Anda di halaman 1dari 23

Oleh

KELOMPOK 4
Pernikahan merupakan suatu akad yang
menjadikan Hukum yang asalnya haram menjadi
halal, yaitu kebolehannya bergaul antara seorang
laki-laki dengan seorang wanita dan saling tolong
menolong diantara keduanya serta menentukan
batas hak dan kewajiban di antara keduanya.
Selama dalam ikatan pernikahan antara suami
dan isteri banyak hukum yang menghalangi
suami untuk tidak menggauli isterinya, bahkan
akan terjadi talaq seperti dalam illa, zhihar, dan
lian. Semua itu merupakan penghalang bagi
suami untuk menggauli isterinya tersebut.
Menurut etimologis (bahasa), ila berarti melarang diri
dengan menggunakan sumpah. Sedangkan menurut
terminologis (istilah) ila berarti bersumpah untuk tidak lagi
mencampuri isteri.

Jadi ila adalah sumpah seorang suami untuk tidak lagi
melakukan hubungan seksual dengan isterinya. Perbuatan ini
adalah kebiasaan jahiliyah untuk menyusahkan pihak isteri
dengan cara bersumpah untuk tidak lagi menjamah isterinya
selama satu tahun atau dua tahun. Perbuatan ini tentu akan
menyiksa isterinya dan membuat statusnya menjadi tidak
jelas, yaitu hidup tanpa suami, namun juga tidak dicerai.
Firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 226-227 yang
berbunyi:





Artinya: Kepada orang-orang yang meng-ilaa' isterinya
diberi tangguh empat bulan (lamanya). kemudian jika
mereka kembali (kepada isterinya), Maka Sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (226). Dan
jika mereka ber'azam (bertetap hati untuk) talak, Maka
Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha
mengetahui(227)
Meng-ilaa' isteri maksudnya: bersumpah tidak
akan mencampuri isteri. dengan sumpah ini
seorang wanita menderita, karena tidak
disetubuhi dan tidak pula diceraikan. dengan
turunnya ayat ini, Maka suami setelah 4 bulan
harus memilih antara kembali menyetubuhi
isterinya lagi dengan membayar kafarat sumpah
atau menceraikan.
Kedudukan Isteri sesudah Lewat Masa Empat Bulan
Para Fuqaha berselisih pendapat mengenai masalah
ini. Apakah isteri yang di Ila secara otomatis tercerai
dapat menceraikan dirinya, ataukah tidak. Malik, Syafii,
Ahmad, Abu Tsaur, Dawud, dan al-Laits berpendapat,
bahwa sesudah lewat masa empat bulan, suami bisa
menceraikan atau kembali lagi kepada isterinya.
Pendapat ini juga dikemukakan oleh oleh Ali r.a. dan
Ibnu Umar r.a. meskipun terdapat riwayat lain darinya,
tetapi yang benar adalah pendapat ini.
Sedangkan Abu Hanifah beserta para pengikutnya
dan Tsauri, atau Fuqaha Kufah, berpendapat bahwa talak
jatuh secara otomatis sesudah lewat masa empat bulan,
kecuali jika suami kembali laagi kepada isterinya.
Bentuk Sumpah Ila
Menurut Imam al-Syafii di dalam qaul jadidnya,
bahwa ila tidak dapat jatuh kecuali disertai dengan
sumpah kepada Allah saja. Menurut Hanafiyyah dan
Malikiyyah, ila sah dengan sumpah atas nama Tuhan, atau
sumpah meninggalkan seksual dengan talak atau
memerdekakan ataupun zhihar.
Malikiyyah menambahkan, ila tidak disyaratkan
sumpah di dalamnya. Apabila seorang lelaki menolak
untuk berhubungan seksual dengan tujuan menyakiti
perempuan tanpa ada uzur, walaupun tanpa sumpah, maka
dia telah melakukan ila. Sedangkan menurut Imam Mlik,
ila hanya sah tatkala dalam keadaan marah melihat secara
lahirnya ayat.
Masa Ila
Ila pada masa jahiliyah, masa tunggunya satu sampai dua
tahun. Kemudian Allah SWT membatasi waktunya agar semua
pihak memperoleh kelapangan, yaitu empat bulan. Kurang
dari masa itu bukan ila.
Malik mengatakan bahwa ila harus lebih lama dari empat
bulan, sebab menurutnya masa kembali pada isteri itu
dilakukan sesudah lewat masa empat bulan. Sedangkan Abu
Hanifah berpendapat masa ila itu hanya empat bulan saja,
sebab menurutnya kembali kepada itu dilakukan pada masa
empat bulan itu juga.
Dari Ibnu Abbas r.a. diriwayatkan bahwa orang yang
bersumpah illa ialah orang yang bersumpah tidak akan
menggauli isteri untuk selamanya.

Jenis Thalaq akibat Ila
Adapun thalaq yang jatuh karena ila, As-Syafii dan Malik
berpendapat bahwa thalaqnya adalah Raji, karena menurut mereka
tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa Thalaq yang thalaq karena
illa adalah Bain. Sedangkan Abu Hanifah dan Abu Tsaur
berpendapat bahwa thalaq tersebut adalah Bain. Apabila thalaq
tersebut raji, maka kerugian yang menimpa isteri tidak hilang
karena suami dapat memaksa isterinya untuk dirujuk.
Dengan demikian, adanya perbedaan pendapat tentang thalaq
yang jatuh karena Ila itu ditujukan karena kemaslahatan ila. Bagi
para Fuqaha yang lebih menguatkan aturan pokok mengatakan,
thalaq tersebut raji. sedangkan fuqaha yang lebih segi menimbang
kemaslahatan mengatakan , thalaq tersebut adalah Bain.
Jika suami enggan untuk menjatuhkan thalaq, maka penguasa
atau Hakim dapat melakukan tindakan perceraian sebagi realisasi
kemaslahatan umum. Ini dikarenakan karena menurut para fuqaha
yang memperhatikan kerugian yang akan menimpa isteri karena Ila.
Kafarat Melanggar Ila
Jika seorang suami bersumpah tidak akan menggauli isterinya
selama empat bulan atau lebih, kemudian baru satu bulan dia
menggauli isterinya, maka dituntut untuk menunaikan kafaratnya,
yaitu kafarat pelanggaran terhadap sumpah, melalui: memberi makan,
pakaian kepada 10 orang miskin atau memerdekakan seorang hamba
sahaya atau berpuasa tiga hari berturut-turut. Hal ini sesuai dalam
firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 89, yang artinya : Allah tidak
menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud
(untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-
sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu,
ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang
biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada
mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup
melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.
yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu
bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah
Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur
(kepada-Nya).
Kata lian berasal dari kata al-Lanu yang artinya jauh dan
laknat atau kutukan. Disebut demikian karena suami yang
saling berlian itu berakibat saling dijauhkan oleh hukum dan
diharamkan berkumpul sebagai suami istri untuk selama-
lamanya, atau karena yang bersumpah lian itu dalam
kesaksiannya setelah yang keempat kali dan yang kelima
menyatakan bersedia menerima laknat (kutuk) Allah jika
pernyataannya tidak benar.
Menurut istilah hukum islam , lian ialah sumpah yang
diucapkan oleh suami ketika ia menuduh isterinya berbuat
zina dengan empat kali kesaksian bahwa ia termasuk orang
yang benar dalam tuduhannya kemudian pada sumpah
kesaksian kelima disertai persyaratan bahwa ia bersedia
menerima laknat Allah jika ia berdusta adalam tuduhannya
itu.
Dasar hukum pengaturan lian bagi suami yang menuduh
istrinya berbuat zina ialah firman Allah surat An-Nur ayat 6-
7 :







Terhadap tuduhan suami itu, istri dapat menyangkalnya
dengan sumpah kesaksian sebanyak empat kali bahwa
suami itu berdusta dalam tuduhannya, dan pada sumpah
kesaksiannya yang kelima disertai pernyataan bahwa ia
bersedia menerima marah dari Allah jika suami benar
dalam tuduhannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah
dalam surat An- Nur ayat 8-9:








Bentuk-bentuk tuduhan yang mewajibkan lian ada dua, yaitu:
Wajibnya Lian Karena tuduhan Berzina
Yaitu apabila suami mengaku melihatnya sendiri, sedangkan
menurut Syafii, Abu Hanifah, Tsauri, Ahmad, Dawud, mereka
berpendapat wajibnya lian hanya berdasarkan tuduhan semata,
jumhur fuqaha berpendapat atas kebolehannya.
Mengingkari Kandungan
Sedangkan jika suami mengingkari kandungan, terdapat dua
permasalahan. Salah satunya, suami mengaku ia telah
mengistibrakan isterinya dan tidak menggaulinya sesudah istibrak.
Menurut pendapat Malik berbeda-beda mengenai masalah
istibrak ini, ia mengatakan bahwa masa istibrak itu tiga kali haid,
dan terkadang mengatakan, masanya cukup satu kali haid saja.
Pendapat ini ditentang oleh Syafii, Ahmad, dan Dawud. Mereka
mengatakan, pendapat ini tidak bermakna, karena terkadang
wanita itu mengalami kehamilan dalam keadaan masih
mengeluarkan haid. Jadi tidak boleh mengingkari kandungan
secara mutlak tanpa tuduhan zina.
Akibat Sumpah Lian Bagi Suami Istri

Akibat lian adalah terjadinya perceraian antara suami
istri. Akan tetapi hal ini masih diperselisihkan oleh para
fuqaha. Jumhur ulama mengemukakan alasan bahwa pada
dasarnya diantara keduanya telah terjadi pemutusan
hubungan , saling membenci, saling mengumbar hawa nafsu,
dan merusak batasan-batasan Allah, yang kesemuanya
mengharuskan keduanya tidak berkumpul kembali selamanya.
Demikian itu karena pada dasarnya hubungan suami istri itu
dibina atas dasar kasih sayang, sementara mereka tidak
memiliki lagi rasa kasih sayang ini sama sekali. Maka hukuman
yang layak bagi keduanya adalah bercerai dan berpisah.
Akibat Lian dari Segi Hukum

Sebagai akibat dari sumpah lian yang berdampak pada
suami istri, yaitu lian menimbulkan pula perubahan pada
ketentuan hukum yang mestinya dapat berlaku bagi salah satu
pihak (suami istri). Perubahan itu antara lain adalah sebagai
berikut:
a. Suami istri bercerai untuk selamanya
b. Bila ada anak, tidak dapat diakui oleh suami sebagai
anaknya

Sebaliknya si istri dapat menggugurkan hukum had atas
dirinya dengan membela lian suaminya dengan liannya pula
atas suaminya.
Zhihar berasal dari kata Zhahr yang artinya punggung,
sedangkan menurut istilah adalah suatu ungkapan suami yang
menyatakan kepada isterinya Bagiku kamu seperti punggung
ibuku. Dalam kitab fathul Bari dikatakan: zihar khusus disebut
punggung saja dan bukan anggota badan lainnya, karena umumnya
punggunglah tempat tunggangannya.
Pada zaman jahiliyah zihar ini menjadi thalaq. Lalu islam
datang membatalkannya. Kemudian Islam menetapkan isteri yang
di zhihar haram untuk di kumpuli sebelum membayar kafarat
kepada isterinya sekalipun suami menzhihar isterinya hanya
bermaksud untuk menthalaq, tetapi secara hukum tetap dipandang
zhihar. Dan jika dengan ucapan thalaq dimaksud zhihar, tapi secara
hukum tetap thalaq. Andai kata ada suami mengatakan kepada
isterinya engkau seperti punggung ibuku, sedangkan maksudnya
menthalaq, maka hukum tersebut bukan thalaq, tapi tetap
dinamakan sebagai zhihar. Dan zhihar tidak menyebebkan isteri
terthalaq dari suami.
Akibat Zhihar
Suami yang telah menzhihar isterinya dengan sah bisa
menimbulkan dua macam akibat, yaitu:

- Pertama, haram untuk bersetubuh. Seorang suami yang telah
menzhihar isterinya maka haram baginya untuk melakukan
persetubuhan dengan isterinya sebelum membayar kafarat
zhihar. Karena diharamkannya bersetubuh, berarti haram pula
perbuatan-perbuatan pendahuluannya, seperti: mencium,
mengecup leher dan sebaginya yang bisa disebut dengan
muqaddimah nya. Sedangkan menurut Imam syafii bahwa
zhihar hanya menyebabkan keharaman pergaulan pada
kelamin perempuan saja, yang telah disepakati atasnya. Bukan
terhadap anggota tubuh lainnya.

Kedua, wajib membayar kafarat dan berhak untuk kembali
lagi. Para ulama berbeda pendapat tentang maksud kembali
lagi. Qatadah, Saiid bin Zubair, abu Hanifah dan murid-
muridnya berkata : kembali lagi maksudnya kembali kehendak
bersetubuh yang jadi haram karena zhihar tadi. Tetapi Syafii
berkata: bahkan ia dapat memegang isterinya setelah zhihar
dalam tempo seperti thalaq, walaupun disini bukan perkara
thalaq. Karena menyamakan isteri dengan ibu menyebabkan
thalak bain. dan memegang kembali isteri setelah zhihar berarti
berlawanan dengan thalaq bain tersebut. Jadi jika suami ingin
memegang isterinya kembali berarti ia telah mencabut ucapan
zhiharnya.
Sedangkan kafaratnya bagi seseorang suami yang menzhihar
isterinya adalah memerdekakan budak perempuan, jika tidak
mampu berpuasalah dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu
member makanan kepada 60 orang miskin, SyafiI dan Abu
Hanifah memberikan setiap orang miskin itu satu mud.