Anda di halaman 1dari 20

6

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perkembangan Gigi
Perkembangan gigi merupakan proses kompleks yang disebut juga
morfogenesis gigi atau odontogenesis yang dimulai selama minggu ke-6
perkembangan embrio. Perkembangan gigi terbagi atas 4 tahapan, yaitu:
7

2.1.1 Periode Bantalan Gusi
Periode ini dimulai sejak lahir sampai usia 6 bulan.

Karateristik pada periode
ini terlihat adanya peninggian dan lekukan pada mukosa. Lekukan di sebelah distal
segmen kaninus desidui melanjut ke sulkus bukal ini disebut sulkus lateral. Lengkung
rahang pada rahang atas memiliki bentuk seperti tapal kuda dan rahang bawah
memiliki bentuk U.
25,26







Gambar 1. Bantalan gusi (Gum pads): (A )Maksila (B)Mandibula.
26,30


Universitas Sumatera Utara
7



Pada waktu lahir, maksila dan mandibula merupakan tulang yang telah
dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam berbagai tingkat perkembangan. Prosesus
alveolaris dilapisi oleh mukoperiosteum yang tebal yang merupakan bantalan gusi
(Gambar 1). Pada saat lahir, bantalan gusi tumbuh sangat cepat terutama kearah
lateral. Keadaan ini membuat gigi insisivus tumbuh dalam letak yang baik.
25,26


2.1.2 Fase Gigi Desidui (The Primary Dentition Stage)
Erupsi gigi desidui dimulai dari usia 6 bulan. Pada usia sekitar 2,5 sampai 3
tahun gigi desidui telah erupsi semua.
2
Jumlah gigi pada fase ini adalah 20 gigi
desidui. Gigi desidui ini bersifat sementara, setelah 2 sampai 3 tahun kemudian, gigi
desidui ini akan diganti menjadi gigi permanen. Urutan erupsi gigi ini dapat
bervariasi tetapi memiliki karateristik sebagai berikut

(Gambar 2):
26

- Insisivus sentral desidui mandibula erupsi pertama kira-kira usia 6 bulan
- Diikuti dengan insisivus sentral desidui maksila
- Setelah itu insisvus lateral desidui maksila
- Erupsi insisivus lateral desidui mandibula
- Molar pertama desidui mandibula dan maksila erupsi pada umur 1 tahun atau
lebih
- Kaninus desidui maksila dan mandibula erupsi kira-kira pada usia 16 bulan
- Molar kedua desidui mandibula erupsi lalu molar kedua desidui maksila pada usia
2,5 tahun

Posisi insisivus desidui lebih tegak dibandingkan dengan insisivus permanen
dan biasanya terdapat diastema di antara gigi-gigi tersebut yang merupakan diastema
fisiologi. Apabila diastema ini tidak ada saat fase gigi desidui, maka hampir bisa
dipastikan gigi-gigi permanennya akan terletak berjejal (crowded). Molar pertama
Universitas Sumatera Utara
8



desidui dan molar kedua desidui mengadakan kontak satu sama lain lewat permukaan
yang luas dan berfungsi dalam pengunyahan.
6,27







Gambar 2. Fase gigi desidui.
27


2.1.3 Fase Gigi Bercampur (Mixed Dentition Stage)
Fase ini merupakan fase transisi dari fase gigi desidui ke fase gigi permanen
yang dimulai pada usia 6 tahun, ditandai dengan erupsinya molar pertama permanen
rahang bawah kemudian molar pertama permanen rahang atas setelah itu disusul
dengan erupsi insisivus pada rahang bawah dan rahang atas. Fase ini berakhir pada
usia 12 tahun. Di fase gigi bercampur, terlihat gigi desidui dan gigi permanen berada
di dalam rongga mulut. Proses erupsi gigi permanen, akan terjadi resorpsi tulang dan
akar gigi desidui yang mengawali pergantian gigi desidui oleh gigi permanennya
(Gambar 3).
25,27


Universitas Sumatera Utara
9




Gambar 3. Fase gigi bercampur.
27


Urutan erupsi gigi permanen dimulai dengan erupsinya molar pertama
permanen pada usia sekitar 6 tahun, diikuti dengan erupsi gigi insisivus pada usia 7
dan 8 tahun, kemudian erupsi gigi premolar, kaninus dan molar kedua permanen.
25,28
Oklusi pada fase gigi bercampur bersifat sementara dan tidak statis sehingga
memungkinkan terjadinya maloklusi. Oleh karena itu, pada fase ini merupakan waktu
yang tepat untuk dilakukan perawatan interseptif ortodontik untuk mencegah
berkembangnya maloklusi dan memungkinkan pencapaian perkembangan wajah yang
harmonis.
1,5
Fase gigi bercampur dibagi ke dalam tiga fase, yaitu fase transisi
pertama, inter-transisi dan transisi kedua.
26,27
2.1.3.1 Fase transisi pertama
Fase ini ditandai dengan erupsinya molar pertama permanen dan pergantian
insisivus desidui oleh insisivus permanen. Erupsinya molar pertama permanen
dimulai sekitar usia 6 tahun dan diikuti dengan erupsinya insisivus sentralis rahang
bawah.
2,25

Hubungan oklusal pada fase gigi bercampur berhubungan dengan gigi
permanen. Lokasi dan hubungan molar pertama permanen sangat bergantung pada
Universitas Sumatera Utara
10



kontak permukaan distal molar kedua desidui rahang atas dan rahang bawah.
9
Molar
pertama permanen menuntun ke dalam lengkung gigi oleh permukaan distal dari
molar kedua desidui. Terdapat tiga tipe hubungan molar pertama permanen,
yaitu
7,25-27
:
a. Flush terminal plane: permukaan distal molar kedua rahang atas dan
molar kedua desidui rahang bawah dalam satu dataran vertikal (Gambar 5). Tipe
hubungan ini disebut dengan satu dataran vertikal (flush terminal plane) dan
diperoleh relasi molar pertama tonjol lawan tonjol. Ini merupakan keadaan normal
dari gigi desidui, dan dapat terkoreksi dengan pergerakan molar rahang bawah ke
depan sejauh 3-5 mm terhadap rahang atas memanfaatkan developmental space
maupun Leeway space yang ada sehingga relasi molar Klas I Angle dapat tercapai
(Gambar 6).
25-27

Pergeseran molar rahang bawah dari satu dataran vertikal menjadi Klas I Angle dapat
terjadi dengan dua cara, yaitu the early shift dan the late shift.
5,9,19-23

The early mesial shift terjadi selama awal fase gigi bercampur. Early mesial
shift ini dimana pada primate space (diastema yang terdapat diantara insisivus lateral
dan kaninus desidui atas dan diantara kaninus desidui dan molar pertama desidui
bawah) akan tertutup oleh pergerakan ke depan molar pertama permanen (Gambar
4A).
27

The late mesial shift terjadi dimana molar pertama permanen bawah hanya
bergerak ke mesial secara langsung setelah kehilangan gigi molar kedua desidui
bawah (Gambar 4B). Karena panjang mesiodistal pada mahkota molar kedua desidui
bawah lebih besar daripada rahang atas, maka kehilangan gigi tersebut menghasilkan
pergerakan mesial yang besar oleh molar pertama permanen bawah.
27




Universitas Sumatera Utara
11








Gambar 4. Pergeseran molar rahang
bawah: (A) Early mesial
shift. (B) Late mesial shift.
24


b. Mesial step terminal plane: tipe hubungan ini terlihat permukaan distal
molar kedua desidui rahang bawah berada lebih mesial daripada molar kedua desidui
rahang atas (Gambar 5). Kemudian molar pertama permanen secara langsung erupsi
dalam relasi Klas I Angle. Tipe ini biasanya terjadi pada awal pertumbuhan
mandibula ke depan. Jika pertumbuhan mandibula terus berlanjut, maka dapat terjadi
relasi molar Klas III Angle. Jika pertumbuhan mandibula ke depan minimal, maka
akan terjadi relasi molar Klas I Angle (Gambar 6).
7,25-27


c. Distal step terminal plane: karateristik tipe ini bila permukaan distal
molar kedua desidui rahang bawah berada lebih distal daripada molar kedua desidui
rahang atas (Gambar 5). Kemungkinan relasi molar pada tipe ini adalah Klas II Angle
(Gambar 6).
7,25-27




Universitas Sumatera Utara
12








Gambar 5. Tiga tipe hubungan molar kedua desidui: (A)
Flush terminal plane (B)Mesial step (C)Distal step.
7,27











Gambar 6. Hubungan oklusal pada gigi desidui dan
gigi permanen.
5


Universitas Sumatera Utara
13



Perubahan pada insisivus terjadi selama fase transisi pertama dimana insisivus
desidui digantikan dengan insisivus permanen. Insisivus sentralis bawah merupakan
yang pertama erupsi. Insisivus permanen memiliki ukuran lebih besar daripada
insisivus desidui. Perbedaan mesiodistal di antara gigi insisivus desidui dan permanen
disebut dengan incisal liability.
27,29
Pada segmen anterior, keempat insisivus
permanen maksila rata-rata 7,6 mm lebih besar daripada insisivus desidui. Sedangkan
pada insisivus permanen mandibula rata-rata 6,0 mm lebih besar daripada insisivus
desidui.
24
Bhalajhi (2009) menyatakan bahwa incisal liability pada rahang atas rata-
rata 7 mm, sedangkan pada rahang bawah 5 mm.
27,29
Ruang yang diperlukan oleh
Incisal liability diperoleh dari
29
:
a. Pemanfaatan ruangan diantara gigi pada gigi desidui akan menyediakan
ruang 4 mm di rahang atas dan 3 mm di rahang bawah.
b. Peningkatan lebar antar kaninus.
c. Perubahan inklinasi insisivus dari 150 ke 123 akan menyediakan ruang
2-3 mm (Gambar 7).






Gambar 7. Perubahan inklinasi gigi
insisivus permanen dan
desidui.
30



Universitas Sumatera Utara
14



2.1.3.2 Fase Inter-Transisi
Fase ini merupakan fase yang stabil dan hanya terjadi perubahan yang sedikit.
Di fase ini terlihat pada rahang atas maupun pada rahang bawah terdapat gigi desidui
dan gigi permanen secara bersamaan. Gigi molar dan kaninus desidui dijumpai di
antara gigi insisivus permanen dan molar pertama permanen.
1,29,30
Ada beberapa
karateristik pada fase ini, yaitu
30
:
1. Oklusal dan interproksimal pada gigi desidui terlihat rata karena
morfologi oklusal yang menyerupai dataran.
2. Pembentukan akar terjadi pada insisivus, kaninus dan molar yang akan
erupsi dengan seiringnya peningkatan puncak prosesus alveolar.
3. Resorpsi akar pada molar desidui.

2.1.3.3 Fase Transisi Kedua
Karateristik pada fase ini ditandai pergantian molar kedua dan kaninus desidui
dengan kaninus dan premolar permanen. Kombinasi lebar mesiodistal kaninus desidui
dan premolar biasanya lebih kecil daripada gigi yang akan digantikan. Akibat
perbedaan ukuran ini akan dijumpai kelebihan ruang yang oleh Nance disebut dengan
Leeway space.
1-3,5,10

Besar Leeway space pada mandibula lebih besar daripada maksila. Kelebihan
ruang yang tersedia setelah pergantian molar dan kaninus desidui dimanfaatkan untuk
pergeseran ke arah mesial oleh molar bawah agar terjadi relasi molar Klas I Angle.
27

Pada usia 8-9 tahun terlihat insisivus sentralis permanen bawah yang biasanya
dalam keadaan berkontak satu dengan lainnya sedangkan insisivus sentralis atas
sering erupsi dalam keadaan condong ke distal sehingga terdapat diastema di antara
kedua insisivus sentralis dan ini disebut the ugly duckling stage.
27,29,30
Kondisi ini
akan terkoreksi sendiri dimana benih kaninus permanen dalam erupsinya
mempengaruhi akar insisivus lateralis permanen atas dan mendorong insisivus
Universitas Sumatera Utara
15



lateralis ke mesial. Bila kaninus permanen telah erupsi, insisivus lateralis dapat
menegakkan diri dan diastema akan tertutup.
25,27

2.1.4 Fase Gigi Permanen (Permanent Dentition Stage)
Fase ini ditandai dengan erupsinya semua gigi permanen kecuali molar ketiga.
Urutan erupsi pada fase ini biasanya dimulai dari molar pertama permanen
mandibula.
3
Kemudian diikuti dengan insisivus sentral mandibula erupsi pada usia 7
tahun diikuti oleh insisivus lateral, kaninus, premolar pertama, premolar kedua dan
molar kedua.
3,20
Pada maksila, premolar pertama dan kedua erupsi lebih dulu
dibandingkan dengan kaninus (Gambar 8). Dibandingkan dengan fase gigi
bercampur, fase ini masih lebih stabil.
28

Ada beberapa keadaan yang terlihat pada gigi-gigi permanen adalah
25,27
:
- Pada saat oklusi gigi atas terletak lebih ke labial dan bukal daripada gigi bawah
- Insisivus lebih proklinasi dan gigi posterior bukoklinasi
- Semua gigi permanen mempunyai kontak dengan dua gigi antagonisnya kecuali
insisivus sentralis bawah dan molar kedua atas
- Kurva anteroposterior di rahang bawah (kurva spee) normal




Gambar 8.Fase gigi permanen.
22



Universitas Sumatera Utara
16



2.2 Leeway space
Ukuran mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan individu lain.
Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ras, genetik, dan jenis kelamin.
Jumlah lebar mesiodistal kaninus desidui, molar pertama dan kedua desidui lebih
besar daripada jumlah lebar mesiodistal gigi penggantinya. Perbedaan ukuran ini akan
menghasilkan ruang pada regio kaninus dan premolar pada kedua rahang yang
disebut dengan Leeway space (Gambar 9).
1-3,5,10

Leeway space pada rahang bawah lebih besar daripada rahang atas. Jumlah
rata-rata besar Leeway space pada rahang atas adalah 1,8 mm (0,9 mm untuk tiap
sisi). Dan untuk rahang bawah rata-rata 3,4 mm (1,7 mm untuk tiap sisi).
26

Kombinasi lebar mesiodistal gigi yang belum erupsi lebih besar daripada ruang yang
tersedia. Kondisi ini disebut Leeway space deficiency, dan ini menyebabkan gigi
menjadi berjejal (crowded).
7,14

Pada saat molar kedua desidui tanggal, molar pertama permanen akan
bergerak relatif cepat ke arah mesial menempati Leeway space.
7,25,29
Hal ini
berdampak pada pengurangan panjang lengkung rahang. Diperlukannya tindakan
ortodontik apabila terjadi kecenderungan berkembangnya maloklusi.
27







Gambar 9. Leeway space.
2

Universitas Sumatera Utara
17



2.3 Metode Analisis Ruang pada Masa Gigi Bercampur
2.3.1 Metode Radiografi
Metode radiografi digunakan oleh Nance (1947) dan Huckaba.
3
Metode ini
menggunakan radiografi untuk memprediksi kaninus dan premolar permanen yang
belum erupsi. Metode radiografi dapat digunakan baik pada rahang atas maupun
rahang bawah. Nance (1947) menggunakan radiografi dalam menganalisis perbedaan
ukuran mesiodistal gigi antara gigi kaninus, molar pertama, dan molar kedua desidui
dan gigi penggantinya.
2,3,9,11
Namun dalam penggunaan radiografi ini, tidak selalu
efektif dalam memprediksi ukuran gigi yang belum erupsi, karena hasil gambar
radiografi terjadi dalam bentuk dua dimensi. Selain itu adanya distorsi, elongasi
maupun kesalahan teknik dalam pengambilan gambar yang akan sangat
mempengaruhi keakuratan hasil pengukuran.
1,3,15

Sekarang sudah ada metode radiografi yang lebih akurat, yaitu dengan
menggunakan cone-beam computed tomography. Dimana pada teknik ini sudah
menggunakan gambaran tiga dimensi.
15


2.3.2 Metode Persamaan Regresi
Metode persamaan regresi digunakan oleh Ballard dan Wylie (1947),
Barendonk (1965), Moyers (1973), Tanaka-Johnston (1974), dan Sitepu(1983).
3,12,27

Metode ini memprediksi ukuran mesiodistal gigi kaninus dan premolar yang erupsi
dengan menggunakan gigi yang telah erupsi. Ballard dan Wylie (1947) sangat
memperhatikan distorsi yang terjadi pada gambaran radiografi sehingga mereka
mencari cara lain untuk memprediksi ukuran mesiodistal gigi kaninus dan premolar
yang belum erupsi dengan cara mengkombinasikan lebar mesiodistal keempat gigi
insisivus pada rahang bawah.
9
Mereka menetapkan persamaan
regresi Y=9,41 + 0,527X, dimana Y adalah ukuran kaninus dan premolar rahang
bawah dan X adalah jumlah ukuran gigi insisivus rahang bawah.
9

Universitas Sumatera Utara
18



Metode Moyers juga menggunakan jumlah keempat gigi insisivus dalam
memprediksi ukuran kaninus dan premolar yang belum erupsi. Dan kemudian
jumlahnya dibandingkan dengan tabel probabiliti. Metode ini paling sering digunakan
oleh para klinisi dikarenakan penggunaannya yang sederhana, mudah, dan
akurat.
1,2,9,13

Metode Tanaka-Johnston juga merupakan metode yang menggunakan jumlah
keempat gigi insisivus rahang bawah dalam memprediksi ukuran mesiodistal gigi
kaninus dan premolar permanen. Metode ini tidak menggunakan tabel probabiliti
seperti metode Moyers. Metode ini sangat sederhana dan dianggap memiliki
keakuratan yang cukup baik dengan tingkat kesalahan yang kecil.
15

2.3.2.1 Metode Tanaka-Johnston
Metode Tanaka-Johnston diperkenalkan pada tahun 1974 yang dikembangkan
dari 506 sampel yang berasal dari keturunan Eropa Utara. Metode ini merupakan
perkembangan dari metode Moyers untuk memprediksi lebar mesiodistal gigi kaninus
permanen dan premolar yang akan erupsi.
18-20

Rumus analisis Tanaka-Johnston dapat dilihat pada rumus di bawah ini.
2,5,15-17

Rumus :
Perkiraan Lebar Mesiodistal Kaninus dan Premolar Permanen Mandibula dalam
satu kuadran

+ 10,5 mm
Perkiraan Lebar Mesiodistal Kaninus dan Premolar Permanen Maksila dalam
satu kuadran

+ 11,0 mm
Universitas Sumatera Utara
19



Metode Tanaka-Johnston memiliki koefisien korelasi sebesar 0,63 untuk
rahang atas dan 0,65 untuk rahang bawah.
32
Kelebihan dari metode ini adalah tidak
memerlukan foto radiografi maupun tabel probability sehingga mudah dihafal dan
praktis digunakan. Metode ini menggunakan lebar mesiodistal keempat gigi insisivus
rahang bawah dalam perhitungannya.
1,2

2.3.3 Metode Kombinasi
Metode kombinasi merupakan gabungan antara metode radiografi dan
persamaan regresi. Yang menggunakan metode kombinasi adalah Hixon dan
Oldfather (1958).
2,12,27
Metode kombinasi dianggap merupakan metode prediksi yang
paling akurat. Karena selain melihat dari gambaran radiografi, juga menjumlahkan
keempat gigi insisivus pada cetakan model untuk memprediksi ukuran mesiodistal
kaninus dan premolar permanen.
2,9,15
Cara menggunakan metode Hixon dan Oldfather adalah sebagai berikut :
1. Lebar mesiodistal gigi insisivus sentralis dan gigi insisivus lateralis pada satu
kuadran diukur pada model studi.
2. Dilakukan pengukuran secara langsung lebar mahkota gigi premolar pertama
dan kedua yang belum erupsi pada foto radiografi pada kuadran yang sama.
3. Jumlahkan hasil pengukuran pada model studi dan foto radiografi.
4. Lihat pada Tabel 1 untuk menentukan gigi kaninus, premolar pertama, dan
premolar kedua yang belum erupsi.
31





Universitas Sumatera Utara
20









Tabel 1. Prediksi Hixon dan Oldfather.
31

2.4 Ukuran Mesiodistal Gigi
a. Ras
Banyak artikel pada jurnal dental mengenai adanya variasi ukuran gigi
berdasarkan ras. Bailit (cit.Green Thompson) mengatakan bahwa ukuran gigi
permanen bervariasi pada ras yang berbeda. Perbedaan ras menunjukkan adanya
hubungan pada ukuran gigi yang spesifik.
2

Pada penelitian Lavelle (1972), ia menunjukkan variasi ukuran gigi pada
kelompok ras yang berbeda. Dia menemukan pada insisivus sentralis mandibula dan
insisivus lateralis pada populasi Mongoloid adalah 0,17 mm lebih kecil daripada gigi
populasi Kaukasoid dan pada kaninus mandibula, premolar pertama dan kedua pada
populasi Mongoloid adalah 1,30 mm lebih besar dibandingkan pada populasi
Kaukasoid.
2
Penelitian yang dilakukan terhadap ras Kaukasoid, Negroid, dan
Mongoloid menunjukkan bahwa ukuran mesiodistal ketiga ras tersebut berbeda.
Ukuran mesiodistal ras Negroid lebih besar dari ras Mongoloid dan Kaukasoid.
36



Universitas Sumatera Utara
21



b. Genetik
Ukuran gigi beradaptasi baik terhadap pengaruh luar dan dikendalikan oleh
faktor keturunan. Penelitian yang dilakukan Lundstrom (1964) membandingkan
antara 97 pasangan kembar monozigot dan dizigot ditemukan bahwa terdapat
hubungan faktor genetik yang kuat pada kembar monozigot terhadap ukuran gigi dan
morfologi gigi.
2
Penelitian terhadap saudara kembar jelas menunjukkan hampir
separuh dari faktor yang mempengaruhi ukuran gigi adalah faktor keturunan yang
berperan untuk mengontrol ukuran gigi sewaktu proses odontogenesis.
27
Penelitian
tersebut berhasil membuktikan bahwa terdapat kesamaan ukuran dan bentuk gigi
pada kembar zigomatik.
2

Menurut Rakosi dkk., (1993) berdasarkan pengetahuan terkini, jaringan-
jaringan utama yang dapat mengalami deformitas dentofasial karena pengaruh
genetik antaranya termasuk gigi yang meliputi ukuran, bentuk, jumlah, mineralisasi
gigi, letak erupsi dan posisi benih gigi.
27
Berdasarkan kedua penelitian ini, dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara faktor genetik dengan ukuran
gigi.

c. Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin juga mempengaruhi ukuran lebar mesiodistal gigi.
Penelitian Stroud dkk., (1994) menunjukkan setiap gigi laki-laki mempunyai
diameter mesiodistal yang lebih besar dibandingkan dengan perempuan akibat
penebalan lapisan dentin. Dalam populasi manusia saat ini, mahkota gigi laki-laki
adalah lebih besar dibanding perempuan. Hal ini disebabkan oleh periode proses
amelogenesis yang panjang pada gigi desidui dan permanen laki-laki, sehingga dapat
disimpulkan bahwa ukuran gigi sangat dipengaruhi oleh jenis kelamin, dimana
ukuran gigi laki-laki lebih besar dibandingkan dengan perempuan.
2,27

Universitas Sumatera Utara
22



d. Lingkungan
Lingkungan turut memainkan peranan dalam keragaman genetik untuk terus
memberi variasi dalam ukuran gigi. Menurut Selmer-Olsen (1949), walaupun ukuran
gigi dikontrol oleh faktor genetik tetapi ia turut dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Ukuran gigi manusia akan terus bervariasi selama berlangsungnya evolusi manusia
yang dimulai pada gigi molar diikuti gigi anterior. Baillit (cit.Green Thompson)
menyatakan variasi ukuran gigi merupakan pencerminan proses evolusi yang sedang
berlangsung dan ukuran gigi terkait dengan faktor genetik, sedangkan faktor
lingkungan setelah kelahiran hanyalah sedikit pengaruhnya. Faktor lingkungan yang
dimaksudkan adalah nutrisi.
2


2.5 Ras Deutro-Melayu
Populasi masyarakat Indonesia didominasi oleh ras Paleomongolid yang
disebut ras Melayu. Ras Paleomongolid ini terdiri atas Proto-Melayu (Melayu tua)
dan Deutro Melayu (Melayu Muda). Antropologi Fisher (1991) berpendapat bahwa
antara tahun 2000 S.M, kelompok Proto-Melayu lebih dulu datang ke Indonesia
daripada kelompok Deutro-Melayu. Kelompok Proto-Melayu mula-mula menempati
pantai-pantai Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan Sulawesi Barat yang kemudian
terdesak oleh kelompok Deutro-Melayu. Kelompok Deutro-Melayu datang sekitar
tahun 1500 S.M.
24,27

Proto-Melayu mencakup Batak, Gayo, Sasak dan Toraja sedangkan yang
termasuk Deutro-Melayu adalah orang-orang Aceh, Minangkabau, Sumatera Pesisir,
Rejang Lebong, Lampung, Jawa, Madura, Bali, Bugis, Manado pesisir, Sunda kecil
timur dan Malayu.
12,30
Orang Jakarta (Betawi), Borneo Melayu, Banjar dan penduduk
pesisir Sulawesi adalah campuran Deutro dan Proto-Melayu.
24,27

Ciri fisik kedua kelompok ini sangat berbeda. Menurut penelitian Jacob
bahwa adanya perbedaan bentuk bagian-bagian kepala/ wajah antara kedua ras
Universitas Sumatera Utara
23



tersebut. Buditalism (2004) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara tinggi
wajah total orang batak dan orang jawa. Kelompok Proto-Melayu memiliki bentuk
kepala yang panjang (dolichocephalic) sedangkan kelompok Deutro-Melayu
memiliki bentuk kepala yang pendek (brachycephalic).
24
Ukuran lebar mesiodistal
dan lengkung gigi pada kedua kelompok ras ini juga berbeda.
5






Universitas Sumatera Utara
24



Faktor yang
mempengaruhi ukuran
mesiodistal gigi

Analisa ruang pada
masa gigi bercampur

2.6 KERANGKA TEORI

























Perkembangan gigi manusia
Pra dental Desidui Bercampur Permanen
Fase Transisi
Pertama
Fase
Intertransisi
Fase Transisi
Kedua
Leeway space
Radiografi

Kombinasi
Persamaan
regresi
(Moyers)

Genetik

Jenis Kelamin
Lingkungan
Ras
Mongoloid Kaukasoid

Negroid

Deutro-Melayu

Proto-Melayu

Prediksi nilai rata-rata Leeway space dengan
menggunakan tabel Moyers pada murid Sekolah
Dasar ras Deutro-Melayu di kota Medan

Universitas Sumatera Utara
25




2.7 KERANGKA KONSEP


















Keterangan:
Variabel tergantung
Variabel bebas
Variabel moderator
Variabel terkendali
Variabel tak terkendali
Ukuran dan bentuk gigi
Bahan cetak
Bahan pengisi cetakan
Waktu pengisian
cetakan
Genetik
Jenis kelamin
Lingkungan
Ras
Umur
Model studi dengan
kriteria inklusi
Besar Leeway space
Universitas Sumatera Utara