Anda di halaman 1dari 10

Penggunaan Polimer Mud dalam pemboran

Lumpur pemboran menutrut definisi API adalah fluida sirkulasi yang digunakan dalam
pemboran dan memiliki peranan yang penting dalam keberhasilan proses pemboran itu
sendiri
Lumpur pemboran sendiri terbagi menjadi:
- Fresh water mud
- Oil base mud
- Aerated drilling fluid
1. Fresh water mud sendiri merupakan lumpur dengan air tawar (kadar garam 10000
ppm= 1% berat garam) sebagai fase kontinyu 65% berat bobot dan clay sebagai
pembentuk mud itu sendiri
Fresh water mud dibagi menjadi
- Spud mud: digunakan untuk membor formasi bagian atas conductor casing,
fungsi utama mengangkat cutting dan membuka lubang dipermukaan. Volume
yang diperlukan biasanya sedikit dan dapat dibuat dari air dan bentonite (yield
100 bbl/ton)
- Phosapate mud: mengandung phospate untuk mengontrol visdositas dan gel
strength, penambahan zat ini akan berakibat pada terdispersinya fraksi-fraksi
clay colloid padat sehingga densitas lumpur besar tapi viscositas dan gel
strengthnya rendah, lumpur jenis ini kurang stabil pada kedalaman tinggi (diatas
10000) atau temperatur 160 – 180 0F karena terjadinya flokulasi
- Organic colloid mud: terdiri dari penambahan pregelatined starch atau carboxyl
methyl cellulose, karena tidak terlalu sensitive pada flokulasi maka lumpur jenis
ini baik untuk mengurangi filtration loss pada fresh water mud
- Natural mud: dibentuk dari pecahan cutting dalam fase air, sifatnya bergantung
pada jenis formasi yang dibor, biasanya dipakai pada pemboran surface casing,
beratnya sekitar 9.1 - 10.2 ppg dan viscositasnya 35 – 45 detik
- Bentonite treated mud: mencangkup sebagian besar dari type lumpur air tawar.
Bentonite adalah material yang paling umum digunakan untuk membuat koloid
inorganic mud yang berfungsi untuk mengurangi filtration loss dan mengurangi
tebal mud cake
- Red mud: warna dari lumpur yang dihasilkan oleh treatment dengan caustic soda
dan quebranco (merah tua) istilah ini akan tetap digunakan walupun nama-nama
koloid yang dipakai saat ini mungkin menghasilkan wana abu-abu kehitaman
umumnya digunakan untuk lignin-lignin tertentu dan humic thinner selain untuk
tannin diatas, satu jenis lumpur lain adalah alkaline tannate treatment dengan
penambahan polypospate untuk lumpur dengan ph dibawah 10
- Calcium treated mud: lumpur ini mengandung calcium yang didapatkan dari
penambahan slake lime, semen, plester paris, akan tetapi dapat pula karena
pemboran formasi semen, anhydrite dan gypsum
- Polimer treated mud: mengontrol reaksi kimia pada lapisan shale serta
memperbaiki penetration rate
2. Salt water mud: lumpur ini digunakan untuk member garam massive (saltdome) atau
salt stringer (lapisan formasi garam)dan kadang-kadang bila ada aliran garam yang
terbor. Filtration loss dan mud cake pada lumpur ini sangat besar bila tidak ditambah
organic colloid, ph lumpur dibawah 8, karena itu perlu preservative untuk menahan
fermentasi starch jika ph ph naik, fermentasi tertahan oleh basa suspensi dapat
diperbaiki dengan mengganti bentonite dengan attapulgite lumpur jenis ini dibagi
menjadi:
- Undersaturated saturated mud: lumpur ini memiliki salinitas tak jenuh yang
ditandai oleh
Filtration loss besar kecuali bila ditreated dengan organic colloid
Gel strength tinggi sampai medium kecuali ditreated dengan thinner
Suspense yang tinggi kecuali bila ditreated degan attapulgite atau organic
colloid
Memiliki foam yang tinggi kecuali bila ditambahkan soluable surface agent
- Saturated salt water: fase cair lumpur ini dijenuhkan dengan menambahkan NaCl
lumpur ini dapat digunakan pada pemboran formasi garam dimana rongga-rongga
yang terbentuk karena larutnya garam dapat di cegah dengan kejenuhan yang
berasal dari lupur, filtration loss pada saturated organic colloid mud menyebabkan
tidak perlunya memasang casing diatas salt beds
- Sodium silicate mud: lumpur ini mengandung sekitar 65% larutan Natrium silicate
dan 35% larutan garam jenuh dikembangkan untuk pemboran pada heaving shale
tetapi penggunaannya terdesak oleh lime treated gypsum lignosulfonate, shale
control, surfactant yang lebih baik , murah dan mudah dikontrol sifat-sifatnya
3. Oil base mud adalah lumpur yang dibuat dengan minyak sebagai fase continue dan
attapulgite sebagai pengganti bentonite memiliki kadar air dibawah 3 - 5% volume
untuk mengontrol viscositas, menaikan gel strength, efek kontaminasi, menaikan gel
strength perlu ditanbahkan zat kimia manfaat oil base mud adalah pada completion
dan workover sumur kegunaan lain adalah untuk melepaskan drill pipe yang terjepit
dan mempermudah pemasangan casing dan liner
4. Gaseous drilling fluid adalah lumpur yang dibuat dengan udara atau gas sebagai
fase continue dan air sebagai fase dispersant dibawah 5%, lumpur ini digunakan
pada pemboran daerah yang memiliki kondisi air sangat minim serta pada pemboran
daerah dengan jenis batuan yang sangat keras dan bertemperatur tinggi
Tabel 2.1. Mud application with Advantage/Disadvantage

Mud type Application Advantage/Disadvantage


Air/Gas fluid
Dry air/ Gas Drilling hard formations Increase penetration rate
Mist Drilling lost circulation zone Minimum formation damage
Foam Continuous gas / oil
Aerated mud detection
Water base fluids
Native gel Low cost spud mud Most versatile system
Bentonite Non weighting system Product readily available
Bentonite/ chemical Base for more sophisticated Basic system
system
Lignite/ Filtration control Easily maintained
Lignosulfonate Tolerant to contaminant Reduce penetration rate
(dispersed) Applicable at all mud weights
Inhibitive (salts) Drilling water sensitive shales Control chemical reaction of
Polymers shales
Improved penetration rate
Oil synthetic base fluids
Diesel oil Drilling water sensitive shales Completely inhabited system
Synthetic oil Drilling water soluble Improved penetration rate
formations Formation stability
Reduce stuck pipe potential Torque and drag reduction
Corrosive environment Environment concern
High bottom hole temperature High cost
Logging/cementing concern
Kegunaan Mud dalam pemboran

Adapun kegunaan mud pada saat operasi pemboran sumur minyak dan gas antara lain
- Mengangkat cutting kepermukaan yang bergantung pada:
Kecepatan fluida di anulus
Kapasitas untuk menahan fluida yang merupakan fungsi dari densitas, aliran
(laminar maupun turbulen), viscositas
- Melepaskan cutting dipermukaan: karena sifatnya yang abrasive maka pasir harus
dibuang karena akan merusak pompa, fitting dan bit
Tabel 2.2. Drilling fluid contaminant

Drilling fluid contaminant


Active solids – clays
Drill solids
Inactive solids – silt, sand, limestone, chert, etc
Sodium chloride NaCl
Potassium chloride KCl
Evaporate salts
Magnesium chloride MgCl2
Anhydrite CaSO4
Water flow Mixed salt at various concentration
Carbon dioxide CO2
Acid gases
Hydrogen sulfide H2S
Heavy or light oils
Hydrocarbon Lignite
coal
Temperature Degradation of mud product
Cement Result of cementing operations
Drilling solids classifications
Coarse Greater than 2000 microns
Intermediate Between 250 and 2000 microns
Medium Between 74 and 250 microns
Fine Between 44 and 74 microns
Ultra fine Between 2 and 44 microns
Colloidal Less than 2 microns

- Mendinginkan dan melumasi drill string: panas yang ditimbilkan karena gesekan bit
dan drill string yang kontak dengan formasi, konduksi formasi umumnya kecil
sehingga sukar dihilangkan, tetapi umumnya dengan aliran lumpur telah cukup untuk
mendinginkan dan melumasi
- Membentuk mud cake pada dinding lubang: lumpur akan membentuk mud cake
pada formasi permeable, pembentukan mud cake ini menahan fluida yang masuk
kedalam formasi karena filtrate lumpur memenuhi daerah yang permeable,
pembentukan mud cake ini dapat diperbaiki dengan:
Penambahan bentonite agar sistim koloid lumpur terjaga
Memperbaiki distribusi zat padat dalam lumpur dengan menambahkan starch,
carboxyl methyl cellulose, dan cypan untuk mengurangi filtration loss
- Menjaga tekanan formasi: tekanan formasi terkadang melebihi ataupun kurang dari
tekanan umum sebesar 0.465 psi/ft, untuk formasi dengan tekanan subnormal maka
lumpur harus diperkecil, dan untuk formasi dengan tekanan abnormal penambahan
weighting agent untuk menjaga berat lumpur
- Menjaga cutting tidak jatuh kedasar lubang bor saat pemboran dihentikan
sementara, yang berhubungan erat dengan fungsi gel strength
- Menahan sebagian berat drill pipe dan casing: selama proses pemboran
berlangsung berat drill pie serta casing dapat menimbulkan efek penekana terhadap
formasi, lumpur akan mengurangi effek tersebut dengan memberikan gaya angkat
keatas (buoyancy)
- Mengurangi effect negative pada formasi: saat pemboran dilangsungkan lumpur
akan menjaga lubang bor terhadap tekanan yang diberikan oleh formasi
- Mendapatkan informasi (mud log, Sample log): dalam pemboran kadang-kadang
lumpur dianalisa apakah mengandung hidrokarbon atau tidak, pemeriksaan cutting
sampel pun dapat menentukan formasi apa yang sedang ditembus
- Media logging: filtrate yang masuk kedalam zona permeable memungkinkan zona
tersebut dapat dideteksi apakah memiliki prospek hidrokarbon

Sifat-sifat Fisik Lumpur Pemboran

- Berat Jenis
Berat jenis lumpur pemboran sangat besar pengaruhnya dalam mengontrol tekanan
formasi, sebab dengan naiknya berat jenis lumpur maka tekanan lumpur akan naik
pula.
W
D= ........................................................................................ (Persamaan II.1)
V
Dimana : D = Berat jenis lumpur
W = Berat lumpur
V = Volume lumpur
Tekanan hidrostatik lumpur didefinisikan sebagai per satuan luas yang secara
matematis dinyatakan sebagai berikut :
Ph = 0.052 x h x D ...................................................................... (Persamaan II.2)
Dimana : P = Tekanan hidrostatik lumpur
D = Berat lumpur
A = Luas penampang
h = Tinggi kolom lumpur
D = Berat jenis
- Viskositas
Salah satu sifat lumpur yang menentukan daya tahan terhadap pergerakan, dimana
tahanan ini terjadi disebabkan oleh pergesekan antar partikel-partikel dari lubang
bor. Viskositas menyatakan kekentalan dari lumpur bor, dimana viskositas
memegang peranan dalam pengangkatan serbuk bor ke permukaan. Makin kental
lumpur, maka pengangkatan cutting kurang sempurna dan akan mengakibatkan
cutting tertinggal didalam lubang bor dan dapat mengakibatkan rangkaian pipa
pemboran akan terjepit. Akan tetapi bila lumpur pemboran mempunyai harga
viskositas yang terlalu tinggi maka dapat mengakibatkan permasalahan pemboran
seperti loss circulation.
- Gel Strength
Diwaktu lumpur bersirkulasi besaran yang berperan adalah viskositas, sedangkan
diwaktu sirkulasi berhenti yang memegang peranan adalah gel strength. Lumpur
akan menjadi gel saat tidak ada sirkulasi. Hal ini disebabkan oleh gaya tarik menarik
antara partikel-partikel padatan lumpur.
Saat lumpur berhenti bersirkulasi, lumpur harus mempunyai gel strength yang dapat
menahan cutting dan material pemberat lumpur agar jangan turun, sehingga
padatan tidak menumpuk dan mengendap di annulus, dan mencegah pipa terjepit.
Akan tetapi jika gel strength terlalu tinggi akan menyebabkan terlalu tinggi akan
menyebabkan terlalu berat kerja lumpur untuk memulai sirkulasi kembali. Walaupun
pompa mempunyai daya yang kuat, pompa tidak boleh mempompakan lumpur
dengan daya yang besar karena formasi bisa pecah.
- Yield Point
Bagian dari resistensi untuk mengalir oleh gaya tarik-menarik antar partikel. Jadi
Yield Point merupakan angka yang menunjukkan shearing stress yang diperlukan
untuk mensirkulasikan lumpur kembali. Dengan kata lain lumpur tidak akan dapat
sirkulasi sebelum diberikan shearing stress sebesar yield point.
Yield Point sangat penting diketahui untuk perhitungan hidrolika lumpur, dimana
yield point mempengaruhi hilangnya tekanan diwaktu lumpur sirkulasi.
- Filtrasi dan Mud Cake
Ketika terjadi kontak antara lumpur dan batuan porous, batuan tersebut akan
bertindak sebagai saringan yang memungkinkan fluida dan partikel-partikel kcil
melewatinya. Fluida yang hilang ke dalam batuan disebut filtrate, sedangkan lapisan
partikel-partikel besar tertahan di permukaan batuan disebut mud cake.
- pH Lumpur
pH dipakai untuk menentukan tingkat kebasaan dan keasaman dari lumpur bor. pH
dari lumpur yang dipakai berkisar 8.5 – 12. Jadi lumpur bor yang digunakan adalah
dalam suasana basa. Lumpur sebaiknya tidak terlalu basa karena akan menaikkan
viskositas dan gel strength dari lumpur
Tabel 2.3 Mud property problem

Mud
Trend change Possible causes
property

Drill solid increase, heavy spot from barite sag,


Increase
over treatment during weight-up
Mud weight
Formation fluid influx, Light spot from barite sag,
Decrease
Excessive water addition
Reactive solid drilled, Drill solid increase, Low
Funnel Increase water content, Calcium contamination from
viscosity cement, Anhydrite formation drilled
Decrease Formation water influx, Excessive water content
Unconsolidated sand drilled, Drill solid increase,
Increase
Plastic Low water content
viscosity Formation water influx, Excessive water addition,
Decrease
Solid water decrease
Reactive shale drilled, Anhydrite formation drilled,
Low water content, Calcium contamination from
Increase
cement
Yield point Formation water influx, Excessive water addition,
Decrease Decrease in low gravity solid, Addition of
chemical thinner
Reactive shale drilled, Low water content,
Increase Calcium contamination from cement, or Anhydrite
Gel strength formation drilled
Formation water influx, Excessive water addition
Decrease
Addition of chemical thinner
API/HPHT Increase Low gravity solid increase, Flocculation from
cement, Chloride, Calcium contamination, Low
gel content
Decrease Mud treatment taking effect
Addition of pH control additive, Calcium
Increase
contamination
pH
Addition of mud product, Anhydrite formation
Decrease
drilled
Salt formation drilled, Pressure transition shale
Increase
Chloride drilled, formation water influx
Decrease Water addition
Salt or Calcium formation drilled, Formation water
Total Increase
influx
Hardness
Decrease Addition of water, chemical addition
Cation Increase Reactive shale drilled, Addition of bentonite
exchange
capacity Decrease Water addition, solid removal equipment
(CEC)

Additive
Additive merupakan bahan yang ditambahkan sehingga mud memiliki kemampuan
untuk mengatasi masalah yang terjadi pada saat pemboran berlangsung, adapun aditif
yang dipakai dalam pemboran meliputi
- Loss circulation material: bahan yang ditambahkan pada untuk menanggulangi loss
pada pemboran contoh seperti tertera pada Tabel dibawah ini
Tabel 2.4 Loss circulation material
Material Type Description
50% - 3/16 + 10 Mesh
Nutshell Granular
50% - 10+ 100 Mesh
50% - 3/16 + 10 Mesh
Plastic Granular
50% - 10+ 100 Mesh
50% - 3/16 + 10 Mesh
Limestone Granular
50% - 10+ 100 Mesh
50% - 3/16 + 10 Mesh
Sulphur Granular
50% - 10+ 100 Mesh
50% - 3/16 + 16 Mesh
Nutshell Granular
50% - 30+ 100 Mesh
50% - 3/16 + 10 Mesh
Expanded Percite Granular
50% - 10+ 100 Mesh
Cellophane Laminated 3/4" Flakes
Sawdust Fibrous 1/4" Particles
Prairie hay Fibrous 1/2" Particles
Bark Fibrous 3/8” Particles
Cottonseed Hulls Granular Fine
Prairie hay Fibrous 3/8” Particles
Cellophane Laminated 1/2" Flakes
Shredded wood Fibrous 1/4" Fibers

- Thinner: Material yang ditambahkan untuk mengurangi densitas lumpur


Contoh:
Lignosulfonate
Lignin
Alkylene oxide polymers
Quebranco (Dispersant)
Phosphate
Sodium tanate
Surfactant
- Viscosifier: Material yang ditambahkan kedalam lumpur untuk mengontrol viscositas
Contoh:
Clay
Acrylic polymer
Hydroxyl methyl cellulose
Polymers viscosifier
Polysaccharide
- Weighting agent: Material yang ditambahkan kedalam lumpur untuk menambah
berat lumpur
Contoh :
Galena
Barite
Calcium carbonate
- Special additive:Material khusus untuk lumpur
Contoh:
Viscosity reducer
Chemical breaker
Fluid loss reducer
pH adjustment
Density control material
Seperti yang kita ketahui bahwa shale adalah: iPartikel yang sangat kecil dari 1/256 mm
berupa silikat dari aluminium berhidrat kadang-kadang dengan magnesium dan atau
besi yang menggantikan semua atau sebagian dari alumunium dan penyusun utama
lempung dan penyusun utama bahan lempung dengan struktur berupa kristal datar atau
berserat dengan struktur berlapis tapi dapat berwujud amorf atau metalloid, partikel ini
dapat memegang air. Mineral shale antara lain:
- Kaolinit Al2Si4O10(OH)8
- Haloysit Al4Si4(OH)8O10.4H2O
- Ilit KAl4(Si,Al)8O18.2H2O
- Montmorilomit (Na,Ca)0.33(AlSi)4O10(OH)2.4H2O
- Vermikulit (Mg,Fe,Al)3(Al,Si)4O10(OH)2.4H2O
Saat pemboran berlangsung maka material ini akan terdispersi kedalam mud yang
memiliki kadar air cukup tinggi dibandingkan dengan zona yang sedang dibor,
pertukaran ion dari mineral clay seperti illite, mica, smectite, chlorite, mixed-layer clays,
dan zeolites, dapat mengakibatkan ketidakstabilan pada lubang bor dan berakibat
terjadinya swelling, washout, hole pack off, hal ini terjadi karena terjadinya pertukaran
ion negative dari bentonite terhadap ion positive dari mineral shale
ii
Penambahan material polymer KCl akan mengontrol reaksi kimia dari shales tersebut
dengan cara membuat kestabilan pertukaran ion dalam lumpur itu sendiri (buffer effect)
sehingga memperkecil terjadinya masalah dalam pemboran tersebut, akan tetapi lapisan
illite, chlorite, smectite, dand lapisan clay yang bercampur dapat menyebabkan
pertukaran ion kembali bila tidak terkontrol akan kembali mendorong terjadinya
mekanisme pertukaran ion dan terjadinya kembali swelling karena berkurangnya
formation strange
Untuk mengatasi hal ini, pemilihan type drilling-fluid didasarkan pada efek yang terjadi
serta pada formation strength. Efek dari bahan kimia maupun fisik dari drilling-fluid pada
kestabilan formation harus didasarkan pada sifat mekanik batuan

i
Adopted from Concise dictionary of chemistry
ii
Adopted From Halliburton Petroleum Well Construction