Anda di halaman 1dari 44

# APLIKASI TEOREMA PHYTAGORAS PADA LUKISAN RUAS

GARIS

SKRIPSI

## Diajukan Dalam Rangka Menyelesaikan Studi Strata 1

untuk memperoleh Gelar Sarjana Sains

Oleh

## Nama : Manzilur Rochmah

Nim : 4150403005
Program Studi : Matematika
Jurusan : Matematika

## FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

sendiri”

## “Everything Noting Impossible but Everything Isn't Easy”

“Jangan pernah terpaku pada apa yang menimpa kita, melainkan perhatikan

PERSEMBAHAN

## 3. Dosen dan sahabatku.

4. Okta my cassanova
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

## HALAMAN PENGESAHAN .............................................................. i

ABSTRAK ............................................................................................. ii

## MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................ iii

KATA PENGANTAR........................................................................... v

DAFTAR ISI.......................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN

## A. Alasan Pemilihan Judul............................................................... 1

B. Permasalahan ............................................................................. 2

## C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................... 3

D. Sistematika Skripsi...................................................................... 4

## BAB II LANDASAN TEORI

A. Kesebangunan ............................................................................ 6

## B. Merumuskan Masalah ................................................................. 21

C. Studi Pustaka............................................................................... 22

## E. Penarikan Simpulan .................................................................... 22

BAB IV PEMBAHASAN

A. Lukisan Dasar.............................................................................. 23

## D. Membagi sudut menjadi dua bagian yang sama ......................... 25

E. Pemindahan Sudut....................................................................... 26

F. Melukis garis............................................................................... 29

## ruas garis berukuran 7 satuan.................................................. 29

BAB V PENUTUP

A. SIMPULAN ................................................................................ 32

B. SARAN ....................................................................................... 37

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR LAMPIRAN
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan

Garis”.

## Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:

1. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang, bapak Drs. Kasmadi Imam S.,

M.S.

Supriyono, M.Si.

## bimbingan, dan arahan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

4. Pembimbing II, bapak Drs. Moch Chotim, M.S yang telah memberikan

## bimbingan, dan arahan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

5. Ayah dan Ibu yang senantiasa mendoakan serta memberikan dorongan baik

## 6. My Cassanova Okta (a man to love) yang telah memberikan waktu, perhatian

dan semua yang tak terlupakan sehingga penulis ingin segera menyelesaikan

skripsi ini.

7. Sahabatku Rahma, Ema, Asti, Ari, Ita, dan Devi yang tak henti-hentinya

## 8. Teman-temanku dan semua angkatan 2003, terima kasih atas semuanya.

9. Kelurga Besar ” Sugeng Rawuh ” Bapak Sunari, yang tiada henti memotivasi

penulis.

Penulis
ABSTRAK

## Semarang, Skripsi, (Matematika - Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan

Ilmu Pengetahuan Alam) Universitas Negeri Semarang, 2006

## Matematika adalah ilmu pasti dimana dalam segala perhitungannya dapat

dipertanggung jawabkan. Hakekat matematika bersifat deduktif aksiomatis,
artinya untuk mempelajari matematika bertolak dari pengertian pangkal,
pernyataan pangkal, kemudian aksioma. Pendekatan dari pengertian pangkal,
pernyataan pangkal dan aksioma dapat memunculkan suatu Teorema yang
menjadi dasar dalam menemukan solusi suatu masalah, kemudian muncul
teorema-Teorema yang lain. Banyak cabang dalam ilmu matematika, salah
rancang bangun, pengukuran suatu ketinggian, dan aplikasi yang lain.
Ada beberapa Teorema yang mendasar dalam ilmu geometri, salah satunya
adalah Teorema Pythagoras. Teorema ini ditemukan oleh seorang matematikawan
yang bernama Pythagoras. Dalam hal ini penulis mencoba menganalisis melalui
Teorema Pythagoras dan sifat-sifat yang diturunkan dari Teorema Pythagoras
dapat menjawab problem pengukuran ruas garis yang tidak mungkin dilakukan
secara manual.
Sebagai ilustrasi kita tidak mungkin melukis ruas garis yang berukuran
3 satuan. Meskipun diketahui ruas garis berukuran satu satuan hanya dengan
menggunakan satu alat penggaris saja, sekurang-kurangnya kita harus
menggunakan alat bantu jangka di samping alat bantu penggaris.
Beberapa lukisan bentuk aljabar untuk pengukuran suatu ruas garis,
mutlak menggunakan Teorema Pythagoras sebagai basis untuk memperoleh
ukuran ruas garis yang dikehendaki. Sebagai contoh untuk melukis ruas garis y
apabila diketahui y = a 2 − bc + d 2 , dengan ketentuan ruas a, b, c, d diketahui
dan a 2 + d 2 > bc.
1

BAB I

PENDAHULUAN

## diterima tanpa bukti. Pendekatan dari pengertian pangkal, pernyataan pangkal

dan aksioma dapat memunculkan suatu teorema yang menjadi dasar dalam

lain.

## Secara umum dapat digambarkan pada diagram berikut:

Undifined
elements

2. Definisi 1. Aksioma

3. Teorema

Teorema

dst
2

## kemudian dikenal dengan nama Teorema Pythagoras. Dalam berbagai

rancang bangunan tidak lepas dari Teorema Pythagoras, dalam ilmu fisika

## gedung, dalam bidang matematika sendiri Teorema Pythagoras sangat

membantu dalam membuat sebuah garis yang tidak dapat di ukur dengan

sebuah penggaris.

B. Permasalahan

## Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah: apakah melalui Teorema Pythagoras dan sifat-sifat yang

3

1. Tujuan

secara manual.

2. Manfaat

## Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagi Mahasiswa

kehidupan.

b. Bagi Pembaca

## 2) Masukan bagi pembaca dalam merencanakan dan melakukan

rancangan bangun.

c. Bagi Universitas
4

## berkaitan dengan tugasnya sebagai lembaga pendidikan.

D. Sistematika Skripsi

Penulisan skripsi ini secara garis besar dibagi menjadi tiga bagian yaitu

## Bagian awal memuat halaman judul, abstrak, halaman pengesahan,

halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar

## gambar, dan daftar lampiran.

sebagai berikut.

1. Bab I Pendahuluan

yang disajikan.

## 3. Bab III Metode Penelitian

Bab ini meliputi empat hal, yaitu studi literatur dan studi kasus, analisis

## 4. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab ini berisi pembahasan dari permasalahan yang disajikan yang

terbagi menjadi dua sub bagian, yaitu hasil penelitian dan pembahasan.
5

5. Bab V Penutup

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KESEBANGUNAN

## Secara umum dua bangun dikatakan sebangun jika bangun yang

satu dapat diperoleh dari bangun yang lain melalui serangkaian transformasi

## (translasi, rotasi, refleksi) yang diakhiri dengan suatu dilatasi khususnya:

Dua segi-n (n bilangan asli lebih dari atau sama dengan 3) dikatakan

sebangun jika dan hanya jika sama sudut. Pengertian sama sudut dijelaskan

sebagai berikut:

## antara A dan B dengan relasi sama dengan.

Cukup jelas, dua segitiga dikatakan sebangun jika dan hanya jika kedua

segitiga itu sama sudut. Ini berakibat sisi yang seletak sebanding.

Contoh 1.1

Gambar 1.1
7

C'

B B'
p

A
A'

Contoh 1.2

Gambar 1.2

D' C'

D C
A' B'

A B
p

## Jelas jika faktor dilatasinya 1 atau -1 diperoleh dua bangun yang

kongruen.

Dari dua contoh diatas dapat ditarik kesimpulan yaitu dua segi-n

dikatakan sebangun jika dan hanya jika sama sudut, dalam arti terdapat

## korespondensi 1-1 antara himpunan sudut dalam segi-n yang pertama

8

dengan himpunan sudut dalam segi-n yang kedua dengan relasi sama

dengan.

Akibat:

## Perbandingan antara sisi-sisi yang seletak adalah sama.

Gambar 1.3

C R

A B P Q

PQ QR PR
Jika perbandingan yang sama diumpamakan k maka = = = k.
AB BC AC

## Ada empat hal dalam kesebangunan, yaitu:

1. Dua segitiga sebangun kalau ketiga sisi segitiga yang satu sebanding

Gambar 1.4
O C'
C

A B

A' B'

## Jika perbandingan yang sama ini kita umpamakan k maka :

9

A'B' = k x AB

B'C' = k x BC ………..I

C'A' = k x CA

## p, maka diperoleh A''B''C'' dimana:

A''B'' = k x AB

B''C'' = k x BC ………..II

C''A''= k x CA

Dari I dan II terdapat A'B' = A"B", B'C' = B"C" dan C'A' = C"A"

## Sehingga ∆ A'B'C' ≅ ∆ A"B"C", dan ∆ ABC ∼ ∆ A'B'C' (SSS).

2. Dua segitiga sebangun kalau dua sudut dari segitiga yang satu sama

Gambar 1.5

C" C'

A B
B"
A" A' B'
10

## Diketahui: ∠ A = ∠ A', ∠ B = ∠ B', dan perkalian ∆ ABC dengan

A' B'
menghasilkan ∆ A"B"C" dimana ∠ A = ∠ A" = ∠ A', ∠ B = ∠
AB
B" = ∠ B',

A' B'
Sehingga A"B" = xAB = A' B' .
AB

## Akibat ∆ A"B"C" ≅ ∆ A'B'C' ∼ ∆ ABC.

3. Dua segitiga sebangun kalau dua sisi segitiga yang satu sebanding

dengan dua sisi segitiga yang kedua dan sudut apit kedua sisi itu sama.

O C"
C

C'
A B

A" B"

B'
A'
Gambar 1.6

## Diketahui B'C' : BC = A'B' : AB ∠ B' = ∠ B, perkalian ∆ ABC dengan

B' C '
menghasilkan ∆ A"B"C",
BC

## dimana ∠ A = ∠ A" = ∠ A', ∠ B = ∠ B" = ∠ B',

B' C '
Sehingga B"C" = xBC = B' C ' .
BC

## B' C ' A' B'

A"B" = xAB = xAB = A'B',
BC AB

## Akibat ∆ A"B"C" ≅ ∆ A'B'C' ∼ ∆ ABC.

11

4. Dua segitiga sebangun kalau dua kedua segitiga itu siku-siku sadangkan

sisi miring dan sebuah sisi siku-siku dari segitiga yang satu sebanding

dengan sisi miring dan sisi siku-siku dari segitiga yang kedua.

Gambar 1.7

C" C'

A B
B"
A" A' B'

## Diketahui A'B' : AB = B'C' : BC, ∠ C' = ∠ C

∠ A' = ∠ A,

A' B'
perkalian ∆ ABC dengan menghasilkan ∆ A"B"C", dimana
AB

A' B'
B"C" = xBC = B' C ' .
AB

A' B'
A"B" = xAB = A' B' = A'B',
AB

Contoh 1.3
12

## Jika AD dan BE masing-masing garis tinggi ∆ ABC buktikan bahwa

CD x CB = CE x CA.

Penyelesaian:

E D

A B

Gambar 1.8

## Diketahui : ∆ ABC, AD dan BE garis tinggi

Buktikan : CD x CB = CE x CA

Bukti :

## Sehingga Δ CDA ∼ Δ CEA (Sd Sd).

Jadi AD : BE = AC : BC = CD : CE

↔ AC x CE = BC x CD

↔ CD x CB = CE x CA.
13

B. TEOREMA PYTHAGORAS

## Sisi siku-siku Sisi miring

A Sisi siku-siku B

Gambar B.1

ABC di atas, sisi siku-sikunya adalah AB dan AC. Sedangkan sisi miring

## miringnya adalah BC. Perhatikan gambar berikut:

D b c C
c a
a
b
a a2
b
a
c
Ac b B

Gambar B.2
14

Luas daerah yang tidak diarsir = luas ABCD – 4 x luas daerah yang diarsir.

## ⇔ a2 = (b+c) (b+c) – 4( bc)

⇔ a2 = b2 + 2 bc + c2 – 2 bc

⇔ a2 = b2 + c2

S c R

b
a

a
c

P b Q

Gambar B.3

## Luas trapezium PQRS = 1 x (PQ + RS) x QR

2

1
= (b + c) (b + c)
2

1
= (b + c) 2….(1)
2

## Luas trapezium PQRS = L.Δ PQT + L.Δ RST + L.Δ PTS

1 1 1 2 1
= bc + bc + a = bc + a2…(2)
2 2 2 2

## Persamaan (2) = persamaan (1), maka:

15

1 2 1
bc + a = (b + c) 2
2 2

⇔ 2bc + a2 = (b + c) 2

⇔ 2bc + a2 = b2 + 2bc + c2

⇔ a2 = b2 + c2.

## C. TEOREMA PROYEKSI DALAM SEGITIGA SIKU-SIKU, LANCIP,

DAN TUMPUL

titik alas garis tegak lurus yang dapat diturunkan dari titik itu ke garis tersebut.

A
B'
m

A'

Gambar C.1

16

q D
b a
p
t

A c B

Gambar C.2

Teorema:

Bukti:

## Lihat ∆ ADC dan ∆ BAC

Oleh karena:

∠ D1 = ∠ A (90°) ;

∠C=∠C

∠ A2 = ∠ B

Maka:

∆ ADC ∼ ∆ BAC → b : a = q : b
17

Maka b2 = qa.

b. Kuadrat garis tinggi ke sisi miring sama dengan hasil kali bagian sisi

miring.

Bukti:

## lihat ∆ ADB dan ∆ CAB

Analog a:

∆ ADC ∼ ∆ BAD → t : p = q : t

Maka t2 = pq.

c. Hasil kali sisi siku-siku sama dengan kasil kali sisi miring dan garis

Bukti:

## karena ∆ ADB ∼ ∆ BAC → c : a = t : b

Maka bc = ta.

d. Kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat kedua sisi yang lain.

## Dari hasil diatas maka di dapat:

b2 = qa

c 2 = pa +

⇔ b2 + c2 = qa + pa

⇔ b2 + c2 = a (q + p)

⇔ b2 + c2 = a. a = a2
18

⇔ b2 + c2 = a2.

## BC pada AB, dimana AD = garis p, AC = garis b, BD = garis q, BC =

garis a, AB = garis c.

C
b a

t
p q
A D B
c

Gambar C.3

Buktikan : a2 = b2 + c2 – 2 pc

b2 = a2 + c2 – 2 qc

Bukti:

## Pada Δ ADC t2 = b2 – p2 dan pada Δ DBC t2 = a2 – q2

⇔ a2 – q2 = b2 – p2

⇔ a2 = b2- p2 + q

⇔ a2 = b2 – p2 + (c – p)2

⇔ a2 = b2 – p2 + c2 – 2 cp +p2

∴a2 = b2 + c2 – 2 pc.
19

⇔ b2 – p2 = a2 – q2

⇔ b2 = a2 – q2 +(c – q)2

⇔ b2 = a2 – q2 + c2 – 2 cq + q2

⇔ b2 = a2 + c2 – 2 qc.

Jika ∠ A tumpul

a
t b

c
D A B
q
E

Gambar C.4

## Maka buktikan bahwa:

a2 = b2 + c2 + 2 pc

Bukti:

t2 = b2 - p2

⇔ t2 = a2- (c + p) 2

⇔ b2 - p2 + a2 – (c2 + 2 pc + p2)

⇔ b2 = a2 - c2 – 2 pc

∴a2 = b2 + c2 + 2 pc.
20

BAB III

METODE PENELITIAN

Untuk dapat mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan agar

## penelitian berjalan dengan lancar maka metode dan perancangan penelitian

memegang peranan yang sangat penting . sebab dengan metode penelitian akan

## diperoleh data yang lengkap untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

A. Menemukan Masalah

Dalam tahap ini dicari sumber pustaka dan dipilih bagian dari sumber

## pustaka sebagai suatu masalah.

B. Merumuskan Masalah

## perumusan yang jelas, penelitian diharapkan dapat mengetahui variable-

variabel apa yang akan diukur dan apakah ada alat-alat ukur yang sesuai untuk

mencapai tujuan penelitian. Dengan rumus masalah yang jelas, akan dapat

21

approach),

## Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: bagaimana aplikasi

Teorema Pythagoras dalam lukisan ruas garis yang tidak dapat di ukur dengan

C. Studi Pustaka

## Jurnal-jurnal penelitian merupakan laporan hasil-hasil penelitian

yang dapat dijadikan sumber masalah, karena laporan penelitian yang baiknya

## berkaitan dengan penelitian tersebut. Suatu penelitian sering tidak mampu

memecahkan semua masalah yang ada, karena keterbatasan penelitian. Hal ini

yang belum dijawab. Selain jurnal penelitian bacaan lain seperti buku-buku

1. Sumber Data

22

2. Analisis Data

## pengerjaan dengan cara lain.

3. Pengambilan Keputusan

## Pengambilan keputusan dilaksanakan setelah penelitian ini

dilakukan.

E. Penarikan Simpulan

dilakukan.
23

BAB IV

PEMBAHASAN

A. Lukisan Dasar

3. AE = EB.

Gambar A. 1.

A dan B
24

Gambar A. 2.

A dan B

Gambar A. 3.
25

## sama dari tadi, yang berpotongan di D

Gambar A. 4.
26

e. Pemindahan Sudut

A di B dan C

memotong g di Q

## sebagai pusat yang memotong busur tadi di R

5. tarik PR, ∠ A = ∠ P.

Gambar A. 5.

B. Melukis garis

Contoh 1:

ab
Lukislah garis x =
c
27

Penyelesaian:

Misal:

xc=ab

x:b=a:c

## sesuai dengan teorema pada kesebangunan maka dapat digambar sebagai

berikut:

Gambar B. 1.

a
c x

Lukislah garis y = a 2 + b 2

## Dari a dan b yang diketahui maka y dapat dilukiskan dengan menggunakan

Teorema Phytagoras.

Gambar B. 2.
28

y
a
⎣ b

ab
Lukiskan garis t 2 = x2 + y2
c

Penyelesaian:

ab
Misal m = x 2 + y 2 dan n = ,
c

n c = ab

c:b=a:n

Gambar B. 4 Gambar B. 5

m
x b

y a

c n
29

Gambar B. 6.

⎦⎣
m n

C. Melukis ruas garis yang berukuran 5 satuan jika diketahui ruas garis

berukuran 7 satuan.

## Prosedur untuk memperoleh ruas garis yang berukuran 5 satuan diuraikan

sebagai berikut:

1. Dilukis ruas garis yang berukuran a 7 satuan apabila ruas garis yang

a
30

Gambar C.1

## 3. setelah ruas garis a 7 satuan terlukis, maka buatlah setengah lingkaran

dengan diameter a 7 satuan, dan pindahkan Ø pada salah satu titik ujung

Gambar C.2

31

## panjang diameter ruas garis 7 satuan yang diketahui, dan pindahkan Ø

pada salah satu ujung ruas garis 7 satuan, perpanjangan garis yang

## dan sisi depan sudut Ø panjangnya 1 satuan.

Gambar C.3

5. setelah ruas garis yang panjangnya 1 satuan diketahui, maka dapat dengan

Gambar C. 4.
BAB V

PENUTUP

A. SIMPULAN

## kesimpulan sebagai berikut:

1. Teorema Phytagoras

A B

Gambar A. 1.

ΔABC di atas, sisi siku-sikunya adalah AB dan AC. Sedangkan sisi miring

## sisi miringnya adalah BC. Perhatikan gambar berikut:

32
D b c C
c
a
a
b
2
a
b a
a
c
Ac b B

Gambar A. 2.

Luas daerah yang diarsir = luas ABCD – 4 x luas daerah yang diarsir.

## ⇔ a2 = (b+c) (b+c) – 4( bc)

⇔ a2 = b2 + 2 bc + c2 – 2 bc

⇔ a2 = b2 + c2

Teorema:

33
C

q
D

b a

t p

A c B

Gambar A. 3.

## miring dan sisi miring sendiri.

∆ ADC ∼ ∆ BAC → b : a = q : b

Maka b2 = qa.

a. Kuadrat garis tinggi ke sisi miring sama dengan hasil kali bagian sisi

miring.

∆ ADC ∼ ∆ BAD → t : p = q : t

Maka t2 = pq.

b. Hasil kali sisi siku-siku sama dengan kasil kali sisi miring dan garis

## tinggi ke sisi miring itu.

∆ ADB ∼ ∆ BAC → c : a = t : b

Maka bc = ta.

c. Kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat kedua sisi yang lain.

b2 + c2 = a2.

34
3. Teorema proyeksi dalam segitiga lancip/tumpul

maka:

a. a2 = b2 + c2 – 2 pc

b. b2 = a2 + c2 – 2 qc

b a
t
p q
A D B
c

## Jika ∠ A tumpul maka

a
t b

p c
D A B
q
E

a2 = b2 + c2 + 2 pc.

## Metode pengerjaan dapat dijelaskan sebagai berikut:

35
a. Dilukis ruas garis yang berukuran a 7 satuan apabila ruas garis

## c. Setelah ruas garis a 7 satuan terlukis, maka buatlah setengah lingkaran

dengan diameter a 7 satuan, dan pindahkan Ø pada salah satu titik ujung

## panjang diameter ruas garis 7 satuan yang diketahui, dan pindahkan Ø

36
pada salah satu ujung ruas garis 7 satuan, perpanjangan garis yang

## dan sisi depan sudut Ø panjangnya 1 satuan.

e. Setelah ruas garis yang panjangnya 1 satuan diketahui, maka dapat dengan

B. SARAN

37