Anda di halaman 1dari 2

IJTIHAD

1. Pengertian
Kata ijtihad berasal dari kata jahada, berarti berusaha sungguh-sungguh.
Sedangkan menurut Mukti Ali, Ijtihad adalah berusaha sekeras-kerasnya untuk
membentuk penilaian yang bebas tentang sesuatu masalah hukum berdasarkan
isyarat-isyarat al-quran dan as-sunnah. Ijtihad disebut juga sebagai upaya
mencurahkan segenap kemampuan untuk merumuskan hukum syara, dengan cara
istinbat dari al-quran dan as-sunnah. (Hidayat 2000: 86)
Secara garis besar ajaran Islam telah diatur di dalam al-Quran dan as-Sunnah,
tetapi masih ada hal-hal yang bersifat global atau belum detail penjabarannya, oleh
sebab itu perlu adanya ijtihad para ulama untuk menentukan kepastian hukum tentang
sesuatu masalah merujuk kepada dalil-dalil umum al-quran dan as-sunnah, dengan
kata lain dasar ijtihad itu tidak boleh bertetangan dengan kedua sumber itu.

2. Metode

Ada 6 jenis ijtihad yang masing-masing memiliki pengertian ijtihadnya sendiri. Inilah
keenam jenis ijtihad tersebut:
1. Ijma
Ijmak secara harfiah berarti kesepakatan atau setuju dengan suatu hal.
Sementara itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis ijma adalah kesepakatan para
mujtahid (orang-orang yang berijtihad) mengenai hukum suatu peristiwa yang terjadi
saat Rasulullah wafat.
Contoh ijma adalah pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah pertaman selepas
wafatnya Nabi Saw. Pada saat itu tidak semua muslim setuju dengan ide
pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah. Akan tetapi setelah berijtihad, kaum
muslim mencapai kata mufakat.
2. Qias
Qias secara harfiah berarti membandingkan, mengukur, atau
menyamakan. Sementara itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis qias adalah
kesepakatan untuk menetapkan hukum atas sesuatu (kejadian atau benda) yang tidak
ada dasar nashnya dengan membandingkan kejadian tersebut dengan kejadian yang
sifat dan nilainya setara.
Contoh qias adalah penentuan hukum bagi narkoba. Narkoba adalah haram
hukumnya, seperti minuman keras. Para mujtahid menyepakati bahwa narkoba
memiliki sifat dan pengaruh yang sama dengan minuman keras, maka hukumnya
sama-sama haram.
3. Istihsan
Istihsan secara harfiah berarti mencari yang baik atau menganggap baik.
Sementara itu menurut istiah, pengertian ijtihad jenis istihsan adalah kesepakatan
untuk meninggalkan hukum yang mengatur suatu peristiwa dan menggantinya dengan
hukum lain dari peristiwa yang sama, karena terdapat dalil yang mewajibkan umat
muslim untuk meninggalkannya.
Contoh istihsan adalah ketika hukum melarang jual beli (ijab kabul) terhadap benda
yang tidak ada dan belum diketahui wujudnya, para ulama berijtihad untuk
memperbolehkan istihsan pada jual beli dengan pemesanan, sewa menyewa, dan
sebagainya yang ketika akad jual beli bendanya tidak ada.


4. Maslahah mursalah
Pengertian ijtihad jenis maslahah mursalah adalah ketetapan ketika hukum
syari tidak mengatur suatu kejadian, tetapi tidak ada dalil yang melarang kejadian
tersebut. Contoh maslahah mursalah adalah pembentukan lembaga penjara,
pemungutan pajak, pencetakan mata uang, dan sebagainya.
5. Urf
Urf secara harfiah berarti kebiasaan. Sementara itu menurut istilah,
pengertian ijtihad jenis urf adalah penetapan hukum mengenai sesuatu yang sudah
menjadi kebiasaan dan tradisi, yang tidak melanggar hukum Al-Quran dan hadis.
Contoh penerapan urf adalah halalnya jual beli tanpa mengucapkan ijab kabul secara
lisan karena penjual dan pembeli sudah saling mengerti maksud satu sama lain tanpa
harus dilisankan.
6. Istishab
Istishab secara harfiah berarti pengakuan akan suatu hubungan. Sementara
itu menurut istilah, pengertian ijtihad jenis istishab adalah penetapan hukum atas
sesuatu dengan bercermin pada peristiwa sebelumnya karena belum ditemukannya
dalil terkait peristiwa tersebut.
Contoh penerapan istishab adalah ketika mujtahid harus mencari tahu hukum tentang
sebuah perjanjian tetapi ia tidak menemukan jawabannya. Lantas ia menetapkan
hukum berdasarkan peristiwa yang sama sebelumnya.

3. Contoh
Salah satu contoh ijtihad yang sering dilakukan untuk saat ini adalah
tentang penentuan tanggal 1 Syawal. Dalam kasus tersebut, para ulama
berkumpul untuk berdiskusi mengeluarkan argumen masing-masing untuk
menentukan jatuhnya 1 Syawal. Begitu juga dengan penentuan awal
Ramadhan. Masing-masing ulama memiliki dasar hukum dan cara dalam
penghitungannya, apabila telah ketemu kesepakatan ditentukanlah 1 Syawal
itu.
Contoh lain adalah tentang bayi tabung, pada zamannya Rasulullah
teknologi bayi tabung belum ada. Akhir-akhir ini bayi tabung dijadikan solusi
oleh orang yang memiliki masalah dengan kesuburan. Pasangan yang sulit
mendapatkan keturunan berharap dapat memenuhi pemecahan masalah
agar dapat memperoleh keturunan dengan cara ini.
Para ulama telah merujuk kepada hadis-hadis agar dapat menemukan hukum
yang telah dihasilkan oleh teknologi ini. Di Indonesia, MUI menyatakan bahwa
bayi tabung dari sperma dan ovum sepasang suami istri yang sah hukumnya
mubah (boleh) karena hal ini merupakan ikhtiar yang berdasarkan agama.
Allah sendiri mengajarkan kepada manusia untuk selalu berusaha dan
berdoa.
Sementara itu, para ulama melarang penggunaan teknologi bayi
tabung dari suami istri yang menitipkan ke rahim perempuan lain, jika ada
yang demikian maka hal ini memiliki hukum haram. Alasannya karena akan
menimbulkan masalah yang rumit di kemudian hari terutama soal warisan.
Dalam Islam anak yang berhak mendapat warisan adalah anak kandung, jika
demikian bagaimana status hubungan anak dari hasil titipan tersebut?
Dikandung tetapi bukan milik sendiri, jadi hanya sekadar pinjam tempatnya
saja, tentu hal ini membuat rumit.