Anda di halaman 1dari 5

2. Jelaskan Mengenai Adaptasi Sel?

Adaptasi sel adalah penyesuaian diri pada lingkungan mikron sel untukmempertahankan fungsi
terhadaptantangan & tekanan yang selaluberubah ( Robbins & Kumar, 1995).
Adaptasi fisiologi adalah reaksi sel terhadap stimulus oleh hormon atau zat kimia
endogen. Seperti: pembesaran kelenjar mamae dan induksi laktasi pada kehamilan
Adaptasi patologi adalah adaptasi sel terhadap stimuli abnormal.
Terdapat 4 tipe adaptasi selular, yaitu :
a) Hipertrofi
Hipertrofi adalah Pertambahan besar organ akibat adanya pertambahan ukuran
sel pada organ. Hipertrofi adalah suatu respons adaptif yang terjadi apabila terdapat
peningkatan beban kerja suatu sel. Kebutuhan sel akan oksigen dan zat gizi
meningkat, menyebabkan pertumbuhan sebagian besar struktur dalam sel.
Contoh hipertrofi yang menguntungkan adalah yang terjadi pada jaringan yang
terdiri atas sel permanen misalnya otot skelet pada binaragawan. Hipertrofi yang
bersifat patologis contohnya adalah jantung yang dipotong melintang, kapasitas jadi
lebih kecil dan kerja jantung jadi lebih berat.
b) Metaplasia
Metaplasia adalah perubahan sel dari satu subtype ke subtype lainnya.
Metaplasia biasanya terjadi sebagai respons terhadap cedera atau iritasi kontinu yang
menghasilkan peradangan kronis pada jaringan. Dengan mengalami metaplasia, sel-
sel yang lebih mampu bertahan terhadap iritasi dan peradangan kronik akan
menggantikan jaringan semula. Contoh oleh asap rokok yaitu iritasi kronis.
Contoh metaplasia yang paling umum adalah perubahan sel saluran pernapasan
dari sel epitel kolumnar bersilia menjadi sel epitel skuamosa bertingkat sebagai
respons terhadap merokok jangka panjang. Contoh lain yang dapat kita amati pada
kasus kanker serviks. Pada perubahan sel kolumnar endoserviks menjadi sel
skuamosa ektoserviks terjadi secara fisiologis pada setiap wanita yang disebut
sebagai proses metaplasia. Karena adanya faktor-faktor risiko yang bertindak sebagai
ko-karsinogen, proses metaplasia ini dapat berubah menjadi proses displasia yang
bersifat patologis. Displasia merupakan karakteristik konstitusional sel seperti potensi
untuk menjadi ganas.
Jadi, intinya metaplasia bisa terjadi dalam bentuk fisiologis namun hanya sesaat
saja karena pasti akan ada factor yang menyebabkan metaplasia ini berubah sifat
menjadi patologis. contoh kasus peradangan kronis pada jaringan
Salah satu contoh peradangan kronis misalnya pada penyakit gastritis. Gastritis
adalah suatu peradanganpada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster.
Salah satu etiologi terjadinya gastritis adalah Helycobacter pylory ( pada gastritis
kronis ).
Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini menyerang sel
permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi sel dan muncullah respon
radang kronispada gaster yaitu: destruksi kelenjar dan metaplasia.
Metaplasia adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu
dengan mengganti sel mukosa gaster misalnya dengan sel squamosa yang lebih kuat.
Karena sel squamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. pada saat
mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi karena sel
penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang pada akhirnya akan
menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga menyebabkan hilangnya sel mukosa pada
lapisan lambung, sehingga akan mengakibatkan kerusakan pembuluh darah lapisan
mukosa. Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan.
Gastritis akut yang bersifat peradangan terjadi di mukosa atau sub mukosa yang
bersifat iritasi lokal, gejala biasanya ringan seperti : rasa tidak enak di daerah
epigastrik, kram di perut / tegang juga dapat menimbulkan terjadinya perdarahan, di
samping itu pada gastritis dapat terjadi peningkatan yang dapat dapat menimbulkan
mual dan muntah juga dapat menyebabkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini ditimbulkan oleh
karena kontak HCL dengan mukosa gaster.
c) Atrofi
Atrofi merupakan pengurangan ukuran yang disebabkan oleh mengecilnya ukuran
sel atau mengecilnya/berkurangnya (kadang-kadang dan biasa disebut atrofi numerik)
sel parenkim dalam organ tubuh (Syhrin, 2008).
Atrofi dapat disebabkan oleh berbagai faktor tergantung pada jenis atrofi tersebut.
Sebelum membahas mengenai penyebab terjadinya, maka harus diketahui terlebih
dahulu jenis-jenis atrofi agar pembahsannya lebih spesifik. Secara umum, terdapat
dua jenis atrofi, yaitu atrofi fisiologis dan atrofi patologis.
Atrofi fisiologis merupakan atrofi yang bersifat normal atau alami. Beberapa
organ tubuh dapat mengecil atau menghilang sama sekali selama masa
perkembangan atau pertumbuhan, dan jika alat tubuh tersebut organ tubuh tersebut
tidak menghilang ketika sudah mencapai usia tertentu, malah akan dianggap sebagai
patologik ( Saleh, 1973). Contoh dari atrofi fisiologis ini yaitu proses penuaan (aging
process) dimana glandula mammae mengecil setelah laktasi, penurunan
fungsi/produktivitas ovarium dan uterus, kulit menjadi tipis dan keriput, tulang-tulang
menipis dan ringan akaibat resorpsi. Penyebab proses atrofi ini bervariasi, diantaranya
yaitu berkurangnya/hilangnya stimulus endokrin, involusi akibat menghilangnya
rangsan-rangsang tumbuh (growth stimuli), berkurangnya rangsangan saraf,
berkurangnya perbekalan darah, dan akibat sklerosis arteri. Penyebab-penyebab
tersebut terjadi karena proses normal penuaan (Saleh, 1973). Berbeda dengan atrofi
fisiologis, atrofi patologis merupakan atrofi yang terjadi di luar proses normal/alami.
Secara umum, atrofi patologis dan fisiologis terbagi menjadi lima jenis, yaitu atrofi
senilis, atrofi local, atrofi inaktivas, atrofi desakan, dan atrofi endokrin.
1) Atrofi senilis
Atrofi senilis terjadi pada semua alat tubuh secara umum, karena atrofi
senilis termasuk dalam atofi umum (general atrophy). Atropi senilis tidak
sepenuhnya merupakan atropi patologis karena proses aging pun masuk ke
dalam kelompok atrofi senilis padahal proses aging merupakan atropi fisiologis.
Contoh atropi senilis yang merupakan proses patologik yaitu starvation
(kelaparan). Starvation atrophy terjadi bila tubuh tidak mendapat makanan/nutrisi
untuk waktu yang lama. Atropi ini dapat terjadi pada orang yang sengaja berpuasa
dalam jangka waktu yang lama (tanpa berbuka puasa), orang yang memang tidak
mendapat makanan sama sekali (karena terdampar di laut atau di padang pasir).
Orang yang menderita gangguan pada saluran pencernaan misalnya karena
penyempitan (striktura) esophagus. Pada penderita stiktura esophagus tersebut
mungkin mendapatkan suplai makanan yang cukup, namun makanan tersebut
tidak dapat mencapai lambung dan usus karena makanan akan di semprotkan
keluar kembali. Karena itu, makanan tidak akan sampai ke jaringan-jaringan tubuh
sehingga terjadilah emasiasi, inanisi, dan badan menjadi kurus kering.
2) Atrofi Lokal
Atrofi local dapat terjadi akibat keadaan-keadaan tertentu.
3) Atropi inaktivitas
Terjadi akibat inaktivitas organ tubuh atau jaringan. Misalnya inaktivitas otot-
otot mengakibatkan otot-otot tersebut mengecil. Atropi otot yang paling nyata yaitu
bila terjadi kelumpuhan otot akibat hilangnya persarafan seperti yang terjadi pada
poliomyelitis.
Atrofi inaktivitas disebut juga sebagi atrofi neurotrofik karena disebabkan oleh
hilangnya impuls trofik. Tulang-tulang pada orang yang karena suatu keadaan
terpaksa harus berbaring lamaocclusion) pada saluran keluar pancreas, sel-sel
asinus pancreas (eksokrin) menjadi atrofik. Namun, pulau-pulau Langerhans
(endokrin) yang membentuk hormon dan disalurkan ke dalam darah tidak
mengalami atrofi. mengalami atrofi inaktivitas. Akibatnya, tulang-tulang menjadi
berlubang-lubang karena kehilangan kalsiumnya sehingga tidak dapat menunjang
tubuh dengan baik. Sel-sel kelenjar akan rusak apabila saluran keluarnya
tersumbat untuk waktu yang lama. Ini misalnya terjadi pada pankreas.
4) Atrofi desakan
Atrofi ini terjadi akibat desakan yang terus-menerus atau desakan dalam
waktu yang lama dan yang mengenai suatu alat tubuh atau jaringan. Atrofi
desakan fisiologik terjadi pada gusi akibat desakan gigi yang mau tumbuh dan
dan yang mengenai gigi (pada nak-anak). Atroi desakan patologik misalnya terjadi
pada sternum akibat aneurisma aorta. Pelebaran aorta di daerah substernal
biasanya terjadi akibat sifilis. Karena desakan yang tinggi dan terus menerus
mengakibatkan sternum menipis.
Atrofi desakan ini pun dapat terjadi pada ginjal. Parenkim ginjal dapat menipis
akibat desakan terus-menerus. Ginjal seluruhnya berubah menjadi kantung berisi
air, yang biasanya terjadi akibat obstruksi ureter, yang biasanya disebabkan oleh
batu. Atrofi dapat terjadi pada suatu alat tubuh kerena menerima desakan suatu
tumor didekatnya yang makin lama makin membesar ( Saleh, 1973).
5) Atrofi endokrin
Terjadi pada alat tubuh yang aktivitasnya bergantung pada rangsangan
hoemon tertentu. Atrofi akan terjadi jika suplai hormon yang dibutuhkan oleh suatu
organ tertentu berkurang atau terhenti sama sekali. Hal ini misalnya dapat terjadi
pada penyakit Simmonds. Pada penyakit ini, hipofisis tidak aktif sehingga
mrngakibatkan atrofi pada kelenjar gondok, adrenal, dan ovarium.
Secara umum, atrofi dapat terjadi karena hal-hal/kondisi berikut.
a. Kurangnya suplai Oksigen pada klien/seseorang
b. Hilangnya stimulus/rangsangan saraf
c. Hilangnya stimulus/rangsangan endokrin
d. Kekurangan nutrisi
e. Disuse/inaktivitas (organ tidak sering digunakan, maka akan
mengakibatkan pengecilan organ tersebut).

Mekanisme atropi secara singkat adalah sebagai berikut. Secara umum, seluruh
perubahan dasar seluler (dalam hal ini merupakan perubahan ke arah atropi) memiliki
proses yang sama, yaitu menunjukkan proses kemunduran ukuran sel menjadi lebih
kecil. Namun, sel tersebut masih memungkinkan untuk tetap bertahan hidup. Walupun
sel yang atropi mengalami kemunduran fungsi, sel tersebut tidak mati. Atropi
menunjukkan pengurangan komponen-komponen stutural sel. Sel yang mengalami
atropi hanya memiliki mitokondria dengan jumlah yang sedikit, begitu pula dengan
komponen yang lain seperti miofilamen dan reticulum endoplasma. Akan tetapi ada
peningkatan jumlah vakuola autofagi yang dapat memakan/merusak sel itu sendiri.
d) Hiperplasia
Hiperplasia merupakan suatu kondisi membesarnya alat tubuh/organ tubuh
karena pembentukan atau tumbuhnya sel-sel baru (Saleh, 1973). Sama halnya
dengan atrofi, terdapat dua jenis hyperplasia, yaitu hyperplasia fisiologis dan patologis.
Contoh yang sering kita temukan pada kasus hyperplasia fisiologis yaitu bertambah
besarnya payudara wanita ketika memasuki masa pubertas. Sedangkan hyperplasia
patologis sering kita temukan pada serviks uterus yang dapat mengakibatkan kanker
serviks. Sel-sel pada serviks tersebut mengalami penambahan jumlah. Biasanya
hyperplasia ini diakibatkan oleh sekresi hormonal yang berlebihan atau faktor pemicu
pertumbuhan yang besar.