Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN HYPOSPADIA

Oleh: Laili Maslahatun N (105070200111028)


Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya Malang
DEPARTEMEN PEDIATRIK R.15 RSSA-MALANG

1. Definisi
Berikut ini adalah berbagai definisi hipospadia menurut berbagai sumber yaitu:
a. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan congenital dimana meatus uretra externa
terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang
normal (ujung glans penis) (Arif Mansjoer, 2000 : 374).
b. Hipospadia adalah suatu keadaan dimana terjadi hambatan penutupan uretra penis
pada kehamilan miggu ke 10 sampai ke 14 yang mengakibatkan orifisium uretra
tertinggal disuatu tempat dibagian ventral penis antara skrotum dan glans penis (A.H
Markum, 1991 : 257).
c. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa lubang uretra yang terletak di
bagian bawah dekat pangkal penis. (Ngastiyah, 2005 : 288).
d. Hipospadia adalah keadaan dimana uretra bermuara pada suatu tempat lain pada
bagian belakang batang penis atau bahkan pada perineum ( daerah antara kemaluan
dan anus ). (Davis Hull, 1994 ).
e. Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering
ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengelolaannya harus
dilakukan oleh mereka yang betul-betul ahli supaya mendapatkan hasil yang
memuaskan.

2. Etiologi
Penyebab hipospadia sebenarnya adalah multifaktor dan sampai sekarang belum
diketahui penyebab pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa factor yang oleh para
ahli dianggap paling berpengaruh antara lain:
a. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone: Hormon yang dimaksud di sini adalah
hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga
karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak
ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi
apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang
semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak
mencukupi.

b. Genetika: Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena
mutasi pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari
gen tersebut tidak terjadi.
c. Lingkungan: Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan
zat yang bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

3. Klasifikasi
Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum atau meatus adalah
sebagai berikut:
a. Tipe sederhana/ Tipe anterior: Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan
coronal. Pada tipe ini, meatus terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis,
kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus
agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.
b. Tipe penil/ Tipe Middle: Middle yang terdiri dari distal penile, proksimal penile, dan
pene-escrotal. Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum.
Biasanya disertai dengan kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium
bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung ke bawah atau glands penis
menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan bedah secara
bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya
pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk
tindakan bedah selanjutnya.
c. Tipe Posterior: Posterior yang terdiri dari tipe scrotal dan perineal.
Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan
skrotum bifida, meatus uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun.
d. Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe
glandular, distal penile, penile, penoskrotal, skrotal dan perineal.
Semakin ke proksinal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dan
semakin rendah frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di distal di mana meatus
terletak diujung batang penis atau di glands penis. Sisanya yang 10% terletak lebih
proksimal yaitu ditengah batang penis, skrotum atau perineum. Berdasarkan letak
muara uretra setelah dilakukan koreksi korde, Brown membagi hipospadia dalam 3
bagian :
1. Hipospadia anterior : tipe glanular, subkoronal, dan penis distal.
2. Hipospadia Medius : midshaft, dan penis proksimal.
3. Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal.


4. Patofisiologi
(terlampir)
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada hipospadai, antara lain:
a. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah
penis yang menyerupai meatus uretra eksternus.
b. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung
penis.
c. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang
hingga ke glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
d. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
e. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
f. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.
g. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.
h. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
i. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah
yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya
chordee yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya
abnormal ke glands penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimeter dari uretra,
korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu
ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua
hipospadia memiliki chordee.

6. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang biasanya dilakukan berupa pemeriksaan fisik.
Jarang dilakukan pemeriksaan tambahan untuk mendukung diagnosis hipospadi. Tetapi
dapat dilakukan pemeriksaan ginjal seperti USG mengingat hipospadi sering disertai
kelainan pada ginjal.

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan prosedur
pembedahan pada hipospadia adalah:

a. Membuat penis yang lurus dengan memperbaiki chordee
b. Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis (Uretroplasti).
c. Untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna (kosmetik).
d. Pembedahan dilakukan berdasarkan keadaan malformasinya. Pada hipospadia
glanular uretra distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum, bentuk
seperti ini dapat direkonstruksi dengan flap lokal (misalnya, prosedur Santanelli, Flip
flap, MAGPI (meatal advance and glanuloplasty), termasuk preputium plasty.
Terdapat berbagai macam teknik pembedahan, yang populer adalah Tunneling
Sidiq-Chaula, Teknik Horton dan Devine.
a. Teknik tunneling Sidiq-Chaula dilakukan operasi 2 tahap:
1. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan
yang berepitel pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis
diharapkan lurus, tapi meatus masih pada tempat yang abnormal. Penutupan luka
operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan kulit penis. Untuk melihat
keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan
menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum.
2. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah
lunak. Dibuat insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans,
lalu dibuat pipa dari kulit dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup
dengan flap dari kulit preputium dibagian sisi yang ditarik ke bawah dan
dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama
dengan harapan bekas luka operasi pertama telah matang.
b. Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar
dengan penis yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal
(yang letaknya lebih ke ujung penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian
punggung dan ujung penis dengan pedikel (kaki) kemudian dipindah ke bawah.
Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka
sebaiknya tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi
hipospadi.

8. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Fisik
a. Riwayat kehamilan, persalinan, keluarga dengan defect congenital
sebelumnya.
b. Pemeriksaan genetalia (bentuk, warna kulit, adanya massa, kebersihan). Selain
itu juga dapat dilihat adanya lekukan pada ujung penis, melengkungnya penis
ke bawah dengan atau tanpa ereksi, terbukanya uretra pada ventral
c. Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria, nyeri abdomen, atau
pembesaran pada ginjal.
d. Kaji fungsi perkemihan (kesulitan BAK, konsistensi, frekuensi, warna, bau,
pola)
e. Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, dysuria,
drainage.
2. Mental: Sikap pasien sewaktu diperiksa, sikap pasien dengan adanya rencana
pembedahan, tingkat kecemasan, dan pengetahuan keluarga dan pasien

b. Analisa Data

c. Diagnosa Keperawatan
1. Diagnosa: nyeri akut
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam nyeri akut
berkurang
Kriteria hasil: klien melaporkan nyeri berkurang, meringis (-), menangis (-), skala
nyeri 0-2, TTV dalam batas normal (HR: 60-100x/menit, RR: 16-20x/menit, Tax:
36,4-37,5 ).
Intervensi Rasionalisasi
Mandiri
Selidiki nyeri, catat lokasi dan
intensitasnya (0-10). Catat faktor- faktor
yang mempercepat dan tanda-tanda
rasa sakit nonverbal.


Berikan matras/ kasur lembut, bantal
kecil. Tinggikan linen tempat tidur
sesuai kebutuhan.







Berikan masase yang lembut


Kolaborasi:
Berikan obat-obatan sesuai petunjuk
Aspirin, atau NSAID lain.



Membantu dalam menentukan
kebutuhan manajmen nyeri dan
keefektifan program.



Matras yang lembut dan bantal akan
memelihara kesejajaran tubuh yang
tepat. Peninggian linen pada tempat
tidur menurunkan tekanan pada sendi
yang terinflamasi.





Meningkatkan relaksasi/ mengurangi
tegangan otot.

Aspirin: sebagai anti-inflamasi dan efek
analgesic ringan dalam mengurangi
kekakuan dan meningkatkan mobilitas.


Berikan es atau kompres dingin jika di
butuhkan

Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri
dan bengkak selama periode akut


2. Diagnosa: Kerusakan integritas kulit
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam kerusakan
integritas kulit teratasi
Kriteria hasil: luka membaik dan bebas dari infeksi , push (-), granulasi (+), TTV
dalam batas normal HR: 60-100x/menit, RR: 16-20x/menit, Tax: 36,4-37,5 ).
Intervensi Rasionalisasi
Kaji kondisi luka (karakteristik luka) Karakteristik luka setiap perawatan luka
perlu karena merupakan suatu dasar
untuk melakukan sebuah tindakan.
Kaji adanya tanda-tanda infeksi Infeksi dapat muncul karena hilangnya
pertahanan primer tubuh
Observasi tanda-tanda vital TTV dapat meningkat ketika terjadi
infeksi khusudnya peningkatan suhu.
Kolaborasi:
Lakukan perawatan luka yang tepat
dan sesuai jadwal
Perawatan luka yang tepat dan sesuai
akan mempercepat penyembuhan luka
Berikan antibiotic Pemberian antibiotic dapat membantu
mencegah terjadinya infeksi


1. Diagnosa: Ansietas
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam ansietas
teratasi
Kriteria hasil: klien mengatakan tidak cemas, tampak rileks, TTV dalam batas
normal (HR: 60-100x/menit, RR: 16-20x/menit, Tax: 36,4-37,5 ).
Intervensi Rasionalisasi
Kaji faktor yang menyebabkan klien
cemas
Mengidentifikasi rasa takut yang
spesifik akan membantu pasien
menghadapinya secara realistis.
Kaji tanda-tanda vital Tanda-tanda vital dapat mengalami
peningkatan karena respon dari
kecemasan akibat stimulasi system
saraf simpatis.
Jelaskan tujuan dan prosedur dalam
setiap tindakan.
Pemberian informasi sebelum tindakan
dapat memberikan kenyamanan dan
kecemasan
Observasi ekspresi nonverbal Kecemasan dapat terlihat dari ekspresi
non verbal
Kaji adanya keluhan mual, muntah,
pusing, dll.
Kecemasan yang berlebihan dapat
menstimulasi sistem saraf simpatis
akibat peningkatan hormon kortisol.
Jelaskan tentang penyakit, penyebab,
serta penatalaksanaan medis yang
dapat dilakukan.
Pemberian informasi tentang penyakit
klien merupakan suatu perencanaan
yang harus dilakukan karena dapat
mengurangi kecemasan dan
meningkatkan pengetahuan klien
terhadap kondisi kesehatannya























DAFTAR PUSTAKA

Johnson, Marion dkk. (2000). Nursing outcomes classification (NOC). Mosby
Mansjoer, Arif, dkk. (2000).Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2, Jakarta : Media Aesculapius.
Nettina, M.Sandra. 2010. Lippincott Manual of Nursing Practice 9
th
edition. William wilkins
Price, Sylvia Anderson. (1995). Pathofisiologi. Jakarta: EGC
Purnomo, B Basuki. (2000). Dasar dasar urologi. Jakarta : Infomedika
Suriadi SKp, dkk. (2001). Asuhan keperawatan pada anak. Jakarta : Fajar Interpratama

Anda mungkin juga menyukai