Anda di halaman 1dari 7

RANCANG BANGUN KONTROL SUHU DAN TIMBANGAN BERAT

BADAN OTOMATIS PADA INKUBATOR BAYI


UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Joko Setiono
1
, Heriyanto
2
, Samsul Hidayat
3
1
Mahasiswa Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang
2
Dosen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang
3
Dosen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang
Alamat e-mail: jsetiono78@gmail.com
Abstrak
Inkubator adalah alat untuk mempertahankan kehangatan bayi pasca lahir sehingga mampu
beradaptasi dengan lingkungan luar. Fitur utama sebuah inkubator yaitu pengaturan suhu ruang, dengan
tujuan untuk mempertahankan suhu bayi agar tidak jatuh pada hipotermi. Namun pada bayi prematur tidak
cukup pengaturan suhu yang ketat saja, tetapi banyak prosedur-prosedur lain diantaranya adalah memantau
berat badan secara berkala sebagai indikator untuk mengetahui perkembangan kesehatan bayi. Dari itu
perlu dibuat sebuah inkubator dengan pengontrol suhu elektronik dan dilengkapi sistem penimbang berat
badan yang memudahkan paramedis untuk memantau perkembangan berat badan bayi dalam inkubator
tersebut.
Perancangan sistem ini bertujuan memperoleh rancang bangun pengontrol suhu ruang inkubator
dengan kontrol on-off pada kisaran 31
0
C-36
0
C dan rancang bangun timbangan berat badan otomatis pada
kisaran 0Kg-5Kg.
Model penelitian menggunakan jenis penelitian Research and Development dengan prosedur
merumuskan potensi masalah, mengumpulkan informasi, mendesain produk awal, melakukan validasi alat,
memperbaiki kekurangan desain alat setelah validasi dan melakukan ujicoba produk baru. Perancangan alat
ini menggunakan sensor suhu LM35, elemen pemanas Nikelin dan kipas DC 12V sebagai pengendali suhu
ruang inkubator, sedangkan untuk timbangan berat badan menggunakan sensor Load Cell.
Dari Hasil pengujian sistem diketahui bahwa sistem dapat membaca kondisi suhu ruang dan berat
badan bayi. Dalam ruang inkubator diperoleh rata-rata kesalahan sebesar 0.16% dengan kesalahan
terbesar 0.32% pada sistem pengukur suhu, dan diperoleh rata-rata kesalahan sebesar 0.29% serta
kesalahan terbesarnya adalah 9,49% pada sistem pengukur berat bayi. Dengan demikian sistem pengontrol
suhu dan timbangan berat badan otomatis pada inkubator bayi berbasis mikrokontroler ATMega16 sudah
layak digunakan.
Kata Kunci : Inkubator, Sensor Suhu, Load Cell, ATMega16

I.Pendahuluan
Berdasarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia tahun 2007, angka kematian
bayi di Indonesia sebanyak 34 setiap 1000
kelahiran hidup (SDKI tahun 2007). Kematian
bayi dan balita sebagian besar terjadi pada bayi
baru lahir atau neonatal (0-28) hari. Adapun
masalah neonatal yang terjadi meliputi Asfiksia
(kesulitan bernapas saat lahir), Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR), dan infeksi.
Bayi dengan berat badan lahir rendah
(BBLR) cenderung mempunyai masalah seperti
kesulitan bernafas, masalah pada susunan saraf
dan organ organ penting karena ketidakmatangan
sistem organ (Maryunani dkk : 2009). Maka dari
itu harus selalu dipantau terus perkembangan
berat badannya. Hal ini bertujuan mengetahui
apakah bayi sudah mempunyai berat badan normal
yang merupakan indikator bayi itu sudah sehat.
Penimbangan berat badan yang sangat
ketat merupakan salah satu prosedur atau
penatalaksanaan terpenting pada BBLR, dimana
perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi
bayi yang erat kaitanya dengan daya tahan tubuh
(Rukiyah, dkk : 2010).
Kematian bayi pada minggu pertama
(neonatal) setelah kelahiran menyumbang nilai
angka masih tinggi sekitar 19 setiap 100 kelahiran
hidup (SDKI Tahun 2007). Hal ini
mengindikasikan masih lemahnya dukungan
pelayanan medis pada kesehatan bayi pasca lahir.
Pasca lahir terutama bayi prematur sangat rentang
terjadi hipotermi dan infeksi, sehingga perlu suatu
tempat atau ruang untuk menjaga suhunya secara
ketat. Tempat atau ruang ini di dunia medis sering
disebut dengan inkubator bayi.
Penggunaan inkubator bayi di Indonesia
pada umumnya masih didominasi dengan
inkubator lokal, dimana pengaturan masih
sederhana yaitu, panasnya dihasilkan dari lampu
pijar tanpa pengontrol suhu yang berakibat
suhunya tidak stabil. Di sisi lain, sampai saat ini
belum ada inkubator yang sudah dilengkapi
timbangan berat badan digital, sehingga
penimbangan masih dilakukan di luar inkubator
secara manual. Hal inilah yang dirasa masih
kurang mendukung dalam hal efesiensi
penggunaan inkubator lokal. Kenyatannya
inkubator lokal masih sangat mendominasi di
indonesia khususnya wilayah pelosok-pelosok
yang masih jauh dalam pengguanaan teknologi
elektronik, karena pembelian alat ini sangat
terjangkau sekitar 1-2 juta dibandingkan dengan
inkubator import berteknologi tinggi yang
harganya sekitar 125 juta ke atas.
Inkubator import memang mempunyai
keunggulan teknologi tersendiri antara lain
pengaturan suhu otomatis, terapi sinar UV,
pengontrolan supply oksigen, perekam jantung
EKG, dan kebutuhan lain bayi yang prematur akut.
Penggunaan inkubator ini masih dipelopori rumah
sakit besar namun tidak untuk klinik bersalin di
daerah pedesaaan. Pembelian dan perawatan
inkubator ini sangat mahal, disamping itu
kelebihan atau fitur-fiturnya kurang dibutuhkan
untuk klinik pedesaan yang mayoritas hanya
menangani bayi lahir normal atau bayi prematur
biasa.
II. Teori
A. Sensor Suhu LM35
LM35 merupakan sensor suhu dengan
tegangan keluaran linier tehadap suhu dalam
derajat celcius (
0
C ). Komponen semikonduktor ini
sangat presisi, dan memiliki resolusi sebesar 10
mV/
0
C dengan rentang daya operasi antara 4 Volt
hingga 30 Volt. (Nailul,2011:8).
Gambar 1 Sensor suhu LM35 (Sumber:
National Semiconductor)
Sensor suhu LM35 memiliki spesifikasi
sebagai berikut :
1. Dikalibrasi langsung dalamcelcius.
2. Memiliki faktor skala linier +10.0 mV/
0
C.
3. Memiliki ketepatan 0,5
0
C pada suhu +25
0
C.
4. Memiliki jangkauan maksimal suhu antara -
55
0
C sampai dengan +150
0
C.
5. Sesuai untuk aplikasi jarak jauh.
6. Memiliki harga yang cukup murah.
7. Dapat bekerja pada tegangan catu 4 sampai 30
Volt.
8. Arus yang mengalir kurang dari 60A.
9. Self heating yang rendah yaitu 0,08
0
C.
10. Impedansi output sebesar 0,1 untuk arus 1
mA

B. Strain Gauge Load Cell
Strain gauge Load Cell adalah sensor
yang digunakan mengubah tekanan menjadi signal
elektrik, hal ini karena adanya perubahan resistansi
dengan sebuah tekanan dalam bentuk deformasi
(regangan). Load Cell terdiri dari 4 susunan Strain
Gauge dengan konfigurasi jembatan Wheatstone.
Keluaran signal listrik hanya beberapa milivolt
sehingga memerlukan penguat instrumentasi
diferensial sebelumdapat digunakan (Willy:2011)

C. Penguat Instrumentasi
Isyarat analog yang dihasilkan oleh suatu
sensor atau tranduser biasanya mempunyai nilai
yang amat kecil oleh karena itu diperlukan suatu
penguat khusus yang dapat memperkuat isyarat
tersebut dengan tepat. Penguat instrumentasi
adalah suatu penguat loop tertutup (closed loop)
dengan masukan diferensial. Fungsi utama
penguat instrumentasi adalah memperkuat
tegangan yang keluar dari suatu sensor atau
tranduser secara tepat dan akurat. Salah satu
penguat instrumentasi yang bermutu tinggi adalah
penguat Burr-Brown INA125 yang memiliki
spesifikasi sebagai berikut:
1. Tegangan referensi yang presisi yaitu 1.24V,
2.5V, 5V, dan 10V.
2. Ada fasilitas Sleep Mode
3. Tegangan Opset yang rendah : 250V max.
4. Offet Drif rendah : 2V/
0
C max.
5. CMRR tinggi 100dB.
6. Noise yang rendah 38nV/Ez pada frekuensi
1KHz
Penguat instrumentasi ini sudah terbentuk dalam
satu paket IC yang berfungsi memperkuat signal
keluaran dari Load Cell. Adapun tegangan
keluaran dari penguat ini dapat dihitung dengan
persamaan:
I
0
=(I
IN
+
I
IN
-
)0
0 =4+
60K0
R
u


D. Penguat Non Inverting
Rangkaian yang akan dijelaskan dan
dianalisa dalamtulisan ini akan menggunakan
penguat operasional yang bekerja sebagai
komparator dan sekaligus bekerja sebagai penguat.

Gambar 2 Rangakaian Penguat Non-Inverting

Signal keluaran penguat jenis ini sefase dengan
signal masukannya. Adapun besar penguatan dari
penguat ini adalah:
A
v
=
(R1+R2)
R1

A
v
=1+
R2
R1



E. Penyangga Buffer
Rangkaian penyangga atau (buffer)
memiliki impedansi input yang tinggi dan
impedansi output yang rendah. Dengan
memberikan nilai R
nput
= dan R
]
=0 maka
kaki input inverting dengan kaki output terhubung
singkat maka perolehan tegangan output yang
dihasilkan sebagai berikut:
A

=1+
0

=1

Gambar 3 Rangkaian Penyangga

F. Mikrokontroler ATMega 16
ATMega 16 mempunyai adalah salah satu
produk AVR yang mempunyai spesifikasi sebagai
berikut:
1. Mikrokontroler AVR 16 bit yang memiliki
kecepatan yang tinggi, dengan daya rendah.
2. Arsitektur RISC dengan troughput mencapai
16 MIPS pada frekuensi 16MHz.
3. Memiliki kapasitas flas memori 16 Kb,
EEPROM 512 Kb, dan SRAM 1 Kb.
4. Saluran I/O sebanyak 32 buah, yaitu port A,
port B, port C, dan port D.
5. CPU terdiri 32 buah register.
6. Unit interupsi internal dan eksternal.
7. Port USART untuk komunikasi serial.
8. Fitur peripheral
a. Tiga buah timer/counter
b. Real timer counter dengan osilator
terpisah.
c. 4 chanel PWM
d. 8 chanel 10 bit ADC
e. Byte-oriented two-wire Serial Interface
f. Programmable Serial USART
g. Watchdog Timer denganoscillator internal
h. On-chip Analog Comparator
III. Metode
Penelitian ini merupakan jenis penelitian
Research and Development dengan model
penelitian dan pengembangan menggunakan
model prosedural. Model prosedural adalah model
yang bersifat deskriptif yaitu memfokuskan pada
langkah-langkah yang harus diikuti untuk
menghasilkan suatu alat. Adapun langkah-
langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah tentang pengaturan suhu
dan timbangan berat badan otomatis pada
inkubator bayi.
2. Mengumpulkan informasi tentang sensor suhu,
sensor massa, penguat instrumentasi, penguat
operasional, sistem pengendalian
menggunakan mikrokontroler dan sistem
penampilan data.
3. Mendesain produk awal dengan membuat
diagram blok sistem dan diagram alur
pemprogaman kontrol suhu dan timbangan
berat badan otomatis.
4. Melakuakan validasi sistem pengontrol suhu
dengan termometer raksa dan menvalidasi
timbangan berat badan dengan neraca digital.
5. Memperbaiki desain setelah melakukan
validasi.
6. Melakukan uji coba produk.

A. Desain Hardware

Gambar 4 Diagram Blok Hardware

1. Skematik LM35 dan Buffer
Gambar 5 berikut menunjukkan bahwa
sensor suhu LM35 masuk dalam rangkaian
penyangga (buffer) agar tegangan keluaran sensor
tidak jatuh. Kemudian keluaran dari rangkaian
penyangga masuk dalampenguat non-inverting

Gambar 5 Rangkaian LM35 dan Buffer

2. Skematik Penguat Non-Inverting
Gambar 6 ini menunjukkan sekema
rangkaian penguat tak membalik (non-inverting)
dimana masukan penguat dari keluaran rangkaian
penyangga, sedangkan keluaran rangkaian penguat
ini yang akan masuk pada Port A.1 yaitu masukan
ADC ATMega16

Gambar 6 Rangkaian Penguat Non-Inverting



3. Skematik Penguat Instrumentasi
Gambar 7 ini menunjukkan skematik
rangkaian penguat instrumentasi dari IC INA125,
masukan dari penguat ini berasal dari tegangan
keluaran sensor Load Cell yang sangat rendah. IC
INA125 ini juga dilengkapi tegangan suply
referensi yang sangat setabil bagi Load Cell.
Keluaran renagkaian penguat ini akan masuk pada
Port A.0 yaitu masukan ACD ATMega 16.

Gambar 7 Rangkaian Penguat Instrumentasi

4. Skematik LCD
Gambar ini menunjukkan rangkaian
tampilan LCD 16x2 yang terhubung pada Port C
ATMega 16.

Gambar 8 Rangkaian LCD

5. Skematik Keypad
Pada gambar berikut ini menunjukkan
rangkaian Keypad. Pada kolom1-3 dikendalikan
oleh Port A 7-5, sedangkan pada baris 1-4 menjadi
masukan Pin A 4-2 dan Pin B.0.

Gambar 9 Rangkaian Keypad
6. Skematik Driver Pemanas
Gambar 10 berikut ini menunjukan
skematik rangkaian dari driver pemanas yang
menggunakan optoisolator MOC 3021 sebagai
pemisah tegangan jala-jala dengan mikrokontroler.
MOC 3021 dikendalikan oleh Port D.7
ATMega16, sedangkan triac mengendalikan on-off
dari elemen pemanas.

Gambar 10 Rangkaian Driver Pemanas

7. Skematik Driver Kipas DC
Pada 11 gambar ini menunjukan
rangkaian driver kipas DC 12V. Driver ini
digunakan untuk kipas pendorong udara panas
pada elemen pemanas dan kipas penghisap udara
panas dari ruang inkubator menuju keluar.
Rangkaian ini dikendalikan oleh Port D.6 untuk
kipas pendorong udara panas dan Port D.5 untuk
kipas penghisap.

Gambar 11 Rangkaian Driver Kipas DC 12V

8. Driver Buzzer
Pada 12 gambar ini menunjukan
rangkaian driver Buzzer yang dikendalikan oleh
mikrokontroler pada Port D.4



Gambar 12 Rangkaian Driver Buzzer






9. Skema ATMega16
Pada gambar berikut adalah rangkaian
mikrokontroler sebagai pengendali sistem
keseluruhan menggunkan supply tegangan 5V dan
crystal 11059200Hz

Gambar 13 Rangkaian Sistem Minimum
ATMega 16

10. Keseluruhan Alat



























B. Desain Sofware
Berikut ini adalah gamabr bagan
pembuatan sofware kontrol suhu dan timbangan
berat badan menggunakan sofware Algoritma
Builder for AVR 5.44

Gamabar 14 Bagan Program Kontrol Suhu
dan Timbangan Berat Badan Otomatis pada
Inkubator Bayi





















IV. Hasil dan Pembahasan Penelitian
Tabel 1 Hasil Pengujian Sensor Massa
Keseluruhan
Neraca
(gram) Alat (gram)
Ralat
Relatif (%)
100 131 9.49
200 203 0.53
300 300 0
400 397 0.27
500 501 0.07
600 599 0.06
700 702 0.1
800 793 0.31
900 897 0.12
1000 995 0.18
1100 1098 0.06
1200 1196 0.12
1300 1300 0
1400 1397 0.08
1500 1501 0.02
1600 1598 0.04
1700 1702 0.04
1800 1799 0.02
1900 1903 0.06
2000 2000 0
2100 2104 0.07
2200 2202 0.03
2300 2299 0.02
2400 2403 0.04
2500 2500 0
2600 2604 0.05
2700 2701 0.01
2800 2805 0.06
2900 2903 0.04
3000 3000 0
3100 3104 0.05
3200 3201 0.01
3300 3305 0.05
3400 3402 0.02
3500 3500 0
3600 3603 0.03
3700 3707 0.07
3800 3805 0.05
3900 3902 0.02
4000 4006 0.05
4500 4506 0.05
5000 5005 0.04
Tabel 2 Hasil Pengujian Sensor Suhu Keseluruhan
Termometer
Raksa Alat
Ralat Relatif
(%)
25 25.1 0.14
26 25.9 0.14
27 26.9 0.13
28 27.9 0.13
29 29.1 0.12
30 29.8 0.24
31 31.2 0.23
32 31.8 0.22
33 32.7 0.32
34 33.9 0.1
35 34.8 0.2
36 36 0

Secara keseluruhan sistem ini dimulai
dengan membaca ADC0 sebagai keluaran sensor
massa dan ADC1 sebagai keluaran sensor suhu,
kemudian ditampilkan ke LCD yang berisi
informasi massa bayi, suhu dalam ruangan
inkubator dan suhu set.
Selanjutnya sistemmembandingkan suhu
ruangan inkubator yang terbaca oleh ADC1
dengan suhu set yang telah tersimpan dalam
memori SRAM mikrokontroler hasil dari seting
default ataupun hasil instruksi keypad. Apabila
suhu yang terbaca ADC1 < suhu set maka
PORTD.7 dan PORTD.6 berlogika 1 atau elemen
pemanas dan blower menyala dan PORTD.5
berlogika 0 atau kipas pendingin mati. Dan
sebaliknya apabila suhu yang terbaca ADC1
suhu set maka PORTD.7 dan PORTD.6 berlogika
0 atau elemen pemanas dan blower mati dan
PORTD.5 berlogika 0 atau kipas pendingin
menyala. Sistem juga dilengkapi alarm untuk
memberi peringatan apabila suhu inkubator lebih
dari 37
0
C yaitu PORTD.4 berlogika 1 atau buzzer
berbunyi.
Pada sistem yang dibuat pengukuran
massa bayi mempunyai ketelitian 7 gram dan tidak
valid pada beban di bawah 200 gram. Ketelitian ini
masih sangat layak digunakan karena mengingat
tidak ada massa bayi yang di bawah 100 gram
dimana massa bayi terendah yaitu bayi prematur
akut sebesar 400 gram.
Berdasarkan tabel 2 terdapat data ralat
rata-rata alat pengukur suhu sebesar 0,16% dan
berdasarkan tabel 1 yaitu perbandingan antara
massa yang diukur oleh neraca digital dan massa
yang diukur oleh alat didapatkan ralat rata-rata
0,29% dengan ralat terkecil 0% dan ralat terbesar
9,49% yaitu pada beban di bawah 200 gram. Dari
paparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa
alat sudah dapat bekerja dengan baik dalam
pengontrolan suhu dan timbngan berat badan
otomatis pada inkubator bayi.
V. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah
dilaksanakan bahwa rancang bangun pengontrol
suhu ruang dalaminkubator bayi dengan sensor
suhu LM35 telah tercapai sesuai harapan dengan
nilai kesalahan rata-rata 0,16% dan kesalahan
terbesar 0,32%.
Rancang bangun timbangan berat badan
menggunakan Load Cell dalampembuatan alat ini
juga sudah sesuai harapan dengan nilai kesalahan
rata-rata 0,29% dan ralat terbesar 9,49%.

VI. Saran
1. Menggunakan sensor suhu yang lain seperti
tipe SHT agar ketelitiannya menjadi lebih
baik.
2. Penelitian lebih lanjut pengontrolan dan
pemantauan banyak inkubator hendaknya
dapat dikendalikan dengan satu PC oleh user.
3. Hendaknya penelitian lebih lanjut pengaturan
suhu ruang inkubator dilakukan secara
otomatis sesuai berat badan bayi.
4. Hendaknya penelitian lebih lanjut dilengkapi
fasilitas rekam jantung, pengontrol
kelembaban, pengontrolan oksigen dan terapi
sinar UV pada inkubator bayi.
VII. Daftar Rujukan
Anonim. 2010. 8-Bit Microcontroler With 8K byte
In-System Programmable
Atmega8535. Atmel
Corp.(online),www.atmel.com/acrobat
/dac2502.pdf diakses 11 Februari
2013.
Ahcmad S., Purnomo. 2008. Sistem Kontrol
Temperature Tabung Inkubator Bayi
Menggunakan IC AT89C5. Jurnal
Media Elektrika, 1(1): 16-19.
Badan Pusat Statistik, 2012. Survei Demografi
Dan Kesehatan Indonesia 2007.
Kerjasama antara BPS, BKKBN,
Depkes, dan ORC Macro, Calverton,
MarylandUSA.
Fallah, Naillul. 2011. Pemanas Suhu Infus. Skipsi
tidak diterbitkan. Universitas Negeri
Malang.
Heri S., Suryono. 2009. Rancang Bangun Sistem
Pengatur Suhu Ruang Inkubator Bayi
Berbasis Mikrokontroler AT89S51.
Jurnal Berkala Fisika, 12(2):55-62.
Lab Elin, 2010. Petunjuk Praktikum Elektronika
Dasar 1. Malang: Fakultas MIPA
Universitas Negeri Malang.
Lab Elin, 2010. Petunjuk Praktikum Elektronika
Dasar 11. Malang: Fakultas MIPA
Universitas Negeri Malang.
Misbabollah. 2008. Rancang Bangun Alat
Pengukur Suhu Furnice Jarak Jauh
dengan Bantuan Telepon Sesuler
Melalui Aplikasi Mikrokontroler
AT89S52. Skripsi tidak diterbitkan.
Malang: Fakultas MIPA Universitas
Negeri Malang.
Panca, Gede. 2010. Perancangan Dan Pembuatan
Pengaturan Suhu Inkubator Bayi
Berbasis Mikrokontroler AT89S51.
Singaraja: Universitas Pendidikan
Ganesa
Priyadi N.P., Cahya T.P., Laksmono W., Sigit
S.2008. Analisis Faktor Status
Kematian Neonatal Studi Kasus
Kontrol di Kecamatan Losari
Kabupaten Brebes Tahun 2006. Jurnal
Promosi Kesehatan Indonesia, 3 (1):1-
9
Seiko Instrumen Inc. 1987. LCD Module M1632
User Manual. Printed in Japan.
Supriono, Edi, 2008. Elektronika Dasar 1.
Malang: Fakultas MIPA Universitas
Negeri Malang.
TimPenyiapan Naskah. 2010. Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah Edisi Kelima. Malang:
Universitas Negeri Malang.
TimPenyusun. 2009. Profil Kesehatan Indonesia
2008. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI
Tito Y., Dalyono M., Totok B. 2007.Rancang
Bangun Pengontrol Suhu Dan Level
Air Kepompong Ulat Sutra. Jurnal
Logika, 4(2):64-74.
Winarto. 2008. Rancang Bangun Sistem Kendali
Suhu dan Kelembapan Udara Penetas
Telur Ayam. Skripsi tidak diterbitkan.
Poli Teknik Negeri Lampung.
Winorto, Adi. 2008. Mikrokontroler AVR
ATmega8/32/16/8535 dan
pemprogamannya dengan bahasa C
pada winavr. Bandung: Jakarta.
Yohana S., Erwin B. L., 2010. Sistem
Penimbangan Otomatis Menggunakan
Mikrokontroler ATMega 16.
Electrical Enginering Joernal, 1(1):41-
52