Anda di halaman 1dari 134

PEDOMAN

PENYUSUNAN ATURAN POLA


PEMANFAATAN RUANG
(ZONING REGULATION)








Tahun 2004
















Penyusun:
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah


TIM PENYUSUN


Nama Lembaga
1. Ir. Ruchyat Deni Dj.,M.Eng Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
2. Dra. Lina Marlia CES Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
3. Ir. Firman Napitupulu, MURP Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
4. Ir. Eko Yuli Soeprapto, MSc. Direktorat Pengembangan Kawasan,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
5. Ir. Iman Soedradjat, MPM Direktorat Penataan Ruang Wilayah Barat,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
6. Ir. Harry Djauhari, CES Direktorat Penataan Ruang Wilayah Timur,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
7. Ir. Bahal Edison, MT Direktorat Penataan Ruang Wilayah Barat,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
8. Ir. Tonno Supranoto, CES Bagian Hukum dan Umum,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
9. Endra Saleh, ST, MSc. Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
10. Eko Budi K., ST, MSc. Direktorat Penataan Ruang Wilayah Barat,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
11. Ir. Dwi Hariawan, MSc. Direktorat Penataan Ruang Wilayah Barat,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
12. Drs. Kristianto Solaiman Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
13. Ir. J ames Siahaan, MA Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
14. Indira P. Warpani, ST Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang
15. Sri Nurnaeni, ST Direktorat Penataan Ruang Nasional,
Direktorat J enderal Penataan Ruang

Daftar Isi

i
i
KATA PENGANTAR

Dalam rangka mempercepat keberhasilan penyelenggaraan
desentralisasi, pemerintah pusat terus berupaya memenuhi
kewajibannya dalam menyusun NSPM (Norma, Standar, Pedoman,
Manual).
Buku Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning
Regulation) Kawasan Perkotaan ini merupakan salah satu produk
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah di dalam
melaksanakan kewajiban tersebut.
Pedoman ini merupakan acuan operasionalisasi RTRW Kabupaten/Kota
maupun Rencana Detail Tata Ruang dan sebagai pelengkap standar
teknis dalam pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
kawasan perkotaan.
Segala masukan, saran dan kritik dalam rangka penyempurnaan
pedoman ini akan sangat kami hargai. Kiranya upaya fasilitasi ini tidak
selesai dengan terbitnya pedoman ini, namun terus diupayakan
perbaikan melalui uji coba dan penyebarluasan kepada semua pihak
yang terkait dengan penataan ruang di kawasan perkotaan
Akhirnya kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan
pedoman ini, kami mengucapkan terima kasih.

Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah
Direktur J enderal Penataan Ruang




J unius Hutabarat
NIP. 110019875


Daftar Isi

ii
ii

DAFTAR ISI




Kata Pengantar .................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................. ii
Daftar Lampiran....................................................................... v
Daftar Tabel ............................................................................ vi
Daftar Gambar ........................................................................ vii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..................................................I 1
1.2 Maksud, Tujuan, dan Sasaran ............................I 2
1.2.1 Maksud ....................................................I 2
1.2.2 Tujuan .....................................................I 2
1.2.3 Sasaran ...................................................I 2
1.3 Ruang Lingkup Pedoman ...................................I 2
1.4 Manfaat Pedoman .............................................I 3
1.5 Sistematika Pedoman ........................................I 3

BAB 2 KETENTUAN UMUM
2.1 Pengertian.........................................................II 1
2.2 Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning
Regulation) dalam Pembangunan Kota................II 3
2.3 Dasar Hukum.....................................................II 5
2.4 Tujuan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang..............II 5
2.5 Kedudukan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Dalam Penataan Ruang......................................II 5

BAB 3 MATERI ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG
(ZONI NG REGULATI ON)
3.1 Tipologi Zona...................................................III 1
3.1.1 Kawasan dan Zona.................................III 2
3.1.1.1 Kawasan Permukiman..............III 4
3.1.1.2 Kawasan Perdagangan dan
J asa .......................................III 6
3.1.1.3 Kawasan Industri ....................III 9
Daftar Isi

iii
iii
3.1.1.4 Kawasan Ruang Terbuka..........III 11
3.2 Norma Zona.....................................................III 12
3.2.1 Kawasan Permukiman.............................III 12
3.2.2 Kawasan Perdagangan dan J asa..............III 13
3.2.3 Kawasan Industri....................................III 13
3.2.4 Kawasan Ruang Terbuka.........................III 14
3.3 Kriteria Zona ........................................III 14
3.3.1 Kawasan Permukiman ............................III 14
3.3.2 Kawasan Perdagangan dan J asa..............III 16
3.3.3 Kawasan Industri....................................III 16
3.3.4 Kawasan Ruang Terbuka.........................III 17
3.4 Ketentuan Penggunaan Kawasan......................III 19
3.4.1 Kawasan Permukiman ..........................III 19
3.4.1.1 Identifikasi Paket Penggunaan
Kawasan Permukiman .............III 19
3.4.1.2 Peraturan Penggunaan Kawasan
Permukiman ...........................III 20
3.4.1.3 Peraturan Penggunaan Tambahan
Kawasan Permukiman .............III 20
3.4.1.4 Peraturan Penyediaan Fasilitas
Lingkungan Permukiman........ III 21
3.4.1.5 Peraturan Teknis Pembangunan
Kawasan Permukiman .............III 21
3.4.2 Kawasan Perdagangan dan J asa............III 22
3.4.2.1 Identifikasi Paket Penggunaan
Kawasan Perdagangan dan
J asa........................................III 22
3.4.2.2 Peraturan Penggunaan Kawasan
Perdagangan dan J asa.............III 23
3.4.2.3 Peraturan Teknis Pembangunan
Kawasan Perdagangan dan
J asa .......................................III 23
3.4.3 Kawasan Industri .................................III 25
3.4.3.1 Identifikasi Paket Penggunaan
Kawasan Industri ....................III 25
3.4.3.2 Peraturan Penggunaan Kawasan
Industri ..................................III 25
3.4.3.3 Peraturan Penggunaan Tambahan
Kawasan Industri ....................III 26
3.4.3.4 Peraturan Teknis Pembangunan
Kawasan Industri ....................III 28
3.4.4 Kawasan Ruang Terbuka ......................III 29
3.4.4.1 Identifikasi Paket Penggunaan
Daftar Isi

iv
iv
Kawasan Ruang Terbuka .........III 29
3.4.4.2 Peraturan Penggunaan Kawasan
Ruang Terbuka .......................III 30
3.4.4.3 Peraturan Teknis Pembangunan
Kawasan Ruang Terbuka .........III 30


BAB 4 PROSES PENETAPAN ATURAN POLA PEMANFAATAN
RUANG (ZONING REGULATION)
4.1 Kondisi Awal ........................................IV 1
4.2 Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang ........................................IV 2
4.2.1 Persiapan ........................................IV 2
4.2.2 Pengumpulan Data/Informasi dan
Analisa ........................................IV 2
4.2.3 Perumusan Rancangan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang .............................IV 5
4.2.4 Pembahasan Rancangan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang..............................IV 5
4.2.5 Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang ........................................IV 5
4.3 Muatan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang...........IV 6
4.4 Pemanfaatan ..................................................IV 10
4.5 Pengendalian ..................................................IV 11
4.6 Peninjauan Kembali..........................................IV 11


BAB 5 KELEMBAGAAN
5.1 Kewenangan Penyusunan dan Penetapan
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.......................V 1
5.1.1 Kewenangan Penyusunan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang..............................V 1
5.1.2 Kewenangan Penetapan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang..............................V 2
5.2 Peran Serta Masyarakat ...................................V 4
5.2.1 Hak dan Kewajiban...............................V 4
5.2.2 Bentuk Peran Serta Masyarakat .............V 5
5.2.3 Sosialisasi Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang ........................................V 5




Daftar Isi

v
v



DAFTAR LAMPIRAN



LAMPI RAN 1 Peraturan Penggunaan pada Kawasan Permukiman

LAMPI RAN 2 Peraturan Teknis Pembangunan pada Kawasan
Permukiman

LAMPI RAN 3 Peraturan Penggunaan pada Kawasan Perdagangan
dan J asa

LAMPI RAN 4 Peraturan Teknis Pembangunan pada Kawasan
Perdagangan dan J asa

LAMPI RAN 5 Peraturan Penggunaan pada Kawasan Industri

LAMPI RAN 6 Peraturan Teknis Pembangunan pada Kawasan
Industri

LAMPI RAN 7 Peraturan Penggunaan pada Kawasan Ruang Terbuka

LAMPI RAN 8 Peraturan Teknis Pembangunan pada Kawasan Ruang
Terbuka

LAMPI RAN 9 Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

LAMPIRAN 10 Contoh Paket Penggunaan Lahan

LAMPIRAN 11 Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang



Daftar Isi

vi
vi

DAFTAR TABEL


Tabel III.1 Pembagian Kawasan dan Paket PenggunaannyaIII 33





























Daftar Isi

vii
vii

DAFTAR GAMBAR



Gambar 2.1 Keterkaitan Penataan Ruang secara Fungsi Utama
dan Administratif ...........................................II 4

Gambar 2.2 Kedudukan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning
Regulation) dalam Penataan Ruang Kota ........II 6
Gambar 3.1 Contoh Perumahan Taman.............................III 4
Gambar 3.2 Contoh Perumahan Renggang .......................III 5
Gambar 3.3 Contoh Perumahan Deret...............................III 5
Gambar 3.4 Contoh Rumah Susun (1) ...............................III 6
Gambar 3.5 Contoh Rumah Susun (2) ...............................III 6
Gambar 3.6 Contoh Zona Pemerintah................................III 7
Gambar 3.7 Contoh Zona Komersial Perkantoran ...............III 8
Gambar 3.8 Contoh Zona Komersial Pertokoan ..................III 8
Gambar 3.9 Contoh Zona Komersial Sentra........................III 9
Gambar 3.10 Contoh Zona Industri Taman .........................III 10
Gambar 3.11 Contoh Zona Industri Ringan .........................III 11
Gambar 3.12 Contoh Zona Industri Berat ............................III 12
Gambar 3.13 Contoh Zona Industri Perpetakan Kecil............III 13
Gambar 3.14 Contoh Ruang Terbuka Hijau Binaan...............III 13
Gambar 3.15 Contoh Ruang Terbuka Tata Air......................III 14
Gambar 4.1 Lingkup Kegiatan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang Kawasan Perkotaan.............................IV 4
Gambar 5.1 Bagan Instansi Penyusun Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang.......................................V 3
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
BAB 1
PENDAHULUAN



1.1 LATAR BELAKANG



ekanisme pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah
dititikberatkan pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sebagaimana
ditetapkan dalam UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.
Karena itu, Pemerintah Daerah adalah pelaksana utama pembangunan,
termasuk melaksanakan penataan ruang kota.
Berdasarkan UU No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan UU
No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, masing-masing
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota telah menyusun Rencana Tata
Ruang Kawasan Perkotaan. Untuk dapat mengefektifkan
pelaksanaannya, diperlukan suatu Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
(Zoning Regulation) sebagai alat operasional rencana tata ruang.
Untuk membantu Pemerintah Kota dalam mengelola Kawasan
Perkotaan, diperlukan suatu pedoman sebagai rujukan teknis, yang
dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan karakteristik dan atau
kebutuhan kota yang bersangkutan.
Kebutuhan akan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang semakin mendesak
sejalan dengan tingkat perkembangan kota-kota di Indonesia terutama
kota sedang, kota besar, dan metropolitan.y
Berdasarkan kenyataan tersebut, untuk melaksanakan pembangunan
kota yang lebih harmonis dan mampu mengantisipasi berbagai dampak
yang timbul, terutama pada kota sedang, kota besar, dan kota
metropolitan, maka perlu disusun Pedoman Penyusunan Aturan
Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan
Perkotaan.
I - 2
Pendahuluan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
1.2 MAKSUD, TUJ UAN, DAN SASARAN
1.2.1 Maksud
Pedoman ini dimaksudkan untuk mengatur pemanfaatan ruang kawasan
perkotaan. Sementara struktur ruang kawasan perkotaan (seperti sistem
jaringan jalan, jaringan energi, jaringan telekomunikasi, dan lain-lain)
diatur tersendiri dalam ketentuan sektor terkait. Pedoman ini disusun
untuk melengkapi standar-standar dan acuan/pedoman penataan ruang
maupun literatur/studi yang telah ada sebagai bahan rujukan kegiatan
perencanaan penataan ruang kota.

1.2.2 Tujuan
Tujuan dari pedoman ini adalah :
1. Memberikan pengertian dan isi tentang Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan;
2. Merumuskan proses penyusunan dan pengesahan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan;
3. Memberikan rujukan teknis kebutuhan akan ruang serta
pengaturannya untuk berbagai kegiatan kota.

1.2.3 Sasaran
Sasaran dari pedoman ini adalah tersedianya Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang (Zoning Regulation) dalam rangka menyusun Rencana Tata
Ruang Kawasan Perkotaan, dan atau menjabarkan Rencana Tata Ruang
ke dalam rencana operasional pemanfaatan ruang.


1.3 RUANG LINGKUP PEDOMAN
Pedoman ini meliputi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning
Regulation), yang terdiri dari pengaturan zona dasar (kawasan
fungsional). Zona dasar di Indonesia pada umumnya terdiri dari :
1. kawasan permukiman,
2. kawasan perdagangan dan jasa,
3. kawasan industri, dan
4. kawasan ruang terbuka.
I - 3
Pendahuluan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Sedangkan kawasan lainnya yang memerlukan pengaturan khusus,
seperti misalnya: kawasan pendidikan, kawasan cagar budaya, kawasan
situs prasejarah, kawasan bandar udara, kawasan militer, dan
sebagainya akan/telah diatur dalam pedoman tersendiri.
Materi yang akan diatur dalam pedoman ini meliputi :
pedoman pemanfaatan lahan pada setiap zona sampai dengan blok
peruntukan, yang dilengkapi dengan ketentuan teknis yang
menyertainya, serta pengendaliannya;
institusi yang berperan dalam pengaturan zoning;
proses penyusunan mulai dari kegiatan persiapan, hingga proses
legalisasinya.
Pedoman ini merupakan bagian dari Pedoman Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kawasan Perkotaan (Kepmen Kimpraswil
no.327/M/KPTS/2002). Pedoman ini akan mengatur persyaratan Pola
Pemanfaatan Ruang di setiap blok atau petak peruntukan yang
ditetapkan di Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kawasan
Perkotaan.


1.4 MANFAAT PEDOMAN
Pedoman ini bermanfaat bagi :
1. aparat Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengoperasikan
Rencana Tata Ruang sebagai acuan untuk kegiatan pemanfaatan
ruang termasuk perijinan;
2. para pelaku pembangunan lainnya termasuk pengusaha.


1.5 SISTEMATIKA PEDOMAN
Pedoman ini terdiri dari 5 (lima) bab, dengan sistematika :
Bab 1 Pendahuluan, berisikan latar belakang penyusunan pedoman;
maksud, tujuan, dan sasaran pedoman; ruang lingkup
pedoman, manfaat pedoman, dan sistematika pembahasan
pedoman.
I - 4
Pendahuluan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Bab 2 Ketentuan Umum, membahas pengertian-pengertian umum
mengenai Aturan Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan,
dan kedudukannya dalam penataan ruang kota.
Bab 3 Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning
Regulation), berisikan uraian mengenai zona dasar, norma,
dan kriterianya, serta ketentuan penggunaan dan ketentuan
teknis dari masing-masing zona.
Bab 4 Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang,
berisikan uraian mengenai kegiatan yang harus dilakukan
dalam penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang suatu
kawasan perkotaan, dimulai dari tahap persiapan,
pengumpulan data/informasi dan analisis, sampai pada tahap
perumusan pengaturan zoning.
Bab 5 Kelembagaan, menjelaskan mengenai instansi penyusun
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, peran serta masyarakat,
proses legalisasi, sosialisasi, dan juga prosedur peninjauan
kembali suatu Aturan Pola Pemanfaatan Ruang yang telah ada.
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan

BAB 2
KETENTUAN UMUM



2.1 PENGERTIAN
Ruang adalah wadah secara keseluruhan yang meliputi ruang
daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu-kesatuan
wilayah, dengan interaksi sistem sosial (yang meliputi manusia
dengan seluruh kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya) dengan
ekosistem (sumber daya alam dan sumber daya buatan)
berlangsung.
Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang,
baik direncanakan maupun tidak.
Penataan Ruang adalah proses perencanaan tata ruang,
pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya
ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek
fungsional.
Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau
budidaya.
Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi
utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan.
Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan
fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi
sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya
buatan.
II - 2
Ketentuan Umum

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan
utama pertanian termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perdesaan,
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan
ekonomi.
Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan
utama bukan pertanian. Di Indonesia pada umumnya, Kawasan
Perkotaan terdiri dari beberapa kawasan fungsional (kawasan
permukiman, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan industri,
ruang terbuka, dan kawasan lain dengan fungsi khusus).
Kawasan Tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara
nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya
diprioritaskan.
Zona adalah :
1. Kategori penggunaan atau aktivitas lahan, bangunan, struktur
atau aktivitas yang diijinkan oleh hukum yang berlaku;
2. Suatu area yang digambarkan dalam sebuah Peta Rencana
Zoning serta disusun dan dirancang berdasarkan suatu
peraturan untuk penggunaan khusus;
3. Suatu area dalam hubungannya dengan ketetapan peraturan
terkait; penggunaan tertentu dari suatu lahan, bangunan dan
struktur diijinkan dan penggunaan lainnya dibatasi, dimana
lapangan dan lahan terbuka diwajibkan; sementara untuk
kapling, batas ketinggian bangunan dan persyaratan lainnya
ditetapkan, semua yang terlebih dahulu diidentifikasikan untuk
zona dan wilayah dimana penggunaan dilakukan;
4. Bagian wilayah kota, jalan, gang, dan jalan umum lainnya,
yang merupakan penggunaan tertentu dari suatu lahan, lokasi
dan bangunan tidak diijinkan, dimana lapangan tertentu dan
ruang terbuka diwajibkan dan batas ketinggian bangunan
tertentu ditetapkan.
Zoning adalah pembagian wilayah ke dalam beberapa kawasan
sesuai dengan fungsi dan karakteristik semula atau diarahkan bagi
pengembangan fungsi-fungsi lain.
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) adalah
ketentuan yang mengatur klasifikasi zoning dan penerapannya ke
dalam ruang kota, pengaturan lebih lanjut tentang pemanfaatan
lahan dan prosedur pelaksanaan pembangunan.
Blok Peruntukan/ Persil adalah satu persil atau lebih dari satu
persil yang berdampingan dengan satu kepemilikan.
II - 3
Ketentuan Umum

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Petak Peruntukan adalah bagian dari blok peruntukan dengan
penggunaan tertentu yang menunjang kegiatan dari blok
peruntukannya.


2.2 ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG (ZONING
REGULATION) DALAM PEMBANGUNAN KOTA
Pedoman penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan yang
terdapat di Indonesia membedakan jenis rencana tata ruang kota ke
dalam:
(i) Rencana Struktur Tata Ruang Kawasan Perkotaan Metropolitan;
(ii) Rencana Tata Ruang Wilayah Kota/Rencana Umum Tata Ruang
Kawasan Perkotaan;
(iii) Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan; dan
(iv) Rencana Teknik Ruang Kawasan Perkotaan/Rencana Tata Bangunan
dan Lingkungan.
Kendala yang dihadapi Pemerintah Kota atau Kabupaten di Indonesia
dengan adanya rencana tata ruang kawasan perkotaan berjenjang
demikian adalah keterbatasan kemampuan di dalam menyusun semua
jenjang rencana serta tidak fleksibelnya rencana tata ruang kawasan
perkotaan di dalam menghadapi perkembangan yang terjadi; termasuk
pula di dalam menjembatani rencana-rencana tata ruang tersebut ke
dalam langkah operasional pelaksanaan pembangunan. Untuk itu
diperlukan program tindak pelaksanaan dan pengendaliannya agar
sesuai dengan rencana tata ruang. Aturan Pola Pemanfaatan Ruang ini
juga dapat berperan dalam evaluasi perijinan yang ada agar dapat
menyelaraskannya dengan rencana tata ruang. Di dalam kenyataannya,
aspek pelaksanaan dan pengendalian pembangunan kota memerlukan
pengaturan teknis yang dapat dipenuhi melalui Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang.
Dengan demikian, fungsi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang di dalam
pembangunan wilayah perkotaan adalah:
- sebagai instrumen pengendali pembangunan (pemberian ijin);
- sebagai pedoman penyusunan rencana tindak operasional
(pemanfaatan ruang);
- sebagai panduan teknis pengembangan lahan.
II - 4
Ketentuan Umum

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Keterkaitan penataan ruang baik pada tingkat nasional, provinsi dan
Kabupaten/Kota secara fungsi dan administrasi dapat dilihat pada
Gambar 2.1.

Gambar 2.1
Keterkaitan Penataan Ruang
secara Fungsi Utama dan Administratif

II - 5
Ketentuan Umum

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan

2.3 DASAR HUKUM


Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning
Regulation) ini disusun berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, yaitu :
- UU No. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang;
- UU No. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman;
- UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah;
- UU No. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung;
- PP No. 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional;
- PP No. 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Untuk
Penataan Ruang Wilayah
- Kepmen Kimpraswil no. 327/KPTS/M/2002 tentang Penetapan Enam
Pedoman Bidang Penataan Ruang.


2.4 TUJ UAN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG
Tujuan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang adalah:
- mengatur keseimbangan keserasian pemanfaatan ruang dan
menentukan program tindak operasional pemanfaatan ruang atas
suatu satuan ruang;
- melindungi kesehatan, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat;
- meminimumkan dampak pembangunan yang merugikan;
- memudahkan pengambilan keputusan secara tidak memihak dan
berhasil guna serta mendorong partisipasi masyarakat (pengendalian
pemanfaatan ruang : pengaturan perijinan).


2.5 KEDUDUKAN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG
DALAM PENATAAN RUANG
II - 6
Ketentuan Umum

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Kedudukan aturan pola pemanfaatan ruang dalam penataan ruang kota
diuraikan dalam diagram alir pada Gambar 2.2 berikut ini.

Gambar 2.2
KEDUDUKAN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG
(ZONI NG REGULATI ON) DALAM PENATAAN RUANG KOTA


ASPEK
PERENCANAAN
RUANG
ASPEK
PEMANFAATAN
RUANG
ASPEK
PENGENDALIAN
PEMANFAATAN
RUANG


1. PERI J INAN
2. PENGAWASAN
3. PENERTIBAN

ATURAN POLA
PEMANFAATAN
RUANG (ZONING
REGULATI ON)
1. struktur
pemanfaatan
ruang
(network)
2. pola
pemanfaatan
ruang (function,
density,
intensity)
1. penatagunaan
tanah, air, udara,
dan SDA lainnya
2. pola insentif dan
disinsentif
3. pelaksanaan
program
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
BAB 3
MATERI ATURAN POLA
PEMANFAATAN RUANG
(ZONING REGULATION)


3.1 TIPOLOGI ZONA


ateri Aturan Pola Pemanfaatan Ruang ditetapkan
berdasarkan kondisi kawasan perkotaan yang direncanakan. Semakin
besar dan semakin kompleks kondisi kota, semakin beragam jenis-jenis
zona yang harus diatur.
Pedoman ini meliputi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning
Regulation), yang terdiri dari pengaturan zona dasar (kawasan
fungsional) sebagai berikut :
1. kawasan permukiman,
2. kawasan perdagangan dan jasa,
3. kawasan industri, dan
4. kawasan ruang terbuka.
Kawasan-kawasan tersebut dibagi atas beberapa Zona. J enis zona
tergantung kepada kompleksitas kegiatan pembangunan kota yang
bersangkutan. Semakin beragam jenis kegiatan pada suatu kota, maka
kategori zona akan semakin banyak. Bagian ini akan menguraikan lebih
lanjut mengenai pengertian dari zona.





III - 2
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.1.1 Kawasan dan Zona
Semua kepemilikan lahan di dalam kota berada di dalam suatu kawasan.
Penetapan kawasan mengidentifikasi penggunaan-penggunaan yang
diperbolehkan atas kepemilikan lahan dan peraturan-peraturan yang
berlaku atasnya.
Tujuan dari sub bab ini adalah menetapkan kawasan-kawasan untuk
membantu memastikan bahwa penggunaan lahan dalam Kota
ditempatkan pada tempat yang benar dan bahwa tersedia ruang yang
cukup untuk setiap jenis pengembangan yang ditetapkan.
Penetapan kawasan-kawasan dimaksudkan untuk :
mengatur penggunaan lahan pada setiap kawasan;
mengurangi dampak negatif dari penggunaan lahan tersebut;
untuk mengatur kepadatan dan intensitas zona;
untuk mengatur ukuran (luas dan tinggi) bangunan; dan
untuk mengklasifikasikan, mengatur, dan mengarahkan hubungan
antara penggunaan lahan dengan bangunan.
Masing-masing zona dasar, dengan tujuan penetapannya dapat dilihat
pada Tabel 3.1.














III - 3
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Tabel I II .1
Zona Dasar dan Tujuan Penetapannya
ZONA DASAR TUJ UAN PENETAPAN
I. Kawasan
Permukiman
Menyediakan lahan untuk pengembangan hunian
dengan kepadatan yang bervariasi di seluruh wilayah
kota;
Mengakomodasi bermacam tipe hunian dalam rangka
mendorong penyediaan hunian bagi semua lapisan
masyarakat;
Merefleksikan pola-pola pengembangan yang diingini
masyarakat pada lingkungan hunian yang ada dan
untuk masa yang akan datang.

II. Kawasan
Perdagangan
dan J asa
Menyediakan lahan untuk menampung tenaga kerja,
pertokoan, jasa, rekreasi, dan pelayanan masyarakat;
Menyediakan peraturan-peraturan yang jelas pada
kawasan Perdagangan dan J asa, meliputi: dimensi,
intensitas, dan disain dalam merefleksikan berbagai
macam pola pengembangan yang diinginkan
masyarakat.

III. Kawasan
Industri
Menyediakan ruangan bagi kegiatan-kegiatan industri
dan manufaktur dalam upaya meningkatkan
keseimbangan antara penggunaan lahan secara
ekonomis dan mendorong pertumbuhan lapangan
kerja;
Memberikan kemudahan dalam fleksibilitas bagi
industri baru dan redevelopment proyek-proyek
industri;
Menjamin pembangunan industri yang berkualitas
tinggi, dan melindungi penggunaan industri serta
membatasi penggunaan non industri.

IV. Kawasan
Ruang
Terbuka
Zona yang ditujukan untuk mempertahankan/
melindungi lahan untuk rekreasi di luar bangunan,
sarana pendidikan, dan untuk dinikmati nilai-nilai
keindahan visualnya;
Preservasi dan perlindungan lahan yang secara
lingkungan hidup rawan / sensitif;
Diberlakukan pada lahan yang penggunaan utamanya
adalah taman atau ruang terbuka, atau lahan
perorangan yang pembangunannya harus dibatasi
untuk menerapkan kebijakan ruang terbuka, serta
melindungi kesehatan, keselamatan, dan
kesejahteraan publik.

III - 4
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.1.1.1 Kawasan Permukiman
Kawasan permukiman antara lain meliputi Zona Perumahan Taman,
Zona Perumahan Renggang, Zona Perumahan Deret, dan Zona
Perumahan Susun, dengan spesifikasi sebagai berikut :
A. Zona
Perumahan
Taman
: Rumah tinggal dengan pekarangan luas, dimaksudkan
agar pengembangan perumahan berkepadatan rendah
sebagaimana yang ditetapkan dalam rencana kota dapat
dipertahankan.
Contoh : Kota Legenda Wisata Cibubur, J akarta.
KDB rendah (5 20%).



Gambar 3.1
Contoh Perumahan Taman












Lokasi : Kota Legenda Wisata Cibubur, J akarta Timur


B. Zona
Perumahan
Renggang
: Perumahan unit tunggal dengan peletakan renggang
ditujukan untuk pembangunan unit rumah tunggal
dengan mengakomodasikan berbagai ukuran perpetakan
dan jenis bangunan perumahan serta mengupayakan
peningkatan kualitas lingkungan hunian, karakter, dan
suasana kehidupannya.
KDB menengah (20 50%).

III - 5
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
C. Zona
Perumahan
Deret
: Perumahan unit tunggal tipe gandeng atau deret dalam
perpetakan kecil dengan akses jalan lingkungan;
Zona ini merupakan peluang transisi antara lingkungan
perumahan unit tunggal dengan lingkungan perumahan
susun kepadatan tinggi.
KDB sangat tinggi (> 75%).



Gambar 3.2
Contoh Perumahan Deret










Lokasi : Cileungsi, J awa Barat


D. Zona
Perumahan
Susun
: Perumahan unit tunggal banyak dengan kepadatan yang
bervariasi;
Setiap zona perumahan susun dimaksudkan menetapkan
kriteria pembangunan yang mengkonsolidasi tipe-tipe
bangunan spesifik, dan menjawab masalah-masalah
lokasi yang berkenaan dengan rencana penggunaan
lahan di sekitarnya.
Contoh : Rusun Klender, J akarta Timur; Menara Kelapa
Gading, J akarta Utara.










III - 6
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Gambar 3.3
Contoh Rumah Susun (1)











Lokasi : Rumah Susun Kelapa Gading


Gambar 3.4
Contoh Rumah Susun (2)













Lokasi : Menara Kelapa Gading, J akarta Utara


3.1.1.2 Kawasan Perdagangan dan J asa
Kawasan Perdagangan dan J asa antara lain meliputi Zona Bangunan
Pemerintah, Zona Bangunan Perkantoran, Zona Bangunan
Pertokoan, dan Zona Sentra, dengan spesifikasi sebagai berikut :
A. Zona
Bangunan
Pemerintah
: Menyediakan area untuk menampung tenaga kerja secara
terbatas, terutama untuk kepentingan pelayanan kepada
warga kota maupun untuk kepentingan nasional dan
internasional.


III - 7
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan

Gambar 3.5
Contoh Zona Pemerintah










Lokasi : Dep. Kimpraswil, J l. Pattimura, Kebayoran Baru, J akarta Selatan


B. Zona
Bangunan
Perkantoran
: Perkantoran menyediakan area untuk menampung
tenaga kerja secara terbatas, penggunaan kegiatan ritel
hanya sebagai penunjang dan diijinkan pembangunan
hunian dengan intensitas sedang sampai tinggi;
Zona ini dimaksudkan untuk diaplikasikan pada pusat-
pusat kegiatan yang besar atau pada kawasan-kawasan
khusus dimana kegiatan-kegiatan komersial serba ada
tidak dikehendaki.
Contoh : J l. HR. Rasuna Said,Kuningan, J akarta Selatan.


Gambar 3.6
Contoh Zona Komersial Perkantoran
















Lokasi : J l. HR. Rasuna Said, Kuningan, J akarta Selatan

III - 8
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan

C. Zona
Bangunan
Pertokoan
: Pertokoan melayani kegiatan perdagangan,
perbelanjaan, dan jasa-jasa;
Zona Pertokoan dapat berisi pembangunan hunian yang
berorientasi pada kegiatan perdagangan (ruko) dan
kedekatannya ke tempat-tempat kerja (apartemen);
Penggunaan industri/manufaktur terbatas dalam
intensitas menengah dalam skala kecil sampai sedang.


Gambar 3.7
Contoh Zona Komersial Pertokoan










Lokasi : Kelapa Gading, J akarta Pusat


D. Zona
Komersial
Sentra
Sentra lokal dan tersier, yang disediakan untuk
kegiatan perbelanjaan dan jasa lokal, terdiri dari toko-
toko ritel dan perusahaan-perusahaan jasa pribadi
dengan pilihan yang luas, yang memenuhi kebutuhan
yang sering berulang. Kegiatan ini memerlukan lokasi
yang nyaman berdekatan dengan semua lingkungan
perumahan, relatif tidak menimbulkan pengaruh yang
tidak dikehendaki bagi lingkungan-lingkungan
perumahan yang berdekatan. Dengan demikian zona ini
sangat tersebar di seluruh kota;
Sentra-sentra perbelanjaan kota level utama dan
sekunder, yang menyediakan kebutuhan tempat
perbelanjaan yang sekali-sekali dikunjungi keluarga dan
jasa-jasa yang dibutuhkan pengusaha bisnis yang
tersebar pada area yang luas, dan yang memiliki
sejumlah besar toko yang secara mendasar
membangkitkan lalu-lintas.
Contoh : Ruko Kelapa Gading, J akarta Utara; Ruko Kota
Wisata Cibubur, J akarta Timur.

III - 9
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Gambar 3.8
Contoh Zona Komersial Sentra











Lokasi : Rumah Toko di Kota Legenda Wisata Cibubur, J akarta Timur

3.1.1.3 Kawasan Industri
Kawasan industri antara lain meliputi Zona Industri Taman, Zona
I ndustri Ringan, Zona I ndustri Berat, dan Zona I ndustri
Perpetakan Kecil, dengan spesifikasi sebagai berikut :
A. Zona
Industri
Taman
: Menyediakan ruang untuk pengembangan ilmu
pengetahuan teknologi tinggi dan kegiatan taman bisnis;
Standar pembangunan properti pada zona ini
dimaksudkan untuk membentuk lingkungan menyerupai
kampus yang ditata secara komprehensif dengan
lansekap yang mendasar. Pembatasan-pembatasan pada
penggunaan yang diijinkan dan tata informasi ditetapkan
untuk mengurangi pengaruh komersial.
Contoh : Puspiptek Serpong.

B. Zona
Industri
Ringan
: Menyediakan berbagai kegiatan manufaktur dan distribusi
yang luas;
Standar pembangunan properti pada zona ini
dimaksudkan untuk mendorong pembangunan industri
yang sesuai dengan menyediakan lingkungan yang
menarik, bebas dari dampak yang tidak dikehendaki yang
dihubungkan dengan penggunaan beberapa industri
berat;
Zona industri ringan dimaksudkan untuk mengijinkan
berbagai penggunaan termasuk penggunaan bukan
industri dalam beberapa tempat.
Contoh : industri yang bersifat padat karya seperti
industri sepatu di Cibaduyut, Bandung; industri tas di
Tajur, Bogor; industri gula di Klaten.

III - 10
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan

Gambar 3.9
Contoh Zona Industri Ringan










Lokasi : Pabrik Gula Gondang Winangun, Klaten

C. Zona
Industri
Berat
: Menyediakan ruang untuk kegiatan-kegiatan industri
dengan penggunaan lahan secara intensif dengan
mengutamakan sektor dasar manufaktur;
Zona industri berat ini dimaksudkan untuk meningkatkan
penggunaan lahan industri secara efisien dengan standar
pembangunan minimal, menyediakan pengamanan
terhadap properti yang bersebelahan dan masyarakat
pada umumnya;
Zona ini juga membatasi penggunaan-penggunaan bukan
industri yang telah ada agar supaya dapat menyediakan
lahan yang mencukupi bagi penggunaan industri dalam
skala besar.
Contoh : industri tekstil di Bandung, industri kimia di
Gresik.

D. Zona
Industri
Perpetakan
Kecil
: Menyediakan ruang bagi kegiatan industri skala kecil di
dalam area perkotaan;
Zona I ndustri Perpetakan Kecil mengijinkan penggunaan-
penggunaan industri dan bukan industri secara luas
untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan skala
lingkungan hunian dalam pembangunan;
Peraturan pembangunan properti pada zona industri
perpetakan kecil dimaksudkan untuk mengakomodasi
pembangunan industri kecil dan menengah dan kegiatan
komersial dengan pengurangan persyaratan luas
perpetakan, lansekap, dan parkir.
Contoh : industri rumah tangga seperti industri makanan
khas daerah setempat (telur asin di Brebes, bakpia di
Yogyakarta).

III - 11
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.1.1.4 Kawasan Ruang Terbuka
Kawasan ruang terbuka antara lain meliputi : Zona Ruang Terbuka
Hijau Lindung, Zona Ruang Terbuka Hijau Binaan, dan Zona
Ruang Terbuka Tata Air, dengan spesifikasi sebagai berikut :
A. Zona Ruang
Terbuka
Hijau
Lindung
: Ditujukan untuk melindungi sumber alami dan budaya
serta lahan rawan lingkungan;
Penggunaan yang diijinkan pada zona ini dibatasi hanya
pada penggunaan yang dapat membantu melestarikan
karakter alami lahan.

B. Zona Ruang
Terbuka
Hijau
Binaan
: Diberlakukan pada taman-taman dan fasilitas publik,
dengan tujuan memperluas paru-paru kota, mengurangi
kepengapan kota, dan menyediakan berbagai macam jenis
rekreasi yang dibutuhkan masyarakat.
Contoh : Taman Suropati, Menteng, J akarta Pusat



Gambar 3.10
Contoh Ruang Terbuka Hijau Binaan










Lokasi : Taman Suropati, J akarta Pusat


C. Zona Ruang
Terbuka
Tata Air
: Ditujukan untuk mengendalikan pembangunan di dalam
daerah genangan banjir untuk melindungi kesehatan,
keselamatan, dan kesejahteraan publik serta mengurangi
bahaya yang diakibatkan banjir pada area yang
diidentifikasikan sebagai areal pengendalian banjir yang
ditetapkan oleh pemerintah daerah;
Zona ini dimaksudkan untuk melestarikan karakter alami
pada daerah genangan banjir dengan maksud
mengurangi pengeluaran dana publik untuk biaya proyek
pengendalian banjir dan melindungi fungsi dan nilai
daerah pengendalian / genangan banjir dalam
hubungannya dengan pelestarian atau pengisian kembali
III - 12
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
air tanah, kualitas air, penjinakan aliran banjir, upaya
perlindungan satwa-satwa liar dan habitat.
Contoh : ruang terbuka tata air di daerah Mojokerto.



Gambar 3.11
Contoh Ruang Terbuka Tata Air












Lokasi : Mojokerto



3.2 NORMA ZONA
Norma zona mengatur berbagai ketentuan dasar bagi pengembangan
suatu zona tertentu. Norma zona yang diatur dalam pedoman ini
meliputi 1) kawasan permukiman, 2) kawasan perdagangan dan jasa, 3)
kawasan industri, 4) kawasan ruang terbuka.

3.2.1 Kawasan Permukiman
Kawasan permukiman adalah kawasan yang berfungsi sebagai
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan
yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Selain berfungsi
sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian untuk
mengembangkan kehidupan dan penghidupan keluarga, permukiman
juga merupakan tempat untuk menyelenggarakan kegiatan
bermasyarakat dalam lingkungan terbatas.
Oleh karenanya, Kawasan Permukiman sebagai tempat bermukim dan
berlindung harus memenuhi norma-norma lingkungan yang sehat,
aman, serasi, dan teratur. Selain itu kawasan permukiman harus
III - 13
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
bebas dari gangguan: suara, kotoran, udara, bau, dan sebagainya.
Kawasan ini juga harus dapat menunjang berlangsungnya proses
sosialisasi dari nilai budaya yang berlaku dalam masyarakat yang
bersangkutan, dan juga harus aman serta mudah mencapai pusat-
pusat pelayanan serta tempat kerja. Dalam kawasan permukiman
diperlukan sarana-sarana lain yaitu sarana pendidikan, kesehatan,
peribadatan, perbelanjaan, rekreasi, dan lain-lain yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan penduduk.

3.2.2 Kawasan Perdagangan dan J asa
Kawasan perdagangan dan jasa, merupakan kawasan yang diharapkan
mampu mendatangkan keuntungan bagi pemiliknya dan memberikan
nilai tambah pada satu kawasan perkotaan. Oleh karenanya, kawasan ini
harus memiliki aksesibilitas yang sangat baik ke lokasi perumahan dan
kemudahan pemasaran.
Untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung, kawasan
perdagangan dan jasa harus memenuhi norma lingkungan yang sehat,
aman, serasi, teratur, dan menarik serta menguntungkan. Oleh
karenanya, peraturan pembangunan pada kawasan ini harus memenuhi
syarat-syarat dimensi, intensitas, dan disain yang diharapkan akan dapat
menarik sebanyak mungkin pengunjung. Kecukupan sarana dan
prasarana terutama air, buangan limbah, jaringan jalan merupakan hal
lain yang cukup mendukung kegiatan perdagangan dan jasa.

3.2.3 Kawasan Industri
Kawasan industri merupakan kawasan produktif kota. Kawasan ini
diharapkan akan dapat memberikan nilai tambah pada satu kawasan
perkotaan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kawasan ini adalah aksesibilitas
bagi tenaga kerja dan bahan baku, serta untuk memasarkan barang
jadi. Oleh karenanya kedekatan dengan jaringan jalan dan pelabuhan
merupakan hal yang penting. Selain itu perlu diperhatikan pula dampak
kegiatan industri terhadap lingkungan. Sebagai kawasan produktif kota,
kecukupan sarana dan prasarana terutama air, buangan limbah,
jaringan jalan merupakan hal lain yang cukup mendukung kegiatan
produksi.


III - 14
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.2.4 Kawasan Ruang Terbuka
Kawasan ruang terbuka memiliki norma sesuai dengan fungsi utamanya
yaitu mempertahankan/melindungi lingkungan hidup, yang mencakup
sumber daya alam dan sumber daya buatan. Sebagai kawasan ruang
terbuka, kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai lahan untuk rekreasi.


3.3 KRITERIA ZONA
3.3.1 Kawasan Permukiman
Untuk menunjang fungsinya sebagai tempat bermukim dan berlindung
yang sehat, aman, serasi, dan teratur, kriteria yang harus dipenuhi
kawasan permukiman meliputi :
Persyaratan Dasar, meliputi :
Aksesibilitas, yaitu kemungkinan pencapaian dari dan ke
kawasan. Aksesibilitas dalam kenyataannya berwujud
ketersediaan jalan dan transportasi;
Kompatibilitas, yaitu keserasian dan keterpaduan antar kawasan
yang menjadi lingkungannya;
Fleksibilitas, yaitu kemungkinan pertumbuhan fisik/pemekaran
kawasan perumahan dikaitkan dengan kondisi fisik lingkungan
dan keterpaduan prasarana;
Ekologi, yaitu keterpaduan antara tatanan kegiatan alam yang
mewadahinya.
Kriteria Teknis, yaitu kriteria yang berkaitan dengan keselamatan
dan kenyamanan lingkungan perumahan, serta keandalan prasarana
dan sarana pendukungnya. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi
adalah :
Persyaratan kesehatan yang harus memenuhi standar kesehatan
rumah dan lingkungannya, meliputi penyehatan air, udara,
pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi,
kebisingan, pengendalian faktor penyakit dan penyehatan atau
pengamanan lainnya. Untuk membentuk satu kawasan
permukiman yang sehat perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
III - 15
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
o Setiap kawasan permukiman harus memungkinkan penghuni
untuk dapat hidup sehat dan menjalankan kegiatan sehari-
hari secara layak;
o Kepadatan bangunan dalam satu kawasan permukiman
maksimum 50 bangunan rumah/ha, dan dilengkapi oleh
utilitas umum yang memadai. Di dalam kawasan permukiman
tersebut terdapat bangunan rumah dan persil tanah termasuk
juga unsur pengikat berupa fasilitas lingkungan;
o Kawasan permukiman harus bebas dari pencemaran air,
pencemaran udara, kebisingan, baik yang berasal dari sumber
daya buatan atau dari sumber daya alam (gas beracun,
sumber air beracun, dan sebagainya);
o Menjamin tercapainya tingkat kualitas lingkungan hidup yang
sehat bagi pembinaan individu dan masyarakat penghuni.
Persyaratan keandalan prasarana
1
dan sarana lingkungan
2
yang
harus memenuhi standar efisiensi, efektivitas, dan kontinuitas
pelayanan. Fasilitas dan utilitas lingkungan permukiman
merupakan dua hal penting untuk mendukung kesehatan
lingkungan permukiman.
Syarat masing-masing fasilitas dan utilitas pada setiap kawasan
permukiman harus dilengkapi dengan :
o Sistem pembuangan air limbah yang memenuhi SNI;
o Sistem pembuangan air hujan yang mempunyai kapasitas
tampung yang cukup sehingga lingkungan permukiman bebas
dari genangan. Saluran pembuangan air hujan harus
direncanakan berdasarkan frekuensi intensitas curah hujan 5
tahunan dan daya resap tanah. Saluran ini dapat berupa
saluran terbuka maupun tertutup;
o Prasarana air bersih yang memenuhi syarat, baik kuantitas
maupun kualitasnya. Kapasitas minimum sambungan rumah
60 liter/orang/hari, dan sambungan kran umum 30
liter/orang/hari;
o Sistem pembuangan sampah yang aman.

1
Prasarana Lingkungan adalah jalan, saluran air minum, saluran air limbah,
saluran air hujan, pembuangan sampah, jaringan listrik.
2
Sarana Lingkungan adalah kelengkapan lingkungan yang berupa fasilitas :
pendidikan, kesehatan, perbelanjaan dan niaga, pemerintahan dan pelayanan
umum, peribadatan, rekreasi dan kebudayaan, olah raga dan lapangan terbuka.
III - 16
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan

Kriteria Ekologis, adalah kriteria yang berkaitan dengan keserasian
dan keseimbangan, baik antara lingkungan buatan dengan
lingkungan alam maupun dengan lingkungan sosial budaya, termasuk
nilai-nilai budaya bangsa yang perlu dilestarikan.

3.3.2 Kawasan Perdagangan dan J asa
Sebagai satu kawasan yang diharapkan mendatangkan keuntungan bagi
pemiliknya maupun mendatangkan nilai tambah pada kawasan
perkotaan, kriteria yang harus dipenuhi oleh kawasan perdagangan dan
jasa meliputi:
Tidak terletak pada kawasan lindung dan kawasan bencana alam;
Lokasi yang strategis dan kemudahan pencapaian dari seluruh
penjuru kota, dapat dilengkapi dengan sarana antara lain : tempat
parkir umum, bank/ATM, pos polisi, pos pemadam kebakaran,
kantor pos pembantu, tempat ibadah, dan sarana penunjang
kegiatan komersial dan kegiatan pengunjung.
Peletakan bangunan dan ketersediaan sarana dan prasarana
pendukung disesuaikan dengan kelas konsumen yang akan dilayani.

3.3.3 Kawasan Industri
Kriteria penggunaan kawasan industri meliputi ketentuan tentang
penggunaan lahan dan ketentuan mengenai sarana dan prasarana yang
harus dibangun.
Berdasarkan Keppres 53 tahun 1989 tentang Kawasan Industri,
ketentuan penggunaan lahan untuk kawasan industri adalah:
1. Lahan untuk industri 70%
2. Lahan untuk jaringan jalan 10%
3. Lahan untuk jaringan utilitas 5%
4. Lahan untuk fasilitas umum 5%
5. Lahan untuk ruang terbuka hijau 10%
Selain itu terdapat ketentuan mengenai prasarana yang wajib dibangun
oleh perusahaan kawasan industri, yaitu :
a. J aringan jalan dalam kawasan industri :
J alan kelas satu, satu jalur dengan dua arah, lebar perkerasan
minimum 8 meter;
III - 17
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
J alan kelas dua, satu jalur dengan dua arah, lebar perkerasan
minimum 7 meter;
J alan kelas tiga, lebar perkerasan minimum 4 meter.
b. Saluran pembuangan air hujan (drainase) yang bermuara pada
saluran pembuangan;
c. Instalasi penyediaan air bersih termasuk saluran distribusi ke
kapling industri;
d. Instalasi penyediaan dan jaringan distribusi tenaga listrik;
e. J aringan telekomunikasi;
f. Instalasi pengolahan limbah industri, termasuk saluran
pengumpulannya (kecuali industri yang berada dalam kawasan
industri);
g. Penerangan jalan pada setiap lajur jalan;
h. Unit perkantoran perusahaan kawasan industri;
i. Unit pemadam kebakaran;
Perusahaan industri juga dapat menyediakan prasarana dan sarana
penunjang lainnya seperti :
Perumahan Karyawan;
Kantin;
Poliklinik;
Sarana ibadah;
Rumah penginapan sementara (mess transito);
Pusat kesegaran jasmani (fitness centre);
Halte angkutan umum;
Areal penampungan sementara limbah padat;
Pagar kawasan industri;
Pencadangan tanah untuk perkantoran, bank, pos dan pelayanan
telekomunikasi, serta pos keamanan.

3.3.4 Kawasan Ruang Terbuka
Sebagai kawasan ruang terbuka yang tidak boleh dibangun, kawasan ini
memiliki karakteristik sebagai berikut :
A. Ruang Terbuka Hijau Lindung
a) Kemiringan lereng di atas 40%;
b) Untuk jenis tanah peka terhadap erosi, yaitu Regosol, Litosol,
Orgosol, dan Renzina, kemiringan lereng di atas 15%;
c) Wilayah pasokan/resapan air dengan ketinggian 1.000 meter di
atas permukaan air laut;
III - 18
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
d) Dapat merupakan kawasan sempadan sungai/ kawasan
sempadan situ/ kawasan sempadan mata air dengan ketentuan
sebagai berikut :
Sempadan sungai di wilayah perkotaan berupa daerah
sepanjang sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun
jalan inspeksi atau minimal 15 meter;
Kawasan sempadan situ adalah dataran sepanjang tepian situ
yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
situ antara 50 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah
darat. Kawasan ini mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan kelestarian situ.
B. Ruang Terbuka Hijau Binaan
a) Mempunyai fungsi utama sebagai taman, tempat main anak-
anak, dan lapangan olah raga, serta untuk memberikan
kesegaran pada kota (cahaya dan udara segar), dan netralisasi
polusi udara sebagai paru-paru kota;
b) Lokasi dan kebutuhannya disesuaikan dengan satuan lingkungan
perumahan/kegiatan yang dilayani;
c) Lokasinya diusahakan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi
faktor pengikat.

C. Ruang Terbuka Tata Air
a) Memiliki kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan
sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang
berguna sebagai sumber air.
b) Memiliki curah hujan > 2000 mm/th dan permeabilitas tanah
> 27,7 mm/jam







III - 19
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.4 KETENTUAN PENGGUNAAN KAWASAN
Berdasar atas norma dan kriterianya, sifat dan penggunaan suatu
kawasan diuraikan pada sub bab berikut ini.

3.4.1 Kawasan Permukiman
3.4.1.1 Identifikasi Paket Penggunaan Kawasan
Permukiman
A. Zona Perumahan
Taman (PT)
Hanya boleh digunakan untuk unit-unit hunian yang
berkarakter hunian pedusunan atau rumah taman,
dengan penggunaan pelengkap kebun pertanian
atau taman (PT-1).

B. Zona Perumahan
Renggang (PR)
Ditempati oleh unit-unit hunian untuk keluarga
tunggal dengan peletakan bangunan renggang,
yang bukan taman dan juga tidak ditata secara
rapat (PR-1).

C. Zona Perumahan
Deret (PD)
Ditempati oleh unit-unit hunian untuk keluarga
tunggal dengan peletakan bangunan rapat/deret;
Diproyeksikan sebagai peralihan dari perumahan
tunggal padat ke perumahan susun padat. Peraturan
pembangunan pada zona ini dibedakan:
Perumahan Deret Untuk Keluarga Tunggal dengan
peletakan bangunan rapat/deret (PD-1);
Perumahan deret maksimum 4 lantai, peralihan dari
rumah tunggal padat ke perumahan susun padat
(PD-2).

D. Zona Perumahan
Susun (PS)
Memiliki 3 karakter kepadatan, yaitu rendah, sedang,
dan tinggi. Peraturan pembangunan pada zona ini
dibedakan:
Perumahan Susun Kepadatan Rendah (PS-1);
Perumahan Susun Kepadatan Sedang (PS-2);
Perumahan Susun Kepadatan Tinggi dengan
Penggunaan Komersial Terbatas (PS-3);
Perumahan Susun Kepadatan Sedang dengan
Penggunaan Komersial Terbatas (PS-4).


J enis-jenis bangunan yang dapat berlokasi di kawasan ini dapat berupa
hunian tunggal (yaitu : bangunan rumah tinggal harian, rumah
peristirahatan/vila, rumah toko, rumah kantor, industri rumahan (home
industry), rumah dinas, dan hunian komunal (yaitu : rumah susun,
III - 20
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
rumah susun sewa, apartemen, asrama). Selain itu kawasan ini dapat
dilengkapi pula dengan sarana pelayanan sosial dan ekonomi yang
terbatas untuk melayani kebutuhan harian dengan skala pelayanan
lingkungan perumahan.

3.4.1.2 Peraturan Penggunaan Kawasan Permukiman
Penggunaan yang diijinkan di dalam Kawasan Permukiman tercantum
dalam Lampiran 1. Penggunaan tersebut dibatasi jika terdapat lahan
yang rawan lingkungan.
a) Pada Kawasan Permukiman, suatu persil dapat mengadakan
perubahan struktur bangunan yang akan digunakan, dengan
penggunaan sesuai dengan yang tercantum pada Lampiran 1.
b) Semua penggunaan atau kegiatan yang diijinkan dalam kawasan
permukiman harus diselenggarakan dalam bangunan tertutup
kecuali penggunaan atau kegiatan yang secara tradisi
diselenggarakan di luar bangunan;
c) Penggunaan pelengkap dalam kawasan hunian dapat diijinkan
sesuai ketentuan yang berlaku
3
;
d) Penggunaan sementara diijinkan dalam jangka waktu yang
terbatas;
e) Untuk penggunaan yang tidak dapat segera diklasifikasikan,
pemerintah kota menetapkan kategori dan subkategori yang sesuai.
3.4.1.3 Peraturan Penggunaan Tambahan Kawasan
Permukiman
Peraturan penggunaan tambahan selain seperti yang tercantum pada
Lampuiran 1 adalah sebagai berikut :
a) Rumah dapat digunakan untuk praktisi dokter, dokter gigi,
kesehatan, diijinkan dengan ketentuan sebagai berikut:
Tidak diijinkan pasien menginap, dan
Masing-masing tidak lebih dari dua praktisi, dan tidak lebih dari
tiga pegawai yang bekerja pada persil.
b) Penggunaan untuk penjualan eceran dan jasa komersial, yang
diindikasikan pada Zona Perumahan Susun, diijinkan dengan
ketentuan sebagai berikut :

3
Lihat Peraturan Penggunaan Tambahan
III - 21
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Penggunaan eceran/ritel dan jasa komersial diijinkan hanya
sebagai penggunaan campuran dalam pembangunan dengan
minimal 25 bangunan unit hunian atau lebih;
Penggunaan eceran dan komersial ditempatkan pada lantai
dasar; dan
Penggunaan eceran dan komersial tidak boleh menempati lebih
dari 25% luas lantai gros total dari lantai dasar.
c) Kelompok akomodasi penginapan diijinkan dengan ketentuan
sebagai berikut :
Tidak melebihi 5 kamar tamu;
Diijinkan untuk penyewa tidak lebih dari dua orang per kamar;
Makanan disediakan hanya untuk penyewa saja.

3.4.1.4 Peraturan Penyediaan Fasilitas Lingkungan
Permukiman
Standar perencanaan kebutuhan fasilitas lingkungan permukiman
ditentukan sebagai berikut :
a) Menyediakan fasilitas umum dan fasilitas sosial bagi lingkungan
permukiman di tempat yang dapat menjangkau seluruh lingkungan,
disesuaikan dengan jumlah penduduk yang membutuhkan di
lingkungan tersebut dan tingkat kebutuhannya;
b) J angkauan pelayanan mencakup seluruh lingkungan permukiman
tersebut;
c) Mempertimbangkan skala pelayanannya yaitu untuk melayani
lingkungan di dalam permukiman saja atau di luar permukiman juga
terlayani;
d) Memperhitungkan karakter sosial, budaya, dan ekonomi penduduk
yang terlayani.

3.4.1.5 Peraturan Teknis Pembangunan Kawasan
Permukiman
Peraturan teknis pembangunan dapat diberlakukan pada Kawasan
Permukiman, dengan atau tanpa diperlukan ijin atau persetujuan lain
kecuali ditetapkan secara khusus. Peraturan teknis pembangunan yang
dapat diberlakukan pada Kawasan Permukiman dapat dilihat pada
Lampiran 2.

III - 22
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.4.2 Kawasan Perdagangan dan J asa
3.4.2.1 Identifikasi Paket Penggunaan Kawasan
Perdagangan dan J asa
A. Zona Bangunan
Pemerintah
(BP)
Kantor pemerintah, baik pusat maupun
propinsi/kabupaten/kota, baik tunggal maupun
komplek (BP-1);
Kantor kedutaan atau perwakilan asing (BP-2).

B. Zona Bangunan
Perkantoran
(BK)
Kegiatan perkantoran umum (renggang) baik kantor
tunggal maupun komplek (pusat bisnis). Pada pusat
bisnis dimungkinkan terdapatnya kegiatan
perbelanjaan sebagai penunjang (restoran, toserba,
toko alat tulis/buku, dsb) (BK-1);
Kegiatan perkantoran umum (deret) (BK-2);
Kegiatan perkantoran umum, berupa rumah-kantor
(deret) dengan menyediakan fasilitas hunian (BK-3).

C. Zona Bangunan
Pertokoan (BT)
Kegiatan komersial umum, ritel skala kecil maupun
besar (renggang), pertokoan tunggal maupun pusat
belanja. Pada pusat belanja dimungkinkan
terdapatnya kegiatan perkantoran/jasa sebagai
penunjang (kantor perdagangan/keagenan, bank,
dan sebagainya) (BT-1);
Kegiatan komersial umum, berupa ritel dan
manufaktur terbatas (deret) (BT-2);
Kegiatan komersial umum, berupa rumah/toko
(deret) dengan menyediakan fasilitas hunian (BT-3).



J enis-jenis bangunan yang dapat berada pada kawasan ini antara lain :
Bangunan usaha perdagangan (ritel dan grosir): toko, warung,
tempat perkulakan, pertokoan, dan sebagainya;
Bangunan perkantoran: kantor swasta/pemerintah, niaga, dan
sebagainya;
Bangunan penginapan: hotel, guest house, motel, hostel,
penginapan, dan sebagainya;
Bangunan penyimpanan: gedung tempat parkir, show room,
gudang;
Bangunan tempat pertemuan: aula, tempat konferensi;
III - 23
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Bangunan pariwisata (di ruang tertutup): bioskop, area bermain.

3.4.2.2 Peraturan Penggunaan Kawasan Perdagangan
dan J asa
Penggunaan yang diijinkan di dalam Kawasan Perdagangan dan J asa
tercantum pada Lampiran 3. Penggunaan yang diijinkan tersebut dapat
dibatasi jika terdapat lahan yang rawan lingkungan.
a) Pada Kawasan Perdagangan dan J asa, suatu persil dapat
mengadakan perubahan struktur bangunan yang akan digunakan,
dengan penggunaan sesuai dengan yang tercantum pada Lampiran
3.
b) Semua penggunaan atau kegiatan di dalam Kawasan Perdagangan
dan J asa harus diselenggarakan di dalam bangunan tertutup, kecuali
penggunaan atau kegiatan yang secara tradisi diselenggarakan di
luar bangunan;
c) Penggunaan pelengkap dalam Kawasan Perdagangan dan J asa dapat
diiizinkan
4
;
d) Penggunaan sementara diijinkan untuk jangka waktu yang terbatasm
yang ditetapkan oleh Pemda Kabupaten/Kota;
e) Untuk penggunaan yang tidak dapat segera diklasifikasikan,
Pemerintah Kota dapat menetapkan kategori dan sub kategori yang
sesuai.

3.4.2.3 Peraturan Teknis Pembangunan Kawasan
Perdagangan dan J asa
Peraturan teknis pembangunan pada Kawasan Perdagangan dan J asa
berlaku untuk semua pembangunan dalam Kawasan Perdagangan dan
J asa, dengan atau tanpa diperlukan izin atau persetujuan lain kecuali
ditetapkan secara khusus. Peraturan teknis pembangunan yang berlaku
pada Kawasan Perdagangan dan J asa dapat dilihat pada Lampiran 4.

4
Lihat Peraturan Penggunaan Tambahan
III - 24
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Kepadatan Hunian Maksimum Yang Diizinkan Dan Ketentuan
Lain Untuk Hunian
Peraturan berikut dapat diberlakukan pada semua pembangunan hunian
di dalam Kawasan Perdagangan dan J asa:
(a) Pembangunan hunian hanya diizinkan pada Kawasan Perdagangan
dan J asa hanya jika sesuai dengan Lampiran 3;
(b) Pembangunan hunian diizinkan hanya jika bangunan komersial
telah berada pada persil atau merupakan bagian dari IMB;
(c) Penggunaan hunian dan parkir hunian dilarang pada lantai dasar di
bagian depan dari perpetakan, kecuali untuk zona-zona tertentu.
Persyaratan-Persyaratan Lain
Persyaratan-persyaratan lain yang dapat ditetapkan pada Kawasan
Perdagangan dan J asa antara lain :
Persyaratan garis sempadan bangunan (GSB) pada Zona
Komersial dan Bangunan Umum;
Koefisien lantai bangunan (KLB) maksimum;
J alur pejalan kaki;
Transparansi;
Artikulasi bangunan;
Pembatasan parkir;
Orientasi petak parkir.











III - 25
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.4.3 Kawasan Industri
3.4.3.1 Identifikasi Paket Penggunaan Kawasan
Industri
A. Zona I ndustri
Taman (IT)
Kegiatan riset dan manufaktur terbatas (IT-1);
Industri ringan dengan perkantoran (IT-2).

B. Zona I ndustri
Ringan (IR)
Industri Ringan (IR-1);
Campuran industri ringan, perkantoran, dan
komersial terbatas (IR-2);
Campuran industri ringan, perkantoran, dan
komersial (IR-3).

C. Zona I ndustri
Berat (IB)

Manufaktur (IB-1);
Manufaktur dan perkantoran terbatas (IB-2).

D. Zona I ndustri
Perpetakan
Kecil (IK)
Industri skala kecil: industri dan non industri yang
menampung kegiatan-kegiatannya secara massal
dengan pengelolaan bangunan secara terpadu (IK-
1);
Industri kecil hunian (IK-2).

J enis-jenis bangunan yang dapat berlokasi pada kawasan ini di
antaranya adalah industri besar, sedang, dan kecil, serta industri rumah
tangga. Selain itu kawasan ini dapat pula dilengkapi dengan bangunan-
bangunan pendukung industri, seperti show room, pergudangan,
instalasi pengolahan limbah, dan sebagainya.
Untuk menunjang kesejahteraan karyawan, bangunan lain yang diijinkan
dalam kawasan ini adalah: kantin, poliklinik, sarana ibadah, rumah
penginapan sementara (mess transito), pusat kesegaran jasmani (fitness
centre)/sarana olah raga, dan fasilitas penunjang lain yang bersifat
melayani kebutuhan harian para karyawan.

3.4.3.2 Peraturan Penggunaan Kawasan Industri
Penggunaan yang dapat diizinkan di dalam Kawasan Industri tercantum
pada Lampiran 5. Penggunaan yang dapat diizinkan tersebut dapat
dibatasi jika terdapat lahan yang rawan lingkungan.
a) Pada Kawasan Industri, suatu persil dapat mengadakan perubahan
struktur bangunan yang akan digunakan, dengan penggunaan
sesuai dengan yang tercantum pada Lampiran 5;
III - 26
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
b) Semua penggunaan atau kegiatan di dalam kawasan industri harus
diselenggarakan di dalam bangunan tertutup, kecuali penggunaan
atau kegiatan yang secara tradisi diselenggarakan di luar bangunan;
c) Penggunaan pelengkap dalam kawasan industri dapat diiijinkan
5
;
d) Penggunaan sementara diijinkan untuk jangka waktu yang terbatas;
e) Untuk penggunaan yang tidak dapat segera diklasifikasikan,
Pemerintah Kota menetapkan kategori dan sub kategori yang
sesuai.

3.4.3.3 Peraturan Penggunaan Tambahan Kawasan
Industri
Peraturan penggunaan tambahan yang dapat diterapkan, selain yang
tercantum pada Lampiran 5 adalah sebagai berikut :
(a) Barang-barang kelontong, farmasi, dan penjualan kebutuhan sehari-
hari diijinkan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Perusahaan yang menawarkan barang-barang tersebut untuk
dijual dibatasi dengan luas lantai gros 90 m
2
; dan
(2) Luas total yang digunakan tidak melampaui 10% dari luas
lantai gros bangunan berada.
(b) Rumah makan dan minum diijinkan dengan ketentuan sebagai
berikut:
(1) Usaha individu dibatasi maksimal 270 m
2
luas lantai gros;
(2) Pertunjukan hidup tidak diijinkan pada persil.

(c) J asa penunjang bisnis diijinkan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Usaha individu dibatasi sampai 315 m
2
luas lantai gros;
(2) Luas total yang digunakan tidak melampaui 25% dari luas
lantai gros bangunan berada.
(d) J asa kesehatan diijinkan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Usaha individu dibatasi sampai 315 m
2
luas lantai gros;
(2) Luas total yang digunakan tidak melampaui 10% dari luas
lantai gros bangunan berada.
(e) Penggunaan manufaktur dan perakitan ringan pada IT-1 terbatas
pada:
(1) Fabrikasi dengan proto-tipe;

5
Lihat Peraturan Penggunaan Tambahan
III - 27
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
(2) Produksi memerlukan teknologi dan ketrampilan tinggi dan
langsung berhubungan dengan kegiatan-kegiatan riset dan
pengembangan pada persil;
(3) Pengolahan hasil riset bio-kimia dan bahan-bahan hasil
penelitian digunakan terutama oleh universitas, laboratorium,
rumah sakit, dan klinik untuk tujuan-tujuan riset ilmiah, dan
pengembangan percobaan-percobaan;
(4) Produksi dari produk-produk hasil percobaan;
(5) Pengembangan produksi atau sistem operasi yang
dipergunakan dan dioperasikan pada lokasi lain, termasuk
pengolahan produk-produk yang diperlukan bagi
pengembangan tersebut;
(6) Pengolahan produk-produk biologi, bio-medik, dan farmasi, dan
(7) Pengolahan peralatan-peralatan ilmiah, keteknikan, dan
kedokteran.
(f) Pemasokan bahan-bahan bangunan dan penjualan peralatan
diijinkan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Barang-barang untuk dijual dibatasi pada peralatan, onderdil,
dan produk-produk yang digunakan dalam pemasangan atau
perbaikan yang permanen pada pembangunan struktur atau
persil, dan
(2) Usaha penjualan bahan-bahan bangunan dan peralatan
menempati area sekurang-kurangnya 900 m
2
dari luas lantai
gros.
(g) Penggunaan penjualan ritel yang mengikuti pasal ini diijinkan
dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Barang-barang yang ditawarkan untuk dijual harus diolah di
dalam persil, dan
(2) Maksimum 25% dari luas lantai gros pada persil boleh
digunakan untuk penjualan ritel. Sekurang-kurangnya 75% dari
luas lantai gros harus digunakan untuk kegiatan manufaktur,
penyimpanan, atau distribusi grosiran dari produk-produk yang
ditawarkan untuk dijual.
(h) Usaha barang-barang kebutuhan sehari-hari, makanan, dan
minuman diijinkan dengan ketentuan sebagai berikut:
(1) Satu perusahaan individu tidak melampaui 90 m
2
luas lantai
gros, dan
(2) Fasilitas drive-in dan drive-through tidak diijinkan.

III - 28
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.4.3.4 Peraturan Teknis Pembangunan Kawasan
Industri
Peraturan teknis pembangunan pada Kawasan Industri berlaku untuk
semua pembangunan dalam Kawasan Industri, dengan atau tanpa
diperlukan ijin atau persetujuan lain kecuali ditetapkan secara khusus.
Peraturan teknis pembangunan yang berlaku pada Kawasan Industri
dapat dilihat pada Lampiran 6.

Dimensi Perpetakan Pada Kawasan Industri
Lebar jalan minimum di depan bangunan adalah 18 m untuk setiap
petak pada zona IT yang menghadap ke putaran atau jalan yang
menikung dengan radius kurang dari 30 m.
Persyaratan-Persyaratan Lain
Persyaratan-persyaratan lain yang dapat ditetapkan pada Kawasan
Industri antara lain adalah:
Persyaratan jarak bebas pada Kawasan Industri;
Tinggi maksimum struktur pada Kawasan Industri;
Persyaratan dinding jalan untuk Kawasan Industri;
Fasilitas luar ruangan pada Kawasan Industri.













III - 29
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
3.4.4 Kawasan Ruang Terbuka
3.4.4.1 Identifikasi Paket Penggunaan Kawasan Ruang
Terbuka
A. Zona Ruang
Terbuka Hijau
Lindung (TL)
Cagar Alam (TL-1);
Cagar Budaya;
Taman Hutan Raya;
Taman Hutan Wisata;
Daerah Resapan;
Daerah Bergambut;
Kawasan Rawan Bencana;
Perlindungan Pesisir Pantai (TL-2) : pengendalian
kualitas perairan wilayah pesisir dengan tidak
mengijinkan kegiatan-kegiatan yang dapat merusak
maupun merubah kualitas air perairan pesisir;
Pengamanan Bandara (TL-3) : berupa penyekatan
(buffer) baik horizontal maupun vertikal sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang ada;
Perlindungan Pulau-pulau (TL-4) : Melindungi
pulau-pulau yang termasuk di dalam zona pelindung
Taman Laut Nasional laut karena terdapatnya plasma
nutfah flora dan fauna;
Sempadan Sungai/ Situ/ Mata Air
6
(TL-5) :
Melindungi bantaran sungai dan segala jenis
bangunan dalam rangka melindungi dan melestarikan
fungsi dan peruntukan sungai.

B. Zona Ruang
Terbuka Hijau
Binaan (TB)
Taman Kota (TB-1);
Hutan Kota (TB-2);
Kebon Bibit (TB-3);
Pemakaman Umum (TB-4);
Agribisnis (TB-5);
J alur Hijau (TB-6) : filter dari daerah-daerah industri
dan daerah-daerah yang menimbulkan polusi;
Kawasan sempadan jalur kawat listrik
7
, Kawasan
sempadan gas, kawasan sempadan rel kereta api, dll.

C. Zona Ruang
Terbuka Tata
Air (TA)
Penggunaan yang ditetapkan : situ dan waduk (TA-1);
Pembangunan yang diijinkan ialah yang tidak akan
membentuk suatu keadaan yang membahayakan atau
merintangi pengaliran air.


6
Mengacu pada Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung
7
Mengacu pada Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor
01.P/47/MPE/1992
III - 30
Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Untuk mendukung fungsinya sebagai ruang terbuka kota, pembangunan
pada kawasan ini harus memberikan perlindungan dengan
memperhatikan konservasi tanah dan air melalui pengaturan kepadatan
bangunan, vegetasi dan sumur resapan.

3.4.4.2 Peraturan-peraturan Penggunaan Kawasan
Ruang Terbuka
Penggunaan yang diijinkan di dalam Kawasan Ruang Terbuka tercantum
pada Lampiran 7. Penggunaan-penggunaan yang diijinkan tersebut
dapat dibatasi jika terdapat lahan yang rawan lingkungan.
a) Pada Kawasan Ruang Terbuka, suatu persil dapat mengadakan
perubahan struktur bangunan yang akan digunakan, dengan
penggunaan sesuai dengan yang tercantum pada Lampiran 7;
b) Semua penggunaan atau kegiatan yang diijinkan dalam Kawasan
Ruang Terbuka harus diselenggarakan seluruhnya dalam
bangunan tertutup kecuali penggunaan atau kegiatan yang secara
tradisi diselenggarakan di luar bangunan;
c) Penggunaan-penggunaan pelengkap dalam Kawasan Ruang
Terbuka dapat diijinkan sesuai dengan Peraturan Penggunaan
Pelengkap
8
;
d) Penggunaan-penggunaan sementara/temporer diijinkan pada
Kawasan Ruang Terbuka untuk jangka waktu yang terbatas;
e) Untuk penggunaan yang tidak dapat segera diklasifikasi,
Pemerintah Kota menetapkan kategori dan sub kategori yang
sesuai.

3.4.4.3 Peraturan Teknis Pembangunan Kawasan
Ruang Terbuka
Peraturan Teknis pembangunan pada Kawasan Ruang Terbuka berlaku
untuk semua pembangunan dalam Kawasan Ruang Terbuka, dalam atau
tanpa diperlukan ijin atau persetujuan ijin kecuali ditetapkan secara
khusus. Peraturan Teknis pembangunan yang berlaku pada Kawasan
Ruang Terbuka disajikan pada Lampiran 8.
Pembagian Kawasan serta paket penggunaannya terdapat
pada Tabel 3.1.

8
Lihat Peraturan Penggunaan Tambahan

III - 31 Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Tabel 3.1
PEMBAGIAN KAWASAN DAN PAKET PENGGUNAANNYA




Perumahan Taman
(PT)
unit hunian berkarakter pedusunan atau rumah taman,
dengan penggunaan pelengkap kebun pertanian atau
taman (PT-1).
Perumahan Renggang
(PR)
unit hunian keluarga tunggal dengan peletakan
bangunan renggang, yang bukan taman dan juga ditata
secara rapat (PR-1).
Perumahan Deret (PD)
Perumahan Deret Keluarga Tunggal dengan
peletakan bangunan rapat/deret (PD-1);
Perumahan deret maksimum 4 lantai, peralihan
rumah tunggal padat ke perumahan susun padat
(PD-2).

Perumahan Susun (PS)
Perumahan Susun Kepadatan Rendah (PS-1);
Perumahan Susun Kepadatan Sedang (PS-2);
Perumahan Susun Kepadatan Tinggi dengan
Penggunaan Komersial Terbatas (PS-3);
Perumahan Susun Kepadatan Sedang dengan
Penggunaan Komersial Terbatas (PS-4).

Lahan untuk
pengembangan hunian
dengan kepadatan
bervariasi di seluruh kota
KAWASAN
ZONA PAKET PENGGUNAAN
KAWASAN PERMUKI MAN
III - 32 Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan





Pemerintah (BP)
Kantor Pemerintah (BP-1);
Kantor Kedutaan atau perwakilan asing (BP-2).
Komersial Perkantoran
(BK)
Perkantoran umum Renggang (BK-1);
Perkantoran umum Deret (BK-2);
Perkantoran umum berupa rumah/kantor (deret)
dengan menyediakan fasilitas hunian (BK-3).
Komersial Pertokoan
(BT)
Ritel skala besar renggang (BT-1);
Ritel dan manufaktur tebatas deret (BT-2);
Rumah/toko deret, menyediakan fasilitas hunian
(BT-3).

Komersial Sentra (BS)
Sentra Lokal (BS-1);
Sentra Tersier (BS-2);
Sentra Sekunder (BS-3);
Sentra Primer (BS-4).





Lahan untuk menampung
tenaga kerja, pertokoan, jasa,
rekreasi, dan pelayanan
masyarakat
KAWASAN PERDAGANGAN
DAN J ASA
KAWASAN
ZONA PAKET PENGGUNAAN
III - 33 Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan





Industri Taman (IT)
Kegiatan riset dan manufaktur terbatas (IT-1);
Industri ringan dengan perkantoran (IT-2).
Industri Ringan (IR)
Industri Ringan (IR-1);
Campuran industri ringan, perkantoran, dan
komersial terbatas (IR-2);
Campuran industri ringan, perkantoran, dan
komersial (IR-3).
Industri Berat (IB)
Manufaktur (IB-1);
Manufaktur dan perkantoran terbatas (IB-2).

Industri Perpetakan
Kecil (IK)
Industri skala kecil: industri dan non industri yang
menampung kegiatan-kegiatannya secara massal
dengan pengelolaan bangunan secara terpadu
(IK-1);
Industri kecil hunian (IK-2).




Ruangan bagi kegiatan industri
dan manufaktur dalam
meningkatkan keseimbangan
penggunaan lahan dan
ekonomi serta mendorong
pertumbuhan lapangan kerja
KAWASAN INDUSTRI
KAWASAN
ZONA PAKET PENGGUNAAN
III - 34 Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan






Cagar Alam (TL-1) : penggunaan-penggunaan yang
diijinkan dibatasi pada kegiatan-kegiatan yang dapat
membantu melestarikan karakter alami lahan.

Perlindungan Pesisir Pantai (TL-2) : pengendalian
kualitas perairan wilayah pesisir dengan tidak mengijinkan
kegiatan-kegiatan yang dapat merusak maupun merubah
kualitas air perairan pesisir.

Pengamanan Bandara (TL-3), penyekatan (buffer)
baik horizontal maupun vertikal sesuai dengan ketentuan-
ketentuan yang ada;
Perlindungan Pulau-pulau (TL-4) : Melindungi
pulau-pulau dalam zona pelindung Taman Laut Nasional
laut karena terdapat plasma nutfah flora dan fauna.

Ruang Terbuka
Hijau Lindung (TL)
Sempadan Sungai/Situ/Mata Air (TL-5) :
Melindungi bantaran sungai dan segala jenis bangunan
dalam rangka melindungi dan melestarikan fungsi dan
peruntukan sungai.




Ditujukan mempertahankan/
melindungi lahan-lahan rekreasi
di luar bangunan, sarana
pendidikan, dan untuk dinikmati
nilai-nilai keindahan visualnya
KAWASAN RUANG
TERBUKA
KAWASAN
ZONA PAKET PENGGUNAAN
III - 35 Materi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan






Taman Kota (TB-1);

Hutan Kota (TB-2);

Kebon Bibit (TB-3);

Pemakaman Umum (TB-4);

Ruang Terbuka
Hijau Binaan (TB)
Agribisnis (TB-5);
J alur Hijau (TB-6) : filter dari daerah-daerah
industri dan daerah-daerah yang menimbulkan
polusi, kawasan sempadan jalur kawat listrik,
kawasan sempadan gas, kawasan sempadan rel
kereta api, dll.

Ruang Terbuka
Tata Air
Penggunaan yang ditetapkan : situ dan waduk (TA-1);
Pembangunan yang diijinkan ialah yang tidak akan
membentuk suatu keadaan yang membahayakan atau
merintangi pengaliran air.


ditujukan mempertahankan/
melindungi lahan-lahan rekreasi
di luar bangunan, sarana
pendidikan, dan untuk dinikmati
nilai-nilai keindahan visualnya
KAWASAN RUANG
TERBUKA
KAWASAN
ZONA PAKET PENGGUNAAN
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
BAB 4
PROSES PENETAPAN
ATURAN POLA PEMANFAATAN
RUANG (ZONING REGULATION)



4.1 KONDI SI AWAL
a. Kota yang telah memiliki RTRW ; terdapat Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang, yang perlu dilakukan adalah :
o Peninjauan kembali RTRW
o Penegasan/pemantapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
b. Kota yang telah memiliki RTRW ; tidak ada Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang, yang perlu dilakukan adalah :
o Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
o Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (amandemen
RTRW)
c. Kota yang belum memiliki RTRW ; bisa menyusun RTRW sambil
menetapkan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
o Penyusunan RTRW (termasuk Aturan Pola Pemanfaatan Ruang)
o Penetapan RTRW (termasuk Aturan Pola Pemanfaatan Ruang)

Proses penyusunan, peninjauan kembali dan penetapan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang tersebut sama dengan prosedur perencanaan tata
ruang kota.





IV - 2
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
4.2 PROSES PENETAPAN ATURAN POLA PEMANFAATAN
RUANG
Proses penetapan ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG terdiri dari 5
tahap :
1. Persiapan;
2. Pengumpulan data/informasi dan analisis;
3. Perumusan rancangan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang;
4. Pembahasan rancangan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang;
5. Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.1.

4.2.1 Persiapan
Tahapan persiapan meliputi :
Pemeriksaan RTRW yang ada, termasuk aturan pelaksanaannya;
Penyusunan rencana kerja, termasuk pembiayaan;
Administrasi dan teknis.

4.2.2 Pengumpulan Data/ Informasi dan Analisis
Pengumpulan data dan informasi ditujukan untuk mendapatkan
informasi yang terkini dan akurat yang akan digunakan dalam kegiatan
analisis. Metoda pengumpulan data/informasi terdiri dari:
(i) survei primer/ lapangan, yaitu mengumpulkan data dan
informasi (tabel, peta, foto, film);
(ii) survei sekunder, yaitu mengumpulkan data/informasi dari sumber
sekunder/dokumen.
Data dan informasi yang diperlukan sehubungan dengan penyusunan
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang meliputi:
(i) Kondisi Fisik Dasar : topografi, jenis tanah;
(ii) Penggunaan lahan dan bangunan yang ada di seluruh wilayah kota,
termasuk bangunan-bangunan bersejarah;
(iii) Sempadan bangunan dan ketinggian lantai pada bangunan yang
sudah terbangun;
(iv) Kondisi prasarana lingkungan kota, seperti lebar jalan, saluran di
bawah/di atas tanah dari jaringan drainase, air bersih, listrik,
IV - 3
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
telepon, gas, kabel TV, bangunan antena, dan lain-lain, serta
rencana pengembangannya;
(v) Peraturan-peraturan Pemerintah Kota/Propinsi/Pusat yang sudah
diterbitkan mengenai pemanfaatan lahan dan bangunan serta
prasarana lingkungan kota;
(vi) Referensi Zoning Regulation dari kota-kota atau negara lain.

Kegiatan analisis ditujukan untuk memperoleh identifikasi Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang yang diperlukan oleh suatu kota. Hasil akhir dari
kegiatan analisis adalah draft dari Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, yang
akan dirumuskan di dalam tahap kegiatan selanjutnya. Kegiatan analisis
yang dilakukan meliputi :
(i) Review studi/peraturan yang sudah ada dan terkait dengan Zoning
Regulation, terutama keefektifan atau dampak dari peraturan-
peraturan Pemerintah Kota mengenai pemanfaatan lahan,
bangunan, dan prasarana lingkungan/infrastruktur. Di dalam
kegiatan ini juga ditinjau peraturan yang tumpang tindih atau yang
bertentangan. Peraturan-peraturan yang efektif akan
diakomodasikan ke dalam Aturan Pola Pemanfaatan Ruang,
sebaliknya peraturan yang berdampak negatif sebaiknya diubah;
(ii) Pengklasifikasian kembali kawasan, zona, serta penggunaan lahan
dan bangunan sesuai dengan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang yang
akan disusun. Di sini juga dianalisis perlunya tambahan klasifikasi
kawasan, dan kawasan lainnya yang memerlukan penanganan
khusus, misalnya untuk bangunan bersejarah. Kriteria atau standar
yang digunakan di dalam penentuan kategori kawasan dan zona
diuraikan lebih rinci pada Bab 3;
(iii) Identifikasi penggunaan lahan dan bangunan yang akan muncul
secara signifikan pada suatu zona atau pada suatu jalan dengan
klasifikasi tertentu, mengingat bahwa kota dan masyarakat di
dalamnya tumbuh dan berkembang. Hal ini dapat diidentifikasi
berdasarkan trend pengalihan penggunaan bangunan pada suatu
zona atau jalan tertentu, serta berdasarkan referensi Zoning
Regulation dari kota/negara lain;
(iv) Identifikasi peraturan yang diperlukan bagi masing-masing kawasan
dan zona, meliputi pengaturan penggunaan lahan/bangunan yang
diperkenankan dan pengaturan teknis, yang merupakan draft dari
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.
IV - 4
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang Kawasan Perkotaan
Gambar 4.1
LI NGKUP KEGI ATAN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG KAWASAN PERKOTAAN




Persiapan Penganggaran
Persiapan Administrasi
Persiapan Teknis


Ketua Tim, sebagai koordinator
Anggota Tim

Survei Primer
Survei Sekunder

Review studi / peraturan
Pengklasifikasian Kembali Kawasan
Identifikasi Penggunaan Lahan dan Bangunan
Identifikasi peraturan bagi masing-masing
kawasan/zona: pengaturan penggunaan lahan,
pengaturan teknis

Arahan Pembentukan/Penetapan Kawasan
Ketentuan Penggunaan Lahan
Ketentuan Teknis dan Ketentuan Khusus
Pengendalian pemanfaatan zona
Kelembagaan


Pembahasan Konsep Produk
Penetapan sebagai Peraturan
Daerah
Media cetak : Surat kabar, majalah,
brosur
Media elektronik : televisi, radio,
website
Penempatan dokumen pada kantor
pelayanan umum
Penerbitan manual dan handout
Pembentukan media interaktif untuk
menyalurkan aspirasi masyarakat
PROSES
PERSI APAN
ANALI SI S
PERUMUSAN ATURAN POLA
PEMANFAATAN RUANG
SOSI ALI SASI
PENGUMPULAN DATA
DAN I NFORMASI
PEMBENTUKAN
INSTANSI PENYUSUN
IV - 5
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
4.2.3 Perumusan Rancangan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang
Tahap selanjutnya adalah perumusan rancangan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang, yang meliputi arahan penetapan kawasan,
ketentuan penggunaan zoning dan ketentuan-ketentuan teknisnya.
Dengan demikian Aturan Pola Pemanfaatan Ruang ini akan merupakan
pedoman bagi pencapaian tujuan yang telah berhasil diformulasikan,
khususnya sebagai instrumen dalam pengendalian pembangunan kota.

4.2.4 Pembahasan Rancangan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang
Pembahasan dilakukan secara bertahap sesuai dengan sistematika
pelaporan;
Setiap laporan memuat ketentuan sebagaimana telah ditentukan
pada kerangka acuan pekerjaan dan setiap masukan yang diperoleh
pada setiap tahap pembahasan harus dipertimbangkan untuk
diakomodasikan dalam merumuskan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang;
Setiap tahap pembahasan harus melibatkan berbagai pelaku
pembangunan termasuk masyarakat;
Tahap akhir pembahasan dilakukan dalam rangka legalisasi Aturan
Pola Pemanfaatan Ruang untuk menjadi produk hukum, setelah
materi secara teknis disepakati oleh tim penyusun maupun pelaku
pembangunan yang terlibat dalam penyusunan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang.

4.2.5 Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang disesuaikan dengan
tingkatan Rencana Tata Ruang.
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang yang telah ditetapkan
merupakan dokumen peraturan perundangan yang mengikat
secara hukum bagi masyarakat dan menjadi acuan bagi
pembangunan kota.
Untuk mengoperasionalisasikan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang,
perlu adanya suatu penetapan dalam bentuk Surat Keputusan
Walikota/Bupati.
IV - 6
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Dalam hal terjadi perubahan bentuk lingkungan sebagai akibat
dari dinamika perkembangan perkotaan yang cukup tinggi, maka
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang yang bersangkutan ditetapkan
dengan persetujuan DPRD dalam bentuk Peraturan Daerah.

4.3 MUATAN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG
Muatan Aturan Pola Pemanfatan Ruang sesuai dengan prinsip-prinsip
manfaat kegunaan peraturan tersebut sebagai arahan pengendalian
pembangunan kawasan perkotaan dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Substansi Zoning, mencakup :
Arahan Penentuan Kawasan;
Ketentuan Penggunaan Kawasan;
Peraturan Pembangunan;
Pengendalian Pemanfaatan Kawasan.
2. Kelembagaan dan Prosedur Pengesahan, yang berisikan:
Kelembagaan;
Tugas dan wewenang;
J enis Perijinan;
Proses Perijinan;
Peran serta masyarakat;
Prosedur peninjauan kembali.

4.3.1 Substansi Zoning
A. Arahan Pembentukan/ Penetapan Kawasan,
Materi yang diatur : meliputi arahan
pembentukan/penentuan kawasan, baik zona dasar, maupun
kawasan lainnya yang memerlukan penanganan khusus, yang
selanjutnya dirinci dalam penentuan zona yang masing-masing
memiliki sifat spesifiknya. Penetapan kawasan dan zona ini
perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah perkotaan yang
bersangkutan dan rencana pengembangannya.
Kedalaman Materi yang Diatur : pembentukan zona dasar,
sampai pada zona. Penetapan kawasan ini mengidentifikasikan
penggunaan-penggunaan yang diperbolehkan atas kepemilikan
lahan dan peraturan-peraturan yang berlaku di atasnya.
IV - 7
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Pengelompokan Materi yang Diatur disesuaikan dengan
kondisi wilayah perencanaan, misalnya:
Kawasan Permukiman, dengan zona :
Perumahan Taman;
Perumahan Renggang;
Perumahan Deret;
Perumahan Susun.
Kawasan Perdagangan dan J asa, dengan zona :
Bangunan Pemerintah;
Komersial Perkantoran;
Komersial Pertokoan;
Komersial Sentra.
Kawasan Industri, dengan zona :
Industri Taman;
Industri Ringan;
Industri Berat;
Industri Perpetakan kecil.
Kawasan Ruang Terbuka, dengan zona :
Ruang Terbuka Hijau Lindung;
Ruang Terbuka Hijau Binaan;
Ruang Terbuka Tata Air.


B. Ketentuan Penggunaan Kawasan
Materi yang diatur : Ketentuan penggunaan kawasan, yang
meliputi arahan-arahan dalam penggunaan kawasan di wilayah
perkotaan.
Kedalaman Materi yang Diatur : Ketentuan penggunaan
yang diatur adalah ketentuan penggunaan atas kawasan,
kawasan lainnya yang memerlukan penanganan khusus, yang
dirinci per zona. Masing-masing penggunaan akan dirinci dalam
penggunaan utama dan penggunaan pelengkap.
Pengelompokan Materi yang Diatur :
Pengelompokan penggunaan, yang dirinci dari penggunaan
besar hingga penggunaan yang lebih mikro;
IV - 8
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Matriks penjabaran dari peruntukan kawasan ke
peruntukan zona, yang minimal dibedakan atas
penggunaan yang diperuntukan/diijinkan, penggunaan
boleh terbatas, dan penggunaan boleh dengan syarat,
serta penggunaan yang dilarang.
C. Peraturan Pembangunan
Materi yang Diatur : ketentuan teknis dan ketentuan khusus
dalam penggunaan kawasan. Peraturan pembangunan dalam
satu kawasan ditetapkan dengan mempertimbangkan
penggunaan yang diperbolehkan dalam ketentuan penggunaan
kawasan. Oleh karenannya, peraturan penggunaan dengan
ketentuan penggunaan kawasan tidak boleh saling
bertentangan.
Kedalaman Materi yang Diatur : peraturan pembangunan
pada masing-masing kawasan, yang dirinci dalam unit-unit
lingkungan, pola sifat lingkungan (misalnya pola sifat
lingkungan padat, kurang padat, dan tidak padat), serta satuan
lingkungan permukiman yang diatur (misalnya wilayah kota,
sub wilayah kota, kecamatan, kelurahan, dst).
Pengelompokan Materi yang Diatur
Pengelompokan materi yang diatur disesuaikan dengan
karakteristik dan kompleksitas wilayah perkotaan yang
direncanakan, misalnya :
Luas Perpetakan
Luas Perpetakan Minimum (m
2
);
Luas Perpetakan Maksimum (m
2
).
Persyaratan Dimensi Perpetakan Minimum, meliputi :
Lebar Perpetakan;
Frontage J alan (m);
Kedalaman perpetakan (m).
Persyaratan J arak Bebas
J arak Bebas Depan Minimum (m);
J arak Bebas Depan Standar (m);
J arak Bebas Samping Minimum (m);
J arak Bebas Sisi J alan Minimum (m);
J arak Bebas Sisi J alan Standar (m);
J arak Bebas Sisi yang Bersinggungan dengan Hunian
Minimum (m);
IV - 9
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
J arak Bebas Belakang Minimum (m);
J arak Bebas Belakang Standar (m);
J arak Bebas Belakang yang Bersinggungan dengan
Hunian Minimum (m).
Persyaratan Intensitas Pemanfaatan Ruang
KDB
1
/ Koefidien Dasar Bangunan Maksimum (%);
KLB / Koefisien Lantai Bangunan;
Batas tinggi bangunan
2
Maksimum (m) : tinggi bangunan
utama, tinggi cerobong asap, tiang bendera, menara, tanki
air, dsb;
Kepadatan maksimum
3
;
Ruang terbuka umum maksimum;
Persyaratan J aringan dan Utilitas : penyediaan sarana dan
utilitas pada tiap kawasan harus diatur sedemikian rupa
agar penyediaan tersebut tidak menimbulkan dampak
negatif terhadap guna lahan yang telah ditetapkan, antara
lain meliputi:
Lebar dan fungsi jalan;
Sistem penyediaan air bersih;
Sistem pembuangan air limbah.
Peraturan Penggunaan Pelengkap
4

Bangunan pelengkap;
Pagar dan dinding;
Parkir off-street;
Tata Informasi (sign).

1
KDB (Koefisien Dasar Bangunan) adalah rasio / perbandingan luas lahan
terbangun (land coverage) dengan luas lahan keseluruhan; Batasan KDB
dinyatakan dalam persen (%)
2
Ketinggian Bangunan ialah suatu nilai yang menyatakan jumlah lapis / lantai
(storey) maksimum pada petak lahan. Ketinggian bangunan dinyatakan dalam
satuan lapis atau lantai (Lantai Dasar = Lantai 1) atau meter.
3
Kepadatan Bangunan adalah jumlah bangunan di atas satu luasan lahan
tertentu, dinyatakan dalam bangunan / ha.
4
Yang dimaksud penggunaan pelengkap ialah suatu penggunaan yang
diselenggarakan pada zona perpetakan yang sama dengan penggunaan utama
pada mana ia berhubungan (apakah berada di dalam bangunan yang sama atau
bangunan pelengkap atau struktur lain, atau sebagai penggunaan pelengkap dari
lahan).
IV - 10
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Persyaratan Lansekap
Koefisien Dasar Hijau
5

Standar Performace
Bahaya Kebakaran;
Gangguan radioaktif atau electrical;
Kebisingan;
Getaran;
Panas dan cahaya yang menyilaukan;
Asap;
Bau-bauan;
Polusi udara;
Sampah;
Pencahayaan.


4.4 PEMANFAATAN
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang kawasan perkotaan digunakan sebagai
instrumen pengendali pembangunan, pedoman penyusunan rencana
operasional, dan sebagai panduan teknis pengembangan lahan di
kawasan perkotaan.
Ketentuan-ketentuan di dalam Aturan Pola Pemanfaatan Ruang juga
akan mencakup ketentuan-ketentuan yang mengatur kepadatan
penduduk dan intensitas kegiatan, keseimbangan keserasian peruntukan
tanah, perlindungan kesehatan, keamanan, dan ketertiban,
kesejahteraan masyarakat, pencegahan kesemrawutan, penyediaan
pelayanan umum sesuai dengan standar yang berlaku. Selain itu Aturan
Pola Pemanfaatan Ruang juga dapat digunakan sebagai alat bantu
pencegahan dampak pembangunan yang merugikan.
Bagi masyarakat dan dunia usaha, Aturan Pola Pemanfaatan Ruang ini
dapat dijadikan sebagai rujukan dalam melakukan rancang bangun
bangunan dan prasarana bagi aktivitas masyarakat dan swasta. Selain
itu Aturan Pola Pemanfaatan Ruang ini dapat merupakan jaminan
kepastian hukum dalam pelaksanaan pembangunan, khususnya jaminan
akan kondisi yang selaras dan harmonis dalam melakukan kegiatannya.


5
Koefisien Dasar Hijau (KDH) adalah rasio/perbandingan lahan hijau dengan luas
lahan keseluruhan yang dinyatakan dalam persen (%). Koefisien Dasar Hijau
diwujudkan oleh luas area yang tidak tertutup bangunan
IV - 11
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
4.5 PENGENDALIAN
Pengendalian dimaksud terdiri dari pemantauan, evaluasi, dan
peninjauan kembali Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, dan penertiban.
Kegiatan pemantauan dilakukan secara koordinatif dengan
instansi terkait. meliputi pemantauan terhadap
pemanfaatan/penggunaan kawasan, fungsi kawasan, sarana dan
prasarana, serta kesesuaian terhadap peraturan pembangunan
yang telah ditetapkan
Kegiatan evaluasi dan peninjauan kembali dilakukan dalam
rangka mengkoordinir perubahan-perubahan yang terus terjadi
sejalan dengan perkembangan kota, dengan demikian Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang yang telah disusun tanggap terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi.
Penertiban dilakukan dalam rangka menjaga konsistensi Aturan
Pola Pemanfaatan Ruang, terutama konsistensi peraturan terhadap
pemanfaatan kawasan yang diperkirakan dapat memberikan
dampak yang merusak lingkungan hidup perkotaan. Penertiban
dilakukan dalam bentuk pengenaan sanksi, pembatalan ijin
pembangunan, penundaan pembangunan, dan/atau penerapan
persyaratan-persyaratan teknis

4.6 PENI NJ AUAN KEMBALI
Seiring dengan perkembangan kondisi lingkungan fisik kota yang
bersifat dinamis, terjadi berbagai kemungkinan yaitu antara lain:
i. Perubahan faktor eksternal terhadap wilayah perkotaan seperti
perkembangan perekonomian, perubahan wilayah sektor dan tata
ruang wilayah;
ii. Perubahan kondisi-kondisi internal kota, seperti keinginan daerah,
perkembangan yang sangat pesat dari satu sektor atau kawasan;
iii. Kekurangtepatan menggunakan rencana dan pengendalian
sehingga terjadi simpangan
Hal tersebut menyebabkan terbuka kemungkinan munculnya
pemanfaatan baru dari bangunan dan/atau lahan, terjadinya pengalihan
fungsi bangunan dan/atau lahan, kebutuhan akan ketentuan teknis yang
lebih sesuai, ataupun munculnya dampak yang belum diperhitungkan
pada Aturan Pola Pemanfaatan Ruang yang berlaku, yang selanjutnya
menyebabkan beberapa kondisi sebagai berikut:
IV - 12
Proses Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
i. Aturan Pola Pemanfaatan Ruang masih dapat mengakomodasikan
dinamika perkembangan yang bersifat eksternal maupun internal
namun terjadi simpangan-simpangan dalam pemanfaatan karena
kelemahan dalam pengendalian;
ii. Aturan Pola Pemanfaatan Ruang tidak dapat lagi
mengakomodasikan dinamika perkembangan yang bersifat
eksternal dan internal.
Untuk tetap menjaga kualitas lingkungan, Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang yang telah ditetapkan perlu ditinjau kembali secara berkala.
Dengan demikian, Aturan Pola Pemanfaatan Ruang dapat diperbaiki, dan
senantiasa akomodatif terhadap perkembangan yang terjadi.
Ketentuan mengenai peninjauan kembali perlu disebutkan di dalam
peraturan daerah mengenai Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.
Sedangkan aspek legalnya dapat berbentuk aturan tambahan dari
peraturan daerah tentang Aturan Pola Pemanfaatan Ruang. Apabila
terdapat perubahan yang mendasar atau cukup banyak materi yang
disesuaikan dari Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, maka perlu dipikirkan
apakah peraturan daerah yang baru perlu dipikirkan untuk mengganti
peraturan daerah yang masih berlaku.

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
BAB 5
KELEMBAGAAN



5.1 KEWENANGAN PENYUSUNAN DAN PENETAPAN
ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG
Kewenangan penyusunan dan penetapan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang sama dengan prosedur penyusunan rencana tata ruang kota.

5.1.1 Kewenangan Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penyusunan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang memerlukan keterlibatan banyak pihak dengan
kepentingan yang bisa sama, tumpang tindih, atau bahkan
bertentangan. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Daerah selaku
penyelenggara pemerintahan perlu membentuk suatu Tim Penyusun
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, yang terdiri dari dinas/badan/instansi
yang terkait dengan pengaturan tanah serta bangunan dan infrastruktur.
Tim tersebut dikoordinasikan oleh Bappeda/Dinas Tata Kota/Dinas Cipta
Karya/dinas lain serupa, yang bertindak sebagai koordinator dalam
pelaksanaan dan pengendalian pembangunan fisik kota. Sedangkan
anggota tim adalah dinas/badan/instansi lain ataupun BUMD yang
terkait langsung dengan pelaksanaan pembangunan fisik kota. Instansi-
instansi terkait terutama adalah Badan Pertanahan, Dinas PU Bina
Marga, Dinas PU Pengairan, serta badan usaha pemerintah dan swasta
(PT. Telkom, PLN, PDAM, PN. Gas, operator telekomunikasi seluler).
Badan Pertanahan berhubungan dengan sertifikasi tanah, sedangkan
dinas dan instansi lainnya berhubungan dengan penyediaan prasarana
kota pada suatu kawasan. Dengan dilibatkannya dinas dan instansi
terkait, akan dicapai kesamaan persepsi, serta peraturan yang
bertentangan antar dinas dan instansi dalam hal Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang dapat dihindari.
V - 2
Kelembagaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Di dalam melaksanakan tugasnya Tim dapat mencari masukan dari
organisasi masyarakat, perguruan tinggi, organisasi profesi, atau
individu-individu yang menggeluti masalah pelaksanaan pembangunan
fisik kota. Seperti ditampilkan pada Gambar 5.1.

5.1.2 Kewenangan Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang
Penetapan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang dilakukan oleh
Bupati/Walikota dengan persetujuan DPRD.
Produk Aturan Pola Pemanfaatan Ruang perlu mendapatkan legalitas
sehingga fungsinya sebagai pengendali pembangunan kota dapat
tercapai dengan efektif. Dibandingkan dengan rencana tata ruang,
produk Aturan Pola Pemanfaatan Ruang sebaiknya bersifat lebih
mengikat. Rencana Tata Ruang sebagai development plan seharusnya
bersifat fleksibel, yang antisipatif terhadap perkembangan fisik kota.
Sedangkan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang bersifat lebih tegas
mengatur ketentuan-ketentuan pada masing-masing kawasan, baik
ketentuan penggunaan maupun ketentuan teknis yang menyertainya.
Bentuk legalitas yang paling tepat untuk produk Aturan Pola Pemanfatan
Ruang adalah dalam Peraturan Daerah.
Proses pengesahan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang adalah sebagai
berikut:
a. Konsep produk Aturan Pola Pemanfaatan Ruang dipresentasikan di
hadapan DPRD untuk dibahas sebagai rancangan peraturan daerah;
b. Rancangan peraturan daerah ini kemudian dibahas antara DPRD
dan Pemerintah Kota dengan mencari masukan dari instansi/badan
terkait dan dari Unsur masyarakat;
c. Perbaikan akhir dari rancangan peraturan daerah kemudian
ditetapkan sebagai peraturan daerah.






V - 3
Kelembagaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
Gambar 5.1
BAGAN I NSTANSI PENYUSUN ATURAN POLA PEMANFAATAN RUANG


Anggota Tim :

Dinas/Instansi yang terkait langsung dengan pelaksanaan Pembangunan Kota
Badan
Pertanahan
Dinas
Kimpraswil
Dinas
Pertanian
BAPPEDA Dinas
Perindustrian
Dinas
Bangunan
Badan usaha pemerintah dan swasta : PT. TELKOM, PLN, PDAM, PN. GAS,
Operator Telekomunikasi Seluler
Dinas
Pertamanan
Kepala Daerah
Penanggung J awab
Pembangunan Kota

Sasaran :
Tercapainya kesamaan persepsi
antar dinas / instansi dalam hal
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Menghindari peraturan yang
bertentangan antar dinas/instansi
dalam hal Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang
Pihak-pihak lain yang menggeluti masalah pelaksanaan
pembangunan fisik kota
Organisasi
Masyarakat
Perguruan
Tinggi
Organisasi
Profesi
Ketua Tim
Koordinator Pelaksanaan dan
Pengendalian Pembangunan Kota
V - 4
Kelembagaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
5.2 PERAN MASYARAKAT
Berkaitan dengan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, masyarakat
memiliki beberapa peran, diantaranya adalah sebagai pengguna (yang
terkena Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, sebagai pengamat
pelaksanaan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, atau sebagai ahli hukum
yang mengamati Aturan Pola Pemanfaatan Ruang dari aspek hukum. Di
dalam penyusunan dan peninjauan kembali Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang, dimungkinkan peran serta masyarakat, khususnya yang terkait
dengan dampak atau keefektifan dari Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.
Peran serta masyarakat adalah berbagai kegiatan masyarakat untuk
turut serta di dalam penyelenggaraan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang,
sehingga tujuan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang bagi kesejahteraan
masyarakat dapat tercapai.

5.2.1 Hak dan Kewajiban
Dalam kegiatan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang masyarakat berhak:
a. berperan serta dalam proses penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang, pemanfaatan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, dan
pengendalian Aturan Pola Pemanfaatan Ruang;
b. mengetahui secara terbuka Aturan Pola Pemanfaatan Ruang yang
ditetapkan;
c. menikmati manfaat dan atau pertambahan nilai ruang sebagai
akibat dari Aturan Pola Pemanfaatan Ruang;
d. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya
sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai
dengan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.
Sedangkan kewajiban masyarakat di dalam Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang adalah:
a. berperan serta di dalam memelihara ketentuan penggunaan dan
ketentuan teknis yang berlaku pada bangunan/lahan yang
dikuasainya;
b. berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam penyusunan Aturan
Pola Pemanfaatan Ruang, pemanfaatan Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang, dan pengendalian Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.


V - 5
Kelembagaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan
5.2.2 Bentuk Peran Serta Masyarakat
Dalam kegiatan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, bentuk peran serta
masyarakat mulai dari penyusunan hingga pengendalian diuraikan
sebagai berikut :
Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang : dalam penyediaan
data/informasi dan pemberian masukan/saran/pendapat dalam
perumusan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.
Pemanfaatan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang : dalam
penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang yang ditetapkan, serta kegiatan menjaga,
memelihara, dan meningkatkan kualitas lingkungan sesuai dengan
arahan di dalam Aturan Pola Pemanfaatan Ruang yang berlaku.
Pengendalian Aturan Pola Pemanfaatan Ruang : dalam partisipasi
pengawasan kegiatan pembangunan agar sesuai dengan Aturan
Pola Pemanfaatan Ruang yang berlaku.

5.2.3 Sosialisasi Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pemerintah Daerah berkewajiban melaksanakan sosialisasi produk
Aturan Pola Pemanfaatan Ruang, khususnya setelah produk Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang tersebut mendapatkan status legal. Hal ini
dimaksudkan agar masyarakat luas mengetahui adanya peraturan
tersebut, memanfaatkannya di dalam pembangunan fisik kota di
lingkungannya, memperoleh manfaatnya, serta membantu di dalam
pengawasan/pengendalian di lapangan.
Sosialisasi produk Aturan Pola Pemanfaatan Ruang dapat dilaksanakan
melalui media cetak (surat kabar, majalah, brosur) dan media elektronik
(televisi, radio, website) serta menempatkan dokumen Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang pada kantor pelayanan umum seperti pada kantor
Walikota, kantor Dinas Tata Kota, kantor kecamatan dan kelurahan,
serta perpustakaan kota. J ika memungkinkan, dapat dilaksanakan
penerbitan manual dan handout tentang Aturan Pola Pemanfaatan
Ruang maupun tentang prosedur yang harus ditempuh
masyarakat/pengguna sebelum melaksanakan pembangunan fisik pada
lahan/bangunan yang dikuasainya. Di samping itu, diperlukan juga
tersedianya media interaktif atau sarana bagi masyarakat di dalam
menyalurkan aspirasinya mengenai Aturan Pola Pemanfaatan Ruang.





















LAMPIRAN

Lampiran 1
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Permukiman
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L1 - 1
Lampiran 1
PERATURAN PENGGUNAAN PADA KAWASAN PERMUKI MAN
K a w a s a n P E R M U K I M A N
PT PR PD PS
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 1 1 2 1 2 3 4
01. Ruang Terbuka
Rekreasi Aktif I I I I I I I I
Rekreasi Pasif T T T T T T T T
Preservasi Sumber-Sumber Alam I I I I I I I I
Fasilitas Pemeliharaan Taman I I I I I I I I
02. Pertanian
Pengolahan Hasil Pertanian T T T T T T T T
Fasilitas Akuakultur T T T T T T T T
Pemerahan Susu/Pembuatan Mentega T T T T T T T T
Pembenihan Hortikultura & Rumah Kaca T T T T T T T T
Pengembangan & Pemanenan Hasil Pertanian
I T T T T T T T
Pengembangan Perawatan & Pemeliharaan Hewan
T T T T T T T T
Penggunaan Pertanian Diatur Secara Terpisah
Bengkel Alat-Alat Pertanian T T T T T T T T
Istal/pemeliharaan kuda pacuan komersial T T T T T T T T
Kebun-kebun masyarakat L L L L L L L L
Fasilitas pameran & pertunjukan/sirkus berkuda
T T T T T T T T
Pasar terbuka penjualan hasil pertanian & bunga-bunga
T T T T T T T T
03. Hunian
Akomodasi Hunian Bersama T T T T I I I I
Taman Rumah Mobil T I I T T T T T
Hunian Multipel/Komunal T T T T I I I I
Hunian Tunggal I I I I T T T T
Penggunaan Hunian Diatur Secara Terpisah
Penyewaan Kamar dengan Makan B B B B B B B B
Paviliun S S S T T T T T
Rumah Dinas Karyawan B B B B B B B B
Asrama Mahasiswa dan Pelajar T T T T S S S S
Penjualan di Garasi dan Halaman B B B B B B B B
Wisma Tamu L L L T T T T T
Rumah Usaha B B B B B B B B
Rumah Jompo S S S S S S S S
Production House T T T S S S S S
Panti Perawatan (rehabilitasi pecandu narkoba)
T T T S S S S S
Wisma Transisi T T S S S S S S
Wisma Awak Kapal T T T T T T T T
04. I nstitusi
Penggunaan Institusi Diatur Secara Terpisah
Bandar Udara T T T T T T T T
Lampiran 1
Peraturan Penggunaan pada Zona Perumahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L1 - 2
K a w a s a n P E R M U K I M A N
PT PR PD PS
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 1 1 2 1 2 3 4
Kebun Botani dan Kebun Penelitian S S S S S S S S
Pemakaman dan Krematorium T T T T T T T T
Tempat Ibadah L L L L L L L L
Antena Komunikasi
Fasilitas Telekomunikasi Minor B B B B B B B B
Fasilitas Telekomunikasi Mayor S S S S S S S S
Antena Satelit B B B B B B B B
Rumah Tahanan T T T T T T T T
Fasilitas Pendidikan
TK sampai SMU S S S S I I I I
Sekolah Tinggi/ Universitas S S S S S S S S
Sekolah Kejuruan/Sekolah Dagang T T T T T T T T
Fasilitas Pembangkit dan Distribusi Energi T T T T T T T S
Fasilitas Balai Pameran dan Pertemuan T T T T T T T T
Fasilitas Pengendalian Banjir B B B B B B B B
Gedung Bersejarah yg boleh digunakan utk penggunaan
tertentu
S S S S S S S S
Fasilitas Warga Tuna Wisma
Fasilitas makan bersama T T T T T T S S
Shelter darurat T T T T T T S S
Rumah singgah T T T T T T S S
Rumah Sakit,Fasilitas Perawatan Antara,Fasilitas
Perawatan
T T T T S S S S
Pusat Informasi Lingkungan T T T T T T T T
Museum S S S S T T T T
Transmisi Induk, Relay, & Distribusi Komunikasi
T T T T T T T T
Lembaga Pelayanan Sosial T T T T T T T T
05. Perdagangan Ritel/ Eceran
Bahan Bangunan dan Perkakas T T T T T T T T
Makanan dan Minuman T S S S S S I I
Alat-Alat Rumah Tangga,Furnitur,Perkakas Rumah Tangga
T T T T T T T T
Hewan Peliharaan dan Kebutuhannya T T T T T T T T
Barang Kelontong,Farmasi,& Kebutuhan Sehari-hari
T S S S S S I I
Pakaian dan Aksesoris T T T T T T T T
Penggunaan Perdagangan RitelDiatur Secara Terpisah
Peralatan dan Pasokan Pertanian T T T T T T T T
Outlet Minuman Beralkohol T T T T T T T T
Penjualan Tanaman T T T T T T T T
Bursa & Fasilitas Perdagangan Ritel/Eceran Di Ruang
Terbuka
T T T T T T T T
06. J asa Komersial
Jasa Bangunan T T T T T T T T
Aneka Kebutuhan Bisnis T T T T T T T T
Jasa Usaha Makanan & Minuman T T T T T T T T
Lampiran 1
Peraturan Penggunaan pada Zona Perumahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L1 - 3
K a w a s a n P E R M U K I M A N
PT PR PD PS
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 1 1 2 1 2 3 4
Lembaga Keuangan T T T T T T T T
Jasa Pemakaman & Penitipan Mayat T T T T T T T T
Jasa Perawatan & Perbaikan (Reparasi) T T T T T T T T
Jasa Off-Site T T T T T T T T
Jasa Personal T T T T T T T T
Jasa Penyediaan Ruang Pertemuan & Pertunjukan
T T T T T T T T
Studio Radio & TV T T T T T T T T
Jasa Penginapan (Visitors Accomodation) T T T T T T T I
Penggunaan J asa Komersial Diatur Secara Terpisah
Taman Hiburan T T T T T T T T
Penitipan Hewan T T T T T T T T
Taman Perkemahan T T T T T T T T
Fasilitas Penitipan Anak S S S S S S S S
Kedai Makan & Minum Di Pinggir Zona Perumahan
S S S S S S S S
Pameran Di Ruang Terbuka T T T T T T T T
Lapangan Golf, Driving Range, Latihan Pitch & Putt
S S S S S S S S
Fasilitas Pendaratan Helikopter T T T T T T T T
Studio Ketrampilan T T T T T T T T
Panti Pijat, spesialis/ahli T T T T T T T T
Klub Malam & Bar, luas lantai lebih dari 465 m
2

T T T T T T T T
Klinik Kesehatan Rawat Luar S S S S S S S S
Fasilitas Parkir Sebagai Penggunaan Utama
Permanen T T T T T T T T
Sementara T T T T T T T T
Klub Privat T T T T T T T T
Fasilitas Rekreasi Privat, luas lebih dari 929 m
2

T T T T T T T T
Gerobak Dorong:
Gerobak Dorong di Lahan Privat T T T T T T T T
Gerobak Dorong di Jalan Umum T T T T T T T T
Fasilitas Daur Ulang:
Fasilitas Pengumpul Besar T T T T T T T T
Fasilitas Pengumpul Kecil T T T T T T T T
Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Besar T T T T T T T T
Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Kecil T T T T T T T T
Fasilitas Drop-Off T T T T T T T T
Fasilitas Pengomposan dari Bahan Tumbuhan T T T T T T T T
Fasilitas Pengomposan Campuran Bahan Organik
T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Besar T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial & Pabrik
Besar
T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Kecil T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial & Pabrik
Kecil
T T T T T T T T
Fasilitas Mesin Otomatik T T T T T T T T
Fasilitas Pengolah Ban Bekas T T T T T T T T
Lampiran 1
Peraturan Penggunaan pada Zona Perumahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L1 - 4
K a w a s a n P E R M U K I M A N
PT PR PD PS
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 1 1 2 1 2 3 4
Kafe Kaki Lima T T T T T T T T
Lapangan Olahraga dan Stadion T T T T T T T T
Teater Terbuka, luas lebih dari 465 m
2
T T T T T T T T
Klinik dan Rumah Sakit Hewan T T T T T T T T
Kebun Binatang T T T T T T T T
07. Perkantoran
Bisnis dan Profesional T T T T T T T T
Pemerintahan T T T T T T I I
Praktisi Medis, Dokter Gigi, dan Kesehatan L L L L L L L L
Jasa Perkantoran/Kantor Pusat Perusahaan/ Perwakilan
T T T T T T T T
Penggunaan Perkantoran Diatur Secara Terpisah
Kantor Pemasaran Real Estate dan Rumah Contoh
S S S S S S S S
Fasilitas Penanggulangan & Konseling Pelecehan Sex
T T T T T T T T
08. Perdagangan dan J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor
Bengkel Kendaraan Niaga T T T T T T T T
Penjualan dan Penyewaan Kendaraan Niaga T T T T T T T T
Bengkel Kendaraan Pribadi T T T T T T T T
Penjualan dan Penyewaan Kendaraan Pribadi
T T T T T T T T
Penjualan dan Penyewaan Peralatan & Perlengkapan
Kendaraan
T T T T T T T T
Penggunaan Perdagangan & J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor Diatur Secara Terpisah
Stasiun Servis Mobil T T T T T T T T
Gudang & Ruang Pamer Kendaraan Bermotor Terbuka
T T T T T T T T
09. Perdagangan Grosir, Pendistribusian, dan Penyimpanan
Tempat Penyimpanan Terbuka Peralatan & Bahan-Bahan
T T T T T T T T
Fasilitas Pindahan & Penitipan Barang (Moving & Storage)
T T T T T T T T
Pergudangan T T T T T T T T
Penyaluran Grosir T T T T T T T T
Penggunaan Perdagangan Grosir,Pendistribusian,Penyimpanan Diatur Secara Terpisah
Tempat Penampungan Barang-Barang Terbuka
T T T T T T T T
Penampungan Barang Rongsokan T T T T T T T T
Gudang Terbuka Sementara Di Luar Lokasi Pembangunan
L L L L L L L L
10. I ndustri
Industri Berat T T T T T T T T
Industri Ringan T T T T T T T T
Industri Bahari T T T T T T T T
Riset & Pengembangan T T T T T T T T
Terminal Truk dan Transportasi T T T T T T T T
Penggunaan Industri Diatur Secara Terpisah
Fasilitas Penelitian Limbah T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Limbah T T T T T T T T
Penggunaan Kelautan pada Zona Khusus Pantai
T T T T T T T T
Lampiran 1
Peraturan Penggunaan pada Zona Perumahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L1 - 5
K a w a s a n P E R M U K I M A N
PT PR PD PS
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 1 1 2 1 2 3 4
Industri Pertambangan dan Ekstraktif T T T T T T T T
Pabrik Percetakan/Penerbitan Surat Kabar T T T T T T T T
Pengolahan & Pengemasan Kebutuhan Hewan &
Sampingannya
T T T T T T T T
Industri Sangat Berat T T T T T T T T
Penimbunan Rongsokan & Pembongkaran Kendaraan
Bermotor
T T T T T T T T
11. Tata I nformasi (Signs)
Tata Informasi Yang Diijinkan I I I I I I I I
Penggunaan Tata Informasi Diatur Secara Terpisah
Community Identification Signs L L L L L L L L
Reallocation of Sign Area Allowance T T T T T T T T
Revolving Project Signs T T T T T T T T
Signs with Automatic Changing Copy T T T T T T T T
Theater Marquees T T T T T T T T
Keterangan :

Penggunaan atau kategori penggunaan diijinkan

Penggunaan diijinkan dengan persyaratan
khusus (B-terbatas,L-ijin lingkungan,S-bersyarat)

Penggunaan atau kategori penggunaan tidak
diijinkan
PT : Perumahan Taman
PR : Perumahan Renggang
PD : Perumahan Deret
PS : Perumahan Susun

T
B/L/S
I
Lampiran 2
Peraturan Teknis Pembangunan pada Kawasan Permukiman
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L2 - 1
Lampiran 2
PERATURAN TEKNI S PEMBANGUNAN PADA KAWASAN
PERMUKI MAN
Kawas-
an
Perumahan
PT PR PD PS
Peraturan
Bangunan
Zona
1 1 1 2 1 2 3 4
Kepadatan Maksimum yang Diijinkan
Hunian Tunggal (Unit
Hunian/ Perpetakan)
1 1 1 1
Rumah Susun (m
2
/ unit
hunian)
60 20 15 20
Luas Perpetakan Minimum (m
2
)
200 100 75 36 2.800 2.700 1.400 2.700
Dimensi Perpetakan Minimum
Lebar Perpetakan (m)
b 7 4 3 50 50 40 50
Kedalaman Perpetakan (m)
b b b B 50 50 40 50
Persyaratan J arak Bebas
Garis Sempadan
Bangunan
15 3 3 2 15 15 15 15
Jarak Bebas Samping
Minimum (m)
0 0 12,5 15 12,5 15
Jarak Bebas Belakang
Minimum (m)
24 48 40 48
Ketinggian Bangunan (Lapis)
2 2 2 2 40 96 48 64
Koefisien Dasar Bangunan
Maksimum (%)
20 55 70 70 40 40 40 40
Koefisien Lantai Bangunan
Maksimum (m)
0,4 0,96 1,2 1,2 5 9 4 5

Keterangan :
b : Bebas
PT : Perumahan Taman
PR : Perumahan Renggang
PD : Perumahan Deret
PS : Perumahan Susun

Lampiran 3
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Perdagangan dan Jasa

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L3 - 1
Lampiran 3
Peraturan Penggunaan Pada Kawasan Perdagangan dan J asa
Kawasan PERDAGANGAN & J ASA
BP BK BT
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 2 1 2 3 1 2 3
01. Ruang Terbuka
Rekreasi Aktif T T T T T T T T
Rekreasi Pasif T T T T T T T T
Preservasi Sumber-Sumber Alam T T T T T T T T
Fasilitas Pemeliharaan Taman T T T T T T T T
02. Pertanian
Pengolahan Hasil Pertanian T T T T T T T T
Fasilitas Akuakultur T T T T T T T T
Pemerahan Susu/Pembuatan Mentega T T T T T T T T
Pembenihan Hortikultura & Rumah Kaca T T T T T T T T
Pengembangan & Pemanenan Hasil Pertanian T T T T T T T T
Pengembangan Perawatan & Pemeliharaan Hewan
T T T T T T T T
Penggunaan Pertanian Diatur Secara Terpisah
Bengkel Alat-Alat Pertanian T T I I T I I T
Istal/pemeliharaan kuda pacuan komersial T T T T T T T T
Kebun-kebun masyarakat T T T T T T T T
Fasilitas pameran & pertunjukan/sirkus berkuda
T T T T T T T T
Pasar terbuka penjualan hasil pertanian & bunga-bunga
T T T T T T T T
03. Hunian
Akomodasi Hunian Bersama T T T T T T T T
Taman Rumah Mobil T T T T T T T T
Hunian Multipel T T T T I T T I
Hunian Tunggal T T T T T T T T
Penggunaan Hunian Diatur Secara Terpisah
Penyewaan Kamar dengan Makan T T T T B T T B
Paviliun T T T T T T T T
Rumah Dinas Karyawan T T T T T T T T
Asrama Mahasiswa dan Pelajar T T T T S T T S
Penjualan di Garasi dan Halaman T T T T T T T T
Wisma Tamu I I T T T T T T
Rumah Usaha T T T T B T T B
Rumah Jompo T T T T S T T S
Production House T T T T T T T B
Panti Perawatan (rehabilitasi pecandu narkoba)
T T T T I T T I
Wisma Transisi T T T T T T T T
Wisma Awak Kapal T T T T T T T T
04. Institusi
Penggunaan Institusi Diatur Secara Terpisah
Bandar Udara T T S S S S S S
Kebun Botani dan Kebun Penelitian T T I S S I S I
Lampiran 3
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Perdagangan dan Jasa

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L3 - 2
Kawasan PERDAGANGAN & J ASA
BP BK BT
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 2 1 2 3 1 2 3
Pemakaman dan Krematorium T T S S S S S S
Tempat Ibadah B B S B S S B S
Antena Komunikasi
- Fasilitas Telekomunikasi Minor B B B B B B B B
- Fasilitas Telekomunikasi Mayor S S S S S S S S
- Antena Satelit B B B B B B B B
Rumah Tahanan T T S S S S S S
Fasilitas Pendidikan
- TK sampai SMU T T S S S S S S
- Sekolah Tinggi/Universitas T T S S S S S S
- Sekolah Kejuruan/Sekolah Dagang T T I I I I I I
Fasilitas Pembangkit dan Distribusi Energi S S S S I S S I
Fasilitas Balai Pameran dan Pertemuan I I I S S I S I
Fasilitas Pengendalian Banjir B B B B B B B B
Gedung Bersejarah yg boleh digunakan utk
penggunaan tertentu
S S S S S S S S
Fasilitas Warga Tuna Wisma
- Fasilitas makan bersama T T T T S T T S
- Shelter darurat T T T T S T T S
- Rumah singgah T T T T S T T S
Rumah Sakit, Fasilitas Perawatan Antara, Fasilitas Perawatan
S S I S S I S I
Pusat Informasi Lingkungan I I T T T T T T
Museum S T I S S I S I
Transmisi Induk, Relay, dan Distribusi Komunikasi
S S S S S S S S
Lembaga Pelayanan Sosial S S S S S S S S
05. Perdagangan Retail/ Eceran
Bahan Bangunan dan Perkakas T T I I T I I I
Makanan dan Minuman B B I I I I I I
Alat-Alat Rumah Tangga, Furniture, Perkakas Rumah Tangga
T T I I I I I I
Hewan Peliharaan dan Kebutuhannya T T I I T I I I
Barang Kelontong, Farmasi, dan Kebutuhan Sehari-hari
B B I I I I I I
Pakaian dan Aksesoris B B I I T I I I
Penggunaan Perdagangan Ritel Diatur Secara Terpisah
Peralatan dan Pasokan Pertanian T T I T T I T I
Outlet Minuman Beralkohol T T B B B B B B
Penjualan Tanaman T T I I T I I I
Bursa & Fasilitas Perdagangan Ritel/Eceran Di Ruang Terbuka
S T S T T S T S
06. J asa Komersial
Jasa Bangunan I I I T I I T I
Aneka Kebutuhan Bisnis I I I I I I I I
Jasa Usaha Makanan & Minuman I I I I I I I I
Lembaga Keuangan I I I I I I I I
Jasa Pemakaman & Penitipan Mayat T T T T T T T T
Lampiran 3
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Perdagangan dan Jasa

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L3 - 3
Kawasan PERDAGANGAN & J ASA
BP BK BT
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 2 1 2 3 1 2 3
Jasa Perawatan & Perbaikan (Reparasi) I I I I I I I I
Jasa Off-Site I I I T T I T I
Jasa Personal I I I I T I I I
Jasa Penyediaan Ruang Pertemuan &
Pertunjukan
I I I I T I I I
Studio Radio & TV T T I I T I I I
Jasa Penginapan (Visitors Accomodation) I I I I T I I I
Penggunaan J asa Komersial Diatur Secara Terpisah
Taman Hiburan T T S S T S S S
Penitipan Hewan S S S S S S S S
Taman Perkemahan T T S S S S S S
Fasilitas Penitipan Anak B B T T B T T B
Kedai Makan & Minum Di Pinggir Zona
Perumahan
T T B B B B B B
Pameran Di Ruang Terbuka S S S S T S S S
Lapangan Golf, Driving Range, Latihan Pitch & Putt
T T S S S S S S
Fasilitas Pendaratan Helikopter I I S S S S S S
Studio Ketrampilan T T S S S S S I
Panti Pijat, spesialis/ahli T T B B T B B B
Klub Malam & Bar, luas lantai lebih dari 465 m2
T T S S S S S S
Klinik Kesehatan Rawat Luar B B L L L L L L
Fasilitas Parkir Sebagai Penggunaan Utama
- Permanen S S I S S I S I
- Sementara L L L S S L S L
Klub Privat T T S S S S S I
Fasilitas Rekreasi Privat, luas lebih dari 929 m2
T T S S S S S I
Gerobak Dorong:
- Gerobak Dorong di Lahan Privat B B B B B B B B
- Gerobak Dorong di Jalan Umum L L L L L L L L
Fasilitas Daur Ulang:
- Fasilitas Pengumpul Besar L L L L L L L L
- Fasilitas Pengumpul Kecil B B B B B B B B
- Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Besar
T T T T T T T T
- Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Kecil
T T T T T T T T
- Fasilitas Drop-Off B B B B B B B B
- Fasilitas Pengomposan dari Bahan Tumbuhan
T T T T T T T T
- Fasilitas Pengomposan Campuran Bahan Organik
T T T T T T T T
- Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Besar
T T T T T T T T
- Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial &
Pabrik Besar
T T T T T T T T
- Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Kecil
T T T T T T T T
- Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial & Pabrik Kecil
T T T T T T T T
- Fasilitas Mesin Otomatik B B B B B B B B
- Fasilitas Pengolah Ban Bekas T T T T T T T T
Lampiran 3
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Perdagangan dan Jasa

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L3 - 4
Kawasan PERDAGANGAN & J ASA
BP BK BT
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 2 1 2 3 1 2 3
Kafe Kaki Lima L L L L L L L L
Lapangan Olahraga dan Stadion T T S S S S S S
Teater Terbuka, luas lebih dari 465 m2 S S S S S S S S
Klinik dan Rumah Sakit Hewan T T S S S S S S
Kebon Binatang T T T T T T T T
07. Perkantoran
Bisnis dan Profesional T T I I I I I I
Pemerintahan I T T T T T T T
Praktisi Medis, Dokter Gigi, dan Kesehatan I I I I I I I I
Jasa Perkantoran/Kantor Pusat Perusahaan/
Perwakilan
T T I I I I I I
Penggunaan Perkantoran Diatur Secara Terpisah
Kantor Pemasaran Real Estate dan Rumah Contoh
T T T T B T T B
Fasilitas Penanggulangan dan Konseling Pelecehan Sex
T T B B B B B B
08. Perdagangan dan J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor
Bengkel Kendaraan Niaga T T I T T I T I
Penjualan dan Penyewaan Kendaraan Niaga T T I T T I T I
Bengkel Kendaraan Pribadi T T I I T I I I
Penjualan dan Penyewaan Kendaraan Pribadi T T I I T I I I
Penjualan dan Penyewaan Peralatan & Perlengkapan
Kendaraan
T T I I T I I I
Penggunaan Perdagangan & J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor Diatur Secara Terpisah
Stasiun Servis Mobil T T S S S S S S
Gudang & Ruang Pamer Kendaraan Bermotor Terbuka
T T S S T S S S
09. Perdagangan Grosir, Pendistribusian, dan Penyimpanan
Tempat Penyimpanan Terbuka Peralatan & Bahan-Bahan
T T I T T I T T
Fasilitas Pindahan & Penitipan Barang (Moving & Storage)
T T I T T I T T
Pergudangan T T I T T I T T
Penyaluran Grosir T T I T T I T T
Penggunaan Perdagangan Grosir, Pendistribusian, dan Penyimpanan Diatur Secara Terpisah
Tempat Penampungan Barang-Barang Terbuka
T T S T T S T T
Penampungan Barang Rongsokan T T T T T T T T
Gudang Terbuka Sementara Di Luar Lokasi Pembangunan
T T B B B B B B
10. I ndustri
Industri Berat T T T T T T T T
Industri Ringan T T I T T I T T
Industri Bahari T T T T T T T T
Riset & Pengembangan B T I I I I I I
Terminal Truk dan Transportasi T T I T T I T I
Penggunaan Industri Diatur Secara Terpisah
Fasilitas Penelitian Limbah B T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Limbah T T T T T T T T
Penggunaan Kelautan pada Zona Khusus
Pantai
S T S T S S T S
Lampiran 3
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Perdagangan dan Jasa

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L3 - 5
Kawasan PERDAGANGAN & J ASA
BP BK BT
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Z o n a
1 2 1 2 3 1 2 3
Industri Pertambangan dan Ekstraktif T T T S T T S T
Pabrik Percetakan/Penerbitan Surat Kabar T T S S S S S S
Pengolahan dan Pengemasan Kebutuhan
Hewan dan Sampingannya
T T T T T T T T
Industri Sangat Berat T T T T T T T T
Penimbunan Rongsokan dan Pembongkaran
Kendaraan Bermotor
T T T T T T T T
11. Tata I nformasi (Signs)
Tata Informasi Yang Diizinkan I I I I I I I I
Penggunaan Tata Informasi Diatur Secara Terpisah
Community Identification Signs T T T T T T T T
Reallocation of Sign Area Allowance L L L L L L L L
Revolving Project Signs L L L L L L L L
Signs with Automatic Changing Copy L L L L L L L L
Theater Marquees T T L L T L L L
Keterangan :
Penggunaan atau kategori penggunaan diijinkan

Penggunaan diijinkan dengan persyaratan khusus
(misal : wajib AMDAL, luas dibatasi, dsb)

Penggunaan atau kategori penggunaan tidak
diijinkan

BP : Bangunan Pemerintah
BK : Bangunan Perkantoran
BT : Bangunan Pertokoan

T
B/L/S
I
Lampiran 4
Peraturan Teknis Pembangunan pada Kawasan Perdagangan dan Jasa
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L4 - 1
Lampiran 4
Peraturan Teknis Pembangunan Pada Kawasan Perdagangan
dan J asa
Kawas-
an
PERDAGANGAN & J ASA
BP BK BT

Peraturan
Bangunan
Zona
1 2 1 2 3 1 2 3
Luas Perpetakan
Luas Perpetakan
Minimum (m
2
)
1000 3750 3750 450 120 1350 120 75
Luas Perpetakan
Maksimum (m
2
)
- - - - - - - -
Dimensi Perpetakan Minimum
Lebar Perpetakan (m)
25 50 30 15 8 30 8 5
Lebar Jalan Di Depan (m)
15 30 30 15 15 15 15 15
Kedalaman Perpetakan
(m)
40 75 75 30 15 45 15 15
Persyaratan J arak Bebas
Jarak Bebas Depan
Minimum (m)
4,5 7,5 7,5 3 3 5 3 3
Jarak Bebas Samping
Minimum (m)
3 3 3 - - 3 - -
Jarak Bebas Sisi Jalan
Minimum (m)
3 3 3 - - 3 - -
Ketinggian Bangunan
8 24 24 8 8 2 8 4
Koefisien Dasar Bangunan
Maksimum (%)
55 45 45 60 60 60 50 75
Koefisien Lantai Bangunan
Maksimum (%)
3,0 4,0 4,0 4,8 4,8 1,2 4,0 2,5
Jalur Pejalan Kaki berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku
Transparansi
- - - -
berlaku
-
berlaku berlaku
Artikulasi Bangunan berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku
Pembatasan Parkir Di
Pekarangan Sisi Jalan
berlaku berlaku berlaku
- - - - -
Orientasi Petak Parkir berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku berlaku
Keterangan :
BP : Bangunan Pemerintah
BK : Bangunan Perkantoran
BT : Bangunan Pertokoan
Lampiran 5
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Industri
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L5 -
1
Lampiran 5
PERATURAN PENGGUNAAN PADA KAWASAN I NDUSTRI
Kawasan INDUSTRI
IT IR IB IK
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 1 2 3 1 2 1 2
01. Ruang Terbuka
Rekreasi Aktif I I T I I I I I T
Rekreasi Pasif I I T T T T T T T
Preservasi Sumber-Sumber Alam T T T T T T T T T
Fasilitas Pemeliharaan Taman T T T T T T T T T
02. Pertanian
Pengolahan Hasil Pertanian T T T T T T T T T
Fasilitas Akuakultur I I I I I I T
Pemerahan Susu/Pembuatan Mentega T T T T T T T T T
Pembenihan Hortikultura & Rumah Kaca
T T I T I I I T T
Pengembangan & Pemanenan Hasil Pertanian
T T I T I I I T T
Pengembangan Perawatan & Pemeliharaan Hewan
T T T T T T T T T
Penggunaan Pertanian Diatur Secara Terpisah
Bengkel Alat-Alat Pertanian T T I I I I I I T
Istal/pemeliharaan kuda pacuan komersial
T T T T T T T T T
Kebun-kebun masyarakat T T L T L L L L T
Fasilitas pameran & pertunjukan/sirkus berkuda
T T T T T T T T T
Pasar terbuka penjualan hasil pertanian & bunga-
bunga
T T T T T T T T T
03. Hunian
Akomodasi Hunian Bersama T T T T T T T T T
Taman Rumah Mobil T T T T T T T T T
Hunian Multipel T T T T T T T T T
Hunian Tunggal T T T T T T T T T
Penggunaan Hunian Diatur Secara Terpisah
Penyewaan Kamar dengan Makan T T T T T T T T T
Paviliun T T T T T T T T T
Rumah Dinas Karyawan T T T T T T T T T
Asrama Mahasiswa dan Pelajar T T T T T T T T T
Penjualan di Garasi dan Halaman T T T T T T T T T
Wisma Tamu T T T T T T T T T
Rumah Usaha T T T T T T T T T
Rumah Jompo T T T T T T T T T
Production House T T T T T T T B T
Panti Perawatan (rehabilitasi pecandu narkoba)
T T T T T T T T T
Wisma Transisi T T T T T T T T T
Wisma Awak Kapal B B B B B B B B T
04. I nstitusi
Penggunaan Institusi Diatur Secara Terpisah
Bandar Udara S S S S S S S S T
Kebun Botani dan Kebun Penelitian T T T T T T T T T
Lampiran 5
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Industri
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L5 -
2
Kawasan INDUSTRI
IT IR IB IK
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 1 2 3 1 2 1 2
Pemakaman dan Krematorium S S S S S S S S T
Tempat Ibadah S S T S B T T S T
Antena Komunikasi
Fasilitas Telekomunikasi Minor B B B B B B B B T
Fasilitas Telekomunikasi Mayor S S S S S S S S T
Antena Satelit B B B B B B B B T
Rumah Tahanan S S S S S S S S T
Fasilitas Pendidikan
TK sampai SMU T S T S S T T S T
Sekolah Tinggi/Universitas S S T S S T S S T
Sekolah Kejuruan/Sekolah Dagang T T T I I T I I T
Fasilitas Pembangkit dan Distribusi Energi
S S I S I I I S T
Fasilitas Balai Pameran dan Pertemuan
S S S S S S S T
Fasilitas Pengendalian Banjir B B B B B B B B T
Gedung Bersejarah yg boleh digunakan utk
penggunaan tertentu
S S S S S S S S T
Fasilitas Warga Tuna Wisma
Fasilitas makan bersama T S T S S T S S T
Shelter darurat T S T S S T S S T
Rumah singgah T S T S S S
Rumah Sakit, Fasilitas Perawatan Antara, Fasilitas
Perawatan
S S T S S T S S T
Pusat Informasi Lingkungan T T T T T T T T T
Museum T T T T T T T T T
Transmisi Induk, Relay, dan Distribusi Komunikasi
S S S S S I S S T
Lembaga Pelayanan Sosial S S S S S T T S T
05. Perdagangan Retail/ Eceran
Bahan Bangunan dan Perkakas T T I I I T I I T
Makanan dan Minuman T T T T I T T T T
Alat-Alat Rumah Tangga, Furnitur, Perkakas Rumah
Tangga
T T T I I T T I T
Hewan Peliharaan dan Kebutuhannya T T T T I T T T T
Barang Kelontong,Farmasi,& Kebutuhan Sehari-hari
T I I I I I I I T
Pakaian dan Aksesoris T T T I I T T I T
Penggunaan Perdagangan Ritel Diatur Secara Terpisah
Peralatan dan Pasokan Pertanian T T T I I T I I T
Outlet Minuman Beralkohol T T T T T T T T T
Penjualan Tanaman T T T T I T T I T
Bursa & Fasilitas Perdagangan Ritel/Eceran Di
Ruang Terbuka
T T S S S S S S T
06. J asa Komersial
Jasa Bangunan T T I I I T I I T
Aneka Kebutuhan Bisnis T I I I I T I I T
Jasa Usaha Makanan & Minuman T I I I I T I I T
Lembaga Keuangan T I T I I T T I T
Lampiran 5
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Industri
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L5 -
3
Kawasan INDUSTRI
IT IR IB IK
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 1 2 3 1 2 1 2
Jasa Pemakaman & Penitipan Mayat T T T I I T I T
Jasa Perawatan & Perbaikan (Reparasi)
T T I I I T T I T
Jasa Off-Site T I I I I T I I T
Jasa Personal T T T I I T T T
Jasa Penyediaan Ruang Pertemuan & Pertunjukan
T T T I I T T I T
Studio Radio & TV T I I I I T I I T
Jasa Penginapan (Visitors Accomodation)
T T T T T T T T T
Penggunaan J asa Komersial Diatur Secara Terpisah
Taman Hiburan T S S S S S S S T
Penitipan Hewan T S S S S S S S T
Taman Perkemahan T T T T T T T T T
Fasilitas Penitipan Anak B B T B B T B B T
Kedai Makan & Minum Di Pinggir Zona Perumahan
T T T T B T T T T
Pameran Di Ruang Terbuka T S S S S S S S T
Lapangan Golf, Driving Range, Latihan Pitch & Putt
T S S S S S S S T
Fasilitas Pendaratan Helikopter S S S S S S S S T
Studio Ketrampilan T T T T I T T I T
Panti Pijat, spesialis/ahli T T T T B T T T T
Klub Malam & Bar, luas lantai lebih dari 465 m
2

T T T T T T T T T
Klinik Kesehatan Rawat Luar T B T B I T B B T
Fasilitas Parkir Sebagai Penggunaan Utama

Permanen S S I S I I I S T
Sementara S S L S L L L S T
Klub Privat S S S S S S S S T
Fasilitas Rekreasi Privat, luas lebih dari 929 m
2

S S S S S S S S T
Gerobak Dorong:
Gerobak Dorong di Lahan Privat B B B B B B B B T
Gerobak Dorong di Jalan Umum L L L L L L L L T
Fasilitas Daur Ulang:
Fasilitas Pengumpul Besar B L L L L T T L T
Fasilitas Pengumpul Kecil B B B B B B B B T
Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Besar
T T L T S S L T T
Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Kecil
T T S T S L L T T
Fasilitas Drop-Off B B B B B B B B T
Fasilitas Pengomposan dari Bahan Tumbuhan
T T L T L L L T T
Fasilitas Pengomposan Campuran Bahan
Organik
T T S T S L L T T
Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Besar
T S B B B B B S T
Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial &
Pabrik Besar
T S L L L L L S T
Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Kecil
T L B B B B B L T
Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial &
Pabrik Kecil
T L L L L L L L T
Fasilitas Mesin Otomatik B B B B B B B B T
Fasilitas Pengolah Ban Bekas T T S T S S S T T
Lampiran 5
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Industri
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L5 -
4
Kawasan INDUSTRI
IT IR IB IK
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 1 2 3 1 2 1 2
Kafe Kaki Lima T L L L L T L L T
Lapangan Olahraga dan Stadion T S T S S T S T T
Teater Terbuka, luas lebih dari 465 m
2
T S T S S T S T T
Klinik dan Rumah Sakit Hewan T S S S I S S S T
Kebun Binatang T T T T T T T T T
07. Perkantoran
Bisnis dan Profesional T I T I I T T I T
Pemerintahan T I T I I T I I T
Praktisi Medis, Dokter Gigi, dan Kesehatan
T T T I I T T I T
Jasa Perkantoran/Kantor Pusat Perusahaan/
Perwakilan
I I I I I T I I T
Penggunaan Perkantoran Diatur Secara Terpisah
Kantor Pemasaran Real Estate dan Rumah Contoh
T T T T T T T T T
Fasilitas Penanggulangan & Konseling Pelecehan
Sex
T B T B B T T T T
08. Perdagangan dan J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor
Bengkel Kendaraan Niaga T T I I I I I I T
Penjualan dan Penyewaan Kendaraan Niaga
T T I I I I I I T
Bengkel Kendaraan Pribadi T T I I I T T I T
Penjualan & Penyewaan Kendaraan Pribadi
T T I I I T I I T
Penjualan dan Penyewaan Peralatan &
Perlengkapan Kendaraan
T T I T I I I I T
Penggunaan Perdagangan & J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor Diatur Secara Terpisah
Stasiun Servis Mobil S S S S S S S S T
Gudang & Ruang Pamer Kendaraan Bermotor
Terbuka
T T I I I I I I T
09. Perdagangan Grosir, Pendistribusian, dan Penyimpanan
Tempat Penyimpanan Terbuka Peralatan & Bahan-
Bahan
T T I I I I I I T
Fasilitas Pindahan & Penitipan Barang (Moving &
Storage)
T T I I I I I I T
Pergudangan T T I I I I I I T
Penyaluran Grosir T I I I I I I I T
Penggunaan Perdagangan Grosir,Pendistribusian,dan Penyimpanan Diatur Secara Terpisah
Tempat Penampungan Barang-Barang Terbuka
T T I I I I I I T
Penampungan Barang Rongsokan T T S S S S S S T
Gudang Terbuka Sementara Di Luar Lokasi
Pembangunan
B B B B B B B B T
10. I ndustri
Industri Berat T T T T T T I I T
Industri Ringan I I I I I I I I T
Industri Bahari T T I T I I I I T
Riset & Pengembangan I I I I I I I I T
Terminal Truk dan Transportasi T T I T I I I I T
Penggunaan Industri Diatur Secara Terpisah
Fasilitas Penelitian Limbah S S S S S S S S T
Fasilitas Pengolahan Limbah S S S S S S S S T
Lampiran 5
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Industri
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L5 -
5
Kawasan INDUSTRI
IT IR IB IK
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 1 2 3 1 2 1 2
Penggunaan Kelautan pada Zona Khusus Pantai
T T I T I I I I T
Industri Pertambangan dan Ekstraktif T S S S S S S S T
Pabrik Percetakan/Penerbitan Surat Kabar
S I I I I I I I T
Pengolahan & Pengemasan Kebutuhan Hewan&
Sampingannya
T T T T I I I I T
Industri Sangat Berat T T T T T T T T T
Penimbunan Rongsokan & Pembongkaran
Kendaraan Bermotor
T T S S S I S S T
11. Tata I nformasi (Signs)
Tata Informasi Yang Diijinkan I I I I I I I I T
Penggunaan Tata Informasi Diatur Secara Terpisah
Community Identification Signs T T T T T T T T T
Reallocation of Sign Area Allowance L L L L L L L L T
Revolving Project Signs L L L L L L L L T
Signs with Automatic Changing Copy L L L L L L L L T
Theater Marquees T T T T L T T T T
Keterangan :

Penggunaan atau kategori penggunaan diijinkan

Penggunaan diijinkan dengan persyaratan khusus
(misal : wajib AMDAL, luas dibatasi, dsb)

Penggunaan atau kategori penggunaan tidak
diijinkan
IT : Industri Taman
IR : Industri Ringan
IB : Industri Berat
IK : Industri Kecil


T
B/L/S
I
Lampiran 6
Peraturan Teknis Pembangunan pada Kawasan Industri
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L6 -
1
Lampiran 6
PERATURAN TEKNI S PEMBANGUNAN PADA KAWASAN
I NDUSTRI
Kawasan I NDUSTRI
I T I R I B I K
Peraturan
Bangunan Zona
1 2 1 2 3 1 2 1 2
Luas Perpetakan
Luas Perpetakan Minimum (m
2
)
3.600 1.350 2.700 900
Luas Perpetakan Maksimum (m
2
)
- - - 1.350
Dimensi Perpetakan Minimum
Lebar Perpetakan (m)
30 22,5 30 15
Frontage Jalan (m)
30 22,5 30 15
Kedalaman Perpetakan (m)
60 30 45 30
Persyaratan J arak Bebas
Jarak Bebas Depan Minimum (m)
6,0 4,5 6,0 3,0
Jarak Bebas Depan Standar (m)
7,5 6,0 7,5
Jarak Bebas Samping Minimum (m)
4,5 3,0 4,5 1,5
Jarak Bebas Sisi Jalan Minimum (m)
6,0 4,5 6,0 3,0
Jarak Bebas Sisi Jalan Standar (m)
6,0 6,0 7,5 3,0
Jarak Bebas Sisi Yang Bersinggungan Dengan
Hunian Minimum (m)
9,0 7,5 9,0 3,0
Jarak Bebas Belakang Minimum (m)
7,5 - 6,0 4,5
Jarak Bebas Belakang Standar (m)
- 4,5 9,0 -
Jarak Bebas Belakang Yang Bersinggungan
Dengan Hunian Minimum (m)
15,0 7,5 9,0 4,5
Tinggi Struktur Maksimum
- - - -
Koefisien Lantai Bangunan Maksimum
1,0 1,0 1,0 1,0
Persyaratan Dinding Jalan
- berlaku berlaku -
Kenyamanan Outdoor
berlaku berlaku berlaku -
Keterangan :
IT : Industri Taman
IR : Industri Ringan
IB : Industri Berat
IK : Industri Kecil
Lampiran 7
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Ruang Terbuka

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L7 -
1
Lampiran 7
PERATURAN PENGGUNAAN PADA KAWASAN RUANG TERBUKA
Kawasan Ruang Terbuka
TL TB TA
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 1
01. Ruang Terbuka
Rekreasi Aktif T T T T T I I I I I I I
Rekreasi Pasif I I I I I I I I I I I I
Preservasi Sumber-Sumber Alam I I I I I I I I I I I I
Fasilitas Pemeliharaan Taman T T T T T I I I I I I T
02. Pertanian
Pengolahan Hasil Pertanian T T T T T T T T T I T I
Fasilitas Akuakultur T T T T T T T T T I T I
Pemerahan Susu/Pembuatan Mentega T T T T T T T T T I T T
Pembenihan Hortikultura & Rumah Kaca T T T T T T T I T I T T
Pengembangan dan Pemanenan Hasil Pertanian
T T T T T T T I T I T I
Pengembangan Perawatan & Pemeliharaan Hewan
T T T T T T T T T I T I
Penggunaan Pertanian Diatur Secara Terpisah
Bengkel Alat-Alat Pertanian T T T T T T T T T S T T
Istal/pemeliharaan kuda pacuan komersial T T T T T T T T T T T S
Kebun-kebun masyarakat T T T T B B T I T I T B
Fasilitas pameran & pertunjukan/sirkus berkuda
T T T T T T T T T T T T
Pasar terbuka penjualan hasil pertanian & bunga-bunga
T T T T B T T I T I T B
03. Hunian
Akomodasi Hunian Bersama T T T T T T T T T T T T
Taman Rumah Mobil T T T T T T T T T T T T
Hunian Multipel / Komunal T T T T T T T T T T T T
Hunian Tunggal T T T T T T T T T T T T
Penggunaan Hunian Diatur Secara Terpisah
Penyewaan Kamar dengan Makan T T T T T T T T T T T T
Paviliun T T T T T T T T T T T T
Rumah Dinas Karyawan T T T T T T T T T T T T
Asrama Mahasiswa dan Pelajar T T T T T T T T T T T T
Penjualan di Garasi dan Halaman T T T T T T T T T T T T
Wisma Tamu T T T T T T T T T T T T
Rumah Usaha T T T T T T T T T T T T
Rumah Jompo T T T T T T T T T T T T
Production House T T T T T T T T T T T T
Panti Perawatan (rehabilitasi pecandu narkoba)
T T T T T T T T T T T T
Wisma Transisi T T T T T T T T T T T T
Wisma Awak Kapal T T T T T T T T T T T T


Lampiran 7
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Ruang Terbuka

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L7 - 2
Kawasan Ruang Terbuka
TL TB TA
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 1
04. I nstitusi
Penggunaan Institusi Diatur Secara Terpisah
Bandar Udara T T T T T T T T T T T T
Kebun Botani dan Kebun Penelitian T T T T S I T I T I B T
Pemakaman dan Krematorium T T T T T T T T I T T T
Tempat Ibadah T T T T T T T T T T T T
Antena Komunikasi T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Telekomunikasi Minor T T T T T B T T T T B B
Fasilitas Telekomunikasi Mayor T T T T T S T T T T B S
Antena Satelit B B B B B B T T T T B B
Rumah Tahanan T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pendidikan T T T T T T T T T T T T
TK sampai SMU T T T T T T T T T T T T
Sekolah Tinggi/Universitas T T T T T T T T T T T T
Sekolah Kejuruan/Sekolah Dagang T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pembangkit dan Distribusi Energi T T T T T T T T T T B T
Fasilitas Balai Pameran dan Pertemuan T T T T T S T T T T T T
Fasilitas Pengendalian Banjir T T T T B T T T T T T B
Gedung Bersejarah yg boleh digunakan utk penggunaan
tertentu
T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Warga Tuna Wisma T T T T T T T T T T T T
Fasilitas makan bersama T T T T T T T T T T T T
Shelter darurat T T T T T T T T T T T T
Rumah singgah T T T T T T T T T T T T
Rumah Sakit, Fasilitas Perawatan Antara, Fasilitas
Perawatan
T T T T T T T T T T T T
Pusat Informasi Lingkungan S S S S S I T S T S T T
Museum T T T T T T T T T T T T
Transmisi Induk,Relay, & Distribusi Komunikasi
T T T T T T T T T T B T
Lembaga Pelayanan Sosial T T T T T T T T T T T T
05. Perdagangan Ritel/ Eceran
Bahan Bangunan dan Perkakas T T T T T T T T T T T T
Makanan dan Minuman T T T T T I T T T T T T
Alat Rumah Tangga,Furnitur,Perkakas Rumah Tangga
T T T T T T T T T T T T
Hewan Peliharaan dan Kebutuhannya T T T T T T T T T T T T
Barang Kelontong,Farmasi, & Kebutuhan Sehari-hari
T T T T T T T T T T T T
Pakaian dan Aksesoris T T T T T T T T T T T T
Penggunaan Perdagangan Ritel Diatur Secara Terpisah
Peralatan dan Pasokan Pertanian T T T T T T T B T B T T
Outlet Minuman Beralkohol T T T T T T T T T T T T
Penjualan Tanaman T T T T B T T B T I B T
Bursa & Fasilitas Perdagangan Ritel/Eceran Di
Ruang Terbuka
T T T T T T T T T T T S
Lampiran 7
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Ruang Terbuka

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L7 - 3
Kawasan Ruang Terbuka
TL TB TA
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 1
06. J asa Komersial
Jasa Bangunan T T T T T T T T T T T T
Aneka Kebutuhan Bisnis T T T T T T T T T T T T
Jasa Usaha Makanan & Minuman T T T T T T T T T T T T
Lembaga Keuangan T T T T T T T T T T T T
Jasa Pemakaman & Penitipan Mayat T T T T T T T T S T T T
Jasa Perawatan & Perbaikan (Reparasi) T T T T T T T T T T T T
Jasa Off-Site T T T T T T T T T T T T
Jasa Personal T T T T T T T T T T T T
Jasa Penyediaan Ruang Pertemuan & Pertunjukan
T T T T T I T T T T T T
Studio Radio & TV T T T T T T T T T T T T
Jasa Penginapan (Visitors Accomodation) T T T T T T T T T T T T
Penggunaan J asa Komersial Diatur Secara Terpisah
Taman Hiburan T T T T T T T T T T T T
Penitipan Hewan T T T T T T T T T T T T
Taman Perkemahan T T T T T S T T T T T S
Fasilitas Penitipan Anak T T T T T T T T T T T T
Kedai Makan & Minum Di Pinggir Zona Perumahan
T T T T T T T T T T T T
Pameran Di Ruang Terbuka T T T T T T T T T T T S
Lapangan Golf, Driving Range, Latihan Pitch & Putt
T T T T T S T T T T T S
Fasilitas Pendaratan Helikopter T T T T T T T T T T T S
Studio Ketrampilan T T T T T T T T T T T T
Panti Pijat, spesialis/ahli T T T T T T T T T T T T
Klub Malam & Bar, luas lantai lebih dari 465 m
2

T T T T T T T T T T T T
Klinik Kesehatan Rawat Luar T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Parkir Sebagai Penggunaan Utama

Permanen T T T T T T T T T T T T
Sementara T T T T T T T T T T T T
Klub Privat T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Rekreasi Privat, luas lebih dari 929 m
2

T T T T T S T T T T T T
Gerobak Dorong:
Gerobak Dorong di Lahan Privat T T T T T B T T T T T T
Gerobak Dorong di Jalan Umum T T T T T L T T T T T T
Fasilitas Daur Ulang:
Fasilitas Pengumpul Besar T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pengumpul Kecil T T T T T T T T T T T T
Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Besar
T T T T T T T T T T T T
Tempat Pengumpulan Puing Bangunan Kecil T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Drop-Off T T T T T B T T T T T T
Fasilitas Pengomposan dari Bahan Tumbuhan
T T T T T T T I T I T T
Fasilitas Pengomposan Campuran Bahan Organik
T T T T T T T T T B T T
Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Besar
T T T T T T T T T T T T
Lampiran 7
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Ruang Terbuka

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L7 - 4
Kawasan Ruang Terbuka
TL TB TA
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 1
Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial & Pabrik
Besar
T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Hasil Daur Ulang Kecil T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Buangan Komersial & Pabrik
Kecil
T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Mesin Otomatik T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pengolah Ban Bekas T T T T T T T T T T T T
Kafe Kaki Lima T T T T T T T T T T T T
Lapangan Olahraga dan Stadion T T T T T B T T T T T T
Teater Terbuka, luas lebih dari 465 m
2
T T T T T I T T T T T T
Klinik dan Rumah Sakit Hewan T T T T T T T T T T T T
Kebon Binatang T T T T T S T T T T T T
07. Perkantoran
Bisnis dan Profesional T T T T T T T T T T T T
Pemerintahan T T T T T T T T T T T T
Praktisi Medis, Dokter Gigi, dan Kesehatan T T T T T T T T T T T T
Jasa Perkantoran/Kantor Pusat Perusahaan/ Perwakilan
T T T T T T T T T T T T
Penggunaan Perkantoran Diatur Secara Terpisah
Kantor Pemasaran Real Estate & Rumah Contoh
T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Penanggulangan & Konseling Pelecehan Sex
T T T T T T T T T T T T
08. Perdagangan dan J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor
Bengkel Kendaraan Niaga T T T T T T T T T T T T
Penjualan dan Penyewaan Kendaraan Niaga
T T T T T T T T T T T T
Bengkel Kendaraan Pribadi T T T T T T T T T T T T
Penjualan dan Penyewaan Kendaraan Pribadi
T T T T T T T T T T T T
Penjualan dan Penyewaan Peralatan & Perlengkapan
Kendaraan
T T T T T T T T T T T T
Penggunaan Perdagangan & J asa Pelayanan Kendaraan Bermotor Diatur Secara Terpisah
Stasiun Servis Mobil T T T T T T T T T T T T
Gudang & Ruang Pamer Kendaraan Bermotor Terbuka
T T T T T T T T T T T T
09. Perdagangan Grosir, Pendistribusian, dan Penyimpanan
Tempat Penyimpanan Terbuka Peralatan & Bahan-Bahan
T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pindahan & Penitipan Barang (Moving &
Storage)
T T T T T T T T T T T T
Pergudangan T T T T T T T T T T T T
Penyaluran Grosir T T T T T T T T T T T T
Penggunaan Perdagangan Grosir, Pendistribusian, dan Penyimpanan Diatur Secara Terpisah
Tempat Penampungan Barang-Barang Terbuka
T T T T T T T T T T T T
Penampungan Barang Rongsokan T T T T T T T T T T T T
Gudang Terbuka Sementara Di Luar Lokasi
Pembangunan
T T T T T T T T T T T T
10. I ndustri
Industri Berat T T T T T T T T T T T T
Lampiran 7
Peraturan Penggunaan pada Kawasan Ruang Terbuka

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L7 - 5
Kawasan Ruang Terbuka
TL TB TA
Kategori/ Sub
Kategori
Penggunaan
Zona
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 1
Industri Ringan T T T T T T T T T T T T
Industri Bahari T T T T T T T T T T T T
Riset & Pengembangan T T T T T T T T T T T T
Terminal Truk dan Transportasi T T T T T T T T T T T T
Penggunaan Industri Diatur Secara Terpisah
Fasilitas Penelitian Limbah T T T T T T T T T T T T
Fasilitas Pengolahan Limbah T T T T T T T T T T T T
Penggunaan Kelautan pada Zona Khusus Pantai
T T T T T T T T T T T T
Industri Pertambangan dan Ekstraktif T T T T T T T T T T T S
Pabrik Percetakan/Penerbitan Surat Kabar T T T T T T T T T T T T
Pengolahan & Pengemasan Kebutuhan Hewan &
Sampingannya
T T T T T T T T T T T T
Industri Sangat Berat T T T T T T T T T T T T
Penimbunan Rongsokan dan Pembongkaran
Kendaraan Bermotor
T T T T T T T T T T T T
11. Tata I nformasi (Signs)
Tata Informasi Yang Diijinkan I I I I I I I I I I I I
Penggunaan Tata Informasi Diatur Secara Terpisah
Community Identification Signs T T T T T T T T T T T T
Reallocation of Sign Area Allowance T T T T T T T T T T T T
Revolving Project Signs T T T T T T T T T T T T
Signs with Automatic Changing Copy T T T T T T T T T T T T
Theater Marquees T T T T T T T T T T T T
Keterangan :


Penggunaan atau kategori penggunaan diijinkan
Penggunaan diijinkan dengan persyaratan
khusus (misal : wajib AMDAL, luas dibatasi, dsb)

Penggunaan atau kategori penggunaan tidak
diijinkan

TL : Kawasan Lindung
TB : Ruang Terbuka Non Lindung
TA : Tata Air




T
B/L/S
I
Lampiran 8
Peraturan Teknis Pembangunan pada Zona Ruang Terbuka

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L8 -
1
Lampiran 8
PERATURAN TEKNI S PEMBANGUNAN
PADA KAWASAN RUANG TERBUKA
Kawas-
an
Ruang Terbuka
TL TB TA
Peraturan
Bangunan
Zona
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 6 1
Kepadatan Minimum yg
Diijinkan (Unit
Hunian/Perpetakan)
- - - - - - - - - 1 - -
Luas Perpetakan Minimum
(m
2
)
b b b b b b b b b 2.000 b b
Dimensi Perpetakan Minimum
Lebar Perpetakan (m) b b b b b b b b b 25 b b
Kedalaman Perpetakan (m) b b b b b b b b b 25 b b
Persyaratan J arak Bebas
Jarak Bebas Depan
Minimum (m)
- - - - - - - - - 15 - -
Jarak Bebas Samping
Minimum (m)
- - - - - - - - - - - -
Jarak Bebas Belakang
Minimum (m)
- - - - - - - - - - - -
Ketinggian Bangunan (lapis) - - - - - - - - - 2 - -
KDB Maks (%) - - - - - - - - - 55 - -
KLB Maks - - - - - - - - - 0.1 - -
Keterangan:
b : Bebas
TL : Kawasan Lindung
TB : Terbuka Non Lindung
TA : Tata Air

Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 1
Lampiran 9

01. RUANG TERBUKA

Kategori Ruang Terbuka terdiri dari penggunaan-penggunaan lahan
yang ditujukan serta dapat diidentifikasi untuk penggunaan rekreasi
publik atau dibiarkan apa adanya dalam kondisi alami.
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01 Rekreasi Aktif
Fasilitas rekreasi untuk umum yang memerlukan
pengembangan lahan utama, memerlukan
pemeliharaan tingkat tinggi, dan dapat
menampung banyak orang.
02 Rekreasi Pasif
Fasilitas rekreasi yang ada kaitannya dengan
peninggalan/situs sejarah dan hubungannya
dengan ruang terbuka alami. Fasilitas seperti ini
memerlukan pengembangan lahan yang kecil,
memerlukan pemeliharaan minimum, menampung
sedikit orang, dan berdampak rendah terhadap
ruang terbuka alami.
03
Preservasi
Sumber Alam
Lahan yang tidak dikembangkan dan dibiarkan
dalam keadaan alami untuk penggunaan khusus
seperti ruang terbuka visual dan mengurangi
kerusakan lingkungan.
04
Fasilitas
Pemeliharaan
Taman
Bangunan utama atau fasilitas utama digunakan
untuk pemeliharaan taman-taman umum.





Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 2
02. PERTANI AN

Kategori Pertanian terdiri dari penggunaan-penggunaan yang
melibatkan pengembangan dan pemanenan hasil-hasil pertanian,
pembesaran ternak, dan pengolahan hasil sampingan.
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01
Pengolahan Hasil
Pertanian
Penggunaan yang ada hubungannya dengan
pengolahan hasil pertanian, hewan, atau hasil
sampingannya yang ditumbuhkan atau
dikembangkan di atas lahan yang sama untuk
dikonsumsi atau dikirim ke pasar.
02
Fasilitas
Akuakultur
Penggunaan dengan kegiatan penanaman atau
pemeliharaan yang dikembangkan melalui media
air, baik di ruang tertutup ataupun terbuka.
03
Pemerahan
Susu/
Pembuatan
Mentega
Penggunaan yang ada hubungannya dengan
pemerahan dan pengolahan susu hewan ternak
untuk dikonsumsi atau dikirim ke pasar.
04
Pembenihan
Hortikultura dan
Rumah Kaca
Penggunaan yang ada hubungannya dengan
pembiakan dan penumbuhan tanaman-tanaman
dalam bejana atau di atas tanah dan berkaitan
dengan jual beli tanaman-tanaman tersebut.
05
Pengembangan
dan Pemanenan
Hasil Pertanian
Penggunaan yang ada kaitannya dengan
penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan hasil-
hasil pertanian untuk dikonsumsi atau untuk
tujuan komersial.
06
Pengembangan,
Perawatan dan
Pemeliharaan
Hewan
Penggunaan yang ada hubungannya dengan
pemberian makanan, pengkandangan, dan
pemeliharaan hewan untuk pribadi atau tujuan
komersial.
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
07 Bengkel Alat-Alat Pertanian
08 Istal/Pemeliharaan Kuda Pacuan Komersial
09 Kebun-kebun masyarakat
10 Fasilitas Pameran dan Pertunjukan/ Sirkus Berkuda
11 Pasar Terbuka Penjualan Hasil Pertanian dan Bunga-Bunga


Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 3
03. HUNIAN

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan yang menyediakan
fasilitas akomodasi untuk satu orang atau lebih
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01
Akomodasi
Hunian Bersama
Hunian di mana beberapa unit hunian secara
bersama-sama menggunakan fasilitas kebutuhan
hidup termasuk penyediaan makan dan layanan
lainnya.
02
Hunian Multipel/
Komunal
Unit-unit hunian di mana lebih dari satu unit
hunian berada pada satu perpetakan. Multi
hunian tidak termasuk penggunaan-penggunaan
yang dibolehkan pada hunian tunggal.
03 Hunian Tunggal
Unit hunian di mana tidak lebih dari satu unit
hunian berada pada satu perpetakan, biasanya
terpisah (detached), dan ditempati oleh hanya
satu unit rumah tangga tunggal.
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
04 Penyewaan kamar dan makan, sebagai penggunaan pelengkap
05 Rumah Dinas Karyawan
06 Asrama Mahasiswa dan Pelajar
07 Wisma Tamu, sebagai penggunaan pelengkap
08 Rumah Usaha, sebagai penggunaan pelengkap
09 Rumah J ompo
10 Tempat Tinggal/ Kerja (Rumah Produksi)
11 Panti Perawatan Warga, untuk rehabilitasi kecanduan narkoba











Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 4
04. I NSTI TUSI

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan yang menyediakan
jasa-jasa khusus yang memberikan manfaat pada masyarakat luas.
Semua penggunaan dalam kategori penggunaan ini diatur dalam
peraturan-peraturan tersendiri.
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
01 Bandar Udara
02 Kebun Botani dan Kebun Penelitian
03 Pemakaman dan Krematorium
04 Tempat Ibadah
05 Antena Komunikasi
- Fasilitas Telekomunikasi Minor
- Fasilitas Telekomunikasi Mayor
- Antena Satelit
06 RumahTahanan
07 Fasilitas Pendidikan
- TK sampai SMU
- Sekolah Tinggi/Universitas
- Sekolah Kejuruan/Sekolah Dagang
08 Fasilitas Pembangkit dan Distribusi Enegi
09 Fasilitas Balai Pertemuan dan Pameran
10 Fasilitas Pengendalian Banjir
11 Gedung Bersejarah yang boleh digunakan untuk penggunaan tertentu
12 Fasilitas Warga Tuna Wisma
- Fasilitas makan bersama
- Shelter Darurat
- Rumah Singgah
13 Rumah Sakit, Fasilitas Perawatan Antara dan Fasilitas Perawatan
14 Pusat Informasi Lingkungan
15 Museum
16 Transmisi Induk, Relay & Distribusi Komunikasi
17 Lembaga Pelayanan Sosial

Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 5
05. PERDAGANGAN RITEL

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan yang meliputi
penjualan, peminjaman atau penyewaan barang-barang baru atau
bekas kepada masyarakat luas.
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01
Pasokan Bahan
Bangunan dan
Alat-Alat
Pertukangan
Penggunaan-penggunaan yang menyediakan
barang-barang untuk memperbaiki, merawat,
atau menambah nilai visual bangunan atau
persil.
02
Peralatan,
Perlengkapan, dan
Kebutuhan Rumah
Tangga
Penggunaan-penggunaan yang menyediakan
barang-barang, besar dan kecil, fungsional dan
dekoratif, untuk digunakan, dinikmati, untuk
kesenangan atau tujuan estetis.
03
Toko Makanan dan
Minuman
Penggunaan yang menyediakan makanan
untuk dikonsumsi di luar perpetakan.
04
Hewan Peliharaan
dan Kebutuhannya
Penggunaan yang menyediakan hewan
peliharaan dan kebutuhannya untuk dijual,
atau jasa perawatan.
05
Barang-Barang
Kelontong,
Farmasi, dan
Kebutuhan Sehari-
hari
Penggunaan yang menyediakan barang-barang
untuk perawatan dan pemeliharaan kesehatan
pribadi dan kesejahteraan sehari-hari.
06
Pakaian dan
Kelengkapannya
Penggunaan yang menyediakan barang-barang
untuk menutup, melindungi atau meningkatkan
citra sosok manusia.
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
07 Peralatan dan Pasokan Pertanian
08 Outlet Minuman Beralkohol
09 Perawatan Barang-Barang/Peralatan Rumah Tangga
10 Bursa & Fasilitas Perdagangan Ritel/Eceran di Ruang terbuka
Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 6
06. J ASA KOMERSI AL

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan yang menyediakan
pelayanan konsumen atau bisnis, untuk perbaikan dan pemeliharaan
berbagai macam produk secara luas dan untuk entertainment.
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01 J asa Bangunan
Penggunaan yang menyediakan jasa
pemeliharaan dan perbaikan untuk semua jenis
struktur bangunan dan unsur-unsur
menariknya, termasuk ruang-ruang luar di
dalam persil.
02
Aneka Kebutuhan
Bisnis
Penggunaan yang menyediakan jasa-jasa SDM,
percetakan, fotocopy, fotografi, dan
komunikasi.
03
Makanan dan
Minuman
Penggunaan yang menyediakan atau
menyiapkan makanan / minuman untuk
dikonsumsi di luar atau di dalam perpetakan.
04
Lembaga
Keuangan
Penggunaan yang berhubungan dengan
penukaran, peminjaman, dan penyimpanan
uang.
05
J asa Pemakaman
dan Penitipan
Mayat
Penggunaan yang menyediakan jasa pelayanan
yang berhubungan dengan kematian manusia.
06
J asa Perawatan
dan Perbaikan/
Reparasi
Penggunaan yang menyediakan jasa
pemeliharan, pembersihan, dan perbaikan
barang-barang konsumsi.
07
J asa Pengiriman
Pesanan
Penggunaan yang menyediakan jasa
pengiriman berbagai macam produk secara
luas dan yang menyediakan jasa yang
digunakan pada suatu lokasi terpisah dari
pebisnis yang menyediakan pengiriman atau
layanan.
08 J asa Personal
Penggunaan yang menyediakan berbagai jasa
yang berhubungan dengan perawatan dan
pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan.
09 J asa Penyediaan
Ruang Pertemuan
dan Pertunjukan/
Entertainment
Penggunaan yang menyediakan tempat-tempat
pertemuan bagi sejumlah banyak orang untuk
tujuan rekreasi, fitness, atau pertemuan
lainnya.
Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 7
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
10 Studio Radio &
Televisi
Penggunaan yang menyediakan produksi,
perekaman, penyiaran radio, pertunjukan
televisi, dan bioskop.
11 J asa Penginapan
(Visitors
Accomodation)
Penggunaan yang menyediakan tempat
menginap, atau kombinasi tempat menginap,
makanan, dan entertainment, terutama untuk
pengunjung dan turis (termasuk hotel-hotel
dengan single room occupancy).
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
12 Taman Hiburan
13 Penitipan Hewan
14 Taman Perkemahan
15 Fasilitas Penitipan Anak
16 Kedai Makan & Minum di Pinggiran Zona Perumahan
17 Pameran di Ruang Terbuka
18 Lapangan Golf, Driving Range, Latihan Pitch & Putt
19 Fasilitas Pendaratan Helikopter
20 Studio Ketrampilan
21 Panti pijat, spesialis/ahli
22 Klub Malam & Bar, luas lantai lebih dari 450 m
2

23 Klinik Kesehatan Rawat Luar
24 Fasilitas Parkir Sebagai Penggunaan Utama
- Fasilitas Parkir Permanen
- Fasilitas Parkir Sementara
25 Fasilitas rekreasi yang dikelola swasta, luas lebih dari 900 m
2

26 Gerobak Dorong
- Gerobak Dorong di Lahan Privat
- Gerobak Dorong di J alan Umum






Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 8

SUB KATEGORI PENJ ELASAN
27 Fasilitas Daur Ulang
- Drop-off
- Mesin Otomatik
- Pengumpul Kecil
- Pengumpul Besar
- Pengumpulan Puing-Puing Bangunan Besar
- Pengumpulan Puing-Puing Bangunan Kecil
- Pengomposan dari Bahan Tumbuhan
- Pengomposan Bahan Campuran Organik
- Pengolah Ban Bekas
- Pengolahan Buangan Komersial & Pabrik Kecil
- Pengolahan Buangan Komersial & Pabrik Besar
28 Kafe Kaki Lima
29 Lapang Olahraga dan Stadion
30 Teater Terbuka. Luas lantai lebih dari 450 m
2

31 Klinik dan Rumah Sakit Hewan
32 Kebun Binatang





















Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 9
07 PERKANTORAN

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan di dalam ruangan
yang memfokuskan pada bisnis, pemerintahan, profesional, atau
pelayanan jasa keuangan
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01
Bisnis dan
Profesional
Penggunaan yang berhubungan dengan mata
pencaharian melalui usaha komersial atau jasa
perdagangan atau melalui keahlian suatu
kejuruan yang membutuhkan pendidikan atau
pelatihan khusus.
02 Pemerintahan
Penggunaan yang berhubungan dengan
administrasi peraturan perundangan
pemerintah daerah atau pusat.
03
Praktek Medis,
Dokter Gigi, dan
Kesehatan
Penggunaan yang berhubungan dengan
diagnosis dan penanganan orang sakit dan
kondisi malfungsi fisik yang dapat
diselenggarakan di bangunan perkantoran.
Laboratorium kesehatan dan dental termasuk
dalam sub kategori ini, kecuali disebutkan lain.
04
Kantor Pusat dan
Perwakilan
Perusahaan
Penggunaan yang berhubungan dengan
administrasi bisnis besar dan wilayah geografis
yang menyebar luas yang dapat berlokasi
terpisah dengan kegiatan utama bisnis-bisnis
tersebut.
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
05 Kantor Pemasaran Real Estate dan Rumah Contoh
06 Fasilitas Penanggulangan dan Konseling Pelecehan Sex












Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 10
08 PERDAGANGAN DAN J ASA PELAYANAN KENDARAAN BERMOTOR

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan di dalam ruangan
yang memfokuskan pada bisinis, pemerintahan, profesional, medis,
atau pelayanan jasa keuangan
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01
Bengkel Kendaraan
Niaga
Penggunaan dengan kegiatan memperbaiki dan
memelihara komponen-komponen atau badan-
badan truk besar, kendaraan angkutan masal,
peralatan besar, atau peralatan pertanian,
pesawat udara, atau kapal laut komersial.
02
Penjualan dan
Penyewaan
Kendaraan Niaga
Penggunaan yang menyediakan untuk
penjualan atau penyewaan truk, kendaraan
angkutan masal, peralatan besar atau
peralatan pertanian, pesawat udara, atau kapal
laut komersial.
03
Bengkel Kendaraan
Pribadi
Penggunaan dengan memperbaiki komponen
mekanik atau badan mobil, truk kecil / van,
sepeda motor, motor keperluan rumah tangga
atau kendaraan rekreasi, termasuk kapal pesiar
(baru maupun bekas) atau dengan pencucian,
pembersihan dan cara lain untuk menjaga
permukaan luar dan dalam kendaraan.
04
Penjualan dan
Penyewaan
Kendaraan Pribadi
Penggunaan yang menyediakan penjualan atau
penyewaan mobil-mobil, truk kecil atau van,
sepeda motor, motor keperluan rumah tangga
atau kendaraan rekreasi, termasuk kapal pesiar
baik baru maupun bekas.
05
Penjualan dan
Penyewaan
Peralatan dan
Perlengkapan
Kendaraan
Penggunaan yang berhubungan dengan
penjualan, peminjaman, atau penyewaan, baik
baru atau bekas, alat-alat atau perlengkapan
untuk tujuan perbaikan atau pemeliharaan
kendaraan, termasuk distribusi produk dari
persil yang menjual, meminjamkan, atau
menyewakannya.
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
06 Stasiun Servis Mobil
07 Gudang & Ruang Pamer Kendaraan Bermotor Terbuka


Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 11
09 PERDAGANGAN GROSIR, DI STRIBUSI, DAN PENYIMPANAN

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan yang menyediakan
dan mendistribusikan barang-barang dalam jumlah besar, khususnya
ke perusahaan-perusahaan penjualan retail. Termasuk penyimpanan
dalam jangka waktu lama dan singkat barang-barang komersial dan
benda-benda milik pribadi.
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01 Gudang Terbuka
Penggunaan yang berhubungan dengan
penyimpanan peralatan besar atau produk-
produk atau bahan-bahan dalam jumlah besar
di ruang terbuka.
02
Fasilitas Pindahan
dan
PenitipanBarang
Penggunaan yang terkait dengan pindahan
rumah atau pemindahan peralatan /
perlengkapan kantor dari satu lokasi ke lokasi
lainnya, termasuk penyimpanan sementara
barang-barang tersebut.
03 Pergudangan
Penggunaan yang terkait dengan penyimpanan
barang-barang dalam jumlah besar dalam
jangka waktu lama dan singkat, termasuk juga
penyimpanan oleh perorangan dalam
kompartemen penyimpanan terpisah
04 Penyaluran Grosir
Penggunaan yang terkait dengan penyimpanan
dalam jumlah besar dan pendistribusian
barang-barang, terutama ke pedagang eceran /
retail. Termasuk juga ruang pamer grosiran.
Sub Kategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
05 Tempat Penampungan Barang-Barang Terbuka
06 Penampungan Barang Rongsokan
07 Gudang Terbuka Sementara Di Luar Lokasi Pembangunan









Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 12
10 I NDUSTRI

Kategori ini terdiri dari penggunaan-penggunaan yang menghasilkan
barang-barang dari kegiatan penggalian (extracted) dan bahan-bahan
baku atau dari bahan-bahan bekas yang telah dipersiapkan
sebelumnya, termasuk perencanaa, penyimpanan, dan penanganan
produk-produk tersebut dan bahan-bahan dari mana barang-barang
tersebut dihasilkan.
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01 I ndustri Berat
Penggunaan yang memproses atau menangani
material untuk keperluan pabrik produk-produk
sektor dasar yang besar. Perakitan peralatan
besar dan mesin-mesin termasuk dalam sub
kategori ini, juga penggunaan manufaktur yang
mempunyai sifat menghasilkan suara, debu,
atau polutan lainnya yang memungkinkan
timbulnya kerusakan atau gangguan terhadap
kawasan yang berdekatan.
02 I ndustri Ringan
Penggunaan yang memproses, membuat,
merakit, mengolah, atau mengemas barang-
barang jadi atau produk-produk tanpa
menggunakan bahan-bahan eksplosif, minyak
bakar, atau radio aktif (dalam sub kategori ini
tidak termasuk perakitan peralatan besar dan
mesin-mesin).
03 I ndustri Bahari
Penggunaan yang menghasilkan,
mendistribusikan, dan menyimpan kapal-kapal
laut komersial dan peralatan.
04
Riset &
Pengembangan
Penggunaan yang terkait dengan riset dan
penelitian ilmiah yang ditujukan pada
pengembangan produk-produk dan cara-cara
pemrosesan baru.
05
Terminal/ Pool Truk
dan Transportasi
Penggunaan yang terkait dengan pengiriman
dan penyimpanan kendaraan-kendaraan besar
dalam jangka panjang atau jangka pendek.
Termasuk perbaikan kecil dan pemeliharaan
kendaraan-kendaraan besar tersebut.
SubKategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
06 Fasilitas Penelitian Limbah
07 Fasilitas Pengolahan Limbah
Lampiran 9
Kategori dan Sub Kategori Penggunaan

Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L9 - 13
08 Penggunaan Kelautan pada Zona Khusus Pantai
09 Industri Pertambangan dan Ekstraktif
10 Pabrik Percetakan/Penerbitan Surat Kabar
11 Pengolahan dan Pengemasan Kebutuhan Hewan dan Sampingannya
12 Industri Sangat Berat
13 Penimbunan Rongsokan dan Pembongkaran Kendaraan Bermotor


11 TATA I NFORMASI

Kategori ini termasuk semua struktur yang digunakan untuk
memberikan informasi tentang bisnis, produk, pelayanan, atau
tentang lahan/ petak.
SUB KATEGORI PENJ ELASAN
01
Tata I nformasi
Yang Diizinkan
Struktur tata informasi yang diizinkan, yaitu
yang didirikan di atas permukaan tanah, atau
pada faade bangunan, atau di atap, yang
pesan informasinya diidentifikasi untuk bisnis,
tanah / bangunan, kegiatan-kegiatan pada
tanah / bangunan, atau penunjuk ke arah
tanah / bangunan.
SubKategori penggunaan berikut diatur secara terpisah
02 Community Identification Signs
03 Reallocation of Sign Area Allowance
04 Revolving Project Signs
05 Signs with Automatic Changing Copy
06 Theater Marquees







Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 1
Lampiran 10




AMPI RAN berikut menyajikan beberapa paket penggunaan
yang dapat diterapkan untuk wilayah perkotaan di Indonesia. Kelompok-
kelompok penggunaan lahan yang disajikan di sini terdiri dari kelompok
besar penggunaan lahan dan penggunaan lahan mikro, yang
dikelompokkan berdasarkan pengamatan di beberapa daerah.
Paket penggunaan atau pun pengelompokan paket penggunaan lahan
yang disajikan di sini merupakan contoh penggunaan yang tidak bersifat
mengikat, akan tetapi dapat disesuaikan dengan karakteristik kota yang
direncanakan, maupun kecenderungan perkembangannya.
Pengelompokan penggunaan lahan tersebut antara lain seperti di bawah
ini.

PENGGUNAAN PERUMAHAN I


A. Perumahan untuk
keluarga tunggal
renggang
maupun padat

1. Rumah Kecil
2. Rumah Sederhana
3. Rumah Sedang
4. Maisonette (lihat Gambar L.1)
5. Townhouse (lihat Gambar L.1)
B. Pengembangan
Perumahan
Lainnya




1. Apartemen/Rumah Susun
2. Kondominium
3. Rumah Pondokan/Asrama/indekost
4. Panti J ompo
5. Guest House





L
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 2
Gambar L.1
I lustrasi Maisonette dan Townhouse











Keterangan :
Tipe Rumah Tinggal Perkotaan (townhouse)
Bangunan yang dibagi secara vertikal menjadi empat atau lima unit rumah tinggal, masing-
masing memiliki jalan masuk menuju halaman depan, halaman samping berbatasan langsung
dengan setiap dinding samping masing-masing unit rumah tinggal.
Tipe Rumah Tinggal Maisonette
Bangunan yang dibagi secara vertikal menjadi lima unit rumah tinggal atau lebih, masing-
masing memiliki jalan masuk tersendiri ke koridor, dan jalan masuk lainnya langsung menuju
ke luar area halaman yang berdampingan dengan unit rumah tinggal tersebut.






Tampak atas Tampak samping
TOWNHOUSE
(Rumah Tinggal
Perkotaan)
Tampak atas Tampak samping
MAI SONETTE
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 3
PENGGUNAAN FASI LI TAS LI NGKUNGAN II

A. Fasilitas
Lingkungan
1. Sekolah Taman Kanak-kanak/Taman Bermain
2. Sekolah Dasar
3. Sekolah Lanjutan Pertama
4. Sekolah Menengah Umum atau Kejuruan
5. Perpustakaan, museum/galeri seninon komersial
6. Rumah dinas dokter, kepala sekolah, kepala
kelurahan dsb, yang terkait dengan lokasi tempat
tugasnya
7. Panti asuhan
8. Mushola, Mesjid
9. Gereja, dan bangunan ibadah lain sesuai dengan
jamaahnya
10. Balai Warga/Karang Taruna/Gedung Serbaguna
11. Pusat kesehatan, klinik kesehatan rawat luar,
Puskesmas, Balai pengobatan medik, Balai
Kesehatan Ibu & Anak,Rumah Sakit Bersalin
12. Apotik
13. Warung/pertokoan yang menjual barang keperluan
sehari-hari (convenience store)
14. Kantor-kantor pemerintah: kantor kelurahan, pos
hansip/pos polisi, kantor pos pembantu dll, yang
berhubungan dengan pelayanan masyarakat sehari-
hari
15. Dan lain-lain
B. Penggunaan
Ruang Terbuka


1. Penggunaan pertanian, rumah kaca, kebun, dsb
2. Lapangan olahraga
3. Taman/tempat bermain untuk umum
4. Pangkalan/parkir umum
5. Alun-alun
6. Dan lain-lain


PENGGUNAAN KOMERSI AL DAN
BANGUNAN UMUM
III

A. Kegiatan Ritel
dan J asa yang
Mudah Dicapai
(Convenience)
1. Toko kue & roti
2. Pemangkas Rambut/Salon Kecantikan
3. Toko Obat
4. Binatu
5. Warung nasi/Restoran
6. Toko serba ada, mini market
7. Toko buku & alat-alat tulis
8. Penjahit atau pembuatan pakaian
9. Rekreasi anak-anak: play station, games
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 4
10. Warung Telekomunikasi (Wartel)/Warung Internet
(Warnet)
11. Dan lain-lain
B. Perkantoran
1. Perkantoran bisnis, profesional, atau
pemerintahan
2. Dokter hewan bagi hewan kecil, semua kegiatan
diselenggarakan di dalam bangunan yang
tertutup/terlindung; bangunan tersebut memiliki
penggunaan perumahan
3. Klinik/praktek dokter bersama
4. Dan lain-lain
C. Ritel atau J asa
1. Pasar Lingkungan
2. Bank, termasuk bank drive-in
3. Pom bensin
4. Galeri seni komersial
5. Toko pemasok mobil, tanpa instalasi atau jasa
perbaikan
6. Toko P&D/kelontong
7. Restoran
8. Bengkel
9. Toko bunga
10. Toko furnitur
11. Toko cendera mata
12. Toko dekorasi ruang dalam, termasuk processing,
pelayanan, perbaikan
13. Perkantoran kecil
14. Ruang pertemuan
15. Toko musik
16. Kios penjualan media cetak (surat kabar, majalah,
dsb), terbuka atau tertutup
17. Optik
18. Toko bahan bangunan
19. Toko hewan peliharaan
20. Toko peralatan atau pemasokan fotografi
21. Toko sepatu
22. Toko alat-alat olahraga atau atletik
23. Toko elektronik
24. Toko mainan anak-anak
25. Biro perjalanan
26. Kontraktor pemeliharaan bangunan: pencucian
kaca jendela, pemolesan lantai
27. Sekolah mengemudi mobil
28. Pegadaian
29. Ruang pamer/penjualan mobil/motor
30. Sekolah atau perguruan tinggi bisnis
31. Perusahaan katering
32. Rental pakaian atau kostum
33. Laboratorium kesehatan atau kesehatan gigi
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 5
untuk riset atau testing
34. Gedung olahraga (bola basket, bulu tangkis,
squash, dan tenis)
35. Studio seni, musik, tari, atau seni peran/teatrikal
36. Gedung pertemuan untuk acara perkawinan dsb
37. Super market
38. Restoran dan hotel
39. Studio fotografi, atau studio produksi film
40. Studio radio atau televisi
41. Dan lain-lain

D. J asa Publik
1. Kantor Kelurahan
2. Kantor Tramtib
3. Kantor Pos Pembantu
4. Pos Pemadam Kebakaran
5. Pos Polisi
6. Stasiun telepon umum
7. Dan lain-lain
E. Perusahaan
Grosir
1. Perusahaan grosiran, dengan pelengkap tempat
penyimpanan
2. Kantor grosir, atau ruang pamer dengan gudang
penyimpanan hanya untuk sampel
3. Dan lain-lain
F. J asa Mobil
Otomotif
1. Toko kaca dan spion mobil
2. Penjualan/pemasangan aksesoris mobil (jok, kaca
film, ban, audio-video, dll)
3. Perusahaan penyewaan mobil
4. Bangunan parkir atau pelataran parkir untuk
umum
5. Dan lain-lain
G. Hiburan
1. Tempat bermain bilyar
2. Bowling, jumlah lane dibatasi sampai 16 buah per
perusahaan
3. Teater
4. Dan lain-lain
H. Perusahaan
Manufaktur
1. Pabrik kerajinan tangan
2. Pabrik produk keramik, melayani pesanan
3. Pabrik pakaian/garmen
4. Percetakan, melayani pesanan
5. Dan lain-lain







Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 6
PENGGUNAAN REKREASI IV


A. Hiburan, di
Ruang Terbuka
atau Tertutup
1. Perkemahan, bermalam/kegiatan di siang hari
2. Taman hiburan anak-anak
3. Sirkus, karnaval, pasar malambersifat sementara
4. Rekreasi pantai, komersial, atau kolam renang
5. Lapangan golf/golf mini
6. Gelanggang roller skatingoutdoor
7. Teater
8. Dan lain-lain
B. Perusahaan
Ritel
1. Gedung pertemuan untuk upacara perkawinan
2. Perusahaan katering
3. Rental sepeda atau toko sepeda
4. Penjualan bahan bakar untuk perahu/kapal air,
terbuka/tertutup
5. Rental perahu, terbuka atau tertutup/ruang pamer
atau penjualan perahu, ukuran panjang kurang
dari 30 meter/penyimpanan, perbaikan, atau
pengecatan perahu
6. Toko permen atau es krim
7. Mesin penjaja yang dioperasikan dengan koin
kapasitas mesin self-contained
8. Dok untuk kapal pesiar
9. Alat pancing dan kelengkapannya, rental atau
penjualan
10. Perusahaan penjual kapal layar
11. Penjualan/rental alat-alat olahraga termasuk
petunjuk pelatihan ski, layar, atau ski diving
C. Perusahaan
J asa
1. Penjualan bahan bakar untuk perahu/kapal air,
terbuka/tertutup









Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 7
PENGGUNAAN J ASA UMUM V

A. Hiburan
1. Taman hiburan anak-anak
2. Ferris wheel, roller coaster, whip, terjun payung,
komidi putar (pertunjukan di ruang terbuka untuk
siang hari)
3. Pertunjukan hal-hal yang langka/ajaib (freak
show), museum lilin, dodgem scooter
(pertunjukan di ruang terbuka untuk siang hari)
4. Stand terbuka untuk permainan ketangkasan,
termasuk galeri tembak
B. Ritel atau J asa
1. Rumah sakit hewan atau penitipan anjing
2. Perlindungan hewan atau krematorium hewan
3. Penjualan mobil, sepeda motor, trailer, atau
perahu, terbuka atau tertutup
4. Toko pandai besi/las
5. Penjualan bahan bangunan, terbuka/tertutup
(termasuk lahan digunakan untuk gudang
terbuka)
6. Toko pekerjaan perkayuan, furnitur, melayani
pesanan
7. Krematorium
8. Perusahaan kontraktor: pemasangan listrik, kaca,
alat pemanas ruang, pengecatan, pelapisan
dinding (wall paper), plumbing, pengatapan, atau
tata udaraterbuka/tertutup, gudang terbuka
9. Penjualan bahan bakar, es, minyak, batubara-
terbuka/tertutup, gudang terbuka
10. Toko peralatan rumah tangga/kantor/perbaikan
mesin (refrigerator, mesin cuci, kompor, freezer,
AC)
11. Perusahaan rental atau penjualan mesin
12. Toko pembuatan kaca cermin atau pemotongan
kaca
13. Pemotongan unggas atau kelinci
14. Toko pengecatan tata informasi
15. Toko pelapisan/sepuhan perak, melayani pesanan
16. Sekolah dagang untuk orang dewasa
17. Dan lain-lain
C. Perusahaan
J asa Otomotif
1. Pencucian mobil/stasiun servis mobil
terbuka/tertutup (fasilitas pelumasan, perbaikan
kecil, atau pencucian penempatannya di dalam
bangunan tertutup)
2. Perbaikan mobil, truk, sepeda motor, atau trailer
3. Dan lain-lain
D. Penyimpanan
1. Penyimpanan kendaraan komersial/utilitas umum,
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 8
Kendaraan
Bermotor
terbuka/tertutup (termasuk kelengkapan pompa
bahan bakar motor)
2. Gudang kendaraan bermotor
3. Peralatan transit publik terbuka/tertutup
(termasuk kelengkapan pompa bahan bakar
motor)
4. Dan lain-lain
E. Perusahaan
J asa Berat,
Grosir, atau
Penyimpanan
1. Perusahaan pencucian karpet/pencucian
(termasuk dry cleaning) dan pencelupan
2. Pemasokan linen/bahan-bahan kebutuhan rumah
tangga, handuk, atau popok bayi
3. J asa pindah dan penyimpanan/pengemasan dan
pemetian
4. Pencetakan fotografik atau percetakan
5. Terminal truk atau stasiun angkutan bermotor
6. Penggudangan
7. Perusahaan grosirandengan kelengkapan tempat
penyimpanan


PENGGUNAAN INDUSTRI VI

A. Perusahaan
J asa atau Grosir
1. Bahan-bahan bangunan atau pekarangan
kontraktor, ruang terbuka atau tertutup
2. Grosir produksi atau toko daging
B. Perusahaan
Manufaktur
1. Bahan perekat/adhesive, tidak termasuk
pembuatan komponen-komponen dasar
2. Iklan tayang/media luar
3. Pesawat terbang, termasuk suku cadang
4. Bahan pakaian, produk tekstil/bahan lainnya,
pembuatan topi, atau produk serupa
5. Mobil, truk, trailer, termasuk suku cadang, atau
pembuatan kembali mesin
6. Minuman non-alkohol
7. Pembuatan atau perbaikan perahu
8. Pembotolan untuk semua jenis minuman
9. Sikat dan sapu
10. Peralatan kamera atau fotografi, kecuali film
11. Karpet
12. Kanvas atau produk kanvas
13. Produk keramik, termasuk barang-barang
tembikar, pelapisan genteng, atau produk
serupa
14. Kimia, pembuatan bahan atau pengemasan
15. Produk tutup botol
16. Kosmetik atau bahan-bahan kecantikan
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 9
17. Pabrik pemintalan atau pembersih atau
pembalut kapas
18. Peralatan dari listrik (perlengkapan
penerangan/lampu, setrikaan, kipas angin,
pembakar roti, mainan bertenaga listrik, dan
produk serupa)
19. Peralatan (assembling) listrik, terdiri dari radio
rumah, televisi penerima, peralatan home
movie, atau produk serupa
20. Barang-barang keperluan listrik (kawat/kabel,
tombol listrik, lampu, isolasi, baterai kering,
atau sejenisnya)
21. Film untuk fotografi
22. Produk makanan
23. Produk gelas, dari bahan baku gelas
24. Produk bulu hewan, kain tebal, bulu burung,
25. Kaos kain/pakaian dalam
26. Es kering atau alami
27. Tinta atau mesin tulis
28. Produk jute, rami, sisal dan serabut (oakum)
29. Laboratorium, riset, eksperimen, atau pengujian
30. Produk kulit, termasuk sepatu, tali kipas mesin,
koper, tas
31. Mesin bisnis (mesin tulis, mesin hitung,
kalkulator, alat penghitung kartu, dan produk
serupa)
32. Aneka macam mesin (mesin cuci, senjata api,
mesin pendingin, AC, alat gambar hidup
komersial, atau produk serupa)
33. Perkakas mesin (mesin bubut metal, mesin
press metal, mesin stamping, mesin pekerjaan
kayu, dan produk serupa
34. Kasur/mattress, termasuk pembuatan kembali
atau pembaharuan
35. Alat finishing pekerjaan metal,
pelapisan/plating, gerinda, penyerutan,
pemolesan, pembersihan, tahan karat,
pemanasan, atau produk serupa)
36. Stamping/penggilingan, ekstrusi/pemisahan,
termasuk batu permata untuk pakaian, pin dan
jarum, pisau cukur, tutup botol, kancing, alat-
alat dapur, atau produk serupa
37. Sepeda motor, termasuk suku cadang
38. Alat-alat musik, termasuk piano atau organ
39. Produk-produk baru (novelty)
40. Alat-alat ortopedik, pengobatan medik,
termasuk kaki palsu, alat penyangga, penopang,
pembalut dari karet, (stretcher), dan alat-alat
serupa
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 10
41. Peralatan optik, jama, atau peralatan presisi lain
42. Produk kertas (amplop, alat-alat tulis, tas, boks,
kontener buat pengiriman jarak jauh/shiping,
untuk barang-barang ukuran besar,
tabung/pipa, pencetakan wall paper, atau
produk serupa)
43. Parfum atau sabun wangi
44. Produk farmasi
45. Produk plastik (pembuatan meja, alat perekam,
kancing, atau produk serupa)
46. Pencetakan, atau penerbitan
47. Produk karet, seperti ring washer, sarung
tangan, sepatu, tutup kepala buat mandi, alat
penyemprot cairan (atomizer), atau produk
serupa
48. Konstruksi dekor
49. Pengolahan kain usang (daur ulang)
50. Barang-barang dari bahan perak,
pelapisan/sepuhan atau murni
51. Pengemasan sabun atau detergen
52. Peralatan olah raga atau atletik (bola, basket,
tongkat pemukul bola bilyar (cue), sarung
tangan, raket, tali, atau produk sejenis)
53. Produksi seni patung, manekin, arca kecil,
benda-benda seni untuk agama
54. Produk besi baja, macam-macam
perakitan/assembling, termasuk lemari besi,
pintu, pagar, furnitur metal, atau produk serupa
55. Pabrik tekstil, pemintalan, tenun, pencelupan,
pencetakan, hasil perajutan, benang hasil
rajutan, benang, atau tali temali
56. Tembakau, termasuk pengawetan, atau produk
tembakau
57. Perkakas atau peralatan keras (selot, baut, mur,
sekrup, tombol pintu, bor, alat pemotong
menggunakan tangan, engsel, peralatan keras
rumah, kunci, pencetakan metal bukan besi,
alat-alat plumbing, atau produk serupa)
58. Mainan anak-anak
59. Payung
60. Pembuatan jok dalam jumlah besar, tidak
termasuk toko yang berhubungan langsung
dengan konsumen
61. Kendaraan anak-anak, termasuk sepeda, skuter,
wagon, kereta bayi, atau sejenisnya
62. Tirai/kerai, jendela peneduh atau awning
63. Produk lilin
64. Produk kayu, termasuk furnitur, boks, peti,
basket, pensil, pekerjaan pembuatan tong, atau
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 11
produk serupa
65. Aspal atau produk aspal
66. Minuman ringan, minuman berakohol, atau bir
67. Batu bata, genteng, atau gerabah/tanah liat
68. Semen
69. Batu bara, jelaga, briket bahan bakar
70. Kimia : acetylene, cat dari aniline, ammonia,
karbit, kostik soda, selulosa, klorin, karbon
hitam, bahan-bahan pencuci atau pemoles,
bahan-bahan pembasmi hama, hidrogen atau
oksigen, pabrik alkohol, potash, bahan plastik,
resin sintetik, benang rayon, hidroklor, pikrik,
asam sulfur atau derivatifnya
71. Produk arang, kokas, atau ter
72. Bahan-bahan excelsior (serat-serat kayu untuk
pengepakan) atau pengemasan
73. Pupuk
74. Pengecoranbahan besi atau bukan besi
75. Gelatin, lem, atau lem kanji
76. Produk gelas/kaca ukuran besar:structural
glass atau lembaran kaca, atau produk serupa
77. Penggilingan atau pemrosesan biji-bijian
78. Grafit atau produk grafit
79. Gipsum
80. Bulu hewan, kain tebal, bulu burung-processing,
pencucian, pengawetan, atau pencelupan
81. Insinerasi atau pereduksian sampah, jeroan,
atau bangkai hewan
82. Insektisida, fungisida, disinfektan, atau industri
terkait atau bahan-bahan kimia keperluan
rumah tangga lainnya
83. Penyamakan, pengawetan, finishing, atau
pengecatan kulit atau bulu hewan
84. Linoleum, atau kain minyak
85. Mesin-mesin besar: mesin-mesin listrik,
konstruksi, pertambangan, atau pertanian,
termasuk perbaikan
86. Korek api
87. Produk daging atau ikan, termasuk pemotongan
daging, persiapan bagi pengemasan ikan
88. Metal atau biji metal, reduksi, penyulingan
kembali, peleburan bijih (smelting), atau
pencampuran logam
89. Pencampuran logam atau kertas perak, aneka
macam, termasuk pengelasan, kerajinan perak,
kuningan, tembaga, timah, kaleng, atau kertas
emas, atau produk-produk serupa
90. Metal atau produk metal, pengelolaan atau
pemrosesan, termasuk pemotongan, pelapisan,
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 12
pengkilapan, galvanisasi, atau proses serupa
91. Pencetakan logam atau produk pengecoran,
termasuk pekerjaan ornamen-ornamen besi,
atau produk serupa
92. Pekerjaan pembuatan monumen, tanpa
pembatasan dalam pemrosesan
93. Cat, pernis, atau terpentin
94. Penyulingan minyak bumi, atau produk-produk
dari minyak bumi
95. Bahan baku plastik
96. Produk porselen, termasuk peralatan kamar
mandi, atau dapur, atau produk serupa
97. J asa pembuangan sampah radioaktif:
manajemen, penyimpanan sampah radioaktif
98. Perlengkapan jalan kereta api, termasuk
gerbong dan lokomotif
99. Karet alami atau sintetik, termasuk ban, ban
dalam, atau produk serupa
100. Instalasi pembuangan limbah
101. Pembuatan perahu / kapal air atau galangan
untuk perbaikan
102. Sabun atau deterjen, termasuk pengolahan
bahan gemuk
103. Produk baja, struktur baja, termasuk batang
dan balok baja, rel, kabel, atau produk serupa
104. Peng-ekstrak-an bahan pelarut (dengan cara
kimia)
105. Ruang terbuka bagi jagal atau pemotongan
hewan atau unggas
106. Pemrosesan batu atau produk batu, produk
pasir dan kapur, atau proses dan produk serupa
107. Penyulingan gula
108. Pemutihan/penggelantangan tekstil
109. Distilasi kayu atau tulang
110. Prosesing kayu atau papan kayu, termasuk
pabrik penggergajian atau penyerutan,
ekselsior, plywood, pelapisan dengan kain kayu,
pengolahan untuk pengawetan kayu, atau
produk dan proses serupa
111. Pulp kayu atau fiber, reduksi atau prosesing,
termasuk pengoperasian pabrik kertas
C. Aneka
Penggunaan
1. Pertanian, termasuk rumah kaca, persemaian,
kebun sayur mayur
2. Transit umum, jalan kereta api, sub-stasiun
utilitas listrik, ruang terbuka atau tertutup
3. J alan kereta api termasuk ROW, terminal
angkutan barang, peralatan atau tambahan, atau
fasilitas, atau pelayanan yang digunakan, atau
diperlukan dalam pengoperasian jalan kereta api,
Lampiran 10
Paket Penggunaan Lahan
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perkotaan L10 - 13
tetapi tidak termasuk stasiun penumpang
4. Timbangan berat truk, di ruang terbuka atau
tertutup
5. Terminal truk atau stasiun angkutan bermotor
6. Pelayaran pesisir pantai
D. Gudang atau
Aneka
Penggunaan,
Ruang Terbuka
atau Tertutup
1. Penyimpanan batubara dan gas
2. Tempat pembuangan sampah, pemindahan
sampah laut, atau penimbunan ampas bijih besi
3. Pembangkit tenaga listrik atau tenaga uap
4. Penyimpangan bahan-bahan eksplosif, yang tidak
dilarang oleh suatu peraturan perundangan
5. Pabrik gas
6. Penyimpanan biji-bijian
7. Pekarangan penimbunan barang-barang ronsokan
(mobil bekas atau sejenisnya)
8. Lapangan pembuatan papan-papan kayu,
9. Penyimpanan pupuk, kacang polong, atau top soil
10. Penyimpanan atau pengelolaan minyak bumi, atau
produk minyak bumi
11. Instalasi pendingin
12. Penyimpanan potongan-potongan meta,
rongsokan, kertas, kain, penyortiran, atau
pengikatan (dalam jumlah besar)























Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 1
Lampiran 11




AMPIRAN berikut menyajikan beberapa paket Aturan Pola
Pemanfaatan Ruang untuk dapat diterapkan di beberapa wilayah
perkotaan di Indonesia. Paket ini ditujukan untuk mengisi penataan
zoning sehingga secara teknis, kegiatan pembangunan dan
pengendalian serta penertiban bangunan dapat menjamin keselamatan,
kesehatan, kenyamanan, dan keindahan bangunan dan lingkungannya.
Paket ini antara lain mengatur besaran kepadatan bangunan, Koefisien
Dasar Bangunan, Koefisien Lantai Bangunan, Ketinggian Bangunan, dan
Koefisien Dasar Hijau.


KEPADATAN BANGUNAN I


Pengertian
Kepadatan Bangunan adalah jumlah bangunan di
atas satu luasan lahan tertentu
Kepadatan Bangunan dinyatakan dalam
bangunan/Ha.
Rumus :













Kepadatan Bangunan = J umlah Bangunan
Luasan Lahan
L
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 2
Pertimbangan
Faktor-faktor yang dipertimbangkan untuk menetapkan
kepadatan bangunan adalah:
Faktor Kesehatan :
1. air bersih
2. sanitasi & pembuangan limbah
3. cahaya, sinar matahari, udara, dan ketenangan
4. ruang gerak dalam tempat tinggal
Faktor Sosial :
1. ruang terbuka pribadi
2. privasi
3. perlindungan
4. fasilitas lingkungan
Faktor Teknis :
1. resiko kebakaran,
2. (2) ketersediaan lahan untuk bangunan,
3. (3) daya hubung, dan
4. (4) kondisi tanah;
Ketentuan
Kepadatan bangunan sedang yang ideal tidak kurang
dari 40 bangunan/ha sebagaimana diatur dalam
Keputusan Menteri PU No. 378/KPTS/1987, Lampiran
No.22.
Klasifikasi
Klasifikasi kepadatan bangunan dapat dilihat sebagai
berikut :

Tabel
KLASI FI KASI KEPADATAN BANGUNAN
KLASI FIKASI
KEPADATAN BANGUNAN
(bangunan/ ha)
Sangat Rendah < 10
Rendah 11 40
Sedang 41 60
Tinggi 61 80
Sangat Tinggi > 81
Sumber: Keputusan Menteri PU No.378/KPTS/1987,Lampiran No.22


Prinsip
Kepadatan
Bangunan
Prinsip yang digunakan dalam penataan kepadatan
bangunan adalah sebagai berikut:
Kepadatan bangunan perlu mempertimbangkan ruang
kota yang tercipta akibat adanya bangunan-bangunan;
Pemanfataan ruang dengan fungsi konservasi,
meminimalkan penggunaan ruang untuk kawasan
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 3
terbangun, dan memperbesar ruang terbuka hijau;
Menciptakan suasana asri dan alamiah, dengan
menciptakan ketenangan dan kenyamanan;



KOEFI SI EN DASAR BANGUNAN (KDB) I I


Pengertian
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) Blok
Peruntukan adalah rasio / perbandingan luas lahan
terbangun (land coverage) dengan luas lahan
keseluruhan blok peruntukan.
Batasan KDB dinyatakan dalam persen (%).
Rumus :






Komponen
Perhitungan
KDB Blok
Peruntukan
Perhitungan KDB berdasarkan pada luas wilayah
terbangun yang diperkenankan adalah jumlah luas
seluruh petak yang digunakan untuk kegiatan utama
Dasar
pertimbangan
Selain mempertimbangkan kecenderungan
perkembangan kota dan rencana pemanfaatan lahan,
penentuan KDB juga didasarkan atas kondisi fisik,
seperti kemiringan lereng. Hal ini ditujukan untu menjaga
agar sesedikit mungkin lahan miring dieksploitasi dengan
memberikan batasan luas lahan yang boleh dibangun.
Makin curam lahan, makin kecil KDB yang diperkenankan.









KDB
Blok
= Luas wilayah terbangun x 100%
Luas blok peruntukan
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 4


Ketentuan KDB Blok berdasarkan kemiringan lereng dapat
dilihat pada rumus di bawah ini :

Rumus :

Keterangan :
C = KDB maksimum (dalam %)
X = Maksimum KDB untuk daerah tersebut
S = Kemiringan lereng rata-rata
x = Kemiringan lereng maksimum yg masih diperbolehkan
untuk dibangun di wilayah tersebut
Klasifikasi KDB
Blok
Peruntukan
Tabel berikut menyajikan Klasifikasi KDB Blok Peruntukan

Tabel
KLASI FI KASI KDB BLOK PERUNTUKAN

KLASI FIKASI KDB BLOK PERUNTUKAN
Sangat Tinggi > 75%
Tinggi 50% - 75%
Menengah 20% - 50%
Rendah 5 20%
Sangat Rendah < 5%
Sumber : Kepmen PU No. 640/KPTS/1986 tentang Perencanaan Tata Ruang Kota












C = X (S
2
/x)
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 5

KOEFI SI EN LANTAI BANGUNAN (KLB) I I I


Pengertian
Koefisien Lantai Bangunan (KLB) Blok Peruntukan adalah
rasio perbandingan luas seluruh lantai blok peruntukan
dengan luas lahan efektif keseluruhan blok peruntukan.
Rumus :






Klasifikasi
Klasifikasi KLB Blok Peruntukan disajikan pada Tabel
berikut :

Tabel
Klasifikasi KLB Blok Peruntukan
KLASI FIKASI KLB BLOK PERUNTUKAN
Sangat Rendah KLB = 2 x KDB
Rendah
KLB = 4 x KDB
Sedang
KLB = 8 x KDB
Tinggi
KLB = 9 x KDB
Sangat Tinggi
KLB = 20 x KDB
Sumber : Kepmendagri No. 59/1988


Ketentuan
Teknis
Ketentuan KLB adalah sebagai berikut :
1. KLB sangat rendah untuk bangunan tidak bertingkat
dan bertingkat maksimum 2 lantai;
2. KLB rendah untuk bangunan bertingkat maksimum 4
lantai;
3. KLB sedang untuk bangunan bertingkat maksimum 8
lantai;
4. KLB tinggi untuk bangunan bertingkat maksimum 9
lantai;
5. KLB tinggi untuk bangunan bertingkat maksimum 20
lantai.
KLB
Blok
= Luas total lantai seluruh bangunan x 100%
Luas blok Peruntukan
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 6
Ketentuan
Perhitungan
Dalam menghitung KLB perlu diketahui dahulu Luas
Lantai Bangunan keseluruhan; ketentuan perhitungan
luas bangunan sebagai berikut :
1. Perhitungan luas lantai adalah jumlah luas lantai yang
diperhitungkan sampai batas dinding terluar termasuk
balkon dan mezanin, termasuk lantai dasarnya;
2. Luas lantai mezanin dihitung seperti yang ada hanya
apabila luas mezanin tadi melebihi 50% dari luas
lantai tipikalnya maka luas lantai mezanin dihitung
sama dengan 100% luas lantai tipikalnya;
3. Bagi lantai mezanin yang luasnya lebih kecil dari 50%
luas bangunan tipikalnya, tidak dihitung sebagai lantai
bangunan pada perhitungan ketinggian bangunan
tetapi luas lantai tersebut diperhitungkan pada
perhitungan KLB;
4. Overstek yang melebihi lebar 1,5 meter dan bidang
mendatarnya digunakan atau tidak digunakan sebagai
lantai bangunan maka luas bidang datarnya dihitung
penuh (100%);
5. Overstek yang lebarnya tidak lebih dari 1,5 meter dan
bidang mendatarnya tidak digunakan sebagai lantai
bangunan maka luas bidang mendatarnya tidak
diperhitungkan;
6. Overstek yang lebarnya tidak lebih dari 1,5 meter dan
bidang mendatarnya digunakan untuk lantai
bangunan maka luas bidang mendatarnya dihitung
penuh (100%);
7. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah
(basement) disamakan dengan batasan luas lantai
dasar untu perhitungan KDB, tetapi lantai basement
ini tidak diperhitungkan pada saat menghitung Luas
Lantai Dasar untuk KDB;
8. Dalam perhitungan KLB luas lantai di bawah tanah
(basement) diperlakukan seperti luas lantai di atas
tanah.
Komponen
Perhitungan
KLB
Perhitungan KLB berdasarkan pada luas tapak yang ada
di belakang GSB, ditentukan sebagai berikut :
1. Dalam perhitungan KLB luas lantai di bawah tanah
diperhitungkan seperti luas lantai di atas tanah;
2. Luas lantai bangunan yang diperhitungkan untuk
parkir tidak diperhitungkan dalam perhitungan KLB
asal tidak melebihi 50% dari KLB yang ditetapkan,
selebihnya diperhitungkan 50% terhadap KLB;
3. Lantai bangunan parkir diperkenankan mencapai
150% dari KLB yang ditetapkan;
4. Ramp dan tangga terbuka dihitung 50% selama tidak
melebihi 10% dari luas lantai dasar yang
diperkenankan;
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 7
5. Batasan perhitungan luas ruang bawah tanah
(basement) ditetapkan oleh Kepala Daerah.



KETI NGGIAN BANGUNAN I I I


Pengertian

Ketinggian Bangunan ialah suatu nilai yang
menyatakan jumlah lapis/lantai (storey) maksimum
pada petak lahan.
Ketinggian bangunan dinyatakan dalam satuan lapis
atau lantai (Lantai Dasar = Lantai 1) atau meter.

Perhitungan
Perhitungan ketinggian bangunan dapat ditentukan
sebagai berikut :
1. Ketinggian ruang pada lantai dasar ditentukan dengan
fungsi ruang dan arsitektur bangunannya;
2. Dalam hal perhitungan ketinggian bangunan, apabila
jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh
berikutnya lebih dari 5 meter, maka ketinggian
bangunan dianggap sebagai dua lantai;
3. Mezanin yang luasnya 50% dari luas lantai dasar
dianggap sebagai lantai penuh
4. Terhadap bangunan tempat ibadah, gedung
pertemuan, gedung pertunjukan, gedung sekolah,
bangunan monumental, gedung olah raga, bangunan
serba guna dan bangunan sejenis lainnya tidak
berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir
(2);
5. Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik
ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat
kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang
besar pada tanah asli suatu perpetakan, maka tinggi
maksimum lantai dasar ditetapkan oleh instansi yang
berwenang mengeluarkan I MB;
6. Pada bangunan rumah tinggal kopel, apabila terdapat
perubahan atau penambahan pada ketinggian
bangunan, harus tetap diperhatikan kaidah-kaidah
arsitektur bangunan kopel.
Ketentuan
Teknis
Perhitungan ketinggian bangunan dapat ditentukan
sebagai berikut :
1. Ketinggian ruang pada lantai dasar disesuaikan
dengan fungsi ruang dan arsitektur bangunannya;
2. Dalam hal perhitungan ketinggian bangunan, apabila
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 8
jarak vertikal dari lantai penuh ke lantai penuh
berikutnya lebih dari 5 meter, maka ketinggian
bangunan dianggap sebagai dua lantai;
3. Mezanin yang luasnya 50% dari luas lantai dasar
dianggap sebagai lantai penuh;
4. Terhadap bangunan tempat ibadah, gedung
pertemuan, gedung pertunjukan, gedung sekolah,
bangunan monumental, gedung oleh raga, bangunan
serbaguna, dan bangunan sejenis lainnya tidak
berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir
(2).
5. Apabila tinggi tanah pekarangan berada di bawah titik
ketinggian (peil) bebas banjir atau terdapat
kemiringan yang curam atau perbedaan tinggi yang
besar pada tanah asli suatu perpetakan, maka tinggi
maksimal lantai dasar ditetapkan oleh instansi yang
berwenang mengeluarkan I MB;
6. Pada bangunan rumah tinggal kopel, apabila terdapat
perubahan atau penambahan pada ketinggian
bangunan harus tetap diperhatikan kaidah-kaidah
arsitektur bangunan kopel;
7. Pada bangunan rumah tinggal, tinggi puncak atap
bangunan maksimal 12 meter diukur secara vertikal
dari permukaan tanah pekarangan, atau dari
permukaan lantai dasar dalam hal permukaan tanah
tidak teratur;
8. Kepala Daerah menetapkan kekecualian dari
ketentuan pada butir (1) di atas bagi bangunan yang
karena sifat atau fungsinya terdapat detail atau
ornamen tertentu;
9. Tinggi tampak rumah tinggal tidak boleh melebihi
ukuran jarak antara kaki bangunan yang akan
didirikan sampai GSB yang berseberangan dan
maksimal 9 meter;
10. Tinggi tampak bangunan rumah susun diatur sesuai
pola ketinggian bangunan atau sesuai pedoman
pembangunan yang berlaku;
11. Pada bangunan yang menggunakan bahan kaca
pantul pada tampak bangunan, sinar yang
dipantulkan tidak boleh melebihi 24% dengan
memperhatikan tata letak dan orientasi bangunan
terhadao matahari.
Klasifikasi
Klasifikasi ketinggian bangunan dapat dikelompokkan
sebagai berikut :


Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 9
Tabel
KLASI FI KASI KETI NGGIAN BANGUNAN

KETI NGGIAN
BANGUNAN
J UMLAH
LANTAI
KLB
TI NGGI
PUNCAK DARI
LANTAI DASAR
Sangat Rendah
Tidak bertingkat
dan < 2
KLB Maks = 2 x KDB < 12 m
Rendah < 4 KLB Maks = 4 x KDB 12 20 m
Sedang < 8 KLB Maks = 8 x KDB 24 36 m
Tinggi > 9 KLB Maks = 9 x KDB > 40 m
Sangat Tinggi > 20 KLB Maks = 9 x KDB > 84 m
Sumber : Kepmen PU No. 640/KPTS/1986 tentang Perencanaan Tata Ruang Kota



KOEFI SI EN DASAR HI J AU I V


Pengertian
Koefisien Dasar Hijau (KDH) Blok Peruntukan adalah
rasio perbandingan luas ruang terbuka hijau blok
peruntukan dengan luas blok peruntukan atau
merupakan suatu hasil pengurangan antara luas blok
peruntukan dengan luas wilayah terbangun dibagi
dengan luas blok peruntukan.
Batasan KDH dinyatakan dalam persen (%)
Rumus :






atau
KDH Blok = Luas Ruang Terbuka Hijau x 100%
Luas blok peruntukan
KDH Blok

= Luas blok peruntukan Luas wilayah terbangun x 100%
Luas Blok Peruntukan
Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 10

Penggunaan
1. Penentuan KDH adalah untuk menyediakan ruang
terbuka hijau sebagai kawasan konservasi, untuk
mengurangi erosi dan run off air hujan yang tinggi, serta
menjaga keseimbangan air tanah
2. Ruang terbuka hijau / ruang bebas juga dipertimbangkan
untuk penempatan jaringan utilitas umum
Rencana blok peruntukan agar mempertimbangkan
ruang bebas yang dapat ditempatkan di sepanjang
garis belakang, depan, atau samping petak, untuk
keperluan penempatan jaringan utilitas umum, seperti
jaringan listrik, jaringan telepon, jaringan air
kotor/limbah, jaringan drainase, dan jaringan air
bersih;
Ruang bebas yang diperlukan untuk keperluan
penempatan jaringan utilitas umum tersebut adalah
minimum 2 meter;
Ruang bebas tersebut merupakan ruang yang dimiliki
oleh masing-masing pemilik blok peruntukan, namun
penggunaannya hanya untuk penempatan pelayanan
jaringan utilitas umum.
3. Ruang terbuka di antara GSJ dan GSB harus
dipergunakan sebagai unsur penghijauan dan atau
daerah peresapan air hujan serta kepentingan umum
lainnya
Ketentuan
Besarnya ruang terbuka hijau didasarkan pada luas lahan
yang tidak boleh di-grading berdasarkan kemiringan lereng


Tabel
LUAS LAHAN YANG TI DAK BOLEH DI OLAH
BERDASARKAN KEMIRINGAN LERENG
Persentase Luas Lahan yang Tidak Boleh
Diganggu Kemiringan Lahan
Pacifica Cincinnati
0 15% 32,5% 48%
15% 25% 62,5% 65%
25% 35% 92,5% 84%
>35% 100% 100%
Sumber : Simplified from City of Pacifica (1969), Hillside Development Policies for Pacifica,California
prepared by Duncan and J ones Consultants, California, p.23-24, and, Hillside Trust (1991), A Hillside
Protection Strategy for Greater Cincinnati : V.3, Development Guidelines for Greater Cincinnatis Hillside,
The Hillside Trust, Cincinnati, p.61

Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 11

J ARAK BEBAS BANGUNAN V


Pengertian
J arak bangunan yang diperbolehkan untuk dibangun dari
batas daerah perencanaan

Ketentuan
Perhitungan
Tata letak bangunan di dalam suatu tapak harus
memenuhi ketentuan tentang jarak bebas, yang
ditentukan oleh jenis peruntukan dan ketinggian
bangunan.
1. Bagian/unsur bangunan yang terletak di depan GSB
yang masih diperbolehkan adalah:
Detail atau unsur bangunan akibat keragaman
rancangan arsitektur dan tidak digunakan sebagai
ruang kegiatan;
Detail atau unsur bangunan akibat rencana
perhitungan struktur dan atau instalasi bangunan;
Unsur bangunan yang diperlukan sebagai sarana
sirkulasi.
2. Ruang terbuka di antara GSJ dan GSB harus
digunakan sebagai unsur penghijauan dan atau
daerah peresapan air hujan serta kepentingan umum
lainnya;
3. Pada cara membangun dengan bangunan renggang/
tidak padat, sisi bangunan yang didirikan harus
mempunyai jarak bebas yang tidak dibangun pada
kedua sisi samping kiri, kanan, atau bagian belakang
yang berbatasan dengan pekarangan;
4. Pada bangunan renggang bukan rumah tinggal, jarak
bebas samping kiri kanan maupun jarak belakang
ditetapkan 4 meter pada lantai dasar, dan pada setiap
penambahan lantai, jarak bebas di atasnya ditambah
0,5 meter dari jarak bebas terjauh 12,5 meter, kecuali
untuk bangunan rumah tinggal;
5. Instansi yang menerbitkan Ijin Mendirikan Bangunan
dapat menetapkan pola dan atau detail arsitektur bagi
bangunan yang berdampingan atau berderet
termasuk perubahan dan atau penambahan
bangunan.


Lampiran 11
Paket Aturan Pola Pemanfaatan Ruang
Pedoman Penyusunan Aturan Pola Pemanfaatan Ruang (Zoning Regulation) Kawasan Perrkotaan L11 - 12

























Gambar
J ARAK BEBAS DAN KETINGGIAN BANGUNAN

n
33 15.00
32
18 12.50
17 12.00
16 11.50
15 11.00
14 10.50
13 10.00
12 9.50
11 9.00
10 8.50
9 8.00
8 7.50
7 7.00
6 6.50
5 6.00
4 5.50
3 5.00
2 4.50
1 4.00 (Lantai Dasar/Lantai 1)
Batas lahan yg. sdh dikuasai
dengan sah dlmperpetakan yg
sesuai rencana kota