Anda di halaman 1dari 11

Dr.

RH_Farmakoepidemiologi






MATERI FARMAKOEPIDEMIOLOGI MATERI FARMAKOEPIDEMIOLOGI MATERI FARMAKOEPIDEMIOLOGI MATERI FARMAKOEPIDEMIOLOGI






D DD Dr. Rina Herowati r. Rina Herowati r. Rina Herowati r. Rina Herowati, M.Si. , M.Si. , M.Si. , M.Si., Apt. , Apt. , Apt. , Apt.









Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 1

I. PENDAHULUAN

1. PENGANTAR FARMAKOEPIDEMIOLOGI

Definisi
Menurut Strom B.L. (1989) farmakoepidemiologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang penggunaan obat dan efeknya pada sejumlah besar manusia. Sedangkan Porta dan
Hartzema mendefinisikan farmakoepidemiologi sebagi aplikasi latar belakang, metoda dan
pengetahuan epidemiologik untuk mempelajari penggunaan dan efek obat dalam populasi
manusia.

Farmakoepidemiologi vs Farmakologi
Farmakologi adalah ilmu yang mempelajari efek obat. Farmakologi klinik adalah
ilmu yang mempelajari efek obat pada tubuh manusia. Farmakoepidemiologi
menjembatani antara ilmu Farmakologi dan Farmakologi Klinik

Farmakoepidemiologi vs Farmakologi Klinik
Tujuan utama Farmakologi klinik adalah untuk mengoptimalkan penggunaan obat,
sehingga salah satu prinsip Farmakologi klinik adalah terapi secara individual, atau
disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tiap pasien. Terapi individual ini membutuhkan
rasio keuntungan/resiko yang spesifik untuk tiap pasien. Harus diperhatikan potensi
keuntungan dan efek merugikan dari obat, dan diantisipasi bahwa status klinik pasien dapat
mempengaruhi hasil terapi.

Contoh : Pada pasien dengan infeksi serius, gagal hati serius, dan penurunan fungsi
ginjal, dalam mempertimbangkan terapi dengan gentamisin, tidak cukup hanya dengan
mengetahui bahwa gentamisin berpeluang kecil menyebabkan kerusakan ginjal. Hal ini
disebakan karena pasien dengan kegagalan fungsi hati beresiko besar terhadap efek
samping kerusakan ginjal dibanding pasien normal.
Farmakoepidemiologi berguna untuk memberikan informasi tentang efek
merugikan dan menguntungkan dari obat, sehingga memungkinkan penilaian yang lebih
Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 2

baik tentang keseimbangan rasio resiko/keuntungan dari penggunaan obat pada pasien
tertentu.

Farmakologi Klinik dibagi menjadi dua bidang, yaitu Farmakokinetika dan
Farmakodinamika. Farmakokinetika merupakan studi tentang hubungan antara dosis
administrasi obat dan kadar dalam darah/serum yang dicapai, berkaitan dengan ADME.
Sedangkan Farmakodinamika merupakan studi tentang kadar obat dengan efek obat.
Keduanya memungkinkan prediksi efek obat pada pasien setelah administrasi regimen
dosis tertentu. Farmakoepidemiologi terutama mempelajari efek samping obat.

Efek samping obat dibedakan menjadi tipe A dan tipe B. Tipe A adalah reaksi
umum, berhubungan dengan dosis, bisa diprediksi dan kurang serius. Tipe B merupakan
efek samping yang menyebabkan diperlukannya penghentian terapi, disebabkan reaksi
hipersensitivitas atau imunologi, dan lain-lain. Umumnya studi efek samping obat
dilakukan dengan pengumpulan laporan insiden kesakitan atau kematian akibat
penggunaan obat. Tetapi penentuan penyebab efek samping yang dilaporkan menjadi sulit
saat akan dilakukan terhadap kelas obat yang sama sehingga diperlukan studi epidemiologi.

Studi Efek Samping Obat (ESO) sebaiknya didukung studi kasus ESO. Awalnya
peneliti menguji kasus ESO untuk membuat keputusan klinis subjektif, apakah kejadian
ESO benar-benar disebabkan pemakaian obat sebelumnya, berdasarkan kasus individual.
Sekarang dilakukan studi kontrol untuk menjamin bahwa ESO memang terjadi karena
penggunaan obat. Kolaborasi studi farmakologi klinik dan epidemiologi ini memunculkan
bidang ilmu baru, yaitu Farmakoepidemiologi.

Farmakoepidemiologi vs Epidemiologi
Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan faktor penentu penyakit dalam
populasi. Farmakoepidemiologi mempelajari penggunaan dan efek obat pada sejumlah
besar manusia, sehingga dapat dikatakan farmakoepidemiologi adalah cabang ilmu
epidemiologi.
Dua area dasar epidemiologi adalah studi penyakit infeksi dalam populasi besar
(disebut juga epidemik), dan studi peyakit kronis. Area Farmakoepidemiologi mengadopsi
Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 3

teknik studi epidemiologi penyakit kronis, untuk mempelajari pengunaan dan efek samping
obat. Farmakoepidemiologi menjembatani antara farmakologi klinik dengan epidemiologi.
Dari farmakologi klinik Farmakoepidemiologi mengadopsi fokus penelitiannya, dari
epidemiologi farmakoepidemiologi mengadopsi metode penelitiannya. Dengan kata lain
Farmakoepidemiologi mengaplikasikan metode epidemiologi dalam area farmakologi
klinis. Namun pada prosesnya, pendekatan logistik dan metodologi terus berkembang.

Latar Belakang Sejarah
Regulasi obat bertujuan menjamin hanya obat yang efektif dan aman, yang tersedia
di pasaran. Tahun 1937 lebih dari 100 orang meninggal karena gagal ginjal akibat eliksir
sulfanilamid yang dilaruntukan dalam etilenglikol. Kejadian ini memicu diwajibkannya uji
toksisitas praklinis untuk pertama kali. Selain itu industri diwajibkan melaporkan data
klinis tentang keamanan obat sebelum dipasarkan.
Tahun 1950-an, ditemukan kloramfenikol dapat menyebabkan anemia aplastis.
Tahun 1952 pertama kali diterbitkan buku tentang efek samping obat. Tahun 1960 dimulai
program MESO (monitoring efek samping obat). Tahun 1961, bencana thalidomid,
hipnotik lemah tanpa efek samping dibandingkan golongannya, namun ternyata
menyebabkan cacat janin. Studi epidemiologi in utero memastikan penyebabnya adalah
thalidomid, sehingga dinyatakan thalidomid ditarik dari peredaran karena bersifat
teratogen.
Tahun 1962, diperketat harus dilakukannya uji toksikologi sebelum diuji pada
manusia. Setelah itu (tahun 1970-an hingga 1990an) mulai banyak dilaporkan
kasus/kejadian efek samping obat yang sudah lama beredar. Tahun 1970-an Klioquinol
dilaporkan menyebabkan neuropati subakut mielo-optik. Efek samping ini baru diketahui
setelah 40 tahun digunakan. Dietilstilbestrol diketahui menyebabkan adenocarcinoma
serviks dan vagina (setelah 20 tahun digunakan secara luas). Selain itu masih banyak lagi
penemuan ESO yang menyebabkan pencabutan ijin edar atau pembatasan pemakaian.
Berbagai kejadian ESO yang dilaporkan memicu pencarian metode baru untuk studi
ESO pada sejumlah besar pasien. Hal ini memicu pergeseran dari studi efek samping ke
studi kejadian ESO. Tahun 1990an dimulai penggunaan Farmakoepidemiologi untuk
mempelajari efek obat yang mengntungkan, aplikasi ekonomi kesehatan untuk studi efek
Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 4

obat, studi kualitas hidup, dan lain-lain. Studi Farmakoepidemiologi semakin bekembang,
dan pada tahun 1996 dikeluarkanlah Guidelines for Good Epidemiology Practices for
Drug, Device, and Vaccine Research di USA.
Regulasi Perijinan Obat Baru
Perijinan obat baru harus melewati uji praklinis (hewan coba) dan uji kinis sebagai
berikut :
1. Fase I. Uji fase I dilakukan terhadap probandus sehat, kecuali untuk sitotoksik. Uji
ini bertujuan untuk menentukan metabolisme obat, mencari rentang dosis aman,
mengidentifikasi reaksi toksik.
2. Fase II. Uji fase II dilakukan terhadap sejumlah kecil pasien. Uji ini bertujuan
untuk mendapatkan lebih banyak informasi farmakokinetika, efek samping relatif,
informasi efikasi obat, penentuan dosis harian dan regimen.
3. Fase III. Uji fase III dilakukan terhadap sejumlah besar pasien, 500-3000. Uji ini
bertujuan untuk evaluasi efikasi dan toksisitas obat, umumnya desain penelitian
yang digunakan adalah randomized clinical trial.

Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 5

2. KONTRIBUSI FARMAKOEPIDEMIOLOGI

Kontribusi farmakoepidemiologi meliputi :
1. Memberikan informasi yang mendukung data yang telah didapat pada studi pra-
marketing:
a. Hasil studi farmakoepidemiologi mempunyai presisi lebih tinggi
b. Hasil studi farmakoepidemiologi dapat menunjukkan data pada pasien yang tidak
menjadi objek strudi pra-marketing (anak, geriatri, ibu hamil, dan lain-lain)
c. Studi farmakoepidemiologi dapat menunjukkan hasil modifikasi karena
pemakaian obat lain (interaksi obat) atau adanya penyakit lain.
d. Studi farmakoepidemiologi dapat menunjukkan keamanan relatif terhadap obat
lain dengan indikasi sama

2. Memberikan informasi baru yang belum didapat dari studi pra-marketing, meliputi :
a. Penemuan efek samping dan efek menguntungkan yang tidak terdeteksi
sebelumnya (efek tidak biasa dan efek tertunda)
b. Informasi pola pemakaian obat
c. Informasi efek overdosis obat
d. Implikasi ekonomis dari pemakaian obat

3. Kontribusi umum Farmakoepidemiologi:
a. Reasuransi keamanan obat
b. Pemenuhan kewajiban etik dan legal

Manfaat studi Farmakoepidemiologi diklasifikasikan dalam konsep:
1. Peraturan/Kebijakan
Sebuah rancangan untuk studi farmakoepidemiologi postmarketing dibutuhkan
sebelum obat disetujui untuk dipasarkan. Sebagian besar studi yang dibutuhkan berupa
uji klinik acak, yang dirancang untuk klarifikasi efikasi obat dan toksisitas obat. Studi
postmarketing dilakukan untuk merespon laporan efek samping obat. Studi ini akan
Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 6

menyelidiki apakah efek samping ini terjadi lebih sering pada subjek terpapar obat dari
pada yang tidak menggunakan, serta berapa besar resiko peningkatan efek samping.

2. Pemasaran
a. Untuk membantu perluasan pemasaran dengan dokumentasi keamanan obat.
Karena keterbatasan informasi yang tersedia tentang efek suatu obat baru,
umumnya dokter ragu-ragu untuk meresepkan obat baru, hingga mulai banyak
dilaporkan tentang efikasi dan keamanan obat tersebut. Studi postmarketing formal
yang melaporkan keuntungan dan kerugian obat ini dibanding kompetitornya dapat
mempercepat meluasnya pemasaran suatu obat.
b. Untuk meningkatkan pengakuan merk
c. Untuk membantu penetapan kriteria baru terhadap obat
Penetapan kriteria baru terhadap obat meliputi membuka pasar baru, alternatif
penggunaan (misal untuk anak atau geriatri), indikasi baru, mengurangi pembatasan
label.
d. Untuk menjaga bertahannya obat di pasar.
Kegagalan menjawab pertanyaan akan efek samping suatu obat dapat
mengakibatkan kehilangan pasar bahkan penarikan obat. Hal ini dapat antisipasi
dengan studi farmakoepidemiologi.
Contoh :
Pfizer tidak pernah mendanai studi untuk mengantisipasi pertanyaan bahwa
Piroxicam (Feldene) lebih beresiko menyebabkan kematian akibat perdarahan
saluran cerna pada lansia dibanding NSAID lain, namun saat itu sudah banyak
studi farmakoepidemiologi tentang keamanan Piroxicam, sehingga Feldene
bisa diselamatkan pemasarannya.
Namun McNeil, saat muncul pertanyaan tentang reaksi anafilaksis yang
disebabkan zomepirac, tidak mampu menyediakan data yang menyatakan
keamanan obat tersebut, akhirnya obat ditarik dari peredaran.
Syntex, saat launching ketorolac parenteral, langsung melakukan studi cohort
postmarketing. Saat dilaporkan ada beberapa efek samping, hasil studi cohort
telah selesai dan segera dipublikasi sehingga menyelamatkan obat dari pasar.

Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 7

3. Legalitas
Semua obat mempunyai efek samping. Keputusan obat disetujui untuk dipasarkan
dan keputusan dokter untuk meresepkan tergantung pada keseimbangan antara
keuntungan dan resiko obat. Bila mengalami efek merugikan akibat pemakaian obat,
konsumen dapat mengajukan gugatan di peradilan, namun harus bisa membuktikan
penyebab, kerusakan dan bukti telah terjadi kelalaian.
Menghadapi tuduhan pengadilan akan efek merugikan obat, perusahaan tidak bisa
mengelak bila semua hal di atas dapat dibuktikan. Untuk membuktikan bahwa
memang obat dapat menyebabkan efek samping di atas bila digunakan dengan benar,
bukan dari kelalaian pengguna, pabrik dapat melakukan studi farmakoepidemiologi.
Studi ini juga dapat melindungi pabrik dari tuduhan tanpa dasar.

4. Klinis
a. Uji hipotesis
Tujuan utama dari sebagian besar studi farmakoepidemiologi adalah untuk uji
hipotesis. Hipotesis dapat diuji berdasarkan kelas struktur kimia suatu obat. Contoh:
studi terhadap cimetidin dilakukan karena cimetidn mempunyai kesamaan struktur
dengan metiamide, yang telah ditarik dari peredaran karena menyebabkan
agranulositosis.
Hipotesis juga dapat didasarkan temuan studi premarketing dan postmarketing
baik dengan hewan coba maupun uji klinis. Bila suatu obat memang menyebabkan
efek samping, uji hipotesis juga bisa dilakukan untuk menghitun g frekuensi
kejadian efek samping.

b. Studi penyusunan hipotesis, dibutuhkan berdasarkan:
Pada prinsipnya semua obat membutuhkan studi ini, namun diprioritaskan pada
obat yang lebih penting untuk dipelajari. Contoh : senyawa kimia baru lebih perlu
diuji dibandingkan mee too product, karena belum adanya data-data keamanan
senyawa yang sejenis sehingga obat baru lebih berpeluang menimbulkan efek
samping.
Profil keamanan suatu kelas obat juga merupakan pertimbangan penting untuk
memutuskan perlunya dilakukan studi postmarketing obat baru dari kelas yang
Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 8

sama. Profil dari obat lama dari kelas yang sama dapat digunakan untuk
memprediksi profil obat baru. Formulasi obat dapat menjadi pertimbangan perluya
dilakukan studi farmakoepidemiologi formal.
Penyakit yang kan diterapi juga merupakan pertimbangan perlu tidaknya studi
postmarketing dilakukan. Obat yang digunakan untuk terapi penyakit kronis akan
digunakan dalam jangka panjang, sehingga diperlukan studi efek samping jangka
panjang.
Juga obat yang digunakan untuk terapi penyakit umum perlu diuji, karena
banyaknya pasien yang akan menggunakan obat ini. Obat yang digunakan untuk
terapi penyakit yang self-limited, karena toksisitas serius tidak bisa diterima.
Terutama obat yang digunakan oleh individu sehat, seperti kontrasepsi oral. Orang
dengan penyakit ringan tapi menggunakan obat untuk penyakit parah, dapat lebih
rendah toleransinya terhadap toksisitas. Penting juga untuk melihat adanya
alternatif terapi, sehingga dibandingkan keuntungan dan resiko obat baru dengan
obat yang sudah biasa digunakan.

Keamanan dan Resiko

Pada dasarnya tidak ada obat yang total aman. Obat dikatakan aman jika resikonya
dapat diterima. Hal ini menyebabkan pengujian keamanan obat melibatkan dua aspek,
yaitu pengukuran resiko dan pertimbangan diterimanya resiko tersebut. Pengukuran resiko
merupakan fokus dari studi farmakoepidemiologi. Pertimbangan diterimanya resiko
merupakan toleransi resiko

Faktor yang mempengaruhi toleransi resiko
a. Bentuk efek samping:
1. Keparahan. Efek samping pasti lebih sulit diterima dibanding efek samping
yang lebih ringan
2. Reversibilitas. Efek samping yang ireversibel (seperti cacat janin) akan lebih
sulit diterima.
3. Frekuensi
4. Dread disease atau penyakit menakutkan (AIDS, kanker)
Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 9

5. Efek samping langsung vs tertunda
6. Insiden terjadi pada semua orang vs orang tertentu yang sensitif
7. Efek samping diketahui dengan pasti atau tidak.

b. Karakteristik paparan
1. Esensial vs opsional. Misalnya, efek samping kemoterapi lebih dapat diterima
karena dibandingkan dengan keuntungannya sebagai live saving drug atau live
prolong, tapi efek samping tidak disukai bila obat tersebut untuk pasien yang
sehat (vaksin, kontrasepsi)
2. Ada vs tidak. Misalnya, penundaan pemasaran beta bloker selama 6 tahun
(karena belum selesainya uji klinis) telah menimbulkan banyak kematian.
Kematian ini dianggap lebih berat dibandingkan banyaknya efek samping beta
bloker itu sendiri.
3. Pemakaian obat dengan benar vs kesalahan pemakaian. Misalnya, obat yang
kurang diterima karena adiktif, ternyata banyak disalahgunakan. Tretinoin
bersifat teratogenik, tapi masih banyak digunakan untuk terapi akne.

c. Persepsi evaluator
Insiden kematian akibat merokok sangat tinggi, tapi tidak pernah dipermasalahkan
dibanding sedikit kematian akibat kecelakaan pesawat. Analogi : Efek teratogen akibat
pemakaian tretinoin tidak pernah dipermasalahkan tapi efek teratogen karena obat X
dipermasalahkan.

Rangkuman
Farmakoepidemiologi ilmu yang mempelajari tentang penggunaan obat dan efeknya
pada sejumlah besar manusia.
Farmakoepidemiologi mengaplikasikan metode epidemiologi dalam area farmakologi
klinis.
Sejarah farmakologi merupakan sejarah meningkatnya frekuensi laporan/dugaan reaksi
efek samping obat, baik dari sistem pelaporan spontan, maupun yang diikuti oleh
penelitian untuk membuktikan laporan tersebut.
Dr.RH_Farmakoepidemiologi Page 10

Proses perijinan obat sangat terbatas, sehingga sebelum pemasaran tidak dapat
mendeteksi efek samping obat yang tidak biasa, tertunda, unik pada populasi beresiko
tinggi, efek samping pada kesalahan penggunaan, dan lain-lain.
Farmakoepidemiologi dapat berkontribusi memberikan informasi mengenai keamanan
dan efektivitas obat yang belum tersedia dari studi pra-marketing.