Anda di halaman 1dari 16

Kerangka latar belakang

Judul : Gambaran kadar albumin pada penderita HIV


Paragraf 1 : prevalensi penderita HIV di Indonesia
Paragraf 2 : penderita HIV
Paragraf 3 : pola perilaku penderita HIV
Paragraf 4 : kebiasaan para penderita HIV
Paragraf 5 : akibat dari kebiasaan mereka
Paragraf 6 : pemeriksaan untuk HIV
Paragraf 7 : salah satunya pemeriksaan albumin
Paragraf 8 : peran albumin
Paragraf 9 : ketertarikan penulis
Identifikasi masalah
1. Prevalensi penderita HIV tinggi
2. Kurangnya pengawasan ortu terhadap pergaulan anak
3. ............dapat menyebabkan seseorang terinfeksi HIV
4. Kadar albumin rendah bermakna
5.
http://waodesalma.blogspot.com/
IKAN GABUS (Channa Striata) SEBAGAI
PROTEIN ALTERNATIF: PENINGKATAN
KUALITAS HIDUP HIV/AIDS

IKAN GABUS (Channa Striata) SEBAGAI PROTEIN ALTERNATIF:
PENINGKATAN KUALITAS HIDUP HIV/AIDS

Salma W
Dosen pada Fakultas Kedokteran Universitas Haluoleo Kendari

Abstrak
Pendahuluan
Ikan gabus merupakan salah satu ikan air tawar dan jarang dikomsumsi oleh masyarakat sehingga
belum memiliki nilai ekonomis penting. Namun ikan gabus memiliki potensi untuk dikembangkan
dalam penganekaragaman produk perikanan menjadi pangan fungsional, karena mengandung unsur
imunonutrien seperti protein albumin yang sangat tinggi, asam amino esensial lengkap dan mineral
Zn, Fe, berfungsi memperbaiki sel-sel jaringan tubuh yang rusak, memperbaiki status gizi dan
meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga dapat digunakan sebagai makanan sumber protein
alternatif dalam membantu meningkatkan kualitas hidup penderita HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini
untuk melihat pengaruh pemberian kapsul ikan gabus terhadap kadar albumin, Haemoglobin dan
status gizi pasien HIV/AIDS
Metode Desain
penelitian Quacy Experimental dalam bentuknonrandomized control group pre-post test design yang
dilakukan di RS. Wahidin Sudirohusodo Makassar,. Sampel 36 pasien dibagi dua kelompok menerima
makanan tinggi kalori tinggi protein dan kelompok Intervensi/kasus menerima tambahan suplement
kapsul ikan gabus 3x2 selama 14 hari. Status gizi pasien diukur menggunakan Antropometrik ,
asupan makanan mengunakan rekal makanan 24 jam dan dianalisa menggunakan WFood2. Kadar
hemoglobin mengunakan metode Cyamethemoglobin dan albumin darah
metodeCalorimetrik determination. Data dianalisis mengunakan Uji paired t-test dan independent t-
tes dengan nilai kemaknaan 0,05
Hasil Penelitian ini me
nunjukkan perbedaan yang bermakna, terjadi peningkatan kadar albumin sebesar 0,6 gr/dl dan
hemoglobin sebesar 1 gr% pada kelompok kasus, dibandingkan dengan kelompok Kontrol (albumin
0,1 dan Hb -0,4 gr%). Asupan energi meningkat secara bermakna 812 kcal Vs 362 kcal dan protein
28 gr Vs 13,2 gr. Demikian halnya dengan Status gizi, terjadi peningkatan berat badan yang
bermakna pada kelompokkasus dibandingkan dengan kontrol (meningkat sebesar 2.7 kg Vs
0,872 kg). Dapat disimpulkan, pemberikan kapsul ikan gabus sebagai protein alternative dapat
memperbaiki status gizi serta meningkatkan kadar albumin dan Hb pasien, shingga kualitas hidup
penderita HIV/AIDS semakin membaik.

Kata Kunci : Ikan gabus, HIV/AIDS, albumin, status gizi


I. PENDAHULUAN
Protein merupakan bagian dari zat kekebalan tubuh (anti bodi), dalam mempertahankan
tubuh terhadap infeksi (Kartasapoetra, 2005). Peran protein albumin untuk tujuan klinis semakin
penting bagi penderita yang terinfeksi HIV/AIDS, terutama untuk mencegah kekurangan energi
protein pasien rawat inap. Potensi terjadinya malnutrisi sangat tinggi terhadap infeksi berat dan
sepsis karena terjadi atrofi mukosa usus , penurunan aktifitas enzim pencernaan sehingga
mendorong terjadinya diare dan malabsorpsi. Diare dapat menyebabkan penurunan kadar Albumin
(Nasronuddin,2007).
Penderita HIV yang terinfeksi secara positif, terjadi pemecahan protein lebih cepat di dalam
tubuhnya sehingga kosentrasi albumin rendah namun dengan meningkatkan masukan energi
penderita yang terinfeksi HIV dapat memperbaiki imbangan protein (Jahor F. et al,2003).
Menurut Nicholas et al., (2003) melaporkan dalam studinya bahwa pemberian albumin dapat
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap strees dari infeksi HIV. Selanjutnya kesimpulan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Batterham, 2005 jika seseorang dengan infeksi HIV mempunyai status
gizi yang baik, maka daya tahan tubuh akan lebih baik sehingga memperlambat memasuki tahap
AIDS dan Kualitas hidup akan semakin membaik.
Dalam kajian ini, penulis memberi informasi tentang pentingnya pemanfaatan ikan gabus
sebagai sumber protein alternative,yang murah dan mudah diperoleh serta ikan gabus
megandung unsur imunonutrien penting, karena memiliki nilai gizi yang sangat berkualitas seperti
protein albumin, asam amino esensial lengkap dan mineral Zn, Fe, berfungsi memperbaiki sel-sel
jaringan tubuh yang rusak, memperbaiki status gizi dan meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga
dapat digunakan sebagai makanan sumber protein alternatif dalam membantu meningkatkan
kualitas hidup penderita HIV/AIDS.
A. Ikan Gabus Sumber Protein Alternatif
Ikan gabus (Ophiocephalus striatus) merupakan salah satu ikan air tawar yang hidup liar
dan masih jarang dikomsumsi oleh masyarakat luas, sehingga belum memiliki nilai ekonomis
penting. Namun memiliki khasiat yang sangat baik bila digunakan untuk meperbaiki dan
meningkatkan kesehatan, sehingga ikan ini memiliki potensi untuk dikembangkan dalam
penganekaragaman produk perikanan menjadi pangan fungsional dan diharapkan dapat
meningkatkan devisa dan kesejatraan nelayan.

Kandungan Protein ikan gabus segar dalam 100 gr sebesar 25,2 gr sedangkan bila
dikeringkan dalam 100 gr kandungan proteinnya meningkat menjadi 58,0 gr ( Taslim,
dkk,2005.) Hasil penelitian Cavallo (1998) menunjukkan bahwa dalam 100 cc ekstrak ikan gabus,
mengandung 6,2224 gram albumin dengan jumlah kalori 69 kal, protein 25,5 zat besi 0,9 mg, Zn 1,74
mg.
Keunggulan ikan gabus dalam meperbaiki dan meningkatkan kesehatan telah dibuktikan
oleh beberapa penelitian sebelumnya dan menunjukkan hasil bahwa ikan gabus dapat meningkatkan
kadar albumin pasien serta memperbaiki status gizi, yang di ikuti peningkatan konsumsi makan
melalui pemberian ekstrak dan Kapsul. Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Eddy, (2003) menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak dari ikan gabus perhari pada sejumlah
pasien yang memiliki kadar albumin rendah (1,8 g/dl), dapat meningkatkan kadar albumin darah
pasien menjadi normal, yakni 3,5 5,5 g/dl, tanpa efek samping setelah diberikan selama delapan
hari, dan membantu proses penyembuhan luka operasi lebih cepat.Taslim dkk., (2005) melaporkan
bahwa pemberian terapi albumin dengan ekstrak ikan gabus sebanyak 100 ml setiap hari pada
sejumlah pasien dengan hipoalbumin di RSU Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar selama 10 hari
telah dapat meningkatkan kadar albumin, status gizi dan konsumsi makan pada kelompok intervensi.
Rata-rata besar peningkatan kadar albumin sebesar 0.7 g/dl dibanding dengan kelompok
kontrol. Bila dibanding dengan parenteral albumin kemampuan menaikkan kadar albuminnya
sama Oleh karena itu alternatif pemberianalbumin ikan gabus sangat tepat. Selanjutnya hasil
penelitian Hidayanti, (2006) menunjukkan bahwa pemberian terapi Albumin dengan kapsul
kosentrat ikan gabus setiap hari selama 10 hari pada pasien pasca bedah yang hipoalbumin di RSU
Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar telah dapat meningkatkan kadar albumin rata-rata sebesar 0,74
gr/dl diikuti oleh peningkatan status gizi dibanding dengan kelompok kontrol.
B. Kualitas Hidup HIV/AIDS
Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS atau membunuh virus HIV
namun sudah ditemukan beberapa obat antiretroviral yang dapat menghambat perkembangbiakan
HIV. Selama belum ada obat yang efektif dan terjangkau oleh masyarakat, maka pengobatan
terutama ditujukan untuk penyakit penyertanya dengan tujuan mempertahankan kualitas hidup
orang dengan HIV/AIDS (ODHA) Spritia, 2004, Drain PK, et al., 2006).
Asuhan gizi merupakan komponen penting dalam perawatan individu yang terinfeksi
HIV/AIDS untuk memperbaiki dan mempertahankan status gizi, serta meningkatkan kekebalan
tubuh ODHA sehingga kualitas hidup semakin membaik (Batterham, 2005, Green W,
2003, Nasronuddin,2007)
Pasien HIV/AIDS yang dirawat umumnya mengalami penurunan berat badan drastis dan
berstatus gizi rendah. Apabila tidak segera ditangani, akan mengalami malnutrisi berat yang
mempengaruhi morbiditas karena terganggunya penyembuhan luka dan menurunnya daya tahan
tubuh terhadap infeksi, serta lamanya masa perawatan di rumah sakit. Keadaan ini menjadi beban
viral meningkat dan perlahan-lahan CD4 menurun karena virus terus menerus bereplikasi sehingga
terlihat dari penurunan CD4 sekitar 50 sel/tahun dan infeksi oportunistik menjadi sering. Replikasi
virus meningkat dengan adanya gangguan sistim imun disebabkan karena kekurangan mikronutrien
esensial yang dikenal sebagai Nutritionally Acquired immune Deveciency Syndrome (NAIDS).
(Nasronuddin, 2007). Sekitar 97% ODHA menunjukkan kehilangan berat badan sebelum meninggal.
(Depkes, 2003)
Dukungan nutrisi penting diperhatikan, karena penatalaksanaan yang selama ini dilakukan
dalam mengelola penderita HIV & AIDS melalui upaya pengobatan umum dan khusus melalui HAART
ternyata tidak mampu membendung peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat HIV & AIDS
sesuai yang diharapkan. Hal tersebut disebabkan karena antiretroviral hanya mampu mengurangi
kepadatan virus dalam tubuh penderita tetapi tidak mampu menanggulangi pengaruh reactive
oxygen species (ROS) yang banyak terbentuk pada tubuh penderita HIV & AIDS. Apabila situasi
seperti ini terus dibiarkan berlarut-larut maka gangguan fungsi dan kematian sel akan berlangsung
progresif sehingga potensial jatuh ke derajat penyakit yang lebih berat. Untuk itu diperlukan suatu
inovasi dan langkah intervensi terapi dengan menambahkan unsur suplemen imunonutrien guna
mengatasi pengaruh ROS, memperbaiki status gizi dan meningkatkan daya tahan tubuh ODHA agar
kualitas hidup dapat dipertahankan. (Friis, Henrik, 2005, Kaiser, at al., 2006 ).
II. BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilaksanakan di RSU Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dengan melakukan
intervensi pada pasien-pasien ODHA 14 hari. Desain penelitian adalah quasi eksperimental dalam
bentuk nonrandomized control group pre-post test design. Sampel sebanyak 36 pasien HIV/AIDS
yang sedang dirawat. Sampel dibagi dalam dua kelompok, mendapat diit tinggi kalori tinggi protein
dan kelompok intervensi menerima tambahan kapsul ikan gabus 3x2 selama 14 hari. Status gizi
penderita diukur dengan menggunakan Antropometrik, asupan makan dengan recall 24 jam dan
dianalisis menggunakan -food 2. Kadar albumin diukur mengunakan metode Calorimetrik
determination, sedangkan kadar haemoglobin diukur dengan mengunakan
metode Cyamethemoglobin. Data dianalisis dengan menggunakan Uji Paired t-test untuk
menganalisis perbedaan kadar albumin Hb, Berat badan dan asupan zat gizi (energi dan protein)
sebelum dan sesudah intervensi, baik pada kelompok intervensi maupun pada kelompok kontrol.
Sedangkan Uji Independent t-test untuk melihat perbedaan kadar albumin, Hb, berat badan, dan
asupan zat gizi (energi dan protein). Antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol pada
pasien ODHA dengan nilai kemaknaan 0,05.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Perbedaan Kadar Albumin dan Haemoglobin
Protein dalam darah berbentuk albumin merupakan profil dalam tubuh yang berfungsi
sebagai sistem enzimatik dan bertanggung jawab terhadap kekebalan alamiah. Indikator paling
sensitif untuk mengukur ketersediaan protein dalam tubuh adalah dengan melihat kadar albumin
darah.
Penelitian ini terlihat bahwa rata-rata kadar albumin pasien sebelum intervensi adalah
sebesar 3.0 mg/dl dan setelah intervensi meningkat menjadi 3.6 mg/dl, dibandingkan dengan
kelompok kontrol yang mengalami penurunan secara bermakna sebesar 0,1 mg/dl. Penelitian ini
memperlihatkan bahwa pemberian kapsul ikan gabus selama 14 hari dapat meningkatkan kadar
albumin darah pasien secara bermakna sebesar 0.6 mg/dl. Hasil penelitian ini sama dengan hasil
yang pernah dilaporkan oleh Taslim, dkk (2005) bahwa pemberian nutrisi TKTP dan tambahan
ekstrak ikan gabus pada sejumlah pasien selama 10 hari yang dirawat di Rumah Sakit terjadi
peningkatan kadar albumin secara bermakna sebesar 0,7 mg/dl, dibanding kelompok kontrol.
Demikian halnya oleh Hidayanti, (2006) menunjukkan bahwa pemberian terapi Albumin dengan
kapsul kosentrat ikan gabus setiap hari selama 10 hari pada pasien pasca bedah yang hipoalbumin di
RSU Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar telah dapat meningkatkan kadar albumin rata-rata sebesar
0,74 gr/dl diikuti oleh peningkatan status gizi dibanding dengan kelompok kontrol.
Perubahan kadar albumin serum yang bermakna klinis berupa penurunan kadar albumin
(hipoalbuminemia) disebabkan oleh sintesis yang kurang (disfungsi hati, diit kurang), kebocoran
kapiler dan sepsis (Julius, 2005). Potensi terjadinya malnutrisi pada penderita AIDS sangat tinggi
pada infeksi berat dan sepsis, karena terjadi atrofi mukosa usus, penurunan aktifitas enzim
pencernaan sehingga mendorong terjadinya diare dan malabsorpsi. Diare dapat menyebabkan
penurunan kadar albumin (Nasronuddin,2007).
Terdapat hubungan yang signifikan antara hipoalbuminia dengan peningkatan resiko
komplikasi infeksi, lamanya rawat nginap di rumah sakit maupun kematian. Pasien-pasien dengan
kadar albumin serum yang lebih rendah memiliki resiko 2,5 kali lebih tinggi terhadap kejadian infeksi
dan mortalitas serta 8 kali lebih tinggi terhadap lama rawat ICU dan lama rawat nginap di rumah
sakit (Sun, 2004). Menurut Stepanuk, (2000) ada hubungan depresi kadar albumin dengan
penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi yang memperlambat penyembuhan, peningkatan
mordibitas dan mortalitas serta lamanya masa perawatan di Rumah Sakit. Sebaliknya peningkatan
kadar albumin dapat dihubungkan adanya perbaikan system imunitas dan perbaikan jaringan/sel
yang rusak akibat infeksi. Kesimpulan Hasil Penelitian Nicholas et al. (2003) melaporkan bahwa
dukungan nutrisi dan terapi albumin dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap strees dari
infeksi HIV pada pasien ODHA.
Rata-rata kadar Hb pasien sebelum intervensi adalah sebesar 10.1 gr/dl dan setelah
intervensi meningkat menjadi 11.1 g/dl, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mengalami
penurunan secara bermakna sebesar 0.4 dengan nilai p = 0.008. Penurunan kadar Hb disebabkan
kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga menyebabkan Anemi. (Drain P.K. et al,2006). Anemia
sering terjadi pada ODHA, yang lebih disebabkan oleh induksi sitokin (menekankan produksi sel
darah merah sumsum tulang), inflamasi kronis, infeksi oportunistik, menurunnya asupan nutrisi yang
mengandung zat besi, gangguan absorbsi, pengaruh ARV (terutama ZDV yang menekan sumsum
tulang). Anemia memudahkan progresivitas HIV ke AIDS dan meningkatkan 2-4 kali lipat risiko
kematian. (Weinberg G.A., 2001, Nasronudin, 2007)
Zat besi diperlukan dalam pembuatan Hb sebagai transporter oksigen dari paru ke sel.
Berperan sebagai mikronutrien antioksidan, diperlukan dalam proses metabolisme dan pembangkit
energi (, Depkes, 2003, Drain P.K. et al,2006).
B. Analisis Perbedaan Asupan Zat Gizi (Energi dan Protein) dan Berat Badan
Kandungan kapsul ikan gabus selain mengandung albumin dan asam amino esensial yang
lengkap juga mengandung zat gizi micronutrien yaitu Zn sehingga terjadi peningkatan asupan makan
lebih besar pada kelompok intervesi dibanding kelompok control. Menurut Gibson S, (2005) Zn
merupakan salah satu mikronutrien antioksidan, komponen berbagai protein, hormon dan enzim,
diperlukan dalam perkembangan berbagai sel dan jaringan penyembuhan luka serta dapat
memperbaiki nafsu makan. Tabel. 2 memperlihatkan bahwa kelompok intervensi ada perbedaan
bermakna (p = < 0.05) pada asupan energi dan protein sebelum dan sesudah perlakuan. Besar
peningkatan masing-masing 811.89 kal dan 28.53 gr. Sedangkan kelompok kontrol juga mengalami
peningkatan bermakna (p = < 0.05) pada asupan energi dan protein sebelum dan setelah perlakuan
masing-masing 361.61 kal dan 13.261gr
Konsumsi energi rata-rata pasien sebelum intervensi sebesar 1413 kal dan setelah diberikan
kapsul ikan gabus meningkat menjadi 2225 kal, dengan besar peningkatan 811,98 kal. Nilai ini lebih
tinggi dari kontrol yang hanya meningkat sebesar 361.61 kal. Demikian halnya dengan konsumsi
protein rata-rata pasien sebelum diberikan kapsul ikan gabus sebesar 43.5 g dan meningkat menjadi
72 g dengan besar peningkatan 28.53 gr. Nilai ini lebih tinggi dari kontrol yang hanya meningkat
sebesar 13.26 gr. Ini menunjukkan bahwa konsumsi kapsul ikan gabus yang diberikan selama 14 hari
dapat meningkatkan asupan energi protein pasien secara bermakna dan tampaknya diikuti dengan
meningkatnya nafsu makan pasien yang terlihat pada jumlah makanan yang dihabiskan. Hasil
peningkatan asupan energi protein ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, dimana terjadi
peningkatan asupan energi protein yang bermakna, tetapi peningkatan energi protein pada
penelitian Taslim dkk, (2005) masing-masing hanya sebesar 231,69 kal dan 8,85 g. dengan
pemberian ekstrak ikan gabus pada sejumlah pasien.
Ada perbedaan bermakna berat badan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol
dengan nilai p < 0,05. Kelompok intervensi rata-rata berat badan pasien sebesar 43 kg meningkat
menjadi 45.7 kg dengan besar peningkatan 2.7 kg , sedangkan pada kelompok kontrol terjadi
penurunan berat badan tidak bermakna sebesar 0.1 dengan nilai p = 0.773. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa konsumsi suplemen kapsul ikan gabus 3x2 selama 14 hari dapat meningkatkan
berat badan pasien secara bermakna. Kandungan Zn dalam suplemen kapsul ikan gabus terbukti
dapat memperbaiki nafsu makan pasien ODHA dengan menghabiskan makanan (nutrisi TKTP) yang
di sajikan dari rumah sakit habis dimakan dan ditambah makanan dari luar, sehingga terjadi
peningkatan berat badan. Penelitian yang dilaporkan oleh Patrick (2003) dalam Nasronudin
(2007) bahwa pemberian suplemen yang mengandung Zinc terjadi kenaikan berat badan 7 pounds,
serta menghambat munculnya infeksi oportunistik dibanding penderita yang mendapat
plasebo. Demikian halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Bobat et
al (2005) menunjukan bahwa Suplementasi Zinc dapat meningkatkan berat badan dan
mengurangi diare pada HIV yang dirawat di Rumah sakit pietermaritzburg Afrika selatan.
Protein dapat digunakan untuk mempertahankan sistem kekebalan dan ukuran otot ,
mengatur keasaman darah serta memproduksi jutaan substansi yang dibutuhkan untuk mengatur
proses tubuh. Jika protein digunakan sebagai sumber energi maka akan terjadi defisiensi protein
yang sering menyebabkan depresi sistem kekebalan, sehingga kerentangan terhadap infeksi makin
meningkat (Stepanuk (2000), Tirtawinata (2006). Menurut Drain et al(2006) tanpa dukungan nutrisi
yang adekuat, stres metabolik akibat infeksi akan menimbulkan kehilangan berat badan dan
rusaknya sel bagian tubuh organ vital. Penurunan berat badan 10 % - 20 % dari semula akan sangat
mengurangi kemampuan daya tahan tubuh dan meningkatkan morbiditas dan mortalitas, bahkan
kehilangan 40% berat badan dapat menyebabkan kematian.
KESIMPULAN
Pemberian Suplemen kapsul ikan gabus 3x2 pada kelompok intervensi terjadi peningkatan yang
bermakna dengan nilai (p = 0,000) pada albumin, Hb, asupan energi, asupan protein, dan berat
badan, masing-masing sebesar 0.6 g/dl, 0.1 g%, 812 kal, 28 gr, 2.7 kg, sedangkan pada kelompok
kontrol terjadi penurunan yang bermakna untuk kadar albumin 0,1 g/dl (p = 0,027), kadar Hb 0,4 gr%
(p = 0,008), asupan energi dan asupan protein meningkat secara bermakna masing-masing sebesar
362 kal (p =0,002), 13,2 g (p = 0,001). Dengan demikian, pemberian kapsul ikan gabus sebagai
protein alternatif selama 14 hari dapat memperbaiki status gizi dan meningkatkan kadar albumin,
Haemoglobin pasien sehingga kualitas hidup penderita HIV/AIDS semakin membaik
REKOMENDASI
1. Perlunya usaha budi daya ikan gabus
2. Perlu sosialisasi, mengingat ikan gabus mengandung unsur imunonutrien yang murah dan mudah
didapat serta dapat membantu memperbaiki kualitas hidup.
3. Dapat digunakan untuk bahan dasar pembuatan kue,mie,bakso,kerupuk dan sebagai alternatif usaha
untuk meningkatkan kesejatraan nelayan.
RUJUKAN
1. Depkes. Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi ODHA. Jakarta. 2003.
2. Profil Rumah Sakit Wahidin Sudirohosodo, Laporan Sekertariat Pokja HIV/AIDS, 2006
3. Friss, Henrik.. Micronutrients and HIV Infection : a Review Of Current Evidence. World Health
Organization. Department of Nutrition for Health and Development. Durban. South Africa. 2005
4. Tirtawinata. Makanan dalam Perspektif Al-Quran dan Imu Gizi. Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Jakarta. 2006
5. Almatsier. Penuntun Diet. Edisi Baru. Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi
Dietisien Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2006
6. Kaiser, Jon D.M.D., Adriana M, Joseph P, Gifford S, Richard F, Marianna K.,Micronutrient
Supplementation Increases CD4 count in HIV-infected individuals on Highly active Antiretroviral
Therapy; A Prospective, Double-Blinded, placebo-controlled trial. JAIDS Journal of Acquired Immune
Deficiency Syndrome : Vol : 42 (5), 15 August 2006 pp 523-528. Medicine University of California, San
Fransisco.(http://natap.org/departement, diakses 8 Maret 2007).
7. Batterham J Marijka. Investigasi Heterogenety in Studies Of Resting Energi Expediture in Person with
HIV/AIDS : Meta Analisis. American Journal Clinical Nutrition; 2005,81: 702-13.
8. Capallo J. Studi Profil Asam amino Albumin dan Mineral Zinc pada Ikan Gabus (Ophichepalus stritus)
dan Ikan Tomang, Fakultas Perikanan Unibraw. Malang. 1998
9. Eddy S Potensi Serum Albumin, 2003. (http.www.kompas.com/kompas cetak/jatim.htmdiakses 9
Agustus 2006)
10. Taslim Astuti Nurpuji, Veny Hadju, Faisal attamimi, Abu bakar Tawali, Saifuddin S.Laporan Penelitian
Ikan Gabus. Pusat Penelitian Pangan, Gizi dan Kesehatan Unhas. Makassar. 2005.
11. Julius. Metabolisme Protein pada Penyakit
Hati. 2005. http://www.internafkunand.or.id/metabolisme%20albumin.htm, diakses 8 maret 2007)
12. Nasronuddin. HIV & AIDS Pendekatan Biologi Molekuler Klinis, dan Sosial. Editor: Jusuf Barakbah,
Edy Sewandojo, Suharto, Wahyu. Airlangga University Prees. Surabaya. 2007.
13. Sung. Admission Serum Albumin is Predictive of Outcome in Critically III Trauma Patients. The
American Surgeon. 2004.
14. Stepanuk.. Biochemical and Physiological Aspecs of Human Nutrition. Wb. Saunders company.
Philadelphia. Pensylvania. 2000
15. Linder. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme, Universitas Indonesia Jakarta. 1992.
16. Gibson S. Principles of Nutritional Assesment, Published by oxford University Prees. Inc.198 Madison
Avenue. New York. 2005
17. Nicholas I paton, Ng yau-ming, Chee BE cynthia, Persaud C, Jackson A Alan. Effects of tuberculosis
and HIV infection on whole-body protein metabolism during feeding,American Journal Clinical
Nutrition; 2003. 78;319-25
18. Drain, P.K, Kupka R, Mugusti F, Fawzi W. Micronutrients in HIV-Positive Persons Receiving Highly
Active Antiretroviral Therapy. PK. University of Washington School of Medicine. Seattle.
USA. 2006. (Drain@u.washington.edu diakses 26 Februari 2007).
19. Bobat R. et el, Safety and efficacy of Zinc Suplementation with HIV I infection in south Afrika.
Lancet. 2005. 26:366: 186-7
20. Jahoor Farook, Abramson S, Heird C william. The Protein Metabolic Response to HIV
Infection, American Journal Clinical Nutrition; 2003.,78;182-9.
6. Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar
60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu
merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu
albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan saluran
cerna.
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat molekulnya
bervariasi tergantung spesiesnyaterdiri dari 584 asam amino. Golongan protein ini paling
banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah (albumin serum), dalam susu (laktalbumin).
Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia
63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil melewati
plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan metabolismeasam lemak bebas
dan bilirubuindan berbagai macam obat yang kurang larut dalam air tetapi harus diangkat
melalui darah dari satu organ ke organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi
kedua yakni memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
Albumen bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam ilmu
kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang
terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar. Faedah lainnya albumin bisa
menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal ginjal serta sebagai carrier faktor
pembekuan darah.
Pendeknya, albumin memiliki aplikasi dan kegunaan yang luas dalam makanan atau pangan
serta produk farmasi. Dalam produk industri pangan albumin, antara lain, berguna dalam
pembuatan es krim, bubur manula, permen, roti, dan podeng bubuk.
Sedangkan dalam produk farmasi, antara lain, dimanfaatkan untuk pengocokan (whipping),
ketegangan, atau penenang dan sebagai emulsifier. Kadar albumin yang rendah dapat dijumpai
pada orang yang menderita: penyakit hati kronik, ginjal, saluran cerna kronik, infeksi tertentu.
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar 60 persen.
Manfaatnya untuk pembentukan jaringan sel baru. Di dalam ilmu kedokteran, albumin ini
dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan sel tubuh yang terbelah, misalnya karena
operasi atau pembedahan.
Pada masa krisis saat ini, impor serum albumin yang dimanfaatkan sering membebani biaya
pasien. Untuk satu kali pembedahan, penggunaan serum ini bisa mencapai tiga kali 10 mililiter
itu.
Pada penelitian Eddy, ternyata di dalam ikan gabus atau dikenal secara lokal sebagai ikan kutuk
ini, terdapat albumin pula. Dan, ini tidak terdapat pada jenis ikan konsumsi lainnya, seperti ikan
lele, nila, mas, gurami, dan sebagainya.
Masyarakat sampai sekarang sangat sedikit yang mengenal manfaat ikan gabus ini. Padahal,
ikan gabus ini masih mudah ditemukan, kata Eddy.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan jenis ikan gabus, di antaranya di Bendungan
Sengguruh atau bendungan lainnya. Masyarakat setempat yang berpencaharian mencari ikan
sering memperoleh jenis ikan gabus ini. Tetapi, hasilnya masih jarang digunakan untuk
menunjang kegiatan medis, terutama bertujuan untuk menggantikan serum albumin yang mahal
itu.
Tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi pada Odha kaitannya dengan
risiko penyakit jantung dan ginjal
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 4 Mei 2007
Orang HIV-positif berisiko lebih tinggi secara bermakna terhadap adanya sejumlah kecil protein
dalam air seni yang menunjukkan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan ginjal,
berdasarkan tulisan para peneliti Amerika dalam jurnal AIDS edisi 11 Mei 2007.
Para peneliti membandingkan mikroalbuminuria keberadaan sejumlah kecil protein albumin
dalam air seni, tanda adanya penyakit ginjal dan jantung dalam kelompok pasien HIV-positif
dan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Penelitian ini menemukan
bahwa prevalensi mikroalbuminuria tinggi adalah lebih tinggi secara bermakna pada pasien
HIV-positif. Keberadaan mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif secara bermakna
dihubungkan dengan faktor risiko umum terhadap penyakit jantung serta juga faktor lain terkait
HIV, yang paling menonjol sistem kekebalan yang lemah.
Penyakit ginjal, melibatkan gejala seperti protein dalam air seni atau peningkatan pengeluaran
kreatinin, selama ini sudah sangat diketahui sebagai komplikasi penyakit HIV. Penelitian yang
dilakukan sebelum terapi anti-HIV yang manjur tersedia memberi kesan bahwa antara 19-34%
orang HIV-positif mempunyai tingkat albumin dalam air seni yang lebih tinggi.
Para peneliti tertarik pada pengamatan ini karena mikroalbuminuria dikaitkan dengan
peningkatan risiko penyakit jantung pada masyarakat umum. Karena ada semakin banyak bukti
yang menunjukkan bahwa ART dapat meningkatan risiko penyakit jantung, maka para peneliti
berharap untuk menentukan apakah mikroalbuminuria lebih sering muncul pada pasien HIV-
positif dibandingkan pasangan HIV-negatif yang seusia dalam kelompok kontrol. Para peneliti
juga berharap untuk melihat apakah ada faktor lain memprediksi peningkatan mikroalbuminuria
pada pasien HIV-positif.
Populasi yang diamati terdiri dari orang yang mendaftar pada kelompok penelitian lintas
sektoral Study of Fat Redistribution and Metabolic Change in HIV Infection (FRAM). Populasi
kontrol terdiri dari sampel laki-laki dan perempuan Amerika yang berkulit putih dan yang
keturunan Afrika berbasis populasi. yang dilibatkan dalam penelitian CARDIA.
Kepekatan albumin dan kreatinin diukur dari tes air seni langsung, dan para peneliti menghitung
rasio albumin terhadap kreatinin (ACR), dengan ACR di atas 30mg/g didefinisikan sebagai
mikroalbuminuria. Data risiko terhadap penyakit jantung juga dikumpulkan, termasuk tekanan
darah, tingkat insulin dan glukosa, riwayat penyakit jantung dalam keluarga dan merokok. Untuk
pasien HIV-positif, para peneliti mengambil informasi tentang jumlah CD4 dan viral load.
Mikroalbuminuria ditemukan pada 11% pasien HIV-positif dan 2% kelompok kontrol, perbedaan
yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Perbedaan ini tetap bermakna walapun para peneliti
menyesuaikannya dengan prediktor mikroalbuminuria yang umum (p = 0,0008).
Prediktor mikroalbuminuria pada pasien HIV-positif yang bermakna adalah usia yang lebih tua
(p = 0,02), dan ras Amerika keturunan Afrika (p = 0,001). Berbagai faktor terkait dengan
peningkatan risiko penyakit jantung juga sangat dikaitkan dengan mikroalbuminuria pada
pasien HIV. Ini adalah tekanan darah sistolik yang lebih tinggi (p = 0,01), riwayat hipertensi
dalam keluarga (p = 0,03), dan glukosa dalam air seni (p = 0,002). Akan tetapi merokok tidak
dikaitkan secara bermakna terhadap mikroalbuminuria.
Faktor terkait HIV yang secara specifik dikaitkan dengan mikroalbuminuria adalah jumlah CD4
cell di bawah 200 (p = 0,05), viral load pada saat penelitian (p = 0,05), dan pengobatan dengan
NNRTI (p < 0,05).
Analisis ini menunjukkan bahwa infeksi HIV adalah faktor risiko yang kuat terhadap kejadian
mikroalbuminuria, tidak terkait faktor risiko terhadap penyakit ginjal, para peneliti menulis.
Keberadaan tanda penyakit ginjal dan jantung pada pasien HIV-positif dengan
mikroalbuminuria, mungkin karena peningkatan risiko penyakit jantung akibat komplikasi
metabolisme akibat beberapa jenis antiretroviral.
Para peneliti menyimpulkan, prevalensi tinggi terhadap mikroalbuminuria pada orang HIV
dapat menjadi pertanda peningkatan risiko penyakit ginjal dan jantung di masa yang akan
datang. Penting untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang menentukan makna prognostik
mikroalbuminuria pada orang yang terinfeksi HIV.
Ringkasan: Levels of albumin in urine higher in people with HIV, association with risk of heart
and kidney disease
Sumber: Szczech LA et al. Microalbuminuria in HIV infection. AIDS 21: 1003 1009, 2007.

Serum albumin
The most well-known type of albumin is the serum albumin in the blood.
Serum albumin is the most abundant blood plasma protein and is produced in the liver and
forms a large proportion of all plasma protein. The human version is human serum albumin, and
it normally constitutes about 60% of human plasma protein; all other proteins present in blood
plasma are referred to collectively as globulins.
Serum albumins are important in regulating blood volume by maintaining the osmotic pressure
of the blood compartment. They also serve as carriers for molecules of low water solubility,
including lipid soluble hormones, bile salts, bilirubin, free fatty acids (apoprotein), calcium, iron
(transferrin), and some drugs. Competition between drugs for albumin binding sites may cause
drug interaction by increasing the free fraction of one of the drugs, thereby affecting potency.
Specific types include:
human serum albumin
bovine serum albumin (cattle serum albumin) or BSA, often used in medical and molecular
biology labs.
Low albumin (hypoalbuminaemia) may be caused by liver disease, nephrotic syndrome, burns,
protein-losing enteropathy, malabsorption, malnutrition, late pregnancy, artefact, posture,
genetic variations and malignancy.
High albumin is almost always caused by dehydration. In some cases of retinol (Vitamin A)
deficiency the albumin level can become raised to borderline High-normal values. This is because
retinol causes cells to swell with water (this is also the reason too much Vitamin A is toxic)
Normal range of human serum albumin in adults (> 3 y.o.) is 3.5 to 5 g/dL. For children less than
three years of age, the normal range is broader, 2.5-5.5 g/dL
manggala yudha ~ 2011
Tags: albumin, ikan gabus
COMMENTS4 Comments
CATEGORIESalbumin, ikan gabus, kapsul albumin
PUJIMIN daruwijaya
16JUL
pujimin
Pujimin adalah kapsul albumin yang ekonomis dan praktis. Terbuat dari ekstrak
ikan gabus yang merupakan jenis ikan yang mudah diperoleh di Indonesia.
Sedangkan albumin itu sendiri adalah salah satu jenis protein darah yang
diproduksi di hati (hepar). Saat Hati normal mampu memproduksi 11-15 gr
Albumin/ hari. Bahkan ia merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang
mencapai kadar 60 persen.Sedangkan nilai normal dalam darah sekitar 3.5 sampai
5 g/dL.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Fungsi pertama yakni mengatur tekanan
osmotik di dalam darah. Albumin menjaga keberadaan air dalam plasma darah
sehingga bisa mempertahanan volume darah. Bila jumlah albumin turun maka
akan terjadi penimbunan cairan dalam jaringan (edema) misalnya bengkak di
kedua kaki. Atau bisa terjadi penimbunan cairan dalam rongga tubuh misalnya di
perut yang disebut ascites.
Fungsi yang kedua adalah sebagai sarana pengangkut/transportasi. Ia membawa
bahan bahan yang yang kurang larut dalam air melewati plasma darah dan cairan
sel. Bahan-bahan itu seperti asam lemak bebas, kalsium, zat besi dan beberapa
jenis obat.
Albumin bermanfaat juga dalam pembentukan jaringan tubuh yang baru.
Pembentukan jaringan tubuh yang baru dibutuhkan pada saat pertumbuhan (bayi,
kanak-kanak, remaja dan ibu hamil) dan mempercepat penyembuhan jaringan
tubuh misalnya sesudah operasi, luka bakar dan saat sakit .
Begitu banyaknya manfaat albumin sehingga dapat dibayangkan apabila
mengalami kekurangan maka banyak organ tubuh yang sakit.
Albumin
Albumin merupakan jenis protein terbanyak di dalam plasma yang mencapai kadar
60 persen. Protein yang larut dalam air dan mengendap pada pemanasan itu
merupakan salah satu konstituen utama tubuh. Ia dibuat oleh hati. Karena itu
albumin juga dipakai sebagai tes pembantu dalam penilaian fungsi ginjal dan
saluran cerna.
Kalau Anda sulit membayangkan rupa albumin, bayangkanlah putih telur. Berat
molekulnya bervariasi tergantung spesiesnyaterdiri dari 584 asam amino.
Golongan protein ini paling banyak dijumpai pada telur (albumin telur), darah
(albumin serum), dalam susu (laktalbumin). Berat molekul albumin plasma
manusia 69.000, albumin telur 44.000, dalam daging mamalia 63.000.
Albumin memiliki sejumlah fungsi. Pertama, mengangkut molekul-molekul kecil
melewati plasma dan cairan sel. Fungsi ini erat kaitannya dengan bahan
metabolismeasam lemak bebas dan bilirubuindan berbagai macam obat yang
kurang larut dalam air tetapi harus diangkat melalui darah dari satu organ ke
organ lainnya agar dapat dimetabolisme atau diekskresi. Fungsi kedua yakni
memberi tekanan osmotik di dalam kapiler.
AlbumIn bermanfaat dalam pembentukan jaringan sel baru. Karena itu di dalam
ilmu kedokteran, albumin dimanfaatkan untuk mempercepat pemulihan jaringan
sel tubuh yang terbelah, misalnya karena operasi, pembedahan, atau luka bakar.
Faedah lainnya albumin bisa menghindari timbulnya sembab paru-paru dan gagal
ginjal serta sebagai carrier faktor pembekuan darah.

Tags: albumin, albumin ikan, antibody, pujimin forte
CATEGORIESkapsul albumin
PUJIMIN KAPSUL
7JUL

pujimin
PUJIMIN KAPSUL ALBUMIN


Ikan Kutuk Pemacu Albumin
Ikan gabus atau ikan kutuk (lokal) akhir-akhir ini mendapat perhatian dari masyarakat, khususnya
untuk bidang kesehatan. Sebab, ikan kutuk merupakan salah satu bahan pangan alternatif sumber
albumin bagi penderita hipoalbumin (rendah albumin) dan luka. Baik luka pascaoperasi maupun luka
bakar. Bahkan, di daerah pedesaan, anak laki-laki pasca dikhitan selalu dianjurkan mengonsumsi
ikan jenis itu agar penyembuhan lebih cepat. Caranya, daging ikan kutuk dikukus atau di-steam,
sehingga memperoleh filtrate, yang dijadikan menu ekstra bagi penderita hipoalbumin dan luka.
Pemberian menu ekstrak filtrat ikan kutuk tersebut berkorelasi positif dengan peningkatan kadar
albumin plasma dan penyembuhan luka pascaoperasi. Fenomena ikan kutuk tersebut pernah
diangkat dalam satu penelitian khusus oleh Prof Dr Ir Eddy Suprayitno MS, guru besar ilmu biokimia
ikan Fakultas Perikanan Unibraw pada 2003. Dalam penelitian berjudul Albumin Ikan Gabus
(Ophiochepalus striatus) sebagai Makanan Fungsional Mengatasi Permasalahan Gizi Masa Depan,
Eddy mengupas habis tentang potensi ikan gabus. Dilihat dari kandungan asam aminonya, ikan
gabus memiliki struktur yang lebih lengkap dibandingkan jenis ikan lain (lihat grafis, Red), katanya
kepada Radar Malang (Grup Jawa Pos) kemarin (19/9). Sayangnya, kata dia, selama ini masyarakat
masih memiliki kesan bahwa makan ikan kutuk sama halnya memakan ular. Memang, penampilan
ikan kutuk mirip ular. Padahal, ikan kutuk adalah ikan air tawar yang bersifat karnivora. Makanannya
adalah cacing, katak, anak-anak ikan, udang, insekta, dan ketam. Ciri fisiknya, memiliki tubuh sedikit
bulat, panjang, bagian punggung cembung, perut rata, dan kepala pipih, sehingga lebih mirip ular.
Bagian punggung berwarna hijau kehitaman dan bagian perut putih atau krem. Ikan kutuk bisa
mencapai panjang 90-110 cm. Karena itu, tiga ekor saja bisa mencapai berat 2 kg, ungkapnya. Eddy
menjelaskan, ikan kutuk banyak ditemui di sungai, rawa, air payau berkadar garam rendah, bahkan
mampu hidup di air kotor dengan kadar oksigen rendah. Ikan jenis itu banyak dijumpai di perairan
umum Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Flores, dan Ambon. Hanya, nama ikan
gabus di masing-masing daerah berbeda. Di Jawa, selain disebut kutuk, dikenal dengan ikan
tomang, kata pembantu dekan II Faperik Unibraw tersebut. Lantas, bagaimana teknis ikan gabus
berperan dalam penambahan albumin Dalam tubuh manusia, albumin (salah satu fraksi protein)
disintesis oleh hati kira-kira 100-200 mikrogram/g jaringan hati setiap hari. Albumin didistribusikan
secara vaskuler dalam plasma dan secara ekstravaskuler dalam kulit, otot, serta beberapa jaringan
lain. Sintesis albumin dalam sel hati dipengaruhi faktor nutrisi. Terutama, asam amino, hormon, dan
adanya satu penyakit, tegasnya. Gangguan sintesis albumin, kata Eddy, biasanya terjadi pada
pengidap penyakit hati kronis, ginjal, serta kekurangan gizi. Sebenarnya, daging ikan gabus tidak
hanya menjadi sumber protein, tapi juga sumber mineral lain. Di antaranya, zinc (seng) dan trace
element lain yang diperlukan tubuh. Hasil studi Eddy pernah diujicobakan di instalasi gizi serta bagian
bedah RSU dr Saiful Anwar Malang. Uji coba tersebut dilakukan pada pasien pascaoperasi dengan
kadar albumin rendah (1,8 g/dl). Dengan perlakuan 2 kg ikan kutuk masak per hari, telah
meningkatkan kadar albumin darah pasien menjadi normal (3,5-5,5 g/dl), ujarnya.