Anda di halaman 1dari 6

n September 1, 2013 by GrowUp Clinic

Kenali Bahaya Faktor Resiko Tinggi Kehamilan dan Antisipasinya



Kehamilan resiko tinggi merupakan kehamilan yang sering menyebabkan terjadinya bahaya dan
komplikasi terhadap ibu maupun janin. Baik itu selama proses kehamilan, persalinan, dan setelah
melahirkan atau nifas. Data statistik memperlihatkan kenyataan bahwa kehamilan yang sehat
mencapai persentase 80% hingga 90%. Selebihnya, merupakan porsi kehamilan resiko tinggi. Seorang
perempuan hamil dapat di kategorikan berisiko atau mengalami kehamilan risiko tinggi jika

Penyakit yang menyertai kehamilan

Penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah dan ginjal misalnya darah tinggi, rendahnya kadar
protein dalam darah dan tingginya kadar protein dalam urin.
Inkompatibilitas darah atau ketiksesuaian golongan darah misalnya pada janin dan ibu yang dapat
menyebabkan bahaya baik bagi janin maupun ibu seperti ketidaksesuaian resus.
Endokrinopati atau kelainan endokrin seperti penyakit gula
Kardiopati atau kelainan jantung pada ibu yang tidak memungkinkan atau membahayakan bagi ibu jika
hamil dan melahirkan.
Haematopati atau kelainan darah, misalnya adanya gangguan pembekuan darah yang memungkinkan
terjadinya perdarahan yang lama yang dapat mengancam jiwa.
Infeksi, misalnya infeksi TORCH (Toksoplasma, Rubella, Citomegalo virus dan Herpes simpleks), dapat
membahayakan ibu dan janin.
Penyulit kehamilan

Partus prematurus atau melahirkan sebelum waktunya yaitu kurang dari 37 minggu usia kehamilan. Hal
ini merupakan sebab kematian neonatal yang terpenting.
Perdarahan dalam kehamilan, baik perdarahan pada hamil muda yang disebabkan oleh abortus atau
keguguran, kehamilan ektopik atau kehamilan diluar kandungan dan hamil mola, maupun perdarahan
pada triwulan terakhir kehamilan yang disebabkan oleh plasenta previa atau plasenta (ari-ari) yang
berimplantasi atau melekat tidak normal dalam kandungan dan solutio plasenta atau pelepasan
plasenta sebelum waktunya.
Ketidaksesuaian antara besarnya rahim dan tuanya kehamilan, misalnya hidramnion atau cairan ketuban
yang banyak, gemelli atau kehamilan kembar dan gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan.
Kehamilan serotin atau kehamilan lewat waktu yaitu usia kehamilan lebih dari 42 minggu.
Kelainan uterus atau kandungan, misalnya bekas seksio sesarea dan lain-lain
Riwayat obstetris yang buruk

Kematian anak pada persalinan yang lalu atau anak lahir dengan kelainan congenital (cacat bawaan)
Satu atau beberapa kali mengalami partus prematurus atau melahirkan belum pada waktunya.
Abortus habitualis atau keguguran yang terjadi berulang kali dan berturut-turut terjadi, sekurang-
kurangnya 3 kali berturut-turut.
Infertilitas tidak disengaja lebih dari 5 tahun yaitu tidak merencanakan untuk menunda kehamilan
dengan cara apapun, tapi selama 5 tahun tidak hamil.
Keadaan umum ibu

Umur ibu, kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Paritas atau banyaknya melahirkan, berisiko tinggi pada ibu yang sudah melahirkan lebih dari 4 orang
anak.
Berat badan ibu, yaitu ibu yang terlalu kurus atau ibu yang terlalu gemuk.
Tinggi badan ibu, yaitu tinggi badan kurang dari 145 cm.
Bentuk panggul ibu yang tidak normal.
Jarak antara dua kehamilan yang terlalu berdekatan yaitu kurang dari 2 tahun.
Ibu yang tidak menikah, berhubungan dengan kondisi psikologis
Keadaan sosio ekonomi yang rendah
Ketagihan alkohol, tembakau dan morfin.
Penyebab

Penyakit-penyakit ibu dan janin
Kelainan obstetri
Gangguan plasenta
Gangguan tali pusat
Komplikasi persalinan
Kelainan genetik.
Penanganan

Kehamilan dengan risiko tinggi harus dibina oleh seorang ahli kebidanan yang harus melakukan
pengawasan yang intensif, misalnya dengan mengatur frekuensi pemeriksaan prenatal. Pengawasan
yang intensif mungkin memerlukan opname.
rumah sakit yang mengawasi kehamilan dengan risiko harus mempunyai fasilitas untuk melakukan
diagnostik perinatal karena sering diperlukan pemeriksaan kadar oestriol atau HPL. Cephalometri
dengan ultrasound, registrasi rythme bunyi jantung anak dan pemeriksaan air ketuban dengan
amnioskopi atau amniocentesis.
Konsultasi diperlukan dengan ahli kedokteran lainnya terutama ahli penyakit dalam dan ahli kesehatan
anak. Pengelolaan kasus merupakan hasil team work antara berbagai ahli.
Pengakhiran kehamilan perlu dipertimbangkan oleh team tersebut dan juga apakah dipilih induksi
persalinan atau seksio.
Pemelihara kesehatan agar tidak sakit.
Sebaiknya melakukan kontrol kehamilan secara teratur baik itu kepada kepada dokter kandungan.
Pemeriksaan secara teratur setiap bulan dapat mencegah hal-hal yang membahayakan bagi ibu dan
bayi. Bidan ataupun dokter dapat mendeteksi dan memberikan perawatan sejak dini sehingga hal-hal
yang dapat membahayakan ibu dan bayi dapat di antisipasi sejak awal.
Jaga asupan gizinya dengan makan makanan yang bergizi tinggi dengan diet seimbang. Selalu menjaga
berat badan ibu dan bayi sehingga terkontrol dan tidak mengalami tekananan darah tinggi.
Seorang perempuan hamil juga sebaiknya tetap melakukan olahraga ringan yang sangat bermanfaat
bagi ibu dan bayi seperti berenang dan berjalan kaki.
Pencegahan

Dengan memeriksakan kehamilan sedini mung kin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit,
paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.
Lakukan imunisasi TT 2X.
Bila ditemukan kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif.
Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna.
Dengan mengenal tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.
Perbanyaklah pengetahuan mengenai kehamilan dan risiko kehamilan tinggi sehingga dapat mencegah
hal-hal yang tidak di inginkan.
Sebaiknya memilih rumah sakit yang memiliki sarana tranportasi rujukan yang baik khususnya
kendaraan transportasi. Lebih baik lahgi dilakukan pada rumah sakit dengan fasilitas ruangan NICU
(Neonatal Intensive Care Unit)
Dampak Yang Bisa Terjadi

Perdarahan Masa Nifas Perdarahan postpartum atau pendarahan pasca persalinan adalah perdarahan
dengan jumlah lebih dari 500 ml setelah bayi lahir. Ada dua jenis menurut waktunya, yaitu perdarahan
dalam 24 jam pertama setelah melahirkan dan perdarahan nifas. Penyebab tersering adalah atoni uteri,
yakni otot rahim tidak berkontraksi sebagaimana mestinya segera setelah bayi lahir. Normalnya, setelah
bayi dan plasenta lahir otot-otot rahim akan berkontraksi sehingga pembuluh darah akan menutup dan
perdarahan akan berhenti. Namun, terjadi atoni uteri, rahim tidak dapat berkontraksi dengan baik,
sehingga pembuluh darah tetap terbuka. Dengan demikian terjadilah perdarahan postpartum.
Perdarahan post partum dalam 24 jam pertama biasanya masih berada dalam pengawasan ketat dokter.
Dalam dua jam pertama, kondisi Anda terus dipantau, salah satunya untuk mengetahui apakah terdapat
perdarahan post partum. Sementara itu, perdarahan masa nifas dapat terjadi ketika Anda sudah tidak
berada di rumah sakit lagi. Oleh karena itu Anda harus waspada terhadap kemungkinan terjadinya
perdarahan post partum. Beberapa hal yang lajim, misalnya wajah tampak pucat, nadi teraba cepat dan
kecil, kulit kaki dan tangan dingin, serta perdarahan melalui vagina yang terjadi berulang, banyak, dan
menetap, atau perdarahan di vagina yang disertai bau busuk. Jika mengalami hal seperti itu segera pergi
ke dokter atau rumah sakit terdekat. Penanganan dilakukan tergantung penyebab dan banyaknya
perdarahan. Perdarahan pada 24 jam pertama persalinan umumnya disebabkan oleh robekan/trauma
jalan lahir, adanya sisa plasenta ataupun atoni uteri. Apabila penyebabnya adalah atoni uteri,
penanganannya disesuaikan dengan derajat keparahannya. Jika perdarahan tidak banyak, dokter akan
memberikan uterotonika (obat perangsang kontraksi rahim), mengurut rahim, dan memasang gurita.
Bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak, selanjutnya diberikan infus dan tranfusi darah,
lalu dokter akan melakukan beberapa teknik (manufer). Dan bila belum tertolong juga maka usaha
terakhir adalah menghilangkan sumber perdarahan dengan dua cara yaitu mengikat pembuluh darah
atau mengangkat rahim (histerektomi). Perdarahan pada masa nifas umumnya disebabkan oleh infeksi.
Jika perdarahan disertai pasca persalinan, maka selain pemberian uterotonika, dokter akan memberikan
juga anti biotik yang memakai adekuat.
Infeksi Pasca Persalinan (Postpartum) Infeksi post partum adalah infeksi yang terjadi setelah ibu
melahirkan. Keadaan ini ditandai oleh peningkatan suhu tubuh, yang dilakukan pada dua kali
pemeriksaan, selang waktu enam jam dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Jika suhu tubuh
mencapai 38 derajat celcius dan tidak ditemukan penyebab lainnya (misalnya bronhitis), maka dikatakan
bahwa telah terjadi infeksi post partum. Infeksi yang secara langsung berhubungan dengan proses
persalinan adalah infeksi pada rahim, daerah sekitar rahim, atau vagina. Infeksi ginjal juga terjadi segera
setelah persalinan. Beberapa keadaan pada ibu yang mungkin dapat meningkatkan resiko terjadinya
infeksi post partum, antara lain anemia, hipertensi pada kehamilan, pemeriksaan pada vagina berulang-
ulang, penundaan persalinan selama lebih dari enam jam setelah ketuban pecah, persalinan lama,
operasi caesar, tertinggalnya bagian plasenta didalam rahim, dan terjadinya perdarahan hebat setelah
persalinan. Gejalanya antara lain menggigil, sakit kepala, merasa tidak enak badan, wajah pucat, denyut
jantung cepat, peningkatan sel darah putih, rasa nyeri jika bagian perut ditekan, dan cairan yang keluar
dari rahim berbau busuk. Jika infeksi menyerang jaringan disekeliling rahim, maka nyeri dan demamnya
lebih hebat.
Ruptur Uteri Secara sederhana ruptur uteri adalah robekan pada rahim atau rahim tidak utuh. Terdapat
keadaan yang meningkatkan kejadian ruptur uteri, misalnya ibu yang mengalami operasi caesar pada
kehamilan sebelumnya. Selain itu, kehamilan dengan janin yang terlalu besar, kehamilan dengan
peregangan rahim yang berlebihan, seperti pada kehamilan kembar, dapat pula menyebabkan rahim
sangat teregang dan menipis sehingga robek. Gejala yang sering muncul adalah nyeri yang sangat berat
dan denyut jantung janin yang tidak normal. Pada keadaan awal, jika segera diketahui dan ditangani
dapat tidak menimbulkan gejala dan tidak mempengaruhi keadaan Anda dan janin. Namun, jika robekan
yang luas dan menyebaabkan perdarahan yang banyak, dokter akan segera melakukan operasi segera
untuk melahirkan bayi sampai pada pengangkatan rahim. Hal ini bertujuan agar Anda tidak kehilangan
darah terlalu banyak, dan bayipun dapat diselamatkan. Perdarahan hebat juga memerlukan trafusi
darah dan pertolongan darurat lainnya, sampai pada dibutuhkannya fasilitas ICU dan NICU. Apabila
terjadi perdarahan yang hebat dalam perut ibu, hal ini mengakibatkan suplai darah ke plasenta dan
janin menjadi berkurang, sehingga dapat menyebabkan kematian janin dan ibu. Jika ibu memiliki riwayat
ruptur uteri pada kehamilan sebelumnya, disarankan untuk tidak hamil lagi sebab beresiko terjadinya
ruptur uteri yang berulang. Namun, jika Anda hamil lagi, diperlukan pengawasan yang ketet selama
kehamilan, kemudian bayi akan dilahirkan dengan cara caesar.
Trauma Perineum Parineum adalah otot, kulit, dan jaringan yang ada diantara kelamin dan anus. Trauma
perineum adalah luka pada perineum sering terjadi saat proses persalinan. Hal ini karena desakan
kepala atau bagian tubuh janin secara tiba-tiba, sehingga kulit dan jaringan perineum robek.
Berdasapkan tingkat keparahannya, trauma perineum dibagi menjadi derajat satu hingga empat.
Trauma derajat satu ditandai adanya luka pada lapisan kulit dan lapisan mukosa saluran vagina.
Perdarahannya biasanya sedikit. Trauma derajat dua, luka sudah mencapai otot. Trauma derajat tiga dan
empat meliputi daerah yang lebih luas, bahkan pada derajat empat telah mencapai otot-otot anus,
sehingga pendarahannya pun lebih banyak. Trauma parineum lebih sering terjadi pada keadaan-
keadaan seperti ukuran janin terlalu besar, proses persalinan yang lama, serta penggunaan alat bantu
persalinan (misal forsep). Adanya luka pada jalan lahir tentu saja menimbulkan rasa nyeri yang bertahan
selama beberapa minggu setelah melahirkan. Anda dapat pula mengeluhkan nyeri ketika berhubungan
intim. Saat persalinan, terkadang dokter melakukan episiotomi, yaitu menggunting perineum untuk
mengurangi trauma yang berlebihan pada daerah perineum dan mencegah robekan perineum yang
tidak beraturan. Dengan episiotomi, perineum digunting agar jalan lahir lebih luas. dengan demikian
perlukaan yang terjadi dapat diminimalkan.
Dampak pada bayi: Bayi lahir belum cukup bulan (prematur), Bayi lahir dengan berat lahir rendah
(BBLR), Keguguran (abortus), Persalinan tidak lancar / macet, Janin mati dalam kandungan.
Dampak pada ibu: Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan, Ibu hamil / bersalin meninggal dunia,
Keracunan kehamilan/kejang-kejang.