Anda di halaman 1dari 15

Makalah Perkembangan Dan Pengembangan

IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)





BAB I
PENDAHULUAN
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematis yang
didasarkan pada penyelidikan dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa atau gejala alam
melalui metode dan sikap ilmiah. Ilmu ini terus berkembang, bertambah luas, dan mendalam
sesuai dengan hasil-hasil penemuan dan penyelidikan baru, menyebabkan timbulnya cabang-
cabang ilmu yang dikenal sebagai: Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan
Antariksa (IPBA). Dalam perkembangannya, ternyata banyak proses yang penjelasannya
memerlukan bantuan dari dua atau lebih cabang ilmu yang merupakan kombinasi dari cabang-
cabang yang telah ada, seperti Kimia Fisika, Biokimia, Biofisika, dan Geofisika. Pembagian
IPA dalam berbagai cabang tersebut sebenarnya untuk lebih mempermudah mempelajari alam
seisinya dari sudut pandang tertentu. Namun di luar dari pada itu, satu hal yang pasti, yakni
sasaran yang diselidiki, diuraikan, dan dibahas adalah satu, yaitu alam semesta yang meliputi:
asal mula alam semesta dengan segala isinya, termasuk proses, mekanisme, sifat benda
maupun peristiwa yang terjadi.

Rasa ingin tahu dan terbentuknya ilmu pengetahuan
Beberapa binatang sudah mempunyai otak, sehingga mempunyai daya piker namun terbatas pada
insting (naluri) dan upaya mempertahankan diri serta turunannya. Insting tersebut terutama
ditujukan untuk kelangsungan hidupnya seperti memperoleh makanan, perlindungan diri dan
perkembangbiakan. Aktivitas hewan tersebut ternyata tidak berubah dari masa ke masa dan
dinyatakan sebagaiidle curiousity. Sedangkan manusia di samping mempunyai naluri dan
nurani, manusia juga memiliki nalari. Dengan nalari itu, manusia menggunakan kemampuan
otaknya untuk melakukan penalaran, pemikiran logis dan analisis. Berlandaskan kemampuan
tersebut maka pengetahuan yang diperoleh saat ini merupakan dasar dari munculnya rasa ingin
tahu manusia tersebut selalu berkembang (curiousity). Dengan nurani, manusia selalu ingin
berbuat baik untuk dirinya dan lingkungannya.


Secara sederhana perkembangan rasa ingin tahu dimulai dengan pertanyaan apa atau what
tentang sesuatu, dan dilanjutkan dengan pertanyaan bagaimana atau how dan mengapa
atauwhy. Sebagai contoh adalah perkembangan rasa ingin tahu anak-anak terhadap suatu
benda, maka pertanyaan yang diajukan oleh anak pada usia sekitar dua tahun adalah apa
nama benda tersebut, misalkan benda tersebut adalah pensil. Pertanyaan selanjutnya yang akan
muncul pada usia menjelang TK adalah bagaimanamenggunakannya. Setelah usianya lebih
dewasa lagi, maka pertanyaan yang akan muncul di benaknya adalah mengapa pensil dapat
digunakan untuk menulis? Dengan mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang
diajukan, maka anak tersebut akan mendapatkan pengetahuan baru dan sekaligus rasa ingin
tahunya terjawabkan.
Adanya kemampuan berpikir pada manusialah yang menyebabkan terus berkembangnya rasa
ingin tahu tentang segala yang ada di alam semesta. Pengetahuan yang diperoleh dari alam
semesta ini selanjutnya merupakan dasar dari pengembangan ilmu pengetahuan alam (IPA).
Dengan akal yang dimiliki manusia, semua pengetahuan dapat diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Informasi yang dapat disimpan dan diajarkan kepada generasi berikutnya,
ditambah dengan pengetahuan yang diperoleh saat itu maka informasi tentang pengetahuan ini
akan terus bertambah dan berkembang dari generasi ke generasi berikutnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka secara sederhana urutan perkembangan ilmu dimulai dari rasa
ingin tahu terhadap sesuatu maka dilakukan suatu pengamatan. Berdasarkan pengamatan
berulangkali diperoleh pengalaman. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang terus-
menerus diperoleh pengetahuan, semisal sifat dari benda yang diamati. Kumpulan
pengetahuan tentang sesuatu yang didapatkan secara sistematis dinyatakan ilmu pengetahuan.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian IPA
IPA sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Sains menurut Suyoso (1998:23)
merupakan pengetahuan hasil kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-
hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode
dan berlaku secara universal.
Menurut Abdullah (1998:18), IPA merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun
dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melakukan observasi, eksperimentasi,
penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya kait
mengkait antara cara yang satu dengan cara yang lain.
Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan pengetahuan dari hasil
kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah yang berupa
metode ilmiah dan dididapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum
sehingga akan terus di sempurnakan.
Dalam pembelajaran IPA mencakup semua materi yang terkait dengan objek alam
serta persoalannya. Ruang lingkup IPA yaitu makhluk hidup, energi dan perubahannya, bumi
dan alam semesta serta proses materi dan sifatnya. IPA terdiri dari tiga aspek yaitu Fisika,
Biologi dan Kimia. Pada apek Fisika IPA lebih memfokuskan pada benda-benda tak hidup.
Pada sapek Biologi IPA mengkaji pada persoalan yang terkait dengan makhluk hidup serta
lingkungannya. Sedangkan pada aspek Kimia IPA mempelajari gejala-gejala kimia baik yang
ada pada makhluk hidup maupun benda tak hidup yang ada di alam.


2.2 Dasar-dasar Pengetahuan
Seperti dijelaskan di Bab Pendahuluan di atas, pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu.
Pengetahuan mampu dikembangkan manusia karena :
a) Bahasa yang bersifat komunikatif
b) Pikiran yang mampu menalar.

2.3 Metode Ilmiah sebagai Dasar IPA
Metode ilmiah adalah prosedur atau cara dalam memperoleh pengetahuan yang disebut ilmu. Ini
berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.
Berbagai cara dilakukan manusia untuk memperoleh pengetahuan, baik melalui pendekatan
nonilmiah maupun pendekatan ilmiah.
Adapun penemuan ilmu pengetahuan mereka melalui pendekatan nonilmiah diperoleh dengan 4
cara:
1. Prasangka
Prasangka adalah dugaan atau perkiraan bahwa sesuatu itu benar, padahal belum tentu
kebenarannya.
2. Intuisi
Intuisi adalah pendapat yang di angkat dari pengetahuannya.
3. Trial and error
Dari percobaan yang mengalami kegagalan.
4. Kebetulan
Penemuan yang tidak di duga-duga.

Juga penemuan ilmu pengetahuan melalui pendekatan ilmiah dilakukan berdasarkan pemikiran
rasional, pengalaman empiris (fakta) maupun referensi pengalaman sebelumnya. Berdasarkan
metode ini, data atau fakta yang ada harus diuji terlebih dahulu sebelum diterima
kebenarannya.




A. Kriteria ilmu pengetahuan
Suatu pengetahuan dapat disebut ilmu jika memenhi criteria sebagai berikut:
a. Logis atau masuk akal
b. Objektif
c. Metodik
d. Sistematis
e. Berlaku umum atau universal
f. Kumulatif

B. Langkah-langkah metode ilmiah
Langkah-langkah metode ilmiah sebagai berikut:
B. Rumusan Masalah

a. Bagaimana Perkembangan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam ?
b. Bagaimana Pengaruh Ilmu Pengetahuan Alam?
c. Bagaimana Peranan Ilmu Pengetahuan Alam?

C. Tujuan Penulisan Makalah
Sejak dilahirkan di muka bumi ini, manusia bersentuhan dengan alam. Persentuhan dengan
alam menimbulkan pengalaman. Alam memberikan rangsangan kepada manusia melalui
pancaindra merupakan alat komunikasi antara alam dengan manusia yang membuahkan
pengalaman.
Manusia sebagai makhluk berpikir dibekali hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa
yang terjadi disekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Hal ini mendorong
manusia untuk memahami dan menjelaskan gejala gejala alam, baik alam besar
(makrokosmos) maupun alam kecil (mikrokosmos) serta memecahkan masalah yang dihadapi.
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa dan masyarakat
dalam mengikuti perkembangan dan pengembangn ilmu pengetahuan alam yang berkaitan
dengan materi yang dikaji dalam Ilmu Alamiah Dasar, sebagaimana yang kita ketahui ilmu
alam tersebut selalu mengalami perubahan atau perkembangan dari zaman ke zaman yang
melahikan ilmuan ilmuan baru seperti Ahli Astronomi, Ahli Kimia, Ahli Fisika.


D. Metode Ilmiah
Manusia memiliki kecenderungan untuk menanggapi rangsangan yang ada di sekitarnya,
termasuk gajala-gejala di alam semesta ini. Tanggapan terhadap gejala-gejala dan peristiwa-
peristiwa yang ada ini di alam semesta ini akan menjadi sebuah pegalaman yang akan terus
berkembang karena rasa keingin tahuan manusia. Pengalaman-pengalaman inilah yang
nantinya menjadi pengetahuan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ilmu tentang alam merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis. Artinya,
hasil percobaan yang dilakukan manusia akan menghasilkan suatu konsep yang mendorong
dilakukannya percobaan-percobaan berikutnya, karena ilmu alam bertujuan untuk mencari
kebenaran yang relatif dari suatu hal.
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, karena ilmu merupakan pengetahuan yang
cara mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu. Adapun syarat-syarat suatu
pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu adalah sebagai berikut:

1. Logis
Pengetahuan tersebut masuk akal dan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan.
2. Objektif
Pengetahuan yang didapat harus sesuai dengan objeknya dan didukung oleh fakta empiris.
3. Metodik
Pegetahuan diperoleh dengan cara-cara tertentu yang teratur, dirancang, diamati, dan
dikontrol.
4. Sistematik
Pengetahuan disusun dalam satu sistem yang saling berkaitan dan menjelaskan satu sama lain
sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
5. Universal
Pengetahuan berlaku untuk siapa saja dan di mana saja yaitu dengan cara eksperimentasi yang
sama akan diperoleh hasil yang sama.
6. Komulatif
Berkembang dan tentatif, sesuai dengan khasanah ilmu pengetahuan yang selalu bertambah
dengan hadirnya ilmu pengetahuan yang baru. Ilmu pengetahuan yang terbukti salah harus
diganti dengan ilmu pengetahuan yang benar.

Untuk mencapai kebenaran, yakni persesuaian antara pengetahuan dan objeknya, tidaklah
terjadi secara kebetulan, tetapi harus menggunakan prosedur atau metode yang tepat, yaitu
prosedur atau metode ilmiah (scientific method) .Adapun Kelebihan dan kekurangan ilmu
alamiah ditentukan oleh metode ilmiah, maka pemecahan segala masalah yang tidak dapat
diterapkan metode ilmiah, tidaklah ilmiah.


BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
IPA berkembang dengan sangat pesatnya sejalan dengan sifat manusia yang mempunyai
rasa ingin tahu atau curiousity yang juga selalu berkembang (dinamis). Dengan sifat ini, dalam
benak manusia selalu bertanya karena keingintahuannya: apa
sesungguhnya (what), bagaimana sesuatu terjadi (how), dan mengapa demikian (why).
Adanya kemampuan berpikir pada manusia tersebut yang menyebabkan terus
berkembangnya rasa ingin tahu tentang segala yang ada di alam semesta. Pengetahuan yang
diperoleh dari alam semesta ini selanjutnya merupakan dasar perkembangan Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA).
Ilmu ini terus berkembang, bertambah luas dan mendalam sesuai dengan hasil-hasil
penemuan dan penyelidikan baru, menyebabkan timbulnya cabang-cabang ilmu yang dikenal
sebagai: Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA).
Ilmu pengetahuan diperoleh melalui prosedur yang telah ditentukan, yaitu melalui cara
yang disebut metode ilmiah. Adapun langkah-langkah operasional metode ilmiah secara
singkat adalah sebagai berikut:
a. Perumusan Masalah
b. Penyusunan Hipotesis
c. Pengujian Hipotesis/Penelitian
d. Penarikan Kesimpulan
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, sebab suatu pengetahuan dapat disebut ilmu atau
ilmiah jika memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Logis atau masuk akal
b. Objektif
c. Metodik
d. Sistematis
e. Berlaku umum atau universal
f. Kumulatif

2. Saran
Sebaiknya pembaca mengerti memahami akan pentingnya ilmu pengetahuan alam
,peduli dengan alam dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan alam dengan baru.

PERKEMBANGAN DAN PENGEMBANGAN IPA

A. PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang mempelajari tentang pengungkapan rahasia dan gejala
alam, meliputi asal usul alam semesta dengan segala isinya, termasuk proses, mekanisme, sifat benda
maupun peristiwa yang terjadi. Manusia memilki rasa ingin tahu terhadap alam hingga menyebabkan
diperolehnya pengetahuan dari alam semesta ini. Pengetahuan dari alam semesta inilah yang nantinya
akan berkembang dan menjadi dasar ilmu pengetahuan alam.
Dengan pengetahuan tersebut, informasi akan terus bertambah dan berkembang dari masa ke masa,
serta berkembang sesuai zamannya, sejalan dengan cara berfikir dan alat bantu yang ada pada saat
itu.Oleh karena itu, pengetahuan alam sangat penting dalam kehidupan dan perkembangan zaman
Sejalan dengan cara berfikir dan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah
diketahuinya, menjadikan ilmu pengetahuan menjadi siklus yang akan terus berkembang. Munculnya
istilah metode ilmiah tidak lepas dari hal di atas. Dalam hal ini, metode ilmiah merupakan jembatan
untuk berkembangnya ilmu pengetahuan alam. Betapa pentingnya ilmu pengetahuan alam dengan
bantuan metode ilmiahnya menjadikan berbagai negara dan elemen-elemen di dalamnya berlomba
lomba untuk menjadi lebih baik lagi. Karena berbeda zaman akan berbeda pula pengetahuan yang di
dapat serta bertambah pula pengetahuan yang ada. Ilmu pengetahuan alam sangat berpengaruh pada
segala aspek dan segala bidang. Metode ilmiah menjadi suatu yang penting yang di dalamnya
terdapat langkah langkah operasional yang mendukung terciptanya pengetahuan.

Di era globalisasi saat ini sangat dituntut untuk penemuan hal-hal yang yang baru, pengetahuan
yang baru agar bisa bersaing dan bisa mengimbangi perkembangan yang ada. Dengan metode ilmiah
IPA klasik tercipta banyak sekali ilmu pengetahuan yang menjadi dasar untuk metode ilmiah IPA
modern yang nantinya akan menemukan pengaetahuan-pengetahuan yang baru dengan alat bantu
dan cara berfikir yang lebih dari IPA klasik.

B .METODE ILMIAH SEBAGAI DASAR IPA

Manusia memiliki kecenderungan untuk menanggapi rangsangan yang ada di sekitarnya, termasuk
gajala-gejala di alam semesta ini. Tanggapan terhadap gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang ada
ini di alam semesta ini akan menjadi sebuah pegalaman yang akan terus berkembang karena rasa
keingin tahuan manusia. Pengalaman-pengalaman inilah yang nantinya menjadi pengetahuan dan
diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ilmu tentang alam merupakan kegiatan manusia yang bersifat aktif dan dinamis. Artinya, hasil
percobaan yang dilakukan manusia akan menghasilkan suatu konsep yang mendorong dilakukannya
percobaan-percobaan berikutnya, karena ilmu alam bertujuan untuk mencari kebenaran yang relatif
dari suatu hal.
Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, karena ilmu merupakan pengetahuan yang cara
mendapatkannya harus memenuhi syarat tertentu. Adapun syarat-syarat suatu pengetahuan dapat
dikatakan sebagai ilmu adalah sebagai berikut:
a) Logis
Pengetahuan tersebut masuk akal dan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan.
b) Objektif
Pengetahuan yang didapat harus sesuai dengan objeknya dan didukung oleh fakta empiris.
c) Metodik
Pegetahuan diperoleh dengan cara-cara tertentu yang teratur, dirancang, diamati, dan dikontrol.
d) Sistematik
Pengetahuan disusun dalam satu sistem yang saling berkaitan dan menjelaskan satu sama lain
sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
e) Universal
Pengetahuan berlaku untuk siapa saja dan di mana saja yaitu dengan cara eksperimentasi yang sama
akan diperoleh hasil yang sama.
f ) Komulatif
Berkembang dan tentatif, sesuai dengan khasanah ilmu pengetahuan yang selalu bertambah dengan
hadirnya ilmu pengetahuan yang baru. Ilmu pengetahuan yang terbukti salah harus diganti dengan
ilmu pengetahuan yang benar.

Untuk mencapai kebenaran, yakni persesuaian antara pengetahuan dan objeknya, tidaklah terjadi
secara kebetulan, tetapi harus menggunakan prosedur atau metode yang tepat, yaitu prosedur atau
metode ilmiah (scientific method) .Adapun Kelebihan dan kekurangan ilmu alamiah ditentukan oleh
metode ilmiah, maka pemecahan segala masalah yang tidak dapat diterapkan metode ilmiah, tidaklah
ilmiah.

1. Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan suatu cara yang digunakan oleh para ilmuwan untuk memecahkan suatu
permasalahan, serta menggunakan langkah-langkah yang sistematis, teratur, dan terkontrol.
Metode Ilmiah, yaitu gabungan antara dua pendekatan rasional(deduktif) dan pendekatan empiris
(induktif). Metode Ilmiah, merupakan cara dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah.Descartes
adalah pelopor dan tokoh rasionalisme. Menurut dia, rasio merupakan sumber dan pangkal dari segala
pengertian. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada kebenaran dan dapat memberi
pimpinan dalam segala jalan pikiran.
Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif. Dasar pikiran yang digunakan dalam penalarannya
diperoleh dari ide yang menurut anggapannya sudah jelas, tegas dan pasti, dalam pikiran
manusia.Kelemahan rasionalise yaitu bersifat abstrak, tidak dapat dievaluasi, kemungkinan dapat
diperoleh pengetahuan yang berbeda dari obyek yang sama, cenderung bersifat subyektif dan
solpsistik, yaitu hanya benar dalam kerangka pemikiran tertentu yang berbeda dalam otak orang yang
berfikir tersebut.
Kaum empirisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia tidak diperoleh lewat penalaran rasional
yang abstrak, tetapi lewat pengalaman yang konkrit, berpegang pada prinsip keserupaan, pada
dasarnya alam adalah teratur, gejala-gejala alam berlangsung dengan pola-pola tertentu. Dengan
mengetahui kejadian masa lalu atau sekarang akan dapat diramalkan kejadian di masa datang.
Kelemahannya belum tentu sistimatis, dan keterbatasan alat yang digunakan (misal panca indera).

2. Ciri Metode Ilmiah
Agar supaya himpunan pengetahuan ini dapat disebut ilmu pengetahuan harus digunakan perpaduan
antara rasionalisme (deduksi) dan empirisme (induksi), yang dikenal sebagai metode keilmuan atau
pendekatan ilmiah.
Menurut H. Abu Ahmadi dan A. Supatmo :
Ciri-ciri metode ilmiah yaitu : obyektivitas (bebas keyakinan, perasaan dan prasangka pribadi serta
bersifat terbuka) , konsisten dan sistimatik.
Menurut Abdullah Aly dan Eny Rahma :
Ciri ilmiah : obyektif, metodik, sistimatik dan berlaku umum
Menurut Maskoeri Jasin :
Ciri ilmiah : teratur, sistematis, berobyek, bermetode dan berlaku secara universal.

Kriteria Sebuah Metode Ilmiah Yang Baik:
Berdasarkan fakta.
Bebas dari prasangka.
Menggunakan prinsip-prinsip analisis.
Menggunakan ukuran objektif.
Menggunakan teknik kuantitatif.

3. Langkah-langkah Operasional Metode Ilmiah

a. Perumusan masalah
yang dimaksud dengan masalah yaitu pernyataan apa, mengapa, ataupun bagaimana tentang obyek
yang teliti. Masalah itu harus jelas batas-batasnya serta dikenal faktorfaktor yang mempengaruhinya.
b. Penyusunan hipotesis
yang dimaksud hipotesis yaitu suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan jawaban untuk
memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hipotesis merupakan dugaan yang
tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban
sementara dari permasalahan yang harus diuji ebenarannya dalam suatu obserevasi atau
eksperimentasi.
c. Pengujian hipotesis
yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan
untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau
tidak. Fakta-fakta ini dapat diperoleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau teleskop atau
dapat juga melalui uji coba atau eksperimentasi, kemudian fakta-fakta dikumpulkan melalui
penginderaan.
d. Penarikan kesimpulan
penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta (data) untuk melihat
apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak.

Hipotesis itu dapat diterima bila fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis. Bila fakta
tidak mendukung maka hipotesis itu ditolak. Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan
yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah, dan
merupakan bagian dari ilmu pengetahuan. .
perkembangan ilmu pengetahuan alam yang senantiasa dikelilingi landasan ilmu.
Berdasarkan urutan stratanya, ada tiga jenis landasan ilmu:
a. Hipotesis, merupakan dugaan mengenai masalah yang diambil dari pengetahuan yang telah ada.
b. Teori, merupakan landasan ilmu yang telah teruji kebenarannya, namun dimungkinkan adanya
koreksi.
c. Hukum/dalil, merupakan teori yang terbukti kebenarannya melalui pengujian berkali-kali.
Keseluruhan langkah tersebut di atas harus ditempuh melalui urutan yang teratur, langkah yang satu
merupakan landasan bagilangkah berikutnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ilmu
pengetahuan merupakan pengetahuan yang disusun secara sistimatis, berlaku umum dan
kebenarannya telah teruji secara empiris



4. Keunggulan dan keterbatasan metode ilmiah

Keunggulan metode ilmiah :
a. Metode ilmiah dapaat memberikan latihan dan kebiasaan berpikir sistematis, logis,dan analitis
b. Menempuh sikap yang baik, jujur, obyektif terbuka, didiplin dan toleran
c. Menolak paham takhayul dan pendapat apriori atu menolak suatu pendapat tanpa adanya bukti
nyata

Keterbatasan metode ilmiah :
a. Kelemahan dari panca indera
b. Keterbatasan dari alat yang digunakan
c. Kebenarannya hanya bersifat sementara (tentative)
d. Sulit memilih fakta yang benar benar berkaitan dengan masalah yang akan dipecacahkan
e. Dua fakta yang tampak belum tentu berkaitan menunjukkan hubungan sebab akibat

C. PERKEMBANGAN IPA
Awal dari IPA dimulai pada saat manusia memperhatikan gejala-gejala alam, mencatatnya kemudian
mempelajarinya. Pengetahuan yang diperoleh mula-mula terbatas pada hasil pengamatan terhadap
gejala alam yang ada. Kemudian makin bertambah dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil
pemikirannya. Selanjutnya dari peningkatan kemampuan daya pikirnya manusia mampu melakukan
eksperimen untuk membuktikan dan mencari kebenaran dari suatu pengetahuan. Dari hasil
eksperimen ini kemudian diperoleh pengetahuan yang baru. Setelah manusia mempu memadukan
kemampuan penalaran dengan eksperimen ini lahirlah IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) sebagai suatu
ilmu yang mantap.

1. SEJARAH PERKEMBANGAN IPA

a. Zaman Kuno
Pengetahuan yang dikumpulkan pada zaman kuno berasal dari kemampuan mengamati dan
membeda-bedakan, serta dari hasil percobaan yang sifatnya spekulatif atau trial and error. Semua
pengetahuan yang diperoleh diterima sebagaimana adanya, belum ada usaha untuk mencari asal-usul
dan sebab akibat dari segala sesuatu.
Pada saat manusia mulai memiliki kemampuan menulis membaca dan berhitung maka pengetahuan
yang terkumpul dicatat secara tertib dan berlangsung terus menerus. Misalnya dari pengamatan dan
pencatatan peredaran matahari, ahli astronomi Babilonia menetapkan pembagian waktu, tahun dibagi
dalam 12 bulan, minggu dibagi dalam 7 hari dan hari dalam 24 jam. Selanjutnya jam dibagi dalam 60
menit dan menit dalam 60 detik. Kemudian satuan enam puluh ini juga digunakan untuk
pengukuran sudut, 60 detik sama dengan 1 menit, 60 menit sama dengan 1 derajad dan satu lingkaran
penuh sama dengan 360o.
Demikian pula ahli Babilonia dapat meramalkan terjadinya gerhana matahari, tiap 18 tahun tambah 10
atau 11 hari. Ini terjadi kira-kira 3000 SM.
Pada tahun 2980-2950 SM telah dapat dibangun piramid di Mesir untuk menghormati dewa agar tidak
terjadi bahaya banjir di sungai Nil. Pembangunan piramid itu menunjukkan bahwa pengetahuan teknik
bangunan dan matematika khususnya geometri dan aritmatika telah maju. Kurang lebih tahun 1.600
SM orang mesir telah menghitung keliling lingkaran sama dengan tiga kali garis tengahnya sedang
luas lingkaran sama dengan seperdua belas kuadrat kelilingnya.
b. Zaman Yunani Kuno
Perkembangan ilmu pengetahuan berkembang pesat sekali pada zaman Yunani, disebabkan oleh
kemampuan berpikir rasional dari bangsa Yunani. Pada tahap ini manusia tidak hanya menerima
pengetahuan sebagaimana adanya tetapi secara spekulatif mencoba mencari jawab tentang asal-usul
dan sebab-akibat dari segala sesuatu.

1.Thales (624-548 SM)
Ahli filsafat dan matematika, pelopor dari segala cabang ilmu. Ia dianggap orang pertama yang
mempertanyakan dasar dari alam dan segala isinya. Thales berpendapat bahwa pangkal segala
sesuatu adalah air: dari air asal segala sesuatu, kepada air pula ia akan kembali. Disamping itu dia
juga menyatakan bahwa bintang mengeluarkan cahaya sendiri, sedangkan bulan menerima cahaya
dari matahari.

2. Anaximenes (588-526 SM)
Berpendapat bahwa zat dasar adalah udara. Segala zat terjadi dari udara yang merapat dan
merenggang. Pendapat ini mungkin dihubungkan dengan kenyataan bahwa manusia itu tergantung
kepada pernafasan.
3. Anaximander (610-546 SM)
Berpendapat langit dengan segala isinya itu mengelilingi bumi dan sebenarnya langit yang nampak itu
hanya separohnya



4. ]Heraklitos (535-475 SM)
Menyatakan bahwa api adalah asal segala sesuatu, sebab api ini yang menggerakkan sesuatu,
menghidupkan alam semesta, yang berubah-ubah sifatnya didalam proses yang kekal. Yang kekal
hanyalah perubahan, segala sesuatu adalah mengalir.

5. Pythagoras (580-499 SM)
Mengemukakan 4 unsur dasar yaitu bumi, air, udara, dan api. Dalam bidang matematika menemukan
dalil yang terkenal yaitu bahwa kuadrat panjang sisi miring sebuah segi tiga siku-siku sama dengan
jumlah kuadrat panjang kedua sisi sikusikunya.

6. Empedokles (495-435 SM)
Menerima 4 unsur dasar menurut Pythagoras dan menyatakan bahwa sifat segala benda terjadi dari
pencampuran keempat unsur itu dalam perbandingan yang berbeda. Keempat unsur itu adalah sifat
panas, dingin, basah dan kering. Kering dan dingin membentuk bumi, panas dan kering unsur
pembentuk api. Air dari basah dan dingin, udara dari basah dan panas. Selain itu juga dinyatakan
bahwa segala benda yang sejenis akan tarik menarik, sedang yang berlawanan akan tolak menolak.

7. Leukippos dan Demokritos (460-370 SM)
Dalam mencari unsur dasar dari segala sesuatu Leukippos & Demokritos mengemukakan
teori atom sebagai berikut : Zat memiliki bangun butir. Segala zat terdiri atas atom, yang tidak dapat
dibagi, tak dapat dimusnahkan tak dapat diubah. Atom-atom dapat berbeda dalam jumlah dan susunan
atom. Semua perubahan akibat dari penggabungan dan
penguraian atom menurut hukum sebab akibat. Tidak ada masalah kebetulan dan ciptaan. Yang ada
hanyalah atom dan kehampaan

8. Plato (427-345 SM)
Menyangkal teori atom, yang menganggap bahwa kebaikan dan keindahan itu timbul dari sebab-akibat
mekanik. Plato menyatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah yang sejak semula telah ada
dalam alam pikiran atau alam ide. Apa yang nampak oleh pancaindera hanyalah bayangan belaka.
Pengalaman yang kekal dan benar adalah yang telah dibawa oleh roh dari alam yang gaib.

9. Aristoteles (384-322 SM)
Menerima 4 unsur dasar: tanah, udara, air dan api dan menambahkan unsur yang kelima
yaitu eter atau "quint essentia". Ia menganggap unsur yang satu dapat berubah menjadi unsure yang
lain, kecuali eter yang tak dapat berubah. Dari air dan tanah yang menjadi masak terjadi garam, biji
dan logam. Emas adalah logam yang tidak mengandung tanah. Logam perak, tembaga, timah putih
dan besi, pada dasarnya banyak mengandung tanah. Semua logam akan mengalami proses memasak
menjadi logam mulia, yaitu emas.
Pendapat bahwa unsur berubah menjadi unsur lain inilah yang menjadi dasar dari alkimia untuk
mengubah logam biasa menjadi emas.
Pendapat Aristoteles yang lain adalah bahwa untuk mencari pengetahuan yang benar adalah dengan
jalan pikiran secara deduktif. Berbeda dengan Plato, Aristoteles menyangkal bahwa pengetahuan
yang benar itu berasal dari dunia yang gaib. Melainkan menghargai pengetahuan yang diperoleh dan
dibuktikan dengan pancaindera.

10. Ptolomeus (127-151)
Berpendapat bahwa bumi sebagai pusat jagat raya, bintang dan matahari mengelilingi bumi
(geosentrisme). Planet beredar melalui orbitnya sendiri dan terletak antara bumi dan bintang. Karya
Ptolomeus ditulis sekitar tahun 150 dan diberi nama Syntaxis, yang kemudian oleh bangsa Arab
dinamakan Almagest yang menjadi ensiklopedia dalam ilmu perbintangan.
Pendapat dan pandangan dari Aristoteles serta Ptolomeus berpengaruh sangat lama sampai dengan
menjelang zaman modern, yaitu sampai zaman Galileo, Geosentrisme diganti dengan heliosentris
(matahari sebagai pusat jagat raya).

c. Zaman Pertengahan

Zaman Alkimia (abad 1-2)
Ahli alkimia menerima pendapat empat buah unsur dan bahkan menambahkan tiga lagi, yaitu: air
raksa, belerang dan garam. Disini pengertian usur lebih dimaksudkan sebagai sifatnya daripada unsur
itu
sendiri.
Air raksa = logam yang mudah menjadi uap.
Belerang = mudah terbakar dan memberi warna.
Garam = tak dapat terbakar dan bersifat tanah.

Zaman Latrokimia (latros = Tabib)

Beberapa cendekiawan Islam diantaranya :
Al Khowarisni (825)
Menyusun buku Aljabar dan Artimatika yang kemudian mendorong
penggunaan sistim desimal. Menurut catatan sejarah karya Al Khowarisni merupakan pengembangan
dari karya bangsa Hindu yang bernama Aryabhata (476) dan Brahmagupta (628). Kemudian Omar
Khayam (1043-1132) ahli matematika dan
astronomi; Abu Ibnusina (atau Avicenna, 980- 1137) menulis buku tentang kedokteran.

Secara garis besar sumbangan bangsa Arab dalam pengembangan pengetahuan alam adalah:
1). Menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani, mengembangkannya dan kemudian menyebarkan ke
Eropa dan selanjutnya dikembangkan di Eropa.
2). Mengembangkan metode eksperimen sehingga memperluas pengamatan dalam lapangan
kedokteran, obat-obatan, astronomi, kimia dan biologi.
3). Memantapkan penggunaan sistim penulisan bilangan dengan dasar sepuluh dan ditulis dengan
posisi letak, artinya nilai suatu angka terletak pada letaknya.
Contoh :
Bilangan 2132 = paling depan berarti dua ribuan, berturut-turut kebelakang, satu ratusan, tiga puluhan
dan dua satuan. Cabang matematika elementer yaitu aljabar diawali dan dikembangkan bangsa Arab.


d. Zaman Modern, Timbulnya Ilmu Pengetahuan Alam

Pengetahuan yang terkumpul sejak zaman Yunani sampai abad pertengahan sudah banyak tetapi
belum sistimatis dan belum dianalisis menurut jalan pikiran tertentu. Biasanya pemikiran diwarnai cara
berpikir filsafat, agama atau bahkan mistik. Setelah alat sempurna dikembangkan metode eksperimen.
Roger Bacon (1214-1294)
Menyatakan bahwa pada hakekatnya ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang berdasarkan kepada
kenyataan yang disusun dan dibentuk dari pengalamnan, penyelidikan dan percobaan. Matematika
merupakan dasar untuk berpikir dan merupakan kunci untuk mencari kebenaran dalam ilmu
pengetahuan.

Leonardo da Vinci (1452-1519)
Pernah menyatakan bahwa: Percobaan tidak mungkin sesat, yang tersesat adalah pandangan dan
pertimbangan kita.




Francis Bacon (1561-1626)
Berpendapat bahwa cara berfikir induktif merupakan satu-satunya jalan untuk mencapai kebenaran.
Hanya percobaan dan penyelidikan yang menumbuhkan pengertian terhadap keadaan alam.
Mulai saat itu kegiatan eksperimen ditingkatkansehingga cara memperoleh pengetahuan dilakukan
dengan langkahlangkah:
1). Observasi dan pengumpulan data
2). Menyusun model atau ramalan generalisasi
3). Melakukan eksperimen untuk menguji ramalan atau generalisasi
sehingga diperoleh kesimpulan atau hukum yang lebih mantap.

Nicolas Copernicus (1473-1543)
Ahli astronomi, matematika dan pengobatan.
Karyanya al:
1). Matahari adalah pusat dari sitim tatasurya (heliosentrisme)
2). Bumi mengelilingi matahari sedangkan bulan mengelilingi bumi.

Johannes Keppler (1571-1630)
1). Orbit dari semua planet berbentuk elips.
2). Dalam waktu yang sama, maka garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintas
bidang yang luasnya sama
3). Pangkat dua dari waktu yang dibutuhkan sebuah planet untuk mengelilingi matahari adalah
sebanding dengan pangkat tiga dari jarak rata-rata planet itu dengan matahari.

Galileo Galilei (1546-1642)
Antara lain menemukan 4 hukum gerak, penemuan tata bulan planet Jupiter, mendukung
heliosentrisme dari Copernicus dan hukum Keppler. Ia juga menyatakan bahwa bulan tidak datar,
penuh dengan gunung, planet Mercurius dan Venus tidak memancarkan cahaya sendiri dan juga
menemukan 4 buah bulan pada planet Jupiter. Penemuannya ini didasarkan atas pengamatan dengan
alat teropong bintangnya.

Perkembangan IPA sangat pesat setelah dikenalkannya konsep fisika kuantum dan relativitas pada
abad 20. Konsep yang modern ini mempengaruhi konsep IPA secara keseluruhan dan menyebabkan
adanya revisi serta penyesuaian-penyesuaian konsep ke arah yang modern. Dengan demikian,
terdapat dua konsep IPA yang berkembang, yakni IPA Klasik dan IPA Modern.

2. IPA KLASIK DAN IPA MODERN.

a. Pengertian IPA Klasik
IPA klasik merupakan suatu proses IPA di mana teori dan eksperimen memiliki peran saling
melengkapi dan memperkuat. IPA klasik memiliki kajian yang bersifat makroskopik, yakni mengacu
pada hal-hal yang berskala besar dan kaidah pengkajiannya menggunakan cara tradisional. Di
samping kajian yang bersifat makrokopis, ciri lain IPA klasik adalah lebih mendahulukan eksperimen
dari pada teori.
b. Pengertian IPA Modern
IPA modern adalah suatu proses IPA di mana penekanan terhadap teori lebih banyak dari pada
praktek. IPA modern memiliki telaahan yang bersifat mikroskopik, yakni sesuatu yang bersifat detail
dan berskala kecil. Selain itu, IPA modern menerapkan teori eksperimen, di mana ia menggunakan
teori yang telah ada untuk eksperimen selanjutnya.

Berdasarkan pengertian IPA Klasik dan IPA Modern yang dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa
penggolongan IPA menjadi IPA Klasik dan IPA Modern didasarkan pada konsepsi, yang meliputi cara
berfikir, cara memandang, dan cara menganalisis suatu gejala alam.Namun pada IPA Klasik, suatu
pengetahuan didapatkan dari awal, yakni didasarkan dari hasil eksperimen yang dilakukan dan kajian
pada IPA Klasik lebih dangkal karena terbatas pada media atau alat bantu penelitian. Sedangkan pada
IPA Modern, suatu pengetahuan diperoleh melalui eksperimen yang dilakukan dengan berkiblat pada
teori yang telah ada dan dengan bantuan teknologi yang lebih canggih dan maju, maka kajian dari IPA
Modern lebih mendetail. Sehingga diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu
fenomena alam. Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa IPA Modern merupakan pengembangan
dari IPA Klasik.

Abad 15 16 19 20



-Pseudo -Awal IPA -revolusi industri -IPA Modern
science sekarang -penemuan mesin -alat riset canggih
-Mitos -Heliosentris modern: mesin uap -telaah mikroskopik
-logika -Liberalisme kertas, cetak, dll -penemuan anomali
-Penemuan alat -penemuan alat teori sebelumnya
bantu lebih baik -konsep baru

sifat: -mikroskopis
-analisis tinggi
-abstraksi dalam

Diagram Periode Pengembangan IPA



BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan kumpulan pengetahuan tersusun secara sistematis yang
didasarkan pada penyelidikan dan interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa atau gejala alam melalui
metode dan sikap ilmiah. Ilmu ini terus berkembang, bertambah luas, dan mendalam sesuai dengan
hasil-hasil penemuan dan penyelidikan baru, menyebabkan timbulnya cabang-cabang ilmu yang
dikenal sebagai: Fisika, Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA).
Dalam perkembangannya, ternyata banyak proses yang penjelasannya memerlukan bantuan dari dua
atau lebih cabang ilmu yang merupakan kombinasi dari cabang-cabang yang telah ada, seperti Kimia
Fisika, Biokimia, Biofisika, dan Geofisika. Pembagian IPA dalam berbagai cabang tersebut sebenarnya
untuk lebih mempermudah mempelajari alam seisinya dari sudut pandang tertentu.
Beberapa binatang sudah mempunyai otak, sehingga mempunyai daya pikir namun
terbatas pada insting (naluri) dan upaya mempertahankan diri serta turunannya. Insting tersebut
terutama ditujukan untuk kelangsungan hidupnya seperti memperoleh makanan, perlindungan diri
dan perkembangbiakan. Dan tidak berubah dari masa ke masa dan dinyatakan sebagai idle curiousity.
Sedangkan manusia di samping mempunyai naluri dan nurani, manusia juga memiliki nalari . Ia
kemampuan otaknya untuk melakukan penalaran, pemikiran logis dan analisis. Berlandaskan
kemampuan tersebut maka pengetahuan yang diperoleh saat ini merupakan dasar dari munculnya
rasa ingin tahu manusia tersebut selalu berkembang (curiousity). Dengan nurani, manusia selalu ingin
berbuat baik untuk dirinya dan lingkungannya.
Secara sederhana perkembangan rasa ingin tahu dimulai dengan pertanyaan apa ,bagaimana,
mengapa.



B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah :
a. Bagaimana Perkembangan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Alam ?
b. Bagaimana Pengaruh Ilmu Pengetahuan Alam?
c. Bagaimana Peranan Ilmu Pengetahuan Alam?




C. Tujuan
a. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa dan masyarakat
dalam mengikuti perkembangan dan pengembangn ilmu pengetahuan alam yang berkaitan dengan
materi yang dikaji dalam Ilmu Alamiah Dasar.
b. Mengetahui Pengaruh Ilmu Pengetahuan Alam
c. Mengetahui Peranan Ilmu Pengetahuan Alam

2). DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen IAD. 2004. Ilmu Alamiah Dasar (IAD). Makassar: Universitas Negeri Makassar.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu pengetahuan alam adalah ilmu yang mempelajari tentang pengungkapan rahasia dan
gejala alam, meliputi asal usul alam semesta dengan segala isinya, termasuk proses,
mekanisme, sifat benda maupun peristiwa yang terjadi. Manusia memilki rasa ingin tahu
terhadap alam hingga menyebabkan diperolehnya pengetahuan dari alam semesta ini.
Pengetahuan dari alam semesta inilah yang nantinya akan berkembang dan menjadi dasar
ilmu pengetahuan alam. Dengan pengetahuan tersebut, informasi akan terus bertambah dan
berkembang dari masa ke masa, serta berkembang sesuai zamannya, sejalan dengan cara
berfikir dan alat bantu yang ada pada saat itu. Oleh karena itu, pengetahuan alam sangat
penting dalam kehidupan dan perkembangan zaman.
Sejalan dengan cara berfikir dan sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang
sudah diketahuinya, menjadikan ilmu pengetahuan menjadi siklus yang akan terus
berkembang. Munculnya istilah metode ilmiah tidak lepas dari hal di atas. Dalam hal ini,
metode ilmiah merupakan jembatan untuk berkembangnya ilmu pengetahuan alam. Betapa
pentingnya ilmu pengetahuan alam dengan bantuan metode ilmiahnya menjadikan berbagai
negara dan elemen-elemen di dalamnya berlomba lomba untuk menjadi lebih baik lagi.
Karena berbeda zaman akan berbeda pula pengetahuan yang di dapat serta bertambah pula
pengetahuan yang ada. Ilmu pengetahuan alam sangat berpengaruh pada segala aspek dan
segala bidang. Metode ilmiah menjadi suatu yang penting yang di dalamnya terdapat langkah
langkah operasional yang mendukung terciptanya pengetahuan.
Di era globalisasi saat ini sangat dituntut untuk penemuan hal-hal yang yang baru,
pengetahuan yang baru agar bisa bersaing dan bisa mengimbangi perkembangan yang ada.
Dengan metode ilmiah IPA klasik tercipta banyak sekali ilmu pengetahuan yang menjadi
dasar untuk metode ilmiah IPA modern yang nantinya akan menemukan pengaetahuan-
pengetahuan yang baru dengan alat bantu dan cara berfikir yang lebih dari IPA klasik.
B. Tujuan
Tujuan kami dalam membuat makalah ini adalah :
a. Sebagai calon konselor kita tidak hanya diperhadapkan dengan pelajaran-pelajaran sosial
namun hakekat kita sebagai manusia yang tinggal di alam maka sudah seharusnya
mempelajari fenomena-fenomena alam.
b. Sebagai calon ilmuwan konselor juga termasuk ilmuwan harus melalui prosedur-prosedur
kerja ilmiah sehingga kita harus mempelajarinya.
Pengetahuan menjadi displin ilmu seperti yang dapat kita lihat sebagai berikut

Ilmu Pengetahuan Alam Ilmu Sosial dan
Budaya Sains Fisik Sains Hayati (Biologi)
Fisika
Kimia
Astronomi
Geologi
Mineralogi
Geografi
Geofisika
Meteorologi
Oseanologi
Dll
Botani
Zoologi
Mikrobiologi
Kesehatan
Palaentologi
Fisiologi
Taksonomi
Dll
Bahasa
Sosiologi
Pendidikan
Sejarah
Antropologi
Etnologi
Seni dan Budaya
Psikologi
Ekonomi
Dll
Didukung oleh Matematika/Statistika dan Informatika

Gb. 2. Perkembangan IP Menjadi Berbagai Disiplin Ilmu




Sumi Hudiyono Pws, Makalah Ilmu Alamiah Dasar, departemen kimia FMIPA UniversitasIndonesia,
Depok, 2009,hal.5. 8
b.Multidisiplin dan interdisplin ilmu
Multidisiplin ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang mencakup pembahasannya menggunakan nya
lebih dari satu kelompok disiplin ilmu misalnya kelompok IPA dan IPS contoh ilmu multidisiplin yang
paling popular adalah imu lingkungan interdisiplin ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang mencakup
pembahasannya menggunakan satu kelompok disiplin ilmu saja. Contohnya adalah ilmu komputer
dikembangkan dari disiplin IPA.
Perkembangan interdisiplin IPA pun cukup banyak dan berkembang dengan sangat pesat sebagai
contoh adalah bioteknologi,teknologi informasi dan ilmu material.Ilmu yang dikembangkan
berdasarkan interdisiplin ilmu tetapi karma dampak sosialnya juga perlu diperhitungkan, sehingga
pembahasannya berubah menjadi multidisiplin ilmu.sebagai contoh perlunya etika pada penelitian
bioteknologi terutama yang menyangkut manusia(cloning),dampak teknologi
informasi(internet,multimedia) terhadap perkembangan anak serta dampak material baru (sebagai
contoh plastic,pestisida )terhadap lingkungan
Beberapa contoh pembentukan ilmu interdisiplin yang berakar dari ilmu kimia, fisika,dan biologi,dan
didukung pengembangannya oleh ilmu matematika, statistika dan informasi.
F.Peranan Matematika dalam IPA
Menurut sejarah, kemampuan manusia untuk dapat berhitung sama tuanya dengan kemampua
manusia untuk dapat menulis, yaitu sekitar 100 abad yang lalu. Pada awalnya manusia menggunakan
kemampuan berhitungnya untuk mengetahui berapa jumlah barang-barang milik mereka. Misalnya
untuk mengitung jumlah ternak yang mereka miliki, mereka mewakilkan sebuah batu untuk setiap
ternak mereka masuk ke kandang. Dengan demikian mereka dapat mengetahui jumlah ternak
mereka, yaitu sama dengan jumlah batu yang mereka dapat.
Dengan memiliki kemampuan untuk berhitung ini mereka dapat mengetahui apakah ternak mereka
masih utuh atau tidak. Begitu pula dalam hal-hal lain dalam kehidupan sehari-hari.
Dari keadaan tersebut dapat kita ketahui bahwa manusia tidak pernah lepas dari matenatika, bahkan
pada masa primitive sekalipun. Seiring dengan perkembangannya matematika selalu mendampingi
ilmu-ilmu lain, tidak terkecuali ilmu pengetahuan alam. Matematika adalah ilmu pendukung IPA
sebagai dasar perhitungan dan logika.
Dalam perkembangannya IPA tidak pernah lepas dari matematika, bahkan IPA tidak akan bisa
berkembang tannpa adanya matematika. Tanpa matematika manusia tidak dapat mengetahui jarak
bumi ke bulan, manusia tidak dapat mengetahui jarak bumi ke matahari, dan berapa keliling bumi.
Berkat bantuan matematikalah Erathotenes (240 SM) dapat mengetahui berapa keliling dan diameter
bumi. Pada tanggal 21 Juni di Syene (Mesir) pada tengah hari matahari berada tepat di atas kepala.
Saat yang mana di kota Alexandria yang jauhnya 500 Mil tepat berada disebelah utara Syene matahari
jatuh dnegan membentuk 7,4o. Ini dapat diukur melalui bayang-bayang sebuah tongkat. Dengan
asumsi bahwa bumi ini bulat maka keliling bumi atau besarnya bumi dapat dihitung secara
matematika. Dengan demikian Erathotenes dapat menghitung bahwa jari-jari bumi adalah sekitar
24.000 Mil dan diameter bumi sekitar 8.000 Mil.
Hipparchus (150 SM) dapat menghitung jarak bumi ke bulan. Perhitungannya diilhami oleh ajaran
Aristoteles yang menyatakan bahwa bulan terletak di anatar bumi dan matahari, juga diilhami oleh
gerhana bulan dimana bayang-bayang bumi pada bulan dipergunakan untuk memperkirakan
besarnya bumi. Ia berkesimpulan bahwa jarak bumi ke bulan adalah sekitar 24.000 Mil.
Aristarchus juga secara matematika mencoba menghitung jarak bumi ke matahari. Namun karena
kesalahan instrumen ia berkesimpulan bahwa jarak bumi ke matahari itu adalah 20 kali jarak bumi ke
bulan, padahal jarak yang benar adalah 400 kali.
Selain itu masih ada banyak sekali ahli-ahli matematika yang berjasa dalam IPA, beberapa diantaranya
adalah:
1. Phytagoras, ia mengadakan perhitungan pada benda-benda segibanyak.
2. Apollonius melakukan perhitungan terahdap benda-benda bergaris lengkung.
3. Kepler (1609) berjasa dalam perhitungan peredaran berbentuk elips dari planet-planet.
4. Huygnes (1695) dapat memecahkan teka-teki adanya cincin saturnus, perhitungan tentang
kecepatan cahaya , yaitu 600.000 kali kecepatan suara ( pada masa itu orang beranggapan bahwa
cahaya tak membutuhkan waktu untuk memancar).
5. Galileo (1642) berjasa dalam menetapkan hukum lintasan peluru, gerak, dan percepatan.
Pada masa sekarang tentunya matematika pun akan semakin berguna di bidang-bidang lain. Pada
zaman modern seperti saat ini, dalam pembuatan mesin-mesin, jembatan, bendungan, dan bahkan
perjalanan ke luar angkas pun tidak mungkin terlepas dari peranan matematika, termasuk ilmu
pengetahuan alam yang akan selalu membutuhkan matematika di dalam perkembanganya.
Jadi, Matematika dalam Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) memiliki peran dan hubungan erat baik dalam
hal bahasa maupun hitungan dan sebagainya. Matematika menjadi dasar perhitungan dan logika
untuk mempelajari ilmu-ilmu lain. Sebagaimana yang telah kita dengar bahwa memang Ilmu
Matematika adalah gudanganya ilmu dari semua bidang ilmu yang ada.
G.Disiplin dan Multi Disiplin IPA
Multidisiplin dan Interdisiplin Ilmu
Multidisiplin ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang cakupan pembahasannya menggunakan lebih
dari satu kelompok disiplin ilmu, misal kelompok IPA dan IPS. Contoh multidisiplin ilmu adalah
lingkungan, yang dapat mengolaborasikan ilmu IPA dan IPS.
Sedangkan Interdisiplin ilmu merupakan ilmu pengetahuan yang cakupan pembahasannya
menggunakan satu kelompok disiplin ilmu saja. Contoh interdisiplin ilmu adalah ilmu computer yang
dikembangkan dari disiplin IPA.
Perkembangan interdisiplin IPA pun cukup banyak dan berkembang sangat pesat. Sehingga
perkembangan tersebut sangat mempengaruhi pola pandang dan kehidupan sosial saat ini. Oleh
karena itu, suatu ilmu yang dikembangkan berdasarkan interdisiplin ilmu tetapi karena dampak sosial
perlu diperhitungkan, sehingga pembahasannya berubah menjadi multidisiplin ilmu.

Anda mungkin juga menyukai