Anda di halaman 1dari 16

Pengertian sungai, Pengertian DAS, dan Jenis-Jenis Sungai

Sungai adalah air yang mengalir secara alamiah melalui sebuah saluran alam.Pada
um umnya, sungai mengalir ke laut, tetapi terkadang sungai yang tidak mengalir kelaut,
biasanya sungai ini ada di gurun dan disebut creek/wadi.

Wadi

Sungai normal
Debit sungai dapat dipengaruhi oleh:
Iklim
Banyaknya curah hujan
Penguapan
DAS, DAS adalah istilah geografi mengenai sebatang sungai, anak sungai dan area tanah
yang dipengaruhinya. FAktor yang mempengaruhi DAS antara lain adalah, lebar dan kedalaman
sungai, bentuk alam, kondisi sungai, serta ada atau tidaknya huta di pinggir sungai.

DAS

Sumber Sungai
Sungai tidak hanya berasal dari mata air dan hujan lho..

1. Sungai hujan, sungai hujan adalah sungai yang berasal dari air hujan, inilah
bentuk sungai pada umumnya.
Sungai Hujan
2. Contoh sungai jenis ini adalah Sungai Bengawan Solo, Ciliwung, dan Kapuas
3. Sungai Gletser, sungai ini yang airnya berasal dari gletser yang mencair.

Sungai Gletser
4. Contohnya adalah sungai Gangga, dan sungai Phein
5. Sungai campuran, sungai yang sumber airnya berasal dari baik hujan
maupun gletser

Sungai Campuran
6. Contohnya adalah sungai membramo, Digul dan Yanhtze
Jenis Sungai menurut Debitnya:

1. Sungai permanen, Debit sungai hampir sama sepanjang tahun

Contoh bentuksungai permanen
2. Contohnya adalah Sungai Barito, Mahakam, dan Kapuas
3. Periodik, Banyak pada musim hujan dan sedikit pada musim kemarau

Sungai periodik pada saat musim kemarau
4. Contohnya adalah Sungai Bengawan Solo dan Opak
5. Episodik, Sungai ini Banyak musim hujan dan tidak ada pada musim
kemarau, contohnya adalah sungai Kalada.
Dibuat oleh R. Himan Haryo Teguh D.


Pengertian Seputar DAS
1. Daerah Aliran Sungai (menurut Undang-undang NO. 7 Tahun 2004 tentang SDA DAS) adalah suatu wilayah
daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi
menampung, menyimpan, dan mengalirkan yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami,
yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang
masih terpengaruh aktivitas daratan.Sub DAS adalah bagian dari DAS yang menerima air hujan dan
mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai uatama. Setiap DAS terbagi habis ke dalam Sub DAS-Sub
DAS.
2. Karakteristik DAS adalah gambaran spesifik mengenai DAS yang dicirikan oleh parameter yang berkaitan
dengan keadaan morfometri, topografi, tanah, geologi, negetasi, penggunaan lahan, hidrologi dan manusia.
3. Bagian Hulu DAS adalah suatu wilayah daratan bagian dari DAS yang dicirikan dengan topografi
bergelombang, berbukit dan atau bergunung, kerapatan drainase relatif tinggi, merupakan sumber air yang
masuk ke sungai utama dan sumber erosi yang sebagian terangkut menjadi sedimen daerah hilir.
4. Bagian Hilir DAS adalah suatu wilayah daratan bagian dari DAS yang dicirikan dengan topografi datar sampai
landai, merupakan daerah endapan sedimen atau aluvial.
5. Pengelolaan DAS adalah upaya manusia dalam mengendalikan hubungan timbal balik antara sumberdaya
alam dengan manusia di dalam DAS dan segala aktivitasnya dengan tujuan membina kelestarian dan
keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan.
6. Pengelolaan DAS Terpadu adalah rangkaian upaya perumusan tujuan, sinkronisasi program, pelaksanaan dan
pengendalian pengelolaan sumber daya DAS lintas multi pihak secara partisipatif berdasarkan kajian kondisi
biofisik, ekonomi, sosial, politik dan kelembagaan guna mewujudkan tujuan pengelolaan DAS.
7. Lembaga Koordinasi Pengelolaan DAS (Forum DAS) adalah organisasi multipihak yang terkoordinasi, terdiri
dari unsur-unsur pemerintah yang berkepentingan dengan pengelolaan DAS yang dilegalisasi oleh Presiden,
Gubernur, atau Bupati/Walikota sesuai tingkatannya.
8. Degradasi Lahan adalah penurunan atau kehilangan seluruh kapasitas alami untuk menghasailkan tanaman
yang sehat dan bergizi sebagai akibat erosi, pembentukan lapisan padas (hardpan) dan akumulasi bahan kimia
beracun (toxic) disamping penurunan fungsi sebagai media tata air.
9. Ancaman Bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.
10. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat, yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor
manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda dan dampak psikologis.
11. Bencana Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan
oleh alam, antara lain berupa : gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, kekeringan dan
angin topan.
12. Ancaman Non Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa non alam
yang antara lain berupa : gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemik dan wabah penyakit dan teror.
13. Bencana Sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan
oleh manusia, yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat.
14. Banjir adalah aliran berlebih atau penggenangan yang datang dari sungai atau badan air lainnya dan
menyebabkan atau mengancam kerusakan. Banjir ditunjukkan aliran air yang melampaui kapasitas tampung
tebing/tanggul sungai sehingga menggenangi daerah sekitarnya.
15. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk
menghilangkan dan atau mengurangi ancaman bencana.
16. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang
didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat
dipisahkan.
17. Hutan Mangrove adalah suatu formasi pohon-pohon yang tumbuh pada tanah aluvial di daerah pantai dan
sekitar muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut dan dicirikan oleh keberadaan jenis-jenis :
Avicennia spp (api-api), Soneratia spp (pedada), Rhizophora spp (bakau) Bruguiera spp (tanjang), Lumnitzera
excoccaria (tarumtum), Xylocarpus spp (nyirih) dan Nypa fruticans (nipah).
18. Hutan Pantai adalah suatu formasi pohon-pohon yang tumbuh di tepi pantai dan berada di atas garis pasang
tertinggi, Jenis-jenis pohonnya antara lain : Casuarina equisetafolia (cemara laut), Terminalia catappa
(ketapang), Hibiscus tiliaseus (waru), Cocos nucifera (kelapa), dan Arthocarpus altilis (nangka/cempedak).
19. Hutan Rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas areal lahan yang dibebani hak milik maupun hak lainnya di
luar kawasan hutan dengan ketentuan luas minimum 0,25 Ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan
tanaman lainnya lebih dari 50 %.
20. Lahan Kritis adalah lahan yang keadaan fisiknya terganggu sedemikian rupa sehingga lahan tersebut tidak
berfungsi lagi secara baik sebagai media produksi maupun media pengatur tata air.
21. Konservasi Tanah adalah upaya penempatan setiap bidang lahan pada penggunaan lahan yang sesuai
dengan kemampuan lahan tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar
tidak terjadi kerusakan tanah sehingga dapat mendukung kehidupan secara lestari.
22. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan
fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem
penyangga kehidupan tetap terjaga.
23. Bibit adalah bahan tanaman yang dapat berupa benih sehat atau seedling/anakan, baik berupa stek, anakan
siap tanam, cangkokan maupun anakan cabutan yang dapat ditanam.
24. Jenis Kayu-kayuan adalah jenis tanaman hutan yang menghasilkan kayu untuk konstruksi bangunan, meubel
dan peralatan rumah tangga.
25. Multi Purpose Tree Species (MPTS) adalah jenis tanaman yang menghasilkan kayu dan bukan kayu.
26. Bangunan Pengendali Jurang (Gully Plug) adalah bendungan kecil yang lolos air yang dibuat pada parit-parit
melintang alur parit dengan konstruksi batu, kayu atau bambu.
27. Bangunan Terjunan Air adalah bangunan terjunan yang dibuat pada tiap jarak tertentu pada SPAS (tergantung
kepentingan lahan) yang dapat dibuat dari batu, kayu dan bambu.
28. Dam Penahan adalah bendungan kecil yang lolos air dengan konstruksi bronjong batu atau trucuk bambu/kayu
yang dibuat pada alur sungai dengan tinggi maksimal 4 meter.
29. Dam Pengendali adalah bendungan kecil yang dapat menampung air (tidak lolos air) dengan konstruksi lapisan
kedap air, urugan tanah homogen, beton (tipe busur), untuk mengendalikan erosi, sedimentasi, banji r dan
irigasi serta air minum dan dibangun pada alursungai/anak sungai dengan tinggi maksimal 8 meter.
30. Embung Air adalah bangunan penampung air berbentuk kolam yang berfungsi untuk menampung air hujan/air
limpasan atau air rembesan pada lahan tadah hujan yang berguna sebagai sumber air untuk memenuhi
kebutuhan pada musim kemarau.
31. Tata Air DAS adalah hubungan kesatuan individual unsur-unsur hidrologis yang meliputi : hujan, aliran
permukaan dan aliran sungai, peresapan, aliran air tanah dan evapotranspirasi dan unsur lainnya yang
mempengaruhi neraca air suatu DAS.

KLASIFIKASI JENIS-JENIS SUNGAI

a. Berdasarkan struktur batuan yang dilalui
Sungai anteseden
Merupakan sungai yang dapat mengimbangi pengangkatan lapisan batuan yang dilaluinya.
Contoh : sungai Oya di Jogjakarta
Sungai epigenesa
Merupakan sungai yang terus menerus mengikis batuan yang dilaluinya sehingga mencapai batuan
induk.
Contoh : sungai Colorado
b. Berdasarkan arah aliran


Sungai konsekuen
Merupakan sungai yang arah alirannya sesuai kemiringan batuan.
Sungai subsekuen
Merupakan sungai yang arah alirannya tegak lurus sungai konsekuen.
Sungai obsekuen
Merupakan anak sungai subsekuen yang arah alirannya berlawanan kemiringan batuan.
Sungai resekuen
Merupakan anak sungai subsekuen yang arah alirannya searah kemiringan batuan.
Sungai insekuen
Merupakan sungai yang arah alirannya teratur dan tidak terikat lapisan batuan yang dilaluinya.

c. Berdasarkan keadaan arah aliran airnya
Sungai periodic (intermiten)
Merupakan sungai yang hanya berair pada musim penghujan saja.
Sungai episodic (parenial)
Merupakan sungai yang selalu mengalir airnya.

d. Berdasarkan sumber airnya
Sungai hujan
Merupakan sungai yang airnya berasal dari hujan.
Sungai gletser
Merupakan sungai yang airnya berasal dari salju yang mencair (gletser).
Sungai campuran
Merupakan sungai yang airnya berasal dari air hujan maupun gletser.

e. Berdasarkan pola aliran
Sungai radial
Sungai yang mengalir ke segala arah menuju atau meninggalkan pusat.Biasanya terdapat pada
daerah cekungan maupun dome.
Radial sentrifugal : arah aliran meninggalkan pusat
Radial sentripetal : arah aliran menuju pusat
Sungai dendritik
Sungai yang alirannya bercabang tidak teratur dengan arah dan sudut yang beragam. Biasanya
terdapat di daerah pantai atau plato dengan batuan homogen.
Sungai trellis
Percabagan sungai utama dengan anak sungai hampir tegak lurus.Biasanya terdapat pada
pegunungan lipatan.
Sungai rectangular
Pola percabangan aliran sungai yang berbentuk siku-siku atau hampir siku-siku.Biasanya terdapat
pada daerah patahan.
Sungai parallel
Pola aliran dengan anak sungai yang sejajar atau hampir sejajar dengan anak sungai lain yang
bermuara pada sungai utama atau langsung bermuara ke laut. Biasanya terdapat pada daerah dekat
pantai.

JENIS-JENIS SUNGAI (LENGKAP)
SUNGAI

sungai merupakan badan air yang melului cekungan dari hulu sampai hilir.bidang studi
geografi yang mempelajari tentang sungai disebut potamologi.

A. SUNGAI MENURUT SUMBER AIR

1. Sungai Hujan
sungai yang airnya berasal dari proses prestipasi (hujan) dan keluar melalui mata air di hulu
sungai. jenis sungai ini banyak ditemukan di Indonesia. contoh: Sungai Bengawan Solo,
Sungai Citararum, Sungai Ciliwung, dsb.
2. Sungai Gletser
sungai yang airnya berasal dari es yang mencair. contohnya Sungai Membramo yang airnya
berasal dari es yang mencair di Puncak Jaya Wijaya, Papua.
3. Sungai Campuran
sungai yang airnya berasal dari campuran air hujan dan copypaste dari fuat cepat gletser.
Contohnya Sungai Digul di Papua.


B. SUNGAI MENURUT DEBIT AIR
1. Sungai Perenial
sungai dengan debit air yang tetap sepanjang tahun. contohnya Sungai Mahakam, Sungai
Kapuas, dan Sungai Musi.
2. Sungai Ephimeral/Periodik
sungai yang dipengaruhi oleh musim, sehingga debit airnya akan berkurang pada musim
kemarau dan melimpah pada musim penghujan. contohnya Sungai Bengawan Solo.
3. Sungai Intermiten
sungai yang hanya ada pada musim penghujan, pada musim kemarau airnya kering.
contohnya Sungai Laku kalada di NTT.

C. SUNGAI MENURUT ARAH ALIRAN
1. Sungai Konsekuen
arah aliran seseuai dengan kemiringan lereng, contohnya Sungai Progo, Sungai Opak, dsb.
2. Sungai Insekuen
arah aliran tidak menentu terhadap lereng, contohnya sungai-sungai di dataran
rendah/cekungan.
3. Sungai Obsekuen
arah aliran berlawanan dengan Sungai Konsekuen, contohnya sungai-sungai bawah tanah di
daerah karst Gunung Kidul.
4. Sungai Subsekuen
arah aliran sejajar dengan induk sungai, contohnya Selokan Mataram di Jogjakarta.

D. SUNGAI MENURUT POLA ALIRAN
1. Dendritik
pola aliran sungai berbentuk cabang pohon dengan sudut tumpul, terdapat di datran rendah
dan dekat dengan muara sungai dengan lereng landai.
2. Pinate
pola aliran sungai berbentuk anak panah dengan sudut lancip 60 derajat, terdapat di daerah
hulu sungai yang berlereng terjal/curam.

3. Trellis
pola aliran sungai berbentuk sudut siku-siku 90 derajat dan sejajar, terdapat di daerah
pegunungan lipatan (sinklinal).
4. Rectangular
Pola aliran yang membentuk pola persegi empat dengan sudut siku-siku 90 derajat,
terdapat di daerah patahan.
5. Anular
pola aliran sungai yang melingkar, terdapat di daerah pegunungan kapur/karst.
6. Radial SentriFugal (F=menyebar)
pola aliran sungai yang arah aliran airnya menyebar, terdapat di cembungan (kawah
gunung berapi).
7. Radial SentriPetal (P=pusat)
pola aliran sungai yang arah aliran airnya memusat, terdapat di daerah cekungan (danau).

E. SUNGAI MENURUT UMUR
1. Sungai Muda
sungai muda = sungai bagian hulu
2. Sungai Dewasa
sungai dewasa = sungai bagian tengah
3. Sungai Tua
sungai tua = sungai bagian hilir
ciri-cirinya ada di sini :
http://fastrans22.blogspot.com/2013/05/karakteristik-sungai-bagian-hulu-tengah.html
F. SUNGAI MENURUT STRUKTUR GEOLOGI
1. Sungai Antisedens
sungai yang arah alirannya tetap meskipun terjadi pengangkatan permukaan bumi karena
daya erosi sungai mampu mengimbangi pengangkatan yang terjadi.
2. Sungai Epigenesa
sungai yang melintang dengan struktur geologis sehingga mengikis batuan induk di dasar
sungai.

G. SUNGAI MENURUT TEMPAT BERMUARA
1. Sungai Areic
sungai yang airnya habis dala perjalanan, contohnya Sungai Kalada di NTT.
2. Sungai Edoraic
sungai yang bermuara ke danau, contohnya Sungai Lau renun yang bermuara di Danau
Toba.
3. Sungai Exoric
sungai yang bermuara ke laut, contohnya hampir kebanyaknya sungai bermuara ke laut.
sumber: Bambang Hermanto. 2012. Super Trik! Geografi SMA. Jogjakarta: Pustaka
Widyatama.
Sungai adalah bagian permukaan bumi yang letaknya lebih rendah dari tanah di sekitarnya
dan menjadi tempat mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa atau ke sungai yang
lain.
Sungai merupakan tempat mengalirnya air tawar.Air yang mengalir lewat sungai bisa
berasaldari air hujan, bisa berasal dari mata air atau bisa juga berasal dari es yang
mengalir (Gletser).Ke mana air itu mengalir? Air mengalir bisa ke laut, ke danau, ke
rawa, ke sungai lain dan bisa juga ke sawah-sawah.
Pola Aliran Sungai

Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan membentuk pola pengaliran tertentu di
antara saluran utama dengan cabang-cabangnya dan pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan
oleh faktor geologinya. Pola pengaliran sungai dapat diklasifikasikan atas dasar bentuk dan
teksturnya.Bentuk atau pola berkembang dalam merespon terhadap topografi dan struktur geologi bawah
permukaannya.Saluran-saluran sungai berkembang ketika air permukaan (surface runoff) meningkat dan
batuan dasarnya kurang resisten terhadap erosi.

Sistem fluviatil dapat menggambarkan perbedaan pola geometri dari jaringan pengaliran sungai.Jenis
pola pengaliran sungai antara alur sungai utama dengan cabang-cabangnya di satu wilayah dengan
wilayah lainnya sangat bervariasi.Adanya perbedaan pola pengaliran sungai di satu wilayah dengan
wilayah lainnya sangat ditentukan oleh perbedaan kemiringan topografi, struktur dan litologi batuan
dasarnya. Pola pengaliran yang umum dikenal adalah sebagai berikut :

1. Pola Aliran Dendritik

Pola aliran dendritik adalah pola aliran yang cabang-cabang sungainya menyerupai struktur pohon.Pada
umumnya pola aliran sungai dendritik dikontrol oleh litologi batuan yang homogen.Pola aliran dendritik
dapat memiliki tekstur/kerapatan sungai yang dikontrol oleh jenis batuannya. Sebagai contoh sungai yang
mengalir diatas batuan yang tidak/kurang resisten terhadap erosi akan membentuk tekstur sungai yang
halus (rapat) sedangkan pada batuan yang resisten (seperti granit) akan membentuk tekstur kasar
(renggang). Tekstur sungai didefinisikan sebagai panjang sungai per satuan luas. Mengapa demikian ?
Hal ini dapat dijelaskan bahwa resistensi batuan terhadap erosi sangat berpengaruh pada proses
pembentukan alur-alur sungai, batuan yang tidak resisten cenderung akan lebih mudah dierosi
membentuk alur-alur sungai. Jadi suatu sistem pengaliran sungai yang mengalir pada batuan yang tidak
resisten akan membentuk pola jaringan sungai yang rapat (tekstur halus), sedangkan sebaliknya pada
batuan yang resisten akan membentuk tekstur kasar.

2. Pola Aliran Radial

Pola aliran radial adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik
ketinggian tertentu, seperti puncak gunungapi atau bukir intrusi. Pola aliran radial juga dijumpai pada
bentuk-bentuk bentangalam kubah (domes) dan laccolith. Pada bentang alam ini pola aliran sungainya
kemungkinan akan merupakan kombinasi dari pola radial dan annular.

3. Pola Aliran Rectangular

Pola rectangular umumnya berkembang pada batuan yang resistensi terhadap erosinya mendekati
seragam, namun dikontrol oleh kekar yang mempunyai dua arah dengan sudut saling tegak lurus.Kekar
pada umumnya kurang resisten terhadap erosi sehingga memungkinkan air mengalir dan berkembang
melalui kekar-kekar membentuk suatu pola pengaliran dengan saluran salurannya lurus-lurus mengikuti
sistem kekar.Pola aliran rectangular dijumpai di daerah yang wilayahnya terpatahkan.Sungai-sungainya
mengikuti jalur yang kurang resisten dan terkonsentrasi di tempat tempat dimana singkapan batuannya
lunak.Cabang-cabang sungainya membentuk sudut tumpul dengan sungai utamanya.Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa pola aliran rectangular adalah pola aliran sungai yang dikendalikan oleh
struktur geologi, seperti struktur kekar (rekahan) dan sesar (patahan).Sungai rectangular dicirikan oleh
saluran-saluran air yang mengikuti pola dari struktur kekar dan patahan.

4. Pola Aliran Trellis

Geometri dari pola aliran trellis adalah pola aliran yang menyerupai bentuk pagar yang umum dijumpai di
perkebunan anggur. Pola aliran trellis dicirikan oleh sungai yang mengalir lurus di sepanjang lembah
dengan cabang-cabangnya berasal dari lereng yang curam dari kedua sisinya. Sungai utama dengan
cabang-cabangnya membentuk sudut tegak lurus sehingga menyerupai bentuk pagar. Pola aliran trellis
adalah pola aliran sungai yang berbentuk pagar (trellis) dan dikontrol oleh struktur geologi berupa
perlipatan sinklin dan antilin. Sungai trellis dicirikan oleh saluran-saluran air yang berpola sejajar,
mengalir searah kemiringan lereng dan tegak lurus dengan saluran utamanya. Saluran utama berarah
searah dengan sumbu lipatan.

5. Pola Aliran Sentripetal

Pola aliran sentripetal merupakan ola aliran yang berlawanan dengan pola radial, di mana aliran
sungainya mengalir ke satu tempat yang berupa cekungan (depresi). Pola aliran sentripetal merupakan
pola aliran yang umum dijumpai di bagian barat dan barat laut Amerika, mengingat sungai-sungai yang
ada mengalir ke suatu cekungan, di mana pada musim basah cekungan menjadi danau dan mengering
ketika musin kering.Dataran garam terbentuk ketika air danau mengering.

6. Pola Aliran Annular

Pola aliran annular adalah pola aliran sungai yang arah alirannya menyebar secara radial dari suatu titik
ketinggian tertentu dan ke arah hilir aliran kembali bersatu.Pola aliran annular biasanya dijumpai pada
morfologi kubah atau intrusi loccolith.

7. Pola Aliran Paralel (Pola Aliran Sejajar)

Sistem pengaliran paralel adalah suatu sistem aliran yang terbentuk oleh lereng yang curam/terjal.
Dikarenakan morfologi lereng yang terjal maka bentuk aliran-aliran sungainya akan berbentuk lurus-lurus
mengikuti arah lereng dengan cabang-cabang sungainya yang sangat sedikit. Pola aliran paralel
terbentuk pada morfologi lereng dengan kemiringan lereng yang seragam.Pola aliran paralel kadangkala
mengindikasikan adanya suatu patahan besar yang memotong daerah yang batuan dasarnya terlipat dan
kemiringan yang curam.Semua bentuk dari transisi dapat terjadi antara pola aliran trellis, dendritik, dan
paralel.


Copyright by Djauhari Noor
SUNGAI DAN PENGALIRANNYA
Sungai merupakan salah satu unsur penting dan kehidupan manusia, dan manejemen sungai
ini dilakukan oleh berbagai profesi.Ahli sipil misalnya mengelola sungai untuk keperluan
reservoir, pembangunan pelabuhan dan jembatan.Untuk keperluan tersebut diperlukan
pengetahuan tentang sungai, misalnya morfologi dan perkembangannya.
Morfologi sungai adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang geometri (bentuk dan
ukuran), jenis, sifat dan perilaku sungai dengan segala aspek perubahannya dalam matra ruang
dan waktu. Dengan demikian morfologi sungai ini akan menyangkut sifat dinamik sungai dan
lingkungannya yang saling terkait.
Ada dua proses penting dalam pengaliran sungai yaitu erosi dan pengendapan. Erosi
akan terjadi pada dinding atau dasar sungai dibawah kondisi aliran yang bersifat turbulen.
Pengendapan akan terjadi jika material yang dipindahkan jauh lebih besar untuk digerakkan
oleh kecepatan dan kondisi aliran.
Aliran laminar
Ketika air mengalir dengan lambat, partikel akan bergerak dalam arah paralel. Kecepatan
air meningkat dari bawah ke atas.
Aliran turbulen
Aliran di alam akan cukup cepat dan mengakibatkan terganggunya aliran laminer.
Kecapatan aliran akan berbeda pada atas, tengah, bawah, depan dan belakang. Aliran seperti
ini dinamakan aliran turbulen, sebagai akibat dari adanya perubahan friksi, yang
akanmengakibatkan perubahan gradien kecepatan. Kecepatan maksium pada aliran turbulen
umumnya terjadi pada kedalaman 1/3 dari permukaan air terhadap kedalaman sungai.
Secara horizontal, kecepatan aliran juga akan berbeda dan secara umum kecepatan
terbesar akan terjadi di bagian tengah sungai.
Kekuatan air membawa material ke dalam dan pada tebing sungai atau tanggul
tergantung pada gaya geser dan gaya tahan. Gaya geser dilambangkan dengan
0
merupakan
fungsi khusus dari berat spesific fluida (), rata-rata jari-jari hidraulik (R) dan slope (S) sungai.
Geometri sungai seperti digambarkan berikut (R dinamakan juga sebagai perimeter
basah) dan persamaan tractive force (gaya geser) adalah sebagai berikut :

0
= R S
Material batuan merupakan faktor yang berperan dalam proses pembentukan dan bentuk
sungai. Ukuran partikel dari material berpengaruh terhadap kemampuan air untuk
memindahkannya. Besarnya kecepatan aliran air untuk menggerakkan partikel lempung akan
lebih kecil dibandingkan dengan kecepatan aliran air untuk menggerakkan partikel pasir.
Kemampuan aliran air untuk memindahkan partikel akan tergantung pada rata-rata
kecepatan dibandingkan dengan kecepatan aliran dekat kontak antara air dengan dasar sungai.
Empat cara material terangkut adalah dalam bentuk larutan, suspensi, saltasi dan dalam
bentuk rolling dan sliding. Umumnya beban saltasi dan rolling serta sliding bergerak bersama
dinamakan sebagai bed load, sedangkan suspended load dibagi kedalam dua kategori yaitu
suspensi permanen dan temporer.
MORFOMETRI DAERAH ALIRAN SUNGAI
Morfometri DAS atau basin morfometri adalah bagian bentang alam atau lahan dimuka
bumi yang dibatasi oleh punggungan atau rangkaian perbukitan sehingga semua aliran
permukaan masuk ke sungai induk dan keluar melalui outlet tunggal.
Penentuan batas Daerah Aliran Sungai :
1. Mencari kontur ganda
2. Mencari ujung sungai dari orde terkecil
3. Melihat hubungan dari bukit-bukit
A. Plain
1. Bidang Daerah Aliran Sungai (space) = L
2

2. Linement (linier) = L
3. Linear/space =
B. Parameter
1. Luas Daerah Aliran Sungai = A
2. Panjang Daerah Aliran Sungai = L
3. Lebar Daerah Aliran Sungai = W = garis terpanjang yang tegak lurus terhadap L,
sedangkan lebar rata-rata =
4. Form factor (R
f
)
akan = 1 jika berbentuk lingkaran
R
f
1 bentuk memanjang dan semakin mendekati 1 artinya semakin
kompak
5. Koefisien kekompakkan (Cc)
P = perimeter sesungguhnya
P
c
= perimeter pengandaian
Seandainya DAS tersebut berbentuk lingkaran, dengan luas A
Jika A berbentuk lingkaran maka
6. Nisbah lingkar (R
c
)
7. Nisbah memanjang atau elongation ratio (R
e
)
L = panjang sesungguhnya
D
c
= diameter pengandaian
C. Satuan-satuan ukuran
1. Linear
Panjang di peta x penyebut skala dengan satuan yang sama
2. Luas
- planimeter :
- Grid cell
- Komparasi berat / luas kertas gambar
- Triangle space
Contoh
- Simpson rule

SISTEM DAN POLA PENGALIRAN
1. Sistem pengaliran
Sistem pengaliran sungai adalah aliran sungai baik utama maupun cabang-cabangnya yang
membentuk satu kesatuan sistem sungai mengalir melalui suatu lembah pengaliran dalam satu
cekungan dan terpisah dari cekungan lainnya oleh suatu batas pemisah air (J.R. Desaunettes).
2. Pola pengaliran
Menurut beberapa ahli morfologi, pola pengaliran mempunyai pengertian :
a. kumpulan jalur-jalur pengaliran hingga bagian terkecilnya yang mengalami
pelapukan dan tidak ditempati oleh sungai secara permanen (A. D. Howard, 1966)
b. Susunan garis-garis alamiah yang mempunyai pola tertentu pada suatu daerah
yang dikaitkan dengan kondisi geologi lokal dan sejarah geologinya (J. R. Dessaunettes,
1972).
c. Merupakan gabungan beberapa individu sungai yang saling berhubungan
membentuk suatu pola dalam kesatuan ruang (W. D. Thornburry, 1954).

Istilah yang lebih baik digunakan adalah tata pengaliran karena mencerminkan hubungan
yang lebih erat dari masing-masing individu sungai dibandingkan dengan garis-garis aliran yang
terbentuk pada pola dasar pengaliran yang umum.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pola aliran:
a. kemiringan lereng
b. perbedaan resistensi batuan
c. kontrol stuktur
d. pembentukan pegunungan
e. proses geologi kuarter
f. sejarah dan stadia geomorfik dari cekungan pola pengaliran

3. Klasifikasi pola aliran menurut Arthur Davis Howard, 1967
a. Pola Aliran Dasar
1. Dendritik
2. Paralel
3. Trellis
4. Rectanguler
5. Radial
6. Anular
7. Multibasinal
8. Contorted
b. Pola Aliran Ubahan
1. Ubahan dendritik
- subdendritik
- pinnate
- anastomatic
- distributary
2. Ubahan paralel
- subparalel
- colinier
3. Ubahan trellis
- subtrellis
- directional trellis
- recurved trellis
- fault trellis
- joint trellis
4. Ubahan rectanguler
- angulate
5. Ubahan radial
- centripetal
6. Penggabungan beberapa pola dasar
- complex
- compound
7. Perkembangan pola baru
- palimpsest