Anda di halaman 1dari 17

IATMI 10-005

PENILAIAN FAKTOR KETIDAKPASTIAN DALAM


PERHITUNGAN SATURASI FLUIDA PADA RESERVOIR
BATU PASIR LEMPUNGAN DENGAN DESAIN EKSPERIMEN

Oleh Heru Atmoko
PPPTMGB LEMIGAS

Abstrak

Seperti yang telah diketahui adanya
lempung dalam batuan reservoar telah
memberikan kesulitan tersendiri dalam
kuantifikasi besaran saturasi fluida. Dewasa ini
lebih dari 100 buah model persamaan saturasi
fluida telah dibuat untuk mengatasi hal
tersebut. Ada beberapa faktor reservoar yang
bisa mempengaruhi harga saturasi fluida yaitu
porositas (), kandungan lempung (V
cl
),
resistivitas lempung (R
cl
), resistivitas air
formasi (R
w
), resistivitas batuan (R
t
),
tortousitas (a), faktor sementasi (m), dan
eksponen saturasi (n). Faktor-faktor tersebut
dengan adanya kandungan lempung dalam
reservoar tentunya akan mempengaruhi
besaran harganya.
Ketidakpastian terhadap faktor-faktor
tersebut diatas mempunyai kecendrungan
yang besar dikarenakan untuk
mendapatkannya dari rekaman log perlu
keahlian dari seorang log
analyst/petrophyscist dalam menguasi
lapangan yang diteliti disamping data
pendukung lainnya yang sangat berarti yaitu
data hasil analisa laboratorium sebagai
kalibrasi hasil perhitungan.
Untuk melihat faktor-faktor yang paling
dominan dalam mempengaruhi perhitungan
saturasi fluida dalam kaitannya kehadiran
lempung di reservoar maka metoda desain
eksperimen perlu dilakukan. Model dari
Plackett Burnman dengan 24 kombinasi
kemungkinan (PB-24 Run) digunakan untuk
melihat pengaruh dari faktor-faktor reservoar
terhadap saturasi fluida pada Lapangan-X di
laut Jawa bagian barat yang terdapat
kandungan lempung pada reservoarnya.
Tujuh (7) buah faktor ketidakpastian
paling dominan telah diketahui dari delapan
(8) buah faktor yang diteliti dengan
mempengaruhi harga saturasi fluida adalah
antara 11 118%. Disamping itu persamaan
korelasi serta distribusi tingkat probabillity
10%, 50% dan 90% untuk estimasi saturasi
fluida pada batuan reservoar kehadiran
lempung telah dikembangkan dari metoda
desain eksperimen ini.
Dari hasil penelitian ini diharapkan
bisa membantu bagi para log
analyst/petrophyscist agar
lebih berhati-hati sewaktu melakukan
perhitungan terhadap empat (7) buah faktor
yang paling dominan dan bagaimana caranya
untuk memperkecil faktor ketidakpastian
tersebut. Selain itu harapan persamaan
korelasi saturasi fluida yang telah dibangun
dari penelitian ini bisa diterapkan untuk semua
reservoar yang mempunyai kandungan
lempung dan tidak bersifat lokal.

1. Latar Belakang

Masih seringnya terabaikan oleh
pelaku industri migas mengenai pentingnya
peranan data core dalam perhitungan saturasi
fluida baik karena alasan ketidakpahaman,
biaya dan waktu menjadikan ketidakpastian
yang tinggi dalam hasil perhitungannya.
Penggunaan parameter/faktor yang berlaku
umum pada jenis batuan tertentu masih belum
merupakan jawaban yang memuaskan untuk
kasus-kasus di Indonesia kerena keragaman
reservoarnya. Ada beberapa faktor reservoar
yang bisa mempengaruhi harga saturasi fluida
dalam batuan reservoar yang mengandung
lempung yaitu porositas (), kandungan
lempung (V
cl
), resistivitas lempung (R
cl
),
resistivitas air formasi (R
w
), resistivitas batuan
(R
t
), tortuositas (a), faktor sementasi (m), dan
eksponen saturasi (n). Faktor-faktor tersebut
mempunyai rentang harga yang variatif
tergantung dari keragaman batuan reservoar
itu sendiri dan menjadi kesulitan tersendiri
bagi seorang ahli analisa log apalagi tidak
tersedianya data core sebagai
pembandingnya.
Tulisan ini akan membahas dampak
dari faktor-faktor tersebut terhadap hasil
perhitungan saturasi fluida dengan
menggunakan desain eksperimen. Diharapkan
dari fenomena yang terjadi menjadi perhatian
bersama akan pentingnya peranan data core
sehingga akan didapatkan hasil perhitungan
yang mempunyai tingkat kepercayaan yang
tinggi.


IATMI 10-005

2. Faktor Ketidakpastian Dalam
Perhitungan Saturasi Fluida

Sumur-X di laut Jawa bagian barat
dipilih untuk dilakukan studi ini yang
merupakan sumur eksplorasi pada formasi
Talangakar yang memiliki kandungan lempung
diatas 15% didalam reservoarnya. Tipe dan
kualitas data log sumuran dapat dilihat pada
Gambar-1. Model saturasi air dari persamaan
Indonesia dianggap cukup mewakili untuk
perhitungan saturasi fluidanya. Parameter
lainnya untuk penyelesain perhitungan
saturasi air ini akan ditentukan rentang
harganya sebagai bagian dari faktor
ketidakpastian berdasarkan literatur,
penguasaan daerah reservoar yang diteliti
serta pengalaman penulis.

Persamaan saturasi fluida untuk model batuan
reservoar yang mengandung lempung dari
model Indonesia adalah :

...........
(1)

Dari persamaan tersebut jelas terdapat
delapan (8) buah faktor yang akan
mempengaruhi hasil perhitungan saturasi
fluida yaitu tortousitas (a), faktor sementasi
(m), eksponen saturasi (n), porositas (),
kandungan lempung (V
cl
), resistivitas lempung
(R
cl
), resistivitas air formasi (R
w
), dan
resistivitas batuan (R
t
). Gambar-2
memperlihatkan secara rinci tentang faktor
ketidakpastian dalam analisa petrofisika.

2.1 Faktor Tortuositas (a)
Tortuositas adalah panjang keliku-
likuan lintasan dalam batuan dibandingkan
dengan panjang batuan itu sendiri dalam
suatu sistem pori batuan.

............................ (2)

Dalam pengukuran di laboratorium, faktor
formasi dan porositas mempunyai hubungan
terhadap faktor tortuositas tersebut.

............................. (3)

Dimanan eksponen c adalah konstanta
korelasi yang mempunyai variasi harga antara
1.7 sampai 2. Variasi harga tersebut hampir
sama dengan harga faktor sementasi (m).
Faktor tortuositas sangat dipengaruhi
oleh geometri saluran pori batuan dan
mempunyai rentang harga antara 0.62 sampai
0.88 (Keller, 1989) yaitu untuk batupasir
dengan sementasi yang baik (well cemented)
sampai tersementasi buruk (weakly
cemented). Keller juga menyebutkan harga
tortuositas bisa mencapai 3.5 pada batuan
vulkanik yang berongga-rongga seperti, tuff
dan pahoehoe.
Untuk kepentingan penelitian harga
untuk batupasir tersebut dicoba untuk
dimasukan kedalam desain eksperimen yaitu
harga minimum adalah 0.62 dan maksimum
adalah 1. Harga maksimum a=1 dipilih
berdasarkan pengalaman penulis berdasarkan
data hasilpengukuran laboratorium untuk rata-
rata batupasir di Indonesia.

2.2 Faktor Sementasi (m)
Seperti halnya tortousitas, faktor
sementasi bisa didapatkan dari pengukuran
sifat kelistrikannya yang merupakan fungsi
dari bentuk dan distribusi pori dalam batuan.

........................ (4)

Dengan melakukan ploting antara faktor
formasi batuan (F) dan porositas dalam skala
log-log, hasilnya merupakan sebuah garis
lurus dengan kemiringan (slope) yang dikenal
sebagai m (faktor sementasi) seperti terlihat
pada Gambar-3.
Faktor sementasi dipengaruhi oleh
banyak faktor diantaranya adalah, bentuk,
pemilahan dan packing dari ukuran dan
konfigurasi pori, tortuositas, tipe pori
(intergranullar, intercrystalline, vuggy,
fractured), kompaksi (adanya tekanan
overburden), kehadiran lempung, dan
temperatur. Efek utama dari faktor-faktor
tersebut akan mempengaruhi besar kecilnya
harga faktor formasi batuan yang pada
akhirnya berdampak pada harga faktor
sementasi.
Pada batupasir yang tidak
terkompaksi secara baik (unconsolidated)
dikarakterisasikan mempunyai rentang harga
m sebesar 1.1 1.3 (Schon, 1983) sedangkan
pada batuan yang kompak rata-rata harga m
adalah 2 dan bisa mencapai 3 pada batuan
karbonat. Reservoar-reservoar batupasir
pada daerah Sumatera Utara, Tengan dan
Selatan mempunyai rentang harga m antara
1.2 sampai 1.9 sedangkan pada daerah Jawa
Barat bagian Utara dan Jawa Timur
mempunyai rentang harga m antara 1.5
sampai 2.1 (Adim.H, 1993).

IATMI 10-005
Pirson, 1958 membagi kelas
sementasi untuk batupasir menjadi 5 buah
kelas yaitu tidak tersementasi dengan harga m
< 1.3 , cukup agak tersementasi antara 1.4
sampai 1.5, agak tersementasi 1.6 sampai 1.7,
cukup tersementasi antara 1.8 sampai 1.9 ,
dan sangat tersementasi antara 2 sampai 2.2
(dikutip dari Amyx dkk, 1960).
Rentang harga m antara 1.3 untuk
harga minimum dan 2.2 untuk harga
maksimum akan dimasukan kedalam desain
eksperimen berdasarkan literatur dan data
yang ada di Jawa Barat bagian Utara.

2.3 Faktor Saturasi Eksponen (n)
Pada sebagian pori yang tidak terisi
oleh air (non conducting fluid/gas dan minyak),
resistivitas batuan (R
t
) akan lebih besar
dibandingkan dengan resistivitas batuan yang
tersaturasi oleh brine (R
o
) dan perbandingan
keduanya disebut sebagai indeks resistivitas
(RI) atau indeks saturasi. Hubungannya
kedalam saturasi air dapat dapat dilihat
sebagai berikut :

......................... (5)


Saturasi eksponen bisa ditentukan
dilaboratorium yang merupakan metoda
terbaik dengan cara mengukur resistivitas (R
o
)
pada sample/core yang tersaturasi oleh brine
dan kemudian sample tersebut didesak oleh
udara atau minyak untuk mendapatkan
saturasi air secara parsial. Pada saturasi air
parsial kemudian diukur resistivitas batuannya
(R
t
). Dengan memplot data rasio (R
o
/R
t
) dan
saturasi air kedalam skala logaritma akan
didapatkan kemiringan garis lurus yang
disebut sebagai saturasi eksponen (n) seperti
terlihat pada Gambar-4.
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi besaran harga saturasi
eksponen tersebut yaitu sifat kebasahan
batuan (wettability), tekanan overburden,
distribusi fluida dalam reservoar dan jenis
serta jumlah kehadiran mineral lempung
dalam reservoar.
Pada batuan berpori sifat kebasahan
merupakan hasil interaksi antara gaya-gaya
yang terdapat pada cairan dan permukaan
padatan dari batuan itu sendiri. Gaya-gaya
tersebut menghasilkan tegangan adhesi yang
selanjutnya akan menentukan fluida mana
yang cendrung membasahi permukaan
padatan tersebut. Secara umum batupasir
yang merupakan pembentuk batuan reservoar
cendrung memiliki permukaan yang bersifat
asam sehingga mudah untuk bereaksi dan
mudah pula untuk menyerap senyawa basa
sementara senyawa asam akan ditolaknya.
Komponen utama dari minyak mentah yang
umumnya adalah bersifat asam lemah
sehingga tidak akan mudah untuk terserap
oleh permukaan S
i
O
2
dari batupasir. Hal
tersebutlah yang menyebabkan batupasir lebih
bersifat netral atau basah air. Sedangkan
batuan karbonat permukaannya memiliki sifat
basa sehingga dengan mudah bereaksi
dengan senyawa asam yang terdapat pada
minyak mentah. Tabel-1 memperlihatkan
hasil penelitian dari Trieber dkk (1972) dan
Chilingarian dan Yen (1983) tentang sifat
kebasahan dari batupasir dan karbonat.
Anderson (1986) mempelajari efek
sifat kebasahan terhadap saturasi eksponen
dan mendapatkan bahwa, pada dasarnya
saturasi eksponen tidak tergantung dari sifat
kebasahan pada harga saturasi air yang
cukup tinggi terhadap bentuk air film yang
berkelanjutan diatas permukaan butiran pada
media berpori dan akibatnya menyediakan
jalur yang menerus untuk arus listrik.
Kesinambungan tersebut adalah umum pada
batupasir yang bersih dan pada sistem basah
air yang seragam. Sistem tersebut mempunyai
harga saturasi eksponen rata-rata adalah 2.
Pada batuan dengan sistem basah minyak
yang seragam dengan harga saturasi air yang
rendah, harga saturasi eksponen bisa
mencapai 10 atau lebih besar lagi.
Widarsono (2008) dalam tulisannya
menyebutkan bahwa sifat kebasahan sangat
berkaitan sekali dengan komposisi kimia dan
derajat keasaman dari padatan dan fluida
yang bersangkutan. Komposisi kimia yang
berbeda juga akan merespon terhadap
pengaruh eksternal, seperti tekanan dan
temperatur yang kemudian akan membuat
perubahan dalam sifat kebasahan.
Efek tekanan overburden juga
berpengaruh terhadap harga saturasi
eksponen seperti yang diperlihatkan oleh
Lewis dkk (1988) melalui Gambar-5 pada
sample batupasir yang bersifat basah air dan
sample batupasir Berea. Perubahan
maksimum sebesar 8% untuk sample basah
air dan 4% untuk sample basah minyak
terhadap harga saturasi eksponen akibat
diberikannya efek tekanan overburden.
Adanya kandungan lempung dalam
reservoar juga akan menurunkan harga
saturasi eksponen, dikarenakan kapasitas
pertukaran kation (CEC) dari mineral lempung
akan menyebabkan rasio R
t
/R
o
atau indeks
resistivitas menjadi rendah seperti terlihat
pada Gambar-6. Besar kecilnya efek dari
kehadiran lempung tergantung juga dari

IATMI 10-005
jumlah kandungan, jenis dan penyebaran
dalam reservoar.
Efek lainnya seperti yang telah
disebutkan diatas juga bisa menyebakan
perubahan pada harga saturasi eksponen
yaitu efek pencucian atau ekstraksi dan
proses drainage serta imbibition dalam
penurunan saturasi. Menurut Anderson (1986)
saturasi eksponen harus dilakukan pada
sample asli atau sample yang telah
dikembalikan pada kondisi awalnya, jika tidak
perhitungan saturasi fluidanya akan dari data
log sumuran menjadi tidak benar. Gambar-7
memperlihatkan efek ekstraksi dan pencucian
terhadap hasil pengukuran saturasi eksponen.
Secara jelas terlihat bahwa efek ekstraksi dan
pencucian akan menurunkan harga saturasi
eksponen dari 2.71 menjadi 1.91
Proses penurunan saturasi untuk
kepentingan penentuan saturasi eksponen
akan memberikan harga yang berbeda.
Longeron dkk (1986) serta Lewis dkk (1988)
mempelajari pengaruh penurunan saturasi
secara drainage dan imbibition sample
batupasir. Hasilnya pada proses drainage
keduanya memberikan hasil yang sama yaitu
saturasi eksponen sekitar 2, sementara itu
pada proses imbibition menjadi lebih rendah
yaitu sekitar 1.4 seperti terlihat pada Gambar-
8 Adim, H (1993) memperlihatkan harga
besaran saturasi eksponen yang didapatkan
dari hasil pengukuran laboratorium di Lemigas
untuk reservor-reservoar batupasir pada
daerah Sumatera Tengah dan Sumatera
Selatan berkisar antara 1.14 sampai 2.12
sedangkan reservoar-reservoar batupasir
untuk Jawa Bagian Utara berkisar antara 1.67
sampai 2.15.
Untuk keperluan desain eksperimen
harga saturasi eksponen minimum=1.4 dan
harga maksimum=4 , dipilih berdasarkan
angka-angka yang berasal dari literatur yang
meliputi efek-efek dari sifat kebasahan,
adanya kandungan lempung, pengaruh
pencucian/ekstraksi, pengaruh tekanan
overburden dan proses penurunan saturasi
yang mempengaruhinya serta pengalaman
penulis untuk reservoar-reservor Jawa Bagian
Utara.

2.4 Faktor Porositas ()
Seperti diketahui bersama bahwa
penentuan harga besaran porositas umumnya
didapatkan dari rekaman data log yaitu dari
log densitas, log netron, dan log sonik atau
kombinasi dari ketiganya. Rekaman data log
tersebut tidak langsung mengukur besaran
porositas dalam formasi akan tetapi hanya
mengukur sifat fisika batuannya. Dengan
menggunakan sebuah persamaan empiris
maka besaran porositasnya akan diketahui.
Dikarenakan sifat pengukuran yang
berbeda yaitu untuk log densitas yang diukur
adalah densitas bulk batuan, log netron
mengukur indeks kandungan hidrogen dalam
batuan, dan log sonik yang diukur adalah
kelambatan/kecepatan gelombang kompresi
dalam batuan maka besaran porositas yang
dihasilkan tentunya akan berbeda.
Ketidakpastian akan terjadi jika kita tidak
punya data core sebagai pembanding.
Pada kasus reservoar yang terisi oleh
gas pembacaan log densitas tentunya akan
memperkecil harga densitas bulk dan dengan
sendirinya perhitungan porositasnya menjadi
membesar sedangkan pada pembacaan
netron adanya gas akan memperkecil
besarannya dikarenakan sedikitnya atom
hidrogen dalam gas dan perhitungan
porositasnya menjadi rendah, oleh karena itu
kombinasi dari keduanya yaitu netron-densitas
dianggap cukup mewakili untuk perhitungan
porositas pada reservoar gas. Pembobotan
pada kedua pembacaan log tersebut sering
dilakukan oleh seorang log analyst untuk
mendapatkan korelasi yang baik terhadap
data corenya.
Pemilihan litologi yang tidak sesuai
juga akan menyebabkan perhitungan
porositas menjadi tidak benar. Kesalahan ini
berdampak pada estimasi besaran porositas
mencapai 5% unit porositas berdasarkan
pengalaman penulis.
Adanya mineral lempung dalam
batuan reservoar akan memperkecil volume
pori batuan sehingga akan memperkecil
besaran porositasnya sedangkan adanya
mineral konduktif (siderit dan pirit) akan
mempengaruhi pembacaan dari log densitas
menjadi lebih besar sehingga porositas yang
dihasilkan akan lebih kecil dari porositas
sebenarnya.
Untuk melihat distribusi dari
perhitungan porositas pada Sumur-X, maka
dilakukan perhitungan terhadap ketiga log
porositas tersebut serta kombinasinya seperti
terlihat pada Gambar-9. Terlihat bahwa log
densitas memberikan harga porositas yang
lebih besar dari yang lainnya, untuk itu harga
maksimum porositas akan diambil dari metoda
log densitas dan kombinasi dari log netron-
densitas dipilih untuk harga minimumnya
untuk didesain eksperimenkan.

2.5 Faktor Kandungan Lempung (V
cl
)
Penentuan kandungan lempung
dalam batuan reservoar umumnya bisa
dilakukan dari pembacaan log gamma ray, log
SP, dan log kombinasi neutron-densitas. Log

IATMI 10-005
gamma ray lebih sering digunakan
dikarenakan sifatnya yang mengukur radioaktif
batuan yang terdapat pada mineral lempung.
Kedua log lainnya akan sangat tergantung dari
perbedaan salinitas, jenis fluida dan mineral
tertentu yang dapat mengacaukan
perhitungannya. Log gamma ray juga akan
terganggu pembacaannya apabila di dalam
reservoar terdapat mineral radioaktif selain
mineral lempung seperti pottasium feldspar (K-
feldspar). Pemilihan metodologi yang tepat
sangat diperlukan karena akan memperkecil
ketidakpastian dalam penentuan kandungan
lempung tersebut.
Kandungan lempung dalam reservoar
yang dihubungan kedalam indeks lempung (I
cl
)
dapat dilihat dari persamaan berikut

.........(6)

Biasanya dapat diasumsikan bahwa
kandungan lempung V
cl
= I
cl
yang bersifat
linier. Asumsi tersebut, meskipun demikian
mempunyai kecendrungan memperbesar
kandungan lempung oleh karena itu beberapa
persamaan empiris telah dikeluarkan untuk
mengkoreksi hal tersebut. Beberapa
persamaan empiris telah dikembangkan untuk
model geologi, umur dan area yang berbeda.
Beberapa yang terkenal adalah korelasi dari
Lorinov (1969), Steiber (1970) dan Clavier dkk
(1971).

Untuk batuan tersier Lorinov (1969)
mengemukakan persamaan sebagai berikut :

.............. (7)

Steiber (1970) menelurkan persamaan :

............... (8)

Clavier dkk (1971) meluncurkan persamaan :

.....(9)

Untuk batuan pretersier (older rock) Lorinov
mendapatkan persamaan :

............ (10)


Untuk keperluan desain eksperimen harga
maksimum untuk penentuan kandungan
lempung diambil dari persamaan (6) yang
bersifat linier antara indeks lempung (I
cl
)
dengan kandungan lempung (V
cl
), sedangkan
harga minimum digunakan persamaan dari
Clavier dkk (1971) untuk reservoar dengan
umur batuan tersier. Persamaan dari Clavier
dkk tersebut dipilih berdasarkan pengalaman
penulis lebih cocok digunakanuntuk
penentuan kandungan lempung pada
reservoar batupasir di Indonesia.

2.6 Faktor Resistivitas Lempung (R
cl
)
Hadirnya lempung yang konduktif
dalam batuan tentunya akan mempersulit
penentuan resistivitas batuan pada formasi
yang tersaturasi secara parsial. Jenis, jumlah
kandungan dan distribusinya memberikan
dampak berbeda pada hasil resistivitasnya.
Secara umum adanya lempung dalam batuan
akan memperkecil resistivitas sebenarnya (R
t
)
dan jika tidak dilakukan koreksi terhadapnya
maka akan menghasilkan perhitungan saturasi
air yang besar.
Hampir semua persamaan saturasi air
untuk mengatasi adanya lempung dalam
batuan memasukan faktor resistivitas lempung
(R
cl
). Resistivitas lempung tersebut sangat
sulit ditentukan harganya, bahkan
laboratorium juga belum juga bisa mengatasi
hal tersebut dikarenakan kandungan lempung
yang berada pada sample/core hadir
bersama-sama dengan mineral batupasir
menjadi satu kesatuan. Jalan alternatifnya
adalah melihat data dari log resistivitas pada
zona diatas reservoar atau dibawahnya yang
mempunyai lapisan lempung/clay yang
menerus secara korelasi antar sumur. Metoda
tersebut bisa saja digunakan apabila kita
mempunyai reservoar yang kehadiran
lempungnya secara terlaminasi karena
kemungkinan besar mempunyai kesamaan
proses geologi pada saat pengedapannya.
Untuk kandungan lempung yang hadir dalam
bentuk terdispersi atau terstruktur
kemungkinan besar tidak dalam proses
geologi yang sama.
Pada studi ini harga maksimum untuk
resistivitas lempung diambil dari asumsi yang
telah disebutkan diatas yaitu diambil dari
resistivitas lempung pada zona diatas atau
dibawah reservoarnya pada Sumur-X dan
didapatkan harga resistivitas lempung sebesar
3 ohm-m. Untuk harga minimum resistivitas
lempung diasumsikan sebesar 0.4 ohm-m.

2.7 Faktor Resistivitas Air Formasi (R
w
)
Resistivitas air formasi bisa
didapatkan dari metoda log SP, Pickett plot
dan Hingle plot dengan hasil yang terbaik
dilakukan pada zona yang bersih dan terisi
oleh air (water bearing). Cara yang lebih
dianjurkan lagi adalah dari pengukuran
laboratorium atas air formasi tersebut.
Ketidakpastian akan muncul apabila
kita berhadapan pada lapisan-lapisan yang

IATMI 10-005
mempunyai kandungan lempung yang cukup
banyak serta lapisan yang tidak mengandung
air. Hasil analisa laboratorium juga bisa saja
tidak bisa digunakan karena air yang
terproduksi sudah tercampur dengan zona
yang lainnya jika diproduksikan bersama-
sama (comingle). Selain itu lumpur bersalinitas
tinggi pada saat pemboran bisa saja
bercampur dengan air formasi yang
terproduksikan. Hal tersebut diatas akan
sangat menyulitkan dalam penentuan harga
resistivitas air formasi yang sebenarnya.
Pada kasus ini penentuan resistivitas
air formasi dilakukan dengan metoda log SP
pada zona air yaitu pada interval 6200 6400
ft dan didapatkan harga minimum sebasar
0.121 ohm-m @75
o
F serta harga maksimum
adalah 0.343 ohm-m @75
o
F yang akan
dimasukan kedalam desain eksperimen.

2.8 Faktor Resistivitas sebenarnya (R
t
)
Resistivitas sebenarnya (R
t
) adalah
resistivitas total yang memperhitungkan
adanya fluida (gas, minyak, dan air) serta
batuannya itu sendiri. Resistivitas sebenarnya
(R
t
) bisa didapatkan dari pengukuran log
resistivitas pada jangkauan yang dalam,
menegah dan dangkal (deep, micro and
shallow resistivity) dengan melakukan koreksi
terhadap kondisi lubang sumur serta kondisi
lingkungan. Jika tidak mempunyai pembacaan
resistivitas yang menengah dan dangkal,
pembacaan resistivitas dalam juga bisa
diandalkan sebagai resistivitas sebenarnya
asalkan pergerakan lumpur pemboran tidak
masuk terlalu dalam sehingga mempengaruhi
pembacaannya.
Pada kasus ini diasumsikan bahwa
ketidakpastian pada penentuan resistivitas
sebenarnya dalam evaluasi log adalah sangat
kecil, sehingga bisa dianggap konstan dan
tidak dimasukan kedalam desain eksperimen.

3. Desain Eksperimen
Desain eksperimen adalah suatu
rancangan percobaan (dengan tiap langkah
dan tindakan yang benar-benar terdefinisikan)
sedemikian rupa sehingga informasi yang
berhubungan dengan atau diperlukan untuk
persoalan yang sedang diteliti dapat
dikumpulkan.
Terminologi-terminologi umum
dalam desain eksperimen dan yang akan
sering disebut dalam studi ini akan disajikan
berikut ini. Termonologi faktor, dalam arti
umum digunakan untuk mencirikan
eksperimen dari satu percobaan ke percobaan
yang lain. Sebagai contoh dalam aplikasi
petrofisika, faktor bisa menunjukan harga
porositas, parameter tekstur (a,m, dan n),
kandungan lempung, resistivitas lempung,
resistivitas air formasi , dan lainnya.
Sedangkan variasi harga dari sebuah faktor
yang diuji dalam desain eksperimen dikenal
sebagai level. Adapun hasil numerik dari
sebuah percobaan disebut respon. Respon
dalam petrofisika (analisa log sumur) bisa
berupa besaran estimasi saturasi air. Efek
adalah perubahan dalam respon yang
dihasilkan oleh perubahan level dalam faktor.
Sebagai contoh bahwa jika sebuah faktor diuji
pada 2 level saja, efek-nya adalah perbedaan
antara respon rata-rata dari sebuah percobaan
yang dilakukan pada level pertama dan respon
rata-rata dari semua percobaan yang
dilakukan pada level kedua.
Desain eksperimen terdiri dari
perubahan-perubahan yang diinginkan dari
input (faktor) kedalam sebuah proses dalam
rangka meneliti perubahan-perubahan yang
dihasilkan dalam output (respon). Proses bisa
diartikan sebagai beberapa kombinasi dari
mesin, material, metoda, manusia, lingkungan,
dan pengukuran yang apabila digunakan
bersamaan akan memberikan sebuah servis
yang menghasilkan sebuah produk atau
menyelesaikan sebuah tugas. Jadi desain
eksperimen adalah sebuah pendekatan ilmiah
yang memungkinkan peneliti mendapatkan
pengetahuan supaya bisa memahami sebuah
proses dengan baik dan untuk menentukan
bagaimana sebuah input mempengaruhi
respon. Gambar-10 memperlihatkan diagram
metodologi yang dilakukan dalam desain
eksperimen untuk melihat faktor
ketidakpastian dalam penentuan saturasi air.
Ada beberapa metoda desain
eksprimen yang sering dipakai didalam
industri diantaranya yaitu Plackett-Burman,
Taguchi, dan Box-Behnken. Masing-masing
metoda desain eksperimen tersebut
mempunyai kelebihan dan kekurangannya.
Diskusi tentang metoda tersebut diatas
beserta kelebihan dan kekurangannya diluar
cakupan penelitian ini
Pada desain eksperimen faktor-faktor
yang akan dimasukan umumnya diberi kode -
1, 0, 1 untuk 3 level harga minimum, base,
dan maksimum, sedangkan pada penelitian ini
akan digunakan 2 level harga yaitu minimum
dan maksimum yang akan diberi kode -1 dan
1. Tabel-2 memperlihatkan tujuh (7) buah
faktor ketidakpastian dengan 2 tingkatan
(level) yang akan diuji. Rentang harga level
pada tujuh buah faktor tersebut telah dibahas
pada bagian sebelumnya.

IATMI 10-005
Dalam penelitian ini dipilih metoda
desain eksperimen dari Plackett-Burman 24
run (PB-24) dalam melakukan analisa desain.
Desain matrik yang disediakan oleh PB-24
dengan 2 level untuk ke-tujuh faktor yang akan
dianalisa dapat dilihat pada Tabel-3 dengan
perincian sebagai berikut A= tortusitas (a), B=
faktor sementasi (m), C= saturasi eksponen
(n), D= resistivitas air formasi (R
w
), E=
porositas (), F= kandungan lempung (V
cl
),
dan G=resistivitas lempung (R
cl
). Tabel-4
memperlihakan hasil perhitungan saturasi air
sebagai respon yang dihasilkan dari kombinasi
matriks tersebut.

4. Hasil Analisa dan Diskusi
Dalam penelitian ini analisa desain
eksperimen menggunakan bantuan software
Minitab. Hasil keluaran yang diperoleh oleh
software ini adalah berupa tabel dan gambar
statistik. Pada Tabel-5 memperlihatkan hasil
analisa statistik dari Plackett-Burnman 24 Run
untuk perhitungan S
w
yang diantaranya
menunjukan faktor-faktor yang dilibatkan
dalam desain eksperimen yaitu, efek, koefisien
korelasi, toleran (T), P (probabilitas), dan R
2
.
Dari hasil analisa desain eksperimen
yang dihasilkan terhadap tujuh (7) buah faktor
tersebut terlihat bahwa enam (6) buah faktor
yaitu saturasi eksponen (n), faktor sementasi
(m), resistivitas air formasi (R
w
), tortuositas (a),
porositas serta kandungan lempung
merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
perhitungan saturasi air dibandingkan faktor
lainnya.
Nilai efek positif atau negatif dari
sebuah faktor akan mempengaruhi respon
yang dihasilkan dalam hal ini adalah Saturasi
air tergantung dari fungsi masing-masing
faktor terhadap perolehan saturasi air. Dalam
analisa (efek) harga saturasi eksponen
menempati urutan pertama yaitu mempunyai
nilai efek (0.264), kemudian faktor sementasi
nilai efeknya (0.069), selanjutnya adalah
resistivitas air formasi dengan nilai efek
(0.057), tortuositas nilai efeknya (0.031),
porositas nilai efeknya (-0.028), kandungan
lempung nilai efeknya (-0.025) dan yang
terakhir adalah resistivitas lempung dengan
nilai efek (0.003)
Kofisien korelasi adalah menunjukan
seberapa dominan pengaruh sebuah faktor
terhadap jawaban akhir yang dihasilkan yaitu
respon. Semakin tinggi nilai koefisien sebuah
faktor, akan semakin dominan faktor tersebut.
Selanjutnya bisa juga dilihat pada tabel
sebuah harga konstanta dengan koefisien
sebesar 0.2242 yang mengartikan harga
saturasi air rata-rata (mean value) dari 24 run
adalah sebesar 0.2242 atau 22.42%.
Harga P adalah untuk menentukan
statistical significance untuk faktor-faktor
dalam model. Harga P menunjukan
probabilitas untuk menyertakan sebuah faktor
atau pengaruh yang tidak penting dalam
model korelasi (persamaan korelasi yang
dihasilkan). Nilai P ini dibandingkan dengan
nilai level dimana nilai level yang
digunakan adalah 0.05. Nilai level adalah
batas nilai yang signifikan terhadap hasil yang
diinginkan yaitu respon (saturasi air). Harga P
< 0.05 menunjukan faktor tersebut penting dan
perlu dimasukan dalam model korelasi. Harga
P > 0.05 menunjukan faktor yang tidak penting
sehingga tidak harus dimasukan kedalam
model. Dari tabel-5 menunjukan bahwa harga
yang mempunyai P > 0.05 adalah resistivitas
lempung yaitu 0.673 ini menunjukan bahwa
faktor tersebut merupakan faktor yang tidak
penting yang tidak perlu dimasukan dalam
model korelasi.

Hasil analisa juga menghasilkan
persaman korelasi untuk memprediksi harga
saturasi air yaitu sebagai berikut

.............. (11)


Dari hasil persamaan korelasi tersebut bisa
didapatkan kurva S (empirical CDF) yang
dapat mengetahui harga S
w
serta nilai masing-
masing untuk P10, P50, dan P90 seperti yang
terlihat pada Gambar-11. Dari gambar
tersebut untuk P10 didapatkan harga S
w

sebesar 0.037 yang mempunyai arti tingkat
kepercayaan atas harga S
w
yang dihasilkan
adalah 10%, P50 dengan harga S
w
sebesar
0.2241 dengan artian tingkat kepercayaannya
adalah 50% sedangkan P90 S
w
yang
dihasilkan adalah 0.411 dengan tingkat
kepercayaan atas saturasi air yang dihasilkan
adalah 90%.
Untuk melihat faktor mana yang
mempunyai tingkat ketidakpastian yang tinggi
terhadap respon yang dihasilkan bisa dilihat
pada chart pareto seperti yang ditampilkan
pada Gambar-12. Pada gambar tersebut
memperlihatkan bahwa faktor saturasi
eksponen merupakan faktor yang mempunyai
tingkat ketidakpastian tertinggi. Hal tersebut
ditunjukan oleh besarnya efek yang dimiliki
dibandingkan dengan faktor lainnya. Secara
garis besar chart pareto yang dihasilkan
terhadap faktor-faktor tersebut yang memiliki
ketidakpastian yang tinggi adalah faktor-faktor
yang melewati garis kepercayaan (line of
confident) yang mempunyai harga 2.12. Faktor
R
cl
berada didalam garis kepercayaan yang

IATMI 10-005
mempunyai arti bahwa faktor tersebut memiliki
ketidakpastian yang rendah atau mempunyai
tingkat kepercayaan yang tinggi atas respon
yang dihasilkan
Gambar normal plot terhadap efek
yang dihasilkan yang diperlihatkan pada
Gambar-13 juga bisa memberikan gambaran
faktor-faktor yang mempunyai tingkat
ketidakpastian yang tinggi terhadap respon
yang dihasilkan. Nilai efek positif atau negatif
dari sebuah faktor akan mempengaruhi respon
yang dihasilkan dalam hal ini adalah S
w

tergantung dari fungsi masing-masing faktor
terhadap perolehan S
w
. Sebagai contoh dari
gambar yang dihasilkan faktor saturasi
eksponen (n) memiliki efek yang besar.
Semakin besar harga efek dari harga saturasi
eksponen akan menghasilkan S
w
yang besar.
Plot main effect terhadap S
w
akan
memperlihatkan tujuh buah faktor yang
dianalisa terhadap perolehan S
w
dimana harga
-1 dan 1 mewakili harga minimum dan
maximum untuk setiap faktor berdampak
terhadap respon (S
w
) yang ingin diketahui
seperti yang terlihat pada Gambar-14.
Analisa sensitivitas dilakukan
terhadap tujuh (7) buah faktor pada perolehan
S
w
yang telah dihasilkan dengan
menggunakan persamaan korelasi
(persamaan-11). Gambar-15 memperlihatkan
hasilnya dalam diagram tornado. Hasil
diagram tornado memperlihatkan bahwa
urutan faktor yang paling berpengaruh
terhadap perolehan IGIP adalah yang pertama
faktor saturasi eksponen (n) dengan
mempengaruhi harga S
w
mencapai 118% ,
faktor sementasi (m) dengan mempengaruhi
harga S
w
sebesar 31%, resistivitas air formasi
(R
w
) mempengaruhi harga S
w
sekitar 26%,
tortuositas (a) mempengaruhi harga S
w
sekitar
14%, porositas dengan mempengaruhi harga
S
w
sebesar 13%, kandungan lempung (V
cl
)
yang mempengaruhi harga S
w
sebesar 11%,
dan yang terakhir adalah resistivitas lempung
(R
cl
) dengan mempengaruhi harga S
w
sekitar
1.5%
Untuk mengatasi dampak dari faktor
yang mempunyai ketidakpastian tinggi
terutama pada faktor saturasi eksponen maka
data pendukung dari hasil analisa laboratorium
dan penguasaan atas daerah yang diteliti
sangat diperlukan buat praktisi
(petrophysicist/log analyst) di lapangan
sehingga hasil perhitungan saturasi air yang
dihasilkan mempunyai tingkat kepercayaan
yang tinggi.

5. Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat ditarik
beberapa kesimpulan yaitu :

1. Diperlukan pemahaman yang baik
terhadap faktor/parameter yang
terlibat langsung dalam perhitungan
saturasi air sehingga faktor yang
dimasukan mempunyai tingkat
ketidakpastian yang rendah.
2. Perlu dilakukan sosialisasi yang lebih
baik lagi mengenai pentingnya data
core/percontoh terhadap faktor-faktor
ketidakpastian tersebut.
3. Penggunaan harga faktor/parameter
yang berlaku umum yang sering
dilakukan oleh praktisi di lapangan
pada litologi tertentu masih
mempunyai tingkat ketidakpastian
yang tinggi terhadap saturasi air yang
dihasilkan.
4. Perubahan sifat kebasahan dapat
mengubah secara berarti harga faktor
saturasi eksponen (n) dan distribusi
fluida. Berdasarkan hasil peneltian
faktor tersebut bisa mempengaruhi
harga saturasi air mencapai lebih dari
100%.
5. Rentang harga faktor ketidakpastian
yang dimasukan kedalam desain
eksperimen akan mempengaruhi hasil
keluarannya, oleh kerena itu
penguasaan pengetahuan atas faktor
ketidakpastian tersebut menjadi
sangat penting.

Daftar Pustaka
1. Adim, H. (1993). Studi parameter m
dan n dari batuan reservoar di
Indonesia. Lembaran Publikasi
Lemigas, Vol.27, No.1, pp. 43 48.
2. Amyx, J.W. (1960). Petroleum
reservoir engineering, physical
properties. McGraw-Hill Book
Company, New York, Toronto,
London, p.609.
3. Anderson, W.G. Effect of wettability
on the electrical properties of porous
media. J.Pet. Tech., Dec.1986, pp.
1371 1378.
4. Bassiouni, Z. (1994). Theory,
mesurement, and interpretation of well
logs. SPE Textbook Series, Vol.4,
Richardson, TX. P.371.
5. Chilingarian, G.V. & Yen, T.F. (1983).
Some notes on wettability and
relative permeabilities of carbonates
rocks. Energy Sources, Vol.7, No.1,
pp. 67 75.
6. Keller, G.V. (1953). Effect of
wettability on the electrical resistivity

IATMI 10-005
of sands. Oil & Gas j. Vol. 51, No.1,
January, p.65
7. Lewis, M.G., Sharma., M.M. & Dunlap,
H.F. (1988). Wettability and stress
effect saturation and cementation
exponents. SPWLA 29
th
Ann. Logging
Symp., paper K, June 5 8.
8. Longeron, D.G., Argaud, M.J. &
Feraud, J.P. (1986). Effect of
overburden pressure, nature, and
microscopic distribution of the fluids
on electrical properties of sample.
Soc. Petrol. Eng. Paper 15383.
9. Tiab, D. & Donaldson, E.C. (2004).
Petrophysics : Theory and practice of
measuring reservoir rock and fluid
transport properties. Gulf
Professional Publishing, 200 Wheeler
Road, Burlington, MA 01803, USA,
p.889.
10. Trieber, L.E., Archer, D. & Owens,
W.W. (1972). A Laboratory evaluation
of the wettability of fifty oil producing
reservoirs. Soc.Petrol. Eng. J.,
Vol.12, No.6, December, pp. 531
540.
11. Widarsono, B. (2008). Perubahan
sifat kebasahan fluida dan sifat
kelistrikan batuan reservoir: isu lama,
persoalan aktual. Lembaran Publikasi
Lemigas, Vol.42, No.1, pp. 20 28.














































IATMI 10-005

Tabel-1
Sifat Kebasahan Batupasir dan Karbonat
5,10







Tabel-2
Tujuh (7) Buah Faktor ketidakpastian Dalam Perhitungan Saturasi Air








Tabel-3
Kombinasi Mariks Plackett Burnman-24 Run














Chilingarian & Yen (1983)
Batupasir, % Karbonat, % Karbonat, %
Basah air 43 8 8
Intermediate 7 4 12
Basah minyak 50 88 80
Trieber dkk (1972)
Kebasahan
1 Tortousitas (a) 0.62 1
2 Faktor Sementasi (m) 1.3 2.2
3 Saturasi Eksponen (n) 1.5 4
4 Resistivitas Air (Rw, ohm-m) 0.121 0.343
5 Porositas (, fraksi) 0.253 0.306
6 Kandungan Lempung (Vcl, fraksi) 0.068 0.164
7 Resistivitas Lempung (Rcl, ohm-m) 0.4 3.0
No Faktor Minimum Maksimum
1 1 -1 1 -1 1 1 1
2 -1 1 1 -1 1 -1 1
3 1 -1 1 1 1 1 1
4 1 1 1 1 1 -1 -1
5 1 1 -1 1 -1 1 1
6 1 -1 1 -1 -1 1 1
7 1 1 -1 -1 1 1 -1
8 -1 1 1 -1 -1 1 1
9 -1 -1 -1 -1 1 -1 1
10 1 1 -1 -1 -1 -1 1
11 -1 1 -1 1 -1 -1 1
12 -1 1 -1 1 1 1 1
13 -1 -1 1 1 -1 -1 1
14 -1 -1 1 -1 1 -1 -1
15 -1 1 1 1 1 1 -1
16 -1 -1 -1 1 -1 1 -1
17 -1 -1 1 1 -1 1 -1
18 1 1 1 -1 -1 -1 -1
19 1 1 1 1 -1 -1 -1
20 -1 1 -1 -1 1 1 -1
21 1 -1 -1 -1 -1 1 -1
22 1 -1 -1 1 1 -1 -1
23 1 -1 -1 1 1 -1 1
24 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1
F G RUN A B C D E

IATMI 10-005
Tabel-4
Respon (S
w
) Yang Dihasilkan Dari Kombinasi Matriks PB-24 Run












Tabel-5
Hasil Desain Eksperimen Dari PB-24 Run















Gambar-1
Tipe Log Sumur-X Di Laut Jawa Bagian Barat
RUN A B C D E F G RESPON
a m n Rw Por Vcl Rcl Sw
1 1 1.3 4 0.121 0.306 0.164 3.0 0.2843
2 0.62 2.2 4 0.121 0.306 0.068 3.0 0.3332
3 1 1.3 4 0.343 0.306 0.164 3.0 0.3632
4 1 2.2 4 0.343 0.306 0.068 0.4 0.4433
5 1 2.2 1.5 0.343 0.253 0.164 3.0 0.1728
6 1 1.3 4 0.121 0.253 0.164 3.0 0.3000
7 1 2.2 1.5 0.121 0.306 0.164 0.4 0.0718
8 0.62 2.2 4 0.121 0.253 0.164 3.0 0.3594
9 0.62 1.3 1.5 0.121 0.306 0.068 3.0 0.0523
10 1 2.2 1.5 0.121 0.253 0.068 3.0 0.1224
11 0.62 2.2 1.5 0.343 0.253 0.068 3.0 0.1653
12 0.62 2.2 1.5 0.343 0.306 0.164 3.0 0.1111
13 0.62 1.3 4 0.343 0.253 0.068 3.0 0.3564
14 0.62 1.3 4 0.121 0.306 0.068 0.4 0.2519
15 0.62 2.2 4 0.343 0.306 0.164 0.4 0.3765
16 0.62 1.3 1.5 0.343 0.253 0.164 0.4 0.0652
17 0.62 1.3 4 0.343 0.253 0.164 0.4 0.3189
18 1 2.2 4 0.121 0.253 0.068 0.4 0.3966
19 1 2.2 4 0.343 0.253 0.068 0.4 0.4932
20 0.62 2.2 1.5 0.121 0.306 0.164 0.4 0.0620
21 1 1.3 1.5 0.121 0.253 0.164 0.4 0.0558
22 1 1.3 1.5 0.343 0.306 0.068 0.4 0.0804
23 1 1.3 1.5 0.343 0.306 0.068 3.0 0.0898
24 0.62 1.3 1.5 0.121 0.253 0.068 0.4 0.0538
Constant 0.2242 0.0040 56.7 0
a 0.03063 0.0153 0.0040 3.87 0.001
m 0.06963 0.0348 0.0040 8.81 0
n 0.26452 0.1323 0.0040 33.46 0
Rw 0.05772 0.0289 0.0040 7.30 0
Por -0.02833 -0.0142 0.0040 -3.58 0.002
Vcl -0.0248 -0.0124 0.0040 -3.14 0.006
Rcl 0.0034 0.0017 0.0040 0.43 0.673
P Term Effect Coef SE Coef T

IATMI 10-005









Gambar-2
Faktor Ketidakpastian Dalam Analisa Petrofisika















Gambar-3
Faktor Formasi Batuan (Penentuan a dan m)
















IATMI 10-005











Gambar-4
Indeks Resistivitas (Penentuan n)













Gambar-5
Efek Tekanan Overburden Terhadap Indeks Resistivitas
9





IATMI 10-005











Gambar-6
Efek Konduktif Lempung Terhadap Indeks Resistivitas
9













Gambar-7
Efek Pencucian Terhadap Indeks Resistivitas
9





IATMI 10-005










Gambar-8
Efek Drainage dan Imbibisi Terhadap Harga n
9











Gambar-9
Perhitungan Porositas Dari Berbagai Model Porositas









IATMI 10-005













Gambar-10
Perhitungan Porositas Dari Berbagai Model Porositas










Gambar-11
Probabilitas vs Saturasi Air










Gambar-12
Pareto Chart Untuk Tujuh (7) Buah Faktor Ketidakpastian


P10=0.037
P50=0.2241
P50=0.4110

IATMI 10-005









Gambar-13
Normal Plot Untuk Tujuh (7) Buah Faktor Ketidakpastian

















Gambar-14
Main Efek Untuk Tujuh (7) Buah Faktor Ketidakpastian




















Gambar-15
Analisa Sensitivitas Untuk Tujuh (7) Buah Faktor Ketidakpastian


Saturasi eksponen
Faktor sementasi
Resistivitas air
Tortuositas
Porositas
Kandungan
lempung
Resistivitas
lempung
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4
Saturasi Air ( fraksi)