Anda di halaman 1dari 3

VAGINOSIS BAKTERIAL

EPIDEMIOLOGI
BV merupakan penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada wanita usia subur.
Diperkirakan 16% dari wanita hamil di Amerika Serikat mungkin memiliki BV pada
waktu tertentu. Tingkat insidens BV sulit ditentukan dikarenakan tingginya angka
prevalensi infeksi asimptomatik dan kurangnya skrining. Faktor risiko meliputi
aktivitas seks pada usia dini, pasangan seks yang baru atau banyak, merokok,
douching atau penggunaan toilet bidet. Beberapa studi memperlihatkan adanya
peningkatan prevalensi di antara wanita yang melakukan aktivitas seks dengan
wanita, kemungkinan berdasarkan perpindahan flora vaginal pathogen yang
berhubungan dengan penggunaan lubricant dan sex toys vagina yang digunakan
bersama. Wanita yang belum pernah berhubungan seks sangat jarang terinfeksi.

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS
BV adalah suatu sindrom polimikrobial yang terjadi ketika adanya ketidakseimbangan
flora bakteri yang normal berada di vagina. Pergeseran terjadi dari lactobacilli yang
memproduksi hydrogen peroksida dan meningkatnya konsentrasi organisme bakteri
termasuk G. vaginalis, Mobiluncus sp., M. hominis, bakteri basil gram negatif
anaerob, yaitu Prevotella, Porphyromonas, dan Bacteroides, dan Peptostreptococcus
sp. Bakteri ini belum diketahui dapat dipindahkan melalui kontak seksual, dan
etiologi pasti belum dapat ditentukan.

PENEMUAN KLINIS: RIWAYAT DAN PEMERIKSAAN FISIS
Sebanyak 50%-75% wanita dengan BV dapat asimptomatik. Wanita dengan BV dapat
mengeluhkan adanya discharge vagina berbau amis, tipis, berwarna putih atau abu-
abu. Pruritis vulvo-vaginal dan inflamasi jarang ditemukan. Pada pemeriksaan fisis,
dapat ditemukan, cairan seperti susu, homogen, yang melapisi vagina.

UJI LABORATORIUM
Berdasarkan kriteria Amsel untuk mendiagnosis BV, tiga dari empat kriteria di bawah
diperlukan: (1) discharge vagina yang homogen, tipis; (2) tes whiff positif, yang
menghasilkan bau amis pada pencampuran cairan vagina dengan potassium
hidroksida 10%; (3) pH cairan vagina lebih dari 4,5; dan (4) Adanya clue cells (sel
epitel yang dilapisi bakteri) pada pemeriksaan mikroskopis. Clue cells, merupakan
indikator yang paling terpercaya dari BV, harus dibuat setidaknya 20% dari sel epitel
pada larutan saline. Diagnosis lainnya meliputi penggunaan pewarnaan Gram untuk
membedakan bakteri flora normal berupa basil gram positif dan lactobacilli dari
morphotype gram negative yang terlihat pada BV. Dikarenakan bermacam-macamnya
spesies bakteri, pemeriksaan kultur tidak dapat diperhitungkan dalam pemeriksaan
diagnostic. Namun, uji DNA (terutama VB III) dan tes immunochromatographic yang
baru saja berkembang (OSOM BVBlue) memperlihatkan tingginya konsentrasi G.
vaginalis, yang merupakan penunjang pada diagnosis ini.



KOMPLIKASI
BV telah dijelaskan sebagai salah satu faktor risiko untuk persalinan prematur pada
kehamilan. BV juga berhubungan sebagai faktor resiko untuk transmisi dan
diperolehnya HIV. Studi-studi menghasilkan data yang bertentangan tentang BV yang
dianggap sebagai resiko tinggi terjadinya neoplasia intraepitel servikal. Beberapa
studi menghubungkan BV dengan demam post partum, endometritis post partum,
komplikasi ginekologis post operasi, dan infeksi post abortal; namun, diperlukan lebih
banyak studi untuk mengetahui hubungan BV dan kemungkinan sekuelnya.

PROGNOSIS DAN PERJALANAN KLINIS
BV memiliki prognosis yang baik, dengan penatalaksanaan yang sesuai. Beberapa
infeksi dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Sebagian besar infeksi bersifat
asimptomatik, dan jarang berkomplikasi. Banyak komplikasi yang dilaporkan masih
diperdebatkan, jika benar merupakan sekuel dari BV. Infeksi rekuren juga telah
dilaporkan, dan diperlukan regimen pengobatan yang lebih lama untuk kasus tersebut.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan BV telah dirangkum dalam Box 205-6. Keuntungan yang diperoleh
dalam pengobatan BV pada wanita yang tidak sedang hamil adalah (1)
menghilangkan tanda dan gejala infeksi dan (2) mengurangi resiko komplikasi yang
infeksius setelah menjalani berbagai tindakan ginekologik (biopsi endometrial,
histerektomi, histerosalpingografi, pemasangan IUD, seksio caesar, kuret uterus, dan
aborsi). Pada wanita hamil, pengobatan BV dapat mengurangi resiko komplikasi
infeksius post partum, juga sebaik resiko pada kelahiran prematur.

BOX 205-6 PENGOBATAN VAGINOSIS BAKTERIAL
Metronidazole 500mg PO 2x/hari selama 7 hari, atau
Metronidazole gel, 0,75%, 5g intravaginal 1x/hari selama 5 hari, atau
Klindamisin Krim, 5%, 5g intravaginal qhs selama 7 hari
Pada wanita hamil:
Metronidazole, 250mg PO 3x/hari selama 7 hari, atau
Metronidazole 500mg PO 2x/hari selama 7 hari, atau
Klindamisin, 300mg 2x/hari selama 7 hari
Regimen alternatif
Tinidazole 2,0g oral 1x/hari selama 3 hari, atau
Tinidazole 1,0g oral 1x/hari selama 5 hari, atau
Klindamisin 300mg 2x/hari selama 7 hari, atau
Klindamisin ovul, 100g intravaginal qhs selama 3 hari

PENCEGAHAN
Pencegahan terbaik untuk penularan penyakit menular seksual adalah pantang
melakukan hubungan seksual, kecuali pada hubungan monogami. Namun, hal ini
bukan merupakan suatu saran yang pragmatis bagi sebagian mayoritas individu
saat ini. Sebesar 60% pelajar sekolah lanjut akan melakukan hubungan seksual
sebelum tamat sekolah. Pikiran tentang one night stand dan sex on the first
date telah umum ada di antara dewasa-dewasa muda; Pada individu yang
memiliki jangka hidup yang lebih lama akan mencari partner seksual baru di lain
hari. Sebagai alternatifnya, sangat penting bagi para klinisi untuk mengedukasi
pasien tentang bagaimana PMS dapat ditularkan, dan komplikasi jangka pendek
dan jangka panjang dari PMS tersebut, serta detail bagaimana melakukan
hubungan seksual yang lebih aman. Hal ini penting terutama pada individu yang
termasuk dalam kelompok beresiko tinggi. Skrining rutin untuk berbagai
penyakit kelamin perlu dilakukan oleh pekerja kesehatan, dengan begitu
penularan berkelanjutan dapat dikurangi.