Anda di halaman 1dari 14

STRATEGI PUSAT PERTUMBUHAN

UNTUK PENGEMBANGAN KAWASAN PERBATASAN





PAPER



Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Pengembangan Wilayah Marginal dan Perbatasan























Oleh,
NURDINI LESTARI
13/352639/PGE/1036








PROGRAM PASCASARJANA GEOGRAFI
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
A. Pendahuluan
Suatu negara sudah tentu memiliki batas-batas tertentu dengan negara lainnya,
baik itu batas di darat, maupun laut. Sedangkan untuk batas udara menyesuaikan dengan
batas darat dan laut. Batas suatu negara perlu diidentifikasi dan dikenali, bahkan
diputuskan sesuai dengan kesepakatan dengan negara tetangga, karena batas negara akan
berkaitan erat dengan identitas serta kedaulatan negara itu sendiri. Maka dari itu kawasan
perbatasan bersifat peting dan perlu diperhatikan kondisinya. Hal demikian juga sejalan
dengan perubahan paradigma masa lalu dengan paradigma baru tentang perbatasan.
Paradigma masa lalu menganggap bahwa daerah perbatasan adalah halaman belakang dan
dalam pengembangan kawasannya lebih menekankan pada pendekatan keamanan (security
approach), namun paradigma baru menganggap bahwa perbatasan adalah halaman muka
negara yang harus dikelola dan ditampakan sebaik mungkin dengan pengelolaannya
melalui pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) (Kartikasari dalam Madu,
Ludiro, et al, 2010 : 108).
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan berbatasan
langsung dengan sepuluh negara. Di laut berbatasan dengan negara : Australia, Malaysia,
Singapura, India, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Papua New Guinea, dan
Timor Leste. Sedangkan batas di darat Indonesia berbatasan dengan tiga negara, yaitu
negara : Malaysia, Papua New Guinea, dan Timor Leste. Dengan luas wilayah yang besar
dan terpisah-pisah oleh lautan serta dengan jumlah negara tetangga yang banyak
merupakan suatu tantangan bagi Indonesia untuk mengembangkan kawasan perbatasan
Indonesia baik darat maupun laut agar keutuhan NKRI tetap terjaga utuh.
Pengelolaan kawasan perbatasan dalam perkembangan saat ini telah menjadi isu
yang banyak dibahas dalam bidang pembangunan Indonesia. Hal ini dikarenakan oleh
berbagai masalah yang muncul di kawasan perbatasan. Salah satu yang menjadi masalah
adalah ketertinggalan di daerah-daerah perbatasan, karena lokasi yang jauh dan sulit
dijangkau dari pusat kota akibat dari keterbatasan infrastruktur menyebabkan masyarakat
di kawasan perbatasan lebih sering berinteraksi dengan negara tetangga dibanding dengan
negara Indonesia, selain keterbatasan infrastruktur sebagai faktor pendorong ada juga
faktor penariknya yaitu berupa kesamaan budaya bahkan masih ada hubungan kekerabatan
antara masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dengan di negara tetangga.
Untuk mengatasi masalah-masalah di kawasan perbatasan khususnya yang
berkaitan dengan kesejahteraan, memerlukan strategi-strategi yang dapat dipakai dalam
pembangunan kawasan perbatasan. Tentunya dalam penerapan strategi pembangunan atau
pengelolaan kawasan perbatasan akan berbeda-beda karena disesuaikan dengan
karakteristik dari setiap kawasan yang berbeda-beda. Salah satu strategi pengembanagn
wilayah perbataan yaitu dengan strategi pusat-pusat pertumbuhan di kawasan perbatasan.
Strategi ini bertujuan untuk meminimalisir ketertinggalan di kawasan perbatasan. Strategi
pusat pertumbuhan tertuang secara eksplisit dalam dokumen Rencana Pembanguna Jangka
Panjang Nasional (RPJMN), penerapan strategi ini bertujuan untuk mewujudkan
pembangunan yang secara merata dan adil. Namun, dalam pelaksanaannya hingga saat ini
strategi pusat pertumbuhan tersebut belum dapat diaplikasikan serta belum membuahkan
hasil yang baik. Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam tulisan ini akan dibahas
bagaimana aplikasi strategi pusat pertumbuhan tersebut dipakai dalam mengatasi
kesenjangan pembangunan, serta peluang-peluang pengembangannya dan hambatan-
hambatan dalam peberapan strategi tersebut khususnya di kawasan perbatasan.

B. Dasar Teori
1. Kawasan Perbatasan
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, mengartikan
bahwa kawasan perbatasan adalah bagian dari Wilayah Negara yang terletak pada sisi
dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan Negara lain. Dalam hal batas
Wilayah Negara di darat kawasan perbatasan berada di Kecamatan. Sementara,
merujuk pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2006 tentang Tata Ruang, yang
selanjutnya dijarbarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) menyebutkan bahwa ruang lingkup
kawasan perbatasan Negara adalah wilayah "Kabupaten/Kota" yang secara geografis
dan demografis berbatasan langsung dengan Negara tetangga dan/atau laut lepas;
Selanjutnya kawasan perbatasan Negara meliputi kawasan perbatasan darat dan
kawasan perbatasan laut, termasuk pulau-pulau kecil terluar. Namun, secara umum
kawasan perbatasan adalah suatu kawasan yang terdiri dari daratan, laut, dan udara
yang berada di sepanjang perbatasan kedua negara, yang batas luas daerahnya
disesuaikan dengan kebutuhan dan persetujuan kedua negara tersebut.
Perbatasan merupakan perwujudan territorial. Sebagaimana maknanya,
perbatasan yaitu sebagai daerah atau jalur pemisah antara unit-unit politik (negara),
maka perbatasan negara setidaknya terdiri dari sedikitnya dua negara yang berbatasan
serta masyarakat dari negara tersebut. wilayah perbatasan suatu negara dapat
dijadikan suatu indikator kinerja pembangunan pemerintah suatu negara. Sejalan
dengan paradigma baru tentang kawasan perbatasan yang merupakan halaman muka
suatu negara. Jika kondisi pembangunan fisik dan manusianya masih sangat rendah
dibandingkan negara tetangga, maka pemerintah negara tersebut dinilai tidak
perhatian atau tidak memperhatikan pembangunan di kawasan perbatasan, kondisi
demikian merupakan suatu ancaman bagi kedaulatan negara dan merupakan
kesempatan bagi negara tetangganya yang memiliki kemampuan lebih. Dengan
demikian pemerintah dituntut untuk tetap menjaga keberlangsungan kedaulatan,
menjaga, dan memperhatikan kawasan perbatasan. Jika pemerintah mengabaikan
tanggungjawabnya di wilayah tertentu, dapat berakibat fatal dan memunculkan
keinginan penduduk setempat untuk memisahkan diri.
Pada masa lampau, perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan terlalu
menekankan pada aspek keamanan (security) dibandingkan dengan peningkatan
kesejahteraan (prosperity). Namun saat ini, dengan situasi keamanan yang semakin
kondusif dan adanya proses globalisasi serta kerjasama regional maupun sub regional,
maka pendekatan keamanan perlu diikuti dengan pendekatan kesejahteraan agar
seimbang. Apalagi jika melihat kebijakan beberapa negara tetangga Indonesia yang
menjadikan kawasan perbatasan menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi yang maju
dan dilengkapi sarana prasarana fisik yang lengkap serta sumberdaya manusia yang
berkualitas.
Ketentuan pembangunan kawasan perbatasan di Indonesia telah tercantum
dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Kawasan
Perbatasan saat ini telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional dari sudut
pandang pertahanan dan keamanan. Penggunaan istilah ini bukan berarti
pengembangan kawasan perbatasan semata-mata berorientasi kepada pendekatan
pertahanan dan keamanan semata. Pendekatan kesejahteraan bersama-sama dengan
pendekatan pertahanan dan keamanan serta lingkungan menjadi strategi
pengembangan kawasan perbatasan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, untuk menjamin kedaulatan wilayah NKRI.

2. Strategi Pusat Pertumbuhan
Pusat pertumbuhan atau biasa disebut dengan istilah growth pole. Secara
geografi diartikan sebagai suatu lokasi yang memiliki banyak fasilitas dan kemudahan
sehingga menjadi pusat daya tarik yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik
untuk berlokasi di tempat tersebut, dan masyarakat senangdatang memanfaatkan
fasilitas yang ada di kota tersebut, walaupun kemungkinan tidak ada interaksi antar
usaha-usaha tersebut (Tarigan, 2005 : 128). Secara jelas juga Francois Perroux (1950)
dalam Mutaali (2010 : 28) menyebutkan bahwa pertumbuhan tidak terjadi di
sembarang tempat dan juga tidak terjadi secara serentak, tetapi pertumbuhan terjadi
pada titik-titik atau kutub-kutub pertumbuhan dengan intensitas yang berubah-ubah,
lalu pertumbuhan itu menyebar sepanjang saluran yang beraneka ragam dan dengan
pengaruh yang dinamis terhadap perekonomian wilayah. Sedangkan, pengertian
dalam sudut pandang ekonomi beranggapan bahwa growth pole merupakan suatu
kumpulan kekuatan ekonomi dengan pusatnya yang memiliki gaya sentrifugal dengan
kekuatan untuk mendorong dan gaya sentripetal yang memiliki kekuatan untuk
menarik. Setiap pusat pertumbuhan mempunyai daya tarik dan daya tolak dalam
suatu medan daya tarik dan daya dorong bersama dengan pusat-pusat lainnnya.
Dengan pengertian tersebut, Mutaali (2020 : 29) berpendapat bahwa growth poles
akan berperan memacu (menarik dan mendorong) perkembangan ekonomi di wilayah
pengaruhnya. Berikut ini adalah gambaran struktur ekonomi di pusat pertumbuhan :










Suatu wilayah akan menjadi pusat pertumbuhan apabila di wilayah tersebut
memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
a) Memiliki leading/propulsive Industries, pada kutub pertumbuhan harus ada
industri pendorong yang besar dan mendominasi unit-unit ekonomi lainnya. Suatu
leading industry mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1) Kaitan-kaitan antar industri yang kuat dengan sektor-sektor lainnya. Kaitan ini
dapat berbentuk kaitan ke depan (forward linkage) dan ke belakang (backward
linkage).
USAHA
UTAMA
USAHA
TERKAIT
USAHA
TERKAIT

USAHA
TERKAIT

USAHA
TERKAIT

2) Permintaan terhadap produknya mempunyai elastisitas pendapatan yang tinggi,
dan produknya biasa dijual ke pasar-pasar nasional.
b) Memiliki kedekatan geografis dengan wilayah lainnya, hal ini berarti jarak dari
satu wilayah ke wilayah lain tidak boleh terlalu jauh. Jarak yang pendek akan
memungkinkan terjadinya interaksi yang tinggi antar wilayah tersebut serta
mempermudah hubungan antar wilayah.
c) Aksesibilitas tinggi, hal ini berarti suatu pusat pertumbuhan mudah dijangkau dari
mana saja dan dengan cara atau menggunakan moda transportasi apapun.
d) Ketersediaan infrastruktur memadai, infrastruktur disini dapat berarti sarana
prasarana jalan, jembatan, air, serta listrik. Ketersediaan infrastruktur yang berupa
jalan dan jembatan sangat mempengaruhi aksesibilitas suatu wilayah, serta secara
umum infrastruktur tersebut dapat mempengaruhi aktivitas yang terjadi pada suatu
wilayah.
e) Kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang memadai, untuk menunjang
terciptanya suatu pusat pertumbuhan, dibutuhkan manusia yang memiliki keahlian
dalam bidang tertentu terutama sesuai dengan potensi industri unggulan di wilayah
tersebut. Selain sumberdaya manusia yang berkualitas, jumlah penduduk dalam
suatu wilayah juga mempengaruhi keberhasilan terciptanya suatu pusat
pertumbuhan. Jumlah penduduk yang terlalu kecil atau bahkan terlalu besar dpat
menghambat terciptanya pusat pertumbuhan.
Jika syarat-syarat tersebut sudah terpenuhi, maka akan terciptalah suatu pusat
pertumbuhan (growth pole) baru dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a) Adanya hubungan internal dari berbagai macam kegiatan
Hubungan internal sangat menentukan dinamika sebuah wilayah. Ada
keterkaitan satu sektor dengan sektor lainnya sehingga apabila ada satu sektor yang
tumbuh akan mendorong sektor lain karena saling terkait. Kehidupan kota menjadi
satu irama dengan berbagai komponen kehidupan kota dan menciptakan sinergi
untuk saling mendukung terciptanya pertumbuhan.
b) Ada effek penggandaan (multiplier effect)
Keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling mendukung akan
menciptakan effek penggandaan. Permintaan akan menciptakan produksi baik
sektor tersebut maupun sektor yang terkait yang akhirnya akan terjadi akumulasi
modal. Unsur efek penggandaan sangat berperan dalam membuat daerah mampu
memacu pertumbuhan daerah belakangnya.
c) Adanya konsentrasi geografis
Konsentrasi geografis dari berbagai sektor atau fasilitas selain menciptakan
efisiensi diantara sektor-sektor yang saling membutuhkan juga meningkatkan daya
tarik dari kota tersebut.
d) Bersifat mendorong daerah belakangnnya
Hal ini antara wilayah pusat dan wilayah belakangnya terdapat hubungan
yang harmonis. Wilayah pusat membutuhkan bahan baku dari wilayah
belakangnya dan menyediakan berbagai kebutuhan wilayah belakang untuk dapat
mengembangkan dirinya. Hal itu sejalan dengan teori yang di kemukakan oleh
Hirschman (1985) dalam Mutaali (2010 : 31) bahwa pertumbuhan ekonomi pada
pusat pertumbuhan ekonomi pada pusat pertumbuhan akan berpengaruh pada
daerah belakangnya melelui efek polarisasi (Polarization Effect) dan efek
penetesan ke bawah (Trickling down effect). Efek polarisasi tersebut diperkuat
dengan adanya pemusatan investasi pada pusat pertumbuhan, sedangkan efek
penetesan ke bawah dapat tumbuh dengan cara meningkatkan daya tarik wilayah
sekitarnya. Hirschman juga berpendapat bahwa efek penetesan ke bawah akan
lebih besar dibanding efek polarisasi, asalkan wilayah tersebut dengan wilayah di
belakangnya dapat saling melengkapi, maka wilayah pusat pertumbuhan dan
wilayah belakangnya dapat sama-sama berkembang.

C. Pembahasan
Kawasan perbatasan, termasuk pulau-pulau kecil terluar, memiliki potensi
sumberdaya alam yang melimpah dan dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk
meningkatkan pertumbuhan perekonomian daerah serta peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Selain itu, kawasan perbatasan merupakan kawasan yang sangat strategis bagi
pertahanan dan keamanan negara. Potensi yang dimiliki oleh kawasan perbatasan bernilai
ekonomis yang sangat besar, terutama potensi sumberdaya alam (hutan, tambang dan
mineral, perikanan dan kelautan) yang terbentang di sepanjang dan di sekitar perbatasan.
Sebagian besar dari potensi sumberdaya alam tersebut belum dikelola dan sebagian lagi
merupakan kawasan konservasi atau hutan lindung yang memiliki nilai sebagai paru-paru
dunia (world heritage) yang perlu dijaga dan dilindungi. Beberapa sumberdaya alam
tersebut saat ini berstatus taman nasional dan hutan lindung yang perlu dijaga
kelestariannya.
Walaupun memiliki sumberdaya alam yang melimpah, namun hingga saat ini
kondisi perekonomian di kawasan perbatasan masih relatif tertinggal jika dibandingkan
dengan pembangunan di wilayah lain di Indonesia. Bahkan pada beberapa kawasan terjadi
kesenjangan pembangunan di kawasan perbatasan dengan negara tetangga. Kondisi ini
pada umumnya disebabkan oleh masih terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana
sosial ekonomi seperti sarana dan prasarana perhubungan, telekomunikasi, permukiman,
perdagangan, listrik, air bersih, pendidikan, dan kesehatan. Keterbatasan sarana dan
prasarana sosial ekonomi di kawasan perbatasan tersebut menyebabkan minimnya
kegiatan investasi, rendahnya optimalisasi pemanfaatan SDA, rendahnya penciptaan
lapangan pekerjaan, sulit berkembangnya pusat pertumbuhan, keterisolasian wilayah,
ketergantungan masyarakat terhadap pelayanan sosial ekonomi dari negara tetangga,
tingginya biaya hidup, serta rendahnya kualitas sumberdaya manusia.
Untuk mengatasi masalah-masalah di perbatasan atau dalam melakukan
pembangunan di kawasan perbatasan, khususnya perbatasan darat dapat dilakukan dengan
berbasis pada lokasi prioritas (lokpri). Secara keseluruhan kawasan perbatasan darat
Indonesia tersebar pada tiga kawasan, yaitu : Kawasan Perbatasan Darat RI Malaysia di
Kalimantan, Kawasan Perbatasan Darat RI PNG di Papua, dan Kawasan Perbatasan
Darat RI Timor Leste di Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan kajian BNPP dan diperkuat
dengan penetapannya terdapat 30 kecamatan dalam lokpri 1 (satu), 15 kecamatan dalam
lokpri 2 (dua), dan 25 kecamatan untuk lokpri 3 (tiga) (Mutaali, et al, 11: 2013). Lokasi
prioritas tersebut ditetapkan berdasarkan beberapa kriteria salah satunya yaitu, kecamatan
yang ditetapkan menjadi lokpri merupakan kecamatan yang berfungsi sebagai Pusat
Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) serta memiliki interaksi intensif dari sisi social,
budaya, maupun ekonomi dengan penduduk Negara tetangga.
Selain berbasis pada lokasi prioritas, dalam penyelesaian masalah di kawasan
perbatasan khususnya dalam bidang pengembangan wilayah dan kesejahteraan diperlukan
sebuah strategi atau metode yang sesuai. Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJMN) secara eksplisit strategi pusat pertumbuhan dijadikan sebagai
salah satu strategi untuk pengembangan wilayah. Namun, hingga saat ini strategi pusat
pertumbuhan tersebut belum mampu diaplikasikan atau diterapkan, karena terdapat
beberapa kendala yang harus dihadapi dalam penerapan strategi pusat pertumbuhan
tersebut. Berikut ini adalah kendala yang dihadapi dalam penerapan strategi pusat
pertumbuhan di kawasan perbatasan :
1. Keterbatasan Infrastruktur di Kawasan Perbatasan
Infrastruktur diartikan sebagai semua sarana yang memungkinkan
berlangsungnya kegiatan ekonomi. Contohnya : jalan, jembatan, air bersih, energi,
jaringan listrik, komunikasi informasi dan lain-lain. Infrastruktur sangat mempengaruhi
keberhasilan penerapan strategi pusat pertumbuhan, karena jika melihat kembali dalam
prasyarat suatu pusat pertumbuhan, wilayah yang dijadikan pusat pertumbuhan harus
memiliki kedekatan geografis dengan wilayah sekitarnya. Kedekatan geografis tersebut
akan tidak akan berarti apa-apa jika tidak didukung oleh infrastruktur jalan serta
prasarana transportasi lainnya.
Infrastruktur transportasi merupakan salah satu faktor yang menentukan
keberhasilan strategi pusat pertumbuhan. Karena, walaupun pembangunannya sudah
berbasis lokasi prioritas tapi tanpa didukung oleh infrastruktur transportasi maka
pembangunan pusat pertumbuhan tidak akan tercapai. Tujuan dari pembangunan pusat
pertumbuhan itu sendiri diharapkan akan menimbulkan pertumbuhan di seluruh
wilayah melalui efek tetesan ke bawah (trickle down effect). Wilayah di pusat Satuan
Wilayah Pengembangan (SWP) dan lokasi prioritas di kawasan perbatasan dapat juga
dijadikan sebagai pusat pertumbuhan wilayah, dengan satu pusat utama. Selain itu,
perlu pengembangan pusat (hirarki) di bawahnya untuk memperluas wilayah hinterland
dari wilayah inti tersebut, sehingga perkembangan tidak hanya terpusat di pusat
kawasan itu saja. Sarana dan prasarana transportasi yang menjangkau seluruh kawasan
potensial di kawasan perbatasan darat dan sekitarnya, terutama kawasan pusat-pusat
ekonomi perkebunan, pertambangan, permukiman lainnya.
Infrastruktur komunikasi dan informasi berperan penting juga dalam
menghubungkan, antar wilayah satu dengan wilayah lainnya, dukungan transportasi
saja tidak cukup. Dengan didukung oleh jaringan informasi dan komunikasi maka,
perkembangan dari setiap wilayah akan merata dan pertukaran informasi akan lebih
lancar. Selain infrastruktur transportasi dan komunikasi, jaringan air dan energi juga
dapat mempengaruhi perkembangan suatu wilayah. Karena, jika kondisi air dan energi
tersebut tidak mampu mencukupi kebutuhan maka aktivitas sosial ekonomi pun akan
lumpuh. Diperlukan jaringan air dan energi yang cukup untuk melancarkan kegiatan
sosial ekonomi bahkan menghasilkan produk unggulan daerah.
Keterbatasan infrastruktur itu juga akan menyebabkan rendahnya nilai investasi
di suatu wilayah. Para investor cenderung akan memilih wilayah yang mudah
terjangkau, dan akan menanamkan investasinya pada suatu usaha yang dapat
mengembalikan modal mereka dengan cepat. Di kawasan perbatasan para investor
belum berani menanamkan investasi, karena beberapa pertimbangan, dan salah satu
pertimbangannya yaitu keberadaan infrastruktur yang masih sangat minim. Karena,
infrastruktur merupakan kunci dalam melakukan aktivitas sosial ekonomi.
2. Kualitas Sumberdaya Manusia yang Masih Rendah
Maju atau mundurnya suatu wilayah tidak terlepas dari tinggi rendahnya
kualitas sumberdaya manusia yang berada di wilayah itu, karena manusia berperan
sebagai subyek dan obyek dalam pembangunan wilayah. Tinggi rendahnya kualitas
sumberdaya manusia juga dipengaruhi oleh sarana dan prasarana pendidikan, kesehatan
serta infrastruktur transportasi dan komunikasi. Kawasan perbatasan merupakan
wilayah yang terisolir, terletak jauh dari pusat dan memiliki sarana dan prasarana yang
sangat terbatas, termasuk sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan. Biasanya,
masyarakat yang ada diperbatasan harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk
mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang memadai. Jarak yang jauh tidak jadi
masalah jika dilengkapi dengan infrastruktur transportasi yang memadai juga seperti
jalan dan alat transportasi yang lancar, namun pada kawasan perbatasan kondisinya
berbeda. Jarak yang jauh tidak dilengkapi dengan infrastruktur transportasi yang
memadai sehingga masyarakat diperbatasan tidak mendapat mengakses pendidikan,
kesehatan, dan lain-lain.
Kualitas sumberdaya manusia yang rendah dapat menghambat proses
pembanguan suatu wilayah. Program yang dirancang oleh pemerintah tidak akan dapat
diterima dan diikuti oleh masyarakat jika masyarakat tidak memiliki kualitas
sumberdaya yang yang tinggi, maka program pemerintah tersebut tidak dapat direspon
dengan baik oleh masyarakat, kondisi demikian akan memperlambat proses
pembangunan wilayah.
Bagitu juga dalam penerapan strategi pusat pertumbuhan tidak akan berhasil
jika masyarakatnya tidak berkualitas tinggi. Dalam strategi pusat pertumbuhan ini
dibutuhkan masyarakat yang sudah maju, melek teknologi, dan berkualitas pendidikan
maupun kesehatan yang tinggi. Karena manusia yang berkualitas akan dapat
menghasilkan karya yang unggul. Karya dalam hal ini dapat berarti produk unggulan
daerah yang akan dijadikan sebagai leading dan propulsive industry sebagai modal
suatu pusat pertumbuhan.
3. Pengelolaan terhadap Sektor Unggulan (Leading Sector) Belum Maksimal
Potensi hasil pertanian, perkebunan dan sumberdaya alam lainnya yang dapat
dimanfaatkan belum dikelola lebih lanjut, masih dijual dalam bentuk mentah sehingga
hasil pertanian dan perkebunan tersebut dijual dengan harga yang tidak terlalu tinggi.
Padahal untuk meningkatkan nilai jual yang lebih tinggi, dapat dilakukan pengolahan
yang lebih lanjut terhadap hasil pertanian dan perkebunannya. Selain dapat
meningkatkan nilai jual, juga dapat merangsang tumbuhnya industri lain yang masih
terkait dengan sektor utama diwilayah tersebut, sehingga perkembangan akan menyebar
tidak hanya pada pusat pertumbuhan saja tetapi termasuk wilayah disekitarnya melalui
efek tetesan tersebut (trickle down effect).
Keterkaitan antara sektor tersebut akan menyebabkan semua sektor
berkembang, karena apabila ada satu sektor yang tumbuh, maka akan mendorong
pertumbuhan sektor lainnya, adanya keterkaitan antar sektor tersebut juga akan
menyebabkan kehidupan di suatu wilayah akan menjadi seimbang dengan berbagai
komponen wilayah dan menciptakan sinergi untuk saling mendukung terciptanya
pertumbuhan. Selanjutnya keberadaan sektor-sektor yang saling terkait dan saling
mendukung itu akan menciptakan efek pengganda (multiplier effect). Apabil ada satu
sektor atas permintaan di luar wilayah, produksinya meningkat, karena ada keterkaitan
mengakibatkan produksi sektor lainnya juga meningkat dan akan terjadi beberapa kali
putaran pertumbuhan sehingga total kenaikan produksi meningkat beberapa kali
dibandingkan dengan kenaikan permintaan. Unsur efek pengganda sangat berperan
dalam membuat suatu wilayah itu mampu memacu pertambahan daerah belakangnya,
karena kegiatan berbagai sektor di suatu wilayah meningkat tajam, kebutuhan kota akan
bahan baku, tenaga kerja yang di pasok dari daerah belakangnya akan meningkat tajam.
Walaupun untuk penerapan strategi pusat pertumbuhan di kawasan perbatasan
memiliki beberapa kendala seperti dijelaskan sebelumnya, sebenarnya kawasan perbatasan
memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi sektor unggulan dari suatu
wilayah tersebut. Potensi yang dimiliki oleh wilayah-wilayah di kawasan perbatasan
diantaranya yaitu berupa sumberdaya alam hasil pertanian, perikanan, perkebunan, serta
pertambangan. Potensi-potensi tersebut akan memiliki kualitas yang baik jika diperhatikan
pengolahannya dan didukung oleh teknologi yang maju dan sumberdaya manusia yang
berkualitas.

D. Contoh Kasus
Untuk penerapan strategi pusat pertumbuhan di kawasan Perbatasan RI dengan
Negara tetangga belum ada yang berhasil, namun ada beberapa kecamatan yang dalam
pembangunannya dapat diarahkan dengan strategi pusat pertumbuhan. Salah satunya yaitu
Kabupaten Nunukan di Kalimantan Utara. Jumlah penduduk di wilayah perbatasan
Kalimantan Utara (Kabupaten Kutai Barat, Malinau, dan Nunukan) Malaysia mencapai
151.051 jiwa, dimana dari jumlah tersebut lebih banyak berada di Kabupaten Nunukan,
terutama Kecamatan Sebatik relatif lebih maju dibandingkan Kecamatan lainnya, baik
dalam hal sosial ekonomi masyarakat, ketersediaan fasilitas layanan dasar maupun
infrastrukturnya, sehingga laju pertumbuhan penduduk selama 5 tahun terakhir,
menunjukan bahwa Kecamatan perbatasan di Kabupaten Nunukan, dapat mencapai
pertumbuhan penduduk rata-rata 4,57% per tahun.
Potensi ekonomi Kabupaten Nunukan bertumpu pada usaha pertanian atau
perkebunan seperti padi, kakao, kopi, dan kelapa. Usaha inilah yang menjadi tumpuan
mata pencaharian utama masyarakat. Namun aspek pemasaran produksi merupakan
kendala yang belum dapat dituntaskan sepenuhnya, sehingga hasil pemasarannya lebih
banyak ditujukan ke negara tetangga dengan harga yang rendah, dengan term of trade
yang menguntungkan penduduk negara tetangga. Pemasaran di sekitarnya di dalam negeri
terbentur pada terbatasnya prasarana dan sarana transportasi, sehingga berdampak
terhadap mahalnya harga jual, akibat adanya tambahan biaya transportasi. Kondisi
demikian dapat diperbaiki dengan cara meningkatkan kualitas sumberdaya manusia di
Kabupaten Nunukan serta memaksimalkan keberadaan fasilitas sosial ekonomi serta
infrastruktur transportasi sebagai syarat penunjang terciptanya suatu pusat pertumbuhan.
Keberadaan potensi hasil pertanian dan perkebunan yang didukung oleh fasilitas
sosial ekonomi dapat dijadikan sebagai modal untuk menciptakan pusat pertumbuhan di
Kabupaten Nunukan, hasil pertanian dan perkebunan tersebut dapat dijadikan leading
sector dan sektor lain yang berkaitan dengan perkebunan dan pertanian akan timbul
didaerah sekitarnya jika terjadi peningkatan jumlah permintaan akan hasil perkebunan dan
pertanian tersebut (trickle down effect). Sektor yang berkaitan dan memungkinkan ada di
daerah sekitarnya yaitu : sektor tenaga kerja, sektor pengolahan hasil pertanian dan
perkebunan, sektor perlengkapan pertanian dan perkebunan. Melalui tahap pengolahan
juga akan membantu meningkatkan harga jual hasil pertanian dan perkebunan.
Potensi hasil pernanian dan perkebunan itu dilengkapi juga dengan fungsi
Kabupaten Nunukan berfungsi sebagai PKSN (fungsi pos pemeriksaan), yaitu mejadi
pintu keluar masuk para pelintas batas dari Nunukan ke Tawao atau sebaliknya, dan PKSN
yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan, dengan pendekatan trickledown effect-nya
(efek menetes ke bawah), maka kegiatan ekonomi yang terkonsentrasikan pada wilayah
Kabupaten Nunukan, dengan kelengkapan fasilitas infrastruktur pendukungnya,
diharapkan dapat memberikan multiplier effect pada wilayah sekitar Kabupaten Nunukan
(hinterland).

E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Penerapan strategi pusat pertumbuhan di Kawasan Perbatasan RI dirasakan
agak sulit, karena terhalang oleh beberapa kendala yang dihadapi di daerah perbatasan.
Kendala tersebut merupakan suatu prasyarat yang harus dipenuhi oleh suatu wilayah
untuk menjadi pusat pertumbuhan. Kendala tersebut diantaranya yaitu : keterbatasan
infrastruktur, kualitas sumberdaya manusia yang masih rendah, serta pengelolaan
terhadap sektor unggulan (leading sector) masih sangat minim. Hal itu lah yang
menyebabkan pusat pertumbuhan belum berhasil diterapkan di kawasan perbatasan
walaupun secara eksplisit diatur dalam RPJMN RI.
2. Saran
Untuk menciptakan suatu pusat pertumbuhan baru di kawasab perbatasan,
hendaknya diatasi dulu hal-hal yang menjadi kendala, terutama dalam hal pengadaan
infrastruktur yang sangat mempengaruhi tidak hanya aktivitas sosial ekonomi, tapi
juga menjadi factor penarik pagi para investor untuk berinvestasi di kawasan
perbatasan. Selain infrastruktur, upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia
sebagai penunjang terbentuknya pusat pertumbuhan perlu dilakukan, sebagai modal
pembangunan suatu wilayah juga. Sedangkan untuk sektor ungglan (leading sector)
dapat ditentukan kemudian sambil memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan
kualitas sumberdaya manusia, karena mengingat kawasan perbatasan kaya akan
potensi sumberdaya alam.

F. Daftar Pustaka
Bappeda Kabupaten Nunukan. Potensi Kabupaten Nunukan. [online]. Tersedia di :
http://bappeda.nunukankab.go.id/beranda/index.php/tentang/8-berita/terbaru-
berita/339-potensi-kabupaten-nunukan.html. [1 Mei 2014].
Hadi, Suprayoga. (2009). Program Pembangunan Kawasan Perbatasan. BAPPENAS.
[online]. Tersedia di :
http://bulletin.penataanruang.net/index.asp?mod=_fullart&idart=173. [1 Mei
2014].
Hadi, Suprayoga. (2010). Isu-Isu Strategis Pengelolaan Kawasan Perbatasan. [online].
Tersedia di : http://www.tabloiddiplomasi.org/previous-isuue/105-september-
2010/940-isu-isu-strategis-pengelolaan-kawasan-perbatasan.html. [1 Mei 2014].
Herdiman, Fransiskus Saverius. (2013). BNPP Kembangkan Pusat Pertumbuhan di
Perbatasan. [online]. Tersedia di : http://www.jurnas.com/news/106853/BNPP-
Kembangkan-Pusat-Pertumbuhan-di-Perbatasan--2013/1/Nasional/Politik-
Keamanan#sthash.z39e5QaH.dpuf. [1 Mei 2014].
Madu, Ludiro, dkk. (2010). Mengelola Perbatasan Indonesia di Dunia Tanpa Batas.
Yogyakarta : Graha Ilmu.
Mutaali, Luthfi, dkk. (2013). Gagasan Pembangunan Kawasan Perbatasan Darat di
Bidang Pengelolaan Potensi (Upaya Mewujudkan Blue Print). Yogyakarta :
Gama Press dan Pusat Kajian Permukiman, Transmigrasi, dan Perbatasan
(PUSPERTRANTAS).
Mutaali, Luthfi. (2010). Buku Ajar Perencanaan Pengembangan Wilayah. Yogyakarta :
Universitas Gadjah Mada [Tidak Diterbitkan].
Tarigan, Robinson. (2005). Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta : Bumi Aksara.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2006 tentang Tata Ruang.