Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH ILMU RESEP LANJUT

PENYAKIT PEDIATRIK

aa

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2014

PENDAHULUAN

Pediatric berasal dari bahasa yunani, yaitu Pedos yang berarti anak dan iatrica yang
berarti pengobatan. Arti dari bahasa Indonesia adalah ilmu pengobatan anak dan

pengertian ini lebih tepat dari pada ilmu penyakit anak yang ternyata masih sering
dipakai. Pediatric telah berkembang pesat sekali terutama dalam 20 tahun terakhir ini.
Diluar negeri, seperti pula yang dianjurkan oleh WHO timbul kecenderungan
mengubah nama pediatric menjadi Child health. Di iIndonesia sejak 1963 telah diubah
menjadi ilmu kesehatan anak, yaitu karena pediatric sekarang tidak hanya mengobati
anak sakit, tetapi juga mencakup hal hal yang lebih luas. Umumnya pembagian ilmu
kesehatan anak ialah :
1 Pediatrik klinis
2 Pediatrik social
3 Pediatrik pencegahan
Sebenarnya tidak ada batas yang tajam diantara ketiga bagian tersebut. Pediatric social
yang baik tidak akan berakibat ditemukannya penderita mall nutrisi energi protein
yang difteri baik dibangsal maupun dipoliklinik. Sebaiknya diklinik diadakan
penyelidikan dan penelitian mengenai beberapa hal yang hasilnya dapat digunakan
dimasyarakat luas, misalnya mengenai kadar protein.
Namun untuk memahami pediatric social dan pencegahan, seseorang perlu lebih
dahulu mengetahui pediatric klinis, mengenal dan memagami penyakit-penyakit
sehingga dapat timbul hasrat untuk mencegah dan melenyapkan penyakit-penyakit
tersebut. Pediatrik klinis dapat dipejari dibangsal dan sekarang ini sekarang telah
berkembang luas sehingga perlu dibagi menjadi beberapa sub bagian agar anak dapat
dipelajari dan diobati lebih mendalam.
Pediatric pencegahan sebenarnya tercakup dalam ilmu kesehatan masyarakat.
Pencegahan yang bersifat luas tidak akan berhasil bila dan alam sekitar anak itu tidak
diikut sertakan. Namun dalam buku ini yang diartiak pediatric pencegahan adalah
terbatas, yang secara internasional telah disetujui yang dinamakan demikian
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal lebih dari 38oC) akibat suatu proses ekstra kranial. Kejang merupakan
gangguan syaraf yang sering dijumpai pada anak.Insiden kejang demam 2,2-5% pada
anak di bawah usia 5 tahun. 1-3 Anak laki-laki lebih sering dari pada perempuan
dengan perbandingan 1,21,6:1.Saing B (1999), menemukan 62,2%, kemungkinan
kejang demam berulang pada 90anak yang mengalami kejang demam sebelum usia 12

tahun, dan 45% pada 100 anak yang mengalami kejang setelah usia 12 tahun.Kejang
demam kompleks dan khususnya kejang demam fokal merupakan prediksi untuk
terjadinya epilepsi. Sebagian besar peneliti melaporkan angka kejadian epilepsi
kemudian hari sekitar 2 5 %.
Diagnosis
Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam adalah
bangkitan kejang pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan
5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi
intrakranial atau penyebab lain. Penggolongan kejang demam menurut kriteria
Nationall Collaborative Perinatal Project adalah kejang demam sederhana dan
kejang demam kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam
yang lama kejangnya kurang dari 15 menit, umum dan tidak berulang pada satu
episode demam. Kejang demam kompleks adalah kejang demam yang lebih
lama dari 15 menit baik bersifat fokal atau multipel. Kejang demam berulang
adalah kejang demam yang timbul pada lebih dari satu episode demam.
Penggolongan tidak lagi menurut kejang demam sederhana dan epilepsi
yang diprovokasi demam tetapi dibagi menjadi pasien yang memerlukan dan
tidak memerlukan pengobatan rumat. Umumnya kejang demam pada anak
berlangsung pada permulaan demam akut, berupa serangan kejang klonik
umum atau tonik klonik, singkat dan tidak ada tanda-tanda neurologi post iktal.
Pemeriksaan EEG pada kejang demam dapat memperlihatkan
gelombang lambat di daerah belakang yang bilateral, sering asimetris, kadangkadang unilateral. Pemeriksaan EEG dilakukan pada kejang demam kompleks
atau anak yang mempunyai risiko untuk terjadinya epilepsi. Pemeriksaan
pungsi lumbal diindikasikan pada saat pertama sekali timbul kejang demam
untuk menyingkirkan adanya proses infeksi intra kranial, perdarahan
subaraknoid atau gangguan demielinasi, dan dianjurkan pada anak usia kurang
dari 2 tahun yang menderita kejang demam.
Tata Laksana
Tujuan pengobatan kejang demam pada anak adalah untuk,
Mencegah kejang demam berulang
Mencegah status epilepsi

Mencegah epilepsi dan / atau mental retardasi


Normalisasi kehidupan anak dan keluarga.
Pengobatan Fase Akut
Anak yang sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjaga
agar jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan
untuk mencegah aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi
dapat juga berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian
oksigen harus dilakukan teratur, kalau perlu dilakukan intubasi. Keadaan dan
kebutuhan cairan, kalori dan elektrolit harus diperhatikan.
Suhu tubuh dapat diturunkan dengan kompres air hangat (diseka) dan
pemberian antipiretik (asetaminofen oral 10 mg/kg BB, 4 kali sehari atau
ibuprofen oral 20 mg/kg BB,4 kali sehari).
Saat ini diazepam merupakan obat pilihan utama untuk kejang demam
fase akut, karena diazepam mempunyai masa kerja yang singkat. Diazepam
dapat diberikan secara intravena atau rektal, jika diberikan intramuskular
absorbsinya lambat. Dosis diazepam pada anak adalah 0,3 mg/kg BB, diberikan
secara intravena pada kejang demam fase akut, tetapi pemberian tersebut sering
gagal pada anak yang lebih kecil.
Jika jalur intravena belum terpasang, diazepam dapat diberikan per
rektal dengan dosis 5 mg bila berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg pada
berat badan lebih dari 10 kg. Pemberian diazepam secara rektal aman dan
efektif serta dapat pula diberikan oleh orang tua di rumah. Bila diazepam tidak
tersedia, dapat diberikan luminal suntikan intramuskular dengan dosis awal 30
mg untuk neonatus, 50 mg untuk usia 1 bulan 1 tahun, dan 75 mg untuk usia
lebih dari 1 tahun.2 Midazolam intranasal (0,2 mg/kg BB) telah diteliti aman
dan efektif untuk mengantisipasi kejang demam akut pada anak. Kecepatan
absorbsi midazolam ke aliran darah vena dan efeknya pada sistem syaraf pusat
cukup baik. Namun efek terapinya masih kurang bila dibandingkan dengan
diazepam intravena.

Mencari dan Mengobati Penyebab

Kejang dengan suhu badan yang tinggi dapat terjadi karena faktor lain,
seperti meningitis atau ensefalitis. Oleh sebab itu pemeriksaan cairan
serebrospinal diindikasikan pada anak pasien kejang demam berusia kurang
dari 2 tahun, karena gejala rangsang selaput otak lebih sulit ditemukan pada
kelompok umur tersebut. Pada saat melakukan pungsi lumbal harus
diperhatikan pula kontra indikasinya.
a. Pemeriksaan laboratorium lain dilakukan atas indikasi untuk mencari
penyebab, seperti pemeriksaan darah rutin, kadar gula darah dan elektrolit.
b. Pemeriksaan CT-Scan dilakukan pada anak dengan kejang yang tidak
diprovokasi oleh demam dan pertama kali terjadi, terutama jika kejang atau
pemeriksaan post iktal menunjukkan abnormalitas fokal.
Pengobatan Profilaksis Terhadap Kejang
i. Demam Berulang
Pencegahan

kejang

demam

berulang

perlu

dilakukan,

karena

menakutkan keluarga dan bila berlangsung terus dapat menyebabkan kerusakan


otak yang menetap. Terdapat 2 cara profilaksis, yaitu,
a. Profilaksis intermittent pada waktu demam
b. Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari.
Profilaksis Intermittent pada Waktu
Demam
Pengobatan profilaksis intermittent dengan anti konvulsan segera
diberikan pada waktu pasien demam (suhu rektal lebih dari 38C).
Pilihan obat harus dapat cepat masuk dan bekerja ke otak. Antipiretik
saja

dan

fenobarbital

tidak

mencegah

timbulnya

kejang

berulang.Rosman dkk, meneliti bahwa diazepam oral efektif untuk


mencegah kejang demam berulang dan bila diberikan intermittent
hasilnya lebih baik karena penyerapannya lebih cepat.Diazepam
diberikan melalui oral atau rektal. Dosis per rektal tiap 8 jam adalah
5 mg untuk pasien dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg
untuk pasien dengan berat badan lebih dari 10 kg. Dosis oral
diberikan 0,5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 3 dosis, diberikan bila
pasien menunjukkan suhu 38,5oC atau lebih. Efek samping
diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotoni.

Martinez dkk, dikutip dari Soetomenggolo dkk 3 menggunakan


klonazepam sebagai obat anti konvulsan intermittent (0,03 mg/kg
BB per dosis tiap 8 jam) selama suhu diatas 38oC dan dilanjutkan
jika masih demam. Ternyata kejang demam berulang terjadi hanya
pada 2,5% dari 100 anak yang diteliti. Efek samping klonazepam
yaitu mengantuk, mudah tersinggung, gangguan tingkah laku,
depresi, dan salivasi berlebihan.
Tachibana dkk, dikutip dari Soetomenggolo dkk meneliti khasiat
kloralhidrat supositoria untuk mencegah kejang demam berulang.
Dosis yang diberikan adalah 250 mg untuk berat badan kurang dari
15 kg, dan 500 mg untuk berat badan lebih dari 15 kg, diberikan bila
suhu diatas 38oC. Hasil yang didapat adalah terjadinya kejang
demam berulang pada 6,9% pasien yang menggunakan supositoria
kloralhidrat

dibanding

dengan

32%

pasien

yang

tidak

menggunakannya. Kloralhidrat dikontraindikasikan pada pasien


dengan kerusakan ginjal, hepar, penyakit jantung, dan gastritis.
Profilaksis Terus Menerus dengan Antikonvulsan Tiap Hari
Indikasi pemberian profilaksis terus menerus pada saat ini adalah:
Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan atau
gangguan perkembangan neurologis.
Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada
orang tua atau saudara kandung.
Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan
neurologis sementara atau menetap.
Kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau
terjadi kejang multipel dalam satu episode demam.
Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1 2 tahun
setelah kejang terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1 2
bulan. Pemberian profilaksis terus menerus hanya berguna untuk mencegah
berulangnya kejang demam berat, tetapi tidak dapat mencegah timbulnya
epilepsi di kemudian hari.
Pemberian fenobarbital 4 5 mg/kg BB perhari dengan kadar sebesar 16
mg/mL dalam darah menunjukkan hasil yang bermakna untuk mencegah
berulangnya kejang demam. Efek samping fenobarbital ialah iritabel,

hiperaktif, pemarah dan agresif ditemukan pada 3050 % kasus. Efek samping
fenobarbital dapat dikurangi dengan menurunkan dosis. Obat lain yang dapat
digunakan adalah asam valproat yang memiliki khasiat sama dibandingkan
dengan fenobarbital.
Ngwane meneliti kejadian kejang berulang sebesar 5,5 % pada
kelompok yang diobati dengan asam valproat dan 33 % pada kelompok tanpa
pengobatan dengan asam valproat.22 Dosis asam valproat adalah 15 40
mg/kg BB perhari. Efek samping yang ditemukan adalah hepatotoksik, tremor
dan alopesia. Fenitoin dan karbamazepin tidak memiliki efek profilaksis terus
menerus, Millichap merekomendasikan beberapa hal dalam upaya mencegah
dan menghadapi kejang demam.
Orang tua atau pengasuh anak harus diberi cukup informasi mengenai
penanganan demam dan kejang.
Profilaksis intermittent dilakukan dengan memberikan diazepam dosis 0,5
mg/kg BB perhari, per oral pada saat anak menderita demam. Sebagai alternatif
dapat diberikan profilaksis terus menerus dengan fenobarbital.
Memberikan diazepam per rektal bila terjadi kejang.
Pemberian fenobarbital profilaksis dilakukan atas indikasi, pemberian
sebaiknya dibatasi sampai 6 12 bulan kejang tidak berulang lagi dan kadar
fenoborbital dalam darah dipantau tiap 6 minggu 3 bulan, juga dipantau
keadaan tingkah laku dan psikologis anak.

PEMBAHASAN
a. Amoksan
Antibiotik adalah obat atau zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama
fungi, yang dapat menghambat/membasmi mikroba lain (jasad renik/bakteri),
khususnya mikroba yang merugikan manusia yaitu mikroba penyebab infeksi
pada manusia (Munaf S, 1994).

Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau


nonbakteri lainnya, dan setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam
melawan berbagai jenis bakteri. Keberhasilan penemuan penisilin oleh
Alexander Flemming pada tahun 1928, telah membuka lembaran baru
dimulainya penemuan bermacam-macam antibiotik yang baru dan lebih baru
lagi. Hal inilah yang menimbulkan kepercayaan dan harapan yang besar
terhadap antibiotik untuk selalu berhasil dalam membunuh kuman dan
menyembuhkan penyakit infeksi (Munaf S, 1994).
Penggunaan antibiotik tentu diharapkan mempunyai dampak positif,
akan tetapi penggunaan antibiotik yang tidak rasional akan menimbulkan
dampak negatif. Dampak negatif dari penggunaan antibiotik yang tidak rasional
antara lain muncul dan berkembangnya bakteri yang resisten terhadap
antibiotik, munculnya penyakit akibat superinfeksi bakteri resisten, terjadinya
toksisitas/efek samping obat, sehingga perawatan penderita menjadi lebih lama,
biaya pengobatan menjadi lebih mahal, dan akhirnya menurunnya kualitas
pelayanan kesehatan (MW Davies, 1998).
Amoksan berisi amoksisilin (250mg/500mg) yang merupakan turunan
golongan penisilin dan spektrum bakterinya luas. Obat ini diabsorpsi lebih baik
daripada ampisilin bila diperikan secara peroral dan kadar dalam plasma lebih
tinggi. Absorpsinya tidak terganggu dengan adanya makanan pada lambung
dapat digunakan untuk profilaksis endokartin.
Kontra indikasi

; hipersensitif terhadap ampisilin dan turunannya

Efek samping

; mual, muntah, diare, ruam (hentikan penggunaan), jarang

terjadi kolitis karena antibiotik.


Dosis

; Dewasa dan anak dengan BB 20kg sehari 20-40 mg/kg

BB dalam dosis dibagi tiap 8 jam anak dengan BB [20 kg sehari 20-40
mg/kgBB dalam dosis dibagi tiap 8 jam.
Indikasi

Infeksi saluran pernafasan akut dan kronik: Pneumonia,Faringitis


(tidak untuk faringitis gonorhea),Bronkitis,Langiritis

Infeksi saluran cerna : Disentri barrier

Infeksi saluran kemih : Uretritis,Sistitis,Pielonofritis,Gonorhe


tidak terkomplikasi

Infeksi lain : Septikimia,Endokarditis

Pembahasan dalam resep ;


Dalam resep amoksisilin diberikan pada pasien dengan dosis
428mg/hari. Dimana dosis untuk amoksisilin 20mg-40mg/kgBB (17kg x 20mg40mg/kgBB = 340mg-680mg/hari dalam 3 dosis pemakaian). Secara dosis
masih dalam rentang pemakain. Penggunaan antibiotik dinilai kurang efektif
karena pasien menderita demam kejang (epilepsi). Penggunaan antibiotik harus
dhabiskan jadi seharusnya dipuyer secara terpisah untuk menghindari resistensi
dan penggunaan bersamaan obat lain yang tidak harus dihabiskan (hanya
dgunakan saat kambuh saja).
b. Luminal
Phenobarbital (Fenobarbital) / Luminal

Sediaan:
Tablet 30 mg, 50 mg, 100 mg
Ampul 50 mg/ml
Cara Kerja Obat:
Fenobarbital adalah antikonvulsan turunan barbiturat yang efektif dalam
mengatasi epilepsi pada dosis subhipnotis. Mekanisme kerja menghambat
kejang kemungkinan melibatkan potensiasi penghambatan sinaps melalui suatu
kerja pada reseptor GABA, rekaman intrasel neuron korteks atau spinalis
kordata mencit menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan respons
terhadap GABA yang diberikan secara iontoforetik. Efek ini telah teramati
pada konsentrasi fenobarbital yang sesuai secara terapeutik. Analisis saluran
tunggal pada out patch bagian luar yang diisolasi dari neuron spinalis kordata
mencit menunjukkan bahwa fenobarbital meningkatkan arus yang diperantarai
reseptor GABA dengan meningkatkan durasi ledakan arus yang diperantarai
reseptor GABA tanpa merubah frekuensi ledakan. Pada kadar yang melebihi

konsentrasi terapeutik, fenobarbital juga membatasi perangsangan berulang


terus menerus; ini mendasari beberapa efek kejang fenobarbital pada
konsentrasi yang lebih tinggi yang tercapai selama terapi status epileptikus.
Indikasi:
Kejang umum tonik-klonik; kejang parsial; kejang pada neonatus;
kejang demam; status epileptikus
Pengelolaan insomnia jangka pendek
Meredakan kecemasan dan ketegangan
Meredakan gejala epilepsi
Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap barbiturat atau komponen sediaan, gangguan hati yang
jelas, dispnea, obstruksi saluran nafas, porfiria, hamil.
Dosis:
Kejang umum tonik-klonik, kejang parsial, per oral, DEWASA 60-180
mg saat malam; ANAK sampai 8 mg/kg sehari
Kejang demam, per oral, ANAK sampai 8 mg/kg sehari
Kejang neonatal, injeksi intravena (larutkan 1:10 dengan air untuk
injeksi), neonatus 5-10 mg/kg tiap 20-30 menit sampai konsentrasi
plasma 40 mg/liter
Status epileptikus, injeksi intravena (larutkan 1: 10 dengan air untuk
injeksi), DEWASA 10 mg/kg dengan kecepatan tidak lebih dari 100
mg/menit (sampai dosis maksimal 1 g); ANAK 5-10 mg/kg dengan
kecepatan tidak lebih dari 30 mg/menit
Peringatan dan Perhatian:
Usia lanjut, lemah-tidak berdaya, anak (dapat menyebabkan perubahan
perilaku)
gangguan fungsi ginjal atau fungsi hati, depresi napas (hindari jika berat)
hindari penghentian mendadak
Dapat menggangu kemamapuan melakukan tugas terampil, contoh
mengoperasikan mesin, menyetir
Efek Samping :
Mengantuk, kelelahan, depresi mental, ataksia dan alergi kulit, paradoxical
excitement restlessness, bingung pada orang dewasa dan hiperkinesia pada
anak; anemia megaloblastik(dapat diterapi dengan asam folat)
Pembahasan dalam resep ;

Biasanya digunakan untuk kejang umum tonic-klonik. Lebih efektif digunakan


pada bayi-anak. Dosis yang digunakan 8mg/kgBB (17kg x 8mg/kgBB =
136mg/hari dalam dosis terbagi) dalam resep dosisnya 25,7mg/hari sehingga
harus dikonfirmasikan pada dokter.

c. Histapan (Mebhidrolin napadisilat)


Indikasi
; gejala alergi seperti hayfever, urtikaria, rinitis alergi,
gigitan serangga
Peringatan

; hindari mengemudi dan menjalankan mesin, lesi lokal

dikorteks serebrum, sensivitas silang dengan obat sejenis, hamil


Interaksi
; alkohol, depresan SSP, antikolenergik, penghambat MAO
Kontraindikasi
; adenoma prostat yang terkait dengan retensi urin,
glaukoma sudut sempit, serangan asma akut, bayi prematur
Efek samping
; sedasi, gangguan saluran cerna, efek antimuskarinik,
hipotensi, kelemahan otot, tinitus, euforia, nyeri kepala, stimulasi SSP, reaksi
alergi, kelainan darah, parestesi, pusing.
Dosis
; dewasa dosis tunggal 100-300mg
Anak - anak 100-200mg
Pembahasan dalam resep ;
Dosis dalam resep dosisnya 43mg (dosis lazim 100mg-200mg) jadi dosis dalam
resep kurang optimal sehingga harus dikonfirmasikan pada dokter. Tujuan
penggunaan histapan pada resep ini untuk sedasi (perasaan tenang) pada pasien
balita.
d. Dexamethason
Indikasi

; supresi inflamasi dan gangguan alergi, cushing sindrom,

hiperplasia adrenal kongenital udema serebral yang berhubungan dengan


kehamilan, batuk yang disertai sesak napas, rematik dan mata
Kontra indikasi
; infeksi sistemik, hindari penggunaan vaksin virus hidup
pada pemberian dosis imunosupresif (respon serum antibody berkurang)
Efek samping
; efek saluran pencernaan termasuk tukak lambung,
dispepsia, pankreatis akut, ulserasi eshopageal dan kandiasis (jangka pendek).
Osteoporosis, patah tulang, tulang belang, efek endokrin seperti haid tidak
teratur, dll (jangka panjang)
Dosis

; Anak2 0,08 mg - 0,3 mg/kg berat badan/hari dibagi

dalam 3 atau 4 dosis.

Pembahasan dalam resep ;


Dosis dalam resep 0,75mg/hari (dosis lazim 0,08mg-0,3mg/kgBB x 17kg =
1,36 mg/bb - 5,1 mg/bb
Jadi dexametason pada resep sesuai range/ dosis nya , dexametason pada resep
ini digunakan untuk mual dan muntah
e. Sanmol (paracetoamol 500mg)

Sifat Zat Berkhasiat


Menurut Dirjen POM. (1995), sifat-sifat Parasetamol adalah sebagai berikut:
Sinonim : 4-Hidroksiasetanilida
Berat Molekul : 151.16
Rumus Empiris : C8H9NO2.
Sifat Fisika
Pemerian : Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1N; mudah larut dalam
etanol.
Jarak lebur : Antara 168 dan 172.
Farmakokinetik
Parasetamol cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan, dengan kadar
serum puncak dicapai dalam 30-60 menit. Waktu paruh kira-kira 2 jam.
Metabolisme di hati, sekitar 3 % diekskresi dalam bentuk tidak berubah melalui
urin dan 80-90 % dikonjugasi dengan asam glukoronik atau asam sulfurik
kemudian diekskresi melalui urin dalam satu hari pertama; sebagian
dihidroksilasi menjadi N asetil benzokuinon yang sangat reaktif dan berpotensi
menjadi metabolit berbahaya. Pada dosis normal bereaksi dengan gugus

sulfhidril dari glutation menjadi substansi nontoksik. Pada dosis besar akan
berikatan dengan sulfhidril dari protein hati.(Lusiana Darsono 2002)

Farmakodinamik
Efek analgesik Parasetamol dan Fenasetin serupa dengan Salisilat yaitu
menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya
menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek
sentral seperti salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah, oleh karena itu
Parasetamol dan Fenasetin tidak digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol
merupakan penghambat biosintesis prostaglandin (PG) yang lemah. Efek
iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini,
demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa.(Mahar
Mardjono 1971)
Semua obat analgetik non opioid bekerja melalui penghambatan
siklooksigenase. Parasetamol menghambat siklooksigenase sehingga konversi
asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu. Setiap obat menghambat
siklooksigenase secara berbeda. Parasetamol menghambat siklooksigenase
pusat lebih kuat dari pada aspirin, inilah yang menyebabkan Parasetamol
menjadi obat antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat pengaturan panas.
Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada siklooksigenase perifer.
Inilah yang menyebabkan Parasetamol hanya menghilangkan atau mengurangi
rasa nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol tidak mempengaruhi nyeri yang
ditimbulkan efek langsung prostaglandin, ini menunjukkan bahwa parasetamol
menghambat sintesa prostaglandin dan bukan blokade langsung prostaglandin.
Obat ini menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesa
prostaglandin, tetapi demam yang ditimbulkan akibat pemberian prostaglandin
tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh sebab lain, seperti
latihan fisik. (Aris 2009)
Indikasi
Parasetamol merupakan pilihan lini pertama bagi penanganan demam dan nyeri
sebagai antipiretik dan analgetik. Parasetamol digunakan bagi nyeri yang
ringan sampai sedang.(Cranswick 2000)

Kontra Indikasi
Penderita gangguan fungsi hati yang berat dan penderita hipersensitif terhadap
obat ini. (Yulida 2009)
Sediaan
Parasetamol tersedi sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500mg atau sirup
yang mengandung 120mg/5ml. Selain itu Parasetamol terdapat sebagai sediaan
kombinasi tetap, dalam bentuk tablet maupun cairan.
Dosis
Parasetamol untuk dewasa 300mg-1g per kali, dengan maksimum 4g per hari,
untuk anak 6-12 tahun: 150-300 mg/kali, dengan maksimum 1,2g/hari. Untuk
anak 1-6 tahun: 60mg/kali, pada keduanya diberikan maksimum 6 kali sehari. .
(Mahar Mardjono 1971)
Efek Samping
Reaksi alergi terhadap derivate para-aminofenol jarang terjadi.
Manifestasinya berupa eritem atau urtikaria dan gejala yang lebih berat berupa
demam dan lesi pada mukosa.
Fenasetin dapat menyebabkan anemia hemolitik, terutama pada
pemakaian kronik. Anemia hemolitik dapat terjadi berdasarkan mekanisme
autoimmune, defisiensi enzim G6PD dan adanya metabolit yang abnormal.
Methemoglobinemia dan Sulfhemoglobinemia jarng menimbulkan
masalah pada dosis terapi, karena hanya kira-kira 1-3% Hb diubah menjadi
met-Hb. Methemoglobinemia baru merupakan masalah pada takar lajak.
Insidens nefropati analgesik berbanding lurus dengan penggunaan
Fenasetin. Tetapi karena Fenasetin jarang digunakan sebagai obat tunggal,
hubungan sebab akibat sukar disimpulkan. Eksperimen pada hewan coba
menunjukkan bahwa gangguan ginjal lebih mudah terjadi akibat Asetosal
daripada Fenasetin. Penggunaan semua jenis analgesik dosis besar secara
menahun terutama dalam kombinasi dapat menyebabkan nefropati analgetik.
Pembahasan dalam resep ;

Dosis 360 mg/hari (dosis lazim 120mg x 3-4 (hari) = 360mg-480mg/hari)


masuk dalam rentang dosis. Panas biasanya disertai dengan kejang,
Parasetamol tepat sebagai firstline terapi demam kejang.

KESIMPULAN

Amoksan perlu dkonfirmasikan kepada dokter untuk khasiat pada terapi

demam kejang
Untuk dosis histapan, dexamethason dan luminal dkonfirmasikan kepada
dokter karena tidak masuk dalam rentag dosis lazim
Dexametason dalam resep ini digunakan untuk mengatasi mual dan
muntah.