Anda di halaman 1dari 18

1

TUGAS KELOMPOK
LINGKUNGAN BISNIS DAN HUKUM KOMERSIL


TANGGUNG JAWAB SOSIAL
ORGANISASI BISNIS

Dosen

Prof.Dr.H.B.Isyandi, SE., M.S



Disusun oleh

Agusten
Helmiati
Jumelia Gusnita


MAGISTER AKUNTANSI ANGKATAN XIV
UNIVERSITAS RIAU
2014
2

LATAR BELAKANG

Masyarakat berkembang semakin kompleks. Sasaran, bidang garapan dan
intervensi pekerjaan sosial juga semakin luas. Globalisasi dan industrialisasi telah
membuka kesempatan bagi pekerja sosial untuk terlibat dalam bidang yang relative
baru, yakni dunia industri. Dunia industri kini sedang menggali manfaat- manfaat
positif dari adanya pekerja social industry, baik terhadap aspek financial ataupun
relasi social dengan para pekerja dan masyarakat.
Tanggung jawab Sosial Perusahaan ( TSP ) atau yang dikenal dengan
Corporate Social Responsibility (CSR) kini semakin diterima secara luas. Kelompok
yang mendukung wacana TSP berpendapat bahwa perusahaan tidak dapat
dipisahkan dari para individu yang terlibat didalamnya, yakni pemilik dan
karyawannya. Namun mereka tidak boleh hanya memikirkan keuntungan
finansialnya saja, melainkan pula harus memiliki kepekaan dan kepedulian
terhadap publik.

Definisi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)
Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility
(CSR) dapat didefinisikan sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap
lingkungan eksternal perusahaan melalui berbagai kegiatan yang dilakukan dalam
rangka penjagaan lingkungan, norma masyarakat, partisipasi pembangunan, serta
berbagai bentuk tanggung jawab sosial lainnya.
Menurut Carrol, tanggung jawab sosial dari sudut pandang strategisnya
bahwa suatu perusahaan bisnis perlu mempertimbangkan tanggung jawab
3

sosialnya bagi masyarakat dimana bisnis menjadi bagiannya. Ketika bisnis mulai
mengabaikan tanggung jawabnya, masyarakat cenderung menanggapi melalui
pemerintah untuk membatasi otonomi bisnis.
Carroll menyatakan bahwa manajer organisasi bisnis memiliki empat
tanggung jawab yakni :
1. Tanggung jawab ekonomi, yakni memproduksi barang dan jasa yang bernilai
bagi masyarakat.
2. Tanggung jawab hukum, yakni perusahaan diharapkan mentaati hukum yang
ditentukan oleh pemerintah.
3. Tanggung jawab etika, yakni perusahaan diharapkan dapat mengikuti
keyakinan umum mengenai bagaimana orang harus bertindak dalam suatu
masyarakat.
4. Tanggung jawab kebebasan memilih, yakni tanggung jawab yang diasumsikan
bersifat sukarela.

Dari keempat tanggung jawab tersebut, tanggung jawab ekonomi dan
hukum dinilai sebagai tanggung jawab dasar yang harus dimiliki perusahaan.
Setelah tanggung jawab dasar terpenuhi maka perusahaan dapat memenuhi
tanggung jawab sosialnya yakni dalam hal etika dan kebebasan memilih.

Alasan Perusahaan Menerapkan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
Ada beberapa alasan mengapa sebuah perusahaan memutuskan untuk
menerapkan CSR sebagai bagian dari aktifitas bisnisnya, yakni :
1. Moralitas : Perusahaan harus bertanggung jawab kepada banyak pihak yang
berkepentingan terutama terkait dengan nilai-nilai moral dan keagamaan yang
4

dianggap baik oleh masyarakat. Hal tersebut bersifat tanpa mengharapkan
balas jasa.
2. Pemurnian Kepentingan Sendiri : Perusahaan harus bertanggung jawab
terhadap pihak-pihak yang berkepentingan karena pertimbangan kompensasi.
Perusahaan berharap akan dihargai karena tindakan tanggung jawab mereka
baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Teori Investasi : Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap stakeholder
karena tindakan yang dilakukan akan mencerminkan kinerja keuangan
perusahaan.
4. Mempertahankan otonomi : Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap
stakeholder untuk menghindari campur tangan kelompok-kelompok yang ada
didalam lingkungan kerja dalam pengambilan keputusan manajemen.

Strategi Pengelolaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
1. Strategi Reaktif
Kegiatan bisnis yang melakukan strategi reaktif dalam tanggung jawab
sosial cenderung menolak atau menghindarkan diri dari tanggung jawab sosial.
Contohnya, perusahaan tembakau di masa lalu cenderung untuk
menghindarkan diri dari isu yang menghubungkan konsumsi rokok dengan
peluang penyakit kanker. Akan tetapi, karena adanya peraturan pemerintah
unuk mencantumkan bahaya rokok setiap iklan, maka hal tersebut dilakukan
oleh perusahaan rokok.



5

2. Strategi Defensif
Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh
perusahaan terkait dengan penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum
untuk menghindarkan diri atau menolak tanggung jawab sosial. Perusahaan
yang menghindarkan diri dari tanggung jawab limbah saja berargumen
melalui pengacara yang disewanya untuk mempertahankan diri dari tuntutan
hukum dengan berargumen bahwa tidak hanya perusahaannya saja yang
membuang limbah ke sungai ketika lokasi perusahaan tersebut beroperasi,
terdapat juga prusahaan lain yang beroperasi.

3. Strategi Akomodatif
Strategi Akomidatif merupakan tanggung jawab sosial yang dijalankan
perusahaan dikarenakan adanya tuntutan dari masyarakat dan lingkungan
sekitar akan hal tersebut. Tindakan seperti ini terkait dengan strategi
akomodatif dalam tanggung jawab sosial.contoh lainnya, perusahaan
perusahaan besar pada era orde baru dituntut untuk memberikan pinjaman
kredit lunak kepada para pengusaha kecil, bukan disebabkan karena adanya
kesadaran perusahaan, akan tetapi sebagai langkah akomodatif yang diambil
setelah pemerintah menuntut para korporat untuk lebih memperhatikan
pengusaha kecil.





6

4. Strategi Proaktif
Perusahaan memandang bahwa tanggung jawab sosial adalah bagian
dari tanggung jawab untuk memuaskan stakeholders. Jika stakeholders
terpuaskan, maka citra positif terhadap perusahaan akan terbangun. Dalam
jangka panjang perusahaan akan diterima oleh masyarakat dan perusahaan
tidak akan khawatir akan kehilangan pelanggan, justru akan berpotensi untuk
menambah jumlah pelanggan akibat citra positif yang disandangnya. Langkah
yang dapat diambil oleh perusahaan adalah dengan mengambil inisiatif dalam
tanggung jawab sosial, misalnya dengan membuat khusus penanganan limbah,
keterlibatan dalam setiap kegiatan sosial lingkungan masyarakat atau dengan
membarikan pelatihan terhadap masyarakat di sekitar lingkungan masyarakat.

Perkembangan Dan Motif Tanggung jawab Sosial
Sebagaimana dinyatakan Porter dan Kramer (2002) diatas, Pendapat yang
menyatakan bahwa tujuan ekonomi dan sosial adalah terpisah dan bertentangan
adalah pandangan yang keliru. Perusahaan tidak berfungsi secara terpisah dari
masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu Piramida Tanggung jawab Sosial
Perusahaan yang dikemukakan oleh Archie B. Carroll harus dipahami sebagai satu
kesatuan. Karenanya secara konseptual, TSP merupakan Kepedulian perusahaan
yang didasari 3 prinsip dasar yang dikenal dengan istilah Triple Bottom Lines yaitu :
1. Profit, Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi
yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.
2. People, Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan
manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti
pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana
7

pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan
ada perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi
warga setempat
3. Plannet, Perusahaan peduli terhadap lingkunga hidup dan berkelanjutan
keragaman hayati. Beberapa program TSP yan berpijak pada prinsip ini
biasanya berupa penghijaunan lingkungan hidup, penyediaan sarana air
bersih, perbaikan permukiman, pengembangan pariwisata (ekoturisme ) dll.
Pembangunan berkelanjutan (Sustainability development) dapat juga berarti
menjaga pertumbuhan jumlah penduduk yang tetap sepadan dengan kapasitas
produksi sesuai dengan daya dukung lingkungan. Dengan demikian pembangunan
berkelanjutan merupakan integrasi dari citra ideal untuk memenuhi kebutuhan
generasi kini secara merata (intra-generational equity), hal ini menentukan tujuan
pembangunan, dan memenuhi kebutuhan generasi kini dan generasi mendatang
secara adil (inter-generational equity) menentukan tujuan kesinambungan.

Apa yang memotivasi perusahaan melakukan TSP ?
Saidi dan Abidin membuat matriks yang menggambarkan tiga tahap atau
paradigma yang berbeda, diantaranya :
1. Corporate Charity, yakni dorongan amal berdasarakan motivasi keagamaan.
2. Corporate Philanthropy, yakni dorongan kemanusiaan yang biasanya
bersumber dari norma dan etika universal untuk menolong sesama dan
memperjuangkan kemerataan sosial.
3. Corporate Citizenship, yakni motivasi kewargaan demi mewujudkan keadilan
sosial berdasarkan prinsip keterlibatan sosial.

8

Jika dipetakan, tampaklah bahwa spectrum paradigma ini terentang dari
sekedar menjalankan kewajiban hingga demi kepentingan bersama atau dari
membantu dan beramal kepada sesama menjadi memberdayakan manusia.
Meskipun tidak selalu berlaku otomatis, pada umumnya perusahaan melakukan TSP
didorong oleh motivasi Karitatif kemudian kemanusiaan dan akhirnya kewargaan.




















9

Tabel Spectrum Paradigma
Motivasi
Tahapan/ Paradigma
Karitatif Filantropis Kewargaan
Semangat/ Prinsip Agama,
Tradisi,
Adat
Norma, etika,
dan hukum
universal:
redistribusi
kekayaan
Pencerahan diri
dan rekonsiliasi
dengan
ketertiban sosial
Misi Mengatasi
masalah
sesaat/ saat
itu
Menolong
sesama
Mencari dan
mengatai akar
masalah :
memberikan
kotribusi kepada
masyarakat
Pengelolaan Jangka
Pendek dan
Parsial
Terencana,
terorganisasi,
dan
terprogram
Terinternalisasi
dalam kebijakan
perusahaan
Pengorganisasian Kepanitiaan Yayasan/ dana
abadi
Professional :
keterlibatan
tenaga-tenaga
ahli didalamnya
Penerima
Manfaat
Orang
Miskin
Masyarakat
Luas
Masyarakat luas
dan perusahaan
Kontibusi Hibah sosial Hibah
pembangunan
Hibah sosial
maupun
pembangunan
dan keterlibatan
sosial
Inspirasi Kewajiban Kemanusiaan Kepentingan
bersama
Sumber : Dikembangkan dari Saidi dan Abidin (2004:69)
10

Penerapan TSP di Indonesia semakin meningkat, baik dalam kuantitas
maupun kualitas. Selain keragaman kegiatan dan pengelolaannya semakin
bervariasi, dilihat dari kontribusi finansial, jumlahnaya semakin besar. Penelitian
PIRAC pada tahun 2001 menunjukkan bahwa Dana TSP di Indonesia mencapai
lebih dari 115 miliar rupiah atau sekitar 11,5 juta dolar AS dari 180 Perusahaan
yang dibelanjakan untuk 279 kegiatan sosial yang terekam oleh media masa.
Meskipun dana ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan dana TSP di
Amerika Serikat, dilihat dari angka kumulaitif tersebut, perkembangan TSP di
Indonesia cukup menggembirakan. Angka rata-rata perusahaan yang
menyumbangkan dana bagi kegiatan TSP adalah sekitar 640 juta rupiah atau
sekitar 413 juta per kegiatan. Sebagai perbandingan, di AS porsi sumbangan dana
TSP pada atahun 1998 mencapai 21,51 miliar dollar dan tahun 2000 mencapai
203 miliar dollar atau sekitar 2.030 triliun rupiah ( Saidi dan Abidin).

Model Tanggungjawab Sosial Perusahaan
Menurut Saidi dan Abidin ada empat model pola TSP di Indonesia :
1. Keterlibatan langsung; Perusahaan menjalankan program TSP secara langsung
dengan menyelengarakan sendiri kegaiatn social atau menyerahkan
sumbangan ke masyarakat tanpa perantara.
2. Melalui yayasan atau organisasi sosial perusahaan; Perusahaan mendirikan
yayasan sendiri dibawah perusahaan atau grupnya. Model ini merupaka adopsi
dari model yang lazim diterapkan di perusahaan-perusahaan di negara maju.
3. Bermitra dengan pihak lain; Perusahaan menyelenggarakan TSP melalui
kerjasama dengan lembaga sosial atau organisasi pemerintah (Ornop), Instansi
11

Pemerintah, Universitas atau media masa, baik dalam mengelola dana maupun
dalam melaksanakan kegiatan sosialnya.
4. Mendukung atau bergabung dalam suatu Konsorsium; Perusahaan turut
mendirikan, menjadi anggota atau mendukung suatu lembaga sosial yang
didirikan untuk tujuan sosial tertentu

Manfaat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
1. Manfaat bagi Perusahaan
Citra Positif Perusahaan di mata masyarakat dan pemerintah. Kegiatan
perusahaan dalam jangka panjang akan dianggap sebagai kontribusi positif di
masyarakat. Selain membantu perekonomian masyarakat, perusahaan juga
akan dianggap bersama masyarakat membantu dalam mewujudkan keadaan
lebih baik di masa yang akan datang. Akibatnya ,perusahaan justru akan
memperoleh tanggapan yang positif setiap kali menawarkan sesuatu kepada
masyarakat. Perusahaan tidak saja dianggap sekedar menawarkan produk
untuk dibeli masyarakat, tetapi juga dianggap menawarkan sesuatu yang
membawa perbaikan masyarakat.

2. Manfaat bagi Masyarakat
Selain kepentingan masyarakat terakomodasi, hubungan masyarakat
dengan perusahaan akan lebih erat dalam situasi win-win solution. Artinya
terdapat kerjasama yang saling menguntungkan ke dua pihak. Hubungan bisnis
tidak lagi dipahami sebagai hubungan antara pihak yang mengeksploitasi dan
pihak yang tereksploitasi, tetapi hubungan kemitraan dalam membangun
12

masyarakat lingkungan kebih baik. Tidak hanya di sektor perekonomian, tetapi
juga dalam sektor sosial, pembangunan dan lain-lain.

3. Manfaat bagi Pemerintah
Memiliki partner dalam menjalankan misi sosial dari pemerintah dalam
hal tanggung jawab sosial. Pemerintah pada akhirnya tidak hanya berfungsi
sebagai wasit yang menetapkan aturan main dalam hubungan masyarakat
dengan dunia bisnis, dan memberikan sanksi bagi pihak yang melanggarnya.
Pemerintah sebagai pihak yang mendapat legtimasi untuk mengubah tatanan
masyarakat agar ke arah yang lebih baik mendapatkan partner dalam
mewujudkan tatanan masyarakat tersebut. Sebagian tugas pemerintah dapat
dilaksanakan oleh anggota masyarakat, dalam hal ini perusahaan atau
organisasi bisnis.
Pemberdayaan masyarakat ini pada dasarnya merupakan kegiatan
terencana dan kolektif dalam memperbaiki kehidupan masyarakat yang
dilakukan melalui program peningkatan kapasitas orang, terutama kelompok
lemah atau kurang beruntung (disadvantaged groups ) agar mereka memiliki
kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, mengemukakan gagasan,
melakukan pilihan-pilihan hidup, melaksanakan kegiatan ekonomi,
menjangkau dan memobilisai sumber, serta berpartisipasi dalam kegiatan
sosial.
Meskipun pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan terhadap semua
kelompok atau kelas masyarakat, namun pada umumnya pemerdayaan
dilakukan terhadap kelompok masyarakat yang dianggap lemah atau kurang
berdaya yang memiliki karakteristik lemah atau rentan dalam aspek :
13

1. Fisik : Orang dengan kecatatan dan kemampuan khusus.
2. Psikologis : Orang yang mengalami masalah personal dan penyesuaian diri.
3. Finansial : Orang yang tidak memiliki Pekerjaan, pendapatan, modal, dan
asset yang mampu menopang kehidupannya.
4. Struktural : Orang yang mengalami diskriminasi dikarenakan status
sosialnya, gender, etnis,orientasi sosial, dan pilihan politiknya.

Proses Pemberdayaan Masyarakat dapat dilakukan melalui beberapa
tahapan:
1. Menentukan populasi atau kelompok sasaran,
2. Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan kelompok sasaran,
3. Merancang program kegiatan dan cara-cara pelaksanaannya,
4. Menentukan sumber pendanaan,
5. Menentukan dan mengajak pihak-pihak yang akan dilibatkan,
6. Melaksakan kegiatan atau mengimplementasiakan program, dan
7. Memonitor dan mengevaluasi kegiatan.

Kegiatan-kegiatan pemberdayaan biasanya dilakukan secara
berkelompok dan terorganisir dengan melibatkan beberapa strategi seperti
pendidikan dan pelatihan keterampilan hidup ( life skills ), ekonomi produktif,
perawatan sosial, penyadaran dan pengubahan sikap dan perilaku, advokasi,
pendampingan dan pembelaan hak-hak klien, aksi sosial, sosialisasi,kampanye,
demonstasi,kolaborasi, kontes, atau pengubahan kebijakan publik agar lebih
responsive terhadap kebutuhan kelompok sasaran.

14

Peraturan Perundangan CSR
Pada bulan September 2004, ISO (International Organization for
Standardization) sebagai induk organisasi standarisasi internasional, berinisiatif
mengundang berbagai pihak untuk membentuk tim (working group) yang
membidangi lahirnya panduan dan standarisasi untuk tanggung jawab sosial
yang diberi nama ISO 26000: Guidance Standard on Social Responsibility. ISO
26000 menyediakan standar pedoman yang bersifat sukarela mengenai
tanggung tanggung jawab sosial suatu institusi yang mencakup semua sektor
badan publik ataupun badan privat baik di negara berkembang maupun negara
maju. Dengan Iso 26000 ini akan memberikan tambahan nilai terhadap aktivitas
tanggung jawab sosial yang berkembang saat ini dengan cara: 1) mengembangkan
suatu konsensus terhadap pengertian tanggung jawab sosial dan isunya; 2)
menyediakan pedoman tentang penterjemahan prinsip-prinsip menjadi
kegiatan-kegiatan yang efektif; dan 3) memilah praktek-praktek terbaik yang
sudah berkembang dan disebarluaskan untuk kebaikan komunitas atau
masyarakat internasional.
ISO 26000 menerjemahkan tanggung jawab sosial sebagai tanggung
jawab suatu organisasi atas dampak dari keputusan dan aktivitasnya terhadap
masyarakat dan lingkungan, melalui perilaku yang transparan dan etis, yang :
Konsisten dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat;
Memperhatikan kepentingan dari para stakeholder; Sesuai hukum yang berlaku
dan konsisten dengan norma-norma internasional; Terintegrasi di seluruh
aktivitas organisasi, dalam pengertian ini meliputi baik kegiatan, produk
maupun jasa.
15

Berdasarkan konsep ISO 26000, penerapan sosial responsibility
hendaknya terintegrasi di seluruh aktivitas organisasi yang mencakup 7 isu
pokok diatas. Dengan demikian jika suatu perusahaan hanya memperhatikan isu
tertentu saja, misalnya suatu perusahaan sangat peduli terhadap isu lingkungan,
namun perusahaan tersebut masih mengiklankan penerimaan pegawai dengan
menyebutkan secara khusus kebutuhan pegawai sesuai dengan gender
tertentu, maka sesuai dengan konsep ISO 26000 perusahaan tersebut
sesungguhnya belum melaksanakan tanggung jawab sosialnya secara utuh.

Contoh Penerapan CSR Oleh Perusahaan
Di Indonesia sekarang ini, sudah banyak perusahaan-perusahaan besar yang
melaksanakan program CSR. Bentuknya pun sangat beragam dan manfaatnya bisa
diterapkan di semua kalangan. Berbagai macam perusahaan yang melaksanakan
program CSR sebagai bentuk Social Investment serta bentuk-bentuk nyata disertai
lainnya :
1. PT. Unilever Indonesia, Tbk
Unilever melaksanakan program CSR yang beragam pula, diantaranya : Green
and Clean dengan memanfaatkan bekas kantong produk Unilever menjadi
bentuk baru yang bermanfaat, pemberdayaan petani kedelai hitam, program
kesehatan dengan adanya pemeriksaan kesehatan gratis, periksa gigi gratis,
serta membangun kader-kader yang sadar akan pentingnya menjaga
kesehatan.



16

2. PT. Bakrie Sumatera Plantations
Program-program CSR yang dijalankannya adalah: membangun Koperasi Desa,
memberikan bantuan pendidikan bagi siswa SD, mengadakan perkumpulan
ibu-ibu pengajian, dan juga memberikan pelayanan pendidikan bagi
masyarakat kurang mampu.

3. PT. Indominco Mandiri
a. Bidang Sosial : memberdayakan perempuan agar dapat menjadi sosok
mandiri, menyelenggarakan kegiatan budaya untuk mempererat tali
silaturahmi di antara warga.
b. Bidang Ekonomi : mengembangkan usaha kecil rumput laut serta
pendampingan kepada masyarakat, memberikan pelatihan-pelatihan
keterampilan kepada masyarakat, perempuan, dan anak-anak usia produktif.

4. PT. Bank Mandiri, Tbk
a. Bidang Sumber Daya Manusia : memberikan pelatihan kewirausahaan dan
mengadakan berbagai macam event wirausaha muda dengan memberikan
dana bantuan bagi pengusung format wirausaha yang fresh dan achievable.
b. Bidang Pendidikan : memberikan support dan rangsangan lomba-lomba
untuk mengasah kecerdasan dan kreatifitas siswa, memberikan dana
beasiswa bagi yang berprestasi dan kurang mampu.

5. PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk
a. Bidang IT : mendirikan kampung digital sehingga di sana (Sampali, Sumut)
banyak orang yang melek teknologi, utamanya computer dan internet,
17

pelatihan berbagai macam program komputer perkembangan, memberikan
pelatihan kepada siswa SMP dan SMA.
b. Bidang Sosial : pemberdayaan pendidikan anak kurang mampu, pembinaan
remaja olahraga, pasar murah penjualan sembako, cerdas cermat, gebyar
Festival Seni Islami, dan juga Peringatan HUT RI dengan mengadakan
berbagai macam lomba.
c. Bidang Ekonomi : program kemitraan untuk usaha kecil menengah,
kelompok usaha pembuatan pupuk organik, dan juga membuat koperasi
simpan pinjam.
d. Bidang Lingkungan : perbaikan dan pengembangan drainase, penanaman
pohon pelindung, pengerasan dan pengaspalan jalan, pembuatan gapura
Kampung Sampali, dan pembuatan plang nama PKK Kampung Sampali.

6. PT. HM Sampoerna, Tbk
Berbagai macam kegiatan CSR nya antara lain : membentuk Tim Sampoerna
Resque untuk melaksanakan tanggap darurat terhadap bencana, menciptakan
air bersih untuk masyarakat, membangun usaha mikro dan kecil, memberikan
beasiswa bagi SMA dan Sarjana, melakukan penanaman pohon untuk reboisasi.

7. PT. Tambang Batubara Bukit Asam
a. Bidang Lingkungan : pembuatan kolam pengendap lumpur, pemanfaatan
tanaman minyak kayu putih, membangun Taman Hutan Raya
b. Bidang Ekonomi : membangun kelompok usaha pupuk Bokashi Organik
c. Bidang Sosial : penataan Pasar Tanjung Enim

18

8. PT. Bakrieland Development, Tbk
Program CSR di Bakrieland antara lain : membangun Rasuna Epicentrum, yaitu
sebuah kawasan resapan air, penggunaan solar energy system dalam setiap
project Bakrieland, Goes Green di Bali Nirwana Resort, mempekerjakan 2 orang
anggota keluarga yang tanahnya dibeli Bakrieland.

9. PT. Berau Coal
Program yang telah dilaksanakan antara lain : pemanfaatan lahan mejadi area
tanaman buah-buahan, pemanfaatan lahan sebagai area peternakan sapi,
pemanfaatan lahan perkebunan, pemanfaatan tanaman kehutanan, percobaan
penanaman karet, pembangunan lapangan golf.