Anda di halaman 1dari 10

TEORI KOGNITIVISME

DAN RELEVANSINYA TERHADAP PEMBELAJARAN BIOLOGI



MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Strategi Belajar Mengajar
yang dibina oleh Drs. Masjhudi, M.Pd

Oleh:
Kelompok 3 Offering B :
Afif Saifudin (120341421993)
Gupita Laksmi Pinasthika (120341421990)
Fetty Harianti (120341400023)
Alfiah Nur Ramadhani (120341421974)






UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
Agustus 2014
2

TEORI BELAJAR KOGNITIF
A. Pengertian Teori Belajar Kognitif
Kognitif merupakan salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum
kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan; pengetahuan (knowledge),
pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis),
evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk
mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan
kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda
dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang
diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada
dirinya.
Teori kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai
model kemampuan untuk mengoptimalkan suatu proses pemahaman terhadap suatu objek.
Teori kognitif menyatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan dirinya. Belajar merupakan
perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku
yang nampak.
Secara umum teori kognitif memiliki pandangan bahwa belajar atau pembelajaran
adalah suatu proses yang lebih menitik beratkan proses membangun ingatan, retensi,
pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek yang bersifat intelektualitas lainnya. Oleh
sebab itu, belajar juga dapat dikatakan bagian dari kegiatan yang melibatkan proses berfikir
yang sangat kompleks dan komprehensif.

B. Macam Teori Belajar Kognitif

Teori Gestalt
Teori Gestalt termasuk dalam kelompok aliran kognitif holistik. Teori gestalt ini
dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan Wertheimer. Menurut teori ini, belajar adalah
mengembangkan insight. Insight sendiri merupakan pemahaman terhadap hubungan
antarbagian di dalam suatu situasi permasalahan. Teori ini berbeda dengan teori behavioristik
yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan
3

atau mengingkari peran insight. Menurut teori Gestalt, insight ini merupakan inti dari
pembentukan tingkah laku.
Kohler melakukan percobaan dengan simpanse untuk membuktikan bahwa insight itu
merupakan inti dari pembentukan tingkah laku. Simpanse tersebut ditaruh dalam kandang.
Kemudian di dalam kandang disediakan tongkat, dan di luar kandang disediakan pisang.
Setelah dibiarkan beberapa waktu, ternyata simpanse berhasil mengambil pisang yang ada di
luar kandang dengan tongkat yang telah disediakan.
Dari percobaan tersebut, simpanse mengembangkan insight, artinya simpanse tersebut
dapat menghubungkan antara kandang, tongkat, dan pisang. Pisang adalah makanannya,
sementara dia ada di dalam kandang dan kesulitan untuk meraihnya. Di dalam kandang ada
tongkat yang dapat digunakan untuk meraih pisangnya. Dari sinilah makna belajar dapat
diambil, yakni belajar menangkap makna dan hubungan antara komponen yang ada di
lingkungannya.
Ciri dari insight adalah sebagai berikut :
1. Kemampuan insight seseorang tergantung pada kemampuan dasar orang tersebut,
dan kemampuan dasarnya tergantung pada usia dan posisi yang bersangkutan
dalam kelompoknya.
2. Insight dipengaruhi atau tergantung pada pengalaman masa lalunya yang relevan.
3. Insight tergantung pada pengaturan dan penyelidikan lingkungannya. Dari contoh
tersebut, simpanse tidak dapat meraih pisang di luar kandang bila di dalam
kandang tidak disediakan tongkat.
4. Pengertian merupakan inti dari insight. Melalui pengertian, manusia akan dapat
memecahkan persoalan.
5. Apabila insight ini telah diperoleh, maka dapat menghadapi persoalan dalam
situasi yang berbeda dari yang pernah dihadapi sebelumnya.
Nasution (1982) mengemukakan beberapa prinsip penerapan dari teori gestalt itu,
yakni :
1. Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Berbeda dengan teori-teori belajar behavioristik yang menganggap bagian-bagian
lebih penting dari keseluruhan, teori Gestalt menganggap bahwa justru
keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya
4

berarti apabila ada dalam keseluruhan. Sebuah kata akan bermakna manakala ada
dalam sebuah kalimat. Demikian juga kalimat akan memiliki makna apabila ada
dalam suatu rangkaian karangan.
Makna dari prinsip ini adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari
fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu
siswa dapat mempelajari fakta.
2. Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Mengandung arti bahwa membelajarkan anak bukan hanya intelektualnya saja,
tapi mengembangkan pribadi anak keseluruhan. Intelektual tidak ada artinya
apabila tidak diikuti dengan sikap baik dan pengembangan seluruh potensi yang
ada.
3. Belajar berkat insight
Insight merupakan pemahaman terhadap hubungan antarbagian dalam suatu
situasi permasalahan. Belajar akan terjadi jika dihadapkan pada suatu persoalan
yang harus dipecahkan. Belajar bukan menghafal fakta. Tapi melalui persoalan
itulah anak akan mendapat insight yang sangat bermanfaat untuk menghadapi
setiap masalah.
4. Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman merupakan kejadian penting yang dapat memberikan arti dan makna
kehidupan setiap perilaku individu. Belajar adalah memperbaiki pengalaman masa
lalu yang terus disempurnakan secara terus-menerus.
Contohnya saat tangan anak terkena api maka untuk berikutnya anak tersebut akan
lebih berhati-hati bila bermain dengan api, karena saat terkena api dia merasakan
panasnya api.
Teori Medan
Teori ini dikembangkan oleh Kurt Lewin. Teori ini sama seperti teori Gestalt yang
menganggap belajar adalah proses pemecahan masalah. Menurut Lewin, ada beberapa hal
yang berkaitan dengan proses pemecahan masalah, yaitu :
1. Belajar merupakan perubahan struktur kognitif. Setiap orang akan dapat
memecahkan masalah jika dia bisa mengubah struktur kognitif atau pola pikirnya.
Contohnya, setiap hari orang melewati jalan yang sama saat ke kantor, tapi suatu
ketika jalan itu rusak. Orang yang pola pikirnya tetap sama dan ingin
5

menggunakan jalan itu, pasti tidak akan sampai ke kantor. Namun orang yang
belajar akan berbalik arah dan mencari jalan lain untuk ke kantor yang dapat
dilewati dengan baik.
2. Pentingnya motivasi. Motivasi merupakan faktor yang dapat mendorong individu
untuk berperilaku. Motivasi muncul karena adanya daya tarik tertentu.
Contohnya ketika anak kecil yang belum bisa bersepeda akan mencoba dan
belajar hingga dia bisa. Hal ini dikarenakan teman sepermainan dia sudah bisa
bersepeda, dan dia ingin bersepeda bersama temannya.
Motivasi juga dapat timbul karena pengalaman yang menyenangkan.
Misalnya saja ketika anak menjadi juara kelas, dia akan senantiasa belajar lebih
giat dan rajin untuk mempertahankannya. Hal ini terjadi karena saat menjadi juara
kelas, si anak akan mendapat pujian dari orang di sekitarnya dan mendapat hadiah
dari orang tuanya.

Teori Belajar Brunner
Jerome S Brunner adalah seorang ahli pendidikan yang setuju dengan teori kognitif, hal
ini didasarkan atas asumsi bahwa pembelajaran adalah proses untuk membangun kemampuan
mengembangkan potensi kognitif yang ada dalam diri siswa. Perkembangan kualitas kognitif
ditandai dengan ciri-ciri umum:
a. Kualitas intelektual ditandai dengan adanya kemampuan menanggapi rangsangan
yang datang pada dirinya. Artinya, semakin mampu menanggapi rangsangan
semangkin besar peluang kualitas kognisi diwujudkan. Pembelajaran merupakan salah
satu upaya atau proses untuk melatih dan membimbing siswa dalam melakukan
tanggapan terhadap rangsangan yang datang ke dalam dirinya.
b. Kualitas atau peningkatan pengetahuan seseorang ditentukan oleh perkembangan
sistem penyimpanan informasi secara realis. Artinya semakin lama mampu
menyimpan informasi maka kualitas dan peningkatan pengetahuan akan mudah
diwujudkan. Pembelajaran merupakan salah satu proses untuk melatih dan
membimbing siswa agar memiliki kemampuan menyimpan informasi yang diperoleh
dari realitas lapangan.
c. Perkembangan kualitas kognitif bisa dilakukan dengan cara melakukan interaksi
secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua. Oleh sebab itu jaringan
kerja sama intensif antara sekolah, masyarakat dan orang tua menjadi penting dalam
6

konteks pembelajaran. Tri Sentra Pendidikan (tiga pusat pendidikan) perlu
dikembangkan secara komprehensif dan simultan agar pengembangan kualitas
intelektual (kognitif) siswa benar-benar dapat diwujudkan.
d. Kemampuan kognitif juga ditentukan oleh kemampuan dalam mendeskripsikan
bahasa, karena bahasa merupakan alat komunikasi manusia. Untuk memahami
konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa untuk mengkomunikasikan suatu konsep
kepada orang lain.
e. Kualitas perkembangan kognitif juga bisa ditandai dengan keterampilan untuk
menggunakan beberapa alternatif penyelesaian masalah secara simultan dan
melaksanakan alternatif sesuai dengan realitas.
f. Jerume S Brunner mengemukakan bahwa pembelajaran itu dipengaruhi oleh dinamika
perkembangan relitas yang ada disekitar kehidupan siswa. Asumsi ini lebih dikenal
dengan teori free discovery learning, artinya proses pembelajaran akan efektif dan
efesien jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu
konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang mereka jumpai
dalam kehidupannya.

C. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan kognitif
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif. Dalam Dahar
(2011 ; 141) menjelaskan beberapa faktor tersebut.
1. Fisik
Interaksi antara individu dan dunia luar merupakan sumber pengetahuan baru,
tetapi kontak dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan
pengetahuan kecuali jika intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman
tersebut.
2. Kematangan
Kematangan sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak
memperoleh manfaat secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan
membuka kemungkinan untuk perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan
membatasi secara luas prestasi secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan
kecepatan yang berlainan tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan
kegiatan belajar sendiri.


7

3. Pengaruh sosial
Lingkungan sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat
memacu atau menghambat perkembangan struktur kognitif
4. Proses pengaturan diri yang disebut ekuilibrasi
Proses pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari
individu dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan
perkembangan jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara
terpadu dan tersusun baik.

D. Tahapan Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
Menurut Piaget (dalam Dahar, 2011: 136-139) membagi perkembangan kognitif anak
ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan
usia:
1. Periode sensorimotor (usia 02 tahun)
2. Periode praoperasional (usia 27 tahun)
3. Periode operasional konkrit (usia 711 tahun)
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Periode-periode tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan
untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks
bawaan tersebut. Periode sensorimotor merupakan periode pertama dari empat
periode.
2. Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan
permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun, jenis yang
secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Dalam tahapan ini, anak belajar
menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata.
Pemikirannya masih bersifat egosentris : anak kesulitan untuk melihat dari sudut
pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri,
seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau
mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

8

3. Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam
sampai dua belas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai
4. Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori
Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan
terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya
kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik
kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat
memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu
hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun adagradasi abu-abu di antaranya.

E. Relevansi Teori Belajar Kognitif terhadap Pembelajaran
Mayers (1999) mengemukakan belajar dipandang sebagai perolehan pengetahuan. Hal
ini merupakan cerminan dari teori kognitif, yang didominasi oleh model memproses
informasi dari memori manusia. Pendekatan kognitivisme sering dipertentangkan dengan
pendekatan behaviorisme, namun tidak berarti psikologi kognitif anti terhadap aliran
behaviorisme. Hanya menurut para ahli kognitif, aliran behaviorisme belum lengkap sebagai
teori psikologi, sebab tidak memperhatikan proses kejiwaan yang berorientasi pada aspek
mencipta seperti berfikir dan mengambil keputusan.
Pada hakekatnya teori kognitif adalah sebuah teori pembelajaran yang cenderung
melakukan praktek yang mengarah pada kualitas intelektual peserta didik. Meskipun teori ini
memiliki berbagai kelemahan. Teori kognitif juga memiliki kelebihan yang harus
diperhatikan dalam praktek pembelajaran. Aspek positifnya adalah kecerdasan peserta didik
perlu dimulai dari adanya pembentukan kualitas intelektual (kognitif). Menurut Dimyati dan
Mudjiono (2002:18) belajar merupakan hal yang kompleks, kekompakan tersebut dapat
dipandang dari dua subyek yaitu siswa dan guru. Dari segi siswa, belajar dialami sebagai
suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Dari segi
guru, proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang suatu hal. Siswa adalah
penentu terjadinya atau tidaknya proses belajar.



9

Dari penerapan teori kognitivisme terhadap pembelajaran dapat direlevansikan
terhadap pembelajaran biologi antara lain.
Prinsip Teori Belajar dalam Pandangan Kognitivisme dan
Aplikasinya dalam Praktek Pembelajaran
Prinsip (Teori) Aplikasi (Praktek) Penerapan dalam Biologi
Pengetahuan diorganisasi
dalam memori
Pernyataan tujuan dari
pengajaran sebagai perilaku
si belajar
Dalam pengetahuan lingkungan
siswa diberi teladan agar
menjaga kelestarian lingkungan
misalnya tidak membuang
sampah sembarangan.
Belajar dipengaruhi oleh
pengetahuan siswa yang
ada atau sebelumnya
Secara hati-hati
menghubungkan informasi
baru dengan pengetahuan
yang dimiliki
Dalam materi sistem pencernaan
makanan, siswa SD hanya
mengetahui bahwa saat
makanan masuk ke mulut hanya
dicerna oleh gigi dan air liur.
Belajar dibuat oleh
komponen-komponen
proses seperti atensi,
penyandian, dan pencarian
keterangan
Penggunaan variasi teknis
untuk memadu dan
mendukung proses belajar
siswa, termasuk focus pada
pertanyaan, analogi tingkat
tinggi, mnemonic dan
perumpamaan
Menggunakan perumpaan untuk
menyampaikan materi kepada
siswa.
Tabel: Prinsip dan Aplikasi Teori dalam Pandangan Kognitivisme (Newby, Stepich, Lehman,
Russel, 2000).









10

DAFTAR RUJUKAN

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta : Erlangga.
Dimyati & Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mayers, David G. 1999. Social Psychology. McGraw-Hill College
Newby T.J, Stepich D.A, Lehman J.D, Russel J.D (2000). Instructional technology
for teaching and learning : Design intruction, intergrating computers, and using
media (2nd edd). Upper Saddle River, NJ: Merrill/Pretice Hall