Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

AGAMA

Oleh:
Putri Melati Dewi
X-7/23
Kata Pengantar

Puji Syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah


memberikan ridhonya dalam menyelesaikan tugas saya kali ini yang
berisi khutbah tentang idul Adha.

Kali ini tugas saya menceritakan tentang Idul Adha itu sendiri.
Tugas ini saya buat sebagai pengganti ketidak hadiran saya ketika
SMAN 5 Surabya melaksanakan Sholat Ied di sekolah.
Khutbah Idul Adha

Allahu Akbar- ALLahu Akbar- Allahu Akbar – WaliLlahil Hamd.

Jama’ah Idul Adha yang senantiasa mengharapkan ridha Allah swt.


Alhamdulillah, tentu merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada
terhingga bahwa pada hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya
terbesar bagi umat Islam yang bersifat internasional, setelah dua bulan
sebelumnya kita merayakan hari raya Idul Fithri. Pada hari ini sekitar tiga juta
umat Islam dari beragam suku, bangsa dan ras serta dari berbagai tingkat sosial
dan penjuru dunia berkumpul dan berbaur di kota suci Makkah Al-Mukarramah
untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji: “Dan serulah manusia
untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan
berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap
penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 27)
Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung
dilaksanakan pada hari raya ini yang jatuh di penghujung tahun hijriyah, yaitu
ibadah haji dan ibadah qurban. Kedua-duanya disebut oleh Al-Qur’an sebagai
salah satu dari syi’ar-syi’ar Allah swt yang harus dihormati dan diagungkan oleh
hamba-hambaNya. Bahkan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah merupakan
pertanda dan bukti akan ketaqwaan seseorang seperti yang ditegaskan dalam
firmanNya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan
syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Al-Hajj:
33) Atau menjadi jaminan akan kebaikan seseorang di mata Allah seperti yang
diungkapkan secara korelatif pada ayat sebelumnya, “Demikianlah (perintah
Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah
maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30)
Kedua ibadah agung ini yaitu ibadah haji dan ibadah qurban tentu hanya mampu
dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah
yang merupakan makna ketiga dari hari raya ini: “Qurban” yang berasal dari kata
“qaruba – qaribun” yang berarti dekat. Jika posisi seseorang jauh dari Allah,
maka dia akan mengatakan lebih baik bersenang-senang keliling dunia dengan
hartanya daripada pergi ke Mekah menjalankan ibadah haji. Namun bagi hamba
Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik
Allahumma Labbaik” – lebih baik aku memenuhi seruanMu ya Allah…Demikian
juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat
mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat
dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya
semata-mata memenuhi perintah Allah swt.
Mencapai posisi dekat “Al-Qurban/Al-Qurbah” dengan Allah tentu bukan
merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan (baca:
mujahadah) dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena
seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan
Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada
Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk “muhasabah:
evaluasi diri ” dalam konteks ini adalah: “mampukan kita mengorbankan
keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…
Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai
kedekatan kita dengan Allah swt.
Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLLahil Hamd
Icon manusia yang begitu dekat dengan Allah yang karenanya diberi gelar
KhaliluLlah (kekasih Allah) adalah Ibrahim. Sosok Ibrahim dengan kedekatan
dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah tampil sekaligus dalam dua
ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Dalam ibadah
haji, peran nabi Ibrahim tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini
sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh
Allah swt dalam firmanNya: “Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat
kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu
mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi
orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang
ruku’ serta sujud. Dan kemudian serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji,
niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai
unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh“. (Al-Hajj: 26-27).
Ibadah ini harus diawali dengan kesiapan seseorang untuk menanggalkan
seluruh atribut dan tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status
sosialnya dengan hanya mengenakan dua helai kain ‘ihram’ yang mencerminkan
sikap tawaddu’ dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian
sederhana ini, seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah
mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah. Dengan penuh
kekhusyu’an dan ketundukkan seseorang akan larut dalam dzikir, munajat dan
taqarrub kepada Allah sehingga ia akan lebih siap menjalankan seluruh
perintahNya setelah itu. Dalam proses bimbingan spritual yang cukup panjang ini
seseorang akan diuji pada hari berikutnya dengan melontar jumrah sebagai
simbol perlawanan terhadap syetan dan terhadap setiap yang menghalangi
kedekatan dengan Rabbnya. Kemudian segala aktifitas kehidupannya akan
diarahkan untuk Allah, menuju Allah dan bersama Allah dalam ibadah thawaf
keliling satu titik fokus yang bernama ka’bah. Titik kesatuan ini penting untuk
mengingatkan arah dan tujuan hidup manusia: “katakanlah: “Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian
alam”. (Al-An’am: 162)Akhirnya dengan modal keyakinan ini, seseorang akan
giat berusaha dan berikhtiar untuk mencapai segala cita-cita dalam naungan
ridha Allah swt dalam bentuk sa’I antara bukit shafa dan bukit marwah. Demikian
ibadah haji sarat dengan pelajaran yang kembali ditampilkan oleh Ibrahim dan
keluarganya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumuLlah.
Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama
yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan
ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang
dinanti kelahirannya sekian lama. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur
sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku
sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka
fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-
orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102). Begitulah biasanya manusia akan diuji
dengan apa yang paling ia cintai dalam hidupnya.
Jama’ah Shalat Idul Adha RahimakumuLlah.
Andaikan Ibrahim manusia yang dha’if, tentu akan sulit untuk menentukan
pilihan. Salah satu diantara dua yang memiliki keterikatan besar dalam hidupnya;
Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih
memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah
Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang
siap memenuhi segala perintahNya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin
cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia
memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah
qurban bagi umat nabi Muhammad saw.
Dr. Ali Syariati dalam bukunya “Al-Hajj” mengatakan bahwa Isma’il adalah
sekedar simbol. Simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini.
Kalau Isma’ilnya nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lantas siapa Isma’il kita?
Bisa jadi diri kita sendiri, keluarga kita, anak dan istri kita, harta, pangkat dan
jabatan kita. Yang jelas seluruh yang kita miliki bisa menjadi Isma’il kita yang
karenanya akan diuji dengan itu. Kecintaan kepada Isma’il itulah yang kerap
membuat iman kita goyah atau lemah untuk mendengar dan melaksanakan
perintah Allah. Kecintaan kepada Isma’il yang berlebihan juga akan membuat
kita menjadi egois, mementingkan diri sendiri, dan serakah tidak mengenal batas
kemanusiaan. Allah mengingatkan kenyataan ini dalam firmanNya: “Katakanlah:
jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai
Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik“. (At-Taubah: 24)
Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh
seorang Ibrahim, apapun Isma’il kita, apapun yang kita cintai, qurbankanlah
manakala Allah menghendaki. Janganlah kecintaan terhadap isma’il-isma’il itu
membuat kita lupa kepada Allah. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya
sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun
harus mengorbankan apa yang dicintainya.
Hadirin Jama’ah Shalat Idul Adha yang berbahagia.
Keta’atan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah
keta’atan Isma’il untuk memenuhi tugas bapaknya. Pertanyaan besarnya adalah:
kenapa Isma’il, seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya?.
Bagaimanakan Isma’il memiliki kepatuhan yang begitu tinggi?. Nabi Ibrahim
senantiasa berdoa: “Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang shalih (Ash-
Shaffat: 100). Maka Allah mengkabukan doanya: “Kami beri kabar gembira
kepada Ibrahim bahwa kelak dia akan mendapatkan ghulamun halim”. (Ash-
Shaffat: 101). Inilah rahasia kepatuhan Isma’il yang tidak lepas dari peran serta
orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim
dalam arti seorang yang santun, yang memiliki kemampuan untuk mensinergikan
antara rasio dengan akal budi tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui
proses pembinaan yang panjang. Sehingga dengan tegar Isma’il berkata kepada
ayahandanya dengan satu kalimat yang indah: : “Wahai ayah, laksanakanlah
apa yang diperintahkan Allah, niscaya ayah akan mendapatiku seorang yang
tabah hati, insya Allah”. (Ash-Shaffat: 102)
Orang tua mana yang tak terharu dengan jawaban seorang anak yang ringan
menjalankan perintah Allah yang dibebankan kepada pundak ayahandanya.
Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati
dan perilakunya. Disinilah peri pentingnya pendidikan keagamaan bagi seorang
anak semenjak mereka masih kecil lagi, jangan menunggu ketika mereka remaja
apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia
mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim’.
Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar WaliLlahil Hamd
Setelah mencermati dua pelajaran kehidupan keberagamaan yang sangat
berharga di atas, Prof. Dr. Mushthafa Siba’i pernah mengajukan pertanyaan
menarik yang menggugah hati: “Akankah seorang muslim di hari raya ini menjadi
sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan
dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain? Ataukah ia akan menjadi pribadi
yang mementingkan orang lain di bandingkan dirinya, lalu mendahulukan
kepentingan orang lain atas kepentingan dirinya tersebut?
Memang secara fithrah, manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan
diri sendiri. Ia melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya.
Namun demikian, disamping itu semua, manusia pada dasarnya adalah makhluk
zoon politicon, yang cenderung untuk saling bekerjasama, memilih untuk
bermasyarakat dibandingkan menyendiri, dan pada gilirannya akan mendorong
dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang lain, sehingga dari
kerjasama tersebut ia dapat mengambil manfaat berupa perwujudan kehormatan
dan kepentingannya. Oleh karena itu, beberapa macam pengorbanan dan
pendahuluan kepentingan orang lain, menjadi bagian dari keharusan dalam
bangunan masyarakat yang tanpa keberadaannya, masyarakat tidak akan dapat
hidup dengan bahagia.
Dalam hal ini, tentu kita sepakat bahwa kita sangat berhutang budi dalam setiap
kenikmatan hidup material maupun non-material terhadap orang-orang yang
telah berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita berhutang budi
dalam bidang kelezatan ilmu pengetahuan kepada para pengarang, seperti
sastrawan, ulama, muhadditsin, mufassirin dan filosof yang dengan tekun
menghabiskan usia mereka untuk menulis dan memenuhi lembaran-lembaran
kertas dengan hikmah dan ilmu pengetahuan. Sementara orang lain sedang
nyenyak tidur atau sedang sibuk dengan syahwat mereka. Ungkapan Az
Zamakhsyari berikut ini menggambarkan apa yang mereka lakukan untuk ilmu
pengetahuan: “Aku begadang untuk mempelajari dan meneliti ilmu pengetahuan,
lebih ni`mat bagiku dibandingkan bersenda gurau dan bersenang-senang
dengan wanita yang cantik Aku bergerak kesana kemari untuk memecahkan
satu masalah ilmu pengetahuan lebih enak dan lebih menarik seleraku
dibandingkan hidangan yang lezat”.
Hadirin wal Hadirat RahimakumuLlah.
Kita juga sadar bahwa kita berhutang budi dalam memanfaatkan negeri ini
kepada orang tua generasi pendahulu, para perintis dan mereka yang telah
berjasa untuk itu. Kita juga berhutang budi dalam masalah aqidah dan agama
yang kita banggakan ini, kepada generasi salaf saleh yang menanggung
bermacam kesulitan dan derita dalam mempertahankan risalah ini pada masa
pertamanya, dan yang telah mengorbankan harta dan jiwa mereka menghadapi
musuh-musuh Islam untuk menyampaikan agama ini kepada orang-orang
setelah mereka, mereka pula yang telah menghilangkan banyak rintangan yang
disebarkan oleh para pencela, pengingkar dan pendusta agama ini.
Demikian sungguh pelajaran yang sangat berharga. Kita selaku generasi masa
kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh
apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan
sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah
jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat
menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah
dilakukan oleh generasi sebelum kita. Akankah generasi kita saat ini mampu
menghargai makna pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain?
Apakah generasi kita mampu mempertahankan akhlak luhur seperti ini yang
memang telah diperintahkan oleh Allah swt?. “Dan orang-orang yang telah
menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan)
mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan
mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-
orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa
yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Hasyr: 9)
Disini hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian
nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran
kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan
kemaslahatan orang lain. Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim
berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan
dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat.