Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang dalam ilmu
kenegaraan populer disebut sebagai dasar filsafat negara (philosofische Gronslag). Dalam
kedudukan ini Pancasila merupakan sumber nilai dan sumber norma dalam setiap aspek
penyelenggaraan negara. Konsekuensinya seluruh peraturan perundang-undangan serta
penjabarnya senantiasa berdasarkan nilai nilai yang terkandung dalam sila sila Pancasila.
Namun, saat ini penerapan pancasila sebagai sumber nilai dan sumber norma hanya
menjadi teori saja. masyarakat hanya mengetahui bunyi butir pancasila tanpa mengetahui
makna yang terkandung didalamnya. Pancasila hanya dijadikan suatu simbol tanpa ada
tindakan nyata bagi terciptanya masyarakat yang berbangsa dan bernegara.
Atas ilustrasi tersebut, dalam pembahasan tentang pancasila ini diharapkan dapat
menemukan atau memberikan contoh apasaja sikap yang dapat kita lakukan sesuai nilai
pancasila.

B. TUJUAN
Agar para pembaca dapat mengetahui dan mengerti tentang:
1. Pancasila sebagai sumber nilai
2. Pancasila sebagai sumber norma

























BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis Pancasila Sebagai Sumber Nilai
1. Pengert i an Ni l ai
Pada kamus ilmiah populer dijelaskan bahwa nilai adalah tentang apayang baik,
benar, bijaksana, dan apa yang berguna, sifatnya lebih abstrakdari norma.
Sedangkan Nursal Luth dan Daniel Fernandes mengatakanbahwa nilai adalah perasaan-
perasaan tentang apa yang di inginkan atau tidak diinginkan yang mempengaruhi perilaku
sosial dari orang yangmemiliki nilai itu. Nilai bukanlah soal benar atau salah, tetapi soal
di kehendaki atau tidak, disenangi atau tidak. Nilai merupakan
kumpulan sikap dan perasaan-perasaan yang selalu diperhatikan melalui perilaku oleh
manusia.
Dari beberapa pengertian nilai di atas, dapat dipahamibahwa nilai adalah kualitas kete
ntuan yang bermakna bagi kehidupan manusia perorangan, masyarakat, bangsa,
negara. Nietzche mengatakan nilai adalah tingkat atau derajat yang diinginkan oleh
manusia. Nilai yang merupakan tujuan dari kehendak manusia
yang benar sering ditata menurut susunan tingkatannya, dimulai dari bawah, yaitu nilai
hedonis (kenikmatan), nilai utilitaris (kegunaan), nilai biologis (kemuliaan), nilai diri estetis
(keindahan, kecantikan), nilai-
nilai pribadi (sosial, baik), dan yang paling atas adalah nilai religious (kesuciaan).

2. Ciri-ciri nilai
a. Nilai-nilai yang mendarah daging (internalized value)
Yaitu nilai yang telah menjadi kepribadian bawah sadar atau yang mendorong
timbulnya tindakan tanpa berfikir lagi. Bila dilanggar maka akan timbul perasaan malu
atau bersalah yang mendalam dan sukar dilupakan, misalnya orang yang taat beragama
akan menderita beban mental apabila melanggar salah satu norma yang ada dalam agamanya.
b. Nilai yang dominan
Merupakan nilai yang dianggap lebih penting daripada nilai-nilai lainnya. Tampak pada
pilihan yang dilakukan seseorang pada waktu berhadapan
dengan beberapa alternatif tindakan harus
diambil. Beberapa pertimbangan dominan atau tidaknya nilai tersebut adalah sebagai
berikut:
Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut
Lamanya nilai tersebut dirasakan anggota kelompok tersebut
Tingginya usaha untuk mempertahankan nilai itu.
Tingginya kedudukan (prestice) orang-orang yang membawakan nilai tersebut

3. Macam-macam Nilai
Nilai berhubungan erat dengan budaya dan masyarakat. Menurut prof. Dr. Notonegoro,
nilai dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur manusia.
b. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
mengadakan aktivitas.
c. Nilai kerohanian, y a i t u s e g a l a s e s u a t u y a n g b e r g u n a b a g i jiwa/ rohani
manusia.
B. Pengertian Pancasilaa
Pancasila telah menjadi istilah resmi sebagai dasar falsafahnegara Republik
Indonesia, baik ditinjau dari sudut bahasa maupundari sudut sejarah. Hai tersebut dapat
dilihat secara etimologis atausecara teminologi sebagimana penjelasan berikut,
1. Secara Et i mol ogi s
Berdasarkan asal kata, Pancasila berasal dari bahasa India, yakni bahasa Sansekerta.
Menurut Muhammad Yamin, Pancasila memiliki dua macam arti, yaitu Panca artinya lima,
syila dengan (i) biasa (pendek) artinya sendi, alas, atau dasar, syila dengan (i) panjang artinya
peraturan tingkah laku yang penting, baik,
dansenonoh. Kata sila dalam bahasa Indonesia menjadi susilaartinya tingkah laku baik.
2. Secara Terminologi
Pada 1 Juni 1945, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) perkataan Pancasila (lima asas dasar) digunakan oleh Presiden
Soekarno untuk memberi nama pada lima prinsip dasar negara yang diusulkannya.
Perkataan tersebut dibisikkan oleh temannya
seorang ahli bahasa yang duduk disamping Soekarno, yaitu Muhammad Yamin.

C. Rumusan Pancasila yang Sah
Rumusan Pancasila yang sah dan sistematika yang benarterdapat dalam Pembukaan
UUD 1945 yang telah disahkan olehPPKI pada 18 Agustus 1945. Presiden RI mengeluarkan
Instruksi No.12/1968
pada 13 April 1968. Dalam instruksi tersebutditegaskan bahwa tata urutan(sistematika) dan
rumusan Pancasila sebagai berikut:
1. Ketuhanan yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

D. Pancasila Sebagai Sumber Nilai
Bagi bangsa Indonesia, yang dijadikan sebagai sumber nilai dalamkehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah Pancasila. Ini
berarti bahwa seluruh tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara menggunakan
Pancasila sebagai dasar moral atau norma dantolak ukur tentang baik buruk dan benar
salahnya sikap, perbuatan, dantingkah laku bangsa Indonesia.Nilai-nilai pancasila itu
merupakan nilai intrinsik
yang kebenarannya dapat dibuktikan secara objektif, serta mengandung kebenaran yangu
niversal. Dengan demikian, tinjauan pancasila berlandaskan pada
tuhan, manusia, rakyat, dan adil sehingga nilai-
nilai pancasila memiliki sifatobjektif. Pancasila dirumuskan oleh para pendiri Negara yang
memuat nilai-nilai luhur untuk menjadi dasar Negara. Sebagai gambaran, di dalam
tata nilai kehidupan bernegara, ada yang disebut sebagai nilai dasar, nilaiinstrumental dan
nilai praktis.
1. Ni l a i d a s a r
Asas-asas yang kita terima sebagai dalil yang kuranglebih mutlak. Nilai dasar berasal dari
nilai-nilai kultural ataubudaya yang berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri, yaituyang
berakar dari kebudayaan, sesuai dengan UUD 1945 yang mencerminkan hakikat nilai
kultural.
2. Ni l ai i ns t rument al
Pelaksanaan umum nilai-nilai dasar, biasanya dalamwujud nilai social atau norma hukum,
yang selanjutnya akanterkristalisasi dalam lembaga-lembaga yang sesuai dengan kebutuhan
tempat dan waktu.
3. Ni l ai prakt i s
Nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalamkenyataan. Nilai ini merupakan bahan ujian,
apakah nilai dasar dan nilai instrumental sungguh-sungguh hidup dalammasyarakat atau
tidak.
Di dalam Pancasila tergantung nilai-nilai kehidupan berbangsa. Nilai-nilai tersebut adalah
nilai ideal, nilai material, nilai positif, nilai logis, nilaiestetis, nilai sosial dan nilai
religius atau kegamaan. Ada lagi nilaiperjuangan bangsa Indonesia dalam merebut
kemerdekaan RI. Nilai dalam pengembangan Pancasila adalah sebagai berikut:
1) Ketuhanan Yang Maha Esa
a. Percaya dan taqwa kepada Tuhan YME
b. Masing-masing atas dasar kemanusiaan yang beradab
c. Membina adanya kerjasama dan toleransi antarasesama pemeluk agama dan penganut kepe
rcayaankepada Tuhan YME
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
a. Tidak saling membedakan warna kulit
b. Saling menghormati dengan bangsa lain
c. Saling bekerja sama dengan bangsa lain.
d. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan

3) Pers at uan I ndones i a
a. Menempatkan persatuan kepentingan bangsa dannegara di atas kepentingan pribadi atau
golongan
b. Menetapkan keselamatan bangsa dan negara di ataskepentingan pribadi atau golongan
c. Bangga berkebangsaan Indonesiad.Memajukan pergaulan untuk persatuan bangsa

4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /
perwakilan
a. Mengakui bahwa manusia Indonesia memiliki kedudukandan hak yang sama
b. Melaksanakan keputusan bersama dengan penuhtanggung jawab dan itikad baik
c. Mengambil keputusan yang harus sesuai dengan nilaikebenaran dan keadilan

5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
a. Adanya hak dan kewajiban yang sama untuk
menciptakan keadilan social dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa atau dalam kehid
upan sehari-hari dan kehidupan bernegara.
b. Menjunjung tinggi sifat dan suasana gotong royongdengan rasa kekeluargaan dan penuh ke
gotongroyongan.
E. Pancasila sebagai sumber norma
Dalam filsafat Pancasila terkadung di dalamnya suatu pemikiran yang bersifat
kritis, mendasar, rational sistematis dan komprehesif, ini semua merupakan suatu nilai.
Sebagai suatu nilai Pancasila memberikam dasar-dasar yang bersifat fundamental dan
universal bagi manusia, baik untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun
bernegara. Adapun nilai-nilai itu akan dijabarkan dalam suatu norma-norma yang ada di
dalam masyarakat.

Norma-norma itu meliputi:
(1). Norma Moral, yakni norma (aturan, kaidah) yang berkaitan dengan tingkah laku
manusia (behavior) yang dapat diukur/dinilai dari baik atau buruk, susila atau tidak susila
serta sopan atau tidak sopan. Norma moral adalah sistem aturan yang berlaku bagi
manusia
yang bersumber dari setiap hati manusia (hati nurani) yang bekerja atas dasar kesadaran
manusia terhadap sekitarnya (consciousness), Manusia oleh Tuhan dikaruniai
kemampuan
untuk menimbang segala perbuatannya. Jika berbuat salah akan merasa bersalah (guilty
feeling) dan penyesalan yang mendalam. Didalam hati nurani terdapat fungsi yang sudah
ada sejak manusia lahir, kesadaran ini muncul bersamaan dengan proses perkembangan
kedewasaan seseorang.
Fungsi-fungsi itu, adalah: Index (petunjuk), Judex (menghakimi) dan Vindex
(merasakan hukuman), menurut Aristoteles didalam diri manusia ada keharusan dan
kesadaran moral untuk berbuat baik yang bersifat imperatif kategoris.

(2). Norma Agama, adalah sistem aturan (norma) yang diperoleh manusia berdasarkan
ajaran agama yang dianutnya, Sumber agama berasal dari Tuhan. Alat pengontrol agama
adalah janji, akan dapat pahala dan sorga kalau melaksanakan perintah Tuhan, dan sanksi
dosa dan neraka apabila melanggar aturan/ perintah Tuhan. Norma moral maupun norma
agama bersifat otonom artinya pelaksanannya tergantung pada individu masing-masing.
(3). Norma Etika atau Norma Sopan Santun (Tata Krama), adalah sistem aturan (norma)
hidup yang bersumber pada kesepakatan-kesepakatan (konsensus) yang diciptakan oleh dan
dalam suatu komunitas masyarakat pada wilayah tertentu. Ukuran norma etika adalah
kepatutan, kelayakan atau kepantasan yang tumbuh dalam komunitas wilayah tertentu.
Apabila terjadi pelanggaran norma, maka spontan masyrakat akan memberikan reaksi atau
respon berupa tindakan dan sekaligus memberikan hukuman/sanksi. Reaksi dan jenis
hukuman/sanksi beraneka ragam, tergantung pada kebiasaan yang berlaku yang merupakan
hasil kesepakatan. Norma etika yang berlaku pada setiap struktur masyarakat menjadi alat
pengontrol prilaku dari para anggotanya. Etika dalam kehidupan manusia bekerja secara
otonom, artinya efektif atau tidaknya tergantung pada hubungan antar sesama manusia.
Pengertian Etika:
Etika yang berasal dari kata: etos, etikos (Yunani) yang artinya adat kebiasaan,
yakni perilaku yang dilakukan terus menerus, yang kemudian diberi nilai: baik- buruk,
boleh dan tidak, pantas mauupun tidak pantas. Dari perspektif filsafat, etika adalah cabang
fiksafat yang mempelajari tingkah laku manusia dinilai. Dari segi baik dan buruk (right and
wrong) atau baik dan jahat (good and bad) yang dilakukan secara sadar, bebas dan
disengaja. Sebab prilaku yang dilakukan secara tidak sadar, tidak bebas dan tidak
disengaja, tidak boleh diberi sanksi, kalau toh diberi sanksi, maka sanksi yang diberikan

akan lebih ringan atau paling ringan .Istilah etika dalam kehidupan praktis menjadi kata:
etiket (sopan santun), kode etik (Kode etik jurnalistik, kode etik profesi), kode etik
kedokteran), sedangkan yang dimaksud kode etik adalah aturan-aturan yang berlaku dan
mengikat bagi semua anggota dalam suatu komunitas tertentu, misal komunitas jurnalis,
dokter.
Etika terdiri dari Etika Umum, yakni aturan/prinsip yang berlaku bagi setiap
tindakan manusia, dan Etika Khusus, yakni membahas prisip-prinsip yang ada hubungan
nya dengan pelbagai hidup manusia. Etika khusua terbagi menjadi etika individual yang
membahas kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri dan etika sosial yang membahas
kewajiban manusia terhadap manusia yang lain dalam hidup bermasyarakat. Beberapa
motivasi manusia berprilaku baik dan berprilaku buruk /jahat.
* Motivasi manusia berprilaku baik, antara lain:
a. Karena adanya kesadaran moral (hati nurani). Manusia berbuat baik, untuk
kebaikan itu sendiri (Immanuel .Kant: Imperatif Kategoris).
b. Karena takut akan sanksi yang diterimanya, karena sanksi /hukuman pada
hakekatnya adalah memberikan rasa yang tidak enak, tidak nyaman.
c. Karena merasa bahagia (senang).
d. Karena merasa berguna berguna (bermanfaat), menurut faham Utilitarisme.
e. Supaya dapat pujian, simpatis
f. Untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
g. Merasakan kedamaian dan ketentraman hidup.
* Motivasi manusia berprilaku buruk/ jahat, antara lain:
a. Karena keterpaksaan, merasa tidak ada jalan lain, walaupun sejatinya hidup
adalah pilihan.
b. Karena mudah dan cepat mencapai tujuan (menghalalkan segala cara).
c. Tidak takut akan sanksi yang diterimanya
d. Karena kebiasaan dan pengaruh lingkungan
e. Karena tidak tegak dan tegasnya aturan dan sanksi.
f. Meredup dan hilangnya hati nurani sehingga kedap terhadap penderitaan
orang lain.
Maka untuk menjaga:
1. Keberadaan dan tumbuhnya hati nurani di dalam hati, supaya kita, mau dan
berani untuk intropeksi, jawa: mulat sariro hangrosowani (mau dan berani memeriksa
bathin dan perbuatan kita, dan sekaligus berani menyalahkan dan memberi hukuman untuk
diri sendiri). Jika melakukan kesalahan, cepat diketahui dan cepat minta maaf dan bertobat
serta berjanji tidak akan mengulangi lagi.
2. Terhindar dari prilaku dosa dan buruk/jahat, kita harus selalu sadar bahwa kita
sebagai makhluk Tuhan dan malhluk beragama, maka sebagai konsekuensinya harus taat
hukum Tuhan (hubungan secara vertikal antara Tuhan dan manusia).


(4). Norma Hukum adalah sistem aturan (norma) yang diciptakan oleh lembaga kenegaraan
(Pemerintah/ DPR) yang ditunjuk berdasarkan mekanisme tertentu. Artinya hukum
diciptakan dan diberlakukan oleh institusi (lembaga) yang memiliki kompetensi dan
wewenang (otoritas) dalam membentuk dan memberlakukan hukum.
Hukum yang dimaksud di sini adalah hukum positif, artinya suatu norma yang
berlaku pada waktu tertentu dan daerah tertentu. Sering juga disebut hukum nomatif, kerena
memberikan hukuman dan sanksi yang jelas dan tegas. Hukum di Indonesia terdiri dari
Hukum Publik dan Hukum Privat. Hukum Publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan
antara negara dengan masyarakat/individu. hukum ini berupa Hukum Pidana , sedangkan
Hukum Privat, yaitu hukum yang mengatur hubungan individu dengan individu (personal)
yang lain. Wujud hukum privat di Indonesia adalah Hukum Perdata (Hukum Sipil).















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan dan saran
Pancasila sebagai sumber nilai dan norma dinegara ini, oleh karena itu kita harus bisa
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Agar tujuan dan makna dari pancasila benar-
benar berfungsi sebagaimana harusnya. Karena semuanya dimulai dari diri kita masing-
masing. agar terciptanya kondisi masyarakat yang aman, damai, tertib dan tentram.