Anda di halaman 1dari 32

1

DEFINISI DAN TUJUAN


OUTLINE CAVITY ENTRANCE
Oleh : Sabrina Maharani (121610101061)
Outline Cavity Entrance adalah proyeksi ruang pulpa ke permukaan gigi di
bagian palatal atau lingual untuk gigi anterior atau oklusal untuk gigi posterior.
Pembuatan outline bertujuan untuk menfhindari terbuangnya jaringan gigi yang
berlebihan pada waktu preparasi cavity entrance.
Dalam perawatan endodontik, ada tiga hal yang mempengaruhi
kesuksesan dari perawatan yaitu proses pembersihan dan pembentukan, disinfeksi,
dan obturasi. Tetapi sebelumnya, terdapat satu tahapan yang tidak boleh
diacuhkan dan diremehkan. Tahapan ini adalah cavity entrance, yaitu pembukaan
jalan masuk menuju kamar pulpa yang membuat tahapan lain dapat dilakukan
(Castelucci, 2004).
Menurut Black, dalam tahapan cavity entrance terdapat empat prinsip yang
harus diketahui. Prinsip tersebut adalah outline form, convenience form,
pengambilan jaringan dentin yang terinfeksi dan restorasi yang rusak dan toilet of
cavity.
1. Outline Form
Outline form merupakan proyeksi dari ruang pulpa menuju ke permukaan
gigi baik di bagian lingual dan palatal (pada gigi anterior) dan bagian oklusal
(pada gigi posterior). Outline form harus dibuat dengan tepat baik bentuk dan
lokasinya agar orifice dan saluran akar mudah ditemukan, dan tidak membuang
terlalu banyak jaringan. Untuk mendapatkan bentuk yang benar, maka dalam
membuat outline form haruslah mengetahui anatomi ruang pulpa. Ada tiga faktor
tentang kamar pulpa saat membuat outline form yang harus diketahui untuk
mendapatkan cavity entrance yang baik, yaitu:
a. Ukuran kamar pulpa
Pada gigi permanen muda, kamar pulpa berukuran lebih besar dan tanduk
pulpanya lebih dekat terhadap tepi insisal. Hal ini menyebabkan outline
form yang dibuat lebih meluas agar atap dan tanduk pulpa juga terambil
2

seluruhnya. Selain itu, cavity entrance pada gigi ini juga harus cukup luas
karena tahapan preparasi saluran akarnya nanti juga akan membutuhkan
instrumen preparasi dan bahan pengisi yang lebih besar. Sedangkan
outline form gigi permanen dewasa baik bentuk dan ukurannya tidak
meluas karena ada kemungkinan ruang pulpanya sudah mengalami
penyempitan akibat reaksi terhadap adanya iritan (karies, penyakit pulpa)
atau proses degeneratif.
b. Bentuk kamar pulpa
Outline form harus mendekati atau sesuai dengan anatomi kamar pulpa
gigi yang akan dirawat saluran akarnya. Contohnya, pada gigi premolar
RA, anatomi kamar pulpanya lebih memanjang ke arah bukopalatal dan
lebih sempit ke arah mesiodistal. Hal ini membuat outline formnya
berbentuk oval yang memanjang ke bukolingual. Contoh lainnya adalah
gigi molar yang memiliki kamar pulpa berbentuk triangular karena posisi
orifice yang jika disatukan akan membentuk bentukan segitiga, maka
proyeksi ke permukaan oklusalnya juga harus berbentuk triangular.
c. Jumlah, posisi dan pembengkokan akar
Untuk dapat melakukan preparasi pada tiap saluran akar dengan efisien
dan tanpa gangguan, cavity entrance dapat sedikit diperluas tanpa
mengurangi terlalu banyak jaringan gigi yang sehat. Kadang cavity
entrance dapat dimodifikasi dan berbeda dari outline form awal jika
saluran akar yang seharusnya ada belum ditemukan. Hal ini dilakukan agar
preparasi dapat dilakukan dengan lebih mudah dan dengan akses yang
lurus (convenience form).
2. Convenience Form
Menurut Black prinsip ini didefinisikan sebagai modifikasi dari outline
form untuk mendapatkan akses yang tepat dan lurus yang memudahkan tahapan
preparasi dan pengisian saluran akar. Adanya modifikasi ini memberikan
keuntungan sebelum dilakukannya preparasi saluran akar, contohnya seperti:


3

a. Akses yang tidak terganggu ke orifice
Dalam melakukan cavity entrance, hal yang harus diperhatikan adalah
adanya jalan masuk yang lurus untuk instrumen preparasi. Tidak
boleh ada gangguan dari dinding dentin atau struktur pulpa yang
tertinggal. Untuk menghindari hal ini, dinding kavitas yang
mengganggu masuknya alat dapat dipreparasi, tetapi struktur mahkota
harus dipertahankan sebanyak mungkin untuk menjaga kekuatan gigi.
Kegagalan dalam hal ini dapat mempengaruhi kesuksesan perawatan
dan dapat memperlama durasi perawatan.
b. Kontrol sepenuhnya terhadap instrumen preparasi
Jaringan dentin dan pulpa yang tidak terpreparasi dan tertinggal
dapat menyebabkan instrumen preparasi seperti K-File bergerak
tanpa terkontrol. Gerakan yang tidak terkontrol ini dapat
menyebabkan terbentuknya ledge atau step di dalam saluran akar,
bahkan dapat menyebabkan patahnya instrumen. Jaringan di sekitar
orifice yang dapat mengganggu harus diambil sehingga gerakan
instrumen dikontrol hanya oleh dua faktor, yaitu jari operator pada
handle instrumen dan dinding saluran akar pada ujung instrumen.

3. Pengambilan jaringan dentin yang terinfeksi dan restorasi yang rusak
Pada tahapan cavity entrance juga harus dilakukan pengambilan jaringan
dentin yang rusak untuk menghilangkan sebanyak mungkin bakteri dalam kamar
pulpa secara mekanis. Jaringan pulpa vital yang sudah dianastesi dan yang
nekrotik juga harus diambil seluruhnya agar kavitas bersih dan memudahkan
pandangan terhadap orifice. Tahapan ini dapat dibantu dengan menggunakan
ekskavator.

4. Toilet of cavity
Setelah jaringan nekrotik terambil, dapat dilakukan pembersihan dengan
menggunakan larutan irigasi seperti sodium hipoklorit. Larutan ini juga memiliki
sifat antibakterial yang baik sehingga dapat membantu pembersihan sisa-sisa
4

bakteri dan jaringan yang tidak terambil secara mekanis. Yang harus diperhatikan
dalam melakukan pembersihan dengan larutan irigasi adalah tidak boleh ada
tekanan menuju saluran akar karena debris dapat terdorong ke saluran akar (Ingle,
2002).

5

OUTLINE CAVITY ENTRANCE
Oleh :
1. Mahardika Rahmawati (121610101024)
2. Astinia Widyastuti (121610101069)
3. Naufanisa Muthia (121610101052)
4. Cici Widya Anggraini (121610101048)
5. Weka Dayinta B (121610101062)
6. Chairiyah Kartika (121610101053)
7. Faizal Rizki (121610101015)

Sebelum membahas lebih jauh dari anatomi kavitas pulpa atau rongga
pulpa pada setiap gigi, akan dibahas anatomi kavitas pulpa atau rongga pulpa
secara umum. Kavitas pulpa atau rongga pulpa merupakan kavitas atau rongga
sentral di dalam gigi yang seluruhnya tertutup oleh dentin, kecuali foramen apikal.
Kavitas pulpa atau rongga pulpa, dapar dibagi menjadi dua bagian, yaitu : (1)
bagian korona atau mahkota, adalah kamar pulpa ; (2) bagian radikular, adalah
saluran akar (Grossman, 1995).
Bagian bagian lain dari kavitas pulpa, antara lain :
1. Kamar pulpa, merupakan rongga yang berada pada bagian tengah korona
gigi dan selalu tunggal (Itjiningsih, 1995).
2. Atap pulpa, terdiri dari dentin yang menutup kamar pulpa sebelah oklusal
atau insisal.
3. Tanduk pulpa, merupakan perpanjangan ujung-ujung dari atap pulpa yang
tepat dibawah cusp, tepi insisal, maupun lobus perkembangan.
4. Saluran akar, merupakan bagian kavitas pulpa yang terdiri dari orifice
hingga foramen apikal. Saluran akar terbagi menjadi 3 bagian, yaitu
sepertiga korona, sepertiga tengah, dan sepertia apikal.
5. Orifice, merupakan lubang pada dasar kamar pulpa yang berhubungan
dengan saluran akar.
6

6. Saluran akar tambahan atau saluran lateral adalah percabangan lateral
saluran akar utama yang pada umumnya terjadi pada sepertiga apikal atau
daerah furkasi akar.
7. Foramen apikal, merupakan lubang atau celah pada atau dekat apeks akar
dimana pembuluh darah dan saraf pulpa masuk atau meninggalkan kavitas
pulpa.
8. Foramina aksesori, merupakan lubang atau celah dari saluran akar
tambahan dan saluran akar lateral dan terletak juga pada permukaan akar.
(Grossman, 1995).

Gambar 1. Anatomi kavitas pulpa (C) Gambar bukal gigi molar pertama rahang
atas, (D) Gambar bukal gigi molar pertama rahang bawah

7

1. Outline Cavity Entrance Gigi Insisivus
Panjang rata-rata gigi insisivus sentral rahang atas adalah 21.8 mm ; gigi
insisivus lateral rahang atas adalah 23.1 mm ; gigi insisivus sentral rahang bawah
adalah 20.8 mm ; gigi insisivus lateral rahang bawah adalah 22.6 mm.
Kamar pulpa gigi insisivus terletak pada pusat mahkota, serta sama
jauhnya dari dinding-dinding dentin. Pada gigi insisivus, kamar pulpa mengikuti
kontur mahkota dan mempunyai tanduk pulpa pada tepi insisal, dan sesuai dengan
perkembangan mamelon pada gigi muda. Kamar pulpa pada gigi insisivus rahang
atas, ovoid ke arah mesiodistal. Sedangkan Kamar pulpa pada gigi insisivus
rahang bawah, ovoid ke arah labiolingual. Pada gigi insisivus, pembagian antara
saluran akar dan kamar pulpa tidak jelas.
Gigi insisivus memiliki satu saluran akar. Saluran akar pada gigi insisivus
rahang atas, luas ke arah labiopalatal. Sedangkan saluran akar pada gigi insisivus
rahang bawah, luas ke arah labiolingual. Pada potongan melintang saluran akar
gigi insisivus, berbentuk ovoid pada sepertiga cervical, ovoid sampai bulat pada
sepertiga tengah, dan bulat pada sepertiga apikal. Untuk saluran akar tambahan
atau saluran aksesoris, mungkin saja dapat terjadi, namun persentase nya hanya
1% kasus. Foramen apikal terletak pada pusat apeks anatomis (Grossman, 1995).

8


Gambar 2. Anatomi kavitas pulpa gigi insisivus

2. Outline Cavity Entrance Gigi Caninus
a. Caninus Rahang Atas

Gambar 3. Outline Cavity Entrance gigi Caninus
Panjang gigi caninus rahang atas rata-rata adalah 26 mm, dan merupakan
gigi manusia terpanjang. Kamar pulpa gigi caninus rahang atas merupakan kamar
pulpa yang terbesar dari semua gigi berakar tunggal. Ke arah labiopalatal kamar
9

pulpanya berbentuk triangular, dengan apeks ke arah cusp tunggal dan suatu dasar
yang luas pada sepertiga cervical mahkota. Ke arah mesiodistal sempit, terkadang
menyerupai nyala api. Dalam potongan melintang, kamar pulpa berbentuk ovoid,
dengan diameter labiopalatal yang lebih besar. Gigi caninus rahang atas hanya
memiliki satu tanduk pulpa, sesuai dengan jumlah cuspnya yang hanya satu cusp
(Grossman, 1995).
Bentuk ruang kamar pulpa dari caninus rahang atas biasanya ellips atau
oval. Dimana bentuk dari outline cavity entrancenya mengikuti bentuk kamar
pulpa yaitu oval/bulat pada permukaan palatal dan harus di sepertiga tengah gigi,
baik mesiodistal dan insiso cervical (Caicedo, 2008).
Gigi caninus rahang atas memiliki satu saluran akar, dimana saluran
akarnya lebih besar daripada gigi caninus rahang bawah. Lebih lebar dimensi
labiopalatal daripada dimensi mesiodistal, dan waktu mencapai sepertiga tengah,
berangsur-angsur meruncing menjadi suatu penyempitan apikal (Grossman,
1995).
b. Caninus Rahang Bawah
Panjang gigi caninus rahang bawah rata-rata adalah 25 mm. Kamar pulpa
gigi caninus rahang bawah menyerupai gigi caninus rahang atas, tetapi lebih kecil
pada semua dimensi. Kamar pulpa sempit ke arah mesiodistal. Bila dilihat dari
arah labiolingual, kamar pulpa meruncing pada sepertiga insisal mahkota, tetapi
lebar pada sepertiga cervical. Hanya terdapat satu tanduk pulpa pada gigi dewasa.
Pada potongan melintang, kamar pulpa berbentuk ovoid pada sepertiga cervical
(Grossman, 1995).
Meskipun gigi caninus biasanya mempunyai akar tunggal, terkadang juga
dijumpai gigi caninus rahang bawah dengan dua akar. Bila dijumpai satu saluran
akar, dilihat dari arah labiolingual akar menunjukkan suatu saluran yang luas pada
sepertiga tengah dan meruncing menjadi suatu penyempitan pada sepertiga apikal.
Pada potongan melintang bentuknya ovoid pada sepertiga tengah akar dan bulat
pada sepertiga apikal. (Grossman, 1995).
10

Gigi ini biasanya memiliki satu akar yang berisi sebuah saluran akar
tunggal (87%) (gb.4). Pada 10% kasus, ada dua saluran akar yang bergabung
pada apeks (gb.5), dan jarang terjadi (3%) mempunyai dua saluran akar pada akar
yang terpisah (gb.6). Terkadang, gigi ini memiliki dua akar. Panjang akarnya
bervariasi, tetapi pada saat preparasi saluran akar sangat sering digunakan
instrumen dengan panjang 30 mm. (Castellucci, 2004).

Gambar 4. satu akar tunggal Gambar 5. dua saluran akar
bergabung pada apeks


Outline cavity entrance berbentuk oval sama seperti caninus rahang atas
akan tetapi dengan variasi dimensi anatomik yang lebih kecil (Grossman, 1995).

Gambar 6. dua
saluran akar pada
akar yang terpisah
11

3. Outline Cavity Entrance Gigi Premolar
a. Premolar Satu Rahang Atas
Anatomi dari gigi premolar pertama maksila memiliki panjang rata-rata
21,5 mm. Gigi ini memiliki kamar pulpa yang sempit di bagian mesiodistal dan
lebar pada bagian bukal palatal sehingga kamar pulpa berbentuk ovoid.. Gigi ini
memiliki dua cusp , cusp bukal dan palatal. Pada kedua cusp terdapat tanduk
pulpa dimana bagian bukal lebih menonjol daripada bagian palatal.

Gambar 7. Premolar Satu Rahang Atas
Gigi ini mempunyai dua orifis saluran yang terletak di sepertiga
koronal dibawah servikal. Menurut penelitian, didapatkan 54,6 % memiliki dua
saluran akar. 21,9 % diantaranya kedua akarnya terpisah dan 32,7 % lainnya
kedua akarnya menyatu. 43% gigi memiliki satu akar dan 2,4% gigi memiliki
tiga akar. Saluran palatal ukurannya lebih besar jika dibanding saluran akar
bukal. Saluran ini terletak langsung dibawah cusp palatal yang orifisnya bisa
langsung ditembus dengan mengikuti dinding palatal. Karena kamar pulpa gigi
premolar pertama maksila berbentuk ovoid maka outline cavity entrance dari
gigi premolar pertama maksila berbentuk ovoid juga yaitu pada arah
bukolingual karena kamar pulpanya memanjang pada arah tersebut dimana
pada saat pengeburan untuk preparasi cavity entrance tidak boleh meluas
melebihi separuh kecondongan fasial cusp palatal (Grossman, 1995).
b. Premolar Dua Rahang Atas
Gigi premolar dua rahang atas memiliki panjang gigi rata-rata sebesar 21,6
mm. Kamar pulpanya hampir menyerupai kamar pulpa gigi premolar pertama,
yaitu berbentuk ovoid dengan arah bukopalatal. Kamar pulpanya sempit pada arah
mesiodistal, namun pada bagian bukopalatal lebih lebar daripada gigi premolar
12

pertama maksiler. Sehingga pada outline cavity entrancenyapun kurang lebih
menyerupai gigi premolar pertama rahang atas, yaitu berbentuk ovoid dengan arah
bukopalatal (Grossman, 1995).

Gambar 8. Outline Cavity Entrance Premolar Dua Rahang Atas
Gigi premolar kedua atas memiliki 2 tanduk pulpa, yaitu pada bagian
bukal dan palatal, serta memiliki dasar ruang pulpa yang lebih dalam bila
memiliki 2 saluran akar. Dari 90,3% pasien yang diteliti, ternyata memiliki gigi
premolar kedua rahang atas dengan 1 akar. 7,7% memiliki 2 akar yang sebagian
menyatu. 75% memiliki 1 saluran akar. Apabila memiliki 2 saluran akar,
keduanya dapat terpisah secara jelas, atau dapat bertemu sehingga akan keluar
pada foramen yang sama. Mayoritas akar gigi premolar kedua rahang atas adalah
berakar bengkok, seperti bengkok kearah distal, palatal, dsb. 59,5% saluran lateral
dapat dijumpai pada gigi premolar dua atas (Grossman, 1995).
Pada potongan melintang, saluran akar premolar kedua rahang atas pada
sepertiga servikal berbentuk ovoid. Sedangkan pada sepertiga tengah akan terlihat
oval apabila memiliki 1 saluran akar, dan terlihat bulat apabila memiliki 2 saluran
akar. Pada sepertiga apical akan terlihat berbentuk bulat dan kecil pada saluran
akar yang berjumlah satu atau dua (Grossman, 1995).
c. Premolar Pertama Rahang Bawah
Panjang rata-rata gigi premolar pertama rahang bawah adalah 21,9 mm.
Lebar mesio-distal kamar plpa sempit, sedangkan ke arah buko-lingual, kamar
pulpanya lebar. Tanduk pulpa bagian bukal menonjol meluas ke bawah cusp bukal
yang berkembang dengan baik, dan pada gigi muda terdapat tanduk pulpa lingual
kecil yang dapat hilang seiring pertambahan usia. Cusp bukal yang menonjol dan
13

cusp lingual yang lebih kecil memberikan mahkota premolar pertama kemiringan
30
o
. Kemiringan lingual mahkota premolar pertama ini tentunya akan berpengaruh
terhadap preparasi cavity entrance dimana untuk mengimbangi kemiringan ini
agar tidak terjadi perforasi, enamel ditembus pada 1/3 tengah lereng lingual cusp
fasial dan dipusatkan disebelah mesio-distal dan diarahkan sepanjang sumbu
panjang akar.
Akar gigi ini berbentuk konis dan pendek. Akar ini dapat terbagi pada 1/3
apikal dalam 2 atau 3 akar. Mayoritas akar gigi ini lurus (48%), namun ada juga
yang bengkon ke distal (35%), bukal (2%), lingual (7%) bahkan berbentuk S atau
Bayonet (7%). Apabila terdapat 1 saluran akar, maka akan berbentuk
konis/kerucut dan sederhana. Kearah mesio-distal, saluran akarnya sempit,
sedangkan pada arah buko-lingual, saluran akarnya luas dan meruncing ke arah
1/3 apikal. Pada potongan melintang, 1/3 cervical dan 1/3 tengah berbentuk ovoid,
sedangkan pada 1/3 apikal berbentuk bulat.

Gambar 9. Anatomi ruang pulpa gigi premolar rahang bawah
Anatomi internal kamar pulpa tentu menentukan dari bentuk dan ukuran
outline cavity entrance. Sesuai anatomi ruang pulpa gigi premolar pertama,
outline cavity entrance dari gigi tersebut adalah oval dari arah bukal-lingual.
14


Gambar 10. Outline Cavity Entrance Premolar Pertama Rahang Bawah

d. Premolar Kedua Rahang Bawah
Panjang rata-rata gigi ini adalah 22,5 mm, dengan kamar pulpa sama
dengan premolar pertama rahang bawah, kecuali tanduk pulpa yang lebih
menonjol di bawah cusp lingual. Dibandingkan gigi premolar pertama rahang
bawah, gigi premolar kedua rahang bawah memiliki ukuran keliling akar yang
lebih besar dan lebih lebar ke arah buko-lingual. Akar gigi ini biasanya tunggal,
namun ada juga yang 2 atau bahkan 3. Biasanya, satu saluran akar akan keluar
pada 1 foramen apikal. Namun pada beberapa akar, suatu saluran tunggal
mungkin bercabang menjadi 2 dan keluar pada 2 foramen. Pada umumnya, kedua
gigi premolar memiliki bentuk outline yang sama yaitu berbentuk oval dala arah
bukal lingual, namum terkadang dapat juga berbentk bulat. Namun gigi premolar
kedua rahang bawah memiliki outline ovoid yang lebih lebar pada arah mesio-
distal.
Pada pembukaan jalan masuk gigi ini, penetrasi enamel dimulai pada fossa
sentral dan lubang jalan masuk ovoid lebih lebar ke arah mesio-distal (Grossman
:1995).

Gambar 11. Outline Cavity Entrance Premolar Kedua Rahang Bawah



15

4. Outline Cavity Entrance Gigi Molar
a. Molar Pertama Rahang Atas
Molar pertama rahang atas memiliki panjang rata-rata 21 mm dengan
volume ruang pulpa rata-rata 68,2 mm
3
. Molar pertama maksila merupakan gigi
dengan kamar pulpa terbesar untuk gigi akar ganda dengan empat tanduk pulpa
pada mesiobukal, mesiopalatal, distobukal, dan distopalatal. Keempat tanduk
pulpa tersebut membentuk rhomboid (jajar genjang) atau trapezium yang menyatu
menuju dasar pulpa dimana dinding palatal hampir hilang membentuk triangular.
Orifice terletak di tiga sudut dasar pulpa. Orifice pada bagian palatal
merupakan yang terbesar dan mudah dicari karena berbentuk corong di dasar
kamar pulpa. Saluran akar distobukal terletak lebih palatal dari saluran akar
mesiobukal. Lebih dari 60% molar pertama rahang atas memiliki dua saluran akar
di akar mesiobukal. Saluran akar mesiobukal minor terletak di garis antara orifice
saluran akar palatal dan orifice saluran akar mesiobukal. Dua saluran akar di
mesiobukal biasanya berimpit bahkan kadang-kadang menyatu. Saluran akar
mesiobukal merupakan yang tersempit, memipih di bagian servikal yang
mengarah ke distobukal namun umumnya membulat di apical. Saluran akar
distobuckal sempit, lonjong, kadang-kadang memipih pada arah mesiodistal tetapi
pada umumnya bulat dalam penampang. Saluran akar palatal memiliki diameter
terbesar yang berbentuk bulat segitiga penampang koronal dan menjadi bulat pada
apical dan dapat membengkok ke arah bukal pada sepertiga apical. Saluran akar
lateral ditemukan 40% pada ketiga saluran akar di daerah apical dan trifurkasi
(Garg, 2007).
16


Gambar 12. Outline Cavity Entrance Molar Pertama Rahang Atas
Hampir selalu terdapat saluran akar tambahan di bagian mesiobukal pada
molar pertama rahang atas yang terletak lebih ke palatal dan mesial dari saluran
akar mesiobukal yang pertama. Karena adanya saluran akar mesiobukal yang
kedua, maka ouline cavity entrace gigi molar pertama rahang atas memperoleh
bentuk romboid dengan sudut yang sesuai dengan orifice saluran akar mesiobukal
pertama, mesiobukal kedua, distobukal, dan palatal. (gambar 12) (Garg, 2014).
b. Molar Kedua Rahang Atas
Panjang rata-rata gigi molar kedua rahang atas adalah 21,7 cm dengan
kamar pulpa sama dengan kamar pulpa gigi molar pertama rahang atas, kecuali ke
arah mesiodistal lebih sempit karena memang dimensinya lebih sempit
(Grossman, 1995)
Selain itu ketiga akar dari molar kedua rahang atas lebih berdekatan
bahkan ada yang fusi menjadi satu akar. Saluran akar mesiobukal tambahan
kurang cenderung hadir dalam molar kedua rahang atas. Tiga saluran akar akan
membentuk segitiga bulat dengan alas sejajar pada sisi bukal (Garg, 2014).
c. Molar Pertama Rahang Bawah
Gigi molar pertama mandibular mempunyai panjang rata-rata gigi
sepanjang 21,9 mm. Atap kamar pulpa gigi molar pertama mandibular berbentuk
empat persegi panjang dengan empat tanduk pulpa mesiobukal, mesiolingual,
17

distobukal, dan distolingual. Atap kamar pulpa terletak pada sepertiga servikal
mahkota tepat diatas serviks gigi dan dengan dasar terletak pada sepertiga servikal
akar (gambar 13) (Grossman, 1995).
Tiga orifis yang terlihat jelas terletak pada dasar pulpa mesiobukal,
mesiolingual, dan distal (gambar 3). Orifis mesiobukal terletak di bawah cusp
mesiobukal, dan biasanya sukar ditemukan dan dimasuki bila tidak cukup struktur
gigi yang diambil. Orifis mesiolingual terletak pada penurunan yang dibentuk
oleh dinding mesial dan lingual. Orifis distal berbentuk oval dengan diameter
terlebar arah bukolingual (Grossman, 1995).

Gambar 13. Outline form gigi molar rahang bawah dari pandangan bukal, mesio-
distal dan oklusal
Gigi molar pertama mandibular terdapat dua akar mesial dan distal. Kedua
akar lebar dan datar kearah bukolingual dengan penurunan ditengah-tengah akar
arah bukolingual. Meskipun gigi molar pertama mandibular memiliki 2 akar,
biasanya terdapat 3 saluran akar, 2 saluran akar mesial dan 1 saluran akar distal.
Pada potongan melintang, ketiga saluran ovoid pada sepertiga servikal dan tengah
serta bulat pada sepertiga apical. Dua saluran yang terdapat pada akar distal
biasanya bulat pada potongan melintang dari sepertiga servikal sampai apical.
Namun, terdapat beberapa variasi jumlah saluran akar jumlahnya dapat mencapai
empat saluran 2 pada sisi mesial dan 2 pada sisi distal. Umumnya pada molar
pertama mandibular bentuk outlinenya berupa triangular dengan alas sejajar
mesial atau rhomboid (gambar 14) (Grossman, 1995) .
18


Gambar 14. Molar bawah dengan 3 saluran akar (kiri), 4 saluran akar
d. Molar Kedua Rahang Bawah
Gigi molar kedua mandibular mempunyai panjang rata-rata gigi sepanjang
22,4 mm. Kamar pulpa gigi molar kedua mandibular lebih kecil daripada kamar
pulpa gigi molar pertama mandibular, dan orifis saluran akar lebih kecil dan lebih
berdekatan. (Grossman, 1995)
Mayoritas akar gigi molar kedua mandibular mempunyai dua akar.
Biasanya dijumpai tiga saluran akar pada gigi molar kedua mandibular. Variasi
yang paling sering terjadi adalah adanya dua saluran akar. Selain itu, variasi yang
jumlah saluran akar menjadikan bentukan khusus dari saluran akar yang disebut c-
shaped (gambar 15) (Grossman, 1995).

Gambar 15. Molar bawah dengan bentukan c-shaped
Umumnya pada molar kedua mandibular bentuk outlinenya berupa
triangular dengan alas sejajar mesial atau rhomboid (Grossman, 1995).
e. Molar Ketiga Rahang Bawah
Gigi molar ketiga mandibular mempunyai panjang rata-rata gigi sepanjang
18,5 mm. Kamar pulpa molar ketiga mandibular secara anatomis menyerupai
kamar pulpa gigi molar pertama dan kedua mandibular. Gigi molar ketiga
mandibular biasanya mempunyai dua akar dan satu saluran atau tiga akar dan tiga
saluran. Saluran akar biasanya besar dan pendek (Grossman, 1995).
19

PROSEDUR PREPARASI CAVITY ENTRANCE
Oleh :
1. Alifah Nur Jannah (121610101046)
2. Ahmad Hanif Nugroho (121610101022)
3. Fadhilla Kurniasari (121610101041)
4. Asti Widaryati (121610101059)
5. Meidi Kurnia A (121610101068)

Preparasi adalah fase paling penting dari aspek teknik perawatan saluran
akar. Preparasi merupakan kunci untuk membuka pintu bagi keberhasilan tahap
berikutnya yakni, pembersihan, pembentukan dan pengisian. Dalam teknik
preparasi perlu adanya pengertian terhadap tiga tujuan penting dari preparasi itu
sendiri yakni; (1). Membuka dan membebaskan atap kamar pulpa agar
visibilitasnya baik, yakni dapat dimasukkannya baik bahan maupun instrument
perawatan saluran akar. (2). Mempertahankan stuktur gigi, yakni tidak terlalu
banyak membuang jaringan gigi yang sehat. (3). Kemudian akses harus lurus
(Walton, 2008).
Prosedur yang ideal adalah melewatkan instrument ke kamar pulpa tanpa
menyentuh dindingnya dan dapat lurus ke saluran akar tanpa ada hambatan, tetapi
perlu diketahui bahwa kelurusan instrument juga tergantung dari masing-masing
gigi sehingga pada gigi-gigi anterior, instrument akan terlihat lurus dari oklusal
sampai saluran akar, hanya saja kelurusan instrument akan mulai terganggu pada
daerah apical constriction yang terletak pada sepertiga apical kemudian akses
lurus pada gigi-gigi posterior juga akan berbeda dengan gigi anterior, jadi yang
dimaksud akses lurus pada gigi posterior adalah masuk dan lurusnya instrument
hanya sebatas dasar kamar pulpa kearah koronal karena saluran akar gigi posterior
berbeda dengan saluran gigi anterior yang memiliki akar yang lurus, jika pada
daerah dasar kamar pulpa kearah koronal akses instrument tidak lurus dapat
20

dimungkinkan pembuangan atap pulpa yang kurang bersih sehingga mengurangi
akses masuknya instrument.
Berikut merupakan teknik Preparasi Cavity Enterence dari masing-masing
gigi :
1. Insisivus Rahang Atas dan Rahan Bawah
Pada preparasi cavity enterence gigi insisiv sentral maupun lateral pada
rahang atas dan rahang bawah pada prinsipnya adalah sama. Perbedaan nya hanya
pada outline dari gigi insisiv rahang bawah yang lebih oval dari pada insisiv
rahang atas.
a. Tahapan yang pertama dilakukan adalah dengan memperhatikan outline
cavity entrance yang telah dibuat.
b. Kemudian digunakan round bur dengan arah tegak lurus sumbu gigi pada
satu titik di cavity entrance sampai dengan menembus enamel

c. Dilanjutkan dengan arah sejajar sumbu gigi dilakuakan pengeburan
menggunakan round bur sampai terjadi perforasi (menembus ruang pulpa)
ditandai dengan seperti menembus ruang kosong.

d. Orifice dicari dengan menggunakan jarum miller.
21

e. Setelah orifece ditemukan, dapat dilajutkan dengan membersihkan tanduk
dan atap pulpa menggunakan round bur yang diarahkan ke arah incisal
sampai dengan mendapatkan akses lurus untuk alat pada
f. perawatan saluran akar. Fissure bur juga dapat digunakan untuk
menghaluskan dan memperluas kavitas.


2. Caninus Rahang Atas dan Rahang Bawah
Tahapan yang dilakukan pada preparasi cavity entrance pada gigi caninus
rahang atas dan bawah adalah sama dengan preparasi cavity entrance pada gigi
insisiv, yaitu dengan menggunakan round bur tegak lurus dengan sumbu gigi
pada outline cavity entrance (diatas singulum) sampai menembus permukaan
enamel. Lalu dilanjutkan dengan arah sejajar sumbu gigi sampai dengan perforasi,
orifice dicari menggunakan jarum miller. Kemudian atap pulpa dan tanduk pulpa
dibersihkan menggunakan round bur ke arah incisal sehingga alat preparasi dapat
mengakses saluran akar dengan bebas

Gambar 1. Menunjukkan pembebasan jalan masuk gigi kaninus
22

3. Premolar Rahang Atas
a. Premolar Pertama Rahang Atas
Teknik preparasi untuk gigi premolar satu atas adalah dengan
menggunakan round bur. Pertama mata matabur diarahkan sejajar sumbu panjang
gigi. Matabur di arahkan pada pusat permukaan oklusal antara cups bukal dan
cups palatal. Gigi dibur sampai menembus enaml, dentin dan menembus ruang
pulpa. Biasanya ketika matabur menembus kamar pulpa akan dirasakan oleh
operator sensasi seperti menembus ruang kosong.

Setelah matabur menembus kamar pulpa, round bur digunakan untuk
menghilangkan tanduk pulpa. Matabur harus ditempatkan disamping dinding
kamar dan memotong ke arah oklusal dengan cara matabur ditarik ke arah oklusal.
Kemudian setelah semua tanduk pulpa hilang, gunakan fissure bur (silinder
ataupun tapered) untuk menghilangkan atap pulpa atau sedikit tanduk pulpa yang
masih tersisa dan menghaluskan dinding kavitas.
23


Setelah kavitas terbentuk sempurna, gunakan jarum miller untuk mencari
orifice dari gigi premolar satu atas ini. Orifice gigi premolar satu atas ini terdapat
dua, yaitu orifice bukal terdapat di bawah cusp bukal dan orifice palatal yang
berada dibawah cusp palatal. Preparasi kavitas yang sempurna adalah ketika
orifice ditemukan, tanduk pulpa hilang dan terbentuk akses yang lurus sehingga
alat preparasi saluran akar dapat masuk dengan leluasa ke saluran akar
(Grossman, 1995).


b. Premolar Dua Rahang Atas
Preparasi cavity entrance premolar kedua rahang atas sama dengan gigi
premolar pertama rahang atas, yaitu:
1. Memperhatikan outline cavity entrancenya yang berbentuk ovoid
dengan arah bukopalatal lebih lebar daripada mesiodistalnya.
24

2. Dilakukan pengeburan pada bagian permukaan groove di bagian
tengah, antara cusp bukal dan cusp palatal dengan menggunakan round
bur besar. Pengeburan dilakukan sesuai outline hingga menembus
kamar pulpa yang ditandai sensasi seperti menembus ruang kosong.
Round bur besar diarahkan sejajar dengan sumbu gigi.
3. Setelah menembus kamar pulpa, orifice dicari dengan menggunakan
jarum miller untuk memastikan bahwa saluran akar tidak buntu. Pada
premolar dua rahang atas mayoritas memiliki 1 saluran akar.
4. Setelah orifice ditemukan, dilakukan pembersihan tanduk pulpa dengan
menggunakan round bur yang diletakkan pada dinding tanduk pulpa,
kemudian dilakukan gerakan menarik kearah oklusal. Tanduk pulpa
bukal dan palatal, serta atap pulpa harus dibersihkan untuk mencegah
adanya diskolorisasi dan reinfeksi pada gigi tersebut.
5. Setelah tanduk pulpa dan atap pulpa dibersihkan, rapikan dinding
kavitas dengan menggunakan bur fissure. Pada akhirnya akan
didapatkan suatu akses yang lurus sehingga alat dapat masuk dengan
leluasa kedalam saluran akar (Grossman, 1995).

4. Premolar Rahang Bawah
Berikut merupakan teknik Preparasi Cavity Enterence dari masing-masing
gigi :
a. Jalan masuk dilakukan dari permukaan oklusal pada gigi geligi posterior.
Penetrasi awal dibuat di central groove dari premolar mandibula. Gigi
dibur sejajar dengan sumbu gigi. Dengan menggunakan bur fisur pada
contra-angle handpiece, ideal untuk melakukan perforasi hingga
menembus dentin yang berwarna kuning keemasan.
25


b. Dengan panjang pada umumnya, bur bulat digunakan untuk membuka
ruang pulpa secara vertical. Bur akan terasa drop ketika menembus
ruang pulpa. Jika ruang pulpa terkalsifikasi sangat baik, penetrasi awal
dilanjutkan hingga contra-angle handpiece menyentuh permukaan oklusal.
Pada kedalaman 9 mm adalah posisi umum dari orifis yang berada pada
level servikal. Pembukaan di permukaan oklusal melebar dengan arah
bukolingual yaitu dua kali lebar bur sehingga akan mudah melakukan
ekplorasi.


c. Endodontik eksplorer digunakan untuk mencari lokasi saluran akar utama
atau orifis. Endodontik eksplorer adalah sonde lurus dengan ujung panjang
dan tajam. Selain menggunakan sonde, dapat pula digunakan jarum miller.
26


d. Pembuangan atap pulpa dilakukan dengan menggunakan bur bulat dengan
gerakan inside to outside.

e. Untuk menghaluskan dinding kavitas yang telah terbentuk digunakan bur
fisur.

27

f. Preparasi akhir berbentuk ovoid yang memanjang arah bukolingual. Hal
tersebut merupakan hasil proyeksi dari ruang pulpa gigi premolar
mandibula.


5. Molar Rahang Atas
a. Pertama-tama, anatomi kamar pulpa sangat menentukan, baik bentuk
maupun ukuran dari preparasi yang akan dilakukan, oleh karena itu
penting adanya menentukan bentuk dan ukuran kamar pulpa (mengukur
perluasan kamar pulpa di sebelah mesial, distal dan koronal) dengan
bantuan radiografi. kemudian pengukuran tersebut di terapkan pada gigi
sehingga dapat diperkirakan ukuran, bentuk, kedalaman dan lokasi kavitas
yang harus di preparasi.








28

b. Menentukan titik awal penetrasi bur

Setelah didapatkan bentukan outline cavity entrance dari gigi molar RA,
langkah selanjutnya adalah menentukan titik awal untuk mengebur enamel
dengan memperhatikan garis batas mesial dan garis batas distal gigi molar.
Batas distal merupakan garis yang menghubungkan cusp mesial,
sedangkan batas distal adalah ridge yang terbentuk oleh persatuan antara
triangular ridge bukal dan triangular ridge palatal. Titik awal penetrasi bur
adalah pada fossa central antara garis batas mesial-distal
c. Kemudian pembukaan kavitas dilakukan dengan menggunakan round bur
kecil menembus email dari outline yang telah dibuat. Pengeburan
diteruskan sampai menembus dentin menuju kamar pulpa; dapat dirasakan
suatu penurunan bur ke dalam kamar pulpa.


Gambar 2. Titik awal penetrasi bur
29


d. Jika telah menembus kamar pulpa maka dilakukan dengan pencarian
orifice pada masing-masing akar dari gigi molar tersebut.
e. Jika masing-masing orifice telah ditemukan maka selanjutnya dengan
menggunakan bur fissure silindris untuk menghilangkan atap kamar pulpa
yang tersisa.


f. Kemudian dinding-dinding kavitas juga harus dihaluskan dengan bur
fissure silindris agar divergen ke arah permukaan oklusal,karena
divergensi ini menciptakan suatu tempat yang baik bagi tumpatan
sementara dengan mencegah pemindahannya oleh kekuatan oklusal. Ini
penting karena dinding-dinding kavitas harus bersatu dengan dinding-
dinding kamar pulpa (Grossman, 1995).


30

6. Molar Rahang Bawah
a. Gigi Molar Pertama Mandibular
Preparasi cavity entrance pada gigi molar pertama mandibula mengikuti
ciri-ciri dari anatomi ruang pulpanya. Email dan dentin ditembus dengan
menggunakan round bur pada fosa sentral dengan sudut pengeburan ke arah distal
yang dimana kamar pulpa distal merupakan kamar pulpa yang terbesar. Lubang
cavity entrance pada gigi ini biasanya berbentuk trapezoidal dengan sudut-
sudutnya berbentuk bulat atau persegi panjang apabila terdapat saluran distal
kedua. Preparasi cavity entrance keluas ke arah cusp mesiobukal untuk
menemukan saluran akar dari mesiobukal, ke arah lingul agak melebihi alur
sentral dan ke arah distal agak melebihi dari alur bukalnya (Grossman, 1995).
Teknik preparasi cavity entrance pada gigi molar pertama pada umumnya
hampir sama dengan teknik preparasi cavity entrance pada gigi lainnya, yaitu:
1. Menghilangkan karies dan tumpatan terlebih dahulu apabila didapatkan
pada gigi tersebut.
2. Melakukan pengeboran pada bagian oklusal pada fossa sentral diantara
bagian mesial dan distalnya. Pengeburan dilakukan dengan sudut
pengeburan ke arah distal dan meluas ke arah cusp mesiobukal untuk
menemukan saluran akar mesiobukal (gambar 3, C).
3. Apabila kamar pulpa telah terbuka, dapat mencari orifice dengan
menggunakan jarum miller. Orifice dari distobukal terletak di pertengahan
antara mesiobukal dan orifice bagian palatal.
4. Melakukan pembersihan tanduk pulpa dengan menggunakan round bur
kemudian kavitas dibentuk dengan menggunakan fissure bur.
5. Hasil dari preparasi cavity entrance berupa akses yang lurus untuk
memungkinkan alat dari preparasi saluran akar dapat masuk tanpa
hambatan dan kemudian dilakukan pengecekan dengan menggunakan
sonde lurus (Garg, 2008).
31


Gambar 3: langkah-langkah teknik preparasi cavity entrance gigi molar
pertama mandibula.
b. Gigi Molar Kedua Mandibula
Akses cavity entrance pada gigi molar kedua mandibula hampir sama
dengan gigi molar pertama mandibula dengan beberapa variasi yaitu:
1. Dinding dari ruang pulpanya lebih kecil dari gigi molar pertama
mandibula.
2. Dapat ditemukannya 1, 2 atau lebih saluran akarnya.
3. Orifice dari mesiobukal dan mesiolingual saling berdekatan.
4. Ketika ditemukannya 3 saluran akar, bentuk dari preparasi cavity
entrancenya hampir sama dengan preparasi cavity entrance pada gigi
molar pertama mandibula, tetapi bentuknya lebih triangular dan sedikit
berbentuk rhomboid.
32

5. Ketika ditemukannya 2 orificenya, bentuk dari preparasi cavity
entrancenya adalah segi empat, dengan bagian mesio distalnya lebih
lebar daripada bagian bukal lingualnya.
6. Karena inklinasi dari bukoaksialnya, kadang-kadang perlu mengurangi
sebagian besar dari cusp mesiobukal untuk membersihkan dan
membentuk saluran mesiobukal (Garg, 2008).

c. Gigi Molar Ketiga Mandibula
Pada preprasi cavity entrance gigi molar ketiga mandibula dibuat seperti
gigi molar pertama dan kedua mandibula dengan variasi yang ditentukan oleh
struktur anatominya (Grossman, 1995).