globoquadrina altispira CUSHMAN
dan JARVIS, Globigerina praebulloides BLOW dan Globorotalia siakensis LEROY.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa umur formasi ini adalah Miosen
Awal-Miosen Tengah bagian bawah.
Formasi Semilir ini menindih secara selaras Formasi Kebo-Butak, namun secara
setempat tidak selaras (van Bemmelen, 1949). Formasi ini menjemari dengan Formasi
Nglanggran dan Formasi Sambipitu, namun tertindih secara tidak selaras oleh Formasi
Oyo (Surono, dkk., 1992). Dengan melimpahnya tuf dan batuapung dalam volume yang
sangat besar, maka secara vulkanologi Formasi Semilir ini dihasilkan oleh letusan
gunungapi yang sangat besar dan merusak, biasanya berasosiasi dengan pembentukan
kaldera letusan (Bronto dan hartono, 2001).

6. Formasi Nglanggran, Lokasi tipe formasi ini adalah di Desa Nglanggran di sebelah
selatan Desa Semilir. Batuan penyusunnya terdiri dari breksi gunungapi, aglomerat, tuf
dan aliran lava andesit-basal dan lava andesit. Breksi gunungapi dan aglomerat yang
mendominasi formasi ini umumnya tidak berlapis. Kepingannya terdiri dari andesit dan
sedikit basal, berukuran 2 50 cm. Secara setempat, formasi ini disisipi oleh batupasir
gunungapi epiklastika dan tuf yang berlapis baik.
Pada umumnya Formasi Nglanggran ini juga miskin akan fosil. Sudarminto (1982,
dalam Bronto dan Hartono (2001)) menemukan fosil foraminifera Globigerina
praebulloides BLOW, Globigerinoides primordius BLOW dan BANNER,
Globigerinoides sacculifer BRADY, Globoquadrina dehiscens CHAPMANN, PARR dan
COLLINS pada sisipan batulempung yang menunjukkan umur Miosen Awal. Sedangkan
Saleh (1977, dalam Bronto dan Hartono (2001)) menemukan fosil foraminifera
Globorotalia praemenardiii CUSHMAN dan ELLISOR, Globorotalia archeomenardii
BOLLI, Orbulina suturalis BRONNIMANN, Orbulina universa DORBIGNY dan
Globigerinoides trilobus REUSS pada sisipan batupasir yang menunjukkan umur Miosen
39

Tengah bagian bawah. Sehingga disimpulkan bahwa umur formasi ini adalah Miosen
Awal-Miosen Tengah bagian bawah.
Formasi ini juga tersebar luas dan memanjang dari Parangtritis di sebelah barat hingga
tinggian G. Panggung di sebelah timur. Ketebalan formasi ini di dekat Nglipar sekitar 530
meter. Formasi ini menjemari dengan Formasi Semilir dan Formasi Sambipitu dan secara
tidak selaras ditindih oleh Formasi Oyo dan Formasi Wonosari. Dengan banyaknya
fragmen andesit dan batuan beku luar berlubang serta mengalami oksidasi kuat berwarna
merah bata maka diperkirakan lingkungan asal batuan gunungapi ini adalah darat hingga
laut dangkal. Sementara itu, dengan ditemukannya fragmen batugamping terumbu, maka
lingkungan pengendapan Formasi Nglanggran ini diperkirakan di laut.
7. Formasi Sambipitu. Lokasi tipe formasi ini terletak di Desa Sambipitu pada jalan raya
Yogyakarta-Patuk-Wonosari kilometer 27,8. Secara lateral, penyebaran formasi ini sejajar
di sebelah selatan Formasi Nglanggran, di kaki selatan Subzona Baturagung, namun
menyempit dan kemudian menghilang di sebelah timur. Formasi ini tersusun oleh
perselingan antara batupasir tufaan, serpih dan batulanau, yang memperlihatkan ciri
endapan turbidit. Di bagian atas sering dijumpai adanya struktur slump skala besar. Satuan
ini selaras di atas Formasi Nglanggran, dan merupakan endapan lingkungan laut.
Batuan penyusun formasi ini di bagian bawah terdiri dari batupasir kasar, kemudian
ke atas berangsur menjadi batupasir halus yang berselang-seling dengan serpih, batulanau
dan batulempung. Pada bagian bawah kelompok batuan ini tidak mengandung bahan
karbonat. Namun di bagian atasnya, terutama batupasir, mengandung bahan karbonat.
Formasi Sambipitu mempunyai kedudukan menjemari dan selaras di atas Formasi
Nglanggran.
Fosil yang ditemukan pada formasi ini diantaranya Lepidocyclina verbeeki NEWTON
dan HOLLAND, Lepidocyclina ferreroi PROVALE, Lepidocyclina sumatrensis BRADY,
Cycloclypeus comunis MARTIN, Miogypsina polymorpha RUTTEN dan Miogypsina
thecideaeformis RUTTEN yang menunjukkan umur Miosen Tengah (Bothe, 1929).
Namun Suyoto dan Santoso (1986, dalam Bronto dan Hartono, 2001) menentukan umur
formasi ini mulai akhir Miosen Bawah sampai awal Miosen Tengah. Kandungan fosil
bentoniknya menunjukkan adanya percampuran antara endapan lingkungan laut dangkal
dan laut dalam. Dengan hanya tersusun oleh batupasir tuf serta meningkatnya kandungan
karbonat di dalam Formasi Sambipitu ini diperkirakan sebagai fase penurunan dari
kegiatan gunungapi di Pegunungan Selatan pada waktu itu (Bronto dan Hartono, 2001).
40

8. Formasi Oyo. Lokasi tipe formasi ini berada di K. Oyo. Batuan penyusunnya pada bagian
bawah terdiri dari tuf dan napal tufan. Sedangkan ke atas secara berangsur dikuasai oleh
batugamping berlapis dengan sisipan batulempung karbonatan. Batugamping berlapis
tersebut umumnya kalkarenit, namun kadang-kadang dijumpai kalsirudit yang
mengandung fragmen andesit membulat. Formasi Oyo tersebar luas di sepanjang K. Oyo.
Ketebalan formasi ini lebih dari 140 meter dan kedudukannya menindih secara tidak
selaras di atas Formasi Semilir, Formasi Nglanggran serta menjemari dengan Formasi
Wonosari.
Formasi Oyo umumnya berlapis baik. Sedangkan fosil yang dijumpai antara lain
Cycloclypeus annulatus MARTIN, Lepidocyclina rutteni VLERK, Lepidocyclina ferreroi
PROVALE, Miogypsina polymorpha RUTTEN dan Miogypsina thecideaeformis
RUTTEN yang menunjukkan umur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir (Bothe, 1929).
Lingkungan pengendapannya pada laut dangkal (zona neritik).

9. Formasi Wonosari. Formasi ini tersingkap baik di Daerah Wonosari dan sekitarnya,
membentuk morfologi karts, terdiri dari batugamping terumbu, batugamping bioklastik
berlapis dan napal. Satuan batuan ini merupakan endapan karbonat paparan (carbonate
plateform) pada Miosen Tengah hingga Miosen Akhir (N9-N18). Formasi Wonosari ini
mempunyai hubungan selaras di atas Formasi Oyo, akan tetapi di beberapa tempat, bagian
bawah formasi ini saling berhubungan silang jari dengan Formasi Oyo.
Formasi ini oleh Surono dkk., (1992) dijadikan satu dengan Formasi Punung yang
terletak di Pegunungan Selatan bagian timur karena di lapangan keduanya sulit untuk
dipisahkan, sehingga namanya Formasi Wonosari-Punung. Formasi ini tersingkap baik di
daerah Wonosari dan sekitarnya, membentuk bentang alam Subzona Wonosari dan
topografi karts Subzona Gunung Sewu. Ketebalan formasi ini diduga lebih dari 800 meter.
Kedudukan stratigrafinya di bagian bawah menjemari dengan Formasi Oyo, sedangkan di
bagian atas menjemari dengan Formasi Kepek. Formasi ini didominasi oleh batuan
karbonat yang terdiri dari batugamping berlapis dan batugamping terumbu. Sedangkan
sebagai sisipan adalah napal. Sisipan tuf hanya terdapat di bagian timur.
Berdasarkan kandungan fosil foraminifera besar dan kecil yang melimpah,
diantaranya Lepidocyclina sp. dan Miogypsina sp., ditentukan umur formasi ini adalah
Miosen Tengah hingga Pliosen. Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal (zona
neritik) yang mendangkal ke arah selatan (Surono dkk, 1992).

41

10. Formasi Kepek. Lokasi tipenya terdapat di Kali Kepek, tersusun oleh batugamping dan
napal dengan ketebalan mencapai 200 meter. Litologi satuan ini nenunjukkan ciri endapan
paparan laut dangkal dan merupakan bagian dari sistem endapan karbonat paparan pada
umur Miosen Akhir (N15-N18). Formasi ini mempunyai hubungan silang jari dengan
satuan batugamping terumbu Formasi Wonosari. Di atas batuan karbonat tersebut, secara
tidakselaras terdapat satuan batulempung hitam, dengan ketebalan 10 meter. Satuan ini
menunjukkan ciri sebagai endapan danau di Daerah Baturetno pada waktu Plistosen.
Selain itu, Daerah setempat terdapat laterit berwarna merah sampai coklat kemerahan
sebagai endapan terrarosa, yang pada umumnya menempati uvala pada morfologi karst. Di
lokasi lainnya, hubungan antara sedimen volkanoklastik dan sedimen karbonat tersebut
berubah secara berangsur (Surono et al, 1989).
Formasi Kepek umumnya berlapis baik dengan kemiringan kurang dari 10
o
dan kaya
akan fosil foraminifera kecil. Fosil yang terkandung di antaranya Globorotalia
plesiotumida BLOW dan BANNER, Globorotalia
merotumida, Globoquadrina dehiscens CHAPMAN, PARR dan COLLINS, Amphistegina
sp., Textularia sp., Cibicides sp., Cassidulina sp. dan Virgulina sp. Berdasarkan
kandungan fosil tersebut, maka umur Formasi Kepek adalah Miosen Akhir hingga Pliosen.
Formasi Kepek menjemari dengan bagian atas dari Formasi Wonosari-Punung.
Lingkungan pengendapannya adalah laut dangkal (zona neritik) (Samodra, 1984, dalam
Bronto dan Hartono, 2001).












42

BAB 3
GEOLOGI DAERAH NGALANG

3.1. Geomorfologi
Pengertian geomorfologi adalah studi yang menguraikan bentuk lahan dan proses
yang mempengaruhi pembentukannya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuk
lahan dengan proses dalam tatanan keruangan (Van Zuidam, 1979).
Dalam pembagian satuan geomorfologi daerah telitian penulis mengacu pada
klasifikasi morfologi menurut Van Zuidam, (1983).

3.1.1. Dasar Pembagian Bentuk Lahan
Dalam pembagian bentuk lahan penulis juga memperhatikan faktor - faktor yang
mempengaruhi proses pembentukan bentang alam suatu daerah yang terdiri dari:
a. Morfologi: studi bentuk lahan yang mempelajari relief secara umum, meliputi:
- Morfografi adalah susunan dari obyek alami yang ada di permukaan bumi,
bersifat pemerian atau deskriptif suatu bentuk lahan, antara lain lembah, bukit, perbukitan, dataran,
pegunungan, teras sungai, beting pantai, kipas aluvial, plato dan lain-lain.
- Morfometri adalah aspek kuantitatif dari suatu aspek bentuk lahan, antara lain
kelerengan, bentuk lereng, panjang lereng, ketinggian, beda tinggi, bentuk lembah dan pola
pengaliran. Dalam analisa kelerengan dapat diukur besaran kelerengan dengan rumus sebagai
(klasifikasi kemiringan lereng,lihat tabel 3.1) berikut:






43











Tabel 3.1. Pembagian klasifikasi kelerengan menurut Van Zuidam, (1979).
b. Morfogenesa: asal usul pembentukan dan perkembangan bentuk lahan serta proses-
proses geomorfologi yang terjadi, dalam hal ini adalah struktur geologi, litologi penyusun dan proses
dan proses geomorfologi. Morfogenesa meliputi:
- Morfostruktur aktif, berupa tenaga endogen seperti pengangkatan, perlipatan dan
pensesaran. Dengan kata lain, bentuk lahan yang berkaitan erat dengan hasil gaya endogen yang
dinamis termasuk gunung api, tektonik (lipatan dan sesar), misal : gunungapi, pegunungan antiklin
dan gawir sesar.
- Morfostruktur pasif, bentuk lahan yang diklasifikasikan berdasarkan tipe batuan
maupun struktur batuan yang ada kaitannya dengan denudasi misalnya messa, cuesta, hogback dan
kubah.
- Morfodinamik, berupa tenaga eksogen yang berhubungan dengan tenaga air, es,
gerakan masa dan kegunungapian. Dengan kata lain, bentuk lahan yang berkaitan erat dengan hasil
kerja gaya eksogen (air, es, angin dan gerakan tanah), misal gumuk pasir, undak sungai, pematang
pantai dan lahan kritis.
Secara garis besar susunan pembuatan peta geomorfologi berdasarkan aspek
geomorfologi yang telah ada dapat dijelaskan dalam bagan alir penentuan satuan geomorfik
berikut ini ( Gambar 3.1) :






44











Gambar 3.1. Bagan alir penentuan satuan geomorfik.


3.1.2. Pola Pengaliran Daerah Ngalang.
Pola pengaliran adalah kumpulan jalur-jalur pengaliran hingga bagian terkecilnya
pada batuan yang mengalami pelapukan atau tidak, ditempati oleh sungai secara permanen.
(Arthur Davis Howard, 1966).
Berdasarkan sifat alirannya sungai di daerah telitian termasuk dalam sungai
eksternal, yakni aliran air yang berada dipermukaan yang membentuk sungai maupun danau,
kemudian berdasarkan genesanya pada derah telitian tergolong sebagai sungai dengan aliran
subsekuen, yaitu sungai yang mengalir sepanjang jurus perlapisan batuan dan membentuk
lembah sepanjang daerah lunak, seperti pada Sungai Ngalang, Sungai Oyo.
Berdasarkan klasifikasi Arthur Davis Howard, (1966), maka di daerah
penelitian terdapat dua jenis pola pengaliran, yaitu :
1. Pola pengaliran subdendritik .
3.1.2.1 Pola pengaliran subdendritik .
Pola pengaliran subdendritik (Gambar 3.2) merupakan perkembangan dari pola
dasar dendritik, karena pengaruh dari topografi yang memiliki kemiringan lereng antara
landai hingga miring dan resistensi batuan dan tanah yang relatif seragam, sehingga
dihasilkan bentukan pola pengaliran menyerupai cabang pohon, kemudian faktor pengontrol
berupa struktur juga mempengaruhi, namun tidak dominan.


45







Gambar 3.2. Pola pengaliran ubahan subdendritik (A.D. Howard,1966)
Pola pengaliran subdendritik ini mencakup secara keseluruhan (100%) dari pola
pengaliran daerah penelitian.























Gambar 3.3. Peta pola pengaliran daerah telitian dimana SD : Pola Pengaliran
Subdendritik.

3.1.3. Stadia Erosi Daerah Ngalang.
Secara genetik pembentukan stadia erosi dipengaruhi oleh faktor iklim, relief
(kelerengan), sifat resistensi batuan , siklus fluviatil, serta proses denudasional yang
46

berlangsung. Perubahan tersebut menyebabkan terjadinya perubahan topografi yang akhirnya
membentuk topografi seperti sekarang.Proses pengerosian pada daerah penelitian
diinterpretasikan sedang, dibuktikan dengan masih adanya punggungan dan masih adanya
perbukitan dengan lereng yang curam, kemudian bentuk lembah di daerah penelitian
berbentuk U,selain itu pada daerah telitian juga ditemukan banyak percabangan sungai
berukuran kecil , selain percabangan sungai kecil ,sungai besar juga terdapat pada daerah
penelitian (Gambar 3.4) seperti pada Sungai Ngalang dengan lebar sungai sekitar 5-7 M.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut maka dapat disimpulkan bahwa stadia daerah
penelitian adalah stadia dewasa (Gambar 3.1).

Gambar 3.4. Gambar udara daerah telitian.


3.1.4. Geomorfologi Daerah Ngalang.
Pada hasil pengamatan daerah telitian dan interpretasi peta lembar Wonosari-Jabung,
daerah telitian merupakan daerah homoklin. Hal ini tercermin dari kedudukan lapisan yang
relatif ke arah selatan (homoklin). Ini mengindikasikan bahwa geomorfologi daerah telitian
dikontrol oleh proses struktur geologi. Hasil dari proses struktur geologi ini adalah adanya
perbukitan, lembah serta dataran homoklin. Proses erosi yang intensif membentuk, bukit dan
sungai yang berbentuk U, dengan morfologi yang hampir datar.
Hubungan dengan litologi daerah telitian bahwa daerah yang relatif menonjol atau
curam mempunyai intensitas tingkat resistensi yang lebih kuat daripada daerah yang
47

mempunyai tingkatan resistensi batuan yang tidak kuat yang ada di daerah yang lebih landai
dan datar. Melihat dari fakta dan data ada bahwa daerah telitian ini dapat dikategorikan
sebagai stadia geomorfik tingkat dewasa yang dikontrol oleh kemiringan lereng, resistensi
batuan dan struktur geologi yang mempengaruhinya.
Berdasarkan aspek-aspek geomorfologi tersebut dengan disertai klasifikasi menurut
Van Zuidam, (1983), maka bentuk lahan pada daerah penelitian dapat diklasifikasikan
menjadi 2 satuan geomorfik (lampiran Peta Geomorfologi) yaitu :
1. Satuan Geomorfik Bentukan Asal Struktural
1.1 Subsatuan Geomorfik Perbukitan Homoklin (S1)
1.2 Subsatuan Geomorfik Dataran Homoklin (S2)
1.3 Subsatuan Geomorfik Lembah Homoklin (S3)
2. Satuan Geomorfik Bentukan Asal Fluvial
2.1 Subsatuan Geomorfik Dataran Banjir (F1)
2.2 Subsatuan Geomorfik Dataran Alluvial (F2)
3.1.4.1. Satuan Geomorfik Bentukan Asal Struktural
Bentukan asal struktural pada hal ini merupakan bentukan morfologi suatu daerah
yang memiliki suatu bentukan yang khas yang sangat dipengaruhi oleh aktifitas struktur
geologi yang berkembang pada daerah tersebut yang berasal dari tenaga endogen sehingga
menghasilkan bentukan morfologi tertentu.Pada daerah telitian struktur geologi sangat
mempengaruhi pembentukan morfologi,dimana dapat diketahui bahwa struktur geologi yang
mengontrol pada daerah telitian, yaitu berupa struktur yang terpengaruh oleh proses
pemiringan atau tilting yang terjadi karena daerah telitian merupakan sayap selatan antiklin
yang kemudian patah dengan sejumlah step Fault dan Flexure yang kemudian
membentuk blok blok sesar antithetic.
Bentukan asal struktural pada daerah telitian terbagi menjadi 2 subsatuan geomorfik
yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

3.1.4.1.1.Subsatuan Geomorfik Perbukitan Homoklin (S1)
Subsatuan goemorfik ini merupakan bentukan morfologi suatu perbukitan yang
terletak pada daerah tinggian dimana memiliki kemiringan lerengnya tidak sama sebagai
akibat dari kedudukan lapisan-lapisan batuan pembentuknya yang cenderung curam.
(Gambar 3.5).Bentukan morfologi ini tersebar di bagian utara daerah telitian, tersebar dari
bagian barat hingga bagian timur dengan kemiringan lereng relatif agak curam (14-20 %, Van
48

Zuidam,1979) dan menempati sekitar 55% daerah telitian.Batuan penyusun morfologi ini
berupa Satuan Batupasir Semilir dan Satuan Breksi Nglanggran serta memiliki pola
pengaliran subdendritik.










Gambar 3.5. Kenampakan subsatuan geomorfik Perbukitan Homoklin (S1), gambar
diambil pada Daerah Kedokploso. Koordinat X:455937 ; Y:9131667. Arah kamera N 315 E, cuaca
cerah.

3.1.4.1.2. Subsatuan Geomorfik Dataran Homoklin (S2)
Subsatuan geomorfik Dataran Homoklin (Gambar 3.6) menempati 37% dari seluruh
daerah penelitian dengan relief yang relatif jauh lebih datar menempati daerah selatan dan
melampar dari barat hingga timur daerah telitian, dengan topografi yang landai dan
kemiringan lereng landai (3-7%), lereng searah, mempunyai pola kontur yang renggang,
mempunyai kisaran elevasi 125-200 m dpal, dengan komposisi litologi terdari dari Batupasir
vulkanik dengan sisipan Batupasir gampingan yang memiliki kemiringan lapisan kearah
selatan pula. Subsatuan geomorfik ini miliki pola pengaliran subdendritk yang menunjukan
arah kemiringan lereng yang relatif seragam, alasan mengapa daerah ini termasuk dalam
subsatuan geomorfik dataran homoklin dikarenakan topografinya yang relatif landai dengan
kedudukan lapisan yang relatif seragam pula, yaitu ke arah selatan.






49

Gambar 3.6. Kenampakan subsatuan geomorfik Perbukitan Homoklin (S2), gambar
diambil pada Daerah Padangan. Koordinat X:451231 ; Y:9130940. Arah kamera N 280 E, cuaca
cerah.

3.1.4.1.3. Subsatuan Geomorfik Lembah Homoklin (S3)
Subsatuan geomorfik lembah homoklin, menempati 2% dari seluruh daerah
penelitian dengan kemiringan lereng relatif landai 3 7% sampai miring 8 13 %,
mempunyai kisaran elevasi 150 250 m dpal, dengan komposisi lithologi terdari dari
batupasir vulkanik dengan sisipan lempung yang memiliki kemiringan lapisan kearah selatan
pula. Subsatuan geemorfik ini miliki pola pengaliran subdendritk, alasan mengapa daerah ini
termasuk dalam subsatuan geomorfik lembah homoklin dikarenakan kemiringan lereng yang
relatif datar dan kemiringan lapisan yang hampir sama atau seragam yaitu berarah utara
selatan (Gambar 3.7).











Gambar 3.7. Kenampakan subsatuan geomorfik Lembah Homoklin (S1), gambar diambil
pada Daerah Kedokploso. Koordinat X:455937 ; Y:9131667. Arah kamera N 315 E, cuaca cerah.
3.1.4.2. Satuan Geomorfik Bentukan Asal Fluvial
Satuan geomorfik bentukan asal fluvial ini dikontrol oleh adanya proses
pengerosian, sehingga dengan adanya proses erosi, maka akan dihasilkan bentukan morfologi
yang mencirikan adanya proses erosi yang bekerja pada daerah tersebut seperti adanya tubuh
50

sungai yang berukuran besar pada daerah telitian serta adanya dataran banjir di yang
terbentuk akibat banyaknya material erosi yang tertransport dan mengendap pada sisi tubuh
sungai utama.
3.1.4.2.1. Subsatuan Geomorfik Tubuh Sungai (F1)
Subsatuan geomorfik tubuh sungai, menempati luasan 5% dari seluruh daerah
penelitian, merupakan tubuh sungai pada Sungai Ngalang yang terletak di daerah Tengah
lokasi penelitian lebar sungai mencapai 5-7 meter (Gambar 3.8), mengalir relative dari utara
menuju selatan daerah penelitian. Bentuk tubuh sungai relatif berkelok-kelok (meandering)
yang merupakan bedrock stream yaitu sungai yang mengalir diatas batuan penyusunnya
dengan genesa pembentukannya termasuk pada sungai subsekuen, yaitu sungai yang mengalir
sepanjang jurus perlapisan batuan, mempunyai elevasi kurang dari 150 mdpl.












Gambar 3.8. Kenampakan subsatuan geomorfik tubuh sungai (F1), gambar diambil pada
Daerah Nglaran Lor, memperlihatkan tubuh sungai Kali Ngalang. Koordinat X:453000 ;
Y:9128000.Arah kamera N340E, cuaca cerah.

3.1.4.2.2. Subsatuan Geomorfik Dataran Banjir (F2)
Subsatuan geomorfik dataran banjir yang menempati luasan 2% dari seluruh daerah
penelitian, relief berupa dataran, dengan kelerengan datar/hampir datar (0-2%) , mempunyai
kisaran elevasi antara 150-175 mdpl. Sub satuan geomorfik ini tersusun dari material lepas
hasil erosi dan pelapukan dari batuan yang berukuran lempung, pasir, kerikil, hingga bongkah
51

yang terendapkan disekitar daerah aliran sungai utama. Subsatuan geomorfik ini terletak di
bagian tengah daerah penelitian yaitu pada daerah sepanjang aliran sungai Ngalang (Gambar
3.7).




















Gambar 3.9. Kenampakan subsatuan geomorfik dataran banjir (F2), gambar diambil pada
Daerah Karangrejo, Koordinat X:452333 ; Y:9127803.Arah kamera N 260 E, cuaca cerah.
3.2 Geologi
3.2.1. Stratigrafi daerah telitian
Penulis menyusun stratigrafi daerah telitian berdasarkan ciri ciri litologi yang dijumpai
dilapangan dengan mengikuti pembagian dan tata nama stratigrafi dari Surono, 1992, guna
mengetahui stratigrafi yang terkait dengan daerah telitian.
Untuk pembagian satuan batuan, penulis menggunakan satuan tidak resmi yang mengacu
pada pembagian tata nama yang sesuai dengan kaidah Sandi Stratigrafi Indonesia (1996). Secara
umum daerah telitian didominasi oleh litologi batupasir, namun penulis berusaha membaginya
kedalam satuan satuan batuan yang lebih detil berdasarkan karakteristik dari setiap litologi yang
dominan. Urutan stratigrafi daerah telitian dari tua ke muda meliputi :
1. Satuan Batupasir Semilir
2. Satuan Breksi Nglanggran
3. Satuan Batupasir Sambipitu
4. Satuan Batugamping Oyo
5. Satuan Pasir Lepas
Dilihat dari susunan stratigrafi yang didapatkan dilapangan, dapat disimpulkan
bahwa stratigrafi yang ada di daerah Ngalang dan sekitarnya sedikit berbeda dengan yang
52

telah disusun Bothe 1929 dan Surono 1992 dengan tidak hadirnya Satuan batuan dari Formasi
Wonosari.
Persebaran dari satuan batuan di atas dilihat pada peta Geologi(Lampiran 3).
3.2.1.1 Satuan Batupasir Semilir
3.2.1.1.1 Dasar Penamaan
Penamaan Satuan Batupasir Semilir didasarkan pada lokasi tipe di G. Semilir,
sebelah selatan Klaten. Litologi penyusunnya terdiri dari tuf, tuf lapili, lapili batuapung,
breksi batuapung dan serpih. Komposisi tuf dan batuapung tersebut bervariasi dari andesit
hingga dasit. Di bagian bawah satuan batuan ini, yaitu di K. Opak, Dusun Watuadeg, Desa
Jogotirto, Kec. Berbah, Kab. Sleman, terdapat andesit basal sebagai aliran lava bantal (Bronto
dan Hartono, 2001). Penyebaran lateral Formasi Semilir ini memanjang dari ujung barat
Pegunungan Selatan, yaitu di daerah Pleret-Imogiri, di sebelah barat G. Sudimoro, Piyungan-
Prambanan, di bagian tengah pada G. Baturagung dan sekitarnya, hingga ujung timur pada
tinggian G. Gajahmungkur, Wonogiri. Ketebalan formasi ini diperkirakan lebih dari 460
meter.
3.2.1.1.2. Penyebaran dan Ketebalan
Penyebaran Satuan Batupasir Semilir daerah telitian menempati luas 25 % dari seluruh
luas daerah telitian. Singkapan pada satuan ini tersebar dibagian utara, barat dan timur daerah
telitian. Lebih spesifiknya tersebar di desa Kacangan, Desa Magirrejo hingga Ngaski. Dari pengukuran
penampang geologi, Satuan Batupasir Semilir memiliki ketebalan berkisar 750 - 900 meter .














53


















Gambar 3.8. Kenampakan singkapan pada LP 67 di desa Magirejo dengan koordinat X =
0453502 ,Y = 9132219. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap barat laut.

















54

Gambar 3.9. Kenampakan inset singkapan pada LP 67 di desa Magirejo dengan koordinat
X = 0453502 ,Y = 9132219. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap barat laut.



















Gambar 3.10. Kenampakan singkapan pada LP 90 di daerah dengan koordinat X =
0455799, Y =9132177. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap utara.


















55


A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL PPL

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL PPL
Gambar 3.11. Kenampakan inset singkapan pada LP 90 di daerah dengan koordinat X =
0455799, Y =9132177. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap utara.

3.2.1.1.3. Ciri Litologi
Satuan Batupasir Semilir di daerah telitian (LP 90) dicirikan oleh dominasi litologi batupasir
vulkanik berwarna kuning abu-abu, lunak - keras, struktur perlapisan laminasi, berukuran butir
pasir lempung kasar, terpilah buruk, kemas terbuka fragmen: tuff, koral, matriks: batupasir halus
sedang, semen karbonat.

Hasil analisa petrografi (Lampiran AP-93, Lampiran AP-MSP2) menunjukkan sayatan :
- Batu sedimen, warna-coklat, tekstur klastik, didukung oleh mud supported,
ukuran butir 0,1 0,7 mm, subangular subrounded, terpilah buruk, kemas terbuka, batuan
ini disusun oleh mineral mud (25%), kuarsa (15%), piroksen (2%), kuarsit (14%), opak (3%),
litik tuff (34%), feldspar (2%), klorit (1%), dan kalsit (4%) dengan nama batuan Lithic
Wacke(Gillbert, 1954). (Lampiran AP-93) (LP 93).








// - Nicol 0 0.5 mm X Nicol 0
0.5 mm
Gambar 3.12. Kenampakan sayatan tipis Batupasir Semilir nikol sejajar (kiri) dan nikol
silang (kanan) pada sampel Lp 93.
- Batu sedimen, warna-coklat, tekstur klastik, didukung oleh mud supported, ukuran
butir 0,1 1,5 mm, subrounded subangular, terpilah buruk, kemas terbuka ,batuan ini disusun
oleh kuarsa (31%), kuarsit (18%), feldspar (19%), lithic tuff (10%), oksida besi (8%), , dan mud (14%)
dengan nama batuan Litchic Wacke (Gilbert, 1954). (Lampiran AP-MSP2) (Lintasan MS).



56








// - Nicol 0 0.5 mm X Nicol 0
0.5 mm
Gambar 3.13. Kenampakan sayatan tipis Batupasir Semilir nikol sejajar (kiri) dan nikol
silang (kanan) pada sampel MSP2.

3.2.1.2.4. Penentuan Umur
Berdasarkan data fosil planktonik yang didapatkan pada LP 94 (semilir bagian
bawah), yaitu :
Globoquadrina altispira
Globorotalia siakensis
Globigerina venezuelana
Globigerina binaensis
Globigerinoides primordius
Globigerina tripartita
Maka, Satuan Batupasir Semilir ( bawah ) ini terendapkan pada umur N 4 5
(awal) atau pada kala Miosen Awal ( Lampiran AF-01 ).
Sedangkan dari data fosil planktonik yang didapatkan pada LP 90 (semilir
bagian atas), yaitu :
Globoquadrina dehiscens
Globoquadrina altispira
Globorotalia siakensis
Globigerina venezuelana
Globigerina binaensis
Maka, Satuan Batupasir Semilir ( bawah ) ini terendapkan pada umur N 4 5 (awal -
akhir) atau pada kala Miosen Awal ( Lampiran AF-02 ).

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL PPL
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL
57

Dari pengamatan superposisi pada Satuan Batupasir Semilir yang berada di
bagian tengah daerah telitian terhadap Satuan Breksi Nglanggran dari penampang geologi
sayatan A A menunjukkan posisi Satuan Batupasir Semilir lebih tua dari breksi
Nglanggran.
3.2.1.2.5. Lingkungan Pengendapan
Berdasarkan fosil benthonik yang didapatkan pada LP 94 (semilir bagian bawah),
yaitu :
Jaculella acuta
Botellina labyrinthica
Lingulina seminuda
Dentalina subsolita.
Didapatkan Satuan Batupasir Semilir ini terendapkan pada lingkungan kedalaman
Bathial Bawah ( Barker, 1960 ) ( Lampiran AF-01 ).
Sedangkan fosil benthonik yang didapatkan pada LP 90 (semilir bagian atas), yaitu :
Bulimina pupoldes
Gullulina yabei
Virgulina bradyi
Cassidulinoides sp.
Roberlina tasmanica
Didapatkan Satuan Batupasir Semilir ini terendapkan pada lingkungan kedalaman
Bathial Atas ( Barker, 1960 ) ( Lampiran AF-02 ).
3.2.1.2.6. Hubungan Stratigrafi
Hubungan stratigrafi antara Satuan Batupasir Semilir dengan Satuan Breksi Nglanggran
adalah selaras. Hal ini didasarkan pada umur yang didapatkan saling bertampalan, dari penampang
geologi sayatan A A menunjukkan bahwa bagian atas satuan ini ditindih secara selaras oleh Satuan
Breksi Nglanggran.







58
















Gambar 3.14. Kenampakan singkapan pada LP 86 yang menunjukkan kontak Formasi
Semilir dan Formasi Nglanggran di daerah G.Keruk dengan koordinat X = 0455063, Y =9130738.
Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap utara.











Gambar 3.15. Kenampakan inset singkapan pada LP 86 di daerah G.Keruk dengan
koordinat X = 0455063, Y =9130738. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap utara.
3.2.1.3 Satuan Breksi Nglanggran
3.2.1.3.1 Dasar Penamaan
59

Satuan Breksi termasuk dalam Formasi Nglanggran. Lokasi tipe formasi ini adalah di Desa
Nglanggran di sebelah selatan Desa Semilir. Batuan penyusunnya terdiri dari breksi gunungapi,
aglomerat, tuf dan aliran lava andesit-basal dan lava andesit. Breksi gunungapi dan aglomerat yang
mendominasi formasi ini umumnya tidak berlapis. Kepingannya terdiri dari andesit dan sedikit basal,
berukuran 2 50 cm. Secara setempat, formasi ini disisipi oleh batupasir gunungapi epiklastika dan
tuf yang berlapis baik.
Berdasarkan ciri litologi yang dijumpai, breksi tersebut merupakan breksi monomik yang
terdiri dari satu macam fragmen , breksi tersebut penulis temukan ditengah-tengah daerah telitian,
yang secara stratigrafi ekivalen dengan ciri Formasi Nglanggran sehingga dari hasil kesebandingan
keduanya penulis menamakannya sebagai Satuan Breksi Nglanggran.
3.2.1.3.2 Penyebaran dan Ketebalan

Penyebaran singkapan Satuan Breksi Nglanggran di daerah telitian hampir menempati 30
% dari seluruh luas daerah telitian. Singkapan pada satuan ini dijumpai pada tengah-tengah dari
telitian dan menyebar secara barat timur daerah telitian. Secara spesifik, Satuan Breksi Nglanggran
tersebar didaerah Desa Nglegi dan Desa Pengkol. Berdasarkan pengukuran penampang geologi
sayatan A A diperoleh ketebalan 200 - 300 meter.













Gambar 3.16.Salah satu gambar singkapan Satuan Breksi Nglanggran pada daerah telitian
(LP 53),diambil dari Desa Nglegi dengan koordinat X : 451231,Y : 9130940 arah kamera N
290E,cuaca cerah.

60















Gambar 3.17.Salah satu gambar singkapan Satuan Breksi Nglanggran pada daerah telitian
(LP 77),diambil dari Dusun Manggung dengan koordinat X : 453208,Y : 9131547 arah kamera N
080E,cuaca cerah.















Gambar 3.18.Salah satu gambar singkapan Satuan Breksi Nglanggran (lava sheeting joint)
pada daerah sungai Ngalang (Lintasan MS),diambil dari Dusun Karanganyar dengan koordinat X :
454000,Y : 9132654 arah kamera N 035E,cuaca cerah.


61














Gambar 3.19.Salah satu gambar singkapan Satuan Breksi Nglanggran (lava sheeting joint)
pada daerah sungai Ngalang (Lintasan MS),diambil dari Dusun Karanganyar dengan koordinat X :
454000,Y : 9132654 arah kamera N 035E,cuaca cerah.













Gambar 3.20.Salah satu gambar singkapan Satuan Breksi Nglanggran (lava sheeting joint)
pada daerah sungai Ngalang (Lintasan MS),diambil dari Dusun Karanganyar dengan koordinat X :
454000,Y : 9132654 arah kamera N 035E,cuaca cerah.
3.2.1.3.3 Ciri Litologi
Secara megaskopis Satuan Breksi Nglanggran ini memiliki warna hitam, memiliki fragmen
berupa batuan beku yaitu andesit dan pada beberapa lokasi penelitian terdapat perselingan antara
62

breksi dan batupasir selain itu di beberapa lokasi lain ditemukan endapan lava. Memiliki struktur
sedimen massif.
Hasil analisa petrografi (Lampiran AP-83 dan Lampiran AP-MS) menunjukkan sayatan :
- Batu intermediet vulkanik, hitam, indeks warna 1%, kristalinitas hipokristalin,
granularitas fanerik halus fanerik sedang, bentuk kristal subhedral anhedral, ukuran
Kristal 0.05 1.5 mm, relasi inegranular porfiritik, disusun oleh mineral plagioklas (58%),
piroksen (1%), k. feldspar (12%), massa dasar gelar (29%), dengan nama batuan Andesite (
William, 1954 ) (Lampiran AP-83).










// - Nicol 0 0.5 mm X Nicol 0
0.5 mm
Gambar 3.21. Kenampakan sayatan tipis Batupasir Nglanggran nikol sejajar (kiri) dan nikol
silang (kanan) pada sampel Lp 83.
3.2.1.3.4. Penentuan Umur
Pada umumnya Formasi Nglanggran ini juga miskin akan fosil. Mengacu pada
Stratigraphic Lexicon of Indonesia (2003) dan Sudarminto (1982, dalam Bronto dan Hartono
(2001)) menemukan fosil foraminifera Globigerina praebulloides BLOW, Globigerinoides
primordius BLOW dan BANNER, Globigerinoides sacculifer BRADY, Globoquadrina
dehiscens CHAPMANN, PARR dan COLLINS pada sisipan batulempung yang
menunjukkan umur Miosen Awal. Sedangkan Saleh (1977, dalam Bronto dan Hartono
(2001)) menemukan fosil foraminifera Globorotalia praemenardiii CUSHMAN dan
ELLISOR, Globorotalia archeomenardii BOLLI, Orbulina suturalis BRONNIMANN,
Orbulina universa DORBIGNY dan Globigerinoides trilobus REUSS pada sisipan batupasir

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL PPL
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL
63

yang menunjukkan umur Miosen Tengah bagian bawah. Sehingga disimpulkan bahwa umur
formasi ini adalah Miosen Awal-Miosen Tengah bagian bawah ( N5 N9 ).
3.2.1.3.5. Lingkungan Pengendapan
Dengan banyaknya fragmen andesit dan batuan beku luar berlubang serta mengalami
oksidasi kuat berwarna merah bata maka diperkirakan lingkungan asal batuan gunungapi ini
adalah darat hingga laut dangkal.

3.2.1.3.6. Hubungan Stratigrafi
Dengan ditemukannya kontak antara Satuan Breksi Nglanggran dan Batupasir Sambipitu
pada beberapa lokasi penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa kedua satuan batuan ini memiliki
hubungan stratigrafi selaras. Dari penampang geologi sayatan A - A menunjukkan bahwa Satuan
Breksi Nglanggran menindih diatas Satuan Batupasir Semilir bagian atas dan selaras dengan Satuan
Batupasir Sambipitu.
















Gambar 3.22. Kenampakan singkapan pada LP 50 yang menunjukkan kontak Formasi
Formasi Nglanggran dan Formasi Sambipitu di daerah Wungurejo dengan koordinat X = 0456847, Y
=9129273. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap timur.
64


Gambar 3.23. Kenampakan inset singkapan pada LP 50 yang menunjukkan kontak
Formasi Formasi Nglanggran dan Formasi Sambipitu di daerah Wungurejo dengan koordinat X =
0456847, Y =9129273. Foto diambil pada cuaca cerah dengan lensa menghadap timur.
3.2.1.4. Satuan Batupasir Sambipitu
3.2.1.4.1. Dasar Penamaan
Lokasi tipe formasi ini terletak di Desa Sambipitu pada jalan raya Yogyakarta-Patuk-
Wonosari kilometer 27,8. Secara lateral, penyebaran formasi ini sejajar di sebelah selatan Formasi
Nglanggran, di kaki selatan Subzona Baturagung, namun menyempit dan kemudian menghilang di
sebelah timur. Formasi ini tersusun oleh perselingan antara batupasir tufaan, serpih dan batulanau,
yang memperlihatkan ciri endapan turbidit. Di bagian atas sering dijumpai adanya struktur slump
skala besar. Satuan ini selaras di atas Formasi Nglanggran, dan merupakan endapan lingkungan laut.
Batuan penyusun formasi ini di bagian bawah terdiri dari batupasir kasar, kemudian
ke atas berangsur menjadi batupasir halus yang berselang-seling dengan serpih, batulanau dan
batulempung. Pada bagian bawah kelompok batuan ini tidak mengandung semen karbonat.
Namun di bagian atasnya, terutama batupasir, mengandung semen karbonat. Formasi
Sambipitu mempunyai kedudukan menjemari dan selaras di atas Formasi Nglanggran.
3.2.1.4.2. Penyebaran dan Ketebalan
Penyebaran Satuan Batupasir Sambipitu pada terdapat pada bagian selatan daerah telitian
saja dan menempati luas sekitar 30 % dari seluruh luas daerah telitian. Singkapan pada satuan ini
65

hanya terdapat di daerah Ngalang dan Pengkol. Dari pengukuran penampang geologi, ketebalan
Satuan Batupasir Sambipitu berkisar 550 meter.














Gambar 3.24.Salah satu gambar singkapan Satuan Batupasir Sambipitu pada daerah telitian
( Measuring Section ),diambil dari Dusun Melikan dengan koordinat X = 0453500, Y = 9129232 arah
kamera N 160 E,cuaca cerah.













Gambar 3.25.Salah satu gambar inset singkapan Satuan Batupasir Sambipitu pada daerah
telitian ( Lintasan MS ),diambil dari Dusun Melikan dengan koordinat X = 0453500, Y = 9129232
arah kamera N 160 E,cuaca cerah.
66

3.2.1.4.3. Ciri Litologi
Deskripsi batuan secara megaskopis di lapangan, didapatkan batupasir, coklat,
perlapisan laminasi, lempung kerakal, membundar menyudut, terpilah buruk, kemas
terbuka, komposisi : F: kuarsa, plagioklas, hornblende, pecahan cangkang, koral; M :
batupasir sedang sangat halus, S : silika dan karbonat. Selain itu dilakukan analisa
petrografi berupa deskripsi batuan secara mikroskopis dengan menggunakan sayatan batuan
pada beberapa sample Satuan Batupasir Sambipitu guna mengetahui jenis dan nama batuan
tersebut dalam kaitannya pada studi ini.
Secara keseluruhan analisa petrografi ini dilakukan pada enam sample Satuan
Batupasir Sambipitu.Berikut adalah beberapa contoh deskripsi secara mikroskopis sample
Satuan Batupasir Sambipitu dengan perbesaran mikroskop 40 kali (Gambar 3.10 dan 3.11):
Pada analisa sample Lp 41 secara mikroskopis dijelaskan deskripsi batuan
sebagai berikut :
Sayatan Tipis batuan sedimen, warna coklat, tekstur klastik, mud supported, UB :
0,1 1 mm, subrounded - subangular, terpilah buruk, kemas terbuka, disusun oleh kuarsa
(22%), feldspar (26%), opak (7%), feldspar (10%), mineral lempung (5%),mud (40%).
Nama Batuan : Arkosic Wacke(Gilbert,1954) ( Lampiran AP-41 )








// - Nicol 0 0.5 mm X Nicol 0
0.5 mm
Gambar 3.26. Kenampakan sayatan tipis Batupasir Sambipitu nikol sejajar (kiri) dan nikol
silang (kanan) pada sampel Lp 41.
Pada analisa sample Lp 12 secara mikroskopis dijelaskan deskripsi batuan
sebagai berikut :
batuan sedimen, coklat , tekstur klastik, di dukung oleh lumpur, UB : 0,1 1,5 mm,
menyudut tanggung - membundar tanggung, terpilah buruk,kemas terbuka, disusun oleh
Mineral lumpur (35%), kuarsa (25%),litik tuff (25%),feldspar (12%), mineral opak (3%).
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL PPL
67

Nama Batuan : Volcanic wacke(Gilbert,1954) ( Lampiran AP-12 )







// - Nicol 0 0.5 mm X Nicol 0
0.5 mm
Gambar 3.27. Kenampakan sayatan tipis Batupasir Sambipitu nikol sejajar (kiri) dan nikol
silang (kanan) pada sampel Lp 12.
Pada analisa sample Lp 1 secara mikroskopis dijelaskan deskripsi batuan
sebagai berikut :
Sayatan Tipis batuan sedimen, coklat , tekstur klastik, mud supported, UB : 0,4 1
mm, subangular - subrounded, terpilah buruk,kemas terbuka, disusun oleh Mineral kuarsa
(14%), plagioklas (25%), k.feldspar (9%), piroksen (5%), kuarsit (7%), kalsit (18%), lumpur
karbonat (20%), fosil foram kecil (5%).
Nama Batuan : Calcareous Arkosic Wacke (Gilbert,1954) ( Lampiran AP-1 )







// - Nicol 0 0.5 mm X Nicol 0
0.5 mm

Gambar 3.28. Kenampakan sayatan tipis Batupasir Sambipitu nikol sejajar (kiri) dan nikol
silang (kanan) pada sampel Lp 1.
Secara keseluruhan hasil analisa petrografi dari tiga sample Satuan Batupasir
Sambipitu ini menunjukan jenis batuan volkanic wacke (Gilbert,1954) dan Calcareous
Arkosic Wacke ( Gilbert, 1954 ), hal ini sesuai dengan mekanisme pengendapan Satuan

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL PPL
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL

A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL PPL
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B C D E F H G I J K L M N O
XPL
68

Batupasir Sambipitu yang terendapkan secara turbidit dalam arus traksi dengan kecepatan
tinggi sehingga semua partikel sedimen bercampur menjadi satu dan menghasilkan batuan
sedimen dengan fragmen yang mengambang di dalam matriks dan tidak bersentuhan antara
fragmen yang satu dengan yang lainnya. Pada Formasi Sambipitu ini juga terjadi fase
transgresi dengan berubahnya kandungan batuan yang dapat dilihat pada sayatan petrografi
sampel Lp 1.
3.2.1.4.4. Penentuan Umur
Berdasarkan sample yang didapatkan pada Lp 10 Sambipitu bawah, yaitu :
Orbulina billobata
Orbulina universa
Globoquadrina altispira
Globoquadrina dehiscens
Globigerina seminulia
Globigerinoides trilobus
Praeorbulina transitoria
Maka penulis menyimpulkan bahwa satuan batuan ini memiliki umur N 9 ( Miosen
tengah ) ( Lampiran AF-03 ) ( Blow, 1969 ).
Berdasarkan sample yang didapatkan pada Lp 16 Sambipitu tengah, yaitu :
Orbulina universa
Orbulina billobata
Globoquadrina altispira
Globigerina venezuelana
Globigerina praebulloides
Globorotalia bermudezi
Globigerinoides subquadratus
Globigerinoides trilobus
Maka penulis menyimpulkan bahwa satuan batuan ini memiliki umur N 9 N 10
( bawah ) ( Miosen tengah ) ( Lampiran AF-04 ) ( Blow, 1969 )
Berdasarkan sample yang didapatkan pada Lp 1 Sambipitu atas, yaitu :
Orbulina universa
Globoquadrina altispira
Globigerina venezuelana
Globigerinoides subquadratus
69

Globigerinoides trilobus
Globorotalia lenguaensis
Globorotalia obesa
Sphaeroidinella subdehiscens
Maka penulis menyimpulkan bahwa satuan batuan ini memiliki umur N 13 ( bawah )
( Miosen tengah ) ( Lampiran AF-05 ) ( Blow, 1969 )
3.2.1.4.5. Lingkungan Pengendapan
Berdasarkan fosil benthonik yang didapat, yaitu :
Dentalina subsolota
Sphoninella coluta
Eponides umbonatus
Cibicides subhaedingerii
Valvulinenia brudyi
Cassidulina pasifica
Nodosaria inflexa
Elphidium macellum
Amphistegina quoyii
didapatkan bahwa Satuan Batupasir Sambipitu ini terendapkan pada lingkungan
kedalaman Neritik Tengah-Bathyal Bawah ( Lampiran AF-03, Lampiran AF-04,
Lampiran AF-05 ) ( Barker, 1960 ).


3.2.1.4.6. Hubungan Stratigrafi
Dijumpainya kontak yang jelas antara Satuan Batupasir Sambipitu dengan Satuan Breksi
Nglanggran, penulis menyimpulkan bahwa Satuan Batupasir Sambipitu ini memiliki hubungan selaras
dengan Satuan Breksi Nglanggran dan mempunyai hubungan yang selaras dengan Batugamping Oyo
di atasnya.






70
















Gambar 3.29.Salah satu gambar singkapan yang menunjukkan kontak selaras antara
Formasi Sambipitu dengan Formasi Oyo pada daerah sungai Ngalang,diambil dari Dusun Nglaran
dengan koordinat X = 0453500, Y = 9128000 arah kamera N 195 E,cuaca cerah.
3.2.1.5. Satuan Batugamping Oyo
3.2.1.5.1. Dasar Penamaan
Lokasi tipe formasi ini berada di K. Oyo. Batuan penyusunnya pada bagian bawah terdiri
dari tuf dan napal tufan. Sedangkan ke atas secara berangsur dikuasai oleh batugamping berlapis
dengan sisipan batulempung karbonatan. Batugamping berlapis tersebut umumnya kalkarenit,
namun kadang-kadang dijumpai kalsirudit yang mengandung fragmen andesit membulat. Formasi
Oyo tersebar luas di sepanjang K. Oyo. Ketebalan formasi ini lebih dari 140 meter dan kedudukannya
menindih secara tidak selaras di atas Formasi Semilir, Formasi Nglanggran serta menjemari dengan
Formasi Wonosari.
3.2.1.5.2. Penyebaran dan Ketebalan
Penyebaran Satuan Batugamping Oyo terdapat pada bagian selatan daerah telitian saja
dan menempati luas sekitar 13 % dari seluruh luas daerah telitian. Singkapan pada satuan ini hanya
terdapat daerah Nglegi dan Pengkol. Dari hasil pengukuran ketebalan dari penampang geologi, maka
didapatkan kisaran tebal dari satuan batugamping Oyo yaitu berkisar 150 meter.


71















Gambar 3.30.Salah satu gambar singkapan Satuan Batugamping Oyo pada daerah telitian
(LP 2),diambil dari Dusun Karangrejo dengan koordinat X = 0452766, Y = 9127849 arah kamera N
280 E,cuaca cerah.













Gambar 3.31.Salah satu gambar singkapan Satuan Batugamping Oyo pada daerah telitian
(LP 6),diambil dari Dusun Karangrejo dengan koordinat X = 0452333, Y = 9127803 arah kamera N
325 E,cuaca cerah.
1. Salah satu foto singkapan Formasi Oyo dengan ciri batugamping berlapis.
2. Foto singkapan yang menunjukkan adanya lapisan lapisan pada batugamping Oyo.
72

3. Struktur sedimen load cast yang ada pada Lp 2 ( gambar 3.30 ).
4. Tuff perlapisan yang ada sebagai penciri Formasi Oyo bagian bawah.
3.2.1.5.3. Ciri Litologi
Satuan Batugamping Oyo di daerah telitian dicirikan oleh batugamping dengan; kuning,
ukuran pasir; (arenite), perlapisan, menyudut, baik, tertutup, Allochem : pecahan cangkang, Mikrit :
Kalsit, Sparit : karbonat. Hasil analisa petrografi (Lampiran AP-95) menunjukkan sayatan :
- Kalkarenit, coklat, bertekstur klastik, grain supported, ukuran butir 0.2 0.5
mm, bentuk butiran membundar, terpilah baik, kemas tertutup, disusun oleh Foraminifera
plankton dan bentos (25%), pecahan fosil (35%), kalsit (25%), kuarsa (5%), plagioklas (10%)
dengan nama Sandy limestone (Gilbert, 1975) (Lampiran AP-95).









// - Nicol 0 0.5 mm X Nicol 0
0.5 mm
Gambar 3.32. Kenampakan sayatan tipis Batugamping Oyo nikol sejajar (kiri) dan nikol
silang (kanan) pada sampel Lp 95.
3.2.1.5.4. Penentuan Umur
Berdasarkan sample yang didapatkan pada Lp 11 ( Oyo bawah ), yaitu :
Globorotalia siakensis
Globigerina nepenthes
Globoquadrina altispira
Globigerinoides immaturus
Globigerinoides sacculiferus
Orbulina bilobata
Orbulina universa
73


Maka penulis menyimpulkan bahwa satuan batuan ini memiliki umur N 14 N 15 atau Miosen
Tengah - Akhir ( AF 06 ) ( Blow, 1969 ).
Berdasarkan sample yang didapatkan pada Lp 33 ( Oyo tengah ), yaitu :
Globoquadrina altispira
Globigerinoides trilobus
Orbulina universa
Orbulina bilobata
Globorotalia siakensis
Globorotalia immaturus

Maka penulis menyimpulkan bahwa satuan batuan ini memiliki umur N 14 N 15 atau Miosen
Tengah - Akhir ( AF 07 ) ( Blow, 1969 ).
Berdasarkan sample yang didapatkan pada Lp 95 ( Oyo atas ), yaitu :
Globoquadrina altispira
Globigerinoides immaturus
Globigerinoides diminitus
Orbulina universa
Orbulina bilobata
Globorotalia siakensis
Hastigerina aequiteralis

Maka penulis menyimpulkan bahwa satuan batuan ini memiliki umur N 14 N 15 atau Miosen
Tengah - Akhir ( AF 08 ) ( Blow, 1969 ).

3.2.1.5.5. Lingkungan Pengendapan
Berdasarkan sampel yang didapatkan, yaitu :
Oolina apiculata
Buccella Frigida
Parafissurina lateralis
Frondicularia hiensis
Bigenerina cylindrica
Parafissurina lateralis
Textularia sp.
74

Amphistegina quoyii
Loxostamun limbatum
Pileolina opercuralis
Fissurina badii
Cibicides praecinclus
Berdasarkan fosil benthonik diatas didapatkan bahwa Satuan Batugamping Oyo ini
terendapkan pada lingkungan bathimetri Neritik Tengah - Bathyal Atas ( Lampiran AF-06,
Lampiran AF-07, Lampiran AF-08 ) ( Barker, 1960 ).
3.2.1.5.6. Hubungan Stratigrafi
Dilihat dari umur yang didapat dari analisa fosil, maka dapat disimpulkan bahwa Satuan
Batugamping Oyo memiliki hubungan selaras dengan Satuan Batupasir Sambipitu. Satuan
Batugamping Oyo ini juga memiliki hubungan tidak selaras dengan Satuan Pasir Lepas.

3.2.1.6.Satuan Pasir Lepas
Penamaan satuan ini didasarkan pada kehadiran material aluvial berupa material lepas
berupa pasir hasil rombakan batuan asal dan lumpur yang berasosiasi dengan sisa sisa material
organik dari tumbuh tumbuhan yang diendapkan sepanjang aliran sungai-sungai pada daerah
telitian serta terus berlangsung hingga sekarang. Satuan ini menempati luas sekitar 2 % pada
daerah telitian. Endapan ini memiliki hubungan tidak selaras dengan satuan batuan yang ada
dibawahnya.















75

Gambar 3.33. Satuan Pasir Lepas yang terdapat di pinggiran sungai.Foto diambil oleh
penulis pada cuaca cerah dengan lensa menghadap timur.






















Gambar 3.34. Kolom Stratigrafi Daerah Telitian ( A.Widiasworo, 2011 )









76

3.2.2 Struktur Geologi
Struktur geologi yang terdapat pada daerah telitian berupa struktur sesar yang dapat
ditemukan pada bagian tengah daerah telitian. Hal ini didapatkan dari hasil pengukuran di
lapangan.
















Gambar 3.35 Diagram klasifikasi sesar menurut Rickard, 1972.


Keterangan gambar 4.7 :
1. Thrust Slip Fault 12. Lag Slip Fault
2. Reverse Slip Fault 13. Normal Slip Fault
3. Right Thrust Slip Fault 14. Left Lag Slip Fault
4. Thrust Right Slip Fault 15. Lag Left Slip Fault
5. Reverse Right Slip Fault 16. Normal Left Slip Fault
6. Right Reverse Slip Fault 17. Left Normal Slip Fault
7. Right Slip Fault 18. Left Slip Fault
8. Lag Right Slip Fault 19. Thrust Left Slip Fault
9. Right Lag Slip Fault 20. Left Thrust Slip Fault
10. Right Normal Slip Fault 21. Left Reverse Slip Fault
11. Normal Right Slip Fault 22. Reverse Left Slip Fault
77

3.2.2.1 Struktur Sesar Mendatar Kanan Gambirsawit
Berdasarkan hasil pengamatan keadaan lapangan ditemukan adannya pergerakan
lapisan yang sangat besar yang menyebabkan adanya offset atau keadaan yang mencerminkan
adannya suatu sesar utama pada derah telitian , berdasarkan data kedudukan batuan yang ada
ditemukan adanya arah kedudukan batuan yang menunjukan suatu kelurusan jurus berarah
barat laut - tenggara pada Daerah Gambirsawit selain itu pada daerah tersebut ditemukan
adannya kekar- kekar yang berpasangan,dari keadaan tersebut sudah dapat disimpulkan
bahwa pada daerah ini terdapat adanya pergerakan sesar bukti yang paling nyata adalah
ditemukannya bidang sesar.













Gambar 3.36. Kenampakan kekar-kekar pada Satuan Batupasir Semilir didaerah
Gambirsawit sungai Ngawen.Foto diambil oleh Kepin pada cuaca cerah dengan lensa menghadap
barat.









78




















Gambar 3.37. Kenampakan bidang sesar dalam Satuan Batupasir Semilir didaerah
Gambirsawit sungai Ngawen. Foto diambil oleh Kepin pada cuaca cerah dengan lensa menghadap
barat.











79

Dari hasil analisa kekar kekar yang ditemukan pada Daerah Gambirsawit
didapatkan data kedudukan kekar sebagai berikut :
N
o.
Stri
ke
Dip
Stri
ke
Dip
1
.
N
120E
65
N
005E
82
2
.
N
122E
68
N
034E
65
3
.
N
097E
72
N
003E
67
4
.
N
091E
71
N
212E
64
5
.
N
130E
56
N
014E
88
6
.
N
095E
59
N
172E
52
7
.
N
105E
55
N
174E
64
8
.
N
268E
72
N
010E
75
9
.
N
081E
75
N
008E
73
1
0.
N
105E
74
N
012E
68
1
1.
N
080E
81
N
009E
78
1
2
N
108E
72
N
004E
86
1
3.
N
111E
72
N
000E
68
1
4.
N
084E
83
N
006E
69
1
5.
N
097E
63
N
018E
66
1
6.
N
129E
79
N
005E
70
1
7.
N
112E
76
N
005E
71
1
8.
N
119E
67
N
022E
79
1
9.
N
260E
76
N
001E
72
2
0.
N
067E
67
N
004E
72
2
1.
N
110E
72
N
004E
69
2
2.
N
264E
82
N
005E
76
80







Tabel 3.1. Kedudukan kekar pada Satuan Batupasir Semilir pada daerah Gambirsawit. Data
Shear fracture (sebelah kiri), Data Gash fracture (sebelah kanan)
Dari data kekar diatas kemudian dilakukan analisa diagram roset untuk
mengetahui jenis sesar yang ada pada daerah Gambirsawit ini (gambar 3.6).









Gambar 3.38. Diagram stereonet analisa kekar pada Daerah Gambirsawit.


Gambar 3.39. Diagram blok sesar mendatar daerah telitian.
Dari hasil analisa stereonet pada kekar Daerah Gambirsawit ini didapatkan bidang sesar
dengan kedudukan N 320E/83 yang menjelaskan adanya sesar mendatar dextral (lihat gambar
3.36) pada Daerah Pagutan ini atau menurut klasifikasi Rickard,1972 yakni Right Slip Fault
dengan besar sudut rake 18.







2
3.
N
056E
73
N
358E
72
2
4.
N
055E
74
N
004E
81
2
5.
N
086E
68
N
048E
54
81

3.3.1.2. Struktur Sesar Mendatar Kiri Juwet.
Berdasarkan hasil pengamatan keadaan lapangan ditemukan adanya pergerakan
lapisan yang sangat besar yang menyebabkan adanya offset atau keadaan yang mencerminkan
adannya suatu sesar utama pada derah telitian , berdasarkan data kedudukan batuan yang ada
ditemukan adanya arah kedudukan batuan yang menunjukan suatu kelurusan jurus berarah
utara - selatan pada Daerah Juwet selain itu pada daerah tersebut ditemukan adannya kekar-
kekar yang berpasangan,dari keadaan tersebut sudah dapat disimpulkan bahwa pada daerah
ini terdapat adanya pergerakan sesar bukti yang paling nyata adalah ditemukannya bidang
sesar.














Gambar 3.40. Kenampakan bidang sesar dalam Satuan Breksi Nglanggran didaerah Juwet
sungai Ngalang. Foto diambil oleh Riswa pada cuaca cerah dengan lensa menghadap selatan.


N
o
Strike Dip
1 N 168 E 75
2 N 174 E 88
3 N 172 E 67
4 N 176 E 74
82

5 N 177 E 81
6 N 180 E 83
7 N 180 E 74
8 N 168 E 66
9 N 187 E 84
1
0
N 188 E 70
1
1
N 186 E 59
1
2
N 180 E 78
1
3
N 195 E 76

Tabel 3.2. Kedudukan kekar pada Satuan Batupasir Semilir pada daerah Juwet.










Gambar 3.41. Diagram stereonet analisa kekar pada Daerah Juwet.







83










Gambar 3.42. Diagram blok sesar mendatar daerah telitian.
3.3.1.2. Struktur Sesar Mendatar Kiri Padangan.
Pada Daerah Pegunungan Padangan ini juga ditemukan adannya kelurusan
punggungan, yang nampak jelas dilihat dari pola kontur pada daerah telitian, yang berarah
utara - selatan sehingga bisa diinterpretasikan adanya gejala struktur di daerah tersebut yaitu
adanya sesar mendatar kiri, akan tetapi sesar ini masih diperkirakan karena tidak ditemukan
data-data pendukung baik kekar-kekar maupun bidang sesar. Sesar ini berada pada Satuan
Batupasir Semilir yang berada di barat laut daerah telitian tepatnya di daerah Padangan.









Gambar 3.43. Kenampakan bidang sesar dalam Satuan Batupasir Semilir didaerah
Padangan. Foto diambil oleh Andro pada cuaca cerah dengan lensa menghadap utara.
3.4. Sejarah Geologi
3.4.1. Fase I
Pada Miosen awal (N4-N5) dengan banyaknya gunung api yang terbentuk,
terbentuklah Satuan Batupasir Semilir dengan tipe yang berbeda yaitu tipe destruction
namun, Satuan Batupasir Semilir ini diendapkan dengan suplai sedimen dari aktivitas gunung
api yang sangat besar sehingga membentuk endapan yang sangat tebal + 750 - 900 m pada
84

daerah penelitian. Karena tipe gunung api subaquaeos maka material vulkanik yang
terendapkan langsung kontak dengan air sehingga membentuk proses turbidit yang akhirnya
diendapkan ke dalam kipas bawah laut, Satuan Batupasir Semilir terendapkan berupa
batupasir tuffan dengan struktur sedimen yang dominan yaitu ; perlapisan, laminasi, graded
beading, dan massif. Satuan batupasir ini berukuran halus hingga kasar dan juga batulempung
yang mengandung tuff pada beberapa tempat, Satuan Batupasir Semilir ini terus diendapkan
hingga Miosen awal (N6).
Pada beberapa tempat, pada bagian akhir pengendapan Satuan Batupasir Semilir
terendapkan juga Satuan Breksi Nglanggran, sehingga dibeberapa tempat ditemukan adanya
sebuah fenomena beda fasies menjari. Satuan Breksi Nglanggran yang terendapkan dari hasil
vulkanisme hasil gunung Nglanggran berupa breksi monomik. Terdapat juga beberapa
perselingan batupasir. Setelah Satuan Breksi Nglanggran terendapkan, lalu terjadi sebuah
pengangkatan sehingga daerah telitian menjadi daratan.










Gambar 3.44. Fase pada saat proses pengendapan Satuan Batupasir Semilir.










85

Gambar 3.45. Fase pada saat proses pengendapan Satuan Breksi Nglanggran.

3.4.2. Fase II
Setelah fase pengangkatan, terjadilah sebuah fase transgresi yang kemudian
mengendapkan Satuan Batupasir Sambipitu. Satuan ini terendapkan berupa batupasir yang
mengalami perselingan dengan batulempung dan pada beberapa tempat terdapat batupasir
yang mengandung semen karbonat. Satuan ini terendapkan pada Miosen Awal.









Gambar 3.46. Fase pada saat proses pengendapan Satuan Batupasir Sambipitu.
3.3.4. Fase III
Setelah fase kompresi dan pengangkatan selesai, terjadi sebuah proses pelepasan
energi yang mengakibatkan terjadinya subsidence atau penurunan cekungan. Keadaan ini
mengaktifkan proses transgresi yang membuat batas air laut naik ke permukaan, sehingga
mempengaruhi sifat fisik dan kimia dari Formasi Sambipitu. Proses transgresi ini juga
membentuk material material sedimen laut berupa batugamping, tetapi karena sebelumnya
terjadi proses pengangkatan menyebabkan Formasi Sambipitu menjadi Hiatus atau daerah
tinggian sehingga formasi formasi batugamping lain seperti Oyo dan Wonosari tidak
terbentuk pada daerah penelitian, namun dengan seiring berjalannya proses transgresi yang
terus berkembang menyebabkan terjadinya transgresi besar besaran sehingga air laut dapat
mencapai dan menutupi daerah tinggian yang akhirnya membentuk Formasi Oyo di atas
Formasi Sambipitu pada daerah telitian.
3.3.5. Fase V
Pada Miosen Tengah, Satuan Batugamping Oyo terendapkan. Pengendapan ini dapat
berlangsung karena pada daerah telitian terjadi kenaikan muka air laut pada Miosen Tengah
86

dan dapat membentuk batugamping dan hasil dari rombakannya kemudian menghasilkan
Batugamping Oyo yang sebagian adalah batugamping klastik. Pada fase ini juga terjadi fase
kompresi dan pengangkatan. Fase ini mengakibatkan terbentuknya sesar sesar ( sesar
mendatar kanan Juwet, sesar mendatar kanan Gambirsawit, dan sesar mendatar kiri Padangan
) akibat kompresi.
3.3.6. Fase VI
Setelah Batugamping Oyo selesai mengendap pada Pliosen Akhir, tidak terjadi
pengendapan material sedimen lagi, baik dari material darat maupun laut. Akan tetapi Kala Holosen,
diendapkan Satuan Pasir Lepas secara tidak selaras diatas Satuan Batugamping Oyo yang berasal dari
hasil endapan erosional dari hasil pengerosian sungai sungai besar daerah telitian.










Gambar 3.47. Fase akhir dari pengendapan, sungai dan dataran fluvial terbentuk..












87

BAB 4
STUDI FASIES TURBIDIT FORMASI SAMBIPITU

4.1. Landasan Teori
Lingkungan pengendapan adalah suatu seting geomorfologi khusus dengan
karakteristik fisika, kimia dan proses biologi yang mencirikan terjadinya mekanisme
pengendapan tertentu (Shanmugam Deep-Water Processes And Facies Models: Implications
For Sandstone Petroleoum Reservoirs, 2005). Walker, Response To Sea Level Change,
1992, mengatakan konsep dari arus tubidit bersifat simpel dan elegan. Simpel karena setiap
endapan turbidit adalah hasil dari satu even pendek yang singkat, satu kali pengendapan.
Sedangkan elegan karena dari suatu even yang pendek dan singkat tersebut menghasilkan
ribuan dari lapisan batupasir dengan struktur perlapisan bersusun selang-seling dengan
lapisan batulempung, yang merupakan hasil dari even yang sama. Tidak ada volum suatu
batuan sedimen yang lebih besar dari pada endapan turbidit.

4.1.1. Sejarah Perkembangan Arus Turbidit
Pada tahun 1872 ketika Royal Society of London dan Navy Royal mengadakan
eksplorasi dengan menggunakan kapal H.M.S Challenger (1872-1876), menandai kelahiran
modern eksplorasi laut dalam (Murray dan Renard, 1891). Dalam hal tahapn keilmuan Kuhn,
penelitian mengenai laut dalam yang dilakukan selama periode 1872-1948 merupakan tahap
pertama dari sebuah pengamatan yang dilakukan secara acak. Tahun 1948 mungkin dianggap
sebagai tahun kelahiran suatu paradigma baru yaitu paradigm tentang konsep turbidit.
Kongres Geologi Internasional ke 18 yang diadakan di London, Inggris pada tahun 1948, CI
Migliorini membahas pembentukan graded bedding oleh arus densitas; Francis P. Shepard
menunjukkan foto-foto bawah laut yang curam, dinding besar dari lembah bawah laut dan
Philip H. Kuenen membahas potensi erosi dari suatu arus densitas tinggi yang terbentuk pada
lembah bawah laut. Hingga 1950, ketika Kuenen dan Migliorini (1950) mempublikasikan
makalah mereka yang berjudul Turbidity currents as a cause of graded bedding, komunitas
geologi pada umumnya percaya bahwa laut dalam adalah suatu tempat yang tenang dan bebas
dari kegiatan suatu arus dimana hanya terjadi pengendapan/ akumulasi dari lempung pelagic
(lihat Friedman dan Sanders, 1997). Sejak 1950, pengendapan pasir turbidit pada lingkungan
laut dalam telah diterima secara global.
88

Meskipun Walker (1973) dan Stow (1985) percaya bahwa tahap ilmu normal
dalam penelitian mengenai laut dalam dicapai pada tahun 1950, dan 1983 (Gambar 4.1.),
tetapi menurut Shanmugam periode tersebut masih dalam periode krisis. Dimana menurut
Shanmugam (Gambar 4.2.), krisis ini dimulai ketika pentingnya pengaruh bottom currents/
arus bawah laut diwujudkan pada akhir 1960-an. Pada 1980-an, pertanyaan mendasar yang
diajukan tentang Bouma Sequence, model kipas bawah laut, dan skema fasies turbidit. Tahun
1990-an adalah periode evaluasi ulang dan ditinggalkannya model kipas bawah laut,
perdebatan tentang konsep highdensity currents, percobaan pada sandy debris flow,
reinterpretasi dari pasir masif turbidit sebagai hasil dari sandy debrites dan sikap skeptis
terhadap penafsiran proses pengendapan yang terjadi menggunakan geometri seismik
(Shanmugam, 2005)

Gambar 4.1. Stow's (1985) tahapan dalam penelitian laut dalam.Tahapan Kuhns (1970)
sebagai perbandingan (dikutip dari Shanmugham, 2005).






89





























Gambar 4.2. Perbedaan pandangan terhadap pandangan tahapan penelitian mengenai laut
dalam antara Walker (1973) dan Stow (1985) yang percaya batas normal mengenai perkembangan
penelitian laut dalam dicapai pada tahun 1950, dan 1983, sedangkan Shanmugam berpendapat sampai
tahun tersebut masih dalam tahapan krisis (dikutip dari Shanmugham, 2005).
4.1.2. Konsep Arus Turbidit
Sedimen yang teronggok pada suatu lereng dapat tiba-tiba meluncur dengan
kecepatan tinggi bercampur dengan air berupa suatu aliran padat/ density current
(Koesoemadinata, 1981). Dimana dalam mekanisme pengangkutan oleh arus densitas
partikel-partikel sedimen bergerak tanpa bantuan benturan/ seretan air, tetapi inertia (inertia
90

flow; Sanders, 1965). Energi potensial/ gravity dirubah menjadi energi kinetik, pengendapan
terjadi segera setelah energi kinetik habis.
Sedimen-sedimen yang terendapakan dengan mekanisme tersebut umumnya
disebut sebagai sedimen Gravit Flow. Menurut Middleton dan Hampton, 1976 terdapat 4 tipe
dari aliran sedimen yang dikendalikan oleh proses gravitasi berdasarkan gerakan relatif antar
partikel selama masa sedimen bergerak dan jarak dari sumber (Michael McLane, 1995), yaitu
(Gambar 4.3):

1. Debris Flow
Merupakan aliran butiran kasar (bisa mencapai bongkah) yang didukung oleh
masa dasar berupa campuran sedimen halus dan media air yang masih mempunyai tenaga
yang terbatas.
Jadi dalam hal ini peran media masih ada walau kecil sekali. Pergerakan itu
sendiri disebabkan oleh gaya berat. Karena butir kasar didukung oleh campuran media
dengan butiran yang berukuran lebih halus, maka endapan yang terjadi dicirikan dengan
adanya bongkah yang mengambang pada matrik (floating). Apabila aliran seperti ini tanpa
ada pengaruh dari media sama sekali maka dikatakan sebagai slump.

2. Grain Flow
Terjadi interaksi antara secara langsung, karena dalam mengalir butir-butir tersebut
belum sepenuhnya terlepaskan. Dalam hal ini peran media hampir tidak ada. Matrik berupa
pasir dan mengendap sekaligus. Debris flow dan grain flow menghasilkan fluxo turbidite.
3. Fluidized Sediment Flow
Butir-butir pasir yang mengalir sudah tidak rigrid, tetapi butiran yang sudah saling
lepas-lepas dan didukung oleh media air. Pengendapan terjadi bila air pori telah terperas
keluar secara vertikal, dan akan menghasilkan struktur mangkok (dish structure).
Menghasilkan tipe endapan proximal turbidite.

4. Turbidity Current
Secara sederhana menurut Middleton dan Hampton, 1976, arus turbidit adalah arus
dimana suatu masa fluida yang didukung oleh butiran bergerak secara turbulen (Michael
McLane, 1995).
Butiran yang mengalir secara aktif merupakan butiran yang didukung fluida.
Sebagian butir mengalir secara turbulent, sehingga pengendapan secara suspensi cukup
91

berkembang, dan seluruhnya terendapkan bila energi telah habis sehingga terjadi
autosuspension yaitu keseimbangan antara turbulensi dan suspensi (Bagnold,1974).
Sedangkan menurut Walker, 1992 suatu arus densitas yang bergerak menuruni
lereng pada daerah lantai samudera, yang di kontrol oleh gravitasi yang bekerja pada
perbedaan densitas antara arus tersebut dengan densitas air laut sekitarnya. Kelebihan
densitas pada arus ini dapat dikarenakan oleh temperatur yang dingin, salinitas yang lebih
tinggi atau karena sedimen yang tersuspensi didalam arus tersebut. Dimana jika kepadatan
dikarenakan oleh material sedimen yang terkandung pada arus tersebut, maka arus tersebut
dinamakan arus turbidit.

Gambar 4.3. Klasifikasi proses-proses arus densitas Middleton & Hampton, 1973, (dikutip
dari Michael McLane, 1995).

4.1.3. Mekanisme Arus Turbidit
Secara sistematis mekanisme pengangkutan material sedimen dari laut dangkal
menuju laut dalam yang ideal umumnya diawali oleh suatu longsoran berupa slide yang
merupakan suatu mekanisme transportasi massa dari sebuah blok/ lapisan sedimen yang
bersifat koheren pada suatu bidang luncur datar tanpa deformasi internal (Gambar 4.4A.).
Luncuran slide tersebut mungkin dapat terubah menjadi slump yang merupakan rotasi
koheren transportasi massa dari suatu blok/ lapisan sedimen tadi pada suatu bidang luncur
yang cekung (shear surface) dengan deformasi internal yang terjadi pada blok tersebut.
Setelah mengalami penambahan fulida/ carian selama perjalanan menuruni lereng bawah
laut, material slump mungkin dapat terubah menjadi suatu aliran debris (debris flow). Aliran
debris/ debris flow merupakan aliran plastic dengan kekuatan mengerosi. Seiring dengan
92

penambahan fulida pada aliran debris laminar, aliran tersebut mungkin dapat berkembang
menjadi suatu aliran turbidit/ turbidity current (Shanmugam, 2005).
Peluncuran arus turbidit (turbidity current) terjadi dekat dasar sehingga
mempunyai kekuatan untuk mengikis, hal ini akan berakibat terjadinya struktur pada alas
lapisan misalnya: Drag cast, flute cast (cetak suling), scouring, dan sebagainya. Fraksi kasar.
Sedimentasi terjadi segera setelah arus kehilangan tenaga. Karena pengendapan berlangsung
cepat, sehingga endapan yang terjadi terpilah buruk dan fraksi kasar berkesempatan
mengendap terlebih dahulu, sehingga membentuk perlapisan bersusun/ Graded bedding
(interval a Bouma ' 62). Pada bagian atasnya pemilahan berkembang semakin baik dan
struktur sedimen yang terbentuk adalah perlapisan sejajar/ parallel bedding (interval b
Bouma ' 62).
Fraksi halus. Fraksi halus lebih lama tertinggal di media dalam keadaan keruh.
Pengendapan mula-mula berlangsung dengan adanya aliran fraksi dari suatu suspensi.
Dengan demikian secara berurut terjadi climbing ripple, current ripple, recumbent folded
laminae, convolute lamination (interval c Bouma ' 62). Pada akhir pengendapan drift sudah
tidak ada lagi, sehingga yang terbentuk adalah pengendapan suspensi. Struktur yang terjadi
yaitu laminasi sejajar/ parallel lamination (interval d Bouma ' 62), disusul endapan pelitis
(interval e Bouma ' 62) (Gambar 4.4 B&C.).

A
B
C

Gambar 4.4. (A) Mekanisme pembentukan arus turbidit ideal menurut Shanmuggam
(dikutip dari Shanmugam, 2005), (B) Skema peluncuran dan pengendapan arus turbidit dengan erosi
pada bagian bawah, (C) Interval Bouma Ta-Te (dikutip dari Walker, 1992).

93

4.1.4. Fasies Turbidit
Istilah fasies diperkenalkan oleh Gressly (1838), disarikan oleh Tiechert
(1958) serta Krumbein dan Sloss (1963). Fasies adalah tubuh batuan dengan sifat yang khas.
Dalam batuan sedimen ditentukan berdasarkan warna, perlapisan, tekstur, fosil dan struktur
sedimen (Reading,1978). Moore (1949), mendefinisikan fasies sebagai istilah yang
diterapkan untuk setiap rekaman yang berada pada suatu lingkungan pengendapan.
Dunbar dan Rodgers (1957), mendefinisikan fasies yang berarti aspek-aspek
umum dari suatu batuan, litologi dan biologis (dengan perluasan struktur atau tektonik dan
bahkan metamorfis), sebagai aspek yang merefleksikan kondisi lingkungan dimana batuan
tersebut terbentuk/ proses pembentukannya.
Fasies Sedimen merupakan bagian dari suatu satuan stratigrafi tertentu dan
secara areal terbatas, menunjukkan ciri-ciri penting yang berbeda dari bagian-bagian lainnya
pada satuan stratigrafi tersebut (Moore, 1949). Fasies Sedimen merupakan suatu massa
batuan yang dapat ditentukan dan dibedakan dengan lainnya oleh geometri, litologi, struktur
sedimen, pola arus purba dan fosilnya (Selley,1970).

Istilah fasies banyak digunakan dengan pengertian yang berbeda, seperti:
Produk batuan (misal: fasies batupasir)
Genesa atau proses terbentuknya batuan (misal: fasies turbidit)
Lingkungan dimana batuan terbentuk (misal: fasies fluvialtil)
Fasies tektonik (misal: molasse, post orogenic facies)
Dalam hubungannya dengan mekanisme Sediment Gravity Flow, Bouma
(1962), Walker (1978), Mutti (1992), dan Shanmugam (2005), mengenalkan beberapa fasies
dalam seri turbidit, serta endapan endapan klastika kasar yang berasosiasi dengan seri
turbidit, yang didasari atas beberapa kriteria. Kriteria-kriteria tersebut meliputi :
Ukuran butir
Ketebalan lapisan
Sand/ shale ratio
Keteraturan lapisan
Ada tidaknya channels
Sole Marks
Struktur dalam dan tekstur yang terdiri atas conglomerate pebble fabrics serta
ada tidaknya grading
94

Kekompakan perlapisan dalam pa sir (dengan atau tanpa struktur mangkok)
Variasi pada Sikuen Bouma, terutama pengenalan dari lapisan-lapisan yang
dimulai dari bagian B atau C
Indikasi paleoekologi (Walker & Mutti, 1973)

4.1.4.1. Bouma Sequence (1962)
Pada dasarnya konsep yang di kemukakan oleh Arnold Bouma pada
tahun 1962 tentang low density turbidity current dan keterdapatan lima interval (lihat
Gambar 4.4.C.) dalam sequence Bouma yaitu interval Ta yang memiliki ciri berupa
batupasir massive umumnya berstruktur graded bedding/ perlapisan bersusun, umumnya
pada bagian dasar memiliki struktur erosi. Unit ini menggambarkan suatu mekanisme
pengendapan yang cepat, bersifat mengerosi pada bagian dasar dan pengendapan
aotususpensi yang bekerja pada suatu rezim aliran tinggi. Lalu interval Tb yang memiliki
ukuran pasir kasar hingga halus dengan struktur perlapisan sejajar yang menggambarkan
adanya penurunan atau peralihan kekuatan arus dari rezim aliran tinggi menuju rezim aliran
rendah yang ditandai dengan struktur perlapisan sejajar. Inteval ketiga yaitu interval Tc yang
memiliki struktur sedimen berupa ripple, current ripple, climbing ripple, convolute laminasi
umumnya berukuran butir lebih halus dari interval Tb yaitu pasir halus hingga lanau pada
interval ini kekuatan arus sudah sangat berkurang dan merupakan bagian dari rezim aliran
rendah. Interval selanjutnya yaitu interval Td yang berukuran butir lebih halus dan mendekati
lempung yang berstruktur laminasi sejajar pada interval ini kekuatan arus sudah sangat
berkurang. Interval terakhir Te yang merupakan interval yang berisi lempung dengan struktur
masif ini merupakan hasil dari akhir pengendapan arus turbidit yang bersifat pelagic dimana
kekuatan arus sudah tidak ada.
Model Bouma sequence merupakan bagian terkecil dari suatu
pengendapan arus turbidit dimana model lima interval ini hanya dapat digunakan untuk
menginterpretasi tiap-tiap layer batupasir pada suatu singkapan yang memperlihatkan adanya
perubahan dari flow regime atau kekuatan aliran yang membawa dan mengendapkan material
sedimen yang tertransport dengan mekanisme turbidit tanpa mengetahui posisi
pengendapanya.

4.1.4.2. Fasies dan Model Kipas Bawah Laut Walker (1978)
Dalam pendeskripsian fasies dan lingkungan pengendapan Walker
lebih menekankan pada penggunaan fasies association/ asosiasi dari beberapa fasies sehingga
95

dapat menentukan posisi pengendapan suatu batuan sedimen pada model kipas bawah laut
yang di kemukakan oleh nya.
Walker mengelompokan asosiasi dari fasies tersebut menjadi lima
kelompok utama yaitu (Gambar 4.5):

1. Classical Turbidite/ CT
Asosiasi fasies ini memiliki karakteristik berupa perselang-selingan yang
bersifat monoton (monotounus alternation) dari lapisan batupasir yang memiliki kontak tegas
dengan batulempung. Tidak ada tanda-tanda dari erosi yang lebih besar dari beberapapuluh
sentimeter, dan hamper dari semua lapisan batupasir dapat di deskripsi menggunakan model
Bouma sequence. Penamaan classical dikarenakan lapisan batupasir pada fasies ini dapat
dengan mudah dikenali sebagai produk dari mekanisme turbidit oleh banyak orang pada saat
ini. Asosiasi dari fasies ini pada dasarnya mengandung dua komponen utama yaitu thin
bedded dan thick bedded turbidit. Thin bedded turbidit memiliki karakteristik kenampakan
fisik yang sangat khas berupa struktur sedimen berupa ripple, current ripple, climbing ripple
terkadang convolute. Ukuran butir pasir hingga lempung bagian bawah terdapat struktur erosi
dan ukuran butir dapat mencapai granule/ kerikilan. Rip-up clast terkadang muncul sebagai
hasil dari erosi oleh arus turbidit. Asosiasi dari fasies classical turbidite idealnya dapat
terbentuk pada daerah lower fan hingga basin floor bagian distal tubidit.

2. Massive Sandstone/ MS
Fasies ini merupakan perubahan gradasi dari thick bedded turbidite pada fasies
ini sering muncul bukti-bukti suatu proses erosi , lapisan umumnya berasosiasi dengan suatu
channel dengan kedalaman beberapa meter. Endapan merupakan suatu peristiwa amalgamasi
yang membentuk gabungan dari beberapa lapisan. Karakteristik dari classical turbidite sudah
jarang dijumpai. Suatu lapisan batupasir masif memiliki ketebalan 50 cm hingga beberapa
meter dan interval bouma yang sering dijumpai adalah interval Ta. Perlapisan bersusun
umumnya sangat sulit dijumpai atau bahakan tidak hadir. Struktur sedimen yang lebih
berkembang biasanya adalah dish structure/ struktur mangkok dan pillar structure yang
menandakan terjadinya pelepasan fluida selama proses penegendapan. Menurut walker fasies
massive sandstone ini berkembang baik pada daerah mid fan.

3. Pebbly Sandstone/ PS
96

Pada fasies ini interpretasi menggunakan model Bouma sequence sudah tidak
dapat digunakan, umumnya terjadi proses pen-channelan. Imbrikasi pebble sering dijumpai
hal ini dapat di interpretasikan sebagai suatu produk dari kekuatan aliran yang cukup besar
yang membuat pengorientasian arah dari suatu fragmen kerikilan. Jarang berasoisasi dengan
serpih dan merupakan barupasir konglomeratan. Fasies ini akan berkembang baik pada
daerah channel-channel yang terdapat pada daerah mid fan dan upper fan.
4. Conglomerates/ CGL
Karakterisktik pada fasies ini yang mudah dikenali adalah, imbrikasi pebble
maupun couble jarang dijumpai, gradasi kurang baik, ukuran butir sampai dengan couble.
Ukuran butir yang didominasi oleh konglomerat pada dasarnya menggambarkan jarak dan
kekuatan arus yang bekerja cukup besar, oleh karena itu Walker menginterpretasikan bahwa
fasies ini terbentuk baik pada daerah upper fan.

5. Pebbly Mudstone, Slumps, Debris Flow & Slide
Pebbly mudstone/ batulempung kerikilan mengandung kerikilan dan klastika
berupa fragment dari batupasir atau batulempung yang tersebar merata di dalamnya, pada
masa dasar berupa lanau atau lempung. Hal yang paling mungkin menjelaskan mekanisme
pembentukan pebbly mudstone adalah suatu proses pengendapan yang cepat dimana material
sedimen yang masih berupa debris flow yang didukung oleh dominasi masa dasar berupa
lumpur melewati suatu endapan yang masih bersifat semirigrid, aliran debris (debris flow)
yang umumnya bersifat mengerosi bagian dasar dan mengangkut endapan lempung yang
semirigrid menjadi klastika-klastika lempung yang di kenal sebagai rip-up clast clay yang
bercampur dan membentuk suatu endapan debris flow yang berasosiasi dengan pebbly
mudstone.
Slump dan slide biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu grup dari
lapisan yang telah mengalami deformasi, tetapi slide umumnya tidak mengalami deformasi
pada bagian dalamnya sedangkan slump mengalami deformasi pada bagian dalamnya. Slump
memiliki dimensi mulai dari beberapa meter hingga beberapa ratus meter. Walker (1992),
mengklasifikasikan slump menjadi tiga tipe :
1. Slumped shales& mudstone
Slump yang terbentuk pada litologi yang didominasi shales dan mudstone.
Pada fasies ini umumnya kehadiran layer dari batupasir sangat sedikit dan mempunyai
karakteristik berupa lipatan pada sedimen-sedimen yang bersifat lunak. Dominasi lempung
97

yang melimpah pada slump mengindikasikan proses slump tersebut terbentuk pada
lingkungan slope to basin pada daerah upper fan.
2. Slumped thin-bedded turbidites
Slump ini terbenttuk dengan skala yang bervariasi dan dapat melibatkan beberapa
lapisan hingga banyak lapisan. thin-bedded turbidites biasanya terbentuk pada daerah lower
fan hingga basin floor proses slumping yang sangat memungkinkan terjadi pada lingkungan
ini adalah pada daerah tepian channel (channel margin) atau levees.
3. Slumped with angular stratified block
Blok layer yang menyudut mengindikasikan bahwa proses slump yang terbentuk
tidak mengalami pergerakan yang jauh dari sumber sehingga layer batupasir masih bersifat
kohesif dan hanya hancur sebagian. Proses seperti ini menggambarkan suatu proses
runtuhnya dinding suatu channel pada submarine fan.

98

Gambar 4.5. Hipotesa sikuen kipas bawah laut yang dapat berkembang selama proses
progradasi kipas bawah laut. C.U adalah sikuen penebalan dan pengkasaran ke atas, F.U adalah
sikuen penipisan dan penghalusan ke atas. CT adalah fasies classical turbidite, PS adalah fasies
batupasir kerikilan, CGL adalah fasies konglomerat, DF adalah fasies debris flow dan SL adalah
fasies slump (Walker,1978).
Dari asosiasi fasies-fasies tersebut Walker membuat interpretasi dan model
penampang kipas bawah laut (Gambar 4.6.) dan model diagram blok kipas bawah laut
(Gambar 4.7.) yang terdiri dari :


a. Lower fan
Dicirikan adanya penebalan keatas (thickening upward), terdiri dari asosiasi
faciesfacies classical turbidites.
b. Smooth portion of suprafan lobes
Penebalan ke atas, asosiasi classical turbidites, dalam sikuen
progradasi bagian atas sudah terdapat massive sandstone.
c. Channeled portion of suprafan lobes
Penipisan ke atas (thinning upward), asosiasinya adalah konglomeratan
atau pebly sandstone pada bagian bawah dan massive sandstone. Konglomerat umumnya
berlapis bersusun (graded bedding).
d. Upper fan
Merupakan sikuensikuen dari facies konglomerat, debris flow dan slump.
Sikuen menipis ke atas (thinning upward) umumnya tidak berlapis baik.












99






Gambar 4.6. Model pengendapan kipas bawah laut, memperlihatkan sikuen perlapisan pada
masingmasing elemen (Walker, 1976).

100


Gambar 4.7. Diagram blok yang memperlihatkan bagianbagian dari sistem kipas bawah
laut. (Walker, 1984).
4.1.4.3. Fasies Turbidit Mutti (1992)
Fasies turbidit dapat didefinisikan sebagai kumpulan genetik fasies
secara lateral yang dapat diidentifikasi melalui lapisan lapisan individu batuan yang
memiliki kesamaan waktu. Secara genetik fasies tracts yang berasal dari paket sedimen dapat
dikatakan sebagai turbidite facies association (FA), sedangkan ekspresi vertikal dari facies
association tersebut dapat dikatakan sebagai fasies sequence (FS).
Mutti (1992) membagi fasies-fasies pada endapan turbidit didasarkan pada
beberapa hal, diantaranya: tekstur batuan, komposisi batuan, struktur sedimen dan
kenampakan erosi (Gambar 4.8). Sehingga dapat membedakan antara fasies yang satu
dengan fasies yang lain.
Fasies fasies tersebut kemudian digolongkan menjadi 3 tipe utama, yaitu :
1. Very Coarse Grained Facies (VCGF : Bongkah, Berangkal dan Kerakal)
2. Coarse Grained Facies (CGF : Butiran sampai Pasir Kasar)
3. Fine Grained Facies (FGF : Pasir Sedang sampai Lempung)
1. Very Coarse Grained Facies (VCGF)
Endapan pada Fasies Turbidit ini terdiri dari beragam jenis tipe sedimen,
mulai dari mud supported sampai clast-supported conglomerates. Facies dasar dari Very
Coarse Grained Facies adalah F1, F2 dan F3.
101

Endapan endapan pada fasies F1 dan F2 merupakan endapan endapan debris
flow deposits, dimana sediment tertransport dan terendapkan oleh arus cohesive. cohesive
debris flow dapat mengindikasikan endapan-endapan klastika yang didukung oleh aliran
buoyancy dan cohesivitas dari campuran antara lumpur dan air sebagai media pentransport
sedimen.
Endapan F1 adalah produk dari cohesiv debris flow yang memiliki karakteristik
sebagai berikut :
Terdapatnya lag deposit di bagian dasar aliran
Klastika yang lebih besar mengambang dalam matriks
Kecenderungan klastika yang kasar untuk berada di dasar dan menerus hingga ke
atas dari dasar aliran.
Endapan F2 adalah produk dari hyperconcentrated flow yang dihasilkan dari proses
transportasi dari debris flow menuruni lereng yang bercampur dengan fluida. Endapan
endapan pada fasies F2 umumnya terdapat pada coarse grained turbidite sistem. Karakteristik
dari endapan-endapan pada fasies F2 pada dasarnya hampir sama dengan karakteristik dari
endapan-endapan pada fasies F1, diantaranya :
Terdapat peristiwa dimana dasar aliran tergerus dan terbentuk struktur rip-up
mudstone clasts yang relatif besar.
Klastika yang berukuran besar mengambang dalam matriks pasiran
Klastika yang berukuran lebih besar menunjukkan kecenderungan untuk berada di
bagian bawah.
Tahap akhir dari proses transportasi cohesive debris flow adalah menghasilkan
endapan-endapan yang termasuk kedalam fasies F3 klastika kasar dari (konglomerat).
Endapan endapan pada fasies F3 ini merupakan salah satu tipe endapan turbidit yang
dihasilkan oleh hyperconcentrated flow yang mentrasnportasikan material berukuran butiran
sampai kerikil (High Density Turbidity Current). Endapan endapan F3 terdiri atas
konglomerat dengan matriks pasiran yang membentuk dasar aliran, yang pada akhirnya akan
dibatasi oleh permukaan erosi. Endapan endapan pada fasies F3 ini dapat terbentuk akibat
adanya shear strses yang diberikan oleh lapisan material yang tertinggal oleh aliran.

2. Coarse Grained Facies (CGF)
Fasies-fasies yang termasuk ke dalam Coarse Grained Facies dalam
aliran yang menuju dasar cekungan yaitu WF, F4, F5, dan F6 yang dapat diinterpretasikan
102

sebagai produk dari butiran High Density Turbidity Current dan proses transformasi yang
akan dihasilkan pada akhir aliran. Endapan endapan pada fasies F4 dan F5 pada umumnya
memiliki karakteristik yang relatif tebal dan terdiri atas coarse-grained traction carpets.
Endapan-endapan pada fasies WF terdiri atas endapan endapan yang tipis, memiliki tingkat
keseragaman butir yang buruk yang terdiri atas butiran berukuran pasir sangat kasar dan pasir
kasar yang menunjukkan struktur laminasi bergelombang. Sedimen pada fasies WF dapat
diinterpretasikan sebagai produk dari upper flow regime yang dibentuk oleh transportasi dari
hyperconcentrated flow hingga high density & supercritical turbidity current. Endapan
endapan pada fasies F6 dapat diindikasikan sebagai endapan endapan berukuran kasar yang
memiliki kecenderungan imbrikasi pada butirannya. Endapan endapan pada fasies F6 ini
memiliki tingkat keseragaman butir yang relatif baik dan di bagian bawahnya membentuk
butiran dengan kecenderungan menghalus ke atas. Sedimen sedimen pada fasies F6 ini
adalah produk dari loncatan fluida yang merubah supercritical high density turbidity current
menjadi sub critical high density turbidity current. Perpindahan aliran berikutnya membawa
butiran yang lebih kasar dimana butiran tersebut tertransport bersamaan dengan arus
turbulensi vertikal, untuk menyesuaikan searah dengan arus dan dapat tertransport secara
traksi dan terendapkan di sepanjang dasar aliran. Struktur sedimen yang berkembang terdiri
atas: perlapisan sejajar dan perlapisan memotong dalam skala kecil. Karakteristik pada
endapan endapan fasies F6 selanjutnya dapat dilihat lebih detail, yaitu :
Seluruh ketebalan dari lapisan dasar pada umumnya dibatasi oleh batas yang tajam
dan terbentuk struktur rippled diatas permukaan lapisan.
Endapan endapan lag deposit yang berada di dasar aliran.

3. Fine Grained Facies (FGF)
Fasies-fasies yang termasuk di dalam Fine Grained Facies adalah F7, F8 dan F9.
sedimen dari fasies fasies tersebut merupakan produk dari low-density, subcritical turbidity
current. Arus turbid ini memulai pengendapannya setelah melewati hydraulic jump (lihat
sediment F6) atau arus gravity yang telah mentransport fasies F5 dalam arus yang kemudian
menghasilkan endapan fasies F7. Tahap akhir dari pengendapan ini adalah meningkatnya
kandungan lumpur yang mengendap secara suspensi dan akhirnya dapat menyesuaikan
dengan aliran quo static. Endapan endapan pada fasies F7 dalam sistem arus turbidit pada
umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut :
Lapisan tipis dari batupasir yang relatif kasar
103

Lapisan horizontal pada bagian dasar aliran dapat diindikasikan sebagai hasil dari
traction carpet, dan di beberapa tempat, endapanendapan tersebut menunjukkan
kecenderungan butiran yang mengkasar keatas. Tapi pada umumnya traction carpet ini akan
menunjukkan kecenderungan butiran yang menghalus ke atas yang mengindikasikan arus
yang mentransport sedimen tersebut.
Endapan endapan pada fasies F8 merupakan salah satu endapan yang paling ideal
dengan tipe endapan pada sikuen Bouma, yang terdiri atas struktur sedimen, dan ukuran butir
dari pasir sedang pasir halus, kecenderungan penghalusan ke atas dapat hadir jika arus yang
mentransport dan material yang tertransport dapat memenuhi persyaratannya. Endapan
endapan pada fasies F8 pada umumnya terdiri atas material material berbutir halus.
Endapan endapan pada fasies F7 dan F8 merupakan hasil dari rekonsentrasi sedimen yang
terbentuk setelah loncatan fluida tersebut telah terlewati, yang kemudian diikuti oleh proses
sedimentasi sepanjang jalur tipis dari traction carpet (F7) dan suspensi (F8). Endapan
endapan pada fasies F9 terbentuk oleh endapan endapan berbutir sangat halus dengan
struktur laminasi sejajar yang dibatasi oleh batulempung berstruktur masif. Tingkatan fasies
F9 dapat didefinisikan sebagai turbidite beds dimana diendapkan oleh proses selesainya
traction carpet yang berhubungan dengan fase sebelumnya dalam sistem low density
turbidity current. Fasies F9 kemudian dapat dibagi kedalam 2 sub fasies yaitu :
Fasies 9a, yang sangat berkaitan dengan classical turbidite pada sikuen Bouma.
Fasies 9b, walaupun memiliki karakteristik yang hampir sama dengan fasies 9a
namun pada dasarnya memiliki tingkat perbandingan sand-shale ratio yang lebih besar,
memiliki ukuran butir yang lebih kasar dibandingkan dengan butiran pada fasies 9a, memiliki
tingkat keseragaman butir yang lebih buruk
104


Gambar 4.8. Fasies Turbidit dan proses proses yang terkait (dikuti dari Mutti, 1992).

4.1.5. Element Arsitektural Kipas Bawah Laut
Definisi elemen arsitektural adalah sebuah bagian morfologi dari dari sistem
pengendapan tertentu yang dicirikan oleh kumpulan fasies, geometri fasies dan sistem
pengendapan tertentu (Walker, 1992). Sedangkan menurut Allen (1983) asosiasi fasies
dengan skala yang besar merupakan terminasi dari suatu elemen aristektural, karena hal
tersebut menyiratkan bahwa asosiasi fasies tersebut adalah blok dari berbagai sistem
pengendapan (Walker, 1992). Tetapi pada dasarnya Konsep suatu elemen aristektural
menenkankan pada geometri tiga dimensi dari asosiasi fasies (Walker, 1992).
Hal ini juga diterapkan pada suatu sistem turbidit yang dapat dibagi menjadi
beberapa elemen aristektural yang berbeda yang di dasarkan pada asosiasi tertentu
didalamnya (Gambar 4.9). Walker (1992) membagi suatu sitem turbidit menjadi beberapa
elemen arsitektural dasar kedalam :
1. Large Feeder Channels/ Chanel Utama
Pada suatu sistem turbidit elemen ini umumnya dicirkan oleh tipe endapan
yang didominasi oleh endapan pasir yang lebih dominan dan kehadiran material lempung
sangat sedikit hal ini dikarenakan pada bagian ini kekuatan arus masih sangat besar, endapan
105

mass flow yang memiliki ukuran butir yang sangat kasar hingga bongkah umum dijumpai dan
berasosiasi dengan endapan-endapan dari batupasir massif, konglomerat, pasir kerikilan
hingga slump baik dari hasil longsoran pada upper fan slope maupun channel margin slum
dan scouring dalam skala besar masih umum dijumpai. Geometri fasies ini umumnya
berbentuk melensa, tebal pada bagian tengah channel dengan ketebalan rata > 500m dan
menipis pada bagian pinggir chanel tersebut (Gambar 4.9).
Dari hasil analisa singkapan tidak pernah ditemui kedalaman suatu chanel lebih dari
500 m, tapi beberapa dapat diketahui dari data bawah permukaan, seperti pada cekoslovakia
canyon yang memiliki lebar hingga 10 km dan dalam 800-1060 m (Picha, 1979 dalam
Walker, 1995), Eosen Yoakum canyon di texas lebar 15 km dan dalam 1067 m (Dingus
dan Galloway, 1990 dalam Walker 1995) dan masih banyak lagi.

2. Channel-Levee System
Bentukan morfologi ini umumnya terbentuk pada bagian bawah dari upper fan
hingga mid fan (hampir keseluruhan bagian) pada suatu sistem kipas bawah laut (Walker,
1995). Pada bagian depan atau akhir dari sebuah feeder channel di suatu sistem kipas bawah
laut akan terbentuk suatu komplek dari sedimen mass flow baik berupa endpan turbidit/
debris flow. Endapan-endapan tersebut akan berasosiasi dan membentuk suatu morfologi
tersendiri yang khas yaitu bentukan channel-levee system. Material-material sedimen yang
tertransport melalui suatu submarine fan canyon akan terlepas dan melepaskan energinya
sesaat ketika keluar dari submarine fan canyon tersebut. Penambahan fluida pada material
tersebut akan mempengaruhi pola sebaran dari material yang terdapat di dalam aliran itu,
tetapi pada bagian tengah/ inti dari aliran tersebut masih terisi oleh fraksi-fraksi material
kasar dan masih mempunyai kekuatan mengerosi yang cukup besar untuk mengerosi bagian
dasar yang dilaluinya sehingga akan terjadi scouring dan proses pen-channel-an yang cukup
dalam dan membentuk suatu sistem channel. Sedangkan material/ fraksi-fraksi halus pada
bagian luar dari arus tersebut yang tersuspensi karena penambahan fluida tadi akan
terendapkan pada bagian tepi dan membentuk sheet-sheet yang membangun suatu sistem
levee atau tanggul dari channel tersebut (Gambar 4.9).
Sehingga dalam satu mekanisme peluncuran/ pelepasan material sedimen yang
tertransport dari feeder channel akan membentuk suatu sistem channel dan levee secara
bersamaan. Tipe endapan yang dihasilkan pada bagain tengah suatu channel tadi akan
memberikan karakteristik khusus, umumnya material pengisi bagian ini berupa endapan-
endapan mass flow dengan ukuran butir relativ kasar dengan struktur yang bersifat massif,
106

terkadang perlapisan bersusun. Menurut Walker asosiasi fasies yang sering dijumpai adalah
conglomerate, debris flow, massive sandstone, hingga channel margin slump yang mengisi
bagian tengah dari channel ini. Geometri endapan channel ini biasanya memanjang dan
menipis pada bagian tepinya. Menurut Walker data singkapan yang terbatas hanya dapat
menunjukan ketebalan dari endapan pengisi channel 40 m, dan sebarannya 60-530 m.
Karena hal tersebut maka untuk merekontruksi sistem ini berdasarkan data singkapan sangat
sulit untuk dilakukan (Walker, 1995). Tetapi berdasarkan data bawah permukaan yang
diambil dari Eosen Frigg Fan (North sea; McGovney and Radovich, 1985 dalam Walker,
1995) data-data bawah permukaan berupa seismik, core dan data log menginterpretasikan
lebar dari batupasir yang mengisi channel 4-5 km, panjang 10-20 km dan ketebalan yang
mengisi bagian tengah channel 20-200m.
3. Sheet Like Turbidites/ Lobe
107

Sheet/ layer yang terbentuk oleh hasil dari suatu mekanisme turbidit (low
density turbidite) pada daerah lower fan hingga basin plain akan membentuk suatu
kenampakan morfologi berupa kipas dimana pada bagian pinggirnya akan menipis dan
berubah fasies menjadi lempung pelagic. Pada beberapa kasus suatu sheet atau individual
layer dapat menerus hingga beberapa kilometer hingga puluh kilometer, menyiratkan bagian
halus pada suatu basin plain (Enos, 1969; Hesse, 1974; Ricci dan Valmori, 1980 dalam
Walker 1995). Endapan-endapan hasil dari high density dan low density (lebih dominan)
turbidity currents umum ditemukan dan mendominasi pada bagian sheet atau lobe-lobe pada
daerah lower fan, menurut Walker sequence Bouma sering ditemukan dan
mengklasifikasikan nya kedalam fasies classical turbidite dengan perubahan ukuran butir
mengkasar dan menebal keatas. Contoh yang cukup baik mengenai geometri dari suatu sheet/
lobe terdapat pada Formasi Forbes yang berumur Kapur pada daerah California dimana
terdapat penumpukan dari endapan lobe yang bersifat pasiran dengan perselingan dengan
lempung dengan ketebalan 1000 m. Suatu individual dari sebuah lobe dapat mencapai
ketebalan 60 m dan diameter mencapai 10 km pada lapangan gas Grimes.

Gambar 4.9. Diagram blok pembagian dan perkembangan elemen arsitektural pada suatu
system kipas bawah laut yang diawali oleh pembentukan sheet turbidite lalu channel-levee system dan
bagian paling atas oleh feeder channel (dikutip dari Walker, 1995).


4.2 Analisa Fasies Turbidit
108

Pada umumnya melakukan analisa turbidit sama dengan mengenali karakteristik dari
endapan turbidit itu sendiri, yang dilihat berdasarkan sifat fisik, kimia, dan biologi untuk
mengetahui serta mengenali dan membedakan endapan turbidit dengan endapan endapan
lainnya dapat dilakukan analisa dan pendekatan dengan :
1. Melakukan analisa profil agar mengetahui sifat fisik dan kimia pada endapan
tersebut.
2. Mengacu kepada urutan urutan sikuen Bouma yang merupakan penciri
endapan turbidit yang dapat langsung terlihat dengan sangat jelas di lapangan.
3. Melakukan analisa mikrofosil seperti bentos untuk mengetahui zona batimetri
dari endapan tersebut, karena hampir semua endapan turbidit dapat dikatakan sebagai
endapan yang terbentuk pada Submarine Fan.
Sehingga dalam menentukan suatu fasies turbidit dapat dilakukan berdasarkan
beberapa parameter, antara lain parameter fisik, kimia, dan biologi. Metode untuk
menentukan seluruh parameter tersebut adalah dengan melakukan analisis profil detail pada
beberapa lintasan pengamatan pada Satuan Batupasir Semilir yang mewakili keadaan
fenomena geologi daerah penelitian, penulis menggunakan beberapa acuan dalam melakukan
interpretasi fasies turbidit yakni Bouma (1962), Walker (1978), dan Mutti (1992). Dengan
mengacu pada beberapa peneliti terdahulu, mengenai model dan pembagian fasies turbidit,
maka penulis membuat 3 lintasan profil utama serta 1 lintasan terukur (measuring section)
sebagai gambaran stratigrafi pada daerah penelitian (lampiran 5,6,7 dan measuring section).


4.2.1 Hasil analisa Fasies Turbidit Satuan Batupasir Sambipitu.
Dalam Satuan Batupasir Sambipitu ini penulis membuat beberapa profil
stratigrafi terukur untuk mengetahui fasies serta penyebarannya sehingga akan dapat
diketahui bagaimana hubungan stratigrafi pada daerah penelitian ini, terdapat tiga profil
stratigrafi terukur pada Satuan Batupasir Sambipitu dan sesuai dengan hukum superposisi
dapat dijelaskan secara urut dari lapisan yang paling tua hingga lapisan yang paling muda
yaitu profil stratigrafi terukur lintasan Nglegi, lintasan Sendowo Lor, lintasan Seropan, dan
lintasan Ngalang ( measuring section ).Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai karakter dari
masing masing lintasan pada tiap daerah tersebut dapat diketahui melalui penjelasan
sebagai berikut :
109

4.2.1.1 Profil Lintasan Nglegi
Lokasi
Lintasan profil pada lokasi ini terbagi menjadi 3 lokasi pengamatan yaitu Lp
12, Lp 13, dan Lp 52 yang terletak didaerah Nglegi yang berada pada bagian barat pada
daerah penelitian, dengan koordinat (Lp 12) X: 452162, Y: 9129738, (Lp 13) X: 452721, Y:
9129554, dan X: 451480, Y: 9130185.
Litologi
Lintasan profil ini, berada pada Satuan Batupasir vulkanik Formasi Sambipitu
dengan tebal total 2,915 m dengan litologi penyusunnya berupa perlapisan batupasir vulkanik
dengan sisipan berupa batulempung dengan beberapa kenampakan struktur sedimen adalah
perlapisan, laminasi, gradded bedding, dan ripple dengan penjelasan lapisan sebagai berikut
(lampiran 4) :
1 ). Lokasi Pengamatan 52
Pada lapisan pertama didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, laminasi, ukuran butir pasir sedang (1/4 mm), membundar tanggung,
terpilah buruk, dengan kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa, plagioklas, dan
hornblende, matriks berupa lempung, dengan semen silika.
Pada lapisan kedua didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna coklat,
ukuran butir lempung (<1/256 mm), dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen
berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan ketiga didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir kasar pasir sedang (1/2 1/4 mm), membundar
tanggung, terpilah buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa, plagioklas, dan
hornblende, matriks berupa lempung, dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen
berupa perlapisan bersusun (graded bedding).
Pada lapisan keempat didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sedang (1/4 mm), membundar, terpilah buruk, kemas
terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa, dan hornblende, matriks berupa lempung, dengan
semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Keempat lapisan ini lebih didominasi oleh penipisan ke arah atas
walaupun ada lapisan yang menujukkan penebalan ke arah atas, dengan total ketebalan (0,385
m)
2 ). Lokasi Pengamatan 13
110

Pada lapisan pertama didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis
klastik berwarna coklat, ukuran butir pasir kasar (1/2 mm), membundar, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa, dan hornblende, matriks berupa lempung,
dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan kedua didapatkan batupasir sedang dengan jenis klastik berwarna
abu abu, ukuran sedang (1/4 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen silika,
dan memiliki struktur sedimen berupa ripple.
Pada lapisan ketiga didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir sangat halus (1/16 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas tertutup, memiliki fragmen kuarsa, hornblende, matriks berupa lempung, dengan
semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa laminasi.
Pada lapisan keempat didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran butir lempung (<1/256 mm), dengan semen silika, dan memiliki struktur
sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan kelima didapatkan batupasir sedang dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran sedang (1/4 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen
silika, dan memiliki struktur sedimen berupa laminasi.
Pada lapisan keenam didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran butir lempung (<1/256 mm), dengan semen silika, dan memiliki struktur
sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan ketujuh didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sangat kasar kasar (1 1/2 mm), membundar tanggung,
terpilah buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa, plagioklas, dan hornblende,
matriks berupa lempung, dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa
perlapisan bersusun (graded bedding).
Pada lapisan kedelapan didapatkan batupasir kasar dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran kasar (1/2 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen
silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan kesembilan didapatkan batupasir sedang dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran sedang (1/4 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen
silika, dan memiliki struktur sedimen berupa ripple.
Pada lapisan kesepuluh didapatkan batupasir dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran halus (1/8 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen silika, dan
memiliki struktur sedimen berupa laminasi.
111

Pada lapisan kesebelas didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran butir lempung (<1/256 mm), dengan semen silika, dan memiliki struktur
sedimen berupa perlapisan sejajar.
Kesebelas lapisan ini lebih didominasi oleh penipisan ke arah atas walaupun
ada lapisan yang menunjukkan penebalan ke arah atas, dengan total ketebalan (0,835 m)
3 ). Lokasi Pengamatan 12
Pada lapisan pertama didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna hitam, ukuran butir pasir sangat kerakal sangat kasar (128 1 mm), menyudut
membundar tanggung, terpilah buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa koral dan
andesit, matriks berupa pasir sangat kasar, dengan semen silika, dan memiliki struktur
sedimen berupa perlapisan bersusun (graded bedding).
Pada lapisan kedua didapatkan batupasir kasar dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran kasar (1/2 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen silika, dan
memiliki struktur sedimen berupa masif ( 0,55 m ).
Pada lapisan ketiga didapatkan batupasir sedang dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran sedang (1/4 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen silika, dan
memiliki struktur sedimen berupa masif ( 0,52 m ).
Ketiga lapisan ini lebih didominasi oleh penipisan ke arah atas dengan total
ketebalan (1,695 m)
Interpretasi Fasies
Interpretasi fasies pada lintasan ini dilakukan berdasarkan dari 3 acuan peneliti
terdahulu yaitu menurut Bouma (1962), Mutti (1992), dan Walker (1978).
Berdasarkan pada konsep Bouma (1962).
Pada lintasan Lp 52 dan Lp 13 terlihat adanya kenampakan struktur sedimen
yang mencirikan adanya pengaruh arus turbidit sesuai dengan konsep sikuen Bouma yaitu
adanya perlapisan bersusun batupasir dengan struktur sedimen graded bedding (T-a),
batupasir sedang dengan struktur perlapisan sejajar (T-b) yang menandakan terjadinya rezim
aliran atas, batupasir sangat halus dengan struktur ripple (T-c), Batupasir dengan struktur
sedimen laminasi (T-d), dan batulempung dengan struktur laminasi (T-e) sebagai interval
terakhir atau paling atas di dalam sikuen Bouma.
Struktur sedimen yang terbentuk pada lintasan ini cukup kuat untuk
membuktikan bahwa litologi pada daerah ini diendapakan melalui arus turbidit jika dilihat
112

dan dianalisa menggunakan konsep Bouma karena semua interval pada sikuen Bouma
ditemukan pada lintasan ini.
Sedangkan pada lintasan Lp 12 tidak termasuk dalam sikuen bouma karena
tidak ditemukan interval T-a hingga T-e pada masing masing lapisan.
Berdasarkan pada konsep Mutti (1992).
Lintasan Lp 52 dan Lp 13 termasuk kedalam Fine Grain fasies (FGF) yaitu
masuk ke dalam fasies F9a yang didominsi oleh endapan berukuran pasir halus lempung
yang didukung dengan munculnya sikuen bouma lengkap dan berasosiasi dengan fasies
clasical turbidit yang merupakan produk dari low density turbidity current, kemudian terjadi
perubahan fasies pada Lp 12 karena Lp ini termasuk dalam fasies F6, dimana endapan
endapan pada fasies ini memiliki tingkat keseragaman butir yang relatif baik dan di bagian
bawahnya membentuk butiran dengan kecenderungan menghalus ke atas. Sedimen sedimen
pada fasies F6 ini adalah produk dari loncatan fluida yang merubah supercritical high density
turbidity current menjadi sub critical high density turbidity current.

Berdasarkan pada konsep Walker (1978)
Pada profil lintasan Nglegi Lp 52 dan Lp 13 memperlihatkan adanya
kenampakan struktur sedimen penciri adanya gejala turbidit yaitu interval Bouma yang
lengkap (Ta Te) yang mwnunjukkan bahwa lintasan ini masuk kedalam fasies classical
turbidite (CT), selain hadirnya CT yang memperlihatkan lapisan yang menebal keatas, lalu
pada Lp 12 dilihat dari lapisan batupasir yang cukup tebal dan dari corak susunan lapisan
yang menunjukkan penipisan ke atas dapat di simpulkan bahwa lintasan profil pada Lp ini
masuk ke dalam fasies Masive Sandstone (MS).
Dari keseluruhan hasil analisa diatas, maka penulis dapat menginterpretasikan
bahwa lintasan Nglegi ini diendapkan pada suatu komplek kipas bawah, pada bagian smooth
to cannelled portion of suprafan lobes on mid fan (Walker, 1978).
Dapat terlihat bahwa pada lintasan ini batupasir yang diendapakn merupakan
batupasir yang berasal atau bersumber dari aktifitas vulkanik yang dikuatkan dengan
ditemukannya material material vulkanik seperti kuarsa, hornblende, dan mineral lainnya
yang bersumber dari aktifitas vulkanik, namun pada saat terendapkan batupasir ini mendapat
pengaruh dari mineral dan material sedimen yang berasal dari laut dengan kedalaman neritik
sehingga memiliki komposisi koral, hal ini dapat terjadi dengan dua kemungkinan yaitu
berasal dari sedimen karbonat yang lebih tua atau pada saat terendapkan terjadi kenaikan
113

muka air laut atau transgresi sehingga mineral mineral yang berasal dari laut dengan
kedalaman neritik tersebut dapat mempengaruhi komposisi batuan pada lintasan ini.






Gambar 4.10. Menunjukkan beberapa struktur dan litologi pada lintasan Nglegi
4.2.1.2 Profil Lintasan Sendowo Lor
Lokasi
Lintasan profil pada lokasi ini terbagi menjadi 3 lokasi pengamatan yaitu Lp
38, Lp 41, dan Lp 42 yang terletak didaerah Sendowo Lor yang berada pada bagian tengah
pada daerah penelitian, dengan koordinat (Lp 38) X: 454045, Y: 9129031, (Lp 41) X:
454974, Y: 9128760, dan X: 455398, Y: 9129236.
Litologi
Lintasan profil ini, berada pada Satuan Batupasir vulkanik Formasi Sambipitu
dengan tebal total 2,837 m dengan litologi penyusunnya berupa perlapisan batupasir vulkanik
dengan sisipan berupa batulempung dengan beberapa kenampakan struktur sedimen adalah
perlapisan, laminasi, gradded bedding, dan convolute dengan penjelasan lapisan sebagai
berikut (lampiran 5) :
1.) Lokasi Pengamatan 43
114

Pada lapisan pertama didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna hitam, ukuran butir pasir sangat kerakal kasar (128 1/2 mm), menyudut
membundar tanggung, terpilah buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa andesit,
matriks berupa pasir kasar, dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa
perlapisan bersusun (graded bedding).
Pada lapisan kedua didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran kasar (1/2 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,matriks pasir
sedang dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lintasan ini memiliki memiliki corak yaitu penipisan ke arah atas.
2.) Lokasi Pengamatan 42
Pada lapisan pertama didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sangat kasar kasar (1 1/2 mm), menyudut
membundar tanggung, terpilah buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa andesit,
matriks berupa pasir kasar, dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa
perlapisan bersusun (graded bedding).
Pada lapisan kedua didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran kasar (1/2 mm), fragmen kuarsa, plagioklas dan hornblende, matrik
pasir sedang, dan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan ketiga didapatkan batupasir sedang dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran sedang (1/4 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen silika, dan
memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan keempat didapatkan batupasir dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran halus (1/8 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen silika, dan
memiliki struktur sedimen berupa laminasi.
3.) Lokasi Pengamatan 38
Pada lapisan pertama didapatkan batupasir sedang dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran sedang (1/4 mm), fragmen kuarsa dan plagioklas, dengan semen
silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan kedua didapatkan batupasir dengan jenis klastik berwarna coklat,
ukuran halus (1/8 mm), fragmen kuarsa dan hornblende,dengan semen silika, dan memiliki
struktur sedimen berupa laminasi.
Pada lapisan ketiga didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna hitam,
ukuran butir lempung ( 1/256 mm), dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
115

Pada lapisan keempat didapatkan batupasir vulkanik dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir kerikil - sangat kasar (2 1 mm), menyudut membundar
tanggung, terpilah buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa andesit, matriks berupa
pasir kasar, dengan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan bersusun
(graded bedding).
Pada lapisan kelima didapatkan batupasir sedang dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran sedang (1/4 mm), fragmen kuarsa dan plagioklas, matrik mineral
lempung, dan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Pada lapisan keenam didapatkan batupasir dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran halus (1/8 mm), fragmen kuarsa dan plagioklas,matrik mineral lempung semen
silika, dan memiliki struktur sedimen berupa convolute.
Pada lapisan ketujuh didapatkan batupasir dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran sangat halus (1/16 mm), fragmen kuarsa dan plagioklas,matrik mineral
lempung semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa laminasi.
Pada lapisan kedelapan didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna
putih, ukuran butir lempung ( 1/256 mm), dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan
sejajar.
Sedangkan pada lapisan kesembilan didapatkan batupasir vulkanik dengan
jenis klastik berwarna coklat, ukuran kasar (1/2 mm), fragmen kuarsa, dan plagioklas, matrik
pasir sedang, dan semen silika, dan memiliki struktur sedimen berupa perlapisan sejajar.
Interpretasi Fasies
Interpretasi fasies pada lintasan ini dilakukan berdasarkan dari 3 acuan peneliti
terdahulu yaitu menurut Bouma (1962), Mutti (1992), dan Walker (1978).
Berdasarkan pada konsep Bouma (1962).
Pada lintasan ini terlihat adanya kenampakan struktur sedimen yang
mencirikan adanya pengaruh arus turbidit sesuai dengan konsep sikuen Bouma yaitu adanya
perlapisan bersusun batupasir dengan struktur sedimen graded bedding (T-a), batupasir
sedang dengan struktur perlapisan (T-b) yang menandakan terjadinya rezim aliran atas, pasir
halus dengan struktur convolute (T-c), Batupasir dengan struktur sedimen laminasi (T-d), dan
lempung dengan struktur perlapisan sejajar (T-e) sebagai interval terakhir atau interval paling
atas di dalam sikuen Bouma Lp 38. Sedangkan pada Lp 42 dan Lp 43 walaupun tidak
didapatkan interval bouma lengkap, tapi dapat dinterpretasikan sebagai fasies Classical
Turbidite (CT). Hal ini bisa saja terjadi dikarenakan sistem pengendapan yang saling
116

menyilang antar sikuen sehingga kemungkinan hilangnya interval dalam satu paket lengkap
sikuen Bouma terjadi.
Struktur sedimen yang terbentuk pada lintasan ini cukup kuat untuk
membuktikan bahwa litologi pada lintasan ini diendapakan dengan arus turbidit jika dilihat
dan dianalisa menggunakan konsep Bouma karena semua interval pada sikuen Bouma
ditemukan pada lintasan 38 ini.
Berdasarkan pada konsep Mutti (1992).
Lintasan Sendowo Lor termasuk kedalam Fine Grain fasies (FGF) yaitu
masuk ke dalam fasies F9a yang didominsi oleh endapan berukuran pasir halus lempung
yang didukung dengan munculnya sikuen bouma lengkap dan berasosiasi dengan fasies
clasical turbidite, walaupun didapatkan lapisan yang memiliki ukuran butir pasir kasar
merupakan salah satu penciri dari Fine Grain Facies (FGF ) yang merupakan produk dari
low density turbidity current (LDTC).
Berdasarkan pada konsep Walker (1978)
Pada profil lintasan Sendowo Lor pada Lp 38, Lp 42, dan LP 43 ini
memperlihatkan adanya kenampakan struktur sedimen penciri adanya gejala turbidit yaitu
interval Bouma yang lengkap (Ta Te) yang menunjukkan bahwa lintasan ini masuk
kedalam fasies classical turbidite (CT), selain itu sebagai penciri lainnya adalah corak
penebalan ke arah atas yang merupakan salah satu ciri ciri fasies Classical Turbidite.
Dari keseluruhan hasil analisa diatas, maka penulis dapat menginterpretasikan
bahwa lintasan Sendowo Lor ini diendapkan pada suatu komplek kipas bawah, pada bagian
smooth portion of suprafan lobes on mid fan (Walker, 1978).
Dapat terlihat bahwa pada lintasan ini batupasir yang diendapkan merupakan
batupasir yang berasal atau bersumber dari aktifitas vulkanik yang dikuatkan dengan
ditemukannya material material vulkanik seperti kuarsa, hornblende, dan mineral lainnya
yang bersumber dari aktifitas vulkanik.







117
















Gambar 4.11. Menunjukkan beberapa struktur dan litologi pada lintasan Sendowo Lor.
4.2.1.3 Profil Lintasan Seropan
Lokasi
Lintasan profil pada lokasi ini terbagi menjadi 3 lokasi pengamatan yaitu Lp
31, Lp 27 dan Lp 26 yang terletak didaerah Seropan yang berada pada bagian timur - selatan
pada daerah penelitian, dengan koordinat X: 455680, Y: 9127898, X: 455296, Y: 9127919,
dan X: 454819, Y: 9128385
Litologi
Lintasan profil ini, berada pada Satuan Batupasir Formasi Sambipitu dengan
tebal total 4,521 m dengan litologi penyusunnya berupa perlapisan batupasir gampingan
dengan sisipan berupa batulempung dengan beberapa kenampakan struktur sedimen adalah
perlapisan, laminasi, gradded bedding, convolute, dan slump pada litologi batugamping (Lp
31),(lampiran 6) :
1 ). Lokasi Pengamatan 31
Pada lapisan atas batupasir Sambipitu ini terdapat kontak dengan litologi
batugamping Oyo yang berwarna putih,struktur sedimen slump ,memiliki ukuran butir arenit
( pasir sedang 1/4 mm),butiran membundar tanggung,terpilah buruk dengan kemas tertutup
serta memiliki komposisi berupa Alochem: pecahan cangkang, Mikrit :lumpur karbonat,
Sparit: kalsit.
118

Pada lapisan kedua didapatkan batugamping berwarna putih, struktur sedimen
perlapisan sejajar, memiliki ukuran butir arenit ( pasir halus 1/8 mm), butiran membundar,
terpilah buruk dengan kemas terbuka serta memiliki komposisi berupa Alochem: pecahan
cangkang, Mikrit :lumpur karbonat, Sparit: kalsit.
Pada lapisan ketiga didapatkan batugamping berwarna putih, struktur sedimen
perlapisan sejajar, memiliki ukuran butir arenit ( pasir sedang 1/4 mm), butiran membundar
tanggung, terpilah buruk dengan kemas tertutup serta memiliki komposisi berupa Alochem:
pecahan cangkang, Mikrit :lumpur karbonat, Sparit: kalsit.
Pada lapisan keempat didapatkan batugamping berwarna putih, struktur
sedimen perlapisan sejajar, memiliki ukuran butir arenit ( pasir halus 1/8 mm), butiran
membundar tanggung, terpilah baik dengan kemas tertutup serta memiliki komposisi berupa
Alochem: pecahan cangkang, Mikrit :lumpur karbonat, Sparit: kalsit.
Pada lapisan kelima didapatkan batugamping berwarna putih, struktur sedimen
bioturbasi, memiliki ukuran butir arenit ( pasir sedang 1/4 mm), butiran membundar, terpilah
baik dengan kemas tertutup serta memiliki komposisi berupa Alochem: pecahan fosil, Mikrit
:lumpur karbonat, Sparit: kalsit.
Pada lapisan keenam didapatkan batugamping berwarna putih, struktur
sedimen bioturbasi, memiliki ukuran butir arenit ( pasir halus 1/8 mm), butiran membundar,
terpilah baik dengan kemas tertutup serta memiliki komposisi berupa Alochem: pecahan
cangkang, Mikrit :lumpur karbonat, Sparit: kalsit.
Pada lapisan ketujuh didapatkan batugamping berwarna putih, struktur
sedimen flute cast, memiliki ukuran butir arenit ( pasir kasar 1/2 mm), butiran membundar,
terpilah baik dengan kemas tertutup serta memiliki komposisi berupa Alochem: pecahan
cangkang, Mikrit :lumpur karbonat, Sparit: kalsit.
Dari keempat lapisan ini menunjukkan corak perselingan antara kalkarenit
sedang halus, dan memiliki total ketebalan 2,128 m.
2 ). Lokasi Pengamatan 27
Pada lapisan pertama didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sangat kasar - kasar (1 1/2 mm), menyudut, terpilah
buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa hornblende dan kuarsa, matriks berupa pasir
halus, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen berupa graded bedding.
Pada lapisan kedua didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir kasar (1/2 mm), menyudut, terpilah buruk, kemas terbuka,
119

memiliki fragmen berupa plagioklas dan kuarsa, matriks berupa pasir halus, dengan semen
karbonat, dan memiliki struktur sedimen perlapisan sejajar.
Pada lapisan ketiga didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sedang (1/4 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa plagioklas dan kuarsa, matriks berupa pasir halus,
dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen convolute.
Pada lapisan keempat didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir halus (1/8 mm), membundar, terpilah buruk, kemas
terbuka, memiliki fragmen berupa hornblende, plagioklas, dan kuarsa, matriks berupa
lempung, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen laminasi.
Dari keseluruhan lapisan yang ada menunjukkan corak penipisan ke
arah atas. Dengan total ketebalan 0,725 m.
3.) Lokasi Pengamatan 26
Pada lapisan pertama didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir halus (1/4 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa hornblende dan kuarsa, matriks berupa mineral
lempung, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen perlapisan sejajar.
Pada lapisan kedua didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sangat halus (1/8 mm), membundar tanggung, terpilah
buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa plagioklas, dan kuarsa, matriks berupa
lempung, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen laminasi.
Pada lapisan ketiga didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna coklat,
ukuran butir lempung ( <1/256 mm), dan memiliki struktur sedimen berupa pelapisan sejajar.
Pada lapisan keempat didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sangat sedang - halus (1/4 1/8 mm), menyudut, terpilah
buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan plagioklas, matriks berupa
mineral lempung, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen berupa graded
bedding.
Pada lapisan kelima didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir halus (1/8 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan plagioklas, matriks berupa pasir sangat
halus, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen perlapisan sejajar.
120

Pada lapisan keenam didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sedang (1/4 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan hornblende, matriks berupa pasir halus,
dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen perlapisan sejajar.
Pada lapisan ketujuh didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir halus (1/8 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan plagioklas, matriks berupa pasir mineral
lempung, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen ripple.
Pada lapisan kedelapan didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna hitam, ukuran butir pasir sangat halus (1/16 mm), membundar tanggung, terpilah
buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan plagioklas, matriks berupa pasir
mineral lempung, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur laminasi.
Pada lapisan kesembilan didapatkan lempung dengan jenis klastik berwarna
coklat, ukuran butir lempung ( <1/256 mm), dan memiliki struktur sedimen berupa pelapisan
sejajar.
Pada lapisan kesepuluh didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sangat kasar - sedang (1/2 1/4 mm), menyudut, terpilah
buruk, kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan hornblende, matriks berupa pasir
halus, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen berupa graded bedding.
Pada lapisan kesebelas didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sedang (1/4 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan plagioklas, matriks berupa pasir halus,
dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen perlapisan sejajar.
Pada lapisan keduabelas didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir halus (1/8 mm), membundar tanggung, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa dan plagioklas, matriks berupa mineral
lempung, dengan semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen cross bedding.
Pada lapisan ketigabelas didapatkan batupasir gampingan dengan jenis klastik
berwarna coklat, ukuran butir pasir sangat halus (1/16 mm), membundar, terpilah buruk,
kemas terbuka, memiliki fragmen berupa kuarsa, matriks berupa mineral lempung, dengan
semen karbonat, dan memiliki struktur sedimen laminasi.
Dari keseluruhan lapisan yang ada, secara garis besar menunjukkan corak penebalan
ke arah atas. Walaupun pada tiap paket sikuen memiliki corak penipisan ke arah atas, lapisan
121

lapisan ini memiliki corak umum menebal ke atas (thick up) dengan total ketebalan 1,668
m.
Interpretasi Fasies
Interpretasi fasies pada lintasan ini dilakukan berdasarkan dari 3 acuan peneliti
terdahulu yaitu menurut Bouma (1962), Mutti (1992), dan Walker (1978).
Berdasarkan pada konsep Bouma (1962).
Pada lintasan ini terlihat adanya kenampakan struktur sedimen yang
mencirikan adanya pengaruh arus turbidit sesuai dengan konsep sikuen Bouma yaitu adanya
perlapisan bersusun batupasir dengan struktur sedimen graded bedding (T-a), batupasir
sedang dengan struktur perlapisan (T-b) yang menandakan terjadinya rezim aliran atas, pasir
halus dengan struktur convolute, ripple, cross bedding (T-c), Batupasir dengan struktur
sedimen laminasi (T-d), dan lempung dengan struktur perlapisan sejajar (T-e) sebagai interval
terakhir atau interval paling atas di dalam sikuen Bouma Lp 26 dan Lp 27. Sedangkan pada
Lp 31 tidak didapatkan interval bouma, sehingga pada Lp 31 ini tidak dapat dimasukkan ke
dalam model fasies Classical Turbidite ( CT ).
Struktur sedimen yang terbentuk pada lintasan ini cukup kuat untuk
membuktikan bahwa litologi pada lintasan ini diendapkan dengan arus turbidit jika dilihat
dan dianalisa menggunakan konsep Bouma karena semua interval pada sikuen Bouma
ditemukan pada lintasan Lp 26 dan 27 ini.

Berdasarkan pada konsep Mutti (1992).
Lintasan Seropan termasuk kedalam Fine Grain fasies (FGF) yaitu masuk ke
dalam fasies F9a yang didominasi oleh endapan berukuran pasir halus lempung yang
didukung dengan munculnya sikuen bouma lengkap dan berasosiasi dengan fasies clasical
turbidite, walaupun didapatkan lapisan yang memiliki ukuran butir pasir kasar merupakan
salah satu penciri dari Fine Grain Facies (FGF ) yang merupakan produk dari low density
turbidity current (LDTC).
Berdasarkan pada konsep Walker (1978)
Pada profil lintasan Seropan pada Lp 26, Lp 27 ini memperlihatkan adanya
kenampakan struktur sedimen penciri adanya gejala turbidit yaitu interval Bouma yang
lengkap (Ta Te) yang menunjukkan bahwa lintasan ini masuk kedalam fasies classical
122

turbidite (CT), selain itu sebagai penciri lainnya adalah corak penebalan ke arah atas yang
merupakan salah satu ciri ciri fasies Classical Turbidite.
Sedangkan pada LP 31 menunjukkan perselingan kalkarenit ( sedang halus ),
disertai struktur slump dan adanya struktur sedimen bioturbasi penciri endapan shelf.
Sehingga pada lapisan ini dapat dimasukkan ke dalam fasies Slump (SL) dan Massive
Sandstone (MS).
Dari keseluruhan hasil analisa diatas, maka penulis dapat menginterpretasikan
bahwa lintasan Seropan ini diendapkan pada suatu komplek kipas bawah komplek kipas
atas, pada bagian smooth to channelled of suprafan lobes on mid fan, channelled portion of
suprafan lobes on mid fan, dan upper fan channel fill (Walker, 1978).
Dapat terlihat bahwa pada lintasan ini batupasir yang diendapkan merupakan
batupasir yang berasal atau bersumber dari aktifitas vulkanik yang dikuatkan dengan
ditemukannya material material vulkanik seperti kuarsa, hornblende, dan mineral lainnya
yang bersumber dari aktifitas vulkanik dan semen yang berasal dari percampuran endapan
sedimen karbonat, sehingga pada batupasir tersebut didapatkan batupasir gampingan.
Sedangkan pada batugamping ini merupakan hasil dari endapan klastik pada
daerah shelf dimana aktifitas terumbu sudah banyak. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan
muka air laut secara berangsur pada batugamping, ditunjukkan dari adanya struktur slump
pada lapisan paling tua dan berangsur menjadi perlapisan sejajar.















123

Gambar 4.12. Menunjukkan beberapa struktur dan litologi pada lintasan Seropan.
4.2.1.4 Lintasan Terukur (Measuring Section) Ngalang
Lokasi
Lintasan pada lokasi ini terdapat di sepanjang sungai Ngalang yang memotong
bagian tengah daerah telitian dari utara selatan.

Litologi
Lintasan ini menunjukkan adanya 4 satuan batuan dengan 4 formasi yang
berbeda dari tua ke muda, yaitu: Batupasir Semilir, Breksi Nglanggran, Batupasir Sambipitu,
dan Batugamping Oyo (lampiran 7) :
1 ). Batupasir Sambipitu
Dari hasil analisa profil, maka didapatkan data sebagai berikut, :
- Dilihat dari fasies yang ada pada Lintasan Terukur ini, maka dapat
disimpulkan bahwa batupasir pada daerah Lintasan Terukur ini, dicirikan oleh fasies pebbly
sandstone, fasies massive sandstone, dan fasies classical turbidites. Formasi Sambipitu
sendiri terendapkan pada lingkungan pengendapan (Suprafan Lobes On Middle Fan (
Channelled Portion of Suprafan Lobes, Smooth To Channeled, dan Smooth Portion of
Suprafan Lobes) ,Walker, 1978).
( Lampiran 7 ).














124

















Gambar 4.13. Hasil interpretasi lingkungan pengendapan Batupasir Sambipitu pada Suatu
Kipas Bawah Laut (Walker, 1978).
















125

BAB 5
POTENSI GEOLOGI

Potensi geologi ialah kemampuan alam untuk dapat menghasilkan suatu produk dari
hasil proses proses geologi yang bekerja, baik produk yang dapat menimbulkan dampak
manfaat (positif) maupun juga produk yang dapat menimbulkan kerugikan (negatif) bagi
umat manusia. Berdasarkan kedua aspek manfaat diatas maka potensi geologi pada daerah
telitian dapat dibagi seperti dibawah ini.
5.1. Potensi Positif

5.1.1. Batupasir Sambipitu
Satuan Batupasir Sambipitu yang terdapat pada daerah telitian telah dimanfaatkan
dengan baik oleh penduduk sekitar karena keterdapatannya sangat mudah ditemukan dan
dimanfaatkan. Batupasir ini dapat secara langsung dimanfaatkan dan banyak dilakukan
penambangan secara tradisional, batupasir jenis ini sangat umum digunakan sebagai bahan
pembuatan pondasi bangunan selain batugamping karena memiliki resistensi yang kuat dan
keras selain itu memiliki sebaran yang cukup luas pada daerah telitian yakni 30 % dari daerah
telitian.











Foto 5.1. Area penambangan batupasir Sambipitu yang akan dimanfaatkan sebagai bahan
bangunan.Foto diambil oleh Andro pada cuaca cerah, lensa menghadap selatan.
5.1.2. Satuan Batupasir Semilir
Satuan Batupasir Semilir yang terdapat pada daerah telitian telah dimanfaatkan
dengan baik oleh penduduk sekitar karena keterdapatannya sangat mudah ditemukan dan
126

dimanfaatkan.Batupasir vulkanik ini dapat secara langsung dimanfaatkan dan banyak
dilakukan penambangan secara tradisional, batupasir jenis ini sangat umum digunakan
sebagai bahan pembuatan pondasi bangunan karena memiliki resistensi yang cukup baik.














Foto 5.2. Area penambangan Satuan Batupasir Semilir yang akan dimanfaatkan sebagai
bahan bangunan. Foto diambil oleh penulis pada cuaca cerah, lensa menghadap Timur.
5.2. Potensi Negatif
5.2.1. Gerakan Tanah
Tingkat curah hujan yang tinggi pada daerah telitian menyebabkan tingkat
pelapukan yang tinggi, sehingga pada litologi litologi yang kurang resisten dengan sudut
kelerengan yang besar dan dilalui oleh zona sesar dapat berpotensi menimbulkan adanya
gerakan tanah. Pada daerah telitian gerakan tanah dijumpai pada derah telitian yaitu pada
Satuan Batupasir Semilir.
Pada satuan batupasir Vulkanik Semilir terjadi jenis gerakan tanah berupa rockfall .








127














Foto 5.3. Gerakan tanah tipe rockfall yang terjadi pada daerah telitian.


.

















128

BAB 6
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan pada beberapa bab sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Jenis pola pengaliran yang berkembang pada daerah penelitian, yaitu pola
pengaliran subdendritik.
2. Secara geomorfik, daerah penelitian dibagi menjadi dua satuan bentukan asal, yaitu
:
a) Bentukan asal struktural ( S ) ,yang terbagi atas 3 satuan geomorfik,yaitu :
1. Sub satuan perbukitan homoklin ( S1 ).
2. Sub satuan dataran homoklin ( S2 ).
3. Sub satuan lembah homoklin ( S3 ).
b) Bentukan asal fluvial ( F ) ,yang terbagi atas 2 sub satuan geomorfik,yaitu:
1. Sub satuan geomorfik tubuh sungai ( F1 ).
2. Sub satuan dataran banjir ( F2 ).
3. Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian ada 3 macam yaitu sesar
mendatar kiri dan sesar mendatar kanan, struktur sesar mendatar kiri ditunjukkan dengan bidang
sesar di Kali Juwet pada daerah penelitian, sedangkan struktur sesar mendatar kanan didapatkan
indikasi berupa bidang sesar pada daerah Gambirsawit dan juga beberapa kekar sehingga dapat
dianalisa dan sesar ini memiliki arah hampir barat laut tenggara. Sedangkan sesar mendatar kiri
Padangan didapatkan dari adanya pola kelurusan kontur yang membentuk suatu gawir sesar pada
barat daerah telitian.
4. Pada daerah telitian didapatkan empat satuan batuan dari tua kemuda yaitu Satuan
Batupasir Semilir yang berumur Miosen Awal yang terendapkan pada lingkungan laut dalam, satuan
ini terendapkan selaras dibawah satuan breksi Nglanggran. Kemudian Satuan Breksi Nglanggran yang
berumur Miosen Awal terendapkan pada lingkungan laut terbuka, dibuktikan dengan adanya pillow
lava. Kemudian terdapat Satuan Batupasir Sambipitu berumur Miosen tengah yang terendapkan
secara selaras diatas Satuan Breksi Nglanggran dan Satuan Batupasir Semilir. Setelah terbentuk
Satuan Batupasir Sambipitu, secara selaras diendapkan Satuan Batugamping Oyo. Pada daerah
penelitian tidak berkembang lagi formasi yang lainnya, namun pada kala Holosen atau pada saat ini
terjadi proses pengerosian yang cukup tinggi hingga kemudian menghasilkan endapan Aluvial Satuan
Pasir lepas disepanjang aliran sungai Oyo pada daerah penelitian.
129

5. Dari hasil analisa pada beberapa lintasan profil di daerah penelitian, maka Satuan
Batupasir Sambipitu merupakan fasies endapan turbidit:
o Dibagian barat daerah telitian berkembang fasies Smooth to channelled portion of
suprafan lobes (Walker,1978) yang dicirikan adanya penebalan dan penipisan ke arah atas, terdapat
asosiasi dengan classical turbidites (CT), pebbly sandstone (PS) yang dicirikan dengan munculnya
sikuen Bouma(1962) yang lengkap dan litologi penyusunnya, daerah telitian ini didominasi oleh dua
lithofacies yaitu F6 dan F9a, yang umumnya terbentuk pada daerah mid fan (konsep Mutti, 1992).
o Pada bagian tengah dan tenggara daerah penelitian berkembang fasies smooth
portion of suprafan lobes (Walker,1978), yang dicirikan dengan adanya penebalan ke arah atas,
terdapat asosiasi classical turbidite (CT) yang dicirikan dengan munculnya sikuen Bouma(1962) yang
lengkap dan litologi penyusunnya, daerah telitian ini didominasi oleh satu lithofacies yaitu F9a, yang
umumnya terbentuk pada daerah mid fan (konsep Mutti, 1992).
o Sedangkan pada lintasan terukur dapat disimpulkan bahwa batupasir pada daerah
ini, dicirikan oleh fasies pebbly sandstone, fasies massive sandstone, dan fasies classical turbidites.
Formasi Sambipitu sendiri terendapkan pada lingkungan pengendapan (Suprafan Lobes On Middle
Fan ( Channelled Portion of Suprafan Lobes, Smooth To Channeled, dan Smooth Portion of Suprafan
Lobes) ,Walker, 1978).

6. Untuk pemanfaataan potensi geologi daerah telitian terdapat beberapa potensi
positif dan juga beberapa potensi negatif diantaranya :
Potensi positif
1. Pemanfaatan Satuan Batupasir Semilir dan Sambipitu yang cukup tebal sebagai
produk bahan bangunan atau pondasi.
Potensi negatif
1. Adanya ketidaksetabilan kemiringan lereng yang memicu terjadinya tanah longsor
pada daerah telitian.








130

DAFTAR PUSTAKA

Asikin, S., 1976, Geologi Struktur Indonesia, Departemen Teknik Geologi ITB, Bandung,
Indonesia.

Barker, R. Wright., 1960, Taxonomic Notes, Society of Economic Paleontologists and
Mineralogist, Tulsa, Oklahoma, U.S.A.

Bemmelen, R.W. 1949, van., The Geology of Indonesia, vol IA, 2
nd
ed, The Haque Martinus
Nijhoff, Netherlands.

Blow, M. D., 1969, Late Middle Eocene to Recent Planktonic Foraminiferal Biostratigraphy,
International Conference Planktonic Microfossils, First Eddition, Genova, Proc. Leiden E. J.
Bull. Vol. I, p. 199 422.

Dunham, R. J., 1962, Classification of Carbonate Rock According to Depositional Texture,
In Han, W. E. (ed) 1962, Classification of Carbonate Rock, AAPG, Bull. Men 1, p. 108
121.

Harahap, Bhakti H., Syaiful Bachri, Dkk, 2003 , Stratigraphic Lexicon of Indonesia,
Geological Research And Development Centre.

Hartono, Gendoet,2010, Peran Paleovolkanisme Dalam Tataan Produk Batuan Gunung
Api Tersier Di Gunung Gajahmungkur, Wonogiri, Jawa Tengah Program
Pascasarjana,Universitas Padjadjaran Bandung.

Koesoemadinata,R.P, 1980, Prinsip Prinsip Sedimentasi, Bandung, Penerbit ITB.

Prasetyadi,C., Sutarto., dan Pratiknyo,P., 2010, Geologi Daerah Subduksi Zaman Kapur
Tepi Tenggara Paparan Sunda, Panduan Ekskursi Besar Geologi 2010 UPNVYK,
Yogyakarta.

131

Sudarno,IGN,1997,Kendali Tektonik Terhadap Pembentukan Struktur Pada Batuan
Paleogen Dan Neogen Di Pegunungan Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta Dan
Sekitarnya, Bandung, Tesis Magister Program Studi Geologi Program Pascasarjana Institut
Teknologi Bandung.

Walker, R.G., 1978, Facies Models, Geological Association of Canada, Toronto.

Mutti, E, 1992, Turbidites Sandstones, Universitas de Parma Italy






132

133


134


135

136

137