Anda di halaman 1dari 15

1

CHAPTER 16
AUDIT SIKLUS PRODUKSI


16.1 MERENCANAKAN AUDIT ATAS SIKLUS PRODUKSI

Siklus produksi berhubungan dengan konversi bahan baku menjadi barang jadi. Siklus
tersebut meliputi perencanaan serta pengendalian produksi dari jenis dan kuantitas barang
yang akan diproduksi, tingkat persediaan yang akan dipertahankan serta transaksi yang
berkaitan dengan proses pabrikasi. Transaksi yang terjadi dalam siklus ini disebut sebagai
transaksi pabrikasi.
Siklus produksi saling berkaitan dengan tiga siklus lain berikut ini :

1. Siklus pengeluaran dalam pembelian bahan baku dan pembayaran berbagai biaya
overhead
2. Siklus jasa personalia dalam pembayaran biaya tenaga kerja pabrik

3. Siklus pendapatan dalam penjualan barang jadi.



16.1.1. Tujuan Audit


Kategori Asersi

Tujuan Audit atas

Kelompok Transaksi

Tujuan Audit atas

Saldo Akun

Keberadaan atau

Keterjadian (EO)

Transaksi pabrikasi yang dicatat
menyajikan bahan, tenaga kerja
dan overhead yang ditransfer ke
produksi serta pemindahan
produksi yang sudah selesai ke
barang jadi selama periode
berjalan (EO1).

Persediaan yang tercetak
dalam neraca secara fisik
ada (EO2).

Harga pokok penjualan
menunjukkan harga pokok
barang yang dikirimkan
selama periode berjalan
(EO3).

Kelengkapan (C)

Semua transaksi pabrikasi yang
terjadi selama periode berjalan
sudah dicatat (C1).

Persediaan mencakup
semua bahan, produk dan
perlengkapan yang ada di
tangan pada tanggal neraca
(C2).

Harga pokok penjualan
mencakup dampak semua
transaksi penjualan selama
periode berjalan (C3).
2


Hak dan kewajiban (RO)

Entitas memegang hak atas
persediaan yang berasal dari
transaksi pabrikasi yang dicatat
(RO1).

Entitas pelapor memegang
hak milik atas persediaan
pada tanggal neraca (RO2).

Penilaian atau Alokasi (VA)

Transaksi pabrikasi telah
dijurnal, diikhtisarkan, dan
dibukukan atau diposting
dengan benar (VA1).

Persediaan telah dinyatakan
dengan tepat pada harga
yang terendah antara harga
pokok dan harga pasar
(VA2).

Harga pokok penjualan
didasarkan pada penerapan
metode arus biaya yang
berlaku secara konsisten
(VA3).

Penyajian dan

Pengungkapan (PD)

Rincian transaksi pabrikasi
mendukung penyajiannya dalam
laporan keuangan termasuk
klasifikasi dan
pengungkapannya (PD1).

Persediaan (PD2) dan
harga pokok penjualan
(PD3) telah diidentifikasi
dan diklasifikasi secara
tepat dalam laporan
keuangan.

Pengungkapan yang
berhubungan dengan dasar
penilaian dan penjaminan
persediaan telah memadai
(PD4).


16.1.2. Menggunakan Pemahaman tentang Bisnis dan Industri untuk

Mengembangkan Strategi Audit

Bagi banyak perusahaan persediaan pabrikasi merupakan proses inti, dan
kemampuan entitas untuk menghasilkan laba serta arus kas tergantung pada
seberapa baik proses pabrikasi tersebut dikelola. Pada saat mengaudit sebuah
perusahaan pabrikasi, auditor biasanya ingin memahami intensivitas modal dari
proses pabrikasi. Suatu proses yang bersifat padat modal, biasanya mempunyai
jumlah biaya tetap yang signifikan yang memerlukan volume yang cukup besar
3
untuk menjamin profitabilitas. Pemahaman tersebut penting dalam mengevaluasi
kelayakan hasil keuangan yang dilaporkan.

Unsur persediaan merupakan hal yang material terhadap neraca dalam perusahaan
pabrikasi. Setiap industri memiliki sifat yang unik dalam hal jumlah hari yang
diperlukannya untuk memutar persediaan. Jumlah hari perputaran persediaan juga
bervariasi, sehingga penting untuk memahami keadaan klien dan menemukan bukti
yang cukup untuk mendukung pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan.
Auditor dapat menggunakan prosedur analitis untuk mengidentifikasi bidang-
bidang yang bermasalah. Karena signifikannya jumlah transaksi persediaan yang
dilakukan oleh entitas-entitas ini, maka auditor akan sering menekankan pada
pendekatan penilaian risiko pengendalian yang lebih rendah dalam situasi tersebut.


16.1.3. Materialitas, Risiko Inheren, dan Prosedur Analitis

1. Materialitas

Alokasi materialitas akun-akun yang dipengaruhi oleh transaksi dalam siklus ini
akan bervariasi menurut pertimbangan yang telah dijelaskan. Pertimbangan
utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas adalah penentuan besarnya salah
saji yang akan mempengaruhi keputusan pemakai laporan keuangan.
Pertimbangan sekunder adalah hubungannya dengan biaya untuk mendeteksi
kesalahan.
2. Risiko Inheren

Risiko inheren terjadinya salah saji dalam laporan keuangan yang disebabkan
oleh transaksi persediaan pada perusahaan pabrikasi dapat dinilai sebesar atau
mendekati maksimum karena alasan berikut :
Volume transaksi pembelian, pabrikasi, dan penjualan yang mempengaruhi
akun biasanya tinggi, sehingga meningkatkan peluang terjadinya salah saji.
Seringkali terjadi masalah yang diperdebatkan seputar identifikasi,
pengukuran, dan alokasi biaya yang dapat dimasukkan dalam persediaan.
Sangat beragamnya jenis persediaan terkadang mengharuskan digunakannya
prosedur khusus untuk menentukan kuantitas persediaan.
Persediaan seringkali disimpan di berbagai lokasi, sehingga menambah
kesulitan yang berhubungan dengan penyelenggaraan pengendalian fisik
terhadap pencurian dan kerusakan.
4
Sangat beragamnya jenis persediaan mungkin saja menimbulkan masalah
khusus dalam menentukan kualitas dan nilai pasarnya.
Persediaan sangat rentan terhadap pembusukan, keusangan, dan faktor lain
seperti kondisi ekonomi umum yang dapat mempengaruhi permintaan serta
kemampuan menjual dan dengan demikian mempengaruhi ketepatan
penilaian persediaan.
Persediaan mungkin dijual dengan perjanjian retur atau pembelian kembali.

3. Prosedur Analitis


Rasio

Rumus

Signifikansi Audit

Jumlah hari perputaran
persediaan

Rata-rata hutang
persediaan :

Harga pokok penjualan x

365

Pengalaman sebelumnya mengenai
jumlah hari perputaran persediaan
digabungkan dengan pengetahuan
tentang HPP akan bermanfaat
dalam mengestimasi tingkat
persediaan tahun berjalan.
Perpanjangan periode ini dapat
mengindikasikan masalah eksistensi
atau keberadaan, atau masalah
dalam menentukan nilai yang
terendah antara harga pokok dan
harga pasar.

Pertumbuhan persediaan
terhadap pertumbuhan
harga pokok penjualan

((persediaan
n
:
persediaan
n-1
)-1) : ((harga
pokok penjualan
n
: harga
pokok penjualan
n-1
) 1)

Rasio yang lebih besar dari 1,0
menunjukkan bahwa persediaan
tumbuh lebih cepat daripada
penjualan. Rasio yang besar dapat
menunjukkan kemungkinan adanya
masalah keusangan persediaan.

Barang jadi yang
diproduksi terhadap
bahan baku yang
digunakan

Kuantitas barang jadi :

kuantitas bahan baku

Berguna dalam mengestimasi
efisiensi proses pabrikasi. Dapat
membantu dalam mengevaluasi
kewajaran biaya produksi.

Barang jadi yang
diproduksi terhadap
tenaga kerja langsung

Kuantitas barang jadi :

jam tenaga kerja langsung

Bermanfaat dalam mengestimasi
efisiensi proses pabrikasi. Dapat
membantu dalam mengevaluasi
kewajaran biaya produksi.
5
Produk yang cacat per
juta
Jumlah produk cacat
sebagai persentase dari
setiap juta yang
diproduksi
Bermanfaat dalam mengestimasi
efektivitas proses pabrikasi. Dapat
membantu dalam mengevaluasi
kewajaran biaya produksi dan
beban garansi.



16.1.4. Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal

1. Lingkungan Pengendalian

Struktur organisasi harus mencakup pejabat yang bertanggungjawab atas
produksi secara keseluruhan. Sementara itu, filosofi dan gaya operasi
manajemen harus berperan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan
dengan keputusan produksi dan tingkat persediaan. Kebijakan dan praktek SDM
juga harus dapat mempengaruhi penggunaan dan pertanggungjawaban atas
faktor-faktor produksi.
2. Penilaian Risiko

Manajemen harus memperhatikan risiko inheren dan merancang pengendalian
yang sesuai.
3. Informasi dan Komunikasi

Sistem akuntansi untuk persediaan mencakup penggunaan akun pengendali dan
catatan pendukung seperti file produk atau file induk. Untuk perusahaan
pabrikasi, ada catatan terpisah untuk persediaan bahan baku, barang dalam
proses dan barang jadi.
4. Aktivitas Pengendalian (Dibahas Tersendiri)



5. Pemantauan Pengendalian

Umpan balik dari pelanggan tentang kualitas produk dan ketepatan waktu
pengiriman serta penggunaan auditor internal untuk menilai efektivitas
pengendalian biaya, akurasi data biaya dan pengendalian fisik atas persediaan.


16.2 AKTIVITAS PENGENDALIAN TRANSAKSI PABRIKASI

16.2.1. Dokumen dan Catatan yang Lazim

1. Perintah Produksi

Perintah produksi merupakan formulir yang menunjukkan kuantitas dan jenis
barang yang akan dibuat.
6
2. Laporan Kebutuhan Bahan

Laporan yang berisi daftar bahan baku dan komponen yang diperlukan untuk
memenuhi perintah produksi.
3. Slip Pengeluaran Bahan

Slip pengeluaran bahan merupakan otorisasi tertulis dari departemen produksi
kepada gudang penyimpanan untuk mengeluarkan bahan untuk digunakan
berdasarkan perintah produksi yang telah disetujui.
4. Tiket Waktu

Tiket waktu merupakan catatan waktu kerja seorang karyawan atas pekerjaan
tertentu.
5. Tiket Perpindahan

Tiket perpindahan merupakan pemberitahuan yang mengotorisasi perpindahan
fisik barang dalam proses di antara departemen produksi, dan di antara barang
dalam proses serta barang jadi.
6. Laporan Aktivitas Produksi Harian

Laporan tersebut berfungsi menujukkan bahan baku dan tenaga kerja yang
digunakan selama hari itu.
7. Laporan Produksi Yang Sudah Selesai

Laporan tersebut merupakan laporan yang menujukkan bahwa pekerjaan atas
sebuah perintah produksi telah diselesaikan.
8. Buku Besar Pembantu Atau File Induk Persediaan

Catatan yang diselenggarakan terpisah untuk bahan baku, barang dalam proses,
dan barang jadi. Catatan tersebut berfungsi informasi tentang unit dan biaya
yang ditambahkan dan dikurangkan dari msing-masing akun persediaan dan
unit yang ada di tangan dan biaya terkait yang membentuk saldo persediaan.
9. File Induk Biaya Standar

File tersebut merupakan file komputer yang berisi biaya standar.

10. File Induk Persediaan Bahan Baku

File tersebut merupakan file komputer yang berisi kuantitas persediaan bahan
baku yang tersedia.
11. File Induk Persediaan Barang Dalam Proses

File tersebut merupakan file komputer yang memuat jumlah biaya aktual
barang dalam proses. File tersebut digunakan untuk menyusun laporan
produksi harian.
7
12. File Induk Persediaan Barang Jadi

File tersebut merupakan file komputer yang berisi jumlah total biaya produksi.
File tersebut dapat digunakan sebagai persediaan perpetual untuk barang jadi.


16.2.2. Fungsi-fungsi dan Pengendalian Terkait

1. Memulai Produksi

a. Merencanakan dan Mengendalikan Produksi

Departemen perencanaan dan pengendalian produksi memberikan
persetujuan (otorisasi) atas perintah produksi berdasarkan kebutuhan
produksi dengan mengeluarkan perintah produksi bernomor urut.
Selain itu, departemen ini juga membuat laporan kebutuhan bahan yang
menunjukkan bahan dan komponen yang diperlukan serta yang ada di
tangan. Jika pesanan harus dilakukan kepada pemasok, maka salinan
laporan ini akan dikirimkan ke bagian pembelian.
b. Mengeluarkan Bahan Baku

Bagian gudang akan menyerahkan bahan baku ke bagian produksi setelah
menerima slip pengeluaran bahan yang telah ditandatangani oleh
pekerja produksi yang berwenang.
Sebuah ikhtisar harian mengenai penggunaan bahan biasanya
disiapkan sebagai salah satu komponen laporan aktivitas produksi harian
yang digunakan dalam perencanaan dan pengendalian produksi.


2. Memindahkan Barang

a. Memproses Barang Dalam Produksi

Tenaga kerja yang digunakan untuk mengerjakan perintah produksi
tertentu dicatat dalam tiket waktu.
Sebuah ikhtisar harian mengenai penggunaan tenaga kerja biasanya
disiapkan dari data catatan waktu sebagai salah satu komponen laporan
aktivitas produksi harian.
Ketika pekerjaan atas suatu perintah produksi sudah selesai dalam satu
departemen dan barangnya sudah lulus inspeksi, maka pemindahan
barang itu ke departemen berikutnya akan diotorisasi dengan sebuah tiket
perpindahan.
8
b. Memindahkan Pekerjaan yang Sudah Selesai ke Barang Jadi

Jika pembuatan suatu pesanan barang sudah selesai dan lulus inspeksi
akhir, maka disusun sebuah laporan produksi yang sudah selesai.
Barang tsb kemudian dikirim ke gudang barang jadi. Otorisasi
perpindahan ini didokumentasikan dengan tiket perpindahan akhir yang
telah ditandatangani karyawan gudang barang jadi.
c. Melindungi Persediaan

Penggunaan gudang terkunci dengan akses dibatasi pada karyawan yang
berwenang saja.
Pemanfaatan tenaga penjagaan pabrik.

Penggunaan tiket perpindahan persediaan yang ditandatangani untuk
mengendalikan perpindahan barang sepanjang departemen produksi.
3. Mencatat Transaksi Pabrikasi dan Persediaan

a. Menentukan dan Mencatat Biaya-biaya Pabrikasi

Penggunaan bagan akun, pelaporan data biaya pabrikasi yang tepat waktu
untuk menelaah kinerja manajemen termasuk pembandingan anggaran.
Persetujuan manajemen atas tarif overhead dan biaya standar, pelaporan
data biaya pabrikasi yang tepat waktu untuk menelaah kinerja
manajemen dan investigasi varians.
b. Menjaga Kebenaran Saldo-saldo Persediaan

Perhitungan persediaan periodik yang independen, pengecekan periodik
yang independen dengan catatan tentang jumlah dan kepemilikan,
melakukan inspeksi periodik terhadap kondisi persediaan, dan penelaahan
manajemen atas laporan aktivitas persediaan.
16.2.3. Mendapatkan Pemahaman dan Menilai Risiko Pengendalian

Auditor biasanya akan menguji pengendalian manual melalui kombinasi antara
pengajuan pertanyaan, observasi terhadap individu-individu yang sedang
melaksanakan tugasnya, pemeriksaan dokumen dan laporan, serta pelaksanaan
kembali beberapa aktivitas pengendalian oleh auditor sendiri. Hasil dari setiap
pengujian pengendalian ini harus didokumentasikan untuk membentuk dasar bagi
penilaian risiko pengendalian akhir atas asersi signifikan yang berkaitan dengan
transaksi pabrikasi.

16.3 PENGUJIAN SUBSTANTIF ATAS SALDO PERSEDIAAN


Kategori

Substantif Pengujian

Tujuan Audit Atas

Saldo Akun

Prosedur Awal

1. Memperoleh pemahaman mengenai bisnis dan industri
serta menentukan :

a. Signifikansi harga pokok penjualan dan persediaan
bagi entitas.

b. Penggerak ekonomi utama yang mempengaruhi harga
pokok penjualan, marjin kotor, dan kemungkinan
keusangan persediaan entitas.
c. Sejauh mana klien memiliki persediaan konsinyasi
(masuk atau keluar).
d. Eksistensi komitmen pembelian dan konsentrasi
aktivitas dengan pemasok.

VA2

2. Melakukan prosedur awal atas saldo dan catatan
persediaan yang akan diuji lebih lanjut.
a. Menelusuri saldo awal persediaan ke kertas kerja
tahun sebelumnya.
b. Menelaah aktivitas dalam akun persediaan dan
menyelidiki ayat jurnal yang tampak tidak biasa
menyangkut jumlah atau sumbernya.
c. Memverifikasi total catatan perpetual dan skedul
persediaan lainnya serta kesesuaiannya dengan saldo
akhir buku besar umum.

Prosedur Analitis

1. Melakukan prosedur analitis.

a. Menelaah pengalaman dan kecenderungan industri.
b. Memeriksa analisis perputaran persediaan.
c. Menelaah hubungan saldo persediaan dengan
aktivitas pembelian, produksi, dan penjualan terakhir.
d. Membandingkan saldo persediaan dengan volume
penjualan yang diantisipasi.

EO2,3; C2,3; VA2,3

Pengujian
Rincian
Transaksi

1. Memvouching ayat jurnal dalam akun persediaan ke
dokumentasi pendukung (misal : faktur penjual,
catatan biaya pabrikasi, laporan produksi yang telah
selesai, catatan penjualan dan retur penjualan)

EO2,3; C2,3; RO2;
VA2,3

2. Menelusuri data dari catatan pembelian,
pabrikasi,produksi yang telah selesai, dan penjualan ke
akun persediaan.

EO2,3; C2,3; RO2;
VA2,3

3. Pengujian pisah batas retur pembelian dan penjualan,
perpindahan barang melalui departemen pabrikasi,
dan penjualan.

EO2,3; C2,3; RO2










9



Pengujian
Rincian Saldo

1. Mengamati perhitungan fisik persediaan yang
dilakukan klien.
a. Memutuskan waktu dan luas pengujian
b. Mengevaluasi kelayakan rencana perhitungan
persediaan klien.
c. Mengamati kecermatan perhitungan klien dan
melakukan pengujian perhitungan.
d. Mencari indikasi adanya persediaan yang bergerak
lambat, rusak, atau usang.
e. Mempertanggungjawabkan semua label persediaan
dan lembar perhitungan yang digunakan dalam
perhitungan fisik.

EO2; C2; VA2

2. Menguji akurasi klerikal daftar persediaan.
a. Menghitung kembali total dan perkalian kuantitas
dengan harga per unit.
b. Menelusuri pengujian perhitungan ke daftar.
c. Memvouching persediaan dalam daftar ke label
persediaan dan lembar perhitungan.
d. Merekonsiliasi perhitungan fisik dengan catatan
perpetual dan saldo buku besar umum serta menelaah
ayat jurnal penyesuaian.

EO2; C2; VA2

3. Menguji penetapan harga persediaan.
a. Memeriksa faktur penjual yang telah dibayar untuk
persediaan yang dibeli.
b. Memeriksa ketepatan tariff tenaga kerja langsung dan
overhead, biaya standar, serta disposisi varians yang
berhubungan dengan persediaan yang diproduksi.

VA2

4. Mengkonfirmasi persediaan pada lokasi di luar entitas.

EO2; C2; RO2

5. Memeriksa perjanjian dan kontrak konsinyasi.

RO2; PD2

Pengujian
Rincian Saldo :
Estimasi
Akuntansi

1. Mengevaluasi nilai realisasi bersih persediaan:
a. Memeriksa faktur penjualan setelah akhir tahun dan
melakukan pengujian nilai terendah antara harga
pokok dan harga pasar.
b. Membandingkan persediaan dengan catalog
penjualan dan laporan penjualan tahun berjalan
entitas.
c. Mengajukan pertanyaan tentang persediaan yang
bergerak lambat, berlebih, atau usang dan
menentukan perlunya melakukan penurunan nilai
persediaan.
d. Mengevaluasi proses manajemen untuk mengestimasi
nilai realisasi bersih persediaan dengan menggunakan
pengalaman sebelumnya.
e. Mengevaluasi nilai realisasi bersih persediaan
berdasarkan informs tentang :
Kecenderungan industri
Kecenderungan perputaran persediaan
Persediaan tertentu yang bergerak lambat

VA2






10
11
Penyajian dan
Pengungkapan
1. Membandingkan penyajian dan laporan dengan
GAAP.
a. Mengkonfirmasi perjanjian penjaminan persediaan.
b. Menelaah penyajian dan pengungkapan persediaan
dalam konsep laporan keuangan dan menentukan
kesesuaiannya dengan GAAP
PD2,3,4



16.4 JASA-JASA BERNILAI TAMBAH DALAM SIKLUS PRODUKSI

Manajemen persediaan merupakan proses inti yang harus dikelola dengan baik oleh setiap
perusahaan pabrikasi, pedagang grosir, serta pengecer agar dapat mencapai tujuan
profitabilitas dan arus kas. Pada saat mengevaluasi masalah-masalah seperti nilai realisasi
bersih, persediaan, auditor harus memperhitungkan risiko bisnis klien, risiko adanya
produk pengganti atau perebutan pangsa pasar oleh pesaing serta harus berbagi
pengetahuan dan pemahaman tentang hal ini dengan klien.
12
CASE CQ 16-24
PROSEDUR ANALITIS UNTUK SIKLUS PRODUKSI CIRCUITS TECHNOLOGY INC.



20x1 20x2 20x3 20x4 20x5
Accounts

Receivable, net
$ 837 $ 1.335 $ 1.121 $ 962 $ 822
Inventory $ 1.025 $ 1.327 $ 1.099 $ 1.003 $ 1.027
Accounts Payable $ 164 $ 380 $ 225 $ 201 $ 175
Sales $ 3.780 $ 5.638 $ 4.623 $ 4.022 $ 3.095
Cost of Sales $ 1.812 $ 2.691 $ 2.399 $ 1.923 $ 1.859
Gross Margin $ 1.968 $ 2.947 $ 2.224 $ 2.099 $ 2.046


Diminta :

a. Hitung pembelian, laba kotor, jumlah hari untuk menjual persediaan, periode penagihan
piutang , dan jumlah hari untuk melunasi utang dagang untuk akhir tahun 20x2, 20x3,
20x4, dan 20x5!

b. Deskripsikan tren yang diidentifikasi dengan melakukan prosedur analitis pada gross
operating cycle, net operating cycle, dan laba kotor!
c. Jika salah saji yang dapat ditolerir adalah $45.000 untuk persediaan, kembangkan sebuah
expectation range untuk inventory turn days!
d. Dengan menaruh perhatian pada inventory, apa yang mungkin diindikasikan dari tren
tersebut tentang potensi salah saji pada inventory?


Jawaban :

a. Perhitungan :

Pembelian

HPP = Pembelian + Persediaan Awal Persediaan Akhir

20x2

$ 2.691 = Pembelian + $ 1.025 - $ 1.327

Pembelian = $ 2.691 - $ 1.025 + $ 1.327

Pembelian = $ 2.993

20x3

$ 2.399 = Pembelian + $ 1.327 - $ 1.099

Pembelian = $ 2.399 + $ 1.099 - $ 1.327
13
Pembelian = $ 2.171

20x4

$ 1.923 = Pembelian + $ 1.099 - $ 1.003

Pembelian = $ 1.923 + $ 1.003 - $ 1.099

Pembelian = $ 1.827

20x5

$ 1.859 = Pembelian + $ 1.003 - $ 1.027

Pembelian = $ 1.859 + $ 1.027 - $ 1.003

Pembelian = $ 1.883



Inventory Turn Days

Rasio Jumlah Hari untuk Menjual Persediaan =
20x2 20x4
= 180 hari = 190 hari
20x3 20x5
= 167 hari = 202 hari



Account Receivable Turn Days

Periode Penagihan Piutang =
20x2 20x4
= 86 hari = 87 hari
20x3



= 89 hari
20x5



= 97 hari



Account Payable Turn Days

Rasio Jumlah Hari untuk Membayar Utang Usaha =
14
20x2 20x4
= 46 hari = 40 hari
20x3



= 38 hari
20x5



= 34 hari



% Gross Margin




20x2 20x4
= 52% = 52%
20x3



= 48%
20x5



= 66%



b. Deskripsi tren :

Keterangan 20x2 20x3 20x4 20x5

Periode penagihan piutang
86 89 87 97

Jumlah hari untuk menjual persediaan
180 167 190 202

Gross Operating Cycle
266 256 277 299

Jumlah hari untuk membayar utang usaha
46 38 40 34

Net Operating Cycle
220 218 237 265

Tren tersebut memperlihatkan kenaikan pada inventory turn days, penurunan pada
account payable, dan gross margin yang relatif tetap. Gross operating cycle konstan
dikarenakan ada kenaikan pada account receivable turn days. Net operating cycle tidak
menunjukkan kenaikan yang sama seperti gross operating cycle dikarenakan payable turn
days mengalami penurunan.
15
c. Expectation range untuk inventory turn days jika salah saji yang ditoleransi adalah
sebesar $45.000 untuk inventory :
If tolerable misstatement is $45,000 this translates to an expectation range of plus or
mine 9 days based on the following calculation.$45,000 $1,859,000 *365 = 8.8 days
which rounds to 9 days.


d. Indikasi dari tren tentang kemungkinan salah saji pada inventory :
The increase in inventory turn days indicates that inventory may be overstated. Afurther
risk may be associated with unrecorded liabilities. The combination mayresult in an
overstatement of net income.