Anda di halaman 1dari 16

Fluidisasi

Diposkan oleh Hilda Rosalina di 07.32



I. PENGERTIAN FLUIDISASI
Fluidisasi adalah metoda
pengontakan butiran-butiran padat
dengan fluida baik cair maupun gas.
Dengan metoda ini diharapkan
butiran-butiran padat memiliki sifat
seperti fluida dengan viskositas
tinggi. Sebagai ilustrasi, tinjau suatu
kolom berisi sejumlah partikel
padat berbentuk bola. Melalui
unggun padatan ini kemudian
dialirkan gas dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah, butiran padat akan tetap
diam, karena gas hanya mengalir dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah,
butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir melalui ruang antar partikel tanpa
menyebabkan perubahan susunan partikel tersebut. Keadaan yang demikian disebut unggun
diam atau fixed bed. Keadaan fluidisasi unggun diam tersebut ditunjukkan pada Gambar 1a.







Gambar 1 Skema unggun diam dan unggun terfluidakan
Kalau laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu keadaan di mana unggun
padatan akan tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada keadaan ini masing-
masing butiran akan terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak dengan lebih mudah.
Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini, sifat unggun akan menyerupai suatu cairan
dengan viskositas tinggi, misalnya adanya kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat
hidrostatik dan sebagainya. Sifat unggun terfluidisasi ini dapat dilihat pada Gambar 1b.
Dalam dunia industri, fluidisasi diaplikasikan dalam banyak hal seperti transportasi serbuk
padatan (conveyor untuk solid), pencampuran padatan halus, perpindahan panas (seperti
pendinginan untuk bijih alumina panas), pelapisan plastic pada permukaan logam,
proses drying dan sizing pada pembakaran, proses pertumbuhan partikel dan kondensai bahan
yang dapat mengalami sublimasi, adsorpsi (untuk pengeringan udara dengan adsorben), dan
masih banyak aplikasi lain.






Gambar 2
Sifat Cairan dalam Unggun
terfluidisasi

II. FENOMENA FENOMENA FLUIDISASI
Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada prose fluidisasi antara lain:
1. Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum yang
dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan tetap diam. Kondisi
ini ditunjukkan pada Gambar 1a.
2. Fenomena minimum or incipient fluidization yang terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju
alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel
padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 1b.
3. Fenomena smooth or homogenously fluidization terjadi ketika kecepatan dan distribusi aliran
fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun sama atau homogen sehingga
ekspansi pada setiap partikel padatan seragam.
4. Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung gelembung pada unggun
terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen. Kondisi ini ditunjukkan pada
Gambar 4.





Gambar 4 Fenomena bubbling fluidization
5. Fenomena slugging fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung
besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-
partikel padat. Pada kondisi ini terjadi penorakan sehingga partikel-partikel
padat seperti terangkat. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 5.




Gambar 5 Fenomena slugging fluidization
6. Fenomena chanelling fluidizationyang terjadi ketika dalam
ungggun partikel padatan terbentuk saluran-saluran seperti
tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 6.





Gambar 6 Fenomena chanelling
fluidization
7. Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui kecepatan
maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian partikel akan terbawa aliran fluida dan
ekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 7.




Gambar 7 Fenomena disperse fluidization
Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1. laju alir fluida dan jenis fluida
2. ukuran partikel dan bentuk partikel
3. jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel
4. porositas unggun
5. distribusi aliran,
6. distribusi bentuk ukuran fluida
7. diameter kolom
8. tinggi unggun.
Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang akan
menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut. Pada praktikum fluidisasi ini fluida yang
digunakan adalah udara tekan. Butiran padat yang akan difluidisasikan juga dapat bervariasi
seperti butiran batu bara, batu bata, pasir, dan sebagainya. Ukuran partikel juga divariasikan
dengan melakukan pengayakan dengan mesh tertentu. Densitas partikel dapat juga
divariasikan dengan menyampur partikel, baik yang berbeda ukuran maupun berbeda jenis.
Selain itu variasi juga dapat dilakukan pada tinggi unggun. Dalam praktikum ini akan
teramati fenomena-fenomena fluidisasi. Selama fluidisasi berlangsung juga dapat diamati
kecepatan minimum fluidisasi secara visual. Dari hasil pengukuran tekanan dan laju alir
fluida dibuat pula Kurva Karakteristik Fluidisasi. Karakteristik unggun terfluidakan
digambarkan pada kurva karakteristik fluidisasi yang merupakan plot antara log U dan log
P. Persamaan yang digunakan adalah Persamaan Ergun dan Persamaan Wen Yu.

III. EVALUASI PARAMETER-PARAMETER DALAM PERISTIWA FLUIDISASI
1. Densitas Partikel
Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang tidak menyerap air atau zat cair lain bisa
dilakukan dengan memakai piknometer. Sedangkan untuk partikel berpori, cara di atas akan
menimbulkan kesalahan yang cukup besar karena air atau cairan akan memasuki pori-pori di
dalam partikel, sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel (berikut pori-porinya)
seperti yang diperlukan di dalam persamaan-persamaan yang ditulis di muka, tetapi densitas
bahan padatnya (tidak termasuk pori-pori di dalamnya). Untuk partikel-partikel yang
demikian, ada cara lain yang biasa digunakan, yaitu dengan memakai metoda yang
diturunkan Ergun.
2. Bentuk Partikel
Didalam persamaan-persamaan yang telah diturunkan sebelumnya partikelpartikel
padatnya dianggap sebagai butiran-butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp.
Untuk partikel-partikel yang mempunyai bentuk lain, harus diadakansuatu koreksi yang
menyatakan bentuk sebenarnya partikel yang ditinjau. Faktor koreksi ini disebut sebagai
faktor bentuk atau derajat kebolaan
suatu partikel yang didefinisikan
sebagai:


Derajat kebolaan (s) bisa dipakai langsung dalam persamaan-persamaan terdahulu dengan
mengganti dp menjadi s.dp,
sehingga persamaan Ergun
dapat ditulis menjadi:


dimana s = 1 untuk partikel berbentuk bola
s < 1 untuk partikel berbentuk bola
3. Diameter Partikel
Diameter partikel biasanya diukur berdasarkan analisa ayakan.
4. Porositas Unggun
Porositas unggun menyatakan fraksi kosong di dalam unggun yang secara matematik bisa
ditulis sebagai berikut:


dimana = porositas unggun
Vu = volume unggun
Vp = volume partikel
Harga porositas unggun ini sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri butiran padat yang
membentuk unggun tersebut, atau dengan perkataan lain, porositas unggun merupakan fungsi
dari faktor bentuk atau derajat kebolaan partikel-partikelnya. Salah satu hasil eksperimen
yang menggambarkan pengaruh derajat kebolaan terhadap porositas unggun diberikan oleh
Brown.

IV. HILANG TEKAN (PRESSURE DROP)
Aspek utama yang akan ditinjau dalam percobaan ini adalah mengetahui besarnya hilang
tekan (pressure drop) di dalam unggun padatan yang terfluidakan. Hal tersebut mempunyai
arti yang cukup penting karena selain erat sekali hubungannya dengan besarnya energi yang
diperlukan, juga bisa memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi
berlangsung. Penentuan besarnya hilang tekan di dalam unggun terfluidakan terutama
dihitung berdasarkan rumus-rumus yang diturunkan untuk unggun diam, terutama oleh Balke,
Kozeny, Carman, ataupun peneliti-peneliti lainnya.

1. Hilang Tekan Dalam Unggun Diam
Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubungan antara kehilangan tekanan
dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diperoleh melalui metode-metode yang
bersifat semi empiris dengan menggunakan bilangan-bilangan yang tak berdimensi. Untuk
aliran laminer dimana kehilangan energi terutama disebabkan oleh Viscous Loses, Blake
memberikan hubungan sebagai berikut:
.........(1)
Dimana: P = Kehilangan tekanan per satuan panjang atau tinggi ukuran
gc = Faktor konversi
= Viskositas fluida
= Porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume ruang
kosong di dalam unggun dengan volume unggunnya
U = Kecepatan alir superfisial fluida
s = Luas permukaan spesifik partikel
Luas permukaan spesifik partikel (luas permukaan per satuan volume unggun),
dihitung berdasarkan korelasi berikut:
.........(2)
Sehingga persamaan (1) menjadi:
.........(3)
atau, .........(4)
Persamaan (4) ini kemudian diturunkan lagi oleh Konzeng dengan mengamsusikan
bahwa unggun zat padat tersebut adalah ekivalen dengan satu kumpulan saluran-saluran lurus
yang paralel yang mempunyai luas permukaan dalam total dan volume total masing-masing
sama dengan luas permukaan luar partikel dan volume ruang kosongnya. Harga konstanta k
yang diperoleh beberapa peneliti sedikit berbeda, sepertti misalnya:
Konzeng (1927) k= 150
Carman (1937) k= 180
US Bureaunof Mines (1951) k= 200
Untuk aliren turbulen, persamaan (4) tidak bisa dipergunakan lagi, sehingga Ergun (1952)
kemudian menurunkan rumus lain dimana keholangan tekanan digambarkan sebagai
gabungan dari Viscous Losses dan Kinetic Energy Losses.
.........(5)
Viscous Losses Kinetic Energy Losses
Dimana: k
1
= 150
k
2
= 1,75
Pada keadaan ekstrim, yaitu:
a. Aliran laminer (Re=20), sehingga term II bisa diabaikan
b. Aliran turbulen (Re=1000), sehingga term I bisa diabaikan

2. Hilang Tekan Dalam Unggun Terfluidisasikan (Fluidized Bed)
Untuk unggun terfluidisasikan persamaan yang menggambarkan P/L dan U yang
biasanya digunakan adalah persamaan Ergun, yaitu:
....(6)
Dimana f adalah porositas unggun pada keadaan terfluidisasikan. Pada keadaan ini
dimana partikel-partikel zat padat seolah-olah terapung di dalam fluida, akan terjadi
kesetimbangan antara berat partikel dengan gaya apung dari fluida di sekelilingnya.
Gaya berat oleh fluida yang naik = berat partikel gaya apung
Atau:
[kehilangan tekanan pada unggun][Luas penampang]=[volume unggun][densitas zat padat
densitas fluida]
[P][A] = [A.t][1-f][
p
-
p
] g/gc .....(7)
= ][1-f][
p
-
p
] g/gc .....(8)
V. KECEPATAN MINIMUM FLUIDISASI
Yang dimaksud kecepatan minimum fluidisasi (Umf), adalah kecepatan superficial fluida
minimum dimana fluida mulai terjadi. Harga Umbisa diperoleh dengan mengkombinasikan
persamaan (6) dengan persamaan (8)

VI. KARAKTERISTIK UNGGUN TERFLUIDISASIKAN
Karakter unggun terfluidisasikan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik antara
penurunan tekanan (P) dan kecepatan superfisial fluida (U). Untuk keadaan yang ideal,
kurva hubungan ini berbentuk seperti dalam gambar 8




Gambar 8. Kurva
Karakteristik Fluidisasi Ideal
Keterangan:
Garis AB : menunjukkan kehilangan
tekanan pada daerah unggun diam
Garis BC : menunjukkan keadaan
dimana unggun telah terfluidakan
Garis DE: menunjukkan kehilangan tekanan pada daerah unggun diam pada waktu kita
menurunkan kecepatan air fluida . Harga penurunan tekanan untuk kecepatan aliran fluida
tertentu, sedikit lebih rendah daripada harga penurunan tekanan pada saat awal
operasi. Penyimpangan dari keadaan ideal:
1. Interlock
Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan pada kurva fluidisasi ideal hanya terjadi pada
kondisi yang betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah saling melepaskan
pada saat terjadi kesetimbangan antara gaya seret dengan berat partikel. Pada kenyataannya,
keadaan di atas tidak selamanya bisa terjadi karena adanya kecenderungan partikel-partikel
untuk saling mengunci satu dengan lainnya (interlock), sehingga akan terjadi kenaikan hilang
tekan (P) sesaat sebelum fluidisasi terjadi. Fenomena interlock ini dapat dilihat pada
Gambar 9, terjadi pada awal fluidisasi saat terjadi perubahan kondisi dari unggun tetap
menjadi unggun terfluidakan.
2. Fluidisasi heterogen (aggregative fluidization)
Jenis penyimpangan yang lain adalah kalau pada saat fluidisasi partikel-partikel padat
tidak terpisah-pisah secara sempurna tetapi berkelompok membentuk suatu agregat. Keadaan
yang seperti ini disebut sebagai fluidisasi heterogen atau aggregative fluidization. Tiga jenis
fluidisasi heterogen yang biasa terjadi adalah karena timbulnya:
a. penggelembungan (bubbling)
b. penorakan (slugging)
c. saluran-saluran fluida yang terpisahkan (chanelling)









Gambar 9 Kurva karakteristik fluidisasi
tidak ideal karena terjadi interlock


Gambar 10.
Tiga jenis fluidisasi heterogen
a. Bubbling
Dimana saat fluidisasi terjadi di kolom
fluidisasi, pada permukaan unggun padat
terjadi ledakan-ledakan kecil (gelembung-gelembung pecah pada permukaan unggun padat)
b. Slugging
Pada saat fluidisasi terjadi di dalam kolom fluidisasi, pada permukaan partikel unggun padat
terjadi ledakan-ledakan kecil menyerupai payung, tetapi letaknya tidak beraturan (berpindah
tempat)
c. Channeling
Pada saat fluidisasi terjadi dalam kolom fluidisasi, pada permukaan unggun padat terjadi
ledakan-ledakan kecil menyerupai payung, teatpi letaknya tetap.

VII. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN FLUIDISASI
a. Keuntungan fluidized bed
1. Kebocoran seperti pada aliaran cairan dan partikel-partikel memberikan kontrol secara
kontinyu.
2. Kecepatan pencampuran solid mendekati kondisi isothermal, tekanan melalui reaktor dimana
operasi dapat dikontroldengan mudah.
3. Sirkulasi solid oleh fluidized bed membuatnya mungkin untuk transportasi dengan jumlah
yang sangat banyak.
b. Kerugian fluidized bed
1. Sulit menggambarkan aliran gas dengan deviasi besar dari sumber aliran dan dengan passing
dari solute dan gelembung-gelembung menyebabkan tidak efisiennya sistem kontak. Hal ini
menjadi serius bila konversi tinggi dan reaktan-reaktan dibutuhkan.
2. Kecepatan penguapan solid dalam uniformnya. Waktu tinggal solid ini memberikan konversi
lebih efektif dengan kata lain untuk mengerjakan solid secara batch. Pencampuran ini
menolong karena memberikan produk solid seragam untuk reaksi-reaksi katalitik.
3. Erosi pipa dan tempat abrasi partikel.
4. Untuk pengoperasian luas katalitik pada tempat operasi yang berpengaruh terhadap
kecepatan reaksi.

VIII. PENGGUNAAN PROSES FLUIDISASI DALAM INDUSTRI
1. Operasi Secara Fisik (Physical Operation), seperti:
a. Transportasi: Sifat fluidisasi pada fluidized bed juga merupakan sifat yang sama dengan
cairan dan sifat ini sangat efektif digunakan untuk alat transportasi dari bubuk padatan.
b. Heat Exchanger (HE): Fluidized bed dapat digunakan untuk HE operasi fisik dan kimia
kareana kemampuannya untuk mempercepat perpindahan panas dan menjaga suhu menjadi
konstan dengan ditunjukkan sebagian kecil dari bermacam penggunaan dalam lingkup ini.
c. Adsorpsi: Proses adsorpsi multistages fluid chart untuk pemisahan dan pemurnian kembali
komponen gas.
2. Operasi Secara Kimia
Contoh: Reaksi gas dengan katalis padat dan reaksi padat dengan gas.

IX. APLIKASI FLUIDISASI DALAM INDUSTRI
a. Gasifikasi : batubara
b. Transportasi
Fluidisasi dapat terfluidisasikan sama seperti cairan, sifat ini digunakan untuk transportasi
padat berupa serbuk.
c. Pencampuran bubuk halus (dengan ukuran partikel berlainan)
d. HE
e. Pelapisan bahan peledak pada permukaan logam
f. Drying dan sizeing

X. INDUSTRI YANG MENGGUNAKAN METODA FLUIDISASI
Beberapa Industry yang menggunakan metoda fluidisasi adalah :
1. Proses desulfurisasi batubara
Proses desulfurisasi batubara Tondongkurah, Sulawesi Selatan telah dilakukan dengan
menggunakan larutan hidrogen peroksida yang diencerkan dalam asam sulfat berkonsentrasi
0,1 N. Percobaan desulfurisasi tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan kolom
fluidisasi yang mempunyai ukuran panjang 80 cm dengan diameter 3,5 cm. Kolom
dihubungkan dengan sebuah pompa sirkulasi yang mampu memberikan suplai larutan dengan
jumlah aliran yang diatur sebesar 100 cc per menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
proses selama 2 jam dengan mempergunakan kolom tersebut mampu mengurangi 13,9 persen
jumlah sulfur yang terdapat di dalam batubara Tondongkurah yang berukuran (-14+20) mesh.
Perpanjangan waktu sirkulasi larutan hidrogen peroksida dari 2 jam menjadi 6 jam mampu
meningkatkan jumlah pengurangan sulfur menjadi sebesar 42,3 persen. Hasil percobaan
lainnya menunjukkan bahwa perkecilan ukuran partikel batubara dari (-14+20) mesh menjadi
(-20+48) mesh mampu meningkatkan angka tersebut. Pada percobaan desulfurisasi dengan
ukuran batubara (-20+48) mesh selama 2 jam, jumlah pengurangan sulfur adalah 19,6 persen.
Demikian pula, apabila waktu sirkulasi dinaikkan menjadi 6 jam pengurangan sulfur
meningkat menjadi 48,9 persen.

2. Pembuatan Gas Sintetis Dari Batubara Dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidisasi
Percobaan gasifikasi dilakukan terhadap contoh batubara Indonesia dengan menggunakan
reactor gasifikasi sistem unggun terfluidisasi digunakan batubara ukuran halus (-48 + 65
mesh). Gas pereaksi masuk melalui plat distributor untuk mengangkat batubara dan pasir
silica sebagai unggun material dalam zona reaksi sehingga unggun terfluidisasi dan terjadi
proses pencampuran yang sempurna antara gas pereaksi dan batubara. Pada kondisi fluidisasi
suhu dalam reactor lebih merata dibanding dengan reaktor sistem unggun tetap. Suhu reaktor
sistem unggun fluidisasi adalah 900
o
C. Gas hasil gasifikasi yang disebut gas sintetis (syngas)
dilakukan pemurnian dengan alat cyclone, condenser dan scrubber. Sesudah syngas
dimurnikan kemudian dianalisa komposisinya dengan menggunakan gas chromatography
(GC).
I. PENGERTIAN
FLUIDISASI
Fluidisasi adalah metoda
pengontakan butiran-butiran padat
dengan fluida baik cair maupun gas.
Dengan metoda ini diharapkan
butiran-butiran padat memiliki sifat
seperti fluida dengan viskositas
tinggi. Sebagai ilustrasi, tinjau suatu
kolom berisi sejumlah partikel
padat berbentuk bola. Melalui
unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dari bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup
rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir dari bawah ke atas. Pada
laju alir yang cukup rendah, butiran padat akan tetap diam, karena gas hanya mengalir
melalui ruang antar partikel tanpa menyebabkan perubahan susunan partikel tersebut.
Keadaan yang demikian disebut unggun diam atau fixed bed. Keadaan fluidisasi unggun diam
tersebut ditunjukkan pada Gambar 1a.







Gambar 1 Skema unggun diam dan unggun terfluidakan
Kalau laju alir kemudian dinaikkan, akan sampai pada suatu keadaan di mana unggun
padatan akan tersuspensi di dalam aliran gas yang melaluinya. Pada keadaan ini masing-
masing butiran akan terpisahkan satu sama lain sehingga dapat bergerak dengan lebih mudah.
Pada kondisi butiran yang dapat bergerak ini, sifat unggun akan menyerupai suatu cairan
dengan viskositas tinggi, misalnya adanya kecenderungan untuk mengalir, mempunyai sifat
hidrostatik dan sebagainya. Sifat unggun terfluidisasi ini dapat dilihat pada Gambar 1b.
Dalam dunia industri, fluidisasi diaplikasikan dalam banyak hal seperti transportasi serbuk
padatan (conveyor untuk solid), pencampuran padatan halus, perpindahan panas (seperti
pendinginan untuk bijih alumina panas), pelapisan plastic pada permukaan logam,
proses drying dan sizing pada pembakaran, proses pertumbuhan partikel dan kondensai bahan
yang dapat mengalami sublimasi, adsorpsi (untuk pengeringan udara dengan adsorben), dan
masih banyak aplikasi lain.






Gambar 2
Sifat Cairan dalam Unggun
terfluidisasi

II. FENOMENA FENOMENA FLUIDISASI
Fenomena-fenomena yang dapat terjadi pada prose fluidisasi antara lain:
1. Fenomena fixed bed yang terjadi ketika laju alir fluida kurang dari laju minimum yang
dibutuhkan untuk proses awal fluidisasi. Pada kondisi ini partikel padatan tetap diam. Kondisi
ini ditunjukkan pada Gambar 1a.
2. Fenomena minimum or incipient fluidization yang terjadi ketika laju alir fluida mencapai laju
alir minimum yang dibutuhkan untuk proses fluidisasi. Pada kondisi ini partikel-partikel
padat mulai terekspansi. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 1b.
3. Fenomena smooth or homogenously fluidization terjadi ketika kecepatan dan distribusi aliran
fluida merata, densitas dan distribusi partikel dalam unggun sama atau homogen sehingga
ekspansi pada setiap partikel padatan seragam.
4. Fenomena bubbling fluidization yang terjadi ketika gelembung gelembung pada unggun
terbentuk akibat densitas dan distribusi partikel tidak homogen. Kondisi ini ditunjukkan pada
Gambar 4.





Gambar 4 Fenomena bubbling fluidization
5. Fenomena slugging fluidization yang terjadi ketika gelembung-gelembung
besar yang mencapai lebar dari diameter kolom terbentuk pada partikel-
partikel padat. Pada kondisi ini terjadi penorakan sehingga partikel-partikel
padat seperti terangkat. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 5.




Gambar 5 Fenomena slugging fluidization
6. Fenomena chanelling fluidizationyang terjadi ketika dalam
ungggun partikel padatan terbentuk saluran-saluran seperti
tabung vertikal. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 6.





Gambar 6 Fenomena chanelling
fluidization
7. Fenomena disperse fluidization yang terjadi saat kecepatan alir fluida melampaui kecepatan
maksimum aliran fluida. Pada fenomena ini sebagian partikel akan terbawa aliran fluida dan
ekspansi mencapai nilai maksimum. Kondisi ini ditunjukkan pada Gambar 7.




Gambar 7 Fenomena disperse fluidization
Fenomena-fenomena fluidisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-
faktor:
1. laju alir fluida dan jenis fluida
2. ukuran partikel dan bentuk partikel
3. jenis dan densitas partikel serta faktor interlok antar partikel
4. porositas unggun
5. distribusi aliran,
6. distribusi bentuk ukuran fluida
7. diameter kolom
8. tinggi unggun.
Faktor-faktor di atas merupakan variabel-variabel dalam proses fluidisasi yang akan
menentukan karakteristik proses fluidisasi tersebut. Pada praktikum fluidisasi ini fluida yang
digunakan adalah udara tekan. Butiran padat yang akan difluidisasikan juga dapat bervariasi
seperti butiran batu bara, batu bata, pasir, dan sebagainya. Ukuran partikel juga divariasikan
dengan melakukan pengayakan dengan mesh tertentu. Densitas partikel dapat juga
divariasikan dengan menyampur partikel, baik yang berbeda ukuran maupun berbeda jenis.
Selain itu variasi juga dapat dilakukan pada tinggi unggun. Dalam praktikum ini akan
teramati fenomena-fenomena fluidisasi. Selama fluidisasi berlangsung juga dapat diamati
kecepatan minimum fluidisasi secara visual. Dari hasil pengukuran tekanan dan laju alir
fluida dibuat pula Kurva Karakteristik Fluidisasi. Karakteristik unggun terfluidakan
digambarkan pada kurva karakteristik fluidisasi yang merupakan plot antara log U dan log
P. Persamaan yang digunakan adalah Persamaan Ergun dan Persamaan Wen Yu.

III. EVALUASI PARAMETER-PARAMETER DALAM PERISTIWA FLUIDISASI
1. Densitas Partikel
Penentuan densitas partikel untuk zat padat yang tidak menyerap air atau zat cair lain bisa
dilakukan dengan memakai piknometer. Sedangkan untuk partikel berpori, cara di atas akan
menimbulkan kesalahan yang cukup besar karena air atau cairan akan memasuki pori-pori di
dalam partikel, sehingga yang diukur bukan lagi densitas partikel (berikut pori-porinya)
seperti yang diperlukan di dalam persamaan-persamaan yang ditulis di muka, tetapi densitas
bahan padatnya (tidak termasuk pori-pori di dalamnya). Untuk partikel-partikel yang
demikian, ada cara lain yang biasa digunakan, yaitu dengan memakai metoda yang
diturunkan Ergun.
2. Bentuk Partikel
Didalam persamaan-persamaan yang telah diturunkan sebelumnya partikelpartikel
padatnya dianggap sebagai butiran-butiran yang berbentuk bola dengan diameter rata-rata dp.
Untuk partikel-partikel yang mempunyai bentuk lain, harus diadakansuatu koreksi yang
menyatakan bentuk sebenarnya partikel yang ditinjau. Faktor koreksi ini disebut sebagai
faktor bentuk atau derajat kebolaan suatu partikel yang didefinisikan sebagai:


Derajat kebolaan (s) bisa dipakai
langsung dalam persamaan-persamaan terdahulu dengan mengganti dp menjadi s.dp,
sehingga persamaan Ergun
dapat ditulis menjadi:


dimana s = 1 untuk partikel berbentuk bola
s < 1 untuk partikel berbentuk bola
3. Diameter Partikel
Diameter partikel biasanya diukur berdasarkan analisa ayakan.
4. Porositas Unggun
Porositas unggun menyatakan fraksi kosong di dalam unggun yang secara matematik bisa
ditulis sebagai berikut:


dimana = porositas unggun
Vu = volume unggun
Vp = volume partikel
Harga porositas unggun ini sangat dipengaruhi oleh bentuk geometri butiran padat yang
membentuk unggun tersebut, atau dengan perkataan lain, porositas unggun merupakan fungsi
dari faktor bentuk atau derajat kebolaan partikel-partikelnya. Salah satu hasil eksperimen
yang menggambarkan pengaruh derajat kebolaan terhadap porositas unggun diberikan oleh
Brown.

IV. HILANG TEKAN (PRESSURE DROP)
Aspek utama yang akan ditinjau dalam percobaan ini adalah mengetahui besarnya hilang
tekan (pressure drop) di dalam unggun padatan yang terfluidakan. Hal tersebut mempunyai
arti yang cukup penting karena selain erat sekali hubungannya dengan besarnya energi yang
diperlukan, juga bisa memberikan indikasi tentang kelakuan unggun selama operasi
berlangsung. Penentuan besarnya hilang tekan di dalam unggun terfluidakan terutama
dihitung berdasarkan rumus-rumus yang diturunkan untuk unggun diam, terutama oleh Balke,
Kozeny, Carman, ataupun peneliti-peneliti lainnya.

1. Hilang Tekan Dalam Unggun Diam
Korelasi-korelasi matematik yang menggambarkan hubungan antara kehilangan tekanan
dengan laju alir fluida di dalam suatu sistem unggun diperoleh melalui metode-metode yang
bersifat semi empiris dengan menggunakan bilangan-bilangan yang tak berdimensi. Untuk
aliran laminer dimana kehilangan energi terutama disebabkan oleh Viscous Loses, Blake
memberikan hubungan sebagai berikut:
.........(1)
Dimana: P = Kehilangan tekanan per satuan panjang atau tinggi ukuran
gc = Faktor konversi
= Viskositas fluida
= Porositas unggun yang didefinisikan sebagai perbandingan volume ruang
kosong di dalam unggun dengan volume unggunnya
U = Kecepatan alir superfisial fluida
s = Luas permukaan spesifik partikel
Luas permukaan spesifik partikel (luas permukaan per satuan volume unggun),
dihitung berdasarkan korelasi berikut:
.........(2)
Sehingga persamaan (1) menjadi:
.........(3)
atau, .........(4)
Persamaan (4) ini kemudian diturunkan lagi oleh Konzeng dengan mengamsusikan
bahwa unggun zat padat tersebut adalah ekivalen dengan satu kumpulan saluran-saluran lurus
yang paralel yang mempunyai luas permukaan dalam total dan volume total masing-masing
sama dengan luas permukaan luar partikel dan volume ruang kosongnya. Harga konstanta k
yang diperoleh beberapa peneliti sedikit berbeda, sepertti misalnya:
Konzeng (1927) k= 150
Carman (1937) k= 180
US Bureaunof Mines (1951) k= 200
Untuk aliren turbulen, persamaan (4) tidak bisa dipergunakan lagi, sehingga Ergun (1952)
kemudian menurunkan rumus lain dimana keholangan tekanan digambarkan sebagai
gabungan dari Viscous Losses dan Kinetic Energy Losses.
.........(5)
Viscous Losses Kinetic Energy Losses
Dimana: k
1
= 150
k
2
= 1,75
Pada keadaan ekstrim, yaitu:
a. Aliran laminer (Re=20), sehingga term II bisa diabaikan
b. Aliran turbulen (Re=1000), sehingga term I bisa diabaikan

2. Hilang Tekan Dalam Unggun Terfluidisasikan (Fluidized Bed)
Untuk unggun terfluidisasikan persamaan yang menggambarkan P/L dan U yang
biasanya digunakan adalah persamaan Ergun, yaitu:
....(6)
Dimana f adalah porositas unggun pada keadaan terfluidisasikan. Pada keadaan ini
dimana partikel-partikel zat padat seolah-olah terapung di dalam fluida, akan terjadi
kesetimbangan antara berat partikel dengan gaya apung dari fluida di sekelilingnya.
Gaya berat oleh fluida yang naik = berat partikel gaya apung
Atau:
[kehilangan tekanan pada unggun][Luas penampang]=[volume unggun][densitas zat padat
densitas fluida]
[P][A] = [A.t][1-f][
p
-
p
] g/gc .....(7)
= ][1-f][
p
-
p
] g/gc .....(8)
V. KECEPATAN MINIMUM FLUIDISASI
Yang dimaksud kecepatan minimum fluidisasi (Umf), adalah kecepatan superficial fluida
minimum dimana fluida mulai terjadi. Harga Umbisa diperoleh dengan mengkombinasikan
persamaan (6) dengan persamaan (8)

VI. KARAKTERISTIK UNGGUN TERFLUIDISASIKAN
Karakter unggun terfluidisasikan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik antara
penurunan tekanan (P) dan kecepatan superfisial fluida (U). Untuk keadaan yang ideal,
kurva hubungan ini berbentuk seperti
dalam gambar 8




Gambar 8. Kurva
Karakteristik Fluidisasi Ideal
Keterangan:
Garis AB : menunjukkan kehilangan
tekanan pada daerah unggun diam
Garis BC : menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan
Garis DE: menunjukkan kehilangan tekanan pada daerah unggun diam pada waktu kita
menurunkan kecepatan air fluida . Harga penurunan tekanan untuk kecepatan aliran fluida
tertentu, sedikit lebih rendah daripada harga penurunan tekanan pada saat awal
operasi. Penyimpangan dari keadaan ideal:
1. Interlock
Karakteristik fluidisasi seperti digambarkan pada kurva fluidisasi ideal hanya terjadi pada
kondisi yang betul-betul ideal dimana butiran zat padat dengan mudah saling melepaskan
pada saat terjadi kesetimbangan antara gaya seret dengan berat partikel. Pada kenyataannya,
keadaan di atas tidak selamanya bisa terjadi karena adanya kecenderungan partikel-partikel
untuk saling mengunci satu dengan lainnya (interlock), sehingga akan terjadi kenaikan hilang
tekan (P) sesaat sebelum fluidisasi terjadi. Fenomena interlock ini dapat dilihat pada
Gambar 9, terjadi pada awal fluidisasi saat terjadi perubahan kondisi dari unggun tetap
menjadi unggun terfluidakan.
2. Fluidisasi heterogen (aggregative fluidization)
Jenis penyimpangan yang lain adalah kalau pada saat fluidisasi partikel-partikel padat
tidak terpisah-pisah secara sempurna tetapi berkelompok membentuk suatu agregat. Keadaan
yang seperti ini disebut sebagai fluidisasi heterogen atau aggregative fluidization. Tiga jenis
fluidisasi heterogen yang biasa terjadi adalah karena timbulnya:
a. penggelembungan (bubbling)
b. penorakan (slugging)
c. saluran-saluran fluida yang terpisahkan (chanelling)









Gambar 9 Kurva karakteristik
fluidisasi tidak ideal karena
terjadi interlock


Gambar 10. Tiga jenis
fluidisasi heterogen
a. Bubbling
Dimana saat fluidisasi terjadi di kolom fluidisasi, pada permukaan unggun padat terjadi
ledakan-ledakan kecil (gelembung-gelembung pecah pada permukaan unggun padat)
b. Slugging
Pada saat fluidisasi terjadi di dalam kolom fluidisasi, pada permukaan partikel unggun padat
terjadi ledakan-ledakan kecil menyerupai payung, tetapi letaknya tidak beraturan (berpindah
tempat)
c. Channeling
Pada saat fluidisasi terjadi dalam kolom fluidisasi, pada permukaan unggun padat terjadi
ledakan-ledakan kecil menyerupai payung, teatpi letaknya tetap.

VII. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN FLUIDISASI
a. Keuntungan fluidized bed
1. Kebocoran seperti pada aliaran cairan dan partikel-partikel memberikan kontrol secara
kontinyu.
2. Kecepatan pencampuran solid mendekati kondisi isothermal, tekanan melalui reaktor dimana
operasi dapat dikontroldengan mudah.
3. Sirkulasi solid oleh fluidized bed membuatnya mungkin untuk transportasi dengan jumlah
yang sangat banyak.
b. Kerugian fluidized bed
1. Sulit menggambarkan aliran gas dengan deviasi besar dari sumber aliran dan dengan passing
dari solute dan gelembung-gelembung menyebabkan tidak efisiennya sistem kontak. Hal ini
menjadi serius bila konversi tinggi dan reaktan-reaktan dibutuhkan.
2. Kecepatan penguapan solid dalam uniformnya. Waktu tinggal solid ini memberikan konversi
lebih efektif dengan kata lain untuk mengerjakan solid secara batch. Pencampuran ini
menolong karena memberikan produk solid seragam untuk reaksi-reaksi katalitik.
3. Erosi pipa dan tempat abrasi partikel.
4. Untuk pengoperasian luas katalitik pada tempat operasi yang berpengaruh terhadap
kecepatan reaksi.

VIII. PENGGUNAAN PROSES FLUIDISASI DALAM INDUSTRI
1. Operasi Secara Fisik (Physical Operation), seperti:
a. Transportasi: Sifat fluidisasi pada fluidized bed juga merupakan sifat yang sama dengan
cairan dan sifat ini sangat efektif digunakan untuk alat transportasi dari bubuk padatan.
b. Heat Exchanger (HE): Fluidized bed dapat digunakan untuk HE operasi fisik dan kimia
kareana kemampuannya untuk mempercepat perpindahan panas dan menjaga suhu menjadi
konstan dengan ditunjukkan sebagian kecil dari bermacam penggunaan dalam lingkup ini.
c. Adsorpsi: Proses adsorpsi multistages fluid chart untuk pemisahan dan pemurnian kembali
komponen gas.
2. Operasi Secara Kimia
Contoh: Reaksi gas dengan katalis padat dan reaksi padat dengan gas.

IX. APLIKASI FLUIDISASI DALAM INDUSTRI
a. Gasifikasi : batubara
b. Transportasi
Fluidisasi dapat terfluidisasikan sama seperti cairan, sifat ini digunakan untuk transportasi
padat berupa serbuk.
c. Pencampuran bubuk halus (dengan ukuran partikel berlainan)
d. HE
e. Pelapisan bahan peledak pada permukaan logam
f. Drying dan sizeing

X. INDUSTRI YANG MENGGUNAKAN METODA FLUIDISASI
Beberapa Industry yang menggunakan metoda fluidisasi adalah :
1. Proses desulfurisasi batubara
Proses desulfurisasi batubara Tondongkurah, Sulawesi Selatan telah dilakukan dengan
menggunakan larutan hidrogen peroksida yang diencerkan dalam asam sulfat berkonsentrasi
0,1 N. Percobaan desulfurisasi tersebut dilakukan dengan menggunakan peralatan kolom
fluidisasi yang mempunyai ukuran panjang 80 cm dengan diameter 3,5 cm. Kolom
dihubungkan dengan sebuah pompa sirkulasi yang mampu memberikan suplai larutan dengan
jumlah aliran yang diatur sebesar 100 cc per menit. Hasil percobaan menunjukkan bahwa
proses selama 2 jam dengan mempergunakan kolom tersebut mampu mengurangi 13,9 persen
jumlah sulfur yang terdapat di dalam batubara Tondongkurah yang berukuran (-14+20) mesh.
Perpanjangan waktu sirkulasi larutan hidrogen peroksida dari 2 jam menjadi 6 jam mampu
meningkatkan jumlah pengurangan sulfur menjadi sebesar 42,3 persen. Hasil percobaan
lainnya menunjukkan bahwa perkecilan ukuran partikel batubara dari (-14+20) mesh menjadi
(-20+48) mesh mampu meningkatkan angka tersebut. Pada percobaan desulfurisasi dengan
ukuran batubara (-20+48) mesh selama 2 jam, jumlah pengurangan sulfur adalah 19,6 persen.
Demikian pula, apabila waktu sirkulasi dinaikkan menjadi 6 jam pengurangan sulfur
meningkat menjadi 48,9 persen.

2. Pembuatan Gas Sintetis Dari Batubara Dengan Teknologi Gasifikasi Unggun Terfluidisasi
Percobaan gasifikasi dilakukan terhadap contoh batubara Indonesia dengan menggunakan
reactor gasifikasi sistem unggun terfluidisasi digunakan batubara ukuran halus (-48 + 65
mesh). Gas pereaksi masuk melalui plat distributor untuk mengangkat batubara dan pasir
silica sebagai unggun material dalam zona reaksi sehingga unggun terfluidisasi dan terjadi
proses pencampuran yang sempurna antara gas pereaksi dan batubara. Pada kondisi fluidisasi
suhu dalam reactor lebih merata dibanding dengan reaktor sistem unggun tetap. Suhu reaktor
sistem unggun fluidisasi adalah 900
o
C. Gas hasil gasifikasi yang disebut gas sintetis (syngas)
dilakukan pemurnian dengan alat cyclone, condenser dan scrubber. Sesudah syngas
dimurnikan kemudian dianalisa komposisinya dengan menggunakan gas chromatography
(GC).