Anda di halaman 1dari 20

1.

Memahami dan menjelaskan Status gizi anak


Definisi
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari
makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005).
Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat keseimbangan antara
jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari luar tubuh sesuai
dengan kebutuhan individu. Energi yang masuk ke dalam tubuh dapat berasal dari
karbohidrat, protein, lemak dan zat gizi lainnya (Nix, 2001). Status gizi normal merupakan
keadaan yang sangat diinginkan oleh semua orang (Apriadji, 1986).
Metode
Penilaian status gizi terdiri dari dua jenis, yaitu :
1. Penilaian Langsung
a. Antropometri
Antropometri merupakan salah satu cara penilaian status gizi yang berhubungan dengan
ukuran tubuh yang disesuaikan dengan umur dan tingkat gizi seseorang. Pada umumnya
antropometri mengukur dimensi dan komposisi tubuh seseorang (Supariasa, 2001). Metode
antropometri sangat berguna untuk melihat ketidakseimbangan energi dan protein. Akan
tetapi, antropometri tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi zat-zat gizi yang spesifik
(Gibson, 2005).
b. Klinis
Pemeriksaan klinis merupakan cara penilaian status gizi berdasarkan perubahan yang terjadi
yang berhubungan erat dengan kekurangan maupun kelebihan asupan zat gizi. Pemeriksaan
klinis dapat dilihat pada jaringan epitel yang terdapat di mata, kulit, rambut, mukosa mulut,
dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh (kelenjar tiroid) (Hartriyanti dan Triyanti,
2007).
c. Biokimia
Pemeriksaan biokimia disebut juga cara laboratorium. Pemeriksaan biokimia pemeriksaan
yang digunakan untuk mendeteksi adanya defisiensi zat gizi pada kasus yang lebih parah lagi,
dimana dilakukan pemeriksaan dalam suatu bahan biopsi sehingga dapat diketahui kadar zat
gizi atau adanya simpanan di jaringan yang paling sensitif terhadap deplesi, uji ini disebut uji
biokimia statis (Baliwati, 2004).
d. Biofisik
Pemeriksaan biofisik merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat kemampuan
fungsi jaringan dan melihat perubahan struktur jaringan yang dapat digunakan dalam keadaan
tertentu, seperti kejadian buta senja (Supariasa, 2002).

2. Penilaian Tidak Langsung
a. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi dengan melihat jumlah
dan jenis makanan yang dikonsumsi oleh individu maupun keluarga. Data yang didapat dapat
berupa data kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif dapat mengetahui jumlah dan jenis
pangan yang dikonsumsi, sedangkan data kualitatif dapat diketahui frekuensi makan dan cara
seseorang maupun keluarga dalam memperoleh pangan sesuai dengan kebutuhan gizi
(Baliwati, 2004).
b. Statistik Vital
Statistik vital merupakan salah satu metode penilaian status gizi melalui data-data mengenai
statistik kesehatan yang berhubungan dengan gizi, seperti angka kematian menurut umur
tertentu, angka penyebab kesakitan dan kematian, statistik pelayanan kesehatan, dan angka
penyakit infeksi yang berkaitan dengan kekurangan gizi (Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
c. Faktor Ekologi
Penilaian status gizi dengan menggunakan faktor ekologi karena masalah gizi dapat terjadi
karena interaksi beberapa faktor ekologi, seperti faktor biologis, faktor fisik, dan lingkungan
budaya. Penilaian berdasarkan faktor ekologi digunakan untuk mengetahui penyebab
kejadian gizi salah (malnutrition) di suatu masyarakat yang nantinya akan sangat berguna
untuk melakukan intervensi gizi (Supariasa, 2002).
Masalah gizi
a. Gizi kurang
Gizi kurang merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat tidak terpenuhinya
asupan makanan. Gizi kurang dapat terjadi karena seseorang mengalami
kekurangan salah satu zat gizi atau lebih di dalam tubuh.
Akibat yang terjadi apabila kekurangan gizi antara lain :
o menurunnya kekebalan tubuh (mudah terkena penyakit infeksi),
o terjadinya gangguan dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan,
o kekurangan energi yang dapat menurunkan produktivitas tenaga
kerja,
o sulitnya seseorang dalam menerima pendidikan dan pengetahuan.
Gizi kurang merupakan salah satu masalah gizi yang banyak dihadapi oleh
negara-negara yang sedang berkembang, karena :
o tingkat pendidikan yang rendah,
o pengetahuan yang kurang mengenai gizi dan perilaku belum sadar
akan status gizi.
Contoh masalah kekurangan gizi, antara lain KEP (Kekurangan Energi Protein),
GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium), nemia Gizi Besi (AGB).


Gizi buruk adalah keadaan kekurangan zat gizi tingkat berat akibat kurang makan dan
atau menderita sakit dalam waktu lama
Etiologi
Balita tidak mendapat ASI Eksklusif
Anak balita disapih sebelum umur dua tahun
Anak balita tidak mendapat makanan pendamping ASI pada umur
enam bulan atau lebih.
Makanan pendamping ASI kurang dan tidak bergizi.
Setelah umur enam bulan balita jarang disusui
Balita menderita sakit dalam waktu yang lama.
Kebersihan diri kurang dan lingkungan kotor
Pencegahan
Memberikan ASI eksklusif sampai anak berumur 6 bulan
Anak diberikan makanan yang bervariasi, seimbang
Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak
Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk, bisa ditanyakan
kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah
pulang
Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi, maka segera berikan
kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat, lemak, dan gula.
Implikasi Untuk Upaya Perbaikan Gizi Anak Umur 6-18 Tahun
Masih tingginya prevalensi kekurusan pada kelompok umur 6-12 tahun (usia sekolah)
mengindikasikan adanya risiko terganggunya konsentrasi belajar bagi sekitar
sepertiga jumlah siswa SD atau yang sederajat. Masalah kependekan yang masih
tinggi, dimana prevalensi kependekan pada anak perempuan juga tinggi yaitu sekitar
30 persen, dimana 12 persen diantaranya adalah sangat pendek. Hal ini merupakan
keadaan yang berisiko sebagai calon ibu rumahtangga yang akan melahirkan generasi
penerus. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas maka perlu diintensifkan
upaya perbaikan gizi anak sekolah, melalui:
Peningkatan edukasi gizi bagi anak sekolah baik di sektor pendidikan formal maupun
informal untuk pencapaian KADARZI UNTUK SEMUA.
Penyediaan makanan tambahan bagi anak sekolah (PMT-AS) terutama untuk daerah-
daerah miskin, terutama untuk anak usia sekolah (6-12 tahun).

Implikasi Untuk Upaya Perbaikan Gizi Penduduk Dewasa
Penyuluhan gizi seimbang diikuti dengan aktivitas fisik diperlukan untuk mengatasi
masalah obesitas pada penduduk dewasa, agar dapat dicegah penyakit khronis seperti
darah tinggi, kolesterol, diabetes, dan lain-lain.

b. Gizi berlebih
Status gizi lebih merupakan keadaan tubuh seseorang yang mengalami kelebihan berat
badan, karena kelebihan jumlah asupan energi yang disimpan dalam bentuk cadangan
berupa lemak. Ada yang menyebutkan bahwa masalah gizi lebih identik dengan
kegemukan. Kegemukan dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya yaitu
dengan munculnya penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus, penyakit jantung
koroner, hipertensi, gangguan ginjal dan masih banyak lagi.
Kegemukan (obesitas) dapat terjadi mulai dari masa bayi, anak-anak, sampai pada usia
dewasa. Kegemukan pada masa bayi terjadi karena adanya penimbunan lemak selama dua
tahun pertama kehidupan bayi. Bayi yang menderita kegemukan maka ketika menjadi
dewasa akan mengalami kegemukan pula.
Kegemukan pada masa anak-anak terjadi sejak anak tersebut berumur dua tahun sampai
menginjak usia remaja dan secara bertahap akan terus mengalami kegemukan sampai usia
dewasa. Kegemukan pada usia dewasa terjadi karena seseorang telah mengalami
kegemukan dari masa anak-anak.






















3. Memahami dan menjelaskan Status gizi ibu hamil
Status gizi ibu hamil adalah suatu keadaan keseimbangan dalam tubuh ibu hamil sebagai
akibat pemasukan konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang digunakan oleh
tubuh untuk kelangsungan hidup dalam mempertahankan fungsi-fungsi organ tubuh janin.
Kecukupan gizi selama hamil dapat dipantau melalui parameter keadaan kesehatan ibu dan
berat lahir janin. Meskipun baku penilaian status gizi wanita yang tidak hamil tidak dapat
diaplikasikan pada wanita hamil, perubahan fisiologi selama hamil dapat digunakan sebagai
petunjuk. Berat badan rendah sebelum konsepsi serta pertambahan berat yang tidak adekuat
merupakan penilaian langsung yang dapat digunakan untuk memperkirakan laju pertumbuhan
janin.
Distribusi penambahan berat badan ibu hamil

Trimester Distribusi
I Terutama pertambahan pada jaringan ibu dan
cadangan lemak, berat janin pada 10 minggu
5 gram
II Pertambahan yang pesat pada cadangan
lemak ibu dan jaringan, berat janin pada
minggu 20 350 gram.
III Pertambahan terutama pada janin dan
bertambahnya cairan, berat janin pada 32
minggu 2 kg.
( Paath, dkk.2005 )

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Ibu Hamil
Suhu Lingkungan
Pada dasarnya suhu tubuh dipertahankan pada suhu 36,5-37 derajat Celsius untuk
mempertahankan metabolisme yang optimum. Adanya perbedaan suhu antara tubuh dengan
lingkungan, maka mau tidak mau tubuh harus menyesuaikan diri demi kelangsungan
hidupnya yaitu tubuh harus melepaskan sebagian panasnya diganti dengan hasil metabolisme
tubuh, makin besar perbedaan antara tubuh dengan lingkungan maka akan semakin besar pula
panas yang akan dilepaskan. (Kristiyanasari, 2010)
Dengan adanya perbedaan suhu antara tubuh dan lingkungannya, maka tubuh melepaskan
sebagian panasnya yang harus diganti dengan hasil metabolisme tubuh. Maka lebih besar
perbedaan suhu berarti lebih besar masukan energi yang diperlukan. (Paath,dkk., 20045 )
Status Ekonomi dan Sosial
Baik status ekonomi maupun sosial sangat mempengaruhi seorang wanita dalam memilih
makanannya. ( Paath, 2005 )
Status ekonomi, terlebih jika yang bersangkutan hidup dibawah garis kemiskinan ( keluarga
prasejahtera ), berguna untuk pemastian ibu mampu membeli dan memilih bahan makanan
yang bernilai gizi tinggi. ( Arisman, 2009 )
Kebiasaan dan Pandangan Wanita terhadap Makanan
Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan
(Soetjiningsih, 1998).
Wanita yang sedang hamil dan telah berkeluarga biasanya lebih memperhatikan akan gizi
dari anggota keluarga yang lain. Padahal sebenarnya dirinyalah yang memerlukan perhatian
yang serius mengenai penambahan gizi. Ibu harus teratur dalam mengkonsumsi makanan
yang bergizi demi pertumbuhan dan perkembangan. (Kristiyanasari, 2010)
Usia
Usia diperlukan untuk menentukan besaran kalori serta zat gizi yang akan diberikan. Usia
akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian
nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
Semakin muda dan semakin tua umur seorang ibu hamil, akan berpengaruh terhadap
kebutuhan gizi yang banyak karena selain digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan
dirinya sendiri juga harus berbagi dengan janin yang sedang dikandungnya. Sedangkan untuk
umur yang tua perlu energi yang besar juga karena fungsi organ yang makin melemah dan
diharuskan untuk bekerja maksimal maka memerlukan tambahan energi yang cukup guna
mendukung kehamilan yang sedang berlangsung. (Kristiyanasari, 2010 ).
Lebih muda umur seorang wanita hamil, lebih banyak energi yang di butuhkan. Angka
kematian maternal yang berusia 10-14 tahun 5 kali lebih besar dari mereka yang berusia 20-
24 tahun. Remaja yang berumur 15-19 tahun menunjukkan angka kematian 2 kali lebi besar.
( Soejoenoes,1992 ). Ini berhubungan dengan status gizi remaja yang perkembangan fisik dan
mentalnya masih membutuhkan energi lebih banyak ( Paath,dkk. 2005 ).
Masalah yang mempengaruhi reproduksi yang mencakup gizi untuk menjamin pertumbuhan
sempurna salah satunya ialah umur saat hamil terlalu muda ( kurang 20 tahn ) atau umur
terlalu tua ( diatas 35 tahun ). ( Manuaba, dkk., 2009 )
Pendidikan
Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu
terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih
baik, dan lebih matang dari individu, kelompok atau masyarakat. ( Notoadmodjo, 2007)
Bagi masyarakat yang berpendidikan tinggi dan cukup tentang nilai gizi lebih banyak
menggunakan pertimbangan rasional dan pengetahuan tentang nilai gizi makanan atau
pertimbangan fisiologik lebih menonjol dibandingkan dengan kebutuhan psikis.
(Paath,dkk.,2005 ).
Status Kesehatan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Status ialah keadaan kedudukan seseorang. Status
kesehatan seseorang kemungkinan sangat berpengaruh terhadap nafsu makannya. Seorang
ibu dalam keadaan sakit otomatis akan memiliki nafsu makan yang berbeda dengan ibu yang
dalam keadaan sehat. Namun ibu harus ingat, bahwa gizi yang dapat ia dapat akan dipakai
untuk dua kehidupan yaitu bayi dan untuk dirinya. (Kristiyanasari, 2010)
Pada kondisi sakit asupan energi tidak boleh dilupakan. Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi
tablet yang mengandung zat besi atau makanan yang nebgandung zat besi seperti bayan, hati
dan sebagainya. ( Paath, 2005 )
Angka Kecukupan Gizi (AKG)

Angka Kecukupan Gizi (AKG) rata-rata yang dianjurkan serorang/hari khusus ibu hamil.

Zat Gizi Satuan Wanita Dewasa Ibu Hamil
Energi Kal 2200 2485
Protein gr 48 60
Vitamin A RE 500 700
Vitamin D ug 5 15
Vitamin E mg 8 18
Vitamin K mg 65 130
Thiamin mg 1,0 1,2
Niacin mg 9 9,1
Vitamin B12 mg 1,0 1,3
Asam folat ug 150 300
Piridoksin mg 1,6 3,8
Vitamin C mg 60 70
Kalsium mg 500 900
Fosfor mg 450 650
Zat besi mg 26 46
Seng mg 15 20
Yodium ug 150 175
Selenium ug 55 70

Tanda Kecukupan Gizi pada Ibu Hamil Menurut Nadesul (2004)
Status Tanda
Keadaan umum Responsive, gesit
Berat badan Normal sesuai tinggi dan bentuk tubuh
Postur Tegak, tungkai dan lengan lurus
Otot Kuat, kenyal sedikit lemak di bawah kulit
Saraf Perhatian baik, tidak mudah tersinggung,
refleks normal, mental stabil
Pencernaan Nafsu makan baik
Jantung Detak dan irama normal, tekanan darah
normal sesuai usia
Vitalitas umum Ketahanan baik, energik, cukup tidur, penuh
semangat
Rambut Mengkilat, keras tak mudah rontok, kulit
kepala normal
Kulit Licin, cukup lembab, warna segar
Muka dan leher Warna sama, licin, tampak sehat, segar
Bibir Licin, warna tidak pucat, lembab, tidak
bengkak
Mulut Tidak ada luka dan selaput merah
Gusi Merah normal, tidak ada perdarahan
Lidah Merah normal, licin, tidak ada luka
Gigi geligi Tidak berlubang, tidak nyeri, mengkilat,
lurus dagu normal, bersih dan tidak ada
perdarahan
Mata Bersinar, bersih, selaput besar merah, tidak
ada perdarahan
Kelenjar Bersinar, bersih, selaput besar merah, tidak
ada perdarahan
Kuku Keras dan kemerahan
Tungkai Kaki tidak bengkak, normal

4. Memahami dan menjelaskan PHBS pada keluarga dan institusi pendidikan
Definisi PHBS
PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kasadaran sebagai hasil
pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri dan
bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.

Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi
perilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga oleh karna itu kesehatan
perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap anggota rumah tangga serta
diperjuangkan oleh semua pihak.
Tujuan PHBS
Menurut Depkes RI (1997), Tujuan dari PHBS adalah untuk meningkatkan pengetahuan,
kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta
meningkatkan peran serta aktif masyarakat termasuk dunia usaha dalam upaya mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal.
Strategi PHBS
Strategi adalah cara atau pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan PHBS.
Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar promosi
kesehatan dan PHBS yaitu:
1. Gerakan Pemberdayaan (Empowerment)
Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan
berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran agar
sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu
menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang
diperkenalkan (aspek practice).
Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga serta kelompok masyarakat.
Bilamana sasaran sudah pindah dari mau ke mampu melaksanakan boleh jadi akan terkendala
oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan
langsung, tetapi yang sering kali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses
pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat
(community development). Untuk itu sejumlah individu yang telah mau dihimpun dalam suatu
kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok
ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari
dermawan). Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan PHBS dengan
program kesehatan yang didukungnya.
2. Bina Suasana (Social Support)
Bina suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong individu anggota
masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong
untuk mau melakukan sesuatu apabila lingkungan sosial dimanapun ia berada (keluarga di
rumah, orang-orang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan
bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut. Oleh karena itu,
untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat khususnya dalam upaya meningkatkan
para individu dari fase tahu ke fase mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga
pendekatan dalam Bina Suasana yaitu: pendekatan individu, pendekatan kelompok, dan
pendekatan masyarakat umum.
3. Pendekatan Pimpinan (Advocacy)
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan
komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Pihak-pihak yang
terkait ini bisa brupa tokoh masyarakat formal yang umumnya berperan sebagai penentu
kebijakan pemerintahan dan penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh
masyarakat informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan yang lain yang umumnya
dapat berperan sebagai penentu kebijakan (tidak tertulis) dibidangnya dan atau sebagai
penyandang dana non pemerintah. Perlu disadari bahwa komitmen dan dukungan yang
diupayakan melalui advokasi jarang diperoleh dalam waktu yang singkat. Pada diri sasaran
advokasi umumnya berlangsung tahapan-tahapan yaitu: a) mengetahui atau menyadari
adanya masalah, b) tertarik untuk ikut mengatasi masalah, c) peduli terhadap pemecahan
masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif pemecahan masalah, d) sepakat untuk
memecahkan masalah dengan memilih salah satu alternatif pemecahan masalah, dan e)
memutuskan tindak lanjut kesepakatan.
Tatanan PHBS
Ada lima tatanan PHBS yakni: tatanan rumah tangga, tatanan pendidikan, tempat umum,
tempat kerja, dan institusi kesehatan.
Disini kita akan bahas 2 tatanan, yaitu tatanan pada rumah tangga dan institusi pendidikan
atau sekolah
A. PHBS di Rumah Tangga

Tujuan PHBS di rumah tangga
Tujuan umum : Meningkatnya rumah tangga sehat di kabupaten/kota.
Tujuan khusus :
Meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah tangga untuk
melaksanakan PHBS.
Berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat.
Manfaat PHBS di rumah tangga
Bagi Rumah Tangga :
1. Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit.
2. Anak tumbuh sehat dan cerdas.
3. Anggota keluarga giat bekerja.
4. Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan untuk memenuhi gizi keluarga,
pendidikan dan modal usaha untuk menambah pendapatan keluarga.
Bagi Masyarakat:
1. Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat.
2. Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah masalah kesehatan.
3. Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
Sasaran PHBS di rumah tangga
Sasaran PHBS di rumah tangga adalah seluruh anggota keluarga yaitu :
1. Pasangan Usia Subur
2. Ibu hamil dan ibu menyusui
3. Anak dan Remaja
4. Usia lanjut
5. Pengasuh anak

Indikator PHBS di rumah tangga
Rumah Tangga Ber-PHBS adalah rumah tangga yang memenuhi 10 indikator
PHBS di rumah tangga. Namun, jika dalam rumah tangga tidak ada ibu yang
melahirkan, tidak ada bayi dan tidak ada balita, maka pengertian Rumah Tangga Ber-
PHBS adalah rumah tangga yang memenuhi hanya 7 indikator.
Indikator PHBS di rumah tangga adalah :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan adalah ibu bersalin yang mendapat
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan
(dokter kandungan dan kebidanan, dokter umum dan bidan).
2. Memberi bayi ASI eksklusif adalah bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI saja sejak
lahir sampai usia 6 bulan.
3. Menimbang balita setiap bulan adalah balita (umur 12-60 bulan) ditimbang setiap
bulan dan tercatat di KMS atau buku KIA.
4. Menggunakan air bersih adalah rumah tangga yang menggunakan air bersih untuk
kebutuhan sehari-hari yang berasal dari : air kemasan, air ledeng, air pompa, sumur
terlindung, mata air terlindung dan penampungan air hujan serta memenuhi syarat air
bersih yaitu tidak berasa, tidak berbau dan tidak berwarna. Sumber air pompa, sumur
dan mata air terlindung berjarak minimal 10 meter dari sumber pencemar seperti
tempat penampuangan kotoran atau limbah.
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun adalah penduduk 5 tahun keatas
mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar, sebelum memegang
bayi, setelah mencebok anak, dan sebelum menyiapkan makanan menggunakan air
bersih mengalir dan sabun.
6. Menggunakan jamban sehat adalah anggota rumah tangga yang menggunakan
jamban leher angsa dengan tangki septik atau lubang penampungan kotoran sebagai
pembuangan akhir dan terpelihara kebersihannya. Untuk daerah yang sulit air dapat
menggunakan jamban cemplung, jamban plengsengan.
7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu adalah rumah tangga melakukan
pemberantasan jentik nyamuk di dalam atau di luar rumah tangga seminggu sekali
dengan 3M plus/ abatisasi/ ikanisasi atau cara lain yang dianjurkan.
8. Makan sayur dan buah setiap hari adalah anggota rumah tangga umur 10 tahun
keatas yang mengkonsumsi minimal 2 porsi sayur dan 3 porsi buah atau sebaliknya
setiap hari.
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari adalah penduduk/ anggota keluarga umur 10
tahun keatas melakukan aktifitas fisil minimal 30 menit setiap hari.
10. Tidak merokok di dalam rumah adalah penduduk/ anggota rumah tangga umur 10
tahun keatas tidak merokok di dalam rumah ketika berada bersama anggota keluarga
lainnya
B. PHBS di institusi pendidikan (sekolah)

Tujuan PHBS di sekolah

Tujuan Umum:
Memperdayakan setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah agar tau,
mau, dan mampu menolong diri sendiri di bidang kesehatan dengan menerapkan
PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat.

Tujuan Khusus:
a. Meningkatkan pengetahuan tentang PHBS bagi setiap siswa, guru, dan masyarakat
lingkungan sekolah.
b. Meningkatkan peran serta aktif setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan
sekolah ber PHBS di sekolah.
c. Memandirikan setiap siswa, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah ber PHBS.

Manfaat PHBS di Sekolah

Manfaat bagi siswa:
a. Meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit
b. Meningkatkan semangat belajar
c. Meningkatkan produktivitas belajar
d. Menurunkan angka absensi karena sakit

Manfaat bagi warga sekolah:
a. Meningkatnya semangat belajar siswa berdampak positif terhadap pencapaian
target dan tujuan
b. Menurunnya biaya kesehatan yang harus dikeluarkan oleh orangtua
c. Meningkatnya citra sekolah yang positif

Manfaat bagi sekolah:
a. Adanya bimbingan teknis pelaksanaan pembinaan PHBS di sekolah
b. Adanya dukungan buku pedoman dan media promosi PHBS di sekolah

Manfaat bagi masyarakat:
a. Mempunyai lingkungan sekolah yang sehat
b. Dapat mencontoh perilaku hidup bersih dan sehat yang diterapkan oleh sekolah

Manfaat bagi pemerintah provinsi/kabupaten/kota:
a. Sekolah yang sehat menunjukkan kinerja dan citra pemerintah
provinsi/kabupaten/kota yang baik
b. Dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan PHBS di
sekolah

Sasaran PHBS di sekolah

a. Siswa Peserta Didik
b. Warga Sekolah (Kepala Sekolah, Guru, Karyawan Sekolah, Komite Sekolah, dan
Orangtua Siswa)
c. Masyarakat Lingkungan Sekolah (penjaga kantin, satpam, dll)
Indikator PHBS di sekolah

A. Memelihara Rambut Agar Bersih dan Rapih
Mencuci rambut secara teratur dan menyisirnya sehingga terlihat rapih. Rambut yang
bersih adalah rambut yang tidak kusam, tidak berbau, dan tidak berkutu. Memeriksa
kebersihan dan kerapihan rambut dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader
kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali.

B. Memakai Pakaian Bersih dan Rapih
Memakai baju yang tidak ada kotorannya, tidak berbau, dan rapih. Pakaian yang
bersih dan rapih diperoleh dengan mencuci baju setelah dipakai dan dirapikan dengan
disetrika. Memeriksa baju yang dipakai dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader
kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali.

C. Memelihara Kuku Agar Selalu Pendek dan Bersih
Memotong kuku sebatas ujung jari tangan secara teratur dan membersihkannya
sehingga tidak hitam/kotor. Memeriksa kuku secra rutin dapat dilakukan oleh dokter
kecil/kader kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali.

D. Memakai Sepatu Bersih dan Rapih
Memakai sepatu yang tidak ada kotoran menempel pada sepatu, rapih misalnya
ditalikan bagi sepatu yang bertali. Sepatu bersih diperoleh bila sepatu dibersihkan
setiap kali sepatu kotor. Memeriksa sepatu yang dipakai siswa dapat dilakukan oleh
dokter kecil/kader kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali.

E. Berolahraga Teratur dan Terukur
Siswa/Guru/Masyarakat sekolah lainnya melakukan olahraga/aktivitas fisik secara
teratur minimal tiga kali seminggu selang sehari. Olahraga teratur dapat memelihara
kesehatan fisik dan mental serta meningkatkan kebugaran tubuh sehingga tubuh tetap
sehat dan tidak mudah jatuh sakit. Olahraga dapat dilakukan di halaman secara
bersama-sama, di ruangan olahraga khusus (bila tersedia), dan juga di ruangan kerja
bagi guru/ karayawan sekolah berupa senam ringan dikala istirahat sejenak dari
kesibukan kerja. Sekolah diharapkan membuat jadwal teratur untuk berolahraga
bersama serta menyediakan alat/sarana untuk berolahraga.

F. Tidak Merokok di Sekolah
Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah tidak merokok di lingkungan sekolah.
Merokok berbahaya bagi kesehatan perokok dan orang yang berada di sekitar
perokok. Dalam satu batang rokok yang diisap akan dikeluarkan 4000 bahan kimia
berbahaya diantaranya: Nikotin (menyebabkan ketagihan dan kerusakan jantung serta
pembuluh darah); Tar (menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker) dan CO
(menyebabkan berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen sehingga sel-sel
tubuh akan mati). Tidak merokok di sekolah dapat menghindarkan anak
sekolah/guru/masyarkat sekolah dari kemungkinan terkena penyakit-penyakit tersebut
diatas. Sekolah diharapkan membuat peraturan dilarang merokok di lingkungan
sekolah. Siswa/guru/masyarakat sekolah bisa saling mengawasi diantara mereka
untuk tidak merokok di lingkungan sekolah dan diharapkan mengembangkan kawasan
tanpa rokok/kawasan bebas asap rokok.


G. Tidak Menggunakan NAPZA
Anak sekolah/guru/masyarkat sekolah tidak menggunakan NAPZA (Narkotika
Psikotropika Zat Adiktif). Penggunaan NAPZA membahayakan kesehatan fisik
maupun psikis pemakainya.

H. Memberantas J entik Nyamuk
Upaya untuk memberantas jentik di lingkungan sekolah yang dibuktikan dengan tidak
ditemukan jentik nyamuk pada: tempat-tempat penampungan air, bak mandi, gentong
air, vas bunga, pot bunga/alas pot bunga, wadah pembuangan air dispenser, wadah
pembuangan air kulkas, dan barang-barang bekas/tempat yang bisa menampung air
yang ada di sekolah. Memberantas jentik di lingkungan sekolah dilakukan dengan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan: menguras dan menutup
tempat-tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas, dan menghindari
gigitan nyamuk. Dengan lingkungan bebas jentik diharapkan dapat mencegah terkena
penyakit akibat gigitan nyamuk seperti demam berdarah, cikungunya, malaria, dan
kaki gajah. Sekolah diharapkan dapat membuat pengaturan untuk melaksanakan PSN
minimal satu minggu sekali.

I . Menggunakan J amban yang Bersih dan Sehat
Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah menggunakan jamban/WC/kakus leher angsa
dengan tangki septic atau lubang penampungan kotoran sebagai pembuangan akhir
saat buang air besar dan buang air kecil. Menggunakan jamban yang bersih setiap
buang air kecil ataupun buang air besar dapat menjaga lingkungan di sekitar sekolah
menjadi bersih, sehat, dan tidak berbau. Disamping itu tidak mencemari sumber air
yang ada disekitar lingkungan sekolah serta menghindari datangnya lalat atau
serangga yang dapat menularkan penyakit seperti: diare, disentri, tipus, kecacingan,
dan penyakit lainnya. Sekolah diharapkan menyediakan jamban yang memenuhi
syarat kesehatan dalam jumlah yang cukup untuk seluruh siswa serta terpisah antara
siswa laki-laki dan perempuan. Perbandingan jamban dengan pemakai adalah 1:30
untuk laki-laki dan 1:20 untuk perempuan.

J . Menggunakan Air Bersih
Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah menggunakan air bersih untuk kebutuhan
sehari-hari di lingkungan sekolah. Sekolah diharapkan menyediakan sumber air yang
bisa berasal dari air sumur terlindung, air pompa, mata air terlindung, penampungan
air hujan, air ledeng, dan air dalam kemasan (sumber air berasal dari smur pompa,
sumur, mata air terlindung berjarak minimal 10 meter dari tempat penampungan
kotoran atau limbah/WC). Air diharapkan tersedia dalam jumlah yang memenuhi
kebutuhan dan tersedia setiap saat.

K. Mencuci Tangan dengan Air Mengalir dan Memakai Sabun
Sekolah/guru/masyarakat sekolah selalu mencuci tangan sebelum makan, sesudah
buang air besar/sesudah buang air kecil, sesudah beraktivitas, dan atau setiap kali
tangan kotor dengan memakai sabun dan air bersih yang mengalir. Air bersih yang
mengalir akan membuang kuman-kuman yang ada pada tangan yang kotor, sedangkan
sabun selain membersihkan kotoran juga dapat membunuh kuman yang ada di tangan.
Diharapkan tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman serta dapat mencegah
terjadinya penularan penyakit seperti: diare, disentri, kolera, tipus, kecacingan,
penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan flu burung.

L. Membuang Sampah ke Tempat Sampah yang Terpilah
Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah membuang sampah ke tempat sampah yang
tersedia. Diharapkan tersedia tempat sampah yang terpilah antara sampah organik,
non-organik, dan sampah bahan berbahaya. Sampah selain kotor dan tidak sedap
dipandang juga mengandung berbagai kuman penyakit. Membiasakan membuang
sampah pada tempat sampah yang tersedia akan sangat membantu anak
sekolah/guru/masyarakat sekolah terhindar dari berbagai kuman penyakit.

M. Mengkonsumsi J ajanan Sehat dari Kantin Sekolah
Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah mengkonsumsi jajanan sehat dari
kantin/warung sekolah atau bekal yang dibawa dari rumah. Sebaiknya sekolah
menyediakan warung sekolah sehat dengan makanan yang mengandung gizi
seimbang dan bervariasi, sehingga membuat tubuh sehat dan kuat, angka absensi anak
sekolah menurun, dan proses belajar berjalan dengan baik.

N. Menimbang Berat Badan dan Mengukur Tinggi Badan Setiap Bulan
Siswa ditimbang berat badan dan diukur tinggi badan setiap bulan agar diketahui
tingkat pertumbuhannya. Hasil penimbangan dan pengukuran dibandingkan dengan
standar berat badan dan tinggi badan sehingga diketahui apakah pertumbuhan siswa
normal atau tidak normal.

5. Memahami dan Menjelaskan Gaya Hidup Anak yang Tidak Mencerminkan Hidup
Sehat
A. Mencuci Tangan
Menurut Dokter Abidinsyah Siregar, Kepala Pusat Promosi Kesehatan Depkes, tangan yang
kotor bisa menyebabkan diare. Penyakit ini adalah penyebab kedua kematian pada balita.
Sementara pada bayi, urutan ketiga, dan pada orang dewasa urutan kelima.
Dokter Abidinsya juga menjelaskan bahwa penyakit infeksi itu punya 2 jalan masuk ke tubuh
kita, yaitu melalui tangan dan hidung. Jikalau kita mencuci tangan sampai bersih secara rutin,
maka otomatis mata rantai penyakit infeksi yang masuk melalui tangan akan putus.
Malas cuci tangan
Tak hanya anak-anak yang malas mencuci tangan, orang dewasa pun masih sulit
membiasakan diri untuk membersihkan dan mencuci tangannya. Makanya, harus terus
diingatkan dan dikampanyekan pentingnya mencuci tangan melalui media kepada
masyarakat.
Tradisi kobokan
Di sebagian masyarakat Indonesia ada yang menggunakan kobokan yang disediakan di meja
untuk mencuci tangan saat hendak makan. Tapi sebaiknya, kita tetap mencuci tangan di
wastafel dengan sabun dan air yang mengalir agar kuman-kuman yang menempel hilang dari
tangan. Sebab, air kobokan tak bisa membersihkan tangan sampai bersih.
Menggunakan air mengalir
Kalau airnya tidak mengalir, kumannya masih berkumpul di situ, akan masuk lagi ke pori-
pori kulit di tangan. Sebaiknya mencuci tangan selama minimal dua menit, kita gosok ke
celah-celah jari. Tangan kiri membersihkan punggung tangan kanan. Kuku disikat-sikat ke
telapak tangan agar bersih. Caranya sudah banyak diedarkan di masyarakat supaya paham
mencuci tangan yang benar.
B. Air
Penyakit Saat Musim
Di saat musim hujan kerap kali anak bermain air hujan dan genangan air, padahal air bisa
menjadi perantara bakteri dan kuman. Yang paling sering bersentuhan adalah kulit.
Oleh karena itu, di musim seperti ini kesehatan kulit harus lebih diperhatikan. Kebanyakan
anak kecil paling suka main air apa lagi saat hujan turun. Apalagi pada musim hujan seperti
ini, main di tengah hujan atau bermain di genangan airu tentu hal yang kerap dilakukan anak.
Walaupun memang menyenangkan, namun air yang tidak bersih malah akan dapat menjadi
sumber penyakit.
Sebenarnya, air hujannya sendiri sih bersih, namun ketika air hujan sudah menjadi genangan
air dan bercampur dengan kotoran, itulah yang perlu diwaspadai. paada musim hujan dengan
hawa dingin seperti ini juga dapat menyebabkan alergi dingin atau memicu penyakit lain
yang disebabkan oleh kelembabab yang tinggi.
Penyakit Kulit Saat Musim Hujan -Infeksi Jamur.
Untuk penyakit yang tidak disebabkan oleh kuman, biasanya terjadi pada anak yang alergi
pada udara dingin. Kulit menjadi merah, bengkak, terasa menebal.

6. Memahami dan menjelaskan PHBS dan pemberdayaan masyarakat dalam islam
Menjaga kebersihan seharusnya menjadi pola hidup umat Islam. Dengan menjaga kebersihan,
banjir yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia bisa dicegah. Sebagai umat Islam
seharusnya kita menyadari hal itu. Sejak Islam diturunkan ke muka bumi, Allah SWT
mengajarkan kepada seluruh pengikut Nabi Muhammad SAW untuk memperhatikan aspek
kebersihan dan kesucian.

Sehingga dengan hidup sehat dan bersih kita akan terhindar dari berbagai penyakit, dengan
demikian kita akan dapat bekerja dan beribadah dengan lancar dalam rangka menunaikan
kewajiban kita sebagai hamba Allah yang bertaqwa kepada-Nya.

Menjaga kebersihan merupakan bagian dari menjaga kesucian, yang pada dasarnya tidak
dapat dipisahkan dari keimanan. Oleh sebab itu orang yang tidak menjaga kebersihan dan
kesucian sama dengan telah mengabaikan sebagian dari nilai-nilai keimanannya, sehingga dia
belum termasuk orang yang betul-betul beriman.

Rasulullah melarang buang air di air yang tidak mengalir. (HR muslim). Jadi dari hadis
tersebut, kita bisa memahami bahwa hidup sehat suatu yang patut dijalankan untuk menjaga
kesucian diri.

Di samping masalah kebersihan diri, Islam juga sangat memperhatikan kebersihan
lingkungan yang ada di sekitar kita. Sebagai agama yang menjadi rahmat bagi sekalian alam,
Islam tidak akan membiarkan manusia merusak atau mengotori lingkungan sekitarnya.

Kebersihan lingkungan itu sendiri akan sangat berpengaruh terhadap keselamatan manusia
yang ada di sekitarnya. Menjaga kebersihan lingkungan sama pentingnya dengan menjaga
kebersihan diri.

Sebagai agama rahmat semua mahluk hidup, Islam mengajarkan kepada umat-Nya untuk
selalu menjaga kebersihan tempat-tempat fasilitas umum. Islam menyadarkan kepada umat-
Nya bahwa tempat itu kotor dan menjadi sarang penyakit, maka akan sangat mudah
menjangkiti banyak orang dalam waktu yang bersamaan.

Menyadari bahaya tersebut Rasulullah dengan tegas melarang kita untuk buang air besar dan
kecil di tempat yang dilewati banyak orang, dijadikan tempat berteduh, di bawah pohon yang
berbuah, tempat ibadah dan lain-lain.

Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda:
takutilah menjadi orang yang dilaknat orang lain, sahabat bertanya: siapa orang yang menjadi
laknat orang lain?. Rasulullah menjawab: yaitu orang yang buang hajat di tempat yang dilalui
orang lain, atau tempat berteduh orang lain. (HR Muslim).
Islam juga menyadarkan kepada umat-Nya agar tidak meludah di sembarangan tempat. Selain
ludah itu sendiri menjijikan, meludah di sembarang tempat menjadi salah satu sarana
menularnya beberapa penyakit.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: Meludah di masjid adalah dosa dan kafarat
(taubat) nya adalah dengan menanam ludah itu. (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis itu
mensyaratkan kepada seluruh umat Islam untuk selalu menjaga pola hidup bersih dan sehat.
Dengan pola hidup bersih dan sehat, umat Islam dapat terhindar dari berbagai penyakit,
sehingga menjadi umat yang sehat dan kuat serta mampu melahirkan generasi yang sehat dan
kuat pula.

Dengan pola hidup bersih dan sehat akan membuat kita jauh dari berbagai penyakit.
Mencegah penyakit lebih baik daripada mengobatinya ketika ia telah terlanjur menjangkiti
kita.
Sesungguhnya mendapat kemenanganlah orang yang membersihkan dirinya QS Al Ala
ayat : 14
Dalam Islam, kebersihan adalah bersifat global atau luas. Artinya kebersihan itu meliputi
semua aspek dalam Islam. Barangsiapa benar-benar dapat mengamalkan kebersihan yang
global secara Islam ini maka oleh Allah mereka dijanjikan kemenangan baik di dunia terlebih
lagi di akhirat.
Dalam Islam, kesehatan termasuk hal utama. Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa
banyak ayat Al-Quran dan hadist yang berkaitan dengan kesehatan. Salah satu contohnya
adalah wahyu kedua yang dibawakan Jibril, yaitu Ayat 1-5 Surat Al Mudatstsir. Wahyu
tersebut belum mengenai shalat, puasa dan zakat, tetapi perintah untuk berdakwah dan
mengenai kesucian (kebersihan) dan menjauhi kekotoran.

Pada ayat di atas tampak bahwa kebersihan menjadi pangkal kesehatan. Ilmu kesehatan
modern tetap berpendirian bahwa kebersihan merupakan pangkal kesehatan. Tidaklah heran
kalau kebersihan umumnya merupakan salah satu kewajiban yang selalu diperintahkan Nabi
Muhammad SAW kepada para pengikutnya dan dijadikan sendi dasar dalam kehidupan
sehari-hari.