Anda di halaman 1dari 6

penjara 2 tahun 1 bulan.

Putusan
pengadilan ini belum menimbulkan efek
jera bagi pelaku tindak pidana di bidang
obat dan makanan.
Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Obat
Tradi si onal , Kosmeti k dan Produk
Komplemen, Drs. Sukiman Said Umar, Apt,
menambahkan bahwa ke-17 produk
kosmetika yang ditemukan Badan POM
tersebut dijual dengan harga yang cukup
mahal. Banyak wanita menggemari
kosmetika dengan harga mahal karena
menganggap produk dengan harga mahal
terjamin mutu dan keamanannya, padahal
yang terjadi belum tentu demikian. Karena
itu, sekali lagi Badan POM mengajak
masyarakat untuk lebih cerdas dan cermat
dalam membeli dan menggunakan produk
kosmetika agar dapat terhindar dari
kosmeti ka yang beri si ko terhadap
kesehatan.
tahun terakhir sebenarnya mengalami
penurunan dari 1,49% menjadi 0,74%
temuan dari jumlah produk yang
disampling. Pada tahun 2009 jumlah
temuan 1,49% ; tahun 2010 jumlah
temuan 0,86%; tahun 2011 jumlah
temuan 0,65%; tahun 2012 jumlah
temuan 0,54% dan s.d. Maret 2013
j uml ah t emuan 0, 74%. Namun
d e mi k i a n , k e wa s p a d a a n d a n
pengawasan harus tetap ditingkatkan,
karena masih ada penjual yang berusaha
mendapatkan keuntungan tanpa
me mp e r h a t i k a n k e s e l a ma t a n
konsumennya.
Setiap temuan Badan POM terkait
k o s me t i k a b e r b a h a y a , t e l a h
ditindaklanjuti dengan penarikan
produk dari peredaran dan dilakukan
pemusnahan. Selain itu, karena temuan
ini merupakan tindak pidana, maka
kasusnya dibawa ke pengadilan bekerja
sama dengan aparat penegak hukum
lainnya. Selama lima tahun terakhir
sejumlah 268 kasus diajukan ke
pengadilan dengan sanksi putusan
pengadilan paling tinggi hukuman
emerintah dan masyarakat harus
bekerja sama untuk mencegah
Pperedaran dan penggunaan
kosmet i ka mengandung bahan
berbahaya yang sekarang ini marak
dijual secara online. Pemerintah dalam
hal ini Badan POM telah melakukan
berbagai upaya untuk mengawasi dan
menangani peredaran kosmetika
berbahaya ini. Di sisi lain, masyarakat
harus waspada terhadap kosmetika
berbahaya, salah satunya dengan aktif
ber t anya mengenai keamanan
kosmetika sebelum membeli. Ajakan
tersebut disampaikan Kepala Badan
POM, Dra. Lucky S. Slamet, M.Sc saat
konferensi pers yang membahas 17 item
kosmet i ka mengandung bahan
berbahaya/dilarang hasil temuan
Badan POM sampai dengan Maret 2013.
Bahan berbahaya/di l arang yang
diidentifikasi terkandung dal am
kosmetika tersebut sama dengan tahun-
tahun sebelumnya, yaitu (hidrokinon),
merkuri dan pewarna tekstil.
Temuan kosmetika yang mengandung
bahan berbahaya/dilarang selama 5
Tabita Daily Cream
Tabita Nightly Cream
Tabita Skin Care Smooth Lotion
Herbal Clinic GREEN ALVINA Walet Cream Mild Night Cream
GREEN ALVINA Night Cream Acne
CHRYSANT 24 Skin Care Pemutih Ketiak
CHRYSANT 24 Skin Care Cream Malam Jasmine, CHRYSANT 24
Skin Care AHA Toner No.1
CHRYSANT 24 Skin Care AHA Toner No.2
CHRYSANT 24 Skin Care AHA Toner No.2+
HAYFA Sunblock Acne Cream Natural Pagi Sore
HAYFA Acne Morning Pagi Sore
Acne Lotion Dr Nur Hidayat, SpKK
Cream Malam Prima 1, Dr. Nur Hidayat, SpKK
Acne Cream Malam, Dr. Nur hidayat, SpKK
CANTIK Whitening Vit.E Night Cream
CANTIK Whitening Vit.E Day Cream
17 Kosmetik ini
Mengandung
Bahan Berbahaya
Volume 11 Edisi: Mei-Juni 2013
ebih dari lima milyar rupiah
produk obat dan makanan
(obat, obat tradi si onal ,
L
suplemen makanan, kosmetika dan
pangan olahan) ilegal berhasil
disita Satuan Tugas Pemberantasan
Obat dan Makanan Ilegal pada
Operasi Pangea VI di Indonesia
yang dilaksanakan 18-25 Juni 2013.
Tepatnya 721 item (292. 535
kemasan) produk ilegal ditemukan
di 20 sarana di wilayah Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Sumatera Utara dan Batam.
Melalui mekanisme operasional
yang terstruktur, Satgas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal
berhasil mengidentifikasi 129 situs website yang menawarkan dan
memasarkan obat dan makanan ilegal secara online. Hasil temuan
Operasi Pangea VI ini akan dilaporkan kepada International Criminal
Police Organization (ICPO)-Interpol yang menjadi koordinator
Operasi Pangea di seluruh dunia. Tahun 2013 ini, sekitar 100 negara
ikut mengambil bagian dalam Operasi Pangea VI yang ditujukan
untuk memberantas jaringan kejahatan dibalik penjualan online
obat-obatan ilegal.
Secara global. Operasi Pangea VI telah berhasil menangkap 58 pelaku
dan menyita sekitar 9,8 juta obat-obatan berbahaya. Di antara obat
palsu disita dalam operasi tersebut antara lain antibiotik, obat
kanker, obat anti-depresi,
suplemen makanan dan obat-
obatan disfungsi ereksi. Hasil
O p e r a s i P a n g e a i n i
merupakan langkah maju
dalam upaya perlindungan
kesehatan dan keselamatan
masyarakat serta merupakan
pukulan telak bagi pelaku
kriminal di balik pemalsuan
produk.
D i I n d o n e s i a , j i k a
dibandingkan dengan Operasi
Pangea IV 2011 dan Operasi
Pangea V 2012, hasil Operasi
Pangea VI tahun 2013 ini mengalami peningkatan yang signifikan
baik jumlah situs yang teridentifikasi memasarkan obat dan makanan
ilegal maupun luas wilayah operasi, serta jumlah dan nilai temuan
operasi.
Kepala Badan POM, pada saat konferensi pers penyampaian hasil
Operasi Pangea VI di Jakarta 28 Juni 2013, mengemukakan bahwa
upaya pemberantasan obat dan makanan ilegal terus dilakukan
Badan POM melalui 3 pilar. Pilar yang pertama adalah penapisan dan
pantauan Obat dan Makanan sebelum beredar, pilar kedua
merupakan pengawasan secara intensif sesudah Obat dan Makanan
beredar dan penanggulangan dari aspek hukum melalui kerjasama
lintas sektor serta pilar terakhir berupa pemberdayaan masyarakat.
Namun, upaya Badan POM ini akan menjadi sia-sia tanpa komitmen
dan kerja sama dengan berbagai lintas sektor terkait termasuk
masyarakat. Mengingat bahwa kegiatan peredaran obat dan makanan
i l egal t er mas uk
palsu merupakan
k e g i a t a n
terorganisir, maka
u p a y a
p e mb e r a n t a s a n
peredaran produk
ilegal tersebut dapat
berj al an opti mal
apabila mendapat
dukungan dan peran
aktif dari semua
pihak.
MARI BERSAMA BERANTAS
OBAT DAN MAKANAN ILEGAL!
paya pengawasan Badan POM terhadap peredaran obat dan makanan ilegal, termasuk OT-BKO tidak akan berjalan optimal tanpa peran
serta dan kesadaran masyarakat. Untuk itu, masyarakat dihimbau agar tidak lagi mengkonsumsi obat tradisional ilegal (OT ilegal) atau
mengandung bahan kimia obat (OT BKO). Demikian disampaikan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk
U
Komplemen, pada saat konferensi pers di Balai Besar POM (BBPOM) di Semarang 4 Juni 2013.
Konferensi pers tersebut diselenggarakan setelah sebelumnya BBPOM di Semarang menemukan dan menyita 21 item (lebih dari 100.000
kemasan) OT ilegal dan OT-BKO. OT ilegal dan OT-BKO tersebut ditemukan beserta produk setengah jadi, bahan kemasan label alat produksi,
serta barang bukti lainnya, dengan nilai keekonomian mencapai hampir 3 milyar rupiah. Temuan ini merupakan hasil pengawasan BBPOM di
Semarang.
Dijelaskan bahwa pada awalnya, pabrik jamu tersebut sudah memproduksi OT sesuai ketentuan, sehingga telah mendapatkan izin produksi dan
izin edar. Namun kemudian, pemilik pabrik mengganti komposisi jamu dengan menambahkan bahan berbahaya agar cespleng dan harganya lebih
murah. Produsen jamu tersebut, sebelumnya pernah ditangkap untuk kasus yang sama pada tahun 2009 dan 2010.
Hasil pengujian laboratorium yang dilakukan oleh BBPOM di Semarang, OT tersebut
mengandung Chlorpheniramin Maleat (CTM). Sebagai tindak lanjut terhadap temuan
OT ilegal/OT-BKO di atas, BBPOM di Semarang akan melakukan tindak lanjut secara
pro-justitia berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Pasal 196, dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah) Juncto Pasal 197 dengan
ancaman pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak
Rp1.500.000.000,00 (satu milyar lima ratus juta rupiah).
Badan POM akan terus melakukan pengawasan terhadap peredaran Obat dan
Makanan, termasuk OT ilegal, baik melalui pemutusan mata rantai supply maupun
demand. Untuk mewujudkan itu semua, selain melakukan penegakan hukum
terhadap para pelaku pelanggaran, Badan POM juga melakukan kegiatan komunikasi,
informasi dan edukasi kepada masyarakat agar dapat menjadi konsumen yang cermat
dan cerdas.
JADILAH KONSUMEN YANG CERMAT DAN CERDAS
Kementerian Perdagangan mendukung penuh upaya pengawasan obat dan makanan yang dilakukan Badan POM. Demikian ungkap Gita Wirjawan,
Menteri Perdagangan RI, seusai acara pemusnahan obat dan makanan ilegal hasil pengawasan Balai POM di Serang, Kamis, 23 Mei 2013. Kegiatan
pemusnahan obat dan makanan ilegal tersebut juga merupakan salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat agar dapat menjadi konsumen cerdas,
serta lebih bijak dalam memilih, membeli dan mengkonsumsi obat dan makanan, ujar Gita Wirjawan lebih lanjut.
Pemusnahan produk senilai lebih dari 2,7 milyar rupiah tersebut, dilakukan secara simbolis oleh Menteri Perdagangan bersama dengan Kepala Badan
POM dan Gubernur Banten, serta jajaran Pemerintah Daerah Provinsi Banten lainnya. Keseluruhan obat dan makanan ilegal yang dimuat dalam 7 truk
yang berisi lebih kurang 967 item obat, kosmetika, dan jamu ilegal, serta pangan tidak memenuhi ketentuan, kemudian dilepas oleh Menteri
Perdagangan, Kepala Badan POM, dan Gubernur Banten, menuju Tambun Bekasi untuk dimusnahkan.
Kepala Badan POM, Lucky S. Slamet, mengatakan bahwa untuk meningkatkan pengawasan terhadap obat dan makanan ilegal, Badan POM telah
menjalin kerja sama dan koordinasi dengan lintas sektor, termasuk dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Bea & Cukai.
Pemusnahan di Serang ini merupakan pemusnahan ke-9 dari serangkaian kegiatan tindak lanjut Badan POM selama tahun 2013.
Pemusnahan ke-10 dilaksanakan di Jayapura pada 27 Mei 2013. Sekitar 500 juta rupiah produk obat dan makanan ilegal hasil pengawasan BBPOM di
Jayapura Kepala Badan POM dan Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, serta didampingi oleh Asisten III Setda Provinsi
Papua, Kejaksaan Tinggi, Polda, dan Pengadilan Tinggi Provinsi Papua.
Selanjutnya, bersama dengan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, perwakilan Kepolisian Daerah, Kejaksaan Tinggi, dan Kepala Balai Besar
POM (BBPOM) di Banjarmasin, Kepala Badan POM secara simbolis memusnahkan 1.199 item obat dan makanan hasil pengawasan BBPOM di
Banjarmasin pada 5 Juni 2013. Total nilai keekonomian produk yang dimusnahkan Badan POM selama sampai dengan Juni 2013 mencapai hampir 11
milyar rupiah. Namun, nilai tersebut tidak seberapa dibanding dengan nilai kerugian dan kesakitan yang dialami masyakarat akibat obat dan makanan
ilegal.
Oleh karena itu, kembali Kepala Badan POM mengajak semua pihak, termasuk media, untuk terus bekerja sama agar perlindungan kepada masyarakat
dari obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan dapat berjalan optimal.
Yang pertama adalah penapisan produk melalui evaluasi
keamanan, khasiat, dan mutu, serta gizi obat dan makanan yang
akan beredar di Indonesia. Kedua adalah pengawalan produk
setelah beredar di pasar, salah satunya melalui penanganan obat
dan makanan ilegal melalui kerja sama lintas sektor. Dan ketiga
adalah pemberdayaan masyarakat agar dapat melindungi diri dari
obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan. Demikian
disampaikan Kepala Badan POM dalam sambutannya pada acara
Pencanangan Gerakan Nasional Waspada Obat dan Makanan Ilegal
(GN-WOMI) tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, di Kantor
Gubernur Kalimantan Selatan, Kamis, 5 Juni 2013.
Kepala Badan POM menegaskan bahwa Badan POM tidak dapat
berdiri sendiri dalam melakukan pengawasan obat dan makanan,
tetapi diperlukan kerja sama lintas sektor. Pencanangan GN-WOMI
ini merupakan salah satu bentuk komitmen bersama antara
pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sebagai konsumen,
agar peduli untuk ikut mengawasi obat dan makanan yang beredar
agar terhindar dari resiko kesehatan yang mungkin timbul.
Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili oleh Sekretaris
Daerah Provinsi Kalimantan Selatan menyatakan bahwa
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mendukung penuh GN-
WOMI. Dukungan tersebut dibuktikan dengan terbitnya SK
Gubernur Nomor 188.44/0263/KUM/2013 tentang Pembentukan
Satgas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal dan Peraturan
Gubernur Nomor 026 Tahun 2013 tentang Pedoman Operasional
Satgas Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal di Kalsel. Keduanya
merupakan upaya nyata Pemerintah Daerah untuk melindungi
masyarakat dari peredaran obat dan makanan yang beresiko
terhadap kesehatan. Dukungan terhadap GN-WOMI juga diberikan
oleh Pemerintah Daerah Provinsi Banten. Gubernur Banten, Ratu
Atut Chosiyah. pada saat pencanangan GN-WOMI tingkat Provinsi
Banten, 23 Mei 2013, mengajak semua pihak untuk bersama-sama
mensukseskan GN-WOMI dengan menindaklanjuti apa yang
menjadi tugas dan kewenangan masing-masing. Sinergi dan
komitmen bersama terhadap pengawasan obat dan makanan ini
diwujudkan dalam bentuk penandatanganan komitmen bersama
antara wakil pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Setelah
dikeluarkannya Keputusan Gubernur Banten terkait Satgas
Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal. Badan POM, Balai POM di
Serang, Pemerintah Provinsi Banten, Kepolisian Daerah Banten, dan
instansi terkait lain, akan terus bersinergi untuk melindungi
masyarakat dari obat dan makanan yang berisiko terhadap
kesehatan.
TIGA UPAYA MEMUTUS MATA RANTAI SUPPLY DAN DEMAND OBAT DAN MAKANAN ILEGAL
KEMENTERIAN PERDAGANGAN MENDUKUNG PENUH
UPAYA PENGAWASAN BADAN POM
emikian disampaikan Endang Agustini Syarwan Hamid,
anggota Komisi IX DPR RI, dalam sambutannya pada acara
DGebyar Sehat Jajanan Sekolahku, yang diselenggarakan oleh
Balai POM di Kupang, 4 Mei 2013, di Aula Eltari Kantor Gubernur Nusa
Tenggara Timur. Pangan jajanan anak sekolah penting diperhatikan,
karena jajanan yang sehat sangat mempengaruhi pertumbuhan anak
untuk menjadi generasi muda harapan bangsa yang cemerlang di masa
depan.
Kepala Badan POM, Dra. Lucky S. Slamet, MSc. menjelaskan bahwa
jumlah Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang memenuhi syarat di
Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2012 sebanyak 66%. Jumlah
ini masih di bawah rata-rata nasional jumlah PJAS yang memenuhi
syarat, yaitu sebesar 76% (2012). Untuk itu diperlukan terobosan
program/kegiatan yang dapat meningkatkan peran aktif Pemerintah
Daerah dan komunitas sekolah.
Dengan latar belakang inilah, kegiatan "Gebyar Sehat Jajanan
Sekolahku" dilaksanakan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu
upaya untuk meningkatkan kesadaran komunitas sekolah dan seluruh
pemangku kepentingan terkait, akan pentingnya keamanan pangan
pada Pangan Jajanan Anak Sekolah, khususnya di Provinsi Nusa
Tenggara Timur. Kegiatan "Gebyar Sehat Jajanan Sekolahku" diikuti
oleh siswa-siswi dari 129 Sekolah Dasar se-Kota Kupang. Pada kegiatan
tersebut juga dilaksanakan penandatanganan dukungan PJAS tingkat
Provinsi Nusa Tenggara Timur oleh Menteri Kesehatan, Kepala Badan
POM RI, Gubernur Nusa Tenggara Timur, dan Anggota Komisi IX DPR
RI.
JAJANAN ANAK HARUS SEHAT!
Selain itu, sebagai bentuk konsistensi BPOM dalam mengawal Rencana
Aksi Nasional Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) yang dicanangkan
oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pada tahun 2011, BPOM
kembali menggelar kampanye PJAS mengusung tema Sehatnya Duniaku
Menuju Generasi Emas yang Sehat dan Berkualitas. Kepala Badan
POM, Dra Lucky S. Slamet, M.Sc menegaskan bahwa keberlanjutan PJAS
di tahun 2013 diharapkan mampu menghadirkan sesuatu yang berbeda
dan lebih komprehensif, dengan tidak hanya menyentuh edukasi di
kalangan siswa namun melibatkan komunitas sekolah seperti guru,
kepala sekolah juga komite sekolah agar dampak dari kampanye PJAS
dapat lebih efektif.
Dalam kampanye PJAS Sehatnya Duniaku 2013, BPOM mengajak PT Sari
Enesis Indah untuk berpartisipasi mengampanyekan pentingnya jajanan
yang aman, bermutu dan bergizi bagi para siswa Sekolah Dasar.
Kampanye Sehatnya Duniaku diwujudkan melalui aktivitas Roadshow
sosialisasi PJAS yang digelar di 50 SD Jakarta dan Bandung terhitung
sejak 21 Januari hingga 5 April 2013. Selain roadshow ke sekolah dasar,
komitmen BPOM dalam menjalankan Kampanye PJAS juga rencananya
akan dilaksanakan melalui kegiatan seminar guru dan media, review
piagam bintang keamanan pangan di kantin sekolah, festival PJAS, dan
aktivitas komunikasi lainnya di social media & media massa hingga akhir
tahun 2013.
Dampak aksi nasional
PJAS di perki rakan
dapat mel i ndungi
sekitar 1,4 juta siswa
dari PJAS yang tidak
aman serta sekitar 2,8
juta orang tua siswa,
8 5 . 0 0 0 g u r u S D,
85.000 pedagang dan
25. 000 pengel ol a
kantin telah terpapar
KIE keamanan pangan.
Keterlibatan lintas
s e k t o r d a l a m
kampanye PJAS 2013
diharapkan mampu
m e m b e r i k a n
sumbangsih terhadap
peningkatan dampak
aksi nasional PJAS.
Rabu, 5 Juni 2013, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Banda Aceh
beserta Wakil Walikota Banda Aceh, Kepala Satuan Pamong Praja Kota
Banda Aceh, Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Kepala KPTSP dan
petugas Satuan Pamong Praja kota Banda Aceh, melakukan inspeksi
mendadak (sidak) ke dua sarana Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang
ada di kota Banda Aceh.
Pada sidak kali ini BBPOM di Banda Aceh menemukan bahwa kedua sarana
tersebut tidak memenuhi persyaratan Cara Produksi Makanan yang Baik
(CPMB), tidak memiliki laboratorium, dan bahkan izin produksi yang
dimiliki salah satu sarana tidak sesuai lagi dengan lokasi saat ini.
Selain melakukan sidak, petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan
di Banda Aceh dibantu petugas dari Satuan Pamong Praja kota Banda Aceh,
Sidak AMDK di Banda Aceh
juga melakukan penyegelan terhadap mesin produksi, kemasan, wadah serta produk jadi dari sarana tersebut. Diantaranya, sebanyak 97 dus
kemasan gelas, 42 dus kemasan botol, 14560 lembar dus kosong, 111 dus kemasan gelas kosong, dan 11 gulung seal cup AMDK merek Rencong. Serta
5.136 pcs kemasan gelas, 787 lembar kardus kosong, 600 gulung seal cup, dan 243 pcs kemasan gelas kosong AMDK merek Jip Le.
n d o n e s i a
menjadi tuan
r u m a h
I
penyelenggaraan
forum The 20th
A S E A N
C o n s u l t a t i v e
Commi t t ee f or
S t a n d a r s a n d
Q u a l i t y -
Pharmaceuti cal
Product Working
Group (ACCSQ-
PPWG) Meeting, pada 13-17 Mei 2013. Forum ini merupakan
pertemuan Badan Pengawas Obat negara-negara Anggota ASEAN,
Bertempat di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC),
pertemuan resmi dibuka oleh Kepala Badan POM RI, Dra. Lucky S.
Slamet, M.Sc, pada 15 Mei 2013. Kegiatan yang dihadiri oleh delegasi
dan peserta dari negara-negara anggota ASEAN ini bertujuan untuk
mengupayakan harmonisasi peraturan di bidang farmasi untuk
menyongsong ASEAN Free Trade Area (AFTA), terutama untuk
menghilangkan batasan-batasan teknis dalam perdagangan, dan
memperkuat perlindungan terhadap tersedianya sediaan farmasi
yang bermutu di wilayah ASEAN.
c. Negara anggota OKI harus memperkuat kapasitas sumber daya
manusia melalui pembelajaran dan pelatihan yang tersedia.
d. Negara anggota OKI diajak untuk mempelajari kelayakan sistem
pengadaan vaksin berdasarkan praktik terbaik dan sistem yang
ada.
Kepala Badan POM dalam sambutannya mengharapkan agar dalam
workshop ini dapat saling memberikan umpan balik pada para peserta
perwakilan negara OKI, serta kerja sama terkait peningkatan fungsi
NRA untuk menjamin keamanan, khasiat, dan mutu vaksin.
ada Juli 2012, Badan POM sebagai National Regulatory
Authority (NRA) di Indonesia dinyatakan WHO telah
Pmelaksanakan fungsi pengawasan berstandar internasional,
khususnya untuk pengawasan vaksin. Hal ini berarti bahwa semua
fungsi sistem regulasi Badan POM terkait pengawasan vaksin telah
memenuhi persyaratan WHO. Dengan demikian, terbuka lebar
kesempatan bagi Indonesia untuk dapat mengekspor vaksin
produksi dalam negeri ke pasar internasional. Selain itu tentunya
produksi vaksin di dalam negeri memberi kontribusi yang besar
tehadap keberhasilan program imunisasi, karena adanya jaminan
suplai dari vaksin yang memenuhi persyaratan keamanan, efektifitas
dan mutu sesuai standar international.
Pengetahuan dan pengalaman ini dibagikan Badan POM kepada para
peserta workshop "Berbagi Pengalaman Indonesia dengan negara-
negara anggota OKI dalam Memperkuat NRA Fungsi dalam Produksi
Vaksin untuk Pasar Global" di Bandung, Indonesia, pada 17 Juni 2013.
Dihadiri oleh peserta dari 20 negara anggota OKI, workshop ini
diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman negara-negara
anggota OKI lainnya tentang pentingnya penguatan fungsi NRA untuk
kemandirian produksi vaksin.
Para peserta merupakan perwakilan dari NRA, Kementerian
Kesehatan, produsen vaksin, dan lembaga terkait yang menangani
masalah vaksin. Juga hadir pakar WHO, Dr Lahouari Belgharbi dan
perwakilan COMSTECH dan SESRIC.
Setelah mengikuti presentasi dan diskusi selama satu hari penuh,
workshop menghasilkan rekomendasi antara lain:
a. Anggota OKI menekankan kebutuhan mendesak untuk
mengembangkan dan mempertahankan sistem regulasi nasional
yang berfungsi untuk memastikan kualitas, keamanan dan
kemanjuran vaksin. Mereka sepakat untuk mengambil tindakan
yang diperlukan untuk membangun sistem fungsional.
b. Negara anggota OKI didorong untuk menilai kemampuan
pengaturan dan potensi produksi.
INDONESIA BAGIKAN
PENGALAMAN KEPADA
NEGARA-NEGARA
ANGGOTA OKI
ACCSQ-PPWG telah menghasilkan beberapa kebijakan penting,
antara lain ASEAN Common Technical Requirements (ACTR) yang
berisi persyaratan teknis dalam rangka registrasi obat dan ASEAN
Common Technical Dossier (ACTD) yang berisi format dokumen
registrasi obat. Telah disusun pula beberapa pedoman teknis
yaitu, pedoman uji stabilitas, pedoman validasi metoda analisis,
pedoman validasi proses dan pedoman uji bioekivalensi.
Penerapan Harmonisasi ASEAN di bidang obat menguntungkan
Indonesia, antara lain karena tidak adanya standar ganda regulasi
bidang obat di Indonesia yang terkait TBT dalam menunjang
penerapan AFTA, adanya kesamaan pedoman teknis Negara
ASEAN untuk pelaksanaan pengawasan obat, optimalisasi
penggunaan sumber daya dan dana dibidang pengawasan obat
(registrasi obat, inspeksi CPOB), memperkuat pengawasan post-
market termasuk pemberantasan obat palsu dan obat sub
standar/tidak memenuhi syarat, dan dapat meningkatkan daya
saing obat Indonesia di dalam dan luar negeri.
Pertemuan ACCSQ-PPWG ini telah menghasilkan kesepakatan
yang dapat memfasilitasi pertumbuhan industri farmasi, tanpa
mengurangi unsur keselamatan, khasiat, dan mutu obat yang
beredar di wilayah ASEAN.
Penanggung Jawab:
dr. M. Hayatie Amal, MPH
Redaktur:
Budi Djanu Purwanto, SH., MH
Editor:
Dra. Nany Bodrorini, Apt;
Sandhyani ED, S.Si., Apt;
Octavita Dwi Yuliani, S.Ikom;
Desain Grafis:
Diyan Fajar MR, S.Sos., M.I.kom;
Nelly L Rachman, S.Sos;
Sekretariat:
Dra. Sri Mulyani, Apt;
Kurnia Sari, S.Ikom;
Yanuar Rahman, S.Ikom;
Ristanti Kuntarsih, A.Md;
Dewi Nopitasari, S.Farm., Apt;
Benny Robin.
Alamat Redaksi:
Biro Hukum dan
Hubungan Masyarakat
Badan POM RI
Jl. Percetakan Negara No.23
Jakarta Pusat
Telp. 021-4263333,4240231
Fax. 021-4209221
humas@pom.go.id

berita foto
Penandatanganan MoU antara Badan POM dengan LPPOM MUI
Festival KUKM
Kunjungan Pasar Tradisional Oesapa di Kupang
Delegasi Indonesia di Workshop OKI
Peresmian Gedung
BPOM di Manokwari
Pemusnahan Hasil Temuan BBPOM di Jayapura
Sampel Barang
Bukti Hasil
Temuan BBPOM
di Banjarmasin