Anda di halaman 1dari 5

Perpajakan

Koreksi Fiskal
(Lanjutan latihan berbagi kasus)


Disusun Oleh :
Nursadiqah Apriliani Salam
A31111293
Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin
Makassar

Biaya Bunga sehubungan WP mempunyai Deposito
(SE-46/PJ.4/1995 tgl. 5 Oktober 1995)
Apabila WP mempunyai pinjaman/Hutang yang membayar bunga dan dilain
pihak mempunyai Deposito maka atas biaya bunga tersebut tidak dapat
dibebankan sesuai perbandingan antara jumlah hutang dan deposito.
Bunga yang tidak dapat dibebankan adalah
= Rata2 deposito X jumlah bunga dibayar
Rata2 pinjaman
Contoh :
PT X punya pinjaman sebesar Rp. 1.000.000.000,- dengan bunga 10% pertahun, selain itu
juga punya deposito sebesar 400.000.000,- maka beban bunga yang dapat dibebankan
adalah :
Jumlah bunga = 10% x 1 m = 100.000.000
Yg tdk dapat dibebankan = 400.000.000/1 m X 100.000.000,-
= 40.000.000
atas biaya bunga 40 jt tsb dikoreksi fiskal positif, sehingga :
Bunga dapat dibebankan = 100 jt 40 jt = 60 jt

Perlakuan biaya untuk telepon seluler
(KEP-220/PJ/2002, 18 April 2002)
Telepon seluler yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk pegawai tertentu karena
jabatan atau pekerjaannya, hanya dapat dibebankan sebagai biaya sebesar 50% untuk :
Penyusutanya,
Biaya berlangganan
Pengisian ulang pulsa dan
Perbaikan telepon seluler tersebut
Sehingga apabila terdapat telepon seluler maka biayanya dikoreksi fiskal sebesar 50%.

Perlakuan PPh untuk Biaya Kendaraan Sedan dan sejenisnya
( KEP-220/PJ/2002, 18 April 2002 )
Biaya kendaraan sedan atau yang sejenis yang dimiliki dan dipergunakan perusahaan untuk
pegawai tertentu karena jabatan atau pekerjaannya, dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan
sebesar 50% yaitu untuk :
Penyusutannya
Biaya perbaikan dan pemeliharaan termasuk BBM
Sehingga atas biaya tersebut dikoreksi fiskal positif sebesar 50%.

Sewa Guna Usaha / Leasing
(1169/KMK.01/1991 tgl. 27 Nopember 1991)
adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa-
guna-usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating
lease) untuk digunakan oleh Lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara
berkala
Lessor : perusahaan pembiayaan atau perusahaan sewa-guna-usaha
Lessee : perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari
Lessor
Jenis Leasing :
Sewa Guna usaha dg hak opsi
Sewa guna usaha tanpa hak opsi
(Hak Opsi adalah hak untuk membeli atau memperpanjang masa leasing)

Sewa Guna Usaha dengan Hak Opsi
Syarat :
jumlah pembayaran sewa-guna-usaha selama masa sewa-guna-usaha pertama ditambah dengan
nilai sisa
barang modal, harus dapat menutup harga perolehan barang modal dan keuntungan lessor;
masa sewa-guna-usaha ditetapkan sekurang kurangnya 2 (dua) tahun untuk barang modal
Golongan I, 3 (tiga) tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan 7 (tujuh) tahun untuk
Golongan bangunan;
perjanjian sewa-guna-usaha memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.

Sewa Guna Usaha tanpa Hak Opsi
Syarat :
jumlah pembayaran sewa-guna-usaha selama masa sewa-guna-usaha pertama tidak dapat
menutupi harga perolehan barang modal yang disewa-guna-usahakan ditambah keuntungan yang
diperhitungkan oleh lessor;
perjanjian sewa-guna-usaha tidak memuat ketentuan mengenai opsi bagi lessee.

Perlakuan akuntansi dan fiskal atas Leasing
(dengan hak Opsi = Financial lease)
Jenis Leasing Akuntansi Fiskal
Dengan hak opsi
- Bagi Lessor
(tdk ada perbedaan
akuntansi dan fiskal)
-Penghasilannya adalah
sebagian pembayaran
dari lessee /jasanya
saja / bunganya saja
- Tidak boleh
menyusutkan brg yang
dileasing
-Penghasilannya adalah
sebagian pembayaran
dari lessee /jasanya
saja / bunganya saja
-Tidak boleh
menyusutkan brg yang
dileasing
- Bagi Lessee
(terdapat perbedaan
antara akuntansi dan
fiskal)
-Menyusutkan barang
leasing
-Membebankan bunga
-Tdk boleh
membebankan biaya
angsuran
-Tidak boleh
menyusutkan
- tidak boleh
membebankan bunga
-Membebankan biaya
seluruh angsuran

Perlakuan akuntansi dan fiskal atas Leasing
(tanpa hak opsi = Operating lease)
Jenis leasing Akuntansi Fiskal
Tanpa hak opsi (diperlakukan seperti sewa menyewa biasa) tidak ada
perbedaan akuntansi dan fiskal
- Bagi Lessor -Penghasilannya
adalah seluruh
pembayaran dari
lessee
-menyusutkan brg yang
dileasing
-Penghasilannya
adalah seluruh
pembayaran dari
lessee
-menyusutkan brg yang
dileasing
- Bagi Lessee -Tdk Menyusutkan
barang leasing
- tdk Membebankan
bunga
-Tidak boleh
menyusutkan
- tidak boleh
membebankan bunga
-membebankan seluruh
biaya angsuran
-Momotong PPh 23
-Membebankan biaya
seluruh angsuran
-Memotong PPh 23

Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dari Laba Komersial
Laba bersih Komersial XXXX
Koreksi Fiskal :
(+) Koreksi fiskal positif XXXX
(-) Koreksi fiskal negatif XXXX
Jumlah koreksi fiskal XXXX
Jumlah penghasilan Kena Pajak XXXX