Anda di halaman 1dari 51

DRAINASE DAN SEWERAGE BERKELANJUTAN

TL 3202

TUGAS 01 DAN 02
PERENCANAAN JALUR SEWERAGE


Anggota Kelompok :

1. Luh Laksmi Dharayanti Satria 15311010
2. Dimas Haryo Adi Prakoso 15311020
3. Gilang Trisna Kusuma 15311030
4. Stiti Fatimah Azzahra 15311038
5. Nafisa Meisa Iskandar 15311058









PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014



DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................................... 3
1.2 Tujuan ............................................................................................................................................ 5
1.3 Ruang Lingkup Masalah .............................................................................................................. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................................................... 6
2.1 Sewerage ....................................................................................................................................... 6
2.1.1 Sistem dan Karakteristik Air Buangan ................................................................................... 6
2.1.2 Sistem Pengelolaan Air Buangan ........................................................................................... 9
2.1.3 Sistem Setempat .................................................................................................................. 10
2.1.4 Sistem Sanitasi Terpusat ...................................................................................................... 14
2.2 Hidrolika Saluran dalam Air Buangan .......................................................................................... 23
2.2.1 Aliran Dalam Pipa ............................................................................................................... 23
2.2.2 Dasar-Dasar Perhitungan.................................................................................................... 24
2.2.3 Tanki Interseptor .................................................................................................................. 29
2.2.4 Perhitungan Dimensi dan Saluran Air Buangan ................................................................... 31
2.2.5 Bangunan Pelengkap ............................................................................................................ 34
2.3 Metodologi Perencanaan ............................................................................................................... 36
2.3.1 Proyeksi Penduduk .............................................................................................................. 36
2.3.2 Metode Terpilih .................................................................................................................... 42
BAB III KONDISI EKSISTING .......................................................................................................................... 45
BAB IV DETAIL PERENCANAAN SISTEM AIR BUANGAN .............................................................................. 48
4.1 Pemilihan Periode Perencanaan .................................................................................................... 48
4.2 Penentuan Sistem Pengolahan Air Buangan ................................................................................ 49

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem Penyaluran Air Buangan merupakan salah satu sarana pendukung yang
penting untuk membantu terciptanya kondisi sanitasi lingkungan yang baik, yang pada
akhirnya dapat menunjang terciptanya suatu masyarakat yang sehat dan produktif.
Perbaikan sanitasi lingkungan pemukiman yang bersih, sehat dan berkesinambungan
akan meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui terciptanya kesehatan masyarakat.
Adapun keuntungan dari pelayanan air kotor bagi masyarakat antara lain :
a) Perbaikan lingkungan pemukiman terutama untuk daerah-daerah padat
penduduk.
b) Penataan sistem saluran pembuangan.
c) Penataan sistem sanitasi lingkungan pemukiman.
d) Penurunan tingkat pencemaran pada badan-badan air penerima akibat
pembuangan limbah domestik.
Limbah cair domestik adalah sisa air yang telah dipakai untuk kegiatan sanitasi
manusia seperti minum, memasak, mandi, mencuci, menyiram tanaman, dan lain-lain.
Kegiatan sanitasi di gedung perkantoran, komersial, dan kegiatan industri turut
menyumbangkan air limbah domestik ke dalam sistem penyaluran air buangan. Air
limbah mempunyai komposisi yang sangat bervariasi, tergantung pada sumber asal
limbah tersebut.
Limpahan air hujan akan bergabung dengan air limbah, dan sebagian air hujan
tersebut menguap dan ada pula yang merembes ke dalam tanah dan akhirnya menjadi
air tanah. Apabila permukaan air tanah bertemu dengan saluran air limbah, maka
terjadi penyusupan air tanah ke saluran limbah melalui sambungan-sambungan pipa
atau melalui celah -celah yang ada karena rusaknya saluran pipa (Sudrajat, 2004).
Jika saluran pembuangan tidak direncanakan dengan baik, maka akan terjadi
pencemaran terhadap air tanah yang mengakibatkan penurunan kualitas air tanah.
Dengan adanya sistem pembuangan air kotor, maka kualitas air tanah dapat terjaga
dengan baik

Sistem Sewerage di Negara Berkembang
Peningkatan populasi yang terjadi terus-menerus juga akan berdampak pada
peningkatan limbah buangan yang dihasilkan, karena setiap manusia akan
menimbulkan buangan baik cairan, padatan maupun dalam bentuk gas. Limbah yang
dihasilkan dapat bertindak sebagai bahan pencemar bagi mahluk hidup dan dapat
merusak lingkungan di sekitarnya jika tidak diolah dengan baik. Untuk menjamin
tercapainya keseimbangan ekologis dari alam dan mahluk hidup di sekitarnya perlu
dibangun suatu instalasi pengolahan limbah sebelum dialirkan langsung ke badan air.
Saat ini, pengelolaan sistem sanitasi limbah buangan rumah tangga perlu diperhatikan
lebih jauh karena dampak negatifnya terhadap lingkungan. Beberapa contoh
dampaknya antara lain ancaman kesehatan pada masyarakat, pencemaran air tanah
dangkal, dan pencemaran badan air. Timbulan air limbah domestik yang dominan
pada umumnya bersifat organo-mikrobiologis. Limbah cair ini berasal dari perumahan,
perkantoran, hotel, tempat hiburan, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya yang sering
digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Dalam perencanaan wilayah pemukiman banyak dijumpai kesalahan
perencanaan saluran-saluran pembuangan yang mengakibatkan saluran yang
direncanakan tidak dapat menampung debit puncak air buangan dari pemukiman
tersebut. Hal ini disebabkan oleh karena adanya salah perhitungan besar debit puncak
per rumah tangga dan data curah hujan serta diabaikannya faktor-faktor koefisien
perhitungan kemungkinan akan berkembangnya lokasi pemukiman atau wilayah yang
direncanakan. Kemudian dalam pengolahannya pun masih kurang direncanakan
dengan baik dan hanya dilakukan dengan pengolahan sederhana yang dapat
menghasilkan kualitas air limbah yang sangat buruk bagi lingkungan disekitarnya.
Pembuangan limbah domestik dibagi menjadi 2 sistem, yaitu sistem setempat (on-site
sanitation) dengan menggunakan septik tank, dan sistem terpusat (off-site sanitation)
dengan cara limbah dialirkan melalui perpipaan. Dari 2 sistem tersebut, akan dilihat
bagaimana implementasinya di kawasan penelitian.
1.2 Tujuan
1. Menentukan sistem air buangan yang tepat untuk wilayah Kebon kembang
2. Menentukan sistem jaringan perpipaan yang efektif untuk menyalurkan air
buangan di wilayah kebon kembang
3. Menentukan sistem pengolahan air buangan yang sesuai dengan kondisi
daerah Kebon Kembang
4. Menganalisis kondisi daerah studi setelah dan sebelum adanya perancangan
sistemair buangan ini.

1.3 Ruang Lingkup Masalah
Hal-hal yang dilakukan dalam pengerjaan tugas akhir yang menjadi ruang lingkup
perencanaan, yaitu:
a. Tinjauan terhadap kondisi lingkungan perencanaan
b. Perencanaan jaringan induk penyaluran air buangan dengan pembatasan
perencanaan pada periode perencanaan, batas daerah perencanaan dan
pembagian blok pelayanan.
c. Penetapan criteria perencanaan jaringan induk sistem penyaluran air buangan.
d. Penentuan jaringan penyaluran air buangan berdasarkan aspek ekonomis dan
teknis.
e. Perhitungan kuantitas air buangan di daerah pelayanan.
f. Perhitungan dimensi pipa saluran berdasarkan kapasitas pembebanan serta
bangunan pelengkap yang dibutuhkan.
g. Desain jaringan pipa dan aksesoris perencanaan yang dibutuhkan



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sewerage
Sewer adalah jaringan perpipaan yang pada umumnya tertutup dan secara
normal tidak membawa aliran air buangan secara penuh. Sewage adalah cairan
buangan yang dibawa melalui Sewer. Sewerage System adalah suatu sistem
pengelolaan Air Limbah mulai dari pengumpulan (sewer), pengolahan (treatment)
sampai dengan pembuangan akhir (disposal) (Suripin,2004).

2.1.1 Sistem dan Karakteristik Air Buangan
2.1.1.1 Kuantitas
Penentuan kuantitas air buangan secara tepat sangat sulit ditentukan, hal ini
disebabkan karena faktor yang mempengaruhi. Faktor yang mempengaruhi air
buangan adalah (Moduto, 2000):
a. Jumlah air bersih yang dibutuhkan perkapita akan mempengaruhi jumlah air
limbah yang dihasilkan.
b. Keadaan masyarakat di daerah tersebut, yang dibedakan berdasarkan :
- Tingkat perkembangan suatu daerah. Jumlah air limbah dikota lebih banyak
daripadadidaerahpedesaan.
- Daerah yang mengalami kekeringan akan berbeda cara membuang limbahnya
jika dibandingkan dengan daerah yang tidak mengalami kekeringan.
- Pola hidup masyarakat, terutama cara membuang limbahnya. Besaran air
buangan yang sering digunakan dalam perencanaan (Moduto, 2000):
Amerika : 100-200 liter/orang/hari
Eropa : 40-225 liter/orang/hari
Indonesia : 100 150 liter/orang/hari Untuk air limbah dari WC
besaran yang sering digunakan dalam perencanaan tangki septik peresapan
adalah 25 liter/orang/hari. Menurut Babbit (1969), kuantitas air limbah domestik
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Jumlah Penduduk, semakin tinggi jumlah penduduk, maka jumlah
air limbah yang dihasilkan semakin tinggi karena 60%-80 % dari air
bersih akan menjadi air limbah.
2. Jenis aktifitas, semakin tinggi penggunaan air bersih dalam suatu
kegiatan maka air limbah yang dihasilkan juga semakin banyak.
3. Iklim, pada daerah beriklim trofis dan kuantitas hujannya tinggi
cenderung menghasilkan air limbah yang lebih tinggi.
4. Ekonomi, pada tingkat ekonomi yang lebih tinggi kecenderungan
pemakaian air bersih akan lebih tinggi. Hal ini tentu saja akan
menghasilkan air limbah yang lebih tinggi pula.
5. Infiltrasi, adanya infiltrasi baik dari air hujan ataupun air permukaan
lainnya akan mempengaruhi jumlah air limbah yang ada pada
suatu perkotaan.
6. Jenis saluran pengumpul, bila saluran pengumpul yang digunakan
saluran terbuka, maka jumlah air limbah yang dihasilkan akan
banyak karena kemungkinan terjadi infilterasi dari air hujan
ataupun dari sumber lain lebih besar. Bila jenis saluran pengumpul
yang digunakan adalah berupa jaringan perpipaan maka
kemungkinan terjadi infilterasi lebih kecil.
2.1.1.2 Kualitas
Menurut Babbit (1969) faktor yang mempengaruhi kualitas air limbah adalah:
- Musim/Cuaca, negara yang mengalami 4 musim debit maksimum terjadi biasanya
pada musim dingin, karena terjadi penggelontoran yang cukup besar untuk
mencegah terjadinya pembekuan didalam pipa.
- Waktu harian, konsumsi air bersih tiap jamnya dalam sehari sangat bervariasi. Hal
ini sangat berpengaruh terhadap debit air limbah yang diterima oleh bangunan
pengolah. Konsumsi air ini mengalami puncak rata-rata ada jam 06.00-08.00 dan
jam 16.00 18.30.
- Waktu perjalanan, Waktu konsumsi puncak air belum tentu sama dengan waktu
puncak timbulnya air limbah yang diterima oleh badan pengolahan, karena adanya
waktu perjalanan dari sumber ke unit pengolahan. Semakin dekat perjalanan maka
semakin dekat perbedaan puncak konsumsi air dengan waktu puncak timbulnya air
limbah.
- Jumlah Penduduk, semakin banyak populasi yang akan dilayani semakin besar pula
debit air limbah yang timbul.
- Jenis aktifitas atau sumber penggunaan air bersih yang dihasilkan dari suatu tempat
memiliki kualitas yang bermacam-macam. Misalnya air limbah dari pasar memiliki
kandungan organik lebih tinggi dari pada air limbah dari perkantoran.
- Jenis saluran pengumpul air limbah yang digunakan, jika menggunakan sistem
tercampur maka air limbah akan lebih buruk karena partikulat. Dalam sistem
terpisah kontaminan yang ada pada air limbah memiliki konsenterasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan dengan system tercampur karena adanya
pengenceran oleh air hujan.
- Klasifikasi karakteristik fisik air buangan


2.1.2 Sistem Pengelolaan Air Buangan
2.1.2.1 Dasar Perencanaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam perencanaan desain
suatu sistem penyaluran air buangan adalah :
- Sistem perpipaan merupakan saluran yang tertutup, sehingga terhindar dari
gangguan terhadap lingkungan di sekitarnya dan saluran tidak terganggu oleh
kegiatan di sekitarnya.
- Air bekas dibuang dari pemukiman penduduk agar tidak mengganggu keindahan
dan kesehatan lingkungan yang ditimbulkan oleh proses penguraian maupun lalat
dan binatang lain yang mungkin hidup sehingga harus disalurkanke pengolahan.
- Waktu pengaliran air buangan dari titik terjauh ke lokasi pengolahan tidakboleh
lebih dari 18 jam untuk menghindari terjadinya proses penguraian dalam saluran
- Penyaluran air buangan dilakukan dengan cara gravitasi dalam saluran tidak
bertekanan
- Jaringan sistem pengumpul harus melayani semua daerah pelayanan. Menurut
Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah,2003 supaya saluran tetap
berfungsi baik dalam keadaan debit maksimum maupun minimum, ada beberapa
faktor seperti:
a. Luaspenampangsaluran
b. Kemiringan saluran serta kekasarannya
c. Kondisi pengaliran
d. Belokan atau rintangan lain
e. Karakteristik efluen
2.1.3 Sistem Setempat
Sistem sanitasi setempat (On-site sanitation) adalah sistem pembuangan air
limbah dimana air limbah tidak dikumpulkan serta disalurkan ke dalam suatu jaringan
saluran yang akan membawanya ke suatu tempat pengolahan air buangan atau
badan air penerima, melainkan dibuang di tempat penyaluran air buangan (Fajarwati,
2000) . Sistem ini di pakai jika syarat-syarat teknis lokasi dapat dipenuhi dan
menggunakan biaya relatif rendah. Sistem ini sudah umum karena telah banyak
dipergunakan di Indonesia. Adalah sistem dimana air limbah tidak dikumpulkan dalam
satu tempat, tetapi masing-masing yang mengeluarkan air buangan membuat sendiri
sistem pengelolaannya, kemudian di buang ke badan air penerima. Sistem ini biasa
sering dipakai, antara lain:
1. Cubluk,
2. Septik Tank
Gabungan sistem ini membutuhkan tempat penyaluran, pembuangan dan pengolahan.
Kelebihan sistem ini adalah: (Suripin, 2004)
a) Biaya pembuatan relatif murah.
b) Bisa dibuat oleh setiap sektor ataupun pribadi.
c) Teknologi dan sistem pembuangannya cukup sederhana.
d) Operasi dan pemeliharaan merupakan tanggung jawab pribadi.
e) Dapat menggunakan bahan / material setempat
f) Tidak berbau dan cukup higienis jika pemeliharaannya baik
g) Hasil dekomposisi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Disamping itu, kekurangan sistem ini adalah:
a) Umumnya tidak disediakan untuk limbah dari dapur, mandi dan cuci
b) Mencemari air tanah bila syarat-syarat teknis pembuatan dan pemeliharaan
tidak dilakukan sesuai aturannya.
c) Tidak cocok diterapkan disemua daerah (tidak cocok untuk daerah dengan
kepadatannya tinggi, muka air tanah tinggi dan permeabilitas tanah rendah)
d) Memerlukan lahan yang luas
e) Sistem ini tidak diperuntukkan bagi limbah dapur, mandi dan cuci karena
volumenya kecil, sehingga limbah cair dari dapur dan cuci akan tetap
mencemari saluran drainase dan badan-badan air yang lain.
f) Bila pemeliharaannya tidak dilakukan dengan baik, akan dapat mencemari air
tanah dan sumur dangkal.
g) Pelayanan terbatas

Pada penerapan sistem setempat ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi (DPU,
1989) antara lain:
a) Kepadatan penduduk kurang dari 200 jiwa /ha.
b) Kepadatan penduduk 200-5 jiwa/ha masih memungkinkan dengan syarat
penduduk tidak menggunakan air tanah.
c) Tersedia truk penyedotan tinja



Gambar 1.1 Skema On Site System
Sumber : Babbit, 1969
A. Cubluk (Sumur Penampung)
Jamban cubluk atau kakus cemplung (pit latrine) merupakan sarana sanitasi
sederhana yang umum digunakan di negara-negara sedang berkembang (terutama di
desa-desa). Bentuknya sangat sederhana dan terdiri dari 3 bagian, yaitu : (Suripin,
2004)
a) Sumur pengumpul tinja (cubluk)
b) pelat jongkok berikut pondasinya,
c) Bangunan pelindung (konstruksi bagian atas)
Beberapa jenis cubluk yang umum digunakan yaitu : (Suripin, 2004)
i. Jamban cubluk konvensional
Jamban berlubang tradisional dengan bentuk yang sangat sederhana tanpa
ventilasi. (biasanya berbau dan lalat serta nyamuk dapat berkembang biak
dengan cepat.
ii. Jamban Cubluk Yang Diperbaiki dan Berventilasi (JCDV).
Jamban cubluk dengan lubang tunggal, yang direncanakan untuk penggunaan
paling sedikit 2 tahun. Umumnya sesuai digunakan pada daerah yang air tanah
dalamnya dan ukuran lubang tidak terbatas.
iii. Jamban Cubluk Ganda Yang Diperbaiki dan Berventilasi (JCGDV)
Jamban dengan struktur permanent mempunyai 2 lubang yang dapat
digunakan bergantian. Jamban ini tepat digunakan didaerah perkotaan, dimana
masyarakat sanggup membiayai dan tanpa harus memindahkannya setiap
tahun.
iv. Jamban Cubluk Lubang Banyak Yang Diperbaiki dan Berventilasi.
Jamban lebih dari satu lubang yang lebih tepat digunakan di tempat-tempat
umum. Bau yang timbul dari dalam cubluk akan keluar akibat adanya aliran
udara di ujung pipa ventilasi yang dapat terbuat dari PVC. Pemberian ventilasi
ini juga memberikan peranan penting dalam mengurangi perkembangbiakan
nyamuk dan lalat.

Penggunaan JCDV dan JCGDV direncanakan untuk pemakaian tanpa air,
artinya tinja tidak perlu digelontor masuk ke dalam cubluk. Untuk menjaga agar cubluk
tetap kering dan mencegah pengotoran air tanah, maka pembangunan cubluk tidak
dilakukan dibawah muka air tanah. Pemakaian cubluk dilakukan bergantian selama
periode tertentu. Setiap cubluk harus didesain dengan masa periode paling sedikit 1
tahun sebelum menutup cubluknya dan menggunakan cubluk yang lain. Setelah
cubluk pertama terisi penuh sesuai masa periode desain yang telah ditentukan,
pemakaian cubluk kedua baru dimulai. Bila cubluk kedua hampir penuh, maka cubluk
yang pertama dikosongkan dan siap untuk digunakan lagi. Dengan cara bergantian
maka kedua cubluk dapat digunakan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Karena
kotoran tersimpan lama dalam cubluk yang sedang ditutup (tidak digunakan), maka
organisme yang dapat menimbulkan penyakit dalam kotoran akan mati (kotoran sudah
menjadi humus) sehingga tidak ada bahaya penyebaran penyakit dari cubluk yang
akan digali (digunakan kembali).

B. Tangki Septik dan Sumur Resapan

Penggunaan tangki septik paling banyak digunakan untuk pengolahan air
buangan rumah tangga dan sistem ini cocok untuk sistem on-site sanitation walaupun
kualitas bakteriologinya masih kurang baik. Tangki septik yang sudah umum di
Indonesia adalah toilet tuang siram atau istilah lain kakus leher angsa. Sistem ini
mempunyai unit air perapat (water seal) yang dipasang di bawah pelat jongkok atau
tumpuan tempat duduk sehingga dapat mencegah gangguan lalat dan masuknya bau
ke toilet. Air buangan dapur dan kamar mandi sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam
tangki septik kecuali bila tanki tersebut direncanakan mampu menampung debit air
buangan yang besar. Tangki septik paling banyak digunakan penduduk sebagai
penampung sementara air buangan toilet karena biayanya yang relatif murah. Tangki
septik harus diletakkan pada lokasi yang tepat agar tidak mencemari sumber air tanah.

Gambar 1.2 Sumur Resapan
Sumber : Geyer, et.al.,1968


Gambar 1.3 Tangki Septik dan Bidang Resapan
Sumber : Geyer, et.al.,1968

2.1.4 Sistem Sanitasi Terpusat
Sistem sanitasi terpusat adalah sistem dimana air limbah dari seluruh
daerah pelayanan dikumpulkan dalam riol pengumpul, kemudian dialirkan ke dalam
riol kota menuju tempat pengolahan dan baru dibuang ke badan air penerima.
Sistem Sanitasi Terpusat (Off site sanitation) merupakan sistem pembuangan air
buangan rumah tangga (mandi, cuci, dapur, dan limbah kotoran) yang disalurkan
keluar dari lokasi pekarangan masing-masing rumah ke saluran pengumpul air
buangan dan selanjutnya disalurkan secara terpusat ke bangunan pengolahan air
buangan sebelum dibuang ke badan perairan.
Keuntungan: (Fajarwati, 2000)
a Memberikan pelayanan lebih aman, nyaman dan menyeluruh.
b Menampung semua air buangan rumah tangga sehingga pencemaran terhadap
saluran drainase dan badan air lainnya serta air tanah dapat dihindari.
c Cocok diterapkan di daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk menengah
sampai tinggi.
d Tahan lama dikarenakan sistem ini dibuat dengan periode perencanaan
tertentu.
e Tidak memerlukan lahan (permukaan) yang luas, sebab jaringan pipa ditanam
di dalam tanah.
Kerugian:
a Biaya investasi jaringan sangat tinggi
b Memerlukan teknologi yang memadai untuk membangun dan memelihara
system
c Instalasi lebih rumit sehingga memerlukan perencanaan yang tepat.
d Keuntungan baru bisa dicapai sepenuhnya setelah sistem dapat dimanfaatkan /
digunakan oleh seluruh penduduk di daerah pelayanan.
e Sistem jaringan pipa yang luas memerlukan perencanaan dan pelaksanaan
jangka panjang.

Sistem sanitasi off-site mempunyai beberapa teknologi yang sering digunakan,
antara lain:
1. Conventional Sewerage
2. Shallow Sewers
3. Small bore sewer dengan pengolahan

2.1.4.1 Sistem Penyaluran Terpisah
Sistem Penyaluran terpisah atau biasa disebut separate system/full sewerage
adalah sistem dimana air buangan disalurkan tersendiri dalam jaringan riol
tertutup, sedangkan limpasan air hujan disalurkan tersendiri dalam saluran
drainase khusus untuk air yang tidak tercemar (Fajarwati, 2000). Sistem ini
digunakan dengan pertimbangan antara lain:
a) Periode musim hujan dan kemarau lama.
b) Kuantitas aliran yang jauh berbeda antara air hujan dan air buangan domestik.
c) Air buangan umumnya memerlukan pengolahan terlebih dahulu, sedangkan air
hujan harus secepatnya dibuang ke badan penerima.
d) Fluktuasi debit (air buangan domestik dan limpasan air hujan) pada musim
kemarau dan musim hujan relatif besar.
e) Saluran air buangan dalam jaringan riol tertutup, sedangkan air hujan dapat
berupa polongan (conduit) atau berupa parit terbuka (ditch).
Kelebihan sistem ini adalah masing-masing sistem saluran mempunyai dimensi
yang relatif kecil sehingga memudahkan dalam konstruksi serta operasi dan
pemeliharaannya. Sedangkan kelemahannya adalah memerlukan tempat luas
untuk jaringan masing-masing sistem saluran.


2.1.4.2 Sistem Penyaluran Konvensional
Sistem penyaluran konvensional (conventional Sewer) merupakan suatu
jaringan perpipaan yang membawa air buangan ke suatu tempat berupa bangunan
pengolahan atau tempat pembuangan akhir seperti badan air penerima. Sistem ini
terdiri dari jaringan pipa persil, pipa lateral, dan pipa induk yang melayani
penduduk untuk suatu daerah pelayanan yang cukup luas (Dewiandratika, 2002).
Setiap jaringan pipa dilengkapi dengan lubang periksa manhole yang ditempatkan
pada lokasi-lokasi tertentu. Apabila kedalaman pipa tersebut mencapai 7 meter,
maka air buangan. harus dinaikkan dengan pompa dan selanjutnya dialirkan
secara gravitasi ke lokasi pengolahan dengan mengandalkan kecepatan untuk
membersihkan diri . Syarat yang harus dipenuhi untuk penerapan sistem
penyaluran konvensional:
a Suplai air bersih yang tinggi karena diperlukan untuk menggelontor.
b Diameter pipa minimal 100 mm, karena membawa padatan.
c Aliran dalam pipa harus aliran seragam.
d Slope pipa harus diatur sehingga V cleansing terpenuhi (0.6 m/det). Aliran
dalam saluran harus memiliki tinggi renang agar dapat mengalirkan padatan.
e Kecepatan maksimum pada penyaluran konvensional 3m/detik.
Kelebihan sistem penyaluran konvensional adalah tidak diperlukannya suatu
tempat pengendapan padatan atau tangki septik. Sedangkan kekurangan dari
sistem penyaluran konvensional antara lain: (Geyer, et.al.,1968)
a Biaya konstruksi relatif mahal.
b Peraturan jaringan saluran akan sulit jika dikombinasikan dengan saluran small
bore sewer, karena dua sistem tersebut membawa air buangan dengan
karakteristik berbeda sehingga tidak boleh ada cabang dari sistem
konvensional bersambung ke saluran small bore sewer. Daerah yang cocok
untuk penerapan sistem penyaluran konvensional:
c Daerah yang sudah mempunyai sistem jaringan saluran konvensional atau
dekat dengan daerah yang punya sistem ini.
d Daerah yang mempunyai kepekaan lingkungan tinggi, misalnya daerah
perumahan mewah, pariwisata.
e Lokasi pemukiman baru, dimana penduduknya memiliki penghasilan cukup
tinggi, dan mampu membayar biaya operasional dan perawatan.
f Di pusat kota yang terdapat gedung-gedung bertingkat yang apabila tidak
dibangun jaringan saluran, akan diperlukan lahan untuk pembuangan dan
pengolahan sendiri.
g Di pusat kota, dengan kepadatan penduduk > 300 jiwa/ha dan umumnya.
Penduduk menggunakan air tanah, serta lahan untuk pembuatan sistem
setempat sangat sulit dan permeabilitas tanah buruk.
Kompleks perumahan baru dan pusat perdagangan atau industri adalah tempat
yang paling sesuai untuk sistem sewerage ini. Conventional Sewerage sebaiknya
dipilih antara lain: (Geyer, et.al.,1968)
a. Bila mayoritas rumah tangga sudah memiliki sambungan air bersih.
b. Bila teknologi sanitasi setempat tidak layak.
c. Di daerah pemukiman baru dimana mereka mampu membiayai sewerage dan
sebaiknya dilengkapi dengan IPAL.
d. Untuk daerah yang kemiringannya 1% perlu diselidiki adanya kemungkinan
untuk mengembangkan saluran drainase yang ada dan menggunakannya
sebagai sewerage gabungan.


Gambar. 1.4 Sistem Konvensional
Sumber : Babbit,1969


2.1.4.3 Sistem Riol Dangkal (Shallow Sewer)
Shallow sewerage disebut juga Simplified sewerage atau Condominial
Sewerage. Perbedaannya dengan sistem konvensional adalah sistem ini
mengangkut air buangan dalam skala kecil dan pipa dipasang dengan slope lebih
landai (World Bank, 1986). Perletakan saluran ini biasanya diterapkan pada blok-
blok rumah. Shallow sewer sangat tergantung pada pembilasan air buangan untuk
mengangkut buangan padat jika dibandingkan dengan cara konvensional yang
mengandalkan self clensing. Sistem ini cocok diterapkan sebagai sewerage di
daerah perkampungan dengan kepadatan tinggi, tidak di lewati oleh kendaraan
berat dan memiliki kemiringan tanah sebesar 1% Shallow sewer harus
dipertimbangkan untuk daerah perkampungan dengan kepadatan penduduk tinggi
dimana sebagian besar penduduk sudah memiliki sambungan air bersih dan
kamar mandi pribadi tanpa pembuangan setempat yang memadai. Sistem ini
melayani air buangan dari kamar mandi, cucian, pipa servis, pipa lateral tanpa
induk serta dilengkapi dengan pengolahan mini.

Gambar 1.5 Shallow Sewerage System
Sumber : Babbit, 1969



2.1.4.4 Sistem Riol Ukuran Kecil/Small Bore Sewer
Saluran pada sistem riol ukuran kecil (small bore sewer) ini dirancang,
hanya untuk menerima bagian-bagian cair dari air buangan kamar mandi, cuci,
dapur dan limpahan air dari tangki septik, sehingga salurannya harus bebas zat
padat. Saluran tidak dirancang untuk self cleansing, dari segi ekonomis sistem ini.
lebih murah dibandingkan dengan sistem konvensional (Dewiandratika, 2002).
Daerah pelayanan relatif lebih kecil, pipa yang dipasang hanya pipa persil dan
servis yang menuju lokasi pembuangan akhir, pipa lateral dan pipa induk tidak
diperlukan, kecuali untuk beberapa daerah perencanaan dengan kepadatan
penduduk sangat tinggi dan timbulan air buangan yang sangat besar. Sistem ini
dilengkapi dengan instalasi pengolahan sederhana.
Sistem ini di desain untuk mengalirkan bagian air buangan rumah tangga.
Pasir, lemak dan benda padat lain yang dapat menggangu saluran dapat
dipisahkan dari aliran pada tangki inteseptor yang dipasang diujung setiap
sambungan yang menuju saluran. Padatan yang terakumulasi pada tangki
interseptor diangkat secara periodik. SBS pada umumnya cocok untuk daerah
yang datar dan mempunyai taraf muka air tinggi.
Syarat yang harus dipenuhi untuk penerapan sistem ini: (Dewiandratika, 2002)
a. Memerlukan tangki yang berfungsi untuk memisahkan padatan dan cairan ,
tangki ini biasanya tangki septik.
b. Diameter pipa minimal 50 mm karena tidak membawa padatan.
c. Aliran yang terjadi dapat bervariasi.
d. Aliran yang terjadi dalam pipa tidak harus memenuhi kecepatan self cleansing
karena tidak harus membawa padatan.
e. Kecepatan maksimum 3m/det.
Kelebihan Sistem Riol Ukuran Kecil: (Dewiandratika, 2002)
a. Cocok untuk daerah dengan kerapatan penduduk sedang sampai tinggi
terutama daerah yang telah menggunakan tangki septik tapi tanah sekitarnya
sudah tidak mampu lagi menyerap effluen tangki septik.
b. Biaya pemeliharaan relatif murah.
c. Mengurangi kebutuhan air, karena saluran tidak mengalirkan padatan
d. Mengurangi kebutuhan pengolahan misalnya screening.
e. Biasanya dibutuhkan di daerah yang tidak mempunyai lahan untuk bidang
resapan atau bidang resapannya tidak efektif karena permebilitasnya jelek.
Kekurangan Sistem Riol Ukuran Kecil atau System Small Bore Sewer antara lain:
(Geyer, et.al.,1968)
a. Memerlukan lahan untuk tangki.
b. Memungkinkan untuk terjadi clogging karena diameter pipa yang kecil.

Sistem Small Bore Sewer secara umum memiliki komponen berupa: (Geyer,
et.al.,1968)
1. Sambungan rumah, dibuat pada inlet tangki interseptor. Semua buangan
kecuali sampah memasuki sistem melalui bagian ini.
2. Tangki interseptor (Interceptor Tank), didesain untuk menampung aliran selama
24 jam untuk memisahkan endapan dari cairannya. Volumenya dapat
menyimpan padatan yang secara periodik akan diambil.
3. Saluran berupa pipa plastik berlubang kecil (diameter minimum 50-100 mm)
dengan kedalaman yang cukup untuk mengumpulkan air buangan dari
sambungan sistem gravitasi dan dibuat sesuai dengan bentang alam.
4. Pembuang dan manhole, sebagai jalan masuk dan pemeliharaan saluran serta
untuk menggelontor selama pembersihan saluran.
5. Vent, untuk memelihara kondisi aliran yang bebas.
6. Sistem pemompaan (jika diperlukan) untuk mengangkat effluent dari tangki
interseptor ke saluran untuk mengatasi perbedaan elevasi diperlukan bagi
sistem saluran dengan area yang luas.
7. Lahan pengolahan buangan untuk mengalirkan cairan dan jaringan pengumpul
dan untuk menampung buangan padat hasil olahan dari tangki interceptor.
8. Aliran yang masuk adalah aliran rata-rata. Aliran maksimum dianggap sama
dengan aliran rata-ratanya sedangkan kecepatan minimum tidak memiliki batas.
Aliran air tanah yang masuk ke dalam saluran (infiltrasi) terjadi bila letak sewer
di bawah muka air tanah, inipun biasanya kecil sekali terhadap sewer yang baru,
sehingga sering diabaikan dalam perhitungan aliran. Jadi perhitungan aliran
infiltrasi ditentukan berdasarkan keadaan sewer dan muka air tanah. Ukuran pipa
minimum untuk sambungan rumah dengan small bore sewer sistem berdiameter
50 mm, sedang pipa minimum bagi sewer 100 mm. (Babbit, 1969)

Gambar 1.6 Small Bore System
Sumber : Babbit, 1969

2.1.4.5 Sistem Penyaluran Tercampur
Sistem penyaluran tercampur merupakan sistem pengumpulan air buangan
yang tercampur dengan air limpasan hujan (Sugiharto, 1987). Sistem ini digunakan
apabila daerah pelayanan merupakan daerah padat dan sangat terbatas untuk
membangun saluran air buangan yang terpisah dengan saluran air hujan, debit
masingmasing air buangan relatif kecil sehingga dapat disatukan, memiliki
kuantitas air buangan dan air hujan yang tidak jauh berbeda serta memiliki
fluktuasi curah hujan yang relatif kecil dari tahun ke tahun.
Kelebihan sistem ini adalah hanya diperlukannya satu jaringan sistem
penyaluran air buangan sehingga dalam operasi dan pemeliharaannya akan lebih
ekonomis. Selain itu terjadi pengurangan konsentrasi pencemar air buangan
karena adanya pengenceran dari air hujan. Sedangkan kelemahannya adalah
diperlukannya perhitungan debit air hujan dan air buangan yang cermat. Selain itu
karena salurannya tertutup maka diperlukan ukuran riol yang berdiameter besar
serta luas lahan yang cukup luas untuk menempatkan instalasi pengolahan
buangan.

2.1.4.6 Sistem Kombinasi
Pada sistem penyalurannya secara kombinasi dikenal juga dengan istilah
interceptor, dimana air buangan dan air hujan disalurkan bersama-sama sampai
tempat tertentu baik melalui saluran terbuka atau tertutup, tetapi sebelum
mencapai lokasi instalasi antara air buangan dan air hujan dipisahkan dengan
bangunan regulator (Hardjosuprapto 2000).
Air buangan dimasukkan ke saluran pipa induk untuk disalurkan ke lokasi
pembuangan akhir, sedangkan air hujan langsung dialirkan ke badan air penerima.
Pada musim kemarau air buangan akan masuk seluruhnya ke pipa induk dan tidak
akan mencemari badan air penerima. Sistem kombinasi ini cocok diterapkan di
daerah yang dilalui sungai yang airnya tidak dimanfaatkan lagi oleh penduduk
sekitar, dan di darah yang untuk program jangka panjang direncanakan akan
diterapkan saluran secara konvensional, karena itu pada tahap awal dapat
dibangun saluran pipa induk yang untuk sementara dapat dimanfaatkan sebagai
saluran air hujan.

2.2 Hidrolika Saluran dalam Air Buangan
2.2.1 Aliran Dalam Pipa
Dalam sistem perpipaan air buangan, jenis aliran yang terjadi adalah aliran terbuka.
Adapun karakteristik aliran terbuka antara lain:
- Alirannya secara gravitasi.
- Unsteady (debit berubah terhadap waktu) dan kadang-kadang non-uniform (tidak
seragam).
- Alirannya harus dapat mengangkut material-material yang terkandung dalam air
buangan. Selain itu aliran dalam pipa juga harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:

a. Self cleansing
Aliran yang self cleansing harus memenuhi kriteria aliran dengan tegangan
geser (Tc) sebesar =0,33 0,38 Kg/m. kecepatan aliran terendah pada saat
debit puncak berlangsung harus berkisar antara 0,6 3,0 m/detik.
b. Bebas dari terbentuknya H
2
S dan endapan
c. Tidak menggerus pipa Aliran akan menggerus pipa apabila:
1. Aliran melebihi batas kecepatan maksimal (V> 3 m/detik) (Design and
Construction of Sanitary and Storm Sewers, 1969).
2. Terjadi aliran kritis
2.2.2 Dasar-Dasar Perhitungan
a. Persamaan Kontinuitas
Untuk suatu aliran tunak (steady), persamaan kontinuitas adakah sebagai
berikut:
Q = A x v = konstan
Keterangan :
Q = Debit aliran (m3/detik)
A = Luas penampang melintang saluran (m
2
)
v = Kecepatan aliran (m/detik)
b. Kemiringan Tanah
Untuk menghitung dimensi saluran, terlebih dahulu harus menghitung
kemiringan tanah, yang dihitung dengan persamaan (H E Babbit, Sewerage and
Sewage Treatment, 1969):
St = (E1-E2)/L
Keterangan :
St = slope tanah
E1 = elevasi tanah hulu (m)
E2 = elevasi tanah hilir (m)
L = jarak (m)
Setelah mendapatkan kemiringan tanah, maka asumsikan terlebih dahulu kemiringan
saluran sama dengan kemiringan tanah sehingga dapat ditentukan kedalaman pipa
awal dan akhir serta dapat dihitung kecepatan alirannya.
c. Kecepatan Aliran
Kecepatan aliran dapat dihitung menggunakan persamaan Manning, dengan
menggunakan nilai kemiringan yang telah didapat. Jika kecepatan aliran tidak
memenuhi syarat maka perhitungan dimulai lagi dengan cara merubah kemiringan
pipa. Persamaan yang digunakan adalah (H E Babbit, Sewerage and Sewage
Treatment, 1969):
V = 1/n x R 2/3 x S 12 = Q/A
Keterangan : V : Kecepatan aliran (m/detik)
Q : Debit aliran (m
3
/detik)
n : Koefisien kekasaran
A : Luas penampang basah aliran
R : Jari-jari hidrolis alira (m
2
) ; R = 14 D
2

S : Kemiringan saluran
D : Diameter pipa (m)
d. Debit Rata-Rata (Qr)
Menurut literatur, faktor timbulan air buangan berkisar 50%-80% (Metcalf &
Eddy,1991). Untuk menghitung debit rata-rata digunakan persamaan berikut ini: Qr =
Fab x Qam
Keterangan : Qr = Debit rata-rata air buangan (L/detik) Fab = Faktor timbulan air
buangan Qam = Besarnya kebutuhan rata-rata air minum (L/detik)
e. Debit Rata-Rata Non domestik
Debit rata-rata non domestik adalah debit air buangan yang berasal dari fasilitas
umum, institusional, industri dan pemerintahan . Besarnya debit air buangan non
domestik tergantung dari pemakaian air dan jumlah penghuni fasilitas-fasilitas
tersebut.
Qnd = Fab x Qam
(nd
Keterangan : Qnd : Debit rata-rata air buangna non domestik
(L/detik) Fab : Faktor timbulan air buangan Qam(nd) : Besarnya kebutuhan rata-rata
air minum non domestik

Dalam kondisi ideal, air yang masuk maupun keluar dari sistem penyaluran tidak
dibenarkan, tetapi infiltrasi tidak dapat dihindarkan sepenuhnya karena hal berikut :
- Jenis-jenis bahan saluran dan bahan sambungan yang digunakan.
- Pengerjaan sambungan pipa yang kurang sempurna.
- Kondisi tanah dan air tanah Persamaan untuk menghitung debit
infiltrasi yaitu (H E Babbit, Sewerage and Sewage Treatment, 1969) : Qinf =
Cr.P.Qr + L.qinf Keterangan :
Qinf : Debit infiltrasi (L/detik)
Qr : Debit rata-rata air buangan (L/detik.1000Jiwa)
qinf : Debit inflow (L/detik/Lm)
Cr : Koef. infiltrasi rata-rata daerah persil = 0.2-0.3
P : Populasi (dalam ribuan jiwa)
L : Panjang lajur pipa mayor/lateral (Km)
f. Debit Puncak (Qpeak)
Debit puncak didapat dari hasil perkalian antara faktor puncak dengan debit rata-rata.
Untuk menghitung faktor puncak dari beberapa literatur diketahui sebagai berikut:
Fp = 5/P
0.2

Keterangan :
Fp : Faktor puncak
P : Jumlah penduduk (jiwa)
Untuk mencari debit puncak, persamaan yang digunakan adalah:
Qpeak = Fp x Qmd + Cr.P.Qr +L/1000.qinf
Keterangan :
P : Jumlah Populasi yang dilayani (dalam ribuan jiwa)
Qmd : Debit maksimal = 1.15 Qr (L/detik)
Qr : Debit rata-rata (L/detik)
L : Panjang pipa(m)
Cr : Koefisien infiltrasi daerah persil = 0.2
qinf : Debit infiltrsasi
g. Debit Minimum Air Buangan (Qmin)
Debit minimum adalah debit air buangan pada saat pemakaian air minimum. Debit
minimum ini digunakan dalam menentukan kedalaman minimum, untuk menentukan
perlu tidaknya penggelontoran. Persamaan Babbit dapat digunakan untuk menentukan
debit minimum, yaitu (H E Babbit, Sewerage and Sewage Treatment, 1969):
Qmin = 0.2 P
1.2
. qr
Keterangan :
Qmin : Debit Minimum (L/detik)
qr : Debit rata-rata air buangan (l/detik/ribuan jiwa) P : Jumlah penduduk (dalam ribuan
jiwa)
h. Debit perencanaan (m
3
/s)
Debit perencanaan merupakan debit dari hasil perhitungan perencanaan. Debit ini
didapat dengan menjumlahkan debit puncak dengan debit infiltrasi dengan
persamaan:
Q
d
= Q
peak
+ Q
inf
i. Diameter perhitungan (m)
Persamaan yang digunakan untuk mengetahui diameter pipa agar sesuai dengan
perencanaan adalah (H E Babbit, Sewerage and Sewage Treatment, 1969):

j. 11. Debit aliran dalam pipa (m
3
/s)
Debit aliran dalam pipa dapat dihitung menggunakan persamaan kontinyuitas debit
aliran dengan memanfaatkan diameter pasaran

k. Perhitungan galian

2.2.3 Tanki Interseptor
Tangki interseptor sebagai bagian dari small bore sewer, biasanya didesain
seperti septic tank. Dengan demikian konstruksi tangki interseptor tidak perlu
dilakukan (kecuali bangunan baru), tetapi hanya memanfaatkan septic tank yang
telah dibangun. Untuk daerah yang belum memiliki septik tank, akan dibuat septic
tank komunal dengan kapasitas masing-masing untuk melayani 10 rumah.

( A )


( B )
Gambar 2.7 Tipikal Tangki Interseptor (Mara, 1985) (A) dan Tangki Interseptor yang
Digunakan di Indonesia (Puslitbangkim, 1997) (B)
Kriteria desain untuk septic tank :
a. Perbandingan Panjang (P) dan Lebar (L) 2 - 4 : 1
b. Lebar (L) minimum 0,7 m
c. Panjang (P) minimum 1 m
d. Kedalaman minimum 2,1 m
e. Freeboard 0,2-0,4 m
Data yang diperlukan untuk mendesain sebuah tangki interseptor perumahan adalah :
a. Jumlah penghuni tiap rumah
b. Jumlah total yang dilayani
c. Jumlah air buangan per orang
d. Rencana Pengerukan
e. Perkiraan lahan yang tersedia bagi konstruksi tangki \
f. Bentuk dan dimensi tangki

Perhitungan:
1. Waktu retensi hidrolik minimum
t
h
= 1,53 0,3 log (P x q)
2. Volume tangki
V
h
= 10
-3
(P x q) t
h
3. Volume lumpur dan penyimpanan
V
L
= 40 x 10
-3
(P x N)
4. Kedalaman lumpur
H
L
=
L
V
P x L

5. Kedalaman busa
H
b
=
0, 4
6 x 3
per 1 m
3
air buangan
6. Ketinggian daerah bebas lumpur
H
p
=
h
V
P x L

7. Kedalaman efektif total
H = H
L
+ H
b
+ H
p
8. Kedalaman tangki
H
tot
= H + freeboard

2.2.4 Perhitungan Dimensi dan Saluran Air Buangan
Dalam perencanaan sistem penyaluran air buangan, diperlukan perhitungan
dimensi dan saluran air buangan yang terdiri dari tahap perhitungan yaitu :
1. Menentukan titik akhir
2. Menentukan blok yang dilayani
3. Menghitung blok kumulatif yang dilayani oleh jalur tersebut
4. Menghitung panjang pipa yang digunakan oleh jalur tersebut. (L)
5. Menghitung panjang pipa dari awal sampai akhir saluran (L
kum
).
6. Elevasi muka tanah di awal saluran (H
1
)
7. Elevasi muka tanah di akhir saluran (H
2
)
8. Menentukan luas blok yang dilayani
9. Menghitung jumlah penduduk
10. Menghitung jumlah penduduk kumulatif (P)
11. Menghitung jumlah penduduk kumulatif per 1000 jiwa (P)
12. Menghitung debit rata-rata air buangan domestik (Qr Dom) (L/detik)
Qr Dom = f.ab x Q.am
Qr. Dom = debit air buangan domestik
f.ab = faktor air buangan
Q.am = debit
13. Menghitung debit rata-rata air buangan non domestik. (Qr non-Dom) (L/detik)
Qrnd = Fab x Qam
nd
Qr. Non Dom = debit air buangan non domestik
f.ab = faktor air buangan
Q.amd = debit
14. Menghitung debit rata-rata total Qr (L/detik).
15. Menghitung selisih ketinggian tanah
16. Menghitung slope tanah.
17. Menghitung slope pipa
Bila S
t
> 0, slope pipa = S
t

Bila S
t
< 0, slope pipa diasumsikan
18. Menghitung faktor puncak air buangan
( ) ( ) ( )
5 , 0
5 , 0
4 18 P P Fp + + =
19. Menghitung debit puncak
20. Menghitung debit infiltrasi
21. Menghitung debit desain
Q
d
= Q
p
+ Q
inf
22. Menghitung diameter teoritis
D
teo
=
8
3
0.5
d
S 0,321
n . Q
(


23. Diameter pipa di pasaran
24. Menghitung kecepatan aliran saat penuh
V
full
=
2
1
3
2
S R
n
1

25. Menghitung debit saat pipa penuh
Q
full
= A X V
full

26. Menghitung Qd/Qf
27. Mencari nilai d/D dari data Qd/Qf dengan menggunakan nomogram Manning
28. Mencari nilai Vp/Vf dari data d/D dengan menggunakan nomogram Manning
29. Menghitung kecepatan aliran saat debit puncak (Vp) m/detik
V
p
=
full
full
p
V
V
V

Ketentuan yang harus terpenuhi adalah 0,3 m/detik < V
p
< 3 m/detik.
Jika nilai V
p
belum sesuai maka slope harus diperbesar.
30. Elevasi puncak pipa hulu (P
1
) (m).
P
1
= elevasi muka tanah kedalaman pipa
31. Elevasi puncak pipa hilir (P
2
) (m)
P
2
= elevasi puncak pipa hulu ( ) L S
32. Elevasi dasar pipa hulu (B
1
) (m).
B
1
= P
1
diameter pipa
33. Elevasi dasar pipa hilir (B
2
) (m).
B
2
= P
2
diameter pipa
34. Kedalaman galian di hulu (G
1
) (m).
G
1
= H
1
B
1

35. Kedalaman galian di hilir (G
2
) (m).
G
2
= H
2
B
2

36. Perbedaan ketinggian antara galian awal dan galian akhir (dG) (m).
dG = G
1
G
2

Jika dG > 0, artinya slope tanah lebih besar dari slope saluran sehingga dibutuhkan
drop manhole apabila nilai dG > 0,6 m.
Jika dG < 0, artinya slope tanah lebih kecil dari slope saluran dan jika nilai dG
mencapai 7 m akan dibutuhkan pemompaan.
Jika dG = 0, artinya slope tanah sama dengan slope saluran, kondisi inilah yang
diinginkan.
37. Lebar galian (CG) (m).
LG = 1, 5 Diameter pipa 0, 5 +
38. Volume galian (VG) (m
3
).
VG = ( ) ( ) 2 L LG G2 G1 +

2.2.5 Bangunan Pelengkap
2.2.5.1 Pompa
Berfungsi untuk mengangkut air buangan dari tempat yang lebih
rendah ke tempat yang lebih tinggi. Hal ini diperlukan karena kedalaman maksimum
saluran yang diperbolehkan untuk perencanaan penyaluran air buangan domestik
hanya 7 meter dari permukaan. Oleh karena itu diperlukan peninggian dasar saluran
pada suatu tempat untuk memperoleh kemiringan saluran yang direncanakan
sehingga pengaliran air buangan pada sistem penyaluran dapat terjadi secara
gravitasi. (Grundfos,1996)
Jenis pompa yang terpilih adalah pompa yang memberikan beberapa keuntungan
antara lain :
a. Menghemat tempat di permukaan tanah.
b. Tidak mempunyai masalah dengan tinggi hisap.
c. Tidak menimbulkan kebisingan karena pompa terendam di dalam air.
d. Lebih ekonomis dalam hal biaya perawatan.
Lamanya air buangan di dalam bak pengumpul tidak boleh lebih dari 30 menit
(Metcalf, 1991) untuk mencegah terjadinya pengendapan dan dekomposisi air
buangan. Taraf muka air maksimum pada bak pengumpul ini harus berada di bawah
aliran masuk ke dalamnya agar tidak terjadi aliran balik.
Bak pengumpul akan dibuat direncanakan berbentuk persegi empat dengan
kedalaman yang dikehendaki sesuai dengan pompa yang direncanakan. Panjang bak
pengumpul ini disesuaikan dengan panjang ruang yang dibutuhkan untuk penempatan
seluruh pompa yang sedang beroperasi maupun pompa cadangan.
e. Volume maksimum, V
max
= Q
peak
x t
d
(t
d
direncanakan 600 detik)
Q
peak
yang diambil adalah Q
peak
dari saluran sebelumnya. Bak pengumpul yang
direncanakan berbentuk rektangular, dengan perbandingan panjang : lebar = 1 : 1.
Tetapi hal ini tidak selalu dijadikan patokan pada setiap bak pengumpul, pada
beberapa titik menggunakan perbandingan yang tidak terlalu jauh berbeda. Setelah
menentukan V
max
, maka bisa didapatkan ketinggian air maksimum dalam bak
pengumpul (h
max
) dengan persamaan :
h
max
=
max
max
A
V

Ketinggian air maksimum masih harus ditambah lagi dengan freeboard setinggi 0,3 m.
Batas kerja pompa adalah pada kedalaman minimum (h
min)
bak pengumpul. Bila air
pada kedalaman minimum pompa mulai bekerja. Tetapi apabila air berada kurang dari
kedalaman minimum, pompa secara otomatis tidak bekerja sehingga tidak
menggerakkan panel kontrol yang terletak diatas. Selain itu kedalaman minimum ini
menjaga rendaman pada pompa isap.
V
min
= Q
min
x t
d
h
min
=
A
V
min


2.2.5.2 Siphon
Untuk menghitung dimensi siphon, pertama-tama kita harus memiliki data debit
minimum (Q
min
) serta data debit rata-rata (Q
r
). Lalu kita menghitung besarnya
kecepatan serta debit pada saat aliran penuh untuk debit pipa yang masuk ke siphon,
dapat dihitung dengan rumus :
1)
2 1
3 2
1
( )
n
V R S = , dimana R = D
pipa
/ 4
2) Q
full
= A x V

Kemudian kita menentukan besar diameter pipa untuk masing-masing kapasitas pipa:
a. Diameter pipa untuk kapasitas debit minimum (D
1
)
b. Diameter pipa untuk kapasitas debit rata-rata di atas debit minimum (D
2
)
c. Dimeter pipa untuk kapasitas debit puncak (D
3
), pipa harus mampu menampung
Q
full
Q
min
- Q
r koreksi

Dengan rumus :
2 1
2
3 2 1
( ) ( )( )
2 4
d d
Q S
n
t =
Dimana :
Q = debit yang melewati pipa, m3/s
d = diameter pipa, m
n = koefisien kekasaran Manning
S = slope siphon, m/m
Untuk penentuan diameter ini, slope yang digunakan adalah besar slope yang tersedia
untuk pembuatan siphon. Untuk setiap diameter, kita melakukan cek kecepatan untuk
mengetahui besar V > 0,9 m/s (Shun Dar Lin, 2001). Jika tidak memenuhi, diameter
diperbesar hingga kecepatan aliran memenuhi kriteria.
2.3 Metodologi Perencanaan
2.3.1 Proyeksi Penduduk
2.3.1.1 Metode Proyeksi Penduduk
Proyeksi penduduk bertujuan untuk mengetahui kebutuhan air dan proyeksi kebutuhan
air di masa mendatang. Dalam proyeksi penduduk ini, dikenal 5 metode, yaitu metode
Aritmatik, Regresi Linier, Geometrik, Eksponensial, dan Logaritmik. Dari kelima
metode tersebut, hanya 1 metode yang akan digunakan untuk memproyeksikan
penduduk untuk 20 tahun ke depan. Metode yang dipilih adalah metode yang
menghasilkan R
2
paling mendekati 1 dengan standar deviasi terkecil, dengan
persamaan berikut.
R
2
=


Standar deviasi = (


Data yang akan diolah dengan kelima metode ini adalah data jumlah penduduk berikut
ini, dengan asumsi pertumbuhan penduduk sebesar 1%.

Tabel 2.3.1 Data Awal Jumlah Penduduk
Tahun
P
(Jiwa)
2004 755
2005 763
2006 770
2007 778
2008 786
2009 794
2010 802
2011 810
2012 818
2013 827
2014 835

A. Metode Aritmatika
Asumsi pada metode ini adalah penduduk akan bertambah dengan jumlah yang
sama setiap tahunnya. Persamaan yang digunakan antara lain :
Pn = Po + (r(Tn-To))
r = (P
i
-P
i-1
)/N
Di mana, Pn adalah jumlah penduduk hasil proyeksi (jiwa), Po adalah data awal
jumlah penduduk (jiwa), R adalah rasio pertambahan penduduk, dan N adalah jumlah
data yang diolah. Berikut ini adalah hasil proyeksi dengan menggunakan metode
Aritmatik.
Tabel 2.3.2 Proyeksi Penduduk dengan Metode Aritmatik
Tahun P(jiwa)
R
(jiwa/ta
hun)
Tn-to
Pn
(jiwa)
Pn-Pr
(Pn-
Pr)^2
Pn-P
(Pn-
P)^2
2014 835 0 0 835 -25 644 0 0
2015 843 8 1 844 -17 285 0 0
2016 852 8 2 852 -8 70 0 0
2017 860 9 3 861 0 0 0 0
2018 869 9 4 869 9 75 0 0
2019 878 9 5 878 17 296 0 0
Jumla 4302 43 15 4303 1 726 1 0
h
Rata-
Rata
860 9 3 861 0 145 0 0
R^2 0.99974
Deviasi 0.16107

C. Metode Regresi Linier
Asumsi metode ini adalah jumlah penduduk dari tahun ke tahun akan bertambah
secara linier. Persamaan yang digunakan antara lain :
Pn = a + bx
a =

dan b =


Di mana y = Pn dan a, b adalah konstanta regresi linier. Berikut ini adalah hasil
perhitungan dengan metode regresi linier.

Tabel 2.3.3 Proyeksi Penduduk dengan Regresi Linier

X
Y
(jiwa)
X^2 XY
Pn
(jiwa)
Pn-
Pr
(Pn-
Pr)^2
Pn-
P
(Pn-
P)^2

2014 835 4056196 1681690 835 -21 454 0 0

2015 843 4060225 1699350 843 -13 163 0 0

2016 852 4064256 1717196 852 -4 18 0 0

2017 860 4068289 1735228 860 4 18 0 0

2018 869 4072324 1753449 869 13 163 0 0

2019 878 4076361 1771861 877 21 454 0 0
Jumlah 12099 5137 24397651 10358774 5137 0 1270 0 0
Rata-
Rata
2016.5 856 4066275 1726462 856 0 212 0 0
A -16321.41936
B 8.518509692
R^2 0.999947197
Deviasi 0.096504053

D. Metode Geometrik
Metode Geometri cocok untuk memproyeksikan penduduk yang pada tahun-tahun
awal pertambahan absolutnya sedikit dan semakin banyak pada tahun-tahun akhir
(Klosterman, 1990). Persamaan yang digunakan, antara lain sebagai berikut.
Pn = Po (1+r)
n

r =



Tabel 2.3.4 Proyeksi Penduduk dengan Metode Geometrik
Tahun P
R
=((Pi-
(P(i-
1))/Pi)
Tn-
To
Pn
Pn-
Pr
(Pn-
Pr)^2
Pn-P
(Pn-
P)^2
2014 835 0 0 835 -21 448 0 0
2015 843 0.0099 1 842 -14 204 -1 2
2016 852 0.0099 2 849 -7 54 -3 9
2017 860 0.0099 3 856 0 0 -4 20
2018 869 0.0099 4 863 7 45 -6 36
2019 878 0.0099 5 870 14 192 -8 57
Jumlah 5137 0 15 5114 -22 942 -22 124
Rata-
rata
856 0 3 852 -4 157 -4 21
R^2 0.868297697
Deviasi 11.44117256

E. Metode Eksponensial
Metode ini dapat digunakan untuk memproyeksikan penduduk dengan tipe
pertumbuhan yang sedikit sepanjang tahunnya (Adioetomo, 2010). Persamaan yang
digunakan adalah sebagai berikut.
y = a.e
kx

ln a = (1/N)(ln y - kx)
b =



Tabel 2.3.5 Proyeksi Penduduk dengan Metode Eksponensial

X
Y
(jiwa)
ln y x^2 x*ln y Pn Pn-Pr
(Pn-
Pr)^2
Pn-P
(Pn-
P)^2

2014 835 6.727
4056
196
1354
9.047
835 -21 448 0 0.00

2015 843 6.737
4060
225
1357
5.825
843 -13 164 0 0.00

2016 852 6.747
4064
256
1360
2.622
852 -4 19 0 0.00

2017 860 6.757
4068
289
1362
9.439
860 4 17 0 0.00

2018 869 6.767
4072
324
1365
6.276
869 13 163 0 0.00

2019 878 6.777
4076
361
1368
3.133
878 21 460 0 0.00
Juml
ah
1209
9
5137
40.51
4
2439
7651
8169
6.343
5137 0 1270
4.922
64E-
11
1.110
97E-
18
Rata-
Rata
2016.
5
856.1
55
6.752
4066
275.1
67
1361
6.057
856 0 212
8.204
4E-
12
1.851
62E-
19
b 0.009950331
ln a -13.31253461
a 1.65364E-06
R^2 1
Deviasi 3.92812E-10

F. Metode Logaritmik
Metode Logaritmik dapat digunakan untuk proyeksi penduduk yang pertumbuhannya
non linear. Persamaan yang digunakan dalam metode ini antara lain :
y = a + b ln x
a = 1/N . (y-b . (ln x))
b =



Tabel 2.3.6 Proyeksi Penduduk dengan Metode Logaritmik

X
Y
(jiwa)
ln x y*ln x
(ln
x)^2
Pn
(jiwa)
Pn-Pr
(Pn-
Pr)^2
Pn-P
(Pn-
P)^2

2014 835 7.608
6352.
578
57.88
0
835 -21 454 0 0.022

2015 843 7.608
6416.
523
57.88
7
843 843
7112
88
0 0.001

2016 852 7.609 6481. 57.89 852 852 7257 0 0.014
110 5 37

2017 860 7.609
6546.
348
57.90
2
860 860
7403
23
0 0.014

2018 869 7.610
6612.
242
57.91
0
869 869
7550
47
0 0.001

2019 878 7.610
6678.
800
57.91
8
877 877
7699
09
0 0.022
Juml
ah
1209
9
5137
45.65
5
3908
7.601
347.3
92
5137 4281
3702
758
-
1.177
8E-
10
0.074
Rata-
Rata
2016.
5
856 7.609
6514.
600
57.89
9
856 713
6171
26
-
1.962
99E-
11
0.012
b 17177.52029
a -129849.6278
R^2 0.99999998
Deviasi 0.101313691

2.3.2 Metode Terpilih
Dari kelima metode tersebut, metode yang memiliki tingkat ketelitian (R
2
) tertinggi
adalah metode eksponensial, dengan nilai R2 = 1 dan deviasi sebesar 3.92812E-10.
Maka dari itu, metode ini digunakan untuk proyeksi penduduk dalam 20 tahun ke
depan, dengan hasil proyeksi sebagai berikut.
Tabel 2.3.7 Proyeksi Penduduk 20 Tahun dengan Metode Eksponensial
Tahun
Pn
(Jiwa)
2014 835
2015 843
2016 852
2017 860
2018 869
2019 878
2020 886
2021 895
2022 904
2023 913
2024 922
2025 932
2026 941
2027 950
2028 960
2029 969
2030 979
2031 989
2032 999
2033 1009
2034 1019











2.3 Metodologi Perencanaan



BAB III
KONDISI EKSISTING
No. Gambar Keterangan
1.

Tempat septic tank, dibawah lantai
keramik yang berwarna putih
merupakan septic tank. Septic tank
yang ada tanpa perkerasan sehingga
dapat meresap ke dalam tanah. Septic
Tank dianggap tidak pernah penuh.
2.

Pipa gas buangan dari septic tank yang
ditempatkan di dalam dinding.
3.

Kondisi perumahan yang sangat padat,
ruas untuk jalan hanya selebar badan
manusia. Tidak memungkinkan adanya
saluran drainase ataupun sistem
pengolahan air buangan seperti septic
tank.
Jenis rumah didominasi dengan rumah
semi permanen.

Selain rumah penduduk, daerah ini
digunakan sebagai daerah kost
mahasiswa terutama mahasiswa ITB.
Biasanya di kostan terdapat
pengolahan air buangan seperti septic
tank dengan paradigma yang salah,
yaitu septic tank tanpa perkerasan.
4.

Kondisi MCK yang kurang terpelihara
dan kurang memadai. Tidak terdapat
sistem pengolahan air buangan. Air
buangan langsung di buang ke badan
sungai.
5.

Terdapat buangan manusia di saluran
drainase.
6.

Terdapat bangunan semi permanen
diatas badan air. Aliran air terganggu.
Terdapat resiko terbawanya bangunan
jika debit badan air sangat besar.
7.

Badan air penerima air buangan yang
sudah mengalami pendangkalan
dimana-mana, overload dari zat-zat
pencemar. Buangan dibuang langsung
dari rumah rumah melalui pipa.

BAB IV
DETAIL PERENCANAAN SISTEM AIR BUANGAN
4.1 Pemilihan Periode Perencanaan
4.1.1 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Faktor- faktor yang menjadi pertimbangan tahapan perancanaan adalah:
- Pertumbuhan penduduk di daerah layanan Laju pertumbuhan penduduk Kota
Bandung pada tahun 2012 tercatat sebesar 0,72%. Seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan sarana dan prasarana
sanitasi turut meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan pembangunan sistem
penyaluran air buangan yang berkelanjutan. Menurut Imhoff & Fair,1966, jika
persentase rata- rata pertumbuhan penduduk di daerah perencanaan <
3%/tahun maka lama periode perencanaan 20-25 tahun, sedangkan jika
persentase rata-rata pertumbuhan penduduk di daerah perencanaan >
3%/tahun maka lama periode perencanaan 10-15 tahun.
- Kecepatan pertumbuhan sarana perkotaan Penduduk membutuhkan sarana
dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Dengan adanya pertumbuhan
penduduk, sarana untuk memenuhi aktivitas pun turut meningkat yang
disesuaikan dengan masterplan pengembangan kota.
- Mempermudah evaluasi Periode perencanaan yang dibagi empat tahap akan
mempermudah dalam proses evaluasi dalam pembangunan.
- Penekanan biaya
Periode perencanaan yang panjang akan menambah nilai investasi. Biaya
pembangunan akan tertutup dengan nilai investasi yang meningkat.
4.1.2 Penentuan Periode Perencanaan
Sistem penyaluran air bungan Kelurahan Taman Sari akan berlanngsung selama 20
tahun dimulai dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2033. Faktor-faktor yang menjadi
pertimbangan tahapan perancanaan adalah:
- Pertumbuhan penduduk di daerah layanan
Laju pertumbuhan penduduk Kota Bandung pada tahun 2012 tercatat sebesar 0,72%.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan sarana dan
prasarana sanitasi turut meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan pembangunan sistem
penyaluran air buangan yang berkelanjutan. Menurut Imhoff & Fair,1966, jika
persentase rata-rata pertumbuhan penduduk di daerah perencanaan < 3%/tahun maka
lama periode perencanaan 20-25 tahun, sedangkan jika persentase rata-rata
pertumbuhan penduduk di daerah perencanaan > 3%/tahun maka lama periode
perencanaan 10-15 tahun.
- Kecepatan pertumbuhan sarana perkotaan
Penduduk membutuhkan sarana dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari. Dengan
adanya pertumbuhan penduduk, sarana untuk memenuhi aktivitas pun turut meningkat
yang disesuaikan dengan masterplan pengembangan kota.
- Mempermudah evaluasi
Periode perencanaan yang dibagi empat tahap akan mempermudah dalam proses
evaluasi dalam pembangunan.
- Penekanan biaya Periode perencanaan yang panjang akan menambah nilai
investasi. Biaya pembangunan akan tertutup dengan nilai investasi yang
meningkat.
4.2 Penentuan Sistem Pengolahan Air Buangan
Dalam perencanaan sistem pengelolaan air limbah di kawasan daerah studi ini
kami merekomendasikan untuk dibangun Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat
(Off-Site). Seperti yang telah diketahui, sistem pengelolaan air limbah terpusat (Off-
site) efektif untuk diterapkan pada kawasan dengan kemiringan tanah >1% dengan
kepadatan penduduk yang tinggi. Apabila dibandingkan dengan kondisi eksisting
dimana kemiringan tanah >1% maka sistem pengolahan air limbah terpusat (off-site)
memang cocok untuk diterapkan di daerah studi. Selain itu, dalam daerah studi tidak
terdapat lahan tanah untuk membangun sistem pengelolaan secara setempat (On-site)
karena padatnya perumahan.
Dengan menggunakan sistem pengelolaan air limbah terpusat, air limbah domestik
dari rumah penduduk, baik blackwater maupun greywater, disalurkan melalui saluran
khusus menuju lokasi pengolahan yang telah ditetapkan. Sistem penyaluran yang
kami rekomendasikan adalah Shallow Bore Sewer dimana air limbah langsung
disalurkan dari rumah penduduk menuju lokasi pengolahan limbah melalui saluran
perpipaan tanpa melalui adanya proses pemisahan padatan terlebih dahulu.
Sistem Shallow Bore Sewer ini cocok untuk diterapkan pada kawasan dengan lahan
tanah terbatas, daerah cakupan tidak melebihi 100 ha dengan kepadatan penduduk
tidak melebihi rerata 160 jiwa/hektar, jalan diatas jalur perpipaan tidak banyak dilalui
kendaraan berat, dan kemiringan tanah <2%. Berdasarkan kriteria tersebut, sistem
penyaluran ini cocok dengan kondisi daerah studi dimana perumahan sangat padat
sehingga lahan tanah menjadi sangat terbatas dan tidak memungkinkan untuk
dibangun tangki interseptor untuk setiap rumah, daerah cakupan hanya sekitar 3.78
hektar dengan kepadatan penduduk 152 jiwa/hektar, dan lebar jalan yang tersedia
cukup kecil hanya dapat dilalui sepeda motor sehingga kendaraan berat tidak akan
melewati jalur perpipaan. Sayangnya, daerah studi memiliki kemiringan tanah yang
cukup beragam di beberapa titik, namun hal ini dapat diantisipasi dengan
menyesuaikan kedalaman penggalian saluran sehingga kemiringan saluran tetap >2%.
Selain itu biaya untuk sistem Shallow Bore Sewer relatif lebih murah dibandingkan
sistem konvensional karena biaya penggalian dapat ditekan akibat penggalian yang
dangkal. Hal ini sangat sesuai dengan daerah studi karena kondisi perekonomian di
daerah studi mayoritas adalah kalangan menengah ke bawah.