Anda di halaman 1dari 3

Opini Irma Garnesia Page 1

Menjaga Budaya Minang di Perantauan




Dima bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Begitu pituah yang disampaikan orang tua pada kita,
saat berada di rantau. Kita harus mampu menyesuaikan diri dengan adat dan budaya perantauan.
Agar kita diterima dan mudah menyesuaikan diri dengan wilayah baru. Orang Minangkabau memang
menganjurkan generasi mudanya untuk merantau. Anak-anak muda usia 20 sampai 30 tahun sudah
bisa pergi merantau. Mereka dituntut untuk mencari penghidupan sendiri, malu apabila masih
bergantung pada orang tua.
Hingga saat ini, tradisi merantau orang Minangkabau masih terjaga. Setelah lulus SMA, anak-anak
Minang berusaha agar bisa kuliah di luar. Ibarat pepatah, Karatau madang dihulu babuah babungo
balun. Marantau bujang dahulu dirumah paguno balun. Anak-anak Minang di perantauan sangat
dibekali oleh orang tuanya. Apalagi dalam hal agama dan adat istiadat. Adat Minangkabau dinamis,
menampakkan raso (hati, arif, intuitif) dan pareso (akal, rasio, logika). Kita belajar dari pepatah Alam
takambang jadi guru. Ilmu tersebut dikuatkan dengan agama, sesuai Adat basandi syarak, syarak
basandi kitabullah.
Orang Minang di perantauan diharapkan selalu menjaga raso dan pareso. Berpandai-pandai dalam
segala hal. Tidak cukup hanya pandai saja, tapi pandai-pandai. Maksudnya, selain pintar, orang
Minang juga harus tahu situasi dan kondisi. Ia harus terampil membawakan dirinya dalam segala
kondisi. Namun tidak berlebihan. Sekarang banyak ditemukan urang awak yang lebih mencintai
budaya rantau ketimbang budayanya sendiri. Mereka memang tetap bangga sebagai Orang Minang,
tapi pembawaan dan penampilan mereka tidak seperti itu.
Misalnya urang awak yang merantau ke Jakarta dan Bandung. Mau tak mau ia harus beradaptasi
dengan kota metropolitan tersebut. Kita tahu Jakarta dan Bandung merupakan tempat plesiran,
sering dikunjungi. Kedua kota itu juga menjadi tren mode dan fashion. Anak muda mereka tentu
menampilkan diri sesuai citra kotanya. Sebagai kota mode, penampilan ragawi menjadi penting bagi
masyarakatnya. Saya harap Orang Minang tidak terjebak dengan situasi seperti ini. Beradaptasi
tentu saja boleh, tapi jangan sampai melupakan adat dan budaya kita.
Jakarta dan Bandung bukanlah kota budaya, perdagangan, atau kota santri. Mereka adalah kota
mode. Dulu, Belanda menjadikannya sebagai tempat plesiran. Hingga kini banyak turis yang datang
untuk menikmati keindahan kedua kota ini. Saya tidak ingin membandingkan antara budaya Minang
Opini Irma Garnesia Page 2

dengan Jakarta atau Bandung. Jakarta dan Bandung tentu saja dilalui oleh beragam budaya yang
dibawa oleh para pendatang. Saya hanya ingin mengingatkan kepada urang awak, bahwa ketika di
rantau pun kita tetap Orang Minang.
Kato nan ampek dan adat istiadat tetap berlaku bagi kita. Adat basandi syarak, syarak basandi
kitabullah tetap menjadi pegangan kita. Kita tidak boleh melupakan jati diri. Banyak saya lihat,
orang-orang rantau bicara bahasa Minang tapi berperilaku dan berpenampilan tidak seperti Orang
Minang. Berpakaian tidak menutup aurat atau menampakkan lekuk tubuh, berbicara tidak sopan
pada teman sebaya atau orang yang lebih tua. Apakah itu yang kita dapatkan selama di perantauan?
Janganlah meniru perbuatan yang akan mencoreng budaya kita. Berperilaku dan berpenampilan
tidak pantas tentu tidak sesuai dengan adat kita. Niniak mamak dan tetua di kampung tentu malu
jika mendapatkan generasi mudanya berubah.
Hal utama yang menjadi penyebab tergerusnya budaya kita di rantau adalah karena ingin
beradaptasi. Memahami budaya rantau tentu perlu, tapi bukan mengadopsi seluruhnya. Kita tentu
ingin diterima oleh teman-teman di sana. Manusia memerlukan penerimaan dan ingin dianggap.
Tapi bukan menjadi orang lain dan berubah seutuhnya. Bagaimanapun, ketika sudah di rantau, kita
tetap orang Minang. Masyarakat perantauan tentu tetap menerima kita sebagai pendatang dengan
kondisi kita seperti ini. Tetap menjadi diri kita sendiri dan tidak mengubah diri untuk sekedar
dianggap.
Begitu pula dengan anak muda yang ada di Padang. Tidak seluruh hal yang berkaitan dengan kata-
kata gaul tersebut patut dicontoh. Kita ambil contohnya sinetron, bukan berarti membentak
pembantu atau bicara kasar pada orang tua adalah hal yang patut ditiru. Gaya berpakaian artis
sinetron, candaan mereka yang sarkastik, atau kegiatan mereka mem-bully orang lain. Apakah kita
merasa keren ketika melakukan hal tersebut? Apakah itu hal yang diinginkan oleh orang tua atau
guru-guru kita? Tentu saja tidak!
Perilaku seperti merendahkan orang lain, bicara tidak sopan pada yang lebih tua, dan (maaf)
bersikap mantiak agar mendapat perhatian laki-laki, adalah realitas yang ditampilkan sinetron.
Realitas tersebut mereka adaptasi dari kehidupan kota metropolitan, kota tren, dan kota fashion
tadi. Lalu apakah anak muda kita, baik yang di Padang dan di perantauan, merasa patut untuk
menirunya? Saya masih berharap jawabannya tidak.
Dimana pun kita berada, jagalah martabat kita sebagai Orang Minang. Jangan terbawa arus
pergaulan di rantau. Tetaplah berperilaku seperti yang diajarkan orang tua. Menjunjung rasa malu,
rajo jo pareso tentu tidak menjadikan kita ketinggalan zaman. Orang Minangkabau terkenal kuat
Opini Irma Garnesia Page 3

agamanya dan kokoh adatnya. Seorang anak Minang di mana saja berada, tidak akan senang disebut
tidak beragama dan tidak beradat. Orang yang tidak beradat dan tidak beragama Islam, sama
kedudukannya dengan orang tidak berbudi pekerti atau indak tahu di nan ampek. Apa kita mau
direndahkan derajatnya seperti itu?
Sekali lagi dan tidak bosan, tetaplah menjunjung raso jo pareso dan rasa malu. Karena jika malu
telah hilang, wajah cantik pun tidak berarti. Ibarat kata pepatah, Nak urang Koto Hilalang, nak lalu
ka pakan baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso. (*)


Irma Garnesia
Mahasiswa Fikom Unpad