Anda di halaman 1dari 203

TESIS

PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN DALAM


PELABELAN PRODUK PANGAN






ANAK AGUNG AYU DIAH INDRAWATI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011


TESIS
PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN

DALAM PELABELAN PRODUK PANGAN

ANAK AGUNG AYU DIAH INDRAWATI
NIM : 0890561067
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011


PERLINDUNGAN HUKUM
KONSUMEN
DALAM PELABELAN PRODUK
PANGAN
Tesis ini untuk memperoleh Gelar Magister Hukum
Pada Program Studi Ilmu Hukum
Program Pascasarjana Universitas Udayana
ANAK AGUNG AYU DIAH INDRAWATI
NIM : 0890561067
PROGRAM MAGISTER
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2011


Lembar Persetujuan Pembimbing
TESIS INI TELAH DISETUJUI
PADA TANGGAL 16 DESEMBER 2011
Pembimbing I, Pembimbing II,
Dr. I Wayan Wiryawan, SH, MH Dewa Gede Rudy, SH, MH
NIP. 19550306 198403 1 003 NIP. 19590114 198601 1 001
Mengetahui,
Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Direktur
Program Pascasarjana Program Pascasarjana
Universitas Udayana, Universitas Udayana,
Prof. Dr. Putu Sudarma Sumadi, SH, SU Prof.Dr.dr.A.A.Raka Sudewi, Sp.S(K)
NIP. 19560419 198303 1 003 NIP. 19590215 19851 02 001


Tesis Ini Telah Diuji
Pada Tanggal 16 Desember 2011
Panitia Penguji Tesis
Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana
Nomor : 2033/UN14.4/HK/2011, Tanggal 7 Desember
2011
Ketua : Dr. I Wayan Wiryawan, SH, MH
Sekretaris : Dewa Gde Rudy, SH, MH
Anggota : Prof. Dr. Putu Sudarma Sumadi, SH,
SU I Ketut Westra, SH, MH
Ida Bagus Putra Atmaja, SH, MH


(ANAK AGUNG AYU DIAH INDRAWATI)

NIM 0890561067
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Anak Agung Ayu Diah Indrawati
Tempat/Tanggal Lahir : Denpasar/11 April 1981
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Dr. Sutomo No. 27 Trenggalek Jawa Timur
Nomor Telepon : 081337023796
Jurusan : Magister Ilmu Hukum (Hukum Bisnis)
Dengan ini menyatakan bahwa Tesis ini merupakan hasil karya asli
penulis, tidak terdapat karya yang pernah diajukan memperoleh gelar kesarjanaan
disuatu perguruan tinggi manapun, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak
terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh penulis
lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam
daftar pustaka.
Apabila Penulisan Tesis ini terbukti merupakan duplikasi ataupun plagiasi
dari hasil karya penulis lain dan / atau dengan sengaja mengajukan karya atau
pendapat yang merupakan hasil karya penulis lain, maka penulis bersedia
menerima sanksi akademik dan / atau sanksi hukum.
Demikian surat pernyataan ini penulis buat sebagai pertanggung jawaban
ilmiah tanpa ada paksaan maupun tekanan dari pihak manapun juga.
Trenggalek, 25 November 2011
Yang menyatakan


UCAPAN TERIMA KASIH
Om Swastiastu,
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa /
Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nyalah akhirnya penulis dapat
menyelesaikan tesis yang berjudul "PERLINDUNGAN HUKUM
KONSUMEN DALAM PELABELAN PRODUK PANGAN".
Terselesaikannya tesis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
karenanya pada kesempatan yang berbahagia ini penulis ingin menyampaikan
ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Prof. Dr. I Made Bakta, Sp.PD (K) Rektor Universitas Udayana.
2. Prof. Dr. A.A. Raka Sudewi, Sp. S (K) Direktur Program Pascasarjana
Universitas Udayana.
3. Prof.Dr. Putu Sudarma Sumadi, SH, SU Ketua Program Studi Magister Ilmu
Hukum Universitas Udayana.
4. I Putu Gede Arya Sumerthayasa, SH, MH Sekretaris Program Studi
Magister Ilmu Hukum Universitas Udayana.
5. Dr. I Wayan Wiryawan, SH, MH Pembimbing I, yang telah banyak
memberikan masukan dan selalu mengingatkan untuk sesegera mungkin
menyelesaikan tesis ini.
6. Dewa Gede Rudy, SH, MH Pembimbing II yang banyak memberikan arahan,
bimbingan dan saran serta semangat untuk menyelesaikan tesis ini.


7. Bapak / Ibu Dosen pengajar dan seluruh staf administrasi Program Studi
Magister Ilmu Hukum Universitas Udayana yang telah membantu dalam
segala hal guna penyelesaian kuliah di Program Pascasarjana Universitas
Udayana.
8. Suamiku tersayang A.A.Putu Putra Ariyana, SH, Anandaku yang tercinta
A.A.Ayu Citra Nariswari, Ibundaku yang selalu memberi motivasi tiada
henti I.G.A Puspawati, SH, MH, Ajiku I Gusti Putu Gde Suwirya,
kakakku A.A.Putu Agung Suryakusuma, ST, dan adikku
A.A.Gde Agung Prawiranegara, SE dan keluarga di Jero Grenceng dan
di Jero Peguyangan yang begitu perhatian dan memberikan dukungan
moril dan materiil dalam menyelesaikan kuliah di Program Pascasarjana
Universitas Udayana.
9. Teman-teman kuliah serta rekan-rekan kerja di Pengadilan Negeri
Tabanan dan Pengadilan Negeri Trenggalek yang selalu memberi
semangat selama masa perkuliahan dan selama penyusunan tesis ini.
Semoga kebaikan Bapak / Ibu dan Saudara sekalian mendapat pahala dari
Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.
Akhir kata, apabila ada kekurangan dalam tesis ini penulis minta maaf dan besar
harapan saya semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Om Santi Santi Santi Om.
Trenggalek, November 2011
Penulis


ABSTRAK
PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN
DALAM PELABELAN PRODUK PANGAN
Pasal 1 (3) dari PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan
menentukan bahwa yang dimaksud dengan label pangan adalah : setiap keterangan
mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau
bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan
pada atau merupakan bagian kemasan pangan. Dari pengertian label diatas dapat
diketahui bahwa didalam label itu termuat informasi. Hak atas informasi yang
benar, jelas dan jujur adalah salah satu hak dari konsumen. Namun sayangnya,
masalah label khususnya label pangan kurang mendapat perhatian dari konsumen
maupun pelaku usaha, padahal label memegang peran penting dalam upaya
perlindungan konsumen. Ketiadaan informasi yang benar, jelas dan jujur yang
seharusnya tercantum dalam label bisa menyesatkan konsumen dan tentunya
berakibat hukum pada pelaku usaha untuk bertanggungjawab apabila sampai
merugikan konsumen. Untuk itu menarik untuk dikaji apakah pelabelan produk
pangan sebagaimana diatur dalam PP No. 69 Tahun 1999 telah memenuhi asas-
asas perlindungan konsumen dan apakah akibat hukum dari informasi tidak benar,
jelas dan jujur dalam label.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni penelitian hukum
normative, yaitu suatu penelitian yang menempatkan norma sebagai obyek
penelitian dalam hal ini adalah PP No. 69 Tahun 1999. Jenis pendekatan yang
digunakan dalam dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normative yaitu
penelitian yang menekankan pada data sekunder yang terdiri dari sumber bahan
hukum primer, sekunder dan tersier. Pengumpulan bahan hukum diawali
dengan inventarisasi dengan pengoleksian dan pengorganisasian bahan hukum.
Analisa bahan hukum dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan
komprenhensif.
Dari hasil penelitian tersebut diatas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa
ketentuan pelabelan produk pangan sebagaimana diatur dalam PP No. 69 Tahun
1999 belum memenuhi asas-asas perlindungan konsumen, dan pelanggaran
ketentuan label pangan oleh pelaku usaha dapat dikenakan tanggungjawab
administratif, perdata maupun pidana.
Kata kunci : label, informasi, hak konsumen dan perlindungan konsumen.


ABSTRACT
CONSUMER PROTECTION LAW IN LABELING
FOOD PRODUCT
Article 1 (3) of the Government Regulation 69 of 1999 on Food Labels and
Advertising is meant to determine that food labels are : every description of food
in the form of drawing, writings, a combination of both or any other form supplied
with food, put in, affixed to or a part of food packinging. From the above
definition, label can be seen that the information contained on the label. The
right to correct information, clearly and honestly is one of the rights of
consumers. But unfortunately, the problem of food labels, especially labels
received less attention from consumers and businesses, whereas the label holds
an important part in efforts to protect consumers. The absence of correct
information, clear and honest that should be listed in the labels could mislead
consumers and course the legal consequances on actors in the business to be
responsible if to harm consumers. It is interesting to examine whether the
labeling of food products as stipulated in Government Regulation 69 of 1999 has
been compliance with the principles of consumer protection and wheather the
legal effect of information that is not correct, clear and honest in the label.
This type of research applied in this study was normative legal research,
a study that puts the norm as a research object, in this case is Government
Regulation 69 of 1999. This type of approach used in this research was the
normative jurisdical approach that emphasizes research on the secondary data from
the source material consisting of primary law, secondary, tertiary differences.
The collection of data began with an inventory of legal materials by collecting
and organizing legal materials. Analysis of legal materials in this study
was qualititatively and comprehensively conducted.
From the results, the conclusion can be obtained that the food product
labeling provisions as stipulated in Government Regulation 69 of 1999 do not
meet the principle of consumer protection, and violation of provisions of the food
label by businesses may be subject to the responsibility of administarative, civil or
criminal.
Keywords : labels, information, consumer rights and consumer protection.


RINGKASAN
Bab I Pendahuluan, menguraikan bahwa hak atas informasi yang benar
adalah salah satu hak konsumen sebagaimana diatur dalam pasal 4 UU No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.Salah satu sumber informasi
adalah label. Dalam kaitannya dengan pangan yang merupakan salah salah satu
kebutuhan dasar manusia, maka masyarakat perlu memperoleh informasi yang
benar, jelas, dan lengkap, baik mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun
hal-hal lain yang diperlukannya, yang mana hal itu semua bisa diketahui dari
label pangan.
Ketentuan mengenai label diatur dalam beberapa undang-undang
diantaranya adalah Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen, UndangUndang No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan, Undang-Undang
No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-Undang No. 2 tahun 1981 tentang
Metrologi Legal, dan yang lebih spesifik lagi mengenai pangan diatur dalam
Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.
Label itu ibarat jendela, konsumen yang jeli bisa mengintip suatu produk dari
labelnya. Dari informasi pada label, konsumen secara tepat dapat menentukan pilihan
sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan. Tanpa adanya informasi
yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat terjadi. Namun sayangnya, dari hasil
kajian yang dilakukan BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional)
masalah label kurang mendapat perhatian dari konsumen dimana hanya 6,7%
konsumen yang memperhatikan kelengkapannya. Sikap yang sama juga
ditunjukkan oleh pelaku usaha, sehingga di pasaran Indonesia saat ini dapat
dengan mudah kita mendapati produk pangan yang tidak memberi informasi
lengkap dalam label, misalnya saja produk dengan bahasa asing. Bagaimana label
dengan bahasa asing bisa memberi informasi. Dalam hal seperti ini, hak konsumen
menjadi terabaikan.
Perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab bukan semata-
mata untuk melindungi kepentingan masyarakat yang mengkonsumsi pangan.
Melalui pengaturan yang tepat berikut sanksi-sanksi hukum yang berat,
diharapkan setiap orang yang memproduksi pangan atau memasukkan pangan
ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dapat memperoleh
perlindungan dan jaminan kepastian hukum.
Bab II, Tinjauan Umum Tentang Perlindungan Konsumen menguraikan
mengenai pengertian perlindungan konsumen, asas dan tujuan perlindungan
konsumen, hak dan kewajiban konsumen serta hak dan kewajiban pelaku usaha.
Pasal 1 angka 1 UU No. 8 Tahun 1999 memberi pengertian perlindungan
konsumen sebagai segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk
memberikan perlindungan kepada konsumen.Kepastian hukum untuk memberikan
perlindungan kepada konsumen tersebut antara lain adalah dengan meningkatkan
harkat dan martabat konsumen serta membuka akses informasi tentang barang
dan/atau jasa baginya, dan menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan
bertanggung jawab (konsideran huruf d, UU).


Berbagai peraturan yang berkaitan dengan upaya perlindungan konsumen
pada dasarnya sama dengan peraturan-peraturan lain yang ketentuannya mengandung
Di dalam usaha memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen,
terdapat beberapa asas yang terkandung di dalamnya. Perlindungan konsumen
dilakukan sebagai bentuk usaha bersama antara masyarakat (konsumen),
pelaku usaha dan Pemerintah sebagai pembentuk Peraturan Perundang-
Undangan yang berkaitan dengan Perlindungan Konsumen, hal ini terkandung
dalam ketentuan pasal 2 UUPK. Kelima asas tersebut adalah asas manfaat,
asas keadilan, asas keseimbangan, asas keamanan dan keselamatan
konsumen serta asas kepastian hukum. Kelima asas itu mengacu pada filosofi
pembangunan nasional yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang
berlandaskan pada falsafah Negara Republik Indonesia. Kelima asas tersebut
melandasi tujuan dari perlindungan konsumen sebagaimana dijelaskan dalam
ketentuan pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999.
Perlindungan konsumen sesungguhnya identik dengan perlindungan yang
diberikan hukum tentang hak-hak konsumen. Mengenai hak-hak konsumen di
Indonesia diatur dalam l pasal 4 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen. Disamping hak-hak dalam pasal 4 UUPK, juga terdapat hak-hak
konsumen yang dirumuskan dalam pasal-pasal berikutnya, khususnya dalam pasal
7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. Kewajiban dan hak
merupakan antinomi dalam hukum, sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat
sebagai hak konsumen. Oleh karena itu dalam ketentuan Bab IV UUPK pasal 8
sampai dengan 17 menyebutkan perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha. Pada
hakikatnya, laranganlarangan terhadap pelaku usaha tersebut adalah
mengupayakan agar barang dan/atau jasa yang beredar di masyarakat
merupakan produk yang layak edar, yang menyangkut asal-usul, kualitas
sesuai dengan informasi pengusaha baik melalui label, iklan, dan lain sebagainya.
Bab III, Ketentuan Label Pangan Dalam Kaitannya Dengan Asas
Perlindungan Konsumen, menguraikan mengenai pengertian label, label
sebagai wujud hak konsumen atas informasi, arti penting label pangan bagi
konsumen dan ketentuan label pangan terkait dengan asas perlindungan konsumen.
Pasal 1 (3) dari PP No. 69 Tahun 1999 menentukan bahwa yang dimaksud
dengan label pangan adalah : setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk
gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan,
dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan.
Dari pengertian label diatas dapat diketahui bahwa didalam label itu termuat
informasi. Informasi mana sangat berguna bagi konsumen, karena dari
informasi pada label, konsumen secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum
membeli dan atau mengkonsumsi pangan. Informasi pada label tidak hanya
bermanfaat bagi konsumen, karena label juga memberikan dampak signifikan
untuk meningkatkan efisiensi dari konsumen dalam memilih produk serta
meningkatkan kesetiaannya terhadap produk tertentu, sehingga akan memberikan
keuntungan juga bagi pelaku usaha.


ide-ide atau asas-asas yang boleh digolongkan abstrak, yang idealnya meliputi ide
tentang keadilan, kepastian dan kemanfaatan. Akan tetapi setelah dicermati
ketentuan-ketentuan yang ada di dalam PP No. 69 Tahun 1999, rupanya asas-asas
perlindungan konsumen sebagaimana ditetapkan dalam pasal 2 Undang-Undang
No. 8 Tahun 1999 belum sepenuhnya memenuhi kelima asas-asas yang dimaksud.
Mulai dari pengertian label sendiri yang masih memberi peluang terjadinya
pelanggaran, masih adanya pengecualian penggunaan bahasa Indonesia, ketentuan
penulisan masa kadaluarsa yang tidak ada keseragaman.
Bab IV, Tanggung Jawab Pelaku Usaha Dalam Pelanggaran Label
Pangan, menguraikan bahwa dalam hal pelaku usaha melakukan pelanggaran
terhadap ketentuan label pangan maka pelaku usaha dapat dimintakan
pertanggungjawaban baik secara perdata, pidana maupun administrative. Penegakan
peraturan (by the law enforcement) melalui hukum administrative berfungsi untuk
mencegah (preventif) terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen dengan
perijinan dan pengawasan. Hukum pidana berfungsi untuk menanggulangi
(represif) setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan, dengan
cara mengenakan sanksi hukum berupa sanksi pidana dan hukuman.
Sedangkan hukum perdata berfungsi untuk memulihkan hak (curative/recovery)
dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian.
Bab V, Penutup, menguraikan mengenai kesimpulan dan saran. Kesimpulan
pertama : bahwa ketentuan pelabelan produk pangan sebagaimana diatur dalam
PP No. 69 Tahun 1999 belum memenuhi asas-asas perlindungan konsumen,
kedua : pelanggaran oleh pelaku usaha terhadap ketentuan label pangan dapat
dikenakan sanksi secara perdata, pidana maupun administrative. Adapun saran
penulis terhadap permasalahan yang diteliti, Pertama : dalam rangka untuk
lebih memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen dalam masalah
pelabelan pangan, maka perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap Peraturan
Pemerintah tentang Label dan Iklan Pangan (PP 69/1999) yang memuat panduan
yang lebih kongkrit dan jelas mengenai label pangan. Dengan adanya rambu -rambu
dan peraturan yang jelas dari pemerintah, maka konsumen terlindungi dari
kemungkinan label yang tidak benar, atau bahkan menyesatkan. Kedua :
Pemerintah melalui instansi-instansi terkait perlu melakukan upaya yang terus
menerus untuk memberdayakan masyarakat dengan memberikan pemahaman dan
perlindungan kepada konsumen, rendahnya kesadaran konsumen akan hak dan
kewajibannya diakibatkan salah satunya oleh karena masih kurangnya upaya
pendidikan konsumen oleh pemerintah. Disamping itu Pemerintah baik di Pusat
maupun daerah perlu selalu berkoordinasi melakukan pengawasan yang lebih baik
dan lebih ketat terhadap pelaku usaha dalam peredaran produk pangan, khususnya
produk pangan yang tidak memperhatikan ketentuan pelabelan. Kepada pelaku
usaha penulis juga berharap agar konsep label hendaknya disusun dengan tidak
hanya bertujuan menjual, tetapi juga jujur sekaligus mendidik konsumen. Dan
terakhir kepada konsumen agar selalu mengecek label sebelum membeli atau
mengkonsumsi suatu produk.


DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
HALAMAN PERSYARATAN GELAR MAGISTER ............................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................................... iii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ............................................................................... iv
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ........................................................................... v
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................................ vi
ABSTRAK .......................................................................................................... viii
ABSTRACT ........................................................................................................ ix
RINGKASAN ..................................................................................................... x
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang Masalah ............................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................... 16
1.3. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 17
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................... 17
1.3.2 Tujuan Khusus ............................................................................... 17
1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................... 17
1.4.1 Manfaat Teoritis ........................................................................ 17
1.4.2 Manfaat Praktis .......................................................................... 18


1.5. Orisinalitas Penelitian ..................................................................................... 18
1.6. Landasan Teoritis ........................................................................................... 20
1.7. Metode Penelitian ............................................................................................ 34
1.6.1 Jenis Penelitian ...................................................................................... 34
1.6.2 Jenis Pendekatan ................................................................................... 35
1.6.3 Sumber Bahan Hukum ......................................................................... 36
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum ................................................. 38
1.6.5 Teknik Analisis ..................................................................................... 38
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
40
2.1. Pengertian Perlindungan Konsumen ....................................................... 40
2.2. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen .............................................. 46
2.3. Hak dan Kewajiban Konsumen ............................................................... 56
2.4. Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha .......................................................... 73
BAB III KETENTUAN LABEL PANGAN DALAM KAITANNYA
DENGAN ASAS PERLINDUNGAN KONSUMEN ................................ 78
3.1. Label Sebagai Wujud Hak Konsumen Atas Informasi ............................ 78
3.2. Pentingnya Pelabelan Bagi Konsumen
Untuk Mendapatkan Perlindungan ................................................................ 95
3.3. Ketentuan Label Pangan Terkait Asas Perlindungan Konsumen ............. 99
BAB IV TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA DALAM
PELANGGARAN LABEL PANGAN ................................................... 1 1 5
4.1. Aspek Perdata, Pidana dan Administrasi Dalam Perlindungan



Hukum Konsumen ...................................................................... 115
4.2. Tanggung Jawab Perdata Pelaku Usaha


Dalam Pelanggaran Label Pangan .................................................... 121
4.3. Tanggung Jawab Pidana Pelaku Usaha


Dalam Pelanggaran Label Pangan .................................................... 139
4.4. Tanggung Jawab Administrasi Pelaku Usaha


Dalam Pelanggaran Label Pangan .................................................... 148
BAB V PENUTUP .................................................................................. 157
5.1. Kesimpulan ................................................................................. 157
5.2. Saran ........................................................................................... 158
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Setiap orang, pada suatu waktu, dalam posisi tunggal/sendiri maupun
berkelompok bersama orang lain, dalam keadaan apapun pasti menjadi
konsumen untuk suatu produk barang atau jasa tertentu. Keadaan yang
universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya berbagai kelemahan pada
konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang " aman .
1

Posisi konsumen sebagai pihak yang lemah juga diakui secara internasional
sebagaimana tercermin dalam Resolusi Majelis Umum PBB No.A/RES/39/248
Tahun 1985, tentang Guidelines for Consumer Protection, yang menyatakan bahwa
2:
" Taking into account the interest and needs of consumers in all countries,
particularly those in developing countries, recognizing that consumers
often face imbalance in economic terms, educational levels, and bargaining
power, and bearing in mind that consumers should have the right of access
to nonhazard-ous products, as well as the right to promote just,
equitable and sustainable economic and social development,".
Oleh karena itu secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan
hukum yang sifatnya universal juga. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada
umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang lebih kuat dalam
banyak
1 Sri Redjeki Hartono, 2000, Aspek-aspek Hukum
Perlindungan Konsumen dalam Kerangka Perdagangan Bebas, dalam Husni Syawali & Neni Sri
Imaniyati, Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Bandung, h. 33.
2 Susanti Adi Nugroho, 2008, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau Dari
Hukum Acara Serta Kendala Implementasinya, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 3.


hal, maka pembahasan perlindungan konsumen akan selalu terasa aktual dan selalu
penting untuk dikaji.
3

Perlindungan terhadap konsumen dipandang secara materiil maupun
formal makin terasa sangat penting, mengingat makin majunya ilmu
pengetahuan dan teknologi yang merupakan motor penggerak bagi produktifitas
dan efisiensi produsen atas barang atau jasa yang dihasilkannya dalam rangka
mencapai sasaran usaha. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal
tersebut, akhirnya baik langsung atau tidak langsung, maka konsumenlah yang
pada umumnya akan merasakan dampaknya.
4
Dengan demikian, upaya untuk
memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen
merupakan suatu hal yang penting dan mendesak, untuk segera dicari solusinya,
mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut
perlindungan konsumen di Indonesia lebih-lebih menyongsong era perdagangan
bebas.
Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas dengan strata yang
sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan
distribusi produk barang atau jasa dengan cara seefektif mungkin agar dapat
mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. Untuk itu semua cara pendekatan
diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak termasuk
keadaan yang menjurus pada tindakan yang bersifat negatif bahkan tidak terpuji
yang berawal
3
Yusuf Sofie, 2007, Kapita Selekta Hukum
Perlindungan Konsumen di Indonesia, GhaliaIndonesia, Jakarta, (selanjutnya disingkat Yusuf Sofie
I), h. 17.

13.
4
Happy Susanto, 2008, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan, Visimedia, Jakarta, h. 39.


dari itikad buruk. Dampak buruk yang lazim terjadi, antara lain menyangkut
kualitas, atau mutu barang, informasi yang tidak jelas bahkan menyesatkan,
pemalsuan dan sebagainya.
5

Bagi konsumen, informasi tentang barang dan/atau jasa memiliki arti yang
sangat penting.
6
Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan
barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen, tentang kualitas
produk, keamanannya, harga, tentang berbagai persyaratan dan/atau cara
memperolehnya, tentang jaminan atau garansi produk, persediaan suku cadang,
tersedianya pelayanan jasa purna purna-jual, dan lain-lain yang berkaitan dengan
itu.
Menurut Troelstrup, konsumen pada saat ini membutuhkan lebih banyak
informasi yang lebih relevan dibandingkan lima puluh tahun lalu, karena pada saat ini
terdapat lebih banyak produk, merek dan tentu saja penjualnya, saat ini daya beli
konsumen makin meningkat, saat ini lebih banyak variasi merek yang beredar di
pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, saat ini model-model
produk lebih cepat berubah saat ini transportasi dan komunikasi lebih mudah
sehingga akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen atau penjual.
7
Menurut sumbernya, informasi barang dan/atau jasa tersebut dapat dibedakan
menjadi tiga.
8
Pertama, informasi dari kalangan Pemerintah dapat diserap dari
berbagai penjelasan, siaran, keterangan, penyusun peraturan perundang-
undangan
5
Zumroetin K. Soesilo, 1996, Penyambung Lidah Konsumen,
Swadaya, Jakarta, h. 12.
6
A.Z. Nasution, 1995, Konsumen dan Hukum, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, h. 76.

13.
7
Erman Raja Guguk, et. All, 2003, Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Jakarta,
h. 2.
8
Taufik Simatupang, 2004, Aspek Hukum Periklanan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h.


secara umum atau dalam rangka deregulasi, dan/atau tindakan Pemerintah pada
umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. Dari sudut penyusunan peraturan
perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai suatu keharusan.
Beberapa di antaranya, ditetapkan harus dibuat, baik secara dicantumkan pada
maupun dimuat di dalam wadah atau pembungkusnya (antara lain label dari produk
makanan dalam kemasan sebagaimana diatur dalam PP No. 69 Tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pangan). Sedang untuk produk hasil industry lainnya, informasi
tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang ditetapkan oleh Pemerintah,
standar internasional, atau standar lain yang ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
Kedua informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada
pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu produk konsumen, surat-surat
pembaca pada media massa, berbagai siaran kelompok tertentu, tanggapan atau protes
organisasi konsumen menyangkut sesuatu produk konsumen. Siaran pers organisasi
konsumen, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang
hasilhasil penelitian dan/atau riset produk konsumen tertentu, dapat ditemukan
pada harian-harian umum, majalah dan/atau berita resmi YLKI, yaitu warta
konsumen.
Ketiga, informasi dari kalangan pelaku usaha (penyedia dana, produsen,
importir, atau lain-lain pihak yang berkepentingan), diketahui sumber-sumber
informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media
nonelektronik atau elektronik, label termasuk pembuatan berbagai selebaran,
seperti brosur, pamflet, catalog, dan lain-lain sejenis itu. Bahan-bahan informasi
ini pada umumnya disediakan atau dibuat oleh kalangan usaha

13.
dengan tujuan

h. 71.
memperkenalkan produknya, mempertahankan, dan/atau meningkatkan pangsa pasar
produk yang telah dan/atau ingin lebih lanjut diraih.
Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang
diperlukan konsumen, tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah
informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. Terutama dalam bentuk
iklan dan label, tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi
pengusaha lainnya. 9
Hak atas informasi adalah salah satu dari sekian banyak hak-hak yang
dimiliki konsumen, sebagaimana dirumuskan didalam pasal 4 Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Adapun hak-hak konsumen
tersebut antara lain :
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang
dan/atau jasa;
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa
perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
9 Celine Tri Siwi Kristiyanti, 2008, Hukum Perlindungan
Konsumen, Sinar Grafika, Jakarta,

10
Shidarta, 2000, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo, Jakarta, h. 18.
Disamping hak-hak dalam pasal 4 UUPK, juga terdapat hak-hak
konsumen yang dirumuskan dalam pasal-pasal berikutnya, khususnya dalam
pasal 7 yang mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. Kewajiban dan hak
merupakan antinomi dalam hukum, sehingga kewajiban pelaku usaha dapat
dilihat sebagai hak konsumen.
10

Pentingnya informasi yang akurat dan lengkap atas suatu barang dan/atau jasa
mestinya menyadarkan pelaku usaha untuk menghargai hak-hak konsumen,
memproduksi barang dan jasa berkualitas, aman dikonsumsi atau digunakan,
mengikuti standar yang berlaku, dengan harga yang wajar (reasonable).
Disisi lain konsumen harus pula menyadari hak-haknya sebagai seorang
konsumen sehingga dapat melakukan pengawasan sosial (social control) terhadap
perbuatan dan prilaku pengusaha dan pemerintah. Bagaimanapun juga pada
kenyataannya, konsumen pada masyarakat modern akan dihadapkan pada beberapa
persoalan antara lain: Pertama, bisnis modern menampakkan kapasitas untuk
mempertahankan produksi secara massal barang baru sehubungan dengan adanya
teknologi canggih serta penelitian dan manajemen yang efisien. Kedua, banyaknya
barang dan jasa yang dipasarkan berada di bawah standar, berbahaya atau sia-sia.
Ketiga, ketidaksamaan posisi tawar merupakan masalah serius (kebebasan
berkontrak). Keempat, konsep kedaulatan mutlak konsumen bersandar
pada


11
Endrah, 2009, " Kasus Tentang Perundangan Pangan " diakses 2 Agustus 2010, available
From URL : http://endrah.blogspot.com.
persaingan sempurna yang ideal, namun persaingan terus menurun sehingga kekuatan
konsumen di pasar menjadi melemah.
Menurut pasal 2 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Perlindungan konsumen diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan 5
(lima) asas yang relevan dalam pembangunan nasional, yaitu :
1. Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
2. Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat
diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada
konsumen dan pelaku usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan
kewajibannya secara adil.
3. Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara
kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun
spiritual.
4. Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan
jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan,
pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau
digunakan.
5. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen
menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang juga merupakan komoditas
perdagangan, memerlukan dukungan sistem perdagangan pangan yang etis, jujur, dan
bertanggung jawab sehingga terjangkau oleh masyarakat. Pangan dalam bentuk
makanan dan minuman adalah salah satu kebutuhan pokok manusia yang
diperlukan untuk hidup, tumbuh, berkembang biak, dan reproduksi.
11



Dalam pasal 1 UU No.7 Tahun 1996 tentang Pangan, disebutkan bahwa "
Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang
diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia,
termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang
digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan
atau
minuman"..
Dalam hubungannya dengan masalah label, khususnya label pangan maka
masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas, dan lengkap, baik
mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukannya
mengenai pangan yang beredar di pasar.
Label itu ibarat jendela, konsumen yang jeli bisa mengintip suatu produk dari
labelnya.
12
Dari informasi pada label, konsumen secara tepat dapat menentukan
pilihan sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan. Tanpa adanya
informasi yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat terjadi.
13

Banyak masalah mengenai pangan terjadi di Indonesia. Hingga kini masih
banyak kita temui pangan yang beredar di masyarakat yang tidak mengindahkan
ketentuan tentang pencantuman label, sehingga meresahkan masyarakat. Perdagangan
pangan yang kedaluarsa, pemakaian bahan pewarna yang tidak diperuntukkan bagi
makanan, makanan berformalin, makanan mengandung bahan pengawet,
atau
12
Purwiyatno Hariyadi, 2009, " Mencermati Label dan
Iklan Pangan ", diakses 29 Juni 2010, available from URL : http://www.republika.co.id.
13
Yusuf Shofie, 2000, Perlindungan Konsumen dan Instrumen-Instrumen Hukumnya,
Citra Aditya Bakti, Bandung, (selanjutnya disebut Yusuf Shofie II), h. 15.


perbuatan-perbuatan lain yang akibatnya sangat merugikan masyarakat, bahkan dapat
mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa manusia, terutama bagi anak-anak pada
umumnya dilakukan melalui penipuan pada label pangan.
14
Label yang tidak
jujur dan atau menyesatkan berakibat buruk terhadap perkembangan kesehatan
manusia.
Selain diatur didalam Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, norma hukum yang mengatur mengenai pelabelan
diantaranya dapat dilihat dalam UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan, PP No. 69
Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, UU No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang
Perubahan Atas Keputusan Menteri Kesehatan RI No, 82/Menkes/SK/I/1996 tentang
Pencantuman Tulisan " Halal " pada Label Makanan, Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 180/Menkes/Per/IV/1985 tentang Makanan Daluwarsa yang
telah dirubah dengan Keputusan Dirjen POM No. 02591/B/SK/VIII/91.
Dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, pengaturan
pelabelan produk pangan tidak diatur secara spesifik. Pengaturan secara lebih
spesifiknya adalah PP No. 69 Tahun 1999. Sebelum PP tersebut lahir, pengaturan
pelabelan secara singkat ada dalam UU No. 7 Tahun 1996 tentang pangan.
Didalam pasal 1 (3) dari PP No. 69 Tahun 1999 ditentukan bahwa yang
dimaksud dengan label pangan adalah : setiap keterangan mengenai pangan
yang
14
Dedi Barnadi - YLBK (Yayasan Lembaga
Bantuan Konsumen) Konsumen Cerdas Majalengka, 2009, " Makanan Jajanan (Street Food)
Anak Sekolah ", Diakses 30 Juni 2010, Available from : URL :
http://www.konsumencerdas.co.cc


berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang
disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau
merupakan bagian kemasan pangan, yang selanjutnya dalam Peraturan
Pemerintah ini disebut Label. Lebih lanjut didalam pasal 2 ditentukan bahwa :
(1). Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke
dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label
pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan.
(2). Pencantuman Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya, tidak mudah
luntur atau rusak, serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah
untuk dilihat dan dibaca.
Kemudian didalam pasal 3 dari PP No. 69 Tahun 1999 tersebut ditentukan
bahwa :
(1) Label sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) berisikan keterangan
mengenai pangan yang bersangkutan.
(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya :
a. nama produk;
b. daftar bahan yang digunakan;
c. berat bersih atau isi bersih;
d. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan
ke dalam wilayah Indonesia.
e. tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa.
Lebih lanjut dalam pasal 15 PP No. 69 Tahun 1999 ditentukan bahwa
keterangan pada label, ditulis atau dicetak dengan menggunakan bahasa
Indonesia, angka Arab, dan huruf Latin. Dalam bagian penjelasan dari pasal ini
disebutkan bahwa ketentuan ini dimaksudkan agar pangan olahan yang
diperdagangkan di Indonesia harus menggunakan label dalam bahasa Indonesia.
Khusus bagi pangan olahan untuk diekspor, dapat dikecualikan dari ketentuan ini.
Selanjutnya dalam pasal 16 disebutkan :


(1) Penggunaan bahasa selain bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin
diperbolehkan sepanjang tidak ada padanannya atau tidak dapat diciptakan
padanannya, atau dalam rangka perdagangan pangan ke luar negeri.
(2) Huruf dan angka yang tercantum pada Label harus jelas dan mudah dibaca.
Ketentuan pasal ini tidak ada penjelasannya sehingga menimbulkan banyak
pertanyaan dan dapat pula ditafsirkan macam-macam.
Bagian mana dari label itu yang boleh menggunakan bahasa selain bahasa
Indonesia, angka Arab dan huruf Latin karena tidak ada padanannya atau tidak dapat
diciptakan padanannya dalam Bahasa Indonesia, hal ini tidak diberi penjelasan.
Apa semua keterangan sebagaimana ditentukan dalam pasal 3 jo pasal 12 PP
No. 69 Tahun 1999 boleh menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia, angka
Arab dan huruf Latin karena tidak ada padanannya atau tidak dapat diciptakan
padanannya.
Hal ini penting, karena kalau hanya nama produk yang tidak ada padanannya
dalam bahasa Indonesia tidak begitu menjadi persoalan. Namun bagaimana bila itu
menyangkut daftar bahan yang digunakan, tanggal, bulan dan tahun kadaluarsa, cara
menggunakan produk, lebih-lebih bila itu menyangkut produk impor.
Penggunaan label dengan bahasa Indonesia saja kadang bisa tidak
dimengerti/dipahami konsumen, apalagi produk selain bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Indonesia pada label pangan memiliki peranan yang
penting dalam perlindungan konsumen. Dengan label berbahasa Indonesia,
konsumen bisa mengetahui informasi produk yang dibelinya sehingga bisa
meminimalisasi resiko kejadian yang tidak diinginkan. Label selain bahasa
Indonesia tentu akan menyulitkan

15
Sudaryatmo, 1999, Hukum & Advokasi Konsumen, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 15.
konsumen dalam memahami, menggunakan, serta mengetahui bahan-bahan yang
terdapat pada produk yang dibelinya.
Banyak produk makanan dengan pelabelan lengkap, tetapi pesan
informasi tidak sampai ke konsumen, karena menggunakan bahasa yang tidak
dipahami konsumen. Akhir-akhir ini, di pasaran dengan mudah ditemukan
produk impor dengan pelabelan menggunakan bahasa Negara asal produk tersebut,
seperti Cina dan Jepang.
15

Pengecualian penggunaan bahasa Indonesia dalam label karena tidak ada
padanannya atau tidak dapat diciptakan padanannya dalam bahasa Indonesia
justru akan membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperdagangkan produk
pangan yang tidak dimengerti oleh konsumen sehingga berpotensi menimbulkan
kerugian yang tidak diinginkan.
Pasal 16 PP No. 69 Tahun 1999 juga tidak memberi penjelasan, dalam
rangka perdagangan pangan ke luar negeri (ekspor) bahasa apa yang harus
dipergunakan. Bahasa Inggris, bahasa Latin, atau bahasa lain.
Perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab bukan semata-
mata untuk melindungi kepentingan masyarakat yang mengkonsumsi pangan.
Melalui pengaturan yang tepat berikut sanksi-sanksi hukum yang berat,
diharapkan setiap orang yang memproduksi pangan atau memasukkan pangan
ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dapat memperoleh
perlindungan dan jaminan kepastian hukum.

16
Ibid.
Dibandingkan dengan Negara-negara tetangga, Malaysia misalnya,
Indonesia masih tertinggal beberapa langkah dalam upaya melindungi konsumen. Di
Malaysia, pemberdayaan konsumen sudah ditangani oleh seorang Menteri, yaitu
Menteri Urusan Konsumen, sedangkan di Indonesia masih menggunakan Peraturan
Menteri Kesehatan serta yang baru UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan.
16
Pada
kasus beredarnya makanan kedaluwarsa, mengetahui pihak yang bersalah lebih
mudah, karena itu sudah menjadi tugas mereka untuk tidak menjual makanan dan
minuman kedaluwarsa.
Indonesia memang belum menerapkan pelabelan kedaluwarsa pada setiap
makanan maupun minuman. Seperti yang tercantum dalam Permenkes No.
180/Menkes/1985, ada 13 jenis makanan dan minuman yang diharuskan
mencantumkan tanggal kedaluwarsa : roti, makanan rendah kalori, nutrisi suplemen,
coklat, kelapa dan hasil olahannya, minyak goreng, margarine, produk kacang,
telur, saus dan kecap, minuman ringan tak berkarbonat, sari buah dan susu.
Disamping itu pencantuman label kedaluwarsa sendiri sampai saat ini
belum ada standar baku. Ada yang sudah mengunakan Bahasa Indonesia beserta
kaidah penanggalannya (misalnya, sebaiknya digunakan sebelum : Januari 1999),
dan tak jarang pula yang masih memakai Bahasa Inggris dan aturan
penanggalannya (best before : 06.98). Namun ada juga yang hanya berisi angka-
angka melulu yang bagi masyarakat awam tentu akan menimbulkan tanda tanya.

18
Ibid.
Menurut hasil kajian BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional)
ada 4 (empat) masalah utama yang terkait dengan keamanan konsumen terhadap
makanan yang dikonsumsinya, yaitu 17:
1. Keracunan makanan yang terjadi karena makanan rusak dan
terkontaminasi atau tercampur dengan bahan berbahaya
2. Penggunaan bahan terlarang yang mencakup : Bahan Pengawet, Bahan
Pewarna, Bahan Pemanis dan Bahan-bahan tambahan lainnya
3. Ketentuan label bagi produk-produk industri makanan dan minuman
yang tidak sesuai dengan ketentuan label dan iklan pangan (PP 69 Tahun
1999) beserta Permenkes.
4. Produk-produk industri makanan dan minuman yang kedaluarsa.
Menyangkut penyimpangan terhadap peraturan pelabelan yang paling
banyak ditemui adalah 18:
Penggunaan label tidak berbahasa Indonesia dan tidak menggunakan
huruf latin, terutama produk impor.
Label yang ditempel tidak menyatu dengan kemasan
Tidak mencantumkan waktu kedaluarsa
Tidak mencantumkan keterangan komposisi
dan berat bersih
17
Konsumen Cerdas, 2009, " Hasil Kajian BPKN di Bidang Pangan Terkait Perlindungan
Konsumen ", diakses 15 Agustus 2010, available from : URL : http://www.konsumencerdas.co.cc.


Tidak ada kode barang MD, ML atau P-IRT dan acuan kecukupan gizi
yang tidak konsisten.
Tidak mencantumkan alamat produsen/importir (bagi produknya)
Hasil kajian menemukan bahwa masalah label kurang mendapat
perhatian dari konsumen dimana hanya 6,7% konsumen yang memperhatikan
kelengkapannya. Khusus menyangkut keterangan halal sebagai bagian dari
label, data lembaga pemeriksa halal (LP-POM MUI) menyebutkan saat ini baru
sekitar 15% dari produk pangan di Indonesia yang telah memiliki sertifikat
halal. LP POM MUI telah menerbitkan 3.742 sertifikat halal untuk sekitar 12.000
produk pangan. Sementara itu, industri pangan di Indonesia mencapai lebih dari
satu juta, dimana sekitar 2000 diantaranya merupakan industri besar dan sisanya
merupakan industri kecil dan menengah.
Konsumen dituntut untuk selalu berhati-hati dalam berkonsumsi
rasanya tidak adil. Harus ada langkah perlindungan yang nyata dari Pemerintah
kepada konsumen. Penegakan hukum dengan menerapkan sanksi yang benar
bagi pelaku usaha yang melanggar aturan harus dilaksanakan. Itu penting untuk
mengajarkan tanggung jawab moral kepada pelaku usaha.
Dalam kasus-kasus perlindungan konsumen ada beberapa hal yang perlu
dicermati, yakni :
1. Perbuatan pelaku usaha baik sengaja maupun karena kelalaiannya dan
mengabaikan etika bisnis, ternyata berdampak serius dan meluas.
Akibatnya kerugian yang diderita konsumen missal (massive effect)
karena menimpa apa saja dan siapa saja.


2. Dampak yang ditimbulkan juga bisa bersifat seketika (rapidy effect),
sebagai contoh konsumen yang dirugikan (dari mengkonsumsi
produk) bisa pingsan, sakit atau bahkan meninggal dunia. Ada
juga yang ditimbulkan baru terasa beberapa waktu kemudian
(hidden defect), contoh yang paling nyata dari dampak ini adalah
maraknya penggunaan bahan pengawet dan pewarna makanan
dalam sejumlah produk yang bisa mengakibatkan kanker di
kemudian hari.
3. Kalangan yang menjadi korban adalah masyarakat bawah.
Karena tidak punya pilihan lain, masyarakat ini terpaksa
mengkonsumsi barang/jasa yang hanya semampunya didapat,
dengan standar kualitas dan keamanan yang sangat minim.
Kondisi ini menyebabkan diri mereka selalu dekat dengan
bahaya-bahaya yang bisa mengancam kesehatan dirinya kapan
saja.
19

Berkenaan dengan hal tersebut, menurut Sri Redjeki Hartono
20
, Negara
mempunyai kewajiban untuk mengatur agar kepentingan-kepentingan yang
berhadapan harus dapat dipertemukan dalam keselarasan dan harmonisasi yang ideal.
Untuk itu, Negara mempunyai kewenangan untuk mengatur dan campur tangan
dalam memprediksi kemungkinan pelanggaran yang terjadi dengan menyediakan
rangkaian perangkat peraturan yang mengatur sekaligus memberikan ancaman berupa
sanksi apabila terjadi pelanggaran siapapun pelaku ekonomi.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan diatas,
maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut ?
1. Apakah ketentuan label produk pangan sebagaimana diatur dalam PP No.
69 Tahun 1999 telah memenuhi asas-asas
perlindungan konsumen ?
19
N.H.T. Siahaan 2005, Hukum Konsumen, Perlindungan Konsumen, dan Tanggung Jawab
Produk, Panta Rei, Bogor, h. 11.
20
Sri Redjeki Hartono, 2007, Hukum Ekonomi Indonesia, Bayu Media, Malang, h. 132.


2. Apakah akibat hukum dan tanggung jawab pelaku usaha terhadap pelanggaran
ketentuan label pangan ?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian meliputi tujuan umum dan tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan pemikiran yang
konseptual tentang label sebagai perwujudan hak konsumen atas informasi
kaitannya dengan perlindungan konsumen. Disamping itu penelitian ini juga
dimaksudkan untuk menyumbangkan pemikiran berkenaan dengan label,
mengingat semakin banyaknya produk makanan yang beredar di masyarakat
dengan bermacam-macam label, sehingga kepedulian konsumen akan haknya atas
informasi sangat membantu dalam usaha-usaha pemberdayaan konsumen itu
sendiri.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk menganalisa ketentuan pelabelan produk pangan sebagaimana
diatur dalam PP No. 69 Tahun 1999 apa telah memenuhi asas-asas
perlindungan konsumen.
2. Untuk mengetahui apa akibat hukum dari pelanggaran ketentuan label
pangan bagi pelaku usaha.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis


Penelitian tesis ini diharapkan dapat memberi pemahaman dan
pengembangan wawasan pengetahuan dibidang hukum perlindungan konsumen
khususnya tentang pelabelan.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian tesis ini diharapkan dapat berguna sebagai sumbangan
pemikiran bagi mereka yang terlibat langsung dalam usaha perlindungan
konsumen baik Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI), lembaga perlindungan
konsumen swadaya masyarakat, konsumen itu sendiri maupun pelaku usaha.
Disamping itu hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
masukan bagi Pemerintah dalam membentuk peraturan perundang-undangan
yang berkaitan dengan perlindungan konsumen yang lebih baik dan tidak
memihak sebelah.
1.5. Orisinalitas Penelitian
Dari hasil penelusuran yang dilakukan terhadap tulisan atau hasil penelitian
tentang " Perlindungan Hukum Konsumen Dalam Pelabelan Produk Pangan ",
belum pernah ada yang melakukan penelitian sebelumnya. Akan tetapi pernah ada
yang meneliti tentang yang terkait dengan pelabelan, yaitu :
1. Tesis Kamila Hetami pada Program Magister Ilmu Hukum Kajian Hukum
Ekonomi dan Teknologi Universitas Diponogoro, Semarang, 2009 yang
berjudul " Pelabelan Produk Pangan Yang Mengandung Bahan Rekayasa
Genetika Sebagai Wujud Azas Keterbukaan Informasi ". Adapun
permasalahan yang diangkat dan dibahas adalah : (1)
Bagaimana


implementasi perjanjian internasional mengenai organisme hasil rekayasa
genetika ke dalam peraturan perundang-undangan nasional. (2) Bagaimana
perlindungan konsumen di Indonesia berkaitan dengan keterbukaan informasi
produk-produk yang mengandung bahan rekayasa genetika khususnya yang
berkaitan dengan pelabelan. (3) Bagaimana tanggung jawab produsen
terhadap produk yang mengandung bahan rekayasa genetika khususnya yang
berkaitan dengan pelabelan.
21

2. Tesis Ali Amran Tanjung pada Program Magister Pasca Sarjana
Program Studi Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2009, yang
berjudul " Pengaturan, Penggunaan dan Pengawasan Label Halal
Terhadap Produk Makanan Perspektif Perlindungan Konsumen " . Adapun
permasalahan yang diangkat dan dibahas adalah (1) Bagaimana
pengaturan, penggunaan label halal terhadap produk makanan, (2)
Bagaimana pengawasan penggunaan label halal terhadap produk makanan,
(3) Bagaimana sanksi terhadap pelanggaran penggunaan label halal.
22

3. Selanjutnya ada juga penelitian dari Ari Fatmawati dari Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011, yang berjudul " Konsumen
dan Label (Study tentang Perlindungan Hukum Bagi Konsumen
dalam
21
Kamila Hetami, 2009, "Pelabelan Produk Pangan
Yang Mengandung Bahan Rekayasa Genetika Sebagai Wujud Azas Keterbukaan Informasi ". Diakses
1 Desember 2011, avalaible from http://eprints.undip.ac.id/18037/1/Kamila Hetami.
22
Ali Amran, Tanjung, 2009, " Pengaturan, Penggunaan dan Pengawasan Label Halal
Terhadap Produk Makanan Perspektif Perlindungan Konsumen ". Diakses 1 Desember 2011,
avalaible from http://repositoryusu.ac.id/handle/123456789/199922.


Mengkonsumsi Produk Berlabel Halal di Kota Yogyakarta) ". Adapun
permasalahan yang diangkat dan dibahas adalah (1) Bagaimanakah
profil label dalam makanan kemasan yang beredar di kota Yogyakarta,
(2) Bagaimanakah perlindungan hukum yang diberikan terhadap
masyarakat muslim sebagai konsumen makanan yang beredar di kota
Yogyakarta.
23

1.6. Landasan Teoritis
Teori adalah serangkaian proposisi atau keterangan yang saling
berhubungan dan tersusun dalam suatu system deduksi yang mengemukakan
penjelasan atas suatu gejala. Sementara itu pada suatu penelitian, teori memiliki
fungsi sebagai pemberi arahan kepada peneliti dalam melakukan penelitian.
Untuk mengkaji suatu permasalahan hukum secara lebih mendalam
diperlukan teori-teori yang berupa serangkaian asumsi, konsep, definisi dan
proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara
merumuskan hubungan antar konsep.
24

Teori ini juga sangat diperlukan dalam penulisan karya ilmiah dalam
tatanan hukum positif konkrit.
25
Hal ini sesuai dengan pendapat Jan Gijssels dan
Mark Van Koecke dalam teori hukum diperlukan suatu pandangan yang
merupakan
23
Ari Fatmawati, 2011, " Konsumen dan Label ",
diakses 1 Desember 2011, available from http://eprints.ums.edu.my/1436/1ae00000000209.pdf.
24
Burhan Ashsofa, 2004, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, h. 19.
25
Ibid.


pendahuluan dan dianggap mutlak perlu ada sebagai dasar dari studi ilmu
pengetahuan terhadap aturan hukum positif.
Terkait dengan teori yang dipergunakan dalam penelitian ini, maka tidak
terlepas dari sistem hukum yang berlaku di Indonesia yaitu sistem hukum yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Dengan demikian setiap sektor hukum nasional haruslah bersumberkan pada
Pancasila dan UUD 1945. Pada bagian pembukaan UUD 1945, alenia ke-4 ada
berbunyi " Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia &.". Kata " segenap bangsa
Indonesia " adalah asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia (sila ke-3
Pancasila Persatuan Indonesia). Dan kata " melindungi " mengandung asas
perlindungan (hukum) pada segenap bangsa tersebut, baik dia laki-laki,
perempuan, kaya, miskin, baik dia pelaku usaha ataupun konsumen.
Untuk menganalisa permasalahan pada penelitian ini penulis menggunakan
beberapa teori hukum, diantaranya teori system hukum dari Lawrence Friedman, teori
pengayoman dari Suhardjo, teori perlindungan dari Philipus M. Hadjon, teori
keadilan dari Aristoteles dan John Rawls, teori negara hukum dan teori / asas-asas
pembentukan peraturan perundang-undangan dari Lon. L. Fuller.
Alasan menggunakan teori sistem hukum, karena penulis berpendapat bahwa
ketentuan mengenai label merupakan elemen substansi dalam sistem hukum.
Kemudian digunakannya teori perlindungan dan teori pengayoman karena
ketentuan


mengenai label adalah ditujukan untuk perlindungan dan pengayoman kepada
masyarakat konsumen.
Sedangkan digunakannya teori Negara hukum karena salah satu ciri khas
Negara hukum adalah adanya pengakuan akan hak, termasuk hak konsumen akan
informasi yang benar yang dapat diperoleh dari label. Disamping itu dalam konsepsi
Negara hukum ada dikenal dua tipe Negara hukum yang salah satunya adalah
Negara hukum dalam arti luas dimana Negara bertugas menjaga keamanan dalam
arti kata seluas-luasnya, termasuk berupaya mewujudkan kesejahteraan bagi
seluruh warga negara. Karena seluruh warga Negara adalah konsumen, maka
perlindungan dan kesejahteraan konsumen menjadi tanggungjawab Negara.
Digunakannya teori asas-asas pembentukan peraturan perundang-
undangan dari Lon. L. Fuller karena nampaknya ketentuan label sebagaimana
diatur dalam PP. No. 69 Tahun 1999 masih banyak ditemukan penyimpangan oleh
pelaku usaha.
Kemudian digunakannya teori keadilan dari Aristoteles karena seperti telah
diuraikan sebelumnya, bahwa perlunya undang-undang perlindungan konsumen dan
peraturan pelaksana dibidang konsumen termasuk diantaranya ketentuan label
pangan dalam PP No. 69 Tahun 1999 karena karena lemahnya posisi konsumen
dibanding posisi produsen/pelaku usaha. Perlindungan terhadap konsumen
didasarkan pada keadilan komutatif yakni keadilan yang memberikan kepada
setiap orang sama banyaknya dengan tidak mengingat jasa-jasa perseorangan.


Selengkapnya tentang teori-teori tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
Lawrence M. Friedman mengungkapkan Three Elements of Legal System
atau tiga komponen dari system hukum. Ketiga komponen yang dimaksud adalah
(1) struktur (structure), (2) substansi (substance), dan (3) kultur (culture) atau
budaya. 26 PSubstansi mencakup isi norma-norma hukum beserta perumusannya
maupun cara menegakkannya, yang berlaku bagi pelaksana hukum maupun
pencari keadilan. Substansi juga mencakup hukum yang hidup di tengah masyarakat
bukan hanya pada aturan-aturan yang ada di dalam buku-buku hukum/UU/putusan
hakim. Struktural mencakup wadah maupun bentuk dari system tatanan
lembaga-lembaga formal, hubungan antar lembaga-lembaga tersebut, hak-hak
dan kewajibannya. Kultural mencakup nilai-nilai dalam masyarakat yang
mendasari hukum yang berlaku. Malcolm Walters menyebutkan culture
consists of generally shared visions of meaning, value and preference.
27

Penegakan hukum sebagai suatu system memerlukan sinergi antara
komponen-komponennya (subsistem) tersebut diatas. Menurut H.L.A Hart " the
union of primary and secondary rules is at the centre of a legal system
28
(sistem
hukum adalah kesatuan dari peraturan-peraturan
primer sekunder).
26
Lawrence M. Friedman, 2009, Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial (The Legal System :
A Social Science Perspektive), (M. Khozim, Pentj), Nusa Media, Bandung, h. 12-18.
27
Malcolm Walters, 1994, Modern Sociological Theory, Sage Publications, London, h.13.
28
Charles Samford, 1989, The Disorder Of Law A Critique Of Legal Theory, Basil
Blackwell Ltd, UK, h. 26.


Teori pengayoman dikemukakan oleh Prof. Suhardjo, Menteri Kehakiman
dalam Kabinet Presiden Soekarno.
29
Menurut teori ini tujuan hukum adalah untuk
mengayomi manusia, baik secara aktif maupun pasif.
30
Secara aktif dimaksudkan
sebagai upaya untuk menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan yang
manusiawi dalam proses yang berlangsung secara wajar. Sedangkan yang dimaksud
secara pasif adalah mengupayakan pencegahan atas upaya yang sewenang-
wenang dan penyalahgunaan hak secara tidak adil. Untuk mewujudkan
pengayoman ini termasuk didalamnya adalah :
1. Mewujudkan ketertiban dan keteraturan
2. Mewujudkan kedamaian sejati
3. Mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat
4. Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat
Kedamaian sejati dapat terwujud apabila masyarakat telah merasakan
baik lahir maupun bathin. Begitu pula dengan ketentraman, dianggap sudah ada
apabila warga masyarakat merasa yakin bahwa kelangsungan hidup dan
pelaksanaan hak tidak bergantung pada kekuatan fisik maupun non fisik belaka.
Teori perlindungan yang dikemukakan oleh Philipus M. Hadjon,
menyebutkan bahwa perlindungan hukum terbagi atas dua, yaitu perlindungan
hukum
29
Bachsan Mustafa, 2003, Sistem Hukum Indonesia
Terpadu, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 22.
30
Abdul Manan, 2005, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, Prenada Media, Jakarta, h. 23.


31
Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, PT. Bina Ilmu,
Surabaya, h. 3.
represif dan perlindungan hukum preventif.
31
Perlindungan hukum represif yaitu
perlindungan hukum yang dilakukan dengan cara menerapkan sanksi terhadap
pelaku agar dapat memulihkan hukum kepada keadaan sebenarnya. Perlindungan
jenis ini biasanya dilakukan di Pengadilan. Perlindungan hukum preventif yaitu
perlindungan hukum yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu sengketa.
Perlindungan hukum jenis ini misalnya sebelum Pemerintah menetapkan suatu
aturan/keputusan, rakyat dapat mengajukan keberatan, atau dimintai pendapatnya
mengenai rencana keputusan tersebut.
Pada hakekatnya perlindungan hukum itu berkaitan bagaimana hukum
memberikan keadilan yaitu memberikan atau mengatur hak-hak terhadap subyek
hukum, selain itu juga berkaitan bagaimana hukum memberikan keadilan terhadap
subyek hukum yang dilanggar haknya.
Terdapat macam-macam teori mengenai keadilan dan masyarakat yang
adil. Teori-teori ini menyangkut hak dan kebebasan, peluang kekuasaan, pendapatan
dan kemakmuran. Menurut Aristoteles dalam bukunya nicomachean ethics maka
pada dasarnya ada 2 (dua) teori tentang keadilan yaitu keadilan distributif dan
keadilan korektif/komutatif. Keadilan distributif ialah keadilan yang
memberikan bagian kepada setiap orang menurut jasanya, dan pembagian mana
tidak didasarkan bagian yang sama akan tetapi atas keseimbangan. Sedangkan
keadilan korektif/komutatif adalah keadilan yang memberikan kepada setiap orang
sama banyaknya dengan tidak

7.
mengingat jasa seseorang. Keadilan korektif/komutatif memegang peranan
dalam hal tukar menukar pada peraturan barang dan jasa, dalam mana sedapat
mungkin terdapat persamaan antara apa yang dipertukarkan. Sehingga
keadilan korektif/komutatif lebih menguasai hubungan antara perseorangan,
sedangkan keadilan distributif terutama menguasai hubungan antara masyarakat
khususnya negara dengan perseorangan.
Perlindungan terhadap konsumen didasarkan pada keadilan komutatif yakni
keadilan yang memberikan kepada setiap orang sama banyaknya dengan tidak
mengingat jasa-jasa perseorangan.
32

Perlindungan konsumen adalah merupakan masalah kepentingan
manusia, oleh karenanya menjadi harapan bagi semua bangsa di dunia
untuk dapat mewujudkannya. Mewujudkan perlindungan konsumen adalah
mewujudkan hubungan berbagai dimensi yang satu sama lain mempunyai
keterkaitan dan saling ketergantungan antara konsumen, pengusaha, dan
Pemerintah. 33
Menurut Lon Fuller ada 8 (delapan) kriteria hukum yang baik, yakni :
1. &a failure to achieve rules at all, so that every issue must be diceded on an
hoc basic (peraturan harus berlaku juga bagi penguasa, harus ada kecocokan
atau konsistensi antara peraturan yang diundangkan dengan
pelaksanaannya, dituangkan dalam aturan-aturan yang berlaku umum, artinya
suatu sistem hukum harus mengandung peraturan-peraturan dan tidak boleh
sekadar mengandung keputusan-keputusan yang bersifat sementara atau ad
hoc);
2. A failure to publicize, or at least to make available to the affected party, the
rules he is expected to observe (aturan-aturan yang telah dibuat harus
diumumkan kepada mereka yang menjadi objek
pengaturan aturan-aturan tersebut);
32
Chainur Arrasjid, 2006, Dasar-dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, h. 40.
33
Erman Raja Guguk, et.all, 2003, Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Jakarta, h.


3. The abuse of retroactive legislation, which not only cannot it self guide
action, but undercuts the integrity of rules prospective in effect, since it puts
them under the threat of retrospective change (tidak boleh ada peraturan yang
memiliki daya laku surut atau harus non retroaktif, karena dapat merusak
integritas peraturan yang ditujukan untuk berlaku bagi waktu yang akan
datang);
4. A failure to make rules understandable (dirumuskan secara jelas, artinya
disusun dalam rumusan yang dapat dimengerti);
5. The anactment of contradictory rules (tidak boleh mengandung aturan-
aturan yang bertentangan satu sama lain);
6. Rules that require conduct beyond the poers if the affected party (tidak boleh
mengandung beban atau persyaratan yang melebihi apa yang dapat
dilakukan);
7. Introductions such frequent changes in the rules that the subject cannot orient
his action by them (tidak boleh terus-menerus diubah, artinya tidak boleh
ada kebiasaan untuk mengubah-ubah peraturan sehingga menyebabkan
seseorang kehilangan orientasi); dan
8. A failure of congruence between the rules as announced and their actual
administration (harus ada kecocokan atau konsistensi antara peraturan yang
diundangkan dengan pelaksanaan sehari-hari).
Dalam kaitannya dengan ketentuan label nampaknya ketentuan label
sebagimana diatur dalam PP No. 69 Tahun 1999 tidak memenuhi kriteria no. 8
dari teori Lon Fuller.
Keberadaan tentang konsepsi negara hukum sudah ada semenjak
berkembangnya pemikiran cita negara hukum itu sendiri. Plato dan Aristoteles
merupakan penggagas dari pemikiran negara hukum. Pemikiran negara hukum
dimunculkan Plato. Menurut Plato, penyelenggaraan pemerintah yang baik ialah
yang diatur oleh hukum. Konsepsi negara hukum dalam kajian teoritis dapat
dibedakan dalam dua pengertian. Pertama, negara hukum dalam arti formal
(sempit/klasik) yaitu negara hukum sebagai Nachtwakerstaat atau
Nachtwachterstaat (negara jaga malam) yang tugasnya adalah menjamin
ketertiban dan keamanan masyarakat, urusan kesejahteraan didasarkan pada
persaingan bebas (free fight), laisez faire, laisez ealler,


siapa yang kuat dia yang menang. Negara hukum dalam arti formal ini kerjanya
hanya menjaga agar jangan sampai ada pelanggaran terhadap ketentraman dan
kepentingan umum, seperti yang telah ditentukan oleh hukum yang tertulis (undang-
undang), yaitu hanya bertugas melindungi jiwa, benda, atau hak asasi warganya
secara pasif, tidak campur tangan dalam bidang perekonomian atau penyelenggaraan
kesejahteraan rakyat, karena yang berlaku dalam lapangan ekonomi adalah prinsip
laiesez faire laiesizealler.
Namun teori Negara hukum dalam arti sempit ini mulai ditinggalkan karena
persaingan bebas ternyata makin melebarkan jurang pemisah antara golongan
kaya dan golongan miskin.
34
Maka para ahli berusaha menyempurnakan teorinya
dengan teori negara hukum dalam arti materiil (luas/modern) ialah negara yang
terkenal dengan istilah welfare state (walvaar staat), (wehlfarstaat). Disini Negara
bertugas menjaga keamanan dalam arti kata seluas-luasnya, yaitu keamanan
social (social security) dan menyelenggarakan kesejahteraan umum, berdasarkan
prinsip-prinsip hukum yang benar dan adil sehingga hak-hak asasi warga
negaranya benar-benar terjamin dan terlindungi.
35
Menurut teori ini, selain
bertujuan melindungi hak dan kebebasan warganya, negara juga berupaya
mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh warga
negara.
34
A. Mukthie Fadjar, 2005, Tipe Negara Hukum, Bayumedia Publishing, Malang, h. 16.
35
Dahlan Thaib, 1999, Kedaulatan Rakyat, Negara Hukum, dan Konstitusi , Liberty,
Yogyakarta, h. 46.


Dalam penjelasan UUD 1945 dirumuskan bahwa " Negara Indonesia
berdasar atas hukum (rechtsstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka
(machtsstaat) ". Jadi demikian jelas Negara Indonesia adalah Negara hukum. 36
Negara hukum ditandai oleh empat unsur pokok yaitu :
1) pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia.
2) negara didasarkan pada teori trias politica.
3) pemerintahan diselenggarakan berdasarkan undang-undang
(wetmatig bestuur).
4) ada peradilan administrasi negara yang bertugas menangani kasus
perbuatan
melanggar hukum oleh pemerintah (onrechtmatige overheidsdaad).
Seperti telah diuraikan diatas, salah satu ciri khas dari Negara hukum adalah
adanya pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Termasuk
dalam hak-hak asasi manusia adalah hak konsumen.
Mengingat betapa pentingnya hak-hak konsumen, sehingga melahirkan
pemikiran yang berpendapat bahwa hak-hak konsumen merupakan "Generasi
Keempat Hak Asasi Manusia" yang merupakan kata kunci dalam konsepsi hak asasi
dalam perkembangan umat manusia di masa-masa yang akan datang.
37
Dimana
persoalan hak asasi manusia tidak cukup hanya dipahami dalam konteks hubungan
kekuasan yang bersifat vertikal, tetapi mencakup pula hubungan-hubungan
kekuasaan
36
Bernard Arief Shidarta, 2000, Refleksi Tentang
Struktur Ilmu Hukum, Sebuah Penelitian Tentang Fundasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu
Hukum Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia, Mandar Maju,
Bandung, h. 47.
37
Amstrong Sembiring, 2010, " Menyoal Hak-Hak Konsumen ', diakses 8 Juni 2010,
available from URL : http://www.facebook.com/note.php?note_id


yang bersifat horisontal, antar kelompok masyarakat, antara golongan rakyat atau
masyarakat, dan bahkan antar satu kelompok masyarakat di suatu negara dengan
kelompok masyarakat di negara lain.
Hak konsumen dalam artian yang luas ini dapat disebut sebagai dimensi
baru hak asasi manusia yang tumbuh dan harus dilindungi dari
kemungkinan penyalahgunaan atau tindakan-tindakan sewenang-wenang
dalam hubungan kekuasaan yang bersifat horizontal antara pihak produsen
dengan konsumennya. Konsepsi generasi keempat ini dapat disebut sebagai
Konsepsi Generasi Kedua apabila seluruh corak pemikiran atau konsepsi hak
asasi manusia sebelumnya yang bersifat vertikal dikelompokkan sebagai satu
generasi tersendiri dalam pertumbuhan dan perkembangan konsepsi hak asasi
manusia. Konsepsi Generasi kedua adalah konsepsi hak asasi manusia untuk
mengejar kemajuan ekonomi, sosial dan kebudayaan, termasuk hak atas
pendidikan, hak untuk menentukan status politik, hak untuk menikmati ragam
penemuan-penemuan ilmiah, dan lain-lain sebagainya.
Secara historis mengenai hak-hak dasar konsumen pertama kali
dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat J.F. Kennedy "Presiden yang
pertama kali mengangkat martabat konsumen" saat menyampaikan pidato
revolusioner di depan kongres (US Congress) pada tanggal 15 Maret 1962
tentang Hak konsumen. Ia berujar, "Menurut definisi, konsumen adalah kita
semua. Mereka adalah kelompok ekonomi paling besar yang mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh hampir setiap keputusan ekonomi Publik dan swasta, tetapi
mereka hanya sekelompok penting yang


suaranya nyaris tak didengar." Yang di dalam pesannya kepada Kongres dengan
judul A Special Massage of Protection the Consumer Interest.
Presiden J.F. Kennedy menjabarkan empat hak konsumen sebagai berikut:
(1). the right to safety (hak atas keamanan)
(2). the right to choose (hak untuk memilih)
(3). the right tobe informed (hak mendapatkan informasi)
(4). the right tobe heard (hak untuk didengar pendapatnya). 38
Selanjutnya dalam perkembangannya hak-hak tersebut dituangkan di dalam
Piagam Hak Konsumen yang juga dikenal dengan Kennedy's Hill of Right.
Kemudian muncul beberapa hak konsumen selain itu, yaitu hak ganti rugi, hak
pendidikan konsumen, hak atas pemenuhan kebutuhan dasar dan hak atas
lingkungan yang sehat. Selanjutnya, keempat hak tersebut merupakan bagian dari
Deklarasi Hakhak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB pada tanggal 10 Desember
1948, masingmasing pada pasal 3, 8, 19, 21 dan pasal 26, yang oleh Organisasi
Konsumen Sedunia (International Organization of Consumers Union- IOCU)
ditambahkan empat hak dasar konsumen lainnya, hak untuk memperoleh
kebutuhan hidup, hak untuk memperoleh ganti rugi, hak untuk memperoleh
pendidikan konsumen, hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan
sehat.
Masyarakat Eropa (Europese Ekonomische Gemeenschap atau EEG) juga
menyepakati lima hak dasar konsumen sebagai berikut, hak perlindungan
kesehatan


39
Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, 2001, Hukum tentang Perlindungan Konsumen, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, h. 27.
dan keamanan (recht op bescherming van zijn gezendheid en veiligheid), hak
perlindungan kepentingan ekonomi (recht op bescherming van zijn economische
belangen), hak mendapat ganti rugi (recht op schadevergoeding), hak atas
penerangan (recht op voorlichting en vorming), hak untuk didengar (recht om te
worden gehord).
Dua dekade kemudian setelah Kennedy menyampaikan pidato, pada
tanggal 15 Maret 1983, maka Hari Hak Konsumen dirayakan untuk pertama kali,
dan setelah perjalanan panjang gerakan konsumen sejak pidatonya, hak
konsumen akhirnya diterima secara prinsip oleh pemerintah seluruh dunia dalam
Sidang Majelis Umum PBB (UN General Assembly) pada tanggal 9 April 1985.
Pengakuan hak konsumen dilakukan melalui adopsi UN guidelines for
Consumers Protection. Lobi yang konsisten oleh kelompok konsumen
berdasarkan Guidelines tersebut merupakan kesinambungan untuk meningkatkan
dan memperkuat perlindungan hukum bagi kelanjutan gerakan konsumen di
seluruh dunia baik di negara berkembang maupun di negara maju. Usai Presiden
Amerika Serikat John .F. Kennedy sesudah itu, L.B. Johnson, menambahkan
perlu dikembangkan konsep product warranty dan product liability.
Dan sementara itu, RRC, hak-hak konsumen diakui sebagai hak-hak: (1).
To select commodities and service of their own will; (2). To know the real
circumstances of the price, quality, Weight-measurement, function, ect., of
commodities and service; (3). To have guarantees of quality, weigths and
measures, price, safety, and hygienes as stipulated by law; (4). To request receipts
for payment in purcahsing commodities


and services; (5). To request repairing, replacing, or returning commodities or
service because of unstatisfactory quality according to the standard provided by law
agreed by the parties, to request compensation when persobal or property damage is
caused thereof; (6). To have other rights as stipulated law. Dalam catatan, mengenai
urutan hak-hak diatas tersebut telah beberapa kali diubah dan tidak bersifat
tunggal untuk seluruh negara tersebut. 39
Di Indonesia, mengenai hak-hak konsumen diatur dalam pasal 4 Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yakni :
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa;
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau
jasa yang digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian,
apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.
Disamping hak-hak dalam pasal 4 UUPK, juga terdapat hak-hak
konsumen yang dirumuskan dalam pasal-pasal berikutnya, khususnya dalam
pasal 7 yang

45
Program Studi Magister Ilmu Hukum, 2008, Pedoman Penulisan Usulan
Penelitian dan Penulisan Tesis, Universitas Udayana, h. 11-12.
46
Soerjono Soekanto & Sri Mahmmudji, 1988, Penelitian Hukum Normatif, Rajawali
Press, Jakarta, h. 34

mengatur tentang kewajiban pelaku usaha. Kewajiban dan hak merupakan
antinomi dalam hukum, sehingga kewajiban pelaku usaha dapat dilihat
sebagai hak konsumen.
40

Signifikansi pengaturan hak-hak konsumen melalui Undang-
Undang merupakan bagian dari implementasi sebagai suatu Negara
kesejahteraan, karena Undang-Undang Dasar 1945 di samping sebagai
konstitusi politik juga dapat disebut konstitusi ekonomi, yaitu konstitusi yang
mengandung ide Negara kesejahteraan yang tumbuh berkembang karena
pengaruh sosialisme sejak abad 19. Indonesia melalui Undnag-Undang No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen menetapkan kesembilan hak
konsumen sebagai penjabaran dari pasal-pasal yang bercirikan Negara
kesejahteraan, yaitu pasal 27 ayat (2) dan pasal 33 Undang-Undang Dasar
1945
1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Jenis Penelitian
Penelitian adalah merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan
dengan analisa dan konstruksi yang dilakukan secara metodelogis,
sistematis, dan konsisten.
41
Penelitian yang dilakukan kaitannya dengan
penulisan tesis ini termasuk dalam kategori/jenis penelitian normatif, yaitu
penelitian hukum kepustakaan atau penelitian hukum yang didasarkan pada

47
Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, Cetakan ke-IV, Kencana, Jakarta, h. 141.
data sekunder.
42
Data sekunder yaitu data-data yang bersumber dari data
yang sudah terdokumenkan dalam bentuk bahan hukum.
43

Perlunya penelitian hukum normatif ini adalah beranjak dari
adanya kekaburan norma hukum berkaitan permasalahan penelitian,
sehingga didalam mengkajinya lebih mengutamakan sumber data sekunder,
yaitu berupa bahan hukum primer, sekunder dan tersier.
Dalam kaitannya dengan penelitian hukum, maka Moris L. Cohen dan
Kent. C. Olson memberikan definisi tentang penelitian hukum sebagai
berikut
44
:
Legal research is an assential component of legal practice. It
is process of finding the law that the foverns an activity and
materials that explain or analyse that law. The resource give the
lawyers the knowledge with which orovide accurate and insigful
advise, to draft effective document, or defend their clients rights in
court.
Artinya bahwa penelitian hukum adalah salah satu komponen dari
praktek hukum, yang meliputi proses penemuan hukum dan yang menentukan
suatu kegiatan serta menjelaskan substansi atau analisis hukum. Dalam hal
ini penelitian hukum memberikan sumber pengetahuan kepada praktisi
hukum untuk memberikan ketepatan informasi yang cukup untuk
membuat suatu dokumen atau pembelaan terhadap hak-hak kliennya di
Pengadilan.
1.6.2 Jenis Pendekatan
Penelitian hukum normatif mengenal beberapa jenis pendekatan yang


dapat digunakan, yaitu :
a. Pendekatan Kasus (the Case Approach);
b. Pendekatan Perundang-undangan (the Statute Approach);
c. Pendekatan Fakta (The Fact Approach);
d. Pendekatan Analisa Konsep Hukum (Analitical and Conseptual
Approach);
e. Pendekatan Prasa (Word and Phrase Approach);
f. Pendekatan Sejarah ( Historical Approach); dan
g. Pendekatan Perbandingan (Comparative Approach);
45

Dalam penelitian ini dipergunakan pendekatan perundang-
undangan (the statue approach), pendekatan fakta (fact approach), dan
pendekatan analisa konsep hukum (analytical and conceptual approach).
Permasalahan dikaji dengan mempergunakan interpretasi hukum, serta
kemudian diberikan argumentasi secara teoritik berdasarkan teori-teori dan
konsep hukum yang ada.
1.6.3. Sumber Bahan Hukum
Bahan hukum yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah bahan
hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier. Adapun
bahan-bahan hukum sebagaimana dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang bersifat autoritatif atau
mempunyai otoritas atau memiliki kekuatan mengikat,
46
yaitu:
1) Burgerlijke Wetboek (KUH Perdata). Undang-Undang No. 7 Tahun
1996 tentang Pangan.
2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen.
3) Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

47
Peter Mahmud Marzuki, 2008, Penelitian Hukum, Cetakan ke-IV, Kencana, Jakarta, h. 141.
4) Undang-Undang No. 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal.
5) Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Pangan.
6) Peraturan Pemerintah No. 28/2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi
Pangan
7) Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/SK/VIII/1996
tentang perubahan atas Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
82/Menkes/SK/I/1996 tentang Pencantuman Tulisan " Halal " pada
Label Makanan.
8) Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 180/Menkes. Per/IV/1985
tentang Makanan Daluwarsa yang telah dirubah dengan Keputusan
Dirjen POM No. 02591/B/SK/VIII/91.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan
penjelasan terhadap bahan hukum primer, yaitu meliputi buku-buku,
literature, makalah, tesis, skripsi, dan bahan-bahan hukum tertulis lainnya
yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.
47
Disamping itu, juga
dipergunakan bahan-bahan hukum yang diperoleh melalui electronic
research yaitu melalui internet dengan jalan mengcopy (download)
bahan hukum yang diperlukan. Keunggulan dalam penggunaan
ataupun pemakaian internet antara lain efisien, tanpa batas (without

48
Budi Agus Riswandi, 2003, Hukum Internet, UII Press, Yogyakarta, h. 325.
49
Sunaryati Hartono, 1994, Penelitian Hukum di Indonesia pada akhir abad 20, Alumni,
Bandung, h. 150.
50
Romy Hanitidjo Soemitro, 1988, Metodelogi Penelitian Hukum dan Yurimetri, Ghalia
Indonesia, Jakarta, h. 98.
51 Program Studi Magister Ilmu Hukum UNUD, Op.cit, h. 14-15.
boundry), terbuka 24 jam (24 hours online), interaktif dan terjalin dalam sekejap
(hyperlink).
48

c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu
berupa kamus.
1.6.4 Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui studi dokumentasi. Bahan
hukum yang diperolehnya, diinfentarisasi dan diidentifikasi serta kemudian dilakukan
pengklasifikasian bahan-bahan sejenis, mencatat dan mengolahnya secara
sistematis sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian.
49
Tujuan dari tehnik
dokumentasi ini adalah untuk mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, pendapat-
pendapat, penemuanpenemuan yang berhubungan dengan permasalahan
penelitian.
50

1.6.5 Teknik Analisis
Dari bahan hukum yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini, baik
bahan hukum primer maupun bahan hukum sekunder, dianalisis dengan
menggunakan tehnik deskripsi, interpretasi, argumentasi, evaluasi, dan
sistematisasi.
51
Pengertian dari masing-masing tehnik analisis dimaksud adalah
sebagai berikut :


a. Tehnik deskripsi, adalah uraian apa adanya terhadap suatu kondisi atau proposisi-
proposisi hukum maupun non hukum.
b. Tehnik interpretasi, adalah penggunaan jenis-jenis penafsiran dalam ilmu hukum,
terutama penafsiran kontekstualnya.
c. Tehnik argumentasi, yaitu penilaian yang didasarkan pada alasan-alasan yang
bersifat penalaran hukum.
d. Tehnik evaluasi, yaitu penilaian tepat atau tidak tepat, benar atau salah, sah
atau tidak sah terhadap suatu pandangan atau proporsi, pernyataan rumusan
norma, keputusan, baik yang tertera dalam bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder.
e. Tehnik sistematisasi, adalah upaya mencari kaitan rumusan suatu konsep
hukum atau proposisi hukum antara peraturan perundang-undangan yang
sederajat maupun yang tidak sederajat.


BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
2.1 Pengertian Perlindungan Konsumen
Dalam berbagai literatur ditemukan sekurang-kurangnya dua istilah
mengenai hukum yang mempersoalkan konsumen, yaitu " hukum konsumen " dan "
hukum perlindungan konsumen ".
Istilah " hukum konsumen " dan " hukum perlindungan konsumen "
sudah sangat sering terdengar. Namun, belum jelas benar apa saja yang masuk ke
dalam materi keduanya. Juga, apakah kedua " cabang " hukum itu identik. 52
M.J Leder menyatakan : In a sence there is no such creature as
consumer law . Sekalipun demikian, secara umum sebenarnya hukum konsumen
dan hukum perlindungan konsumen itu seperti yang dinyatakan oleh Lowe,
yakni : &.rules of law which recognize the bargaining weakness of the individual
consumer and which ensure that weakness is not unfairly exploted. 53
Karena posisi konsumen yang lemah maka ia harus dilindungi oleh
hukum. Salah satu sifat, sekaligus tujuan hukum adalah memberikan
perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat. Jadi, sebenarnya hukum
konsumen dan hukum perlindungan konsumen adalah dua bidang hukum yang sulit
dipisahkan dan ditarik batasnya.
52
Shidarta, Op.cit, h. 9.
53
Ibid, h. 23.


Oleh Az. Nasution dijelaskan bahwa kedua istilah itu berbeda, yaitu bahwa
hukum perlindungan konsumen adalah bagian dari hukum konsumen. Hukum
konsumen menurut beliau adalah :
Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur hubungan dan
masalah antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang
dan atau jasa konsumen, di dalam pergaulan hidup.
Sedangkan hukum perlindungan konsumen diartikan sebagai :
Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur dan
melindungi konsumen dalam hubungan dan masalahnya dengan para penyedia
barang dan atau jasa konsumen.
Lebih lanjut mengenai definisinya itu, Az. Nasution menjelaskan sebagai
berikut :
Hukum konsumen pada pokoknya lebih berperan dalam hubungan dan
masalah konsumen yang kondisi para pihaknya berimbang dalam
kedudukan sosial ekonomi, daya saing, maupun tingkat pendidikan.
Rasionya adalah sekalipun tidak selalu tepat, bagi mereka masing-
masing lebih mampu mempertahankan dan menegakkan hak-hak
mereka yang sah. Hukum perlindungan konsumen dibutuhkan apabila
kondisi pihak-pihak yang mengadakan hubungan hukum atau bermasalah
dalam masyarakat itu tidak seimbang.
Pada dasarnya, baik hukum konsumen maupun hukum perlindungan
konsumen membicarakan hal yang sama, yaitu kepentingan hukum (hak-hak)
konsumen. Bagaimana hak-hak konsumen itu diakui dan diatur di dalam hukum serta
bagaimana ditegakkan di dalam praktik hidup bermasyarakat, itulah yang menjadi
materi pembahasannya. Dengan demikian, hukum perlindungan konsumen atau
hukum konsumen dapat diartikan sebagai keseluruhan peraturan hukum
yang


mengatur hak-hak dan kewajiban-kewajiban konsumen dan produsen yang timbul
dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhannya.
Kata keseluruhan dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa di dalamnya
termasuk seluruh pembedaan hukum menurut jenisnya. Jadi, termasuk di
dalamnya, baik aturan hukum perdata, pidana, administrasi Negara,
maupun hukum internasional. Sedangkan cakupannya adalah hak dan
kewajiban serta cara-cara pemenuhannya dalam usahanya untuk memenuhi
kebutuhannya, yaitu bagi konsumen mulai dari usaha untuk mendapatkan
kebutuhannya dari produsen, meliputi : informasi, memilih, harga sampai pada
akibat-akibat yang timbul karena pengguna kebutuhan itu, misalnya untuk
mendapatkan penggantian kerugian. Sedangkan bagi produsen meliputi
kewajiban yang berkaitan dengan produksi, penyimpanan, peredaran dan
perdagangan produk, serta akibat dari pemakaian produk itu.
Dengan demikian, jika perlindungan konsumen diartikan sebagai segala
upaya yang menjamin adanya kepastian pemenuhan hak-hak konsumen sebagai
wujud perlindungan kepada konsumen, maka hukum perlindungan konsumen
tiada lain adalah hukum yang mengatur upaya-upaya untuk menjamin
terwujudnya perlindungan hukum terhadap kepentingan konsumen.
Pasal 1 angka 1 UU No. 8 Tahun 1999 memberi pengertian perlindungan
konsumen sebagai segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk
memberikan perlindungan kepada konsumen.
Kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen
tersebut antara lain adalah dengan meningkatkan harkat dan martabat
konsumen serta


54
Yusuf Sofie II, Op.cit, h. 26.
55
Taufik Simatupang, Op.cit, h. 11-13.
membuka akses informasi tentang barang dan/atau jasa baginya, dan
menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang jujur dan bertanggung jawab
(konsideran huruf d, UU).
Khusus mengenai perlindungan konsumen, menurut Yusuf Shofie, undang-
undang perlindungan konsumen di Indonesia mengelompokkan norma-norma
perlindungan konsumen ke dalam 2 (dua) kelompok, yaitu 54:
1. Perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha.
2. Ketentuan tentang pencantuman klausula baku.
Dengan adanya pengelompokan tersebut ditujukan untuk memberikan
perlindungan terhadap konsumen dari atau akibat perbuatan yang dilakukan
pelaku usaha. Berkenaan dengan perlindungan konsumen dapat dirinci bidang-
bidang perlindungan konsumen, yaitu sebagai berikut :55
1. keselamatan fisik;
2. peningkatan serta perlindungan kepentingan ekonomis konsumen;
3. standard untuk keselamatan dan kualitas barang serta jasa;
4. pemerataan fasilitas kebutuhan pokok;
5. upaya-upaya untuk memungkinkan konsumen melaksanakan tuntutan
ganti kerugian;
6. program pendidikan dan penyebarluasan informasi;


56
Janus Sidabalok, 2010, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung, h. 6.
7. pengaturan masalah-masalah khusus seperti makanan, minuman, obat-
obatan dan kosmetik.
Sementara itu, Janus Sidabalok mengemukakan ada 4 (empat) alasan pokok
mengapa konsumen perlu dilindungi, yaitu sebagai berikut
56
:
1. Melindungi konsumen sama artinya dengan melindungi seluruh bangsa
sebagaimana diamanatkan oleh tujuan pembangunan nasional menurut
UUD 1945;
2. Melindungi konsumen perlu untuk menghindarkan konsumen dari dampak
negative penggunaan teknologi;
3. Melindungi konsumen perlu untuk melahirkan manusia-manusia yang
sehat rohani dan jasmani sebagai pelaku-pelaku pembangunan, yang
berarti juga untuk menjaga kesinambungan pembangunan nasional;
4. Melindungi konsumen perlu untuk menjamin sumber dana
pembangunan yang bersumber dari masyarakat konsumen.
Sedangkan menurut Setiawan, perlindungan konsumen mempunyai 2
(dua) aspek yang bermuara pada praktik perdagangan yang tidak jujur (unfair
trade practices) dan masalah keterikatan pada syarat-syarat umum dalam suatu
perjanjian. Dalam pandangan ini secara tegas dinyatakan bahwa upaya untuk
melakukan perlindungan konsumen disebabkan adanya tindakan-tindakan atau
perbuatan para pelaku usaha dalam menjalankan aktifitas bisnisnya yang tidak
jujur sehingga dapat


57
M. Ali Mansyur, 2007, Penegakan Hukum Tentang Tanggung Gugat Produsen Dalam
Perwujudan Perlindungan Konsumen, Genta Press, Yogyakarta, h. 81.
merugikan konsumen, praktek-praktek yang dijalankan salah satunya
mengunakan bahan kimia sebagai bahan campuran dalam pengawetan
makanan, misalanya formalin. Menurut Adijaya Yusuf dan John W. Head,
perlindungan konsumen adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
perlindungan hukum yang diberikan kepada konsumen dan usahanya untuk
memenuhi kebutuhannya dari hal-hal yang dapat merugikan konsumen. Undang-
undang perlindungan konsumen mempunyai suatu misi yang besar yaitu untuk
mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur sesuai
yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.
Menurut Ali Mansyur, kepentingan konsumen dapat dibagi menjadi empat
macam kepentingan, yaitu sebagai berikut
57
:
1. Kepentingan fisik;
Kepentingan fisik berkenaan dengan badan atau tubuh yang berkaitan dengan
keamanan dan keselamatan tubuh dan jiwa dalam penggunaan barang
dan/atau jasa. Kepentingan fisik ini juga berkaitan dengan kesehatan dan
keselamatan jiwa. Kepentingan fisik konsumen ini harus diperhatikan oleh
pelaku usaha.
2. Kepentingan sosial dan lingkungan;
Kepentingan sosial dan lingkungan konsumen adalah terwujudnya keinginan
konsumen untuk memperoleh hasil yang optimal dari penggunaan sumber-
sumber ekonomi mereka dalam mendapatkan barang dan jasa yang


merupakan kebutuhan hidup, sehingga konsumen memerlukan informasi
yang benar mengenai produk yang mereka konsumen, sebab jika tidak
maka akan terjadi gejolak sosial apabila konsumen mengkonsumsi produk
yang tidak aman.
3. Kepentingan ekonomi;
Kepentingan ekonomi para pelaku usaha untuk mendapatkan laba yang
sebesar-besarnya adalah sesuatu yang wajar, akan tetapi dayabeli
konsumen juga harus dipertimbangkan dalam artian pelaku usaha jangan
memikirkan keuntungan semata tanpa merinci biaya riil produksi atas suatu
produk yang dihasilkan.
4. Kepentingan perlindungan hukum.
Kepentingan hukum konsumen adalah akses terhadap keadilan (acces to
justice), konsumen berhak untuk dilindungi dari perlakuan-perlakuan
pelaku usaha yang merugikan.
2.2. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Dalam setiap undang-undang yang dibuat pembentuk undang-undang,
biasanya dikenal sejumlah asas atau prisip yang mendasari diterbitkannya undang-
undang tersebut. Asas-asas hukum merupakan fondasi suatu undang-undang
dan


61
Satjipto Rahardjo, 1991, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, (selanjutnya
disebut Satjipto Rahardjo I),h. 87.
peraturan pelaksananya.
58
Bila asas-asas dikesampingkan, maka runtuhlah bangunan
undang-undang itu dan segenap peraturan pelaksanaannya.
59

Sudikno Mertokusumo memberikan ulasan asas hukum sebagai berikut : ~
&bahwa asas hukum bukan merupakan hukum kongkrit, melainkan merupakan
pikiran dasar yang umum dan abstrak, atau merupakan latar belakang peraturan yang
kongkrit yang terdapat dalam dan di belakang setiap system hukum yang
terjelma dalam peraturan perundang-undangan dan putusan hakim yang
merupakan hukum positif dan dapat diketemukan dengan mencari sifat-sifat atau
cirri-ciri yang umum dalam peraturan kongkrit tersebut .
60

Sejalan dengan pendapat Sudikno tersebut, Satjipto Rahardjo berpendapat
bahwa asas hukum bukan merupakan peraturan hukum, namun tidak hukum
yang bisa dipahami tanpa mengetahui asas-asas hukum yang ada didalamnya,
asas-asas hukum memberi makna etis kepada setiap peraturan-peraturan hukum
serta tata hukum.
61
Asas hukum ini ibarat jantung peraturan hukum atas dasar dua
alasan yaitu, pertama asas hukum merupakan landasan yang paling luas bagi
lahirnya suatu peraturan hukum. Ini berarti bahwa penerapan peraturan-peraturan
hukum itu dapat dikembalikan kepada asas-asas hukum. Kedua, karena asas
hukum mengandung
58
Abdoel Djamali, 2006, Pengantar Ilmu Hukum Indonesia, Raja
Grafindo, Jakarta, h. 3.
59
Yusuf Sofie, 2002, Pelaku Usaha, Konsumen dan Tindak Korporasi, Ghalia Indonesia,
Jakarta, (selanjutnya disingkat Yusuf Sofie III)h. 25.
60
Sudikno Mertokusumo, 1996, Penemuan Hukum : Suatu Pengantar, Liberty, Jakarta, h. 5-
6.

62
Ibid, h. 85.
tuntutan etis, maka asas hukum diibaratkan sebagai jembatan antara peraturan-
peraturan hukum dengan cita-cita sosial dan pandangan etis masyarakatnya.
62

Di dalam usaha memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen,
terdapat beberapa asas yang terkandung di dalamnya. Perlindungan konsumen
dilakukan sebagai bentuk usaha bersama antara masyarakat (konsumen),
pelaku usaha dan Pemerintah sebagai pembentuk Peraturan Perundang-
Undangan yang berkaitan dengan Perlindungan Konsumen, hal ini terkandung
dalam ketentuan pasal 2 UUPK. Kelima asas tersebut adalah :
1. Asas manfaat
Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan.
Asas ini menghendaki bahwa pengaturan dan penegakan hukum perlindungan
konsumen tidak dimaksudkan untuk menempatkan salah satu pihak diatas
pihak yang lain atau sebaliknya, tetapi adalah untuk memberikan kepada masing-
masing pihak, pelaku usaha (produsen) dan konsumen, apa yang menjadi
haknya.
Dengan demikian, diharapkan bahwa pengaturan dan penegakan hukum
perlindungan konsumen bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat dan pada
gilirannya bermanfaat bagi kehidupan berbangsa.
2. Asas keadilan


Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat
diwujudkan secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada
konsumen dan pelaku
usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara
adil. Asas ini menghendaki bahwa pengaturan dan penegakan hukum
perlindungan konsumen ini, konsumen dan pelaku usaha (produsen) dapat
berlaku adil melalui perolehan hak dan penunaian kewajiban secara seimbang.
Karena itu, UUPK mengatur sejumlah hak dan kewajiban konsumen dan
pelaku usaha.
3. Asas keseimbangan
Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan keseimbangan antara
kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun
spiritual.
Asas ini menghendaki agar konsumen, pelaku usaha (produsen), dan Pemerintah
memperoleh manfaat yang seimbang dari pengaturan dan penegakan hukum
perlindungan konsumen. Kepentingan antara konsumen, pelaku usaha
(produsen) dan Pemerintah diatur dan harus diwujudkan secara seimbang
sesuai dengan hak dan kewajibannya masing-masing dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Tidak ada salah satu pihak yang mendapat
perlindungan atas kepentingannya yang lebih besar dari pihak lain sebagai
komponen bangsa dan Negara.
4. Asas keamanan dan keselamatan konsumen
Asas ini dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas keamanan dan
keselamatan kepada konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan
barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan.


Asas ini menghendaki adanya jaminan hukum bahwa konsumen akan
memperoleh manfaat dari produk yang dikonsumsi/dipakainya, dan sebaliknya
bahwa produk itu tidak akan mengancam ketentraman dan keselamatan jiwa
dan harta bendanya. Karena itu Undang-Undang ini membebankan
sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi dan menetapkan sejumlah larang
yang harus dipatuhi oleh produsen dalam memperoduksi dan mengedarkan
produknya.
5. Asas kepastian hukum
Asas ini dimaksudkan agar baik pelaku usaha maupun konsumen menaati
hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan
konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum.
Artinya Undang-Undang ini mengharapkan bahwa aturan-aturan tentang hak dan
kewajiban yang terkandung di dalam undang-undang ini harus diwujudkan dalam
kehidupan sehari-hari sehingga masing-masing pihak memperoleh keadilan.
Oleh karena itu, Negara bertugas dan menjamin terlaksananya undang-
undang ini sesuai dengan bunyinya.
Memperhatikan substansi pasal 2 UUPK demikian pula penjelasannya,
tampak bahwa perumusannya mengacu pada filosofi pembangunan nasional yaitu
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah Negara
Republik Indonesia.
Kelima asas yang disebutkan dalam pasal tersebut, bila diperhatikan
substansinya, dapat dibagi menjadi 3 (tiga) asas yaitu :


1. Asas kemanfaatan yang didalamnya meliputi asas keamanan dan keselamatan
konsumen,
2. Asas keadilan yang didalamnya meliputi asas keseimbangan, dan
3. Asas kepastian hukum.
Radbruch menyebutkan keadilan, kemanfaatan, dan kepastian sebagai "
tiga ide dasar hukum " atau " tiga nilai dasar hukum ", yang berarti dapat
dipersamakan dengan asas hukum. Keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum
juga oleh banyak jurist menyebut sebagai tujuan hukum.
Asas keamanan dan keselamatan konsumen yang dikelompokkan ke
dalam asas manfaat oleh karena keamanan dan keselamatan konsumen itu
sendiri bagian dari manfaat penyelenggaraan perlindungan yang diberikan
kepada konsumen disamping kepentingan pelaku usaha secara keseluruhan.
Sedangkan asas keseimbangan dikelompokkan ke dalam asas keadilan,
mengingat hakikat keseimbangan yang dimaksud adalah juga keadilan bagi
kepentingan masing-masing pihak, yaitu konsumen, pelaku usaha, dan
Pemerintah.
Kepentingan Pemerintah dalam hubungan ini tidak dapat dilihat dalam
hubungan transaksi dagang secara langsung menyertai pelaku usaha dan konsumen.
Kepentingan Pemerintah dalam rangka mewakili kepentingan publik yang
kehadirannya tidak secara langsung di antara para pihak tetapi melalui berbagai
pembatasan dalam bentuk kebijakan yang dituangkan dalam berbagai peraturan
perundang-undangan.


64
Ibid.
Keseimbangan perlindungan antara pelaku usaha dan konsumen
menampakkan fungsi hukum yang menurut Roscoe Pound sebagai sarana
pengendalian hidup bermasyarakat dengan menyeimbangkan kepentingan-
kepentingan yang ada dalam masyarakat atau dengan kata lain sebagai sarana kontrol
sosial.
63

Keseimbangan perlindungan hukum terhadap pelaku usaha dan
konsumen tidak terlepas dari adanya pengaturan tentang hubungan-hubungan
hukum yang terjadi antara para pihak. Menurut Bellefroid, secara umum
hubungan-hubungan hukum yang bersifat publik maupun privat dilandaskan pada
prinsip-prinsip atau asas kebebasan, persamaan dan solidaritas.
64
Dengan prinsip atau
asas kebebasan, subyek hukum bebas melakukan apa yang diinginkannya dengan
dibatasi oleh keinginan orang lain dan memelihara akan ketertiban sosial.
Dengan prinsip atau asas kesamaan, setiap individu mempunyai
kedudukan yang sama di dalam hukum untuk melaksanakan dan meneguhkan
hak-haknya. Dalam hal ini hukum memberikan perlakuan yang sama
terhadap individu. Sedangkan prinsip atau asas solidaritas sebenarnya
merupakan sisi balik dari kebebasan. Apabila dalam prinsip atau asas kebebasan
yang menonjol adalah hak, maka di dalam prinsip atau asas solidaritas yang
menonjol adalah kewajiban, dan seakan-akan setiap individu sepakat untuk
tetap mempertahankan kehidupan bermasyarakat yang merupakan modus
survival manusia. Melalui prinsip atau asas
63
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, 2008, Hukum
Perlindungan Konsumen, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 28.


solidaritas dikembangkan kemungkinan Negara mencampuri urusan yang
sebenarnya privat dengan alasan tetap terpeliharanya kehidupan berama. Dalam
hubungan inilah kepentingan Pemerintah sebagaimana dimaksudkan dalam asas
keseimbangan diatas yang sekaligus sebagai karakteristik dari apa yang dikenal
dalam kajian hukum ekonomi.
Sejak masuknya paham welfare state, Negara telah ikut campur dalam
perekonomian rakyatnya melalui berbagai kebijakan yang terwujud dalam bentuk
peraturan perundang-undangan, termasuk dalam hubungan kontraktual antara
pelaku usaha dan konsumen. Pengaturan hal-hal tertentu yang berkaitan dengan
masuknya paham Negara modern melalui welfare state, kita tidak menemukan lagi
pengurusan kepentingan ekonomi oleh rakyat tanpa melibatkan Pemerintah
sebagai lembaga eksekutif di dalam suatu Negara. Sesuai fungsi kehadiran Negara,
maka Pemerintah sebagai lembaga eksekutif bertanggung jawab memajukan
kesejahteraan rakyatnya yang diwujudkan dalam suatu pembangunan nasional.
Campur tangan Pemerintah di Indonesia sendiri dapat diketahui dari isi Pembukaan
dan pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, serta dalam GBHN dan dalam berbagai
peraturan perundang-undangan yang menjadi aturan pelaksanaannya, termasuk
Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Dalam pasal 2 UUPK secara jelas
dapat diketahui bahwa perlindungan secara jelas dapat diketahui bahwa
perlindungan konsumen diselenggarakan dalam rangka pembangunan nasional,
yang menjadi tanggung jawab Pemerintah.
Mengacu pada pasal 1 ayat 1 Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 disebutkan
bahwa :


~ perlindungan konsumen sebagai segala upaya yang menjamin adanya
kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen ."
Kata segala upaya adalah menyiratkan bahwa perlindungan konsumen
bertujuan untuk membentengi tindakan sewenang-wenangan dan agar pihak
pelaku usaha memberikan hak-hak yang dimiliki oleh konsumen sebagaimana
mestinya. Agar segala upaya tersebut berjalan efektif, ukurannya secara kualitatif
ditentukan dalam undang-undang perlindungan konsumen dan undang-undang
lainnya juga dimaksudkan dan masih berlaku untuk memberikan
perlindungan terhadap kepentingan konsumen, baik dalam hukum privat
(perdata) maupun dalam bidang hukum public (hukum pidana maupun hukum
administrasi negara).
Tujuan Perlindungan Konsumen, sebagaimana termaksud dalam
ketentuan pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen bertujuan :
a. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri;
b. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya
dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
c. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
d. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam
berusaha;
f. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan konsumen.


65
Achmad Ali, 2002, Menguak Takbir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis),
Cetakan Kedua, PT. Toko Gunung Agung Tbk, Jakarta, (selanjutnya disebut Achmad Ali I), h. 25.
Achmad Ali mengatakan bahwa " masing-masing undang-undang
memiliki tujuan khusus .
65
Hal itu tampak dalam pengaturan pasal 3 Undang-
Undang No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yang juga mengatur
tujuan khusus perlindungan konsumen sekaligus membedakan tujuan umum.
Rumusan tujuan perlindungan konsumen huruf a dan e mencerminkan tujuan
hukum mendapatkan keadilan. Sedangkan rumusan huruf a, b, termasuk c dan d
serta huruf f mencerminkan tujuan hukum memberikan kemanfaatan, dan tujuan
hukum khusus yang diarahkan untuk tujuan kepastian hukum tercermin dalam
rumusan huruf d.
Pengelompokan ini tidak berlaku mutlak, oleh karena seperti yang dapat
kita lihat dalam rumusan pada huruf a sampai dengan huruf f terdapat tujuan yang
dapat dikualifikasi sebagai tujuan ganda.
Kesulitan memenuhi ketiga tujuan hukum (umum) sekaligus sebagaimana
dikemukakan sebelumnya, menjadikan sejumlah tujuan khusus dalam huruf a sampai
dengan huruf f dari pasal 3 tersebut hanya dapat tercapai secara maksimal, apabila
didukung oleh keseluruhan subsistem perlindungan yang diatur dalam undang-
undang ini, tanpa mengabaikan fasilitas penunjang dan kondisi masyarakat. Unsur
masyarakat sebagaimana dikemukakan berhubungan dengan persoalan kesadaran
hukum dan ketaatan hukum, yang seterusnya menentukan efektivitas Undang-Undang
Perlindungan Konsumen, sebagaimana dikemukakan oleh Achmad Ali
bahwa


kesadaran hukum, ketaatan hukum dan efektivitas perundang-undangan adalah
tiga unsur yang saling berhubungan.
66

Agar tujuan hukum perlindungan konsumen ini dapat berjalan sebagaimana
seperti yang telah dicita-citakan, hal ini harus diperkuat oleh kesatuan dari
keseluruhan sub sistem yang terkandung dalam undang-undang perlindungan
konsumen didukung oleh sarana dan fasilitas yang menunjang.
2.3 Hak dan Kewajiban Konsumen
Perlindungan hukum dapat diartikan perlindungan oleh hukum atau
perlindungan dengan menggunakan pranata dan sarana hukum. Ada beberapa cara
perlindungan secara hukum, antara lain sebagai berikut :67
1) membuat peraturan (by giving regulation), yang bertujuan untuk :
a. Memberikan hak dan kewajiban;
b. Menjamin hak-hak para subyek hukum;
2) Menegakkan peraturan (by the law enforcement) melalui :
a. Hukum administrasi Negara yang berfungsi untuk mencegah (preventif)
terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen, dengan perijinan dan
pengawasan;
66
Achmad Ali, Menjelajahi Kajian Empiris
Terhadap Hukum, 1988, Yarsif Watampone, Jakarta, (selanjutnya disebut Achmad Ali II),h. 191.
67
Wahyu Sasongko, 2007, Ketentuan-Ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen,
Universitas Lampung, Bandar Lampung, h. 31.


b. Hukum pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (repressive) setiap
pelanggaran terhadap peraturan-undangan, dengan cara
mengenakan sanksi hukum berupa sanksi pidana dan hukuman;
c. Hukum perdata yang berfungsi untuk memulihkan hak (curative,
recovery), dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian.
Istilah " perlindungan konsumen " berkaitan dengan perlindungan
hukum. Oleh karena itu, perlindungan konsumen mengandung aspek hukum.
Adapun materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekadar fisik,
melainkan terlebih-lebih hak-haknya yang bersifat abstrak. Dengan kata lain,
perlindungan konsumen sesungguhnya identik dengan perlindungan yang
diberikan hukum tentang hak-hak konsumen.
Sebagaimana disampaikan Munir Fuadi, kehadiran suatu kaedah hukum (legal
procept), aturan hukum (regulayuris), alat hukum (remedium juris) dan ketegakan
hukum (law enforcement) yang menatap adalah dambaan masyarakat Indonesia
sekarang, sehingga para konsumen, produsen, bahkan segenap masyarakat akan
memetik hasilnya.
68

Secara historis mengenai hak-hak dasar konsumen pertama kali
dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat J.F. Kennedy. J.F Kennedy adalah
Presiden yang pertama kali mengangkat martabat konsumen saat menyampaikan
pidato revolusioner di depan kongres (US Congress) pada tanggal 15 Maret 1962
tentang Hak konsumen.


Ia berujar, "Menurut definisi, konsumen adalah kita semua. Mereka adalah kelompok
ekonomi paling besar yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hampir setiap
keputusan ekonomi Publik dan swasta, tetapi mereka hanya sekelompok penting yang
suaranya nyaris tak didengar."
Dalam pesannya kepada Kongres dengan judul A Special Massage of
Protection the Consumer Interest, Presiden J.F. Kennedy menjabarkan empat hak
konsumen sebagai berikut:
(1). the right to safety (hak atas keamanan);
(2). the right to choose (hak untuk memilih);
(3). the right tobe informed (hak mendapatkan informasi);
(4). the right tobe heard (hak untuk didengar pendapatnya).
Selanjutnya dalam perkembangannya hak-hak tersebut dituangkan di dalam
Piagam Hak Konsumen yang juga dikenal dengan Kennedy's Hill of Right.
Kemudian muncul beberapa hak konsumen selain itu, yaitu hak ganti
rugi, hak pendidikan konsumen, hak atas pemenuhan kebutuhan dasar dan hak
atas lingkungan yang sehat.
Selanjutnya, keempat hak tersebut merupakan bagian dari Deklarasi Hak-
hak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB pada tanggal 10 Desember 1948,
masingmasing pada pasal 3, 8, 19, 21 dan pasal 26, yang oleh Organisasi Konsumen
Sedunia (International Organization of Consumers Union- IOCU) ditambahkan
empat hak dasar konsumen lainnya, hak untuk memperoleh kebutuhan
hidup, hak untuk


memperoleh ganti rugi, hak untuk memperoleh pendidikan konsumen, hak untuk
memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat.
Masyarakat Eropa (Europese Ekonomische Gemeenschap atau EEG) juga
menyepakati lima hak dasar konsumen sebagai berikut :
1. hak perlindungan kesehatan dan keamanan (recht op bescherming van zijn
gezendheid en veiligheid);
2. hak perlindungan kepentingan ekonomi (recht op bescherming van zijn
economische belangen);
3. hak mendapat ganti rugi (recht op schadevergoeding);
4. hak atas penerangan (recht op voorlichting en vorming);
5. hak untuk didengar (recht om te worden gehord).
Dua dekade kemudian setelah Kennedy menyampaikan pidato, pada
tanggal 15 Maret 1983, maka Hari Hak Konsumen dirayakan untuk pertama kali,
dan setelah perjalanan panjang gerakan konsumen sejak pidatonya, hak
konsumen akhirnya diterima secara prinsip oleh pemerintah seluruh dunia dalam
Sidang Majelis Umum PBB (UN General Assembly).
Pengakuan hak konsumen dilakukan melalui adopsi UN Guidelines for
Consumers Protection. Di dalam pedoman Perlindungan Bagi Konsumen yang
dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN-Guidelines for Consumer Protection)
melalui Resolusi PBB No. 39/248 pada tanggal 9 April 1985, pada Bagian II tentang
Prinsip-Prinsip Umum, Nomor 3 dikemukakan bahwa kebutuhan-kebutuhan
konsumen yang diharapkan dapat dilindungi oleh setiap Negara di dunia adalah :


1. Perlindungan dari barang-barang yang berbahaya bagi kesehatan dan
keamanan konsumen;
2. Perlindungan kepentingan-kepentingan ekonomis konsumen;
3. Hak konsumen untuk mendapatkan informasi sehingga mereka dapat memilih
sesuatu yang sesuai dengan kebutuhannya;
4. Pendidikan konsumen;
5. Tersedianya ganti rugi bagi konsumen;
6. Kebebasan dalam membentuk lembaga konsumen atau lembaga lain yang
sejenis dan memberikan kesempatan bagi lembaga-lembaga tersebut
untuk mengemukakan pandangan mereka dalam proses pengambilan
keputusan. Resolusi ini lahir berkat perjuangan panjang selama kurang
lebih sepuluh
tahun dari lembaga-lembaga konsumen di seluruh dunia yang dipimpin oleh
International Organization of Consumers Union (IOCU).
Usai Presiden Amerika Serikat John .F. Kennedy sesudah itu, L.B. Johnson,
menambahkan perlu dikembangkan konsep product warranty dan product
liability. Dan sementara itu, RRC, hak-hak konsumen diakui sebagai hak-hak:
1. To select commodities and service of their own will;
2. To know the real circumstances of the price, quality, Weight-measurement,
function, ect., of commodities and service;
3. To have guarantees of quality, weigths and measures, price, safety, and
hygienes as stipulated by law;
4. To request receipts for payment in purcahsing commodities and services;


69
C. Tantri D. Sulastri, 1995, Gerakan Organisasi Konsumen, Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia, Jakarta, h. 18.
5. To request repairing, replacing, or returning commodities or service because of
unstatisfactory quality according to the standard provided by law agreed by the
parties, to request compensation when persobal or property damage is caused
thereof;
6. To have other rights as stipulated law.
Lahirnya gerakan perlindungan konsumen di Negara-negara maju,
adalah bukti adanya hak-hak konsumen dijunjung tinggi dan dihargai, demikian juga
dalam perkembangannya di Indonesia. Era globalisasi yang ditandai dengan
membanjirnya aneka macam produk barang dan/atau jasa di pasaran, telah
menuntut pula dilindunginya pihak konsumen sebagai pemakai produk tersebut.
69
Hak konsumen di Indonesia sebagaimana tertuang dalam pasal 4 UU No. 8
Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah sebagai berikut :
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa;
Hak ini mengandung arti bahwa konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan
pemanfaatan barang dan/ atau jasa yang akan dikonsumsi, mendapatkan jaminan
keamanan dan keselamatannya secara jasnmani maupun rohani.
Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada kedudukan
utama karena berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir bahwa konsumen
(terutama pembeli) adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha.


Falsafah yang disebut caveat emptor (let the buyer beware) ini mencapai
puncaknya pada abad 19 seiring dengan berkembangnya paham rasional di
Amerika Serikat. Dalam perkembangannya kemudian prinsip yang merugikan
konsumen ini telah ditinggalkan.
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa keamanan dan keselamatan
merupakan hal yang utama bagi manusia. Hanya saja disadari atau tidak,
penghargaan orang terhadap hal itu berbeda-beda. Hal ini tergantung pada tingkat
pendapatan dan kepedulian konsumen itu sendiri. Dan secara khusus konsumen di
negara Dunia Ketiga (termasuk Indonesia) karena mayoritas dalam kondisi
rentan, maka arti penting dari hak tersebut masih banyak diabaikan.
Berangkat dari kondisi konsumen yang masih rentan, baik secara ekonomi
maupun sosial, maka Undang-Undang Perlindungan Konsumen memandang perlu
menggariskan etika dan peraturan yang mewajibkan pelaku usaha untuk
menjamin kemanan dan keselamatan. Untuk implementasinya, selanjutnya
diperlukan peranan dari berbagai pihak, khususnya Pemerintah, secara
intensif dalam menyusun suatu peraturan maupun kontrol atas penerapan
peraturan tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari dengan mudah dapat dilihat bahwa hak atas
keamanan dan keselamatan masih diabaikan. Kekurang mampuan produk-
produk negeri kita menembus pasar internasional adalah suatu bukti dimana
produk dari para produsen dalam negeri relatif masih kurang baik. Dan pasar
internasional -


dimana tingkat kompetisinya cukup tinggi, jelas akan menyingkirkan
produk-
produk yang tidak mempertimbangkan keamanan dan keselamatan konsumen.
Dengan demikian, pada dasarnya kepedulian produsen terhadap keamanan dan
keselamatan konsumen, justru akan menguntungkan semua pihak. Sementara
kepedulian konsumen akan haknya juga akan menjadi pendorong bagi kebijakan-
kebijakan baik pelaku usaha maupun pemerintah, sehingga menjadi lebih
sempurna. Baik langsung maupun tidak, hal ini akan membantu
penggalangan cinta produksi dalam negeri, serta pemasukan devisa melalui
ekspor ke luar negeri.
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan;
Mengkonsumsi suatu barang atau jasa harus berangkat dari kebutuhan dan
kecocokan konsumen. Bagi konsumen golongan menengah ke atas yang memiliki
kekuatan materi, mungkin saja tidak mempunyai masalah dengan hak pilih.
Namun bagi konsumen golongan bawah, dimana kemampuan daya belinya relatif
rendah, maka hal ini menjadi masalah. Ketidakberdayaan konsumen golongan ini
umumnya terletak pada pengetahuan mutu suatu barang dan / atau jasa. Sekalipun
mereka mengetahui adanya ancaman yang terselip dari barang yang dikonsumsi
tersebut, tetap saja konsumen golongan ini akan mengkonsumsi barang/ jasa
tersebut karena sesuai dengan daya belinya.


Disamping itu hak konsumen dalam memilih barang atau jasa tidak akan ada
artinya bila pengadaan barang atau jasa dimaksud dilakukan secara
monopoli. Untuk kasus seperti ini, lagi-lagi golongan konsumen menengah
ke atas tetap dapat mempraktekkan hak pilihnya, misalnya dengan mencari
alternatif pilihan barang atau jasa yang lain tanpa mempersoalkan harganya.
Namun bagi golongan konsumen dengan penghasilan rendahlah yang akan
mengalami tekanan cukup parah dalam merealisasikan hak pilihnya.
Oleh sebab itu dalam menembus pembatasan akan hak pilih ini, sudah saatnya
konsumen menggalang kekuatan dengan meningkatkan rasa solidaritas. Karena
dengan cara penggalangan kekuatan itulah kekuatan konsumen akan dapat
terwujud.
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa;
Informasi yang benar serta lengkap dari suatu produk barang/ jasa harus
disertakan oleh produsen. Hal ini sangat penting, karena kelangkaan ataupun
kekeliruan memberikan informasi akan memberikan gambaran yang salah dan
membahayakan bagi konsumen.
Banyak ragam dan cara pelaku usaha dalam menyampaikan informasi. Antara
lain dapat dilakukan melalui: (a). disampaikan secara langsung; (b). melalui
media komunikasi, seperti iklan; (c). dicantumkan dalam label barang atau
jasa.
Dengan demikian tujuan informasi dari suatu produk, baik disampaikan secara
langsung atau melalui iklan dan label, bukan semata untuk perluasan pasar
saja,


tetapi juga menyangkut masalah informasi secara keseluruhan menyangkut
kelebihan dan kekurangan atas produk tersebut, terutama dalam hal keamanan dan
keselamatan konsumen.
Pemberian batas kadaluarsa, kandungan bahan serta sejumlah peringatan dan
aturan penggunaan lainnya harus disertakan dan diberikan informasi secara
benar pada konsumen. Namun apabila hal-hal tersebut tidak dapat diberikan
oleh produsen/ pedagang, maka konsumen berhak untuk menuntutnya.
Terhadap hak atas informasi ini, konsumen perlu waspada mengingat
seringnya pihak produsen/ pedagang melakukan penyampaian informasi secara
berlebihan. Sehingga, dalam banyak hal, pihak produsen/ pedagang tanpa
tersadari sering mendorong konsumen untuk bertindak tidak lagi rasionil.
Untuk itu konsumen perlu selektif terhadap informasi yang diberikan dan
berusaha mencocokkan dengan kenyataan yang ada pada produk tersebut.
Tak kalah pentingnya, konsumen pun harus jeli dalam membedakan mana
rayuan, mana promosi dan mana kenyataannya. Hal itu merupakan tindakan
yang bijak daripada mengalami kerugian di belakang hari.
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau
jasa yang digunakan;
Keselamatan dan keamanan yang terancam, serta wujud yang tidak memenuhi
atau tidak sesuai dengan kenyataan produk yang dijajakan, cukup banyak terjadi.
Hal ini meresahkan serta merugikan konsumen. Untuk semua itu, konsumen
berhak mengeluh dan menyampaikan masalah tersebut pada pelaku usaha
bersangkutan.


Sebaliknya, pelaku usaha juga harus bersedia mendengar, menampung dan
menyelesaikan perihal yang telah dikeluhkan oleh konsumen tadi. Pada hal
yang sama, hak ini dimaksudkan sebagai jaminan bahwa kepentingan, pendapat,
serta keluhan konsumen harus diperhatikan baik oleh pemerintah, produsen
maupun pedagang.
Hak untuk didengar dapat diungkapkan oleh konsumen dengan cara mengadu
kepada produsen/ penjual/ instansi yang terkait. Dan konsumen perlu
memanfaatkan hak untuk didengarnya dengan baik serta optimal. Hal ini
dirasa perlu, karena dari pengalaman sehari-hari terlihat, bahwa hak untuk
didengar ini belum dimanfaatkan.
Contoh yang paling sederhana misalnya, dalam ikatan transaksi jual beli
atau sewa beli, kontrak-kontrak sepihak dan ketentuan-ketentuan yang
tercantum pada bon pembelian yang biasanya hanya menguntungkan
produsen/ pedagang, biasanya karena dipermasalahkan secara terbuka.
Kalaupun telah merasakan ketidakseimbangan ketentuan tersebut, konsumen
segan mengajukan usulan yang menjadi haknya. Kedepannya, hal tersebut
perlu mendapat perhatian, agar konsumen jangan selamanya berada pada
posisi yang dirugikan.
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
Bahwasanya di dalam memberikan perlindungan hukum bagi konsumen
tercakup juga kewajiban untuk melakukan upaya-upaya peningkatan
kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian


konsumen untuk melindungi diri sendiri, sehingga pada gilirannya dapat
meningkatkan harkat dan martabat konsumen, sekaligus menumbuh kembangkan
sikap pelaku usaha untuk berlaku jujur dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, pemberian perlindungan hukum bagi konsumen hendaknya tanpa
merugikan pelaku usaha yang memang berperilaku baik dan jujur.
Seyogyanya, antara konsumen dengan pelaku usaha menjadi mitra
sejajar dan saling membutuhkan.
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
Konsumen berhak untuk mendapatkan pendidikan dan ketrampilan,
terutama yang menyangkut mutu barang dan layanan agar peluang seorang
konsumen untuk ditipu atau tertipu semakin kecil.
Untuk meningkatkan hasil guna dan daya guna dari pendidikan ini, konsumen
memang dituntut aktif, seperti membiasakan untuk membaca label. Dan
sebaliknya, sangat diharapkan peran serta pemerintah dan produsen untuk
mendistribusikan materi yang diperlukan konsumen.
Upaya pendidikan konsumen tidak selalu harus melewati jenjang pendidikan
formal, tetapi dapat melewati media massa dan kegiatan lembaga swadaya
masyarakat.


Dalam banyak hal, pelaku usaha terikat untuk memperhatikan hak
konsumen untuk mendapatkan " pendidikan konsumen " ini. Pengertian "
pendidikan " tidak harus diartikan sebagai proses formal yang dilembagakan.
Pada prinsipnya, makin kompleks teknologi yang diterapkan dalam
menghasilkan suatu produk menuntut pula makin banyak informasi yang harus
disampaikan kepada konsumen. Bentuk informasi yang lebih komprehensif
dengan tidak semata-mata menonjolkan unsur komersialisasi, sebenarnya sudah
merupakan bagian dari pendidikan konsumen. Produsen mobil misalnya
dalam memasarkan produk dapat menyisipkan program-program
pendidikan konsumen yang memiliki kegunaan praktis, seperti tata cara
perawatan mesin, pemeliharaan ban, atau penggunaan sabuk pengaman.
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
Dalam praktek sehari-hari masih banyak dijumpai adanya pelaku usaha yang suka
membeda-bedakan pelayanan terhadap seoarang konsumen dengan konsumen
lainnya, antara lain dengan memilah-milah status konsumen. Contohnya, seorang
pejabat tidak perlu antri tiket seperti konsumen lainnya, karena pelaku usaha
memberikan perlakuan khusus. Begitu pula halnya ketika tiket kereta api
hendak dibeli konsumen dengan harga sebagaiman tarif, oleh si penjual
dikatakan telah habis, sementara bagi konsumen yang berani membelinya diatas
tarif, maka tiket tersebut akan dengan mudahnya diperoleh.


Kesemuanya ini telah diantisipasi oleh UUPK, dimana konsumen dibekali
hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif oleh pelaku usaha.
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian,
apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
Ketika UUPK ini dirancang, para perumus RUUPK sangat memperhatikan
dasardasar acuan untuk mewujudkan perlindungan konsumen, yaitu pertama,
hubungan hukum antara penjual dengan konsumen secara jujur, kedua
hubungan kontrak penjual dan konsumen dirumuskan dengan jelas, ketiga
konsumen sebagai pelaku perekonomian, keempat, konsumen yang menderita
kerugian akibat yang cacat mendapat ganti rugi yang memadai, kelima,
diberikannya pilihan penyelesaian sengketa kepada para pihak.
Dasar-dasar tersebut telah menekankan pada pentingnya pemberian hak kepada
konsumen untuk mendapatkan kompensasi ganti rugi dan/ atau penggantian,
apabila ternyata tidak sesuai dengan yang diperjanjikan mamupun tidak dalam
kondisi sebagaimana mestinya. Terlepas adanya unsur ketidaksengajaan
dari pihak penjual yang mengakibatkan terjadinya cacat barang yang tersembunyi
dan sekalipun telah yakin terhadap kejujuran penjual tersebut, maka pada
contoh kasus ini telah melekat hak konsumen untuk mendapatkan ganti rugi.


Ganti rugi dimaksud bisa saja dalam bentuk pengembalian pembayaran,
mengganti dengan barang baru yang sama, ataupun bentuk kompensasi lainnya
sesuai hasil penyelesaian masalah/ sengketa
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.
Termasuk kedalam hak konsumen yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya, berupa :
- Hak Untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup Yang Baik dan Sehat
Hak konsumen atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima
sebagai salah satu hak dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen di
dunia. Lingkungan hidup yang baik dan sehat berarti sangat luas, dan setiap
makhluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. Lingkungan hidup
meliputi lingkungan hidup dalam arti fisik dan lingkungan non fisik.
Dalam pasal 6 Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan
pasal 5 ayat (1) UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, hak untuk mendapatkan lingkungan yang
baik dan sehat ini dinyatakan secara tegas.
Desakan pemenuhan hak konsumen atas lingkungan hidup yang baik dan sehat
makin mengemuka akhir-akhir ini. Misalnya munculnya gerakan
konsumerisme hijau (green consumerism) yang sangat peduli pada
kelestarian lingkungan. Sementara itu, mulai tahun 2000 semua perusahaan
yang berkaitan dengan hasil hutan, baru dapat menjual produknya di Negara-
negara yang tergabung dalam


The International Tropical Timber Organization (ITTO), juga telah memperoleh
ecolabeling certificate. Ketentuan demikian sangat penting artinya,
khususnya bagi produsen hasil hutan tropis, seperti Indonesia karena praktis
pangsa pasar terbesarnya adalah Negara-negara anggota ITTO. Untuk itu
lembaga Ecolabeling Indonesia (LEI) pada tahun 1998 mulai melakukan
audit atas sejumlah perusahaan perkayuan Indonesia agar dapat diberikan
sertifikat ekolabeling yang disebut SNI 5000.
- Hak Untuk Dilindungi Dari Akibat Negatif Persaingan Curang
Persaingan curang atau dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 disebut
dengan ~ persaingan usaha tidak sehat" dapat terjadi jika seorang pengusaha
berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan
usahanya atau memperluas penjualan atau pemasarannya dengan
menggunakan alat atau sarana yang bertentangan dengan itikad baik dan
kejujuran dalam pergaulan perekonomian.
Walaupun persaingan terjadi antara pelaku usaha, namun dampak dari
persaingan itu selalu dirasakan oleh konsumen. Jika persaingan sehat, konsumen
memperoleh keuntungan. Sebaliknya jika persaingan curang konsumen pula
yang dirugikan. Kerugian itu boleh jadi tidak dirasakan dalam jangka pendek
tetapi cepat atau lambat pasti terjadi.
Contoh bentuk yang kerap terjadi dalam persaingan curang adalah
permainan
harga (dumping). Satu produsen yang kuat mencoba mendesak
produsen
saingannya yang lebih lemah dengan cara membanting harga produk.
Tujuannya


untuk merebut pasar, dan produsen saingannya akan berhenti berproduksi. Pada
kesempatan berikutnya, dalam pasar yang monopolistik itulah harga kembali
dikendalikan oleh si produsen curang ini. Dalam posisi demikian, konsumen
pula yang dirugikan.
Hak konsumen untuk dihindari dari akibat negatif persaingan curang dapat
dikatakan sebagai upaya pre-emptive yang harus dilakukan, khususnya oleh
Pemerintah guna mencegah munculnya akibat-akibat langsung yang merugikan
konsumen. Itulah sebabnya, gerakan konsumen sudah selayaknya menaruh
perhatian terhadap keberadaan peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan hak ini, seperti yang ada saat ini, yaitu UU No. 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Dalam UU No. 5 Tahun 1999 disebutkan adanya (1) perjanjian yang dilarang,
dan (2) kegiatan yang dilarang, antara lain dalam pasal 17 sampai dengan pasal
24. Termasuk dalam bentuk perjanjian yang dilarang adalah ologopoli,
penetapan harga, pembagian wilayah, pemboikotan, kartel, trust, oligopsoni,
integrasi vertical, perjanjian tertutup, dan perjanjian dengan pihak luar
negeri yang mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan/atau persaingan
tidak sehat.
Jika dibandingkan antara hak-hak konsumen sebagaimana dimuat dalam
Undang-Undang Perlindungan Konsumen dengan Resolusi PBB, tampaknya
tidak
ada perbedaan mendasar. Penyebabnya, antara lain adalah bahwa hak-hak
konsumen
yang disebut di dalam Resolusi PBB itu adalah rumusan tentang hak-hak
konsumen
yang diperjuangkan oleh lembaga-lembaga konsumen di dunia, dan telah sejak
lama


diperjuangkan di negaranya masing-masing. Hal ini menunjukkan pula bahwa
hakhak konsumen bersifat universal.
Lawan dari hak adalah kewajiban. Mengenai kewajiban konsumen
dijelaskan dalam pasal 5 UUPK, yakni :
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau
jasa;
c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut.
2.4 Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
Dalam perdagangan pelaku usaha memiliki hak-hak yang harus diberikan dan
dihormati oleh pihak-pihak lain dalam perdagangan tersebut, misalnya
konsumen. Hak tersebut diimbangi dengan dibebankannya kewajiban pada
pelaku usaha yang harus ditaati dan dilaksanakan. Dalam pelaksanaannya antara
hak dan kewajiban tersebut adalah seimbang.
Adapun hak pelaku usaha sebagaimana disebutkan dalam pasal 6 UUPK
adalah :
a. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
b. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beritikad tidak baik;
c. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
d. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa kerugian
konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
e. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.


Adapun kewajiban pelaku usaha diatur dalam pasal 7, yakni :
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan,
perbaikan dan pemeliharaan;
c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba barang
dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas barang
yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;
f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan;
g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang
dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Piranti hukum yang melindungi konsumen tidak dimaksudkan untuk
mematikan usaha pelaku usaha, tetapi justru sebaliknya perlindungan
konsumen dapat mendorong iklim berusaha yang sehat yang mendorong
lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan melalui
penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas.
Oleh karena itu dalam ketentuan Bab IV UUPK pasal 8 sampai dengan 17
menyebutkan perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha. Pada hakikatnya menurut
Nurmanjito, larangan-larangan terhadap pelaku usaha tersebut adalah
mengupayakan agar barang dan/atau jasa yang beredar di masyarakat merupakan
produk yang layak


edar, yang menyangkut asal-usul, kualitas sesuai dengan informasi pengusaha baik
melalui label, iklan, dan lain sebagainya.
70

Tujuan pengaturan ini menurut Nurmandjito adalah untuk mengupayakan
terciptanya tertib perdagangan dalam rangka menciptakan iklim usaha yang
sehat.
71
Hal ini sebagai salah satu bentuk perlindungan konsumen, larangan-larangan
tersebut dibuat berupaya untuk memastikan bahwa produk yang diproduksi
produsen aman, layak konsumsi bagi konsumen.
Dalam ketentuan pasal 8 UUPK, disebutkan larangan-larangan tentang
produksi barang dan/atau jasa, dan larangan memperdagangkan barang dan/atau
jasa, antara lain :
(1) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang
dan/atau jasa yang :
a. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam
hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang
tersebut;
c. tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya;
d. tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran
sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang
dan/atau jasa tersebut;
e. tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya,
mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau
keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
70
Nurmandjito, 2000, Kesiapan Perangkat
Peraturan Perundang-Undangan Tentang Perlindungan Konsumen di Indonesia, " dalam Husni
Syawali dan Neni Sri Imaniyati, penyunting " Hukum Perlindungan Konsmen, Mandar Maju,
Bandung, h. 18.
71
Ibid.


f. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket,
keterangan, iklan atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut;
g. tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangka waktu
penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;
h. tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana
pernyataan "halal" yang dicantumkan dalam label;
i. tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal
pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta
keterangan lain untuk penggunaan yang menurut ketentuan harus di
pasang/dibuat;
j. tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau
bekas, dan tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas
barang dimaksud.
(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang
rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan
informasi secara lengkap dan benar.
(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari
peredaran.
Dalam ketentuan pasal 10 dan 11 UUPK, berkaitan dengan larangan-larangan
representasi yang tertuju pada perilaku pelaku usaha guna memastikan produk yang
diperjualbelikan di masyarakat diproduksi dengan jalan sesuai dengan peraturan yang
berlaku/tidak melanggar hukum.
Dalam ketentuan pasal 12 dan 13 ayat (1) UUPK masih berkaitan dengan
larangan yang tertuju pada cara-cara penjualan yang dilakukan melalui sarana
penawaran, promosi atau pengiklanan dan larangan untuk mengelabui atau
menyesatkan konsumen.


Pelaku usaha dalam menawarkan produknya ke pasaran, dilarang untuk
mengingkari untuk memberikan hadiah melalui undian berhadiah kemudian
melakukan pengumuman di media massa terhadap hasil pengundian agar masyarakat
mengetahui hasil dari pengundian berhadiah tersebut, hal ini diatur dalam
ketentuan pasal 14 UUPK yang menyebutkan :
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dengan memberikan hadiah melalui cara undian, dilarang untuk :
a. tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang dijanjikan;
b. mengumumkan hasilnya tidak melalui media masa;
c. memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan;
d. mengganti hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan.
Dalam memasarkan produknya, pelaku usaha dilarang untuk melakukan
caracara penjualan dengan cara tidak benar dapat mengganggu secara fisik maupun
psikis konsumen. Hal ini diatur dalam ketentuan pasal 15 UUPK yang bunyinya :
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa dilarang melakukan
dengan cara pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik
maupun psikis terhadap konsumen.
Salah satu cara pemaksaan produk yang dimaksud adalah door to door sale,
rayuan dari sales tersebut ke rumah-rumah konsumen disadari baik secara langsung
maupun tidak langsung mempengaruhi kondisi psikologis konsumen. Penawaran
barang melalui cara ini, dapat mengusik ketenangan konsumen, karena walaupun
konsumen telah menyatakan tidak berminat terhadap barang yang ditawarkan,
namun sales tetap berusaha merayu agar konsumen membelinya.


BAB III
KETENTUAN LABEL PANGAN
DALAM KAITANNYA DENGAN ASAS PERLINDUNGAN KONSUMEN
3.1 Label Sebagai Wujud Hak Konsumen Atas Informasi
Ketentuan hukum mengenai pelabelan tersebar dalam berbagai peraturan
perundang-undangan, diantaranya Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan, PP No. 69
Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, Permendag No.22/M-
DAG/PER/5/2010 tentang Kewajiban Pencantuman Label pada Barang, UU No. 36
Tahun 2009 tentang Kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan No.
924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kesehatan
RI No, 82/Menkes/SK/I/1996 tentang Pencantuman Tulisan " Halal " pada Label
Makanan, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 180/Menkes/Per/IV/1985 tentang
Makanan Daluwarsa yang telah dirubah dengan Keputusan Dirjen POM No.
02591/B/SK/VIII/91.
UU No. 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen sebagai undang-
undang payung tidak mengatur secara spesifik mengenai pelabelan khususnya produk
pangan. Pengaturan secara lebih spesifiknya ada dalam PP No. 69 Tahun 1999.
Sebelum PP tersebut lahir, pengaturan pelabelan secara singkat ada dalam UU No. 7
Tahun 1996 tentang pangan.
Pasal 1 (3) dari PP No. 69 Tahun 1999 menentukan bahwa yang dimaksud
dengan label pangan adalah : setiap keterangan mengenai pangan yang
berbentuk


gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan,
dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan.
Pengertian yang sama juga ada dalam ketentuan pasal 1 angka 15 UU No 7
Tahun 1996.
Lebih lanjut didalam pasal 2 PP No. 69 Tahun 1999 ditentukan bahwa :
(1). Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke
dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label
pada, di dalam, dan atau di kemas pangan.
(2). Pencantuman Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya, tidak mudah
luntur atau rusak, serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah
untuk dilihat dan dibaca.
Kemudian didalam pasal 3 dari PP No. 69 Tahun 1999 tersebut ditentukan
bahwa :
(1). Label sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) berisikan keterangan
mengenai pangan yang bersangkutan.
(2). Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya :
a. nama produk;
b. daftar bahan yang digunakan;
c. berat bersih atau isi bersih;
d. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan
ke dalam wilayah Indonesia.
e. tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa.
Dari penjelasan pasal-pasal diatas, dapatlah dilihat bahwa label itu berbeda
dengan merek. Menurut pasal 1 angka 1 Undang-Undang N0. 15 Tahun 2001
tentang Merek, merek adalah suatu tanda yang berupa gambar, nama, kata,
huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi dari unsur-unsur
tersebut yang memiliki


daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan perdagangan barang dan jasa.
72
Merek
memiliki kemampuan untuk digunakan sebagai tanda yang dapat membedakan hasil
perusahan yang satu dengan perusahaan yang lain.
73

Ditinjau dari fungsi, merek dapat berfungsi sebagai tanda pengenal untuk
membedakan hasil produksi yang dihasilkan seseorang atau beberapa orang secara
bersama sama atau badan hukum dengan produksi seseorang/beberapa orang
atau badan hukum lain, sebagai alat promosi, sehingga mempromosikan
hasil produksinya cukup dengan menyebut mereknya serta sebagai jaminan atas
mutu barangnya.
74

Merek yang kuat ditandai dengan dikenalnya suatu merek dalam masyarakat,
asosiasi merek yang tinggi pada suatu produk, persepsi positif dari pasar dan
kesetiaan konsumen terhadap merek yang tinggi.
Dengan adanya merek yang membuat produk yang satu beda dengan
yang lain, diharapkan akan memudahkan konsumen dalam menentukan produk yang
akan dikonsumsinya berdasarkan berbagai pertimbangan serta menimbulkan
kesetiaan terhadap suatu merek (brand loyalty). Kesetiaan konsumen terhadap suatu
merek atau brand yaitu dari pengenalan, pilihan dan kepatuhan pada suatu merek.
75

Merek dapat dipahami lebih dalam pada tiga hal berikut ini :
73
Rachmad Usman, 2003, Hukum Hak Atas
Kekayaan Intelektual : Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung, h. 48.
74
Abdulkadir Muhammad, 2001, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual,
PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 89.
75
Ahmad Fauzan, 2006, Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Yama Widya,
Bandung, h. 127.


76
Widyahartono, 1983, Industri Informasi dalam Dekade 80-an (Informatie Industrie In de
Jarem Tachtig D. Overkleeft), Alumni, Bandung, h. V.
1. Contoh brand name (nama) : nintendo, aqua, bata, rinso, kfc, acer, windows,
toyota, zyrex, sugus, gery, bagus, mister baso, gucci, c59, dan lain
sebagainya.
2. Contoh mark (simbol) : gambar atau simbol sayap pada motor honda, gambar
jendela pada windows, gambar kereta kuda pada california fried chicken
(cfc), simbol orang tua berjenggot pada brand orang tua (ot) dan kentucky
friend chicken (kfc), simbol bulatan hijau pada sony ericsson, dan masih banyak
contohcontoh lainnya yang dapat kita temui di kehidupan sehari-hari.
3. Contoh trade character (karakter dagang) : ronald mcdonald pada restoran
mcdonalds, si domar pada indomaret, burung dan kucing pada produk
makanan gery, dan lain sebagainya.
Sehingga jelas, dalam hal ini label dan merek itu berbeda, merek semata-
mata lebih difungsikan sebagai tanda pengenal, pembeda, alat promosi suatu
produk, sedangkan label sebagai sumber informasi yang lebih lengkap bagi
konsumen karena didalamnya termuat representasi, peringatan, maupun instruksi
dari suatu produk.
Informasi sebagai pengertian merupakan stimuli yang secara konsisten
menggerakkan perilaku (behavior) antara si pengirim dan penerima informasi.
76

Selanjutnya Vincent Gaspersz, mengatakan informasi adalah data yang telah diolah
menjadi suatu yang berguna bagi si penerima dan mempunyai nilai yang nyata
atau


77
Vincent Gaspersz,1988, Sistem Informasi Manajemen (Suatu Pengantar), Armico,
Bandung, h. 15.
yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang dan keputusan-
keputusan yang akan datang.
77

Pada dasarnya informasi adalah data yang penting yang memberikan
pengetahuan yang berguna. Apakah suatu informasi itu berguna atau tidak
tergantung kepada :
(1) Tujuan Si Penerima
Apabila informasi itu tujuannya untuk member bantuan, maka informasi
itu harus membantu si penerima dalam apa yang ia usahakan
untuk memperolehnya.
(2) Ketelitian penyampaian dan pengolahan data
Dalam menyampaikan dan mengolah data, inti pentingnya informasi harus
dipertahankan. Jadi dengan informasi orang akan memperoleh keterangan yang jelas
mengenai sesuatu hal.
Bagi konsumen, informasi tentang barang dan/atau jasa merupakan kebutuhan
pokok, sebelum ia menggunakan sumber dananya (gaji, upah, honor atau apa
pun nama lainnya) untuk mengadakan transaksi konsumen tentang barang/jasa
tersebut. Dengan transaksi konsumen dimaksudkan diadakannya hubungan hukum
(jual beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, dan sebagainya) tentang produk
konsumen dengan pelaku usaha itu.


Informasi-informasi tersebut meliputi tentang ketersediaan barang atau
jasa yang dibutuhkan masyarakat konsumen, tentang kualitas produk,
keamanannya, harga, tentang persyaratan dan/atau cara memperolehnya,
terutama jaminan atau garansi produk, persediaan suku cadang, tersedianya
pelayanan jas purna jual, dan lain-lain yang berkaitan dengan itu.
Menurut sumbernya, informasi barang dan/atau jasa tersebut dapat dibedakan
menjadi tiga. Pertama, informasi dari kalangan Pemerintah dapat diserap dari
berbagai penjelasan, siaran, keterangan, penyusun peraturan perundang-
undangan secara umum atau dalam rangka deregulasi, dan/atau tindakan
Pemerintah pada umumnya atau tentang sesuatu produk konsumen. Dari sudut
penyusunan peraturan perundang-undangan terlihat informasi itu termuat sebagai
suatu keharusan. Beberapa di antaranya, ditetapkan harus dibuat, baik secara
dicantumkan pada maupun dimuat di dalam wadah atau pembungkusnya (antara
lain label dari produk makanan dalam kemasan sebagaimana diatur dalam PP No.
69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan). Sedang untuk produk hasil
industry lainnya, informasi tentang produk itu terdapat dalam bentuk standar yang
ditetapkan oleh Pemerintah, standar internasional, atau standar lain yang ditetapkan
oleh pihak yang berwenang.
Kedua, informasi dari konsumen atau organisasi konsumen tampak pada
pembicaraan dari mulut ke mulut tentang suatu produk konsumen, surat-surat
pembaca pada media massa, berbagai siaran kelompok tertentu, tanggapan atau protes
organisasi konsumen menyangkut sesuatu produk konsumen. Siaran pers organisasi
konsumen, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tentang


hasil-
hasil penelitian dan/atau riset produk konsumen tertentu, dapat ditemukan pada
harian-harian umum, majalah dan/atau berita resmi YLKI, yaitu warta konsumen.
Ketiga, informasi dari kalangan pelaku usaha (penyedia dana, produsen,
importir, atau lain-lain pihak yang berkepentingan), diketahui sumber-sumber
informasi itu umumnya terdiri dari berbagai bentuk iklan baik melalui media
nonelektronik atau elektronik, label termasuk pembuatan berbagai selebaran,
seperti brosur, pamflet, catalog, dan lain-lain sejenis itu. Bahan-bahan informasi
ini pada umumnya disediakan atau dibuat oleh kalangan usaha dengan
tujuan memperkenalkan produknya, mempertahankan, dan/atau meningkatkan
pangsa pasar produk yang telah dan/atau ingin lebih lanjut diraih.
Diantara berbagai informasi tentang barang atau jasa konsumen yang
diperlukan konsumen, tampaknya yang paling berpengaruh pada saat ini adalah
informasi yang bersumber dari kalangan pelaku usaha. Terutama dalam bentuk
iklan dan label, tanpa mengurangi pengaruh dari berbagai bentuk informasi
pengusaha lainnya. 78
Adapun label merupakan informasi yang diwajibkan oleh peraturan
perundang-undangan sebagaimana diatur dalam PP No. 69 Tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pangan, Permendag No.22/M-DAG/PER/5/2010 tentang
Kewajiban Pencantuman Label pada Barang.
Informasi dapat memberikan dampak signifikan untuk meningkatkan
efisiensi dari konsumen dalam memilih produk serta meningkatkan
kesetiaannya terhadap


80 Celine Tri Siwi Kristiyanti, Op.cit, h. 71.
produk tertentu, sehingga akan memberikan keuntungan bagi perusahaan yang
memenuhi kebutuhannya.
79

Ketiadaan informasi yang tidak memadai dari pelaku usaha merupakan
salah satu jenis cacat produk (cacat informasi) yang akan sangat merugikan
konsumen.
Pentingnya penyampaian informasi yang benar terhadap konsumen
mengenai suatu produk, agar konsumen tidak salah terhadap gambaran mengenai
suatu produk tertentu. Penyampaian informasi terhadap konsumen tersebut
dapat berupa representasi, peringatan, maupun yang berupa instruksi. 80
Diperlukan representasi yang benar terhadap suatu produk, karena salah satu
penyebab terjadinya kerugian terhadap konsumen adalah terjadinya misrepresentasi
terhadap produk tertentu. Kerugian yang dialami oleh konsumen di Indonesia dalam
kaitannya dengan misrepresentation banyak sekali disebabkan karena tergiur
oleh iklan-iklan atau brosur-brosur produk tertentu, sedangkan iklan atau brosur
tersebut tidak selamanya memuat informasi yang benar karena pada
umumnya hanya menonjolkan kelebihan produk yang dipromosikan, sebaliknya
kelemahan produk tersebut ditutupi.
81

Informasi yang diperoleh konsumen melalui brosur tersebut dapat
menjadi alat bukti yang dipertimbangkan oleh hakim dalam gugatan konsumen
terhadap produsen. Bahkan tindakan produsen yang berupa penyampaian
informasi melalui
79
Ibid.
80
Agnes M. Toar, 1998, Tanggung Jawab Produk, Sejarah, dan Perkembangannya, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, h. 55.
81
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op.cit, h. 54-55.


brosur-brosur secara tidak benar yang merugikan konsumen tersebut, dikategorikan
sebagai wanprestasi. Karena brosur dikategorikan sebagai penawaran dan janji-
janji yang bersifat perjanjian, sehingga isi brosur tersebut dianggap diperjanjikan
dalam ikatan jual beli meskipun tidak dinyatakan secara tegas.
Pertimbangan hakim yang menggolongkan perbuatan produsen sebagai
wanprestasi diatas, dapat diartikan bahwa brosur yang dikeluarkan oleh produsen
merupakan bagian dari perjanjian, sehingga sebagai konsekuensinya, yang dapat
menuntut ganti kerugian hanya pihak yang terikat perjanjian dengan pelaku
usaha. Hal ini berbeda dengan Section 402 B Rest 2d of Tort, yang
menempatkan misrepresentasi sebagai alasan pertanggunggugatan pihak penjual
terhadap kerugian yang dialami oleh konsumen walaupun konsumennya tidak
membeli atau terikat kontrak dengan penjual. Lebih jelasnya Section 402 B Rest 2d
of Tort, menentukan 82:
" One engaged in the business of selling chattels who, by advertising,
label, or otherwise, make the public a misrepresentation of a metrial fact
concerning the character or quality of a chattel sold by him is subject to
liability for physical harm harm to consumer of the chattel caused by
justifiable reliance upon the misrepresentation, even though :
a. It is not made fraudulently or negligently, and
b. The consumer has not bought the chattel from or enterd into any
contractual relation with seller. ~
Pembebanan tanggung gugat/tanggung jawab terhadap produsen yang
merepresentasikan suatu produk secara tidak benar, baik dengan alasan wanprestasi
maupun dengan alasan perbuatan melanggar hukum, merupakan suatu sarana
yang dapat memberikan perlindungan kepada konsumen, karena dengan
adanya


pertanggungjawaban/pertanggunggugatan tersebut dapat menmbuat produsen lebih
berhati-hati dalam merepresentasikan suatu produk tertentu, sehingga
konsumen dapat memperoleh gambaran yang benar terhadap suatu produk.
Representasi ini lebih menuntut kehati-hatian bagi orang yang mempunyai
keahlian khusus, karena apabila orang yang mempunyai keahlian khusus melakukan
representasi kepada orang lain - berupa nasihat, informasi atau opini- dengan
maksud agar orang lain mengadakan kontrak dengannya, maka dia
berkewajiban untuk berhati-hati secara layak bahwa representasi itu adalah benar,
serta nasihat, informasi atau opini itu dapat dipercaya. Jika ia tidak berhati-hati
atau secara sembrono memberikan nasihat, informasi atau opini yang keliru
maka ia akan bertanggung gugat dalam memberikan ganti kerugian.
Repsentasi suatu produk dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen
diatur dalam Bab IV mengenai perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha. Salah satu
larangan yang berkaitan dengan representasi tersebut terlihat dalam ketentuan pasal
8 ayat (1) f dan pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan.
Disamping larangan diatas, masih banyak larangan bagi pelaku usaha dalam
menawarkan barangnya kepada konsumen, namun secara garis besar, kesemuanya
adalah mengenai kualitas/kondisi, harga, kegunaan, jaminan atas barang
tersebut, serta pemberian hadiah kepada pembeli.
Berdasarkan berbagai ketentuan yang berkaitan dengan representasi
produk dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen, maka tidak dipenuhinya
ketentuan tersebut oleh produsen yang menyebabkan kerugian konsumen,
dapat dituntut


83
Endang Sri Wahyuni, 2003, Aspek Hukum Sertifikasi & Keterkaitannya Dengan
Perlindungan Konsumen, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h. 73.
berdasarkan perbuatan melanggar hukum, yang berarti bahwa untuk menggugat
pelaku usaha, konsumen tidak harus terikat perjanjian dengan pelaku usaha yang
digugat. Dengan demikian ketentuan dalam UUPK dapat memberikan
perlindungan hukum kepada pihak ketiga yang tidak terikat dengan pelaku usaha
sebagaimana halnya ketentuan dalam Section 402 B Rest 2d of Tort. Hal
tersebut merupakan langkah maju dibanding dengan menggolongkan
misrepresentasi sebagai wanprestasi.
Peringatan ini sama pentingnya dengan instruksi penggunaan suatu
produk yang merupakan informasi bagi konsumen, walaupun keduanya memiliki
fungsi yang berbeda yaitu instruksi terutama telah diperhitungkan untuk
menjamin efisiensi penggunaan produk, sedangkan peringatan dirancang untuk
menjamin keamanan penggunaan produk.
Peringatan yang merupakan bagian dari pemberian informasi kepada
konsumen ini merupakan pelengkap dari proses produksi. Peringatan yang diberikan
kepada konsumen ini memegang peranan penting dalam kaitan dengan
keamanan suatu produk.
83
Dengan demikian pabrikan (produsen pembuat wajib
menyampaikan peringatan kepada konsumen). Hal ini berarti bahwa tugas produsen
pembuat tersebut tidak berakhir hanya dengan menempatkan menempatkan
suatu produk dalam sirkulasi.
Produk yang dibawa ke pasar tanpa petunjuk cara pemakaian dan
peringatan atau petunjuk dan peringatan yang sangat kurang/tidak memadai
menyebabkan suatu


produk dikategorikan sebagai produk yang cacat instruksi. Hal ini berlaku bagi
peringatan sederhana, misalnya " simpan di luar jangkauan anak-anak " dan
berlaku pula terhadap peringatan mengenai efek samping setelah pemakaian suatu
produk tertentu. Peringatan demikian maupun petunjuk-petunjuk pemakaian
harus disesuaikan dengan sifat produk dan kelompok pemakai.
Dalam kaitan dengan penyampaian informasi tentang penggunaan produk
kepada konsumen, maka peringatan untuk obat-obatan selayaknya lebih lengkap
dibanding dengan informasi untuk produk lainnya. Begitu pula jika kelompok
pemakai adalah anak-anak, maka harus dicantumkan peringatan yang lebih jelas
dan tegas.
Kelalaian menyampaikan peringatan terhadap konsumen dalam hal
produk yang bersangkutan memungkinkan timbulnya bahaya tertentu akan
menimbulkan tanggung gugat bagi produsen, karena walaupun secara fisik
produk tersebut tidak cacat, namun secara hukum produk tersebut dikategorikan
sebagai produk cacat instruksi, karena dapat membahayakan konsumennya.
Pembebanan tanggung gugat yang demikian hanya akan dibebankan kepada
produsen manakala produsen tersebut mempunyai pengetahuan atau dapat
mempunyai pengetahuan tentang adanya kecenderungan bahaya produk.
Permasalahan yang sering timbul adalah bahwa produsen telah
menyampaikan peringatan secara jelas pada label suatu produk, namun
konsumen tidak membaca peringatan yang telah disampaikan kepadanya, atau dapat
pula terjadi bahwa peringatan itu telah disampaikan tapi tidak jelas atau tidak
mengundang

84
Ibid, h. 60.
perhatian konsumen untuk membacanya. Dalam kasus ER Squibb & Sons Inc V Cox,
pengadilan berpendapat bahwa konsumen tidak dapat menuntut jika
peringatannya sudah diberikan secara jelas dan tegas. Namun jika produsen tidak
menggunakan cara yang wajar dan efektif untuk mengkomunikasikan peringatan itu,
yang menyebabkan konsumen tidak membacanya, maka hal itu tidak
menghalangi pemberian ganti kerugian pada konsumen yang telah dirugikan.
Selain peringatan, instruksi yang ditujukan untuk menjamin efisiensi
penggunaan produk juga penting untuk mencegah timbulnya kerugian bagi
konsumen. Pencantuman informasi bagi konsumen yang berupa instruksi atau
petunjuk prosedur pemakaian suatu produk merupakan kewajiban bagi produsen agar
produknya tidak dianggap cacat (karena ketiadaan informasi atau informasi
yang tidak memadai). Sebaliknya, konsumen berkewajiban untuk membaca,
atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan
barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan.
84

Walaupun terdapat kewajiban bagi konsumen untuk mengikuti instruksi
penggunaan suatu produk, namun instruksi tersebut tidak selamanya dipatuhi oleh
konsumen, misalnya penggunaan suatu produk (obat-obatan) oleh dokter atau
berdasarkan etiket produk tersebut telah diberikan instruksi bahwa
pemakaiannya hanya dalam dosis tertentu, misalnya satu tablet per hari, namun
konsumen sendiri yang tidak mematuhi instruksi tersebut. Kesalahan konsumen
dalam penggunaan produk, juga banyak terjadi pada penggunaan obat bebas
(obat tanpa resep).


Walaupun obat bebas tersebut adalah obat yang dinyatakan oleh para ahli aman dan
manjur apabila digunakan sesuai petunjuk yang tertera pada label beserta
peringatannya, namun permasalahannya adalah mengobati diri sendiri dengan
menggunakan obat bebas sesungguhnya bukanlah aktivitas yang mudah,
sederhana dan selalu menguntungkan, karena tanpa dibekali dengan
pengetahuan yang memadai, tindakan tersebuut dapat menyebabkan
terjadinya ketidaktepatan penggunaan obat, yang bukannya menyembuhkan
tetapi justru memperparah penyakit, memperburuk kondisi tubuh atau menutupi
gejala yang sesungguhnya menjadi cirri utama penyakit yang lebih serius dan
berbahaya.
Instruksi yang disampaikan kepada konsumen suatu produk memang paling
banyak berkaitan dengan produk obat-obatan, karena produk obat-obatanlah
yang akan lebih banyak menimbulkan kerugian manakala konsumen melakukan
kesalahan (ketidaksesuaian instruksi) dalam mengonsumsinya. Ini bukan berarti
bahwa produk lain tidak membutuhkan instruksi tentang cara pemakaiannya,
karena terhadap banyak produk lain, instruksi tersebut juga dibutuhkan oleh
konsumen, karena setiap produk yang memiliki kemungkinan menimbulkan
kerugian manakala terjadi penggunaan secara keliru seharusnya memiliki
instruksi tentang cara pemakaiannya.
Hak untuk mendapatkan informasi adalah salah satu hak konsumen yang
paling mendasar. Melalui informasi yang benar dan lengkap inilah konsumen
kemudian menentukan/memilih produk untuk memenuhi kebutuhannya. Karena itu,
memberi informasi yang salah, menyesatkan dan tidak jujur melalui label,

86
Ibid, h. 60.
adalah


melanggar hak konsumen. Melanggar hak orang lain berarti pula melakukan
perbuatan melanggar hukum.
85

Oleh sebab itu, memberi informasi yang benar mengenai produk berarti
membantu konsumen menentukan pilihannya secara benar dan bertanggung jawab
dalam memenuhi kebutuhannya. Ini berarti pula memberi kesempatan kepada
konsumen mempergunakan haknya yang lain, yaitu hak untuk memilih.
Hendaknya produsen tidak mengharapkan konsumen memilih produknya
karena konsumen khilaf atau sesat, tetapi benar-benar sebagai cerminan
keinginan dan kebutuhannya. Dengan demikian, ada pegangan bagi produsen bahwa
produknya benar-benar diminati dan dibutuhkan masyarakat, dan atas dasar inilah
produsen menyusun kebijakan/strategi pengembangan melalui usahanya.
Karenanya, memberi informasi yang benar (melalui label) adalah kebutuhan bersama
antara konsumen dan produsen karena akan memberi keuntungan kepada produsen
dan konsumen.
Berkaitan dengan pentingnya informasi ini, Durrel B. Lucas dan Steuart
Henderson Britt menggambarkan sebagai berikut :
If consumers are well informed and armed with honest data, they will make
choices that will end up maximizing their welfare, thereby promoting allocative
efficiency
86

Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai
informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai
mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini
dapat disampaikan
85
Yusuf Sofie & Somi Awan, 2004, Sosok Peradilan
Konsumen Mengungkap Berbagai Persoalan Mendasar BPSK, Piramedia, Jakarta, h. 59.
86
Celine Tri Siwi, Op.cit, h. 87.


dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan di berbagai
media, atau mencantumkan label dalam kemasan produk (barang).
Jika dikaitkan dengan hak konsumen atas keamanan, maka setiap produk yang
mengandung risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disertai informasi berupa
petunjuk pemakaian yang jelas. Sebagai contoh, iklan yang secara ideal diartikan
sebagai sarana pemberi informasi kepada konsumen, seharusnya terbebas dari
manipulasi data. Jika iklan memuat informasi yang tidak benar, maka perbuatan itu
memenuhi kriteria kejahatan yang lazim disebut fraudulent misrepresentation.
Bentuk kejahatan ini ditandai oleh (1) pemakaian pernyataan yang jelas-jelas
salah (false statement), seperti menyebutkan diri terbaik tanpa indicator yang jelas,
dan (2) pernyataan yang menyesatkan (mislead), misalnya menyebutkan adanya
khasiat tertentu padahal tidak.
Menurut Troelstrup, konsumen pada saat ini membutuhkan banyak
informasi yang lebih relevan dibandingkan dengan saat sekitar 50 tahun lalu.
Alasannya, saat ini : (1) terdapat lebih banyak produk, merek, dan tentu saja
penjualnya, (2) daya beli konsumen makin meningkat, (3) lebih banyak variasi merek
yang beredar di pasaran, sehingga belum banyak diketahui semua orang, (4) model-
model produk lebih cepat berubah, (5) kemudahan transportasi dan komunikasi
sehingga membuka akses yang lebih besar kepada bermacam-macam produsen
atau penjual.
Hak untuk mendapatkan informasi menurut Prof. Hans W. Micklitz,
seorang ahli hukum konsumen dari Jerman, dalam ceramah di Jakarta, 26-30
Oktober 1998


membedakan konsumen berdasarkan hak ini.
87
Ia menyatakan, sebelum kita
melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dulu harus ada
persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan.
Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu :
a. Konsumen yang terinformasi (well-informed)
b. Konsumen yang tidak terinformasi.
Ciri-ciri konsumen yang terinformasi sebagai tipe pertama
adalah : - Memiliki tingkat pendidikan tertentu;
- Mempunyai sumber daya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan
dalam ekonomi pasar, dan
- Lancar berkomunikasi.
Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggung
jawab dan relative tidak memerlukan perlindungan.
Ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasi sebagai tipe kedua memiliki
ciriciri, antara lain :
- Kurang berpendidikan;
- Termasuk kategori kelas menengah ke bawah;
- Tidak lancar berkomunikasi.
Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggung jawab
Negara untuk memberikan perlindungan.

87
Celina Tri Siwi Kristiyanti, Op.cit, h. 34.
Selain ciri-ciri konsumen yang tidak terinformasikan, karena hal-hal
khusus dapat juga dimasukkan kelompok anak-anak, orang tua, dan orang asing
(yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat) sebagai jenis konsumen
yang wajib dilindungi oleh Negara. Informasi ini harus diberikan secara sama
bagi semua konsumen (tidak diskriminatif). Dalam perdagangan yang sangat
mengandalkan informasi, akses kepada informasi yang tertutup, misalnya dalam
praktik insider trading di bursa efek, dianggap sebagai bentuk kejahatan yang
serius.
Penggunaan teknologi tinggi dalam mekanisme produksi barang dan/atau
jasa akan menyebabkan makin banyaknya informasi yang harus dikuasai oleh
masyarakat konsumen. Di sisi lain mustahil mengharapkan sebagian besar
konsumen memiliki kemampuan dan kesempatan akses informasi secara sama
besarnya. Apa yang dikenal dengan Consumer Ignorance, yaitu ketidakmampuan
konsumen menerima informasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman
produk yang dipasarkan dapat saja dimanfaatkan secara tidak sewajarnya oleh
pelaku usaha. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen memberikan hak
konsumen atas informasi yang benar, yang didalamnya tercakup juga hak atas
informasi yang proporsional dan diberikan secara tidak diskriminatif.
3.2 Pentingnya Pelabelan Pangan Bagi Konsumen Untuk Mendapatkan
Perlindungan
Informasi tentang pangan merupakan hal yang sangat penting bagi manusia,
karena selama manusia hidup tidak akan pernah lepas dari yang namanya
pangan.


Tidak dapat dipungkiri bahwa pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat
mendasar karena sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup manusia.
Artinya pangan adalah kebutuhan mendasar yang harus terpenuhi.
Pangan yang cukup aman, bermutu, dan bergizi merupakan prasyarat
utama yang harus terpenuhi dalam upaya mewujudkan insan yang berharkat dan
bermartabat serta sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia
yang berkualitas merupakan unsur terpenting dan sekaligus tujuan utama
pembangunan nasional karena sumber daya manusia yang berkualitas merupakan
faktor penentu keberhasilan pembangunan nasional yang pada akhirnya ditentukan
dengan tingkat konsumsi pangan / makanan yang bergizi serta tidak
mengandung zat-zat kimia yang membahayakan kesehatan manusia serta
terjaminnya ketersediaan pangan yang memadai serta terjangkau oleh daya beli
masyarakat.
Agar pangan yang aman tersedia secara memadai, perlu diupayakan
terwujudnya suatu sistem pangan yang mampu memberikan perlindungan kepada
masyarakat yang mengkonsumsi pangan tersebut, maka pangan yang beredar
dimasyarakat harus memenuhi persyaratan keamanan pangan.
Peredaran pangan yang dikonsumsi masyarakat pada dasarnya melalui
mata rantai proses yang meliputi produksi, penyimpanan, pengangkutan,
peredaran hingga tiba ditangan konsumen. Agar mata rantai tersebut memenuhi
persyaratan keamanan, mutu, dan gizi makanan perlu diwujudkan suatu sistem
pengaturan, pembinaan, dan pengawasan yang efektif dibidang keamanan , mutu
dan gizi makanan.


Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 menyebutkan bahwa
pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber daya hayati dan air, baik yang
diolah, diperuntukan sebagai makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia,
termasuk bahan tambahan makanan, bahan baku, dan bahan lainnya dalam diproses
penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan, dan minuman.
Lebih lanjut pasal 1 ayat 1 PP Nomor 69 Tahun 1999 tentang label dan iklan
makanan menyebutkan bahwa Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari
sumber hayati dan air baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukan
sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan
makanan, bahan baku makanan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses
penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.
Dalam hubungannya dengan masalah label, khususnya label pangan maka
masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas, dan lengkap, baik
mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukannya
mengenai pangan yang beredar di pasaran.
Label itu ibarat jendela, konsumen yang jeli bisa mengintip suatu produk dari
labelnya.
88
Dari informasi pada label, konsumen secara tepat dapat menentukan
pilihan sebelum membeli dan atau mengkonsumsi pangan.
Tanpa adanya informasi yang jelas maka kecurangan-kecurangan dapat
terjadi.
89
Banyak masalah mengenai pangan terjadi di Indonesia. Hingga kini
masih


88
Purwiyatno Hariyadi, Op.cit.
89
Yusuf Shofie II, Op.cit, h. 15.
banyak kita temui pangan yang beredar di masyarakat yang tidak mengindahkan
ketentuan tentang pencantuman label, sehingga meresahkan masyarakat.
Perdagangan pangan yang kedaluarsa, pemakaian bahan pewarna yang tidak
diperuntukkan bagi makanan, makanan berformalin, makanan mengandung bahan
pengawet, atau perbuatan-perbuatan lain yang akibatnya sangat merugikan
masyarakat, bahkan dapat mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa manusia,
terutama bagi anak-anak pada umumnya dilakukan melalui penipuan pada
label
90
pangan.
Adalah UU No 7 Tahun 1996 tentang Pangan yang menyatakan bahwa
setiap label harus memuat keterangan mengenai pangan dengan benar. Produk
pangan hendaknya tidak dinyatakan, didiskripsikan atau dipresentasikan secara
salah, menyesatkan (misleading atau deceptive), atau menjurus pada munculnya
impresi yang salah terhadap karakter produk pangan tersebut. Bahkan,
diskripsi atau presentasi baik melalui kata-kata, gambar, atau cara lain
hendaknya tidak secara sugestif, baik langsung atau tidak langsung, membuat
konsumen mempunyai impresi dan asosiasi terhadap produk lain.
Pengertian benar dan tidak menyesatkan berarti bahwa istilah yang
digunakan pada label hendaknya diartikan sama, baik oleh pemerintah
(untuk keperluan
90
Dedi Barnadi - YLBK (Yayasan Lembaga
Bantuan Konsumen) Konsumen Cerdas Majalengka, 2009, " Makanan Jajanan (Street Food)
Anak Sekolah ", Diakses 30 Juni 2010, Available from : URL :


http://www.konsumencerdas.co.cc


pengawasan), kalangan produsen (untuk keperluan persaingan yang sehat)
maupun oleh konsumen (untuk keperluan menentukan pilihannya).
Kebenaran suatu informasi pada label hendaknya dikaji dan dievaluasi dengan
menggunakan prinsip ilmiah, yaitu berdasarkan pada fakta dan data ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan. Hal ini penting khususnya dalam hubungannya dengan
perdagangan internasional. Namun, perlu disadari bahwa fakta dan data ini bisa saja
berubah terhadap waktu. Bahkan bisa saja hal itu berbeda antar negara sehingga
muncullah keperluan untuk melakukan transparansi informasi dan harmonisasi.
Salah satu manfaat pencantuman informasi yang benar pada label dan
iklan adalah untuk memberikan pendidikan kepada konsumen tentang hal yang
berkaitan dengan pangan. Informasi penting yang umum disampaikan melalui label
dan iklan tersebut antara lain berupa bagaimana cara menyimpan pangan, cara
pengolahan yang tepat, kandungan gizi pada pangan tertentu, fungsi zat gizi
tersebut terhadap kesehatan, dan sebagainya.
3.3 Ketentuan Label Pangan Terkait Asas Perlindungan Konsumen
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label
dan Iklan Pangan, maka produsen dan importir pangan berkewajiban untuk
memberikan keterangan dan atau pernyataan yang benar dan tidak menyesatkan
tentang pangan dalam label. Akan tetapi jika diperhatikan label pangan yang beredar
saat ini terdapat beragam informasi di dalamnya, mulai dari nama produk
tersebut hingga katakata/kalimat bombastis yang biasanya hanya untuk
kepentingan promosi semata.


91 " Label Juga Harus Berbahasa Indonesia " diakses 21 Juni 2010, available from : http:
//www.hukumonline.com.
Untuk itu sebagai konsumen yang cerdas, maka kita harus membiasakan diri
membaca/mengecek label dengan cermat. Sayangnya, dari hasil kajian yang
dilakukan BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Nasional) ditemukan bahwa
masalah label kurang mendapat perhatian dari konsumen dimana hanya 6,7%
konsumen yang memperhatikan kelengkapan pada label.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa yang dimaksud dengan label
pangan sesuai ketentuan pasal 1 angka 3 PP No. 69 Tahun 1999 adalah setiap
keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi
keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam,
ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan.
Penggunaan kata ditempel pada pengertian label, menurut hemat penulis
menimbulkan persoalan. Kata ditempelkan menimbulkan kesan bahwa label dapat
ditempel kapan pun, padahal pada dasarnya label merupakan bagian tak terpisah dari
kemasan. Penggunaan kata ditempel juga terkesan terpisah dan bisa dipalsukan.
Selain bisa dipalsukan, label yang hanya berupa tempelan/stiker dapat dengan mudah
dicabut, diganti kemudian dilabeli kembali oleh pelaku usaha yang curang.
Label berupa stiker banyak ditemukan pada produk-produk impor. Hal ini
pernah dikeluhkan oleh Ketua bidang Regulasi Gabungan Perusahaan Makanan dan
Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani. 91


Pelabelan kembali dengan cara mencabut, mengganti label tempelan sangat
mudah untuk dilakukan, bila dibandingkan jika produk itu labelnya disertakan pada
kemasan pangan atau yang dimasukkan ke dalam kemasan pangan.
Kecenderungan untuk mencapai untung yang tinggi secara ekonomis
ditambah dengan persaingan yang ketat di dalam berusaha dapat mendorong
sebagian pelaku usaha untuk bertindak curang dan tidak jujur. Kecurangan tidak
hanya akan merugikan konsumen saja, tetapi juga akan merugikan pelaku usaha
yang jujur dan bertanggungjawab.
Kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan usaha bagi pelaku
usaha yang bertanggung jawab dapat diwujudkan tidak dengan jalan merugikan
kepentingan konsumen, tetapi dapat dicapai melalui penindakan terhadap pelaku
usaha yang melakukan kecurangan dalam kegiatan usahanya.
Asas manfaat dalam hukum perlindungan konsumen, menekankan
bahwa segala upaya dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen harus
memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku
usaha secara keseluruhan.
Asas keamanan dan keselamatan konsumen menekankan bahwa
keamanan dan keselamatan konsumen dalam penggunaan, pemakaian dan
pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau digunakan dijamin oleh
Undang-Undang.
Dengan adanya peluang untuk berbuat curang dalam pelabelan karena
ketentuan yang ada terlalu mudah, maka potensi kerugian bagi konsumen dan
pelaku


usaha yang jujur semakin besar. Sehingga jelas dalam hal ini asas manfaat dan asas
keselamatan dan keamanan konsumen tidak terpenuhi.
Guna terpenuhinya asas manfaat, asas keamanan dan keselamatan konsumen,
tidakkah baiknya penggunaan kata ditempel pada pengertian label dihilangkan saja,
karena dengan menghilangkan kata ditempelkan, maka dapat membuat label
menjadi satu dengan kemasan. Penghilangan kata ditempelkan pada
pengertian label setidaknya juga akan meminimalisir terjadi kecurangan-kecurangan
seperti yang telah disebutkan diatas. Dari hasil kajian Badan Perlindungan Konsumen
Nasional (BPKN) ditemukan bahwa penyimpangan terhadap peraturan pelabelan
yang paling banyak terjadi salah satunya adalah label yang ditempel tidak
menyatu dengan kemasan.
Pasal 2 PP No. 69 Tahun 1999 menyebutkan :
(1). Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan pangan yang dikemas ke
dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label
pada, di dalam, dan atau di kemasan pangan.
(2). Pencantuman Label sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak mudah lepas dari kemasannya, tidak mudah
luntur atau rusak, serta terletak pada bagian kemasan pangan yang mudah
untuk dilihat dan dibaca.
Kemudian didalam pasal 3 dari PP No. 69 Tahun 1999 tersebut ditentukan
bahwa :
(1) Label sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 ayat (1) berisikan keterangan
mengenai pangan yang bersangkutan.
(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya :
a. nama produk;
b. daftar bahan yang digunakan;
c. berat bersih atau isi bersih;
d. nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan
ke dalam wilayah Indonesia.
e. tanggal, bulan, dan tahun kadaluwarsa.


Hal yang sama juga ditentukan dalam pasal 111 ayat (3) Undang-Undang
Kesehatan No. 36 Tahun 2009.
Point a, c, d dalam pasal 3 ayat (2) dalam pasal 12 PP No. 69 Tahun 1999
disebut sebagai bagian utama dari label. Yang dimaksud dengan bagian utama
yaitu bagian yang memuat keterangan paling penting untuk diketahui konsumen.
Nama produk penting karena nama produk menunjukkan identitas mengenai
produk pangan. Padanya harus memberi penjelasan mengenai produk yang
bersangkutan, tidak menyesatkan dan harus menunjukkan sifat dan atau keadaan yang
sebenarnya. Bila terdapat gambar dalam label produk, gambar ini harus menunjukkan
keadaan yang sebenarnya. Misalnya, disuguhkan gambar buah-buahan, sayur,
daging, ikan atau lainnya harus benar mengandung bahan-bahan itu.
Penggunaan nama produk pangan tertentu yang sudah terdapat dalam Standar
Nasional Indonesia, dapat diberlakukan dengan wajib dengan Keputusan Menteri
Teknis. Dengan perkembangan teknologi di bidang pangan maka terdapat produk
pangan tertentu yang tidak atau belum memiliki nama produk, misalnya
makanan ringan yang dikenal dengan dengan istilah snack seperti chiki, tazzoz,
dan lain-lain. Oleh karena itu cukup dicantumkan nama jenis produk pangan yang
bersangkutan, seperti makanan ringan. Nama produk berbeda dengan nama
dagang. Nama dagang adalah merek. Merek sebagaimana diterangkan adalah
suatu tanda yang berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka,
susunan warna atau kombinasi dari


unsur-unsur yang merupakan tanda pembeda produk yang satu dengan produk lan.
Misal, nama produk : minyak goreng, nama dagang/merek : sania.
Berat bersih (isi bersih) adalah pernyataan yang memberikan keterangan
mengenai kuantitas atau jumlah produk pangan yang terdapat di dalam kemasan
atau wadah. Penggunaan ukuran isi (liter dan sejenisnya) untuk makanan cair,
ukuran berat (kg dan sejenisnya) untuk makanan padat. Dan ukuran isi atau berat
untuk makanan semi padat atau kental. Khusus pangan yang menggunakan
medium cair maka berat bersih harus diukur dengan medium cair (setelah
ditiriskan, drained weight), dan disebut sebagai berat tiris. Contoh berat bersih
680 g.
Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke
dalam wilayah Indonesia juga merupakan bagian utama dari label. Dalam hal
pihak yang memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia berbeda dengan
pihak yang mengedarkan, maka nama dan alamat pihak yang mengedarkan
(distributor) juga harus dicantumkan dalam label. Pentingnya mencantumkan
nama dan alamat ini adalah untuk memudahkan konsumen jika dikemudian hari
produk yang dihasilkan menimbulkan kerugian pada konsumen. Nama dan
alamat ini paling tidak menginformasikan nama kota, kode pos dan nama Negara.
Daftar bahan yang digunakan (ingredient list) adalah daftar yang
memuat setiap jenis bahan yang diformulasikan untuk produk pangan, kecuali
vitamin, mineral, dan zat penambah gizi lainnya. Dicantumkan berurutan secara
menurun mulai dari bahan yang dominan digunakan berdasarkan berat. Untuk air,
bila dalam proses pengolahan ditambahkan maka harus dicantumkan sebagai
bahan yang


digunakan, sedangkan bila merupakan kandungan suatu bahan atau mengalami
penguapan selama proses pengolahan, maka air tidak perlu dicantumkan.
Penyebutan nama bahan baku harus dalam nama umum/nama yang lazim
digunakan/ nama yang telah ditetapkan dalam Standar Nasional Indonesia. Misalnya
untuk bahan gula, tidak dicantumkan sebagai sukrosa. Dengan dicantumkannya
daftar bahan yang digunakan dalam label, konsumen dapat mengetahui apakah
produk tersebut aman untuk dikonsumsi, hal ini penting karena mungkin saja
konsumen ada alergi pada suatu bahan makanan tertentu.
Tanggal kadaluarsa adalah batas akhir suatu makanan dijamin mutunya
sepanjang penyimpanannya mengikuti petunjuk yang diberikan oleh produsen
(pasal 1 huruf d Permenkes RI No. 180/1985), sedangkan makanan daluwarsa
adalah makanan yang telah lewat tanggal kadaluarsa (pasal 1 huruf c Permenkes
RI No. 180/1985).
Makanan yang rusak baik sebelum dan maupun sesudah tanggal kadaluarsa
dinyatakan sebagai bahan berbahaya (pasal 3 Permenkes RI No. 180/1985).
Dari tanggal kadaluarsa yang tercantum pada label, konsumen dapat
mengetahui batas tanggal suatu produk makanan masih layak dikonsumsi.
Akan tetapi dari pengertian yang diberikan dalam pasal 3 Permenkes RI No.
180/1985, dapat diketahui bahwa belum tentu juga makanan yang masih dalam
batas kadaluarsa aman untuk dikonsumsi.
Jalan yang harus dilalui suatu produk dari produsen hingga sampai ke tangan
konsumen terkadang melalui mata rantai yang panjang. Panjangnya mata rantai
yang


harus dilalui mengakibatkan banyak gangguan yang membuat makanan tak layak
dikonsumsi sampai ke tangan konsumen meski secara de jure masih aman.
Pencantuman masa kadaluarsa ini didasarkan pada aspek keamanan
(parameter utamanya adalah cemaran mikrobiologi, seperti jamur dan bakteri
pembusuk makanan) serta kelayakan konsumsi (parameter utamanya adalah
organileptik: penampakan, rasa, tekstur, bau, kandungan kimiawi). Jangan pernah
mengkonsumsi produk yang telah melewati masa kadaluarsanya. Dikhawatirkan ini
menjadi pencetus timbulnya gejala keracunan atau jika bakteri yang berkembang
seperti Clostridium botulinum maka dapat menyebabkan kematian. Gejala awal
umumnya muntah-muntah maupun mual. Oleh sebab itu masyarakat sebagai
konsumen harus proaktif dan kritis dalam menanggapi hal ini.
Beberapa waktu yang lalu pun di media sempat ramai oleh berita beredarnya
produk kadaluarsa di pasar-pasar tradisional yang dijual dengan harga yang
sangat murah dari harga sebenarnya. Bahkan ada juga produsen yang mendaur ulang
produk kadaluarsanya menjadi produk baru lagi. Tentulah kegiatan seperti
tersebut diatas tidak boleh dilakukan dan melanggar peraturan yang ada.
Pemerintah perlu melakukan tindakan pengawasan yang lebih baik lagi dan
produsen harus menarik produknya dari peredaran sebelum waktu kadaluarsanya
habis dan memusnahkannya sesuai prosedur yang berlaku.
Semua produk pangan yang akan dijual di wilayah Indonesia, baik
produksi lokal maupun impor, harus didaftarkan dan mendapatkan nomor
pendaftaran dari Badan POM, sebelum boleh diedarkan ke pasar (pasal 30 PP
No. 69 Tahun 1999).


Selain nomor pendaftaran, kode produksi pangan pun wajib dicantumkan pada
label, wadah atau kemasan pangan. Kode produksi dicantumkan pada bagian yang
mudah dibaca dan dilihat.
Peraturan ini berlaku bagi semua produk pangan yang dikemas dan
menggunakan label sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Bagi Badan POM, nomor pendaftaran ini berguna untuk mengawasi produk-produk
yang beredar di pasar, sehingga apabila terjadi suatu kasus akan mudah ditelusuri
siapa produsennya dan akan mudah pula melakukan penarikannya.
Apabila kita melihat pada produk-produk makanan dan minuman yang
beredar di supermarket, toko, warung dan pasar, maka nomor pendaftaran dapat kita
temukan di bagian depan label produk pangan tersebut dengan kode SP, MD atau
ML yang diikuti dengan sederetan angka. Nomor SP adalah Sertifikat
Penyuluhan, merupakan nomor pendaftaran yang diberikan kepada pengusaha kecil
dengan modal terbatas dan pengawasan diberikan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kodya, sebatas penyuluhan.
Nomor MD diberikan kepada produsen makanan dan minuman
bermodal besar yang diperkirakan mampu untuk mengikuti persyaratan keamanan
pangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan nomor ML, diberikan
untuk produk makanan dan minuman olahan yang berasal dari produk impor, baik
berupa kemasan langsung maupun dikemas ulang.
Bagi produsen yang mempunyai beberapa lokasi pabrik yang berlainan,
namun memproduksi produk yang sama, maka nomor MD yang diberikan
adalah


berdasarkan kode lokasi produk. Sehingga dapat terjadi suatu produk pangan
yang sama, akan tetapi mempunyai nomor MD yang berbeda karena diproduksi oleh
pabrik yang berbeda.
Hal ini dimaksudkan untuk meringankan produsen bila terjadi suatu kasus
terhadap suatu produk dari merek tertentu, yang mengharuskan terjadinya
menghentian produksi atas produk tersebut. Maka yang terkena penghentian produksi
hanyalah di lokasi yang memproduksi produk MD yang terkena masalah.
Nomor pendaftaran tetap berlaku sepanjang tidak ada perubahan yang
menyangkut komposisi, perubahan proses meupun perubahan lokasi pabrik
pengolah dan lain-lain. Apabila terjadi perubahan dalam hal-hal tersebut di atas,
maka produsen harus melaporkan perubahan ini kepada Badan POM, dan bila
perubahan ini terlalu besar, maka harus diregistrasi ulang.
Akhir-akhir ini semakin banyak produsen yang menggunakan jasa
produksi dari pabrik lain, atas istilah tol manufaktur atau maclon. Dalam kasus ini,
nomor MD adalah diberikan kepada pobrik yang memproduksi produk tersebut.
Sehingga apabila produsen tersebut akan mengalihkan produksinya ke pabrik
lain, maka harus mendaftar ulang kembali ke Badan POM.
Sejauh ini pendaftaran makanan dan minuman untuk seluruh wilayah
Indonesia ditangani langsung oleh Direktorat Penilaian Keamanan Pangan, Badan
POM. Untuk makanan dalam negeri diperlukan fotokopi izin industri dari
Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Formulir Pendaftaran dapat diperoleh di
Bagian Tata Usaha Direktorat Penilaian Keamanan Pangan, Badan POM, Gedung
D


Lantai III, Jalan Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat, Telp. 021-4245267. Setelah
formulir ini diisi dengan lengkap, kemudian diserahkan kembali bersama contoh
produk dan rancangan label yang sesuai dengan yang akan diedarkan.
Penilaian untuk mendapatkan nomor pendaftaran disebut penilaian keamanan
pangan. Pada dasarnya klasifikasi penilaian pangan ada dua macam, yaitu penilaian
umum dan penilaian ODS (One Day Service). Penilaian umum adalah untuk semua
produk beresiko tinggi dan produk baru yang belum pernah mendapatkan nomor
pendaftaran. Penilaian ODS adalah untuk semua produk beresiko rendah dan
produk sejenis yang pernah mendapatkan nomor pendaftaran.
Bagian keempatbelas PP No. 69 Tahun 1999 ada menentukan mengenai
keterangan lain pada wajib dicantumkan pada label untuk pangan olahan
tertentu. Pasal 38
Keterangan pada Label tentang pangan olahan yang diperuntukan bagi
bayi, anak berumur dibawah lima tahun, ibu yang sedang hamil atau
menyusui, orang yang menjalani diet khusus, orang lanjut usia, dan orang
berpenyakit tertentu, wajib memuat keterangan tentang peruntukan, cara
penggunaan, dan atau keterangan lain yang perlu diketahui, termasuk
mengenai dampak pangan tersebut terhadap kesehatan manusia.
Pasal 39
(1). Pada Label untuk pangan olahan yang memerlukan penyiapan dan atau
penggunaan nya dengan cara tertentu, wajib dicantumkan keterangan
tentang cara penyiapan dan atau penggunaannya dimaksud.
(2). Apabila tercantum keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) tidak mungkin dilakukan pada Label, maka pencantuman
keterangan dimaksud sekurang-kurangnya dilakukan pada wadah atau
kemasan Pangan.
Pasal 40
Dalam hal mutu suatu pangan tergantung pada cara penyimpanan atau
memerlukan cara penyimpanan khusus, maka petunjuk tentang cara
penyimpanan harus dicantumkan pada Label.


Lebih lanjut Pasal 15 PP No. 69 Tahun 1999 menentukan bahwa
keterangan pada label, ditulis atau dicetak dengan menggunakan bahasa
Indonesia, angka Arab, dan huruf Latin. Dalam bagian penjelasan dari pasal ini
disebutkan bahwa ketentuan ini dimaksudkan agar pangan olahan yang
diperdagangkan di Indonesia harus menggunakan label dalam bahasa
Indonesia. Khusus bagi pangan olahan untuk diekspor, dapat dikecualikan dari
ketentuan ini.
Kemudian pasal 16 menyebutkan :
(1) Penggunaan bahasa selain bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf Latin
diperbolehkan sepanjang tidak ada padanannya atau tidak dapat diciptakan
padanannya, atau dalam rangka perdagangan pangan ke luar negeri.
(2) Huruf dan angka yang tercantum pada Label harus jelas dan mudah dibaca.
Ketentuan pasal ini tidak ada penjelasannya sehingga menimbulkan banyak
pertanyaan dan dapat pula ditafsirkan macam-macam.
Bagian mana dari label itu yang boleh menggunakan bahasa selain bahasa
Indonesia, angka Arab dan huruf Latin karena tidak ada padanannya atau tidak dapat
diciptakan padanannya dalam Bahasa Indonesia, hal ini tidak diberi penjelasan.
Apa semua keterangan sebagaimana ditentukan dalam pasal 3 jo pasal 12 PP
No. 69 Tahun 1999 boleh menggunakan bahasa selain bahasa Indonesia, angka
Arab dan huruf Latin karena tidak ada padanannya atau tidak dapat diciptakan
padanannya.
Sejak implementasi liberalisasi perdagangan dalam kerangka
perdagangan bebas Asean China (Asean China Free Trade Agreement/ACFTA),
praktis ketakutan terhadap membanjirnya produk impor makin kuat. Pasalnya,
sebelum tarif sejumlah


92
YLKI Minta BPOM Tindaklanjuti Temuan Pangan Tanpa Label ", diakses 26 Oktober
2010, available from : http://m.antaranews.com
sektor dibebaskan, produk impor terutama dari China telah beredar dengan
bebas. Pasar Indonesia kini tengah menjadi sasaran empuk bagi produk impor,
terutama dari China, seperti biskuit, permen, coklat, susu dan minuman ringan.
Produk-produk tersebut beredar di pasaran tanpa mengindahkan ketentuan
label sebagaimana ditentukan dalam PP No. 69 Tahun 1999, khususnya
menyangkut masalah bahasa.
92
Bahasa yang digunakan dalam label produk tersebut
masih bahasa asal produk yakni China.
Darimana konsumen akan tahu mengenai nama produk, daftar bahan yang
digunakan, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat pihak yang
memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia, tanggal,
bulan, dan tahun kadaluwarsa, keterangan tentang peruntukan, cara penggunaan,
cara penyimpanan dan atau keterangan lain yang perlu diketahui, termasuk
mengenai dampak pangan tersebut terhadap kesehatan manusia bila bahasa yang
dipergunakan bukan bahasa Indonesia.
Penggunaan label dengan bahasa Indonesia saja kadang bisa tidak
dimengerti/dipahami konsumen, apalagi produk selain bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Indonesia pada label pangan memiliki peranan yang
penting dalam perlindungan konsumen. Dengan label berbahasa Indonesia,
konsumen bisa mengetahui informasi produk yang dibelinya sehingga bisa
meminimalisasi resiko


93 " Wajib Label Jangan Setengah Hati ",diakses 02 September 2010, available from :
http://bataviase.co.id
kejadian yang tidak diinginkan. Label selain bahasa Indonesia tentu akan menyulitkan
konsumen dalam memahami, menggunakan, serta mengetahui bahan-bahan yang
terdapat pada produk yang dibelinya.
Bagaimana konsumen tahu bahwa produk tersebut cocok, aman, bermanfaat
baginya bila ia tidak paham. Keterangan atau penjelasan pada label terkait dengan
keselamatan, keamanan dan kesehatan konsumen. Konsumen harus dilindungi
dari segala bahaya yang mengancam kesehatan, jiwa, dan harta bendanya karena
memakai atau mengonsumsi produk (khususnya pangan).
93
Dengan demikian,
setiap produk baik dari segi komposisi bahannya, dari desain dan kontruksinya,
maupun dari segi kualitasnya harus diarahkan untuk mempertinggi rasa
kenyamanan, keamanan dan keselamatan konsumen.
Tidak dikehendakinya adanya produk yang dapat mencelakakan dan
mencederai konsumen. Disinilah arti penting label, karena dari label konsumen dapat
mengetahui adanya unsur-unsur yang dapat membahayakan keamanan dan
keselamatan dirinya atau menerangkan secara lengkap perihal produknya sehingga
konsumen dapat memutuskan apakah produk tersebut cocok.
Informasi dalam label tidak hanya berdampak signifikan dalam meningkatkan
efisiensi dari konsumen dalam memilih produk, tetapi di satu sisi label dengan
informasi yang lengkap yang dapat dipahami konsumen akan mampu
meningkatkan


kesetiaan konsumen terhadap suatu produk, dan hal ini tentu akan memberikan
keuntungan tersendiri bagi pelaku usaha.
Pengecualian penggunaan bahasa Indonesia dalam label karena tidak ada
padanannya atau tidak dapat diciptakan padanannya dalam bahasa Indonesia
justru akan membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperdagangkan produk
pangan yang tidak dimengerti oleh konsumen sehingga berpotensi menimbulkan
kerugian yang tidak diinginkan, karena pesan informasi tidak ditangkap
konsumen, karena kendala bahasa.
Dalam hal demikian, asas manfaat, asas keamanan dan keselamatan
konsumen, asas kepastian hukum tidak dapat dipenuhi
Permasalahan dalam pasal 16 PP No. 69 Tahun 1999 tidak hanya
diberikannya lagi peluang tidak menggunakan bahasa Indonesia dalam label,
permasalahan lainnya juga pasal tersebut tidak memberi penjelasan, dalam hal
perdagangan pangan ke luar negeri (ekspor) bahasa apa yang harus dipergunakan.
Bahasa Inggris, bahasa Latin, atau bahasa lain.
Pasal 27
(1) Tanggal, bulan dan Tahun kedaluwarsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 ayat (2) wajib dicantumkan secara jelas pada Label.
(2) Pencantuman tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) dilakukan setelah pencantuman tulisan "Baik
digunakan sebelum" sesuai dengan jenis dan daya tahan pangan yang
bersangkutan.
(3) Dalam hal produk pangan yang kadaluwarsanya lebih dari 3 (tiga) bulan,
diperbolehkan untuk hanya mencantumkan bulan dan tahun kedaluwarsa
saja.


Meski telah ditegaskan bagaimana penulisan pencantuman label
kadaluarsa, tetapi hingga kini masih banyak produk yang tidak mengikuti
ketentuan penulisan tersebut. Banyak produk yang masih memakai Bahasa
Inggris dan aturan penanggalannya, seperti : " manufacturing or packing
date " (diproduksi atau dikemas tanggal), " sell by date " (dijual paling lama
tanggal), " use by date ~ (digunakan paling lama tanggal), " date of minimum
durability / best before ~ (sebaiknya digunakan sebelum tanggal), " exp "
(daluwarsa) yang diikuti angkaangka. Bahkan tak jarang pula hanya berisi
angka-angka melulu yang bagi masyarakat awam tentu akan menimbulkan
tanda tanya.
Dalam hal demikian, asas manfaat, asas keadilan, kepastian hukum, asas
keamanan dan keselamatan konsumen tidak terpenuhi. Mengapa tidak terpenuhi,
karena pencantuman tanggal kadaluarsa pada label produk tidak hanya
bermanfaat bagi konsumen, tetapi juga bagi distributor, penjual maupun
produsen itu sendiri, yaitu :
a. Konsumen dapat memperoleh informasi yang lebih jelas tentang
keamanan produk tersebut;
b. Distributor dan penjual makanan dapat mengatur stok barangnya (stock
raotation);
c. Produsen dirangsang untuk lebih menggiatkan pelaksanaan " quality
control " terhadap produknya.


BAB IV
TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA
DALAM PELANGGARAN LABEL PANGAN
4.1 Aspek Perdata, Pidana dan Administrasi Dalam Perlindungan Konsumen
Hukum hidup, tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat sebagai sarana
menciptakan ketentraman dan ketertiban bagi kedamaian dalam hidup sesama warga
masyarakat. Hukum akan tumbuh dan berkembang bila masyarakat menyadari makna
kehidupan hukum dalam kehidupannya. Sedangkan tujuan hukum sendiri ialah untuk
mencapai kedamaian di dalam masyarakat
94
. Hukum juga dituntut untuk memenuhi
nilai-nilai dasar hukum yang meliputi keadilan, kerugian/ kemanfaatan dan kepastian
hukum. Hukum yang mengatur perlindungan konsumen tentu saja di tuntut
pula untuk memenuhi nilai keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum,
walaupun kadang-kadang bila salah satu nilai tersebut tercapai nilai yang
lain menjadi terabaikan.
Keefektivan hukum bila di kaitkan dengan badan-badan penegak
hukumnya, maka menurut G.G Howard dan R.S Summers ada faktor yang
mempengaruhinya :
a. Undang-undangnya harus dicanangkan dengan baik. Kaidah-kaidah yang
bekerja
mematuhi tingkah laku itu harus ditulis dengan jelas dan dapat dipahami
dengan
penuh kepastian;


95
Soerjono Soekanto ,1986, Permasalahan Hukum di Indonesia, Alumni, Bandung,
(selanjutnya disebut Soerjono Soekanto III), h. 13.
b. Mereka yang bekerja sebagai pelaksana hukum harus menunaikan tugasnya
dengan baik dan harus menafsirkan peraturan tersebut secara seragam dan sedapat
mungkin senafas dengan bunyi penafsiran yang mungkin dicoba dilakukan
oleh warga masyarakat yang terkena;
c. Aparat penegak hukum harus bekerja tanpa jenuh untuk menyidik dan menuntut
pelanggar-pelanggar.
Berbagai peraturan yang berkaitan dengan upaya perlindungan
konsumen pada dasarnya sama dengan peraturan-peraturan lain yang ketentuannya
mengandung ide-ide atau konsep-konsep yang boleh digolongkan abstrak, yang
idealnya meliputi ide tentang keadilan, kepastian dan kemanfaatan sebagaimana
diungkapkan oleh Gustav Radbruch. Oleh karena itu, persoalan konsumen
untuk memperoleh perlindungan sebagai bagian dari suatu sistem hukum akan
berkaitan dengan upaya mewujudkan ide-ide tersebut, bahkan seringkali negara
harus ikut campur tangan karena adanya kekuatan pengaruh yang menuntut hal
demikian agar bekerjanya hukum dapat efektif, khususnya dalam hal ini adalah
mengenai penyelenggaraan struktur hukum yang berupa lembaga-lembaga
penegak hukum sebagai sarana bagi pihak yang dirugikan untuk memperoleh
keadilan. Dengan demikian diharapkan sistem hukum dalam upaya perlindungan
konsumen dapat berjalan dengan baik.
Keterlibatan negara atau pemerintah saja belum dapat menjamin
terpenuhinya atau berjalannya suatu sistem hukum karena ddalam suatu sistem
hukum menurut Lawrence M. Friedman meliputi tiga hal yaitu substansi hukum,
struktur hukum dan


95
Dragan Milovanovic, A Primer in the Sociology of Law Second Edition, Harrow and Heston
Publishers, New York, h. 89.
kultural hukum, a legal system is actual operation is complex organism in which
sructure, substance and culturale interaction.
Dalam kaitannya fungsi hukum sebagai sarana rekayasa sosial (social
engineering) agar hukum (termasuk Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999) bisa
menentukan corak hidup masyarakat(yang dalam hal ini corak hidup
masyarakat selaku konsumen maupun pelaku usaha) bukanlah hal yang mudah,
sebab banyak faktor yang mempengaruhinya, di samping bahwa dalam setiap
individu akan tergantung pada pilihan-pilihan individu secara rasional untuk taat
atau tidak taat kepada ketentuan hukum yang berlaku (Undang-undang No 8
Tahun 1999). The law, for Pound should act so to assure the maximum amount of
fulfillment of interests in a society.
95
Individu akan selalu memilih aktifitas yang
menguntungkan baginya dan menghindari yang paling merugikan baginya di
dalam area of choice menuntut tingkat rasional (yang paling baik). Perilaku
rasional ini paling tidak berorientasi pada perilaku kebiasaan, nilai-nilai etik dan
kebutuhan-kebutuhan individu.
Agar hukum dapat berfungsi sebagai sarana rekayasa sosial bagi masyarakat
konsumen dan pelaku usaha maka dapat dipakai pula pendekatan dengan
mengambil teori Robert Seidman, yaitu bahwa bekerjanya hukum dalam
masyarakat itu melibatkan tiga komponen dasar yakni pembuat hukum/ Undang-
undang, birokrat pelaksana dan pemegang peran.


96
Satjipto Rahardjo, 1977, Pemanfaatan Ilmu-ilmu Sosial bagi Pengembangan Ilmu Hukum,
Alumni, Bandung, (selanjutnya disebut Satjipto Rahardjo II), h. 36.
Bekerjanya hukum dapat dikatakan baik dan efektif bila melibatkan tiga
komponen dasar yaitu pembuat hukum, birokrat pelaksana dan pemegang peran.
Setiap anggota masyarakat (para konsumen dan pelaku usaha) sebagaimana
pemegang peran, perilakunya ditentukan oleh pola peranan yang diharapkan
darinya, namun bekerjanya harapan itu ditentukan faktor-faktor lainnya. Faktor-
faktor tersebut adalah 96:
a. Sanksi yang terdapat dalam peraturan;
b. Aktivitas dari lembaga atau badan pelaksana hukum;
c. Seluruh kekuatan sosial, politik dan yang lainnya yang bekerja atas diri
pemegang peran.
Perilaku konsumen dan pelaku usaha tentu saja juga tidak lepas dari tingkat
pengetahuan, sikapnya terhadap Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999, sehingga
kemudian menimbulkan niat untuk berperilaku. Fishbein dan Ajzen
mengenalkan model hubungan antara pengetahuan, sikap, niat dan perilaku.
Menurut Hobbs dan Freud, bahwa pada dasarnya perilaku individu manusia adalah
egoistis dan karenanya cenderung memuaskan kepentingannya sendiri. Akibat
dari sifat manusia yang cenderung ingin memuaskan kepentingannya sendiri itu,
maka sering menimbulkan benturan-benturan dengan fihak lain yang apabila hal ini
dibiarkan terus berlangsung akan menciptakan penyimpangan sosial (deviasi
sosial). Dalam hal ini peranan hukum sebagai upaya pembentukan perilaku
sosial dalam diri seseorang untuk mampu berbagi kepentingan dengan orang lain
diperlukan.


Ketaatan yang rendah terhadap hukum juga dimungkinkan karena warga
masyarakat konsumen kurang memahami norma-norma tersebut, sehingga
mereka sama sekali tidak mengetahui akan manfaaatnya untuk mematuhi akidah
tersebut. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Gastra Van Loon, bahwa
efektifnya suatu perundang-undangan secara sederhana berarti tujuannya
tercapai. Hal ini sangat tergantung berbagai faktor, antara lain tingkat pengetahuan
tersebut dan pelembagaan dari Undang-undang pada bagian-bagian masyarakat
sesuai dengan ruang lingkup undang-undang tadi.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa perlindungan hukum
menurut Philipus M. Hadjon terbagi atas dua, yaitu perlindungan hukum
preventif dan perlindungan hukum represif. Perlindungan hukum preventif yaitu
perlindungan hukum yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu sengketa.
Perlindungan hukum jenis ini misalnya sebelum Pemerintah menetapkan suatu
aturan/keputusan, rakyat dapat mengajukan keberatan, atau dimintai pendapatnya
mengenai rencana keputusan tersebut. Perlindungan hukum represif yaitu
perlindungan hukum yang dilakukan dengan cara menerapkan sanksi terhadap
pelaku agar dapat memulihkan hukum kepada keadaan sebenarnya. Perlindungan
jenis ini biasanya dilakukan di Pengadilan.
Pada hakekatnya perlindungan hukum itu berkaitan bagaimana hukum
memberikan keadilan yaitu memberikan atau mengatur hak-hak terhadap subyek
hukum, selain itu juga berkaitan bagaimana hukum memberikan keadilan terhadap
subyek hukum yang dilanggar haknya.


Perlindungan konsumen adalah merupakan masalah kepentingan
manusia, oleh karenanya menjadi harapan bagi semua bangsa di dunia
untuk dapat mewujudkannya. Mewujudkan perlindungan konsumen adalah
mewujudkan hubungan berbagai dimensi yang satu sama lain mempunyai
keterkaitan dan saling ketergantungan antara konsumen, pengusaha, dan
Pemerintah.
UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, UU No. 7
Tahun 1996 tentang Pangan, PP No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Pangan, Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang
Pencantuman Tulisan " Halal " pada Label Makanan, Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 180/Menkes. Per/IV/1985 tentang Makanan Daluwarsa yang
telah dirubah dengan Keputusan Dirjen POM No. 02591/B/SK/VIII/91
dimaksudkan dalam upaya memberikan perlindungan hukum kepada
masyarakat konsumen. Oleh karena itu tanggung jawab pelaku usaha atas informasi
yang tidak memadai dalam label menjadi kebutuhan yang mutlak. Tuntutan tanggung
jawab merupakan perlindungan hukum represif sebagaimana dikemukakan oleh
Philipus M. Hadjon.
Tanggungjawab yang dimiliki oleh suatu pihak dalam interaksinya
dengan pihak lain seharusnya dipenuhi manakala akibat dari kesalahan dari
perbuatannya menyebabkan kerugian bagi pihak lain. Tanggungjawab ini harus
dipenuhi tidak saja atas kesalahan perbuatan dari orang yang menjadi tanggungannya
atau kerugian yang ditimbulkan akibat dari barang yang berada di bawah
pengawasannya, hal ini dapat dicermati dari ketentuan Pasal 1367 Kitab Undang-
undang Hukum Perdata (KUH Perdata).


Dalam ketentuan pidana masalah perlindungan konsumen juga memperoleh
perhatian sebagaimana diatur dalam Pasal 204 dan 205 Kitab Undang-undang Hukum
Pidana (KUHP). Ketentuan ini terutama berkaitan dengan hak konsumen untuk
memperoleh informasi secara benar.
Dari uraian tersebut maka dimensi perlindungan hukum bagi konsumen dapat
meliputi berbagai aspek dan dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, yaitu
instrumen hukum perdata, instrumen hukum pidana dan juga instrumen hukum
administrasi.
4.2 Tanggung Jawab Perdata Pelaku UsahaDalam Pelanggaran Label Pangan
Produsen sebagai pelaku usaha mempunyai tugas dan kewajiban untuk
ikut serta menciptakan dan menjaga iklim usaha yang sehat yang menunjang
bagi pembangunan perekonomian nasional secara keseluruhan. Karena itu,
kepada produsen dibebankan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas dan kewajiban
itu, yaitu melalui penerapan norma-norma hukum, kepatutan, dan menjunjung tinggi
kebiasaan yang berlaku di kalangan dunia usaha. Etika bisnis merupakan salah
satu pedoman bagi setiap pelaku usaha. Prinsip business is business, tidak dapat
diterapkan, tetapi harus dengan pemahaman atas prinsip bisnis untuk
pembangunan. Jadi, sejauh mungkin, pelaku usaha harus bekerja keras untuk
menjadikan usahanya memberi kontribusi pada peningkatan pembangunan
nasional secara keseluruhan.
Kewajiban pelaku usaha untuk senantiasa beritikad baik dalam melakukan
kegiatannya (pasal 7 angka 1) berarti bahwa pelaku usaha ikut
bertanggungjawab


untuk menciptakan iklim yang sehat dalam berusaha demi menunjang pembangunan
nasional. Jelas ini adalah tanggung jawab publik yang diemban oleh seorang pelaku
usaha. Banyak ketentuan di dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen ini yang
bermaksud mengarahkan pelaku usaha untuk berperilaku sedemikian rupa dalam
rangka menyukseskan pembangunan ekonomi nasional, khususnnya di bidang
usaha.
Atas setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha maka kepadanya
dikenakan sanksi sebagai akibat hukum dari pelanggaran tersebut. Pemberian sanksi
sebagai akibat hukum pelanggaran ini penting, mengingat bahwa menciptakan iklim
berusaha yang sehat membutuhkan keseriusan dan ketegasan. Untuk ini sanksi
merupakan salah satu alat untuk mengembalikan keadaan pada keadaan semula
manakala telah terjadi pelanggaran (rehabilitasi) sekaligus sebagai alat preventif bagi
pengusaha lainnya sehingga tidak terulang lagi perbuatan yang sama.
Terkait dengan pelanggaran pada label produk pangan yang dilakukan
pelaku usaha, terdapat sanksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang
Perlindungan Konsumen, UU Pangan maupun PP No. 69 Tahun 1999. Sanksi
ini dapat berupa sanksi perdata, pidana maupun administratif.
Bagi pelaku usaha, selain dibebani kewajiban sebagaimana telah diuraikan
dalam bab sebelumnya ternyata juga dikenakan larangan-larangan sebagaimana
diatur dalam Pasal 8 sampai dengan 17 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen. Pasal 8 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen mengatur larangan bagi pelaku usaha yang sifatnya
umum dan secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :


a. Larangan mengenai produk itu sendiri, yang tidak memenuhi syarat dan
standar yang layak untuk dipergunakan atau dipakai atau dimanfaatkan oleh
konsumen.
b. Larangan mengenai ketersediaan informasi yang tidak benar, tidak akurat,
dan yang menyesatkan konsumen.
Masuk dalam kualifikasi larangan kedua ini adalah pelanggaran yang
dilakukan pelaku usaha dalam pelabelan.
Di samping adanya hak dan kewajiban yang perlu diperhatikan oleh pelaku
usaha, ada tanggung jawab produk (Product Liability) yang harus dipikul oleh
pelaku usaha sebagai bagian dari kewajiban yang mengikat kegiatannya dalam
berusaha. Sehingga diharapkan adanya kewajiban dari pelaku usaha untuk selalu
bersikap hatihati dalam memproduksi barang/jasa yang dihasilkannya.
Tanggung jawab pelaku usaha atas kerugian konsumen dalam Undang-
Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, diatur khusus
dalam BAB VI, mulai dari Pasal 19 sampai dengan Pasal 28.
Pasal 19
(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang
dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.
(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang
sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau
pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 24
(3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari
setelah tanggal transaksi.
(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) tidak menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana
berdasarkan pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur
kesalahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
berlaku apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan
tersebut merupakan kesalahan konsumen.
Pasal 20
Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi
dan segala akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.
Pasal 21
(1) Importir barang bertanggung jawab sebagai pembuat barang yang
diimpor apabila importasi barang tersebut tidak dilakukan oleh
agen atau perwakilan produsen luar negeri.
(2) Importir jasa bertanggung jawab sebagai penyedia jasa asing apabila
penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau
perwakilan penyedia jasa asing.
Pasal 22
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4), Pasal 20, dan Pasal 21
merupakan beban dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup
kemungkinan bagi jaksa untuk melakukan pembuktian.
Pasal 23
Pelaku usaha yang menolak dan/atau tidak memberi tanggapan
dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4),
dapat digugat melalui badan penyelesaian sengketa konsumen atau
mengajukan ke badan peradilan di tempat kedudukan konsumen.


(1) Pelaku usaha yang menjual barang dan/atau jasa kepada pelaku
usaha lain bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau
gugatan konsumen apabila: a. pelaku usaha lain menjual kepada
konsumen tanpa melakukan perubahan apa pun atas barang dan/atau
jasa tersebut; b. pelaku usaha lain, di dalam transaksi jual beli tidak
mengetahui adanya perubahan barang dan/atau jasa yang dilakukan
oleh pelaku usaha atau tidak sesuai dengan contoh, mutu, dan
komposisi.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebaskan dari
tanggung jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen
apabila pelaku usaha lain yang membeli barang dan/atau jasa menjual
kembali kepada konsumen dengan melakukan perubahan atas barang
dan/atau jasa tersebut.
Pasal 25
(1) Pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya
berkelanjutan dalam batas waktu sekurang-kurangnya 1 (satu)
tahun wajib menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas purna jual dan
wajib memenuhi jaminan atau garansi sesuai dengan yang
diperjanjikan.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung
jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila
pelaku usaha tersebut : a. tidak menyediakan atau lalai
menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas perbaikan; b. tidak
memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang
diperjanjikan.
Pasal 26
Pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan
dan/atau garansi yang disepakati dan/atau yang diperjanjikan.
Pasal 27
Pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung
jawab atas kerugian yang diderita konsumen, apabila :
a. barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak
dimaksudkan untuk diedarkan;
b. cacat barang timbul pada kemudian hari;
c. cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kualifikasi

Pasal 24
barang;
d. kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen;


e. lewatnya jangka waktu penuntutan 4 (empat) tahun sejak barang
dibeli atau lewatnya jangka waktu yang diperjanjikan.
Pasal 28
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 22, dan Pasal 23 merupakan
beban dan tanggung jawab pelaku usaha.
Memperhatikan substansi Pasal 19 ayat (1) Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, dapat diketahui bahwa tanggung jawab pelaku usaha
meliputi :
a. Tanggung jawab ganti kerugian atas kerusakan,
b. Tanggung jawab ganti kerugian atas pencemaran,
c. Tanggung jawab ganti kerugian atas kerugian konsumen.
Berdasarkan hal ini, maka adanya produk barang dan/atau jasa yang
cacat bukan merupakan satu-satunya dasar pertanggungjawaban pelaku usaha.
Hal ini berarti, bahwa tanggung jawab pelaku usaha meliputi segala kerugian yang
dialami konsumen.
Berbicara mengenai tanggung jawab, maka tidak lepas dari prinsip-prinsip
sebuah tanggung jawab, karena prinsip tentang tanggung jawab merupakan
perihal yang sangat penting dalam perlindungan konsumen. Secara umum prinsip-
prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan, yaitu :
a. Prinsip tanggung jawab berdasarkan kesalahan (liability based on fault), yaitu
pr i nsi p yang menyat akan bahwa seseor ang bar u dapat
di mi nt a


pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsur kesalahan yang
dilakukannya.
97

Prinsip ini adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam hukum pidana dan
perdata. Dalam KUH Perdata, khususnya pasal 1365, 1366 dan 1367 prinsip ini
dipegang secara teguh. Pasal 1365 KUH Perdata lazim dikenal sebagai pasal
tentang perbuatan melanggar hukum, yang mempunyai empat unsur pokok,
yaitu:
1. Adanya perbuatan
2. Adanya unsur kesalahan
3. Adanya kerugian yang diderita
4. Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kerugian.
Yang dimaksud dengan kesalahan adalah unsur yang bertentangan dengan
hukum. Pengertian " hukum " tidak hanya bertentangan dengan Undang-
undang, tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat.
Secara common sense, asas tanggung jawab ini dapat diterima karena adalah
adil bagi orang yang berbuat salah untuk mengganti kerugian bagi pihak
korban. Dengan kata lain, tidak adil jika orang yang tidak bersalah harus
mengganti kerugian yang diderita orang lain.
Mengenai pembagian beban pembuktiannya, asas ini mengikuti ketentuan
pasal
163 HIR atau 283 Rbg dan pasal 1865 KUH Perdata. Disitu dikatakan,
barang


97
Innosentius Samsul, 2004, Perlindungan Konsumen Kemungkinan Penerapan Tanggung
Jawab Mutlak, Universitas Indonesia, Fakultas Hukum Pascasarjana, h. 48.
siapa yang mengakui mempunyai hak, harus membuktikan adanya hak
atau


peristiwa itu. Ketentuan diatas juga sejalan dengan teori umum dalam
hukum acara, yakni asas audi et altarem partem atau asas kedudukan yang
sama antara pihak yang berperkara.
b. Prinsip praduga untuk selalu bertanggungjawab (Presumption of libility),
yaitu prinsip yang menyatakan tergugat selalu dianggap bertanggung jawab
sampai ia dapat membuktikan, bahwa ia tidak bersalah, jadi beban pembuktian
ada pada tergugat. Pembuktian semacam ini lebih dikenal dengan sistem
pembuktian terbalik.
Undang-Undang Perlindungan Konsumen rupanya mengadopsi system
pembuktian ini, sebagaimana ditegaskan dalam pasal 19, 22, 23 dan 28.
Dasar pemikiran dari teori pembuktian terbalik ini adalah seseorang dianggap
bersalah, sampai yang bersangkutan dapat membuktikan sebaliknya. Hal ini tentu
bertentangan dengan asas hukum praduga tidak bersalah (presumption of
innocence) yang lazim dikenal dalam hukum.
Namun, jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak, asas demikian
cukup relevan. Jika digunakan teori ini, maka yang berkewajiban untuk
membuktikan kesalahan itu ada dipihak pelaku usaha yang digugat. Tergugat
ini harus menghadirkan bukti-bukti dirinya tidak bersalah. Tentu saja
konsumen tidak lalu berarti dapat sekehendak hati mengajukan gugatan.
c. Prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab (Presumption of
nonliability), yaitu prinsip ini merupakan kebalikan dari prinsip praduga
untuk


selalu bertanggung jawab, di mana tergugat selalu dianggap tidak
bertanggung jawab sampai dibuktikan, bahwa ia bersalah.
d. Prinsip tanggung jawab mutlak (Strict libility).
Prinsip ini sering diidentikkan dengan prinsip tanggung jawab absolute (absolute
liability). Kendati demikian ada pula para ahli yang membedakan kedua
terminology diatas.
Ada pendapat yang mengatakan, strict liability adalah prinsip tanggung
jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai factor yang menentukan.
Namun ada pengecualian-pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan
dari tanggung jawab, misalnya keadaan force majeur. Sebaliknya, absolute
liability adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada
pengecualiaannya. Selain itu ada pandangan yang agak mirip, yang mengaitkan
perbedaan kedua pada ada tidaknya hubungan kausalitas antara subjek
yang bertanggungjawab dan kesalahannya. Pada strict liability, hubungan
itu harus ada, sementara pada absolute liability, hubungan itu tidak selalu
ada. Maksudnya, pada absolute liability, dapat saja si tergugat yang dimintai
pertanggungjawaban itu bukan si pelaku langsung kesalahan tersebut
(misalnya dalam kasus bencana alam).
Menurut R.C. Hoeber et.al, biasanya prinsip tanggungjawab mutlak ini
diterapkan karena (1) konsumen tidak berada dalam posisi
menguntungkan untuk membuktikan adanya kesalahan dalam suatu proses
produksi dan distribusi yang kompleks, (2) diasumsikan produsen lebih dapat
mengantisipasi jika sewaktuwaktu ada gugatan atas kesalahannya, misalnya
dengan asuransi atau menambah


komponen biaya tertentu pada harga produknya, (3) asas ini dapat memaksa
produsen lebih berhati-hati.
Prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum perlindungan konsumen secara
umum digunakan untuk " menjerat " pelaku usaha, khususnya produsen
barang, yang memasarkan produknya yang merugikan konsumen. Asas
tanggung jawab itu dikenal dengan nama product liability. Menurut asas ini,
produsen wajib bertanggungjawab atas kerugian yang diderita konsumen atas
penggunaan produk yang dipasarkannya. Gugatan product liability dapat
dilakukan berdasarkan tiga hal :
(1) Melanggar jaminan (breach of warranty), misalnya khasiat yang timbul
tidak sesuai dengan janji yang tertera dalam kemasan produk;
(2) Ada unsur kelalaian (negligence), yaitu produsen lalai memenuhi standar
pembuatan produk yang baik;
(3) Menerapkan tanggung jawab mutlak (strict liability).
Variasi yang sedikit berbeda dalam penerapan tanggung jawab mutlak
terletak pada risk liability. Dalam risk liability, kewajiban mengganti rugi
dibebankan kepada pihak yang menimbulkan risiko adanya kerugian itu.
Namun, penggugat (konsumen) tetap diberikan beban pembuktian,
walaupun tidak sebesar si tergugat. Dalam hal ini, ia hanya perlu
membuktikan adanya hubungan kausalitas antara perbuatan pelaku usaha dan
kerugian yang dideritannya. Selebihnya diterapkan strict liability.
e. Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation of liability).


Prinsip ini sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausul
eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya. Prinsip tanggung jawab
dengan pembatasan ini sangat merugikan konsumen bila ditetapkan secara
sepihak oleh pelaku usaha. Dalam UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen seharusnya pelaku usaha tidak boleh secara sepihak menentukan
klausul yang merugikan konsumen, termasuk membatasi maksimal tanggung
jawabnya. Jika ada pembatasan mutlak harus berdasarkan pada peraturan
perundang-undangan.
Kembali pada ulasan mengenai product liability. Istilah product liability
diterjemahkan secara bervariasi ke dalam bahasa Indonesia seperti " tanggung
gugat produk " atau juga " tanggung jawab produk ".
Secara historis product liabity lahir karena ada ketidak seimbangan
tanggung jawab antara produsen dan konsumen, dimana produsen yang pada
awalnya menerapkan strategi product oriented dalam pemasaran produknya, harus
mengubah strateginya menjadi consumer oriented.
Revolusi industry yang melanda Eropa dan kemudian menyebar ke daratan
Amerika Serikat menitik beratkan production centered development, dengan basis
utamanya adalah industrialisasi. Tujuan pembangunan adalah pencapaian
pertumbuhan ekonomi semaksimal mungkin, dengan memperbesar saving,
sementara


98
John Pieris dan Wiwik Sri Widiarty, 2007, Negara Hukum dan Perlindungan Konsumen
terhadap Produk Pangan Kadaluarsa, Pelangi Cendikia, Jakarta, h. 86.
capital output ratio ditekan serendah-rendahnya. Orientasi kegiatan terarah kepada
mekanisme pasar, dan optimalisasi penumpukan dan pemanfaatan capital.
98

Produsen lalu secara bebas dan leluasa memproduksi barang dan
melemparkan hasil produksinya itu ke pasar tanpa perlu mencermati kualitas
dan mutu barang. Pihak konsumenlah yang dituntut untuk bersikap waspada dan
hati-hati dalam membeli barang-barang tersebut demi keselamatan dirinya. Hal
ini sesuai dengan adagium yang berlaku waktu itu : caveat emptor konsumen
selaku pembeli haruslah berhati-hati.
Perkembangan sejarah dunia kemudian mencatat tumbuhnya kesadaran
dunia akan martabat manusia yang perlu dihormati. Hak-hak asasi manusia
diperjuangkan dan diberi tempat yang tinggi dalam peradaban manusia.
Tuntutan penghormatan akan hak-hak asasi ini melanda juga dunia industry dan
perdagangan, sehingga mengakibatkan bergesernya adagium caveat emptor
menjadi caveat venditor produsenlah yang harus cermat dan berhati-hati
dalam menghasilkan dan memasarkan barang-barangnya. Adagium caveat
venditor mewajibkan pabrik dan produsen sebagai penjual bersikap cermat, agar
barang-barang hasil produksinya tidak mendatangkan kerugian bagi kesehatan
dan keselamatan konsumen, karena pihak konsumen memiliki hak asasi untuk
mendapatkan barang-barang yang tidak mengandung cacat. Dalam suasana
perdagangan inilah product liability sebagai instrument hukum perlindungan
konsumen lahir.


Pengertian product liability dapat ditemukan pada beberapa sumber
berikut, Henry Campbell dalam Black's Law Dictionary mendefinisikan product
liability sebagai berikut :
Refers to the legal liability of manufacturers and sellers to compensate
buyers, users, and even bystanders, for damages or injuries suffered because
of defect in good purchase.
Menurut Natalie O'Connor :
Product Liability, These were designed to protect the consumer from faulty or
defective goods by imposing strict liability upon manufacturers.
Menurut Hursh :
Product liability is the liability of manufacturer, processor or
nonmanufacturing seller for injury to the person or property of a buyer or
third party, caused by product which has been sold.
Perkins Coie menyatakan :
Product Liability is the liability of the manufacturer or others in the chain of
distribution of a product to a person injured by the use of product.
Sedangkan dalam convention on the Law Applicable to Products
Liability (The Hague Convention), article 3 menyatakan:
This convention shall applay to the liability of the following persons:
1. manufacturers of a finished product or of a component part;
2. producers of a natural product;
3. suppliers of a product;
4. other persons, including repairers, and warehousemen, in the
commercial chain of preparation or distribution of a product. It shall also
apply to the liability oh the agents or employees of the persons
specified above.


Dengan demikian, yang dimaksud dengan product Liability adalah suatu
tanggung jawab secara hukum dari orang atau badan yang menghasilkan suatu produk
(producer, manufacture) atau dari orang atau badan yang bergerak dalam suatu
proses untuk menghasilkan suatu produk (processor, assembler) atau orang
atau badan yang menjual atau mendistribusikan produk tersebut.
Bahkan jika dilihat dari konvensi tentang product Liability di atas, berlakunya
konvensi tersebut diperluas terhadap orang/badan yang terlibat dalam rangkaian
komersial tentang persiapan atau penyebaran dari produk, termasuk para pengusaha
bengkel dan pergudangan. Demikian juga dengan para agen dan pekerja dari
badanbadan usaha di atas.
Tanggung jawab tersebut sehubungan dengan produk yang cacat sehingga
menyebabkan atau turut menyebabkan kerugian bagi pihak lain (konsumen), baik
kerugian badaniah, kematian maupun harta benda.
Tanggung jawab produk cacat berbeda dengan tanggung jawab terhadap hal-
hal yang sudah kita kenal selama ini. Tanggung jawab produk, barang dan
jasa meletakkan beban tanggung jawab pembuktian produk itu kepada pelaku
usaha pembuat produk (produsen) itu (Strict Liability). Hal ini dapat kita lihat
dalam ketentuan Pasal 22 Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen yang mengatur bahwa pembuktian terhadap ada tidaknya
unsur kesalahan dalam perkara ini, menjadi beban dan tanggung pelaku usaha.
Kerugian yang diderita oleh seorang pemakai produk yang cacat atau
membahayakan, bahkan juga pemakai yang turut menjadi korban,
merupakan


tanggung jawab mutlak pelaku usaha pembuat produk itu sebagaimana diatur
dalam pasal 19 Undang-Undang Perlindungan Konsumen.
Dengan penerapan tanggung jawab mutlak produk ini, pelaku usaha pembuat
produk atau yang dipersamakan dengannya, dianggap bersalah atas terjadinya
kerugian pada konsumen pemakai produk, kecuali dia dapat membuktikan keadaan
sebaliknya, bahwa kerugian yang terjadi tidak dapat di persalahkan kepadanya.
Pada dasarnya konsepsi tanggung jawab produk ini, secara umum tidak jauh
berbeda dengan konsepsi tanggung jawab sebagaiman diatur dalam ketentuan
Pasal 1365 (dan 1865) KUHPerdata. Perbedaannya adalah bahwa tanggung jawab
produsen untuk memberikan ganti rugi diperoleh, setelah pihak yang menderita
kerugian dapat membuktikan bahwa cacatnya produk tersebut serta kerugian yang
timbul merupakan akibat kesalahan yang dilakukan oleh produsen.
Perbedaan lainnya adalah ketentuan ini tidak secara tegas mengatur
pemberian ganti rugi atau beban pembuktian kepada konsumen, melainkan
kepada pihak manapun yang mempunyai hubungan hukum dengan produsen,
apakah sebagai konsumen, sesama produsen, penyalur, pedagang atau instansi
lain.
Pertimbangan-pertimbangan yuridis yang menyebabkan urgenitas penerapan
instrumen hukum product liability:
1. Hak para konsumen Indonesia yang bagian terbesar adalah rakyat sederhana
perlu ditegakkan sebagai konsekuensi penghormatan hak asasi manusia.


2. Agreement Establishing the World Trade Organization (WTO) yang telah
diratifikasi Indonesia, pada prinsipnya menekankan adanya keterkaitan
yang saling menguntungkan antara produsen dan konsumen.
3. Tata hukum positif tradisional yang masih berlaku di Indonesia selama
ini, tidak memberikan solusi terhadap kasus-kasus pelanggaran hak
konsumen. Tata hukum positif nasional hanya menyediakan dua sarana
penyelesaian kasus gugatan oleh konsumen yang mengalami kerugian
yaitu instrumen hukum wanprestasi (pasal 1243 KUH Perdata) instrumen
hukum perbuatan melangaar hukum (pasal 1365 KUHPerdata).
4. Tanggung jawab produk ini memang riil dibutuhkan mengingat pada
tanggung jawab produk ini tidak mengharuskan adanya hubungan
kotraktuil antara produsen dan konsumen, disamping juga adanya
pembuktian terbalik oleh pelaku usaha.
5. Seturut dengan teori fungsional dari hukum adalah bahwa hukum merupakan
instrumen pengatur masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Hukum
haruslah menjadi sarana rekayasa sosial yang oleh Roscoeu Pound hukum
adalah a tool of social engineering
Selain hal tersebut diatas, ada alasan-alasan lain yang memperkuat
penerapan prinsip strict liability tersebut yang didasarkan pada prinsip Social
Climate Theory, yaitu :
1. Manufacturer adalah pihak yang berada dalam posisi keuangan yang lebih
baik untuk menanggung beban kerugian, dan pada setiap
kasus yan


mengharuskannya mengganti kerugian dia akan meneruskan kerugian
tersebut dan membagi resikonya kepada banyak pihak dengan cara
menutup asuransi yang preminya dimasukkan ke dalam perhitungan harga
dari barang hasil produksinya. Hal ini dikenal dengan deep pockets theory.
2. Terdapatnya kesulitan dalam membuktikan adanya unsur kesalahan dalam
suatu proses manufacturing yang demikian kompleks pada perusahaan besar
(industri) bagi seorang konsumen/korban/penggugat secara individual.
Dalam hukum tentang product liability, pihak korban/konsumen yang akan
menuntut kompensasi pada dasarnya hanya diharuskan menunjukkan tiga hal :
pertama, bahwa produk tersebut telah cacat pada waktu diserahkan oleh produsen,
kedua, bahwa cacat tersebut telah menyebabkan atau turut menyebabkan
kerugian/kecelakaan, ketiga, adanya kerugian.
Namun juga diakui secara umum bahwa pihak korban/konsumen harus
menunjukkan bahwa pada waktu terjadinya kerugian, produk tersebut pada
prinsipnya berada dalam keadaan seperti waktu diserahkan oleh produsen
(artinya tidak ada modifikasi-modifikasi).
Meskipun sistem tanggung jawab pada product liability berlaku prinsip strict
liability, pihak produsen dapat membebaskan diri dari tanggung jawabnya, baik untuk
seluruhnya atau untuk sebagian.
Hal-hal yang dapat membebaskan tanggung jawab produsen tersebut
adalah : a. Jika produsen tidak mengedarkan produknya (put into
circulation),


b. Cacat yang menyebabkan kerugian tersebut tidak ada pada saat produk
diedarkan oleh produsen, atau terjadinya cacat tersebut baru timbul
kemudian,
c. Bahwa produk tersebut tidak dibuat oleh produsen baik untuk dijual atau
diedarkan untuk tujuan ekonomis maupun dibuat atau diedarkan dalam
rangka bisnis,
d. Bahwa terjadinya cacat pada produk tersebut akibat keharusan memenuhi
kewajiban yang ditentukan dalam peraturan yang dikeluarkan oleh
pemerintah,
e. Bahwa secara ilmiah dan teknis (state of scintific an technical
knowledge, state or art defense) pada saat produk tersebut diedarkan tidak
mungkin cacat,
f. Dalam hal produsen dari suatu komponen, bahwa cacat tersebut
disebabkan oleh desain dari produk itu sendiri dimana komponen telah
dicocokkan atau disebabkan kesalahan pada petunjuk yang diberikan oleh
pihak produsen tersebut,
g. Bila pihak yang menderita kerugian atau pihak ketiga turut menyebabkan
terjadinya kerugian tersebut (contributory negligence),
h. Kerugian yang terjadi diakibatkan oleh Acts of God atau force majeur.
Dengan diberlakukannya prinsip strict liability diharapkan para produsen dan
industriawan di Indonesia menyadari betapa pentingnya menjaga kualitas
produk yang dihasilkannya, sebab bila tidak selain akan merugikan konsumen
juga akan sangat besar risiko yang harus ditanggungnya. Para produsen akan
lebih berhati-hati


dalam memproduksi barangnya sebelum dilempar ke pasaran sehingga
konsumen, baik dalam maupun luar negeri tidak akan ragu-ragu membeli produksi
Indoensia.
Namun demikian, dengan berlakunya prinsip strict liability dalam hukum
tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat
perlindungan. Pihak produsen juga dapat mengasuransikan tanggung jawabnya
sehingga secara ekonomis dia tidak mengalami kerugian yang berarti.
Pentingnya hukum tentang tanggung jawab produsen (product liability) yang
menganut prinsip tanggung mutlak (strict liability) dalam mengantisipasi
kecenderungan dunia dewasa ini yang lebih menaruh perhatian pada perlindungan
konsumen dari kerugian yang diderita akibat produk yang cacat. Hal ini
disebabkan karena sistem hukum yang berlaku dewasa ini dipandang terlalu
menguntungkan pihak produsen, sementara produsen memiliki posisi ekonomis
yang lebih kuat.
4.3 Tanggung Jawab Pidana Pelaku Usaha Dalam Pelanggaran Label Pangan
Disamping mempunyai aspek keperdataan, hukum perlindungan
konsumen juga mempunyai aspek pidana. Karena itu, hukum perlindungan
konsumen adalah juga bagian dari hukum pidana. Jelasnya, hak-hak konsumen
sebagaimana disebutkan di atas ada yang bernuansa publik sehingga dapat
dipertahankan melalui hukum pidana. Perbuatan produsen yang menimbulkan
kerugian kepada konsumen dalam tingkatan dan kompleksitas tertentu mungkin
saja berdimensi kejahatan. Artinya, perbuatan produsen yang
merugikan/melanggar hak konsumen yang bertentangan


dengan norma-norma hukum pidana dapat dikategorikan sebagai tindak pidana,
karena itu diselesaikan dengan hukum pidana dan memakai instrument pidana.
Mengenai penerapan hukum pidana dalam upaya mewujudkan hak-hak
konsumen, David Tench menuliskan pengalaman di negaranya sebagai berikut :99
With the great expansion in consumer law we have experience to our great
satisfaction mostly-in recent years we are now beginning to wonder
whether the criminal law is the right way to control commercial behavior in
the market
place. Obviously, where questions are involved, the criminal law will be
necessary, and consumers will always require some part of consumer law to
remain criminal.
Penuturan David Tench diatas, menunjukkan keampuhan hukum pidana
dalam menanggulangi perilaku-perilaku curang para pelaku ekonomi, khususnya
bidang hukum ekonomi, yang umumnya dimuat dalam bagian akhir dari undang-
undang tersebut, menunjukkan fungsi hukum sebagai pengendali.
Penerapan norma-norma hukum pidana seperti yang termuat dalam KUH
Pidana atau diluar KUH Pidana sepenuhnya diselenggarakan oleh alat -alat
perlengkapan Negara yang diberikan wewenang oleh Undang-undang untuk itu.
UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP (LN 1981 No. 76) menetapkan setiap
Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia berwenang untuk melakukan tindakan
penyelidikan dan penyidikan atas suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak
pidana. Disamping polisi, pegawai negeri sipil tertentu juga diberi wewenang
khusus untuk melakukan tindak penyelidikan.
99
Janus Sidabalok, op.cit, h. 59.


Penerapan KUHPidana dan peraturan perundang-undangan lain yang
berkaitan dengan tindak pidana oleh badan-badan tata usaha negara memang
menguntungkan bagi perlindungan konsumen. Oleh karena itu keseluruhan proses
perkara menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah.
Konsumen yang karena tindak pidana tersebut menderita kerugian, sangat
terbantu dalam mengajukan gugatan perdata ganti ruginya. Berdasarkan hukum atau
kenyataan beban pembuktian yang diatur dalam Pasal 1865 KUHPerdata sangat
memberatkan konsumen. Oleh karena itu fungsi perlindungan sebagian kepentingan
konsumen penerapannya perlu mengeluarkan tenaga dan biaya untuk pembuktian
peristiwa atau perbuatan melanggar hukum pelaku tindak pidana.
Di dalam KUH Pidana tidak disebutkan kata " konsumen ". Kendati
demikian, secara implisit dapat ditarik beberapa pasal yang memberikan
perlindungan hukum bagi konsumen, antara lain :
- Pasal 204 ayat (1) menyatakan : "Barangsiapa menjual, menawarkan,
menerimakan, atau membagi-bagikan barang, sedang diketahuinya bahwa
barang itu berbahaya bagi jiwa atau keselamatan orang dan sifatnya yang
berbahaya itu didiamkannya dihukum pernjara selama-lamanya lima belas
tahun."
- Pasal 204 ayat (2) dalam pasal ini menentukan : "Kalau ada orang mati lantaran
perbuatan itu si tersalah dihukum penjara seumur hidup atau penjara selama-
lamanya dua puluh tahun."
- Pasal 205 ayat (1) menyatakan : "Barangsiapa karena salahnya menyebabkan
barang yang berbahaya bagi jiwa atau kesehatan orang, terjual, diterimakan atau
dibagi-bagikan , sedang si pembeli atau yang memperolehnya tidak
mengetahui akan sifatnya yang berbahaya itu, dihukum penjara selama-
lamanya sembilan bulan atau kurungan selamalamanya enam bulan atau denda
sebanyak-banyaknya Rp.4.500,- (empat ribu lima ratus rupiah)."


- Pasal 390 menyatakan : "Barangsiapa dengan maksud hendak menguntungkan
diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, menurunkan atau menaikkan
- Pasal 205 ayat (2) dari pasal ini menyatakan : "Kalau ada orang mati lantaran
itu, maka si tersalah dihukum penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan
atau kurungan selama-lamanya satu tahun."
- Pasal 205 ayat (3) menyatakan : "Barang-barang itu dapat dirampas."
- Pasal 382 bis menyatakan : "Barangsiapa melakukan perbuatan menipu untuk
mengelirukan orang banyak atau seseorang yang tertentu dengan maksud akan
mendirikan atau membesarkan hasil perdagangannya atau perusahaannya
sendiri atau kepunyaan orang lain, dihukum, karena bersaing curang, dengan
hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-
banyaknya Rp.13.500,- (tiga belas ribu lima ratus rupiah) jika hal itu dapat
menimbulkan sesuatu kerugian bagi saingannya sendiri atau saingan orang
lain."
- Pasal 383 menyatakan : "Dengan hukuman penjara selama-lamanya satu
tahun empat bulan dihukum penjual yang menipu pembeli yaitu yang
sengaja menyerahkan barang lain daripada yang telah ditunjuk oleh pembeli
dan tentang keadaan, sifat atau banyaknya barang yang diserahkan itu dengan
memakai alat dan tipu muslihat."
- Pasal 386 ayat (1) menyatakan : "Barangsiapa menjual, menawarkan atau
menyerahkan barang makanan atau minuman atau obat, sedang diketahuinya
bahwa barang itu dipalsukan dan kepalsuan itu disembunyikan, dihukum penjara
selama-lamanya empat tahun."
- Pasal 386 ayat (2) dari pasal ini menyebutkan : "Barang makanan atau
minuman atau obat itu dipandang palsu, kalau harganya atau gunanya menjadi
kurang sebab sudah dicampuri dengan zat-zat lain."
- Pasal 387 ayat (1) menyatakan : "Dengan hukuman penjara selama-lamanya
tujuh tahun dihukum seorang pemborong atau ahli bangunan dari suatu
pekerjaan atau penjual bahan-bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan
bahan-bahan bangunan itu melakukan suatu alat tipu, yang dapat
mendatangkan bahaya bagi keselamatan negara pada waktu ada perang."
- Pasal 387 ayat (2) dari pasal ini mengatur dengan hukuman itu juga dihukum : ~
Barangsiapa diwajibkan mengawas-ngawasi pekerjaan atau penyerahan
bahanbahan bangunan itu dengan sengaja membiarkan akal tipu tadi."


harga barang dagangan, fonds atau surat berharga uang dengan menyiarkan kabar
bohong, dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan."
Pasal 204 dan 205 KUHPidana dimaksudkan adalah jika pelaku usaha
melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, sedang pelaku usaha itu mengetahui dan
menyadari bahwa barang-barang itu berbahaya bagi jiwa atau kesehatan si
pemakai barang dimana pihak pelaku usaha (produsen) tidak mengatakan atau
menjelaskan tentang sifat bahaya dari barangbarang tersebut, tapi jika pelaku
usaha yang akan menjual barang yang berbahaya bagi jiwa dan kesehatan,
mengatakan terus terang kepada konsumen tentang sifat berbahaya itu maka tidak
dikenakan pasal ini.
Dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen hal ini tercantum
dalam pasal 18. Barang-barang yang termasuk dalam pasal 204 dan 205
KUHPidana tersebut misalnya makanan, minuman, alat-alat tulis, bedak, cat rambut,
cat bibir dan sebagainya. Sedangkan dalam pasal 382 bis dan 383, 387, 390
KUHPidana dalam pasal 382 bis, yaitu adanya persaingan yang curang dimana
pelaku usaha melakukan suatu perbuatan menipu konsumen baik konsumen itu
terdiri dari publik atau seorang yang tertentu. Perbuatan itu dilakukan untuk
menarik suatu keuntungan di dalam perdagangan yang dapat menimbulkan
kerugian bagi pelaku usaha lainnya.
Pasal 383 adanya perbuatan penjual menipu pembeli misalnya saja
kualitas/mutu suatu barang dimana penjual barangnya yang sudah lama/tua kepada
pembeli dan mengatakannya pada pembeli bahwa barang tersebut adalah barang
baru.


- Pasal 390 menyatakan : "Barangsiapa dengan maksud hendak menguntungkan
diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, menurunkan atau menaikkan
Pasal 386 adanya perbuatan yang dilakukan oleh penjual dengan menjual
barang palsu dan kepalsuan tersebut disembunyikan oleh pihak penjual.
Misalnya


penjual memalsukan barang makanan atau minuman dengan cara membuat
barang lain yang hampir serupa, atau menyampurinya dengan bahan-bahan lain
sehingga harga, kekuatan, guna atau kemanjurannya dapat berkurang.
Pasal 387 adanya perbuatan penipuan yang dilakukan pihak pemborong
atau ahli bangunan yang dapat membahayakan jiwa orang lain, misalnya suatu
gedung yang baru dibangun, roboh karena tidak kuatnya pondasi dari bangunan,
hal ini bisa terjadi karena bahan-bahan yang digunakan tidak memadai hal tersebut
terjadi karena adanya perbuatan penipuan dari seorang pemborong atau ahli
bangunan, sehingga merugikan masyarakat.
Pasal 390 adanya perbuatan yang dilakukan oleh pelaku usaha yaitu
menyiarkan kabar bohong yaitu dengan cara mempromosikan atau
mengiklankan harga atau tarif suatu barang/jasa, tanggung atau jaminan, hak ganti
rugi atau suatu barang dan jasa, adanya penawaran potongan harga atau hadiah
menarik.
Sanksi pidana dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen diatur
dalam pasal 61, 62 dan 63.
Pasal 61 :
Penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau
pengurusnya
Ketentuan ini jelas memperlihatkan suatu bentuk pertanggungjawaban
pidana yang tidak daja dapat dikenakan kepada pengurus tetapi juga kepada
perusahaan. Hal ini menurut Nurmandjito merupakan upaya yang bertujuan
menciptakan sistem bagi


perlindungan konsumen.
100
Melalui ketentuan pasal ini perusahaan dinyatakan
sebagai subjek hukum pidana.
Pasal 62 :
(1) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17
ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, ayat (2), dan Pasal 18
dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau
pidana denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).
(2) Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 16, dan
Pasal 17 ayat (1) huruf d dan huruf f dipidana dengan pidana penjara
paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak Rp
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Terhadap pelanggaran yang mengakibatkan luka berat, sakit berat,
cacat tetap atau kematian diberlakukan ketentuan pidana yang
berlaku.
Ketentuan pasal 62 ini memberlakukan dua aturan hukum sesuai tingkat
pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha, yaitu pelanggaran yang
mengakibatkan luka berat, sakit berat, cacat tetap, atau kematian diberlakukan
ketentuan hukum pidana sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHP), sementara di luar dari tingkat pelanggaran tersebut berlaku
ketentuan pidana tersebut dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Dengan
demikian, terhadap ilustrasi yang dikemukakan berkenaan dengan ketentuan pasal 61
sebelumnya, persoalan pidananya diselesaikan berdasarkan ketentuan KUHP
sepanjang akibat perbuatan pidana yang dilakukan oleh PT sebagai subjek hukum,
memenuhi kualifikasi luka berat, sakit berat, cacat tetap, atau kematian konsumen.
100 Nurmandjito, Op.cit, hal. 30.


Hal lain yang juga dapat diketahui dari ketentuan ini, bahwa sanksi
pidana yang dikenal dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen ada 2 (dua)
tingkatan, yaitu sanksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana
denda paling banyak sebesar Rp. 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah), dan sanksi
pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
Khusus menyangkut istilah pelanggaran yang dipergunakan dalam
rumusan pasal 62, khususnya pasal 62 ayat (3) masih perlu ditinjau kembali
karena akibatakibat dari pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 62 ayat
(3) tersebut, di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
dikualifikasi sebagai kejahatan.
Sanksi pidana yang berupa denda sebagaimana dikemukakan diatas,
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) termasuk dalam jenis
hukuman pokok, sebagaimana dapat dilihat dalam pasal 10 yang menentukan
bahwa :
Hukuman-hukuman ialah :
a. Hukuman-hukuman pokok :
1. Hukuman mati,
2. Hukuman penjara,
3. Hukuman kurungan,
4. Hukuman denda.
b. Hukuman-hukuman tambahan ;
1. Pencabutan beberapa hak tertentu,


2. Perampasan barang tertentu
3. Pengumuman keputusan hakim.
Menjadi masalah apabila sanksi pidana berupa denda yang dijatuhkan atas
perbuatan pidana yang dilakukan pelaku usaha berbadan hukum, hanya dipandang
sekedar " ongkos " sebagaimana halnya ongkos yang harus dikeluarkan dalam rangka
operasional produksi suatu perusahaan. Demikian hal ini lebih jelasnya
dikemukakan oleh Susanto bahwa, melihat praktek penegakan hukum terhadap
pelanggaranpelanggaran yang dilakukan korporasi,agaknya bagi korporasi,
pelanggaran hukum hanya dipandang sekadar ongkos, yakni biaya atau
pengurangan dari keuntungan " melalui denda " yang dikalkulasikan dan
diperhitungkan sebelumnya dengan cara yang sama seperti halnya dengan
setiap ongkos yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan dan memasarkan
produk dari korporasi yang bersangkutan.
Adanya pidana denda yang dipandang sebagai sekedar ongkos operasional
produksi atau pemasaran seperti itu, aan mengakibatkan perusahaan sebagai subjek
hukum pidana tidak menjadi jera atau sanksi pidana yang dimaksud tidak mengubah
perilaku perusahaan yang dimaksud. Akibatnya perbuatan pidana dapat selalu
berulang. Jika hal ini terjadi berarti sanksi pidana denda saja, masih belum cukup-
teristimewa sanksi pidana denda yang dimaksud jumlahnya kecil-sehingga harus ada
pertimbangan terhadap kemungkinannya memberikan sanksi tambahan
sebagaimana diatur dalam pasal 63 UUPK.
Pasal 63


Terhadap sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62, dapat
dijatuhkan hukuman tambahan, berupa:
a. perampasan barang tertentu;
b. pengumuman keputusan hakim;
c. pembayaran ganti rugi;
d. perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya
kerugian konsumen;
e. kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau
f. pencabutan izin usaha.
4.4 Tanggung Jawab Administrasi Pelaku Usaha
Dalam Pelanggaran Label Pangan
Di atas sudah diuraikan bahwa Pemerintah memegang peranan penting
dalam upaya mewujudkan perlindungan hukum atas hak-hak konsumen,
sebagaimana tipe Negara kesejahteraan. Peranan itu dapat dimainkan dalam tiga
hal, yaitu regulasi, kontrol penaatan hukum/peraturan (termasuk punishment), dan
social engineering. Pemerintah dalam permasalahan konsumen tidak bisa lepas
tangan, dimana telah menjadi kewajiban Pemerintah untuk memperhatikannya
sesuai dengan tujuan Negara yang tercantum dalam konstitusi Undang-Undang
Dasar 1945. Negara wajib melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, perlindungan
konsumen dan penanganan masalah konsumen merupakan bagian tugas dari
memajukan kesejahteraan umum secara luas.
101
Di bidang regulasi, Pemerintah dapat mengambil peran melalui
pembuatan/penciptaan peraturan-peraturan yang
berisikan pengakuan dan penegasan


101 Muhammad Djumhana, 1994, Hukum Ekonomi Sosial Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, h. 345.
hak-hak konsumen yang harus dihormati oleh pihak lain. Misalnya, membuat
sejumlah peraturan yang harus dipenuhi oleh produsen dalam rangka
memproduksi dan mengedarkan produknya ke masyarakat. Termasuk dalam
hal ini adalah penggunaan bahan baku, tahapan-tahapan produksi
(pengolahan), pengemasan, pengangkutan, promosi, label dan periklanan, serta
harga.
Kemudian, Pemerintah perlu mengontrol / mengawasi penaatan terhadap
peraturan-peraturan tadi. Sekedar membuat peraturan tanpa mengawasi
pelaksanaannya di lapangan tidaklah bermanfaat banyak. Justru yang paling
penting itu adalah bagaimana produsen menaati peraturan tersebut di dalam
usahanya memproduksi dan mengedarkan produknya. Dengan demikian, jangan
sampai beredar ke masyarakat produk yang tidak memenuhi syarat (standar), yang
kemudian dapat merugikan konsumen. Dalam kaitan ini, Agnes M. Toar
mengatakan bahwa meskipun sudah banyak peraturan mengenai perlindungan
konsumen, namun kontrol penaatan peraturan tersebut (masih) sangat kurang.
Kontrol penaatan peraturan ini menjadi penting apabila berkaitan dengan
produk yang berhubungan erat dengan kesehatan dan keselamatan manusia, seperti
produk pangan. Tentu tidak perlu menunggu lebih dahulu jatuh korban keracunan
makan baru kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap sarana dan prasarana
produksinya. Akan tetapi, aparat Negara yang bertugas dan berwenang untuk
ini harus proaktif memeriksa dan mengawasi proses produksi dan peredaran
pangan tersebut.


Pelaksanaan peraturan perlindungan konsumen juga menjadi penting dalam
kaitannya dengan pemberian hukuman (punishment) atas setiap pelanggaran
ketentuan yang berlaku. Pemberian hukuman ini kadang kala menjadi suatu
keharusan apabila pelanggaran itu sudah sedemikian rupa supaya tidak terulang
lagu dan atau pihak lain tidak mengulanginya. Hukuman atau sanksi yang diberikan
oleh Pemerintah ini berupa sanksi administratif yang dapat diterapkan secara
berjenjang mulai dari teguran/peringatan, denda, sampai pada pencabutan ijin
usaha.
Akhirnya, faktor yang juga tidak kalah penting adalah faktor situasi dan
kondisi yang memungkinkan produsen melakukannya dengan baik sekaligus yang
memungkinkan untuk memperoleh hak-haknya. Artinya, harus tercipta iklim yang
kondusif (bagi produsen) yang memberi kesempatan baginya untuk berperilaku
sesuai dengan peraturan yang ada. Kondisi seperti tentulah tidak muncul begitu
saja, tetapi harus diciptakan oleh Pemerintah. Tegasnya pihak Pemerintah harus
memberi kebebasan yang cukup bagi produsen untuk memenuhi aturan hukum
yang ada. Kesalahan Pemerintah di tahun-tahun sebelumnya adalah terlalu
banyak pungutan yang dibebankan kepada produsen sehingga menimbulkan
biaya tinggi, yang kemudian oleh produsen dijawab dengan tawaran berkolusi,
yang pada gilirannya dapat merugikan konsumen dan bahkan kehidupan
berbangsa secara umum.
Kemudian, perlu juga iklim yang kondusif bagi konsumen untuk menuntut
haknya manakala konsumen telah menderita kerugian karena memakai atau
mengonsumsi produk. Artinya, jika konsumen bermaksud mempertahankan atau
menuntut haknya, seharusnya ia mendapat dukungan yang positif dari


lembaga


eksekutif dan lembaga-lembaga Negara lainnya yang terkait. Tidak seharusnya aparat
Pemerintah atau aparat keamanan berdiri di belakang produsen yang diduga
merugikan konsumen, tetapi harus mengambil posisi yang netral. Aneh sekali kalau
sekelompok konsumen menuntut haknya kepada produsen lalu pejabat
Pemerintah berdiri sebagai juru bicara produsen yang menegaskan bahwa
produsen tidak bersalah. Kecenderungan masyarakat berdelegasi ke Dewan
Perwakilan Rakyat (daerah atau pusat) antara lain disebabkan oleh praktik
ini, dimana lembaga Pemerintahan dirasa sudah tidak netral lagi.
Berjalannya pengadilan sesuai dengan harapan masyarakat pencari
keadilan juga banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial politik suatu Negara. Oleh
karena itu, adalah tugas Pemerintah pula untuk menciptakan suasana sosial politik
yang kondusif sehingga memungkinkan badan-badan peradilan berfungsi dengan
baik. Artinya, hendaknya Pemerintah membiarkan dan menghormati kebebasan
badan peradilan, bukan malah mempengaruhi jalannya peradilan.
Akhirnya, tugas dan tanggungjawab Pemerintah pulalah untuk mengarahkan
seluruh lapisan masyarakat, baik produsen, konsumen maupun aparat Pemerintah
sendiri, untuk menaati hukum demi keadilan dan kesejahteraan seluruh
masyarakat. Jangan sampai timbul kesan bahwa kalau mematuhi hukum yang
berlaku malah mendatangkan kerugian dan sebaliknya lebih menguntungkan
kalau bertindak melawan hukum.
Seperti halnya hukum pidana, hukum administrasi Negara adalah
instrument hukum publik yang penting dalam perlindungan konsumen. Sanksi-
sanksi hukum


102 Shidarta, Op.cit, hal. 95.
secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif jika tidak disertai sanksi
administrative.
102

Sanksi administratif tidak ditujukan pada konsumen pada umumnya,
tetapi justru kepada pengusaha, baik itu produsen maupun para penyalur hasil-
hasil produknya. Sanksi administratif berkaitan dengan perizinan yang
diberikan. Pemerintah kepada pengusaha/penyalur tersebut. Jika terjadi
pelanggaran, ijin-ijin tersebut dapat dicabut secara sepihak oleh Pemerintah.
Pencabutan ijin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dari
produsen/penyalur. Produksi disini harus diartikan secara luas, dapat berupa
barang atau jasa. Dengan demikian, dampaknya secara tidak langsung berarti
melindungi konsumen pula, yakni mencegah jatuhnya lebih banyak korban.
Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen) yang dirugikan bukan lagi tugas
instrument hukum administrasi Negara. Hak-hak konsumen yang dirugikan
dapat dituntut dengan bantuan hukum perdata dan/atau pidana.
Campur tangan administrator Negara idealnya harus dilatarbelakangi itikad
melindungi masyarakat luas dari bahaya. Pengertian bahaya disini terutama
berkenaan dengan kesehatan dan jiwa. Itulah sebabnya, sejak prakemerdekaan
peraturan-peraturan tentang produk pangan diawasi secara ketat. Syarat-syarat
pendirian perusahaan yang bergerak di bidang tersebut dan pengawasan
terhadap proses produksinya dilakukan ekstra hati-hati. Peraturan-peraturan masa
kolonial itu bahkan cukup banyak yang masih berlaku sampai sekarang.


103 Shidarta, op.cit, h. 96.
Sanksi administratif ini seringkali lebih efektif dibandingkan dengan sanksi
perdata atau pidana. Ada beberapa alasan untuk mendukung pernyataan ini.
1. Sanksi administratif dapat diterapkan secara langsung dan sepihak. Dikatakan
demikian, karena penguasa sebagai pihak pemberi ijin tidak perlu meminta
persetujuan dari pihak manapun. Persetujuan, kalaupun itu dibutuhkan,
mungkun dari instansi-instansi Pemerintah terkait. Sanksi administratif
juga tidak perlu melalui proses pengadilan. Memang, bagi pihak yang
terkena sanksi ini dibuka kesempatan untuk " membela diri ", antara lain
mengajukan kasus tersebut ke Pengadilan Tata Usaha Negara, tetapi
sanksi itu sendiri dijatuhkan terlebih dahulu, sehingga berlaku efektif.
2. Sanksi perdata dan/atau pidana acapkali tidak membawa efek " jera " bagi
pelakunya. Nilai ganti rugi dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak
seberapa dibanding dengan keuntungan yang diraih dari perbuatan negatif
produsen. Belum lagi mekanisme penjatuhan putusan yang berbelit-belit dan
membutuhkan proses yang lama, sehingga konsumen sering menjadi
tidak sabar. Untuk gugatan secara perdata, konsumen dihadapkan pada
posisi tawar yang tidak selalu menguntungkan dibandingkan dengan si
produsen.
103
Walaupun secara teoritis instrument hukum administrasi ini
cukup efektif,
tetap ada kendala dalam penerapannya, dimana sanksi administrasi sangat
jarang
dijatuhkan oleh Pemerintah terhadap produsen. Pemerintah masih
mengandalkan
inisiatif konsumen untuk mempersalahkannya. Pemerintah nampaknya
menjadikan


sanksi administrative ini sebagai ultimum remedium, karena dikaitkan dengan
pertimbangan tenaga kerja dan perpajakan. Tentu saja, kedua pertimbangan tersebut
seharusnya tidak menjadi alasan pemaaf bagi pengusaha yang merugikan konsumen
tersebut, sepanjang memang didukung oleh bukti-bukti yang cukup.
Dalam kaitannya dengan pelabelan produk pangan, dalam pasal 61 PP No.
69 Tahun 1999 disebutkan :
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Pemerintah ini dikenakan tindakan administratif.
(2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
:
a. peringatan secara tertulis;
b. larangan untuk mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah untuk
menarik produk pangan dari peredaran;
c. pemusnahan pangan jika terbukti membahayakan kesehatan dan jiwa
manusia;
d. penghentian produksi untuk sementara waktu;
e. pengenaan denda paling tinggi Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta
rupiah), dan atau;
f. pencabutan izin produksi atau izin usaha.
(3). Pengenaan tindakan administrative sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
huruf b, c, d, e dan f hanya dapat dilakukan setelah peringatan tertulis
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diberikan sebanyak -
banyaknya tiga kali.
(4). Pengenaan tindakan administrative sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
dan ayat (3) dapat dilakukan oleh Menteri teknis sesuai dengan
kewenangannya berdasarkan masukan dari Menteri Kesehatan.
Hal yang sama disebutkan pula dalam pasal 57 UU No. 7 Tahun 1996
tentang Pangan.
Dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen bentuk
pertanggungjawaban administratif yang dapat dituntut dari produsen sebagai pelaku
usaha diatur di dalam pasal 60 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 tentang
Perlindungan Konsumen,


yaitu pembayaran ganti kerugian paling banyak Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah), terhadap pelanggaran atas ketentuan tentang :
a. Kelalaian membayar ganti rugi kepada konsumen (pasal 19 ayat (2)
dan ayat (3));
b. Periklanan yang tidak memenuhi syarat (pasal 20);
c. Kelalaian dalam menyediakan suku cadang (pasal 25); dan
d. Kelalaian memenuhi garansi/jaminan yang dijanjikan.
Berdasarkan ketentuan pasal 60 UUPK, maka pelaku usaha yang lalai
memenuhi tanggung jawabnya, maka dapat dijatuhi sanksi yang jumlahnya
maksimum Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Ganti kerugian tersebut
merupakan bentuk pertanggunggugatan terbatas, sehingga secara keseluruhan dapat
dikatakan bahwa ganti kerugian yang dianut dalam Undang-Undang Perlindungan
Konsumen (UUPK) menganut prinsip ganti kerugian " subjektif terbatas ".
Adanya pembatasan ganti kerugian atau yang disebut ganti kerugian subjektif
terbatas itu, untuk kondisi Indonesia sebagai Negara yang industrinya masih dalam
perkembangan dinilai tepat. Oleh karena, disamping memberikan perlindungan
kepada konsumen juga pelaku usaha masih terlindungi atau dapat terhindar dari
kerugian yang mengakibatkan kebangkrutan akibat pembayaran ganti kerugian
yang tanpa batas.
Masalah lain yang muncul dari rumusan pasal 60 tersebut adalah untuk
siapa uang Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) tersebut. Apabila untuk
konsumen yang dirugikan, maka bagaimanakah kalau jumlah konsumen yang
dirugikan cukup


banyak. Masalah-masalah inilah yang harus diatur secara tegas dalam peraturan
perundang-undangan yang mengatur lebih lanjut tentang tata cara penetapan sanksi
administratif tersebut.


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Ketentuan pelabelan produk pangan sebagaimana diatur dalam PP No. 69
Tahun 1999 belum memenuhi asas-asas perlindungan konsumen yakni asas
manfaat, keadilan, keseimbangan, keselamatan dan kepastian hukum. Hal
mana dapat dilihat dari pengertian label sendiri yang masih
menimbulkan persoalan. Penggunaan kata ditempel pada pengertian label,
menimbulkan kesan bahwa label dapat ditempel kapan pun, padahal pada
dasarnya label merupakan bagian tak terpisah dari kemasan. Penggunaan kata
ditempel juga terkesan terpisah dan bisa dipalsukan. Selain bisa dipalsukan, label
yang hanya berupa tempelan/stiker dapat dengan mudah dicabut, diganti
kemudian dilabeli kembali oleh pelaku usaha yang curang. Masih
dimungkinkannya pengecualian terhadap penggunaan bahasa Indonesia
juga menyebabkan asas-asas perlindungan konsumen menjadi
terabaikan.
2. Dimensi perlindungan hukum bagi konsumen dapat meliputi berbagai aspek
dan dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, yaitu instrumen hukum
perdata, instrumen hukum pidana dan juga instrumen hukum administrasi. Oleh
karena itu pelanggaran oleh pelaku usaha terhadap ketentuan label pangan dapat
dikenakan pertanggungjawaban atau sanksi secara perdata, pidana dan
administratif. Sanksi secara perdata dan pidana seringkali kurang efektif
jika tidak disertai sanksi


administrative. Sanksi administratif ini seringkali lebih efektif dibandingkan
dengan sanksi perdata atau pidana, oleh karena, pertama, sanksi administratif
dapat diterapkan secara langsung dan sepihak, kedua sanksi perdata dan/atau
pidana acapkali tidak membawa efek " jera " bagi pelakunya, nilai ganti rugi
dan pidana yang dijatuhkan mungkin tidak seberapa dibanding dengan
keuntungan yang diraih dari perbuatan negatif produsen. Belum lagi
mekanisme penjatuhan putusan yang berbelit-belit dan membutuhkan
proses yang lama, sehingga konsumen sering menjadi tidak sabar. Untuk
gugatan secara perdata, konsumen dihadapkan pada posisi tawar yang tidak
selalu menguntungkan dibandingkan dengan si produsen.
5.2 Saran
1. Untuk lebih memberikan perlindungan hukum terhadap konsumen dalam masalah
pelabelan pangan, maka perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap Peraturan
Pemerintah tentang Label dan Iklan Pangan (PP 69/1999) yang memuat
panduan yang lebih kongkrit dan jelas mengenai label pangan. Dengan
adanya rambu - rambu dan peraturan yang jelas dari pemerintah, maka
konsumen terlindungi dari kemungkinan label yang tidak benar, atau bahkan
menyesatkan. Konsep label hendaknya disusun dengan tidak hanya
bertujuan menjual, tetapi juga jujur sekaligus mendidik konsumen.
2. Pemerintah melalui instansi-instansi terkait perlu melakukan upaya yang terus
menerus untuk memberdayakan masyarakat dengan memberikan pemahaman dan
perlindungan kepada konsumen, rendahnya kesadaran konsumen akan hak
dan


kewajibannya diakibatkan salah satunya oleh karena masih kurangnya upaya
pendidikan konsumen oleh pemerintah. Disamping itu Pemerintah baik di Pusat
maupun daerah perlu selalu berkoordinasi melakukan pengawasan yang lebih
baik dan lebih ketat terhadap pelaku usaha dalam peredaran produk pangan,
khususnya produk pangan yang tidak memperhatikan ketentuan pelabelan.


DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdoel Djamali, 2006, Pengantar Ilmu Hukum Indonesia, Raja Grafindo, Jakarta.
Abdul Manan, 2005, Aspek-Aspek Pengubah Hukum, Prenada Media, Jakarta.
Abdulkadir Muhammad, 2001, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan
Intelektual,
PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Adi Nugroho, Susanto, 2008, Proses Penyelesaian Sengketa Konsumen Ditinjau
Dari Hukum Acara Serta Kendala Implementasinya, Kencana Prenada
Media Group, Jakarta.
Ali, Achmad, 2002, Menguak Takbir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis),
Cetakan Kedua, PT. Toko Gunung Agung Tbk, Jakarta.
_________ , 1988, Menjelajahi Kajian Empiris Terhadap Hukum, Yarsif
Watampone, Jakarta.
Ali, Mansyur M, 2007, Penegakan Hukum Tentang Tanggung Gugat
Produsen
Dalam Perwujudan Perlindungan Konsumen, Genta Press, Yogyakarta.
Arrasjid, Chainur, 2006, Dasar-dasar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.
Ashsofa, Burhan, 2004, Metode Penelitian Hukum, Rineka Cipta, Jakarta.
Black, Henry Campbell, 1990, Black's Law Dictionary Sixth Edition, St. Paul
Minn
West Publishing Co.
Cohen, Morris L. Kent. C. Olson. 2000, Legal Research, West Group, USA.


Djumhana, Muhammad, 1994, Hukum Ekonomi Sosial Indonesia, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung.
Fadjar, A. Mukthie, 2005, Tipe Negara Hukum, Bayumedia Publishing, Malang.
Fuadi, Munir, 1994, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktek Buku II, PT.
Citra Aditya Bakti, Bandung.
Fauzan, Ahmad, 2006, Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Yama
Widya, Bandung.
Friedman, Lawrence M. 2009, Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial (The Legal
System : A Social Science Perspektive), (M. Khozim, Pentj), Nusa Media,
Bandung.
Gaspersz, Vincent, 1988, Sistem Informasi Manajemen (Suatu Pengantar), Armico,
Bandung.
Hadjon, Philipus M., 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, PT.
Bina Ilmu, Surabaya.
Hartono, Sri Redjeki, 2000, Aspek-aspek Hukum Perlindungan Konsumen dalam
Kerangka Perdagangan Bebas, dalam Husni Syawali & Neni Sri Imaniyati,
Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Bandung.
Hartono, Sunaryati, 1994, Penelitian Hukum di Indonesia pada akhir abad 20,
Alumni, Bandung.
Marzuki, Peter, Mahmud, 2008, Penelitian Hukum, Cetakan ke-IV, Kencana,
Jakarta, M. Toar Agnes, 1998, Tanggung Jawab Produk, Sejarah, dan
Perkembangannya, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung


Mertokusumo, Sudikno, 1996, Penemuan Hukum : Suatu Pengantar, Liberty, Jakarta.
Milovanovic, Dragan, A Primer in the Sociology of Law Second Edition, Harrow and
Heston Publishers, New York.
Miru, Ahmadi dan Sutarman Yodo, 2008, Hukum Perlindungan Konsumen, PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta.
Mustafa, Bachsan, 2003, Sistem Hukum Indonesia Terpadu, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
Nasution, A.Z., 1995, Konsumen dan Hukum, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Nurmandjito, 2000, Kesiapan Perangkat Peraturan Perundang-Undangan
Tentang
Perlindungan Konsumen di Indonesia, " dalam Husni Syawali dan Neni Sri
Imaniyati, penyunting " Hukum Perlindungan Konsmen, Mandar Maju,
Bandung.
Pieris, John dan Wiwik Sri Widiarty, 2007, Negara Hukum dan
Perlindungan
Konsumen terhadap Produk Pangan Kadaluarsa, Pelangi Cendikia, Jakarta.
Rahardjo, Satjipto, 1991, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
______________ , 1977, Pemanfaatan Ilmu-ilmu Sosial bagi Pengembangan
Ilmu
Hukum, Alumni, Bandung.
Raja Guguk, Erman, et. All, 2003, Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju,
Jakarta.
Riswandi, Budi Agus, 2003, Hukum Internet, UII Press, Yogyakarta.
Samford, Charles, 1989, The Disorder Of Law A Critique Of Legal Theory, Basil
Blackwell Ltd, UK.


Samsul, Inosentius Samsul, 2004, Perlindungan Konsumen Kemungkinan Penerapan
Tanggung Jawab Mutlak, Universitas Indonesia, Fakultas Hukum
Pascasarjana.
Sasongko, Wahyu, 2007, Ketentuan-Ketentuan Pokok Hukum Perlindungan
Konsumen, Universitas Lampung, Bandar Lampung.
Sedarmayanti & Syarifuddin Hidayat, 2002, Metodelogi Penelitian, Mandar Maju,
Bandung.
Siahaan, N.H.T., 2005, Hukum Konsumen, Perlindungan Konsumen, dan
Tanggung Jawab Produk, Panta Rei, Bogor.
Sidabalok, Janus, 2010, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung.
Shidarta, 2000, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Grasindo, Jakarta.
Shidarta, Bernard Arief, 2000, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Sebuah
Penelitian Tentang Fundasi Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu Hukum
Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia,
Mandar Maju, Bandung.
Shofie, Yusuf, 2007, Kapita Selekta Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia,
Ghalia-Indonesia, Jakarta.
__________ , 2000, Perlindungan Konsumen dan Instrumen-Instrumen Hukumnya,
Citra Aditya Bakti, Bandung.
__________ , 2002, Pelaku Usaha, Konsumen dan Tindak Korporasi, Ghalia
Indonesia, Jakarta.


__________ , & Somi Awan, 2004, Sosok Peradilan Konsumen Mengungkap
Berbagai Persoalan Mendasar BPSK, Piramedia, Jakarta.
Simatupang, Taufik, 2004, Aspek Hukum Periklanan, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung.
Soemitro, Romy Hanitidjo, 1988, Metodelogi Penelitian Hukum dan Yurimetri,
Ghalia Indonesia.
Soerjono Soekanto, 1984, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta.
____________ , 1985, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
CV.
Rajawali, Jakarta.
______________ ,1986, Permasalahan Hukum di Indonesia, Alumni, Bandung.
_______________ & Sri Mahmmudji, 1988, Penelitian Hukum Normatif, Rajawali
Press, Jakarta.
Soesilo, Zumroetin K., 1996, Penyambung Lidah Konsumen, Swadaya, Jakarta.
Sudaryatmo, 1999, Hukum & Advokasi Konsumen, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Sulastri, C. Tantri D.,1995, Gerakan Organisasi Konsumen, Yayasan
Lembaga
Konsumen Indonesia, Jakarta.
Susanto, Happy, 2008, Hak-Hak Konsumen Jika Dirugikan, Visimedia, Jakarta.
Thaib, Dahlan, 1999, Kedaulatan Rakyat, Negara Hukum, dan Konstitusi,
Yogyakarta, Liberty.
Tri Siwi Kristiyanti, Celine, 2008, Hukum Perlindungan Konsumen, Sinar Grafika,
Jakarta.
Universitas Udayana, 2008, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis 2008,


Denpasar.
Usman, Rachmad, 2003, Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual : Perlindungan
dan
Dimensi Hukumnya di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Wahyuni, Endang Sri, 2003, Aspek Hukum Sertifikasi & Keterkaitannya
Dengan
Perlindungan Konsumen, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Walters, Malcolm ,1994, Modern Sociological Theory, Sage Publications, London.
Widjaja, Gunawan & Ahmad Yani, 2001, Hukum tentang Perlindungan
Konsumen, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Widyahartono, 1983, Industri Informasi dalam Dekade 80-an (Informatie
Industrie In de Jarem Tachtig D. Overkleeft), Alumni, Bandung.
Artikel Dalam Format Elektronik (Internet)
Amran Tanjung, Ali, Pengaturan, Penggunaan dan Pengawasan Label Halal
Terhadap Produk Makanan Perspektif Perlindungan Konsumen ". Diakses 1
D e s e m b e r 2 0 1 1 , a v a l a i b l e
f r o m http://repositoryusu.ac.id/handle/123456789/199922.
Amstrong Sembiring, 2010, " Menyoal Hak-Hak Konsumen ", diakses 8 Juni
2010,
available from URL : http://www.facebook.com/note.php?note_id
Dedi Barnadi - YLBK (Yayasan Lembaga Bantuan Konsumen) Konsumen
Cerdas
Majalengka, 2009, " Makanan Jajanan (Street Food) Anak Sekolah ",


Diakses 30 Juni 2010, Available from : URL :
http://www.konsumencerdas.co.cc
Endrah, 2009, " Kasus Tentang Perundangan Pangan " diakses 2 Agustus 2010,
available From URL : http://endrah.blogspot.com.
Fatmawati, Ari, 2011, " Konsumen dan Label ". Diakses 1 Desember 2011,
available from http://eprints.ums.edu.my/1436/1ae00000000209.pdf.
Hetami, Kamila 2009, "Pelabelan Produk Pangan Yang Mengandung Bahan
Rekayasa Genetika Sebagai Wujud Azas Keterbukaan Informasi ". Diakses 1
Desember 2011, avalaible from http://eprints.undip.ac.id/18037/1/Kamila
Hetami.
Purwiyatno Hariyadi, 2009, " Mencermati Label dan Iklan Pangan ", diakses 29
Juni 2010, available from URL : http://www.republika.co.id
" Label Juga Harus Berbahasa Indonesia " diakses 21 Juni 2010, available from : http:
//www.hukumonline.com.
" YLKI Minta BPOM Tindaklanjuti Temuan Pangan Tanpa Label ", diakses 26
Oktober 2010, available from : http://m.antaranews.com
" Wajib Label Jangan Setengah Hati ",diakses 02 September 2010, available from :
http://bataviase.co.id
Peraturan Perundang-Undangan
Burgerlijke Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).


Undang-Undang No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan.
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Undang-Undang No. 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal.
Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan
Pangan. Peraturan Pemerintah No. 28/2004 tentang Keamanan, Mutu dan
Gizi Pangan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/SK/VIII/1996 tentang perubahan
atas
Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 82/Menkes/SK/I/1996 tentang
Pencantuman Tulisan " Halal " pada Label Makanan.
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 180/Menkes. Per/IV/1985 tentang Makanan
Daluwarsa yang telah dirubah dengan Keputusan Dirjen POM No.
02591/B/SK/VIII/91.