Anda di halaman 1dari 32

6

BAB 2
Tinjauan Pustaka
2.1 Hiperlipidemia
2.1.1 Pengertian
Lipid plasma yaitu kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak
bebas berasal dari makanan (eksogen) dan dari sintesis lemak (endogen).
Kolesterol dan trigliserida adalah dua jenis lipid yang relatif mempunyai makna
klinis penting sehubungan dengan aterogenesis. Lipid tidak larut dalam plasma
sehingga lipid terikat pada protein sebagai mekanisme trenspor dalam serum.
Ikatan ini menghasilkan empat kelas utama lipoprotein: (1) kilomikron, ()
Lipoprotein densitas sangat rendah (!L"L), (#) Lipoprotein densitas rendah
(L"L), dan ($) Lipoprotein densitas tinggi (%"L). Kadar relatif lipid dan protein
berbeda pada setiap kelas tersebut. "ari keempat kelas lipoprotein yang ada,
L"L yang paling tinggi kadar kolesterolnya, sedangkan kilomikron dan !L"L
paling tinggi kadar trigliseridanya. Kadar protein tertinggi terdapat pada %"L
(&dam, ''().
%iperlipidemia adalah bila terdapat peningkatan dari salah satu atau lebih
dari kolesterol, kolesterol ester, fosfolipid, atau trigliserid. Kadar lipid yang
abnormal dapat berkontribusi pada penyakit jantung koroner, peripheral vascular
disease, stroke, dan problem kesehatan lainnya. )asien dengan hiperlipidemia
juga memiliki hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, atau gabungan dari
keduanya (*raund+ald, ''1).
%iperkolesterolemia adalah suatu peningkatan dari total kolesterol (,-)
dengan kadar trigliserid yang normal. %al ini biasanya berhubungan dengan
.
peningkatan kolesterol/L"L karena kolesterol/L"L memba+a kurang lebih 60/
.01 dari total kolesterol plasma (*raund+ald, ''1).
%ipertrigliseridemia terjadi bila adanya kenaikan trigliserid (,2), dimana
hal ini merupakan faktor resiko independent untuk penyakit jantung koroner.
3alaupun pengobatan untuk hipertrigliseridemia bergantung pada penyebab
kenaikan trigliserid dan tingkat keparahannya, tujuan terapi utama adalah untuk
men4apai target kolesterol/L"L yang optimal (*raund+ald, ''1).
2.1.2 Klasifikasi
Klasifikasi "islipidemia dapat berdasarkan atas primer yang tidak jelas
penyebabnya dan sekunder yang mempunyai penyakit dasar seperti pada
sindroma nefrotik, diabetes melitus, hipotiroidisme. 5elain itu klasifikasi
dislipidemia dapat juga dibagi berdasarkan profil lipid yang menonjol, seperti
hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, isolated low HDL-cholesterol, dan
dislipidemia 4ampuran (&dam, ''().
5ebagian besar kasus peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol total
bersifat sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan akibat dari makan
lemak. )embuangan lemak dari darah pada setiap orang memiliki ke4epatan
yang berbeda. 5eseorang bisa makan sejumlah besar lemak he+ani dan tidak
pernah memiliki kadar kolesterol total lebih dari '' mg6dL, sedangkan yang
lainnya menjalani diet rendah lemak yang ketat dan tidak pernah memiliki kadar
kolesterol total diba+ah 6' mg6dL. )erbedaan ini tampaknya bersifat genetik
dan se4ara luas berhubungan dengan perbedaan ke4epatan masuk dan
keluarnya lipoprotein dari aliran darah (medi4astore, '11).
7
Kadar lemak darah
)emeriksaan laboratorium Kisaran yg ideal (mg6dL darah)
Kolesterol total 1'/''
Kilomikron 8egatif (setelah berpuasa selama 1
jam)
!L"L 1/#'
L"L 6'/16'
%"L #0/60
)erbandingan L"L dengan %"L 9 #,0
,rigliserida 1'/16'
2.1.3 Mekanisme Hiperlipidemia
*ila adanya defek atau gangguan pada jalur metabolisme (gambar .1)
maka dapat terjadi hiperlipoproteinemia. "efek ini dapat disebabkan kaerna
produksi berlebihan dari lipoprotein atau adanya penurunan katabolisme lipid.
Konsentrasi lipoprotein bergantung keseimbangan antara masukan dan
bersihan. )ada kondisi stabil, masukan dan keluaran lipoprotein adalah konstan.
5aat terjadi peningkatan dari masukan lipoprotein, terjadi mekanisme
kompensasi untuk mengatasi kenaikan tersebut. )ada beberapa kasus,
kompensasi dapat hampir sempurna, dan peningkatan konsentrasi lipoprotein
dapat minimal. 8amun pada kasus lain yang kompensasinya tidak sempurna
bahkan buruk, dapat berkembang menjadi hiperlipidemia. Ketidak seimbangan
masukan dan bersihan itu dapat terjadi bila adanya penurunan bersihan
(4learan4e) L"L, terhambatnya lipolisis, adanya remnant removal defect, dan
produksi lipoprotein yang berlebihan (2rundy, 1(7$).
(
2ambar .1 ,ahap utama dalam metabolisme lipid yang mengandung apo */1''
2.1.4 Penatalaksanaan Hiperlipidemia
)engobatan hiperlipidemia bertujuan menurunkan kolesterol, L"L, dan
atau trigliserida, serta meningkatkan kolesterol %"L. ,erdapat bukti bah+a kedua
efek tersebut dapat memperlambat atau bahkan membalik progresi lesi
aterosklerotik. ,arget kadar L"L pada indi:idu yang berisiko tinggi mengalami
infark miokard (;I) atau kejadian kerdio:askular serius lainnya ditetapkan lebih
rendah daripada kadar untuk indi:idu yang berisiko rendah. 5ebagai 4ontoh,
panduan terkini dari <5 menyatakn bah+a L"L harus kurang dari 16' mg6dl ($,1
mmol6L) untuk indi:idu dengan kategori resiko terendah, sementara itu untuk
pasien berisiko tinggi dengan )=K, diabetes atau resiko 1' tahun mengalami )=K
sebesar >' 1, maka kadar L"L harus kurang dari 1'' mg6dl (,6 mmol6L),
dengan pertimbangan yang diberikan untuk target kurang dari .' mg6dl (1,7
mmol6L) ()ri4e, ''().
1'
)engobatan seringkali dimulai dengan diet rendah lemak, tinggi
karbohidrat. =ika diet ini gagal untuk menormalkan hiperlipidemia se4ara adekuat
setelah # bulan, maka dipertimbangkan terapi dengan obat penurun lipid.
5ebagian besar pasien dengan kolesterol tinggi diobati dengan statin karena
statin se4ara konsisten menunjukkan dapat menurunkan )=K dan mortalitas
yang disebabkannya. %al tesebut sangat bernilai, karena selain L"L yang
meningkat, tingginya kadar trigliserida (ditunjukkan oleh !L"L tinggi) dan
rendahnya kadar %"L diyakini mema4u perkembangan aterosklerosis.
Kombinasi fa4tor ini umum terjadi pada pasien dengan sindroma metaboli4 dan
penggunaan statin dengan fibrat dan asam nikotinat, yang menyebabkan
peningkatan besar kadar %"L akan meningkat pada indi:idu ini ()ri4e, ''().
2.2 Lipid dan Lipoprotein
2.2.1 Pengertian
"i dalam darah kita ditemukan tiga jenis lipid yaitu kolesterol, trigliserid,
dan fosfolipid. ?leh karena sifat lipid yang susah larut dalam lemak, maka perlu
dibuat bentuk yang terlarut. <ntuk itu dibutuhkan suatu @at pelarut yaitu suatu
protein yang dikenal dengan nama apolipoprotein atau apoprotein. )ada saat ini
dikenal sembilan jenis apoprotein yang diberi nama se4ara alfabetis yaitu &po &,
&po *, &po -, dan &po A. 5enya+a lipid dengan apoprotein ini dikenal dengan
nama lipoprotein. 5etiap jenis lipoprotein mempunyai &po tersendiri. 5ebagai
4ontoh !L"L, I"L, dan L"L mengandung &po *1'', sedang &po *$7 ditemukan
di kilomikron.
5etiap lipoprotein akan terdiri atas kolesterol (bebas atau ester),
trigliserid, fosfolipid, dan apoprotein. Lipoprotein berbentuk sferik dan mempunyai
11
inti trigleserid dan kolesterol ester dan dikelilingi oleh fosfolipid dan sedikit
kolesterol bebas. &poprotein ditemukan pada permukaan lipoprotein.
5etiap lipoprotein berbeda dalam ukuran, densitas, komposisi lemak, dan
komposisi apoprotein. "engan menggunakan ultrasentrifusi, pada manusia dapat
dibedakan enam jenis lipoprotein yaitu high density lipoprotein (%"L), low density
lipoprotein (L"L), intermediate density lipoprotein (I"L), very low density
lipoprotein (!L"L), kilomikron, dan lipoprotein a ke4il Lp(a)
2.2.2 Karakteristik
,abel .1 Karakteristik beberapa &polipoprotein
Apolipoprotein Lipoprotein ungsi Meta!olik
Apo A"
Apo A""
Apo A"#
Apo B4$
Apo B1%%
Apo &"
%"L, Kilomikron
%"L, Kilomikron
%"L, Kilomikron
Kilomikron
!L"L, I"L, L"L
Kilomikron,
!L"L, I"L, L"L
Komponen struktural %"LB aktifator L-&,
*elum diketahui
*elum diketahui, mungkin sebagai
fasilitator transfer &po lain antara %"L
dan kilomikron
"ibutuhkan for assembly dan sekresi
kilomikron dari usus halus
"ibutuhkan for assembly dan sekresi
!L"L dari hati, struktur protein dari !L"L,
I"L, L"LB ligand untuk reseptor L"L
"apat menghambat ambilan hati
terhadap L"L, I"L, L"L, kilomikron dan
remnant !L"L
Apo &"" Kilomikron, &ktifator en@im lipoprotein lipase
1
!L"L, I"L, %"L
Apo &""" Kilomikron,L"L Inhibitor en@im lipoprotein lipaseB dapat
menghambat ambilan kilomikron, !L"L,
I"L, %"L, dan !L"L di hati
Apo ' Kilomikron,
L"L, !L"L, I"L,
%"L
Ligand untuk beberapa lipoprotein dari
reseptor L"L, LC), dan kemungkinan
terhadap apo A dari reseptor hati lain
,abel . Karakteristik Lipoprotein )lasma
Lipoprotein (ensitas Lipid )tama (iameter Apolipoprotein
menurut urutan
*ang terpenting
H(L 1.1/1.'6# Kolesterol ester ..0/1'.0 &/1, &/II, -, A
L(L 1.'6#/1.'1( Kolesterol ester 1.0 */1''
"(L 1.'1(/1.''6 Kolesterol ester, 0/# */1'', -, dan A
trigliserid
#L(L 9 1.''6 ,rigliserid #(/1'' */1'', -, A
Kilomikron 9 1.''6 ,rigliserid 6'/0'' */$7, -, &/I, &/II, &/I!
Lp +a, 1.'$/1.'7 Kolesterol ester 1/#' */1'', Lp (a)
2.2.3 Meta!olisme Lipoprotein
;etabolisme lipoprotein dapat dibagi atas tiga jalur yaitu jalur
metabolisme eksogen, jalur metabolism endogen, dan jalur reverse cholestreol
1#
transport. Kedua jalur pertama berhubungan dengan metabolisme kolesterolD
L"L dan trigliserid, sedang jalur reverse cholestreol transport khusus mengenai
kolesterol/%"L. . (&dam, ''().
2.2.3.1 -alur Meta!olisme 'ksogen
;akanan berlemak yang kita makan terdiri atas trigliserid dan kolesterol.
5elain kolesterol yang berasal dari makanan, dalam usus juga terdapat kolesterol
dari hati yang diekskresi bersama empedu ke usus halus. *aik lemak di usus
halus yang berasal dari makanan maupun berasal dari hati disebut lemak
eksogen. ,rigliserid dan kolesterol dalam usus halus akan diserap ke dalam
eritrosit mukosa usus halus. ,rigliserid akan diserap sebagai asam lemak bebas
sedang kolestrerol akan mengalami esterifikasi menjadi kolesterol ester dan
keduanya bersama dengan fosfolipid dan apolipoprotein akan membentuk
lipoprotein yang dikenal dengan nama kilomikron.
Kilomikron ini akan masuk ke saluran limfe dan akhirnya melalui duktus
torakikus akan masuk ke dalam aliran darah. ,rigliserid dalam kilomikron akan
mengalami hidrolisis oleh en@im lipoprotein lipase yang berasal dari endotel
menjadi asam lemak bebas (free fatty acid (EE&) F non-esterified fatty acid
(8AE&). &sam lemak bebas dapat disimpan sebagai trigliserid kembali di jaringan
lemak (adiposa), tetapi bila terdapat dalam jumlah yang banyak sebagian akan
diambil oleh hati menjadi bahan untuk pembentukan trigliserid hati. Kilomikron
yang sudah kehilangan sebagian besar trigliserid akan menjadi kilomikron
remnant yang mengandung kolesterol ester dan akan diba+a ke hati.
2.2.3.2 -alur Meta!olisme 'ndogen
,rigliserid dan kolesterol yang disintesis di hati dan disekresi ke dalam
sirkulasi sebagai lipoprotein !L"L. &polipoprotein yang terkandung dalam !L"L
1$
adalah apolipoprotein *1''. "alam sirkulasi trigliserid di !L"L akan mengalami
hidrolisis oleh en@in lipoprotein lipase (L)L), dan !L"L berubah menjadi I"L
yang juga akan mengalami hidrolisis dan mberubah kembali menjadi L"L.
5ebagian dari !L"L, I"L, dan L"L akan mengangkut kolesterol ester kembali ke
hati. L"L adalah lipoprotein yang paling banyak mengandung kolesterol.
5ebagian dari kolesterol L"L akan diba+a ke hati dan jaringan streroidogenik
lainnya seperti adrenal, testis, dan o:arium yang mempunyai reseptor untuk
kolesterol/L"L. 5ebagian lagi dari kolesterol/L"L akan mengalami oksidasi dan
ditangkap oleh reseptor s4a:enger/& (5C/&) di makrofag dan akan menjadi sel
busa (foam cell). ;akin banyak kadar kolesterol/L"L dalam plasma makin
banyak yang akan mengalami oksidasi dan ditangkap oleh sel makrofag. =umlah
kolesterol yang akan teroksidasi tergantung dari kadar kolesterol yang
terkandung di L"L. *eberapa keadaan mempengaruhi tingkat oksidasi seperti
meningkatnya jumlah L"L ke4il padat (small dense L"L) seperti pada sindrom
metabolik dan diabetes melitusB dan kadar kolesterol/%"L dimana semakin tinggi
kadar kolesterol %"L akan bersifat protektif terhadap oksidasi L"L.
2.2.3.3 -alur Reverse Cholesterol Transport
%"L dilepaskan sebagai partikel ke4il miskin kolesterol yang mengandung
apolipoprotein (apo) &, -, dan AB dan disebut %"L nascent. %"L nascent berasal
dari usus halus dan hati, mempunyai bentuk gepeng dan mengandung
apolipoprotein &1. %"L nascent akan mendekati makrofag untuk mengambil
kolesterol yang tersimpan di makrofag. %"L nas4en berubah menjadi %"L
de+asa yang berbentuk bulat. &gar dapat diambil oleh %"L nascent, kolesterol
(kolesterol bebas) dibagian dalam dari makrofag harus diba+a ke permukaaan
10
membran sel makrofag oleh suatu transporter yang disebut adenosine
triphospate-binding cassete transporter-I atau disingkat &*-/1.
5etelah mengambil kolesterol bebas dari sel makrofag, kolesterol bebas
akan diesterifikasi menjadi kolesterol ester oleh en@im lecithin cholesterol
acyltransferase (L-&,). 5elanjutnya sebagian kolesterol ester yang diba+a oleh
%"L akan mengambil dua jalur. =alur pertama ialah ke hati dan ditangkap oleh
scavenger receptor class * type 1 dikenal dengan 5C/*1. =alur kedua adalah
kolesterol ester dalam %"L akan dipertukarkan dengan trigliserid dari !L"L dan
I"L dengan bantuan cholesterol ester transfer protein (-A,)). "engan demikian
fungsi %"L sebagai GpenyerapH kolesterol dari makrofag mempunyai dua jalur
yaitu langsung ke hati dan jalur tidak langsung melalui !L"L dan I"L untuk
memba+a kolesterol kembali ke hati. . (&dam, ''().
2.3 Anatomi dan isiologi Hati
%ati merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, mempunyai berat
sekitar 1.0 kg . 3alaupun berat hati hanya /#1 dari berat tubuh , namun hati
terlibat dalam 0/#'1 pemakaian oksigen. 5ekitar #'' milyar sel/sel hati
terutama hepatosit yang jumlahnya kurang lebih 7'1, merupakan tempat utama
metabolisme intermedier (Koolman, = I Cohm K.%, ''1)
%ati manusia terletak pada bagian atas 4a:um abdominis, diba+ah
diafragma, dikedua sisi kuadran atas, yang sebagian besar terdapat pada
sebelah kanan. *eratnya 1''/16'' gram. )ermukaan atas terletak bersentuhan
diba+ah diafragma, permukaan ba+ah terletak bersentuhan di atas organ/organ
abdomen. %epar difiksasi se4ara erat oleh tekanan intraabdominal dan
dibungkus oleh peritonium ke4uali di daerah posterior/posterior yang berdekatan
dengan :ena 4a:a inferior dan mengadakan kontak langsung dengan diafragma.
16
%epar dibungkus oleh simpai yg tebal, terdiri dari serabut kolagen dan
jaringan elastis yg disebut Kapsul 2lisson. 5impai ini akan masuk ke dalam
paren4hym hepar mengikuti pembuluh darah getah bening dan duktus biliaris.
;assa dari hepar seperti spons yg terdiri dari sel/sel yg disusun di dalam
lempengan/lempengan6 plate dimana akan masuk ke dalamnya sistem pembuluh
kapiler yang disebut sinusoid. 5inusoid/sinusoid tersebut berbeda dengan
kapiler/kapiler di bagian tubuh yang lain, oleh karena lapisan endotel yang
meliputinya terediri dari sel/sel fagosit yg disebut sel kupfer. 5el kupfer lebih
permeabel yang artinya mudah dilalui oleh sel/sel makro dibandingkan kapiler/
kapiler yang lain .Lempengan sel/sel hepar tersebut tebalnya 1 sel dan punya
hubungan erat dengan sinusoid. )ada pemantauan selanjutnya nampak
parenkim tersusun dalam lobuli/lobuli "i tengah/tengah lobuli tdp 1 :ena sentralis
yg merupakan 4abang dari :ena/:ena hepatika (:ena yang menyalurkan darah
keluar dari hepar)."i bagian tepi di antara lobuli/lobuli terhadap tumpukan
jaringan ikat yang disebut traktus portalis6 ,CI&" yaitu traktus portalis yang
mengandung 4abang/4abang :ena porta, arteri hepatika, du4tus biliaris.-abang
dari :ena porta dan arteri hepatika akan mengeluarkan isinya langsung ke dalam
sinusoid setelah banyak per4abangan 5istem bilier dimulai dari 4anali4uli biliaris
yang halus yg terletak di antara sel/sel hepar dan bahkan turut membentuk
dinding sel. -anali4uli akan mengeluarkan isinya ke dalam intralobularis, diba+a
ke dalam empedu yg lebih besar , air keluar dari saluran empedu menuju
kandung empedu. (Kelompok "iskusi ;edikal *edah, <ni:ersitas Indonesia)
%ati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan
sumber energi tubuh sebanyak '1 serta menggunakan ' D 01 oksigen
darah. &da beberapa fungsi hati yaitu :
1.
1.Eungsi hati sebagai metabolisme karbohidrat
)embentukan, perubahan dan peme4ahan karbohidrat, lemak dan protein
saling berkaitan 1 sama lain. %ati mengubah pentosa dan heksosa yang diserap
dari usus halus menjadi glikogen, mekanisme ini disebut glikogenesis. 2likogen
lalu ditimbun di dalam hati kemudian hati akan meme4ahkan glikogen menjadi
glukosa. )roses peme4ahan glikogen mjd glukosa disebut glikogenelisis.Karena
proses/proses ini, hati merupakan sumber utama glukosa dalam tubuh,
selanjutnya hati mengubah glukosa melalui heksosa monophosphat shunt dan
terbentuklah pentosa. )embentukan pentosa mempunyai beberapa tujuan:
;enghasilkan energi, biosintesis dari nukleotida, nu4lei4 a4id dan &,), dan
membentuk6 biosintesis senya+a # karbon (#-) yaitu piru:i4 a4id (asam piru:at
diperlukan dalam siklus krebs).
.Eungsi hati sebagai metabolisme lemak
%ati tidak hanya membentuk6 mensintesis lemak tapi sekaligus
mengadakan katabolisis asam lemak. &sam lemak dipe4ah menjadi beberapa
komponen :
5enya+a $ karbon D KA,?8 *?"IA5
5enya+a karbon D &-,I!A &-A,&,A (dipe4ah menjadi asam
lemak dan gliserol)
)embentukan 4holesterol
)embentukan dan peme4ahan fosfolipid
%ati merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi
kholesterol. "imana serum -holesterol menjadi standar pemeriksaan
metabolisme lipid
#.Eungsi hati sebagai metabolisme protein
17
%ati mensintesis banyak ma4am protein dari asam amino. dengan
proses deaminasi, hati juga mensintesis gula dari asam lemak dan asam
amino."engan proses transaminasi, hati memproduksi asam amino dari bahan/
bahan non nitrogen. %ati merupakan satu/satunya organ yg membentuk plasma
albumin dan J / globulin dan organ utama bagi produksi urea.<rea merupakan
end produ4t metabolisme protein.J / globulin selain dibentuk di dalam hati, juga
dibentuk di limpa dan sumsum tulang K D globulin hanya dibentuk di dalam
hati.albumin mengandung L 07$ asam amino dengan berat molekul 66.'''
$.Eungsi hati sehubungan dengan pembekuan darah
%ati merupakan organ penting bagi sintesis protein/protein yang berkaitan
dengan koagulasi darah, misalnya: membentuk fibrinogen, protrombin, faktor !,
!II, IM, M. *enda asing menusuk kena pembuluh darah D yang beraksi adalah
faktor ekstrinsi, bila ada hubungan dengan katup jantung D yang beraksi adalah
faktor intrinsik.Eibrin harus isomer biar kuat pembekuannya dan ditambah
dengan faktor MIII, sedangakan !it K dibutuhkan untuk pembentukan protrombin
dan beberapa faktor koagulasi.
0.Eungsi hati sebagai metabolisme :itamin
5emua :itamin disimpan di dalam hati khususnya :itamin &, ", A, K
6.Eungsi hati sebagai detoksikasi
%ati adalah pusat detoksikasi tubuh, )roses detoksikasi terjadi pada
proses oksidasi, reduksi, metilasi, esterifikasi dan konjugasi terhadap berbagai
ma4am bahan seperti @at ra4un, obat o:er dosis.
..Eungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas
1(
5el kupfer merupakan saringan penting bakteri, pigmen dan berbagai
bahan melalui proses fagositosis. 5elain itu sel kupfer juga ikut memproduksi J /
globulin sebagai imun li:ers me4hanism.
7. Eungsi hemodinamik
%ati menerima L 01 dari 4ardia4 output, aliran darah hati yang normal L
10'' 446 menit atau 1''' D 17'' 446 menit. "arah yang mengalir di dalam
a.hepati4a L 01 dan di dalam :.porta .01 dari seluruh aliran darah ke hati.
&liran darah ke hepar dipengaruhi oleh faktor mekanis, pengaruh persarafan dan
hormonal, aliran ini berubah 4epat pada +aktu eNer4ise, terik matahari,
sho4k.%epar merupakan organ penting untuk mempertahankan aliran darah
2.4 Perlemakan Hati
2.4.1 Pengertian
8&EL" merupakan deposisi lemak di hati pada subjek yang non/
alkoholik, suatu kondisi yang mungkin memburuk menjadi end/stage li:er
disease. 5pektrum perburukan 8&EL" sama dengan al4oholi4 li:er disease,
namun tidak disebabkan konsumsi alkohol kronis. "ikatakan sebagai perlemakan
hati apabila kandungan lemak di hati (sebagian besar terdiri atas trigliserida)
melebihi 01 dari seluruh berat hati. Karena pengukuran berat hati sangat sulit
dan tidak praktis, diagnosis dibuat berdasarkan analisis spesimen biopsi jaringan
hati, yaitu ditemukannya 0/1'1 sel lemak dari keseluruhan hepatosit. Implikasi
klinis 8&EL" adalah signifikansinya pada populasi umum dan kemungkinan
perburukannya menjadi sirosis hepatis dan li:er 4ell failure ("abhi et al, ''7).
8&EL" didefinisikan sebagai adanya lemak yang berlebihan pada
hati,yang terdeteksi baik melalui imaging maupun biopsi hati. 8&EL" merupakan
diagnosa eksklusi pada pasien yang tidak mengalami penyakit hati lainnyaB
'
namun semenjak berkembangnya kriteria histologik, terdapat pula 8&EL" dan
8&5% yang disertai bentuk lain penyakit hati. <ntuk menegakkan diagnosa,
pasien harus bebas dari alkohol atau hanya minum alkohol sesekali. )enelitian
terbaru menunjukkan bah+a maNimal safe le:el dari konsumsi ethanol adalah #'
gram 6 hari, meski kriteria yang lebih ketat seperti ' gram 6 hari untuk pria dan
1' gram 6 hari untuk +anita juga sering digunakan pada penelitian terhadap
pasien dengan 8&EL" (*asaranoglu and 8eus4h+ander/,etri, ''6).
8onal4oholi4 fatty li:er disease (8&EL") meliputi spektrum luas dari
penyakit hati, mulai dari fatty li:er sederhana (steatosis), sampai ke non al4oholi4
steato hepatitis (8&5%), dan sirosis (irre:ersible, ad:an4ed s4arring of the li:er).
)ada semua derajat 8&EL" terjadi akumulasi lemak (fatty infiltration) ke dalam
sel/sel hati (hepato4ytes). )ada 8&5%, akumulasi lemak dihubungkan dengan
derajat yang ber:ariasi dari peradangan (hepatitis) dan fibrosis hati. Istilah
Gnonal4hoholi4 H dipakai karena 8&EL" dan 8&5% terjadi pada indi:idu yang
tidak mengonsumsi alkohol se4ara berlebihan. )ada banyak aspek, gambaran
histologi dari 8&EL" sama dengan gambaran histologi pada penyakit hati yang
disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan. 8amun gambaran klinis pada
8&EL" dan 8&5% sangatlah berbeda dengan gambaran klinis pada al4oholi4
li:er disease(&L"). 5pektrum 8&EL" diperkirakan bermula dan berkembang dari
tingkat yang paling sederhana yang disebut fatty li:er sederhana (steatosis). =adi
fatty li:er adalah kelainan a+al dalam spektrum 8&EL". Eatty li:er sederhana
hanya terkait dengan akumulasi lemak di dalam sel/sel hati tanpa peradangan
atau fibrosis (scarring). Lemak sesungguhnya terdiri dari tipe lemak khusus
(triglyceride) yang berakumulasi pada kantong ke4il di dalam sel/sel hati.
&kumulasi lemak di dalam sel/sel hati tidak sama dengan sel/sel lemak
1
(adipocytes) yang membentuk lemak tubuh kita. Eatty li:er adalah kondisi yang
tidak berbahaya, yang berarti dia sendiri tidak akan menyebabkan kerusakan hati
yang signifikan ("u:njak et al, ''.).
,ingkat selanjutnya dan derajat keparahan dalam spektrum 8&EL"
adalah 8&5%. *eruntung hanya sebagian ke4il dari pasien dengan fatty li:er
sederhana yang berkembang menjadi 8&5%. 5eperti yang sudah disinggung,
8&5% melibatkan akumulasi lemak di dalam sel/sel hati dan juga peradangan
hati. 5el / sel yang meradang dapat menghan4urkan sel/sel hati (hepato4ellular
ne4rosis). "alam istilah OsteatohepatitisO dan Osteatone4rosisO, steato menga4u
pada fatty infiltration, hepatitis menga4u pada peradangan di dalam hati, dan
ne4rosis menga4u pada sel/sel hati yang rusak. *ukti kuat menunjukan bah+a
8&5%, berla+anan dengan fatty li:er sederhana, bukanlah suatu kondisi yang
tidak berbahaya. Ini berarti bah+a 8&5% pada akhirnya dapat menjurus ke
fibrosis hati dan kemudian fibrosis berlanjut dan tidak dapat dikembalikan seperti
semula (sirosis). 5irosis yang disebabkan oleh 8&5% adalah tingkat terakhir dan
yang paling buruk dalam spektrum 8&EL" ("u:njak et al, ''.).
8&EL" dimulai dengan fatty li:er, berlanjut ke 8&5% dan berakhir dengan
sirosis. 8&5% merupakan tahap yang melibatkan akumulasi lemak (steatosis),
peradangan (hepatitis) dan s4arring (fibrosis) di dalam hati.


2ambar . %istologi hati yang normal hingga perlemakan hati
2.4.2 Patogenesis
"ua kondisi yang sering menyebabkan steatohepatitis non alkoholik
adalah obesitas dan diabetes melitus, serta dua abnormalitas metabolik yang
sangat kuat kaitannya dengan penyakit ini adalah peningkatan suplai asam
lemak ke hati serta resistensi insulin.
)erlemakan hati (fatty liver) dibagi menjadi dua kategori utama. ,ipe
pertama berkaitan dengan peningkatan kadar asam lemak bebas plasma akibat
mobilisasi lemak dari jaringan adiposa atau hidrolisis triasilgliserol lipoprotein
oleh lipoprotein lipase di jaringan ekstra hepatik. )embentukan !L"L tidak dapat
mengimbangi meningkatnya influks dan esterifikasi asam lemak bebas sehingga
terjadi penumpukan triasilgliserol dan menyebabkan perlemakan hati. %al ini
terjadi selama kelaparan dan mengonsumsi diet tinggi lemak.
,ipe kedua perlemakan hati biasanya disebabkan oleh blok metabolik
dalam produksi lipoprotein plasma sehingga terjadi penimbunan triasilgliserol.
5e4ara teoritis, lesi dapat disebabkan oleh (1) blok pada sintesis apolipoprotein,
() blok pada sintesis lipoprotein dari lipid dan apolipoprotein, (#) kegagalan
#
penyediaan fosfolipid yang ditemukan pada lipoprotein, atau, ($) kegagalan
mekanisme sekretorik itu sendiri.
)ada perlemakan hati terjadi penumpukan lemak di hepatosit karena
berbagai keadaan seperti dislipidemia, diabetes melitus, dan obesitas. 5eperti
diketahui bah+a dalam keadaan normal, asam lemak bebas dihantarkan
memasuki organ hati le+at sirkulasi darah arteri dan portal. "i dalam hati, asam
lemak bebas akan mengalami metabolisme lebih lanjut, seperti proses re/
esterifikasi menjadi trigliserida atau digunakan untuk pembentukan lemak
lainnya. &danya peningkatan massa jaringan lemak tubuh, khususnya pada
obesitas sentral, akan meningkatkan pelepasan asam lemak bebas yang
kemudian menumpuk di hepatosit. *ertambahnya bertambahnya asam lemak
bebas dalam hati akan menimbulkan peningkatan oksidasi dan esterifikasi
lemak. )roses ini terfokus di mitokondria sel hati sehingga pada akhirnya akan
mengakibatkan kerusakan mitokondria itu sendiri.
5alah satu hipotesa mengenai patogenesis 8&EL" adalah Gt+o/hitH
hypothesis yang diperkenalkan oleh "ay dan =ames pada tahun 1((7.
*erdasarkan paradigma ini, abnormalitas primer adalah gangguan metabolik,
paling sering akibat resistensi insulin, yang menyebabkan 8&EL". Kemudian
terjadi se4ond hit menyebabkan terjadinya injury dan inflamasi, atau 8&5% dan
sekuelenya (%ijona et al, '1').
&kumulasi lemak pada hati merupakan Gfirst hitH pertama, yang
merupakan akibat dari akumulasi trigliserida yang berlebihan yang disebabkan
oleh perbedaan antara pemasukan dan sintesis dari lemak hati pada satu sisi
dan K / oksidasi serta ekspor ke yang lainnya. Ketidakseimbangan ini terjadi
bersama dengan faktor/faktor etiologi lainnya ("u:njak et al, ''.).
$
&danya lemak yang berlebihan merupakan persyaratan terjadinya
kejadian berikutnya dari 8&5%. Karakteristik utama 8&EL" adalah akumulasi
trigliserida (,2) sebagai droplet lemak di antara sitoplasma hepatosit. %al ini
didefinisikan se4ara praktis sebagai didapatkannya lebih dari 1'1 hepatosit yang
memiliki droplet lemak pada biopsi hati. )eningkatan transport free fatty a4ids
(EE&) dan ,2 menuju ke hati, penurunan penggunaan EE& oleh hati, penurunan
transport ,2 keluar dari hati, dan kegagalan beta/oksidasi EE& di antara
hepatosit menyebabkan akumulasi ,2 di antara sitoplasma hepatosit. Kelebihan
karbohidrat, baik dari sumber diet atau de no:o glu4oneogenesis di hati,
merupakan stimulus utama terhadap sintesa asam lemak de no:o di hati.
5ebaliknya, pengambilan langsung lemak diet sebagai 4hylomi4ron remnants
atau EE& merupakan faktor yang memiliki peranan relatif ke4il terhadap
akumulasi lemak hati (*asaranoglu and 8eus4h+ander/,etri, ''6).
Cesistensi insulin merupakan penyebab utama akumulasi lemak di hati.
8amun, kita juga mengetahui bah+a subgrup ke4il dari pasien 8&EL" tidak
menunjukkan gambaran kegagalan sensiti:itas insulin yang dapat dideteksi. %al
ini mendukung kemungkinan selain resistensi insulin yang juga penting pada
kelompok pasien tersebut. Kemudian, bukti/bukti selanjutnya mendukung bah+a
resistensi insulin tidak hanya berperan sebagai first hit, namun juga memegang
peranan penting dalam inflamasi dan hepatocyte injury yang menggambarkan
8&5% (%ijona et al, ''.).
Second Hit, hati dengan kelebihan lemak lebih rentan terhadap stressor
seperti reactive oxygen species (C?5), adipokin, dan sitokin, dibandingkan
dengan hati normal. Kapasitas regeneratif fatty li:er juga mengalami gangguan.
8amun, faktor yang memainkan peranan kun4i perkembangan 8&5% dari
0
8&EL" masih belum diketahui pasti. *eberapa kemungkinan meliputi durasi
infiltrasi lemak ke dalam hati dan durasi serta keparahan hiperinsulinemia.
Second hit lain yang memungkinkan adalah stress oksidatif (peningkatan C?5
dan penurunan antioksidan), peroksidasi lipid dan metabolit reaktif seperti
malondialdehyde dan $/hydroNynonenal, produk jaringan adiposa, transforming
gro+th fa4tor/K,1 Eas ligand, disfungsi mitokondria dan defisiensi rantai
respiratorik, dan small intestinal ba4terial o:ergro+th (endotoNin dan ,8E/P)
(*asaranoglu and 8eus4h+ander / ,etri, ''6).
Keadaan di atas kemudian akan merusak sel/sel hati, lama kelamaan
dapat merusak jaringan hingga organ. =ika sel/sel hati ini rusak, en@im di dalam
hati akan keluar ke dalam darah, yaitu en@im 52?, dan 52),, dimana en@im ini
sebagai pertanda gangguan pada fungsi hati. )ada penelitian sebelumnya,
selain meningkatnya jumlah sel hepatosit yang mengalami degenerasi lemak,
pemberian minyak jelantah selama 1$ hari atau lebih juga menyebabkan
terjadinya kerusakan pada sel hepatosit, terlihat dari perubahan inti sel menjadi
inti piknotik dimana inti sel hati menyusut, batasnya tidak teratur, dan ber+arna
gelap dan ukuran sel hepatositnya beragam. %al ini berarti dengan dosis yang
sama, lama paparan minyak jelantah berpengaruh terhadap terjadinya kerusakan
hati . %al ini dikarenakan pemberian minyak jelantah menyebabkan terjadinya
stres oksidatif sehingga terjadi peningkatan !S yang akhirnya akan
menyebabkan kematian hepatosit (Ko4h et al., ''., 8akamoto et al., ''().
2.4.3 (iagnosis
*iopsi hati merupakan baku emas (gold standard) pemerikasaan
penunjang untuk menegakkan diagnosis dan sejauh ini menjadi satu/satunya
6
metode untuk membedakan perlemakan hati non alkoholik dengan perlemakan
tanpa atau disertai inflamasi.
,idak ada pemeriksaan laboratorium yang bisa se4ara akurat
membedakan steatosis dengan steatohepatitis, atau perlemakan hati non
alkoholik dengan perlemakan hati alkoholik. )eningkatan ringan sampai sedang,
konsentrasi aspartate aminotransferase (&5,), alanine aminotransferase (&L,),
atau keduanya merupakan hasil temuan laboratoriuym yang paling sering
didapatkan pada pasien/pasien dengan perlemakan hati non alkoholik. *eberapa
pasien datang dengan en@im hati yang normal sama sekali. Kenaikan en@im hati
biasanya tidak melebihi empat kali dengan rasio &5, : &L, kurang dari satu,
tetapi pada fibrosis lanjut rasio ini dapat mendekati atau bahkan melebihi satu.
)erlu menjadiu perhatian beberapa studi melaporkan bah+a konsentrasi &5,
dan &L, tidak memiliki korelasi dengan akti:itas histologis, bahkan konsentrasi
en@im dapat tetap normal pada penyakit hati yang sudah lanjut.
2.. 'n/im Transaminase +01PT dan 012T,
2...1 012T +Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase,
52?, atau juga dinamakan &5, (&spartat aminotransferase) merupakan
en@im yang dijumpai dalam otot jantung dan hati, sementara dalam konsentrasi
sedang dijumpai pada otot rangka, ginjal dan pankreas. Konsentrasi rendah
dijumpai dalam darah, ke4uali jika terjadi 4edera seluler, kemudian dalam jumlah
banyak dilepaskan ke dalam sirkulasi. )ada infark jantung, 52?,6&5, akan
meningkat setelah 1' jam dan men4apai pun4aknya $/$7 jam setelah terjadinya
infark. 52?,6&5, akan normal kembali setelah $/6 hari jika tidak terjadi infark
tambahan. Kadar 52?,6&5, biasanya dibandingkan dengan kadar en@im
jantung lainnya, seperti -K (4reatin kinase), L"% (la4tat dehydrogenase). )ada
.
penyakit hati, kadarnya akan meningkat 1' kali lebih dan akan tetap demikian
dalam +aktu yang lama. 52?,6&5, serum umumnya diperiksa se4ara fotometri
atau spektrofotometri, semi otomatis menggunakan fotometer atau
spektrofotometer, atau se4ara otomatis menggunakan 4hemistry analy@er
(Cis+anto, ''().
8ilai rujukan untuk 52?,6&5, adalah :
Laki/laki : ' / 0' <6L
)erempuan : ' / #0 <6L
2...2 01PT +Serum Glutamic Pyruvic Transaminase,
52), adalah singkatan dari serum glutamic pyruvic transaminase, sering
juga disebut dengan istilah &L, (alanin aminotransaminase) merupakan en@im
yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi
hepatoseluler. An@im ini dalam jumlah yang ke4il dijumpai pada otot jantung,
ginjal dan otot rangka. 52), jauh dianggap lebih spesifik untuk menilai
kerusakan hati dibandingkan 52?,. 52), meninggi pada kerusakan hati kronis
dan hepatitis. )ada umumnya nilai tes 52),6&L, lebih tinggi daripada
52?,6&5, pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis
didapat sebaliknya. 5ama halnya dengan 52?,, nilai 52), dianggap abnormal
jika nilai pemeriksaan &nda /# kali lebih besar dari nilai normal. 52),6&L,
serum umumnya diperiksa se4ara fotometri atau spektrofotometri, se4ara semi
otomatis atau otomatis. (Cis+anto, ''().
8ilai rujukan untuk 52),6&L, adalah :
Laki/laki : ' / 0' <6L
)erempuan : ' / #0 <6L
7
2.3. Propolis
2.3.1 Pengertian
)ropolis merupakan substansi bersifat resin yang dikumpulkan oleh lebah
"pis #ellifera dari pu4uk daun pada berbagai jenis tanaman yang berbeda.
Lebah men4ampur resin tersebut dengan substansi dari polen dan jenis/jenis
en@im sali:a aktif yang berbeda/beda. An@im disekresikan oleh kelenjar yang
terletak dalam kepala dan dada insek (termasuk lebah). Lebah memanfaatkan
propolis untuk beberapa hal, antara lain: (1) dalam jumlah ke4il ditambahkan
pada lilin, () untuk melapisi sarang lebah dengan sebagai konstruksi,
pera+atan, dan proteksi sarang, (#) pelapis ruangan/ruangan tempat ratu
meletakkan telur, sehingga lar:a yang menetas kelak akan terlindungi dari
penyakit. )ropolis merupakan produk alam yang tidak bera4un dan mengandung
senya+a kimia yang kompleks.
2.3.2 Kandungan Propolis
)ropolis merupakan substansi bersifat resin yang dikumpulkan oleh lebah
dari pu4uk daun pada berbagai jenis tanaman yang berbeda. )ropolis
mengandung senya+a kompleks :itamin, mineral, en@im, senya+a fenolik, dan
fla:onoid untuk menghambat pelepasan histamin dengan 4ara stabilisasi selaput
sel lipid (3ade, ''0).
*erbagai ma4am kandungan kimia propolis mempunyai kemampuan
sebagai agen antibakteri. 5enya+a yang terkandung dalam )ropolis adalah
fla:on, fla:onol, 4innami4 a4id, t/farsenol dan apigenin (Koo, ''). 5enya+a
tersebut mampu menghambat pertumbuhan dan aktifitas en@im
(
$lycosyltransferase bakteri Streptococcus mutans dan Streptococcus sanguinis%
5enya+a triterpenoid pada propolis yakni ketone '(()/lupen/#/one/6 memiliki
akti:itas antioksidan seperti to4oferol, senya+a lain memiliki akti:itas antioksidan
seperti to4oferol, senya+a lain memiliki akti:itas sitotoksik dan anti fungal
(,rushe:a, ''6). *erikut adalah tabel kandungan propolis berasal dari salah
satu penelitian <ni:ersitas 2adjah ;ada, Qogyakarta, ''7
,abel .# Kandungan propolis
8o )arameter <ji
%asil <ji
5atuan #
1 &lkaloid sebagai
Ruinine
6#0,$0 #6(,17 ppm
Ela:onoid eSui:alen
rutin
(0.,1. 7(#,1$ )pm
# )olifenol (,(# 1',' 1
$ 5aponin $,0# 1,11 1
0 ,anin ',06 ',$( 1
6 Ruer4etin 101,'# 1'0,7$ )pm
. -affeine 90','' 90','' )pm
)ropolis mengandung presentase tinggi senya+a isofla:onoids #/
hydroNy/7, (/dimethoNyptero4arpan, dan medi4arpin. Kandungan isofla:in dalam
propolis memiliki akti:itas antimikroba, antifungal, antikanker, osteoporosis,
antioksidan, meningkatkan kesehatan, astringent, anti/ul4er, 4holereti4,
spasmolyti4, anaestheti4. (5il:a, ''.). )ropolis mengandung senya+a aromatik,
fla:onoid, Suer4ettinterpenoid, dan gula. 5elain itu, terdapat juga mineral Ee, -a,
;g, K, 8a, dan Tn (&nko:a, ''(). )ropolis alami mengandung sejumlah asam
amino seperti :alin, isoleusin, leusin, prolin, alanin, dan glisin yang berperan
#'
dalam pembentukan sel/sel tubuh ()ereira, ''#). )ropolis juga kaya akan
kandungan :itamin *1, :itamin *, :itamin *#, dan :itamin *6.
2.3.2.1 la4onoid
Ela:onoid adalah kelompok senya+a fenol terbesar yang ditemukan di
alam. 5enya+a/senya+a ini merupakan @at +arna merah, ungu dan biru, dan
sebagian@at +arna kuning yang ditemukan dalam tumbuh/tumbuhan (5ugrani,
&gestia 3aji, ''(). 5enya+a fla:onoid adalah senya+a yang mempunyai
struktur -6/-#/-6. tiap bagian -6 merupakan 4in4in ben@en yang terdistribusi
dan dihubungkan oleh atom -# yang merupakan rantai alifatik, seperti
ditunjukkan pada 2ambar .. (;arkham, 1(77)
2ambar . 5truktur <mum Ela:onoid
;anfaat fla:onoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan
sehingga sangat baik untuk pen4egahan kanker. ;anfaat fla:onoid antara lain
anti inflamasi, men4egah keropos tulang, dan sebagai antibiotik (anti bakteri dan
anti :irus) (5ugrani, &gestia 3aji, ''().
Ela:onoid merupakan senya+a pereduksi yang baik, menghambat
banyak reaksi oksidasi, baik se4ara en@im maupun non en@im. Ela:onoid
bertindak sebagai penampung yang baik radikal hidroksi dan superoksida
dengan demikian melindungi lipid membran terhadap reaksi yang merusak.
&kti:itas antioksidannya dapat menjelaskan mengapa fla:onoid tertentu
#1
merupakan komponen aktif tumbuhan yang digunakan se4ara tradisional untuk
mengobati gangguan fungsi hati (Cobinson, 1((0). Ela:onoid dapat
meningkatkan akti:itas lipoprotein lipase yang dapat menguraikan trigliserida
yang terdapat pada kilomikron (8afisah, '1').
2.3.2.2 5uer6etin
Ruer4etin adalah salah satu @at aktif kelas fla:onoid yang se4ara
biologis amat kuat. *ila :itamin - memiliki antioksdan 1 maka Suer4etin
memiliki akti:itas antioksidan $,.. Ela:onoid merupakan sekelompok besar
antioksidan bernama polifenol yang terdiri atas antosianidin, bifla:on, katekin,
fla:anon, fla:on, fla:onol. Ruer4etin adalah senya+a kelompok fla:onol
terbesar, Suer4etin dan glikosidanya berada dalam jumlah sekitar 6'1/.01
dari fla:onoid (5ugrani, &gestia 3aji, ''().
2ambar .# 5truktur umum Ruer4etin
Kuersetin (#,#U,$U,0,. pentahidroksifla:on)
;anfaat Suer4etin diper4aya dapat melindungi tubuh dari beberapa jenis
penyakit degeneratif dengan 4ara men4egah terjadinya peroksidasi lemak.
Ruer4etin memperlihatkan kemampuan men4egah proses oksidasi dari L"L
#
kolesterol dengan 4ara menangkap radikal bebas dan menghelat ion logam
transisi (5ugrani, &gestia 3aji, ''().
)enelitian mengenai efek fla:onoid morin, Suer4etin, serta asam nikotinat
terhadap kadar lipid tikus yang diberi diet hiperlipidemia, didapatkan bah+a
terjadi peningkatan kadar kolesterol %"L, penurunan kadar kolesterol L"L dan
trigliserida (Ci4ardo et al, ''1). 5edangkan pada penelitian lain dikatakan
bah+a Suer4etin dapat meningkatkan kadar kolesterol %"L sampai 7,61 pada
tikus yang diberi diet tinggi lemak (Qugarani .,, 1(().
2.3.2.3 Polifenol
Eenol adalah senya+a dengan suatu gugus ?% yang terikat pada 4in4in
aromatik (Eessenden dan Eessenden, 1(7). Eenolik merupakan metabolit
sekunder yang tersebar dalam tumbuhan. 5enya+a fenolik dalam tumbuhan
dapat berupa fenol sederhana, antraSuinon, asam fenolat, kumarin, fla:onoid,
lignin dan tanin (%arborne, 1(7.).
2ambar .$ 5truktur "asar )olifenol
5enya+a fenol dapat di definisikan se4ara kimia+i oleh adanya satu
4in4in aromatik yang memba+a satu (fenol) atau lebih (polifenol) substitusi
hydroksil, termasuk derifat fungsionalnya. Tat ini memiliki tanda khas yakni
memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. )olifenol memiliki spektrum luas
dengan sifat kelarutan pada suatu pelarut yang berbeda/beda. %al ini
##
disebabkan oleh gugus hidroksil pada senya+a tersebut yang dimiliki berbeda
jumlah dan posisinya. (%attens4h+iler dan !itousek, ')
,urunan polifenol sebagai antioksidan dapat menstabilkan radikal bebas
dengan melengkapi kekurangan elektron yang dimiliki radikal bebas, dan
menghambat terjadinya reaksi berantai dari pembentukan radikal bebas.
)olifenol merupakan komponen yang bertanggung ja+ab terhadap akti:itas
antioksidan dalam buah dan sayuran (%attens4h+iler dan !itousek, ''').
5elain sebagai antioksidan, polifenol juga dapat menurunkan kadar
kolesterol, L"L, dan trigliserida. ;ekanisme penurunan tersebut adalah dengan
4ara meningkatkan akti:itas lipoprotein lipase, sehingga katabolisme lipoprotein
kaya trigliserida seperti !L"L dan I"L meningkat. Kadar kolesterol %"L
meningkat se4ara tidak langsung akibat menurunnya kadar trigliserida !L"L atau
karena meningkatnya produksi apo &I dan apo &II. Afek penurunan kolesterol
L"L diduga berhubungan dengan meningkatnya bersihan !L"L dan I"L dalam
hati sehingga produksi L"L menurun (5uyatna dan %andoko, 1((0)
2.3.3 Manfaat Propolis
;anusia dapat memanfaatkan propolis sebagai bahan kosmetik,
teknologi pengolahan pangan, dan obat/obatan. )ropolis memiliki aktifitas
antibakterial dan antioksidan (,rushe:a, ''6). 5enya+a yang terkandung
dalam propolis mampu menghambat pertumbuhan bakteri Helicobacter pylori,
&ampylobacter jejuni, &ampylobacter coli (Koo, ''). )ropolis mampu
menghambat pertumbuhan kelompok bakteri 4o44i dan bakteri gram positif,
termasuk penyebab ,uber4ulosis. 5elain itu juga beberapa bakteri gram
#$
negatif. ;embantu penyembuhan kornea yang rusak (;artin, ''.),
meningkatkan aktifitas sistem imun tubuh dan anti inflamasi (*oyano:a, ''#).
Kandungan :itamin * pada propolis meningkatkan metabolisme sel tubuh
sehingga meningkatkan pembentukan sel darah merah dan haemoglobin pada
anak/anak dan orang de+asa (;utsaers, ''0). )ropolis berpengaruh terhadap
pembentukan haemoglobin dengan meningkatkan absorpsi Ee dan memper4epat
perombakan haemoglobin dari eritrosit yang mati (%aro, ''').
)ropolis menunjukkan efek antihypertensive pada tikus (Qoko et al.,
''$). )ada tikus diabet, pemberian ekstrak propolis menyebabkan penurunan
kandungan glukosa darah (E*2), fructosamine (EC<), malonaldehyde (;"&),
nitric oxide (8?), nitric oxide synthase (8?5), total 4holesterol (,-), trigly4eride
(,2), lipoprotein 4holesterol densitas rendah (L"L-), dan lipoprotein
4holesterol berdensitas sangat rendah (!L"L/-) dalam serum tikus yang
dipuasakan, dan meningkatkan le:el dalam serum lipoprotein 4holesterol
berdensitas tinggi (%"L/-) dan superoxide dismutase (5?"). %al ini
menimbulkan dugaan bah+a propolis dapat mengendalikan kandungan glukosa
darah dan mengatur metabolisme glukosa dan lipida, menyebabkan turunnya
output lipid peroxidation dan membersihkan radikal bebas pada tikus dengan
diabetes mellitus (Euliang et al., ''0).
2.3.4 Peran Propolis pada Hiperlipidemia
)ropolis mengandung presentase tinggi senya+a isofla:onoids #/
hydroNy/7, (/dimethoNyptero4arpan, dan medi4arpin (5il:a, ''.). )ropolis
mengandung senya+a aromatik, fla:onoid, Suer4ettinterpenoid, dan gula
(&nko:a, ''(). Ruer4etin diper4aya dapat melindungi tubuh dari beberapa jenis
#0
penyakit degeneratif dengan 4ara men4egah terjadinya peroksidasi lemak.
Ruer4etin memperlihatkan kemampuan men4egah proses oksidasi dari L"L
kolesterol dengan 4ara menangkap radikal bebas dan menghelat ion logam
transisi (5ugrani, &gestia 3aji, ''().
)enelitian mengenai efek fla:onoid terhadap kadar kolesterol %"L,
didapatkan bah+a fla:onoid dapat menaikan kadar kolesterol %"L dengan 4ara
meningkatkan produksi apo &1(2uillaume C,dkk, et al ''6 ).
;enurut Euliang et al., ''0, pemberian ekstrak propolis menyebabkan
penurunan kandungan glukosa darah (E*2), fructosamine (EC<),
malonaldehyde (;"&), nitric oxide (8?), nitric oxide synthase (8?5), total
4holesterol (,-), trigly4eride (,2), lipoprotein 4holesterol densitas rendah
(L"L-), dan lipoprotein 4holesterol berdensitas sangat rendah (!L"L/-) dalam
serum tikus yang dipuasakan, dan meningkatkan le:el dalam serum lipoprotein
4holesterol berdensitas tinggi (%"L/-).=uga menurut &leNandre 5imoes "ias et
al ''0,pemberian Suer4etin dapat mengurangi stress oksidatif sehingga
peroksidasi lemak terlindungi, sehingga sel hati tidak rusak dan tidak
meningkatnya hasil tes 52), dan 52?,.
2.3.. Toksisitas Propolis
;enurut "ra ;ulyati 5arto, ;si dari L)), <2;, '1' riset
membuktikan propolis aman meski dikonsumsi dalam jangka panjang.
,oksisitas propolis sangat rendah. ;en4it yang diberi propolis tiap hari selama
1 bulan dengan dosis normal, fungsi dan kondisi organ tubuhnya tetap bagus
dan tidak bermasalah. "osis normal yang dimaksud dalam 0' ml air untuk
konsumsi manusia. )ropolis baru menyebabkan kematian separuh jumlah
#6
he+an ujipada dosis di atas 1'.''' mg6kg bobot badan. =ika dikon:ersikan ke
orang berbobot 6' kg, dosis itu setarakonsumsi ',6 kg propolis setiap hari.
&rtinya keampuhan dan keamanan propolis telah terbukti.
;eskipun propolis memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai
keluhan penyakit yang diderita manusia, tetapi diantara senya+a/senya+a kimia
tanaman yang terkumpul di dalam propolis ada yang dapat menimbulkan alergi
terhadap manusia. ?leh karena itu pada sebagian orang mungkin mun4ul alergi
terhadap propolis. &lergi terhadap propolis ini dapat digolongkan menjadi jenis
&lergi yaitu &lergi 5pontan dan &lergi ,ertunda. &lergi spontan mun4ul
disebabkan tubuh seseorang sensitif terhadap salah satu atau beberapa
senya+a kimia tumbuhan yang terdapat di dalam propolis.
&lergi tertunda mun4ul disebabkan tubuh seseorang alergi terhadap
sejumlah tertentu dari salah satu atau beberapa senya+a kimia tumbuhan yang
terdapat di dalam propolis. 2ejala &lergi tertunda dari propolis umumnya berupa
gatal/gatal dikulit atau tenggorokan terasa panas. &dapun penyebab mun4ulnya
alergi tertunda adalah sebagai berikut:
1. )enggunaan propolis dalam dosis tinggi (diatas 1' tetes # kali sehari) selama
terus/menerus tanpa jeda.
. 5elama penggunaan propolis pengguna kurang minum air putih hangat.
#. ,erjadi penambahan senya+a kimia penyebab alergi pada propolis sebagai
akibat langsung dari musim6bulan panen propolis di negara asal propolis.
$. )erubahan pola konsumsi makanan pengguna propolis, umumnya pasien
yang melakukan detosifikasi bisa mengalami gejala alergi terhadap propolis
setelah pasien tersebut melakukan detoksifikasi, hal tersebut bisa terjadi karena
detoksifikasi se4ara sederhana bisa dikatakan sebagai usaha meformat ulang
#.
reakasi tubuh terhadap lingkungannya, bisa jadi sebelum detoksifikasi tubuh
sudah memiliki daya tahan terhadap senya+a penyebab alergi, tetapi setelah
detosifikasi kemapuan tersebut hilang. (8ofriadi, ''()