Anda di halaman 1dari 11

Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

1
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

BAB I
CEKUNGAN NATUNA BARAT
1.1 Kabupaten Natuna
Natuna merupakan salah satu kabupaten termuda di Indonesia yang lahir di era
reformasi dan otonomi daerah. kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten
Kepulauan Riau yang secara resmi terbentuk dengan dasar Undang-undang Nomor 53 Tahun
1999. Secara Geografis Kabupaten Natuna terletak di belahan Utara Indonesia tepatnya
antara 2 Lintang Utara 5 Lintang Utara dan 104 Bujur Timur 110 Bujur Timur. Luas
Wilayah Kabupaten Natuna ( sebelum Kab. Anambas Terbentuk ) adalah 14.190.120 ha atau
141.901,2 Km2, terdiri dari daratan seluas 323.520 ha (3.235,2 km2) dan perairan seluas
13.866.600 ha (138.66 km2). Wilayah daratan terdiri dari 272 pulau besar dan kecil yang
tersebar di perairan Laut Cina Selatan.
Kabupaten Natuna saat ini memang menjadi salah satu daerah andalan penghasil
minyak dan gas Indonesia. Berdasarkan laporan studi Kementerian dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) tahun 2002, cadangan minyak yang dimiliki Natuna mencapai 308,30 Juta Barel.
Sementara Cadangan Gas Buminya terbesar se-Indonesia, yaitu sebesar 54,78 triliyun kaki
kubik.
Tidak mengherankan jika Dana Bagi Hasil Migas menjadi sumber utama pendapatan Daerah
Kabupaten Natuna.

Gambar Kabupaten Natuna

Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

2
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

1.2 Geologi Regional Natuna
wilayah Kepulauan Riau dan perairan Natuna Barat di Laut Cina Selatan pada posisi
geografi 0- 4 LU dan 102 -108 BT. Secara geografis dan strategis termasuk wilayah
Propinsi Kepulauan Riau yang berbatasan dengan negara-negara tetangga dan juga
merupakan jalur lintas pelayaran internasional.
Secara geologi, Kepulauan Riau (Pulau Karimun, Barelang dan Bintan) merupakan
perwujudan dari daratan Sunda (Sundaland), dengan Laut Natuna bagian timulaut termasuk
ke dalam sub-sistem tepian bagian baratlaut Laut Cina Selatan (LCS).
Secara stratigrafi kepulauan ini didominasi oleh zona batuan beku granit plutonik
berumur Trias Akhir. Keberadaan batuan granitik ini menghasilkan batuan rombakan berupa
batuan sedimen kaya kuarsa (dikenal sebagai batupasir kuarsa, Tersier Bawah), yang
menutupi hampir sebagian besar paparan Sunda dan Kepulauan Riau. Sedangkan di Laut
Natuna berkembang dua cekungan Sedimentasi Tersier yang kaya minyak dan gas (MIGAS),
yaitu Cekungan Natuna Barat (West Natuna Basin) dan Cekungan Natuna Timur (East
Natuna Basin), yang dipisahkan oleh sistem Punggungan Natuna (Natuna Arch) berarah
utara-selatan yang membentuk Kepulauan Natuna Morfologi Kepulauan Riau dibentuk akibat
erosi arus laut pada batuan granit sehingga memnbentuk suatu tonjolan bahkan dataran.
Morfologi dasar laut yang berkembang relatif sedang sampai dalam, di sekitar pulau-pulau
pola kontur mengikuti pola garis pantai melingkar dengan morfologi yang landai ditunjukan
oleh garis kontur yang tidak renggang, di bagian tengah membentuk kontur terbuka yang
semakin terjal dan dalam ke arah utara. Daerah ini dimanfaatkan sebagai alur pelayaran
internasional yang banyak dilalui kapal-kapal berukuran besar Secara umum sedimen dasar
laut Kepulauan Riau didominasi oleh pasir kuarsa berukuran sedang hingga kerikil yang
berasal dari darat dan pasir mengandung pecahan cangkang foram yang berasal dari laut.











Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

3
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

BAB II

Tinjauan Umum Lapangan Nila (Natuna Barat)
Lapangan Nila di Laut Natuna Selatan merupakan lapangan minyak dan gas yang
dioperasikan oleh ConocoPhillips. Lapangan Nila merupakan lapangan yang dipercayakan
Pertamina kepada ConocoPhillips dalam bentuk kerja sama PSC (Production Sharing
Contract). Tinjauan umum Lapangan Nila ini meliputi regional geologi dan stratigrafi.
2.1 Letak Geografis Lapangan
Blok Nila secara geografis terletak pada 106o107o BT dan 04o 50 05o 00 LU.
Blok Nila terletak pada cekungan barat dalam Blok B ConocoPhillips di antara Blok Lasmo,
Premier dan Gulf di sebelah utaranya.
2.2 Geologi Regional Lapangan
Blok Nila terletak di cekungan Natuna bagian barat dari Lautan Natuna bagian
selatan. Cekungan ini berasal dari masa Eosen sampai Oligosen yang Basement yang
mengandung bermacam-macam batuan granit dan metasedimen merupakan daerah
pembentukan bagi lapisan klasik syn-rift (proses pengendapan yang terjadi akibat pergeseran
kerak bumi), yang diselingi terkadang dengan lapisan-lapisan tipis batuan beku, ini
berdasarkan dari Formasi Belut .
Di beberapa waktu pada syn-rift, sediment graben (sisipan) lacustrine terakumulasi dan
membentuk lapisan sumber minyak yang sangat penting.
Pada pertengahan Oligosen gerak patahan berhenti, sedimen-sedimen fasa rifting dan
sinking merupakan lapisan yang menutupi batas patahan lama dan disebut formasi Gabus. Ini
terdiri dari daerah besar reservoir fluvio-alluvial (pengendapan batuan yang terjadi di
darat,merupakan umur pengendapan yang paling muda kurang lebih 20.000 tahun).

Awal diera Oligosen akhir, patahan Malay-Natuna bertukar silang lapisan tanpa
dipengaruhui oleh temperatur, sebagai akibat dari gerakan tektonik transgressional NW-SE.
Pembentuk patahan dan beberapa daerah batas cekungan berubah menjadi antiklin yang besar
yang mana menjadi bagian dari target utama dari eksplorasi ini. Indikasi pertama kali dari
invers (hasil pengendapan yang terlipat kembali) dan pemudaan kembali batas pantai dilihat
dalam getaran yang diperbaharui untuk reservoir batuan pasir berkualitas tinggi yang terdiri
dari bagian besar formasi Gabus. Antara pembesaran syn-invers tak berpusat, pengendapan
didominasi oleh shale-shale brackish-lacustrine (pengendapan shale yang terbentuk pada
lingkungan air payau) dari formasi barat, penutup atas yang terpenting. Penutup dari batas
cekungan, klasik co-eval dari formasi udang terendapkan dan membentuk reservoir penting di
beberapa lapangan.
Tahap Miosen Awal, getaran pembaharuan dari penekanan dan invers dihasilkan dari
erosi pembesaran invers dari dataran tinggi dan pengikisan yang didominasi dari batuan
klastik pasiran yang bergerak ke daerah tersebut. Ini didasarkan dari bagian batuan pasir
arang bawah.
Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

4
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

Internal ini ditutup kebanyakan oleh penutup shale-shale tipis. Invers berlanjut secara
beruntun dari Miosen awal dan pertengahan dengan deposisi yang didominasi dari formasi
arang atas fluvio-deltaic (pengendapan yang terjadi di laut). Invers di daerah Nila sangat
dramatis dan kebanyakan formasi arang menghilang dari daerah sturuktur Nila. Beberapa
struktur telah digabungkan menjadi formasi Gabus.

Penekanan berhenti di akhir Miosen pertengahan dan sebuah daerah unconfirmity
bersudut mengembang. Pengendapan dari daerah terusannya yang terbentuk karena fasa
sinking dan terdiri dari pengendapan marine dangkal formasi muda.
2.3 Struktur dan Susunan Stratigrafi
Stratigrafi cekungan Natuna Barat pada sumur Melati-01 dimulai dari basement pra-
tersier dan seluruh pengendapan tersier dijelaskan pada gambar 2.2. Urutan lithostratigrafi di
Cekungan Natuna Barat dari yang paling tua (basement) sampai ke yang muda menurut
Conoco Block B Team (1997) dibagi atas lima kelompok, yaitu:

1. Batuan Dasar atau Basement, berumur Pra-Tersier.
2. Kelompok Belut, berumur antara Eocene sampai Oligocene Bawah.
3. Kelompok Gabus, berumur akhir Oligocene.
4. Kelompok Udang, berumur antara akhir Oligocene atas sampai awal Miocene.
5. Kelompok Barat, berumur antara Oligocene Bawah sampai Miocene Bawah.
6. Kelompok Arang, berumur antara Miocene Bawah sampai Miocene Tengah.
7. Kelompok Muda, berumur antara Miocene Atas sampai Pleistocene.
1. Basement
Arsitektur basement Laut Natuna berkembang selama fasa pergerakan pada zaman
Eosen sampai awal Oligosen yang menyebabkan terbentuknya tiga unit geologi utama yaitu,
cekungan Natuna Barat, Natuna high dan cekungan Natuna Timur. Basement pada umumnya
terdiri dari batuan beku dan metamorfik atau endapan continental yang non-marine.
2. Formasi Belut
Proses pengendapan dimulai pada zaman awal Oligosen, di mana hasil pelapukan
batuan granit dari basement mengisi palung dan lembah yang telah terbentuk. Pada blok B
ConocoPhillips, formasi ini disebut formasi Belut yang ekivalen dengan formasi Gajah,
Sotong, Terumbuk dan Tenggiri pada Blok lainnya.
3. Formasi Gabus
Pengendapan berlanjut pada akhir Oligosen yang membentuk formasi Gabus. Bagian
bawahnya terdiri dari endapan aluvial dan delta, sedangkan pada
Endapan transgressive delta front terbentuk di bagian atasnya dan inter distributary bay.
Formasi Gabus terdiri dari batuan pasir pada sistem delta yang pada umumnya sangat
berlempung dan susah diperkirakan penyebarannya
Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

5
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

4. Formasi Udang
Formasi Udang terbentuk pada akhir Oligosen atas sampai awal Miosen yang ditandai
oleh proses pengendapan bidang yang landai dengan energi lemah kebagian atas formasi. Hal
ini menyebabkan terbentuknya endapan klastik halus pada sistem meandering dan
brackish lacustrine.
5. Formasi Barat
Pengendapan berlangsung pada awal Miosen yang dominan terdiri dari batuan
lempung yang disisipi batuan pasir
Pengaruh endapan marine mulai ditemukan pada bagian bawah formasi barat yang
ditandai dengan serbuk tanaman air tawar.
6. Formasi Arang
Formasi Arang terbentuk dalam kurun waktu Miosen-Bawah sampai akhir Miosen-
Tengah yang terdiri dominan dari batuan pasir kasar sampai halus dan glauconitic
sandstone (pengendapan batuan pasir yang terjadi di laut dalam) menunjang terjadinya
pengendapan marine.

Pada Miosen-Tengah terjadi proses regresi yang menyebabkan terbentuk endapan
batuan pasir kasar yang disisipi carbonaceous shale terdapat pada bagian atas formasi
Arang. Lapisan atas ini tererosi pada akhir Miosen-tengah.
7. Formasi Muda
Sejak Miosen-Atas sampai sekarang, formasi muda diendapkan pada proses transgresi
diatas formasi yang lebih tua dan batasannya memberi refleksi yang berharga pada seismic
maker. Formasi muda terdiri dari shallow marine muda dan sand stones.








Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

6
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI


BAB III
Indonesia - Natuna West (West Natuna) 3D

Beberapa peminat Barat Natuna melakukan survey seismic dimana merupakan suatu
proyek kooperatif antara Petroleum Geo-Services (PGS) dan Migas. Dengan total data 6.005
km kubik daerah cekungan natuna barat., yangmana salah satu cekungan lepas pantai
Indonesia yang sangat menghasilkan.













Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

7
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI



Laut Natuna dan Cekungan Sarawak

Daerah laut natuna adalah daerah selatan dari laut cina selatan, yang termasuk dalam
territorial Indonesia. Daerah ini dibagi oleh dua bagian dari busur kepulauan natuna, terutama
cekungan natuna barat sampai ke cekungan malay tepatnya barat Malaysia dan cekungan
natuna timur yangmana daerah dari cekungan Sarawak di timur Malaysia.
Cekungan natuna barat telah terbentuk akibat intra-continental rift basin dengan
paparan sunda, batas selatan dari plate Eurasian. Cekungan tersebut terbentuk antara Eosen
Oligosen akhir, mengikuti dari miosen sampai sekarang
Di awal cretaceous awal eosen rekonstruksi terjadi, cekungan natuna timur adalah
bagian besar dari fore-arc basin yang berasal dari lepas pantai Vietnam, melewati laut natuna
menuju Sarawak. Struktur yang berkembang pada cekungan timur natuna dikontrol oleh
extensional faults dan half graben sama seperti yang ditemukan di cekungan natuna barat,
tetapi tarikan rift secara umum kurang dari satu di cekungan natuna barat.






Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

8
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

BAB IV
Berita Terkini
4.1 Potensi Ekonomi & Kepentingan Nasional
Blok Natuna D-Alpha merupakan aset sangat strategis bagi negara. Keseluruhan Blok
Natuna mempunyai luas 17.000 km2 dan kedalaman lautnya antara 140-200m. Dengan
kedalaman ini, secara teknis Natuna masuk kategori offshore, pengeboran dangkal. Wilayah
migas Natuna sendiri dibagi menjadi Natuna Barat dan Natuna Timur, dimana khusus untuk
Natuna Barat, sejumlah kontraktor sudah melakukan eksploitasi minyak dan gas disana, yang
produksinya antara lain dikirim ke Singapore dan Malaysia (lihat peta wilayah dan perkiraan
potensi migas masing-masing pada pada Lampiran 1 dan 2). Perlu dicatat bahwa kandungan
gas CO2 lebih kecil di daerah Natuna Barat dibanding Natuna Timur.
Blok Natuna D-Alpha terletak di dalam wilayah Natuna Timur, yang mengandung
cadangan minyak dan gas. Disamping menyimpan sekitar 500 juta barel minyak, blok ini
adalah salah satu blok gas dengan cadangan terbesar di dunia saat ini, dengan total potensi
gas mencapai 222 triliun kaki kubik (tcf). Potensi gas yang recoverable sebesar 46 tcf (46,000
bcf) atau setara dengan 8,383 miliar barel manyak (1 boe, barel oil equivalent = 5.487 cf ).
Dengan potensi sebesar itu, dan asumsi harga rata-rata minyak US$ 75/barel selama periode
eksploitasi, maka nilai potensi ekonomi gas Natura adalah US$ 628,725 miliar atau sekitar
Rp 6.287,25 triliun (kurs US$/Rp = Rp 10.000). Pengelolaan Natuna oleh Pertamina dan
mitranya harus dilakukan sedemikian rupa sehingga negara memperoleh penerimaan yang
maksimal dari potensi pendapatan sebesar Rp 6.287,25 triliun ini.
Selain itu, letak Natuna yang hanya berjarak sekitar 1.100 km dari Jakarta dan 200 km
dari Singapura, membuatnya sangat strategis untuk memasok kebutuhan gas bagi negara-
negara sekitar seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Cina, Jepang, dan Korea. Termasuk
pula untuk memasok gas bagi Pulau Jawa dan Indonesia secara umum, yang membutuhkan
gas dalam jumlah besar setelah diimplementasikannya kebijakan konversi energi dari minyak
tanah ke gas.
Belum diperoleh informasi yang akurat tentang total biaya yang dibutuhkan untuk
pengembangan Blok Natuna. Berdasarkan data pihak Exxon Mobil, disebutkan bahwa total
biaya yang dibutuhkan sekitar US$ 40 miliar. Angka yang sama juga dikutip oleh Ketua
Aspermigas, Effendy Sirajuddin. Namun berdasarkan peresentasi Ditjen Migas pada bulan
Mei 2008, disampaikan bahwa total dana yang dibutuhkan adalah US$ 25 miliar. Dirut
Pertamina, Ari Hernanto Soemarno, sebagaimana dikutip Republika (29 Juni 2007)
menyatakan bahwa biaya investasi pengembangan Natuna sekitar US$ 25 miliar. Total
perkiraan investasi terendah adalah US$ 20 miliar, dikutip dari Wadirut Pertamina, Iin Arifin
Takhyan, oleh Bisnis Indonesia (5/12/2008).
Perkiraaan total biaya investasi yang lebih akurat akan diperoleh saat plan of
development (PoD) diajukan oleh operator kepada BP Migas. Namun saat ini, penulis lebih
yakin dengan angka investasi US$ 25 miliar dibanding US$ 40 miliar yang diajukan oleh
ExxonMobil, yang memang sangat perlu diwaspadai. Pemerintah perlu menjaga dan
meyakinkan bahwa total investasi yang dibutuhkan kelak, telah dihitung secara objektif dan
Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

9
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

bebas dari penggelembungan (mark up), karena pada ujungnya seluruh biaya tersebut akan
menjadi tanggungan negara dalam cost recovery.
Investasi yang besar membutuhkan potensi pengembalian yang terjamin dari para
konsumen gas. Dalam hal ini Pertmina memperkirakan, berdasarkan harga pokok di well
sebesar US$ 4/mmbtu, harga jual gas Natuna haruslah sekitar US$ 7 atau 8 /mmbtu. Adapaun
target pasar penjualan gas Natuna antara lain Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam,
Korea, Jepang, dll, serta konsumen domestik terutama di Jawa dan Batam. Untuk itu,
DESDM sedang mengkaji moda transportasi yang akan digunakan, apakah pipa transmisi
yang menghubungkan Natuna dengan seluruh lokasi pembeli, atau menggunakan tanker
dengan membangun fasilitas LNG terapung di Natuna.
Potensi Natuna yang ribuan triliun rupiah, pentingnya menjaga ketahanan energi, dan
terkontrolnya total biaya investasi (dari mark-up) adalah sekian diantara banyak alasan
mengapa Natuna harus dikelola oleh Pertamina. Karena itulah, penetapan Pertamina sebagai
operator dan terbitnya Keppres tentang Tim Kordinasi Natuna sangat mendesak untuk
dikeluarkan oleh pemerintahan SBY.
4.2 Status Terakhir dan Menanti Sikap Pemerintah
Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, sulit diyakini sepenuhnya bahwa
pemerintah akan konsisten dengan apa-apa yang sudah pernah dinyatakan. Tampaknya hal ini
tak lepas dari keengganan atau ketakutan untuk bertindak tegas terhadap Exxon Mobil. Atau
juga mungkin karena adanya oknum-oknum tertentu yang mempunyai hubungan dekat, atau
menjadi agen, atau telah memberi komitmen kepada Exxon Mobil.
Sebenarnya kita sudah merasa sedikit lega dengan adanya sejumlah pernyataan yang
dikeluarkan oleh Wapres Jusuf Kalla sejak pertengahan tahun 2008 hingga triwulan pertama
tahun 2009. Karena negosiasi ulang dengan Exxon Mobil tak kunjung mencapai titik temu,
Wapres misalnya mengatakan di Riau, 7 Pebruari 2008, Sesuai undang-undang, pilihan
pertama Pertamina. Ditambahkan oleh Wapres, Kami mengambil langkah-langkah yang
menguntungkan Indonesia (Detikfinance 08/02/2008).
Pada tahun 2009, setelah negosiasi kontrak baru dengan Exxon Mobil tak mencapai
kesepakatan, Wapres kembali menegaskan sikapnya dengan geram (saat berkunjung ke Den
Haag, 2 Pebruari 2009). Beliau mengatakan, Saya tersinggung kalau ada orang atau pejabat
yang mengatakan Exxon punya hak. Saya tegaskan tak boleh ada siapa pun yang
mengintervensi kita dalam mengelola sumber daya alam, termasuk soal Natuna. Hal tersebut
disampaikan Wapres setelah mendengar selentingan adanya pejabat yang mengatakan Exxon
Mobil masih punya hak untuk memperpanjang kontrak (Tempo, 16 Pebruaru 2009). Menurut
Tempo, walaupun telah keluar dari kontrak dan Wapres tidak berkenan, Exxon yakin tidak
akan tersingkir karena karena adanya janji Menteri ESDM yang akan pasang badan untuk
Exxon.
Kita memang menaruh harapan akan konsistennya sikap pemerintah untuk menunjuk
Pertamina menjadi operator Blok Natuna D-Alpha, terutama dengan adanya ketegasan sikap
Wapres. Namun setelah kegeraman Wapres di atas, tidak banyak perkembangan yang terjadi.
Pada tanggal 11 Pebruari 2009 misalnya, Menteri ESDM menyatakan pemerintah akan
Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

10
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

membentuk tim koordinasi pengelolaan Blok Natuna D-Alpha, yang diketuai oleh Mantan
Wakil Direktur Utama Pertamina Iin Arifin Takhyan.
Disampaikan bahwa tugas tim adalah seperti tim pemerintah untuk mempercepat
proyek 10.000 MW. Tim kordinasi Natuna ini dimaksudkan untuk melanjutkan program yang
pernah dibentuk pada era pemerintahan Habibie. Namun hingga saat ini (Agustus 2009),
Keppres yang menjadi ketentuan pembentukan tim tak kunjung diterbitkan pemerintah.
Tampaknya isu pembentukan tim ini terkesan sebagai move untuk meng-counter sikap
Wapres yang terlalu banyak bersuara tentang Natuna, termasuk mendorong ditunjuknya Shell
sebagai patner Pertamina (Tempo, 16/2/09).
Perkembangan lain yang kita catat adalah tentang pemilihan patner Pertamina. Seperti
disebutkan sebelumnya, Pertamina telah menunjuk Wood Mackenzie Ltd (WML) sebagai
konsultan untuk memilih mitra kerja di Natuna pada tanggal 16 Juli 2008 (Investro Daily,
16/6/08). WML diharapkan dapat menuntaskan tugasnya pada bulan Oktober 2008 Dalam hal
ini Pertamina telah menerima penawaran kesiapan untuk menjadi mitra dari 8 perusahaan,
yakni: Shell (Belanda), Statoil (Norwegia), Total (Perancis), Chevron (Amerika), Eni SpA
(Italia), China National Petrolium Co., Exxon Mobil, dan Petronas.
Pada awal Pebruari 2009, saat berkunjung ke Den Haag, Wapres pernah mengatakan
bahwa 4 perusahaan calon mitra yang akan mendampingi Pertamina dari 8 kontestan di atas
telah terpilih, yaitu: Shell, Statoil, CNCP dan Exxon Mobil. Ternyata pernyataan Wapres
tersebut tidak dikonfirmasi oleh Pertamina atau DESDM. Bahkan hingga saat ini pun
(Agustus 2009), keputusan tentang siapa yang akan menjadi mitra Pertamina belum
ditentukan pemerintah.
Tujuh bulan telah berlalu sejak pernyataan Wapres yang promising di Den Haag, atau
sejak rencana pembentukan Tim Kordinasi Natuna dicetuskan, atau sejak penawaran 8 calon
mitra Pertamina diterima. Namun keputusan pemerintah belum juga ditetapkan. Apalagi,
Wapres dalam waktu sebulan ke depan bukan lagi bagian dari pemerintah. Kondisi dan
perkembangan ini jelas memprihatinkan sekaligus menkhawatirkan kita.
Sebaliknya, mungkin saja Exxon Mobil dan pendukungnya menajdi lebih nyaman,
terutama karena Presiden terpilih adalah pejabat yang dulu telah memberinya kesempatan
mengopersikan Blok Cepu, atau pejabat yang tadinya bersedia pasang badan lebih leluasa
mengambil kebijakan. Terlepas dari itu semua, kita ingin mengingatkan agar pemerintah
menjalankan amanat konstitusi, mengutamakan kepentingan negara, menjaga harga diri
bangsa dan melindungi hak rakyat dari kepentingan asing, serta menunjuk Pertamina sebagai
operator Blok Natuna D-Alpha.
Dalam kaitan itulah, kami hendak mengingatkan pemerintah untuk bersikap tegas dan
konsisten dengan pernyataan-pernyataannya kali ini. Pemerintah tidak selayaknya bimbang
ataupun tunduk kepada tekanan-tekanan Exxon Mobil atau AS yang masih terus bersikukuh
mempertahankan pengelolaan Blok D-Alpha Natuna. Kita ingat, peristiwa serupa telah terjadi
pula pada kasus-kasus sebelumnya seperti Blok Cepu atau Blok Semai. Setelah melewati
serangkaian kontroversi, ladang-ladang migas strategis tersebut akhirnya jatuh ke
pengelolaan perusahaan minyak AS, yaitu masing-masing Exxon Mobil dan Amerada Hess.
Pratikum geologi minyak dan gasbumi 2010

11
Nama : Muhammad Firdaus Akbar
Nim : 111080138

Plug : VI

Kita mendesak pemerintah konsisten menunjuk Pertamina sebagai operator. Karena
melalui hal itu, pemerintah dapat membuktikan komitmennya untuk memberdayakan negara
dalam pengelolaan sumber daya alam. Hal ini pula yang pernah dijanjikan Presiden SBY
pada 2 Maret 2006 lalu di Yangoon, Myanmar, yaitu meningkatkan kinerja (overhaul)
Pertamina agar dapat menyumbang pendapatan lebih besar bagi negara. Jika ada ketegasan
dan kesungguhan pemerintah, tentu bukan hal sulit untuk segera memastikan Natuna
diperuntukkan bagi Pertamina. Hal ini jelas sangat bernilai penting, baik bagi pengembangan
Pertamina sebagai perusahaan global dan menjamin ketersediaan pasokan gas bagi pasar
dalam negeri.
Kita juga mengecam sikap Exxon yang terus bersikeras mempertahankan
penguasaannya atas Blok Natuna. Sikap ini jelas menunjukkan arogansi Exxon Mobil yang
tidak menghormati kontrak dan tidak menghargai kedaulatan pemerintah Indonesia. Sikap ini
juga menunjukkan watak khas korporatokrasi Exxon yang tak segan-segan menghalalkan
segala cara dalam mencapai tujuannya.Untuk itu, kita menyerukan Presiden agar berani
bersikap dan bertindak tegas, serta menunjukkan bahwa negara ini masih memiliki martabat,
kemandirian, dan harga diri!