Anda di halaman 1dari 29

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

1. Anatomi dan fisiologi, histologi laring?


ANATOMI
ANATOMI
Laring berada di depan dan sejajar dengan vetebre cervical 4 sampai 6, bagian
atasnya yang aka melanjutkan ke faring berbentuk seperti bentuk limas segitiga dan
bagian bawahnya yg akan melanjutkan ke trakea berbentuk seperti sirkular.
Laring dibentuk oleh sebuah tulang yaitu tulang hioid di bagian atas dan
beberapa tulang rawan. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan
atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan tengkorak oleh tendon dan otot-
otot. Saat menelan, konstraksi otot-otot (M.sternohioid dan M.Tirohioid) ini akan
menyebabkan laringtertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot ini
bekerja untuk membantu menggerakan lidah.
Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago tiroid, krikoid, aritenoid,
kornikulata, kuneiform, dan epiglotis.Kartilago tiroid,merupakan tulang rawan laring
yang terbesar, terdiri dari dua laminayang bersatu di bagian depan dan mengembang
ke arah belakang. Tulang rawan iniberbentuk seperti kapal, bagian depannya
mengalami penonjolan membentuk adams apple dan di dalam tulang rawan ini
terdapat pita suara, dihubungkan dengan kartilago krikoid oleh ligamentum
krikotiroid.
Kartilago krikoid terbentuk dari kartilago hialin yang berada tepat dibawah
kartilago tiroid berbentuk seperti cincin signet, pada orang dewasa kartilago krikoid
terletak setinggi dengan vetebra C6 sampai C7 dan pada anak-anak setinggi vetebra
C3 sampai C4.Kartilago aritenoid mempunyai ukuran yang lebih kecil, bertanggung
jawab untuk membuka dan menutup laring, berbentuk seperti piramid, terdapat 2 buah
(sepasang) yang terletak dekat permukaan belakang laring dan membentuk sendi
dengan kartilago krikoid, sendi ini disebut artikulasi krikoaritenoid
Sepasang kartilago kornikulata atau bisa disebut kartilago santorini melekat
pada kartilago aritenoid di daerah apeks dan berada di dalam lipatan
ariepiglotik.Sepasang kartilago kuneiformis atau bisa disebut kartilago wrisberg
terdapat di dalam lipatan ariepiglotik , kartilago kornikulata dan kuneiformis berperan
dalam rigiditas dari lipatan ariepiglotik. Sedangkan kartilago tritisea terletak di dalam
ligamentum hiotiroid lateral.


ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

Gambar anatomi laring
Epiglotis merupakan Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas
dibelakang dasar lidah.Epiglottis ini melekat pada bagian belakang kartilago
thyroidea.Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis
menujucartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk laring.
Membrana mukosa di Laring sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius,
terdiridari sel-sel silinder yang bersilia. Plica vocalis dilapisi oleh epitel skuamosa.
Plica vocalis adalah dua lembar membrana mukosa tipis yang terletak di atas
ligamenturn vocale, dua pita fibrosa yang teregang di antara bagian dalam kartilago
thyroidea di bagian depan dan cartilago arytenoidea di bagian belakang.Plica vocalis
palsu adalah dua lipatan membrana mukosa tepat di atas plica vocalissejati. Bagian ini
tidak terlibat dalam produksi suara.





ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Gambar pita suara
Pada laring terdapat 2 buah sendi, yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi
krikoaritenoid.Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum
seratokrikoid (anterior, lateral, dan posterior ), ligamentum krikotiroid medial,
ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringeal, ligamentum
hiotoroid lateral, ligamentum hiotiroid media, ligamentum hioepiglotica, ligamentum
ventricularis , ligamentum vocale yang menghubungkan kartilagoaritenoid dengan
kartilago tiroid dan ligamentum tiroepiglotica.
Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan otot-otot
instrinsik, otot-otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan,
sedangkan otot-otot instrinsik menyebabkan gerakan bagian-bagian laring
sendiri.Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak diatas tulanghyoid (suprahioid),
dan ada yang terletak dibawah tulang hyoid (infrahioid). Otot ekstrinsik yang supra
hyoid ialah M. Digastricus, M.Geniohioid, M.Stylohioid, dan M.Milohioid. Otot yang
infrahioid ialahM.sternohioid dan M.Tirohioid.Otot-otot ekstrinsik laring yang
suprahioid berfungsi menarik laring kebawah, sedangkan yang infrahioid menarik
laring keatas.Otot-otot intrinsik laring ialah M. Krikoaritenoid lateral.
M.Tiroepiglotica, M.vocalis,M. Tiroaritenoid, M.Ariepiglotica, dan M.Krikotiroid.
Otot-otot ini terletak di bagian lateral laring.Otot-otot intrinsik laring yang terletak di
bagian posterior, ialah M.aritenoid transversum, M.Ariteniod obliq dan
M.Krioaritenoid posterior.


ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL


Gambar otot pada laring




ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

Rongga laring.
Batas atas rongga laring (cavum laryngis) ialah aditus laring, batas bawahnya
ialah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah
permukaan belakang epiglottis, tuberkulum epiglotic, ligamentum tiroepiglotic, sudut
antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas
lateralnya ialah membran kuadranagularis, kartilago aritenoid, konus elasticus, dan
arkus kartilago krikoid, sedangkan batas belakangnya ialah M.aritenoid transverses
dan lamina kartilago krikoid.
Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vocale dan ligamentum
ventrikulare, maka terbentuklah plika vocalis (pita suara asli) dan plica ventrikularis
(pita suara palsu).
Bidang antara plica vocalis kiri dan kanan, disebut rima glottis, sedangkan antara
kedua plica ventrikularis disebut rima vestibuli.
Plica vocalis dan plica ventrikularis membagi rongga laring dalam tiga bagian,
yaitu vestibulum laring , glotic dan subglotic.
Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat diatas plica ventrikularis.
Daerah ini disebut supraglotic.Antara plica vocalis dan pita ventrikularis, pada tiap
sisinya disebut ventriculus laring morgagni.
Rima glottis terdiri dari dua bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian
interkartilago. Bagian intermembran ialah ruang antara kedua plica vocalis, dan
terletak dibagian anterior, sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua
puncak kartilago aritenoid, dan terletak di bagian posterioir.Daerah subglotic adalah
rongga laring yang terletak di bawah pita suara (plicavocalis).

Persyarafan
Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringeus superior
dan laringeus inferior (recurrent). Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik
dan sensorik. Nervus laryngeus superior mempersarafi m.krikotiroid, sehingga
memberikan sensasi pada mukosa laring dibawah pita suara. Saraf ini mula-mula
terletak diatas m.konstriktor faring medial, disebelah medial a.karotis interna,
kemudian menuju ke kornu mayor tulang hyoid dan setelah menerima hubungan

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
dengan ganglion servikal superior, membagi diri dalam 2 cabang, yaitu ramus
eksternus dan ramus internus.
Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m.konstriktor faring inferior
dan menuju ke m.krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup oleh m.tirohioid
terletak disebelah medial a.tiroid superior, menembus membran hiotiroid, dan
bersama-sama dengan a.laringeus superior menuju ke mukosa laring.
Nervus laringeusinferior merupakan lanjutan dari n.rekuren setelah saraf itu
memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan
lanjutan dari n.vagus.
Nervus rekuren kanan akan menyilang a.subklavia kanan dibawahnya,
sedangkan n.rekuren kiri akan menyilang aorta. Nervus laringis inferior berjalan
diantara cabang-cabang arteri tiroid inferior, dan melalui permukaan mediodorsal
kelenjar tiroid akan sampai pada permukaan medial m.krikofaring. Disebelah
posterior dari sendi krikoaritenoid, saraf ini bercabang dua menjadi ramus anterior
dan ramus posterior, Ramus anterior akan mempersarafi otot-otot intrinsik laring
bagian lateral, sedangkan ramus posterior mempersyarafi otot-otot intrinsik laring
superior dan mengadakan anstomosis dengan n.laringitis superior ramus internus.


Gambar persarafan laring
Pendarahan.
Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang yaitu a.laringitis superior dan
a.laringitis inferior.
Arteri laryngeus superior merupakan cabang dari a.tiroid superior. Arteri
laryngitis superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membran
tirohioid bersama-sama dengan cabang internus dari n.laringis superior kemudian
menembus membran ini untuk berjalan kebawah di submokosa dari dinding lateral
dan lantai dari sinus piriformis, untuk memperdarahi mukosa dan otot-otot laring.
Arteri laringeus interior merupakan cabang dari a.tiriod inferior dan bersama-
sama dengan n.laringis inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring
melalui daerah pinggir bawah dari m.konstriktor faring inferior. Di dalam arteri itu
bercabang-cabang memperdarahi mukosa dan otot serta beranastomosis dengan
a.laringis superior.

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Pada daerah setinggi membran krikotiroid a.tiroid superior juga memberikan
cabang yang berjalan mendatar sepanjang membrane itu sampai mendekati tiroid.
Kadang-kadang arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui membran
krikotiroid untuk mengadakan anastomosis dengan a.laringeus superior.
Vena laringeus superior dan vena laringeus inferior letaknya sejajar dengan
a.laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior
dan inferior.
Pembuluh Limfe
Pembuluh limfa untuk laring banyak, kecuali di daerah lipatan vocal. Disini
mukosanya tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan vocal
pembuluh limfa dibagi dalam golongan superior dan inferior.
Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat lantai sinus piriformis
dan a.laringeus superior, kemudian ke atas, dan bergabung dengan kelenjar dari
bagian superior rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari golongan inferior
berjalan kebawah dengan a.laringeus inferior dan bergabung dengan kelenjar servikal
dalam, dan beberapa dintaranya menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular.


FISIOLOGI
Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi
serta fonasi.
Fungsi laring untuk proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda asing
masuk kedalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima glotis secara
bersamaan. Terjadi penutupan aditus laring ialah akibat karena pengangkatan laring
ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring. Dalam hal ini kartilogo aritenoid
bergerak ke depan akibat kontraksi m.tiro-aritenoid dan m.aritenoid. Selanjutnya
m.ariepiglotika berfungsi sebagai sfingter.
Penutupan rima glotis terjadi karena adduksi plika vokalis. Kartilago
arritenoid kiridan kanan mendekat karena aduksi otot-otot intrinsik.
Selain itu dengan reflex batuk, benda asing yang telah masuk ke dalam trakea
dapat dibatukkan ke luar. Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret yang berasal
dari paru dapat dikeluarkan.

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Fungsi respirasi dan laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima glottis.
Bila m.krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis
kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glottis terbuka.
Dengan terjadinya perubahan tekanan udara di dalam traktus trakeo-bronkial
akan dapat mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga mempengaruhi
sirkulasi darah tubuh. Dengan demikian laring berfungsi juga sebagai alat pengatur
sirkulasi darah.
Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan 3 mekanisme,
yaitu gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laring dan mendorong
bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk kedalam laring.
Laring juga mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi seperti berteriak,
mengeluh, menangis dan lain-lain.
Fungsi laring yang lain ialah untuk fonasi, dengan membuat suara serta
menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan
plica vokalis. Bila plica vokalis dalam aduksi, maka m.krikotiroid akan merotasikan
kartilago tiroid kebawah dan kedepan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang
bersamaan m.krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid
ke belakang. Plika vokalis kini dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi.
Sebaliknya kontraksi m. Krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan,
sehingga plika vokalis akan mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika vokalis
akan menentukan tinggi rendahnya nada.

Fungsi Fonasi.
Pembentukan suara merupakan fungsi laring yang paling kompleks. Suara
dibentuk karena adanya aliran udara respirasi yang konstan dan adanya interaksi
antara udara dan pita suara. Nada suara dari laring diperkuat oleh adanya tekanan
udara pernafasan subglotik dan vibrasi laring serta adanya ruangan resonansi seperti
rongga mulut, udara dalam paru-paru, trakea, faring, dan hidung. Nada dasar yang
dihasilkan dapat dimodifikasi dengan berbagai cara. Otot intrinsic laring berperan
penting dalam penyesuaian tinggi nada dengan mengubah bentuk dan massa ujung-
ujung bebas dan tegangan pita suara sejati. Ada 2 teori yang mengemukakan
bagaimana suara terbentuk :
Teori Myoelastik Aerodinamik.
Selama ekspirasi aliran udara melewati ruang glotis dan secara tidak langsung
menggetarkan plika vokalis. Akibat kejadian tersebut, otot-otot laring akan
memposisikan plika vokalis (adduksi, dalam berbagai variasi) dan menegangkan plika
vokalis. Selanjutnya, kerja dari otot-otot pernafasan dan tekanan pasif dari proses
pernafasan akan menyebabkan tekanan udara ruang subglotis meningkat, dan
mencapai puncaknya melebihi kekuatan otot sehingga celah glotis terbuka. Plika
vokalis akan membuka dengan arah dari posterior ke anterior. Secara otomatis bagian
posterior dari ruang glotis yang pertama kali membuka dan yang pertama kali pula
kontak kembali pada akhir siklus getaran. Setelah terjadi pelepasan udara, tekanan
udara ruang subglotis akan berkurang dan plika vokalis akan kembali ke posisi saling
mendekat (kekuatan myoelastik plika vokalis melebihi kekuatan aerodinamik).
Kekuatan myoelastik bertambah akibat aliran udara yang melewati celah sempit
menyebabkan tekanan negatif pada dinding celah (efek Bernoulli). Plika vokalis akan
kembali ke posisi semula (adduksi) sampai tekanan udara ruang subglotis meningkat
dan proses seperti di atas akan terulang kembali.
Teori Neuromuskular.

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Teori ini sampai sekarang belum terbukti, diperkirakan bahwa awal dari getaran plika
vokalis adalah saat adanya impuls dari sistem saraf pusat melalui N. Vagus, untuk
mengaktifkan otot-otot laring. Menurut teori ini jumlah impuls yang dikirimkan ke
laring mencerminkan banyaknya / frekuensi getaran plika vokalis. Analisis secara
fisiologi dan audiometri menunjukkan bahwa teori ini tidaklah benar (suara masih
bisa diproduksi pada pasien dengan paralisis plika vokalis bilateral).

HISTOLOGI
Histologi laring normal Mukosa laring dibentuk oleh epitel berlapis silindris
semu bersilia kecuali pada daerah pita suara yang terdiri dari epitel berlapis gepeng
tak bertanduk. Diantara sel-sel bersilia terdapat sel goblet. Membrana basalis bersifat
elastis, makin menebal di daerah pita suara. Pada daerah pita suara sejati, serabut
elastisnya semakin menebal membentuk ligamentum tiroaritenoidea. Mukosa laring
dihubungkan dengan jaringan dibawahnya olehjaringan ikat longgar sebagai lapisan
submukosa. Kartilago kornikulata, kuneiforme dan epiglotis merupakan kartilago
hialin. Plika vokalis sendiri tidak mengandung kelenjar. Mukosa laring berwarna
merah muda sedangkan pita suara berwarna keputihan

Larynx (Frontal Section)
This image illustrates a vertical section through one half of the larynx.
The false (superior) vocal fold (9), also called vocal cord, is covered by the mucosa
that iscontinuous with the posterior surface of the epiglottis. As in the epiglottis, the
false vocal fold (9) is lined by pseudostratified ciliated columnar epithelium (7)
with goblet cells. In the lamina propria (3) are numerous and mixed seromucous
glands (8). Excretory ducts from these mixed glands (8) open onto the epithelial
surface (7). Numerous lymphatic nodules (2), blood vessels (1), and adipose cells
(1) are also located in the lamina propria (3) of the false vocal fold (9). The ventricle
(10) is a deep indentation and recess that separates the false (superior) vocal fold (9)
from the true (inferior) vocal fold (1113). The mucosa in the wall of the ventricle
(10) is similar to that of the false vocal fold (9). Lymphatic nodules (2) are more
numerous in this areaand are sometimes called the laryngeal tonsils. The lamina
propria (3) blends with the perichondrium (5) of the hyaline thyroid cartilage (4).
There is no distinct submucosa. The lower wall of the ventricle (10) makes the
transition to the true vocal fold (1113). The mucosa of the true vocal fold (1113) is
lined by nonkeratinized stratified squamous epithelium (11) and a thin, dense
lamina propria devoid of glands, lymphatic tissue, or blood vessels.
At the apex of the true vocal fold is the vocalis ligament (12) with dense elastic fibers
that extend into the adjacent lamina propria and the skeletal vocalis muscle (13). The
skeletal thyroarytenoid muscle and the thyroid cartilage (4) constitute the remaining
wall. The epithelium in the lower larynx changes to pseudostratified ciliated
columnar epithelium(15), and the lamina propria contains mixed seromucous
glands (14). The hyaline cricoids cartilage (6) is the lowermost cartilage of the
larynx.

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

2. Apa yg disebut Safety muscle?
OTOT LARING
Terdiri dari :
I. Otot Ekstrinsik :
1. Elevator (milohyoid, tirohyoid, stilohyoid, konstriktor faring)
2. Depresor (omohyoid, sternohyoid, sternotyroid)
II. Otot Instrinsik :
1. Tensor plika vokalis, krikotiroid
2. Mengendurkan plika vokalis, tiroaritenoid
3. Abduktor, krikoaritenoid posterior (safety muscle/posticus)
4. Adduktor, krikoaritenoid lateralis, interaritenoid obliq & transversal
5. Membuka aditus laring, tiroepliglotis (bag.tiroaritenoid)
6. Menutup aditus laring, ariepiglotis (bag.Tiroaritenoid obliq)
Interior Laring.
Laring dibagi menjadi Supraglotis, glotis (setinggi rima glotis) dan sub/infraglotis Plika
vokalis mempunyai kemampuan :
tensor (tegang)
aproksimasi (membuka/menutup)
vibasi (bergetar)
M. Krikoaritenoid tdk murni intrinsik, kontraksi -> tiroid turun -> plika vokalis turun.
M. Krikoaritenoid posterior disebut sbg safety muscle, tetap terbuka walau paralise.
Rima glotis dibentuk oleh :
bag.anterior oleh plika vokalis
bag. Posterior oleh kedua basis & prosesus vokalis kartilago aritenoid

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Rima glotis dibagi menjadi :
glotis vokalis, bag.anterior (>besar), merupakan bag.membran
glotis respirasi, bag.posterior, merupakan bag.interkartilago
Perbandingan keduanya 3 : 2 dewasa pria 2,5 cm : wanita 1,75 cm



ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL



3. Apa hubungan panas batuk tidak berdahak, pilek ingus kental, dgn keluhan penderita
suara serak?
Perjalanan klinis dimulai dengan berinteraksinya virus dengan tubuh. Masuknya
virus sebagai antigen ke saluran pernafasan menyebabkan silia yang terdapat pada
permukaan saluran nafas bergerak ke atas mendorong virus ke arah pharing atau
dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring. Jika refleks tersebut gagal maka
virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan.Iritasi virus pada
kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan stuktur
lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus
yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan
mukosa yang melebihi normal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut
menimbulkan gejala batuk.

Adanya infeksi virus merupakan predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri.
Akibat infeksi virus tersebut terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang
merupakan mekanisme perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri
sehingga memudahkan bakteri-bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan
atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan staphylococcus
menyerang mukosa yang rusak tersebut. Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan
sekresi mukus bertambah banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga
timbul sesak nafas dan juga menyebabkan batuk yang produktif.

Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkan pasien sebagai suara yang kasar
atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih rendah dari suara yang
biasa / normal dimana terjadi gangguan getaran serta ketegangan dalam pendekatan
kedua pita suara kiri dan kanan sehingga menimbulkan suara menjadi parau bahkan
sampai tidak bersuara sama sekali (afoni).

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

4. Apa hubungan penderita perokok sejak remaja dengan keluhan?
Asap rokok tersebut akan berpengaruh buruk dalam tubuh, di dalam saluran nafas
akan merusak epitel mucosa, gerak silia juga akan terganggu, sehingga apabila
terdapat benda asing, virus ataupun bakteri mekanisme pertahanan tubuh untuk
mengeluarkannya melalui gerak silia akan terhambat. Selain itu adanya asap rokok
akan menambah volume lendir, sehingga lendir akan mengumpul dalam saluran nafas,
yang akan memperparah gejala ISPA yang terjadi.

Dengan terganggunya gerak silia oleh asap rokok, maka ketika virus sebagai
antigen masuk ke saluran pernafasan, silia yang terdapat pada permukaan saluran
nafas yang seharusnya bergerak ke atas mendorong virus ke arah pharing atau dengan
suatu tangkapan refleks spasmus oleh laring, refleks tersebut akan gagal. Maka virus
akan semakin merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan. Iritasi
virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk kering. Kerusakan
stuktur lapisan dinding saluran pernafasan menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar
mukus yang banyak terdapat pada dinding saluran nafas, sehingga terjadi
pengeluaran cairan mukosa yang melebihi noramal. Rangsangan cairan yang
berlebihan tersebut menimbulkan gejala batuk.


5. Hubungan riwayat penyakit ayah dgn keluhan penderita?
Asap rokok dan alcohol
Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti.Dikatakan oleh para ahli
bahwa perokok dan peminum alcohol merupakan kelompok orang-orang dengan
resiko tinggi karsinoma laring. Penelitian epidemiologic menggambarkan beberapa
hal yang diduga menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat adalah rokok,
alcohol dan terpajan oleh sinar radioaktif.
Karsinogen lingkungan
Arsen (pabrik, obat serangga), asbes (lingkungan, pabrik, tambang), gas mustar
(pabrik), serbuk nikel (pabrik, lingkungan), polisiklik hidrokarbon (pabrik,
lingkungan), vinil klorida (pabrik), dan nitrosamin (makanan yang diawetkan, ikan
asin).
Infeksi laring kronis
Kuman, rangsangan terus menerus (asap) menyebabkan radang kronis mukosa laring
selanjutnya terjadi hiperplasia, hiperkeratosis, leukoplakia, eritroplakia, sel atipik dan
akhirnya menjadi sel kanker.
Human papilloma virus (HPV)
Predileksi di korda vokalis. Awalnya tumbuh jaringan berupa papil-papil (papiloma)
kemudian terjadi perubahan maligna menjadi karsinoma verukosa (verrucous
carcinoma).
Genetik
Interaksi faktor etiologi & host berbeda-beda tiap individu.Aktivasi pra karsinogen &
inaktivasi karsinogen amat bervariasi individual.

6. Kenapa suara serak?

7. Mengapa setelah minum obat panas mereda tetapi keluhan lain tetap?


ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
8. DD? Patofisiologi, fase2, penatalaksanaan

Laringitis
Definisi
Laringitis adalah suatu radang laring yang disebabkan terutama oleh virus dan dapat
pula disebabkan oleh bakteri.

Kalsifikasi Laringitis
Berdasarkan onset dan perjalanannya, laringitis dibedakan menjadi laringitis akut dan
kronis.

Laringitis Akut
Definisi
Laringitis akut adalah radang akut laring yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang
berlangsung kurang dari 3 minggu dan pada umumnya disebabkan oleh infeksi virus
influenza (tipe A dan B), parainfluenza (tipe 1,2,3), rhinovirus dan adenovirus .

Etiologi
Penyakit ini sering disebabkan oleh virus. Biasanya merupakan perluasan radang
saluran nafas bagian atas oleh karena bakteri Haemophilus Influenzae, Staphylococcus,
streptococcus, atau pneumococcus. Timbulnya penyakit ini sering dihubungkan
dengan perubahan cuaca atau suhu, gizi yang kurang/malnutrisi, imunisasi yang tidak
lengkap dan pemakaian suara yang berlebihan. Penyakit ini dapat terjadi karena
perubahan musim / cuaca
Menurut Rahul K shah etiologi dari laringitis akut adalah :
Infeksi (biasanya infeksi virus dari saluran pernafasa atas)
a. Rhinovirus
b. Parainfluenza virus
c. Respiratory syncytial virus
d. Adenovirus
e. Influenza virus
f. Measles virus
g. Mumps virus
h. Bordetella pertusis
i. Varicella-zozter virus
j. Gastroesophageal reflukx disease
k. Environmental insults (polusi)
l. Vocal trauma
m. Komsumsi alkohol berlebihan
n. Alergi
o. Penggunaan suara yang berlebihan
p. Iritasi bahan kimia atau bahan lainnya

Patofisiologi
Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri mungkin sekunder.
Laringitis biasanya disertai rinitis atau nasofaringitis. Awitan infeksi mungkin
berkaitan dengan pemajanan terhadap perubahan suhu mendadak, defisiensi diet,
malnutrisi, dan tidak ada immunitas. Laringitis umum terjadi pada musim dingin dan

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
mudah ditularkan. Ini terjadi seiring dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host
serta prevalensi virus yang meningkat. Laringitis ini biasanya di dahului oleh
faringitis dan infeksi saluran nafas bagian atas lainnya. Hal ini akan mengakibatkan
iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang kelenjar mucus untuk memproduksi
mucus secara berlebihan sehingga menyumbat saluran nafas. Kondisi tersebut akan
merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa menyebabkan iritasi pada laring. Dan
memacu terjadinya inflamasi pada laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan
nyeri akibat pengeluaran mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang
peningkatan suhu tubuh.
Gejala Klinis
1. Gejala lokal seperti suara parau dimana digambarkan pasien sebagai suara yang
kasar atau suara yang susah keluar atau suara dengan nada lebih rendah dari
suara yang biasa / normal dimana terjadi gangguan getaran serta ketegangan
dalam pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan sehingga menimbulkan suara
menjadi parau bahkan sampai tidak bersuara sama sekali (afoni).
2. Sesak nafas dan stridor.
3. Nyeri tenggorokan seperti nyeri ketika menelan atau berbicara.
4. Gejala radang umum seperti demam, malaise.
5. Batuk kering yang lama kelamaan disertai dengan dahak kental
6. Gejala commmon cold seperti bersin-bersin, nyeri tenggorok hingga sulit
menelan, sumbatan hidung (nasal congestion), nyeri kepala, batuk dan demam
dengan temperatur yang tidak mengalami peningkatan dari 38 derajat celsius.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik akan tampak mukosa laring yang hiperemis, membengkak
terutama dibagian atas dan bawah pita suara dan juga didapatkan tanda radang akut di
hidung atau sinus paranasal atau paru. Pada pemeriksaan laringoskopi indirek akan
ditemukan mukosa laring yang sangat sembab, hiperemis dan tanpa membran serta
tampak pembengkakan subglotis yaitu pembengkakan jaringan ikat pada konus
elastikus yang akan tampak dibawah pita suara.
Pemeriksaan Penunjang
Foto rontgen leher AP : bisa tampak pembengkakan jaringan subglotis (Steeple sign).
Tanda ini ditemukan pada 50% kasus.


ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

Gambar 3.3. Gambaran rontgen laringitis akut, gambaran steeple sign (panah)
Pemeriksaan laboratorium : gambaran darah dapat normal. Jika disertai infeksi
sekunder, leukosit dapat meningkat.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis Banding
1. Benda asing pada laring
2. Faringitis
3. Bronkiolitis
4. Bronkitis
5. Pnemonia

Penatalaksanaan
Umumnya penderita penyakit ini tidak perlu masuk rumah sakit, namun ada indikasi
masuk rumah sakit apabila :
Usia penderita dibawah 3 tahun
Tampak toksik, sianosis, dehidrasi atau axhausted
Diagnosis penderita masih belum jelas
Perawatan dirumah kurang memadai

Terapi:
Jika pasien sesak dapat diberikan O2 2 l/ menit
Menghirup udara lembab
Istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari. Menghindari iritasi faring dan laring,
misalnya merokok , makanan pedas, atau minum es.
Medikamentosa : Parasetamol atau ibuprofen / antipiretik jika pasien ada demam, bila
ada gejala pain killer dapat diberikan obat anti nyeri / analgetik, hidung tersumbat
dapat diberikan dekongestan nasal seperti fenilpropanolamin (PPA), efedrin,
pseudoefedrin, napasolin dapat diberikan dalam bentuk oral ataupun spray. Pemberian

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
antibiotika apabila perdangan berasal dari paru . Antibiotika golongan penisilin anak
50 mg/kg BB dibagi dalam 3 dosi, dewasa 3 x 500 mg perhari.
Menurut Reveiz L, Cardona AF, Ospina EG dari hasil penelitiannya menjelaskan dari
penggunaan penisilin V dan eritromisin pada 100 pasien didapatkan antibiotik yang
lebih baik yaitu eritromisin karena dapat mengurangi suara serak dalamsatu minggu
dan batuk yang sudah dua minggu. Kortikosteroid diberikan untuk mengatasi edema
laring.
Pengisapan lendir dari tenggorok atau laring, bila penatalaksanaan ini tidak berhasil
maka dapat dilakukan endotrakeal atau trakeostomi bila sudah terjadi obstruksi jalan
nafas.
Prognosis
Prognosis untuk penderita laringitis akut ini umumnya baik dan pemulihannya selama
satu minggu. Namun pada anak khususnya pada usia 1-3 tahun penyakit ini dapat
menyebabkan oedem laring dan oedem subglotis sehingga dapat menimbulkan
obstruksi jalan nafas dan bila hal ini terjadi dapat dilakukan pemasangan endotrakeal
atau trakeostomiaik

Laringitis Kronik
Definisi
Radang kronis laring yang disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum yang berat,
polip hidung atau bronkhitis kronis.
Etiologi
1. Penyebab dari laringitis kronik sering disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi
septum yang berat, polip hidung, bronkhitis kronik atau tuberkulosis paru.
Penyebab tersering pada orang dewasa antara lain yaitu
2. Merokok; merokok dapat mengiritasi laring, dapat menyebabkan peradangan
danpenebalan pita suara
3. Alkoholik; alcohol dapat menyebabkan iritasi kimia pada laring.
4. Gastroesophageal reflux disease (GERD)
5. Pekerjaan yang terus menerus terpapar oleh debu dan bahan kimia; banyak
pekerja-pekerja pabrik yang menderita laringitis kronik seperti pada pekerja
pabrik pupuk, pestisida.
6. Penggunaan suara yang berlebih

Kalsifikasi
Laringitis kronik dapat dibedakan menjadi laringitis kronik non spesifik dan laringitis
kronik spesifik ( laringitis tuberkulosa dan laringitis luetika)
Laringitis Kronik Spesifik
Laringitis Tuberkulosa
Definisi
Penyakit ini hampir selalu sebagai akibat tuberkulosis paru. Sering kali setelah diberi
pengobatan, tuberkulosis parunya sembuh tetapi laringitis tuberkulosis menetap. Hal
ini terjadi karena struktur mukosa laring yang sangat lekat pada cartilago serta

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
vaskularisasi yang tidak sebaik paru, sehingga bila infeksi sudah mengenai kartilago,
pengobatannya lebih lama.
Patogenesis
Infeksi kuman ke laring dapat terjadi melalui udara pernapasan, sputum yang
mengandung kuman, atau penyebaran melalui aliran darah atau limfa.
Tuberkulosis dapat menimbulkan gangguan sirkulasi. Edema dapat timbul di fossa
interaritenoid, kemudian ke aritenoid, plika vokalis, plika ventrikularis, epiglottis,
serta terakhir ialah dengan subglotik.
Gambaran Klinis
Secara klinis, Laringitis tuberkulosis terdiri dari 4 stadium
Stadium Infiltrasi :
Yang pertama-tama mengalami pembengkakan dan hiperemis ialah mukosa laring
bagian posterior. Kadang-kadang pita suara terkena juga. Pada stadium ini mukosa
laring bewarna pucat. Kemudian di daerah submukosa terbentuk tuberkel, sehingga
mukosa tidak rata, tampak bintik-bintik yang berwarna kebiruan. Tuberkel itu makin
membesar, serta beberapa tuberkel yang berdekatan bersatu sehingga mukosa di atasnya
meregang. Pada suatu saat, karena sangat meregang maka akan pecah dan timbul ulkus.
Stadium ulserasi ulkus yang timbul pada akhir stadium infiltrasi membesar. Ulkus ini
dangkal, dasarnya ditutupi oleh perkijuan, serta sangat dirasakan nyeri oleh pasien.

Stadium perikondritis
Ulkus makin dalam, sehingga mengenai kartilago laring, dan paling sering terkena
adalah kartilago aritenoid dan epiglotis. Dengan demikian terjadi kerusakan tulang
rawan sehingga terbentuk nanah yang berbau. Proses ini akan berlanjut dan terbentuk sekuester.
Pada keadaan ini keadaan umum pasien sangat buruk dan dapat meninggal dunia. Bila pasien dapat
bertahan maka proses ini berlanjut dan masuk dalam stadium terakhir yaitu stadium fibrotuberkulosis.
Stadium fibrotuberkulosis
Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan
subglotik
Gejala klinis tergantung pada stadiumnya, disamping itu terdapat gejala sebagai
berikut:
-Rasa kering, panas dan tertekan di daerah laring
-Suara parau yang berlangsung berminggu-minggu dan pada stadium lanjut dapat
timbul afoni
-Hemoptisis
-Nyeri waktu menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan nyeri karena radang
lainnya, merupakan tanda yang khas
-Tanda sistemik TB paru
-Pada pemeriksaan paru (secara klinis dan radiologik) terdapat proses aktif (biasanya
pada stadium eksudatif atau pada pembentukan kaverne)

Diagnosis
Dapat ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan klinis

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
3. Laboratorium : LED, BTA
4. Laringoskopi langsung atau tak langsung
5. Aritenoid, plica vocalis, epiglottis merah, bengkak
6. Nodul kekuningan pada interaritenoid & epiglotis
7. -Kombinasi ulserasi, edema,granulasi, pembentukan tuberkuloma
8. Foto rontgen toraks
9. Pemeriksaan patologi anatomi: biopsi

Diagnosis Banding
1. Laringitis Leutika
2. Karsinoma Laring
3. Aktinomikosis Laring
4. Lupus Vulgaris Laring
5. Penatalaksanaan
6. Obat anti tuberculosis
7. Istirahatkan suara

Tabel 3.1 OAT
Kategori Kasus Jenis Obat
1 TB paru (kasus baru), BTA
positif
BTA negatif , pada foto toraks:
lesi luas (+)
TB Ekstra pulmonal
2 RHZE / 4 RH
atau
2 RHZE /
4R3H3 atau
2 RHZE/ 6HE
2 TB paru kasus kambuh
TB Paru kasus gagal pengobatan
2RHZES / 1
RHZE / 5 RHE
2RHZES/1
RHZE/5
H3R3E3
(P2TB)
3 TB paru baru, sputum BTA
negative, rontgen positif dengan
kelainan paru tidak luas
2 RHZ / 4RH
2 RHZ / 4
R3H3
2RHZ / 6 HE
4 TB Paru kronik H seumur
hidup
Bila mampu H
lini ke 2

Prognosis
Tergantung pada keadaan social ekonomi pasien , kebiasaan hidup sehat serta
ketekunan berobat. Bila didiagnosis dapat ditegakkan

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

Laringitis Leutika
Etiologi
Treponema pallidum, bakteri yang berasal dari family spirochaetaceae
Gambaran Klinik
Dalam hubungan penyakit dilaring yang perlu dibicarakan ialah luas stadium tertier
( ketiga) yaitu pada stadium pembentukan guma. Bentuk ini kadang kadang
menyerupai keganasan laring.
Apabila guma pecah maka timbul ulkus. Ulkus ni mempunyai sifat yang khas yaitu
sangat dalam bertepi dengan dasar yg keras. Ulkus ini Tidak menyebabkan nyeri dan
menjalar dengan cepat.
Stadium Primer
Kelainan pada stadium primer terdapat pada lidah , palatum mole, tonsil dan dinding
posterior faring seperti juga penyakit luas diorgan lain. Gambaran kliniknya
tergantung pada penyakit primer, sekunder, atau tersier.
Stadium Sekunder
Jarang ditemukan . terdapat eritema pada dinding faring yang menjalar kearah laring.
Stadium Tersier
Pada stadium ini terdapat guma. Predileksinya pada tonsil dan palatum. Jarang pada
dinding posterior faring. Guma pada dinding posterior pharing dapat meluas ke
vertebra servikal dan bila pecah dapat menyebabkan kematian., bila sembuh terbentuk
jaringan parut yang dapat menimbulkan gangguan fungsi palatum secara permanen.

Gejala Klinik
Suara Parau dan batuk kronik. Disfagia timbul bila ada gumma dekat introitus
osepagus. Diagnosis ditegakkan selain pemeriksaan laringoskopik juga dengan
pemeriksaan serologik.

Pemeriksaan Diagnosis sifilis
-Pemeriksaan Treponema pallidum
-Tes Serologik Sifilis (STS)
Komplikasi
Stenosi laring karena terbentuk jaringan parut

Terapi
Pinisilin dosis tinggi
Benzatin penisilin G dengan dosis tergantung stadium
Std I dan II : 4,8 juta unit
Std laten : 7,2 juta unit
Cara : injeksi intramuskular 2,4 juta unit/ kali dengan interval 1 minggu

Pengangkatan skuester

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Bila Terdapat sumbatan laring karena stenosis dilakukan Trakeostomi
KARSINOMA LARING
Karsinoma sel skuamosa meliputi 95 98% dari semua tumor ganas laring, dengan
derajat difrensiasi yang berbeda-beda, yaitu berdiferensiasi baik, sedang dan
berdiferensiasi buruk.
3
Jenis lain yang jarang kita jumpai adalah karsinoma verukosa,
adenokarsinoma dan kondrosarkoma.
Karsinoma Verukosa.
Adalah satu tumor yang secara histologis kelihatannya jinak, akan tetapi klinis ganas.
Insidennya 1 2% dari seluruh tumor ganas laring, lebih banyak mengenai pria dari
wanita dengan perbandingan 3 : 1. Tumor tumbuh lambat tetapi dapat membesar
sehingga dapat menimbulkan kerusakan lokal yang luas.Tidak terjadi metastase
regional atau jauh.Pengobatannya dengan operasi, radioterapi tidak efektif dan
merupakan kontraindikasi.Prognosanya sangat baik.
Adenokarsinoma.
Angka insidennya 1% dari seluruh tumor ganas laring.Sering dari kelenjar mukus
supraglotis dan subglotis dan tidak pernah dari glottis.Sering bermetastase ke paru-
paru dan hepar.two years survival rate-nya sangat rendah. Terapi yang dianjurkan
adalah reseksi radikal dengan diseksi kelenjar limfe regional dan radiasi pasca
operasi.
Kondrosarkoma.
Adalah tumor ganas yang berasal dari tulang rawan krikoid 70%, tiroid 20% dan
aritenoid 10%.Sering pada laki-laki 40 60 tahun.Terapi yang dianjurkan adalah
laringektomi total.

C. EPIDEMIOLOGI

Kebanyakan (70 90 %) karsinoma laring ditemukan pada pria usia lanjut. Tipe
glotik merupakan 60 65 %, supraglotik 30 35 %, dan infraglotik hanya 5 %.
Merokok merupakan penyebab utama.
4


D. ETIOLOGI

Asap rokok dan alcohol
Etiologi karsinoma laring belum diketahui dengan pasti.Dikatakan oleh para ahli
bahwa perokok dan peminum alcohol merupakan kelompok orang-orang dengan
resiko tinggi karsinoma laring. Penelitian epidemiologic menggambarkan beberapa
hal yang diduga menyebabkan terjadinya karsinoma laring yang kuat adalah rokok,
alcohol dan terpajan oleh sinar radioaktif.
Karsinogen lingkungan
Arsen (pabrik, obat serangga), asbes (lingkungan, pabrik, tambang), gas mustar
(pabrik), serbuk nikel (pabrik, lingkungan), polisiklik hidrokarbon (pabrik,
lingkungan), vinil klorida (pabrik), dan nitrosamin (makanan yang diawetkan, ikan
asin).

Infeksi laring kronis
Kuman, rangsangan terus menerus (asap) menyebabkan radang kronis mukosa laring
selanjutnya terjadi hiperplasia, hiperkeratosis, leukoplakia, eritroplakia, sel atipik dan
akhirnya menjadi sel kanker.
Human papilloma virus (HPV)

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Predileksi di korda vokalis. Awalnya tumbuh jaringan berupa papil-papil (papiloma)
kemudian terjadi perubahan maligna menjadi karsinoma verukosa (verrucous
carcinoma).
Genetik
Interaksi faktor etiologi & host berbeda-beda tiap individu.Aktivasi pra karsinogen &
inaktivasi karsinogen amat bervariasi individual.

E. KLASIFIKASI

Klasifikasi Tumor Ganas Laring ( AJCC dan UICC 1988 ):
Tumor primer ( T )
Supraglotis
Tis : karsinoma insitu
T1 : tumor terdapat pada satu sisi suara / pita suara palsu ( gerakan masih baik ).
T2 : Tumor sudah menjalar ke 1 dan 2 sisi daerah supraglotis dan glotis masih bisa
bergerak ( tidak terfiksir ).
T3 : tumor terbatas pada laring dan sudah terfiksir atau meluas ke daerah ke krikod
bagian belakang, dinding medial dari sinus piriformis, dan kearah rongga preepiglotis.
T4 : Tumor sudah meluas keluar laring, menginfiltrasi orofaring jaringan lunak pada
leher atau sudah merusak tulang rawan tiroid.
Glotis
Tis : karsinoma insitu.
T1 : Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih
baik, atau tumor sudah terdapat pada kommisura anterior atau posterior.
T2 : Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat
bergerak atau sudah terfiksir ( impaired mobility ).
T3 : Tumor meliputi laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari
laring.
Subglotis
Tis : Karsinoma insitu.
T1 : Tumor terbatas pada daerah subglotis.
T2 : Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir.
T3 : Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.
T4 : Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring atau
dua duanya.

Penjalaran ke kelenjar limfe ( N )
Nx : Kelenjar limfe tidak teraba.
N0 : Secara klinis kelenjar tidak teraba.
N1 : Secara klinis teraba satu kelenjar limfe dengan ukuran diameter 3 cm
homolateral.
N2 : Teraba kelenjar limfe tunggal, ipsilateral dengan ukuran diameter 3-6 cm.
N2a : Satu kelenjar limfe ipsilateral, diameter lebih dari 3 cm tapi tidak lebih dari 6
cm.
N2b : Multipel kelenjar limfe ipsilateral, diameter tidak lebih dari 6 cm. 10

N2c : Metastasis bilateral atau kontralateral, diameter tidak lebih dari 6 cm.
N3 : Metastasis kelenjar limfe lebih dari 6 cm.
Metastasis jauh ( M )

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Mx : Tidak terdapat / terdeteksi.
M0 : Tidak ada metastasis jauh.
M1 : Terdapat metastasis jauh.
Staging (Stadium)
ST1 : T1 N0 M0
ST II : T2 N0 M0
ST III : T3 N0 M0 atau T1/T2/T3 N1 M0
ST IV : T4 N0/N1 M0
T1/T2/T3/T4 N2/N3
T1/T2T3/T4 N1/N2/N3 M1

F. MANIFESTASI KLINIS
1. Serak: Gejala utama Ca laring, merupakan gejala dini tumor pita suara. Hal ini
disebabkan karena gangguan fungsi fonasi laring.Kualitas nada sangat dipengaruhi
oleh besar celah glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita suara, kecepatan getaran
dan ketegangan pita suara.Pada tumor ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara
baik disebabkan oleh ketidak teraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah
glotik, terserangnya otot-otot vokalis, sendi dan ligament krikoaritenoid dan kadang-
kadang menyerang saraf. Adanya tumor di pita suara akan mengganggu gerak
maupun getaran kedua pita suara tersebut. Serak menyebabkan kualitas suara menjadi
semakin kasar, mengganggu, sumbang dan nadanya lebih rendah dari biasa.Kadang-
kadang bisa afoni karena nyeri, sumbatan jalan nafas atau paralisis komplit.Hubungan
antara serak dengan tumor laring tergantung pada letak tumor.Apabila tumor laring
tumbuh pada pita suara asli, serak merupakan gejala dini dan menetap. Apabila tumor
tumbuh di daerah ventrikel laring, dibagian bawah plika ventrikularis atau dibatas
inferior pita suara, serak akan timbul kemudian. Pada tumor supraglotis dan subglotis,
serak dapat merupakan gejala akhir atau tidak timbul sama sekali. Pada kelompok ini,
gejala pertama tidak khas dan subjektif seperti perasaan tidak nyaman, rasa ada yang
mengganjal di tenggorok. Tumor hipofaring jarang menimbulkan serak kecuali
tumornya eksentif.
3

2. Suara bergumam (hot potato voice): fiksasi dan nyeri menimbulkan suara
bergumam.
3. Dispnea dan stridor: Gejala yang disebabkan sumbatan jalan nafas dan dapat
timbul pada tiap tumor laring. Gejala ini disebabkan oleh gangguan jalan nafas oleh
massa tumor, penumpukan kotoran atau secret maupun oleh fiksasi pita suara. Pada
tumor supraglotik dan transglotik terdapat kedua gejala tersebut.Sumbatan yang
terjadi perlahan-lahan dapat dikompensasi. Pada umunya dispnea dan stridor adalah
tanda prognosis yang kurang baik.
3

4. Nyeri tenggorok: keluhan ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri
yang tajam.
5. Disfagia: Merupakan ciri khas tumor pangkal lidah, supraglotik, hipofaring dan
sinus piriformis. Keluhan ini merupakan keluhan yang paling sering pada tumor ganas
postkrikoid.Rasa nyeri ketika menelan (odinofagia): menandakan adanya tumor ganas
lanjut yang mengenai struktur ekstra laring.
3

6. Batuk dan hemoptisis: Batuk jarang ditemukan pada tumor ganas glotik, biasanya
timbul dengan tertekanya hipofaring disertai secret yang mengalir ke dalam laring.
Hemoptisis sering terjadi pada tumor glotik dan tumor supraglotik.
3

7. Nyeri tekan laring adalah gejala lanjut yang disebabkan oleh komplikasi supurasi
tumor yang menyerang kartilago tiroid dan perikondrium.
3



ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
G. DIAGNOSIS

Pada anamnesis biasanya didapatkan keluhan suara parau yang diderita sudah cukup
lama, tidak bersifat hilang - timbul meskipun sudah diobati dan bertendens makin
lama menjadi berat. Penderita kebanyakan adalah seorang perokok berat yang juga
kadang kadang adalah seorang yang juga banyak memakai suara berlebihan dan
salah ( vocal abuse ), peminum alkohol atau seorang yang sering atau pernah terpapar
sinar radioaktif, misalnya pernah diradiasi didaerah lain. Pada anamnesis kadang
kadang didapatkan hemoptisis, yang bisa tersamar bersamaan dengan adanya TBC
paru, sebab banyak penderita menjelang tua dan dari sosial - ekonomi yang lemah.
6

Sesuai pembagian anatomi, lokasi tumor laring dibagi menjadi 3 bagian yakni
supraglotis, glottis dan subglotis, dan gejala serta tanda tandanya sesuai dengan
lokasi tumor tersebut.

Dari pemeriksaan fisik sering didapatkan tidak adanya tanda yang khas dari luar,
terutama pada stadium dini / permulaan, tetapi bila tumor sudah menjalar ke kelenjar
limfe leher, terlihat perubahan kontur leher, dan hilangnya krepitasi tulang rawan
tulang rawan laring.
6

Pemeriksaan untuk melihat kedalam laring dapat dilakukan dengan cara tak langsung
maupun langsung dengan menggunakan laringoskop unutk menilai lokasi tumor,
penyebaran tumor yang terlihat ( field of cancerisation ), dan kemudian melakukan
biopsi.3

H. DIAGNOSIS BANDING

1. Tumor jinak laring
Dasar menyokong: suara parau, sesak napas dan stridor
Dasar penolakkan: Terdapat metastase ke kelenjar getah bening regional.
2. Nodul vocal
Dasar menyokong: suara serak dan batuk
Dasar penolakkan: Tidak didapatkan nodul di pita suara sebesar kacang hijau atau
lebih kecil yang berwarna putih.
3. Tuberkulosis Laring
Dasar penyokong: suara parau, sesak napas, nyeri telan, kadang menyerupai lesi non
spesifik dan bentukan tumor
Dasar penolakan: dengan pemeriksaan laringoskopi serat optic tidak ditemukan lesi
pada daerah laring

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan selain pemeriksaan laboratorium darah, juga
pemeriksaan radiologik. Foto toraks diperlukan untuk menilai keadaan paru , ada atau
tidaknya proses spesifik dan metastasis diparu. Foto jaringan lunak ( soft tissue ) leher
dari lateral kadang kadang dapat menilai besarnya dan letak tumor, bila tumornya
cukup besar. Apabila memungkinkan, CT scan laring dapat memperlihatkan keadaan
tumor dan laring lebih seksama, misalnya penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid
dan daerah pre-epiglotis serta metastase kelenjar getah bening leher.
3



ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan patologi-anatomik dari bahan biopsi
laring, dan biosi jarum-halus pada pembesaran kelenjar limf dileher. Dari hasil
patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa.
3

Radiologi konvensional
Radiografi jaringan lunak leher merupakan studi survey yang baik.Udara digunakan
sebagai agen kontras alami untuk memvisualisasikan lumenlaring dan
trakea.Ketebalan jaringan retropharyngeal dapat dinilai.Epiglottis dan lipatan
aryepiglottic dapat divisualisasikan.Namun, radiografi tidak memiliki peran dalam
manajemen kanker laring saat ini.



Gambar 8: Lateral radiograph of the neckshowing the different structures of the
larynx: a,
vallecula; b, hyoid bone; c, epiglottis; d, preepiglotticspace; e, ventricle (air-space
between
false and true cords); f, arytenoid

b. Computed Tomography CT Scan
keterlibatan beberapa tempat pada supraglotis laring dan mobilitas pita suara.
Pencitraan dapat membantu dalam mengidentifikasi perluasan submukosa transglotis
yang tersembunyi.Kriteria pencitraan lesi T3 adalah perluasan ke ruang pra-epiglotis
(paralayngeal fat) atau tumor yang mengerosi kebagian dalam korteks dari kartilago
tiroid.Tumor yang mengerosi ke bagian luar korteks kartilago tiroid merupakan
stadium T4a.ada yang berpendapat
bahwa kerterlibatan korteks bagian luar saja tanpa keterlibatan sebagian besar tendon
bisa memenuhi kriteria pencitraan lesi T4. Tumor stadium T4 (a dan b) sulit
diidentifikasikan hanya denganpemeriksaan klinis saja, karena sebagian besar kriteria
tidak dapat diniai dengan palpasi dan endoskopi.Pencitraan secara Cross-
sectionaldiindikasikan untuk mengetahui komponen anatomi yang terlibat untuk
menentukan stadium tumor.Untuk mendapatkan gambaran yang baik, ketebalan
potongan tidak boleh lebih dari 3 mm dan laring dapat dicitrakan dalam beberapa
detik, dan dengan artefak minimal akibat gerakan.
6


ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

Gambar (a) Gambar (b)
a)Normal larynx. Axial CT scan shows the normal appearance of the larynx during
quiet respiration. The true vocal cords are abducted
b)Squamous cell carcinoma of the right side of the glottis. Axial CT scan obtained
during quiet respiration shows a tumor of the anterior commissure (arrow).
Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI memiliki beberapa kelebihan daripada CT yang mungkin membantu dalam
perencanaan pre-operasi. Pencitraan koronal membantu dalam menentukan
keterlibatan ventrikel laryngeal dan penyebaran transglottic.Pencitraan Midsagittal
membantu untuk memperlihatkan hubungan antara tumor dengan komisura anterior.
MRI juga lebih unggul daripada CT untuk karakterisasi jaringan spesifik. Namun,
pencitraan yang lebih lama dapat menyebabkan degradasi gambar akibat pergerakan.
6


a. Gambar MRI laring normal b. Gambar MRI laring
abnormal

J. PENATALAKSANAAN

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL

Secara umum ada 3 jenis penanggulangan karsinoma laring yaitu pembedahan, radiasi
dan sitostatika, ataupun kombinasi, tergantung pada stadium penyakit dan keadaan
umum pasien.

1. PEMBEDAHAN

Tindakan operasi untuk keganasan laring terdiri dari:
A. LARINGEKTOMI
1-3
1. Laringektomi parsial. Tumor yang terbatas pada pengangkatan hanya satu pita
suara dan trakeotomi sementara yang di lakukan untuk mempertahankan jalan napas.
Setelah sembuh dari pembedahan suara pasien akan parau.
2. Hemilaringektomi atau vertikal. Bila ada kemungkinan kanker termasuk pita
suara satu benar dan satu salah.Bagian ini diangkat sepanjang kartilago aritenoid dan
setengah kartilago tiroid.Trakeostomi sementara dilakukan dan suara pasien akan
parau setelah pembedahan.
3. Laringektomi supraglotis atau horisontal. Bila tumor berada pada epiglotis
atau pita suara yang salah, dilakukan diseksi leher radikal dan trakeotomi. Suara
pasien masih utuh atau tetap normal.Karena epiglotis diangkat maka resiko aspirasi
akibat makanan peroral meningkat.
4. Laringektomi total. Kanker tahap lanjut yang melibatkan sebagian besar laring,
memerlukan pengangkatan laring, tulang hihoid, kartilago krikoid,2-3 cincin trakea,
dan otot penghubung ke laring.Mengakibatkan kehilangan suara dan sebuah lubang
( stoma ) trakeostomi yang permanen. Dalam hal ini tidak ada bahaya aspirasi
makanan peroral, dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan dengan saluran udara
pencernaan.Suatu sayatan radikal telah dilakukan dileher pada jenis laringektomi
ini.Hal ini meliputi pengangkatan pembuluh limfatik, kelenjar limfe di leher, otot
sternokleidomastoideus, vena jugularis interna, saraf spinal asesorius, kelenjar salifa
submandibular dan sebagian kecil kelenjar parotis (Sawyer, 1990).Operasi ini akan
membuat penderita tidak dapat bersuara atau berbicara. Tetapi kasus yang dermikian
dapat diatasi dengan mengajarkan pada mereka berbicara menggunakan esofagus
(Esofageal speech), meskipun kualitasnya tidak sebaik bila penderita berbicara
dengan menggunakan organ laring.Untuk latihan berbicara dengan esofagus perlu
bantuan seorang binawicara.

B. DISEKSI LEHER RADIKAL
Tidak dilakukan pada tumor glotis stadium dini (T1 T2) karena kemungkinan
metastase ke kelenjar limfe leher sangat rendah.Sedangkan tumor supraglotis,
subglotis dan tumor glotis stadium lanjut sering kali mengadakan metastase ke
kelenjar limfe leher sehingga perlu dilakukan tindakan diseksi leher. Pembedahan ini
tidak disarankan bila telah terdapat metastase jauh.
5


2. RADIOTERAPI

Radioterapi digunakan untuk mengobati tumor glotis dan supraglotis T1 dan T2
dengan hasil yang baik (angka kesembuhannya 90%). Keuntungan dengan cara ini
adalah laring tidak cedera sehingga suara masih dapat dipertahankan. Dosis yang
dianjurkan adalah 200 rad perhari sampai dosis total 6000 7000 rad.
5



ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
3. KEMOTERAPI

Diberikan pada tumor stadium lanjut, sebagai terapi adjuvant ataupun paliatif. Obat
yang diberikan adalah cisplatinum 80120 mg/m2 dan 5 FU 8001000 mg/m2.
7


Rehabilitasi Suara
Laringektomi total yang dikerjakan untuk mengobati karsinoma laring menyebabkan
cacat pada penderita. Dengan dilakukannya pengangkatan laring beserta pita-suara
yang ada dalamnya, maka penderita akan menjadi afonia dan bernafas melalui stoma
permanent di leher.
7

Untuk itu diperlukan rehabilitasi terhadap pasien, baik yang bersifat umum, yakni
agar pasien dapat memasyarakat dan mandiri kembali, maupun rehabilitasi khusus
yakni rehabilitasi suara (voice rehabilitation), agar penderita dapat berbicara
(bersuara), sehingga berkomunikasi verbal. Rehabilitasi suara dapat dilakukan dengan
pertolongan alat bantu suara, yakni semacam vibrator yang ditempelkan di daerah
submandibula, ataupun dengan suara yang dihasilkan dari esophagus (eso-phageal
speech) melalui proses belajar. Banyak faktor yang mempengaruhi suksesnya proses
rehabilitasi suara ini, tetapi dapat disimpulkan menjadi 2 faktor utama, ialah faktor
fisik dan faktor psiko-sosial.
3

Suatu hal yang sangat membantu adalah pembentukan wadah perkumpulan guna
menghimpun pasien-pasien tuna-laring guna menyokong aspek psikis dalam lingkup
yang luas dari pasien, baik sebelum maupun sesudah operasi.
7


K. PROGNOSIS

Tergantung dari stadium tumor, pilihan pengobatan, lokasi tumor dan kecakapan
tenaga ahli.Secara umum dikatakan five years survival pada karsinoma laring stadium
I 90 98% stadium II 75 85%, stadium III 60 70% dan stadium IV 40 50%.
Adanya metastase ke kelenjar limfe regional akan menurunkan 5 year survival rate
sebesar 50%.7

Supraglottis (part of the larynx above the vocal
cords)
STAGE 5-year relative survival
rate
I
II

III

IV
59%
53%
53%

34%
Glottis (part of the larynx including the vocal cords)
STAGE 5- year relative survival
rate

ANIZATUN NUSKIYATI LBM 5 THT-KL
I
II
III
IV
90%
74%
56%
44%

Sub glottis (part of the larynx below the vocal cords)
STAGE 5 year relative survival
rates
I
II
III
IV
65%
56%
47%
32%
Hypopharynx
STAGE 5-year relative survirvival
rates
I
II
III
IV
53%
39%
36%
24%