Anda di halaman 1dari 43

Pembimbing:

Dr. Putu Siadi Purniti, SpA.




Oleh :
Sylvester Auryn 1002005122
Dewi Purwita Agustini 1002005164
Yuhanantini Gopal Kishnam 1002005190


PENDAHULUAN
Infeksi saluran napas bawah akut masih
menjadi masalah kesehatan yang utama
terutama di negara-negara berkembang dan
menimbulkan angka kesakitan dan kematian
yang tinggi.
Pneumonia merupakan salah satu Infeksi saluran
napas bawah yang ditandai dengan suat keradangan
pada parenkim paru.

PNEUMONIA
Tahun 2008, secara global prevalensi
hipertensi pada orang dewasa ( > 25
tahun) adalah sekitar 40%
Pneumonia adalah infeksi
akut parenkim paru yang meliputi
alveolus dan jaringan interstitial yang
dapat terjadi pada segala usia dan
merupakan salah satu penyebab
kematian pada anak

Pneumonia merupakan penyebab utama
morbiditas dan mortalitas anak berusia di
bawah lima tahun. Dilaporkan pula bahwa
tiga per empat kasus pneumonia pada balita
di seluruh dunia berada di 15 negara dan
Indonesia merupakan salah satu diantara ke
15 negara tersebut




Aru W, Bambang, Idrus A, Marcellus, Siti S, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi 4. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen IPD
RSCM; 2007.
Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita Sp.A(K), M.Sc. Pneumonia Pembunuh Balita. Buletin Jendela Epidemiologi. Volume
3; September 2010.




Indonesia menduduki urutan keenam dengan insidensi
per tahunnya sekitar 6 juta. Setiap tahun, lebih dari 2 juta
anak meninggal karena pneumonia, berarti 1 dari 5 orang
balita meninggal di dunia. Pneumonia merupakan
penyebab kematian yang paling sering, terutama di
negara berkembang dengan angka kematian tinggi.
ETIOLOGI
Usia pasien merupakan factor yang memegang peran penting pada perbedaan
dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi, gambaran
klinis, dan strategi pengobatan
Umur Bakteri Virus
Lahir - 20 hari Escherichia coli
Streptococcus grup B
Listeria monocytogenes
3 minggu 3 bulan Chlamydia trachomatis
S. Pneumoniae
Respiratory Syncytial
Virus
Influenza virus
Para influenza virus
1,2, dan 3
Adenovirus
Umur Bakteri Virus
4 bulan 5
tahun
S. Pneumoniae
Chlamydia
pneumoniae
Mycoplasma
pneumonia
Respiratory
Syncytial Virus
Influenza virus
Para influenza
virus 1,2, dan 3
Adenovirus
Rhinovirus
Measles Virus
5 tahun -
remaja
Chlamydia
pneumoniae
Mycoplasma
pneumoniae
S. Pneumoniae
Ostapchuk M, Robert DM, Haddy R. Community Acquired Pneumonia in Infants and Children. Am. Fam. Physcian 2004;70:899-
908.
FAKTOR RESIKO .

Status gizi kurang
Anak yang tidak mendapat ASI
Kurangnya suplementasi vitamin A & zinc
Bayi lahir berat rendah
Polusi udara
Pendidikan ibu
Status socio ekonomi keluarga
Gangguan fungsi imun
Malnutrisi

Rasad, Sjariar. 2008. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
PATHOGENESIS

Aspirasi kuman/penyebaran langsung kuman dari
saluran respiratorik atas.
Normal respiratorik bawah sublaring-alveolisteril
Paru terlindung dr infeksi krnmekanisme :
filtrasi partikel di hidung
pencegahan aspirasi dengan refleks epiglotis
ekspulsi benda asing melalui refleks batuk
pembersihan ke arah kranial oleh selimut mukosilier
fagositosis kuman oleh makrofag alveolar
netralisasi kuman oleh substansi imun lokal
drainase melalui sistem limfatik

Invasi Mikroorganisme
Inflamasi Alveoli dan
ruang udara terminal
Kerusakan bagian dan
fungsi paru
Proses radang dapat dibagi atas 4 stadium
Stadium I (4 12 jam pertama/kongesti) Disebut hiperemia

Stadium II (48 jam berikutnya) Disebut hepatisasi merah




Stadium III (3 8 hari) Disebut hepatisasi kelabu





Stadium IV (7 11 hari) Disebut juga stadium resolusi





Metinko AP. Neonatal Pulmonary Host Defense Mechanisms. In: Polin RA, Fox WW, eds. Fetal and Neonatal
Physiology. 3
rd
ed. Philadelphia, Pa: WB Saunders Co; 2004:162073.
Manifestasi Klinis
Pneumonia
Manifestasi non spesifik infeksi dan toksisitas : demam, sakit kepala, gelisah, malaise,
penurunan nafsu makan, mual, muntah, diare
Gejala ggn respiratori: batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, napas cuping hidung, sesak
napas, merintih, dan sianosis.
Tanda pneumonia : retraksi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, dan
ronki basah halus
Rasad, Sjariar. 2008. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Aru W, Bambang, Idrus A, Marcellus, Siti S, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD
RSCM; 2007.
DIAGNOSIS

Bila ada tanda bahaya umum
<2 bln napas cepat (>60 x/menit) atau
sesak napas
>50 x/menit untuk anak usia 2 bulan 1
tahun
>40 x/menit untuk anak usia >1 5 tahun
auskultasi akan didapatkan suara ronki,
Harus dirawat dan diberikan antibiotik

Pneumonia
Tidak ada napas cepat atau sesak napas
Tidak perlu dirawat, cukup diberikan
pengobatan simptomatis
Bukan
pneumonia
Rasad, Sjariar. 2008. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta
Aru W, Bambang, Idrus A, Marcellus, Siti S, ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD
RSCM; 2007.
2 bulan 5 tahun ; Tanda Bahaya Umum tidak dapat
minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk

Ditandai dengan batuk atau sesak napas
Disertai salah satu gejala dari retraksi dinding
dada, napas cuping hidung, grunting atau
merintih.
auskultasi akan didapatkan suara ronki, suara
napas menurun, dan suara napas bronkial
Harus dirawat dan diberikan antibiotik
Pneumonia
berat

Ditandai dengan batuk atau sesak napas
Disertai salah satu gejala dari sianosis sentral,
tidak bisa minum, muntah, kejang disertai
letargi dan kesadaran menurun,dan
anggukan kepala.
Pada auskultasi akan didapatkan suara ronki,
suara napas menurun, dan suara napas
bronchial.
Pneumonia
Sangat berat
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi
Gambaran radiologis yang klasik pada pasien dengan
pneumoni dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
Konsolidasi lobar atau segmental disertai adanya air bronchogram.
Pneumonia interstisial, biasanya karena virus atau mycoplasma
dengan gambaran berupa corakan bronkovaskular bertambah,
peribronchial cuffing, dan overaeration, dan bila berat dapat
terlihat patchy consolidation karena atelektasis.
Gambaran pneumonia karena S.aureus dan bakteri lain biasanya
menunjukkan gambaran bilateral yang difus, corakan peribronkial
yang bertambah, dan tampak infiltrat halus sampai ke perifer.



Rasad, Sjariar. 2008. Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta



LABORATORIUM

Hasil pemeriksaan leukosit meningkat (15.000-
40.000/mm
3
), dengan predominan neutrofil
Rapid test digunakan untuk deteksi antigen
bakteri mempunyai spesifitas dan sensitivitas
rendah.
Pemeriksaan serologi juga kurang manfaat.
Diagnosis definitif pneumonia bakterial adalah
dengan isolasi mikroorganisme dari paru, cairan
pleura, atau darah. Namun pengambilan
spesimen dari paru sangat invasif dan tidak rutin
diindikasikan.
Daud D., Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. In Standar pelayanan Medik Respirologi; Pneumonia. Department Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Unhas/ SMF anak RS DR.Wahidin Sudirrohusodo. Makassar, Januari 2013. p.33-36
Garna H., dan Nataprawira H.M.D.,Pedoman Diagnosis Dan Terapi; Ilmu Kesehatan Anak..In Pulmologi; Pneumonia. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas
Kedokteran Universitas Padjajaran, RS Dr Hassan Bandung, Jl. Pasteur No. 38 Bandung. Edisi ke-3
PENATALAKSANAAN
Pemberian antibiotik sesuai dengan kelompok umur.

Golongan penisilin +aminoglikosida.
Bayi <3 bulan
Ampisilin dipadu dengan kloramfenikol
merupakan obat pilihan pertama
Bayi >3 bulan
Bila pada anak ditemukan demam lebih dari
atau sama dengan 39
o
C yang tampaknya
menyebabkan distres diberikan paracetamol.
Bila ditemukan adanya mengi, diberikan
bronkodilator kerja cepat dengan salah satu
cara dari salbutamol nebulisasi atau
salbutamol dengan metered dose inhaler
(MDI) dengan spacer
Daud D., Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. In Standar pelayanan Medik Respirologi; Pneumonia. Department Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Unhas/ SMF anak RS DR.Wahidin Sudirrohusodo. Makassar, Januari 2013. p.33-36
Suportif
1. Pemberian oksigen
2. Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat.
3.Kebutuhan cairan rumatan diberikan sesuai
umur anak, tetapi harus diperhatikan
terjadinya kelebihan cairan atau overhidrasi.
PROGNOSIS
Secara keseluruhan, prognosis pasien dengan
pneumonia adalah baik.
Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan
adekuat, mortalitas dapat diturunkan sebesar
13-55%.
Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein
dan terlambat dideteksi menunjukkan angka
mortalitas yang lebih tinggi.
Prof. Dr. Cissy B. Kartasasmita Sp.A(K), M.Sc. Pneumonia Pembunuh Balita. Buletin Jendela Epidemiologi.
Volume 3; September 2010.
KOMPLIKASI
Empyema thoraks
Miokarditis
Perikarditis purulenta
Pneumothoraks
Pneumomediastinum
Infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis
purulenta.
John N. Pediatric Pneumonia. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article /967822overview.
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : KMDB
Tanggal lahir : 13 Oktober 2013
Umur : 10 bulan 15 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jl. P. Saelus Gg. VB No. 2
Denpasar
Agama : Hindu
Pendidikan : Belum sekolah
No. RM : 14.05.02.24
Tanggal MRS : 26 Agustus 2014
Tanggal pemeriksaan : 28 Agustus 2014

Heteroanamnesis
Anamnesis dilakukan pada tanggal 28 Agustus
2014 pukul 17.00 WITAdi Ruang Jempiring RSUP
Sanglah terhadap ibu pasien.

Keluhan Utama
Sesak

Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dikeluhkan sesak pagi hari pada tanggal 26 Agustus
2014. Sesak semakin memberat pada sore hari, napas
dikatakan lebih cepat dari biasanya. Muncul cekungan pada
dada setiap bernapas disertai suara napas grok-grok.
Demam dikeluhkan sejak 2 hari sebelum masuk Rumah Sakit.
Demam tinggi tetapi suhu tubuh tidak diukur. Demam turun
sebentar dengan obat penurun panas kemudian kembali
demam. Selain sesak dan demam, pasien juga dikeluhkan
batuk berdahak, dengan dahak yang sulit dikeluarkan sejak 3
hari sebelum masuk Rumah Sakit.
Sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah, pasien sempat
dibawa ke dokter spesialis anak, dan demam sempat diukur
pada saat itu, mencapai 39,8
o
C. Nafsu makan dan minum
pasien dikatakan menurun sejak sakit. BAB dan BAK pasien
normal.

Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami keluhan sesak 1 bulan sebelumnya
dan membaik seetelah dinebulisasi 1 kali di RSUP Sanglah.
Riwayat penyakit lainnya disangkal oleh ibu pasien.

Riwayat Penyakit dalam Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan serupa.
Namun ibu pasien menderita Diabetes Melitus.

Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien merupakan anak keempat dari empat bersaudara.
Keadaan ekonomi keluarga pasien berkecukupan.



Riwayat Pengobatan
Pasien sempat diberi parasetamol untuk menurunkan demam oleh
ibu pasien. Pasien juga sempat dibawa ke dokter spesialis anak dan
langsung dirujuk.

Riwayat Alergi
Dikatakan pasien tidak ada alergi obat-obatan ataupun makanan.

Riwayat Persalinan
Pasien lahir spontan di bidan, dengan berat badan lahir 2900 gram,
panjang badan lahir dan lingkar kepala lupa, langsung menangis,
anus (+), kelainan (-).

Riwayat Imunisasi
Riwayat imunisasi dikatakan lengkap sesuai umurnya, BCG 1 kali,
polio 4 kali, hepatitis B 4 kali, DPT 3 kali, dan campak 1 kali.

Riwayat Nutrisi

ASI : sejak usia - , frekuensi -
Susu formula : sejak usia 0 bulan, frekuensi
on demand
Bubursusu : sejak usia 6 bulan, frekuensi
3x/hari
Nasi tim : sejak usia 7 bulan, frekuensi
3x/hari
Nasi : sejak usia - , frekuensi

Riwayat Tumbuh Kembang

Menegakkan kepala : 3 bulan
Membalik badan : 4 bulan
Duduk : 7 bulan
Merangkak : 8 bulan
Berdiri : - bulan
Berjalan : - bulan
Bicara : - bulan

Pemeriksaan Fisik
Status Present

Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis E3V4M4
Nadi : 124 kali/ menit, reguler, isi cukup
Laju Napas : 36 kali/ menit, reguler
Suhu Aksila : 36,6 C
Skala Nyeri : 0
Berat Badan : 9,3 kg
Berat Badan Ideal : 8 kg
Panjang badan : 68 cm
Lingkar Kepala : 45,5 cm
Lingkar Lengan Atas : 16,3 cm

Status Generalis

Kepala : Normocephali
Mata : konjungtiva pucat -/- , hiperemi -/-, sekret -/-, sklera ikterus -/- ,
reflekpupil +/+ isokor
THT
Telinga : sekret -/-
Hidung : sekret -/-, napas cuping hidung (-),
Tenggorok : faring hiperemis (-), tonsil T
1
/ T
1
hiperemis (-)
Lidah : sianosis (-)
Bibir : kering (-) sianosis (-)
Leher : pembesaran kelenjar (-), Kaku kuduk (-)
Thoraks : simetris (+), retraksi (+)
Jantung : S1 S2 tunggal, regular, murmur (-)
Paru-paru :Bronkovesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/-, retraksi subkosta (+)
Aksila : pembesaran kelenjar (-)

Abdomen
Inspeksi : distensi (-), nyeri tekan (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : hepar-lien tidak teraba, nyeri tekan (-), massa (-)
Perkusi : timpani

Kulit : turgor kembali cepat, sianosis (-)
Genitalia : tidak ada kelainan
Inguinal : pembesaran kelenjar (-)
Ekstremitas : akral hangat (+), cyanosis (-), udem (-), CRT < 2 detik

Status Antropometri
BB/U : 0 2 sd
PB/U : -3 (-2) sd
BB/PB : 1 2 sd
BBI : 8 kg
Waterlow : 116% (gizi lebih)

Pemeriksaan Penunjang
Kimia Klinik
CRP (Kuantitatif) 3,7 mg/ L

Darah Lengkap Hasil Nilai Rujukan Remark
WBC 9,12 x 10
3
/L 4,10-11,0
NEU 5,82 (63,9%) 2,50-7,50 (47-80 %)
LYM 1,99 (21,8%) 1,00-4,00 (13,0-40,0 %)
MONO 1,10 (12,0%) 1,00-1,20 (2,00-11,00 %) (H)
EOS 0,007 (0,074%) 0,00-,500 (0,00-5,00 %)
BASO 0,204 (2,23%) 0,00-,100 (0,00-2,00 %) H (H)
RBC 4,71 x 10
6
/L 4,50-5,90
HGB 11,6 g/Dl 13,5-17,5 L
HCT 36,9 % 41,0-53,0 L
MCV 78,2 Fl 80,0-100 L
MCH 24,7 pg 26,0-34,0 L
MCHC 31,6 g/Dl 31,0-36,0
RDW 14,3 % 11,6-14,8
PLT 313 x 10
3
/L 150,-440,
MPV 6,01 Fl 6,80-10,0 L
Darah Lengkap 26 Agustus 2014

Foto Thoraks AP 26
Agustus 2014


Cor : Bentuk dan kesan
normal
Pulmo : Tampak infiltrat di
suprahiler kanan, kiri,
dan parakardial kanan
Kesan : Pneumonia
Diagnosis Kerja
Pneumonia berat + Gizi Lebih

Penatalaksanaan
Terapi

O
2
2 liter per menit bila perlu
Kebutuhan Kalori 880 kkal/ hari, kebutuhan protein 16 gram/ hari
Kebutuhan cairan 930 ml/ hari
Diet nasi tim 3 kali sehari
IVFD D5 NS 330 ml/ hari 14 tetes mikro per menit
Ampisilin 200 mg/ kg/ hari ~ 500 mg @ 6 jam intra vena
Kloramfenikol 100 mg/ kg/ hari ~ 200 mg @ 6 jam intra vena
Ambroxol 0,5 mg/ kg/ kali cth 1/3 @ 8 jam oral
Paracetamol 93 mg ~ cth dapat diulang @ 4 jam oral + kompres hangat

Rencana Perawatan
Tunggu hasil kultur darah 2 sisi

Tanggal Subyektif, Obyektif, Assesment Terapi dan Planning Diagnosis
27/8/2014
S: Menerima pasien dari triage anak dengan kondisi pasien saat ini
tidak demam, batuk pilek berkurang, suara napas grok-grok masih
tapi sudah berkurang, sesak berkurang, makan dan minum (+), BAB
dan BAK (+)
O : Status Present:
Kesadaran : Compos Mentis
Nadi : 112 x/ menit reguler isi cukup
Laju Napas : 32 x/menit
Suhu aksila : 36,4C
Status General:
Kepala : Normocephali
Mata : ikterus -/- , anemis -/- isokor
THT : Hidung : napas cuping hidung (-), sekret (-)
Thoraks : simetris (+), retraksi (-)
Cor : S
1
S
2
Tunggal Reguler, murmur (-)
Po : bronkovesikuler +/+ Ronki -/-, wheezing -/-
Abdomen: Distensi (-), Bising Usus(+) N
Hepar/ Limpa: Tidak teraba

Ekstremitas : Akral hangat (+)

A : Pneumonia berat + Gizi Lebih

Tx :
- O
2
2 lpm bila perlu
- Kebutuhan kalori 880 kkal/ hari, kebutuhan
protein 16 gram / hari
- Kebutuhan cairan 930 ml/ hari
- Diet nasi tim 3 kali sehari
- IVFD D5 NS 330 ml/hari ~ 14 tetes mikro per
menit
- Ampisilin 200 mg/kg/hari ~ 500 mg @ 6 jam intra
vena
- Kloramfenikol 100mg/kg/hari ~ 200 mg @ 6 jam
intra vena
- Ambroxol 0,5 mg/kg/kali cth 1/3 @ 8 jam
- Paracetamol 93 mg ~ cth dapat diulang @ 4 jam
+ kompres hangat
Monitoring :
- Vital Sign
- Imbang Cairan
28/8/2014 S: tidak demam, batuk pilek berkurang, suara napas
grok-grok masih tapi sudah berkurang, sesak
berkurang, makan dan minum (+), BAB dan BAK (+)
O : Status Present
Kesadaran : Compos Mentis
Nadi : 118 x/ menit reguler isi cukup
Laju Napas : 30 x/menit
Suhu aksila : 36,9C
Status General:
Kepala : Normocephali
Mata : ikterus -/- , anemis -/- isokor
THT : Hidung : napas cuping hidung (-), sekret (-)
Thoraks : simetris (+), retraksi (-)
Cor : S
1
S
2
Tunggal Reguler, murmur (-)
Po : bronkovesikuler +/+ Ronki -/-, wheezing -/-
Abdomen: Distensi (-), Bising Usus(+) N
Hepar/ Limpa: Tidak teraba

Ekstremitas : Akral hangat (+)

A : Pneumonia berat + Gizi Lebih
Tx :
- O
2
2 lpm bila perlu
- Kebutuhan kalori 880 kkal/ hari, kebutuhan
protein 16 gram / hari
- Kebutuhan cairan 930 ml/ hari
- Diet nasi tim 3 kali sehari
- IVFD D5 NS 330 ml/hari ~ 14 tetes mikro
per menit
- Ampisilin 200 mg/kg/hari ~ 500 mg @ 6
jam intra vena
- Kloramfenikol 100mg/kg/hari ~ 200 mg @ 6
jam intra vena
- Ambroxol 0,5 mg/kg/kali cth 1/3 @ 8 jam
- Paracetamol 93 mg ~ cth dapat diulang @
4 jam + kompres hangat
Monitoring :
- Vital Sign
- Imbang Cairan
PEMBAHASAN
Pasien merupakan balita penduduk Indonesia dengan jumlah kasus
pneumonia terbanyak ke-6 dari 15 negara di dunia.

Pada pasien ini ditemukan gejala klinis pneumonia seperti sesak napas
yang semakin memberat, napas yang cepat dikatakan lebih cepat dari
biasanya, cekungan pada dada yang terlihat setiap kali pasien
bernapas, demam sejak dua hari sebelum masuk Rumah Sakit dan
peningkatan suhu tubuh mendadak hingga 39,8
o
C, serta batuk
berdahak pada perjalanan penyakit sejak 3 hari sebelum pasien masuk
Rumah Sakit.

Pada pasien didapatkan gejala berupa batuk sejak 3 hari sebelum
masauk Rumah Sakit, dan sesak napas yang semakin parah.

Napas cepat 64 kali per menit memenuhi kriteria WHO untuk anak
usia 2-12 bulan yaitu lebih dari atau sama dengan 50 kali per menit.
Pada pasien juga didapatkan retraksi subkosta saat bernapas.

Gejala yang dialami pasien sesuai dengan kriteria diagnosis
pneumonia derajat berat menurut WHO.



Pada rontgen thoraks pasien didapatkan gambaran di
suprahiler kanan, kiri, dan parakardial kanan, serta
dibacakan dengan kesimpulan kesan pneumoni.

Pada pasien ini diberikan:
1. Ampisilin 200 mg/kg/hari ~ 500 mg @ 6 jam intra vena
sebagai antibiotika yang sesuai dengan kriteria umur
pasien
2. Kloramfenikol 100mg/kg/hari ~ 200 mg @ 6 jam intra
vena dipadu dengan ampisilin sesuai dengan pengobatan
menurut kriteria umur pasien
3. Ambroxol 0,5 mg/kg/kali cth 1/3 @ 8 jam sebagai
mukolitik yang diindikasikan untuk mengencerkan dahak
pasien yang dikatakan susah dikeluarkan
4. Paracetamol 93 mg ~ cth dapat diulang @ 4 jam +
kompres hangat sebagai tatalaksana apabila pasien
mengalami demam kembali
Pada pasien diberikan terapi suportif:

a. O
2
2 lpm bila perlu, diberikan untuk mengatasi
sesak napas pada pasien

b. Diet nasi tim 3 kali sehari untuk memenuhi
kebutuhan kalori dan protein yang sudah
disesuaikan dengan kondisi pasien

c. IVFD D5 NS 330 ml/hari ~ 14 tetes mikro per
menit diberikan untuk memenuhi kebutuhan
kalori dan cairan yang sudah disesuaikan dengan
kondisi pasien

SIMPULAN
Pneumonia adalah peradangan parenkim paru
dimana asinus terisi oleh cairan radang, dengan
atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke
dalam interstitium.
Pneumonia merupakan penyebab kematian
tertinggi pada anak dengan angka kejadian tinggi
terutama di negara berkembang seperti
Indonesia.
Pada laporan kasus, pasien didiagnosis peumonia berat
karena pasien mengalami sesak napas yang disertai
retraksi dinding dada, dengan ronki yang positif.
Pemeriksaan penunjang radiologi mendukung
gambaran pneumonia yaitu terdapat gambaran infiltrat
pada paru.
Pasien telah mendapat terapi yang sesuai dengan teori.
Pasien dirawat inap dengan mendapatkan terapi utama
berupa kombinasi Ampisilin dan Kloramfenikol, terapi
simtomatis berupa Ambroxol dan Paracetamol, serta
terapi suportif berupa terapi oksigen, terapi cairan, dan
diet terukur sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
pasien.