Anda di halaman 1dari 38

KOMINUSI ATAU REDUKSI UKURAN (COMMINUTION)

Kominusi atau pengecilan ukuran merupakan tahap awal dalam proses PBG yang bertujuan
untuk :

1. Membebaskan / meliberasi (to liberate) mineral berharga dari material pengotornya.
2. Menghasilkan ukuran dan bentuk partikel yang sesuai dengan kebutuhan pada proses
berikutnya.
3. Memperluas permukaan partikel agar dapat mempercepat kontak dengan zat lain, misalnya
reagen flotasi.


Kominusi ada 2 (dua) macam, yaitu :
1. Peremukan / pemecahan (crushing)
2. Penggerusan / penghalusan (grinding)


Disamping itu kominusi, baik peremukan maupun penggerusan, bisa terdiri dari
beberapa tahap, yaitu :

Tahap pertama / primer (primary stage)
Tahap kedua / sekunder (secondary stage)
Tahap ketiga / tersier (tertiary stage)
Kadang-kadang ada tahap keempat / kwarter (quaternary stage)


Peremukan / Pemecahan (Crushing)
Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian / bijih yang langsung dari
tambang (ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar (diameter sekitar 100 cm)
menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa sampai ukuran 2,5 cm.

Peralatan yang dipakai antara lain adalah



JAW CRUSHER


Faktor-faktor yangmempengaruhi efisiensi jaw crusher :
1. Lebar lubang bukaan
2. Variasi dari throw
3. Kecepatan
4. Ukuran umpan
5. Reduction ratio (RR)
6. Kapasitas yang dipengaruhi oleh jumlah umpan per jam dan berat jenis umpan
Reduction ratio merupakan perbandingan antar ukuran umpan dengan ukuran produk.
Reduction ratio yang baik untuk ukuran primary crushing adalah 4 7, sedangkan untuk
secondary crushing adalah 14 20 dan fine crushing (mill) adalah 50 -100.
1. Sistem Blake dgn ciri-ciri titik engsel di atas, bagian bawah bergerak mundur maju.
2. Sistem Dodge dgn ciri-ciri titik engsel di bawah, bagian atas bergerak mundur maju.
Kebaikan pemecah menurut sistem Dodge ialah pada titik engselnya terletak dibagian
bawah. Pada waktu pemecahan berlangsung lubang pembuang hanya sedikit terbuka
(seolah-olah tetap). Oleh karena itu hasil olahannya akan lebih rata. Keburukannya ialah
lubang pembuang itu mudah tersumbat.
Pemecah menurut sistem Blake paling banyak di pakai karena tidak mempunyai keburukan
seperti Dodge. Keburukan sistem Blake hasil olahan kurang rata. Supaya mulut kedua
rahang itu tidak mudah rusak, biasanya dilapis dengan plat baja yg dikeraskan dan mudah
diganti. Pada bidang penekan dari plat baja itu di bentuk rusuk-rusuk bergerigi untuk
mempercepat proses pemecahannya.

Istilah-istilah pada J aw Crusher, antara lain :
Setting Block, bagian dari jaw crusher untuk mengatur agar lubang ukuran sesuai dengan
yang dikehendaki. Bila setting block dimajukan, maka jarak antara fixed jaw dengan swing
jaw menjadi lebih pendek atau lebih dekat, dan sebaliknya.
Toggle, bagian dari jaw crusher yang berfungsi untuk mengubah gerakan naik turun menjadi
maju mundur.
Pitman, berfungsi untuk merubah gerakan berputar dari maju mundur menjadi gerakan naik
turun.
Swing Jaw, bagian dari jaw crusher yang dapat bergerak akibat gerakan atau dorongan
toggle.
Fixed Jaw, bagian dari jaw crusher yang tidak bergerak/diam.
Mouth, bagian mulut jaw crusher yang berfungsi sebagai lubang penerimaan umpan.
Throat, bagian paling bawah yang berfungsi sebagai lubang pengeluaran.
Gate, adalah jarak mendatar pada mouth.
Set, adalah jarak mendatar pada throat.
Closed Setting, adalah jarak antara fixed jaw dengan swing jaw pada saat swing jaw ekstrim
ke depan.
Open Setting, adalah jarak antara fixed jaw dengan swing jaw pada saat swing jaw ekstrim
ke belakang.
Throw, selisih jarak pelemparan antara open setting dengan close setting
Nip Angle, sudut yang dibentuk dengan garis singgung yang dibuat melalui titik singgung
antara jaw dengan batuan.

GYRATORY CRUSHER



Gyratory crusher konsep dasarnya mirip dengan jaw crusher, terdiri dari permukaan cekung
dan kepala kerucut; kedua permukaan biasanya dilapisi dengan permukaan baja mangan.
Kerucut bagian dalam memiliki gerakan melingkar sedikit, tetapi tidak memutar, gerakan ini
dihasilkan oleh eccentric assembly. Seperti jaw crusher, feed bergerak ke bawah antara dua
permukaan makin kebawah ukuran akan semakan hancur sampai cukup kecil untuk jatuh
keluar melalui celah antara dua permukaan.
Sebuah grytory crusher adalah salah satu jenis crusher primer dalam tambang bijih atau
pabrik pengolahan. Gyratory crusher dapat digunakan untuk penghancuran primer atau
sekunder. Penghancuran oleh grytory crusher disebabkan oleh penutupan secara
berjenjang celah antara mainshaft assembly (bergerak) dipasang vertikal pada poros pusat
dan Shell assembly (tetap) dipasang pada bingkai utama crusher. Kesenjangan dibuka dan
ditutup diatur oleh eccentric essembly pada bagian bawah spindle yang menyebabkan poros
pusat bergerak. Poros vertikal bebas berputar mengelilingi porosnya
Mesin ini memiliki rahang bundar (circular jaw).Sebuah crushing head yang berbentuk
kerucut berputar di dalam sebuah funnel shaped casing yang membuka ke atas.Crushing
head tersebut berfungsi memcahkan umpan yang masuk.
Alat ini mempunyai kapasitas yang lebih besar dibandingkan dengan jaw crusher.Gerakan
alat ini adalah kontinyu karena crushing head dari alat ini bergerak dan bergoyang.Alat ini
tidak sesuai dengan material yang lengket seperti lempung karena kurang menguntungkan
disebabkan biaya lebih besar dibandingkan dengan jaw.
Faktor yang mempengaruhi Gyratory Crusher :
- Ukuran butir
- Kandungan air dari feed
- Kecepatan putaran
- Gape

CONE CRUSHER


Cone crusher merupakan pengembangan dari gyratory crusher. Konstruksinya mempunyai
sepasang kerucut yang satu diam dan yang satunya berputar. Bagian bagian cone crusher
dapat dilihat pada gambar berikut :
Proses pemecahan bahan olahan (Feed) dari pemecah rahang ini berlangsung continue
dengan cara gesekan & potongan. Akan tetapi pada pemecah kerucut ini cara memecahnya
tidak berkala seperti pemecah rahang, melainkan terus-menerus.
Pada waktu pemecah kerucut ini bekerja, ujung sumbu atas kerucut berfungsi sebagai
engsel, sedangkan ujung bagian bawah berkeliling hingga gerakan kerucut berayun
mengelilingi bagian bawah dalam selubung yang tetap. Akibat ayunan kerucut ini jarak
antara kerucut dengan selubung berubah-ubah. Pada waktu ruang itu sedang mengecil
terjadi pemecahab dan pada waktu ruang membesar bahan olhan yang sudah di giling akan
turun. Pekerjaan ini berlangsung sepanjang keliling kerucut dan terus-menerus.
Konstruksi sebuah pemecah kerucut yang diputarkan dengan perantaraan sebuah rod
sabuk dengan roda gigi konis (roda gigi tirus). Dalam pesawat ini sumbu utam bagian bawah
dimasukkan kedalam uatu tabung eksenterik. Bila tabung tersebut di putar makanya
sumbunya akan berayun. Kadang-kadang bidang penekan kerucut dan tabung kerucut
membentuk rusuk-rusuk dan bias diganti bilamana sudah tipis atau aus.



ROLL CRUSHE






Cara pengerjaan pemecahan pada pemecah putar berdasarkan tekanan dan gesekan.
Bahan olahan dilewatkan diantara dua buah roda yg berputar dgn arah yang berlawanan.
Biasanya pemasangan salah satu dari kedua roda itu tetap, sedangkan yang satunya lagi
dapat bergerak maju mundur karena ditahan oleh pegas sekerup baja.
Bila kecepatan putar kedua roda itu sama, maka bahan olahan hanya dilinyak atau
dipecahkan. Sedangkan bila kecepatan putar kedua roda itu tidak sama, bahan olahan
(feed) selain dipecahkan juga dipuntir. Penggunaan pegas ulir ialah untuk menjaga supaya
roda putar dapat kembali, bilamana sewaktu-waktu mundur atau merenggang dari roda
putar yang lain. Hal ini dapat terjadi bilamana ada bahan olahan yg keras dan tidak dapat
dipecahkan masuk diantara kedua roda putar. Sehingga tidak terjadi kerusakan pada
bagian-bagian mesin pemecah tsb.
Ball mill
Penggiling peluru terdiri dari sebuah tromol yang pada bagian dalamnya diisi peluru-peluru
yang dibuat dari baja atau batu. Peluru-peluru itu berada diatas tembereng-tembereng yang
disusun pada keliling dagian dalam teromol. Tembereng-tembereng ini mempunyai lubang-
lubang sedangkan diluar dari keliling tembereng ini dipasang pula sebuah teromol yang
merupakan ayakan.
Cara kerja dari penggiling peluru ini adalah sebagai berikut. Bila teromol penggiling berputar,
tembereng-tembereng dan ayakannya akan ikut berputar bersama-sama menurut sumbu
mendatar. Bahan giling dimasukkan dari bagian atas sehingga bercampur dengan peluru-
peluru. Bahan giling yang sudah halus akan keluar dari lubang yang pengeluaran setelah
melewati tembereng-tembereng dan ayakan yang berbentuk teromol.
Penggiling peluru biasanya dipakai untuk menggiling tanah liat, tepung Thomas, tulang,
arang kayu, bahan cat, pelapis kaca, kwarsa, dan sebagainya. Ukuran butir bahan giling
diantara 20-50 mm, dan ukuran butir hasil giling kira-kira 0,25 mm.

HAMMER MILL

Hammer Mill


IMPACT CRUSHER


Impact Crusher

Penggerusan / Penghalusan (Grinding)

Penggerusan adalah proses lanjutan pengecilan ukuran dari yang sudah berukuran 2,5 cm
menjadi ukuran yang lebih halus. Pada proses penggerusan dibutuhkan media penggerusan
yang antara lain terdiri dari :

1. Bola-bola baja atau keramik (steel or ceramic balls).
2. Batang-batang baja (steel rods).
3. Campuran bola-bola baja dan bahan galian atau bijihnya sendiri yang disebut semi
autagenous mill (SAG).
4. Tanpa media penggerus, hanya bahan galian atau bijihnya yang saling menggerus dan
disebut autogenous mill.

Peralatan penggerusan yang dipergunakan adalah :

1. Ball mill dengan media penggerus berupa bola-bola baja atau keramik. Mill ini merupakan
sebuah silinder horizontal dengan diameter sama dengan panjangnya,yang dilapisi dengan
suatu plat.Alat ini memiliki suatu silinder yang terisi dengan bola baja.cara kerjanya yaitu
dengan diputar,sehingga material yang dimasukkan hancur oleh bola-bola baja.Biasanya
diameter ball mill sama dengan panjang ball mill.

2. Rod mill dengan media penggerus berupa batang-batang baja. Media grinding ini alat ini
berupa batang-batang besi/baja yang panjangnyya sama dengan panjang mill.Cara kerjanya
dengan diputar.sehingga batang baja terangkat llu jatuh dan menjatuhi material yang ada
dalam rod mill sehingga hancur.


3. Semi autogenous mill (SAG) bila media penggerusnya sebagian adalah bahan galian atau
bijihnya sendiri.

4. Autogenous mill bila media penggerusnya adalah bahan galian atau bijihnya sendiri.


a. Ball Mill



b. Rod Mill













c. Semi autogenous mill (SAG)

d. Autogenous Mill


Sizing (Pengayakan atau Penyeragaman Ukuran)

Setelah dilakukan penggerusan atau grinding akan diperoleh ukuran partikel yang
bermacam-macam sehingga haus dilakukan pemisahan berdasarkan ukuran partikel agar
sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan pada tahap selanjutnya. pada umunya sizing dibagi
menjadi dua yaitu saringan (sieving) dipake pada skala laboratorium, dan ayakan (screen)
pada skala industri.
Sizing pada umumnya terbagi dalam dua cara yaitu pengayakanatau penyaringan dan
klasifikasi.
1. Pengayakan/penyaringan (screening/sieving) adalah proses pemisahan secara
mekanik berdasarkan perbedaan ukuran partikel atau pengelompokan partikel
berdasarkan besar lubang ayakan.
2. Klasifikasi (Classification) adalah pemisahan partikel berdasarkan kecepatan
pengendapannya dalam suatu media (udara atau air) dipengaruhi oleh densitas,
volume dan bentuk material.
A. Pengayakan atau penyaringan (screening/sieving)

Tujuan dilakukannya pengayakan atau penyaringan adalah :
mempertinggi kapasitas unit operasi lainnya.
mencegah terjadinya over crussing atau over grinding.
memenuhi permintaan pasar.
Faktor yang mempengaruhi kecepatan partikel jatuh dalam pengayakan.
Ukuran dari ayakan : semakin besar lubang ayakan maka semakin besar juga
ukuran material yang lolos dari ayakan.
Ukuran relatif partikel : material yang berukuran kecil akan lebih mudah lolos dari
lubang ayakan dari pada material yang berukuran besar, material yang bertuknya
tidak teratur atau ada salah satu bagian yang ukuranya lebih panjang akan susah
melewati ayakan jika posisinya terlintang pada ayakan.
Kandungan air : kandungan air yang banyak akan sangat membantu proses
pengayakan, apabila kandungan airnya sedikit mungkin akan tersumbat.
Pantulan dari material : material yang jatuh pada ayakan apabila jatuhya mengenai
kisi dari ayakan maka akan terpantul keatas dan jatuh pada posisi yang tidak
beraturan.
Saringan (sieve) yang sering digunakan dalam skala industri adalah :
Hand sieve
Vibrating sieve series / tyler vibrating sieve
Sieve shaker/rotap
wet and dry sieving.


Sedangkan) yang sering digunakan dalam skala industri adalah :
Stationary grizzly

Roll grizzly




Sieve bend ayakan (screen)

Revolving screen

Vibrating screen (single deck, double deck, triple deck, etc)

Shaking sceen


Produck dari proses pengayakan/penyaringan yaitu :
Oversize (ukuran lebih besar dari ukuran lubang ayakan/yang tertinggal pada
ayakan atau tidak dapat melewati ayakan)
Undersize (ukurannya lebih kecil dari lubang ayankan /yang melewati ayakan).
B. Klasifikasi (Classification)

Kalsifikasi dapat terjadi dalam tiga cara yaitu :
Partition concept
Tapping concept
Rein concept
Pralatan yang digunakan dalam proses klasifikasi adalah :
Scrubber

Log washer

Sloping tank classifier (rake, spiral dan drag)

Hydraulic tank classifier

Hydraulic bowl classifier



Hydraulic clindrical tank classifier

Counter current classifier


Air separation


Solid bowl centrifuge

Elutriator

Produk dari prose klasifikasi adalah :
Overflow : produk yang berukuran kecil/halus (slimes) yang mengalir ke bagian
atas.
Underflow : produk yang berukuran besar/kasar (sand) yang mengendap dibagian
bawah.
Hydrocyclone
Hydrocyclone adalah perangkat untuk mengklasifikasikan, partikel terpisah atau
semacam dalam suspensi cair berdasarkan rasio gaya sentripetal mereka untuk
resistensi cairan. Rasio ini tinggi untuk padat (di mana pemisahan dengan kepadatan
diperlukan) dan kasar (di mana pemisahan berdasarkan ukuran diperlukan) partikel,
dan rendah untuk partikel ringan dan halus. Hydrocyclones juga menemukan aplikasi
dalam pemisahan cairan
kepadatan yang berbeda.
Concentration


Sifat-sifat Fisik mineral yang dapat dimanfaatkan dalah proses konsentrasi adalah :
Perbedaan berat jenis atau kerapatan (konsentrasi gravitasi dan media berat).
Perbedaan sifat kelistrikan (Konsentrasi elektrostatik)
Perbedaan sifat kemagnetan (Konsentrasi magnetik)
Perbedaan sifat permukaan partikel (Flotasi).
JIGGING
Mendasarkan Pada Aliran Air Vertikal (Jigging)
Jigging adalah proses pemisahan ineral yang berharga dengan mineral tidak
berharga berdasarkan pada perbedaan berat jenis mineral tersebut dengan aliran fluida
yang vertikal
Dalam jigging terjadi stratifikasi atau perlapisan pada partikel yang akan dipisahkan. Hal ini
terjadi karena partikel-partikel tersebut berbeda berat jenisnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stratifikasi adalah :
1. Hindered Settling Classification
Pada campuran material dengan cairan yang menjadi cairan crowded atau menjadi
pulp, akan terjadi proses pengendapan material setelah mengalami halangan diantara
partikel-partikel itu sendiri berdasarkan besar butir mineral. Untuk material dengan ukuran
butir kecil tapi mempunyai berat jenis besar akan lebih dulu mengendap demikian juga untuk
mineral besar dengan berat jenis besar juga akan mengendap lebih dulu dibandingkan
dengan mineral berberat jenis ringan. Peristiwa ini terjadi pada saat jig mengalami pulsion
sehingga ada aliran air ke atas yang akan membuat material tersebar atau terlempar ke
arah atas. Material yang berat jenisnya kecil akan terlempar lebih jauh daripada mineral
yang berat jenisnya besar.
Jadi disini material yang mempunyai berat jenis besar tapi ukurannya kecil akan
sama waktu mengendapnya dengan material yang besar tapi mempunyai berat jenis kecil,
demikian juga sebaliknya.
2. Differential Acceleration
Di dalam jigging partikel bergerak selama periode percepatan dan karena itu partikel
berat akan mempunyai percepatan awal dan kecepatan jatuh lebih besar daripada partikel
ringan.
3. Consolidation trickling
Pada waktu akhir dari suction, partikel-partikel berukuran kecil tapi berat jenisnya
besar akan mempunyai kesempatan untuk menerobos diantara partikel-partikel itu maupun
kesempatan menerobos jog bed daripada mineral ringan dan kecil.

Persyaratan untuk jig adalah harus ada :
1. Pengatur stroke
2. Pengatur underwater
3. Pengatur umpan/konsentrat
4. Screen dan raging disesuaikan

Persyaratan untuk jig bed (ragging)
1. Mempunyai kecepatan mengendap antara mineral berat dan ringan
2. Tidak mudah hancur
3. Ukuran partikel jig bed harus lebih besar dari screen
4. Fluktuasi ukuran butir kecil

Fungsi dari under water adalah :
1. Untuk mengeliminir ruangan yang vakum pada saat suction sehingga hisapan akibat
suction agak berkurang
2. Menambah air

Untuk memperkirakan apakah suatu mineral akan dapat dipisahkan dengan baik atau
tidak dari mineral lainnya adalah dengan cara mengetahui criteria concentration.

dimana :
dh = berat jenis mineral berat
dl = berat jenis mineral ringan
dm = berat jenis media pemisah
Jika harga CC :
- 2,50 = pemisahan dapat dilakukan untuk segala ukuran
- 1,75 = pemisahan hanya dapat dilakukan pada ukuran 65# - 100#
- 1,5 = pemisahan hanya dapat dilakukan pada ukuran 10#
- 1,00 = sulit dilakukan pemisahan



Pembagian jig berdasarkan sieve atau screen :
1. Fixed Sieve Jig
a. Fix Sieve Plunge Jig
Alat yang termasuk didalamnya adalah Harz jig. Penggerak alat ini adalah plungger
yang bergerak naik turun sehingga menimbulkan suctiondan pulsion. Tempat konsentrat
terletak di bagian bawah sedangkan dibagian atas tempat keluarnya tailing, ini semua
terletak di bagian atas screen. Alat ini terbuat dari kayu atau beton, yang terdiri dari
beberapa kompartemen yaitu konsentrat, middling dan tailing.
b. Fixed Sieve Air Pulsator Jig
Contoh alat ini adalah Baum jig. Alat ini mempunyai fixed sieve (a) yang dilalui air
yang terdorong karena tekanan udara. Secara mekanis tekanan udara dikontrol oleh valve
(b) menuju closed chamber (c) dan selanjutnya ke ruang bawah kompartemen sieve.
Perubahan kecepatan tekanan udara pada closed chamber dikendalikan oleh perangkat
mekanisme valve. Screen pengeluaran dari depan yang digerakkan aleh mekanisme float
(d). Material ringan dikeluarkan melalui bagian atas. Alat ini digunakan dalam pencucian
batubara.
c. Fixed Sieve Diaphragma Jig
Alat yang termasuk jenis ini adalah Bendelari jig. Gerakan pulsiondan suction
dehasilkan dari diaphragma yang terbuat dari karet. Diaphragma mengembang dan
mengempis sehingga menimbulkan gerakan ke atas. Diaphragma terletak pada bagian
dalam dari alat tersebut yang digerakkan oleh torak yang naik turun karena dihubungkan
dengan eksentrik. Under water disalurkan pada bagian bawah saringan melalui sebuag klep
pada saat diaphragma bergerak turun.
d. Fixed Sieve Pulsator Jig

2. Movable Sieve Jig
Yang termasuk movable jig adalah hancock jig. Alat ini berupa tangki yang
berbentuk rectangular atau kotak persegi panjang dengan sieve yang bergerak dan
dijalankan secara mekanik. Gerakan dari sieve tidak hanya naik turun tapi juga ke depan
belakang dengan percepatan yang besar. Konsentrat dikumpulkan pada hutch dari
kompartemen terakhir. Kapasitas sangat besar, dari 300 600 ton per hari dengan mesin
ukuran panjang 25 ft dan lebar 4 ft.

C. Mendasarkan Pada Berat Jenis Media
Dense media separation adalah pemisahan material satu dengan lainnya
mendasarkan atas cairan media yang berat dan umumnya tidak bereaksi langsung dengan
material yang akan dipisahkan.
Ada tiga macam medium yang digunakan, yaitu :
- larutan garam dan air
- organic liquid
- suspensi antara solid dan air
Proses pemisahannya berdasarkan sink (tenggelam) dan float (mengapung)
Tempat pemisah (alat yang digunakan) adalah :
- drum separator
- huntington heberlein sink-float
- wemco cone separator
Dense Media Separation ini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :

1. Heavy Liquid Separation (HLS)
Adalah suatu cara pemisahan yang mendasarkan pada perbedaan berat jenis
mineral dengan menggunakan media pemisah suatu liquid yang biasanya merupakan cairan
organik.
Cairan yang sering digunakan adalah :
- Tetra Bromethane (C2H2Br4 SG = 2,96)
- Ethylene Dibromide (C2H4Br2 SG = 2,17)
- Penta Chlorethane (C2HCl5 SG = 1,68)
- Trichlorethylene (C2HCl3 SG = 1,46)
- Calcium Chloride (CaCl2 SG = 1,55)
Keuntungan HLS adalah :
a. Peralatan yang dibutuhkan relative kecil
b. Specific gravity dapat diperhitungkan secara tepat

c. Cairan dapatmudah dipisahkan dari produkta jika percobaan telah selesai
d. Percobaan dengan menggunakan HLS akan menghasilkan produkta yang optimum
Kerugian HLS adalah biaya pengolahannya relatif mahal.
Industri yang menggunakan HLS dalam produksinya adalah :
a. Lessing Process
Merupakan proses untuk memisahkan batubara dari pengotornya. Sebagai medium
pemisahnya adalah CaCl2. Biasanya batubara yang dipisahkan dengan proses ini
berukuran 60#. Hasilnya merupakan batubara yang bersih dan ringan. Pemisahannya
menggunakan elevator.
b. Bertrand Process
Dalam proses ini cairan yang digunakan juga CaCl2. Untuk mengurangi pemakaian
dari medium ini maka dilakukan dengan cara counter washing system, yaitu dengan jalan
menyemprotkan cairan dengan spesific gravity dari media yang bertahap, misalnya : 1,05;
1,08; 1,25; 1,40 dan seterusnya ke dalam batubara yang dimasukkan ke dalam meja
goyang.
Maksud disemprotkannya dengan specific gravity yang berurutan adalah bila material
langsung disemprotkan dengan cairan SG = 1,40 maka material akan menyerap cairan
berat ini dan lainnya akan lebih kecil dari 1,40. Padahal cairan dengan SG ini mahal
harganya, lebih mahal daripada cairan dengan SG = 1,05 sehingga proses ini akan
memakan biaya tinggi. Sekarang ini cara HLS sudah tidak banyak lagi dipakai, hanya
digunakan untuk pengujian di laboratorium.
c. Du Pont Process
Pada proses ini biasanya material tidak langsung dilakukan pemisahan dengan
cairan, tetapi dikerjakan dulu pada suatu tempat yang mempunyai cairan dengan SG yang
rendah. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi penyerapan.
Syarat yang harus dipenuhi adalah :
i. Bijih harus dilakukan preparasi agar tidak ada yang berukuran halus
ii. Digunakan parting liquid, harus mempunyai kelarutan yang rendah terhadap air
iii. Viscositas rendah
iv. Diharapkan mempunyai tekanan uap yang rendah, stabil dan tidak mudah terbakar
v. Tempat pemisahan harus tertutup untuk menghindari penguapan karena parting liquid
ada yang beracun
vi. Diharapkan ada sirkulasi dari parting liquid
Yang dipakai untuk parting liquid antara lain ; starch asetate 0,01% dan tannic acid

2. Heavy Media Separation (HMS)
Di dalam HMS ini umpan harus diayak terlebih dahulu untuk menghilangkan bijih
yang berukuran kecil dan juga menggunakan pencucian. Butir halus diayak dan slime dicuci
karena partikel yang halus akan menambah kekentalan dari medium. Selain itu suspensi
yang digunakan harus dapat disirkulasikan kembali.
Suspensi ini terdiri dari :
a. Campuran antara magnetit dan air
b. Ferro silicon SG = 6,7 6,9
c. Galena SG = 7 dengan air
Mekanisme HMS :
a. Oversize 10# masuk ke dalam cone yang berisi media dengan SG tertentu
b. Pada cone terjadi pemisahan (sink and float). Secara terpisah Float dan Sink dipompakan
ke drainage screen
c. Material tercuci maupun material gangue disemprot dengan air agar material itu terbebas
dari media
d. Air dan media diproses kembali untuk mendapatkan SG tertentu dengan memasukkannya
ke dalam cone
e. Media yang lolos saringan dikembalikan lagi ke cone.

TAILING
7.TAILING
Tailing adalah limbah batuan atau tanah halus sisa-sisa dari pengerusan dan pemisahan
(estraksi) mineral yang berharga (tembaga, emas, perak) dengan bahan tambang. Tailing
terdiri dari 50% praksi pasir halus dengan diameter sekitar 0,075 0,4 mm dan 50 % terdiri
dari praksi lempung dengan diameter kurang dari 0,075 mm.

Bahan tambang baik itu batuan, pasir maupun tanah setelah digali dan dikeruk, lalu estrak
bumi (mineral berbahaya) yang persentasenya sangat kecil dipisahkan lewat proses
pengerusan, bahan tambang yang begitu banyak disirami dengan zat-zat kimia (cianida,
mercury, Arsenik) lalu bijih emas tembaga atau perak disaring oleh Carbon Filter, proses
pemisahan dan penyaringan mineral ini menyisakan Lumpur dan air cucian bahan tambang
yang disebut tailing , mineral berharga diambil, sedangkan tailing akan terbawa bersama
zat-zat kimia yang mengandung logam berat/beracun lainnya.









Setelah mineral diekstraksi dari bijih dengan leaching, flotasi dsb, tailing biasanya
dikentalkan sebelum di discharge ke pembuangan

Sifat Tailing
Sifat tailing sangat tergantung kepada asal ore, proses mineralisasi, apakah
teroksidasi atau tidak dsb. Berikut diberikan beberapa contoh ukuran dari tailing yang
berasal dari input dengan density yang berbeda yaitu, batubara, emas - perak dan
timah hitam - seng dimana densitas tailing yang terendah adalah batubara dan yang
terberat adalah timah hitam.
Disini perlu mendapat perhatian bahwa ukuran partikel sebenarnya sangat
tergantung apakah flocculant digunakan dalam prosess ekstraksi dan apakah
dispersant digunakan dalam proses hydrometer untuk tujuan size analysis

Metode Pembuangan Tailing
Hampir semua tailing dipompa atau disalurkan secara gravitasi ke pembuangan
tailing sebagai slurry dengan kadar air yang tinggi. Slurry di discharge ke tempat
penampungan/pembuangan melalui satu titik (beberapa titik)
Buangan dari prosesing plant dapat dibuang ke daerah pantai tailing (sub aerial
deposition) atau jika curah hujan tinggi dan evaporasi rendah atau ditemukannya
palung laut yang dalam maka sub aqueous deposition dapat digunakan.

Tailing Dam

Tailing dam dapat dibangun dengan banyak cara, baik menggunakan earth and rock fill dam
(biasanya menggunakan waste) dengan prinsip sama seperti membuat dam penyimpan air
atau meggunakan tailing itu sendiri. Kerugian jika pembangunan dam seperti pembangunan
dam penyimpan air maka akan diperlukan biaya yang tinggi pada awal operasi untuk
pembangunan dam dan kecenderungan over safe.


Sistem Pembuatan Dam
Sistem upstream
Dilakukan secara progressive sesuai dengan kemajuan proses produksi. Tipe longsoran
yang mungkin terjadi adalah longsoran busur. Sangat tergantung dengan besar butiran dari
tailing karena jika ukuran tailing terlalu halus, metode ini tidak dapat digunakan
Sistem down stream
Sistem ini menuntut pembangunan drain yang harus hati-hati pada setiap pembangunan
dam tahap berikutnya.
Sistem centerline
Metode ini baru bisa dijalankan jika kandungan material kasar cukup besar dan diperlukan
cyclone untuk memisahkannya. Metode ini relatif tidak umum
Sistem gabungan upstream dan down stream
Dari segi material yang dibutuhkan juga akan berbeda-beda tergantung sistem yang
digunakam. Sistem up stream menggunakan material yang paling sedikit sedangkan metode
down stream menggunakan material yang paling banyak

Agar rembasan dapat dikontrol lebih baik, maka dibuat internal drainage zone. Pada sistem
upstream menggunakan stater dike dan blanket drain sebagai drainage zone. Untuk down
stream drainage zone dibangun dalam bentuk miring sejajar dengan permukaan dan
digabung dengan blanket drain. Sedangkan untuk certerline berupa tegak lurus dan blanket
drain.

Banyak tailing dam dibangun dengan prinsip dam penyimpan air karena dengan alasan,
Tailing mengandung lempung/liat tinggi.
Lingkungan yang basah (curah hujan tinggi).
Keinginan untuk mengurangi rembasan.
Konsultant hanya berpengalaman dalam perencanaan dam air

Beberapa metode yang tidak umum yaitu:
Metode pembuangan tailing yang dikentalkan (paste). Tailing yang sudah kental
diletakkan pada tempat terbuka atau dibuang ke laut dalam. Kerugian jika dibuang ke
tempat terbuka adalah sangat sukar untuk mengontrol erosi dan run off
Dibuang ke sungai (Freeport, Bougainville)
Dibuang ke laut (Batu hijau)
Gabungan dari cara di atas

Bentuk Tailing Dam
Ring Dyke/Turkeys Nest
Biasanya digunakan di daerah terrain yang flat, tidak ada run off dari daerah tangkapan air.
Pembangunannya dapat ditumpuk.
Cross Valley
Lokasi dam pada kepala lembah untuk menghindari flow dari daerah tangkapan air. Dalam
kondisi tertentu arah aliran dapat di ubah dengan membangun dam di hulu.
Side Hill
Sebaiknya kemiringan slope lebih besar 10%.
Bottom Valley
Konsentrasi elektrostatik
merupakan konsentrasi yang memenfaatkan perbedaan sifat konduktor dan non konduktor
dari material.

Mineral-mineral bersifat konduktor seperti :
Magnetit(Fe
3
O
4
)
Kasiterit SnO
2
)
Ilmenit (FeTiO
3
)
Molibdenit (MoS)
Wolfaramit [(Fe,M)WO
4
]
Galena (PbS)
Pirit (FeS
2
)
Produk dari konsentrasi ini :
Mineral konduktor = Konsentrat
Mineral non konduktor = Tailing
Peralatan Konsentarasi elektrostatik
Electrodymic separator (high tension separator)
Elektrostatoc separator, yang terdiri dari : (Plate dan screen)
Kendala Proses konsentrasi ini :
Hanya sesuai untuk konsentrasi dengan jumlah umpan yang sedikit/tidak terlalu
banyak.
karena prosesnya harus kering, maka timbul masalah dengan debu yang terbang.
Konsentrasi magnetik (magnetic concentration)
Konsentrasi magnetik
Konsentrasi magnetik (magnetic concentration) adalah proses konsentrasi yang
memanfaatkan perbedaan sifat kemagnetan (magnet susceptibility) yang dimiliki mineral.
sifat kemagnetan bahan galian dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Ferromagnetic yaitu bahan galian mineral yang sangat kuat ditarik oleh medan
magnet misalnya magnetit (Fe
3
O
4
).
2. Paramagnetic yaitu bahan galian yang dapat ditarik oleh magnet taetapi tidak terlalu
kuat , misalnya hematit (Fe
2
O
3
), Ilmenit(SeTiO
3
) dan pyrhotit (FeS
2
).
3. Diamagnetic yaitu bahan galian yang tidak titarik oleh magnet. msalnya kuarsa
(SiO
2
) dan felspar [(Na,K,Al)Si
3
O
8
].
Peralatan yang digunakan disebut magnet separator yang terdiri dari :
1. Inducet roll dry magnetic separator
2. Wet drum low intensity magnetic separator yang

arah aliran dapat :
Councurrent
Countercurrent
Counter rotation
sedangkan letak magnetnya :
Suspended magnets
suspendets with continuous removal
Cobbing drum
Konsentrasi secara flotasi (flotation concentration)
Konsentrasi Flotasi
Reagen kimia yang di gunakan pada proses flotasi :
1. Pembuih (frother) ;berfungsi sebagai penstabil gelembung udara (metil isobuthyl
carbonat "MIBC", minyak pinus dan terpentin.
2. kolektor/pengumpul (collector) : berfungsi mengubah sifat mineral yang suka air
menjadi suka udara (xanhatr, thiocarbonilid, asam oleik, dll.)
3. Penekan/pencegah (depresant) :untuk mencega agar mineral pengotor tidak ikut
menempel pada udara atau ikut terapun (ZnSO4 untuk menekan Zn S)
4. Pengatur keasaman (pH regulator) mengatur tingkat keasaman froses plotasi [HCl,
HNO
3
, Ca(OH)
2
, NH
4
OH, dll].
Produk dari flotasi :
Konsentrat (mineral yang terapung dengan gelembung udara)
Amang (mineral apungan yang masi mengandung banyak mineral pengotor)
Ampas (Mineral yang tenggelam.
jenis-jenis proses dalam plotasi :
1. Flotasi ruah (bulk flotation) :proses flotasi yang mengapungkan sekelompok
mineral. misalkan pada biji kompleks Pb-Cu-Zn. Jika dilakukan flotasi ruah maka
akan didapatkan konsentrat dan tailing. Konsentrat mengandung Pb-Cu-Zn dengan
kadar yang tinggi.
2. Differential flotation : froses flotasi ruah yang dilakukan dengan cara bertahap.
misalnya pada biji komplek Pb-Cu-Zn , pada tahap pertama di peroleh apungan
berupa Pb dan masih banyak endapan Cu dan Zn, pada tahap kedua diperoleh
konsentran Cu dan masih banyak Zn. pada tahap ketiga diperoleh Zn dan endapan
yang merupakan tailing akhir.
3. Selective flotation : hampir mirip dengan defferential flotaion, yang membedakan
adalah pada flotasi ini tidak melakukan proses flotasi ruah terlebih dahulu dan
dilakukan dalam jumlah yang besar dan peralatan yang banyak.
Mekanisme flotasi


1.aliran udara masuk
2. zona-zona
(a) Apungan (b) zona benturan partikel udara (c) Zona pengadukan.
3. Impeller
4. Arah aliran gelembung udara.

Peralatan yang dipakai
a. Mechanical flotation :
Agitair cell
Denver cell
Krupp cell
Outokumpu cell
Wemco-Fagregren cell

Dewatering

Dewatering (Penanganan kadar air/pengawa-airan) adalah kegiatan yang bertujuan untuk
mengurangi kandungan air yang ada pada konsentrat yang dihasilkan dari proses basah
(Konsentrasi grafitasi dan flotasi).

Dewatering ada 3 cara yaitu :
1. Pengentalan/pemekatan (thickening)
2. Penapisan/pengawa-airan (filtrasi)
3. Pengeringan (drying)
Pengentalan : Konsentrat yang berlumpur dimasukkan kedalam bejana bulat. bagian yang
pekat akan mengendap kebawah disebur underflow sedangkan bagian yang encer akan
mengalir dibagian atas disebut overflow . kedua produk ini dikeluarkan secara terus
menerus.
Alat yang digunakan adalah :
Rake thickener
Deep cone thickener
Free flow thickener
Penapisan : Dari proses pengentalan kadar airnya masih cukup tinggi, maka yang pekat
dari proses pengentalan akan dimasukkan ke penapis yang sisertai dengan pengipasan,
sehingga jumlah air yang terhisap akan banyak. dengan demikin akan dapat dipisahkan
padatan dari airnya.
alat yang digunakan adalah :
1. Vacuum (suction) filters yang terdiri dari:
+ Intermitten, misalnya moore leaf filter.
+ Continuous ada beberapa tipe yaitu :
- Bentuk silindris / tromol (drum type), misalnya : Oliver filter, Dorrco filter.
- Bentuk cakram (disk type) berputar , contohnya : American filter.
- Berbentuk lembaran berputar (revolving leef type) contonya : Oliver filter.
- Bentuk meja (desk type) misalnya : Caldecott sand table filter.
2. Pressure filter, misalnya :
+ Merrill plate and frame filter
+ Kelly pressure filter
+ Burt revolving filter.

Pengeringan : yait proses untuk membuang seluruh kandungan air dari padatan yang
berasal dari konsentrat dengan cara penguapan (evaporization/evaporation).
alat yang digunakan adalah :
1. Hearth type drying/air dried/air baked, pengeringan yang dilakukan dengan bantuan
sinar matahari.
2. Shaft drier, dibagi 2 yaitu :
Tower drier : material yang basah dijatuhkan didalam saluran vertikal yang dialinri
oleh udara panas (80-100oC).
Rotary drier : material yang basah dialiri kedalam silinder panjang yang berputarpada
posisi agak miring dan dialiri udara panas dari arah yang berlawanan.
3. Film type drier (atmospheric drum drier) : silinder bajah yang didalamnya dialiri uap air
(steam).
4. Spray drier : material yang halus dan basah disemburkan kedalam ruangan yang
panas. material yang kering akan terkumpul dibagian bawah ruangan.

PENANGANAN MATERIAL / MATERIAL HANDLING
Pengertian
Material handling adalah seni atau ilmu tentang pemindahan , penyimpanan, pengamanan,
dan pengontrolan material.
Tujuan Material Handling (Meyers 1993 dalam ppt presentasi azizah)
Menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan dan
memberikan perlindungan terhadap material
Meningkatkan keamanan dan mengembangkan kondisi kerja
meningkatkan produktivitas
Meningkatkan tingkat penggunaan fasilitas
Mengurangi bobot mati
Sebagai pengawasan persediaan.

Jenis Material Handling
1. Dry solid handling (Penanganan material padat kering)
2. Slurry handling (Penanganan lumpur)
3. Tailing disposal (Penanganan/pembuangan ampas)
C. METALURGI EKSTRAKTIF
Metalurgi adalah ilmu, seni dan teknologi yang mengkaji tentang proses pengolahan dan
peekayasaan mineral dan logam .
Metalurgi ekstraktif adalah studi tentang proses yang digunakan dalam pemisahkan logam
berharga dalam konsentat dengan mineral lainnya.

Tujuan Proses metalurgi ekstraktif
1. Separation (Pemisahan) yaitu pembuangan unsur, campuran/senyawa atau material
yang tidak dingginkan dari bijih
2. Pembentukan campuran (compound foramtion) yaitu cara mempoduksi material
yang secara struktur dan sifat-sifat kimiannya berbeda dari bijihnya
3. Pengambilan/produksi metal yaitu cara-cara memperoleh metan yang belum murni.
4. Pemurnian metal yaitu pembersihan metal yang belum murni (membuang unsur-
unsur pengotor dari metal yang belum murni) sehingga diperoleh metal murni.
Metalurgi ekstraktif terdiri dari :
1. Pirometalurgi : menggunakan energi panas sampai 2000 c
2. Hidro metalurgi : menggunakan larutan dan reagen organik
3. Elekrtometalurgi : Memanfaatkan teknik elektro kimia.
Pirometalurgi adalah suatu proses ekstraksi logam dengan menggunakan energi panas
yang sunber panasnya bisa berasal dari energi kimia, bahan bakar, energi listrik, energi
terselubung / tersembunyi.
Peralatan yang digunakan adalah :
Tanur tiup (Blast furnace)
Reverberatory furnace


Untuk pemurnian digunakan :
Pierce-smith converter
Bessemer converter
Kaldo converter
Linz-donawitz (L-D) converter
Open hearth furnace
Hidrometalurgi adalah proses ekstaksi logam berharga dengan menggunakan reagen
kimia encer (<1 grammol) dan pada suhu <100oC.
Kondisi yang baik untuk hidrometalurgi adalah :
Logam yang diiginkan harus mudah larut dalam ragen yang murah.
Metal/logam yang sudah larut tersebut harus dapat diambil dari larutan tersebut
dengan mudah dan murah.
Unsur atau metal lain yang ikut larut harus mudah dipisahkan pada proses
berikutnya.
Mineral pengganggu (ganggue mineral) jangan terlalu banyak berreaksi dengan
reagen yang dipakai.
Zat pelarut harus dapat diperoleh kembali untuk didaur ulang.
Zat yang diumpankan (dilarutkan) jangan banyak mengandung lempung karena akan
sulit memisahkannya.
zat yang diumpankan harus porous atau punya permukaan kontak yang luas agar
mudah bereaksi pada suhu rendah.Zat pelarut sebaiknya tidak korosi dan beracun
sehingga tidak membahayakan alat dan operator.
Peralatan yang digunakan adalah :
Electrolysis/ electrolytic cell
Bejana pelindian (leadhing box)

Elektrometalurgi :adalah proses ekstraksi logam yang memakai teknik elektro-kimia,
misalnya batrai dan elektrolisa (electrolysis = electrorefining). pada proses ini selain
diperlukan aruslistrik sebagai sumber energi juga diperlukan elektroda (electrodes) dan
cairan elektrolit (electrolyte).


Elektroda harus memiliki sifat sebagai berikut :
Sebagai konduktor listrik yang baik.
Potensial yang terbentuk disekitar elektroda harus rendah.
Tidak mudah bereaksi dengan logam lain dan tidak membentuk campuran yang
dapat mengganggu proses elektrolisa.
Elektolit harus memiliki sifat sebagai berikut :
Memiliki daya hantar ion yang tinggi.
Tidak mudah terurai dan bereaksi (high chemical stability).
.Memiliki daya larut yang tinggi bagi metan yang diinginkan.
Bila elektroda padat maka syrat tambahan agar elektoda tersebut memuaskan maka harus :
Mudah diperoleh atau dipisahkan dengan murah
Stabilitas, kuat dan tidak mudah terkikis (resistance to abrasion)
Tahan korosi dalam zat larut.
Harus murah harganya
Peralatan yang digunakan adalah : Elektric arc furnace.

Thickening
Yaitu proses pemisahan antara padatan dengan cairan berdasarkan atas kecepatan
mengendap partikel atu mineral dalam suatu pulp. Alat yang biasanya digunakan adalah
thickener.
Tahapan yang dilakukan dalam thickening adalah:
a. Flocculating
Didalam pengendap partikel-partikel yang halus seringkali mengalami kesukaran
karena partikel sangat kecil. Untuk itu dilakukan penggumpalan terlebih dahulu, dengan
demikian partikel akan membentuk gumpalan yang relative akan lebih cepat mengendap.
Untuk menggumpalkan perlu ditambahkan reagent yaitu flocculation agent.
b. Sedimentasi
Merupakan tahap pengendapan dari gumpalan-gumpalan yang terbentuk. Kecepatan
pengendapan tergantung pada ukuran, bentuk, densitas dan jenis partikel. Padatan yang
mempunyai densitas yang lebih tinggi akan lebih cepat mengendap karena gaya berat
(gravitasi) lebih besar. Untuk yang memiliki ukuran bahan yang kecil dan memiliki densitas
yang rendah, cara pengendapannya dilakukan dengan mengelompokan partikel-partikel
yang terlarut menjadi satu kesatuan (flokulasi) sehingga mempunyai densitas yang lebih
besar baru kemudian diendapkan. Flokulasi dapat dilakukan dengan menambahkan bahan-
bahan kimia seperti tawas atau dengan cara melakukan pengadukan secara perlahan-
lahan.
c. Compaction
Merupakan tahap pemadatan dari gumpalan-gumpalan yang telah mengendap pada
dasar thickener.

d. Elemination
Merupakan tahap pengeluaran hasil pemisahan cairan yang telah jernih karena telah
bebas dari solid dan dikeluarkan sebagai overflow melalui bagian atas dan underflow
dikeluarkan melalui bagian bawah

FILTERING
12.FILTERING
Proses filtrasi adalah proses pemisahan padatan dari campuran fasa cair. Pada
filtrasi secara garis besar pemisahannya adalah material ditampung dalam suatu filter maka
material tersebut akan tetap berada di atas filter sedangkan air akan lolos meninggalkan
filter. Lolosnya air ini disebabkan adanya gaya dorong. Gaya dorong ini dapat berupa gaya
gravitasi, gaya tekan dan gaya sentrifugal. Proses filtrasi akan memerlukan perlakukan
khusus bila padatan yang akan dipisahkan mulai terdeformasi dan akan sukar tertahan pada
medium penyaringnya.
Dalam setiap filtrasi, filter medium selalu menahan partikel solid yang dihasilkan
sebagai porous cake dan ini dapat dipisahkan secara kontinyu maupun diskontinyu.
Jadi bila tekanan diberikan pada pulp yang akan melalui porous media maka air pulp
akan mengalir melalui pori media dengan kecepatan yang tergantung pada perbedaan
tekanan dari kedua bagian yang tergantung pada gesekan selama mengalir. Pori-pori dari
filter lebih besar daripada butir partikel dan akan membentuk jembatan sehingga akan
membentuk pori-pori baru yang merupakan cake. Akibatnya semakin lama jalannya filtrasi
akan semakin lambat.
Kapasitas filter tergantung pada:
- Area filter
- Perbedaan tekanan antara kedua bagian filter
- Penampang rata-rata dari pori
- Jumlah pori tiap unit area filter
- Tebal filter cake area
Bedasarkan gaya dorongnya, filter terbagi menjadi:
- Gravity filter
- Suction Filter
- Batch Vacum filter
- Centrifugal filter
- Pressure filter
Campuran-campuran tertentu seperti suspensi, padatan lumpur atau larutan-larutan tertentu
(produk bioproses) sulit difiltrasi secara langsung. Hal ini disebabkan campuran tersebut
merupakan fluida yang sangat non-newtonian dimana cake yang terbentuj sangat
compressible, sehingga cake dapat dengan mudah terdeformasi menjadi lapisan yang tidak
permiabel. Oleh sebab itu umpan yang akan dimasukkan dalam proses filtrasi perlu
mendapat perlakuan awal seperti dipanaskan, koagulasi dan flokulasi ataupun diadsorpsi
terlebih dahulu
Konsentrat yang berupa lumpur dimasukkan ke dalam bejana bulat. Bagian yang pekat
mengendap ke bawah disebut underflow, sedangkan bagian yang encer atau airnya
mengalir di bagian atas disebut overflow. Kedua produk itu dikeluarkan secara terus
menerus (continuous).
Peralatan yang biasa dipakai adalah :
1. Rake thickener.
2. Deep cone thickener.
3. Free flow thickener.
DRYING
Adalah proses penghilangan air dari padatan dengan cara pemanasan sehingga padatan
benar-benar bebas dari cairan. Pada drying pemisahannya dilakukan dengan cara
penguapan (evaporasi. Dalam hal ini jumlah energi yang digunakan per unit massa dari
liquid besar karena specific heat dan laten heat penguapan air besar sehingga sering
membuat kesulitan dalam pengolahan bahan galian dan memperbesar biaya operasi.
Metode drying terbagia atas tiga hal,yaitu:
a. Flash Drying
b. Rotary drying
c. Rubble-hearth drying

Pengolahan Bahan Galian
Langkah-langkah dalam mineral dressing









Oleh:
DIMAS ANDRIANTO
2011/1105130




FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PADANG
2013