Anda di halaman 1dari 45

Pemeriksaan Forensik Pada

Kasus Dugaan ABORTUS


PROVOKATUS KRIMINALIS

Oleh
a3
ANGGOTA KELOMPOK A3
Ni Nyoman Juli 10.2010.059
Debora Lusiana 10.2010.130
Melkior Antonius 10.2010.141
Nathania Suharti 10.2010.153
Reyner Sebastian Mulyadi 10.2010.193
Eunike 10.2010.203
Derry Setiawan 10.2010.236
Adventisia Maria N Manek 10.2010.337



SKENARIO
Anda kebetulan sedang berdinas jaga di laboratorium di
sebuah rumah sakit tipe B. seorang anggota polisi
membawa sebuah botol ukuran 2 liter yang disebutnya
sebagai botol dari sebuah alat suction curret milik
seorang dokter di kota anda. Masalahnya adalah bahwa
dokter tersebut disangka telah melakukan pengguguran
kandungan yang ilegal dan di dalam botol tersebut
terdapat campuran darah dan jaringan hasil suction.
Polisi menerangkan dalam surat permintaannya, bahwa
darah dan jaringan dalam botol berasal dari tiga
perempuan yang saat ini sedang diperiksakan ke Bagian
Kebidanan di rumah sakit anda. Penyidik membutuhkan
pemeriksaan laboratorium yang dapat menjelaskan
apakah benar telah terjadi pengguguran kandungan dan
apakah benar bahwa ketiga perempuan sedang diperiksa
di kebidanan adalah perempuan yang kandungannya
digugurkan oleh dokter tersebut. Hasil pemeriksaan
tersebut penting agar dapat dilanjutkan ke proses hukum
terhadap dokter tersebut.
Anda tahu bahwa harus ada komunikasi antara anda
dengan dokter kebidanan yang memeriksa perempuan-
perempuan diatas, agar pemeriksaan medis dapat
memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi
penyidikan dan penegakan hukum.
IDENTIFIKASI ISTILAH
-
RUMUSAN MASALAH
Seorang dokter dan tiga wanita tersangka
telah melakukan penguguran kandungan
secara ilegal
HIPOTESIS
Seorang dokter dan tiga wanita tersangka
telah melakukan penguguran kandungan
secara ilegal

ABORTUS
Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa
tindakan):
Abortus Imminens
Abortus insipiens
Abortus inkompletus

Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat), yaitu
menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup diluar
tubuh ibu. Abortus provokatus dapat dibedakan menjadi:
Abortus Provokatus
Medisinalis/Artificialis/Therapeuticus,
Abortus Provokatus Kriminalis. Abortus yang sengaja
dilakukan tanpa adanya indikasi medik (ilegal).

ABORTUS PROVOKATUS
KRIMINALIS
Sering terjadi pada kehamilan yang tidak dikehendaki.
Ada beberapa alasan wanita tidak menginginkan
kehamilannya:
Alasan kesehatan, di mana ibu tidak cukup sehat untuk hamil.
Alasan psikososial, di mana ibu sendiri sudah enggan/tidak
mau untuk punya anak lagi.
Kehamilan di luar nikah.
Masalah ekonomi, menambah anak berarti akan menambah
beban ekonomi keluarga.
Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan,
janin cacat.
Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau akibat incest
(hubungan antar keluarga).
Selain itu tidak bisa dilupakan juga bahwa kegagalan
kontrasepsi juga termasuk tindakan kehamilan yang tidak
diinginkan.

ABORTUS PROVOKATUS
KRIMINALIS
Pelaku Abortus Provokatus Kriminalis
umumnya:
Wanita bersangkutan.
Dokter atau tenaga medis lain (demi
keuntungan atau demi rasa simpati).
Orang lain yang bukan tenaga medis (dukun)

ABORTUS PROVOKATUS
KRIMINALIS
(Komplikasi)
PADA IBU
Perforasi
Luka pada serviks
uteri
Pelekatan pada
kavum uteri
Perdarahan
Infeksi

PADA JANIN
Meninggal
Cacat fisik.

ABORTUS PROVOKATUS
KRIMINALIS
(Metode)
KEKERASAN MEKANIK
UMUM
Latihan olahraga
berlebihan
Naik kuda berlebihan
Mendaki gunung,
berenang, naik turun
tangga
Tekanan / trauma pada
abdomen

KEKERASAN MEKANIK
LOKAL
Masukkan alat-alat yang
dapat menusuk kedalam
vagina
Alat merenda, kateter
atau alat penyemprot u/
tusuk atau semprotkan
cairan kedalam uterus u/
lepas kantung amnion
Alat untuk memasang
IUD
Alat yang dapat dilalui
arus listrik
Aspirasi jarum suntik

ABORTUS PROVOKATUS
KRIMINALIS
(Metode)
METODE
KIMIAWI/OBAT2N
Emmenagogum yaitu obat
untuk melancarkan haid.
Ex. Aloe, Potassium
permanganate,.
Purgativa / Emetica: obat-
obatan yang menimbulkan
kontraksi GI tract.
Ex. Aloe Castor oill
Ecbolica: menimbulkan
kontraksi uterus secara
langsung. Ex : Apiol, Ergot
Garam dari logam: Du/
timbulkan tonik kontraksi
pada uterus.
Ex. Arsenicum, Ferro
sulfate

KLINIK ABORSI
Dilatasi Dan kuret (D & C)
MR (Kuret dengan
penyedotan)
Peracunan dengan
menyuntikan larutan garam
pekat
Penguguran dengan
mengunakan kimia
protaglandin
Operasi bedah
kaisar/histerotomi
D&X (Intact dilatation &
extraction =partial birth
abortion)

ASPEK HUKUM
Menurut hukum-hukum di Indonesia, yang
menerima hukuman:
Ibu yg lakukan aborsi
Dokter/bidan/dukun yang melakukan aborsi.
Orang-orang yang mendukung terlaksananya
aborsi.

ASPEK HUKUM
(UU Terkait)
KUHP Pasal 346
Seorang wanita yang sengaja menggugurkan
atau mematikan kandungannya atau menyuruh
orang lain untuk itu, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat tahun.

KUHP Pasal 347
(1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan
atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa
persetujuannya, diancam dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya
wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling
lama lima belas tahun.

ASPEK HUKUM
(UU Terkait)
KUHP Pasal 348
(1) Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau
mematikan kandungan seorang wanita dengan
persetujuannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima tahun enam bulan.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita
tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama
tujuh tahun.
KUHP Pasal 349
Jika seorang tabib, bidan atau juru obat
membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal
346, ataupun melakukan atau membantu melakukan
salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347
dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu
dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut
hak untuk menjalankan pencarian dalam mana
kejahatan dilakukan.

ASPEK HUKUM
(UU Terkait)
UU HAM pasal 53
Setiap anak sejak dalam kandungan berhak untuk hidup,
mempertahankan hidup & meningkatkan taraf kehidupannya.
Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan Pasal 15
UU Kesehatan
(1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan
jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis
tertentu.
(2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) hanya dapat dilakukan:
a) Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya
tindakan tersebut.
b) Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung
jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli.
c) Dengan persetujuan ibu hamil ybs atau suami atau
keluarganya.
d)Pada sarana kesehatan tertentu.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diterapkan
dengan Peraturan Pemerintah.

ASPEK HUKUM
(UU Terkait)
Pasal 75 UU Kesehatan
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dikecualikan berdasarkan:
a) indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini
kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang
menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan,
maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan
bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b) kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan
trauma psikologis bagi korban perkosaan.
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat
dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra
tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang
dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis
dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.
ASPEK HUKUM
(UU Terkait)
Pasal 76 UU Kesehatan
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a) Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari
hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b) Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan
kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh
menteri;
c) Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d) Dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e) Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang
ditetapkan oleh Menteri

Pasal 77 UU Kesehatan
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang
tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta
bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

ASPEK MEDIKOLEGAL
(Ruang Lingkup)
Ruang lingkup
Pengadaan visum et repertum
Pemberian keterangan ahli pada masa
sebelum persidangan dan dalam
persidangan,
Kaitan visum et repertum dengan rahasia
kedokteran,
Penerbitan surat kematian dan surat
keterangan medik,
Pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka
(psikiatri forensik),
Kompetensi pasien untuk menghadapi
pemeriksaan penyidik.
ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
KEWAJIBAN DOKTER MEMBANTU PERADILAN
Pasal 133 KUHAP (mengatur kewajiban dokter untuk membuat
keterangan ahli)
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani
seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan
dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat
dan atau pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang
memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.

ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
Pasal 179 KUHAP
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya
sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib
memberikan keterangan ahli demi
keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk
saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan
ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan
keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-
benarnya menurut pengetahuan dalam bidang
keahliannya.

ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
HAK MENOLAK MENJADI SAKSI/AHLI
Pasal 120 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia
dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang
memiliki keahlian khusus.
(2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau
mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia
akan memberi keterangan menurut pengetahuannya
yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan
karena harkat serta martabat, pekerjaan atau
jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan
rahasia dapat menolak untuk memberikan
keterangan yang diminta.


ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
BENTUK BANTUAN DOKTER BAGI PERADILAN
DAN MANFAATNYA
Pasal 184 KUHAP
(1) Alat bukti yang sah adalah:
a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Petunjuk
e. Keterangan terdakwa
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu
dibuktikan
Pasal 186 KUHAP


Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan
di sidang pengadilan.


ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
Pasal 187 KUHAP


Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah
jabatan atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:
(1) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat
umum yang berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat
keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau
dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang
keterangannya itu.
(2) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam
tatalaksana yang menjadi tanggungjawabnya dan yang diperuntukkan
bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.
(3) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat
berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan
yang diminta secara resmi dari padanya.
(4) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi
dari alat pembuktian yang lain.
Pasal 65 KUHAP


Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan dan mengajukan saksi dan
atau seseorang yang mempunyai keahlian khusus guna memberikan keterangan
yang menguntungkan bagi dirinya.


ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
SANGSI BAGI PELANGGAR KEWAJIBAN DOKTER
Pasal 216 KUHP
(1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau
permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang
tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya.
Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak
pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan
ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua
minggu atau denda paling banyak Sembilan ribu rupiah.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang
menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara
waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak
adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga,
maka pidananya dapat ditambah sepertiga.
Pasal 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau
menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat
ribu lima ratus rupiah.

ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang
untuk menjadi saksi, ahli atau juru bahasa, dengan
sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang
menurut undang-undang ia harus melakukannya:
(1) Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya 9 bulan.
(2) Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman
penjara selama-lamanya 6 bulan.

Pasal 522 KUHP
Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai
saksi, ahli atau juru bahasa, tidak datang secara
melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling
banyak sembilan ratus rupiah.

ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
RAHASIA JABATAN
Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1966 tentang wajib
simpan rahasia kedokteran Pasal 1 PP No 10/1966
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala
sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam
pasal 3 pada waktu atau selama melakukan
pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.

Pasal 322 KUHP
(1) Barangsiapa dengan sengaja membuka rahasia yang
wajib disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik
yang sekarang maupun yang dahulu, diancam dengan
pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda
paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang tertentu,
maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan
orang itu.

ASPEK MEDIKOLEGAL
(Mengacu Pada UU)
PEJABAT YANG BERWEWENANG MEMI
NTA VISUM ET REPERTUM
Pasal 133 KUHAP: penyidik
Pasal 6 (1) KUHAP: Penyidik adalah
pejabat polisi sekurang-kurangnya
berpangkat ajun inspektur polisi tingkat
dua
KODEKI
4 kewajiban , yaitu kewajiban umum, kewajiban terhadap
pasien, kewajiban terhadap teman sejawat dan kewajiban
terhadap diri sendiri.
Bunyi pasal-pasal yang berhubungan dengan kasus ini
adalah:
(1) Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan sumpah dokter
(2) Seorang dokter harus berupaya melaksanakan
profesinya ssuai dengan standar yang tertinggi.
(3) Dalam melaksanakan pekerjaan kedokterannya, seorang
tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan
hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
KODEKI
4) setiap dokter harus, dalam setiap praktik medisnya,
memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan
kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih
sayang (compasion) dan penghormatan atas martabat
manusia.
(5) setiap dokter harus bersifat jujr dalam berhubungan
dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya mengingatkan
sejawatnya yang ia ketahui memiliki kerurangan dalam karakter
atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau
penggelapan, dalam menangani pasien.
(6) setiap dokter harus senantiasa mengingat akan
kewajiban melindungi hidup makhluk insani.

PEMERIKSAAN MEDIS
(Pada Ibu)
Anamnesis
Kapan mens terakhir?
Berapa lamakah siklus?
Kapan mennarche?
Apakah mempunyai pacar atau sudah menikah?
Apakah mempunyai anak sebelumnya, jika ada,
berapa orang dan usia anak paling muda.
Tanda-tanda kehamilan: perubahan pada
payudara, pigmentasi, hormonal
Tanda-tanda kekerasan

PEMERIKSAAN MEDIS
(Pada Ibu)
Pemeriksaan ginekologi
Inspeksi vulva
Inspekula.
Colok vagina :
Pada pemeriksaan bimanual uterus
Riwayat Ginekologi, riwayat penyakit/kelainan
ginekologi serta pengobatannya, menarche,
siklus haid, menopause, riwayat tiap kehamilan
sebelumnya.
Penentuan usia kehamilan/umur janin
PEMERIKSAAN
LABORATORIUM
Untuk membuktikan apakah seorang wanita hamil atau
tidak dapat dilakukan pemeriksaan
Pemeriksaan darah lengkap : << kadar Ht, Hb rendah.
Pemeriksaan trombosit : >>
Fibrinogen: lebih spesifik kepada missed abortion.
Pemeriksaan Urin : >> -hCG ( <<-hCG setelah 2-3
mnggu)
Pemeriksaan Pregnanediol : >> selama kehamilan &
<< ika terjadi aborsi & disfungsi plasenta.
Kadar Prolaktin dalam serum: adanya >> bermakna
bahwa wanita ini pernah hamil.
Pemeriksaan USG: lihat permukaan dinding rahim
setelah terjadinya curratage.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
(Hubungan tersangka dengan
barang bukti )
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan kimiawi
Pemeriksaan Spektroskopik
Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan toksikologi
Pemeriksaan Short Tandem Repeats
(STR)
hCG (human Chorionic Gonadotropin)

INTERPRETASI HASIL
Pada kasus aborsi provokatus, hasil pemeriksaan dapat
ditemukan:
Pada pemeriksaan medis, ditemukan tanda-tanda kekerasan
mekanik lokal pada organ reproduksi (uterus, vagina, serviks,
dsb) sebagai tanda adanya usaha aborsi provokatus.
Pada pemeriksaan toksikologi ditemukan adanya zat/obat
yang digunakan untuk membantu proses aborsi.
Pada pemeriksaan mikroskopik, ditemukan adanya sel
trofoblas (tanda kehamilan, tanda kerusakan jaringan akibat
usaha penghentian kehamilan), sel PMN (tanda intravitas).
Adanya peningkatan hormon hCG (human chorionic
gonadothropin).
Adanya kecocokan DNA tersangka dengan janin.
Hasil pemeriksaan pada ketiga korban:
Keadaan umum ketiga korban dalam keadaan lemas dan
pucat, tampak sakit ringan, terlihat dari pergerakan korban
yang lambat dan lemah.

INTERPRETASI HASIL
Pada pemeriksaaan tanda-tanda vital:
Ibu A : tekanan darah 105/70 mmHG, napas 17 kali per menit, nadi 85
kali per menit, suhu 36,5C
Ibu B : tekanan darah 105/70 mmHG, napas 18 kali per menit, nadi 80
kali per menit, suhu 37,0C
Ibu C : tekanan darah 110/70 mmHG, napas 16 kali per menit, nadi 90
kali per menit, suhu 37,0C.
Pada pemeriksaan kepala dan leher
Pada ibu A dan B tidak terlihat adanya kelainan, pada ibu C terlihat
adanya bercak kecokelatan yang tidak teratur di sekeliling mata dan
melintasi pangkal hidung.
Toraks dan paru-paru, tidak terdapat kelainan.
Jantung, frekuensi denyut jantung meningkat pada ketiga wanita.

INTERPRETASI HASIL
Pada pemeriksaan perut didapatkan:
Ibu A, perut terlihat membuncit, terdapat nyeri tekan pada perut bagian
bawah, tidak terdengar bunyi jantung janin.
Ibu B perut terlihat membuncit, terdapat nyeri tekan pada perut bagian
bawah, tidak terdengar bunyi jantung janin.
Ibu C perut terlihat membuncit, terdapat nyeri tekan pada perut bagian
bawah, tidak terdengar bunyi jantung janin.
Pada pemeriksaan bibir alat kelamin pada ketiga wanita terdapat memar
pada kedua sisi bibir kelamin.
Pada pemeriksaan leher rahim dan dinding dalam alat kelamin terdapat
perlukaan pada sisi kiri dan kanan dari dinding kelamin. Pada ketiga wanita
ditemukan adanya sisa jaringan konsepsi pada mulut rahim.

INTERPRETASI HASIL
Pemeriksaan payudara pada ketiga wanita didapatkan pembuluh darah
vena dapat terlihat lebih nyata, puting serta areola mammae berwarna
lebih gelap, dan kelenjar Montgomery tampak menonjol dan membesar
serta keluarnya kolostrum dari payudara.
Pemeriksaan alat kelamin bagian dalam nunjukan adanya nyeri pada
mulut rahim dan, tinggi rahim pada ibu A dan B satu jari di bawah pusar
dengan bentuk rahim bulat.
Sedangkan ibu C memiliki tinggi rahim dua jari di bawah pusat dan bentuk
rahim teraba bulat.
Pemeriksaan Hb, Ht dan laju endap darah. Pada ketiga korban terdapat
penurunan Hb dan Ht serta peningkatan LED.
Ibu A : Hb 11gr%, Hematokrit 30%, LED 30 mm/jam
Ibu B : Hb 9gr%, Hematokrit 28%,LED 35mm/jam
Ibu C : Hb 9gr%, Hematokrit 28%, LED 35 mm/jam
INTERPRETASI HASIL
Pemeriksaan bHCG pada ketiga wanita hasilnya positif.
Pada pemeriksaan mikroskopik adanya sel trofoblas yang tersisa
pada bagian dalam kelamin korban.
Cairan pada vagina hasil pemeriksaan mikroskopik cairan vagina
menunjukan adanya kandungan sisa hasil konsepsi.
Golongan darah ibu dari pemeriksaan ditemukan Ibu A memiliki
golongan darah A, Ibu B memiliki golongan darah AB dan Ibu C
memiliki golongan darah O.
Pemeriksaan toksikologi pada pemeriksaan toksikologi pada ketiga
korban ditemukan adanya kandungan magnesium sulfat dalam
jumlah tinggi.
Pemeriksaan DNA pada ketiga wanita dengan menggunakan
pemeriksaan DNA mitokondria menghasilkan masing-masing wanita
memiliki separuh pita yang cocok dengan masing-masing DNA pada
hasil suction.
INTERPRETASI HASIL
Pemeriksaan pada sisa konsepsi atau hasil suction:
Pemeriksaan mikroskopik, menyatakan hasil darah tersebut merupakan darah
kelas mamalia dengan bentuk sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti.
pemeriksaan penyaring darah:
reaksi benzidin hasil positif, mungkin merupakan darah
reaksi fenoftalin hasil positif, mungkin merupakan darah
pemeriksaan penentuan darah
reaksi Wagenaar hasil positif menyatakan cairan tersebut pasti darah
pemeriksaan serologik dengan menggunakan tes reaksi cincin (reaksi presipitasi
dalam tabung) menhasilkan hasil positif berarti darah tersebut adalah darah
manusia.
Penentuan golongan darah, dalam campuran sisa konsepsi tersebut terdapat 3
golongan darah berbeda yaitu A, AB dan O.
Pada pemeriksaan DNA mitokondria dari hasil suction ditemukan 3 DNA berbeda
dengan masing-masing DNA memiliki separuh pita yang cocok dengan 3 wanita
yang tengah dicurigai melakukan aborsi.

VISUM ET REPERTUM
VISUM ET REPERTUM
VISUM ET REPERTUM
KESIMPULAN
Pengertian pengguguran kandungan menurut hukum adalah
tindakan menghentikan kehamilan atau mematikan janin
sebelum waktu kelahiran tanpa melihat usia kandungannya
dan juga tidak dipersoalkan apakah dengan pengguguran
kehamilan tersebut bayi lahir hidup atau mati. Pengertian
pengguguran kandungan secara hukum berbeda
pengertiannya dengan pengertian pengguguran kandungan
jika dilihat dari sisi kedokteran karena mengandung unsur
kesengajaan dan tidak mementingkan usia kehamilan.
Pada pembuktian diduga adanya pengguguran kandungan
dapat dilakukan dengan melakukan beberapa pemeriksaan,
seperti pemeriksaan laboratorium, ginekologi, serta fisik untu
memastikan apakah tersangka merupakan ibu dari janin yang
diduga hasil aborsi tersebut. Para dokter dan tenaga medis
lainnya, hendaklah selalu menjaga sumpah profesi dan kode
etiknya dalam melakukan pekerjaan. Apapun alasannya
selain untuk tindakan medis tertentu yang dapat
membahayakan nyawa ibu dan ataupun janin, tindakan aborsi
tidak boleh dilakukan.