Anda di halaman 1dari 28

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Mastoiditis merupakan peradangan tulang mastoid, biasanya berasal dari
cavum tympani. Perluasan infeksi telinga bagian tengah yang berulang-ulang dapat
menyebabkan timbulnya perubahan pada mastoid berupa penebalan mukosa dan
terkumpulnya eksudat. Lama kelamaan akan terjadi peradangan tulang (osteitis) dan
pengumpulan eksudat yang makin banyak yang akhirnya mencari jalan keluar.
Daerah yang lemah biasanya terletak dibelakang telinga menyebabkan abses
subperiosteum.
Perluasan infeksi tergantung pada virulensi kuman, resistensi kuman, keadaan
mukosa telinga tengah, struktur tulang mastoid. Faktor predisposisi seperti virus,
gangguan fungsi silier, alergi dan imunodefisiensi dapat mempermudah terjadinya
mastoiditis.
Mastoiditis kronik yang disebabkan oleh OMSK harus dicurigai bila terdapat
nyeri pada pergerakan pinna disamping adanya eritema dan odema pada lipatan
posterior aurikuler.Nekrosis pada tulang mastoid dapat menyebabkan infeksi tersebar
ke jaringan lunak diluar mastoid, sehingga terjadi pembengkakan dibelakang telinga
dan os zygomatikus serta pembengkakan dileher (abses bezold). Bila infeksi sembuh
dan proses degenerasi menjadi baik, maka akan terjadi sclerosis pada mastoid.
Penatalaksanaan bagi mastoiditis kronis membutuhkan pengobatan dalam
jangka waktu yang lama dan teratyr. Simple mastoidektomi merupakan tindakan
bedah yang sering dilakukan untuk menangani mastoiditis kronis. Prognosis
umumnya adalah baik pada semua penderita pasca operasi.

1.2 Tujuan
Tujuan paper ini adalah untuk menjelaskan tentang anatomi dan fisiologi
telinga serta mastoiditis kronis dari definisi, etiologi, gejala klinis, patofisiologi,
2

diagnose, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan medikmentosa dan operatif.
Selain itu, paper ini bertujuan melengkapi pensyaratan kepaniteraan klinik senior di
SMF Ilmu Peyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan RSU Dr.Pirngadi, Medan.


























3


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi dan Fisiologi Telinga
Telinga adalah indra pendengaran. Pendengaran merupakan indra
mekanoreseptor karena memberikan respon terhadap getaran mekanik gelombang
suara yang terdapat di udara. Telinga menerima gelombang suara yang frekuensinya
berbeda, kemudian menghantarkan informasi pendengaran kesusunan saraf pusat.
Telinga dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga
dalam.
2,7,9

Gambar 1.1:Telinga
Bagian-bagian telinga
Telinga terdiri atas bagian-bagian sebagai berikut :
Telinga bagian luar
Telinga bagian tengah
Telinga bagian dalam

4

a. Telinga Luar












Gambar1.2: Telinga luar
Bagian luar merupakan bagian terluar dari telinga. Telinga luar terdiri dari
daun telinga, lubang telinga, dan saluran telinga luar. Telinga luar meliputi daun
telinga atau pinna, Liang telinga atau meatus auditorius eksternus, dan gendang
telinga atau membran timpani. Bagian daun telinga berfungsi untuk membantu
mengarahkan suara ke dalam liang telinga dan akhirnya menuju gendang telinga.
Rancangan yang begitu kompleks pada telinga luar berfungsi untuk menangkap suara
dan bagian terpenting adalah liang telinga. Saluran ini merupakan hasil susunan
tulang dan rawan yang dilapisi kulit tipis.
3,6,8
Telinga luar, yang terdiri dari aurikula (atau pinna) dan kanalis auditorius
eksternus, dipisahkan dari telinga tengan oleh struktur seperti cakram yang
dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi
kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan
tersusun terutama oleh kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus
telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya
sepanjang kanalis auditorius eksternus. Tepat di depan meatus auditorius eksternus
5

adalah sendi temporal mandibular. Kaput mandibula dapat dirasakan dengan
meletakkan ujung jari di meatus auditorius eksternus ketika membuka dan menutup
mulut.
2,3,5

Kanalis auditorius eksternus panjangnya sekitar 2,5 sentimeter. Sepertiga
lateral mempunyai kerangka kartilago dan fibrosa padat di mana kulit terlekat. Dua
pertiga medial tersusun atas tulang yang dilapisi kulit tipis. Kanalis auditorius
eksternus berakhir pada membrana timpani. Kulit dalam kanal mengandung kelenjar
khusus, glandula seruminosa, yang mensekresi substansi seperti lilin yang disebut
serumen. Mekanisme pembersihan diri telinga mendorong sel kulit tua dan serumen
ke bagian luar tetinga. Serumen nampaknya mempunyai sifat antibakteri dan
memberikan perlindungan bagi kulit. Di dalam saluran terdapat banyak kelenjar yang
menghasilkan zat seperti lilin yang disebut serumen atau kotoran telinga. Hanya
bagian saluran yang memproduksi sedikit serumen yang memiliki rambut. Pada ujung
saluran terdapat gendang telinga yang meneruskan suara ke telinga dalam.
Peradangan pada bagian telinga ini disebut sebagai otitis Eksterna. Hal ini biasanya
terjadi karena kebiasaan mengorek telinga & akan menjadi masalah bagi penderita
diabetes mellitus (DM/sakit gula).
6,7,10
Aurikula berfungsi mengumpulkan getaran udara, bentuknya berupa lempeng
tulang rawan yang elastis yang ditutupi kulit, memiliki otot intrinsic dan ekstrinsik
serta di persarapi oleh nervus fasialis. Seluruh permukaan diliputi kulit tipis dengan
lapisan subkutis pada permukaan anterolateral, serta di temukan rambut kelenjar
sebasea dan kelenjar keringat.
5,6,8
Meatus akustikus eksternal merupakan tabung berkelok kelok yang
terbentang antara aurikula dan membrane tempani, berfungsi menghantarkan
gelombang suara dari aurikula ke membrane tempani.
8
Pada bagian luar banyak ditemukan rambut yang berhubungan dengan
kelenjar sebasea, sedangkan dalam liang ditemukan serumen berwarna coklat yang
berfungsi sebagai pelindung. Seruman merupakan modifikasi kelenjar keringat
bergabung dengan kelenjar sebasea yang bermuara langsung ke permukaan kulit.
7
6

b. Telinga Tengah
Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah
lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua
Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas
lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu
mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan
rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke
nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang
temporal.
8,9
Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes.
Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang
membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial
telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian
dataran kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah.
Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh
membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau
struktur berbentuk cincin. anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah
mengalami robekan. Bila ini terjadi, cairan dari dalam dapat mengalami kebocoran ke
telinga tengah kondisi ini dinamakan fistula perilimfe. Tuba eustachii yang lebarnya
sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm, menghubngkan telingah ke nasofaring.
Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot
palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau menguap atau menelan. Tuba
berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga
tengah dengan tekanan atmosfer.
6,7,9
Maleus dan incus berputar pada sumbu anterior posterior yang berjalan
melalui :
1. Legamentum yang menghubungan prosesus anterior malleus dengan dinding
anterior kafumtimpani.
2. Prosesus anterior maleus dengan prosesus brevis inkudis
7

3. Ligamentum yang menghubungkan prosesus bepis inkudis dengan dinding
posterior kafum timpani.
Selama menghantarkan getaran dari membrane tempani ke perilimf melalui
osikula mengalami pembesaran dengan 1,3 : 1 dan luas membrane tempani lebih
kurang 17 kali lebih besar dari luas basis stapes yang berakibat tekanan efektif pada
perilimf meningkat menjadi 22: 1.
2,4,7
Tuba auditiva merupakan bagian yang meluas dari diding anterior kavum
timpani ke bawah, depan, dan medial sampai ke nasofaring. Bagian 1/3 posterior
terdiri atas tulang dan 2/3 anterior tulang rawan . berhubungan dengan nasofaring
setelah berjalan di atas muskulus konstriktor faring superior. Tuba auditiva berfungsi
membuat seimbang tekanan udara dalam kavum timpani dan nasofaring.
9,11
Antrum mastoideum merupakan bagian yang terletak di belakang kavum
timpani dalam pars petrosa ossis temporalis bentuknya bundar dengan garis 1 cm.
diding anterior berhubungan dengan kavum timpani dan dinding posterior
memisahkan antrum dari sinus sigoideum dan sereblum.
6,12
Sellulae mastoidea yaitu prosesus mastoideus mulai berkembang pada tahun
ke dua kehidupan.Sellulae mastoid adalah suatu rongga yang berhubungan dalam
prosessus mastoid,berhubungan dengan antrum dan kavum timpani sebelah atasnya
serta dilapisi membrane mukosa.
3,4
c. Telinga Dalam
Telinga dalam tertanam jauh di dalam bagian tulang temporal. Organ untuk
pendengaran (koklea) dan keseimbangan (kanalis semisirkularis), begitu juga kranial
VII (nervus fasialis) dan VIII (nervus koklea vestibularis) semuanya merupakan
bagian dari komplek anatomi. Koklea dan kanalis semisirkularis bersama menyusun
tulang labirint. Ketiga kanalis semisi posterior, superior dan lateral terletak
membentuk sudut 90 derajat satu sama lain dan mengandung organ yang
berhubungan dengan keseimbangan. Organ reseptor ini distimulasi oleh perubahan
kecepatan dan arah gerakan seseorang.
6,8
8

Koklea berbentuk seperti rumah siput dengan panjang sekitar 3,5 cm dengan
dua setengah lingkaran spiral dan mengandung organ akhir untuk pendengaran,
dinamakan organ Corti.. Di dalam lulang labirin, namun tidak sempurna mengisinya,
Labirin membranosa terendam dalam cairan yang dinamakan perilimfe, yang
berhubungan langsung dengan cairan serebrospinal dalam otak melalui aquaduktus
koklearis.
Labirin membranosa tersusun atas utrikulus, sakulus, dan duktus
semisirkularis, duktus koklearis.
6,9
a. Atrikulus, bentuknya seperti kantong lonjong dan agak gempeng terpaut pada
tempatnya oleh jaringan ikat. Disini terdapat saraf (nervus akustikus) pada bagian
depan dan sampingnya ada daerah yang lonjong yang disebut macula akustika
utrikola. pada dinding belakang atrikus ada muara dari duktus semisirkularis dan
pada dinding depannya ada tabung halus disebut utrikulosa sirkularis, saluran
yang menghubungkan atrikulus dengan sakulus.
1,3

b. Sakulus, bentuknya agak lonjong lebih kecil dari utrikulus, terletak pada bagian
depan dan bawah dari vestibulum dan terpaut erat oleh jaringan ikat, tempat
terdapatnya nervus akustikus. Pada bagian depan sakulus ditemukan serabut-
serabut halus cabang nervus akustikus yang berakhir pada macula akustika sakuli.
Pada permukaan bawah sakulus ada duktus reunien yang menghubungkan sakulus
dengan duktus koklearis, di bagian sudut sakulus ada saluran halus disebut
duktus endolimfatikus, berjalan melalui aquaduktus vestibularismenuju
permukaan bagian bawah tulang temporalis dan berakhir sebagai kantong buntu
disebut sakus endolimfatikus yang terletak tepat di lapisan otak duramater.
2,3

c. Duktus semisirkularis, ada tiga tabung selaput semisrkularis yang berjalan dalam
kanalis semisrkularis (superior, posterior, dan lateralis). Penampangannya kira-
kira sekitar sepertiga penampang kanalis semisirkularis. Bagian duktus yang
melebar disebut ampula selaput. Setiap ampula mengandung satu celah siklus,
sebelah dalam ada Krista ampularis yang terlihat menonjol kedalam yang
menerima ujung-ujung saraf.
5,7

9

d. Duktus koklearis merupakan saluran yang berbentuk agak segitiga seolah-olah
membuat batas pada koklea timpani. Atap duktus koklearis terdapat membrane
vestibularis pada alasnya terdapat membran basilaris. Duktus koklearis mulai dari
kantong buntu (seikum vestibular) dan berakhir tepat diseberang kanalis lamina
spiralis pada kantong buntu (seikum ampulare) pada membrane basilaris
ditemukan organ korti sepanjang duktus koklearis yang merupakan hearing sense
organ.
3,9



Gambar 1.3: Bagian-bagian telinga
Pada pertemuan antara lamina spiralis tulang dengan mediolus terdapat ganglion
spiralis yang sebagaian besar diliputi tulang bagian bawah dan menyatu dengan
10

membrane basilaris melintasi duktus koklearis dan melekat pada ligamentum
basilaris.
2,4,5
Membran basilaris : dibentuk oleh lapisan serat serat kolagen, permukaan
bawah yang menghadap skala timpani diliputi oleh jaringan ikat fibbrosa yang
mengandung pembuluh darah.
Membran vestibularis : suatu lembaran jaringan ikat tipis, diliputi pada
permukaan atas vestibular oleh pelapis rongga perilimf yaitu jaringan epitel
selapis gepeng yang terdiri atas sel mesenkim.
Dektus koklearis : dektus ini mengandung pigmen, bentuknya lebih tinggi dan
tidak beraturan, di bawahnya terdapat jaringan ikat yang banyak mengandung
kapiler yang disebut stria vaskularis. Dektus koklearis merupakan tempat
sekresi endolimf dan termasuk organ korti.


Gambar 1.4: Bagian telinga tengah
Telinga dalam terdiri dari labirin osea (labirin tulang), sebuah rangkaian
rongga pada tulang pelipis yang dilapisi periosteum yang berisi cairan perilimfe &
labirin membranasea, yang terletak lebih dalam dan memiliki cairan endolimfe. Di
labirin osea terdapat koklea, vestibulum, kanalis semisirkularis.
1,2,4
koklea atau rumah siput. Penampang melintang koklea trdiri atas tiga bagian
yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani. Bagian dasar dari skala
11

vestibuli berhubungan dengan tulang sanggurdi melalui jendela berselaput
yang disebut tingkap oval, sedangkan skala timpani berhubungan dengan
telinga tengah melalui tingkap bulat. Bagian atas skala media dibatasi oleh
membran vestibularis atau membran Reissner dan sebelah bawah dibatasi oleh
membran basilaris. Di atas membran basilaris terdapat organo corti yang
berfungsi mengubah getaran suara menjadi impuls. Organo corti terdiri dari
sel rambut dan sel penyokong. Di atas sel rambut terdapat membran tektorial
yang terdiri dari gelatin yang lentur, sedangkan sel rambut akan dihubungkan
dengan bagian otak dengan saraf vestibulokoklearis.
1,4,5

Vetibulum, bagian tengah labirintus osseous pada vestibulum ini membuka
fenestra ovale dan fenestra rotundum dan pada bagian belakang atas
menerima muara kanalis semisirkularis
1,3

Kanalis semisirkularis merupakan saluran setengah lingkaran yang terdiri dari
3 saluran. Saluran yang satu dengan yang lainnya membentuk sudut 90%,
kanalis semisrkularis superior, kanalis semisirkularis posterior dan kanalis
semisirkularis lateralis.
5


Gambar 1.5: Telinga dalam

12

Labirin membranosa memegang cairan yang dinamakan endolimfe. Terdapat
keseimbangan yang sangat tepat antara perilimfe dan endolimfe dalam telinga dalam;
banyak kelainan telinga dalam terjadi bila keseimbangan ini terganggu. Percepatan
angular menyebabkan gerakan dalam cairan telinga dalam di dalam kanalis dan
merang-sang sel-sel rambut labirin membranosa. Akibatnya terjadi aktivitas elektris
yang berjalan sepanjang cabang vesti-bular nervus kranialis VIII ke otak. Perubahan
posisi kepala dan percepatan linear merangsang sel-sel rambut utrikulus. Ini juga
mengakibatkan aktivitas elektris yang akan dihantarkan ke otak oleh nervus kranialis
VIII. Di dalam kanalis auditorius internus, nervus koklearis yang muncul dari koklea,
bergabung dengan nervus vestibularis, yang muncul dari kanalis semisirkularis,
utrikulus, dan sakulus, menjadi nervus koklearis (nervus kranialis VIII). Yang
bergabung dengan nervus ini di dalam kanalis auditorius internus adalah nervus
fasialis (nervus kranialis VII). Kanalis auditorius internus mem-bawa nervus tersebut
dan asupan darah ke batang otak.
3,5,6,8

2.2. Mastoditis Kronis
2.2.1. Definisi
Mastoiditis kronis adalah suatu infeksi kronik telinga tengah dan prosessus
mastoideus
1
. Mastoiditis adalah inflamasi lapisan mukosa antrum dan sistem sel
udara mastoid yang bias disertai dengan otitis media akut atau bagian darinya.
Kalimat mastoiditis digunakan apabila infeksi telah tersebar ke lapisan mukosa, sel
udara mastoid yang melibatkan dinding tulang dari sistem sel udara mastoid.
3,4

2.2.2. Etiologi
Mastoiditis kronis dapat disebabkan oleh kuman-kuman pseudomonas spp,
streptococcus spp, staphylococcus spp, eschericia coli.
5,11
Pada umumnya, mastoiditis
disertai atau mengikuti otitis media supuratif akut, dan faktor virulensi organsima
atau resistensi rendah penderita akibat demam exanthematous, cacar air, defisiensi
nutrisi atau penyakit sistemik seperti diabetes mellitus memain peranan pada
perjalanan penyakit mastoiditis.
10,12
13

2.2.3. Epidemiologi
Insidensinya masih belum lengkap tetapi beberapa literatur dan studi
prevalensi menyebutkan bahwa suku Eskimo alaka dan penduduk amerika asli lebih
sering mengalami mastoiditis.
4,9

Biasanya mastoiditis didahului oleh otitis media supuratif kronik yang tidak
diobati atau diobati dengan pengobatan yang tidak adekuat.
3,6

2.2.4. Patofisiologi
Telinga tengah biasanya steril. Gangguan aksi fisiologis silia, enzim penghasil
mucus dan antibodi berfungsi sebagai mekanisme pertahanan bila telinga terpapar
dengan mikroba dan kontaminan pada saat menelan.
1,2
Ini terjadi apabila mekanisme
fisiologis ini terganggu. Sebagai pelengkap mekanisme pertahanan dipermukaan,
suatu anyaman kapiler subepitel yang penting menyediakan pula faktor-faktor
humoral leukosit polimorfonuklear dan sel fagosit lainnya.
7
Obstruksi tuba eustachius
merupakan suatu faktor penyebab dasar. Dengan demikian hilanglah sawar utama
terhadap invasi bakteri dan sepsis bakteri yang tidak biasanya patogenik, dapat
berkolonisasi dalam telinga tengah menyerang jaringan dan menimbulkan infeksi.
8,15

Nanah (pus) yang terbentuk akibat infeksi ditelinga tengah merupakan media
yang sesuai bagi berbagai macam kuman untuk dapat tumbuh dan berkembang baik.
13

Penyebab infeksi kemungkinan adalah antrum tertutup oleh radang hingga
terjadi oedem pada mukosa mastoid hingga drainase dari pus terganggu, kemudian
dinding-dinding sel mastoid (trabaikel) menjadi nekrotik, hingga sel-sel berhubungan
satu sama lain.
1,4
Pus dari mastoid menjadi jalan keluar melalui kortek dan sampai
dibawah periost dibelakang daun telinga hingga terjadi abses subperiosteal
retroaurikuler.
6
Jadi disini bukan hanya mukosa yang meradang tetapi tulang turut
nekrotik.
8
2.2.5. Gejala Klinis
1. Nyeri atau rasa tidak nyaman pada telinga.
2. Ottorhoea.
3. Pendengaran berkurang.
14

4. Demam.
5. Sakit kepala.
6. Nyeri tekan di daerah mastoid.
7. Edema pada prosessus mastoideus hiperemis yang lambat laun menjadi abses.
8. Liang telinga bagian atas belakang turun (sangging). Hal ini disebabkan oleh
karena timbulnya periotitis pada tempat ini.
9. Membrana timpani menonjol keluar dan terjadi pengeluaran cairan yang
kontinu dan semakin banyak lubang perforasi gendang.
10. Kadang terdapat gejala iritasi vestibuler antara lain :
Vertigo.
Nistagmus.
Mual.
Muntah.









Gambar 3.1: Tanda sagging dan edema pada processus mastoideus






15







Gambar 3.2 : Hiperemis pada poscessus mastoideus







Gambar 3.3 : Sagging pada bagian belakang telinga pada penderita anak
2.2.6. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1,9,11,14

1. Anamnesis
Pada anamnesis, penderita mengeluhkan rasa sakit di belakang telinga.
Rasa nyeri berkurang setelah perforasi terjadi atau penggunaan antibiotik.
Nyeri dirasakan secara persisten, dengan intensitas yang meningkat.
Keluhan lain adalah demam yang persisten atau demam hilang timbul
terutamanya apabila bermula dengan penyakit otitis media dan pengobatan
antibiotik yang adekuat.
Selain itu, pasien mengeluh keluarnya cairan dari telinga yang semakin
lama semakin parah serta purulen. Dalam beberapa kasus, cairan akan
berkurang apabila terdapat obstruksi drainase tetapi gejala lain mungkin
memburuk. Sekiranya keluarnya cairan secara terus menerus untuk 3 minggu
pada penyakit otitis media, makanya ia mengarahkan ke mastoiditis.
16

2. Pemeriksaan fisik
Tanda yang paling penting adalah terdapat rasa nyeri pada mastoid. Nyeri
dirasakan terutamanya pada bagian tengah processus mastoideus, pada puncak
dan batas posterior atau pada akar zygoma. Nyeri pada segi tiga suprameatal
tidak spesifik untuk mastoiditis dan sering dilihat pada otitis media akut.
Selain itu, dapat dilihat keluarnya cairan yang purulen dari perforasi
sentral dari pars tensa. Sagging dari dinding meatal posterosuperior adalah
tanda yang sering dilihat. Ini diakibatkan oleh periosteitis dinding tulang
antara antrum dan bagian dalam posterosuperior dari saluran tulang.
Perforasi membrane timpani bisa dilihat pada pars tensa dengan
penyumbatan membrane timpani. Perforasi dilihat seperti protrusi nipple-
like. Terkadang, membrane timpani tetap intak.
Pembengkakan pada mastoid selalunya bermula dengan edema
periosteum. Setelah itu, sulcus retroaurikular terjadi obliterasi dan pinna
terdorong ke depan bawah. Apabila pus masuk pada korteks tulang, abses
fluktuasi subperiosteal terbentuk
Tanda lain adalah tuli konduktif. Secara umum, penderita kelihatan
lemah dan ada demam subfebris. Pada anak-anak biasanya demam memuncak
dan denyut nadi meningkat.
3. Laboratorium
Darah : leukositosis.
Pengambilan sekret untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas antibiotik.
4. Pemeriksaan audiometric : tuli konduktif.
5. Pada foto rontgen dan CT Scan.
Menunjukkan perkabutan difus sel-sel mastoid dan hilangnya septa antar
selulae.



17










Gambar 3.4 : CT Scan pada kiri dan foto rontgen pada kanan

2.2.7. Dignosis Banding
Mastoiditis kronis dapat di dignosis banding antara lain dengan :
2,4,7
1. Radang kelenjar yang letaknya retroaurikuler misalnya sebagai komplikasi
dari radang kulit kepala.
2. Furunkel (otitis eksterna sirkum kripta).
3. Infeksi kelenjar sebasea
2.2.8. Komplikasi
3,6,7
1. Paresis fasial.
Paresis fasial disebabkan oleh destruksi tulang yang meliputi N.VII sehingga
kontinuitasnya terganggu, paresis biasanya hanya bersifat sementara.
2. Tromboflebitis.
3. Komplikasi intracranial antara lain :
Meningitis.
Abses otak.
Labirintis.
2.2.9. Penatalaksanaan
Pasien diberikan antibiotik yang didasarkan dari hasil kultur. Pemberian
dilakukan selama 2 3 minggu secara oral. Selama pemberian antibiotik, pasien
18

harus diobservasi untuk memonitor tanda kekambuhan. Bila terdapat perbaikan atau
ditemukan kolesteatoma perlu dilakukan pembedahan.
Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan
pada mastoiditis kronis antara lain :
1. Mastoidektomi sederhana/ simple mastoidektomi (operasi Schwartze).
2. Mastoidektomi radikal (operasi Zautal/ Stacke).
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi (operasi Bondy)
4. Miringoplasti.
5. Timpanoplasti.
6. Timpanoplasti dengan pendekatan ganda (combined approach
tympanoplasty).
(2,3,4,5,6,7)

Yang dibahas disini hanyalah simple mastoidektomi atau mastoidektomi
kortikal atau operasi Schwartze.
Mastoidektomi Sederhana
12,13
Prinsip operasi ini adalah membersihkan seluruh sel-sel yang ada didalam
mastoid sampai kedaerah antrum dari jaringan patologik. Operasi ini dilakukan pada
OMSK tipe benigna yang dengan pengobatan konservatif tidak sembuh. Tujuannya
ialah supaya tenang dan telinga tidak berarir lagi. Pada operasi ini fungsi pendengaran
tidak diperbaiki.
Indikasi Simple Mastoidektomi
4,8,11
Indikasi pembedahan dengan metode simple mastoidektomi adalah :
1. Mastoiditis laten.
Mastoid koalesen yang tidak menunjukkan tanda dan gejala yang khas
dikelompokan kedalam istilah tersembunyi atau mastoiditis laten, pada
umumnya pengobatan tidak cukup dengan antibiotika. Gejala yang akut reda
tetapi pasien tidaklah sepenuhnya baik, nyeri disertai dengan ketulian dan
demam, pada pemeriksaan membran timpani tampak jelas dan tanda-tanda
peradangan dan kongesti mukosa timpani. Tampak postaural periostel yang
19

mengentalkan tulang mastoid. Dari pemeriksaan radiologi tampak proses
koalesens mastoid.
2. Mastoiditis subperiosteal.
Adalah pembengkakan klasik dibelakang telinga disertai pergeseran daun
telinga kebawah yang lebih cenderung dianggap sebagai komplikasi dari
mastoiditis akut ketimbang tanda dari mastoiditis akut. Dengan mengadakan
erosi terhadap dinding atik bagian luar, abses periosteal akan menyebabkan
pembangkakan dibagian dalam liang telinga. Apabila dengan pemeriksaan
radiologi mastoid masih meragukan, sebaiknya dipertimbangkan melakukan
eksplorasi secara bedah.
3. Abses Bezold.
Adalah abses di leher yang letaknya dalam, sebagai komplikasi mastoiditis
akut, dimana nanah merembes sampai ke permukaan superior dari m.
sternokleinomastoideus.
Kontra Indikasi
4,8,11
Kadar hemoglobin yang rendah.
Penyakit sistemik umum : diabetes, hipertensi, lemah jantung, gangguan
perdarahan dengan waktu perdarahan dan pembekuan yang memanjang.
Teknik Operasi
5,8,13
Insisi
Standart post auricular. Mastoid dibuat miring untuk mendapatkan keadaan
yang lebih baik, kemiringan dibuat dibelakang dan dibawah, bila tidak dibuat miring
maka insisi akan meninggi kebidang posterior.
Persiapan sebelum operasi. Mencukur rambut dibelakang telinga, daerah
yang akan di insisi diberikan antiseptik agar steril.
Menganastesi daerah yang akan dioperasi dengan 2% xylocaine dan 1 :
100.00 adrenalin untuk mengurangi perdarahan.


20





Gambar 3.5(a): Injeksi anestesi dan adrenalin
Insisi daerah post aurikuler beberapa mm dibelakang sulkus post aurikuler.






Gambar 3.5(b): Insisi post aurikuler di belakang sulkus
Insisi melalui periosteum terus ke bawah tulang, di atas muskulus temporalis.
Jika terjadi pneumatisasi akan dibuat insisi posterior pada periosteum.








Gambar 3.5 (c): Insisi ke bawah tulang di atas muskulus temporalis
Periosteum di elevasi dari tulang. sudut Mc Ewen, spina of henle dan pinggir
tulang posterior pada meatus dipisahkan. Kemiringan tersebut dibersihkan
dari pinggir seluruh serabut fibromuskular. Jaringan lunak dikeluarkan dari
daerah tersebut dengan menggerakan refraktor.
21

Kortek mastoid dipindahkan berdasarkan sistem anatomis (sudut Mc Ewen)
dengan alat elektrik dan membuat lubang pada antrum yang dibuka.
















Gambar 3.5 (d): Gambar atas tengah menunjukkan periosteum dielevasi.
Gambar bawah memenunjukkan jaringan lunak dikeluarkan dan korteks
mastoid dipindahkan dengan pembuatan lubang pada antrum.

Sel-sel udara diangkat antrum dan dibersihkan melalui suatu proses hingga
ke rongga sebelah kiri yang terikat diatas tulang yang menutupi sinus lateralis
dan didepan dinding meatus posterior dan aditus ad antrum.




22











Gambar 3.5 (e): Pengangkatan sel-sel udara mastoid
Semua sel harus diangkat. Aerasi mastoid dapat diartikan sebagai
pengangkatan tulang hingga mencapai daerah occipital, dan mencapai akar
zygoma. Kemiringan yang dipindahkan tersbut harus sampai ke serabut otot
poster











Gambar 3.5(f): Gambar setelah semua sel udara mastoid diangkat
23

Penutupan sayatan kulit ditutup dengan sutura yang terbelah-belah. Jika
terjadi perdarahan dibutuhkan karet kecil untuk menahan aliran darah selama
24 jam. Kulit dijahit lapis perlapis.








Gambar 3.5 (g): Setelah penjahitan
Komplikasi Operatif
Komplikasi pembedahan dengan teknik simple mastoidektomi antara lain :
1,2,4
1. Kerusakan nervus fasialis.
Nervus fasialis merupakan resiko utama untuk terjadinya kerusakan selama
dilakukannya proses pembersihan pada sejumlah sel-sel udara retrofasial.
2. Dislokasi incus.
Kebutaan alat-alat yang melewati antrum secara langsung terjadi pada telinga
tengah, resiko dislokasi ini mengalami proses yang singkat pada incus dari
fossa incudis dengan adanya pekak lateral.
3. Penetrasi sinus vena lateral.
Kadang-kadang sinus terletak didaerah permukaan sehinga kerusakan dengan
mudah dapat terjadi.
4. Penetrasi pada fossa dura tengah.
Jika mastoid dibuka pada tingkat yang tinggi, akan terjadi penetrasi pada fossa
dura tengah.
5. Post operatif hematom.
24

Berkumpulnya darah dibawah sutura sehingga menghasilkan devialitas
terhadap tekanan yang ada diikuti pemotongan dan gagalnya penggabungan
primer.
6. Reakumulasi post operatif pada pus.
Gagalnya pemindahan seluruh sel-sel udara yang ada dimukosa sehingga
menghasilkan supurasi yang berlanjut dan membentuk abses pada sub insisi
post operatif.
7. Kerusakan pada kokhlea.
2.2.10. Prognosis
Umumnya prognosis adalah baik sekiranya infeksi teratasi dengan
medikmentosa.
2
Pada pasien pacsa-operatif, apabila keadaan umum pasien sebelum
operasi adalah baik dan perdarahan terkontrol baik serta pensyaratan pre-operatif
terpenuhi, maka prognosis bertambah baik untuk penderita.
8,15
Meskipun begitu,
komplikasi seperti kerusakan nervus fascialis, dislokasi incus, penetrasi sinus vena
lateral, penetrasi fossa dura tengah, post-operatif hematoma, reakumulasi post-
operatif pus, serta kerusakan kokhlea bisa terjadi walaupun dengan teknik
pembedahan.
6,9












25

BAB 3
KESIMPULAN

Mastoiditis merupakan suatu penyakit yang sudah jarang ditemukan.
Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresif atau mereka yang
mengabaikan otitis media akut yang dideritanya. Baik mastoiditis akut maupun kronis
selalu didahului oleh otitis media.
Mastoiditis kronis adalah suatu infeksi bakteri pada prosessus mastoideus (tulang
yang menonjol dibelakang telinga).
Mastoiditis kronis disebabkan oleh hancurnya dinding tulang-tulang tipis
diantara sel-sel udara mastoid (cellulae mastoidea). Penyakit ini biasanya terjadi jika
otitis media akut yang tidak diobati secara tuntas sehingga menyebar dari telinga
tengah ke tulang disekitarnya, yaitu prosessus mastoideus.
Gejala klinis dari mastoiditis antara lain : terbentuknya abses (penimbunan
nanah) didalam tulang. kulit yang melapisi prosessus mastoideus menjadi merah,
membengkak dan nyeri bila ditekan. Daun telinga terdorong kesamping dan kebawah.
Gejala lainnya adalah demam, nyeri disekitar dan didalam telinga serta keluarnya
cairan kental dari telinga. Nyeri cenderung menetap dan berdenyut. Terjadi ketulian
yang berkembang secara progresif. Jika tidak diobati bisa terjadi ketulian, sepsis,
meningitis, abses otak atau kematian.
Komplikasi dari mastoiditis kronis dapat terjadi pada telinga tengah, telinga
dalam, ekstradural, dan susunan saraf pusat.
Diagnosis mastoiditis kronis ditegakkan berdasarkan : anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Prinsip penatalaksanaan mastoiditis kronis adalah dengan pemberian
antibiotik dosis tinggi dan pembedahan.
Prinsip dari pembedahan/ operasi simple mastoidektomi adalah
membersihkan seluruh sel yang ada didalam mastoid sampai sel-sel yang
menghubungkannya dengan antrum, tujuan dari pembersihan ini adalah agar terjadi
26

drainase dari mastoid melalui antrum, telinga tengah dan melalui perforasi sampai ke
liang telinga bagian luar. Setelah operasi, diharapkan telinga menjadi kering,
membran timpani tertutup kembali dan pendengaran menjadi baik.


























27

DAFTAR PUSTAKA

1. Bailey, Head and Neck Surgery Otolaryngology: Intratemporal and
Intracranial Complications of Otitis Media ; 4
th
edition, Lippincott
Williams and Wilkins, 2006
2. Ballengers Otorhinology Head and Neck Surgery: Chronic Otitis
Media, Cranial and Intracranial Complications of Acute and Chronic
Otitis Media ; 16
th
edition, BC Deker, 2003 : page 261-316
3. Dhingra, Disease of Ear,Nose and Throat: Complications of Suppurative
Otitis Media, Mastoid Surgery, Radical Mastoidectomy ; 5
th
edition,
Elsevier, 2010 : page 84-96, 409-415
4. Probst, Basic Otorhinology: Middle Ear ;1
st
edition, Thieme, 2000 : page
234-259
5. Van De Water, Otolaryngology, Basic Science and Clinical Review:
Embryology of the Outer, Middle and Inner Ear ; 1
st
edition, Thieme,
2006 : page 251-258
6. P.D.Bull, Lecture Notes on Disease of Ear, Nose and Throat:
Complications of Middle Ear Infection ; 9
th
edition, Blackwell, 2002 :
page 43-50
7. R.S.Dhillon, An Illustrated Couour Text Ear, Nose and Throat And Head
and Neck Surgery: Complications of Middle Ear Infection : page 16-17
8. Soepardi EA, Iskandar N, Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorok: Kelainan Telinga Tengah, Komplikasi Otitis Media
Supuratif ; edisi ke-6, Jakarta, Gaya Baru, FK-UI, 2007: muka surat 64-
86
9. K.Lalwani, Current Diagnosis and Tratment, Otolaryngology Head and
Neck Surgery: Otitis Media ; 2
nd
edition, McGrawHill, 2007
28

10. Mayer A., Mastoiditis. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/2056657. Accessed on 3
rd

September 2014
11. Steel R., Pediatic Mastoiditis. Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/966099. Accessed on 3
rd

September 2014
12. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 2, 1985
13. Colman BH, Hall and Colmans Disease of the Nose, Throat and Ear and
Neck: Complications of Otitis Media, Intracranial Complications of
Otitis Media ; 14
th
edition, Churchill Livingstone, 2003 : page 241-254
14. L.Adams, R.Boies, A.Higler, Boies Buku Ajar Penyakit THT: Anatomi
dan Fisiologi Telinga, Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid ; edisi ke-
6, EGG Jakarta, 2006 : 27-38, 95-111
15. Prioyono H, dkk, B. Otorhinolarngological Indonesia: Komplikasi
Intratemporal dan Intrakranial pada Otitis Media Akut Anak ; Vol. 41,
Jakarta, 2011
16. Kavanagh K., Mastoiditis. Available at:
http://www.patient.co.uk/doctor/mastoid-and-mastoiditis.htm. Accessed
on 3rd September 2014
17. Anonymous, Mastoiditis. Available at:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001034.htm. Accessed
on 3rd September 2014