Anda di halaman 1dari 3

Intervensi Minimal di Kedokteran

Gigi
HL | 02 March 2010 | 06:54 Dibaca: 1462 Komentar: 12 4
Kemarin sore saat menyusuri Kampus FKM UI Depok menuju parkiran, tak
sengaja saya bertemu dengan kawan lama satu almamater dari Univ.
Hasanuddin Makassar yang sedang mengambil S2 juga di UI. Pembicaraan
yang awalnya sekedar menanyakan kabar, kemudian berlanjut ke masalah
kesehatan gigi yang di derita sang kawan ini.
Bukan, bukan karena giginya yang sangat berantakan dan tak terurus, tapi
kawan ini bercerita tentang keluhan saat ke dokter gigi waktu di Makassar
beberapa bulan yang lalu saat dia mudik ke kampung halaman. Sang kawan
ini sempat komplain kenapa gigi geraham kanannya saat ke dokter gigi
lubangnya hanya kecil dan terasa sedikit ngilu, kemudian oleh dokter giginya
di bor lebih besar dan lebih lebar, kemudian ditumpat/ditambal. Sang kawan
ini, merasa tidak terima, karena giginya hanya lubang kecil saja dan tidak
perlu memakan waktu lama untuk direparasi oleh sang dokter.
Jadilah, saya yang ditempati curhat sore kemarin.
Dari hasil berdiskusi dengan kawan itu, saya ingin berbagi dengan teman-
teman di Kompasiana mengenai Konsep Intervensi Minimal di bidang
Kedokteran Gigi.
Sejak era tahun 1890 an, konsep preparasi kavitas (pengambilan bagian gigi
yang berlubang dengan bur gigi) yang dikembangkan oleh GV.Black mulai
digunakan luas di dunia kedokteran gigi, konsepnya yang terkenal dengan
prinsip extention for prevention alias dengan membuat kavitas yang besar
untuk bahan tumpat amalgam sangat sesuai dengan pemahaman untuk
mencegah terjadinya karies sekunder (alias karies yang dapat
terjadi/terbentuk lagi setelah preparasi ataupun penumpatan gigi).


Preparasi GV. Black
Namun, fakta yang muncul belakangan bahwa struktur dan jaringan gigi yang
sehat yang tersisa akibat pengambilan yang banyak tersebut dapat membuat
jaringan gigi yang tersisa tersebut menjadi rapuh dan tidak kuat menahan
beban akibat proses pengunyahan dan ikatan bahan tumpatan gigi dengan
struktur gigi, akibatnya resiko fraktur gigi menjadi lebih besar.
Lantas, bagaimanakah dokter gigi dapat bekerja dengan fakta tersebut?
Filosofi dari perawatan profesional pada konsep Minimal Intervention in
Dentistry (MID) memberikan perhatian utama pada gejala awal, deteksi dini
dan perawatan segera pada tingkat mikro (tahap yang paling kecil), diikuti
dengan invasi yang paling minimal dan patient friendly sebagai pilihan untuk
memperbaiki kerusakan ireversibel yang disebabkan oleh penyakit
Jika ada penyakit gigi seperti karies (gigi berlubang) harus segera dilakukan
perawatan. Tidakan ekstraksi (pencabutan gigi) adalah tahap akhir jika gigi
tsb sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Pembuangan jaringan gigi pada
saat perparasi dilakukan seminimal mungkin. Restorasi atau bahan tumpatan
yang diberikan setelah gigi selesai dipreparasi harus menjamin pencegahan
atau eliminasi penyakit.
Olehnya itu, The World Dental Federation (FDI) membuat lima prinsip Minimal
Intervention dalam penanganan karies, yaitu:
1. Mengurangi bakteri kariogenik. Dental caries adalah penyakit infeksi,
maka fokus utama adalah mengontrol infeksi, kontrol plak, dan
mengurangi makanan karbohidrat
2. Pendidikan kepada pasien, memberitahukan penyebab karies.
Sehingga ada tindakan pencegahan yang lebih dini dari pasien
3. Remineralisasi dari lesi non-cavitated pada enamel dan dentin
4. Minimum surgical intervention dan tindakan bedah dilakukan bila perlu,
misalnya lesi cavitas tidak dapat dipertahankan dan keperluan untuk
fungsi dan estetik
5. Memperbaiki restorasi yang rusak berfungsi untuk mencegah perluasan
karies, memperbaiki fungsi dan estetik.
Prinsip restorasi pada minimal intervention (MID) :
Hanya degraded enamel dan infected dentin yang dibuang, sedangkan
affected dentin ditinggalkan.
Bentuk kavitas dibuat sesuai dengan bentuk karies
Dasar enamel didukung oleh bahan adhesif restoratif
Minimal intervention pada akhirnya mempunyai keuntungan biaya lebih
murah, trauma yang kecil pada pasien dan konsep ini merupakan pendekatan
biologik, bukan mekanis.

Anda mungkin juga menyukai