Anda di halaman 1dari 15

Rata-rata Hitung (Mean)

Mean adalah teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai rata-
rata dari kelompok tersebut. Rata-Rata (mean) ini didapat dengan menjumlahkan
data seluruh individu dalam kelompok itu, kemudian dibagi dengan jumlah
individu yang ada pada kelompok tersebut.

Diperoleh dengan membagi jumlah seluruh data dengan banyak data


Jika masing-masing mempunyai frekuensi maka rata-ratanya disebut sebagai rata-
rata terboboti.


Berapa persen rata-rata barang yang rusak


Rata-rata Ukur (geometrik)



Digunakan jika perbandingan dua data berturutan tetap atau hampir tetap.

Untuk bilangan-bulangan yang besar digunakan

Untuk fenomena yang bersifat tumbuh seperti pertumbuhan penduduk, bakteri dan
lain-lain digunakan

Untuk data-data yang telah disusun dalam daftar distribusi frekuensi rata-rata
ukurnya dinyatakan


Rata-rata Harmonik

Rata-rata harmonik biasanya digunakan untuk merata-ratakan kecepatan beberapa
jarak tempuh atau mencari harga rata-rata suatu komoditi tertentu.

Untuk data-data yang disusun dalam distribusi frekuensi



Secara umum hubungan rata-rata hitung (x), rata-rata ukur (U) dan rata-rata
harmonic (H)



MODUS

Modus adalah nilai atau fenomena yang paling sering muncul jika datanya telah
disusun dalam distribusi frekuensi


dengan b : batas bawah kelas modal (kelas dengan frekuensi tertinggi)
p : panjang/lebar kelas modal
b
1
: frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas sebelumnya
b
2
: frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas sebelumnya


Jika distribusi data tidak simetriks, yaitu ketika mean lebih besar dari median
dan modus, atau ketika mean lebih kecil dari median, dan modus tidak sama,
maka terdapat hubungan empiris antara mean, median dan modus sebagai
berikut:







HUBUNGAN EMPIRIS

MEAN, MEDIAN DAN MODUS: PERBANDINGAN




Kuartil
Istilah kuartil dalam kehidupan kita sehari-hari lebih dikenal dengan istilah
kuartal.
Dalam dunia statistik, yang dimaksud dengan kuartil ialah titik atau skor
atau nilai yang membagi seluruh distribusi frekuensi ke dalam empat bagian yang
sama besar, yaitu masing masing sebesar N. jadi disini akan kita jumpai tiga
buah kuartil, yaitu kuartil pertama (Q1), kuartil kedua (Q2), dan kuartil ketiga
(Q3). Ketiga kuartil inilah yang membagi seluruh distribusi frekuensi dari data
Ukuran
Pemusatan

Kelebihan

Kekurangan
Mean Dapat menggambarkan mean
populasi
Digunakan untuk data yang
diukur minimal dalam skala
interval. Peka terhadap data
ekstrim (outliers)
Median Digunakan untuk data yang
diukur dalam skala ordinal,
interval dan rasio. Tidak peka
terhadap data ekstrim
(outliers)
Kurang dapat
menggambarkan mean
populasi
Modus Digunakan untuk data yang
diukur dalam skala nominal,
ordinal,
interval dan rasio. Tidak
Kurang dapat
menggambarkan mean
populasi. Memiliki dua atau
lebih modus


yang kita selidiki menjadi empat bagian yang sama besar, masing-masing sebesar
N, seperti terlihat dibawah ini
Jalan pikiran serta metode yang digunakan adalah sebagaimana yang telah
kita lakukan pada saat kita menghitung median. Hanya saja, kalau median
membagi seluruh distribusi data menjadi dua bagian yang sama besar, maka
kuartil membagiseluruh distribusi data menjadi empat bagian yang sama besar.
Jika kita perhatikan pada kurva tadi, maka dapat ditarik pengertian bahwa Q2
adalah sama dengan Median(2/4 N=1/2 N).
Untuk mencari Q1,Q2 dan Q3 digunakan rumus sebagai berikut:
untuk data tunggal
Qn = 1 + ( n/4N-fkb)
fi
untuk data kelompok
Qn = 1 + (n/4N-fkb)x i
Fi
Qn = kuartil yang ke-n. karena titik kuartil ada tiga buah, maka n dapat diisi
dengan bilangan: 1,2, dan 3.
1 = lower limit ( batas bawah nyata dari skor atau interval yang mengandung Qn).
N= Number of cases.
Fkb= frekuensi kumulatif yang terletak dibawah skor atau interval yang
mengandung Qn.
Fi= frekuensi aslinya (yaitu frekuensi dari skor atau interval yang mengandung
Qn).
i= interval class atau kelas interval.
Catatan: - istilah skor berlaku untuk data tunggal.
- istilah interval berlaku untuk data kelompok.
Berikut ini akan dikemukakan masing-masing sebuah contoh perhitungan
kuartil ke-1, ke-2, dan ke-3 untuk data yang tunggal dan kelompok.

1). Contoh perhitungan kuartil untuk data tunggal
Sumber: http://www.bukuriau.com/2012/06/kuartil-desil-dan-persentil.html



Misalkan dari 60 orang siswa MAN Jurusan IPA diperoleh nilai hasil
EBTA bidang studi Fisika sebagaimana tertera pada table distribusi frekuensi
berikut ini. Jika kita ingin mencari Q1, Q2, dan Q3 (artinya data tersebut akan kita
bagi dalam empat bagian yang sama besar), maka proses perhitungannya adalah
sebagai berikut:

Table 3.11. Distribusi frekuensi nilai hasil Ebta dalam bidang studi fisika dari 60
orang siswa MAN jurusan ipa, dan perhitungan Q1, Q2, dan Q3.
Nilai (x) F Fkb

46
45
44
43
42
41
40
39
38
37
36
35
2
2
3
5
F1 (8)
10
F1 (12)
F1 (6)
5
4
2
1
60= N
58
56
53
48
40
30
18
12
7
3
1

Titik Q1= 1/4N = X 60 = 15 ( terletak pada skor 39). Dengan demikian dapat
kita ketahui: 1= 38,50; fi = 6; fkb = 12
Q1 = 1 + ( n/4N-fkb) = 38,50 +(15-12)
Fi 6
= 38,50 +0,50
= 39
Titik Q2= 2/4N = 2/4 X 60 = 30 ( terletak pada skor 40). Dengan demikian dapat
kita ketahui: 1= 39,50; fi = 12; fkb = 18
Q2 = 1 + ( n/4N-fkb) = 39,50 +(30-18)


Fi 12
= 39,50 +1,0
= 40,50
Titik Q3= 3/4N = 3/4 X 60 = 45 ( terletak pada skor 42). Dengan demikian dapat
kita ketahui: 1= 41,50; fi = 8; fkb = 40
Q3 = 1 + ( n/4N-fkb) = 41,50 +(45-40)
Fi 8
= 41,50+ 0,625
= 42,125

2). Contoh perhitungan kuartil untuk data kelompok
Sumber :http://www.bukuriau.com/2012/06/kuartil-desil-dan-persentil.html

Misalkan dari 80 orang siswa MAN jurusan IPS diperoleh skor hasil
EBTA dalam bidan studi tata buku sebagaimana disajikan pada tabel distribusi
frekuensi beikut ini ( lihat kolom 1 dan 2). Jika kita ingin mencari Q1, Q2, dan
Q3, maka proses perhitungannya adalah sebagai berikut:
Titik Q1= 1/4N = X 80 = 20 ( terletak pada interval 35-39). Dengan demikian
dapat kita ketahui: 1= 34,50; fi = 7; fkb = 13, i= 5.
Q1 = 1 + ( n/4N-fkb) Xi = 34,50 +(20-13) X5
Fi 7
= 34,50 +5
= 39,50
Titik Q2= 2/4N = 2/4 X 80 = 40 ( terletak pada interval 45-49). Dengan demikian
dapat kita ketahui: 1= 44,50; fi = 17; fkb = 35, i= 5.
Q1 = 1 + ( n/4N-fkb) Xi = 44,50 +(40-35) X5
Fi 17
= 44,50 +1.47
= 45,97
Titik Q3= 3/4N = 3/4 X 80 = 60 ( terletak pada interval 55-59). Dengan demikian
dapat kita ketahui: 1= 54,50; fi = 7; fkb = 59, i= 5.
Q1 = 1 + ( n/4N-fkb) Xi = 54,50 +(55-59) X5


Fi 7
= 54,50 + 0,71
= 55,21
Tabel 3.12. distribusi frekuensi skor-skor hasil EBTA bidang studi tata buku dari
80 orang siswa man jurusan ips, berikut perhitungan Q1,Q2, dan Q3.
Nilai (x) F Fkb
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
3
5
6
7
7
17
15
7
6
5
2
80
77
72
66
59
52
35
20
13
7
2
Total 80= N -

Diantara kegunaan kuartil adalah untuk mengetahui simetris (normal) atau
a simetrisnya suatu kurva. Dalam hal ini patokan yang kita gunakan adalah
sebagai berikut:
1). Jika Q3-Q2 = Q2- Q1 maka kurvanya adalah kurva normal.
2). Jika Q3-Q2 > Q2- Q1 maka kurvanya adalah kurva miring/ berat ke kiri(juling
positif).
3). Jika Q3-Q2 < Q2- Q1 maka kurvanya adalah kurva miring/ berat ke
kanan(juling negatif).
2. Desil
Desil ialah titik atau skor atau nilai yang membagi seluruh distribusi frekuensi
dari data yang kita selidiki ke dalam 10 bagian yang sama besar, yang masing-
masing sebesar 1/10 N. jadi disini kita jumpai sebanyak 9 buah titik desil, dimana


kesembilan buah titik desil itu membagi seluruh distribusi frekuensi ke dalam 10
bagian yang sama besar.
Lambing dari desil adalah D. jadi 9 buah titik desil dimaksud diatas adalah titik-
titik: D1, D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8, dan D9.
Perhatikanlah kurva dibawah ini:

Untuk mencari desil, digunakan rumus sebagai berikut:
Dn= 1 +(n/10N fkb)
Fi
Untuk data kelompok:
Dn= 1+ (n/10N- fkb) xi
Fi
Dn= desil yang ke-n (disini n dapat diisi dengan bilangan:1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, atau
9.
1= lower limit( batas bawah nyata dari skor atau interval yang mengandung desil
ke-n).
N= number of cases.
Fkb= frekuensi kumulatif yang terletak dibawah skor atau interval yang
mengandung desil ke-n.
Fi= frekuensi dari skor atau interval yang mengandung desil ke-n, atau frekuensi
aslinya.
i=interval class atau kelas interval.
1). Contoh perhitungan desil untuk data tunggal
Misalkan kita ingin mencari desil ke-1, ke-5, dan ke-9 atau D1, D5, dan
D9 dari data yang tertera pada table yang telah dihitung Q1, Q2, dan Q3-nya itu.
Mencari D1:
Titik D1= 1/10N= 1/10X60= 6 (terletak pada skor 37). Dengan demikian
dapat kita ketahui: 1= 5,50; fi= 4, dan fkb= 3.
D1= 1 + (1/10N-fkb) ---D1=36,50 (6-3)
Fi 4
= 36,25
Mencari D5:


Titik D5= 5/10N= 5/10X60= 30 (terletak pada skor 40). Dengan demikian
dapat kita ketahui: 1= 39,50; fi= 12, dan fkb= 18.
D1= 1 + (5/10N-fkb) ---D1=39,50 (30-18)
Fi 12
= 40,50
Mencari D9:
Titik D9= 9/10N= 9/10X60= 54 (terletak pada skor 44). Dengan demikian
dapat kita ketahui: 1= 43,50; fi= 3, dan fkb= 53.
D1= 1 + (9/10N-fkb) ---D1= 43,50 (54-53)
Fi 3
= 43,17

Tabel 3.13. Perhitungan desil ke-1, desil ke-5 dan desil ke-9 dari data yang tertera
pada table (diatas) kuartil.
Nilai (x) F Fkb

46
45
44
43
42
41
40
39
38
37
36
35
2
2
3
5
8
10
12
6
5
4
2
1
60= N
58
56
53
48
40
30
18
12
7
3
1

2). Contoh perhitungan desil untuk data kelompok
Misalkan kita ingin mencari D3 dan D7 dari data yang tercantum pada
table 3.12, proses perhitungannya adalah sebagai berikut:



Table 3.14. Perhitungan desil ke-3 dan desil ke-7 dari data yang tertera pada table
3.12.
Nilai (x) F Fkb
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
3
5
6
7
7
17
15
7
6
5
2
80
77
72
66
59
52
35
20
13
7
2
Total 80= N -
Mencari D3:
Titik D3= 3/10N= 3/10X80= 24 (terletak pada interval 40-44). Dengan
demikian dapat kita ketahui: 1= 39,50; fi= 15, dan fkb= 20.
D3= 1 + (3/10N-fkb) xi=39,50 (24-20) x 5
Fi 15
= 39,50+ 20= 39,50 + 1,33= 40,83
15
Mencari D7:
Titik D7= 7/10N= 7/10X80= 56 (terletak pada interval 50-54). Dengan
demikian dapat kita ketahui: 1= 49,50; fi= 7, dan fkb= 52.
D7= 1 + (7/10N-fkb) xi=49,50 (50-54) x 5
Fi 7
= 49,50+ 20= 49,50 + 2,86= 40,83
7


Diantara kegunaan desil ialah untuk menggolongkan-golongkan suatu
distribusi data ke dalam sepuluh bagian yang sama besar, kemudian menempatkan
subjek-subjek penelitian ke dalam sepuluh golongan tersebut.

3. Persentil
Persentil yang biasa dilambangkan P, adalah titik atau nilai yang membagi
suatu distribusi data menjadi seratus bagian yang sama besar. Karena itu persentil
sering disebut ukuran perseratusan.
Titik yang membagi distribusi data ke dalam seratus bagian yang sama besar
itu ialah titik-titik: P1, P2, P3, P4, P5, P6, dan seterusnya, sampai dengan P99.
jadi disini kita dapati sebanyak 99 titik persentil yang membagi seluruh distribusi
data ke dalam seratus bagian yang sama besar, masing-masing sebesar 1/ 100N
atau 1%, seperti terlihat pada kurva dibawah ini:



Untuk mencari persentil digunakan rumus sebagai berikut:
Untuk data tunggal:
Pn= 1 +(n/10N fkb)
Fi
Untuk data kelompok:
Pn= 1+ (n/10N- fkb) xi
Fi
Pn= persentil yang ke-n (disini n dapat diisi dengan bilangan-bilangan:1, 2, 3, 4,
5, dan seterusnya sampai dengan 99.
1= lower limit( batas bawah nyata dari skor atau interval yang mengandung
persentil ke-n).
N= number of cases.
Fkb= frekuensi kumulatif yang terletak dibawah skor atau interval yang
mengandung persentil ke-n.
Fi= frekuensi dari skor atau interval yang mengandung persentil ke-n, atau
frekuensi aslinya.


i= interval class atau kelas interval.

Tabel. 3.15. Perhitungan persentil ke-5, persentil ke-20 dan persentil ke-75 dari
data yang tertera pada tabel 3.13.
Nilai (x) F Fkb
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
20-24
3
5
6
7
7
17
15
7
6
5
2
80
77
72
66
59
52
35
20
13
7
2
Total 80= N -
1). Contoh perhitungan desil untuk data tunggal
Misalkan kita ingin mencari persentil ke-5 (P5), persentil ke-20 (P20), dan
ke-75 (P75),dari data yang disajikan pada tabel 3.13 yang telah dihitung desilnya
itu. Cara menghitungnya adalah sebagai berikut:
Mencari persentil ke-5 (P5):
Titik P5= 5/10N= 5/10X60= 3 (terletak pada skor 36). Dengan demikian dapat
kita ketahui: 1= 35,50; fi= 2, dan fkb= 1.
P5= 1 + (5/10N-fkb) =36,50 +(3-1)
Fi 2
= 36,50
Mencari persentil ke-75 (P75):
Titik P75= 75/10N= 75/10X60= 45 (terletak pada skor 42). Dengan demikian
dapat kita ketahui: 1= 41,50; fi= 8, dan fkb= 40
P75= 1 + (75/10N-fkb) =41,50 +(45-40)
Fi 8


= 42,125
2). Cara mencari persentil untuk data kelompok
Misalkan kembali ingin kita cari P35 dan P95 dari data yang disajikan
pada tabel 3.14.
Mencari persentil ke-35 (P35):
Titik P35= 35/100N= 35/100X80= 28 (terletak pada interval 40-44). Dengan
demikian dapat kita ketahui: 1= 39,50; fi= 15, dan fkb= 20, i=5
P35= 1 + (35/100N-fkb) Xi =39,50 +(45-40) X 5
Fi 8
= 39,50+2,67
= 42,17
Mencari persentil ke-95 (P95):
Titik P95= 95/100N= 95/100X80= 76 (terletak pada interval 65-69). Dengan
demikian dapat kita ketahui: 1= 64,50; fi= 5, dan fkb= 72, i=5
P95= 1 + (95/100N-fkb) Xi =64,50 +(65-69) X 5
Fi 5
= 64,50+4
= 68,50

Tabel 3.16. Perhitungan persentil ke-35 dan persentil ke-95 dari data yang tertera
pada tabel 3.14.
Nilai (x) F Fkb
70-74
65-69
60-64
55-59
50-54
45-49
40-44
35-39
30-34
25-29
3
5
6
7
7
17
15
7
6
5
80
77
72
66
59
52
35
20
13
7


20-24 2 2
Total 80= N -